Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ penyakit”

Showing 1–10 of 11 results

  • Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar dinamakan monkeypox. Pada tahun 1970, virus ini pertama kali ditemukan pada manusia di Republik Demokratik Kongo. Kemudian, Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan peliharaan eksotis (praire dog) […]

    Mari Cari Tahu lebih dalam tentang MonkeyPox

    Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar dinamakan monkeypox. Pada tahun 1970, virus ini pertama kali ditemukan pada manusia di Republik Demokratik Kongo. Kemudian, Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan peliharaan eksotis (praire dog) yang terinfeksi dari tikus dari Afrika yang masuk ke Amerika tahun 2003.

    Kejadian Luar Biasa (KLB) Monkeypox terjadi di Nigeria tahun 2017. Kasus terakhir yang menarik perhatian adalah di Singapura, ada warga Nigeria yang menderita monkeypox dan 23 orang yang kontak erat dengannya sudah di karantina. Wilayah yang terjangkit Monkeypox global adalah Afrika Tengah dan Barat (Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast,  Liberia, Sierra Leone, Gabon, dan Sudan Selatan)

    Monkeypox merupakan virus golongan orthopoxvirus yang menular dari hewan ke manusia. Hewan penular di negara terjangkit antara lain monyet,  anjing prairie, tupai, dan tikus Gambia. MonkeyPox menular dari hewan ke manusia melalui KONTAK LANGSUNG dengan darah, cairan tubuh/kulit hewan yang terinfeksi dan mengonsumsi daging hewan yang terkontaminasi. Penularan antar manusia sangat mungkin, tapi jarang.

    Masa inkubasi biasanya 6-16 hari tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Fase prodromal dapat berlangsung 1-3 hari, seperti demam sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Fase selanjutnya adalah fase erupsi yang merupakan fase paling infeksius. Fase ini ditandai dengan ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap mulai dari bintik.

    merah seperti cacar makulopapula lepuh berisi cairan bening (lepuh berisi nanah) kemudian mengeras krusta atau keropeng lalu rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari.

    Beda Monkeypox, Smallpox (variola) dan Chickenpox (cacar air)

    Karakteristik Monkeypox Smallpox Chickenpox
    Cara penularan Kontak dengan: Darah, cairan tubuh, luka terbuka pada hewan,konsumsi

    daging terinfeksi

    Percikan air liur atau kontak langsung dengan tubuh penderita yang terinfeksi Kontak langsung

    dengan tubuh

    penderita yang

    terinfeksi

    Masa inkubasi 5-21 hari 7-19 hari 5-7 hari
    Gejala dan tanda Khas:

    Pembengkakan

    kelenjar getah bening

    Tidak ada

    pembengkakan

    kelenjar getah

    bening

    Ruam dengan

    vesikel yang gatal

    Cara pencegahan Tidak ada vaksin,

    hindari faktor risiko

    dan daerah endemis

    Pernah ada vaksin

    tapi tidak

    diproduksi lagi

    sejak 1980

    Vaksin varicella

    (98%) efektif

    Beratnya penyakit Gejala ringan tapi

    tingkat

    perburukannya

    1-10%

    Perdarahan organ

    dalam sehingga

    dapat memburuk

    20-60%

     

    Secara kasat mata monkeypox sulit membedakan dengan penyakit ruam lain seperti cacar air, campak, kudis, sifilis, alergi obat dan infeksi kulit karena bakteri. Diagnosis dengan tepat adalah dengan memeriksakan ke laboratorium.

    Perawatan Penderita Monkey Pox:

    • Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi untuk monkey pox
    • Pengobatan dilakukan untuk mengurangi gejala yang timbul
    • Penderita akan diisolasi guna mencegah penularan pada fase erupsi
    • Daya tahan tubuh penderita menurun, sehingga rentan terkena penyakit lain

    Pencegahan Penularan Monkey Pox

    • Perilaku hidup bersih sehat dengan mencuci tangan dengan air sabun atau cairan pembersih desinfektan lain
    • Hindari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan daging yang tidak dimasak dengan baik
    • Hindari kontak fisik dengan penderita termasuk tempat tidur dan bajunya
    • Hindari kontak dengan hewan liar/ konsumsi daging hasil buruan
    • Bagi pelancong yang bepergian ke daerah endemis hendaklah memeriksakan diri bila ada gejala diatas dalam waktu < 3 minggu setelah pulang
    • Tenaga medis memakai alat pelindung diri ketika memeriksa pasien yang terinfeksi.

    instal aplikasi prosehat

    Read More
  • Libur panjang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Momen yang paling pas untuk melepaskan penat dan stres setelah sekian lama bekerja. Sehingga, saat kita berlibur harus dalam keadaan yang sehat dan prima bukan? Berikut kita akan membahas penyakit yang sering timbul saat ataupun setelah berlibur. Apa saja penyakitnya dan bagaimana cara kita mengantisipasinya? […]

    Libur Panjang, Hati-hati Penyakit Mengintai

    Libur panjang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Momen yang paling pas untuk melepaskan penat dan stres setelah sekian lama bekerja. Sehingga, saat kita berlibur harus dalam keadaan yang sehat dan prima bukan? Berikut kita akan membahas penyakit yang sering timbul saat ataupun setelah berlibur. Apa saja penyakitnya dan bagaimana cara kita mengantisipasinya?

    Penyakit yang sering timbul pada saat berlibur biasanya adalah penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan, karena saat berlibur berburu kuliner merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan. Tiga penyakit tersering yang biasa muncul saat berlibur adalah keracunan makanan, gastroenteritis akut, dan tifoid.

    KERACUNAN MAKANAN

    Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan bakteri, parasit, virus, maupun zat kimia. Gejala dari keracunan makanan dapat sangat bervariasi, tergantung dari derajat penyakit dan tingkat keparahannya.

    • Nyeri perut, gejala ini merupakan efek dari peradangan saluran pencernaan.
    • Muntah, termasuk gejala yang sering ditemukan terutama dari penyebab infeksi bakteri dan virus.
    • Diare, biasanya gejala ini kurang dari 2 minggu.
    • Nyeri kepala.
    • Demam, tergantung dari tingkat keparahan penyakit, apabila berat, kondisi keracunan makanan dapat menimbulkan demam.
    • Perubahan pada BAB, apabila terjadi kerusakan yang invasif pada saluran pencernaan, BAB bisa berdarah.

    Baca Juga: 7 Lokasi Snorkeling di Jakarta

    Keracunan makanan depat dicegah dengan  menjaga kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan saat akan makan, makanlah masakan yang benar-benar matang, dan jagalah bekal Anda pada suhu yang sesuai agar tidak basi.

    Penanganan yang dapat segera dilakukan adalah memberikan cairan agar tidak mengalami kondisi dehidrasi, dan hindari produk-produk yang mengandung susu terutama apabila terdapat gejala diare karena dapat memperparah diarenya, dan segera bawa ke dokter.

     GASTROENTERITIS AKUT

    Gastroenteritis adalah peradangan pada saluran pencernaan, penyebab yang paling sering pada penyakit ini adalah virus dan terkadang juga bakteri. Pada gastroenteris viral akut sering ditandai dengan demam ringan, muntah, diikuti diare cair dan bukan diare berdarah. Gastroenteritis viral akut umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, tapi kita tetap harus memerhatikan kadar cairan di tubuh, jangan sampai mengalami dehidrasi.

    Maka dari itu penanganan yang utama adalah cairan, pastikan minum harus cukup, usahakan konsumsi cairan yang isotonik untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang terbuang saat muntah dan diare. Pencegahan paling penting adalah melakukan vaksinasi rotavirus sebelum berlibur, karena virus yang umumnya menyebabkan penyakit ini adalah rotavirus.

    Baca Juga: 5 Persiapan Sebelum HoneyMoon

    DEMAM TIFOID

    Demam tifoid masih merupakan penyakit endemis di Indonesia. Penyebab dari penyakit ini adalah kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi yang masuk ke dalam tubuh manusia, terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Gejala yang timbul dapat sangat bervariasi dari ringan sampai berat. Biasanya jarak antara kuman masuk ke tubuh sampai timbul gejala cukup panjang sekitar 10-14 hari.  Pada minggu pertama gejala yang sering muncul demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, sulit BAB, ataupun diare.

    Pada minggu ke dua gejala menjadi semakin jelas, umumnya gejala yang sangat dominan adalah demam, lidah yang kotor di tengah umumnya lidah berwarna putih. Apabila sobat melihat gejala seperti ini pada keluarga atau kerabat saat atau sesudah berlibur segeralah bawa ke dokter, karena butuh penanganan yang adekuat. Umumnya pasien demam tifoid akan membutuhkan istirahat yang cukup dan terapi pengobatan.

    Baca Juga: 5 Penyebab Tifus dan Pencegahannya

    Nah, Sobat itulah sekilas informasi mengenai penyakit yang sering muncul saat dan sesudah berlibur. Jika Anda membutuhkan produk kesehatan maupun informasi kesehatan penting lainnya, bisa diperoleh dari www.prosehat.com atau install aplikasinya di google play atau app store. Atau hubungi (Maya) Asisten Kesehatan ProSehat, Telp/SMS/WhatsApp : 0811-18-16-800. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Sudoyo A, Djauzi S, Djoerban Z. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid 3). 4th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006.
    2. Gamarra R. Food Poisoning: Practice Essentials, Background, Pathophysiology [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 10 January 2019]. Available from: emedicine.medscape.com/article/175569-overview
    3. Lin B. Viral Gastroenteritis: Background, Pathophysiology, Etiology [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 10 January 2019]. Available from: emedicine.medscape.com/article/176515-overview
    Read More
  • Polio. Siapa sih di antara kita yang tidak asing dengan penyakit ini? Atau siapa sih di antara kita yang tidak mengenal penyakit ini? Penyakit polio merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena merupakan salah satu penyakit berbahaya dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Apakah penyakit berbahaya yang satu ini masih […]

    Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Polio. Siapa sih di antara kita yang tidak asing dengan penyakit ini? Atau siapa sih di antara kita yang tidak mengenal penyakit ini? Penyakit polio merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena merupakan salah satu penyakit berbahaya dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Apakah penyakit berbahaya yang satu ini masih sering ditemui di Indonesia? Jika iya, seberapa seringkah seseorang mengalami penyakit ini?

    Polio merupakan salah satu penyakit yang sangat sering menyerang balita bahkan juga bisa menyerang kita yang sudah tidak muda lagi. Seperti layaknya penyakit campak ataupun cacar, penyakit polio sangat mudah menyerang mereka yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang bagus. Data UNICEF menyatakan jika 20 tahun silam setidaknya 1.000 anak menjadi lumpuh karena penyakit ini. Dampak yang sangat mengerikan dari polio bukan? Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi penyakit polio?

    Dokter melakukan gerakan inovatif, lebih tepatnya Gerakan Pemberantasan Polio Global yang digalakkan sejak tahun 1988. Apakah gerakan ini berhasil? Kabar bahagianya, pada tahun 2004 hanya ditemukan 1.266 kasus polio di seluruh dunia berkat dilakukannya gerakan ini. Penurunan yang cukup drastis bukan? Lalu, bagaimana dengan kasus polio di Indonesia setelah dilakukannya gerakan ini? Apakah juga menurun layaknya di negara lain?

    Angka Polio Indonesia

    Apakah Gerakan Pemberantasan Polio Global juga memiliki pengaruh positif di Indonesia? Sayangnya kasus polio ini muncul kembali di Indonesia pada tahun 2005, di mana kasus ini terjadi pada anak berusia 20 bulan. Semenjak kasus ini terjadi, polio juga mulai bermunculan di berbagai daerah Indonesia lainnya – terlebih anak yang belum mendapatkan imunisasi polio. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara di peringkat ke 16 yang kembali terserang virus polio bahkan dikhawatirkan dapat menjadi pengekspor virus polio ke negara tetangga, bahkan Asia Timur. Lalu, apa upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini?

    Yup, bukan rahasia lagi jika virus polio adalah virus ganas yang dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya; baik cepat ataupun lambat. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang mampu mengatasi polio sehingga WHO (World Health Organization) menggalakkan program imunisasi polio dan hal ini juga dilakukan di Indonesia. Kabar baiknya, sejak tahun 2014 Indonesia sudah dinyatakan sebagai salah satu negara yang bebas polio seperti halnya beberapa negara di Asia Tenggara, Eropa, Pasifik Barat, juga Amerika Serikat. Sebemarnya bagaimana sih asal mula polio ini terjadi? Kapan kita tahu seseorang terjangkit virus mematikan yang satu ini?

    Diagnosis Polio

    Meskipun Indonesia sudah dinyatakan sebagai salah satu negara yang bebas polio, bukan berarti kita sudah 100 persen aman dari penyakit ini. Ketika seseorang terserang virus polio, cepat atau lambat virus ini akan menyerang sistem pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan sewaktu-waktu – terutama pada bagian kaki. Virus polio  merupakan salah satu virus yang cepat menyebar dari satu orang ke orang lainnya terutama melalui makanan ataupun minuman yang sudah terkontaminasi dengan tinja virus tersebut (fekal-oral). Seramnya lagi, virus polio juga bisa menyebar dengan cepat melalui udara atau lebih tepatnya ketika sesorang bersin ataupun batuk. Lalu, siapa saja yang rentan terserang virus polio?

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, virus polio sangatlah rentan menyerang kita yang tidak memiliki daya imun yang bagus. Namun, bukan hanya itu saja, virus polio juga mudah menyerang mereka yang bepergian ke suatu tempat yang masih rawan virus polio seperti beberapa negara di Afrika; misalnya saja Nigeria, Afganistan, ataupun Pakistan. Seseorang yang juga sudah melakukan operasi amandel juga lebih mudah mengalami penyakit polio karena daya tahan tubuh yang lebih rendah daripada orang lainnya. Kapan kita bisa mengetahui seseorang terjangkit polio? Gejala apakah yang biasanya muncul dari penyakit polio ini?

    Gejala Polio

    Apa saja, ya kira-kira gejala dari penyakit polio? Sebelum kita membahas apa saja gejala polio, ada baiknya kita mengetahui apa saja jenis dari penyakit polio. Wah, memangnya polio terdiri dari berbagai jenis ya?

    Penyakit polio sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, serta sindrom pasca-polio. Memangnya, apa sih perbedaan antara satu jenis polio dengan jenis polio lainnya? Nah, daripada semakin penasaran, yuk mending kita simak penjelasan yang satu ini!

    1. Polio non-paralisis

    Jenis penyakit polio yang pertama sering kali dikenal dengan poli non-paralisis. Jenis polio yang satu ini tidak berbahaya seperti jenis polio lainnya alias tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejala polio non-paralisis antara lain adalah radang selaput otak (meningitis) yang biasanya ditandai dengan kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Kemudian, gejala polio non-paralisis lainnya adalah merasa cepat lelah, sakit tenggorokan, demam, melemahnya otot serta rasa sakit pada bagian kaki, tangan, leher serta punggung.

    2. Polio paralisis

    Jenis polio berikutnya adalah jenis polio yang berbahaya karena dapat menyebabkan kelumpuhan sewaktu-waktu. Lalu bagaimana dengan gejala polio paralisis? Gejalanya sendiri sama dengan gejala polio non-paralisis dan biasanya berlangsung dalam rentang waktu satu pekan. Sedangkan kelumpuhan sendiri bisa terjadi sewaktu-waktu alias tanpa prediksi yang jelas, contohnya saja bisa terjad dalam hitungan jam setelah kita terinfeksi virus polio ataupun dalam hitungan hari.

    3. Sindrom pasca-polio

    Jenis polio terakhir biasa kita kenal dengan sindrom pasca-polio, terjadi pada seseorang yang mengalami polio sebelumnya dan muncul pada usia sudah dewasa – lebih tepatnya dalam rentang usia 30 hingga 40 tahun. Beberapa gejala yang menandakan kita mengalami sindrom pasca-polio adalah sebagai berikut:

    • Sulit berkonsentrasi atau bahkan mudah lupa;
    • Bagian persendian atau otot yang melemah atau sering terasa sakit;
    • Mengalami depresi atau suasana hati yang mudah berubah;
    • Kesulitan untuk tidur disertai dengan kesulitan bernafas;
    • Tidak kuat terhadap suhu dingin.

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai polio. Yup, polio adalah sebuah penyakit yang mudah untuk menular sehingga kita perlu rutin melakukan vaksin polio sehingga kita tidak terserang penyakit mematikan ini. Vaksin polio sendiri sudah bisa diberikan sejak balita, lebih tepatnya sejak anak lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan yang terakhir adalah ketika anak berusia 18 bulan sesuai dengan rekomendasi pemerintah. Lalu, bagaimana dengan kita yang tidak mendapatkan vaksin polio ketika kecil?

    Menariknya, kita yang sudah beranjak dewasa tetapi belum pernah mendapatkan vaksin polio sebelumnya juga bisa mendapatkan vaksin ini sebanyak tiga kali. Vaksin polio untuk orang dewasa bisa dilakukan sebanyak tiga kali, di mana rentang antara vaksin pertama dengan vaksin kedua adalah 1 hingga 2 bulan sedangkan dengan vaksin ke-tiga dengan rentang waktu antara 6 hingga 12 bulan. Tentu saja kita bisa mendapatkan vaksin ini pada pelayanan kesehatan terdekat sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk malas melakukan vaksin polio. Pastinya sekarang sudah tidak takut lagi dengan penyakit polio bukan?

    Untuk sobat yang tidak ingin antri melakukan vaksinasi maka bisa membeli vaksin polio di prosehat. Layanan vaksinasi datang ke rumah, aman dan terjangkau. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • https://www.tanyadok.com/anak/polio-tidak-hanya-menyerang-kaki-anda
    Read More
  • Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri. Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan […]

    Kenali Penyebab Penyakit Hepatitis

    Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri.

    Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan hepatitis, sehingga kita bisa memahami betapa pentingnya pencegahan hepatitis melalui pemberian vaksin.

    Apa saja virus yang paling umum menyebabkan hepatitis? Perlu diketahui, ada 5 virus yang paling sering menginfeksi organ hati kita dan menyebabkan hepatitis, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Pada umumnya kelima virus ini dapat memberikan gejala yang kurang lebih mirip antara satu dengan lainnya.

    Gejala yang muncul sangat bervariasi, mulai dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala namun berakibat fatal di kemudian hari. Pembeda kelima virus ini adalah masing-masing virus mempunyai kecenderungan berbeda dalam memberikan gejala akut ringan sampai berat ataupun kronis tidak bergejala.

    Penyebab penyakit kuning atau hepatitis yang disebabkan oleh kelima virus ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian besar:

    Kelompok pertama adalah virus yang ditularkan secara fekal-oral, yaitu hepatitis A dan E. Istilah penularan secara fekal-oral ini artinya penyakit ini ditularkan melalui makanan/minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses/kotoran manusia, lalu masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut. Tentu kondisi ini sangat berhubungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk.

    Kelompok yang kedua adalah virus yang ditularkan melalui darah, yaitu hepatitis B, C, dan D. Virus yang paling umum dikenal adalah virus hepatitis A, B dan C. Data menunjukkan sebanyak 44% kasus hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis A, 49% oleh virus hepatitis B, dan 7% oleh virus hepatitis C.

    Lalu bagaimana dengan virus hepatitis D dan E? Selain lebih tidak umum dikenal, kedua virus ini ternyata memiliki keunikannya masing-masing. Virus hepatitis D tidak dapat menginfeksi manusia secara independen, dimana virus ini membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi tubuh manusia. Sedangkan virus hepatitis E ini sangat mirip dengan virus hepatitis A.

    • Hepatitis A dan E

    Virus hepatitis A ini sangat infeksius, dan biasanya ditularkan melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi feses, sehingga penyakit ini sangat berhubungan erat dengan kebersihan. Selain melalui makanan/minuman yang terkontaminasi, penularan melalui darah juga dapat terjadi meski cukup jarang terjadi karena virus ini berada di dalam peredaran darah dalam waktu yang cukup singkat, tidak seperti virus hepatitis B dan C. Rute penularan lain yang juga mungkin terjadi adalah melalui hubungan seksual oral-anal, dan penggunaan jarum suntik bersama dan berulang meskipun jarang.

    Virus hepatitis A dapat menyerang segala usia, tapi paling sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Bila seseorang terinfeksi virus ini, maka membutuhkan waktu 2-3 minggu sampai akhirnya memberikan gejala. Masa 2 minggu sebelum gejala muncul  merupakan masa yang sangat infeksius, dimana virus sudah keluar lewat feses dan dapat dengan mudah menularkan, terutama pada lingkungan tempat tinggal yang padat dan sanitasi yang buruk. Gejala awal yang ditimbulkan berupa demam, nyeri kepala dan nyeri otot, hilangnya nafsu makan, mual-mual hingga muntah, lemas, dan nyeri pada perut terutama pada bagian kanan atas perut.

    Setelah itu biasanya diikuti dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning dan urin berwarna gelap seperti teh. Tapi, satu hal yang perlu diingat bahwa tidak semua orang yang terinfeksi hepatitis A akan memberikan gejala. 90% dari anak-anak dan 25% dari orang dewasa yang terinfeksi hepatitis A tidak memberikan gejala, sehingga tanpa disadari sudah menyebarkan virus hepatitis A melalui feses mereka. Namun jangan khawatir, setiap orang yang terkena hepatitis A dapat sembuh dengan sempurna karena virus ini tidak akan berlanjut menjadi kronis. Derajat gejala yang ditimbulkan juga biasanya bertaraf ringan sampai sedang.

    Hepatitis E sangat mirip dengan hepatitis A, dari metode penularannya yang juga sama yaitu melalui makanan/minuman yang terkontaminasi feses (fekal-oral), hingga gejala yang ditimbulkan. Hepatitis E pun dapat sembuh sempurna seperti hepatitis A. Karena kemiripan inilah maka cukup sulit untuk kita membedakan hepatitis A dan E. Bahkan, beberapa kasus pun mendapati hepatitis E menginfeksi bersamaan dengan hepatitis A.

    Pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis E tidak tersedia secara luas, tidak seperti pemeriksaan hepatitis A. Penelitian yang dilakukan di India mendapati bahwa memang sebenarnya jumlah kasus hepatitis A lebih banyak terjadi (sebanyak 68%) dari pada hepatitis E (sebanyak 31%). Namun penelitian juga menunjukkan bahwa hepatitis E ternyata memberi gejala yang lebih berat jika terinfeksi saat sedang hamil, sehingga perlu menjadi perhatian bagi ibu-ibu yang sedang hamil untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih supaya tidak sampai tertular.

    Pencegahan hepatitis A dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi hepatitis A, dan vaksin ini juga sudah tersedia di Indonesia. Pemberian vaksin ini akan memberikan kekebalan 94-100% terhadap hepatitis A. Di Amerika sendiri, setelah pemberian vaksin hepatitis A dirutinkan pada anak-anak, angka kejadian hepatitis A ternyata berkurang cukup signifikan.

    • Hepatitis B dan D

    Hepatitis B berbeda dengan hepatitis A. Hepatitis B adalah penyebab tersering penyakit hati kronis dan kanker hati di seluruh dunia. Hepatitis B ini hanya ditularkan melalui cairan tubuh, dan yang terutama adalah melalui darah. Beberapa hal yang dapat menularkan virus hepatitis B adalah penggunaan jarum suntik bersama dan berulang, kontak darah yang terinfeksi hepatitis B dengan luka atau selaput lendir, transfusi darah yang mengandung virus hepatitis B, jarum tato, hubungan seksual, dan penularan dari ibu yang sudah terinfeksi hepatitis B kepada bayinya.

    Gejala yang dapat muncul pada hepatitis B cukup bervariasi, dapat berupa gejala akut seperti pada hepatitis A, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah, nyeri perut, hingga perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, namun seringkali tidak bergejala, atau bahkan hanya memberikan gejala yang sangat minimal dan tidak spesifik. Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B dapat berlanjut menjadi kronis yang tidak bergejala, dan sekitar 15-40% pada akhirnya menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati yang fatal di kemudian hari.

    Biasanya 90% bayi yang tertular hepatitis B dari ibunya atau tertular hepatitis B pada saat berusia anak-anak akan mengalami infeksi yang kronis dan tidak bergejala, atau yang lazimnya disebut sebagai carrier, dan ternyata inilah penyumbang tertinggi angka penyakit hepatitis B di seluruh dunia. Metode penularan lain juga berisiko berlanjut menjadi infeksi yang kronis tapi dengan kemungkinan lebih kecil sebesar 5-10%.

    Lalu, bagaimana dengan hepatitis D? Hepatitis D adalah virus yang sangat unik, dimana ia membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi manusia. Cara penularannya juga sama seperti hepatitis B, yaitu melalui darah. Berdasarkan data, hepatitis D merupakan infeksi virus hepatitis yang paling jarang dibandingkan keempat lainnya.

    Hepatitis D bisa langsung terjadi bersamaan terjadi dengan hepatitis B atau disebut sebagai ko-infeksi, atau pada orang yang sudah mengalami hepatitis B kronis terlebih dahulu, lalu tertular hepatitis D di kemudian hari, dan hal ini disebut sebagai super-infeksi. Persyaratannya harus ada virus hepatitis B bersamanya karena virus hepatitis D adalah virus yang ‘tidak utuh’.

    Nah, gejala yang ditimbulkan biasanya bervariasi. Biasanya ko-infeksi hepatitis B dan D menghasilkan gejala akut yang ringan atau kadang tidak bergejala, kurang lebih mirip dengan infeksi hepatitis B pada umumnya. Namun, pada kondisi super-infeksi, gejala yang muncul biasanya cukup berat, bahkan bisa dikatakan gejalanya paling berat dibandingkan dengan gejala akut keempat virus hepatitis lainnya.

    Baik ko-infeksi maupun super-infeksi, keduanya mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala. Ini artinya, orang tersebut membawa 2 virus sekaligus di dalam tubuhnya. Kondisi infeksi kronis hepatitis B dan D secara bersamaan ini mempercepat terjadinya kerusakan hati fatal di kemudian hari. Sebagai perbandingan, infeksi hepatitis B saja dapat menyebabkan kerusakan hati fatal sekitar 15-40%, tapi meningkat menjadi 70-80% pada infeksi hepatitis B dan D secara bersamaan.

    Mengingat baik hepatitis B dan D ini dapat berakibat fatal, ditambah pengobatannya yang tidak mudah, maka lebih baik bagi kita untuk mencegah agar tidak sampai tertular. Pencegahan terbaik saat ini selain menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus ini adalah dengan vaksinasi hepatitis B. Hepatitis D tidak akan terjadi tanpa hepatitis B, sehingga vaksinasi hepatitis B secara tidak langsung juga akan melindungi kita terhadap hepatitis D. Vaksin hepatitis B ini tersedia secara luas di Indonesia dan bahkan termasuk dalam program imunisasi dasar dan wajib bagi anak-anak Indonesia.

    • HEPATITIS C

    Yang terakhir adalah hepatitis C. Nah hepatitis C ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan secara global, di mana hepatitis merupakan penyebab infeksi kronis yang ditularkan melalui darah yang paling sering salah satunya di negara maju seperti Amerika Serikat. WHO menyatakan sekitar 3% populasi dunia terinfeksi hepatitis C. Di negeri kita penyebab kerusakan hati kronis yang fatal paling banyak tidak hanya disebabkan oleh hepatitis B, tapi juga hepatitis C, loh!

    Hal yang paling menyulitkan adalah belum adanya vaksin yang ditemukan untuk mencegah penyakit hepatitis C hingga saat ini. Pengobatannya pun terbilang cukup sulit, sama halnya dengan hepatitis B. Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah yang mengandung virus hepatitis C, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersamaan dan berulang, transplantasi organ,dan penularan dari ibu yang sudah terkena hepatitis C kepada bayinya. Tidak seperti hepatitis B, penularan hepatitis C dari ibu kepada bayinya dapat terjadi tapi kemungkinannya lebih kecil, yaitu sekitar 4%.

    Hepatitis C ini sangat jarang memberikan gejala akut dibandingkan dengan semua jenis virus hepatitis lainnya, sehingga banyak sekali yang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi hepatitis C.Gejala infeksi akut seringkali memberikan gejala yang tidak khas dan ringan. Tidak heran kebanyakan infeksi hepatitis C baru diketahui/disadari saat sudah terjadi kerusakan hati berat ataupun sirosis hati.

    Sekitar 50-85% pasien yang terinfeksi hepatitis C akan berkembang menjadi infeksi kronis, loh! Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan hepatitis B. Melihat kondisi ini, ditambah dengan pengobatan yang tidak mudah serta belum ditemukannya vaksin hepatitis C, maka metode pencegahan terbaik adalah menghindari agar tidak tertular hepatitis C.

    Pentingnya Vaksinasi

    Nah, setelah membaca 5 penyebab penyakit kuning atau hepatitis ini lebih dalam, tentu kita sudah paling tidak dapat menyadari bahwa hepatitis bukanlah sekedar penyakit biasa. Oleh karena itu,   kita perlu untuk menjaga diri agar tidak sampai tertular hepatitis A, B, C, D, ataupun E, mulai dari berusaha menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus hepatitis, dan mencegahnya dengan vaksinasi.

    Penurunan jumlah insiden kasus hepatitis A dan B di Amerika Serikat setelah ditemukannya vaksin hepatitis A dan B

    Inilah mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting dilakukan. Jika diperhatikan, gambar di atas adalah salah satu bukti bahwa jumlah insiden kasus hepatitis menurun drastis setelah ditemukannya dan diberlakukannya vaksinasi hepatitis A dan B secara luas. Baik vaksin hepatitis A maupun B keduanya tersedia di Indonesia, dan vaksinasi hepatitis B pun termasuk dalam imunisasi dasar dan wajib pada anak-anak.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Chamberlain NR. The big picture: medical microbiology. USA: The McGraw-Hill Companies; 2009. p. 99-208.
    2. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-78.
    3. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-93.
    4. Godara H, Hirbe A, Nassif M, Otepka H, Rosenstock A. The washington manual of medical therapeutics. USA: Washington University School of Medicine; 2014. p. 667-83.
    5. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-9.
    6. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 319;357;375.
    7. Kasper, Fauci, Hauser, Longo, Jameson, Loscalzo. Harrison’s manual of medicine. 19th ed. USA: The McGraw-Hill Companies: 2016. p. 809-15.
    8. Shenoy S, Baliga S, Joon A, & Rao P. Prevalence of hepatitis A virus (HAV) and hepatitis E virus (HEV) in the patients presenting with acute viral hepatitis. Indian Journal of Medical Microbiology. 2015;33(5); 102.
    9. Depkes.go.id. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sebagian Besar Kematian Akibat Hepatitis Virus Berhubungan dengan Hepatitis B dan C Kronis. 26 April 2016. Available at: depkes.go.id
    10. Yeung CY. Vertical transmission of hepatitis C virus: current knowledge and perspectives. World Journal of Hepatology. 2014;6(9);643.
    Read More
  • Seiring dengan perubahan gaya hidup, semakin banyak orang yang mengidap sirosis hati, atau yang dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan sirosis hepatis. Banyak masyarakat bertanya dapatkah sirosis hati disembuhkan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu sirosis hati. Sirosis hati adalah penyakit kronis hepar atau hati yang bersifat irreversible yang […]

    Sirosis Hati, Penyakit Hati Kronis Yang Tidak Dapat Disembuhkan

    Seiring dengan perubahan gaya hidup, semakin banyak orang yang mengidap sirosis hati, atau yang dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan sirosis hepatis. Banyak masyarakat bertanya dapatkah sirosis hati disembuhkan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu sirosis hati.

    Sirosis hati adalah penyakit kronis hepar atau hati yang bersifat irreversible yang artinya tidak dapat kembali seperti semula. Khas pada penyakit ini adalah ditandai dengan penggantian jaringan hati oleh fibrosis, jaringan parut dan nodul regeneratif (benjolan yang terjadi sebagai hasil dari sebuah proses regenerasi jaringan yang rusak) akibat nekrosis hepatoseluler (kematian sel hati), yang mengakibatkan penurunan hingga hilangnya fungsi hati. Dalam bahasa awam penyakit sirosis hati ini dikenal juga dengan sebutan penyakit liver.

    Keseluruhan insiden sirosis hati di Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk. WHO tahun 2002 memperkirakan 783.000 pasien di dunia meninggal akibat sirosis hati. Sirosis hati paling banyak disebabkan oleh penyalahgunaan akohol dan infeksi virus hepatitis. Di Indonesia,  sirosis hati banyak dihubungkan dengan infeksi virus hepatitis B dan C, sekitar 20 % pasien hepatitis kronik berkembang menjadi sirosis hati. Data menunjukkan hampir sekitar 57 % pasien sirosis hati juga terinfeksi hepatitis B atau C.

    Penelitian di Korea menyatakan bahwa sirosis hati adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian di Korea. Data lain juga menunjukkan bahwa sirosis hati menduduki urutan ke-8 penyebab kematian di Korea pada tahun 2007. South East Asia Regional Office (SEARO) tahun 2011 melaporkan sekitar 5,6 juta orang di Asia Tenggara adalah pembawa hepatitis B dan sekitar 480.000 orang di Asia Tenggara pembawa hepatitis C.

    Baca Juga: 
    8 Alasan Kenapa Bayi Baru Lahir Perlu Suntik Hepatitis B
    12 Cara Pencegah Hepatitis B

    Di Indonesia, data prevalensi sirosis hati belum ada secara pasti. Di RS SardjitoYogyakarta pada tahun 2004 mendata terdapat sekitar 4,1% dari pasien penyakit dalam yang dirawat di rumah sakit menderita sirosis hati. Lebih dari 40 % pasien sirosis adalah asimptomatis atau sering tanpa gejala sehingga kadang ditemukan pada waktu pasien melakukan pemeriksaan rutin atau karena penyakit yang lain.

    Beberapa faktor pencetus timbulnya sirosis hati yaitu infeksi virus hepatitis (B, C, dan D), alkohol, kelainan metabolik berupa hemakromatosis (kelebihan beban besi), penyakit Wilson (kelebihan beban tembaga), defisiensi Alphal-antitripsin, glikonosis type-IV, galaktosemia, dan tirosinemia, malnutrisis (gizi kurang ataupun gizi buruk), toksin dan obat, sistosomiasis, sumbatan saluran empedu, sumbatan aliran pembuluh darah vena, dan autoimun. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, di negara barat penyebab terbanyak sirosis hati adalah konsumsi alkohol, sedangkan di Indonesia terutama disebabkan oleh virus hepatitis B maupun C.

    Sirosis hati secara klinis dibagi menjadi dua, yaitu sirosis hati kompensata dimana pada kondisi ini sirosis hati masih belum menunjukkan gejala klinis dan sirosis hati dekompensata yaitu sirosis hati yang menunjukkan gejala-gejala yang jelas. Pada stadium kompensasi sempurna sulit menegakkan diagnosis sirosis hati. Pada proses lanjutan dari kompensasi sempurna mungkin bisa ditegakkan diagnosis dengan bantuan pemeriksaan klinis yang cermat, dan pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan laboratorium darah. Namun tetap golden standard penegakan diagnosis sirosis hati adalah dengan biopsi hati, yaitu mengambil sedikit jaringan hati

    Pada stadium awal (kompensata), dimana kompensasi tubuh terhadap kerusakan hati masih baik, sirosis hati seringkali muncul tanpa gejala. Gejala-gejala awal sirosis hati meliputi perasaan mudah lelah dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual, berat badan menurun, pada laki-laki dapat timbul impotensi, testis mengecil dan dada membesar, serta hilangnya dorongan seksualitas. Pada stadium ini sering muncul pertanyaan, sirosis hati bisakah disembuhkan? Belum ada bukti bahwa penyakit sirosis hati dapat bersifat reversible (kembali seperti semula), tetapi dengan kontrol pasien yang teratur pada fase ini diharapkan dapat memperpanjang status kompensasi dalam waktu yang lama dan mencegah timbulnya komplikasi, tapi tetap tidak dapat disembuhkan.

    Baca Juga:
    5 Cara Pencegahan Hepatitis A Pada Anak
    10 Ciri – Ciri Terkena Hepatitis B

    Bila sudah lanjut (berkembang menjadi sirosis dekompensata) gejala-gejala akan menjadi lebih menonjol terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta, meliputi kerontokan rambut badan, gangguan tidur, dan demam yang tidak begitu tinggi. Selain itu, dapat pula disertai dengan gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis (mimisan), gangguan siklus haid pada wanita, ikterus (kuning pada badan), air kemih berwarna seperti teh pekat, hematemesis (muntah darah) dan melena (BAB berwarna hitam pekat seperti aspal), asites (perut membesar berisi air) dengan  atau tanpa edema (pembengkakan) serta perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi, sampai koma.

    Penatalaksanaan kasus sirosis hepatis dipengaruhi oleh penyebab penyakit tersebut. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi progresifitas dari penyakit. Penanganan sirosis hati memerlukan kerja sama tim medis, pasien, serta keluarga dan lingkungan dalam pengelolaan penyakit ini. Edukasi terhadap pasien dan keluarganya tentang penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi akan sangat membantu memperbaiki hasil pengobatan, serta diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas hidup pasien. Selain menggunakan obat-obatan untuk mengurangi gejala, pasien dengan sirosis hepatis juga dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam, serta pembatasan jumlah cairan  kurang lebih 1 liter perhari.

    Prognosis sirosis hati sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, diantaranya penyebab, beratnya kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit yang menyertai. Sirosis hati tidak dapat disembuhkan, tapi berdasarkan kriteria child plug angka kelangsungan hidupnya selama setahun dapat mencapai 100% hingga 45%.

    Produk Terkait:
    Vaksin Hepatitis B ke Rumah
    Vaksinasi Hepatitis A dan B ke Rumah

    Oleh karena itu, jika Anda ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Sumber:

    1. Runyon BA. A Primer on DetectingCirrhosis and Caring for These Patientswithout Causing Harm. InternationalJournal of Hepatology. 2015.
    2. Jang, JW. Current status of liver diseasesin Korea: liver cirrhosis. Korean J Hepatol.2013.
    3. WHO. Viral hepatitis in the WHO South-East Asia region. 2014.
    4. McPherson S, Stewart SF, Henderson E,Burt AD, Day CP. Simple non-invasivefibrosis scoring system can reliablyexclude advanced fibrosis in patients withnon-alcoholic fatty liver disease. BritishMed Journal. 2014.
    5. Khan MU, Ghaffar A, Amin Z, Niazi F,Qayyum A, Saqib R. Role of ultrasound inearly detection of cirrhosis liver.PakistanArmed forces med Journal.2014.
    6. EASL. Management of Chronic Hepatitis B:EASL clinical practice guidelines.Switzerland, Journal of Hepatol. 2013.
    Read More
  • Tahukah Sobat bahwa tiga perempat dari keganasan yang terjadi pada anak adalah leukemia? Tentu leukemia pada anak ini menjadi perhatian, dong bagi kita para orang tua. Begitu mendengar kata “leukemia” pasti langsung teringat dengan kata-kata kanker darah, tidak bisa sembuh, kemoterapi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keganasan tersebut. Ingin tahu seputar leukemia?Yuk, mari kita […]

    Kupas Tuntas Leukemia pada Anak, Seberapa Berbahayakah?

    Tahukah Sobat bahwa tiga perempat dari keganasan yang terjadi pada anak adalah leukemia? Tentu leukemia pada anak ini menjadi perhatian, dong bagi kita para orang tua. Begitu mendengar kata “leukemia” pasti langsung teringat dengan kata-kata kanker darah, tidak bisa sembuh, kemoterapi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keganasan tersebut. Ingin tahu seputar leukemia?Yuk, mari kita kupas tuntas semuanya.

    Leukemia adalah keganasan yang terjadi pada sel darah putih. Kanker ini berkembang di sum-sum tulang belakang anak. Sum-sum tulang belakang merupakan tempat terjadinya pembentukan sel darah, baik sel darah merah, sel darah putih ataupun trombosit. Kanker yang menyerang menyebabkan gangguan pada pembentukan sel darah yang mengakibatkan menurunnya jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

    Setiap tahun, lebih dari 300.000 anak didiagnosa kanker di dunia dan 80.000 anak meninggal karena kanker. Sedangkan di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 angka kejadian kanker anak usia 0-14 tahun sekitar 16.291 kasus dan terus meningkat setiap tahunnya dengan jenis kanker terbanyak adalah leukemia dan kanker mata (retinoblastoma).

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan HPV

    Leukemia terdiri dari 2 jenis, yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Selain itu, pembagian leukemia dapat berdasarkan jenis sel darah putih yang diserangnya, yaitu leukemia limfoblastik dan leukemia myeloblastik. Leukemia akut dapat dibagi menjadi 3, yaitu Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), Leukemia Myelogenous Akut (LMA), dan Leukemia akut campuran. Sedangkan leukemia kronis terbagi menjadi Leukemia Myelogenous kronik (LMK) dan Leukemia Limfositik Kronik (LLK). Pada anak, leukemia yang sering terjadi adalah Leukemia Limfoblastik Akut (LLA). Sekitar 3 dari 4 anak dengan leukemia tergolong jenis leukemia ini.

    Apakah semua anak dapat terkena leukemia? Tidak, hanya beberapa anak yang memiliki faktor risiko leukemia yang dapat meningkatkan risikonya terkena keganasan ini. Faktor risiko leukemia antara lain adalah:

    1. Genetik

    Kelainan genetik baik berupa yang langsung diturunkan oleh orang tua ataupun tidak sering ditemui pada leukemia. Anak yang memiliki saudara kandung terkena leukemia berisiko 2 hingga 4 kali lebih tinggi terkena keganasan ini. Risiko semakin meningkat pada anak kembar. Bila kembarannya terkena leukemia, maka anak lainnya berisiko 1 hingga 5 kali lebih tinggi untuk terkena leukemia. Risiko semakin meningkat bila leukemia terjadi pada usia di bawah 1 tahun.

    2. Faktor lingkungan

    Paparan radiasi tingkat tinggi pada anak atau ibu hamil pada trimester pertama menjadi risiko anak terkena leukemia. Kemudian, bila anak atau dewasa sedang dalam pengobatan kanker lain menggunakan beberapa obat seperti siklofosfamid, klorambusil, etoposid dan teniposid, maka risiko terkena leukemia di kemudian hari akan lebih tinggi.

    Beberapa faktor risiko masih kontroversi dan memerlukan penelitian lebih lanjut, sehubungan dengan keterkaitannya dengan kejadian leukemia pada anak. Faktor tersebut antara lain adalah paparan terhadap gelombang elektormagnetik besar, usia ibu saat melahirkan, riwayat orang tua merokok, infeksi pada saat lahir, janin yang terpapar hormon seperti Dietilstilbetrol (DES) atau pil KB, riwayat ayah terpapar bahan kimia, dan kontaminasi kimia pada sumber air.

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan Hepatitis B

    Lalu, gejala apakah yang dapat terlihat pada anak yang terkena leukemia. Berikut adalah gejalanya:

    1. Pucat (anemia)

    Pada anak dengan leukemia, terjadi gangguan pembentukan sel darah merah yang menyebabkan produksinya menurun. Akibatnya, anak akan mengalami anemia karena konsentrasi Hb pada darah menurun. Anak yang anemia akan terlihat pucat pada kulitnya dan sering terlihat pada kulit wajah, terutama di bawah kelopak mata. Selain itu, anak dengan anemi akan terlihat lesu dan mudah lelah serta sakit kepala.

    2. Mudah terkena infeksi

    Akibat terjadinya gangguan pada pembentukan sel darah putih, anak dengan leukemia akan mudah terinfeksi. Hal ini karena menurunnya daya tahan tubuh anak sehingga infeksi yang seharusnya bisa sembuh dalam sekejap, memerlukan waktu yang cukup lama bagi anak dengan leukemia.

    Produk Terkait: Produk Mencegah Infeksi

    3. Perdarahan

    Gampang berdarah merupakan salah satu tanda dari leukemia. Perdarahan terjadi karena terganggunya trombosit yang berperan dalam penggumpalan darah yang jumlahnya semakin menurun (<150.000/µl). Perdarahan sering terjadi pada hidung (mimisan) atau gusi serta lebam-lebam pada kulit.

    4. Nyeri tulang atau sendi

    Anak dengan leukemia sering mengalami pembengakakan pada daerah sendi. Selain itu, rasa sakit pada tulang dan sendi sering dirasakan karena sel kanker yang mulai menjalar ke organ tulang dan sendi.

    Baca Juga: 5 Mitos Nyeri Sendi

    Produk Terkait: Borobudur Sendi Cream

    5. Demam

    Demam yang dirasakan anak dengan leukemia biasanya berbeda dengan biasanya. Demam dapat terjadi hilang timbul dan terasa tidak sembuh-sembuh. Demam yang dirasakan dapat disebabkan karena sel radang yang menyebar dan infeksi karena sistem kekebalan menurun.

    6. Bercak kehitaman pada kulit

    Anak dengan leukemia sering menunjukkan bercak kehitaman pada kulit yang disebut dengan kloroma. Hal ini dapat terjadi bila sel kanker secara perlahan menyebar dan akhirnya mengenai kulit anak.

    Baca Juga:
    Bahaya Polio Bagi Anak
    Tips Cegah Anak Terinfeksi Difteri

    Gejala lain yang dapat terlihat pada anak dengan leukemia antara lain adalah pembesaran perut yang disebabkan karena pembesaran limpa dan hati. Hal ini yang membuat anak menjadi tidak nafsu makan sehingga berat badan mereka menjadi menurun. Selain itu, pembengkakan pada kelenjar getah bening, batuk atau kesulitan bernapas, pembengkakan wajah dan lengan menjadi gejala lain yang dapat menyertai leukemia.

    Angka kesembuhan pada anak dengan leukemia tergantung pada berbagai faktor antara lain usia saat didiagnosis kanker, pemeriksaan sel darah putih, jenis kelamin, jenis leukemianya, ras, penyebaran kanker, dan respon terhadap pengobatan. Semakin muda usia terkena leukemia, maka angka kesembuhan semakin tinggi. Anak perempuan memiliki angka kesembuhan tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Anak leukemia yang menunjukkan respon baik terhadap kemoterapi pada 1 hingga 2 minggu memiliki angka kesembuhan lebih tinggi. Tingkat kelangsungan hidup anak dengan leukemia tipe LLA lebih tinggi sekitar 70-80%. Namun, perlu diingat bahwa leukemia ini dapat kambuh kembali.

    Baca Juga:
    8 Penyakit yang Sering Menyerang Anak
    6 Cara Atasi Demam Setelah Imunisasi

    Wah, Sobat pasti sudah kenyang, ya, membaca artikel yang mengupas tentang leukemia pada anak. Jadi, bila anak Sobat atau keluarga ada yang menunjukkan tanda-tanda leukemia, langsung konsultasikan lebih lanjut kepada dokter anak Sobat untuk segera mendapatkan penanganan terbaik. Salam sehat!

    Referensi:
    Santoso BB. Mengenal leukemia pada anak. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    American Cancer Childhood Organization. Global Occurrence of Childhood Cancer.[Internet]. Retrieved from: acco.org
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan Kanker pada Anak. [Internet]. Retrieved from: depkes.go.id
    Chilhood Leukemia [Internet]. American Cancer Society. 2018 [cited 19 July 2018]. Available from: cancer.org

    Read More
  • Mendengar “kanker” saja mungkin membuat sebagian orang bergidik ngeri, termasuk salah satunya “kanker darah ” alias leukemia. Belakangan ini berita tentang leukemia makin sering Sobat temukan, apalagi sejak salah satu penyanyi ternama Indonesia mengungkapkan kalau putri semata wayangnya mengidap leukemia. Alhasil muncul beragam pertanyaan terkait penyakit ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang leukemia, […]

    10 Tanya Jawab Seputar Leukemia Yang Perlu Kamu Ketahui

    Mendengar “kanker” saja mungkin membuat sebagian orang bergidik ngeri, termasuk salah satunya “kanker darah ” alias leukemia. Belakangan ini berita tentang leukemia makin sering Sobat temukan, apalagi sejak salah satu penyanyi ternama Indonesia mengungkapkan kalau putri semata wayangnya mengidap leukemia. Alhasil muncul beragam pertanyaan terkait penyakit ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang leukemia, yuk simak info berikut ini:

    1. Apa Itu Leukemia?

    Leukemia adalah kanker yang terbentuk pada awal pembentukan sel darah di sum-sum tulang belakang. Pada umumnya, leukemia adalah kanker sel darah putih, tapi sebagian bukan. Leukemia terjadi karena proses pembentukan sel darah tidak normal. Sel induk darah gagal terbentuk dan tidak matang tepat pada waktunya. Akibatnya jumlahnya berlebihan dan berkembang menjadi sel myeloid dan limphoid (dua tipe sel darah putih abnormal). Jika jumlah sel abnormal tersebut semakin banyak, maka fungsi sel darah putih yang tadinya hanya bertugas melindungi dan melawan infeksi, berubah menjadi sel ganas yang menyebabkan gejala menyimpang.

    2. Apakah Leukemia Menular?

    TIDAK!Berbeda dengan infeksi, leukemia bukanlah penyakit yang menular. Sampai sekarang ilmu kedokteran belum mengidentifikasi satu zat tertentu dan khusus yang menyebabkan leukemia.

    Baca Juga: Kupas Tuntas Leukemia Pada Anak

    3. Ada Berapa Jenis Leukemia?

    Leukemia terdiri dari dua tipe yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Sebagian besar anak kecil menderita leukemia tipe akut dan muncul pada usia 2 – 5 tahun. Pada Leukemia akut, sel-sel yang belum matang (sel blast) berkembang dengan cepat, harus segera ditangani bila tidak maka leukemia akut akan menjadi fatal dengan cepat. Sedangkan pada leukemia kronis, lebih banyak dialami oleh orang dewasa dan lebih lambat perkembangannya.

    Leukemia akut juga memiliki beberapa tipe, yaitu:

    • Leukemia limfositik akut (LLA), 3 dari 4 anak menderita leukemia jenis ini dan penyakit ini juga terdapat pada dewasa, terutama yang telah berusia 65 tahun atau lebih.
    • Leukemia mielositik akut (LMA), Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
    • Leukemia campuran, merupakan leukemia campuran jenis LLA dan LMA

    Leukemia kronis juga memiliki beberapa tipe, yaitu:

    • Leukemia limfositik kronis (LLK). Leukemia jenis ini jarang diderita anak- anak dan lebih sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun.
    • Leukemia mielositik kronis (LMK), leukemia jenis ini jarang diderita anak, umumnya sering terjadi pada orang dewasa.

    Baca Juga: 7 Alasan Si Kecil Perlu Suplemen Anak

    4.Apa Saja Gejala Leukemia?

    Ketika leukemia terbentuk di sum-sum tulang belakang, dia akan mengganggu pembentukan sel darah, sehingga terjadi penurunan pada sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Gejala yang dapat dirasakan bila sel darah merah turun antara lain adalah kelelahan, sakit kepala, kulit pucat serta napas anak pendek. Gejala lain yang ditemukan karena penurunan sel darah putih dan trombosit antara lain adalah demam, sering mengalami infeksi, gampang memar dan berdarah (pada gusi atau dari hidung).

    5. Leukemia Penyakit Keturunan atau Tidak?

    Anak yang memiliki anggota keluarga pernah terkena leukemia memiliki risiko yang lebih tinggi menderita leukemia dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki anggota keluarga yang pernah terkena leukemia.

    Baca Juga: 7 Pose Yoga Untuk Mencegah Osteoporosis

    6. Leukemia Lebih Banyak Menyerang Anak-anak atau Dewasa?

    Perlu diketahui penyakit kanker paling banyak diderita anak-anak di Indonesia adalah leukemia atau kanker darah, lalu jenis kanker selanjutnya ialah kanker mata primer atau retinoblastoma.Lebih dari 300.000 anak telah didiagnosis menderita penyakit kanker setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan presentase kesembuhan hanya 20 persen. Menurut IDAI (2017), leukemia pada anak merupakan suatu jenis penyakit keganasan tersering. Angka kejadian leukemia di Indonesia adalah ¾ kasus dari seluruh kasus keganasan pada anak.

    7. Bagaimana Cara Pengobatan Leukemia?

    Pengobatan leukemia antara lain kemoterapi, radioterapi dan transplantasi sumsum tulang. Pengobatan leukemia yang paling umum adalah kemoterapi – tanpa atau dengan disertai radioterapi. Kemoterapi berupa pemberian beberapa obat antikanker melalui infus atau diminum, sedangkan radioterapi adalah pengobatan kanker melalui paparan sinar radiasi. Terapi yang umumnya diberikan adalah kombinasi antara kemoterapi dan transplantasi autologous stem cell/sel punca (mengambil stem cell sedikit dari sumsum, dikembangbiakan di dalam laboratorium untuk kemudian dikembalikan ke dalam tubuh).

    8. Benarkah Donor Sumsum Tulang Bisa Menyelamatkan Penderita Leukemia?

    Negara Cina mulai melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang sejak 1964. Transplantasi sumsum tulang belakang merupakan salah satu cara yang dapat memperpanjang usia hidup pasien leukemia. Leukemia terjadi karena sumsum tulang gagal memproduksi sel-sel darah yang diperlukan tubuh. Transplantasi dapat menggantikan sumsum tulang yang tak berfungsi dengan baik. Angka kekambuhan bagi anak yang sudah menjalani transplantasi sumsum tulang belakangpun kecil.

    9. Penyakit Leukemia, Bisakah Disembuhkan?

    Kemungkinan sembuh penderita leukemia tergantung dari beberapa faktor, antara lain:

    • Stadium saat pertama kali didiagnosa.
    • Usia penderita, anak-anak memiliki kemungkinan sembuh lebih besar.
    • Terapi yang memadai, bila melakukan kemoterapi tentu hasilnya lebih baik daripada yang menolak pengobatan.

    Namun yang perlu dipahami adalah bagi penderita leukemia yang sudah dinyatakan sembuh masih harus checkup rutin, karena ada kemungkinan kambuh kembali.

    10. Bagaimana Cara Merawat Penderita Leukemia?

    • Minum obat secara teratur.
      Keluarga harus mendampingi anak selama perawatan terutama saat minum obat. Keluarga juga harus mengerti efek samping yang dapat ditimbulkan dan tidak menghentikan pengobatan tanpa saran dari dokter
    • Melakukan pemeriksaan lanjutan secara berkala.
      Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan secara berkala selama perawatan. Oleh karena itu, keluarga harus selalu siap terhadap beberapa jenis pemeriksaan lanjutan.
    • Kebersihan rumah tangga dan pribadi.
      Kebersihan rumah dan pribadi harus diperhatikan karena pasien leukemia rentan terkena infeksi. Pakaian, kamar, dan peralatan rumah tangga harus selalu dirapikan dan dijaga kebersihannya. Hindari mengajak anak ke tempat ramai atau bersama dengan teman-teman yang sakit. Berikan masker saat keluar ruangan.
    • Sebisa mungkin hindari terjadi luka (pendarahan).
      Penderita leukemia harus berhati-hati dalam kegiatannya sehari-hari, sebab luka yang ringan dapat mengakibatkan pendarahan yang serius. Selain itu, jagalah tingkat kelembapan di lingkungan rumah, karena kekeringan pada mukosa hidung dapat memicu pendarahan pada hidung.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:
    1. Karina N. TanyaDok.com | Serba Serbi Leukemia [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: tanyadok.com
    2. Supit T. TanyaDok.com | Cara penularan leukemia [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: tanyadok.com
    3. Penderita Leukemia Bisa Berumur Panjang [Internet]. detikHealth. 2018 [cited 18 July 2018]. Available from: health.detik.com
    4. Chilhood Leukemia [Internet]. American Cancer Society. 2018 [cited 18 July 2018]. Available from: cancer.org
    5. Hartanti L. TanyaDok.com | Penyakit leukemia, bisakah sembuh? [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Available from: tanyadok.com
    8. VIVA P. Leukemia, Kanker Nomor Satu Bagi Anak Indonesia – VIVA [Internet]. Viva.co.id. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: viva.co.id
    9. Media K. Transplantasi Sumsum Tulang, Perpanjang Usia Pasien Leukemia – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: lifestyle.kompas.com
    10. [Internet]. .ha.org.hk. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: ha.org.hk

    Read More
  • Apakah gejala hepatitis dan flu biasa berbeda? Apakah justru memang terdapat kesamaan di antara kedua penyakit ini? Sobat mungkin sering mendengar tentang pemberian vaksinasi hepatitis, tetapi biasanya sulit memahami pentingnya vaksinasi tersebut bila kita tidak memahami  hepatitis dan gejalanya. Lalu, apakah yang dimaksud dengan hepatitis? Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, di mana virus […]

    Gejala Hepatitis Beda dengan Flu Biasa, Yuk Pahami Lebih Lanjut!  

    Apakah gejala hepatitis dan flu biasa berbeda? Apakah justru memang terdapat kesamaan di antara kedua penyakit ini? Sobat mungkin sering mendengar tentang pemberian vaksinasi hepatitis, tetapi biasanya sulit memahami pentingnya vaksinasi tersebut bila kita tidak memahami  hepatitis dan gejalanya.

    Lalu, apakah yang dimaksud dengan hepatitis?

    Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, di mana virus ini memiliki target organ yang diserang adalah organ hati. Sedangkan, flu biasa atau yang juga dikenal sebagai common cold adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus akut yang menyerang saluran pernapasan kita. Jika dilihat, kedua penyakit ini sama-sama disebabkan oleh virus, tetapi jenis virusnya berbeda dan target organ tubuhnya berbeda juga.

    Sebelumnya kita perlu meluruskan terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan hepatitis. Hepatitis ialah infeksi yang menyerang organ hati. Infeksi organ hati ini secara umum dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, baik bakteri, virus, jamur hingga parasit.

    Jadi, tidak hanya virus saja yang menyerang hati dan menyebabkan hepatitis. Namun, infeksi yang paling sering menyerang organ hati adalah infeksi virus, sehingga istilah hepatitis biasanya langsung dikaitkan dengan infeksi virus, dan inilah yang menjadi topik pembahasan kali ini.

    Hepatitis karena virus dibagi lagi menjadi beragam jenis, tergantung dari jenis virus hepatitis yang menyerang, yaitu mulai dari virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Perlu diingat juga, bahwa virus yang menyerang hati ini tidak hanya virus hepatitis A sampai E, ada virus-virus lain juga menyebabkan hepatitis. Hal ini perlu diketahui agar tidak salah dalam memahami hepatitis.

    Gejala hepatitis oleh virus hepatitis A hingga E ini secara umum sebenarnya memberikan gejala yang mirip antara satu sama lain. Gejalanya bervariasi dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala. Pembeda dari kelima virus hepatitis ini pada gejala akut yang ringan, berat, atau kronis tidak bergejala.

    Gejala yang paling umum saat terjadi pada infeksi hepatitis akut adalah gejala yang tidak spesifik seperti:

    • demam,
    • sakit kepala,
    • nyeri otot,
    • nyeri persendian,
    • mual,
    • hilangnya nafsu makan dan
    • dapat pula gejala gangguan saluran pernapasan atas seperti batuk dan pilek.

    Gejala lain yang juga dapat terjadi adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut terutama pada bagian perut kanan atas, muntah, diare, menggigil, kemerahan dan gatal-gatal pada kulit, warna tinja yang berubah menjadi pucat, hingga urin berwarna gelap seperti teh.

    Beberapa kondisi dapat dilanjutkan dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, meski tidak semuanya akan menunjukkan gejala ini. Gejala akut ini dapat berlangsung hingga 3-6 minggu dan jarang lebih lama dari rentang tersebut, bahkan gejala yang lebih ringan biasanya berlangsung lebih singkat.

    Dari ketiga jenis hepatitis virus yang paling sering, yaitu A, B, dan C, ketiganya mampu memberikan gejala akut seperti yang dijelaskan pada paragraf berikutnya, dengan kecenderungan masing-masing yang berbeda. Virus hepatitis A cenderung memberikan gejala akut yang lebih berat, tapi akan sembuh sempurna dan tidak akan berkembang menjadi kronis.

    Virus hepatitis B dan C ini berbeda dengan hepatitis A. Kedua virus ini tidak selalu memberikan gejala akut, dan bila terjadi biasanya ringan dan tidak spesifik. Virus ini mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala bila ditemukan di dalam tubuh dan bertahan ≥ 6 bulan. Hepatitis C, khususnya, sangat jarang memberikan gejala akut. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi hepatitis B dan C, gejalanya bisa sama sekali tidak spesifik dan ringan.

    Lalu apakah flu biasa itu?

    Sudah cukup panjang lebar membahas tentang hepatitis, mari sekarang kita bahas mengenai flu biasa atau common cold. Common cold ini disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan. Virus yang menyebabkan common cold sangat bervariasi, dan sebagai pengetahuan, yang paling sering adalah Rhinovirus. Gejalanya dari infeksi virus ini tentu semua kita pernah mengalaminya, yaitu bersin-bersin, batuk dan pilek, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, nyeri menelan, kadang dapat terjadi nyeri otot dan persendian, demam, sakit kepala dan hilangnya nafsu makan.

    Jika diperhatikan dengan seksama, gejala pada common cold lebih berupa gejala pada pernapasan. Berbeda dengan gejala infeksi hepatitis, dimana gejala pada pernapasan jarang terjadi, tetapi cenderung lebih berat pada pencernaan, seperti mual dan muntah, diare, dan   beberapa gejala yang cukup khas yaitu perubahan warna kulit menjadi kuning dan urin berwarna pekat gelap seperti teh, tidak akan terjadi pada infeksi flu biasa.

    Mengingat hepatitis ini cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan organ hati yang fatal di kemudian hari, khususnya hepatitis B dan C, serta pengobatannya yang tidaklah mudah, maka pencegahan adalah cara yang paling baik dalam menangani penyakit hepatitis. Pencegahan terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan pemberian vaksinasi agar tubuh memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis.

    Inilah sebabnya mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting. Baik di Indonesia maupun di dunia, saat ini vaksin yang tersedia adalah vaksin terhadap hepatitis A dan B. Vaksin hepatitis A tersedia di Indonesia namun tidak menjadi vaksin yang rutin diberikan, sedangkan vaksin hepatitis B sudah termasuk menjadi bagian dalam imunisasi wajib di Indonesia.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-3.
    2. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-2.
    3. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-7;2185-6.
    4. Chang MH, Chen DS. Prevention of hepatitis B. Cold Spring Harb Perspect Med. 2015;5(3):a021493.
    5. Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ. Infectious disease essentials. Philadelphia: Elsevier; 2017. p. 198-9.
    Read More
  • Penyakit hepatitis merupakan sesuatu yang tidak asing terdengar, dan mungkin kebanyakan orang telah mengetahui beberapa jenis hepatitis, terutama hepatitis A dan hepatitis B. Namun, tahukah Sobat, hepatitis karena infeksi virus itu ternyata ada 5 jenis? Nah, hal itu tentu harus diwaspadai. Penyakit hepatitis terdiri dari hepatitis A, B, C, D, dan E. Semua virus hepatitis […]

    5 Penyakit Hepatitis yang Patut Diwaspadai!

    Penyakit hepatitis merupakan sesuatu yang tidak asing terdengar, dan mungkin kebanyakan orang telah mengetahui beberapa jenis hepatitis, terutama hepatitis A dan hepatitis B. Namun, tahukah Sobat, hepatitis karena infeksi virus itu ternyata ada 5 jenis? Nah, hal itu tentu harus diwaspadai.

    Penyakit hepatitis terdiri dari hepatitis A, B, C, D, dan E. Semua virus hepatitis ini menimbulkan gejala yang mirip. Pada awalnya gejala yang timbul tidak khas, misalnya demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, tidak nafsu makan, mual, muntah, lemas, nyeri badan, dan sakit kepala. Satu hingga dua minggu setelah muncul gejala tersebut, barulah muncul gejala-gejala hepatitis yang lebih spesifik, misalnya rasa nyeri atau tidak nyaman pada perut kanan atas, perubahan warna urin menjadi kecokelatan, feses menjadi putih, dan kuning. Perbedaan dari berbagai hepatitis terdapat pada cara penularan dan perjalanan penyakitnya.

    Hepatitis A

    Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, kejadian hepatitis di Indonesia adalah 1,2%, dengan jumlah kasus hepatitis A sebesar 19,3% dari seluruh kasus hepatitis. Hampir semua infeksi virus hepatitis A (HAV) ditularkan secara fekal (feses)-oral (mulut), yaitu masuk ke tubuh orang sehat lewat makanan atau minuman yang tercemar oleh tinja penderita hepatitis A. Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia, hepatitis A bersifat endemis. 90% anak berusia di bawah 10 tahun telah terinfeksi hepatitis A, sembuh, dan memiliki kekebalan tubuh seumur hidup terhadap HAV.

    Penderita hepatitis A dapat mengalami kekambuhan beberapa minggu hingga beberapa bulan kemudian setelah sembuh dari episode hepatitis pertama. Meski begitu, hepatitis A tidak pernah menjadi hepatitis kronis (permanen) dan hanya terjadi pada 0,1% kasus, biasanya pada orang tua dan dapat mengancam nyawa.

    Pencegahan hepatitis A dilakukan dengan vaksinasi. Vaksin hepatitis A telah tersedia di Indonesia tetapi belum diwajibkan.

    Hepatitis B

    Virus hepatitis B (HBV) ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui cairan tubuh orang yang terinfeksi ke tubuh orang sehat. Cairan tubuh yang dimaksud dapat berupa cairan mani, air ludah, atau darah. Cairan ini dapat masuk ke tubuh orang sehat melalui luka terbuka, jarum suntik yang dipakai bergantian, hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan alat tertentu bersamaan (sikat gigi, pisau cukur, dan alat medis), kontak yang dekat dan lama, serta penularan dari ibu yang mengandung ke bayi yang dikandungnya.

    Di Indonesia, saat ini vaksin hepatitis merupakan vaksin yang wajib diberikan pada bayi, sehingga kebanyakan kasus hepatitis B (90%) adalah pada bayi yang telah terinfeksi HBV sejak dalam kandungan atau dalam proses kelahiran, sebelum diberikan vaksin. Kelompok usia lain yang rentan terinfeksi adalah dewasa muda, karena pada kelompok ini angka hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik tinggi.

    Sekitar 90% orang yang terinfeksi hepatitis akan sembuh dengan sendirinya, tetapi 0,1-1% mengalami hepatitis berat (fulminan) yang dapat berujung pada kematian, dan 1-10% berkembang menjadi hepatitis kronis, yaitu kondisi di mana virus hepatitis tidak dimatikan sepenuhnya oleh daya tahan tubuh melainkan tetap berada dalam sel-sel hati dan menimbulkan peradangan menahun. Sekitar 0,1-30% penderita hepatitis B menjadi pembawa virus (carrier), yaitu memiliki virus hepatitis dalam sel hatinya tetapi jumlahnya rendah dan tidak menimbulkan peradangan.Penyakit hepatitis kronis merupakan komplikasi dari hepatitis yang banyak ditakutkan. Peradangan bertahun-tahun pada sel hati dapat mengakibatkan sirosis hati dan/atau kanker hati.

    Hepatitis C

    Virus hepatitis C (HCV) ditularkan lewat produk darah, misalnya transfusi darah, penggunaan jarum suntik bergantian pada penggunaan obat terlarang, dan pekerja yang terekspos darah dari tuntutan pekerjaannya. Risiko terinfeksi HCV juga meningkat pada orang yang harus cuci darah secara rutin. Kini produk-produk darah yang diperuntukkan bagi transfusi telah di-screening HCV sehingga risiko tertular HCV dari transfusi turun jauh menjadi satu kasus per 2,3 juta transfusi. Selain dari produk darah, HCV juga dapat ditularkan lewat hubungan seksual dan dari ibu ke bayi yang dikandungnya, tetapi hal ini jarang terjadi, yaitu sekitar 1%.

    Pada fase akut, infeksi oleh HCV menimbulkan hepatitis yang gejalanya tidak seberat hepatitis B. Namun, sebagian besar infeksi HCV, yaitu sebesar 85-90%, berkembang menjadi kronis dan 40% kasus hepatitis kronis disebabkan oleh HCV. Infeksi kronis HCV dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kanker hati, tetapi hal ini jarang terjadi dalam 20 tahun pertama infeksi kronis.

    Hepatitis D

    Virus hepatitis D (HDV) merupakan virus hepatitis yang tidak sempurna. Infeksi oleh virus ini hanya dapat terjadi bila seseorang juga terinfeksi oleh hepatitis B, baik sebagai ko-infeksi (infeksi hepatitis D terjadi bersamaan dengan hepatitis B) atau sebagai infeksi superimposed (infeksi hepatitis D terjadi setelah orang tersebut sakit hepatitis B). Penularan HDV kebanyakan oleh produk-produk darah berupa transfusi atau penggunaan jarum suntik bersamaan, dan lewat hubungan seksual. Pencegahan hepatitis D dapat dilakukan dengan mencegah hepatitis B, yaitu dengan vaksinasi dan perubahan perilaku penggunaan jarum suntik dan perilaku hubungan seks bebas tanpa proteksi.

    Ko-infeksi HBV dan HDV biasanya tidak menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi HBV saja. Namun, pada infeksi superimposed HDV akut pada penderita hepatitis B kronis, angka kematian dan hepatitis fulminan meningkat secara signifikan.

    Hepatitis E

    Virus hepatitis E (HEV) mirip dengan hepatitis A dalam hal penularannya, yaitu secara fekal (fese)-oral (mulut). Baru-baru ini sedang diteliti mengenai potensi penularan HEV akibat transplantasi organ dan transfusi darah. Hepatitis E tidak pernah menjadi kronis, kecuali pada orang-orang dengan sistem imun tubuh yang lemah. Angka kematiannya 0,5-3% pada dewasa muda, tetapi dapat mencapai 30% pada wanita hamil.

    Kelima penyakit hepatitis yang telah disebutkan berbeda-beda cara penularan dan perjalanan penyakitnya. Lakukan langkah-langkah yang sesuai untuk mencegah infeksi hepatitis. Apabila Sahabat curiga gejala hepatitis menyerang Anda atau keluarga, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang sesuai.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, salah satu solusi pencegahannya dengan melakukan vaksin hepatitis. Kini Anda tak perlu bingung, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Jules L. Dienstag. Acute Viral Hepatitis. Dalam: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 19 ed. New York: McGraw Hill; 2015. hlm. 2004–22.
    2. Yuen M-F, Chen D-S, Dusheiko GM, Janssen HLA, Lau DTY, Locarnini SA, dkk. Hepatitis B virus infection. Nat Rev Dis Primer. 7 Juni 2018;4:18035.
    3. Manns MP, Buti M, Gane E, Pawlotsky J-M, Razavi H, Terrault N, dkk. Hepatitis C virus infection. Nat Rev Dis Primer. 2 Maret 2017;3:17006.
    4. Kamar N, Izopet J, Pavio N, Aggarwal R, Labrique A, Wedemeyer H, dkk. Hepatitis E virus infection. Nat Rev Dis Primer. 16 November 2017;3:17086.
    5. Nimgaonkar I, Ding Q, Schwartz RE, Ploss A. Hepatitis E virus: advances and challenges. Nat Rev Gastroenterol Hepatol. Februari 2018;15(2):96–110.
    6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia 2013. DepKes; 2014.
    7. Mengenal Hepatitis A pada Anak [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: idai.or.id
    8. Hepatitis Virus pada Anak (Bagian 1) [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: idai.or.id
    9. Hepatitis Virus pada Anak (Bagian II) [Internet]. IDAI. [dikutip 30 Juni 2018]. Tersedia pada: idai.or.id

    Read More
  • Penyakit hepatitis B sering terdengar oleh Sobat semua dan dikaitkan dengan orang yang gemar mendapatkan tato dan tindik serta mereka yang menggunakan narkoba suntik dengan pemakaian jarum suntik tidak steril atau penggunaan bersama. Padahal, bukan mereka saja, loh yang dapat tertular virus ini. Nah, Sobat pasti ingin tahu lebih jauh mengenai hepatitis B. Yuk, mari kita […]

    Hepatitis B – Faktor Risiko, Gejala, Penanganan, Pengobatan, Pencegahan

    Penyakit hepatitis B sering terdengar oleh Sobat semua dan dikaitkan dengan orang yang gemar mendapatkan tato dan tindik serta mereka yang menggunakan narkoba suntik dengan pemakaian jarum suntik tidak steril atau penggunaan bersama. Padahal, bukan mereka saja, loh yang dapat tertular virus ini. Nah, Sobat pasti ingin tahu lebih jauh mengenai hepatitis B. Yuk, mari kita simak.

    Penyakit hepatitis B adalah peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.

    Virus Hepatitis B dapat ditemukan pada semua orang di dunia dengan 300 juta penduduknya adalah pembawa virus(carrier).1 Virus ini menular melalui darah, semen, atau cairan tubuh lain dari penderita hepatitis B. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seks tanpa pengaman, transfusi darah, penggunaan jarum bersama pada orang yang menggunakan narkoba suntik atau peralatan suntik lainnya, tatto, akupuntur, dan perawatan wajah yang menggunakan jarum yang tidak steril, penggunaan pencukur atau sikat gigi bersama, serta penularan dari ibu hamil yang menderita hepatitis B ke janin yang dikandungnya. Risiko penularan bergantung pada jumlah virus yang masuk dan seberapa sering Sobat kontak dengan penderita. Penyakit ini tidak menular melalui makanan, air, penggunaan alat makan bersama, pelukan, ciuman, berpegangan tangan, batuk dan bersin.

    Baca Juga: Apa Itu Diaper Rush?

    Faktor Risiko Hepatitis B

    Beberapa orang memiliki risiko tinggi tertular penyakit hepatitis B ini, antara lain:

    • Tenaga kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat, orang yang bekerja di laboratorium, dsb)
    • Mereka yang memerlukan transfusi darah atau produk darah
    • Pasien yang sedang melakukan cuci darah
    • Pengguna narkoba suntik
    • Tahanan penjara
    • Pengguna tato dan tindik pada tubuh
    • Penerima transplantasi organ tubuh
    • Mereka yang tinggal bersama penderita dan melakukan kontak seksual dengan penderita
    • Wisatawan yang tidak melakukan vaksinasi hepatitis B saat berpergian

    Gejala Hepatitis B

    Sobat mungkin belum tau apa saja gejala dari penyakit Hepatitis B ini. Anak di bawh 5 tahun dan dewasa yang sedang mengalami penurunan sistem imun tubuh seringkali tidak merasakan gejala penyakit ini, tetapi  sekitar 30%-50 persen penderita diatas 5 tahun akan mengalami beberapa gejala seperti demam, penurunan nafsu makan, rasa lelah yang hebat, mual muntah dan nyeri perut, nyeri sendi, kemerahan pada kulit dan yang paling sering ditemukan adalah badan yang menguning (dapat dilihat melalui mata dan tangan-kaki) serta urin yang berwarna gelap. Jangka waktu masuknya virus ke dalam tubuh hingga timbulnya gejala adalah 3 hingga 4 bulan. Pada hepatitis B akut, penanda penyakit ini yaitu HbsAg dapat menghilang dan fungsi hati dapat kembali normal. Sedangkan pada hepatitis B kronik, virus akan tetap berada di tubuh lebih dari 6 bulan. Penderita heptitis B pada usia tua, riwayat kanker hati dalam keluarga, konsumsi alkohol dan terinfeksi dengan hepatitis C berisiko tinggi terkena kanker hati.2,5

    Beberapa pemeriksaan dapat digunakan sebagai penanda dari hepatitis B, yaitu HbsAg yang bila positif menandakan adanya infeksi akut ataupun kronis, dan Anti-HbsAg yang akan timbul setelah pemberian vaksinasi sebagai tanda adanya kekebalan tubuh. Nah, tentunya Sobat tidak akan bingung lagi pada saat melakukan pemeriksaan di laboratorium.

    Penanganan dan Pengobatan Hepatitis B

    Pada penyakit Hepatitis B yang bersifat akut, tidak ada pengobatan spesifik yang dapat diberikan. Terapi diberikan untuk menghilangkan gejala demam, mual,  muntah, dsb. Sedangkan pada hepatitis B kronis tujuan pengobatan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, mencegah penularan dari ibu hamil ke janin dan virus yang kembali hidup, serta mencegah komplikasi yang dapat terjadi. Pengobatannya menggunakan obat-obat anti virus yang diberikan selama 4 hingga 12 bulan dengan angka kesembuhan yang minimal.1,6

    Pencegahan Hepatitis B

    Penyakit Hepatitis B dapat dicegah dengan melakukan imunisasi Hepatitis B. Bayi baru lahir mendapatkan 4 kali suntikan imunisasi Hepatitis B, yaitu saat lahir dan saat berusia 2,3,4 bulan. Bayi yang lahir dari ibu penderita hepatitis B memerlukan vaksin Hepatitis B dan Imunoglobulin hepatitis B (HBIG) pada 12 jam pertama setelah kelahiran. Pada orang dewasa, suntikan diberikan sebanyak 3 kali dengan waktu pemberian bulan ke-0, 1, dan 6. Pemberian imunisasi akan merangsang tubuh untuk menghasikan antibodi yang akan melindungi dari Virus Hepatitis B

    Penelitian menunjukkan antibodi yang telah terbentuk karena imunisasi pada bayi baru lahir akan menjadi negatif pada 15-50% di 5 hingga 10 tahun mendatang. Hal ini menyebabkan pentingnya pemberian penguat (booster) agar jumlah antibodi dalam tubuh kembali meningkat sehingga risiko tertulari pun akan  menurun.

    Vaksin dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan vaksin lain seperti DTP-Hep B, DTP-Hib-Hep B, DTP Hib-inactivated poliovirus-HepB, Hib-HepB, dan hepatitis A-HepB. Lalu, adakah reaksi yang dapat terjadi setelah mendapatkan vaksinasi ini?Jangan khawatir, Sobat, reaksi ringan dapat terjadi dalam 24 jam pertama setelah pemberian seperti pegal di tempat suntikan, kemerahan, sakit kepala dan pembengkakan ringan. Reaksi berat dapat terjadi bila kita memiliki alergi terhadap komponen vaksin, seperti alergi terhadap ragi yang dapat menimbulkan reaksi anafilaksis setelah vaksin.

    Selain imunisasi, penyakit hepatitis B dapat dicegah dengan menggunakan jarum steril pada pembuatan tato dan tindik, akupuntur atau perawatan kecantikan lain, serta tindakan medis oleh tenaga kesehatan. Bila pasangan anda terinfeksi hepatitis B, maka gunakanlah pengaman pada saat melakukan hubungan seksual.

    Penyakit hepatitis B ternyata sangat mengerikan, ya. Oleh karena itu, pencegahan memang lebih baik daripada pengobatan. Segera datang ke layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan vaksinasi lengkap sehingga Sobat dapat terlindungi dari penyakit HepatitisB. Tidak ada kata terlambat untuk mendapatkan vaksinasi ini. Mari kita cegah penularan Hepatitis B dengan pemberian vaksinasi Hepatitis B.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Maslim Y. Waspadai Hepatitis B. [Internet]. Retrieved from: tanyadok.com
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Viral Hepatitis. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov (03.07.2018).
    3. Martinelli D, Fortunato F, Simsek G, Prato R. Epidemiology and prevention of Hepatitis B and C. In: Serviddio G editor. Practical Management of Chronic Viral Hepatitis. 1st edition. 2013.
    4. Stasi C, Silvestri C, Voller F. Emerging trends in epidemiology of hepatitis B virus infection. Journal of Clinical Translational Hepatolology.2017;5(3):272–276.
    5. Kwon SY, Hong Lee C. Epidemiology and prevention of hepatitis B. The Korean Journal of Hepatology. 2011;17:87-95.
    6. European Association for the Study of the Liver. EASL 2017 clinical practice guidelines on the management of Hepatitis B virus infection. Journal of Hepatology. 2017; 67: 370-398
    Read More

Showing 1–10 of 11 results

WhatsApp Asisten Maya saja