Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Bagaimana Mencegah Penularan Hepatitis B pada Bayi jika Ibunya Terinfeksi Hepatitis saat Hamil?

Pencegahan penularan penyakit hepatitis B menjadi hal yang penting dan perlu perhatian khusus. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit infeksi virus paling sering terjadi di dunia, di mana angka kejadiannya sangat tinggi terutama di negara Asia, Afrika, dan Oceania. WHO memprediksi sekitar 2 miliar orang di dunia terinfeksi hepatitis B dan sekitar 370 juta sudah mengalami infeksi kronis. Di Indonesia angka kejadiannya semakin tahun semakin meningkat. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013, angka kejadian hepatitis meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2007, dan didapati kasus terbanyak terjadi di daerah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi, dan Maluku, dan diperkirakan masih terus meningkat. Berikut adalah gambar peta kejadian hepatitis B di dunia.

Infeksi hepatitis B akan menyebabkan gangguan organ hati yang sementara hingga menahun, seperti sirosis hati, hingga berisiko tinggi menyebabkan kanker hati dan pada akhirnya akan berujung pada kematian. Gejala yang ditimbulkan dari infeksi hepatitis B bervariasi, mulai dari gejala akut yang ringan hingga gejala yang sangat berat, dan dapat pula infeksi kronis yang tidak memberikan gejala, namun tetap berujung pada kerusakan hati permanen kemudian hari. Biasanya bayi yang baru lahir jika terinfeksi hepatitis B tidak akan memberikan gejala tapi nantinya berkembang menjadi kerusakan hati yang kronis, kanker hati dan berujung kematian.

Penularan virus hepatitis ini dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu melalui:

  • Kontak dengan darah atau cairan tubuh penderita yang terinfeksi hepatitis B melalui luka atau selaput lendir
  • kontak seksual dengan orang yang sudah teinfeksi hepatitis B
  • penggunaan jarum suntik yang berulang
  • donor darah yang terinfeksi hepatitis B
  • dan penularan dari ibu dengan hepatitis B ke bayi yang baru lahir

Pada poin terakhir inilah yang paling sering terjadi di negara berkembang dan Indonesia termasuk di dalamnya. Penularan dari ibu ke bayi ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan dunia yang masih perlu banyak evaluasi.

Setiap orang yang sudah terinfeksi hepatitis B akan berperan sebagai seorang pembawa, atau yang lazimnya disebut sebagai carrier. Hal ini berarti orang tersebut berisiko menularkan virus tersebut kepada orang lain, melalui beberapa cara penularan yang sudah dicantumkan dalam paragraf sebelumnya. Sehingga, ibu yang sudah mengalami hepatitis B saat ia hamil berisiko menularkan virus hepatitis pada bayinya. Tidak hanya itu, kelak si anak juga dapat menularkan kepada anak lainnya, dan begitu seterusnya.

Penularan hepatitis B dari ibu yang sudah terinfeksi kepada bayinya paling tinggi terjadi saat proses persalinan itu sendiri, dimana saat proses persalinan terjadi kontak antara darah ibu dengan bayi. Risiko penularan hepatitis B berkisar antara 10% hingga 90%. Rentang ini cukup besar karena pada umumnya hal ini tergantung dari jumlah virus hepatitis B dalam tubuh ibu, tingkat aktivitas pembelahan virus itu sendiri, dan berbagai faktor lainnya.

Pemeriksaan lanjut diperlukan, tidak hanya pemeriksaan yang sekedar mengetahui positif terinfeksi hepatitis B atau tidak. Cara penularan lain adalah saat di dalam kandungan. Penularan saat bayi masih dalam kandungan terbukti dapat terjadi meski dengan kemungkinan yang lebih kecil tapi mekanisme terjadinya masih belum sepenuhnya jelas.

Pencegahan penularan hepatitis B memiliki berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah banyak dari ibu yang tidak pernah diperiksa status hepatitis B pada dirinya, dan bahkan banyak ibu yang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi virus hepatitis B. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan ibu tentang penyakit hepatitis B ini. Data menunjukkan bahwa 10% dari ibu tidak mengetahui status hepatitis B pada dirinya ternyata sudah membawa infeksi hepatitis B dalam dirinya yang berisiko tinggi menularkan kepada bayinya saat proses persalinan. Selain itu, bayi yang terinfeksi hepatitis B dari ibunya ini biasanya tidak akan memberikan gejala apapun, sehingga mengetahuinya perlu melalui pemeriksaan.

Mencegah lebih baik daripada mengobati, dan hal ini juga berlaku dalam hepatitis B loh! Penyakit Hepatitis B sangat mungkin untuk dicegah, dan pencegahannya lebih mudah dan efektif dibandingkan mengobatinya. Strategi pencegahan terbaik penularan hepatitis B pada ibu yang sudah terkena hepatitis B adalah melalui imunisasi yang dilakukan dalam waktu satu tahun pertama kehidupan bayi.

Terdapat dua macam imunisasi yang perlu diberikan pada bayi dengan ibu yang sudah terinfeksi hepatitis B, yaitu:

  • imunisasi aktif dimana imunisasi ini akan memicu tubuh membentuk antibodi
  • imunisasi pasif dimana imunisasi langsung memberikan antibodi terhadap virus tersebut.

Imunisasi aktif dilakukan dengan memberikan vaksinasi hepatitis B, sementara imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan Hepatitis B Immunoglobulin atau disebut sebagai HBIG. Data penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi hepatitis B dan HBIG memberikan proteksi lebih baik dibandingkan jika hanya diberikan salah satu saja. Pemberian vaksin hepatitis B dan HBIG dapat memberikan proteksi sebesar 85-95%, jika diberikan dengan tepat dan lengkap. Kedua jenis imunisasi ini tersedia di Indonesia, dan vaksin hepatitis B termasuk dalam program imunisasi dasar wajib.

Vaksin hepatitis B berisi protein virus yang kemudian akan memicu tubuh memproduksi antibodi terhadap virus. Vaksin ini pertama kali dikomersialkan pada tahun 1982. Vaksin hepatitis B efektif mencegah infeksi hepatitis B jika diberikan langsung sesaat setelah terinfeksi hepatitis B. Sehingga, vaksin hepatitis B perlu diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir.

Tujuan vaksinasi pertama sesaat setelah bayi lahir ini adalah untuk mencegah virus benar-benar menginfeksi bayi yang sudah terpapar dengan virus hepatitis B dari ibunya pada saat proses persalinan. Efektivitas vaksin akan berkurang jika interval waktu antara bayi lahir dengan waktu pemberian vaksinasi hepatitis B pertama ini semakin lama, sehingga WHO merekomendasikan pemberian vaksin hepatitis B saat lahir tidak melebihi 24 jam usia kehidupan bayi, dilanjutkan dengan dua kali pemberian dengan interval waktu masing-masing 1 bulan.

Selain memberikan imunisasi aktif berupa vaksinasi hepatitis B, diperlukan juga pemberian imunisasi pasif yaitu dengan memberikan HBIG. HBIG ini berbeda dengan vaksin hepatitis B, di mana HBIG sudah berisi antibodi terhadap virus hepatitis B itu sendiri. HBIG diberikan pada bayi jika ibu yang sudah diketahui positif terinfeksi hepatitis B. Seperti layaknya vaksin hepatitis B, HBIG perlu diberikan sesegera mungkin maksimal 24 jam pertama kehidupan bayi, dan perlu dilanjutkan dengan 2 kali pemberian dengan interval masing-masing 1 bulan. Namun, salah satu kekurangan dari HBIG adalah harganya yang relatif mahal sehingga seringkali tidak selalu dapat diberikan.

Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis B, salah satu solusi pencegahannya dengan melakukan vaksin hepatitis. Kini Anda tak perlu bingung, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!
Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis B, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

DAFTAR PUSTAKA

Vashishtha VM, Kalra A, Thacker N. FAQs on vaccines and immunization practices. 2nd ed. New Dehli: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2015. p. 150-3.
National Institute of Health Research and Development. Basic health reseach 2013 (RISKESDAS 2013). Indonesia: Ministry of Health of Republic of Indonesia; 2013. p. 5;8.
Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p.342;355;357.
Chang MH, Chen DS. Prevention of hepatitis B. Cold Spring Harb Perspect Med. 2015;5(3):a021493.
Lin CL, Kao JH.Prevention of mother-to-child transmission: the key of Hepatitis B virus elimination. Hepatology International. 2018;12: 94-96.
Yi P, Chen R, Huang Y, Zhou RR. Management of mother-to-child transmission of hepatitis B virus: propositions and challenges. Journal of Clinical Virology. 2016;77;32-39.
Nelson, N. P., Jamieson, D. J., & Murphy, T. V. Prevention of perinatal hepatitis B virus transmission. Journal of the Pediatric Infectious Diseases Society. 2014;3(1); 7–12.

Chat Asisten Maya
di Prosehat.com