Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ penyakit”

Showing 1–10 of 18 results

  • Mengapa Penderita Asma Bisa Terkena Covid-19? Penyakit asma dan Covid 19 sama-sama menyerang sistem pernapasan, sehingga penderita asma lebih mudah terinfeksi virus. Berdasarkan sebuah studi menunjukan bahwa hubungan antara Covid-19 dan asma ternyata jauh lebih rumit daripada yang diperkirakan sebelumnya. Baca Juga: Perbedaan Pneumonia dan Covid-19 Para ilmuwan telah mengidentifikasi apabila seseorang terinfeksi Covid 19 […]

    Berikut Kiat Penderita Asma Menghadapi Covid-19

    Mengapa Penderita Asma Bisa Terkena Covid-19?

    Penyakit asma dan Covid 19 sama-sama menyerang sistem pernapasan, sehingga penderita asma lebih mudah terinfeksi virus. Berdasarkan sebuah studi menunjukan bahwa hubungan antara Covid-19 dan asma ternyata jauh lebih rumit daripada yang diperkirakan sebelumnya.

    asma dan covid-19

    Baca Juga: Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    Para ilmuwan telah mengidentifikasi apabila seseorang terinfeksi Covid 19 dan mengalami peradangan paru-paru yang berat, dapat memicu serangan asma. Hal tersebut membuat pasien berisiko mengalami perburukan kondisi.

    Apakah Gejala Asma sama dengan Covid-19?

    Keduanya sama sama memiliki keluhan sesak nafas. Meski begitu ternyata ada perbedaan mengenai sesak nafas pada keduanya. Dikutip dari Antaranews.com, perbedaan itu berkisar pada lama gejala sesak nafas yang dialami.

    Pada penyakit asma, sesak dapat berlangsung dalam waktu singkat hingga berjam-jam sedangkan pada Covid-19 dapat dialami hingga 7-25 hari, baik ringan maupun sedang. Sesak napas pada penderita asma biasanya diawali dengan batuk dan mengi (nafas berbunyi) sedangkan pada Covid-19, dapat disertai batuk.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Pada akhirnya penderita Covid-19 tidak selalu diawali dengan keluhan sesak nafas. Banyak yang mengeluhkan sakit kepala, meriang, tidak enak badan, demam, nyeri sendi, hingga kehilangan indera penciuman.

    Lalu Bagaimana Kiat Supaya Penderita Asma Terhindar dari Covid-19?

    Karena penderita asma lebih berisiko terinfeksi Covid-19, ada beberapa kiat yang dapat dilakukan supaya terhindar dari salah satu virus mematikan tersebut, yaitu:

    Tetap Menggunakan Inhaler

    Inhaler harus tetap digunakan setiap hari sesuai resep yang dianjurkan dokter, yang dapat membantu mengurangi risiko serangan asma yang dipicu oleh virus yang menyerang sistem pernapasan.

    Pastikan untuk tetap memiliki inhaler dalam persediaan selama masa pandemi ini. Apabila persediaan kurang, konsultasikan dengan dokter dan layanan kesehatan untuk membuat resep darurat. Gunakan layanan telemedicine, untuk mempermudah berkonsultasi selama masa pandemi.

    Jangan Sembarangan Mengonsumsi Obat

    Selain inhaler, banyak penderita asma yang juga menggunakan obat golongan steroid atau glukokortikoid untuk mengobati asma. Namun hal tersebut tidak disarankan karena tidak dapat memberi respons stres yang normal dan berisiko tinggi jika terinfeksi virus Covid-19. Konsultasikan kembali dengan dokter sebelum menggunakan obat.

    Produk Terkait: Jual Decadryl Expectorant Sirup 120 ml

    Kelola Stres dengan Baik

    Penderita asma disarankan untuk mengelola stres dengan baik. Sebab kondisi stres dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, dan secara tidak langsung membuat tubuh mudah terinfeksi Covid-19. Sahabat disarankan untuk berolahraga, konsumsi makanan sehat, melakukan meditasi untuk mengurangi stres, membatasi penggunaan ponsel, televisi, dan komputer.

    Lakukan Tindakan Pencegahan Khusus di Rumah

    Selama masa pandemi disarankan untuk melakukan isolasi, namun perlu di jaga kebersihan ruangan dan hindari faktor pemicu serangan asma. Jika memiliki hewan peliharaan, sebaiknya dijaga kebersihannya. Mintalah orang lain untuk membersihkan rumah dengan alat penghisap debu.

    Lakukan Vaksinasi Flu

    Penderita asma rupanya juga berisiko terinfeksi flu, yang hampir mirip dengan Covid-19. Untuk pencegahan, penderita asma disarankan untuk melakukan vaksinasi flu. Vaksinasi ini cukup membantu dalam membangun kekebalan tubuh meskipun tidak bisa melindungi diri dari Covid-19.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Flu untuk Penderita Penyakit Kronis

    Itulah Sahabat mengenai penyakit asma yang berhubungan dengan Covid-19. Untuk pencegahan penyakit kronis seperti asma, Sahabat bisa melakukan vaksinasi flu di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai keunggulan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Afani A. 5 Fakta Meninggalnya Rina Gunawan, Kena COVID-19 hingga Dirawat di ICU [Internet]. trending. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://www.haibunda.com/trending/20210302220014-93-195876/5-fakta-meninggalnya-rina-gunawan-kena-covid-19-hingga-dirawat-di-icu
    2. Mengenal Asma dan Covid-19 yang Diderita Rina Gunawan Sebelum Wafat : Okezone Lifestyle [Internet]. https://lifestyle.okezone.com/. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://lifestyle.okezone.com/read/2021/03/03/481/2371301/mengenal-asma-dan-covid-19-yang-diderita-rina-gunawan-sebelum-wafat
    3. Perbedaan sesak nafas karena asma dan COVID-19 [Internet]. Antara News. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://www.antaranews.com/berita/2024376/perbedaan-sesak-nafas-karena-asma-dan-covid-19
    4. Media K. Yang Harus Dilakukan Penderita Asma agar Tak Terinfeksi Covid-19 Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/09/071500020/yang-harus-dilakukan-penderita-asma-agar-tak-terinfeksi-covid-19?page=all
    Read More
  • Penyakit graves merupakan salah satu jenis penyakit autoimun (kondisi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali sel sehat dan melawan sel tubuh sendiri). Baca Juga: 9 Jenis Penyakit Autoimun yang Sering Terjadi pada Tubuh Penyakit graves menyerang kelenjar tiroid sehingga memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Hal ini menyebabkan kadar hormon tiroid di dalam tubuh meningkat, dan […]

    Semua yang Ingin Kamu Ketahui Tentang Penyakit Graves

    Penyakit graves merupakan salah satu jenis penyakit autoimun (kondisi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali sel sehat dan melawan sel tubuh sendiri).

    penyakit graves

    Baca Juga: 9 Jenis Penyakit Autoimun yang Sering Terjadi pada Tubuh

    Penyakit graves menyerang kelenjar tiroid sehingga memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Hal ini menyebabkan kadar hormon tiroid di dalam tubuh meningkat, dan kondisi ini disebut hipertiroid. Ada berbagai macam penyebab hipertiroid, namun penyakit graves merupakan penyebab tersering hipertiroid.¹

    Penyakit graves dapat dialami 1 dari 200 orang dan sering kali dialami wanita berusia dibawah 40 tahun, meski dapat pula dialami oleh kaum pria.¹Penyakit graves dapat diatasi dengan penangan yang tepat, namun apabila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi yang serius.¹

    Gejala Penyakit Graves

    Produksi hormon tiroid yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai gejala, meliputi:

    • Pembesaran kelenjar tiroid.²
    • Tidak tahan panas dan mudah berkeringat.¹
    • Berat badan menurun secara drastis (tanpa melakukan diet atau mengurangi jumlah asupan makanan).1,3
    • Gemetaran.¹
    • Perubahan siklus menstruasi.¹
    • Mudah cemas dan gelisah.¹
    • Perubahan mood.³
    • Menurunnya gairah seksual. ¹
    • Gangguan ereksi.¹
    • Berdebar.¹
    • Kulit kemerahan (jarang).¹
    • Mudah lelah.²
    • Sulit tidur (insomnia). ²,³
    • Kekurangan vitamin B12.³

    Selain gejala di atas, beberapa penderita penyakit graves dapat mengalami gejala lainnya yang khas yaitu gangguan pada mata (oftalmopati graves) dan gangguan pada kulit (dermopati graves). ²

    Gangguan pada mata akibat penyakit graves ditandai dengan ;

    • Mata tampak menonjol dan bengkak. (exophthalmos).4
    • Mata kering dan kemerahan.4
    • Mata terasa tertekan dan nyeri.4
    • Penglihatan kabur dan pandangan ganda.4

    Gangguan kulit pada penyakit graves ditandai dengan kulit menebal dan kemerahan pada area tulang kering kaki (disebut Myxedema) yang dapat disertai rasa nyeri, ataupun tanpa rasa nyeri.

    Seperti gangguan pada mata akibat penyakit graves, gangguan pada kulit juga tidak selalu segera dialami setelah pasien terdiagnosa mengalami Hipertiroid. 4

    Baca Juga: Apa Sih Perbedaan Hipertiroid dan Hipotiroid?

    Penyebab Penyakit Graves

    Penyakit graves menyerang kelenjar tiroid yang terletak di leher, di bawah jakun. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berperan dalam metabolisme tubuh.4

    Normalnya hormon TSH (Thyroid Stimulating Hormon) diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak, yang menstimulasi kelenjar tiroid dan mengatur kadar hormon tiroid.4

    Pada penyakit graves, sistem kekebalan tubuh berikatan pada di permukaan sel tiroid dan menstimulasi sel untuk memproduksi dan mengeluarkan hormon tiroid secara berlebihan yang kita kenal sebagai kondisi Hipertiroid.4

    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit graves ini disebabkan pula karena faktor keturunan maupun faktor lingkungan seperti kebiasaan merokok.1 Kondisi lain yang menyebabkan seseorang berisiko menderita penyakit graves, yaitu:

    • Memiliki riwayat penyakit autoimun sebelumnya, seperti rheumatoid arthritis (radang sendi), diabetes mellitus tipe 1, dan penyakit crohn.¹
    • Wanita hamil atau baru saja melahirkan.¹
    • Kondisi stres fisik maupun stres emosional.¹
    • Usia di bawah 40 tahun.²
    • Perempuan 8 kali lebih beresiko menderita penyakit graves dibandingkan pria.²

    Bagaimana Cara Mendiagnosis Penyakit Graves?

    Dokter dapat mendiagnosa berdasarkan keluhan dan pemeriksaan fisik, serta riwayat kesehatan sebelumnya.2 Selain itu, dokter dapat melakukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosa penyakit graves yaitu:

    1. Pemeriksaan Darah

    Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan kadar hormon TSH, dan hormon tiroid yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Penderita penyakit graves memiliki kadar TSH yang lebih rendah dari ambang batas normal, sehingga hormon tiroid di dalam tubuh (hormon T3 dan T4) akan lebih tinggi. Pemeriksaan kadar antibodi TRAb (thyrotropin receptor antibody) juga dapat dilakukan.³

    Produk Terkait: Cek Darah Lengkap

    2. Pemeriksaan USG

    Pemeriksaan USG dilakukan untuk menilai kelenjar tiroid. Pada penyakit graves, ukuran kelenjar tiroid membesar.²

    3. Pemeriksaan Ambilan Yodium Radioaktif

    Tubuh menggunakan iodin untuk menghasilkan hormon tiroid. Untuk melakukan pemeriksaan ini, pasien diminta mengonsumsi sejumlah radioaktif iodin sehingga dapat diukur persentase kelenjar tiroid menyerap iodin. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mempermudah dokter mengetahui penyebab tingginya kadar hormon tiroid.³

    Penanganan Penyakit Graves 

    Pengobatan pada penyakit graves bertujuan untuk meredakan gejala serta mengurangi produksi hormon tiroid, yang meliputi :

    1. Obat Antitiroid

    Jenis obat antitiroid yang sering digunakan adalah PTU (propylthiouracil), methimazole dan carbimazole.¹,³,4 Obat-obatan ini bertujuan untuk menghambat kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid.

    Gejala akan berkurang kurang lebih dalam 4-6 minggu setelah mulai mengkonsumsi obat ini. Pengobatan mungkin akan tetap dilanjutkan selama 12-18 bulan untuk memastikan tidak muncul lagi penyakit graves.¹

    2. Obat Penghambat Beta 

    Obat golongan penghambat beta tidak mempengaruhi kadar hormon tiroid namun membantu mengurangi gejala seperti berdebar, dan gemetaran.³ Obat golongan penghambat beta bekerja dengan menghambat efek adrenalin, dan sering kali digunakan sebagai terapi tambahan.¹

    3. Operasi

    Operasi atau tiroidektomi dilakukan dengan memotong sebagian atau seluruh kelenjar tiroid, yang disesuaikan dengan tingkat keparahan dari penyakit graves.

    Operasi kelenjar tiroid merupakan cara yang cepat, dan hasilnya permanen sehingga hormon tiroid akan kembali ke kadar normal.¹

    Setelah operasi, pasien mungkin akan mengalami nyeri pada leher dan suara serak yang dapat dialami sementara. Namun, apabila operasi tiroid dilakukan dengan cara mengambil seluruh kelenjar tiroid, maka ada kemungkinan pasien mengalami kekurangan hormon tiroid (hipotiroid) yang dapat diatasi dengan penggunaan obat pengganti hormon.¹

    Sama seperti operasi lainnya, operasi tiroidektomi juga memiliki resiko yaitu berpotensi mencederai kelenjar paratiroid dan merusak saraf pada pita suara³.

    4. Terapi Radioaktif Iodin

    Terapi radioaktif iodin merupakan penanganan penyakit graves yang sering dilakukan, dengan cara mengkonsumsi radioaktif iodin-131 sehingga dapat masuk ke dalam pembuluh darah dan terserap ke sel tiroid yang overaktif.²

    Terapi radioaktif iodin dapat membuat ukuran kelenjar tiroid menyusut dan kadar hormon tiroid kembali normal.³ 

    Apa Komplikasi Penyakit Grave?

    Pada kondisi yang ekstrem, penyakit graves dapat menyebabkan badai tiroid (thyroid storm). Meski kondisi tersebut jarang terjadi namun apabila tidak ditangani dapat menyebabkan kematian.

    Ditandai dengan suhu tubuh, denyut jantung dan tekanan darah meningkat hingga kadar berbahaya akibat kelenjar tiroid yang overaktif dan tidak mendapat penanganan yang baik. Gejala yang dialami seperti:

    • Gelisah 
    • Kebingungan
    • Suhu tubuh meningkat
    • Berdebar
    • Kurang istirahat dan berkeringat

    Apabila mengalami keluhan di atas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke IGD atau dokter terdekat agar mendapat penanganan.³

    Demikian mengenai penyakit graves, yang dapat diatasi dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat sehingga dapat meminimalkan komplikasi dan penderita dapat kembali beraktivitas seperti sebelumnya.

    Baca Juga: Seputar Gangguan Tiroid: Hal yang Perlu Sahabat Ketahui

    Sahabat bisa berkonsultasi lebih lanjut mengenai penyakit Grave dengan para dokter di Prosehat secara online. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    ID-NONT-00023

     

    Daftar Pustaka

    1. Murrell D. Graves’ disease: Symptoms, treatment, and causes [Internet]. Medicalnewstoday.com. 2019 [cited 16 March 2021]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/170005#treatment
    2. Wood K. Graves’ Disease [Internet]. Healthline. 2021 [cited 16 March 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health/graves-disease
    3. Doheny K, Daniel J. Toft MD P. What Is Graves’ Disease? [Internet]. EndocrineWeb. 2021 [cited 16 March 2021]. Available from: https://www.endocrineweb.com/conditions/graves-disease/graves-disease-overview
    4. [Internet]. 2021 [cited 16 March 2021]. Available from: https://www.thyroid.org/graves-disease/
    5. Harvard Health Publishing. Graves’ Disease – Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2019 [cited 16 March 2021]. Available from: https://www.health.harvard.edu/a_to_z/graves-disease-a-to-z 

     

    Read More
  • Baru-baru ini ramai diberitakan seorang penderita kencing nanah meminta dokter untuk tidak memberi tahu Istri nya bahwa ia menderita kencing nanah. Nah, Sahabat Sehat apakah tahu mengenai penyakit kencing nanah ? Mari simak penjelasan berikut ini: Baca Juga: Apa Itu Perilaku Seksual Berisiko Tinggi? Apa Itu Kencing Nanah? Kencing nanah atau Gonore, merupakan salah satu […]

    Sahabat Sehat, Mari Kenali Kencing Nanah atau Gonore

    Baru-baru ini ramai diberitakan seorang penderita kencing nanah meminta dokter untuk tidak memberi tahu Istri nya bahwa ia menderita kencing nanah. Nah, Sahabat Sehat apakah tahu mengenai penyakit kencing nanah ? Mari simak penjelasan berikut ini:

    kencing nanah atau gonore

    Baca Juga: Apa Itu Perilaku Seksual Berisiko Tinggi?

    Apa Itu Kencing Nanah?

    Kencing nanah atau Gonore, merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Seseorang beresiko menderita penyakit kencing nanah jika berganti pasangan seksual, melakukan seks oral maupun seks anal dengan penderita kencing nanah.

    Ada 90 juta kasus gonore di dunia setiap tahunnya, dan jumlah ini meningkat hingga 17% per tahun.

    Apa Gejala Kencing Nanah?

    Sahabat Sehat, gejala kencing nanah akan muncul dalam 2 hingga 14 hari setelah terpapar. Pada pria, gejala kencing nanah yang dialami berupa :

    • Sensasi terbakar saat buang air kecil
    • Sering buang air kecil
    • Keluarnya cairan seperti nanah dari penis
    • Bengkak atau kemerahan pada pembukaan penis
    • Bengkak atau nyeri di testis
    • Mengejan saat buang air besar

    Sedangkan pada wanita, gejala kencing nanah yang dialami sebagai berikut:

    • Keputihan (berair, berwarna kuning kehijauan)
    • Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
    • Sering buang air kecil
    • Rasa sakit saat berhubungan seksual
    • Nyeri tajam di perut bagian bawah
    • Demam

    Bagaimana Cara Mendiagnosis Kencing Nanah?

    Kencing Nanah dapat didiagnosis dengan mengambil sampel cairan dari kemaluan untuk diperiksa di laboratorium.

    Produk Terkait: Cek Lab

    Apa Komplikasi Kencing Nanah ?

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai penyakit kencing nanah, karena dapat menimbulkan komplikasi seperti:

    • Kemandulan
    • Terjadinya infeksi di seluruh tubuh
    • Meningkatnya resiko terinfeksi HIV/AIDS
    • Infeksi pada bayi (jika Ibu hamil menderita kencing nanah)

    Bagaimana Cara Mencegah Kencing Nanah?

    Sahabat Sehat, kencing nanah dapat dicegah dengan melakukan beberapa cara berikut:

    • Gunakan alat kontrasepsi (kondom) saat berhubungan seksual
    • Hindari berganti pasangan seksual
    • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala

    Apakah Kencing Nanah Dapat Diobati?

    Hingga kini kencing nanah dapat ditangani dengan pemberian obat antibiotik, yang sesuai resep dokter. Namun Sahabat Sehat juga tetap perlu menjaga higienitas area kemaluan dan hindari berganti pasangan seksual.

    Baca Juga: 6 Tips Menghindari Perilaku Seks Berisiko

    Penanganan Kencing Nanah Di Masa Pandemi Covid-19

    Dengan adanya pandemi Covid-19,memunculkan kekhawatiran bahwa bakteri gonore yang merupakan penyebab penyakit kencing nanah menjadi kebal terhadap segala jenis antibiotik yang diberikan. Hal itu dikarenakan bakteri gonore telah berubah menjadi super gonore yang disebut 5 kali lipat lebih infeksius.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention) bahkan disebut telah mengubah rekomendasi tatalaksana pemberian obat untuk penyakit kencing nanah karena adanya resistensi bakteri gonore.

    Baca Juga: Pria, Seks, dan HPV Berikut Pembahasannya!

    Itulah Sahabat Sehat mengenai penyakit kencing nanah atau Gonore yang merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual. Sahabat Sehat disarankan untuk tidak berganti pasangan seksual, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, dan jangan lupa lakukan vaksinasi HPV di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah.

    Produk Terkait: Vaksinasi HPV

    Layanan Prosehat mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Dwianto A. Takut Ketahuan Selingkuh, Kisah Suami Idap Gonore Ini Viral [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 18 April 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5533188/takut-ketahuan-selingkuh-kisah-suami-idap-gonore-ini-viral
    2. Dwianto A. Mengenal Gonore, Viral Dialami Seorang Suami yang Takut Ketahuan Selingkuh [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 18 April 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5532113/mengenal-gonore-viral-dialami-seorang-suami-yang-takut-ketahuan-selingkuh
    3. Media K. Gonore: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, dan Cara Mencegah Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 18 April 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/12/31/180500768/gonore–gejala-penyebab-cara-mengobati-dan-cara-mencegah?page=all
    4. Pandemi Covid-19, WHO Takut Super Gonore Makin Resisten Terhadap Antibiotik [Internet]. suara.com. 2021 [cited 18 April 2021]. Available from: https://www.suara.com/health/2020/12/22/150412/pandemi-covid-19-who-takut-super-gonore-makin-resisten-terhadap-antibiotik

     

    Read More
  • Selamat menjalankan bulan Ramadan Sahabat Sehat. Apa saja yang sudah Sahabat siapkan? Apakah sudah menyiapkan makanan atau  minuman untuk berbuka puasa? Jangan lupa, loh untuk menjaga kesehatan Sahabat di bulan puasa ini. Saat puasa pola makan kita akan berubah dari makan tiga kali sehari menjadi dua kali sekali saat Sahur dan Berbuka puasa. Biasanya, dengan […]

    Siasati 8 Macam Penyakit Ini Saat Puasa

    Selamat menjalankan bulan Ramadan Sahabat Sehat. Apa saja yang sudah Sahabat siapkan? Apakah sudah menyiapkan makanan atau  minuman untuk berbuka puasa?

    Jangan lupa, loh untuk menjaga kesehatan Sahabat di bulan puasa ini. Saat puasa pola makan kita akan berubah dari makan tiga kali sehari menjadi dua kali sekali saat Sahur dan Berbuka puasa. Biasanya, dengan perubahan tersebut, tubuh kita sering tidak siap dan membuat Sahabat menjadi Sakit.

    Sakit kepala, mual & muntah, diare, sakit pinggang, sembelit dan gula darah rendah adalah  beberapa macam penyakit yang sering muncul saat puasa. Lalu, bagaimanakah cara mengatasinya?

    1. Sakit Kepala

    Sakit kepala merupakan penyakit yang umum dialami saat puasa. Munculnya sakit kepala karena menahan rasa kantuk saat siang hari serta kurangnya pasokan glukosa ke dalam tubuh. Kopi atau mengemil merupakan salah satu cara menghilangkan rasa kantuk.

    Baca Juga: Cara Mengatasi Sakit Saat Travelling

    Sakit kepala bisa semakin parah jika Sahabat memiliki tekanan darah rendah. Hal ini bisa menyebabkan rasa mual sebelum berbuka puasa. Cara mengatasi dan mengurangi sakit kepala yang Sahabat rasakan bisa dengan istirahat sejenak selama 15-20 menit dan gunakan minyak kayu putih untuk meringankan saraf yang tegang di sekitar kepala.

    2. Mual & Muntah

    Mual dan muntah biasanya dirasakan saat awal puasa. Hal ini terjadi akibat pola makan yang tidak tepat saat menjalani ibadah puasa.

    Namun,  Sahabat tidak perlu khawatir karena rasa mual dan muntah akan hilang dengan sendirinya. Cara mengatasinya yaitu selalu makan cukup saat sahur, memperbanyak minum air saat sahur dan berbuka, hindari makan makanan pedas dan asam.

    Produk Terkait: Aneka Produk Pencegah Mual dan Muntah

    Kurangi juga konsumsi es karena es dapat membuat perut kita menjadi kaget. Pilihlah air hangat saat berbuka untuk menyesuaikan perut kita yang kosong selama seharian.

    3. Diare

    Sahabat mungkin sering merasakan diare saat bulan puasa dan sangat tidak menyenangkan. Apalagi diare tersebut dapat memicu batalnya puasa Sahabat. Pemicu utama munculnya diare karena asupan makanan yang tidak tepat saat berbuka maupun sahur, seperti makanan pedas, makanan berbumbu tajam dan makanan yang berlemak.

    Produk Terkait: Diapet NR Kapsul

    Sahabat hendaknya banyak mengonsumsi sayur dan buah yang subtansinya dingin seperti buah persik, pir, pepaya, melon dan lain-lain yang merupakan sumber utama vitamin dan serat. Oh,ya, Jangan lupa untuk mengkonsumsi air putih yang cukup.

    4. Sakit Panggang

    Sahabat seringkali malas dan mengurangi gerak selama puasa karena takut lelah. Namun, tahukah ketika Sahabat kurangnya aktifitas gerak, justru akan menyebabkan sakit pada pinggang. Meskipun, ada juga yang mengira sakit pinggang yang dirasakan berasal dari penyakit ginjal.

    Hal ini menyebabkan Sahabat harus mengetahui terlebih dulu penyebab sakit pinggang dengan mengonsultasikannya ke dokter. Penyebab sakit pinggang dapat berasal dari trauma otot, posisi tubuh yang kurang tepat, kurangnya air minum, dan lain-lain.

    Produk Terkait: Borobudur Sakit Pinggang

    Konsumsilah makanan yang mengandung kalsium, magnesium dan kalium untuk mengurangi kram otot. Selain itu, makanan kaya mineral seperti susu, daging, buah-buahan dan sayur mayur baik untuk mengatasi masalah pinggang Sahabat.

    5. Sembelit

    Susah buang air besar atau sembelit bisa berbahaya. Sembelit dapat menyebabkan rasa nyeri di saluran anus, perut terasa kembung hingga menyebabkan ambeyen (haemorroids). Kondisi ini diakibatkan kurangnya cairan dalam tubuh dan kurangnya konsumsi makanan berserat.

    Produk Terkait: Aneka Produk Sembelit Terbaik

    Cegahlah ambeyen dengan memperbanyak makanan tinggi serat (biji-bijian dan buah-buahan), minum air putih dan pilihlah makanan karbohidrat seperti roti atau kue yang mengandung gandum aaat berbuka dan sahur. Sahabat juga bisa menggantinya dengan mengkonsumsi Chia Seed untuk melancarkan pencernaan.  

    6. Gula Darah Rendah

    Gula darah rendah juga sering dialami saat puasa. Gejala yang dirasakan seperti tubuh mudah lemas, pusing, letih, merasa goncang (tremor), konsentrasi menurun hingga keringat berlebih. Lakukanlah pemeriksaan gula darah secara teratur dan konsultasikan ke dokter bila terjadi hal ini.

    Produk Terkait: Alat Cek Gula Darang Lengkap

    7. Tekanan Darah Rendah

    Gejala dari tekanan darah rendah hampir sama dengan penyakit gula darah rendah. Seperti pusing, letih, lesu, lemas dan keringat berlebih. Tekanan darah rendah biasa terjadi karena sedikitnya jumlah konsumsi cairan dan kurangnya konsumsi garam. Cobalah untuk meningkatkan konsumsi cairan dan sedikit garam dari jumlah yang biasa Sahabat konsumsi.

    Baca Juga: Si Penghambat Rumah Tangga Anda

    8. Flu

    Perubahan cuaca saat bulan ramadhan membuat kondisi fisik kita menjadi lemah dan rentan terserang penyakit. Salah satunya adalah  penyakit flu yang membuat ramadhan kita sedikit berat. Penyebab flu saat puasa dapat karena saat makan sedikit saat sahur, kurangnya asupan cairan, kurang buah, tidur yang kurang dan jarang berolahraga.

    Solusi yang baik untuk mengatasi flu dengan mengonsumsi makanan sehat dengan gizi yang seimbang, mengurangi makanan yang merangsang tenggorokan (pedas, berlemak dan minuman dingin), minum air minimal 8 gelas sehari, tidur teratur, melakukan olahraga ringan dan kelola diri Sahabat dari stress.

    Selain itu,  vaksinasi flu bisa menjadi perlindungan tambahan mencegah flu. Vaksinasi flu bisa Sahabat dapatkan di prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah

    Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    vaksinasi ke rumah dari Prosehat ini mempunyai beberapa keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Lestari, Cindy. “Menyiasati Gejala Penyakit saat Puasa!”.
    2. Taya, Bethari. “10 Cara Menghilangkan Sakit Kepala secara Alami, Tradisional dan Tanpa Obat”
    3. Purwadi, Dedy. “Tips Cara Mengatasi Rasa Mual Ketika Saat Berpuasa, Agar tidak Batal”.
    4. Sulaiman, Muhamad R. “Diare di Bulan Puasa, 3 Hal ini Bisa Jadi Pemicunya”.
    5. Winaga, Handriadi. “Aduh, Nyeri Pinggang Bawah!”.
    6. Wardhani, Anita K. “Saat Puasa Terganggu Serangan Flu, Lakukan Hal Ini”.

     

    Read More
  • Penyakit kanker tulang adalah kanker yang menyerang tulang. Adanya kanker ini membuktikan bahwa penyakit tersebut ternyata tidak hanya menyerang organ-organ tubuh seperti hati, lambung, payudara, dan mata. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kanker tulang dapat menyerang  jenis tulang mana pun di dalam tubuh. Pada umumnya kanker ini dapat mengenai tulang di tungkai, lengan, […]

    Penyakit Kanker Tulang, dari Penyebab hingga Pencegahan

    Penyakit kanker tulang adalah kanker yang menyerang tulang. Adanya kanker ini membuktikan bahwa penyakit tersebut ternyata tidak hanya menyerang organ-organ tubuh seperti hati, lambung, payudara, dan mata. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kanker tulang dapat menyerang  jenis tulang mana pun di dalam tubuh. Pada umumnya kanker ini dapat mengenai tulang di tungkai, lengan, dan panggul.

    prenyakit kanker tulang

    Baca Juga: Kanker dan Tumor Itu Sama? 

    Kanker tulang tergolong salah satu kondisi penyakit yang jarang terjadi dan tidak lebih dari 0,2% dari seluruh penderita kanker. Hal ini berdasarkan data yang dihimpun oleh American Cancer Society pada 2020. Sedangkan kanker tulang pada anak memiliki persentase sekitar 5% dari seluruh kasus penyakit kanker pada anak.

    Apa Saja Penyebabnya?

    Sejauh ini belum diketahui pasti penyebab kanker tulang. Meski begitu, faktor keturunan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tulang. Selain faktor keturunan, faktor-faktor tertentu dapat berkontribusi atau meningkatkan risiko kanker. Faktor-faktor tersebut seperti adalah sebagai berikut:

    Pertumbuhan sel tidak normal

    Sel sehat terus membelah dan menggantikan sel yang lebih tua. Setelah itu, sel-sel tersebut akan mati. Namun, sel-sel yang tidak normal akan tetap hidup dan membentuk massa jarungan yang bisa menjadi tumor pemicu kanker.

    Produk Terkait: Wellness Os Cal 60 Tablet

    Terapi radiasi

    Terapi ini tepat untuk membunuh sel kanker yang berbahaya namun metode pengobatan ini malah bisa memicu pembentukan sel kanker pada tulang. Biasanya, kondisi ini dipucu oleh penggunaan radiasi dosis tinggi.

    Siapa Saja yang Bisa Terkena?

    Seperti sudah disebutkan bahwa kanker tulang dapat menyerang siapa saja. Namun, ternyata terdapat beberapa orang dengan kondisi berikut berpotensi tinggi mengalami kanker tulang, yaitu:

    • Memiliki riwayat keluarga kanker terutama pernah menerima perawatan atau atau terapi radiasi di masa lalu
    • Menderita penyakit paget, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan tulang rusak, dan kemudian tumbuh kembali secara normal
    • Pernah memiliki beberapa tumor di tulang rawan yang merupakan jaringan ikut di tulang

    Seperti Apa Gejalanya?

    Gejala penyakit kanker tulang secara umum dapat berupa:

    • Nyeri dan bengkak pada tulang
    • Tulang mudah patah
    • Berat badan turun tanpa sebab
    • Berkeringat di malam hari
    • Tubuh mudah lelah atau kelelahan
    • Demam
    • Sensasi kebas atau mati rasa apabila kanker terjadi pada tulang belakang dan menekan saraf
    • Sesak napas apabila kanker tulang menyebar ke paru-paru
    • Tulang sakit sering menyebabkan terbangun di malam hari

    Apakah kanker ini mempunyai jenis?

    Kanker tulang mempunyai jenis. Jenis-jenisnya terbagi dua, yaitu primer dan sekunder. Untuk primer adalah sebagai berikut:

    Osteosarkoma

    Osteosarkoma juga dikenal dengan istilah sarcoma osteogenic. Kanker tulang ini adalah jenis yang paling umum diidap masyarakat. Biasanya kanker dimulai dari sel-sel tulang di lengan, kaki, atau panggul. Kanker ini sering terjadi pada orang berusia dari 10 sampai 30 tahun. Menurut berbagai penelitian, pasiennya lebih banyak berjenis kelamin pria daripada wanita.

    Kondrosarkoma

    Terbentuk di dalam sel tulang rawan, kondrosarkoma merupakan bentuk penyakit kanker tulang kedua yang paling umum. Meski demikian, jenis ini jarang terjadi pada orang di bawah usia 20 tahun kemungkinan berkembang hanya meningkat seiring bertambahnya usia.

    Baca Juga: Mengenal Gejala dan Pencegahan Osteoporosis

    Tumor Ewing

    Tumor ini juga dikenal sebagai sarkoma ewing. Umumnya, sel kanker akan dimulai dari tulang. Namun, jenis ini juga dapat terbentuk di jaringan dan otot lain. Para peneliti mengategorikan tumor ewing sebagai bentuk kanker tulang primer ketiga yang paling umum diderita. Tumor ewing paling sering terjadi pada anak-anak hingga remaja, dan jarang terlihat pada orang dewasa di atas usia 30 tahun.

    Sedangkan kanker tulang sekunder adalah kanker di tulang yang biasanya berawal di tempat lain dalam tubuh. Contohnya adalah kanker paru-paru yang menyebar ke tulang. Kanker sekunder ini kemudian disebut juga sebagai kanker metastasis karena berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Beberapa kanker yang biasanya menyebar ke tulang antara lain:

    • Kanker payudara
    • Kanker prostat
    • Kanker paru-paru

    Apakah Kanker Ini Dapat Diobati?

    Dapat. Pengobatannya berupa diagnosis dengan mengklasifikasikan kanker tulang primer secara bertahap. Tahapan ini menjelaskan letak kanker, tindakan yang harus dilakukan, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap bagian tubuh lainnya.

    • Stadium 1, kanker masih berada di satu area tulang atau belum menyebar dan tidak agresif.
    • Stadium 2, stadium ini sama seperti stadium 1 namun kanker lebih agresif mulai membesar
    • Stadium 3, di tahap ini kanker sudah menyebar ke lebih dari satu area, minimal berada di dua lokasi pada satu tulang yang sama
    • Stadium 4, tahap ini merupakan tahap tertinggi, kanker sudah menyebar ke organ lain seperti hati, paru, dan otak

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Stadium-stadium ini dapat ditentukan menggunakan metode berikut, yaitu:

    • Biopsi untuk menganalisis sampel kecil jaringan untuk mendiagnosis kanker
    • Pemindaian tulang untuk memeriksa kondisi tulang
    • Tes darah
    • Diagnosis melalui pencitraan yang mencakup sinar X, pemindaian MRI, dan CT Scan untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang struktur tulang

    Apakah Kanker Ini Bisa Dicegah?

    Sejauh ini seperti dilansir dari National Cancer Institute, tidak ada pencegahan untuk kanker tulang meski begitu Sobat bisa menerapkan pola hidup sehat sebagai pencegahan, yaitu:

    • Kurangi atau tidak merokok sama sekali
    • Kurangi atau tidak mengonsumsi alkohol sama sekali
    • Hindari makanan dan minuman yang mengandung lemak jahat dan berkarsinogen
    • Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin A dan D, dan sering berjemur di pagi hari untuk mendapatkan sinar matahari pagi sebagai cara alami mencegah kanker tulang
    • Berolahraga secara rutin

    Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok? Konsumsilah 6 Makanan Berikut Ini!

    Nah, Itulah mengenai penyakit kanker tulang dari penyebab hingga pencegahannya yang perlu Sobat Sehat ketahui. Perlu diingat kanker tulang bukan hanya menyerang pada orang dewasa lanjut usia saja, tetapi juga bisa menyerang kaum muda karena pola hidup yang tidak sehat. Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kanker tulang dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. What Is Bone Cancer? [Internet]. Cancer.org. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/bone-cancer/about/what-is-bone-cancer.html
    2. Bone Cancer: Types, Causes & Symptoms [Internet]. Healthline. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.healthline.com/health/bone-cancer#causes
    3. Bone Cancer—Patient Version [Internet]. National Cancer Institute. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.cancer.gov/types/bone
    4. (COVID-19) C, Health E, Disease H, Disease L, Management P, Conditions S et al. Bone Tumors: Cancerous and Benign [Internet]. WebMD. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.webmd.com/cancer/bone-tumors#1
    Read More
  • Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia […]

    Yang Perlu Sahabat Ketahui Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

    perbedaan pneumonia dan covid-19

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia karena kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang hampir serupa. Bahkan, pneumonia sama seperti Covid-19 bisa bersifat dan menyebabkan kematian.

    Namun bukan berarti kedua penyakit tersebut tidak memiliki perbedaan. Berikut perbedaan antara Pneumonia dan Covid-19.

    Pneumonia

    Penyakit peradangan jaringan paru-paru mengakibatkan kantung udara di ujung pernapasan di paru-paru terisi oleh cairan. Pneumonia berisiko pada orang yang biasanya memiliki sistem kekebalan atau imunitasnya rendah. Bisa menyerang usia berapa pun, mulai dari bayi, orang tua, perokok, peminum berat dan lainnya.

    Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), pneumonia atau radang paru-paru menjadi penyebab kematian pada balita dan juga anak tersebesar di Indonesia.

    Sedangkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat pneumonia menyumbang  14 sampai 16% dari total kematian anak yang ada di Indonesia.

    Pneumonia dapat memiliki derajat berat maupun ringan. Hal tersebut dipengaruhi oleh jenis kuman penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatan penderita dari penyakit pneumonia itu sendiri.

    Dalam kasus pneumonia ringan, biasanya penderita hanya memerlukan waktu beberapa hari atau satu minggu untuk bisa kembali sehat.

    Namun, jika dalam kasus yang parah, pneumonia bisa memerlukan waktu sampai dengan enam bulan, agar penderita pulih atau sehat kembali. Bahkan bisa juga menyebabkan kematian.

    Pada seseorang dengan kesehatan yang buruk atau dengan sistem kekebalan yang lemah, Pneumonia yang tidak diobati dapat menyebabkan kadar oksigen turun sehingga jaringan tubuh akan berpengaruh.

    Penyakit pneumonia ini juga bisa menular lewat percikan cairan pernapasan saat penderita batuk, bersin, ataupun bernapas.

    Gejala Pneumonia

    Gejala dari pneumonia biasanya mirip dengan influenza sehingga penderita bisa merasakan gejala yang umum terjadi, seperti:

    – Demam atau suhu tinggi

    – Menggigil

    – Batuk

    – Kehilangan nafsu makan

    – Merasa sakit di sisi dada

    – Jantung berdebar

    – Tidak selera makan

    – Batuk berdarah

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Badan terasa nyeri

    – Nyeri sendi dan otot

    – Linglung atau merasa bingung, terutama biasanya terjadi pada orang lansia

    Penyakit pneumonia bisa diketahui lewat pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Dokter pada umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian merekomendasikan rontgen dada, tes dahak, atau juga melakukan tes darah.

    Produk Terkait: Jual Vaksinasi Pneumonia Dewasa

    Apabila memang bisa mengancam jiwa, penyakit ini seharusnya bisa segera ditangani atau diobati. Penderita juga perlu minum banyak air putih dan banyak istirahat selama atau dalam proses pemulihan.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona yang bernama SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya, di mana pun. Virus ini juga bisa menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, seperti yang sama-sama diketahui, banyak penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Nah, Sahabat Sehat sudah mengetahui kan perbedaan dari Pneumonia dan juga Covid-19. Namun, guna memastikan dan mengecek kebenaran, sebaiknya apabila sudah bergejala, Sahabat Sehat bisa melakukan tes swab. Sehingga nantinya tidak hanya menerka-nerka jenis penyakit apa yang ada di tubuh Sahabat Sehat.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Tetaplah berperilaku hidup sehat, senantiasa patuh dan taat dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan juga mencuci tangan dengan sabun.

    Baca Juga: Berikut 5 Alat Pemantau Kesehatan yang Sahabat Wajib Punya di Masa Pandemi!

    Pneumonia sendiri bisa dicegah dengan vaksinasi. Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah.

    Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media, K., 2021. Kenali Apa Itu Pneumonia, Gejala, dan Penyebabnya Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://health.kompas.com/read/2020/11/12/170100868/kenali-apa-itu-pneumonia-gejala-dan-penyebabnya?page=all#page2.> [Accessed 5 April 2021].
    2. [online] Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/16/151500565/apa-bedanya-pneumonia-dengan-covid-19-yang-disebabkan-virus-corona?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    3. suara.com. 2021. Punya Gejala Mirip, Ini Cara Membedakan Pneumonia dan Covid-19. [online] Available at: <https://www.suara.com/health/2020/11/07/094431/punya-gejala-mirip-ini-cara-membedakan-pneumonia-dan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    4. Widiyarti, Y., 2021. Kenali Beda Pneumonia dan Covid-19. [online] Tempo. Available at: <https://gaya.tempo.co/read/1405686/kenali-beda-pneumonia-dan-covid-19/full&view=ok> [Accessed 5 April 2021].
    5. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021]
    Read More
  • Asuransi kesehatan sebenarnya sangat diperlukan oleh kita. Dengan mendaftarkan diri pada suatu produk asuransi kesehatan, kita akan mendapatkan perlindungan dini dari risiko yang berhubungan dengan kesehatan apabila terjadi suatu musibah di kemudian hari. Baca Juga: Pentingnya Asuransi Kesehatan Keluarga Terbaik di Masa Pandemi Asuransi kesehatan dapat membantu kita bila mengalami sakit dan harus dirawat inap, […]

    Bikin Salah Paham! Berikut 10 Jenis Penyakit yang Tidak Ditanggung Asuransi Kesehatan

    Asuransi kesehatan sebenarnya sangat diperlukan oleh kita. Dengan mendaftarkan diri pada suatu produk asuransi kesehatan, kita akan mendapatkan perlindungan dini dari risiko yang berhubungan dengan kesehatan apabila terjadi suatu musibah di kemudian hari.

    penyakit yang tidak ditanggung asuransi kesehatan

    Baca Juga: Pentingnya Asuransi Kesehatan Keluarga Terbaik di Masa Pandemi

    Asuransi kesehatan dapat membantu kita bila mengalami sakit dan harus dirawat inap, dengan memberikan dana darurat untuk menjamin biaya rawat inap tersebut.

    Karena mahalnya biaya kesehatan dari waktu ke waktu maka dengan memiliki asuransi kesehatan setidaknya kita mempunyai dana darurat sebagai pegangan. Asuransi kesehatan juga memberikan jaminan yang bermacam-macam, misalnya seperti biaya rawat inap, rawat jalan, obat-obatan, tes laboratorium, hingga tindakan medis lainnya.

    Meskipun asuansi kesehatan menawarkan jaminan seperti yang tertera diatas,  sebenarnya tidak semua penyakit dapat dilindungi oleh asuransi kesehatan. Biasanya penyakit yang dikecualikan atau di luar tanggung jawab asuransi adalah penyakit yang bersifat kritis, bawaan, atau penyakit yang sudah diderita sebelum bergabung dengan asuransi kesehatan.

    Penyakit yang Tidak Ditanggung Asuransi Kesehatan

    Manfaat dari asuransi kesehatan pada dasarnya memang memberi perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi anggotanya. Namun bukan berarti semua penyakit dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi tersebut.

    Untuk itu, sebaiknya Sahabat memilih produk asuransi kesehatan yang sesuai dan dianjurkan untuk mengambil manfaat tambahan meskipun harus membayar premi lebih. Untuk lebih jelasnya, simak daftar penyakit berikut ini yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan.

    1. Penyakit Bawaan

    Penyakit pertama yang tidak dapat ditanggung oleh asuransi kesehatan adalah penyakit bawaan, yaitu penyakit yang telah diderita tertanggung akibat penyakit keturunan, cacat tubuh atau kelainan yang dialami tubuh sejak lama. Misalnya seperti asma, hernia, sakit mental, berkebutuhan khusus, dan sebagainya.

    Meskipun jika ada asuransi kesehatan yang dapat menanggung biaya perawatan penyakit bawaan, biasanya asuransi ini mempunyai masa tunggu. Sehingga, tertanggung setidaknya harus menunggu selama dua tahun sebelum bisa mengajukan klaim untuk penyakit bawaan.

    2. Penyakit Langka

    Perusahaan asuransi pada dasarnya tidak menjamin penyakit langka untuk diberi jaminan, seperti yang kasusnya sangat jarang ditemukan di dunia.

    Misalnya seperti kelainan otot, ataupun penyakit genetik yang diderita sejak lahir, penyakit neurologis yang menyebabkan terganggunya perkembangan otak bayi, penyakit radang yang mengkabitkan komplikasi pada jantung, dan sebagainya.

    3. Penyakit Kritis

    Penyakit selanjutnya yang tidak dijamin asuransi ialah penyakit kritis yang mematikan. Hal ini dikarenakan biaya perawatan untuk penyakit kritis sangat mahal dan harus melakukan tindakan secara intensif. Adapun jenis-jenis penyakit kritis yang tidak ditanggung perusahaan asuransi kesehatan misalnya gagal ginjal, paru-paru, kanker, penyakit jantung, diabetes, dan sebagainya.

    Baca Juga: Cara Penderita Penyakit Ginjal Menghadapi Covid-19

    Meskipun begitu, ada pula beberapa perusahaan asuransi kesehatan yang dapat menanggung penyakit-penyakit tersebut. Untuk itu, Sahabat sangat dianjurkan untuk memilih perusahaan asuransi kesehatan yang khusus menanggung penyakit kritis.

    Sehingga Sahabat akan mendapatkan manfaat dari pengobatan penyakit-penyakit mematikan tersebut hingga disediakan santunan yang lebih besar dibandingkan dengan santunan penyakit kritis yang ada di asuransi kesehatan pada umumnya.

    4. Penyakit Kritis Stadium Awal

    Meskipun beberapa perusahaan asuransi kesehatan ada yang memasukan penyakit kritis, namun hanya penyakit kritis stadium akhir yang dapat ditanggung biaya pengobatannya.

    Sedangkan penyakit kritis pada tahap stadium awal tidak dapat di-cover oleh asuransi kesehatan. Untuk menghindari kesalahpahaman maupun kerugian, Sahabat harus memahami setiap detail manfaat dan ketentuan yang tertulis dalam polis asuransi. Jadi, jangan sampai terkecoh di kemudian hari.

    5. Penyakit Psikologis

    Sama halnya dengan penyakit yang disebutkan diatas, penyakit terkait gangguan psikologis juga termasuk dalam daftar penyakit yang tidak ditanggung asuransi kesehatan. Sehingga calon nasabah yang menginginkan adanya perlindungan untuk penyakit psikologis disarankan untuk cermat dalam memilih produk asuransi kesehatan yang memang menjamin biaya pengobatan penyakit psikologis.

    Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    6. Penyakit yang Disebabkan Wabah atau Bencana

    Penyakit akibat wabah atau bencana tidak dapat ditanggung oleh asuransi kesehatan karena penyakit seperti ini dapat menyebar dengan cepat dibeberapa daerah, terutama di daerah dengan lingkungan yang padat penduduk. Sehingga jumlah penderitanya sangat banyak dan akan menyulitkan atau merugikan perusahaan asuransi kesehatan yang menanggung.

    Beberapa contoh penyakit wabah atau bencana yang sering ditemui misalnya seperti ebola, kolera, polio, flu burung, malaria, dan sebagainya. Seperti yang terjadi pada saat ini, dunia sedang digemparkan oleh pandemi virus corona. Hanya beberapa perusahaan asuransi yang kini sudah mulai menawarkan perlindungan kepada penderita Covid-19, meskipun penyakit ini merupakan penyakit wabah.

    7. Penyakit yang Diderita Sebelum Memiliki Asuransi (Pre-exiting Condition)

    Pada kasus seperti ini, ada baiknya Sahabat melakukan medical check-up terlebih dahulu sebelum membeli asuransi kesehatan. Sehingga apabila Sahabar telah menderita penyakit tertentu sebelum mendaftar asuransi, penyakit itu akan dimasukkan ke daftar penyakit yang tidak ditanggung oleh asuransi.

    Meskipun demikian, masih ada pula beberapa produk asuransi yang tidak mengharuskan calon nasabahnya untuk pemeriksaan kesehatan secara keseluruhan sebelum bergabung. Semua ketentuan tergantung pada ketelitian Anda saat mengajukan polis asuransi.

    8. Pengecekan dan Perawatan Kehamilan

    Segala jenis perawatan sebelum hingga setelah kehamilan yang berkaitan dengan keluhan kandungan, termasuk biaya melahirkan, biasanya tidak dapat dijamin oleh asuransi kesehatan.

    Sama halnya dengan perawatan anak pasca-kelahiran, misalnya seperti imunisasi bayi atau pemeriksaan kesehatan ibu dan bayi pasca kelahiran, yang tidak termasuk dalam tanggungan asuransi.

    Produk Terkait: Ibu Hamil dan Menyusui

    Hal ini dikarekan melahirkan bukanlah sebuah penyakit, melainkan suatu kondisi yang lazim dan lumrah dialami oleh seorang wanita, yang dapat dicegah dan direncanakan.

    9. HIV/AIDS

    Penderita HIV/AIDS memiliki imunitas tubuh yang sangat lemah, sehingga sangat mudah sekali terserang penyakit. Oleh sebab itu, perusahaan asuransi pada umumnya tidak memasukkan HIV/AIDS dalam daftar penyakit yang dapat ditanggung oleh asuransi.

    Selain itu, HIV/AIDS juga dianggap sebagai penyakit yang diakibatkan oleh faktor kesengajaan dari penyalahgunaan narkoba maupun akibat prilaku seks bebas.

    10. Penyakit yang Dikecualikan

    Terakhir, penyakit  yang tidak ditanggung asuransi kesehatan adalah penyakit yang sejak awal memang telah dikecualikan oleh pihak asuransi kesehatan. Misalnya seperti transplantasi organ, cuci darah, biaya perawatan diet, pemeriksaan gigi berkala, biaya pengobatan alternatif, dan sebagainya.

    Setiap asuransi kesehatan memang memiliki ketentuan tersendiri pada polis asuransinya yang tentu saja berbeda-beda satu dengan yang lainnya, demikian pula dengan daftar penyakit yang dapat ditanggung oleh asuransi kesehatan.

    Baca Juga: Kenali dengan Baik Asuransi Kesehatan Syariah

    Oleh sebab itu, sahabat perlu pelajari lagi dengan teliti manfaat dari polis yang ditawarkan sebelum memutuskan untuk membeli asuransi.

    Jadi, yuk, jangan ada lagi keraguan dan segera daftarkan diri Sahabat dan keluarga pada asuransi kesehatan yang disediakan oleh Prosehat, karena dengan bergabung, Sahabar akan mendapatkan manfaat dan fasilitas lebih berupa pemeriksaan Covid-19 dan vaksinasi Covid-19. Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. co.id. 2021. Agar Tak Salah Paham, Kenali Jenis-jenis Penyakit yang Umumnya Tidak Dilindungi Asuransi Kesehatan | Asuransi Kesehatan dan Jiwa Cigna Indonesia. [online] Available at: <https://www.cigna.co.id/health-wellness/penyakit-yang-umumnya-tidak-dilindungi-asuransi-kesehatan> [Accessed 11 March 2021].
    2. Utama, H. and Kesehatan, D., 2021. Daftar Penyakit yang Tidak Dicover Asuransi Kesehatan. [online] @CekAja. Available at: <https://www.cekaja.com/info/penyakit-yang-tidak-dicover-asuransi> [Accessed 11 March 2021].
    3. Generali Indonesia. 2021. Penyakit Yang Tidak Dicover Asuransi yang Perlu Diketahui untuk Memaksimalkan Manfaat Asuransi Kesehatan Kamu. [online] Available at: <https://www.generali.co.id/id/healthyliving/detail/410/penyakit-yang-tidak-dicover-asuransi-yang-perlu-diketahui-untuk-memaksimalkan-manfaat-asuransi-kesehatan-kamu> [Accessed 11 March 2021].
    4. Perdana, F., 2021. 5 Penyakit yang Biasanya Tidak Dibiayai Asuransi, Cobalah dengan BPJS. [online] POPMAMA.com. Available at: <https://www.popmama.com/life/health/fajar-perdana/penyakit-yang-tidak-dibiayai-asuransi-cobalah-dengan-bpjs/5> [Accessed 11 March 2021].

     

     

    Read More
  • Masalah Covid-19 belum selesai, kini para ahli kesehatan dunia menyatakan kekhawatiran bahwa akan ada calon virus penyebab pandemi bernama virus Nipah. Dinamakan demikian karena virus ini berasal dari sebuah kampung di Malaysia, tepatnya di Sungai Nipah. Virus ini disebut memiliki tingkat kematian 75% dan sampai saat ini belum ditemukan sama sekali vaksinnya. Adalah Supaporn Wacharapluesadee […]

    Virus Nipah, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19?

    Masalah Covid-19 belum selesai, kini para ahli kesehatan dunia menyatakan kekhawatiran bahwa akan ada calon virus penyebab pandemi bernama virus Nipah. Dinamakan demikian karena virus ini berasal dari sebuah kampung di Malaysia, tepatnya di Sungai Nipah. Virus ini disebut memiliki tingkat kematian 75% dan sampai saat ini belum ditemukan sama sekali vaksinnya. Adalah Supaporn Wacharapluesadee yang mengungkapkan hal tersebut setelah awalnya menyelidiki muasal Covid-19 di luar Wuhan, Cina.

    virus nipah, nipah virus

    Baca Juga: Mengenal Disease X, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19

    Ia mendapati bahwa ada virus lain mematikan selain Covid-19, yaitu virus Nipah, yang juga bersumber dari kelelawar buah, hewan yang merupakan inang alami virus. Dalam laman resminya, WHO menyatakan bahwa virus ini tidak hanya menular kepada manusia tetapi kepada hewan peternakan, terutama babi. Virus ini sebenarnya bukanlah virus baru karena sudah pernah ada laporan infeksi di Malaysia pada 1999, lalu Singapura, dan berlanjut ke Bangladesh dan India.

    WHO sendiri bahkan sudah memasukkan Nipah sebagai salah satu virus dalam 10 besar virus yang berpotensi menjadi ancaman bagi seluruh dunia. Hal tersebut berdasarkan ancaman potensial yang dimiliki virus tersebut, yaitu:

    • Mempunyai proses inkubasi yang lama hingga 45 hari yang berarti akan ada banyak kesempatan inang terinfeksi dan tidak menyadari saat menyebarkan
    • Mampu menginfeksi banyak jenis hewan sehingga menambah kemungkinan penyebarannya
    • Mampu menular melalui kontak langsung atau konsumsi makanan yang terkontaminasi

    Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan meminta kepada Indonesia untuk selalu meswapadai potensi penularan virus terutama dari kelelawar buah yang bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaya ke Pulau Sumatera, terutama Provinsi Sumatera Utara. Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Didik Budjianto, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Rabu, 27 Januari 2021.

    Meski sejauh ini belum ada kasus karena Nipah tersebut, Kemenkes meminta kepada masyarakat untuk mengetatkan diri terhadap perdagangan ternak terutama babi sebagai hewan yang potensinya cukup besar terserang virus.

    Gejala Terkena Virus

    Lalu seperti apa dan bagaimana gejala virus Nipah? Berikut seperti yang dilansir dari CDC. Gejala biasanya akan muncul dalam 4-14 hari setelah terpapar virus. Penyakit ini awalnya muncul dalam bentuk demam dan sakit kepala selama 3-14 hari, dan sering kali mengarah ke tanda-tanda penyakit pernapasan, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Fase peradangan otak (ensefalitis) dapat terjadi dengan gejala berupa kantuk, disorientasi, dan kebingungan mental, yang mampu berkembang cepat menjadi koma dalam waktu 24-48 jam.

    Baca Juga: Infodemik, Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    Ada dua gejala dari virus ini, yaitu gejala awal dan gejala berat

    Gejala awal berupa:

    • Demam
    • Sakit kepala
    • Batuk
    • Nyeri tenggorokan
    • Sulit bernafas
    • Muntah

    Sedangkan gejala berat yang bisa terjadi adalah

    • Disorientasi, mengantuk, atau kebingungan
    • Kejang
    • Koma
    • Peradangan otak (ensefalitis) yang berakibat kematian

    Kematian dapat terjadi pada 40-75% kasus. Efek samping jangka panjang pada penyintas infeksi virus Nipah adalah kejang permanen dan perubahan kepribadian. Infeksi penyebab gejala dan terkadang kematian ini (dikenal sebagai infeksi tidak aktif atau laten) juga bisa terjadi berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun setelah terpapar.

    Pencegahan

    Untuk pencegahan virus adalah sebagai berikut:

    • Sering mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air
    • Hindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sedang sakit
    • Hindari area tempat kelelawar biasanya bertengger
    • Hindari konsumsi nira kurma mentah
    • Hindari konsumsi buah-buahan yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar
    • Hindari kontak dengan darah atau cairan tubuh siapa pun yang diketahui terinfeksi virus

    Lokasi geografis lain mungkin berisiko terhadap wabah virus di masa mendatang, seperti kawasan tempat tinggal rubah terbang (kelelawar genus Pteropus). Habitat Kelelawar jenis ini berada di Kamboja, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand. Orang yang tinggal di atau mengunjungi daerah ini harus mempertimbangkan untuk mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti mereka yang tinggal di daerah di mana wabah telah terjadi.

    Selain langkah-langkah yang dapat diambil individu untuk menurunkan risiko infeksi virus Nipah, penting bagi ilmuwan, peneliti, dan komunitas yang berisiko untuk terus mempelajari untuk mencegah wabah di masa mendatang. Upaya pencegahan yang lebih luas meliputi:

    • Meningkatkan pengawasan hewan dan manusia di daerah virus diketahui berada
    • Meningkatkan penelitian tentang ekologi kelelawar buah untuk memahami habitat tinggal dan bagaimana mereka menyebarkan virus ke hewan dan manusia lain
    • Evaluasi teknologi atau metode baru untuk meminimalkan penyebaran virus di dalam populasi kelelawar
    • Memperbaiki alat untuk mendeteksi virus sejak dini di masyarakat dan ternak
    • Memperkuat protokol untuk pengaturan perawatan kesehatan pada praktik pengendalian infeksi standar untuk mencegah penyebaran dari orang ke orang

    Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu Sindemi?

    Sekian mengenai virus Nipah yang dikhawatirkan menjadi calon pandemi baru di saat Covid-19 belum mereda. Cara terbaik untuk mencegah virus yang ada dan berpotensi menjadi pandemi adalah tetap melakukan protokol kesehatan dan hindari daerah-daerah rawan terkena virus, dan hindari kontak binatang pembawa virus. Jangan lupa juga untuk deteksi dini terutama Covid-19 di Prosehat. Caranya mudah, Sahabat bisa mengakses langsung via website dan aplikasi lalu klik Layanan Kesehatan dan pilih Rapid Test Covid-19. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media K. Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/01/26/100000723/mengenal-virus-nipah-ancaman-pandemi-berikutnya-di-asia?page=all
    2. Nipah virus infection [Internet]. Who.int. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.who.int/health-topics/nipah-virus-infection#tab=tab_1
    3. Indonesia C. Kemenkes Minta Waspada Ancaman Virus Nipah dari Malaysia [Internet]. nasional. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210127072312-20-598836/kemenkes-minta-waspada-ancaman-virus-nipah-dari-malaysia
    4. Signs and Symptoms | Nipah Virus (NiV) | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/vhf/nipah/symptoms/index.html
    5. Prevention | Nipah Virus (NiV) | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/vhf/nipah/prevention/index.html

     

    Read More
  • Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar dinamakan monkeypox. Pada tahun 1970, virus ini pertama kali ditemukan pada manusia di Republik Demokratik Kongo. Kemudian, Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan peliharaan eksotis (praire dog) […]

    Mari Cari Tahu lebih dalam tentang MonkeyPox

    Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar dinamakan monkeypox. Pada tahun 1970, virus ini pertama kali ditemukan pada manusia di Republik Demokratik Kongo. Kemudian, Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan peliharaan eksotis (praire dog) yang terinfeksi dari tikus dari Afrika yang masuk ke Amerika tahun 2003.

    monkeypox

    Baca Juga: Waspadai Monkeypox yang Dapat Menyerang Anda

    Kejadian Luar Biasa (KLB) Monkeypox terjadi di Nigeria tahun 2017. Kasus terakhir yang menarik perhatian adalah di Singapura, ada warga Nigeria yang menderita monkeypox, dan 23 orang yang kontak erat dengannya sudah dikarantina. Wilayah yang terjangkit Monkeypox global adalah Afrika Tengah dan Barat (Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading,  Liberia, Sierra Leone, Gabon, dan Sudan Selatan)

    Monkeypox merupakan virus golongan orthopoxvirus yang menular dari hewan ke manusia. Hewan penular di negara terjangkit antara lain monyet,  anjing prairie, tupai, dan tikus Gambia. Monkeypox menular dari hewan ke manusia melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh/kulit hewan yang terinfeksi, dan mengonsumsi daging hewan yang terkontaminasi. Penularan antarmanusia sangat mungkin, tapi jarang.

    Masa inkubasi biasanya 6-16 hari tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Fase prodromal dapat berlangsung 1-3 hari, seperti demam sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Fase selanjutnya adalah fase erupsi yang merupakan fase paling infeksius. Fase ini ditandai dengan ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula lepuh berisi cairan bening (lepuh berisi nanah) kemudian mengeras krusta atau keropeng lalu rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari.

    Beda Monkeypox, Smallpox (variola) dan Chickenpox (cacar air)

    Karakteristik Monkeypox Smallpox Chickenpox
    Cara penularan Kontak dengan: Darah, cairan tubuh, luka terbuka pada hewan,konsumsi

    daging terinfeksi

    Percikan air liur atau kontak langsung dengan tubuh penderita yang terinfeksi Kontak langsung

    dengan tubuh

    penderita yang

    terinfeksi

    Masa inkubasi 5-21 hari 7-19 hari 5-7 hari
    Gejala dan tanda Khas:

    Pembengkakan

    kelenjar getah bening

    Tidak ada

    pembengkakan

    kelenjar getah

    bening

    Ruam dengan

    vesikel yang gatal

    Cara pencegahan Tidak ada vaksin,

    hindari faktor risiko

    dan daerah endemis

    Pernah ada vaksin

    tapi tidak

    diproduksi lagi

    sejak 1980

    Vaksin varicella

    (98%) efektif

    Beratnya penyakit Gejala ringan tapi

    tingkat

    perburukannya

    1-10%

    Perdarahan organ

    dalam sehingga

    dapat memburuk

    20-60%

     

    Secara kasat mata monkeypox sulit membedakan dengan penyakit ruam lain seperti cacar air, campak, kudis, sifilis, alergi obat, dan infeksi kulit karena bakteri. Diagnosis dengan tepat adalah dengan memeriksakan ke laboratorium.

    Baca Juga: Cacar Air dan Pencegahan yang Bisa Kamu Coba

    Perawatan Penderita Monkey Pox:

    • Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi untuk monkey pox
    • Pengobatan dilakukan untuk mengurangi gejala yang timbul
    • Penderita akan diisolasi guna mencegah penularan pada fase erupsi
    • Daya tahan tubuh penderita menurun, sehingga rentan terkena penyakit lain

    Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Jenis-jenis Vaksin

    Pencegahan Penularan Monkey Pox

    • Perilaku hidup bersih sehat dengan mencuci tangan dengan air sabun atau cairan pembersih desinfektan lain
    • Hindari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan daging yang tidak dimasak dengan baik
    • Hindari kontak fisik dengan penderita termasuk tempat tidur dan bajunya
    • Hindari kontak dengan hewan liar/ konsumsi daging hasil buruan
    • Bagi pelancong yang bepergian ke daerah endemis hendaklah memeriksakan diri bila ada gejala diatas dalam waktu < 3 minggu setelah pulang
    • Tenaga medis memakai alat pelindung diri ketika memeriksa pasien yang terinfeksi.

    Monkeypox atau cacar monyet memang tidak bisa divaksin seperti penyakit lainnya. Namun, Sobat tidak perlu khawatir. Yang penting tetap menjaga kebersihan. Apabila Sobat menderita jenis cacar yang lain seperti cacar air, Sobat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Libur panjang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Momen yang paling pas untuk melepaskan penat dan stres setelah sekian lama bekerja. Sehingga, saat kita berlibur harus dalam keadaan yang sehat dan prima bukan? Berikut kita akan membahas penyakit yang sering timbul saat ataupun setelah berlibur. Apa saja penyakitnya dan bagaimana cara kita mengantisipasinya? […]

    Libur Panjang, Hati-hati Penyakit Mengintai

    Libur panjang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Momen yang paling pas untuk melepaskan penat dan stres setelah sekian lama bekerja. Sehingga, saat kita berlibur harus dalam keadaan yang sehat dan prima bukan? Berikut kita akan membahas penyakit yang sering timbul saat ataupun setelah berlibur. Apa saja penyakitnya dan bagaimana cara kita mengantisipasinya?

    Penyakit yang sering timbul pada saat berlibur biasanya adalah penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan, karena saat berlibur berburu kuliner merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan. Tiga penyakit tersering yang biasa muncul saat berlibur adalah keracunan makanan, gastroenteritis akut, dan tifoid.

    KERACUNAN MAKANAN

    Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan bakteri, parasit, virus, maupun zat kimia. Gejala dari keracunan makanan dapat sangat bervariasi, tergantung dari derajat penyakit dan tingkat keparahannya.

    • Nyeri perut, gejala ini merupakan efek dari peradangan saluran pencernaan.
    • Muntah, termasuk gejala yang sering ditemukan terutama dari penyebab infeksi bakteri dan virus.
    • Diare, biasanya gejala ini kurang dari 2 minggu.
    • Nyeri kepala.
    • Demam, tergantung dari tingkat keparahan penyakit, apabila berat, kondisi keracunan makanan dapat menimbulkan demam.
    • Perubahan pada BAB, apabila terjadi kerusakan yang invasif pada saluran pencernaan, BAB bisa berdarah.

    Baca Juga: 7 Lokasi Snorkeling di Jakarta

    Keracunan makanan depat dicegah dengan  menjaga kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan saat akan makan, makanlah masakan yang benar-benar matang, dan jagalah bekal Anda pada suhu yang sesuai agar tidak basi.

    Penanganan yang dapat segera dilakukan adalah memberikan cairan agar tidak mengalami kondisi dehidrasi, dan hindari produk-produk yang mengandung susu terutama apabila terdapat gejala diare karena dapat memperparah diarenya, dan segera bawa ke dokter.

     GASTROENTERITIS AKUT

    Gastroenteritis adalah peradangan pada saluran pencernaan, penyebab yang paling sering pada penyakit ini adalah virus dan terkadang juga bakteri. Pada gastroenteris viral akut sering ditandai dengan demam ringan, muntah, diikuti diare cair dan bukan diare berdarah. Gastroenteritis viral akut umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, tapi kita tetap harus memerhatikan kadar cairan di tubuh, jangan sampai mengalami dehidrasi.

    Maka dari itu penanganan yang utama adalah cairan, pastikan minum harus cukup, usahakan konsumsi cairan yang isotonik untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang terbuang saat muntah dan diare. Pencegahan paling penting adalah melakukan vaksinasi rotavirus sebelum berlibur, karena virus yang umumnya menyebabkan penyakit ini adalah rotavirus.

    Baca Juga: 5 Persiapan Sebelum HoneyMoon

    DEMAM TIFOID

    Demam tifoid masih merupakan penyakit endemis di Indonesia. Penyebab dari penyakit ini adalah kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi yang masuk ke dalam tubuh manusia, terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Gejala yang timbul dapat sangat bervariasi dari ringan sampai berat. Biasanya jarak antara kuman masuk ke tubuh sampai timbul gejala cukup panjang sekitar 10-14 hari.  Pada minggu pertama gejala yang sering muncul demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, sulit BAB, ataupun diare.

    Pada minggu ke dua gejala menjadi semakin jelas, umumnya gejala yang sangat dominan adalah demam, lidah yang kotor di tengah umumnya lidah berwarna putih. Apabila sobat melihat gejala seperti ini pada keluarga atau kerabat saat atau sesudah berlibur segeralah bawa ke dokter, karena butuh penanganan yang adekuat. Umumnya pasien demam tifoid akan membutuhkan istirahat yang cukup dan terapi pengobatan.

    Baca Juga: 5 Penyebab Tifus dan Pencegahannya

    Nah, Sobat itulah sekilas informasi mengenai penyakit yang sering muncul saat dan sesudah berlibur. Jika Anda membutuhkan produk kesehatan maupun informasi kesehatan penting lainnya, bisa diperoleh dari www.prosehat.com atau install aplikasinya di google play atau app store. Atau hubungi (Maya) Asisten Kesehatan ProSehat, Telp/SMS/WhatsApp : 0811-18-16-800. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Sudoyo A, Djauzi S, Djoerban Z. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid 3). 4th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006.
    2. Gamarra R. Food Poisoning: Practice Essentials, Background, Pathophysiology [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 10 January 2019]. Available from: emedicine.medscape.com/article/175569-overview
    3. Lin B. Viral Gastroenteritis: Background, Pathophysiology, Etiology [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 10 January 2019]. Available from: emedicine.medscape.com/article/176515-overview
    Read More

Showing 1–10 of 18 results

Chat Asisten ProSehat aja