Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 421–430 of 1082 results

  • Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? […]

    5 Persiapan untuk Kondisi New Normal

    Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? Perlukah Sobat bersiap-siap untuk menghadapi fase New Normal?

    kondisi new normal

    Baca Juga: Sudah Tahukah Sobat, Apa itu The New Normal?

    Dikutip dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB), fase New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona jenis baru, penyebab COVID-19.1 Dengan kata lain, fase New Normal adalah situasi terdapat perubahan standar yang menjadi kondisi normal yang baru. Beberapa dari Sobat mungkin akan kembali bekerja di kantor dan melakukan aktivitas rutin lainnya, namun harus ditambahkan dengan perilaku social distancing dan protokol pencegahan lainnya dalam masa pandemi COVID-19. Semua hal ini dianggap standar yang baru sehingga menjadi normal yang baru. Sobat akan menghadapi rutinitas sehari-hari dengan perilaku yang berbeda, pastikan Sobat siap untuk menghadapi fase New Normal. Berikut adalah perilaku yang harus Sobat siapkan untuk fase New Normal:

    Baca Juga: Siapkan Diri Kembali Bekerja Setelah PSBB

    1. Social Distancing Di Mana Pun Berada

    Perilaku social distancing sudah berjalan sekian lama seiring dengan masa pandemi COVID-19 ini. Tentu Sobat mungkin sudah terbiasa dengan social sistancing seperti bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) atau menghindari untuk berkumpul dengan teman-teman. Namun Sobat suatu saat akan kembali bekerja ke kantor, atau harus menggunakan angkutan umum. Selama pandemi ini berlangsung, social distancing tetap harus diterapkan. Pada saat di angkutan umum, berilah jarak 1 kursi kosong dengan penumpang lain dan jangan berjalan dalam kerumunan orang. Hal ini dikarenakan metode penyebaran virus yang berupa droplet yang diproduksi oleh orang terinfeksi yang batuk atau bersin.2 WHO merekomendasikan untuk menjaga jarak minimal 1 meter antara Sobat dan orang lain.

    1. Selalu Gunakan Masker

    Untuk Sobat yang akan kerja dan bepergian melalui tempat umum, pastikan selalu menggunakan masker. Masker merupakan pencegahan yang efektif agar virus tidak masuk melalui hidung dan mulut Sobat. Lebih efektif lagi jika orang yang sedang sakit menggunakan masker, sehingga sumber penyebarannya terhenti pada masker orang sakit tersebut. Masker harus digunakan secara benar untuk dapat bekerja dengan efektif. Pastikan masker Sobat menutupi bagian hidung dan mulut dengan rapat. Masker bedah memiliki tingkat efektivitas paling tinggi.4 Apabila Sobat ingin membeli atau membuat masker buatan sendiri, pilihlah yang berbahan 100% katun karena memiliki efektivitas yang cukup tinggi dibandingkan bahan lain.

    1. Jangan Lupa untuk Mencuci Tangan

    Virus COVID-19 dalam bentuk droplet tidak hanya dibatukkan saja lalu menghilang. Droplet penuh virus dapat menempel pada permukaan-permukaan benda di sekitar Sobat. Pada permukaan plastik dan stainless steel virus dapat bertahan hingga 72 jam, selain itu pada kardus dapat bertahan hingga 24 jam dan pada tembaga hanya bertahan hingga 4 jam.6 Sebelum Sobat makan atau menyentuh wajah, pastikan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan menggunakan air mengalir dengan sabun atau dengan hand sanitizer berbasis alkohol cukup untuk membunuh virus tersebut.

    Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    1. Jagalah Kesehatan Tubuh

    Makan makanan yang bergizi, minumlah yang cukup, rutin berolahraga, istirahat yang cukup dan jangan lupa untuk menghindari alkohol dan rokok. Jalanilah hidup Sobat dengan pola hidup yang sehat. Semua hal ini akan berdampak terhadap sistem imun tubuh Sobat. Jika imun tubuh sobat sedang tidak optimal, infeksi lebih mudah terjadi.

    1. Vaksin untuk Mencegah Infeksi Lain

    Sobat dapat melakukan vaksinasi untuk mencegah tubuh terinfeksi oleh penyakit lain. Salah satu contoh vaksinasi berupa vaksin influenza. Vaksin influenza akan membuat tubuh Sobat menjadi lebih tidak rentan terhadap virus yang memiliki tanda dan gejala yang mirip dengan COVID-19. Vaksin influenza dapat mengurangi 60% angka kejadian kasus pada orang yang dibawah 65 tahun, dan dapat menurunkan 50-60% angka rawat inap pada orang lanjut usia.7 Lalu, untuk mengurangi kunjungan Sobat ke rumah sakit, manfaatkan layanan Drive Thru seperti yang disediakan ProSehat, untuk meminimalkan kontak.

    Produk Terkait: Vaksinasi Flu

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat  bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ariansyah A. Ketika Semua Harus Memulai Fase “New Normal” Hadapi COVID-19 [Internet]. BNPB. [cited 2020 May 19]. Available from: https://bnpb.go.id/berita/ketika-semua-harus-memulai-fase-new-normal-hadapi-covid19-1
    2. Shereen MA, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. J Adv Res. 2020 Jul 1;24:91–8.
    3. Coronavirus [Internet]. [cited 2020 May 19]. Available from: https://www.who.int/westernpacific/health-topics/coronavirus
    4. Bowen LE. Does That Face Mask Really Protect You? Appl Biosaf. 2010 Jun 1;15(2):67–71.
    5. Davies A, Thompson K-A, Giri K, Kafatos G, Walker J, Bennett A. Testing the efficacy of homemade masks: would they protect in an influenza pandemic? Disaster Med Public Health Prep. 2013 Aug;7(4):413–8.
    6. van Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med. 2020 Apr 16;382(16):1564–7.
    7. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C, National Center for Immunization and Respiratory Diseases (U.S.), Communication and Education Branch. Epidemiology and prevention of vaccine-preventable diseases. 2015.
    Read More
  • Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Masyarakat diimbau untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Namun, setelah beberapa bulan melaksanakan PSBB, jumlah pasien yang terinfeksi virus corona masih naik-turun.2 Berdasarkan data pemerintah hingga Selasa, 19 Mei 2020, jumlah total kasus positif […]

    Sudah Tahukah Sobat, Apa Itu ‘The New Normal’?

    Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Masyarakat diimbau untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Namun, setelah beberapa bulan melaksanakan PSBB, jumlah pasien yang terinfeksi virus corona masih naik-turun.2 Berdasarkan data pemerintah hingga Selasa, 19 Mei 2020, jumlah total kasus positif COVID-19 mencapai 18.496 orang dan diperkirakan akan terus bertambah.3 Selain itu, pandemi COVID-19 diprediksikan baru akan usai pada akhir Juni dan bahkan masih dapat berlanjut.4

    the new normal

    Baca Juga: Siapkan Diri Kembali Bekerja Setelah PSBB

    Pandemi COVID-19 juga berdampak pada ekonomi masyarakat dan tidak sedikit orang yang kehilangan mata pencaharian dan terpaksa meninggalkan rumah untuk bekerja. Oleh karena itu, pemerintah telah mengumumkan perubahan gaya hidup The New Normal, untuk mendampingi kebijakan PSBB yang telah berlangsung. The New Normal adalah adaptasi gaya hidup, yaitu dengan tetap menjalankan aktivitas normal, namun disertai penerapan protokol kesehatan demi mencegah penyebaran COVID-19.6

    Himbauan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup The New Normal bukan berarti pemerintah telah melonggarkan PSBB, melainkan pemerintah menganjurkan perubahan budaya dengan cara menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengenakan masker saat keluar rumah, serta sering mencuci tangan dan menggunakan handsanitizer.7 Selain itu, penerapan gaya hidup The New Normal dapat dilakukan dalam bentuk pengurangan kontak fisik dengan orang lain dan menghindari kerumunan dengan cara menetap di rumah.6 Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 juga wajib dilakukan, termasuk larangan menyentuh area wajah terutama mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor, penerapan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut menggunakan lengan atas bagian dalam serta menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi.5 Tak lupa, penerapan gaya hidup sehat seperti mendapat sinar matahari pagi yang cukup, tidur malam yang berkualitas, serta berolahraga minimal 30 menit perhari dapat membantu dalam meningkatkan imunitas tubuh dalam menghadapi pandemi COVID-19.8

    Konsep perubahan gaya hidup ini merupakan salah satu imbauan World Health Organization (WHO) untuk negara-negara di Wilayah Asia Tenggara yang tengah mengurangi lockdown secara bertahap.1 WHO juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dalam penerapan gaya hidup The New Normal, salah satunya adalah kewajiban mendidik, melibatkan, dan memberdayakan masyarakat dalam gaya hidup baru ini.

    Pemerintah telah mengumumkan bahwa gaya hidup The New Normal akan terus diterapkan selama pandemi COVID-19 berlangsung hingga vaksin untuk COVID-19 ditemukan.6 Saat ini, penelitian mengenai vaksin COVID-19 tengah berlangsung dan diperkirakan siap digunakan pada akhir 2021 hingga 2022.9 Sementara itu, Sobat diharapkan untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru dan mematuhi protokol Kesehatan yang ada.

    Baca Juga: PSBB DKI Jakarta Diperpanjang, Hadapi Masa Transisi

    Tak hanya perubahan gaya hidup, konsep The New Normal diprediksi juga akan mengubah paradigma pelayanan kesehatan melalui online platform.7 Dengan begitu, konsultasi dan penulisan resep obat akan dilakukan secara daring oleh dokter umum maupun spesialis. Resep akan secara otomatis dikirim ke apotek terhubung dan diantar langsung ke rumah pasien setelah melakukan pembayaran dengan cara transfer. Jika diperlukan untuk bertemu langsung dengan dokter, pasien dapat melakukan penjadwalan khusus dengan dokter yang bersangkutan.

    Perlu kembali diingat bahwa perubahan gaya hidup ini bukan berarti pelonggaran PSBB. Oleh karena itu, Sobat diharapkan dapat beradaptasi dengan gaya hidup The New Normal dan mematuhi protokol kesehatan yang telah di tetapkan pemerintah. Diharapkan untuk tetap #dirumahaja dan sangat tidak disarankan untuk pergi keluar kota demi menjaga kesehatan diri sendiri, keluarga, dan sesama.

    Baca Juga: PSBB Diterapkan Pemerintah Setelah Social Distancing,  Apa Itu PSBB?

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Local epidemiology should guide focused action in ‘new normal’ COVID-19 world. (2020). Retrieved 19 May 2020, from https://www.who.int/southeastasia/news/detail/15-05-2020-local-epidemiology-should-guide-focused-action-in-new-normal-covid-19-world
    2. Media, K. (2020). Kurva Kasus Covid-19 di Jakarta dalam Sepekan, Naik Turun Belum Terlihat Landai Halaman all – Kompas.com. Retrieved 19 May 2020, from https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/12/20070791/kurva-kasus-covid-19-di-jakarta-dalam-sepekan-naik-turun-belum-terlihat?page=all#page3
    3. Media, K. (2020). UPDATE 19 Mei: Tambah 30 Orang, Pasien Covid-19 Meninggal Jadi 1.221. Retrieved 19 May 2020, from https://nasional.kompas.com/read/2020/05/19/16084001/update-19-mei-tambah-30-orang-pasien-covid-19-meninggal-jadi-1221
    4. Post, T. (2020). Indonesia’s strategy to end COVID-19 outbreak lacks effectiveness: Study. Retrieved 19 May 2020, from https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/25/indonesias-strategy-to-end-covid-19-outbreak-lacks-effectiveness-study.html
    5. Media, K. (2020). Hal-hal yang Harus Kita Pahami soal New Normal… Halaman all – Kompas.com. Retrieved 19 May 2020, from https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/19/082622465/hal-hal-yang-harus-kita-pahami-soal-new-normal?page=all#page3
    6. Media, K. (2020). Sering Disebut-sebut, Apa Itu New Normal?. Retrieved 19 May 2020, from https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/16/164600865/sering-disebut-sebut-apa-itu-new-normal-
    7. Media, K. (2020). Pemerintah: New Normal adalah Perubahan Budaya, Bukan Pelonggaran PSBB. Retrieved 19 May 2020, from https://nasional.kompas.com/read/2020/05/19/07422531/pemerintah-new-normal-adalah-perubahan-budaya-bukan-pelonggaran-psbb
    8. Naja, F., & Hamadeh, R. (2020). Nutrition amid the COVID-19 pandemic: a multi-level framework for action. European Journal Of Clinical Nutrition. doi: 10.1038/s41430-020-0634-3
    9. Peeples, L. (2020). News Feature: Avoiding pitfalls in the pursuit of a COVID-19 vaccine. Proceedings Of The National Academy Of Sciences117(15), 8218-8221. doi: 10.1073/pnas.2005456117

     

    Read More
  • Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai work from home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat […]

    Panduan Ergonomi Saat WFH Seperti Apa?

    Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai work from home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan isu ergonomi. Ergonomi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan komponen sistem lainnya untuk mendapatkan rancangan yang optimal terkait dengan human well-being dan kinerja sistem secara keseluruhan.1

    WFH sehat

    Baca Juga: Dampak Covid-19 Pada Kesehatan Karyawan

    Beberapa isu ergonomi yang dapat Sobat alami pada umumnya seperti pegal pada bahu, leher, atau nyeri pinggang, keluhan mata seperti gatal atau perih, nyeri pada pergelangan tangan, hingga kelelahan. Semua isu tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar dari Sobat tidak memiliki lingkungan bekerja yang ergonomis di rumah, atau Sobat bekerja dalam posisi yang tidak baik untuk kesehatan seperti:1

    • Duduk dengan posisi membungkuk dan punggung tidak tersangga.
    • Bekerja di sofa dengan leher yang membungkuk atau pergelangan tangan yang menekuk.

    Sebuah penelitian menyatakan bahwa keluhan nyeri pada leher dan mata gatal atau perih disebabkan karena penderita melihat layar terlalu bawah yang dapat dihindari jika layar diposisikan sedikit di bawah ketinggian mata.2 Penelitian lain menemukan bahwa nyeri pada pergelangan tangan berupa carpal tunnel syndrome dapat dikaitkan dengan penggunaan mouse yang lama.3 Semua keluhan tersebut dapat dihindari jika Sobat bekerja dalam posisi yang ideal. Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) telah mengeluarkan sebuah panduan untuk posisi yang ideal bagi tubuh Sobat saat bekerja. Sobat dapat ikuti panduannya sebagai berikut:1

    Untuk bekerja dalam durasi <1 jam

    Dapat dilakukan pada posisi duduk atau berdiri.

    • Untuk bekerja dengan posisi duduk di kursi/sofa:
      • Pilih kursi/sofa yang mendukung sikap duduk tegak yang nyaman.
      • Jika ada meja, maka tempatkan laptop di meja, dan posisi pergelangan tangan lurus saat mengetik.
      • Jika tidak ada meja, tempatkan laptop di pangkuan, pergelangan tangan harus tetap lurus saat mengetik.
      • Tambahkan buku/laptop riser/adjustable desk agar leher tidak menekuk.
      • Gunakan handuk gulung atau bantal untuk menopang punggung bagian bawah.
      • Miringkan layar laptop untuk mempertahankan postur netral.
    • Untuk bekerja dengan posisi berdiri, menggunakan prinsip yang sama.

    Untuk bekerja dalam waktu yang lama (> 1 jam)

    • Hindari bekerja sambil duduk di atas kasur atau sofa dalam jangka panjang.
    • Pilih meja yang paling memadai (cukup luas dengan ruang di bawah kaki memadai).
    • Pilih kursi yang bisa memberikan support untuk punggung bawah.
    • Tambahkan bantalan jika diperlukan.
    • Gunakan keyboard dan mouse terpisah dengan laptop Anda.
    • Posisi pergelangan tangan tetap lurus saat mengetik.
    • Posisikan laptop Anda sehingga bagian atas layar sejajar dengan ketinggian mata Anda. Gunakan kotak atau beberapa buku untuk meninggikan laptop anda atau pasang monitor terpisah jika ada.

    Saat Sobat bekerja di mana pun, 3 hal yang selalu harus diperhatikan adalah:1

    1. Pertahankan siku dalam posisi 90 derajat.
    2. Jarak mata dengan monitor 50-70 cm.
    3. Posisi tubuh netral dan rileks.

    Sebuah penelitian diadakan untuk menilai apakah ada perbedaan pada para pekerja setelah menerima pelatihan ergonomik. Hasilnya menunjukkan bahwa kejadian nyeri pinggang atau low back pain berkurang.4 Selain itu, Sobat juga dapat melakukan peregangan selama 5-10 menit sesuai panduan PEI. Modifikasi ergonomik seperti menggunakan posisi yang benar dan aktivitas peregangan terbukti dapat memperbaiki keluhan nyeri otot secara signifikan.5 Peregangan dapat dilakukan dengan cara seperti gambar di bawah:

    Saat WFH maupun nanti saat kembali ke kantor, jangan lupa untuk kerja dalam posisi ergonomis dan lakukan peregangan otot sesuai panduan PEI. Dengan posisi yang ergonomis dan peregangan otot, Sobat akan terhindar dari isu ergonomis yang menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan tidak nyaman.

    Baca Juga: 8 Cara Mengatasi Stress Kerja yang Perlu Kamu Lakukan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Yassierle, Titis W, Dewi H, Orchida D, Khoirul M, Wyke K. Panduan Ergonomis: “Working From Home”. Perhimpunan Ergonomi Indonesia; 2020.
    2. Mowatt L, Gordon C, Santosh ABR, Jones T. Computer vision syndrome and ergonomic practices among undergraduate university students. Int J Clin Pract. 2018;72(1):e13035.
    3. Shiri R, Falah-Hassani K. Computer use and carpal tunnel syndrome: A meta-analysis. J Neurol Sci. 2015 Feb 15;349(1):15–9.
    4. Kajiki S, Izumi H, Hayashida K, Kusumoto A, Nagata T, Mori K. A randomized controlled trial of the effect of participatory ergonomic low back pain training on workplace improvement. J Occup Health. 2017;advpub.
    5. Shariat A, Cleland JA, Danaee M, Kargarfard M, Sangelaji B, Tamrin SBM. Effects of stretching exercise training and ergonomic modifications on musculoskeletal discomforts of office workers: a randomized controlled trial. Braz J Phys Ther. 2018 Mar 1;22(2):144–53.
    Read More
  • Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalkan paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai […]

    Bagaimana Berobat Setelah Masa Pandemi Berakhir?

    Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalkan paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai perubahan dalam cara berobat, apa saja yang akan terjadi setelah masa pandemi ini berakhir:

     

    Baca Juga: Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    1. Masyarakat akan lebih memanfaatkan fasilitas telemedicine

    Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah meminta masyarakat yang sedang sakit untuk memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk berobat secara online (telemedicine). Dengan adanya layanan online, tidak semua orang yang sakit perlu dibawa berobat ke rumah sakit. Setelah masa pandemi ini berakhir, pola berobat atau konsultasi medis secara online diharapkan tetap mampu menjadi budaya baru di masyarakat. Mengingat tingginya paparan terhadap kuman penyakit di rumah sakit, pengobatan secara online juga yang memungkinkan Sobat untuk melakukan konsultasi dengan dokter tanpa perlu keluar dari rumah juga sudah terbukti merupakan pilihan yang efektif dan efisien. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan melalui konsultasi online:

    • Memberikan kemudahan untuk bertanya- jawab mengenai penanganan pertama sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah, seperti pada kasus luka akibat terjatuh, batuk pilek biasa, diare, gigitan serangga, dan lain-lain.
    • Menjawab pertanyaan dengan tepat seputar penyakit dan pengobatan yang sedang atau sudah selesai dijalani sebelumnya.
    • Mempermudah pasien untuk mengetahui hasil laboratorium dengan cepat dan tepat.
    • Memberikan saran mengenai kunjungan ke spesialisasi bidang kedokteran yang sesuai dengan penyakit yang dialami.

    Pelayanan kesehatan secara online ini juga akan sangat bermanfaat khususnya bagi pasien dengan mobilitas rendah yang membutuhkan pelayanan dalam jangka panjang seperti pasien penderita sakit kronis (hipertensi, diabetes, perawatan luka, perawatan paska stroke, dan lain-lain). Telemedicine sudah diterima sebagai salah satu cara manajemen yang efektif untuk pasien dengan penyakit kronis oleh sebagian besar penyedia pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penggunaan telemedicine sendiri akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman, namun bukan berarti dapat menggantikan kunjungan langsung ke dokter untuk kasus yang memang memerlukan penanganan lebih lanjut. Telemedicine merupakan pendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang mudah diakses dan efisien.

    1. Membuat appointment sebelum ke rumah sakit

    Bila kondisi penyakit Sobat memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, ada baiknya untuk tetap membiasakan diri membuat penjadwalan (appointment) terlebih dahulu dengan pihak rumah sakit, sehingga Sobat tidak perlu mengantri terlalu lama dan jumlah pasien yang berobat juga dibatasi sesuai dengan jam sehingga tidak menumpuk. Selain itu, sebaiknya janji pertemuan dengan dokter dilakukan secara rutin sesuai anjuran dokter, sebelum obat rutin yang dikonsumsi habis atau sebelum munculnya gejala penyakit baru.

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19?

    1. Tetap memerhatikan pola hidup bersih dan sehat

    Sejak terjadinya pandemi COVID-19, membiasakan kehidupan pola hidup bersih dan sehat lebih ditekankan kepada masyarakat seperti rutin mencuci tangan, mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak dengan orang lain, cara-cara untuk menjaga kesehatan agar imun tubuh tetap kuat, dan lainnya. Pola hidup seperti ini juga harus tetap dipertahankan bahkan sampai masa pandemi ini berakhir, baik dalam kehidupan sehari-hari, serta terutama bila Sobat sedang berobat ke rumah sakit. Jumlah kuman penyebab bakteri di rumah sakit tentunya lebih banyak sehingga pastikan untuk tetap melakukan pola hidup bersih dan sehat.

    Baca Juga: Dampak Covid-19 Pada Kesehatan Karyawan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kurangi Risiko Tenaga Medis Tertular Covid-19, Jokowi Minta Warga Berobat Online [Internet]. Available from: nasional(dot)kompas(dot)com/read/2020/04/13/10491681/kurangi-risiko-tenaga-medis-tertular-covid-19-jokowi-minta-warga-berobat
    2. Global Observatory for eHealth series. Telemedicine: Opportunities and developments in Member States. Vol. 2. World Health Organization; 2010.
    3. Williamson R. The Role of Telemedicine in Chronic Disease Management [Internet]. Medium. 2019. Available from: medium(dot)com/@ryanwilliamsonc/the-role-of-telemedicine-in-chronic-disease-management-5ec79bb0e575
    4. How Telemedicine Can Make Getting Your Prescription Easier – GoodRx [Internet]. The GoodRx Prescription Savings Blog. 2019. Available from: goodrx(dot)com/blog/how-telemedicine-can-make-getting-your-prescription-easier/
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    Read More
  • Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir telah membuat masyarakat menjadi takut, cemas, dan gelisah. Terlebih lagi, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran COVID-19 membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Hal ini membuat banyak orang menjadi jenuh dan stres karena tidak bisa pergi jalan-jalan, liburan, dan pulang ke kampung […]

    7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbeban Kapan Covid-19 Berakhir

    Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir telah membuat masyarakat menjadi takut, cemas, dan gelisah. Terlebih lagi, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran COVID-19 membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Hal ini membuat banyak orang menjadi jenuh dan stres karena tidak bisa pergi jalan-jalan, liburan, dan pulang ke kampung halaman. Tidak sedikit orang yang telah bertanya-tanya kapankah COVID-19 berakhir dan berharap dapat kembali ke rutinitas semula. Jika Sobat adalah salah satu orang yang mengalami stres dalam menghadapi wabah COVID-19, jangan khawatir, karena berikut adalah kiat untuk mengatasi stres akibat pandemi corona.

    kiat mengelola stres, kiat mengatasi stres

    Baca Juga: Lakukan Langkah Ini Jika Stres Akibat Corona

    Kiat Mengelola Stres Karena Corona

    1. Batasi dan filter berita

    Mengikuti informasi dan berita terkini mengenai pandemi Covid-19 merupakan hal yang penting. Namun, terkadang berita yang tersebar juga dapat menimbulkan stres dan kegelisahan di kalangan masyarakat. Untuk itu, penting untuk membatasi berita yang dibaca. Terlebih lagi, pastikan berita yang dibaca memilki sumber yang terpercaya agar Sobat terhindar dari penyebaran hoax.

    1. Meditasi

    Penelitian telah membuktikan bahwa meditasi dapat membantu menenangkan pikiran, melatih fokus, dan menghilangkan stres1. Saat seseorang mengalami stres, tubuh melepasakan hormon kortisol yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Meditasi adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dimana saja dan dipercaya dapat mengembalikan detak jantung dan tekanan darah kembali normal. Meditasi dapat dilakukan dengan mengatur hembusan napas secara perlahan, sembari membuang pikiran negatif dan stres yang dialami.

    1. Yoga

    Yoga adalah salah satu olahraga simpel yang tidak membutuhkan banyak peralatan. Bahkan, jika tidak memiliki matras yoga, yoga juga dapat dilakukan di tempat tidur. Yoga merupakan bentuk meditasi yang juga terbukti ampuh untuk menghilangkan stres, kegelisahan, dan depresi3. Selain mengatur pernapasan, yoga juga dapat meregangkan otot sehingga menimbulkan efek relaksasi.

    1. Memasak

    Bagi Sobat yang senang berada di dapur, memasak bisa menjadi salah satu aktivitas penghilang stres. Selama masa pandemi COVID-19, banyak content creator yang membagikan resep mudah di media sosial. Mencoba berbagai resep dan berkreasi di dapur dapat mengurangi jenuh selama di rumah.

    1. Membersihkan rumah

    Kebersihan rumah adalah hal penting yang harus tetap dijaga, terutama selama masa pandemi ini. Pembersih desinfektan yang berbahan dasar alkohol dapat membunuh virus yang ada di sekitar dan di dalam rumah. Jangan lupa untuk membersihkan tempat dan barang yang sering dipegang seperti keyboard, saklar lampu, handphone, dan sebagainya.

    Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona, Justru Turunkan Imun Tubuh

    1. Membaca buku dan menonton film

    Selain menambah pengetahuan dan mengusir kebosanan selama masa karantina di rumah, membaca buku dan menonton film dapat menjadi aktivitas bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Orang yang sering membaca memiliki kemampuan belajar, komunikasi, dan komprehensi yang lebih tinggi dari orang yang jarang membaca5.

    1. Mengasah keterampilan

    Tetap menghasilkan karya selama masa karantina di rumah bisa menjadi salah satu cara mengusir stres. Manfaatkan waktu luang untuk mengasah keterampilan atau hobi yang sudah lama ditinggalkan. Entah itu menjahit, menggambar, menulis, melukis dan sebagainya. Melakukan hal yang disukai dapat mengurangi stres selama di rumah.

    Nah, Sobat itulah sederet tips untuk mengatasi stres selama masa pandemi COVID-19. Daripada stres dan pusing memikirkan kapan COVID-19 akan berakhir, Sobat dapat mencoba berbagai tips di atas untuk mengurangi stres selama masa karantina di rumah.

    Baca Juga: 7 Tips Orang Tua Dampingi Anak yang Bosan dan Stres Belajar di Rumah

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA 

    1. Sharma, H. (2015). Meditation: Process and effects. AYU (An International Quarterly Journal Of Research In Ayurveda)36(3), 233. doi: 10.4103/0974-8520.182756
    2. Ranabir, S., & Reetu, K. (2011). Stres and hormones. Indian journal of endocrinology and metabolism15(1), 18–22. https://doi.org/10.4103/2230-8210.77573
    3. Shohani, M., Badfar, G., Nasirkandy, M. P., Kaikhavani, S., Rahmati, S., Modmeli, Y., Soleymani, A., & Azami, M. (2018). The Effect of Yoga on Stres, Anxiety, and Depression in Women. International journal of preventive medicine9, 21. https://doi.org/10.4103/ijpvm.IJPVM_242_16
    4. Rabenau, H., Kampf, G., Cinatl, J., & Doerr, H. (2005). Efficacy of various disinfectants against SARS coronavirus. Journal Of Hospital Infection61(2), 107-111. doi: 10.1016/j.jhin.2004.12.023
    5. Duff, D., Tomblin, J. B., & Catts, H. (2015). The Influence of Reading on Vocabulary Growth: A Case for a Matthew Effect. Journal of speech, language, and hearing research : JSLHR58(3), 853–864. https://doi.org/10.1044/2015_JSLHR-L-13-0310
    Read More
  • Puasa idealnya menjadi waktu Sobat untuk banyak melakukan ibadah dan meninggalkan kebiasan buruk. Terutama bagi para perokok aktif, puasa seharusnya bisa menjadi latihan untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Seperti diketahui, selain makan dan minum, merokok merupakan salah satu hal yang dinantikan oleh seorang perokok aktif saat berbuka puasa. Sehingga setelah berbuka, seringkali perokok akan segera […]

    Dampak Langsung Merokok Setelah Buka Puasa

    Puasa idealnya menjadi waktu Sobat untuk banyak melakukan ibadah dan meninggalkan kebiasan buruk. Terutama bagi para perokok aktif, puasa seharusnya bisa menjadi latihan untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Seperti diketahui, selain makan dan minum, merokok merupakan salah satu hal yang dinantikan oleh seorang perokok aktif saat berbuka puasa. Sehingga setelah berbuka, seringkali perokok akan segera menyalakan rokoknya. Padahal langsung merokok saat berbuka puasa sangat tidak disarankan, karena memiliki beragam dampak yang buruk bagi tubuh.

    dampak langsung merokok

    Baca Juga: Puasa Saat Pandemi, Benarkah Puasa Bisa Menurunkan Imun Tubuh?

    Rokok sendiri pada dasarnya menyebabkan beragam penyakit hampir ke seluruh organ tubuh. Penyakit yang sering ditimbulkan seperti kanker, penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit paru obstruksi kronis termasuk emfisema dan bronkitis akut, diabetes, dan lainnya. Ketika berpuasa, kita tidak mengonsumsi makanan dan minuman sekitar 14 jam dan perut sedang berada dalam keadaan kosong. Sehingga saat kita berbuka puasa, sebaiknya dibuka dengan makanan-makanan yang bergizi dan mengandung zat antioksidan yang tinggi seperti sayur dan buah-buahan untuk mengganti energi yang hilang selama puasa. Namun kalau saat berbuka langsung merokok, berarti hal pertama yang masuk adalah zat-zat beracun seperti nikotin, tar, karbon monoksida, gas oksidan, benzene, dan lainnya. Bahan-bahan kimia ini akan lebih berbahaya jika masuk ke dalam tubuh saat keadaan perut sedang kosong. Berikut adalah bahaya langsung merokok setelah buka puasa:

    Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok? Konsumsilah 6 Makanan Berikut Ini

    1. Nikotin yang masuk dalam waktu singkat dengan jumlah banyak berefek mual dan menimbulkan sakit kepala. Nikotin sendiri merupakan senyawa yang dapat menimbulkan adiksi, saat masuk ke dalam tubuh akan menstimulasi kerja kelenjar adrenal yang menghasilkan adrenalin. Peningkatan adrenalin dalam tubuh ini bersifat stimulan sehingga akan meningkatkan denyut jantung, nafas, dan tekanan darah. Secara tidak langsung, nikotin juga akan melepaskan hormon dopamin yang memengaruhi perasaan, gerakan, dan sensasi senang maupun nyeri. Peningkatan dopamin inilah yang seringkali menyebabkan adiksi pada seorang perokok sehingga bila seorang perokok menghentikan kebiasaan buruk ini secara tiba-tiba, maka akan muncul perasaan cemas, mudah marah, hingga depresi. Efek buruk dari nikotin dapat memengaruhi:
      • Sistem sirkulasi darah, yaitu peningkatan risiko pembekuan darah serta pembentukan plak yang dapat menyumbat pembuluh darah.
      • Sistem saraf pusat/otak, yaitu rasa sakit kepala, pusing, gangguan tidur, serta mimpi buruk.
      • Sistem pencernaan, yaitu rasa mual, muntah, mulut kering, gangguan pencernaan, rasa panas di dada, dan diare.
      • Sistem kardiovaskular/jantung, yaitu peningkatan denyut nadi, peningkatan tekanan darah, peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
    2. Karbon monoksida yang terdapat pada asap rokok akibat proses pembakaran adalah gas yang beracun, tidak berwarna, serta tidak berbau. Gas ini berbahaya karena bila terhirup oleh paru-paru dan masuk ke dalam tubuh, karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin di sel darah merah dan terbawa dengan aliran darah kita. Karbon monoksida dapat mengikat hemoglobin darah 300 kali lebih kuat dan cepat dibanding oksigen. Hal ini mengakibatkan sel dalam tubuh Sobat bisa kekurangan oksigen, sehingga yang dirasakan adalah lelah dan pusing. Gas ini juga dapat menurunkan fungsi otot dan jantung, gejala yang dirasakan adalah peningkatan denyut nadi, kelemahan untuk melakukan olahraga, nyeri kepala, mual, muntah, dan pandangan yang buram. Kurangnya oksigen dalam darah juga akan menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mendistribusikan darah yang mengandung sedikit oksigen ke seluruh tubuh, sehingga karbon monoksida dalam darah akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan peningkatan kadar kolesterol jahat dalam darah yang lama-kelamaan menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah arteri.

    Baca Juga: 8 Jenis Olahraga yang Pas Dilakukan Saat Puasa

    Jadi, ingatlah bahaya langsung merokok saat buka puasa dalam keadaan perut kosong, zat-zat berbahaya yang ada dalam rokok akan masuk dalam darah dengan cepat. Selain itu, langsung merokok saat berbuka ini juga bisa memicu batuk akibat iritasi saluran pernafasan, karena tenggorokan yang masih dalam keadaan yang kering.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Apa bahaya langsung merokok saat berbuka puasa? [Internet]. Direktorat P2PTM. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik/apa-bahaya-langsung-merokok-saat-berbuka-puasa
    2. CDCTobaccoFree. Health Effects of Smoking and Tobacco Use [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2017 . Available from: https://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/health_effects/index.htm
    3. What Chemicals Are In Cigarette Smoke? [Internet]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/215420#3
    4. Nicotine: Facts, effects, and addiction [Internet]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/240820
    5. How Carbon Monoxide Hurts Smokers [Internet]. Verywell Mind. Available from: https://www.verywellmind.com/carbon-monoxide-in-cigarette-smoke-2824730
    Read More
  • Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, dengan adanya telemedicine pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter sekarang tidak lagi terbatas oleh jarak dan posisi geografis, sehingga pelayanan kesehatan dapat menjadi lebih terjangkau bahkan bagi orang-orang yang tinggal di daerah pelosok. Pelayanan kesehatan jarak jauh yang bisa diberikan meliputi pertukaran informasi kemungkinan diagnosis, pengobatan dan pencegahan […]

    Manfaatkan Telemedicine Bagi yang Memiliki Penyakit Kronis

    Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, dengan adanya telemedicine pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter sekarang tidak lagi terbatas oleh jarak dan posisi geografis, sehingga pelayanan kesehatan dapat menjadi lebih terjangkau bahkan bagi orang-orang yang tinggal di daerah pelosok. Pelayanan kesehatan jarak jauh yang bisa diberikan meliputi pertukaran informasi kemungkinan diagnosis, pengobatan dan pencegahan penyakit atau kasus cedera, riset dan evaluasi, dan edukasi bagi tenaga medis, semuanya dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu dan komunitas. Sobat dapat memanfaatkan telemedicine ProSehat untuk berkonsultasi lewat chat dokter. Pertanyaan seputar masalah penyakit kronis pun termasuk yang cukup sering ditanyakan.

    Penyakit kronis adalah kondisi penyakit yang terjadi lebih dari satu tahun serta memerlukan pemantauan medis secara terus-menerus atau memerlukan pembatasan aktivitas sehari-hari. Penyakit kronis sendiri sangat sering terjadi dan diperkirakan seiring dengan peningkatan angka harapan hidup manusia, maka jumlah penderita penyakit kronis juga akan terus meningkat. Menurut data epidemiologi, penyebab kematian tertinggi dan disabilitas di Amerika Serikat disebabkan oleh penyakit kronis, yaitu penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Sedangkan di Indonesia empat jenis penyakit tidak menular utama yang ditemukan pada masyarakat adalah penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, hipertensi, dan stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (asma dan penyakit paru obstruksi kronis), serta diabetes. Penyakit-penyakit ini sebenarnya dapat diprevensi melalui intervensi yang efektif dalam menghindari faktor risiko yang sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik seperti merokok, nutrisi yang kurang, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol yang berlebih.

    Aplikasi penggunaaan telemedicine pada pasien dengan penyakit kronis akan meningkatkan peran serta dari pasien untuk menjaga kesehatannya dengan melakukan pemeriksaan berkala dengan hasil yang dipantau oleh tenaga medis, sehingga bisa mengidentifikasi gejala awal dari penyakit, serta memberikan respon yang cepat dan tepat bila kondisi memburuk dari penyakit yang sedang diderita. Secara teori, penerapan telemedicine akan membuat informasi lebih mudah diakses, efisien, dan responsif daripada pasien harus melakukan perjalanan untuk pertemuan langsung.

    Berikut adalah keuntungan penggunaan telemedicine bagi yang memiliki penyakit kronis:

    1. Pasien dapat berkomunikasi dengan tenaga medis, termasuk dokter spesialis, tanpa harus meninggalkan rumahnya. Sehingga pasien memiliki akses yang lebih baik dan dapat mengurangi beban biaya untuk transportasi.
    2. Pasien mendapatkan penanganan tatalaksana yang adekuat. Pasien dengan penyakit kronis seringkali harus meminum beragam jenis obat secara rutin. Namun, ada beberapa obat yang perlu disesuaikan dosisnya dengan kebutuhan pasien. Telemedicine bisa membantu agar dokter dapat memberikan obat dengan dosis yang sesuai dengan lebih cepat dan efisien, dengan mengurangi kebutuhan pasien untuk melakukan kunjungan langsung.
    3. Respon cepat bila terdapat gejala baru. Gejala yang baru bisa menggambarkan terjadinya perburukan kondisi penyakit yang kini diderita, bisa juga sebagai salah satu tanda dan gejala dari munculnya penyakit baru. Dengan bantuan telemedicine, pasien dapat langsung menceritakan keluhannya pada dokter sehingga tatalaksana maupun informasi yang diberikan cepat, tepat, dan valid.

    Dari penelitian yang mempelajari aplikasi telemedicine pada pasien dengan gagal jantung kronis mengatakan bahwa ditemukan peningkatan hasil pengobatan pada pasien yang berpartisipasi dengan menggunakan pelayanan telemedicine dibandingkan pasien yang menerima pelayanan kesehatan secara tradisional, terdapat penurunan perburukan penyakit, dan peningkatan secara klinis, fungsional, dan kualitas hidup pasien dengan telemedicine. Menurut penelitian lainnya yang mempelajari pengaplikasian telemedicine pada pasien dengan stroke, dapat meningkatkan akses pelayanan medis dengan spesialis di daerah pelosok, sehingga terjadi peningkatan diagnosis, inisiasi tatalaksana yang dibutuhkan, supervisi, dan rujukan bila diperlukan.

    Telemedicine memiliki potensi untuk menjadi metode yang efektif untuk meningkatkan akses dan hasil pelayanan kesehatan serta mengurangi beban biaya perawatan kesehatan untuk kondisi kronis. Pelayanan kesehatan jarak jauh ini juga akan dikembangkan lebih jauh lagi dan sudah diterima sebagai salah satu cara manajemen pasien dengan penyakit kronis oleh sebagian besar penyedia pelayanan kesehatan di seluruh dunia.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Telemedicine Permudah Akses Layanan Medis – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan [Internet].Available from: https://fk.ugm.ac.id/telemedicine-permudah-akses-layanan-medis/
    2. About Chronic Diseases | CDC [Internet]. 2019. Available from: https://www.cdc.gov/chronicdisease/about/index.htm
    3. Bashshur RL, Shannon GW, Smith BR, Alverson DC, Antoniotti N, Barsan WG, et al. The Empirical Foundations of Telemedicine Interventions for Chronic Disease Management. Telemed J E Health. 2014 Sep 1;20(9):769–800.
    4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Riskesdas 2018 [Internet]. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2018. Available from: http://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf?opwvc=1
    5. Williamson R. The Role of Telemedicine in Chronic Disease Management [Internet]. Medium. 2019. Available from: https://medium.com/@ryanwilliamsonc/the-role-of-telemedicine-in-chronic-disease-management-5ec79bb0e575
    6. Telemedicine Interventions for Chronic Disease Management [Internet]. National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion; 2014. Available from: https://www.cdc.gov/dhdsp/pubs/docs/sib_oct2014.pdf
    Read More
  • Pada era yang serba digital ini, hampir semua bidang mempunyai aplikasinya sendiri. Di bidang kesehatan pun sekarang tersedia aplikasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang tidak dibatasi oleh jarak maupun posisi geografis lagi. Dengan adanya telemedisin, konsultasi dengan dokter menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien karena Sobat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa perlu melangkah keluar dari […]

    Peran dan Efektivitas Resep Online dari Aplikasi Kesehatan

    Pada era yang serba digital ini, hampir semua bidang mempunyai aplikasinya sendiri. Di bidang kesehatan pun sekarang tersedia aplikasi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang tidak dibatasi oleh jarak maupun posisi geografis lagi. Dengan adanya telemedisin, konsultasi dengan dokter menjadi lebih mudah, cepat, dan efisien karena Sobat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa perlu melangkah keluar dari rumah. Pelayanan kesehatan jarak jauh yang bisa diberikan meliputi pertukaran informasi kemungkinan diagnosis, hingga pengobatan dan pencegahan penyakit atau kasus cedera, riset dan evaluasi, dan edukasi bagi tenaga medis, semuanya dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu dan komunitas.

    efektivitas resep online

    Baca Juga: Saatnya Bumil Manfaatkan Telemedicine

    Melalui konsultasi online seperti layanan chat dokter yang sudah disediakan ProSehat, dokter akan melakukan anamnesis, yaitu tanya jawab untuk mengumpulkan informasi yang dilakukan secara terarah dan tepat guna menentukan suatu diagnosis. Informasi yang akan ditanyakan seputar riwayat keluhan Sobat saat ini, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit dalam keluarga, maupun riwayat kebiasaan atau gaya hidup. Secara teori, anamnesis yang baik dapat memegang peranan hingga 80% dalam penentuan diagnosis suatu penyakit. Sehingga setelah melakukan anamnesis, seorang dokter sudah bisa memberikan kemungkinan diagnosis utama dan beberapa kemungkinan diagnosis banding lainnya. Langkah selanjutnya adalah pemberian obat sesuai dengan gejala yang disampaikan atau saran lainnya untuk pengobatan yang tepat, bisa juga diarahkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit.

    Baca Juga: Peran dan Efektivitas Telemedicine Bagi Kesehatan Anak

    Untuk berbagai macam kondisi seperti penyakit kulit, konstipasi, batuk pilek, demam, nyeri telinga, mual, muntah, diare, konsultasi mengenai penyakit dan pengobatan yang sedang dijalani, serta berbagai keluhan lainnya, telemedicine dapat membantu Sobat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk peresepan obat yang lebih cepat dan mudah. Peran dari pemberian resep online akan sesuai pada kondisi berikut:

    • Untuk menghemat waktu dan ongkos transportasi dengan memberikan kenyamanan bagi Sobat karena bahkan tidak perlu meninggalkan tempat tidur saat sedang sakit atau tidak punya waktu untuk melakukan konsultasi dengan dokter secara langsung karena sibuknya aktivitas di kantor maupun sekolah.
    • Pelayanan ini juga sesuai ketika Sobat hanya memerlukan konsultasi untuk melanjutkan pengobatan yang sudah atau sedang dijalani untuk penyesuaian dosis atau perpanjangan tatalaksana. Selain peresepan obat, dokter juga bisa memberikan saran mengenai pola hidup sehat, yang akan mendukung efektivitas kerja dari obat yang diberikan.
    • Akses yang lebih mudah terhadap pelayanan spesialistik sesuai dengan kasus bila diperlukan.
    • Menjelaskan hasil pemeriksaan penunjang laboratorium secara cepat dan tepat.1

    Namun, tatalaksana yang diberikan melalui telemedicine tidak bisa diterapkan pada kasus gawat darurat yang mengancam nyawa seperti serangan jantung, serangan stroke, luka yang memerlukan jahitan, atau kasus trauma yang menyebabkan patah tulang. Semua kasus yang memerlukan tindakan segera untuk tatalaksana gawat darurat perlu dilakukan melalui pertemuan langsung. Karena pada dasarnya tujuan dari pelayanan kesehatan online bukanlah untuk menggantikan kebutuhan Sobat untuk berobat langsung bila memang diperlukan.

    Saat ini telemedicine akan terus dikembangkan agar pelayanan yang diberikan akan semakin maksimal. Menurut berbagai penelitian yang menilai keefektifan berobat online yang sudah dijalani, tatalaksana yang diberikan melalui telemedicine dapat meningkatkan hasil klinis yang menjanjikan terutama pada bidang perawatan luka, psikiatri, dan penyakit kronis (diabetes, penyakit radang sendi, hipertensi, dan nyeri kronis) dibandingkan berobat secara langsung. Pemberian obat melalui konsultasi online tergolong aman, efektif, dapat meningkatkan kepuasan pasien, dan serta dapat mengurangi ongkos dari pengobatan.

    Baca Juga: Bijak Berbelanja Melalui Aplikasi Online

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. How Telemedicine Can Make Getting Your Prescription Easier – GoodRx [Internet]. The GoodRx Prescription Savings Blog. 2019. Available from: https://www.goodrx.com/blog/how-telemedicine-can-make-getting-your-prescription-easier/
    2. Global Observatory for eHealth series. Telemedicine: Opportunities and developments in Member States. Vol. 2. World Health Organization; 2010.
    3. History and Physical Examination information. What to expect [Internet]. Available from: https://patient.info/doctor/history-and-physical-examination
    4. WHO | WHO Guideline: recommendations on digital interventions for health system strengthening [Internet]. WHO. World Health Organization;. Available from: http://www.who.int/reproductivehealth/publications/digital-interventions-health-system-strengthening/en/
    5. Seehusen DA, Azrak A. The Effectiveness of Outpatient Telehealth Consultations. AFP. 2019 Nov 1;100(9):575–7.
    Read More
  • Pernakah Sobat akhir-akhir ini mendengar tentang telemedicine? Presiden Jokowi telah menyarankan bagi Sobat yang sedang sakit untuk menggunakan berbagai aplikasi sebagai cara berobat online atau disebut juga sebagai telemedicine. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan telemedicine untuk membantu memperluas cakupan berobat secara online, salah satunya adalah ProSehat. Dengan menggunakan aplikasi telemedicine, […]

    Amankah Menggunakan Resep Secara Online?

    Pernakah Sobat akhir-akhir ini mendengar tentang telemedicine? Presiden Jokowi telah menyarankan bagi Sobat yang sedang sakit untuk menggunakan berbagai aplikasi sebagai cara berobat online atau disebut juga sebagai telemedicine. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan telah bekerja sama dengan beberapa perusahaan telemedicine untuk membantu memperluas cakupan berobat secara online, salah satunya adalah ProSehat. Dengan menggunakan aplikasi telemedicine, Sobat dapat melakukan konsultasi hingga peresepan obat tanpa harus bertemu tatap muka dengan tenaga kesehatan. Namun apakah peresepan secara online aman dibandingkan peresepan pada poliklinik?

    resep secara online

    Baca Juga: Bijak Berbelanja Melalui Aplikasi Online

    Telemedicine diartikan oleh WHO sebagai pemberian pelayanan kesehatan,karena jarak merupakan faktor kritis. Layanan kesehatan ini menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendapatkan informasi valid untuk diagnosis, tatalaksana dan pencegahan penyakit, penelitian dan evaluasi, dan untuk kelanjutan edukasi dari tenaga kesehatan. Berhubungan dengan pandemi COVID-19 yang sedang terjadi, pemerintah menyarankan bagi Sobat yang sedang sakit untuk tidak keluar rumah. Dari bekerja hingga berobat saat ini disarankan untuk dilakukan secara online. Dengan melakukan hal tersebut, Sobat dapat mengurangi risiko terinfeksi COVID-19 dengan tidak pergi keluar rumah. Beberapa negara sudah melakukan hal ini untuk mengurangi transmisi COVID-19. Tidak hanya untuk Sobat, tetapi tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat juga dapat terhindar dari faktor risiko paparan COVID-19.

    Apabila Sobat menggunakan aplikasi untuk telemedicine, Sobat akan dilayani dengan konsultasi secara online. Langkah selanjutnya adalah peresepan untuk mendapatkan obat. Proses peresepan secara  konvensional seperti dalam keadaan poliklinik memiliki beberapa perbedaan dengan telemedicine. Apakah proses peresepan secara telemedicine yang bersifat online lebih aman? Berikut terdapat beberapa perbedaannya:

    1. Penulisan Resep

    Resep konvensional dibuat dengan tulisan tangan. Dibandingkan dengan telemedicine yang diketik berbasis komputer, tentu pembacaan huruf yang diketik akan lebih mudah. Hal ini akan meminimalisir salah pembacaan sehingga pasien tidak mendapatkan obat yang salah. Hal ini ditekankan untuk obat Look Alike Sound Alike (LASA).

    1. Data untuk Pertimbangan Pemberian Resep

    Sebelum meresepkan obat, dokter perlu mempertimbangkan banyak hal. Beberapa diantaranya seperti anamnesis untuk gejala penyakit, riwayat alergi, interaksi dengan obat yang sedang Sobat konsumsi, dan efek samping obat terhadap kondisi tubuh Sobat saat ini. Sebuah penelitian untuk pasien obstetrik dan ginekologi menemukan bahwa check list yang diisi mandiri sama atau bahkan lebih efektif dibandingkan skrining kontraindikasi dari tenaga medis secara konvensional. Terdapat penelitian lain yang membanding pertimbangan pemeriksaan fisik dari poliklinik dan tanpa pemeriksaan fisik pada telemedicine untuk pemberian antibiotik pada pasien infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Hasil yang didapatkan menyatakan tidak ada perbedaan signifikan untuk pemberian antibiotik pada dua kelompok tersebut. Ini menunjukkan bahwa hanya dari anamnesis, pertimbangan untuk peresepan antibiotik tidak berbeda dengan yang melakukan pemeriksaan fisik secara konvensional. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak semua obat dapat diresepkan tanpa dilakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu.

    Produk Terkait: Obat Pereda Demam untuk Anak

    1. Penyerahan Resep dan Obat

    Proses penyerahan resep konvensional dalam keadaan poliklinik diserahkan secara langsung ke pasien secara tatap muka. Dengan telemedicine, penyerahan resep dilakukan secara online sehingga tidak terdapat kontak langsung antara dokter dengan pasien untuk meminimalisir kontak. Setelah itu, proses pengambilan obat juga dilakukan secara online. Pada sistem telemedicine ProSehat, obat yang diresepkan dapat langsung diantarkan ke rumah agar Sobat dapat menghindari risiko kontak jika keluar mencari apotik.

    Penggunaan telemedicine dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk mengurangi kontak langsung saat pandemi. Beberapa faktor untuk peresepan secara online juga terbukti tidak berbeda dengan cara konvensional. Dengan berobat secara online, Sobat dapat menghindari risiko kontak yang tidak diperlukan. Untuk penyakit yang lebih berat, saat konsultasi online, Sobat mungkin akan disarankan untuk tetap melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit. Apabila Sobat memiliki gejala yang mengarah ke COVID-19 atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19, pastikan untuk memberitahu saat melakukan konsultasi online. Tenaga kesehatan akan memandu langkah selanjutnya yang perlu Sobat lakukan.

    Baca Juga: Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Situs Resmi Monitoring COVID-19 milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Covid-monitoring.kemkes.go.id. 2020. Available from: https://covid-monitoring.kemkes.go.id/telemedicine
    2. Telemedicine. Geneva, Switzerland: World Health Organization; 2010.
    3. Hollander J, Carr B. Virtually Perfect? Telemedicine for Covid-19. New England Journal of Medicine. 2020;.
    4. Hariton E, Tracy E. Telemedicine Companies Providing Prescription-Only Medications. Obstetrics & Gynecology. 2019;134(5):941-945.
    5. Yao P, Clark S, Gogia K, Hafeez B, Hsu H, Greenwald P. Antibiotic Prescribing Practices: Is There a Difference Between Patients Seen by Telemedicine Versus Those Seen In-Person?. Telemedicine and e-Health. 2020;26(1):105-107.
    Read More
  • Berbagai perubahan situasi terjadi sejak adanya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian termasuk mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin membuat Mama menjadi bingung apakah anaknya harus tetap imunisasi sesuai dengan jadwalnya? Berikut adalah anjuran mengenai jadwal imunisasi anak […]

    Cara Imunisasi Tetap Aman Selama COVID-19

    Berbagai perubahan situasi terjadi sejak adanya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian termasuk mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin membuat Mama menjadi bingung apakah anaknya harus tetap imunisasi sesuai dengan jadwalnya? Berikut adalah anjuran mengenai jadwal imunisasi anak pada situasi pandemi COVID-19 dari Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

    Baca Juga: Jadwal Imunisasi Anak dan Bayi Terbaru dan Lengkap 2020

    Imunisasi dasar bagi bayi hingga anak berusia 18 bulan tergolong penting untuk dilakukan guna melindungi Si Kecil dari berbagai penyakit berbahaya. Walaupun saat ini vaksin untuk COVID-19 masih dalam tahap pengembangan, imunisasi dasar bagi bayi dan balita harus tetap dilakukan. Apabila banyak bayi dan balita yang tidak mendapat imunisasi dasar lengkap akan memungkinkan terjadi wabah penyakit lain yang bisa mengakibatkan banyak anak sakit berat, cacat, atau meninggal.

    Berikut adalah jadwal layanan imunisasi dasar yang harus tetap diberikan di puskesmas, praktik pribadi dokter, atau rumah sakit:

    • Imunisasi dasar
    • Segera setelah lahir : Hepatitis B 0 + OPV 0 (oral poliovirus vaccine)
    • Usia 1 bulan : BCG
    • Usia 2 bulan : Pentavalent 1 (DPT + Hepatitis B + Hib) + OPV
    • Usia 3 bulan : Pentavalent 2 + OPV 2
    • Usia 4 bulan : Pentavalent 3 + OPV 3 + IPV (inactivated poliovirus vaccine)
    • Usia 9 bulan : MR 1 (vaksin campak)
    • Usia 18 bulan : Pentavalent 4 + OPV 4 + MR 2

    Sebagai catatan, vaksin Pentavalent + OPV dapat diganti dengan pemberian vaksin Hexavalent, yaitu gabungan antara vaksin Pentavalent dengan IPV.

    • Imunisasi tambahan
    • Usia 2 bulan : PCV 1 (pneumococcal conjugate vaccine)
    • Usia 4 bulan : PCV 2
    • Usia 6 bulan : PCV 3 + Influenza 1
    • Usia 7 bulan : Influenza 2

    Jika keadaan tidak memungkinkan pada wilayah dengan penularan luas COVID-19, imunisasi Si Kecil dapat ditunda 1 bulan. Namun, sebaiknya imunisasi segera diberikan bila situasi memungkinkan. Berikut adalah tips aman untuk Si Kecil dalam melaksanakan pemberian imunisasi dasar:

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19

    • Sebelum berangkat untuk imunisasi ke puskesmas, posyandu, atau rumah sakit sebaiknya Mama membuat janji kedatangan terlebih dulu agar antrian lebih teratur dan tidak terlalu banyak anak yang berkumpul terlalu lama.
    • Pastikan berkunjung ke fasilitas kesehatan yang telah memisahkan area atau waktu kunjungan anak sehat dari pengunjung lain yang sedang sakit. Jangan lupa mencatat imunisasi yang diberikan dan menjadwalkan kunjungan imunisasi berikutnya.
    • Sediakan handrub berbahan dasar alkohol atau tetap sering cuci tangan dengan air dan sabun.1
    • Tetap melaksanakan physical distancing, yaitu menjaga jarak 1-2 meter dari orang lain, ini dilakukan karena apabila seseorang batuk atau bersin, terdapat percik renik yang mungkin mengandung virus dan bisa menyebar, lalu terjatuh ke permukaan dalam radius sekitar 1 meter.
    • Setelah melakukan imunisasi, Mama dan Si Kecil sebaiknya langsung pulang ke rumah dan usahakan tidak keluar rumah kecuali ada keperluan yang sangat penting. Sampai di rumah, segera mencuci tangan dengan air dan sabun, serta mengganti pakaian.
    • Di rumah tetap berikan Si Kecil ASI, makanan yang bergizi, jauhi orang yang sedang sakit, pastikan Mama cuci tangan sebelum menyentuh bayi, jangan mencium bayi.
    • Perhatikan bila ada tanda dan gejala COVID-19 seperti batuk, pilek, demam, atau kesulitan bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas, segera dibawa berobat ke dokter.
    • Manfaatkan aplikasi kesehatan seperti ProSehat yang melayani vaksinasi ke rumah. Cukup install aplikasi ProSehat dari Google PlayStore. Pilih layanan imunisasi anak dan pesan sekarang. Nikmati kemudahan layanan dengan dokter ke rumah Anda.

    Selain itu, bagi Mama yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Rekomendasi Imunisasi Anak pada Situasi Pandemi COVID-19 [Internet]. IDAI.

    Available from: http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/rekomendasi-imunisasi-anak-pada-situasi-pandemi-covid-19

    1. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: FAQ COVID-19. IDAI. 20 Maret 2020. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/uncategorized/faq-covid-19-dari-idai
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja