Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Perlunya Nilai Cycle Treshold dalam Tes Corona

Tes Corona seperti rapid test dan PCR swab memang wajib dilakukan untuk mengindentifikasi positif atau tidaknya seseorang terinfeksi Covid-19. Namun ternyata bukan itu saja yang seharusnya dilaporkan, tetapi juga mengenai jumlah nilai cycle threshold atau CT yang mengindikasikan seberapa banyak virus yang tersimpan dalam tubuh seseorang yang sudah terinfeksi. Penerapan nilai CT dapat membantu dokter menandai pasien yang berisiko tinggi terkena penyakit serius. Hal tersebut berdasarkan sebuah penelitian baru yang juga menunjukkan jumlah angka para penderita sehingga dapat membantu pihak berwenang menentukan siapa yang terinfeksi sehingga harus diisolasi dan melacak dengan siapa pernah berhubungan.

nilai cycle treshold

Baca Juga: Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

Pengertian Nilai CT

Nilai CT adalah jumlah siklus yang diperlukan untuk mendeteksi virus, dan biasanya dijadikan sebagai prosedur dalam pemeriksaan tes PCR, yang mengandalkan beberapa siklus amplifikasi untuk menghasilkan jumlah RNA yang dapat dideteksi. Ketika nilai cycle treshold didapatkan, mesin PCR akan berhenti berjalan, dan memberikan hasil. Apabila sinyal positif tidak terlihat setelah 37 hingga 40 siklus, hasil tes negatif. Namun sampel yang ternyata positif dapat dimulai dengan jumlah virus yang berbeda, dan di sinilah nilah CT memberikan ukuran terbalik. Sebuah tes yang mencatat hasil positif setelah 12 putaran, untuk nilai CT 12, dimulai dengan lebih dari 10 juta kali lebih banyak materi genetik virus sebagai sampel dengan nilai CT 35. Dengan kata lain, nilai CT ini berbanding terbalik dengan jumlah asam nukleat yang menunjukkan jumlah RNA virus pada sampel yang diperiksa. Jadi, semakin tinggi nilai CT, semakin rendah jumlah RNA virus pada sampel. Sebaliknya, semakin rendah nilai CT, berarti semakin tinggi jumlah RNA virus dan semakin tinggi viral load pada sampel. Untuk standar nilai, WHO telah menetapkan <40 untuk bisa disebut positif.

Produk Terkait: Layanan PCR Swab ke Rumah

Sampel yang sama dapat memberikan nilai CT yang berbeda pada mesin pengujian yang berbeda, dan tes usap yang berbeda dari orang yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa nilai CT bukanlah skala yang absolut dan nilai CT pun harus ditafsirkan secara hati-hati. Meski begitu, nilai CT bisa menjadi sangat informatif jika dari hasil tinggi atau rendah yang didapatkan.

Berdasarkan sebuah studi awal, nilai CT dapat meningkat secara bertahap. Ini terlihat pada pasien yang memiliki infeksi dengan nilai CT di bawah 30 atau di bawah 20. Hal ini mengindikasikan ada kadar virus yang cukup tinggi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa viral load yang lebih tinggi dapat sangat memengaruhi penularan seseorang dan mencerminkan tingkat keparahan penyakit. Sebuah penelitian menyebutkan ada 3.790 sampel positif dengan nilai CT untuk mengetahui bahwa mereka terinfeksi virus yang kemungkinan besar dapatmenular. Hasilnya, terdapat 70% sampel dengan nilai CT 25 atau di bawahnya dapat dibiakkan jika dibandingkan dengan kurang dari 3% kasus dengan nilai CT di atas 35.

Hal ini agaknya berbanding terbalik dengan orang yang sering kali dites dengan hasil yang positi akibat masih adanya sisa genetik yang sudah mati dalam tubuh penderita. Namun setelah pulih nilai CT-nya malah tinggi. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak berisiko menularkan sehingga beberapa ahli menyarankan jika orang dengan nilai CT demikian sebenarnya tidak perlu mengisolasi diri.

Baca Juga: 7 Cara Melakukan Self-Isolation yang Tepat Saat Wabah Corona

Manfaat Pengunaan Nilai CT

Manfaat penggunaan nilai CT ini adalah selain membantu para dokter dalam menandai pasien yang paling berisiko terhadap penyakit parah dan kematian, juga dapat membantu epidemiolog dalam melacak wabah. Apabila nilai cycle treshold rendah, dapat disimpulkan bahwa wabah sedang meluas. Begitu juga sebaliknya. Jika nilai CT tinggi, wabah sedang berkurang.

Nah, itulah Sobat Sehat mengapa nilai CT perlu dimasukkan dalam hasil tes Corona seperti PCR swab supaya ada kemudahan untuk bisa menandai atau melacak wabah. Pemeriksaan PCR merupakan bagian dari 3 T (testing, tracing, dan treatment) dan hanya bisa menemukan keberadaan materi virus, tetapi tidak bisa menentukan virus hidup atau tidak. Hanya virus yang masih hidup yang punya potensi menularkan. PCR juga merupakan salah satu metode pencegahan, dan bukan pembasmi Covid-19.  Sobat Sehat diharapkan tetap menjalankan 3 M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Baca Juga: Masih Perlukah Tes Corona dalam Perjalanan

Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai PCR swab dan produk yang berkaitan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi:

  1. One number could help reveal how infectious a COVID-19 patient is. Should test results include it? [Internet]. Science | AAAS. 2020 [cited 2 October 2020]. Available from: https://www.sciencemag.org/news/2020/09/one-number-could-help-reveal-how-infectious-covid-19-patient-should-test-results
  2. Pentingnya Cycle Threshold pada Prognosis COVID-19 [Internet]. Indonesiare.co.id. 2020 [cited 2 October 2020]. Available from: https://www.indonesiare.co.id/id/knowledge/detail/398/Pentingnya-Cycle-Threshold-pada-Prognosis-COVID-19
  3. Pemeriksaan PCR Tidak Menentukan Virus Mati atau Hidup – suaramerdeka.com [Internet]. Suaramerdeka.com. 2020 [cited 2 October 2020]. Available from: https://www.suaramerdeka.com/gayahidup/kesehatan/239936-pemeriksaan-pcr-tidak-menentukan-virus-mati-atau-hidup
  4. Mediatama G. 3T: Upaya memutus rantai penyebaran virus corona [Internet]. PT. Kontan Grahanusa Mediatama. 2020 [cited 2 October 2020]. Available from: https://kesehatan.kontan.co.id/news/3t-upaya-memutus-rantai-penyebaran-virus-corona

Chat Asisten ProSehat aja