Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ hepatitis”

  • Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri. Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan […]

    Kenali Penyebab Penyakit Hepatitis

    Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri.

    Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan hepatitis, sehingga kita bisa memahami betapa pentingnya pencegahan hepatitis melalui pemberian vaksin.

    Apa saja virus yang paling umum menyebabkan hepatitis? Perlu diketahui, ada 5 virus yang paling sering menginfeksi organ hati kita dan menyebabkan hepatitis, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Pada umumnya kelima virus ini dapat memberikan gejala yang kurang lebih mirip antara satu dengan lainnya.

    Gejala yang muncul sangat bervariasi, mulai dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala namun berakibat fatal di kemudian hari. Pembeda kelima virus ini adalah masing-masing virus mempunyai kecenderungan berbeda dalam memberikan gejala akut ringan sampai berat ataupun kronis tidak bergejala.

    Penyebab penyakit kuning atau hepatitis yang disebabkan oleh kelima virus ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian besar:

    Kelompok pertama adalah virus yang ditularkan secara fekal-oral, yaitu hepatitis A dan E. Istilah penularan secara fekal-oral ini artinya penyakit ini ditularkan melalui makanan/minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses/kotoran manusia, lalu masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut. Tentu kondisi ini sangat berhubungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk.

    Kelompok yang kedua adalah virus yang ditularkan melalui darah, yaitu hepatitis B, C, dan D. Virus yang paling umum dikenal adalah virus hepatitis A, B dan C. Data menunjukkan sebanyak 44% kasus hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis A, 49% oleh virus hepatitis B, dan 7% oleh virus hepatitis C.

    Lalu bagaimana dengan virus hepatitis D dan E? Selain lebih tidak umum dikenal, kedua virus ini ternyata memiliki keunikannya masing-masing. Virus hepatitis D tidak dapat menginfeksi manusia secara independen, dimana virus ini membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi tubuh manusia. Sedangkan virus hepatitis E ini sangat mirip dengan virus hepatitis A.

    • Hepatitis A dan E

    Virus hepatitis A ini sangat infeksius, dan biasanya ditularkan melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi feses, sehingga penyakit ini sangat berhubungan erat dengan kebersihan. Selain melalui makanan/minuman yang terkontaminasi, penularan melalui darah juga dapat terjadi meski cukup jarang terjadi karena virus ini berada di dalam peredaran darah dalam waktu yang cukup singkat, tidak seperti virus hepatitis B dan C. Rute penularan lain yang juga mungkin terjadi adalah melalui hubungan seksual oral-anal, dan penggunaan jarum suntik bersama dan berulang meskipun jarang.

    Virus hepatitis A dapat menyerang segala usia, tapi paling sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Bila seseorang terinfeksi virus ini, maka membutuhkan waktu 2-3 minggu sampai akhirnya memberikan gejala. Masa 2 minggu sebelum gejala muncul  merupakan masa yang sangat infeksius, dimana virus sudah keluar lewat feses dan dapat dengan mudah menularkan, terutama pada lingkungan tempat tinggal yang padat dan sanitasi yang buruk. Gejala awal yang ditimbulkan berupa demam, nyeri kepala dan nyeri otot, hilangnya nafsu makan, mual-mual hingga muntah, lemas, dan nyeri pada perut terutama pada bagian kanan atas perut.

    Setelah itu biasanya diikuti dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning dan urin berwarna gelap seperti teh. Tapi, satu hal yang perlu diingat bahwa tidak semua orang yang terinfeksi hepatitis A akan memberikan gejala. 90% dari anak-anak dan 25% dari orang dewasa yang terinfeksi hepatitis A tidak memberikan gejala, sehingga tanpa disadari sudah menyebarkan virus hepatitis A melalui feses mereka. Namun jangan khawatir, setiap orang yang terkena hepatitis A dapat sembuh dengan sempurna karena virus ini tidak akan berlanjut menjadi kronis. Derajat gejala yang ditimbulkan juga biasanya bertaraf ringan sampai sedang.

    Hepatitis E sangat mirip dengan hepatitis A, dari metode penularannya yang juga sama yaitu melalui makanan/minuman yang terkontaminasi feses (fekal-oral), hingga gejala yang ditimbulkan. Hepatitis E pun dapat sembuh sempurna seperti hepatitis A. Karena kemiripan inilah maka cukup sulit untuk kita membedakan hepatitis A dan E. Bahkan, beberapa kasus pun mendapati hepatitis E menginfeksi bersamaan dengan hepatitis A.

    Pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis E tidak tersedia secara luas, tidak seperti pemeriksaan hepatitis A. Penelitian yang dilakukan di India mendapati bahwa memang sebenarnya jumlah kasus hepatitis A lebih banyak terjadi (sebanyak 68%) dari pada hepatitis E (sebanyak 31%). Namun penelitian juga menunjukkan bahwa hepatitis E ternyata memberi gejala yang lebih berat jika terinfeksi saat sedang hamil, sehingga perlu menjadi perhatian bagi ibu-ibu yang sedang hamil untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih supaya tidak sampai tertular.

    Pencegahan hepatitis A dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi hepatitis A, dan vaksin ini juga sudah tersedia di Indonesia. Pemberian vaksin ini akan memberikan kekebalan 94-100% terhadap hepatitis A. Di Amerika sendiri, setelah pemberian vaksin hepatitis A dirutinkan pada anak-anak, angka kejadian hepatitis A ternyata berkurang cukup signifikan.

    • Hepatitis B dan D

    Hepatitis B berbeda dengan hepatitis A. Hepatitis B adalah penyebab tersering penyakit hati kronis dan kanker hati di seluruh dunia. Hepatitis B ini hanya ditularkan melalui cairan tubuh, dan yang terutama adalah melalui darah. Beberapa hal yang dapat menularkan virus hepatitis B adalah penggunaan jarum suntik bersama dan berulang, kontak darah yang terinfeksi hepatitis B dengan luka atau selaput lendir, transfusi darah yang mengandung virus hepatitis B, jarum tato, hubungan seksual, dan penularan dari ibu yang sudah terinfeksi hepatitis B kepada bayinya.

    Gejala yang dapat muncul pada hepatitis B cukup bervariasi, dapat berupa gejala akut seperti pada hepatitis A, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah, nyeri perut, hingga perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, namun seringkali tidak bergejala, atau bahkan hanya memberikan gejala yang sangat minimal dan tidak spesifik. Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B dapat berlanjut menjadi kronis yang tidak bergejala, dan sekitar 15-40% pada akhirnya menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati yang fatal di kemudian hari.

    Biasanya 90% bayi yang tertular hepatitis B dari ibunya atau tertular hepatitis B pada saat berusia anak-anak akan mengalami infeksi yang kronis dan tidak bergejala, atau yang lazimnya disebut sebagai carrier, dan ternyata inilah penyumbang tertinggi angka penyakit hepatitis B di seluruh dunia. Metode penularan lain juga berisiko berlanjut menjadi infeksi yang kronis tapi dengan kemungkinan lebih kecil sebesar 5-10%.

    Lalu, bagaimana dengan hepatitis D? Hepatitis D adalah virus yang sangat unik, dimana ia membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi manusia. Cara penularannya juga sama seperti hepatitis B, yaitu melalui darah. Berdasarkan data, hepatitis D merupakan infeksi virus hepatitis yang paling jarang dibandingkan keempat lainnya.

    Hepatitis D bisa langsung terjadi bersamaan terjadi dengan hepatitis B atau disebut sebagai ko-infeksi, atau pada orang yang sudah mengalami hepatitis B kronis terlebih dahulu, lalu tertular hepatitis D di kemudian hari, dan hal ini disebut sebagai super-infeksi. Persyaratannya harus ada virus hepatitis B bersamanya karena virus hepatitis D adalah virus yang ‘tidak utuh’.

    Nah, gejala yang ditimbulkan biasanya bervariasi. Biasanya ko-infeksi hepatitis B dan D menghasilkan gejala akut yang ringan atau kadang tidak bergejala, kurang lebih mirip dengan infeksi hepatitis B pada umumnya. Namun, pada kondisi super-infeksi, gejala yang muncul biasanya cukup berat, bahkan bisa dikatakan gejalanya paling berat dibandingkan dengan gejala akut keempat virus hepatitis lainnya.

    Baik ko-infeksi maupun super-infeksi, keduanya mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala. Ini artinya, orang tersebut membawa 2 virus sekaligus di dalam tubuhnya. Kondisi infeksi kronis hepatitis B dan D secara bersamaan ini mempercepat terjadinya kerusakan hati fatal di kemudian hari. Sebagai perbandingan, infeksi hepatitis B saja dapat menyebabkan kerusakan hati fatal sekitar 15-40%, tapi meningkat menjadi 70-80% pada infeksi hepatitis B dan D secara bersamaan.

    Mengingat baik hepatitis B dan D ini dapat berakibat fatal, ditambah pengobatannya yang tidak mudah, maka lebih baik bagi kita untuk mencegah agar tidak sampai tertular. Pencegahan terbaik saat ini selain menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus ini adalah dengan vaksinasi hepatitis B. Hepatitis D tidak akan terjadi tanpa hepatitis B, sehingga vaksinasi hepatitis B secara tidak langsung juga akan melindungi kita terhadap hepatitis D. Vaksin hepatitis B ini tersedia secara luas di Indonesia dan bahkan termasuk dalam program imunisasi dasar dan wajib bagi anak-anak Indonesia.

    • HEPATITIS C

    Yang terakhir adalah hepatitis C. Nah hepatitis C ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan secara global, di mana hepatitis merupakan penyebab infeksi kronis yang ditularkan melalui darah yang paling sering salah satunya di negara maju seperti Amerika Serikat. WHO menyatakan sekitar 3% populasi dunia terinfeksi hepatitis C. Di negeri kita penyebab kerusakan hati kronis yang fatal paling banyak tidak hanya disebabkan oleh hepatitis B, tapi juga hepatitis C, loh!

    Hal yang paling menyulitkan adalah belum adanya vaksin yang ditemukan untuk mencegah penyakit hepatitis C hingga saat ini. Pengobatannya pun terbilang cukup sulit, sama halnya dengan hepatitis B. Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah yang mengandung virus hepatitis C, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersamaan dan berulang, transplantasi organ,dan penularan dari ibu yang sudah terkena hepatitis C kepada bayinya. Tidak seperti hepatitis B, penularan hepatitis C dari ibu kepada bayinya dapat terjadi tapi kemungkinannya lebih kecil, yaitu sekitar 4%.

    Hepatitis C ini sangat jarang memberikan gejala akut dibandingkan dengan semua jenis virus hepatitis lainnya, sehingga banyak sekali yang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi hepatitis C.Gejala infeksi akut seringkali memberikan gejala yang tidak khas dan ringan. Tidak heran kebanyakan infeksi hepatitis C baru diketahui/disadari saat sudah terjadi kerusakan hati berat ataupun sirosis hati.

    Sekitar 50-85% pasien yang terinfeksi hepatitis C akan berkembang menjadi infeksi kronis, loh! Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan hepatitis B. Melihat kondisi ini, ditambah dengan pengobatan yang tidak mudah serta belum ditemukannya vaksin hepatitis C, maka metode pencegahan terbaik adalah menghindari agar tidak tertular hepatitis C.

    Pentingnya Vaksinasi

    Nah, setelah membaca 5 penyebab penyakit kuning atau hepatitis ini lebih dalam, tentu kita sudah paling tidak dapat menyadari bahwa hepatitis bukanlah sekedar penyakit biasa. Oleh karena itu,   kita perlu untuk menjaga diri agar tidak sampai tertular hepatitis A, B, C, D, ataupun E, mulai dari berusaha menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus hepatitis, dan mencegahnya dengan vaksinasi.

    Penurunan jumlah insiden kasus hepatitis A dan B di Amerika Serikat setelah ditemukannya vaksin hepatitis A dan B

    Inilah mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting dilakukan. Jika diperhatikan, gambar di atas adalah salah satu bukti bahwa jumlah insiden kasus hepatitis menurun drastis setelah ditemukannya dan diberlakukannya vaksinasi hepatitis A dan B secara luas. Baik vaksin hepatitis A maupun B keduanya tersedia di Indonesia, dan vaksinasi hepatitis B pun termasuk dalam imunisasi dasar dan wajib pada anak-anak.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Chamberlain NR. The big picture: medical microbiology. USA: The McGraw-Hill Companies; 2009. p. 99-208.
    2. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-78.
    3. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-93.
    4. Godara H, Hirbe A, Nassif M, Otepka H, Rosenstock A. The washington manual of medical therapeutics. USA: Washington University School of Medicine; 2014. p. 667-83.
    5. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-9.
    6. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 319;357;375.
    7. Kasper, Fauci, Hauser, Longo, Jameson, Loscalzo. Harrison’s manual of medicine. 19th ed. USA: The McGraw-Hill Companies: 2016. p. 809-15.
    8. Shenoy S, Baliga S, Joon A, & Rao P. Prevalence of hepatitis A virus (HAV) and hepatitis E virus (HEV) in the patients presenting with acute viral hepatitis. Indian Journal of Medical Microbiology. 2015;33(5); 102.
    9. Depkes.go.id. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sebagian Besar Kematian Akibat Hepatitis Virus Berhubungan dengan Hepatitis B dan C Kronis. 26 April 2016. Available at: depkes.go.id
    10. Yeung CY. Vertical transmission of hepatitis C virus: current knowledge and perspectives. World Journal of Hepatology. 2014;6(9);643.
    Read More
  • Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus hepatitis B merupakan jenis yang paling sering menyebabkan peradangan hati yang bersifat kronis (lama) dan sangat berbahaya. Di dunia terdapat 240 juta orang yang menderita hepatitis B kronis dan 75%-nya berada di Asia, termasuk Indonesia. Akibat dari bahaya hepatitis B ditambah […]

    10 Bahaya Hepatitis B pada Bayi!

    Hepatitis B adalah peradangan pada organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus hepatitis B merupakan jenis yang paling sering menyebabkan peradangan hati yang bersifat kronis (lama) dan sangat berbahaya. Di dunia terdapat 240 juta orang yang menderita hepatitis B kronis dan 75%-nya berada di Asia, termasuk Indonesia.

    Akibat dari bahaya hepatitis B ditambah belum adanya pengobatan yang dapat seutuhnya menyembuhkan penyakit tersebut, sampai pada tahun 2015, setiap tahun masih terdapat kematian sebanyak 600.000 orang penderita hepatitis B. Pada bayi, faktor risiko paling besar untuk mendapat infeksi hepatitis B adalah paparan terhadap ibu yang menderita hepatitis B selama proses kehamilan dan persalinan. Sebanyak 90% bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, baik secara normal atau operasi sesar, juga akan mendapat infeksi hepatitis B kronis jika tidak diberikan penanganan yang tepat saat lahir.

    Hepatitis B disebut sebagai jenis hepatitis yang sangat berbahaya karena dari 100% bayi yang baru tertular infeksi, hanya 5% yang akan pulih dan berhasil membentuk kekebalan tubuh terhadap virus hepatitis B, sedangkan 1 – 5% akan dengan cepat berkembang menjadi infeksi yang parah sampai menyebabkan kematian dini, dan sisanya (90 – 94%) akan berlanjut menjadi infeksi kronis yang merupakan cikal bakal terbentuknya jaringan parut hati (sirosis) atau bahkan kanker hati.

    Berikut ini akan kita kupas 10 bahaya hepatitis B pada bayi serta gejala yang mungkin muncul, sehingga bisa membantu orang tua untuk lebih waspada, terutama jika sang ibu selama kehamilannya menderita hepatitis B.

    1. Kematian sel hati

    Virus hepatitis B secara spesifik menyerang sel hati. Virus akan masuk kedalam sel dan merusak struktur serta metabolisme sel, menyebabkan kematian sel. Infeksi yang baru terjadi seringkali tidak menimbulkan gejala, tapi kematian sel hati dapat dideteksi dengan meningkatnya kadar enzim hati.

    2. Terbentuk jaringan parut (sirosis hati)

    Saat jaringan hati rusak, ia akan membuat sel baru untuk menggantikan kerusakan, dan pada prosesnya dapat terbentuk jaringan parut. Keberadaan jaringan parut ini mengganggu fungsi hati. Pada sirosis hati yang luas, gejala seperti mudah lelah, mudah luka dan berdarah, mual, atau warna kulit menjadi kuning dapat muncul.

    3. Penyumbatan saluran empedu (kolestasis)

    Sel hati juga memproduksi bilirubin (zat yang memberi warna kuning pada urin dan  feses). Pada kondisi kerusakan hati, bilirubin tidak bisa keluar dari hati menuju ke usus, sehingga akan terserap kembali ke darah dan mengakibatkan perubahan warna kulit menjadi kuning.

    4. Penurunan fungsi otak akibat zat berbahaya (ensefalopati hepatikum)

    Fungsi hati yang terganggu untuk membuang zat berbahaya dalam tubuh mengakibatkan zat tersebut tetap beredar dalam darah dan mencapai otak. Hal tersebut bisa menimbulkan gangguan kesadaran, mudah lupa, bicara terpatah – patah, tangan gemetar, yang merupakan gejala dari ensefalopati hepatikum.

    5. Penyakit sendi

    Gejala pada hepatitis B tidak hanya disebabkan aktivitas virus, tapi juga respon imun dari tubuh manusia. Dalam perjalanan penyakitnya, bagian tubuh yang terikat dengan bagian dari virus akan beredar dalam darah dan dapat mengendap di sendi sehingga mengakibatkan nyeri sendi (atralgia).

    6. Peradangan ginjal

    Peradangan ginjal diakibatkan mekanisme imun yang sama seperti pada nyeri sendi. Jika terjadi, maka fungsi ginjal juga akan terganggu.

    7. Sindrom Guillain-Barré

    Sindrom ini juga didasari oleh mekanisme imun, yang ditandai dengan kelumpuhan otot yang berawal dari anggota gerak bawah dan menjalar ke bagian atas tubuh. Kelumpuhan yang sudah mencapai otot dada sangat berbahaya karena dapat mengganggu pernapasan.

    8. Gangguan pembekuan darah (koagulopati)

    Koagulopati terjadi karena terganggunya fungsi hati dalam membentuk faktor pembekuan darah.

    9. Kanker hati

    Kanker hati adalah kanker ke – 6 terbanyak di dunia dan 55% dari kasus kanker hati disebabkan oleh virus hepatitis B.

    10. Kematian

    Hepatitis B memiliki angka kematian tertinggi di antara jenis hepatitis lainnya. Jika bayi lahir dari ibu dengan hepatitis B dan tidak mendapat penanganan tepat, bahaya hepatitis B yang paling ditakuti ini dapat terjadi.

    Berita baiknya, 10 bahaya hepatitis B tersebut dapat dicegah! Bagi ibu hamil yang sedang menderita hepatitis B tidak perlu hilang harapan, karena saat ini di Indonesia telah diterapkan program vaksinasi khusus untuk bayi yang lahir dari ibu yang positif menderita hepatitis B. Program tersebut berupa pemberian Imunoglobulin Hepatitis B (HBIG) dan vaksin hepatitis B sebanyak satu kali sebelum bayi berusia 12 jam.

    Pada bayi yang lahir dari ibu tanpa hepatitis B, hanya diberikan vaksin hepatitis B saja, tanpa HBIG. HBIG memiliki cara kerja yang berbeda dengan vaksin hepatitis B. Sesuai dengan namanya, HBIG merupakan imunoglobulin, yaitu antibodi spesifik yang sudah siap memberikan proteksi bagi tubuh bayi terhadap virus hepatitis B, tapi fungsi proteksi ini hanya sementara (3 – 6 bulan). Oleh karena itu, diperlukan juga pemberian vaksin hepatitis B yang merupakan virus yang sudah dilemahkan, sehingga memicu tubuh bayi membentuk antibodinya sendiri terhadap virus hepatitis B.

    Pada bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B, tidak ada pengecualian untuk pemberian vaksin hepatitis B, termasuk bayi prematur dengan berat badan lahir < 2.000 gram. Namun, pada bayi yang lahir dari ibu tanpa hepatitis B, jika lahir dengan berat badan lahir < 2.000 gram, maka pemberian vaksin hepatitis B ditunda sampai bayi berusia 1 bulan.

    Setelah vaksin pada hari pertama kelahiran, setiap bayi tetap harus melengkapi jadwal imunisasi hepatitis B sebanyak tiga kali, yaitu saat usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Jadwal ini berlaku secara nasional di Indonesia, sehingga bisa didapatkan di seluruh fasilitas kesehatan, termasuk untuk bayi yang lahir dari ibu tanpa hepatitis B. Pemberian HBIG dan empat dosis vaksin hepatitis B memiliki efektivitas sebesar 85 – 95% dalam mencegah penularan dari ibu ke bayi.

    Vaksin hepatitis B ini telah terbukti aman, tetapi sama seperti vaksin lainnya, efek samping seperti nyeri di bagian tubuh yang disuntik atau demam mungkin terjadi setelah vaksinasi. Namun, hal tersebut merupakan efek samping ringan yang akan hilang setelah 1 – 2 hari, sehingga vaksinasi tetap memberikan keuntungan yang lebih besar, yaitu terlindunginya bayi dari bahaya hepatitis B, khususnya kematian dini.

    Nah, jika Anda ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis B, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Borgia G, Carleo M, Gaeta G, Gentile I. Hepatitis B in pregnancy. World Journal of Gastroenterology. 2012;18(34):4677-4683.
    2. Hepatitis B Vaccine Safety Vaccines | Vaccine Safety | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2015 [cited 5 July 2018]. Available from: https://www.cdc.gov/vaccinesafety/vaccines/hepatitis-b-vaccine.html
    3. Michielsen P, Ho E. Viral hepatitis B and hepatocellular carcinoma. ActaGastroenterol Belg. 2011;74(1):4-8.
    4. Nelson N, Jamieson D, Murphy T. Prevention of Perinatal Hepatitis B Virus Transmission. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society. 2014;3(1):S7-S12.
    5. Nelson. Textbook of Pediatrics. Edisi ke-20. Philadelphia: Elsevier, 2016.
    6. Purwono P, Juniastuti, Amin M, Bramanthi R, Nursidah, Resi E et al. Hepatitis B Virus Infection in Indonesia 15 Years After Adoption of a Universal Infant Vaccination Program: Possible Impacts of Low Birth Dose Coverage and a Vaccine-Escape Mutant. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 2016;95(3):674-679.
    7. Yano Y, Utsumi T, Lusida M, Hayashi Y. Hepatitis B virus infection in Indonesia. World Journal of Gastroenterology. 2015;21(38):10714-10720.

     

    Read More
  • Apakah Sobat pernah mendengar istilah hepatitis atau sirosis hati? Mungkin banyak yang pernah mendengar istilah ini, baik melalui media kesehatan atau media sosial. Sebagian besar  masyarakat awam mengenalnya dengan istilah peradangan hati, atau infeksi hati, tetapi adakah perbedaan antara keduanya? Di dunia medis, kedua istilah ini ternyata mengandung makna yang sangat berbeda, yaitu terkait dengan […]

    Sirosis Hati dan Hepatitis, Apa Bedanya?

    Apakah Sobat pernah mendengar istilah hepatitis atau sirosis hati? Mungkin banyak yang pernah mendengar istilah ini, baik melalui media kesehatan atau media sosial. Sebagian besar  masyarakat awam mengenalnya dengan istilah peradangan hati, atau infeksi hati, tetapi adakah perbedaan antara keduanya? Di dunia medis, kedua istilah ini ternyata mengandung makna yang sangat berbeda, yaitu terkait dengan perjalanan penyakitnya. Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

    Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, obat-obatan, toksin, maupun penyakit autoimun. Penyebab tersering hepatitis adalah virus hepatitis, yang terdiri dari 5 macam yaitu virus hepatitis A, B, C D dan E. Faktor risiko lain adalah konsumsi alkohol dan makanan berlemak berlebihan. Virus yang dapat menyebabkan infeksi yang paling berbahaya adalah virus hepatitis B dan C. Kedua virus ini ditularkan melalui kontak darah, hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, dan transmisi vertikal dari ibu ke bayi saat persalinan. Kedua virus ini berpotensi menyebabkan peradangan hati yang berat dan berlangsung lama, yang dapat menyebabkan kerusakan sel-sel hati yang permanen.

    Gambar 1. Perjalanan Penyakit Hepatitis

    Perjalanan penyakit hepatitis umumnya bersifat sementara dan tidak berlangsung lama, tapi jika tidak ditangani dapat memburuk ke kondisi yang dinamakan sirosis.
    Sirosis adalah kondisi dimana terjadi perubahan struktural sel-sel hati akibat peradangan yang berlangsung lama. Kondisi ini terjadi akibat inflamasi yang berlangsung terus-menerus, sehingga mengganggu struktur sel hati. Perubahan ini merupakan kondisi permanen yang menyebabkan penurunan berat dari organ hati, gangguan aliran darah serta gangguan fungsi hati. Sirosis dapat berlanjut menjadi kanker hati akibat peradangan yang berlangsung lama sehingga menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan. Sirosis merupakan suatu kondisi yang mendahului fase akhir penyakit hati, yaitu gagal hati.

    Jika Sobat diduga menderita hepatitis maupun sirosis hati, maka akan dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis dan membedakan kedua kondisi tersebut. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan laboratorium, histopatologi dan radiologi. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah, terutama untuk memeriksa antigen dan antibodi virus, serta fungsi hati secara umum. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan radiologi, yaitu dengan USG atau CT Scan bagian perut untuk evaluasi struktur anatomis hati secara kasar. Namun penentuan diagnosis sirosis sebenarnya adalah dengan pemeriksaan histopatologi, yaitu pemeriksaan sel-sel hati dengan menggunakan mikroskop, sehingga dapat diketahui adanya perubahan struktural, dimana terbentuk jaringan-jaringan parut di antara sel-sel hati yang mengganggu fungsi hati.

    Tanda dan gejala yang sering didapati pada penderita hepatitis antara lain demam, kuning, nyeri ulu hati, mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan nyeri-nyeri sendi. Kondisi yang lebih berat, atau yang disebut sebagai hepatitis fulminan melibatkan gangguan sistem saraf pusat, pencernaan, dan pembekuan darah. Gejala gangguan sistem saraf pusat yang mungkin ditemukan antara lain penurunan kesadaran, gangguan perilaku dan gangguan tidur. Gejala yang berat pada sistem pencernaan antara lain akumulasi cairan di rongga perut yang disebut asites, dan pendarahan di saluran cerna.

    Kedua penyakit ini memanglah hasil jangka panjang dari berbagai penyebab peradangan hati yang disebutkan di atas. Terapi untuk hepatitis adalah dengan pengobatan antiviral, interferon, dan obat-obatan pendukung  lainnya. Sedangkan untuk sirosis sebagian besar adalah suportif, artinya pengobatan diberikan untuk mengatasi komplikasi yang muncul. Selain itu, terdapat kemungkinan dilakukan cangkok hati apabila fungsi hati sudah sangat menurun. Nah mungkin saat ini Anda bertanya, adakah cara untuk menghindari penyakit-penyakit tersebut? Mengingat bahwa infeksi virus hepatitis merupakan penyumbang terbesar angka kejadian hepatitis dan sirosis, maka salah satu cara yang efektif adalah dengan vaksinasi. Saat ini vaksinasi yang tersedia adalah vaksinasi hepatitis A dan B. Hepatitis A merupakan penyakit yang self-limiting, atau dapat sembuh sendiri, sehingga vaksinasinya tergolong jarang.

    Sebaliknya, vaksinasi hepatitis B sangat umum ditemukan, mulai dari bayi baru lahir, anak-anak, remaja hingga dewasa. Cara penularan virus hepatitis B melalui kontak kulit atau mukosa dengan darah dan cairan tubuh, sehingga terdapat kelompok-kelompok yang berisiko tinggi menderita hepatitis B yang membutuhkan vaksinasi. Kelompok-kelompok tersebut antara lain tenaga kesehatan, individu dengan perilaku seksual berisiko, pengguna narkoba suntik, serta bayi dari ibu yang terinfeksi hepatitis B. Pada beberapa negara, dianjurkan para wisatawan untuk mendapatkan suntikan vaksinasi hepatitis B sebelum bepergian ke negara yang tingkat infeksinya tinggi.

     

    Vaksinasi hepatitis B menggunakan komponen dari virus hepatitis B yang dilemahkan, yang dibentuk dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan. Tujuan pemberian vaksinasi ialah untuk memicu terbentuknya antibodi sebagai pertahanan pertama terhadap virus hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B diberikan sebanyak 3 kali, dengan dosis sesuai usia, yaitu pada bulan ke-0, 1, dan 6.

    Pada anak-anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI) merekomendasikan pemberian vaksin pada bayi sesaat setelah lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Pemberiannya disesuaikan dengan program pemerintah, yaitu jadwal imunisasi nasional. Setelah pemberian awal tersebut, dapat dilakukan pemberian booster setiap 5 tahun untuk menjaga kadar antibodi tetap stabil.

     

    Setelah membaca poin-poin di atas, tentunya Sobat dapat menyimpulkan perbedaan hepatitis dan sirosis hati terletak pada perkembangan penyakit. Infeksi hepatitis dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kegagalan hati memang merupakan kondisi yang berbahaya serta dapat menimbulkan kematian. Kita tidak boleh hanya diam saja tanpa berusaha mencegahnya. Jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kasper DL, Fauci AS, Hauser S, Longo D, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine 19/E (Vol.1 & Vol.2). McGraw Hill Professional; 2015. 3983 p.
    2. El-Serag HB. Epidemiology of Viral Hepatitis and Hepatocellular Carcinoma. Gastroenterology. 2012 May 1;142(6):1264–73.e1.
    3. Franco E, Bagnato B, Marino MG, Meleleo C, Serino L, Zaratti L. Hepatitis B: Epidemiology and prevention in developing countries. World J Hepatol. 2012 Mar 27;4(3):74–80.
    4. Schuppan D, Afdhal NH. Liver cirrhosis. The Lancet. 2008 Mar 8;371(9615):838–51.
    5. Kao J-H. Diagnosis of hepatitis B virus infection through serological and virological markers. Expert Rev GastroenterolHepatol. 2008 Aug 1;2(4):553–62.
    6. Kim MY, Jeong WK, Baik SK. Invasive and non-invasive diagnosis of cirrhosis and portal hypertension. World J Gastroenterol WJG. 2014 Apr 21;20(15):4300–15.
    7. Sharma S, Khalili K, Nguyen GC. Non-invasive diagnosis of advanced fibrosis and cirrhosis. World J Gastroenterol WJG. 2014 Dec 7;20(45):16820–30.
    8. Ghany Marc G., Strader Doris B., Thomas David L., Seeff Leonard B. Diagnosis, management, and treatment of hepatitis C: An update. Hepatology. 2009 Mar 27;1335–74.
    9. Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis B VIS [Internet]. CDC; 2016. Available from: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/hep-b.html
    10. IDAI. JADWAL IMUNISASI 2017 [Internet]. IkatanDokterAnak Indonesia; 2017. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

     

    Read More
  • Pencegahan penularan penyakit hepatitis B menjadi hal yang penting dan perlu perhatian khusus. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi virus paling sering terjadi di dunia, di mana angka kejadiannya sangat tinggi terutama di negara Asia, Afrika, dan Oceania. WHO memprediksi sekitar 2 miliar orang di dunia terinfeksi hepatitis B dan sekitar 370 juta sudah […]

    Bagaimana Mencegah Penularan Hepatitis B pada Bayi jika Ibunya Terinfeksi Hepatitis saat Hamil?

    Pencegahan penularan penyakit hepatitis B menjadi hal yang penting dan perlu perhatian khusus. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi virus paling sering terjadi di dunia, di mana angka kejadiannya sangat tinggi terutama di negara Asia, Afrika, dan Oceania. WHO memprediksi sekitar 2 miliar orang di dunia terinfeksi hepatitis B dan sekitar 370 juta sudah mengalami infeksi kronis. Di Indonesia angka kejadiannya semakin tahun semakin meningkat. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, angka kejadian hepatitis meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2007, dan didapati kasus terbanyak terjadi di daerah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi, dan Maluku, dan diperkirakan masih terus meningkat. Berikut adalah gambar peta kejadian hepatitis B di dunia.

    Infeksi hepatitis B akan menyebabkan gangguan organ hati yang sementara hingga menahun, seperti sirosis hati, hingga berisiko tinggi menyebabkan kanker hati dan pada akhirnya akan berujung pada kematian. Gejala yang ditimbulkan dari infeksi hepatitis B bervariasi, mulai dari gejala akut yang ringan hingga gejala yang sangat berat, dan dapat pula infeksi kronis yang tidak memberikan gejala, namun tetap berujung pada kerusakan hati permanen kemudian hari. Biasanya bayi yang baru lahir jika terinfeksi hepatitis B tidak akan memberikan gejala tapi nantinya berkembang menjadi kerusakan hati yang kronis, kanker hati dan berujung kematian.

    Penularan virus hepatitis ini dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu melalui:

    • Kontak dengan darah atau cairan tubuh penderita yang terinfeksi hepatitis B melalui luka atau selaput lendir
    • kontak seksual dengan orang yang sudah teinfeksi hepatitis B
    • penggunaan jarum suntik yang berulang
    • donor darah yang terinfeksi hepatitis B
    • dan penularan dari ibu dengan hepatitis B ke bayi yang baru lahir

    Pada poin terakhir inilah yang paling sering terjadi di negara berkembang dan Indonesia termasuk di dalamnya. Penularan dari ibu ke bayi ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan dunia yang masih perlu banyak evaluasi.

    Setiap orang yang sudah terinfeksi hepatitis B akan berperan sebagai seorang pembawa, atau yang lazimnya disebut sebagai carrier. Hal ini berarti orang tersebut berisiko menularkan virus tersebut kepada orang lain, melalui beberapa cara penularan yang sudah dicantumkan dalam paragraf sebelumnya. Sehingga, ibu yang sudah mengalami hepatitis B saat ia hamil berisiko menularkan virus hepatitis pada bayinya. Tidak hanya itu, kelak si anak juga dapat menularkan kepada anak lainnya, dan begitu seterusnya.

    Penularan hepatitis B dari ibu yang sudah terinfeksi kepada bayinya paling tinggi terjadi saat proses persalinan itu sendiri, dimana saat proses persalinan terjadi kontak antara darah ibu dengan bayi. Risiko penularan hepatitis B berkisar antara 10% hingga 90%. Rentang ini cukup besar karena pada umumnya hal ini tergantung dari jumlah virus hepatitis B dalam tubuh ibu, tingkat aktivitas pembelahan virus itu sendiri, dan berbagai faktor lainnya.

    Pemeriksaan lanjut diperlukan, tidak hanya pemeriksaan yang sekedar mengetahui positif terinfeksi hepatitis B atau tidak. Cara penularan lain adalah saat di dalam kandungan. Penularan saat bayi masih dalam kandungan terbukti dapat terjadi meski dengan kemungkinan yang lebih kecil tapi mekanisme terjadinya masih belum sepenuhnya jelas.

    Pencegahan penularan hepatitis B memiliki berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah banyak dari ibu yang tidak pernah diperiksa status hepatitis B pada dirinya, dan bahkan banyak ibu yang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi virus hepatitis B. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan ibu tentang penyakit hepatitis B ini. Data menunjukkan bahwa 10% dari ibu tidak mengetahui status hepatitis B pada dirinya ternyata sudah membawa infeksi hepatitis B dalam dirinya yang berisiko tinggi menularkan kepada bayinya saat proses persalinan. Selain itu, bayi yang terinfeksi hepatitis B dari ibunya ini biasanya tidak akan memberikan gejala apapun, sehingga mengetahuinya perlu melalui pemeriksaan.

    Mencegah lebih baik daripada mengobati, dan hal ini juga berlaku dalam hepatitis B loh! Penyakit Hepatitis B sangat mungkin untuk dicegah, dan pencegahannya lebih mudah dan efektif dibandingkan mengobatinya. Strategi pencegahan terbaik penularan hepatitis B pada ibu yang sudah terkena hepatitis B adalah melalui imunisasi yang dilakukan dalam waktu satu tahun pertama kehidupan bayi.

    Terdapat dua macam imunisasi yang perlu diberikan pada bayi dengan ibu yang sudah terinfeksi hepatitis B, yaitu:

    • imunisasi aktif dimana imunisasi ini akan memicu tubuh membentuk antibodi
    • imunisasi pasif dimana imunisasi langsung memberikan antibodi terhadap virus tersebut.

    Imunisasi aktif dilakukan dengan memberikan vaksinasi hepatitis B, sementara imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan Hepatitis B Immunoglobulin atau disebut sebagai HBIG. Data penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi hepatitis B dan HBIG memberikan proteksi lebih baik dibandingkan jika hanya diberikan salah satu saja. Pemberian vaksin hepatitis B dan HBIG dapat memberikan proteksi sebesar 85-95%, jika diberikan dengan tepat dan lengkap. Kedua jenis imunisasi ini tersedia di Indonesia, dan vaksin hepatitis B termasuk dalam program imunisasi dasar wajib.

    Vaksin hepatitis B berisi protein virus yang kemudian akan memicu tubuh memproduksi antibodi terhadap virus. Vaksin ini pertama kali dikomersialkan pada tahun 1982. Vaksin hepatitis B efektif mencegah infeksi hepatitis B jika diberikan langsung sesaat setelah terinfeksi hepatitis B. Sehingga, vaksin hepatitis B perlu diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir.

    Tujuan vaksinasi pertama sesaat setelah bayi lahir ini adalah untuk mencegah virus benar-benar menginfeksi bayi yang sudah terpapar dengan virus hepatitis B dari ibunya pada saat proses persalinan. Efektivitas vaksin akan berkurang jika interval waktu antara bayi lahir dengan waktu pemberian vaksinasi hepatitis B pertama ini semakin lama, sehingga WHO merekomendasikan pemberian vaksin hepatitis B saat lahir tidak melebihi 24 jam usia kehidupan bayi, dilanjutkan dengan dua kali pemberian dengan interval waktu masing-masing 1 bulan.

    Selain memberikan imunisasi aktif berupa vaksinasi hepatitis B, diperlukan juga pemberian imunisasi pasif yaitu dengan memberikan HBIG. HBIG ini berbeda dengan vaksin hepatitis B, di mana HBIG sudah berisi antibodi terhadap virus hepatitis B itu sendiri. HBIG diberikan pada bayi jika ibu yang sudah diketahui positif terinfeksi hepatitis B. Seperti layaknya vaksin hepatitis B, HBIG perlu diberikan sesegera mungkin maksimal 24 jam pertama kehidupan bayi, dan perlu dilanjutkan dengan 2 kali pemberian dengan interval masing-masing 1 bulan. Namun, salah satu kekurangan dari HBIG adalah harganya yang relatif mahal sehingga seringkali tidak selalu dapat diberikan.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis B, salah satu solusi pencegahannya dengan melakukan vaksin hepatitis. Kini Anda tak perlu bingung, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!
    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    DAFTAR PUSTAKA

    Vashishtha VM, Kalra A, Thacker N. FAQs on vaccines and immunization practices. 2nd ed. New Dehli: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2015. p. 150-3.
    National Institute of Health Research and Development. Basic health reseach 2013 (RISKESDAS 2013). Indonesia: Ministry of Health of Republic of Indonesia; 2013. p. 5;8.
    Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p.342;355;357.
    Chang MH, Chen DS. Prevention of hepatitis B. Cold Spring Harb Perspect Med. 2015;5(3):a021493.
    Lin CL, Kao JH.Prevention of mother-to-child transmission: the key of Hepatitis B virus elimination. Hepatology International. 2018;12: 94-96.
    Yi P, Chen R, Huang Y, Zhou RR. Management of mother-to-child transmission of hepatitis B virus: propositions and challenges. Journal of Clinical Virology. 2016;77;32-39.
    Nelson, N. P., Jamieson, D. J., & Murphy, T. V. Prevention of perinatal hepatitis B virus transmission. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society. 2014;3(1); 7–12.

    Read More
  • Apakah gejala hepatitis dan flu biasa berbeda? Apakah justru memang terdapat kesamaan di antara kedua penyakit ini? Sobat mungkin sering mendengar tentang pemberian vaksinasi hepatitis, tetapi biasanya sulit memahami pentingnya vaksinasi tersebut bila kita tidak memahami  hepatitis dan gejalanya. Lalu, apakah yang dimaksud dengan hepatitis? Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, di mana virus […]

    Gejala Hepatitis Beda dengan Flu Biasa, Yuk Pahami Lebih Lanjut!  

    Apakah gejala hepatitis dan flu biasa berbeda? Apakah justru memang terdapat kesamaan di antara kedua penyakit ini? Sobat mungkin sering mendengar tentang pemberian vaksinasi hepatitis, tetapi biasanya sulit memahami pentingnya vaksinasi tersebut bila kita tidak memahami  hepatitis dan gejalanya.

    Lalu, apakah yang dimaksud dengan hepatitis?

    Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, di mana virus ini memiliki target organ yang diserang adalah organ hati. Sedangkan, flu biasa atau yang juga dikenal sebagai common cold adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus akut yang menyerang saluran pernapasan kita. Jika dilihat, kedua penyakit ini sama-sama disebabkan oleh virus, tetapi jenis virusnya berbeda dan target organ tubuhnya berbeda juga.

    Sebelumnya kita perlu meluruskan terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan hepatitis. Hepatitis ialah infeksi yang menyerang organ hati. Infeksi organ hati ini secara umum dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, baik bakteri, virus, jamur hingga parasit.

    Jadi, tidak hanya virus saja yang menyerang hati dan menyebabkan hepatitis. Namun, infeksi yang paling sering menyerang organ hati adalah infeksi virus, sehingga istilah hepatitis biasanya langsung dikaitkan dengan infeksi virus, dan inilah yang menjadi topik pembahasan kali ini.

    Hepatitis karena virus dibagi lagi menjadi beragam jenis, tergantung dari jenis virus hepatitis yang menyerang, yaitu mulai dari virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Perlu diingat juga, bahwa virus yang menyerang hati ini tidak hanya virus hepatitis A sampai E, ada virus-virus lain juga menyebabkan hepatitis. Hal ini perlu diketahui agar tidak salah dalam memahami hepatitis.

    Gejala hepatitis oleh virus hepatitis A hingga E ini secara umum sebenarnya memberikan gejala yang mirip antara satu sama lain. Gejalanya bervariasi dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala. Pembeda dari kelima virus hepatitis ini pada gejala akut yang ringan, berat, atau kronis tidak bergejala.

    Gejala yang paling umum saat terjadi pada infeksi hepatitis akut adalah gejala yang tidak spesifik seperti:

    • demam,
    • sakit kepala,
    • nyeri otot,
    • nyeri persendian,
    • mual,
    • hilangnya nafsu makan dan
    • dapat pula gejala gangguan saluran pernapasan atas seperti batuk dan pilek.

    Gejala lain yang juga dapat terjadi adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut terutama pada bagian perut kanan atas, muntah, diare, menggigil, kemerahan dan gatal-gatal pada kulit, warna tinja yang berubah menjadi pucat, hingga urin berwarna gelap seperti teh.

    Beberapa kondisi dapat dilanjutkan dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, meski tidak semuanya akan menunjukkan gejala ini. Gejala akut ini dapat berlangsung hingga 3-6 minggu dan jarang lebih lama dari rentang tersebut, bahkan gejala yang lebih ringan biasanya berlangsung lebih singkat.

    Dari ketiga jenis hepatitis virus yang paling sering, yaitu A, B, dan C, ketiganya mampu memberikan gejala akut seperti yang dijelaskan pada paragraf berikutnya, dengan kecenderungan masing-masing yang berbeda. Virus hepatitis A cenderung memberikan gejala akut yang lebih berat, tapi akan sembuh sempurna dan tidak akan berkembang menjadi kronis.

    Virus hepatitis B dan C ini berbeda dengan hepatitis A. Kedua virus ini tidak selalu memberikan gejala akut, dan bila terjadi biasanya ringan dan tidak spesifik. Virus ini mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala bila ditemukan di dalam tubuh dan bertahan ≥ 6 bulan. Hepatitis C, khususnya, sangat jarang memberikan gejala akut. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi hepatitis B dan C, gejalanya bisa sama sekali tidak spesifik dan ringan.

    Lalu apakah flu biasa itu?

    Sudah cukup panjang lebar membahas tentang hepatitis, mari sekarang kita bahas mengenai flu biasa atau common cold. Common cold ini disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan. Virus yang menyebabkan common cold sangat bervariasi, dan sebagai pengetahuan, yang paling sering adalah Rhinovirus. Gejalanya dari infeksi virus ini tentu semua kita pernah mengalaminya, yaitu bersin-bersin, batuk dan pilek, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, nyeri menelan, kadang dapat terjadi nyeri otot dan persendian, demam, sakit kepala dan hilangnya nafsu makan.

    Jika diperhatikan dengan seksama, gejala pada common cold lebih berupa gejala pada pernapasan. Berbeda dengan gejala infeksi hepatitis, dimana gejala pada pernapasan jarang terjadi, tetapi cenderung lebih berat pada pencernaan, seperti mual dan muntah, diare, dan   beberapa gejala yang cukup khas yaitu perubahan warna kulit menjadi kuning dan urin berwarna pekat gelap seperti teh, tidak akan terjadi pada infeksi flu biasa.

    Mengingat hepatitis ini cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan organ hati yang fatal di kemudian hari, khususnya hepatitis B dan C, serta pengobatannya yang tidaklah mudah, maka pencegahan adalah cara yang paling baik dalam menangani penyakit hepatitis. Pencegahan terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan pemberian vaksinasi agar tubuh memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis.

    Inilah sebabnya mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting. Baik di Indonesia maupun di dunia, saat ini vaksin yang tersedia adalah vaksin terhadap hepatitis A dan B. Vaksin hepatitis A tersedia di Indonesia namun tidak menjadi vaksin yang rutin diberikan, sedangkan vaksin hepatitis B sudah termasuk menjadi bagian dalam imunisasi wajib di Indonesia.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-3.
    2. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-2.
    3. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-7;2185-6.
    4. Chang MH, Chen DS. Prevention of hepatitis B. Cold Spring Harb Perspect Med. 2015;5(3):a021493.
    5. Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ. Infectious disease essentials. Philadelphia: Elsevier; 2017. p. 198-9.
    Read More
  • Penyakit hepatitis merupakan sesuatu yang tidak asing terdengar, dan mungkin kebanyakan orang telah mengetahui beberapa jenis hepatitis, terutama hepatitis A dan hepatitis B. Namun, tahukah Sobat, hepatitis karena infeksi virus itu ternyata ada 5 jenis? Nah, hal itu tentu harus diwaspadai. Penyakit hepatitis terdiri dari hepatitis A, B, C, D, dan E. Semua virus hepatitis […]

    5 Penyakit Hepatitis yang Patut Diwaspadai!

    Penyakit hepatitis merupakan sesuatu yang tidak asing terdengar, dan mungkin kebanyakan orang telah mengetahui beberapa jenis hepatitis, terutama hepatitis A dan hepatitis B. Namun, tahukah Sobat, hepatitis karena infeksi virus itu ternyata ada 5 jenis? Nah, hal itu tentu harus diwaspadai.

    Penyakit hepatitis terdiri dari hepatitis A, B, C, D, dan E. Semua virus hepatitis ini menimbulkan gejala yang mirip. Pada awalnya gejala yang timbul tidak khas, misalnya demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, tidak nafsu makan, mual, muntah, lemas, nyeri badan, dan sakit kepala. Satu hingga dua minggu setelah muncul gejala tersebut, barulah muncul gejala-gejala hepatitis yang lebih spesifik, misalnya rasa nyeri atau tidak nyaman pada perut kanan atas, perubahan warna urin menjadi kecokelatan, feses menjadi putih, dan kuning. Perbedaan dari berbagai hepatitis terdapat pada cara penularan dan perjalanan penyakitnya.

    Hepatitis A

    Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, kejadian hepatitis di Indonesia adalah 1,2%, dengan jumlah kasus hepatitis A sebesar 19,3% dari seluruh kasus hepatitis. Hampir semua infeksi virus hepatitis A (HAV) ditularkan secara fekal (feses)-oral (mulut), yaitu masuk ke tubuh orang sehat lewat makanan atau minuman yang tercemar oleh tinja penderita hepatitis A. Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia, hepatitis A bersifat endemis. 90% anak berusia di bawah 10 tahun telah terinfeksi hepatitis A, sembuh, dan memiliki kekebalan tubuh seumur hidup terhadap HAV.

    Penderita hepatitis A dapat mengalami kekambuhan beberapa minggu hingga beberapa bulan kemudian setelah sembuh dari episode hepatitis pertama. Meski begitu, hepatitis A tidak pernah menjadi hepatitis kronis (permanen) dan hanya terjadi pada 0,1% kasus, biasanya pada orang tua dan dapat mengancam nyawa.

    Pencegahan hepatitis A dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin hepatitis A telah tersedia di Indonesia tetapi belum diwajibkan.

    Hepatitis B

    Virus hepatitis B (HBV) ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui cairan tubuh orang yang terinfeksi ke tubuh orang sehat. Cairan tubuh yang dimaksud dapat berupa cairan mani, air ludah, atau darah. Cairan ini dapat masuk ke tubuh orang sehat melalui luka terbuka, jarum suntik yang dipakai bergantian, hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan alat tertentu bersamaan (sikat gigi, pisau cukur, dan alat medis), kontak yang dekat dan lama, serta penularan dari ibu yang mengandung ke bayi yang dikandungnya.

    Di Indonesia, saat ini vaksin hepatitis merupakan vaksin yang wajib diberikan pada bayi, sehingga kebanyakan kasus hepatitis B (90%) adalah pada bayi yang telah terinfeksi HBV sejak dalam kandungan atau dalam proses kelahiran, sebelum diberikan vaksin. Kelompok usia lain yang rentan terinfeksi adalah dewasa muda, karena pada kelompok ini angka hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik tinggi.

    Sekitar 90% orang yang terinfeksi hepatitis akan sembuh dengan sendirinya, tetapi 0,1-1% mengalami hepatitis berat (fulminan) yang dapat berujung pada kematian, dan 1-10% berkembang menjadi hepatitis kronis, yaitu kondisi di mana virus hepatitis tidak dimatikan sepenuhnya oleh daya tahan tubuh melainkan tetap berada dalam sel-sel hati dan menimbulkan peradangan menahun. Sekitar 0,1-30% penderita hepatitis B menjadi pembawa virus (carrier), yaitu memiliki virus hepatitis dalam sel hatinya tetapi jumlahnya rendah dan tidak menimbulkan peradangan.Penyakit hepatitis kronis merupakan komplikasi dari hepatitis yang banyak ditakutkan. Peradangan bertahun-tahun pada sel hati dapat mengakibatkan sirosis hati dan/atau kanker hati.

    Hepatitis C

    Virus hepatitis C (HCV) ditularkan lewat produk darah, misalnya transfusi darah, penggunaan jarum suntik bergantian pada penggunaan obat terlarang, dan pekerja yang terekspos darah dari tuntutan pekerjaannya. Risiko terinfeksi HCV juga meningkat pada orang yang harus cuci darah secara rutin. Kini produk-produk darah yang diperuntukkan bagi transfusi telah di-screening HCV sehingga risiko tertular HCV dari transfusi turun jauh menjadi satu kasus per 2,3 juta transfusi. Selain dari produk darah, HCV juga dapat ditularkan lewat hubungan seksual dan dari ibu ke bayi yang dikandungnya, tetapi hal ini jarang terjadi, yaitu sekitar 1%.

    Pada fase akut, infeksi oleh HCV menimbulkan hepatitis yang gejalanya tidak seberat hepatitis B. Namun, sebagian besar infeksi HCV, yaitu sebesar 85-90%, berkembang menjadi kronis dan 40% kasus hepatitis kronis disebabkan oleh HCV. Infeksi kronis HCV dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kanker hati, tetapi hal ini jarang terjadi dalam 20 tahun pertama infeksi kronis.

    Hepatitis D

    Virus hepatitis D (HDV) merupakan virus hepatitis yang tidak sempurna. Infeksi oleh virus ini hanya dapat terjadi bila seseorang juga terinfeksi oleh hepatitis B, baik sebagai ko-infeksi (infeksi hepatitis D terjadi bersamaan dengan hepatitis B) atau sebagai infeksi superimposed (infeksi hepatitis D terjadi setelah orang tersebut sakit hepatitis B). Penularan HDV kebanyakan oleh produk-produk darah berupa transfusi atau penggunaan jarum suntik bersamaan, dan lewat hubungan seksual. Pencegahan hepatitis D dapat dilakukan dengan mencegah hepatitis B, yaitu dengan vaksinasi dan perubahan perilaku penggunaan jarum suntik dan perilaku hubungan seks bebas tanpa proteksi.

    Ko-infeksi HBV dan HDV biasanya tidak menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi HBV saja. Namun, pada infeksi superimposed HDV akut pada penderita hepatitis B kronis, angka kematian dan hepatitis fulminan meningkat secara signifikan.

    Hepatitis E

    Virus hepatitis E (HEV) mirip dengan hepatitis A dalam hal penularannya, yaitu secara fekal (fese)-oral (mulut). Baru-baru ini sedang diteliti mengenai potensi penularan HEV akibat transplantasi organ dan transfusi darah. Hepatitis E tidak pernah menjadi kronis, kecuali pada orang-orang dengan sistem imun tubuh yang lemah. Angka kematiannya 0,5-3% pada dewasa muda, tetapi dapat mencapai 30% pada wanita hamil.

    Kelima penyakit hepatitis yang telah disebutkan berbeda-beda cara penularan dan perjalanan penyakitnya. Lakukan langkah-langkah yang sesuai untuk mencegah infeksi hepatitis. Apabila Sahabat curiga gejala hepatitis menyerang Anda atau keluarga, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang sesuai.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, salah satu solusi pencegahannya dengan melakukan vaksin hepatitis. Kini Anda tak perlu bingung, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Jules L. Dienstag. Acute Viral Hepatitis. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 19 ed. New York: McGraw Hill; 2015. hlm. 2004–22.
    2. Yuen M-F, Chen D-S, Dusheiko GM, Janssen HLA, Lau DTY, Locarnini SA, dkk. Hepatitis B virus infection. Nat Rev Dis Primer. 7 Juni 2018;4:18035.
    3. Manns MP, Buti M, Gane E, Pawlotsky J-M, Razavi H, Terrault N, dkk. Hepatitis C virus infection. Nat Rev Dis Primer. 2 Maret 2017;3:17006.
    4. Kamar N, Izopet J, Pavio N, Aggarwal R, Labrique A, Wedemeyer H, dkk. Hepatitis E virus infection. Nat Rev Dis Primer. 16 November 2017;3:17086.
    5. Nimgaonkar I, Ding Q, Schwartz RE, Ploss A. Hepatitis E virus: advances and challenges. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. Februari 2018;15(2):96–110.
    6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia 2013. DepKes; 2014.
    7. Mengenal Hepatitis A pada Anak [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: idai.or.id
    8. Hepatitis Virus pada Anak (Bagian 1) [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: idai.or.id
    9. Hepatitis Virus pada Anak (Bagian II) [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: idai.or.id

    Read More
  • Hepatitis A mungkin sering terdengar oleh Sobat apalagi  mengenai bahaya penyakit ini. Berita mengenai wabah hepatitis A banyak terdengar dan sering menyerang mahasiswa-mahasiswa. Sobat pasti sedikit was-was, apalagi ketika tahu penularan penyakit ini melalui makanan yang tercemar oleh virus Hepatitis A. Nah, mari kita lebih mengenal jauh seluk beluk penyakit ini. Hepatitis A disebabkan oleh virus […]

    Pencegahan Hepatitis A – Yuk Dipahami Lebih Jauh

    Hepatitis A mungkin sering terdengar oleh Sobat apalagi  mengenai bahaya penyakit ini. Berita mengenai wabah hepatitis A banyak terdengar dan sering menyerang mahasiswa-mahasiswa. Sobat pasti sedikit was-was, apalagi ketika tahu penularan penyakit ini melalui makanan yang tercemar oleh virus Hepatitis A. Nah, mari kita lebih mengenal jauh seluk beluk penyakit ini.

    Hepatitis A disebabkan oleh virus Hepatitis A yang menyerang organ hati kita. Penyakit ini menyebar melalui fekal (anus) dan oral (mulut). Kotoran penderita hepatitis A yang mengandung virus dapat tersebar dan mencemari lingkungan. Selain itu, makanan yang terkontaminasi virus berasal dari makanan yang tidak bersih. Seringkali makanan seperti sayuran, kerang, dan makanan laut menjadi sumber penyebaran penyakit ini. Kemudian, sumber air juga dapat terkontaminasi oleh virus hepatitis A, sehingga kita harus lebih waspada.  Penyebaran lain hepatitis  A dapat melalui kontak erat dan lama dengan penderita, saat menyiapkan makanan, hubungan seks tanpa pengaman lewat anus, serta transfusi darah dari penderita hepatitis A.

    Beberapa orang berisiko terkena hepatitis A seperti wisatawan, orang yang kerjanya berhubungan dengan makanan (koki, pramusaji), pasangan gay, dan pengguna jarum suntik narkoba. Mereka yang bekerja di laboratorium dan berhubungan dengan virus hepatitis A juga memiliki risiko terkena penyakit ini.

    Baca Juga: Apa Itu Vaksin Hepatitis B

    Setelah kita mengetahui cara penularan hepatitis A, mari kita beranjak untuk mengetahui gejala yang sering dikeluhkan penderita. Kulit yang menguning merupakan gejala yang sering terjadi pada hepatitis A. Hal ini disebabkan karena hati sedang mengalami peradangan sehingga bilirubin (zat kuning) yang seharusnya diolah di hati menjadi tidak terolah dan menimbulkan warna kuning pada kulit. Warna kuning sering terlihat di mata, telapak kaki dan tangan serta badan. Peradangan pada hati dapat disertai dengan pembesaran hati. Selain kuning, urin berwarna gelap dan feses berwarna pucat juga sering ditemui. Lalu, penderita hepatitis A seringkali mengalami mual dan muntah yang hebat, sehingga nafsu makan mereka pun akan menurun. Demam, diare, badan lemas dan lesu, rasa tidak nyaman di perut  juga menyertai penyakit ini. Waspada ya, Sobat, penyakit ini bisa menyerang siapa saja, loh.

    Jangka waktu masuknya virus hepatitis A hingga timbulnya gejala penyakit lebih kurang 15-50 hari. Gejala biasanya tidak berlangsung lebih dari 2 bulan, meskipun pada 10 hingga 15% penderita akan mengalami perpanjangan atau kekambuhan gejala pada lebih dari 6 bulan. Pada anak kurang dari 6 tahun, penyakit hepatitis virus A bahkan tidak bergejala atau asimptomatik.

    Penderita hepatitis A jarang mengalami komplikasi dari penyakit yang dideritanya. Namun, komplikasi pernah ditemukan dan mengenai sistem imun, saraf, darah, pankreas dan sekitar ginjal. Hepatitis fulminan merupakan komplikasi terberat yang jarang terjadi. Hepatitis fulminan menyebabkan gagal hati akibat kerusakan hati berat yang diderita akibat virus hepatitis A. Komplikasi ini sering terjadi pada penderita hepatitis A dengan usia di atas 40 tahun ke atas.

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan HPV / Kanker Serviks

    Penyakit hepatitis A ini ternyata terdengar menyeramkan juga, ya, sehingga pencegahan hepatimerupakan usaha terbaik yang dapat kita lakukan agar tidak tertular oleh virus hepatitis A ini. Bagaimanakah pencegahan hepatitis A terkini? Yuk, mari kita lihat penjelasannya berikut ini.

    Vaksinasi Hepatitis A

    Hepatitis A dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi. Vaksinasinya berisi virus hepatitis A yang sudah mati/tidak aktif  yang akan merangsang sistem imun dan menghasilkan antibodi yang akan melindungi kita dari virus hepatitis A.

    Vaksinasi hepatitis A diberikan 2 kali dengan selang waktu 6-12 bulan. Setelah suntikan pertama, vaksin akan mulai bekerja 2 minggu setelah pemberian. Vaksinasi pada anak dapat diberikan setelah usia 2 tahun dan diberikan dalam 2 dosis juga.

    Baca Juga: 7 Informasi Penting Seputar Hepatitis A yang Perlu Kamu Ketahui

    Vaksinasi hepatitis A dianjurkan diberikan pada orang yang sering berpergian ke daerah yang banyak terdapat hepatitis A, laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan laki-laki (pasangan gay), pengguna obat-obatan terlarang, orang yang memiliki riwayat penyakit hati kronis seperti hepatitis B dan C, orang yang sedang dalam pengobatan dengan menggunakan faktor pembekuan darah,  peneliti yang bekerja dengan hewan yang terinfeksi hepatitis A atau pekerja laboratorium yang bekerja dengan virus hepatitis serta orang tua asuh yang akan mengadopsi anak yang berasal dari negara endemis hepatitis A.

    Lalu, siapa saja yang tidak boleh mendapatkan vaksinasi hepatitis A?Mereka yang memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin dan bila Sobat sedang sakit atau terkena flu, sebaiknya pemberian vaksin ditunda terlebih dulu.

    Menjaga Kebersihan Diri dan Makanan yang Dikonsumsi

    Pencegahan berikutnya berhubungan dengan kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Pastikan Sobat selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, setelah buang air besar/kecil, sebelum mengolah/menghidangkan makanan, sebelum menyusui bayi dan setelah mengganti popok bayi.

    Produk Terkait:

    Pengolahan makanan juga harus diperhatikan agar terhindar dari kontaminasi virus hepatits A. Sebenarnya, pengolahan makanan harus diperhatikan dari mulai penanaman sayuran. Memasak makanan yang benar dan sampai matang, penggunaan air bersih, menggunakan bahan-bahan yang segar adalah pencegahan dari hepatitis A.6

    Jadi Sobat, setelah mengetahui seluk beluk penyakit hepatitis A, ayo kita cegah penyakit ini dengan vaksinasi serta tidak lupa menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Jangan sampai kita tertular virus ini, ya. Segera datangi layanan kesehatan terdekat disekitar anda untuk mendapatkan vaksinasi hepatitis A. Jangan lupa ajak keluarga dan teman-teman juga.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Suwito A. Hepatitis A. [Internet]. Retrieved from: Tanyadok
    2. E. Fiore A. Hepatitis A transmitted by food. Clinical Infectious Disease. 2004; 38: 705-715.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Epidemiology and prevention of vaccine-preventable diseases. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/hepa.html (01.07.2018)
    4. Gillroy RK. Hepatitis A clinical presentation. 2017. [Internet]. Retrieved from: emedicine.medscape.com (01.07.2018)
    5. Pallavi K, Sravani D, Durga S, et al. Hepatitis-A: Review on Current and Future Scenario. Journal of In Silico & In Vitro Pharmacology. 2017, 3:1.
    6. Herdiana M, Arief S, Setyoboedi B. Mengenal hepatitis A pada anak. 2015. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
    Read More
  • Vaksin hepatitis B termasuk salah satu jenis imunisasi yang diberikan ketika bayi baru lahir. Apa itu hepatitis B? Mengapa harus diberikan sejak dini? Seberapa pentingkah vaksin ini perlu diberikan pada buah hati Anda? Apa Efek Sampingnya? Mungkin ada banyak pertanyaan tentang hepatitis B di benak Sahabat, nah simak dulu ulasan di bawah ini: Vaksin hepatitis […]

    Apa Itu Vaksin Hepatitis B? Berikut Penjelasannya

    Vaksin hepatitis B termasuk salah satu jenis imunisasi yang diberikan ketika bayi baru lahir. Apa itu hepatitis B? Mengapa harus diberikan sejak dini? Seberapa pentingkah vaksin ini perlu diberikan pada buah hati Anda? Apa Efek Sampingnya? Mungkin ada banyak pertanyaan tentang hepatitis B di benak Sahabat, nah simak dulu ulasan di bawah ini:

    Vaksin hepatitis B dilakukan untuk mencegah infeksi virus hepatitis B. Pada anak, virus hepatitis B dapat ditularkan dari ibu yang menderita hepatitis B saat persalinan. Sedangkan pada remaja, virus hepatitis B ditularkan melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik pada pengguna narkoba. Infeksi virus hepatitis B menyebabkan peradangan pada hati yang memberikan gejala demam, mual/muntah, dan kuning pada mata dan kulit. Infeksi kronik oleh hepatitis B dapat menyebabkan komplikasi sirosis hepatis dan kanker hati.

    Kapan vaksin hepatitis B bisa diberikan?

    Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), vaksin hepatitis B pada bayi dianjurkan untuk diberikan pada bayi sejak lahir, lalu diberikan kembali pada usia bayi 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan. Sedangkan pada orang dewasa (rentang usia 19 tahun sampai dengan usia di atas 65 tahun), vaksin hepatitis B disarankan sebanyak 3 kali (bulan ke 0, 1 dan 6).

    Bagi Sahabat wanita, sebenarnya vaksin hepatitis B termasuk sangat disarankan. Mengutip pemaparan Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI dari FKUI/RSCM, vaksin hepatitis B adalah salah satu vaksin ‘wajib’ untuk perempuan usia reproduktif. “Untuk melindungi diri dari penyakit yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual, sekaligus melindungi calon bayi,” urainya. Idealnya, vaksinasi dilakukan sebelum perempuan berhubungan seksual untuk pertama kali.

    Baca Juga: 7 Informasi Penting Seputar Hepatitis A yang Perlu Kamu Ketahui

    Namun jika sudah hamil sebelum mendapat vaksin, maka vaksin hepatitis B tetap bisa diberikan saat hamil. Pasalnya ini termasuk jenis vaksin mati yang berasal dari partikel antigen permukaan virus yang tidak bersifat menginfeksi, sehingga tidak ada risiko infeksi ke janin.

    Vaksin terutama dianjurkan untuk bumil yang memiliki faktor risiko. Misalnya memiliki pasangan seksual lebih dari satu dalam 6 bulan terakhir, memiliki pasangan yang positif HbsAg, pengguna, mantan pengguna atau memiliki pasangan pengguna narkoba suntik, serumah dengan penderita hepatitis B. Vaksin diberikan dalam tiga dosis, dilakukan pada bulan ke-0, 1 dan 6.

    Saat hamil, lakukan pemeriksaan HBsAg. Bila positif, bayi harus diberi vaksin hepatitis B dan suntikan HBIg (antibodi hepatitis B) segera setelah lahir di paha yang berbeda. Perlu dilakukan <24 jam setelah bayi lahir, untuk melindungi diri dari infeksi hepatitis B. Bila HBsAg negatif, bayi sebaiknya tetap diberi vaksin.

    Siapa yang tidak disarankan menerima vaksin hepatitis B?

    Pada  dasarnya  jadwal  vaksinasi  hepatitis  B  bayi kurang  bulan  atau  bayi  berat  lahir  rendah  sama dengan  bayi  cukup  bulan,  hanya  dosis  yang pertama diberikan pada umur 2 bulan atau lebih sesuai dengan usia kronologisnya, atau berat badan telah mencapai ≥ 2 kg. Kecuali apabila diketahui ibu mempunyai titer HBsAg positif, vaksin hepatitis B mulai diberikan dalam 12 jam pertama dan dosis pertama ini tidak dihitung, namun dilanjutkan 3 dosis lagi sampai total 4 dosis dengan jadwal yang sama dengan bayi cukup bulan (0,1,6 bulan).

    Baca Juga: 12 Cara Cegah Penularan Hepatitis B

    Vaksin hepatitis B aman untuk diberikan, namun perlu perhatian khusus bagi orang-orang yang pernah diberikan vaksin hepatitis B dan alami reaksi alergi berat pasca vaksinasi hepatitis B, yaitu sesak nafas atau syok anafilaksis. Reaksi alergi ini juga perlu diwaspadai pada orang-orang yang memiliki alergi berat terhadap ragi. Pemberian vaksin hepatitis B juga sebaiknya ditunda pada orang yang sedang demam tinggi (> 38 derajat Celsius) pada hari pemberian.

    Efek samping vaksin hepatitis B?

    Beberapa reaksi yang umum terjadi setelah vaksinasi hepatitis B adalah adanya reaksi lokal pada lokasi suntikan, misalnya rasa nyeri, bengkak dan kemerahan pada lokasi suntik. Selain itu, demam juga bisa terjadi. Reaksi-reaksi ini umumnya ringan dan akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 1-2 hari. Bila ada reaksi pasca vaksinasi yang menetap, sebaiknya Sahabat berkonsultasi ke dokter.

    Baca Juga: Hepatitis B – Faktor Risiko, Gejala, Penanganan, Pengobatan, Pencegahan

    Jika vaksin hepatitis B dianjurkan untuk mencegah penyakit hepatitis B, lantas apa itu penyakit hepatitis B?

    Hepatitis B adalah penyakit pada organ hatiyang diakibatkan oleh infeksi virus hepatitis B dan dapat terjadi secara akut maupun kronis. Hepatitis B yang tidak mendapat pengobatan secara tepat, dapat berkembang menjadi sirosis hati ataupun kanker hati. Kedua kondisi ini dapat berakibat pada kematian. Menurut WHO, sejak tahun 2000 angka kematian karena hepatitis B mencapai 600.000 jiwa per tahunnya.

    Seberapa berbahaya virus hepatitis B?

    Virus Hepatitis B adalah virus yang menyerang hati. Virus ini dapat ditransmisikan melalui kontak darah atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. Sekitar 350 juta orang di dunia telah terinfeksi virus Hepatitis B. Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, setiap tahunnya terdapat 100.000 orang yang terinfeksi dengan virus Hepatitis B. WHO merekomendasikan untuk melakukan imunisasi hepatitis B terutama untuk bayi.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis B, salah satu solusi pencegahannya dengan melakukan vaksin hepatitis B. Kini Anda tak perlu bingung, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Produk Terkait: 

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Bonita Effendi B. TanyaDok.com | Pentingnya Imunisasi Hepatitis B [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    2. Trisbiantara I. TanyaDok.com | Tanya Jawab: Hepatitis B [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    3. Trisbiantara I. TanyaDok.com | Tanya Jawab: Hepatitis B [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    4. Imunisasi Hepatitis B Pada Anak – BundaNet [Internet]. BundaNET. 2018 [cited 2 July 2018].
    5. Vaksin Hepatitis B, Segala Hal Yang Perlu Anda Tahu | Dunia Kesehatan [Internet]. Dunia Kesehatan. 2018 [cited 2 July 2018].
    6. Vaksinasi Hepatitis B untuk Ibu [Internet]. Otcdigest.id. 2018 [cited 2 July 2018].
    7. Vaksin Hepatitis B [Internet]. Babyologist.com. 2018 [cited 2 July 2018].
    8. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 2 July 2018].
    9. Djauzi, Samsuridjal, dkk. 2017. Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa 2017. Jakarta. Interna Publishing, Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.

     

    Read More
  • Baru-baru ini 25 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) ditemukan positif terkena hepatitis A setelah mengalami mual-mual dan demam. Mereka pun terkejut setelah mengetahui hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan bahwa mereka positif terkena Hepatitis A. Bukan hanya itu, mereka dinyatakan positif hepatitis A dalam waktu yang bersamaan! Kasus ini kemudian dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). […]

    Korban Hepatitis A Mahasiswa IPB Karena Sanitasi atau Minimnya Kesadaran

    Baru-baru ini 25 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) ditemukan positif terkena hepatitis A setelah mengalami mual-mual dan demam. Mereka pun terkejut setelah mengetahui hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan bahwa mereka positif terkena Hepatitis A. Bukan hanya itu, mereka dinyatakan positif hepatitis A dalam waktu yang bersamaan! Kasus ini kemudian dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Apa penyebabnya?

    Beban penyakit hepatitis yang besar seharusnya menjadikan penanggulangan hepatitis sebagai prioritas dalam bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan minimnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi, terutama vaksinasi hepatitis. Orang yang terinfeksi virus hepatitis pun belum tentu tahu dirinya terinfeksi dan belum tentu memeriksakan kesehatan organ hatinya secara teratur.

    prosehat hepatitis a

    Lalu, apa yang harus dilakukan untuk cegah hepatitis?

    Sikap cuek dan acuh akan risiko hebat yang mengancam dari penularan hepatitis ini harus dibuang jauh-jauh. Sadar vaksinasi mulai dari sekarang!

    klik di sini beli vaksin di prosehat

    Beli di sini: Vaksin Hepatitis

    Lalu, apa itu sebenarnya hepatitis A dan cara penularannya?

    Hepatitis A merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A (VHA), termasuk picornaviridae yang merupakan RNA virus. Virus ini bersifat tahan asam, termostabil, dan tahan terhadap empedu.

    Lalu, bagaimana penyakit ini dapat menyebar?

    Seseorang dapat terinfeksi virus hepatitis A melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi serta kontak langsung pada orang yang telah terinfeksi virus ini dan juga beberapa hal ini:

    1. Air yang terkontaminasi kotoran/tinja dari orang yang positif terinfeksi hepatitis menjadi penyebab utama penularan penyakit ini. Sarana cuci tangan yang tidak memadai dan kondisi sanitasi yang buruk juga memicu penularan dari sirkulasi air yang terkontaminasi dengan virus hepatitis.
    2. Makanan yang terkontaminasi karena kurang matang atau makanan mentah juga menyebabkan penularan hepatitis.
    3. Transfusi darah menjadi penyebab penularan dengan risiko tertular yang tinggi walaupun kasus penularan karena transfusi darah jarang ditemukan. Pastikan setiap transfer darah jarum yang digunakan untuk Anda steril dan aman.
    4. Kontak seksual secara oral ataupun anal juga menjadi penyebab penularan penyakit ini.

    Infeksi hepatitis A dapat menyebabkan penyakit kronis pada organ liver. Bila tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan gejala yang bersifat akut dan dapat meningkatkan mortalitas!

    Baca juga: Vaksinasi Influenza untuk Keluarga Siap Liburan

    Sedangkan masa inkubasi dari penyakit hepatitis A terjadi selama 14-28 hari. Gejala yang muncul antara lain:

    • demam,
    • lemas,
    • penurunan nafsu makan,
    • diare,
    • mual,
    • muntah,
    • nyeri perut,
    • air urin berwarna pekat seperti teh,
    • kulit dan warna mata yang kuning.

    Gejala infeksi yang terjadi pada dewasa dapat lebih terlihat bila dibandingkan infeksi pada anak. Pada anak di bawah usia 6 tahun, gejala tidak selalu muncul. Kasus infeksi ini tentunya berhubungan dengan rendahnya kebersihan air serta sanitasi yang buruk.

    Beberapa cara yang cukup efektif dalam menurunkan kasus penyebaran virus ini adalah selalu waspada terhadap kebersihan makanan dan juga sanitasi air di lingkungan kita. Anda dapat melakukan tindakan pencegahan cerdas dengan vaksinasi hepatitis sekarang juga untuk anak dan Anda tentunya.

    Kesadaran akan bahaya yang mengancam dari penyakit ini merupakan bentuk pencegahan paling murah yang dapat Anda lakukan.

    Sudahkah anak Anda vaksinasi hepatitis A?

    Jika anak Anda belum pernah mendapatkan vaksinasi hepatitis A sama sekali, disarankan untuk segera dilakukan karena banyak kasus penyebaran virus hepatitis meningkat di awal musim hujan dimana sering terjadi banjir dan sanitasi air menjadi buruk.

    Info Medis: TanyaDok.com

    Referensi:

    Read More
WhatsApp Asisten Maya saja