Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Sirosis Hati dan Hepatitis, Apa Bedanya?

Apakah Sobat pernah mendengar istilah hepatitis atau sirosis hati? Mungkin banyak yang pernah mendengar istilah ini, baik melalui media kesehatan atau media sosial. Sebagian besar  masyarakat awam mengenalnya dengan istilah peradangan hati, atau infeksi hati, tetapi adakah perbedaan antara keduanya? Di dunia medis, kedua istilah ini ternyata mengandung makna yang sangat berbeda, yaitu terkait dengan perjalanan penyakitnya. Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, obat-obatan, toksin, maupun penyakit autoimun. Penyebab tersering hepatitis adalah virus hepatitis, yang terdiri dari 5 macam yaitu virus hepatitis A, B, C D dan E. Faktor risiko lain adalah konsumsi alkohol dan makanan berlemak berlebihan. Virus yang dapat menyebabkan infeksi yang paling berbahaya adalah virus hepatitis B dan C. Kedua virus ini ditularkan melalui kontak darah, hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, dan transmisi vertikal dari ibu ke bayi saat persalinan. Kedua virus ini berpotensi menyebabkan peradangan hati yang berat dan berlangsung lama, yang dapat menyebabkan kerusakan sel-sel hati yang permanen.

Gambar 1. Perjalanan Penyakit Hepatitis

Perjalanan penyakit hepatitis umumnya bersifat sementara dan tidak berlangsung lama, tapi jika tidak ditangani dapat memburuk ke kondisi yang dinamakan sirosis.
Sirosis adalah kondisi dimana terjadi perubahan struktural sel-sel hati akibat peradangan yang berlangsung lama. Kondisi ini terjadi akibat inflamasi yang berlangsung terus-menerus, sehingga mengganggu struktur sel hati. Perubahan ini merupakan kondisi permanen yang menyebabkan penurunan berat dari organ hati, gangguan aliran darah serta gangguan fungsi hati. Sirosis dapat berlanjut menjadi kanker hati akibat peradangan yang berlangsung lama sehingga menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan. Sirosis merupakan suatu kondisi yang mendahului fase akhir penyakit hati, yaitu gagal hati.

Jika Sobat diduga menderita hepatitis maupun sirosis hati, maka akan dilakukan serangkaian pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis dan membedakan kedua kondisi tersebut. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan laboratorium, histopatologi dan radiologi. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah, terutama untuk memeriksa antigen dan antibodi virus, serta fungsi hati secara umum. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan radiologi, yaitu dengan USG atau CT Scan bagian perut untuk evaluasi struktur anatomis hati secara kasar. Namun penentuan diagnosis sirosis sebenarnya adalah dengan pemeriksaan histopatologi, yaitu pemeriksaan sel-sel hati dengan menggunakan mikroskop, sehingga dapat diketahui adanya perubahan struktural, dimana terbentuk jaringan-jaringan parut di antara sel-sel hati yang mengganggu fungsi hati.

Tanda dan gejala yang sering didapati pada penderita hepatitis antara lain demam, kuning, nyeri ulu hati, mual, muntah, penurunan nafsu makan, dan nyeri-nyeri sendi. Kondisi yang lebih berat, atau yang disebut sebagai hepatitis fulminan melibatkan gangguan sistem saraf pusat, pencernaan, dan pembekuan darah. Gejala gangguan sistem saraf pusat yang mungkin ditemukan antara lain penurunan kesadaran, gangguan perilaku dan gangguan tidur. Gejala yang berat pada sistem pencernaan antara lain akumulasi cairan di rongga perut yang disebut asites, dan pendarahan di saluran cerna.

Kedua penyakit ini memanglah hasil jangka panjang dari berbagai penyebab peradangan hati yang disebutkan di atas. Terapi untuk hepatitis adalah dengan pengobatan antiviral, interferon, dan obat-obatan pendukung  lainnya. Sedangkan untuk sirosis sebagian besar adalah suportif, artinya pengobatan diberikan untuk mengatasi komplikasi yang muncul. Selain itu, terdapat kemungkinan dilakukan cangkok hati apabila fungsi hati sudah sangat menurun. Nah mungkin saat ini Anda bertanya, adakah cara untuk menghindari penyakit-penyakit tersebut? Mengingat bahwa infeksi virus hepatitis merupakan penyumbang terbesar angka kejadian hepatitis dan sirosis, maka salah satu cara yang efektif adalah dengan vaksinasi. Saat ini vaksinasi yang tersedia adalah vaksinasi hepatitis A dan B. Hepatitis A merupakan penyakit yang self-limiting, atau dapat sembuh sendiri, sehingga vaksinasinya tergolong jarang.

Sebaliknya, vaksinasi hepatitis B sangat umum ditemukan, mulai dari bayi baru lahir, anak-anak, remaja hingga dewasa. Cara penularan virus hepatitis B melalui kontak kulit atau mukosa dengan darah dan cairan tubuh, sehingga terdapat kelompok-kelompok yang berisiko tinggi menderita hepatitis B yang membutuhkan vaksinasi. Kelompok-kelompok tersebut antara lain tenaga kesehatan, individu dengan perilaku seksual berisiko, pengguna narkoba suntik, serta bayi dari ibu yang terinfeksi hepatitis B. Pada beberapa negara, dianjurkan para wisatawan untuk mendapatkan suntikan vaksinasi hepatitis B sebelum bepergian ke negara yang tingkat infeksinya tinggi.

 

Vaksinasi hepatitis B menggunakan komponen dari virus hepatitis B yang dilemahkan, yang dibentuk dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan. Tujuan pemberian vaksinasi ialah untuk memicu terbentuknya antibodi sebagai pertahanan pertama terhadap virus hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B diberikan sebanyak 3 kali, dengan dosis sesuai usia, yaitu pada bulan ke-0, 1, dan 6.

Pada anak-anak, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI) merekomendasikan pemberian vaksin pada bayi sesaat setelah lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Pemberiannya disesuaikan dengan program pemerintah, yaitu jadwal imunisasi nasional. Setelah pemberian awal tersebut, dapat dilakukan pemberian booster setiap 5 tahun untuk menjaga kadar antibodi tetap stabil.

 

Setelah membaca poin-poin di atas, tentunya Sobat dapat menyimpulkan perbedaan hepatitis dan sirosis hati terletak pada perkembangan penyakit. Infeksi hepatitis dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kegagalan hati memang merupakan kondisi yang berbahaya serta dapat menimbulkan kematian. Kita tidak boleh hanya diam saja tanpa berusaha mencegahnya. Jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

instal aplikasi prosehat

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kasper DL, Fauci AS, Hauser S, Longo D, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine 19/E (Vol.1 & Vol.2). McGraw Hill Professional; 2015. 3983 p.
  2. El-Serag HB. Epidemiology of Viral Hepatitis and Hepatocellular Carcinoma. Gastroenterology. 2012 May 1;142(6):1264–73.e1.
  3. Franco E, Bagnato B, Marino MG, Meleleo C, Serino L, Zaratti L. Hepatitis B: Epidemiology and prevention in developing countries. World J Hepatol. 2012 Mar 27;4(3):74–80.
  4. Schuppan D, Afdhal NH. Liver cirrhosis. The Lancet. 2008 Mar 8;371(9615):838–51.
  5. Kao J-H. Diagnosis of hepatitis B virus infection through serological and virological markers. Expert Rev GastroenterolHepatol. 2008 Aug 1;2(4):553–62.
  6. Kim MY, Jeong WK, Baik SK. Invasive and non-invasive diagnosis of cirrhosis and portal hypertension. World J Gastroenterol WJG. 2014 Apr 21;20(15):4300–15.
  7. Sharma S, Khalili K, Nguyen GC. Non-invasive diagnosis of advanced fibrosis and cirrhosis. World J Gastroenterol WJG. 2014 Dec 7;20(45):16820–30.
  8. Ghany Marc G., Strader Doris B., Thomas David L., Seeff Leonard B. Diagnosis, management, and treatment of hepatitis C: An update. Hepatology. 2009 Mar 27;1335–74.
  9. Centers for Disease Control and Prevention. Hepatitis B VIS [Internet]. CDC; 2016. Available from: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/hep-b.html
  10. IDAI. JADWAL IMUNISASI 2017 [Internet]. IkatanDokterAnak Indonesia; 2017. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017

 

Chat Asisten ProSehat aja