Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Sirosis Hati, Penyakit Hati Kronis Yang Tidak Dapat Disembuhkan

Seiring dengan perubahan gaya hidup, semakin banyak orang yang mengidap sirosis hati, atau yang dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan sirosis hepatis. Banyak masyarakat bertanya dapatkah sirosis hati disembuhkan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu sirosis hati.

penyakit hati kronis

Sirosis hati adalah penyakit kronis hepar atau hati yang bersifat irreversible yang artinya tidak dapat kembali seperti semula. Khas pada penyakit ini adalah ditandai dengan penggantian jaringan hati oleh fibrosis, jaringan parut dan nodul regeneratif (benjolan yang terjadi sebagai hasil dari sebuah proses regenerasi jaringan yang rusak) akibat nekrosis hepatoseluler (kematian sel hati), yang mengakibatkan penurunan hingga hilangnya fungsi hati. Dalam bahasa awam penyakit sirosis hati ini dikenal juga dengan sebutan penyakit liver.

Keseluruhan insiden sirosis hati di Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk. WHO tahun 2002 memperkirakan 783.000 pasien di dunia meninggal akibat sirosis hati. Sirosis hati paling banyak disebabkan oleh penyalahgunaan akohol dan infeksi virus hepatitis. Di Indonesia,  sirosis hati banyak dihubungkan dengan infeksi virus hepatitis B dan C, sekitar 20 % pasien hepatitis kronik berkembang menjadi sirosis hati. Data menunjukkan hampir sekitar 57 % pasien sirosis hati juga terinfeksi hepatitis B atau C.

Penelitian di Korea menyatakan bahwa sirosis hati adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian di Korea. Data lain juga menunjukkan bahwa sirosis hati menduduki urutan ke-8 penyebab kematian di Korea pada tahun 2007. South East Asia Regional Office (SEARO) tahun 2011 melaporkan sekitar 5,6 juta orang di Asia Tenggara adalah pembawa hepatitis B dan sekitar 480.000 orang di Asia Tenggara pembawa hepatitis C.

Baca Juga: 
8 Alasan Kenapa Bayi Baru Lahir Perlu Suntik Hepatitis B
12 Cara Pencegah Hepatitis B

Di Indonesia, data prevalensi sirosis hati belum ada secara pasti. Di RS Sardjito Yogyakarta pada tahun 2004 mendata terdapat sekitar 4,1% dari pasien penyakit dalam yang dirawat di rumah sakit menderita sirosis hati. Lebih dari 40 % pasien sirosis adalah asimptomatis atau sering tanpa gejala sehingga kadang ditemukan pada waktu pasien melakukan pemeriksaan rutin atau karena penyakit yang lain.

Beberapa faktor pencetus timbulnya sirosis hati, yaitu infeksi virus hepatitis (B, C, dan D), alkohol, kelainan metabolik berupa hemakromatosis (kelebihan beban besi), penyakit Wilson (kelebihan beban tembaga), defisiensi Alphal-antitripsin, glikonosis type-IV, galaktosemia, dan tirosinemia, malnutrisis (gizi kurang ataupun gizi buruk), toksin dan obat, sistosomiasis, sumbatan saluran empedu, sumbatan aliran pembuluh darah vena, dan autoimun. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, di negara barat penyebab terbanyak sirosis hati adalah konsumsi alkohol, sedangkan di Indonesia terutama disebabkan oleh virus hepatitis B maupun C.

Sirosis hati secara klinis dibagi menjadi dua, yaitu sirosis hati kompensata di mana pada kondisi ini sirosis hati masih belum menunjukkan gejala klinis dan sirosis hati dekompensata yaitu sirosis hati yang menunjukkan gejala-gejala yang jelas. Pada stadium kompensasi sempurna sulit menegakkan diagnosis sirosis hati. Pada proses lanjutan dari kompensasi sempurna mungkin bisa ditegakkan diagnosis dengan bantuan pemeriksaan klinis yang cermat, dan pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan laboratorium darah. Namun tetap golden standard penegakan diagnosis sirosis hati adalah dengan biopsi hati, yaitu mengambil sedikit jaringan hati

Pada stadium awal (kompensata), di mana kompensasi tubuh terhadap kerusakan hati masih baik, sirosis hati seringkali muncul tanpa gejala. Gejala-gejala awal sirosis hati meliputi perasaan mudah lelah dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual, berat badan menurun, pada laki-laki dapat timbul impotensi, testis mengecil dan dada membesar, serta hilangnya dorongan seksualitas. Pada stadium ini sering muncul pertanyaan, sirosis hati bisakah disembuhkan? Belum ada bukti bahwa penyakit sirosis hati dapat bersifat reversible (kembali seperti semula), tetapi dengan kontrol pasien yang teratur pada fase ini diharapkan dapat memperpanjang status kompensasi dalam waktu yang lama dan mencegah timbulnya komplikasi, tapi tetap tidak dapat disembuhkan.

Baca Juga:
5 Cara Pencegahan Hepatitis A Pada Anak
10 Ciri – Ciri Terkena Hepatitis B

Bila sudah lanjut (berkembang menjadi sirosis dekompensata) gejala-gejala akan menjadi lebih menonjol terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta, meliputi kerontokan rambut badan, gangguan tidur, dan demam yang tidak begitu tinggi. Selain itu, dapat pula disertai dengan gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis (mimisan), gangguan siklus haid pada wanita, ikterus (kuning pada badan), air kemih berwarna seperti teh pekat, hematemesis (muntah darah) dan melena (BAB berwarna hitam pekat seperti aspal), asites (perut membesar berisi air) dengan  atau tanpa edema (pembengkakan) serta perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi, sampai koma.

Penatalaksanaan kasus sirosis hepatis dipengaruhi oleh penyebab penyakit tersebut. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi progresifitas dari penyakit. Penanganan sirosis hati memerlukan kerja sama tim medis, pasien, serta keluarga dan lingkungan dalam pengelolaan penyakit ini. Edukasi terhadap pasien dan keluarganya tentang penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi akan sangat membantu memperbaiki hasil pengobatan, serta diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas hidup pasien. Selain menggunakan obat-obatan untuk mengurangi gejala, pasien dengan sirosis hepatis juga dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam, serta pembatasan jumlah cairan  kurang lebih 1 liter per hari.

Prognosis sirosis hati sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya penyebab, beratnya kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit yang menyertai. Sirosis hati tidak dapat disembuhkan, tapi berdasarkan kriteria child plug angka kelangsungan hidupnya selama setahun dapat mencapai 100% hingga 45%.

Produk Terkait:
Vaksin Hepatitis B ke Rumah
Vaksinasi Hepatitis A dan B ke Rumah

Oleh karena itu, jika Sobat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, Sobat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah dari Prosehat loh yang mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:

  • Produk dijamin asli
  • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
  • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
  • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
  • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
  • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

Sumber:

  1. Runyon BA. A Primer on DetectingCirrhosis and Caring for These Patientswithout Causing Harm. InternationalJournal of Hepatology. 2015.
  2. Jang, JW. Current status of liver diseasesin Korea: liver cirrhosis. Korean J Hepatol.2013.
  3. WHO. Viral hepatitis in the WHO South-East Asia region. 2014.
  4. McPherson S, Stewart SF, Henderson E,Burt AD, Day CP. Simple non-invasivefibrosis scoring system can reliablyexclude advanced fibrosis in patients withnon-alcoholic fatty liver disease. BritishMed Journal. 2014.
  5. Khan MU, Ghaffar A, Amin Z, Niazi F,Qayyum A, Saqib R. Role of ultrasound inearly detection of cirrhosis liver.PakistanArmed forces med Journal.2014.
  6. EASL. Management of Chronic Hepatitis B:EASL clinical practice guidelines.Switzerland, Journal of Hepatol. 2013.

Chat Asisten ProSehat aja