Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ penyakit”

Showing 1–10 of 13 results

  • Masalah Covid-19 belum selesai, kini para ahli kesehatan dunia menyatakan kekhawatiran bahwa akan ada calon virus penyebab pandemi bernama virus Nipah. Dinamakan demikian karena virus ini berasal dari sebuah kampung di Malaysia, tepatnya di Sungai Nipah. Virus ini disebut memiliki tingkat kematian 75% dan sampai saat ini belum ditemukan sama sekali vaksinnya. Adalah Supaporn Wacharapluesadee […]

    Virus Nipah, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19?

    Masalah Covid-19 belum selesai, kini para ahli kesehatan dunia menyatakan kekhawatiran bahwa akan ada calon virus penyebab pandemi bernama virus Nipah. Dinamakan demikian karena virus ini berasal dari sebuah kampung di Malaysia, tepatnya di Sungai Nipah. Virus ini disebut memiliki tingkat kematian 75% dan sampai saat ini belum ditemukan sama sekali vaksinnya. Adalah Supaporn Wacharapluesadee yang mengungkapkan hal tersebut setelah awalnya menyelidiki muasal Covid-19 di luar Wuhan, Cina.

    virus nipah, nipah virus

    Baca Juga: Mengenal Disease X, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19

    Ia mendapati bahwa ada virus lain mematikan selain Covid-19, yaitu virus Nipah, yang juga bersumber dari kelelawar buah, hewan yang merupakan inang alami virus. Dalam laman resminya, WHO menyatakan bahwa virus ini tidak hanya menular kepada manusia tetapi kepada hewan peternakan, terutama babi. Virus ini sebenarnya bukanlah virus baru karena sudah pernah ada laporan infeksi di Malaysia pada 1999, lalu Singapura, dan berlanjut ke Bangladesh dan India.

    WHO sendiri bahkan sudah memasukkan Nipah sebagai salah satu virus dalam 10 besar virus yang berpotensi menjadi ancaman bagi seluruh dunia. Hal tersebut berdasarkan ancaman potensial yang dimiliki virus tersebut, yaitu:

    • Mempunyai proses inkubasi yang lama hingga 45 hari yang berarti akan ada banyak kesempatan inang terinfeksi dan tidak menyadari saat menyebarkan
    • Mampu menginfeksi banyak jenis hewan sehingga menambah kemungkinan penyebarannya
    • Mampu menular melalui kontak langsung atau konsumsi makanan yang terkontaminasi

    Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan meminta kepada Indonesia untuk selalu meswapadai potensi penularan virus terutama dari kelelawar buah yang bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaya ke Pulau Sumatera, terutama Provinsi Sumatera Utara. Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Didik Budjianto, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Rabu, 27 Januari 2021.

    Meski sejauh ini belum ada kasus karena Nipah tersebut, Kemenkes meminta kepada masyarakat untuk mengetatkan diri terhadap perdagangan ternak terutama babi sebagai hewan yang potensinya cukup besar terserang virus.

    Gejala Terkena Virus

    Lalu seperti apa dan bagaimana gejala virus Nipah? Berikut seperti yang dilansir dari CDC. Gejala biasanya akan muncul dalam 4-14 hari setelah terpapar virus. Penyakit ini awalnya muncul dalam bentuk demam dan sakit kepala selama 3-14 hari, dan sering kali mengarah ke tanda-tanda penyakit pernapasan, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Fase peradangan otak (ensefalitis) dapat terjadi dengan gejala berupa kantuk, disorientasi, dan kebingungan mental, yang mampu berkembang cepat menjadi koma dalam waktu 24-48 jam.

    Baca Juga: Infodemik, Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    Ada dua gejala dari virus ini, yaitu gejala awal dan gejala berat

    Gejala awal berupa:

    • Demam
    • Sakit kepala
    • Batuk
    • Nyeri tenggorokan
    • Sulit bernafas
    • Muntah

    Sedangkan gejala berat yang bisa terjadi adalah

    • Disorientasi, mengantuk, atau kebingungan
    • Kejang
    • Koma
    • Peradangan otak (ensefalitis) yang berakibat kematian

    Kematian dapat terjadi pada 40-75% kasus. Efek samping jangka panjang pada penyintas infeksi virus Nipah adalah kejang permanen dan perubahan kepribadian. Infeksi penyebab gejala dan terkadang kematian ini (dikenal sebagai infeksi tidak aktif atau laten) juga bisa terjadi berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun setelah terpapar.

    Pencegahan

    Untuk pencegahan virus adalah sebagai berikut:

    • Sering mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air
    • Hindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sedang sakit
    • Hindari area tempat kelelawar biasanya bertengger
    • Hindari konsumsi nira kurma mentah
    • Hindari konsumsi buah-buahan yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar
    • Hindari kontak dengan darah atau cairan tubuh siapa pun yang diketahui terinfeksi virus

    Lokasi geografis lain mungkin berisiko terhadap wabah virus di masa mendatang, seperti kawasan tempat tinggal rubah terbang (kelelawar genus Pteropus). Habitat Kelelawar jenis ini berada di Kamboja, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand. Orang yang tinggal di atau mengunjungi daerah ini harus mempertimbangkan untuk mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti mereka yang tinggal di daerah di mana wabah telah terjadi.

    Selain langkah-langkah yang dapat diambil individu untuk menurunkan risiko infeksi virus Nipah, penting bagi ilmuwan, peneliti, dan komunitas yang berisiko untuk terus mempelajari untuk mencegah wabah di masa mendatang. Upaya pencegahan yang lebih luas meliputi:

    • Meningkatkan pengawasan hewan dan manusia di daerah virus diketahui berada
    • Meningkatkan penelitian tentang ekologi kelelawar buah untuk memahami habitat tinggal dan bagaimana mereka menyebarkan virus ke hewan dan manusia lain
    • Evaluasi teknologi atau metode baru untuk meminimalkan penyebaran virus di dalam populasi kelelawar
    • Memperbaiki alat untuk mendeteksi virus sejak dini di masyarakat dan ternak
    • Memperkuat protokol untuk pengaturan perawatan kesehatan pada praktik pengendalian infeksi standar untuk mencegah penyebaran dari orang ke orang

    Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu Sindemi?

    Sekian mengenai virus Nipah yang dikhawatirkan menjadi calon pandemi baru di saat Covid-19 belum mereda. Cara terbaik untuk mencegah virus yang ada dan berpotensi menjadi pandemi adalah tetap melakukan protokol kesehatan dan hindari daerah-daerah rawan terkena virus, dan hindari kontak binatang pembawa virus. Jangan lupa juga untuk deteksi dini terutama Covid-19 di Prosehat. Caranya mudah, Sahabat bisa mengakses langsung via website dan aplikasi lalu klik Layanan Kesehatan dan pilih Rapid Test Covid-19. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media K. Mengenal Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/01/26/100000723/mengenal-virus-nipah-ancaman-pandemi-berikutnya-di-asia?page=all
    2. Nipah virus infection [Internet]. Who.int. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.who.int/health-topics/nipah-virus-infection#tab=tab_1
    3. Indonesia C. Kemenkes Minta Waspada Ancaman Virus Nipah dari Malaysia [Internet]. nasional. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210127072312-20-598836/kemenkes-minta-waspada-ancaman-virus-nipah-dari-malaysia
    4. Signs and Symptoms | Nipah Virus (NiV) | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/vhf/nipah/symptoms/index.html
    5. Prevention | Nipah Virus (NiV) | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/vhf/nipah/prevention/index.html

     

    Read More
  • Penyakit kanker tulang adalah kanker yang menyerang tulang. Adanya kanker ini membuktikan bahwa penyakit tersebut ternyata tidak hanya menyerang organ-organ tubuh seperti hati, lambung, payudara, dan mata. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kanker tulang dapat menyerang  jenis tulang mana pun di dalam tubuh. Pada umumnya kanker ini dapat mengenai tulang di tungkai, lengan, […]

    Penyakit Kanker Tulang, dari Penyebab hingga Pencegahan

    Penyakit kanker tulang adalah kanker yang menyerang tulang. Adanya kanker ini membuktikan bahwa penyakit tersebut ternyata tidak hanya menyerang organ-organ tubuh seperti hati, lambung, payudara, dan mata. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Kanker tulang dapat menyerang  jenis tulang mana pun di dalam tubuh. Pada umumnya kanker ini dapat mengenai tulang di tungkai, lengan, dan panggul.

    prenyakit kanker tulang

    Baca Juga: Kanker dan Tumor Itu Sama? 

    Kanker tulang tergolong salah satu kondisi penyakit yang jarang terjadi dan tidak lebih dari 0,2% dari seluruh penderita kanker. Hal ini berdasarkan data yang dihimpun oleh American Cancer Society pada 2020. Sedangkan kanker tulang pada anak memiliki persentase sekitar 5% dari seluruh kasus penyakit kanker pada anak.

    Apa Saja Penyebabnya?

    Sejauh ini belum diketahui pasti penyebab kanker tulang. Meski begitu, faktor keturunan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tulang. Selain faktor keturunan, faktor-faktor tertentu dapat berkontribusi atau meningkatkan risiko kanker. Faktor-faktor tersebut seperti adalah sebagai berikut:

    Pertumbuhan sel tidak normal

    Sel sehat terus membelah dan menggantikan sel yang lebih tua. Setelah itu, sel-sel tersebut akan mati. Namun, sel-sel yang tidak normal akan tetap hidup dan membentuk massa jarungan yang bisa menjadi tumor pemicu kanker.

    Produk Terkait: Wellness Os Cal 60 Tablet

    Terapi radiasi

    Terapi ini tepat untuk membunuh sel kanker yang berbahaya namun metode pengobatan ini malah bisa memicu pembentukan sel kanker pada tulang. Biasanya, kondisi ini dipucu oleh penggunaan radiasi dosis tinggi.

    Siapa Saja yang Bisa Terkena?

    Seperti sudah disebutkan bahwa kanker tulang dapat menyerang siapa saja. Namun, ternyata terdapat beberapa orang dengan kondisi berikut berpotensi tinggi mengalami kanker tulang, yaitu:

    • Memiliki riwayat keluarga kanker terutama pernah menerima perawatan atau atau terapi radiasi di masa lalu
    • Menderita penyakit paget, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan tulang rusak, dan kemudian tumbuh kembali secara normal
    • Pernah memiliki beberapa tumor di tulang rawan yang merupakan jaringan ikut di tulang

    Seperti Apa Gejalanya?

    Gejala penyakit kanker tulang secara umum dapat berupa:

    • Nyeri dan bengkak pada tulang
    • Tulang mudah patah
    • Berat badan turun tanpa sebab
    • Berkeringat di malam hari
    • Tubuh mudah lelah atau kelelahan
    • Demam
    • Sensasi kebas atau mati rasa apabila kanker terjadi pada tulang belakang dan menekan saraf
    • Sesak napas apabila kanker tulang menyebar ke paru-paru
    • Tulang sakit sering menyebabkan terbangun di malam hari

    Apakah kanker ini mempunyai jenis?

    Kanker tulang mempunyai jenis. Jenis-jenisnya terbagi dua, yaitu primer dan sekunder. Untuk primer adalah sebagai berikut:

    Osteosarkoma

    Osteosarkoma juga dikenal dengan istilah sarcoma osteogenic. Kanker tulang ini adalah jenis yang paling umum diidap masyarakat. Biasanya kanker dimulai dari sel-sel tulang di lengan, kaki, atau panggul. Kanker ini sering terjadi pada orang berusia dari 10 sampai 30 tahun. Menurut berbagai penelitian, pasiennya lebih banyak berjenis kelamin pria daripada wanita.

    Kondrosarkoma

    Terbentuk di dalam sel tulang rawan, kondrosarkoma merupakan bentuk penyakit kanker tulang kedua yang paling umum. Meski demikian, jenis ini jarang terjadi pada orang di bawah usia 20 tahun kemungkinan berkembang hanya meningkat seiring bertambahnya usia.

    Baca Juga: Mengenal Gejala dan Pencegahan Osteoporosis

    Tumor Ewing

    Tumor ini juga dikenal sebagai sarkoma ewing. Umumnya, sel kanker akan dimulai dari tulang. Namun, jenis ini juga dapat terbentuk di jaringan dan otot lain. Para peneliti mengategorikan tumor ewing sebagai bentuk kanker tulang primer ketiga yang paling umum diderita. Tumor ewing paling sering terjadi pada anak-anak hingga remaja, dan jarang terlihat pada orang dewasa di atas usia 30 tahun.

    Sedangkan kanker tulang sekunder adalah kanker di tulang yang biasanya berawal di tempat lain dalam tubuh. Contohnya adalah kanker paru-paru yang menyebar ke tulang. Kanker sekunder ini kemudian disebut juga sebagai kanker metastasis karena berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Beberapa kanker yang biasanya menyebar ke tulang antara lain:

    • Kanker payudara
    • Kanker prostat
    • Kanker paru-paru

    Apakah Kanker Ini Dapat Diobati?

    Dapat. Pengobatannya berupa diagnosis dengan mengklasifikasikan kanker tulang primer secara bertahap. Tahapan ini menjelaskan letak kanker, tindakan yang harus dilakukan, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap bagian tubuh lainnya.

    • Stadium 1, kanker masih berada di satu area tulang atau belum menyebar dan tidak agresif.
    • Stadium 2, stadium ini sama seperti stadium 1 namun kanker lebih agresif mulai membesar
    • Stadium 3, di tahap ini kanker sudah menyebar ke lebih dari satu area, minimal berada di dua lokasi pada satu tulang yang sama
    • Stadium 4, tahap ini merupakan tahap tertinggi, kanker sudah menyebar ke organ lain seperti hati, paru, dan otak

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Stadium-stadium ini dapat ditentukan menggunakan metode berikut, yaitu:

    • Biopsi untuk menganalisis sampel kecil jaringan untuk mendiagnosis kanker
    • Pemindaian tulang untuk memeriksa kondisi tulang
    • Tes darah
    • Diagnosis melalui pencitraan yang mencakup sinar X, pemindaian MRI, dan CT Scan untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang struktur tulang

    Apakah Kanker Ini Bisa Dicegah?

    Sejauh ini seperti dilansir dari National Cancer Institute, tidak ada pencegahan untuk kanker tulang meski begitu Sobat bisa menerapkan pola hidup sehat sebagai pencegahan, yaitu:

    • Kurangi atau tidak merokok sama sekali
    • Kurangi atau tidak mengonsumsi alkohol sama sekali
    • Hindari makanan dan minuman yang mengandung lemak jahat dan berkarsinogen
    • Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung vitamin A dan D, dan sering berjemur di pagi hari untuk mendapatkan sinar matahari pagi sebagai cara alami mencegah kanker tulang
    • Berolahraga secara rutin

    Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok? Konsumsilah 6 Makanan Berikut Ini!

    Nah, Itulah mengenai penyakit kanker tulang dari penyebab hingga pencegahannya yang perlu Sobat Sehat ketahui. Perlu diingat kanker tulang bukan hanya menyerang pada orang dewasa lanjut usia saja, tetapi juga bisa menyerang kaum muda karena pola hidup yang tidak sehat. Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kanker tulang dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. What Is Bone Cancer? [Internet]. Cancer.org. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.cancer.org/cancer/bone-cancer/about/what-is-bone-cancer.html
    2. Bone Cancer: Types, Causes & Symptoms [Internet]. Healthline. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.healthline.com/health/bone-cancer#causes
    3. Bone Cancer—Patient Version [Internet]. National Cancer Institute. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.cancer.gov/types/bone
    4. (COVID-19) C, Health E, Disease H, Disease L, Management P, Conditions S et al. Bone Tumors: Cancerous and Benign [Internet]. WebMD. 2020 [cited 2 November 2020]. Available from: https://www.webmd.com/cancer/bone-tumors#1
    Read More
  • Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar dinamakan monkeypox. Pada tahun 1970, virus ini pertama kali ditemukan pada manusia di Republik Demokratik Kongo. Kemudian, Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan peliharaan eksotis (praire dog) […]

    Mari Cari Tahu lebih dalam tentang MonkeyPox

    Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar dinamakan monkeypox. Pada tahun 1970, virus ini pertama kali ditemukan pada manusia di Republik Demokratik Kongo. Kemudian, Amerika Serikat melaporkan kasus yang memiliki riwayat kontak dengan peliharaan eksotis (praire dog) yang terinfeksi dari tikus dari Afrika yang masuk ke Amerika tahun 2003.

    monkeypox

    Baca Juga: Waspadai Monkeypox yang Dapat Menyerang Anda

    Kejadian Luar Biasa (KLB) Monkeypox terjadi di Nigeria tahun 2017. Kasus terakhir yang menarik perhatian adalah di Singapura, ada warga Nigeria yang menderita monkeypox, dan 23 orang yang kontak erat dengannya sudah dikarantina. Wilayah yang terjangkit Monkeypox global adalah Afrika Tengah dan Barat (Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading,  Liberia, Sierra Leone, Gabon, dan Sudan Selatan)

    Monkeypox merupakan virus golongan orthopoxvirus yang menular dari hewan ke manusia. Hewan penular di negara terjangkit antara lain monyet,  anjing prairie, tupai, dan tikus Gambia. Monkeypox menular dari hewan ke manusia melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh/kulit hewan yang terinfeksi, dan mengonsumsi daging hewan yang terkontaminasi. Penularan antarmanusia sangat mungkin, tapi jarang.

    Masa inkubasi biasanya 6-16 hari tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari. Fase prodromal dapat berlangsung 1-3 hari, seperti demam sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Fase selanjutnya adalah fase erupsi yang merupakan fase paling infeksius. Fase ini ditandai dengan ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula lepuh berisi cairan bening (lepuh berisi nanah) kemudian mengeras krusta atau keropeng lalu rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari.

    Beda Monkeypox, Smallpox (variola) dan Chickenpox (cacar air)

    Karakteristik Monkeypox Smallpox Chickenpox
    Cara penularan Kontak dengan: Darah, cairan tubuh, luka terbuka pada hewan,konsumsi

    daging terinfeksi

    Percikan air liur atau kontak langsung dengan tubuh penderita yang terinfeksi Kontak langsung

    dengan tubuh

    penderita yang

    terinfeksi

    Masa inkubasi 5-21 hari 7-19 hari 5-7 hari
    Gejala dan tanda Khas:

    Pembengkakan

    kelenjar getah bening

    Tidak ada

    pembengkakan

    kelenjar getah

    bening

    Ruam dengan

    vesikel yang gatal

    Cara pencegahan Tidak ada vaksin,

    hindari faktor risiko

    dan daerah endemis

    Pernah ada vaksin

    tapi tidak

    diproduksi lagi

    sejak 1980

    Vaksin varicella

    (98%) efektif

    Beratnya penyakit Gejala ringan tapi

    tingkat

    perburukannya

    1-10%

    Perdarahan organ

    dalam sehingga

    dapat memburuk

    20-60%

     

    Secara kasat mata monkeypox sulit membedakan dengan penyakit ruam lain seperti cacar air, campak, kudis, sifilis, alergi obat, dan infeksi kulit karena bakteri. Diagnosis dengan tepat adalah dengan memeriksakan ke laboratorium.

    Baca Juga: Cacar Air dan Pencegahan yang Bisa Kamu Coba

    Perawatan Penderita Monkey Pox:

    • Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi untuk monkey pox
    • Pengobatan dilakukan untuk mengurangi gejala yang timbul
    • Penderita akan diisolasi guna mencegah penularan pada fase erupsi
    • Daya tahan tubuh penderita menurun, sehingga rentan terkena penyakit lain

    Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Jenis-jenis Vaksin

    Pencegahan Penularan Monkey Pox

    • Perilaku hidup bersih sehat dengan mencuci tangan dengan air sabun atau cairan pembersih desinfektan lain
    • Hindari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan daging yang tidak dimasak dengan baik
    • Hindari kontak fisik dengan penderita termasuk tempat tidur dan bajunya
    • Hindari kontak dengan hewan liar/ konsumsi daging hasil buruan
    • Bagi pelancong yang bepergian ke daerah endemis hendaklah memeriksakan diri bila ada gejala diatas dalam waktu < 3 minggu setelah pulang
    • Tenaga medis memakai alat pelindung diri ketika memeriksa pasien yang terinfeksi.

    Monkeypox atau cacar monyet memang tidak bisa divaksin seperti penyakit lainnya. Namun, Sobat tidak perlu khawatir. Yang penting tetap menjaga kebersihan. Apabila Sobat menderita jenis cacar yang lain seperti cacar air, Sobat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Libur panjang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Momen yang paling pas untuk melepaskan penat dan stres setelah sekian lama bekerja. Sehingga, saat kita berlibur harus dalam keadaan yang sehat dan prima bukan? Berikut kita akan membahas penyakit yang sering timbul saat ataupun setelah berlibur. Apa saja penyakitnya dan bagaimana cara kita mengantisipasinya? […]

    Libur Panjang, Hati-hati Penyakit Mengintai

    Libur panjang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Momen yang paling pas untuk melepaskan penat dan stres setelah sekian lama bekerja. Sehingga, saat kita berlibur harus dalam keadaan yang sehat dan prima bukan? Berikut kita akan membahas penyakit yang sering timbul saat ataupun setelah berlibur. Apa saja penyakitnya dan bagaimana cara kita mengantisipasinya?

    Penyakit yang sering timbul pada saat berlibur biasanya adalah penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan, karena saat berlibur berburu kuliner merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan. Tiga penyakit tersering yang biasa muncul saat berlibur adalah keracunan makanan, gastroenteritis akut, dan tifoid.

    KERACUNAN MAKANAN

    Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan bakteri, parasit, virus, maupun zat kimia. Gejala dari keracunan makanan dapat sangat bervariasi, tergantung dari derajat penyakit dan tingkat keparahannya.

    • Nyeri perut, gejala ini merupakan efek dari peradangan saluran pencernaan.
    • Muntah, termasuk gejala yang sering ditemukan terutama dari penyebab infeksi bakteri dan virus.
    • Diare, biasanya gejala ini kurang dari 2 minggu.
    • Nyeri kepala.
    • Demam, tergantung dari tingkat keparahan penyakit, apabila berat, kondisi keracunan makanan dapat menimbulkan demam.
    • Perubahan pada BAB, apabila terjadi kerusakan yang invasif pada saluran pencernaan, BAB bisa berdarah.

    Baca Juga: 7 Lokasi Snorkeling di Jakarta

    Keracunan makanan depat dicegah dengan  menjaga kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan saat akan makan, makanlah masakan yang benar-benar matang, dan jagalah bekal Anda pada suhu yang sesuai agar tidak basi.

    Penanganan yang dapat segera dilakukan adalah memberikan cairan agar tidak mengalami kondisi dehidrasi, dan hindari produk-produk yang mengandung susu terutama apabila terdapat gejala diare karena dapat memperparah diarenya, dan segera bawa ke dokter.

     GASTROENTERITIS AKUT

    Gastroenteritis adalah peradangan pada saluran pencernaan, penyebab yang paling sering pada penyakit ini adalah virus dan terkadang juga bakteri. Pada gastroenteris viral akut sering ditandai dengan demam ringan, muntah, diikuti diare cair dan bukan diare berdarah. Gastroenteritis viral akut umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, tapi kita tetap harus memerhatikan kadar cairan di tubuh, jangan sampai mengalami dehidrasi.

    Maka dari itu penanganan yang utama adalah cairan, pastikan minum harus cukup, usahakan konsumsi cairan yang isotonik untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang terbuang saat muntah dan diare. Pencegahan paling penting adalah melakukan vaksinasi rotavirus sebelum berlibur, karena virus yang umumnya menyebabkan penyakit ini adalah rotavirus.

    Baca Juga: 5 Persiapan Sebelum HoneyMoon

    DEMAM TIFOID

    Demam tifoid masih merupakan penyakit endemis di Indonesia. Penyebab dari penyakit ini adalah kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi yang masuk ke dalam tubuh manusia, terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Gejala yang timbul dapat sangat bervariasi dari ringan sampai berat. Biasanya jarak antara kuman masuk ke tubuh sampai timbul gejala cukup panjang sekitar 10-14 hari.  Pada minggu pertama gejala yang sering muncul demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, sulit BAB, ataupun diare.

    Pada minggu ke dua gejala menjadi semakin jelas, umumnya gejala yang sangat dominan adalah demam, lidah yang kotor di tengah umumnya lidah berwarna putih. Apabila sobat melihat gejala seperti ini pada keluarga atau kerabat saat atau sesudah berlibur segeralah bawa ke dokter, karena butuh penanganan yang adekuat. Umumnya pasien demam tifoid akan membutuhkan istirahat yang cukup dan terapi pengobatan.

    Baca Juga: 5 Penyebab Tifus dan Pencegahannya

    Nah, Sobat itulah sekilas informasi mengenai penyakit yang sering muncul saat dan sesudah berlibur. Jika Anda membutuhkan produk kesehatan maupun informasi kesehatan penting lainnya, bisa diperoleh dari www.prosehat.com atau install aplikasinya di google play atau app store. Atau hubungi (Maya) Asisten Kesehatan ProSehat, Telp/SMS/WhatsApp : 0811-18-16-800. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Sudoyo A, Djauzi S, Djoerban Z. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Jilid 3). 4th ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2006.
    2. Gamarra R. Food Poisoning: Practice Essentials, Background, Pathophysiology [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 10 January 2019]. Available from: emedicine.medscape.com/article/175569-overview
    3. Lin B. Viral Gastroenteritis: Background, Pathophysiology, Etiology [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2018 [cited 10 January 2019]. Available from: emedicine.medscape.com/article/176515-overview
    Read More
  • Polio. Siapa sih di antara kita yang tidak asing dengan penyakit ini? Atau siapa sih di antara kita yang tidak mengenal penyakit ini? Penyakit polio merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena merupakan salah satu penyakit berbahaya dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Apakah penyakit berbahaya yang satu ini masih […]

    Penyakit Polio Menular atau Tidak?

    Polio. Siapa sih di antara kita yang tidak asing dengan penyakit ini? Atau siapa sih di antara kita yang tidak mengenal penyakit ini? Penyakit polio merupakan salah satu penyakit yang ditakuti karena merupakan salah satu penyakit berbahaya dan apabila tidak segera ditangani maka dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Apakah penyakit berbahaya yang satu ini masih sering ditemui di Indonesia? Jika iya, seberapa seringkah seseorang mengalami penyakit ini?

    Polio merupakan salah satu penyakit yang sangat sering menyerang balita bahkan juga bisa menyerang kita yang sudah tidak muda lagi. Seperti layaknya penyakit campak ataupun cacar, penyakit polio sangat mudah menyerang mereka yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang bagus. Data UNICEF menyatakan jika 20 tahun silam setidaknya 1.000 anak menjadi lumpuh karena penyakit ini. Dampak yang sangat mengerikan dari polio bukan? Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi penyakit polio?

    Dokter melakukan gerakan inovatif, lebih tepatnya Gerakan Pemberantasan Polio Global yang digalakkan sejak tahun 1988. Apakah gerakan ini berhasil? Kabar bahagianya, pada tahun 2004 hanya ditemukan 1.266 kasus polio di seluruh dunia berkat dilakukannya gerakan ini. Penurunan yang cukup drastis bukan? Lalu, bagaimana dengan kasus polio di Indonesia setelah dilakukannya gerakan ini? Apakah juga menurun layaknya di negara lain?

    Angka Polio Indonesia

    Apakah Gerakan Pemberantasan Polio Global juga memiliki pengaruh positif di Indonesia? Sayangnya kasus polio ini muncul kembali di Indonesia pada tahun 2005, di mana kasus ini terjadi pada anak berusia 20 bulan. Semenjak kasus ini terjadi, polio juga mulai bermunculan di berbagai daerah Indonesia lainnya – terlebih anak yang belum mendapatkan imunisasi polio. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara di peringkat ke 16 yang kembali terserang virus polio bahkan dikhawatirkan dapat menjadi pengekspor virus polio ke negara tetangga, bahkan Asia Timur. Lalu, apa upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini?

    Yup, bukan rahasia lagi jika virus polio adalah virus ganas yang dapat menyebabkan kelumpuhan bagi penderitanya; baik cepat ataupun lambat. Hingga saat ini, belum ditemukan obat yang mampu mengatasi polio sehingga WHO (World Health Organization) menggalakkan program imunisasi polio dan hal ini juga dilakukan di Indonesia. Kabar baiknya, sejak tahun 2014 Indonesia sudah dinyatakan sebagai salah satu negara yang bebas polio seperti halnya beberapa negara di Asia Tenggara, Eropa, Pasifik Barat, juga Amerika Serikat. Sebemarnya bagaimana sih asal mula polio ini terjadi? Kapan kita tahu seseorang terjangkit virus mematikan yang satu ini?

    Diagnosis Polio

    Meskipun Indonesia sudah dinyatakan sebagai salah satu negara yang bebas polio, bukan berarti kita sudah 100 persen aman dari penyakit ini. Ketika seseorang terserang virus polio, cepat atau lambat virus ini akan menyerang sistem pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan sewaktu-waktu – terutama pada bagian kaki. Virus polio  merupakan salah satu virus yang cepat menyebar dari satu orang ke orang lainnya terutama melalui makanan ataupun minuman yang sudah terkontaminasi dengan tinja virus tersebut (fekal-oral). Seramnya lagi, virus polio juga bisa menyebar dengan cepat melalui udara atau lebih tepatnya ketika sesorang bersin ataupun batuk. Lalu, siapa saja yang rentan terserang virus polio?

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, virus polio sangatlah rentan menyerang kita yang tidak memiliki daya imun yang bagus. Namun, bukan hanya itu saja, virus polio juga mudah menyerang mereka yang bepergian ke suatu tempat yang masih rawan virus polio seperti beberapa negara di Afrika; misalnya saja Nigeria, Afganistan, ataupun Pakistan. Seseorang yang juga sudah melakukan operasi amandel juga lebih mudah mengalami penyakit polio karena daya tahan tubuh yang lebih rendah daripada orang lainnya. Kapan kita bisa mengetahui seseorang terjangkit polio? Gejala apakah yang biasanya muncul dari penyakit polio ini?

    Gejala Polio

    Apa saja, ya kira-kira gejala dari penyakit polio? Sebelum kita membahas apa saja gejala polio, ada baiknya kita mengetahui apa saja jenis dari penyakit polio. Wah, memangnya polio terdiri dari berbagai jenis ya?

    Penyakit polio sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu polio non-paralisis, polio paralisis, serta sindrom pasca-polio. Memangnya, apa sih perbedaan antara satu jenis polio dengan jenis polio lainnya? Nah, daripada semakin penasaran, yuk mending kita simak penjelasan yang satu ini!

    1. Polio non-paralisis

    Jenis penyakit polio yang pertama sering kali dikenal dengan poli non-paralisis. Jenis polio yang satu ini tidak berbahaya seperti jenis polio lainnya alias tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejala polio non-paralisis antara lain adalah radang selaput otak (meningitis) yang biasanya ditandai dengan kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Kemudian, gejala polio non-paralisis lainnya adalah merasa cepat lelah, sakit tenggorokan, demam, melemahnya otot serta rasa sakit pada bagian kaki, tangan, leher serta punggung.

    2. Polio paralisis

    Jenis polio berikutnya adalah jenis polio yang berbahaya karena dapat menyebabkan kelumpuhan sewaktu-waktu. Lalu bagaimana dengan gejala polio paralisis? Gejalanya sendiri sama dengan gejala polio non-paralisis dan biasanya berlangsung dalam rentang waktu satu pekan. Sedangkan kelumpuhan sendiri bisa terjadi sewaktu-waktu alias tanpa prediksi yang jelas, contohnya saja bisa terjad dalam hitungan jam setelah kita terinfeksi virus polio ataupun dalam hitungan hari.

    3. Sindrom pasca-polio

    Jenis polio terakhir biasa kita kenal dengan sindrom pasca-polio, terjadi pada seseorang yang mengalami polio sebelumnya dan muncul pada usia sudah dewasa – lebih tepatnya dalam rentang usia 30 hingga 40 tahun. Beberapa gejala yang menandakan kita mengalami sindrom pasca-polio adalah sebagai berikut:

    • Sulit berkonsentrasi atau bahkan mudah lupa;
    • Bagian persendian atau otot yang melemah atau sering terasa sakit;
    • Mengalami depresi atau suasana hati yang mudah berubah;
    • Kesulitan untuk tidur disertai dengan kesulitan bernafas;
    • Tidak kuat terhadap suhu dingin.

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai polio. Yup, polio adalah sebuah penyakit yang mudah untuk menular sehingga kita perlu rutin melakukan vaksin polio sehingga kita tidak terserang penyakit mematikan ini. Vaksin polio sendiri sudah bisa diberikan sejak balita, lebih tepatnya sejak anak lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan yang terakhir adalah ketika anak berusia 18 bulan sesuai dengan rekomendasi pemerintah. Lalu, bagaimana dengan kita yang tidak mendapatkan vaksin polio ketika kecil?

    Menariknya, kita yang sudah beranjak dewasa tetapi belum pernah mendapatkan vaksin polio sebelumnya juga bisa mendapatkan vaksin ini sebanyak tiga kali. Vaksin polio untuk orang dewasa bisa dilakukan sebanyak tiga kali, di mana rentang antara vaksin pertama dengan vaksin kedua adalah 1 hingga 2 bulan sedangkan dengan vaksin ke-tiga dengan rentang waktu antara 6 hingga 12 bulan. Tentu saja kita bisa mendapatkan vaksin ini pada pelayanan kesehatan terdekat sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk malas melakukan vaksin polio. Pastinya sekarang sudah tidak takut lagi dengan penyakit polio bukan?

    Untuk sobat yang tidak ingin antri melakukan vaksinasi maka bisa membeli vaksin polio di prosehat. Layanan vaksinasi datang ke rumah, aman dan terjangkau. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • https://www.tanyadok.com/anak/polio-tidak-hanya-menyerang-kaki-anda
    Read More
  • Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri. Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan […]

    Kenali Penyebab Penyakit Hepatitis

    Penyebab penyakit kuning atau yang dikenal dengan istilah hepatitis ini bermacam-macam loh Sobat! Meski penyebabnya bervariasi dan tidak selalu virus, hepatitis kerap dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis karena inilah penyebab tersering hepatitis di dunia, Amerika Serikat, dan bahkan di Indonesia sendiri.

    Kali ini kita akan membahas mengenai perbedaan dari macam-macam virus yang paling sering menyebabkan hepatitis, sehingga kita bisa memahami betapa pentingnya pencegahan hepatitis melalui pemberian vaksin.

    Apa saja virus yang paling umum menyebabkan hepatitis? Perlu diketahui, ada 5 virus yang paling sering menginfeksi organ hati kita dan menyebabkan hepatitis, yaitu virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Pada umumnya kelima virus ini dapat memberikan gejala yang kurang lebih mirip antara satu dengan lainnya.

    Gejala yang muncul sangat bervariasi, mulai dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala namun berakibat fatal di kemudian hari. Pembeda kelima virus ini adalah masing-masing virus mempunyai kecenderungan berbeda dalam memberikan gejala akut ringan sampai berat ataupun kronis tidak bergejala.

    Penyebab penyakit kuning atau hepatitis yang disebabkan oleh kelima virus ini dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian besar:

    Kelompok pertama adalah virus yang ditularkan secara fekal-oral, yaitu hepatitis A dan E. Istilah penularan secara fekal-oral ini artinya penyakit ini ditularkan melalui makanan/minuman yang sudah terkontaminasi oleh feses/kotoran manusia, lalu masuk ke dalam tubuh kita melalui mulut. Tentu kondisi ini sangat berhubungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk.

    Kelompok yang kedua adalah virus yang ditularkan melalui darah, yaitu hepatitis B, C, dan D. Virus yang paling umum dikenal adalah virus hepatitis A, B dan C. Data menunjukkan sebanyak 44% kasus hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis A, 49% oleh virus hepatitis B, dan 7% oleh virus hepatitis C.

    Lalu bagaimana dengan virus hepatitis D dan E? Selain lebih tidak umum dikenal, kedua virus ini ternyata memiliki keunikannya masing-masing. Virus hepatitis D tidak dapat menginfeksi manusia secara independen, dimana virus ini membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi tubuh manusia. Sedangkan virus hepatitis E ini sangat mirip dengan virus hepatitis A.

    • Hepatitis A dan E

    Virus hepatitis A ini sangat infeksius, dan biasanya ditularkan melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi feses, sehingga penyakit ini sangat berhubungan erat dengan kebersihan. Selain melalui makanan/minuman yang terkontaminasi, penularan melalui darah juga dapat terjadi meski cukup jarang terjadi karena virus ini berada di dalam peredaran darah dalam waktu yang cukup singkat, tidak seperti virus hepatitis B dan C. Rute penularan lain yang juga mungkin terjadi adalah melalui hubungan seksual oral-anal, dan penggunaan jarum suntik bersama dan berulang meskipun jarang.

    Virus hepatitis A dapat menyerang segala usia, tapi paling sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Bila seseorang terinfeksi virus ini, maka membutuhkan waktu 2-3 minggu sampai akhirnya memberikan gejala. Masa 2 minggu sebelum gejala muncul  merupakan masa yang sangat infeksius, dimana virus sudah keluar lewat feses dan dapat dengan mudah menularkan, terutama pada lingkungan tempat tinggal yang padat dan sanitasi yang buruk. Gejala awal yang ditimbulkan berupa demam, nyeri kepala dan nyeri otot, hilangnya nafsu makan, mual-mual hingga muntah, lemas, dan nyeri pada perut terutama pada bagian kanan atas perut.

    Setelah itu biasanya diikuti dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning dan urin berwarna gelap seperti teh. Tapi, satu hal yang perlu diingat bahwa tidak semua orang yang terinfeksi hepatitis A akan memberikan gejala. 90% dari anak-anak dan 25% dari orang dewasa yang terinfeksi hepatitis A tidak memberikan gejala, sehingga tanpa disadari sudah menyebarkan virus hepatitis A melalui feses mereka. Namun jangan khawatir, setiap orang yang terkena hepatitis A dapat sembuh dengan sempurna karena virus ini tidak akan berlanjut menjadi kronis. Derajat gejala yang ditimbulkan juga biasanya bertaraf ringan sampai sedang.

    Hepatitis E sangat mirip dengan hepatitis A, dari metode penularannya yang juga sama yaitu melalui makanan/minuman yang terkontaminasi feses (fekal-oral), hingga gejala yang ditimbulkan. Hepatitis E pun dapat sembuh sempurna seperti hepatitis A. Karena kemiripan inilah maka cukup sulit untuk kita membedakan hepatitis A dan E. Bahkan, beberapa kasus pun mendapati hepatitis E menginfeksi bersamaan dengan hepatitis A.

    Pemeriksaan untuk mendeteksi hepatitis E tidak tersedia secara luas, tidak seperti pemeriksaan hepatitis A. Penelitian yang dilakukan di India mendapati bahwa memang sebenarnya jumlah kasus hepatitis A lebih banyak terjadi (sebanyak 68%) dari pada hepatitis E (sebanyak 31%). Namun penelitian juga menunjukkan bahwa hepatitis E ternyata memberi gejala yang lebih berat jika terinfeksi saat sedang hamil, sehingga perlu menjadi perhatian bagi ibu-ibu yang sedang hamil untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih supaya tidak sampai tertular.

    Pencegahan hepatitis A dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi hepatitis A, dan vaksin ini juga sudah tersedia di Indonesia. Pemberian vaksin ini akan memberikan kekebalan 94-100% terhadap hepatitis A. Di Amerika sendiri, setelah pemberian vaksin hepatitis A dirutinkan pada anak-anak, angka kejadian hepatitis A ternyata berkurang cukup signifikan.

    • Hepatitis B dan D

    Hepatitis B berbeda dengan hepatitis A. Hepatitis B adalah penyebab tersering penyakit hati kronis dan kanker hati di seluruh dunia. Hepatitis B ini hanya ditularkan melalui cairan tubuh, dan yang terutama adalah melalui darah. Beberapa hal yang dapat menularkan virus hepatitis B adalah penggunaan jarum suntik bersama dan berulang, kontak darah yang terinfeksi hepatitis B dengan luka atau selaput lendir, transfusi darah yang mengandung virus hepatitis B, jarum tato, hubungan seksual, dan penularan dari ibu yang sudah terinfeksi hepatitis B kepada bayinya.

    Gejala yang dapat muncul pada hepatitis B cukup bervariasi, dapat berupa gejala akut seperti pada hepatitis A, seperti demam, sakit kepala, mual dan muntah, nyeri perut, hingga perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, namun seringkali tidak bergejala, atau bahkan hanya memberikan gejala yang sangat minimal dan tidak spesifik. Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B dapat berlanjut menjadi kronis yang tidak bergejala, dan sekitar 15-40% pada akhirnya menyebabkan kerusakan hati dan sirosis hati yang fatal di kemudian hari.

    Biasanya 90% bayi yang tertular hepatitis B dari ibunya atau tertular hepatitis B pada saat berusia anak-anak akan mengalami infeksi yang kronis dan tidak bergejala, atau yang lazimnya disebut sebagai carrier, dan ternyata inilah penyumbang tertinggi angka penyakit hepatitis B di seluruh dunia. Metode penularan lain juga berisiko berlanjut menjadi infeksi yang kronis tapi dengan kemungkinan lebih kecil sebesar 5-10%.

    Lalu, bagaimana dengan hepatitis D? Hepatitis D adalah virus yang sangat unik, dimana ia membutuhkan virus hepatitis B untuk bisa menginfeksi manusia. Cara penularannya juga sama seperti hepatitis B, yaitu melalui darah. Berdasarkan data, hepatitis D merupakan infeksi virus hepatitis yang paling jarang dibandingkan keempat lainnya.

    Hepatitis D bisa langsung terjadi bersamaan terjadi dengan hepatitis B atau disebut sebagai ko-infeksi, atau pada orang yang sudah mengalami hepatitis B kronis terlebih dahulu, lalu tertular hepatitis D di kemudian hari, dan hal ini disebut sebagai super-infeksi. Persyaratannya harus ada virus hepatitis B bersamanya karena virus hepatitis D adalah virus yang ‘tidak utuh’.

    Nah, gejala yang ditimbulkan biasanya bervariasi. Biasanya ko-infeksi hepatitis B dan D menghasilkan gejala akut yang ringan atau kadang tidak bergejala, kurang lebih mirip dengan infeksi hepatitis B pada umumnya. Namun, pada kondisi super-infeksi, gejala yang muncul biasanya cukup berat, bahkan bisa dikatakan gejalanya paling berat dibandingkan dengan gejala akut keempat virus hepatitis lainnya.

    Baik ko-infeksi maupun super-infeksi, keduanya mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala. Ini artinya, orang tersebut membawa 2 virus sekaligus di dalam tubuhnya. Kondisi infeksi kronis hepatitis B dan D secara bersamaan ini mempercepat terjadinya kerusakan hati fatal di kemudian hari. Sebagai perbandingan, infeksi hepatitis B saja dapat menyebabkan kerusakan hati fatal sekitar 15-40%, tapi meningkat menjadi 70-80% pada infeksi hepatitis B dan D secara bersamaan.

    Mengingat baik hepatitis B dan D ini dapat berakibat fatal, ditambah pengobatannya yang tidak mudah, maka lebih baik bagi kita untuk mencegah agar tidak sampai tertular. Pencegahan terbaik saat ini selain menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus ini adalah dengan vaksinasi hepatitis B. Hepatitis D tidak akan terjadi tanpa hepatitis B, sehingga vaksinasi hepatitis B secara tidak langsung juga akan melindungi kita terhadap hepatitis D. Vaksin hepatitis B ini tersedia secara luas di Indonesia dan bahkan termasuk dalam program imunisasi dasar dan wajib bagi anak-anak Indonesia.

    • HEPATITIS C

    Yang terakhir adalah hepatitis C. Nah hepatitis C ini juga menjadi salah satu masalah kesehatan secara global, di mana hepatitis merupakan penyebab infeksi kronis yang ditularkan melalui darah yang paling sering salah satunya di negara maju seperti Amerika Serikat. WHO menyatakan sekitar 3% populasi dunia terinfeksi hepatitis C. Di negeri kita penyebab kerusakan hati kronis yang fatal paling banyak tidak hanya disebabkan oleh hepatitis B, tapi juga hepatitis C, loh!

    Hal yang paling menyulitkan adalah belum adanya vaksin yang ditemukan untuk mencegah penyakit hepatitis C hingga saat ini. Pengobatannya pun terbilang cukup sulit, sama halnya dengan hepatitis B. Hepatitis C dapat ditularkan melalui transfusi darah yang mengandung virus hepatitis C, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersamaan dan berulang, transplantasi organ,dan penularan dari ibu yang sudah terkena hepatitis C kepada bayinya. Tidak seperti hepatitis B, penularan hepatitis C dari ibu kepada bayinya dapat terjadi tapi kemungkinannya lebih kecil, yaitu sekitar 4%.

    Hepatitis C ini sangat jarang memberikan gejala akut dibandingkan dengan semua jenis virus hepatitis lainnya, sehingga banyak sekali yang tidak menyadari dirinya sudah terinfeksi hepatitis C.Gejala infeksi akut seringkali memberikan gejala yang tidak khas dan ringan. Tidak heran kebanyakan infeksi hepatitis C baru diketahui/disadari saat sudah terjadi kerusakan hati berat ataupun sirosis hati.

    Sekitar 50-85% pasien yang terinfeksi hepatitis C akan berkembang menjadi infeksi kronis, loh! Angka ini sangat besar jika dibandingkan dengan hepatitis B. Melihat kondisi ini, ditambah dengan pengobatan yang tidak mudah serta belum ditemukannya vaksin hepatitis C, maka metode pencegahan terbaik adalah menghindari agar tidak tertular hepatitis C.

    Pentingnya Vaksinasi

    Nah, setelah membaca 5 penyebab penyakit kuning atau hepatitis ini lebih dalam, tentu kita sudah paling tidak dapat menyadari bahwa hepatitis bukanlah sekedar penyakit biasa. Oleh karena itu,   kita perlu untuk menjaga diri agar tidak sampai tertular hepatitis A, B, C, D, ataupun E, mulai dari berusaha menghindari berbagai hal yang dapat menularkan virus hepatitis, dan mencegahnya dengan vaksinasi.

    Penurunan jumlah insiden kasus hepatitis A dan B di Amerika Serikat setelah ditemukannya vaksin hepatitis A dan B

    Inilah mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting dilakukan. Jika diperhatikan, gambar di atas adalah salah satu bukti bahwa jumlah insiden kasus hepatitis menurun drastis setelah ditemukannya dan diberlakukannya vaksinasi hepatitis A dan B secara luas. Baik vaksin hepatitis A maupun B keduanya tersedia di Indonesia, dan vaksinasi hepatitis B pun termasuk dalam imunisasi dasar dan wajib pada anak-anak.

    Nah, jika Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Sahabat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Chamberlain NR. The big picture: medical microbiology. USA: The McGraw-Hill Companies; 2009. p. 99-208.
    2. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-78.
    3. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-93.
    4. Godara H, Hirbe A, Nassif M, Otepka H, Rosenstock A. The washington manual of medical therapeutics. USA: Washington University School of Medicine; 2014. p. 667-83.
    5. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-9.
    6. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 319;357;375.
    7. Kasper, Fauci, Hauser, Longo, Jameson, Loscalzo. Harrison’s manual of medicine. 19th ed. USA: The McGraw-Hill Companies: 2016. p. 809-15.
    8. Shenoy S, Baliga S, Joon A, & Rao P. Prevalence of hepatitis A virus (HAV) and hepatitis E virus (HEV) in the patients presenting with acute viral hepatitis. Indian Journal of Medical Microbiology. 2015;33(5); 102.
    9. Depkes.go.id. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sebagian Besar Kematian Akibat Hepatitis Virus Berhubungan dengan Hepatitis B dan C Kronis. 26 April 2016. Available at: depkes.go.id
    10. Yeung CY. Vertical transmission of hepatitis C virus: current knowledge and perspectives. World Journal of Hepatology. 2014;6(9);643.
    Read More
  • Seiring dengan perubahan gaya hidup, semakin banyak orang yang mengidap sirosis hati, atau yang dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan sirosis hepatis. Banyak masyarakat bertanya dapatkah sirosis hati disembuhkan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu sirosis hati. Sirosis hati adalah penyakit kronis hepar atau hati yang bersifat irreversible yang […]

    Sirosis Hati, Penyakit Hati Kronis Yang Tidak Dapat Disembuhkan

    Seiring dengan perubahan gaya hidup, semakin banyak orang yang mengidap sirosis hati, atau yang dalam bahasa kedokteran dikenal dengan sebutan sirosis hepatis. Banyak masyarakat bertanya dapatkah sirosis hati disembuhkan? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu sirosis hati.

    penyakit hati kronis

    Sirosis hati adalah penyakit kronis hepar atau hati yang bersifat irreversible yang artinya tidak dapat kembali seperti semula. Khas pada penyakit ini adalah ditandai dengan penggantian jaringan hati oleh fibrosis, jaringan parut dan nodul regeneratif (benjolan yang terjadi sebagai hasil dari sebuah proses regenerasi jaringan yang rusak) akibat nekrosis hepatoseluler (kematian sel hati), yang mengakibatkan penurunan hingga hilangnya fungsi hati. Dalam bahasa awam penyakit sirosis hati ini dikenal juga dengan sebutan penyakit liver.

    Keseluruhan insiden sirosis hati di Amerika diperkirakan 360 per 100.000 penduduk. WHO tahun 2002 memperkirakan 783.000 pasien di dunia meninggal akibat sirosis hati. Sirosis hati paling banyak disebabkan oleh penyalahgunaan akohol dan infeksi virus hepatitis. Di Indonesia,  sirosis hati banyak dihubungkan dengan infeksi virus hepatitis B dan C, sekitar 20 % pasien hepatitis kronik berkembang menjadi sirosis hati. Data menunjukkan hampir sekitar 57 % pasien sirosis hati juga terinfeksi hepatitis B atau C.

    Penelitian di Korea menyatakan bahwa sirosis hati adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian di Korea. Data lain juga menunjukkan bahwa sirosis hati menduduki urutan ke-8 penyebab kematian di Korea pada tahun 2007. South East Asia Regional Office (SEARO) tahun 2011 melaporkan sekitar 5,6 juta orang di Asia Tenggara adalah pembawa hepatitis B dan sekitar 480.000 orang di Asia Tenggara pembawa hepatitis C.

    Baca Juga: 
    8 Alasan Kenapa Bayi Baru Lahir Perlu Suntik Hepatitis B
    12 Cara Pencegah Hepatitis B

    Di Indonesia, data prevalensi sirosis hati belum ada secara pasti. Di RS Sardjito Yogyakarta pada tahun 2004 mendata terdapat sekitar 4,1% dari pasien penyakit dalam yang dirawat di rumah sakit menderita sirosis hati. Lebih dari 40 % pasien sirosis adalah asimptomatis atau sering tanpa gejala sehingga kadang ditemukan pada waktu pasien melakukan pemeriksaan rutin atau karena penyakit yang lain.

    Beberapa faktor pencetus timbulnya sirosis hati, yaitu infeksi virus hepatitis (B, C, dan D), alkohol, kelainan metabolik berupa hemakromatosis (kelebihan beban besi), penyakit Wilson (kelebihan beban tembaga), defisiensi Alphal-antitripsin, glikonosis type-IV, galaktosemia, dan tirosinemia, malnutrisis (gizi kurang ataupun gizi buruk), toksin dan obat, sistosomiasis, sumbatan saluran empedu, sumbatan aliran pembuluh darah vena, dan autoimun. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, di negara barat penyebab terbanyak sirosis hati adalah konsumsi alkohol, sedangkan di Indonesia terutama disebabkan oleh virus hepatitis B maupun C.

    Sirosis hati secara klinis dibagi menjadi dua, yaitu sirosis hati kompensata di mana pada kondisi ini sirosis hati masih belum menunjukkan gejala klinis dan sirosis hati dekompensata yaitu sirosis hati yang menunjukkan gejala-gejala yang jelas. Pada stadium kompensasi sempurna sulit menegakkan diagnosis sirosis hati. Pada proses lanjutan dari kompensasi sempurna mungkin bisa ditegakkan diagnosis dengan bantuan pemeriksaan klinis yang cermat, dan pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan laboratorium darah. Namun tetap golden standard penegakan diagnosis sirosis hati adalah dengan biopsi hati, yaitu mengambil sedikit jaringan hati

    Pada stadium awal (kompensata), di mana kompensasi tubuh terhadap kerusakan hati masih baik, sirosis hati seringkali muncul tanpa gejala. Gejala-gejala awal sirosis hati meliputi perasaan mudah lelah dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual, berat badan menurun, pada laki-laki dapat timbul impotensi, testis mengecil dan dada membesar, serta hilangnya dorongan seksualitas. Pada stadium ini sering muncul pertanyaan, sirosis hati bisakah disembuhkan? Belum ada bukti bahwa penyakit sirosis hati dapat bersifat reversible (kembali seperti semula), tetapi dengan kontrol pasien yang teratur pada fase ini diharapkan dapat memperpanjang status kompensasi dalam waktu yang lama dan mencegah timbulnya komplikasi, tapi tetap tidak dapat disembuhkan.

    Baca Juga:
    5 Cara Pencegahan Hepatitis A Pada Anak
    10 Ciri – Ciri Terkena Hepatitis B

    Bila sudah lanjut (berkembang menjadi sirosis dekompensata) gejala-gejala akan menjadi lebih menonjol terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta, meliputi kerontokan rambut badan, gangguan tidur, dan demam yang tidak begitu tinggi. Selain itu, dapat pula disertai dengan gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis (mimisan), gangguan siklus haid pada wanita, ikterus (kuning pada badan), air kemih berwarna seperti teh pekat, hematemesis (muntah darah) dan melena (BAB berwarna hitam pekat seperti aspal), asites (perut membesar berisi air) dengan  atau tanpa edema (pembengkakan) serta perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi, sampai koma.

    Penatalaksanaan kasus sirosis hepatis dipengaruhi oleh penyebab penyakit tersebut. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi progresifitas dari penyakit. Penanganan sirosis hati memerlukan kerja sama tim medis, pasien, serta keluarga dan lingkungan dalam pengelolaan penyakit ini. Edukasi terhadap pasien dan keluarganya tentang penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi akan sangat membantu memperbaiki hasil pengobatan, serta diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas hidup pasien. Selain menggunakan obat-obatan untuk mengurangi gejala, pasien dengan sirosis hepatis juga dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam, serta pembatasan jumlah cairan  kurang lebih 1 liter per hari.

    Prognosis sirosis hati sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya penyebab, beratnya kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit yang menyertai. Sirosis hati tidak dapat disembuhkan, tapi berdasarkan kriteria child plug angka kelangsungan hidupnya selama setahun dapat mencapai 100% hingga 45%.

    Produk Terkait:
    Vaksin Hepatitis B ke Rumah
    Vaksinasi Hepatitis A dan B ke Rumah

    Oleh karena itu, jika Sobat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, Sobat bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah dari Prosehat loh yang mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Sumber:

    1. Runyon BA. A Primer on DetectingCirrhosis and Caring for These Patientswithout Causing Harm. InternationalJournal of Hepatology. 2015.
    2. Jang, JW. Current status of liver diseasesin Korea: liver cirrhosis. Korean J Hepatol.2013.
    3. WHO. Viral hepatitis in the WHO South-East Asia region. 2014.
    4. McPherson S, Stewart SF, Henderson E,Burt AD, Day CP. Simple non-invasivefibrosis scoring system can reliablyexclude advanced fibrosis in patients withnon-alcoholic fatty liver disease. BritishMed Journal. 2014.
    5. Khan MU, Ghaffar A, Amin Z, Niazi F,Qayyum A, Saqib R. Role of ultrasound inearly detection of cirrhosis liver.PakistanArmed forces med Journal.2014.
    6. EASL. Management of Chronic Hepatitis B:EASL clinical practice guidelines.Switzerland, Journal of Hepatol. 2013.
    Read More
  • Tahukah Sobat bahwa tiga perempat dari keganasan yang terjadi pada anak adalah leukemia? Tentu leukemia pada anak ini menjadi perhatian, dong bagi kita para orang tua. Begitu mendengar kata “leukemia” pasti langsung teringat dengan kata-kata kanker darah, tidak bisa sembuh, kemoterapi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keganasan tersebut. Ingin tahu seputar leukemia?Yuk, mari kita […]

    Kupas Tuntas Leukemia pada Anak, Seberapa Berbahayakah?

    Tahukah Sobat bahwa tiga perempat dari keganasan yang terjadi pada anak adalah leukemia? Tentu leukemia pada anak ini menjadi perhatian, dong bagi kita para orang tua. Begitu mendengar kata “leukemia” pasti langsung teringat dengan kata-kata kanker darah, tidak bisa sembuh, kemoterapi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keganasan tersebut. Ingin tahu seputar leukemia?Yuk, mari kita kupas tuntas semuanya.

    Leukemia adalah keganasan yang terjadi pada sel darah putih. Kanker ini berkembang di sum-sum tulang belakang anak. Sum-sum tulang belakang merupakan tempat terjadinya pembentukan sel darah, baik sel darah merah, sel darah putih ataupun trombosit. Kanker yang menyerang menyebabkan gangguan pada pembentukan sel darah yang mengakibatkan menurunnya jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

    Setiap tahun, lebih dari 300.000 anak didiagnosa kanker di dunia dan 80.000 anak meninggal karena kanker. Sedangkan di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 angka kejadian kanker anak usia 0-14 tahun sekitar 16.291 kasus dan terus meningkat setiap tahunnya dengan jenis kanker terbanyak adalah leukemia dan kanker mata (retinoblastoma).

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan HPV

    Leukemia terdiri dari 2 jenis, yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Selain itu, pembagian leukemia dapat berdasarkan jenis sel darah putih yang diserangnya, yaitu leukemia limfoblastik dan leukemia myeloblastik. Leukemia akut dapat dibagi menjadi 3, yaitu Leukemia Limfoblastik Akut (LLA), Leukemia Myelogenous Akut (LMA), dan Leukemia akut campuran. Sedangkan leukemia kronis terbagi menjadi Leukemia Myelogenous kronik (LMK) dan Leukemia Limfositik Kronik (LLK). Pada anak, leukemia yang sering terjadi adalah Leukemia Limfoblastik Akut (LLA). Sekitar 3 dari 4 anak dengan leukemia tergolong jenis leukemia ini.

    Apakah semua anak dapat terkena leukemia? Tidak, hanya beberapa anak yang memiliki faktor risiko leukemia yang dapat meningkatkan risikonya terkena keganasan ini. Faktor risiko leukemia antara lain adalah:

    1. Genetik

    Kelainan genetik baik berupa yang langsung diturunkan oleh orang tua ataupun tidak sering ditemui pada leukemia. Anak yang memiliki saudara kandung terkena leukemia berisiko 2 hingga 4 kali lebih tinggi terkena keganasan ini. Risiko semakin meningkat pada anak kembar. Bila kembarannya terkena leukemia, maka anak lainnya berisiko 1 hingga 5 kali lebih tinggi untuk terkena leukemia. Risiko semakin meningkat bila leukemia terjadi pada usia di bawah 1 tahun.

    2. Faktor lingkungan

    Paparan radiasi tingkat tinggi pada anak atau ibu hamil pada trimester pertama menjadi risiko anak terkena leukemia. Kemudian, bila anak atau dewasa sedang dalam pengobatan kanker lain menggunakan beberapa obat seperti siklofosfamid, klorambusil, etoposid dan teniposid, maka risiko terkena leukemia di kemudian hari akan lebih tinggi.

    Beberapa faktor risiko masih kontroversi dan memerlukan penelitian lebih lanjut, sehubungan dengan keterkaitannya dengan kejadian leukemia pada anak. Faktor tersebut antara lain adalah paparan terhadap gelombang elektormagnetik besar, usia ibu saat melahirkan, riwayat orang tua merokok, infeksi pada saat lahir, janin yang terpapar hormon seperti Dietilstilbetrol (DES) atau pil KB, riwayat ayah terpapar bahan kimia, dan kontaminasi kimia pada sumber air.

    Baca Juga: Cara Cegah Penularan Hepatitis B

    Lalu, gejala apakah yang dapat terlihat pada anak yang terkena leukemia. Berikut adalah gejalanya:

    1. Pucat (anemia)

    Pada anak dengan leukemia, terjadi gangguan pembentukan sel darah merah yang menyebabkan produksinya menurun. Akibatnya, anak akan mengalami anemia karena konsentrasi Hb pada darah menurun. Anak yang anemia akan terlihat pucat pada kulitnya dan sering terlihat pada kulit wajah, terutama di bawah kelopak mata. Selain itu, anak dengan anemi akan terlihat lesu dan mudah lelah serta sakit kepala.

    2. Mudah terkena infeksi

    Akibat terjadinya gangguan pada pembentukan sel darah putih, anak dengan leukemia akan mudah terinfeksi. Hal ini karena menurunnya daya tahan tubuh anak sehingga infeksi yang seharusnya bisa sembuh dalam sekejap, memerlukan waktu yang cukup lama bagi anak dengan leukemia.

    Produk Terkait: Produk Mencegah Infeksi

    3. Perdarahan

    Gampang berdarah merupakan salah satu tanda dari leukemia. Perdarahan terjadi karena terganggunya trombosit yang berperan dalam penggumpalan darah yang jumlahnya semakin menurun (<150.000/µl). Perdarahan sering terjadi pada hidung (mimisan) atau gusi serta lebam-lebam pada kulit.

    4. Nyeri tulang atau sendi

    Anak dengan leukemia sering mengalami pembengakakan pada daerah sendi. Selain itu, rasa sakit pada tulang dan sendi sering dirasakan karena sel kanker yang mulai menjalar ke organ tulang dan sendi.

    Baca Juga: 5 Mitos Nyeri Sendi

    Produk Terkait: Borobudur Sendi Cream

    5. Demam

    Demam yang dirasakan anak dengan leukemia biasanya berbeda dengan biasanya. Demam dapat terjadi hilang timbul dan terasa tidak sembuh-sembuh. Demam yang dirasakan dapat disebabkan karena sel radang yang menyebar dan infeksi karena sistem kekebalan menurun.

    6. Bercak kehitaman pada kulit

    Anak dengan leukemia sering menunjukkan bercak kehitaman pada kulit yang disebut dengan kloroma. Hal ini dapat terjadi bila sel kanker secara perlahan menyebar dan akhirnya mengenai kulit anak.

    Baca Juga:
    Bahaya Polio Bagi Anak
    Tips Cegah Anak Terinfeksi Difteri

    Gejala lain yang dapat terlihat pada anak dengan leukemia antara lain adalah pembesaran perut yang disebabkan karena pembesaran limpa dan hati. Hal ini yang membuat anak menjadi tidak nafsu makan sehingga berat badan mereka menjadi menurun. Selain itu, pembengkakan pada kelenjar getah bening, batuk atau kesulitan bernapas, pembengkakan wajah dan lengan menjadi gejala lain yang dapat menyertai leukemia.

    Angka kesembuhan pada anak dengan leukemia tergantung pada berbagai faktor antara lain usia saat didiagnosis kanker, pemeriksaan sel darah putih, jenis kelamin, jenis leukemianya, ras, penyebaran kanker, dan respon terhadap pengobatan. Semakin muda usia terkena leukemia, maka angka kesembuhan semakin tinggi. Anak perempuan memiliki angka kesembuhan tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Anak leukemia yang menunjukkan respon baik terhadap kemoterapi pada 1 hingga 2 minggu memiliki angka kesembuhan lebih tinggi. Tingkat kelangsungan hidup anak dengan leukemia tipe LLA lebih tinggi sekitar 70-80%. Namun, perlu diingat bahwa leukemia ini dapat kambuh kembali.

    Baca Juga:
    8 Penyakit yang Sering Menyerang Anak
    6 Cara Atasi Demam Setelah Imunisasi

    Wah, Sobat pasti sudah kenyang, ya, membaca artikel yang mengupas tentang leukemia pada anak. Jadi, bila anak Sobat atau keluarga ada yang menunjukkan tanda-tanda leukemia, langsung konsultasikan lebih lanjut kepada dokter anak Sobat untuk segera mendapatkan penanganan terbaik. Salam sehat!

    Referensi:
    Santoso BB. Mengenal leukemia pada anak. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    American Cancer Childhood Organization. Global Occurrence of Childhood Cancer.[Internet]. Retrieved from: acco.org
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan Kanker pada Anak. [Internet]. Retrieved from: depkes.go.id
    Chilhood Leukemia [Internet]. American Cancer Society. 2018 [cited 19 July 2018]. Available from: cancer.org

    Read More
  • Mendengar “kanker” saja mungkin membuat sebagian orang bergidik ngeri, termasuk salah satunya “kanker darah ” alias leukemia. Belakangan ini berita tentang leukemia makin sering Sobat temukan, apalagi sejak salah satu penyanyi ternama Indonesia mengungkapkan kalau putri semata wayangnya mengidap leukemia. Alhasil muncul beragam pertanyaan terkait penyakit ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang leukemia, […]

    10 Tanya Jawab Seputar Leukemia Yang Perlu Kamu Ketahui

    Mendengar “kanker” saja mungkin membuat sebagian orang bergidik ngeri, termasuk salah satunya “kanker darah ” alias leukemia. Belakangan ini berita tentang leukemia makin sering Sobat temukan, apalagi sejak salah satu penyanyi ternama Indonesia mengungkapkan kalau putri semata wayangnya mengidap leukemia. Alhasil muncul beragam pertanyaan terkait penyakit ini. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang leukemia, yuk simak info berikut ini:

    1. Apa Itu Leukemia?

    Leukemia adalah kanker yang terbentuk pada awal pembentukan sel darah di sum-sum tulang belakang. Pada umumnya, leukemia adalah kanker sel darah putih, tapi sebagian bukan. Leukemia terjadi karena proses pembentukan sel darah tidak normal. Sel induk darah gagal terbentuk dan tidak matang tepat pada waktunya. Akibatnya jumlahnya berlebihan dan berkembang menjadi sel myeloid dan limphoid (dua tipe sel darah putih abnormal). Jika jumlah sel abnormal tersebut semakin banyak, maka fungsi sel darah putih yang tadinya hanya bertugas melindungi dan melawan infeksi, berubah menjadi sel ganas yang menyebabkan gejala menyimpang.

    Baca Juga: Yuk, Kita Kenali Gejala Leukemia Sejak Dini

    2. Apakah Leukemia Menular?

    TIDAK! Berbeda dari infeksi, leukemia bukanlah penyakit yang menular. Sampai sekarang ilmu kedokteran belum mengidentifikasi satu zat tertentu dan khusus yang menyebabkan leukemia.

    Baca Juga: Kupas Tuntas Leukemia Pada Anak

    3. Ada Berapa Jenis Leukemia?

    Leukemia terdiri dari dua tipe yaitu leukemia akut dan leukemia kronis. Sebagian besar anak kecil menderita leukemia tipe akut dan muncul pada usia 2 – 5 tahun. Pada Leukemia akut, sel-sel yang belum matang (sel blast) berkembang dengan cepat, harus segera ditangani bila tidak maka leukemia akut akan menjadi fatal dengan cepat. Sedangkan pada leukemia kronis, lebih banyak dialami oleh orang dewasa dan lebih lambat perkembangannya.

    Leukemia akut juga memiliki beberapa tipe, yaitu:

    • Leukemia limfositik akut (LLA), 3 dari 4 anak menderita leukemia jenis ini dan penyakit ini juga terdapat pada dewasa, terutama yang telah berusia 65 tahun atau lebih.
    • Leukemia mielositik akut (LMA), Ini lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak. Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
    • Leukemia campuran, merupakan leukemia campuran jenis LLA dan LMA

    Leukemia kronis juga memiliki beberapa tipe, yaitu:

    • Leukemia limfositik kronis (LLK). Leukemia jenis ini jarang diderita anak- anak dan lebih sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun.
    • Leukemia mielositik kronis (LMK), leukemia jenis ini jarang diderita anak, umumnya sering terjadi pada orang dewasa.

    Baca Juga: 7 Alasan Si Kecil Perlu Suplemen Anak

    4.Apa Saja Gejala Leukemia?

    Ketika leukemia terbentuk di sum-sum tulang belakang, dia akan mengganggu pembentukan sel darah, sehingga terjadi penurunan pada sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Gejala yang dapat dirasakan bila sel darah merah turun antara lain adalah kelelahan, sakit kepala, kulit pucat serta napas anak pendek. Gejala lain yang ditemukan karena penurunan sel darah putih dan trombosit antara lain adalah demam, sering mengalami infeksi, gampang memar dan berdarah (pada gusi atau dari hidung).

    5. Leukemia Penyakit Keturunan atau Tidak?

    Anak yang memiliki anggota keluarga pernah terkena leukemia memiliki risiko yang lebih tinggi menderita leukemia dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki anggota keluarga yang pernah terkena leukemia.

    Baca Juga: 7 Pose Yoga Untuk Mencegah Osteoporosis

    6. Leukemia Lebih Banyak Menyerang Anak-anak atau Dewasa?

    Perlu diketahui penyakit kanker paling banyak diderita anak-anak di Indonesia adalah leukemia atau kanker darah, lalu jenis kanker selanjutnya ialah kanker mata primer atau retinoblastoma.Lebih dari 300.000 anak telah didiagnosis menderita penyakit kanker setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan presentase kesembuhan hanya 20 persen. Menurut IDAI (2017), leukemia pada anak merupakan suatu jenis penyakit keganasan tersering. Angka kejadian leukemia di Indonesia adalah ¾ kasus dari seluruh kasus keganasan pada anak.

    7. Bagaimana Cara Pengobatan Leukemia?

    Pengobatan leukemia antara lain kemoterapi, radioterapi dan transplantasi sumsum tulang. Pengobatan leukemia yang paling umum adalah kemoterapi – tanpa atau dengan disertai radioterapi. Kemoterapi berupa pemberian beberapa obat antikanker melalui infus atau diminum, sedangkan radioterapi adalah pengobatan kanker melalui paparan sinar radiasi. Terapi yang umumnya diberikan adalah kombinasi antara kemoterapi dan transplantasi autologous stem cell/sel punca (mengambil stem cell sedikit dari sumsum, dikembangbiakan di dalam laboratorium untuk kemudian dikembalikan ke dalam tubuh).

    8. Benarkah Donor Sumsum Tulang Bisa Menyelamatkan Penderita Leukemia?

    Negara Cina mulai melakukan transplantasi sum-sum tulang belakang sejak 1964. Transplantasi sumsum tulang belakang merupakan salah satu cara yang dapat memperpanjang usia hidup pasien leukemia. Leukemia terjadi karena sumsum tulang gagal memproduksi sel-sel darah yang diperlukan tubuh. Transplantasi dapat menggantikan sumsum tulang yang tak berfungsi dengan baik. Angka kekambuhan bagi anak yang sudah menjalani transplantasi sumsum tulang belakangpun kecil.

    9. Penyakit Leukemia, Bisakah Disembuhkan?

    Kemungkinan sembuh penderita leukemia tergantung dari beberapa faktor, antara lain:

    • Stadium saat pertama kali didiagnosa.
    • Usia penderita, anak-anak memiliki kemungkinan sembuh lebih besar.
    • Terapi yang memadai, bila melakukan kemoterapi tentu hasilnya lebih baik daripada yang menolak pengobatan.

    Namun yang perlu dipahami adalah bagi penderita leukemia yang sudah dinyatakan sembuh masih harus checkup rutin, karena ada kemungkinan kambuh kembali.

    10. Bagaimana Cara Merawat Penderita Leukemia?

    • Minum obat secara teratur.
      Keluarga harus mendampingi anak selama perawatan terutama saat minum obat. Keluarga juga harus mengerti efek samping yang dapat ditimbulkan dan tidak menghentikan pengobatan tanpa saran dari dokter
    • Melakukan pemeriksaan lanjutan secara berkala.
      Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan secara berkala selama perawatan. Oleh karena itu, keluarga harus selalu siap terhadap beberapa jenis pemeriksaan lanjutan.
    • Kebersihan rumah tangga dan pribadi.
      Kebersihan rumah dan pribadi harus diperhatikan karena pasien leukemia rentan terkena infeksi. Pakaian, kamar, dan peralatan rumah tangga harus selalu dirapikan dan dijaga kebersihannya. Hindari mengajak anak ke tempat ramai atau bersama dengan teman-teman yang sakit. Berikan masker saat keluar ruangan.
    • Sebisa mungkin hindari terjadi luka (pendarahan).
      Penderita leukemia harus berhati-hati dalam kegiatannya sehari-hari, sebab luka yang ringan dapat mengakibatkan pendarahan yang serius. Selain itu, jagalah tingkat kelembapan di lingkungan rumah, karena kekeringan pada mukosa hidung dapat memicu pendarahan pada hidung.

     

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut soal leukemia dan homecare, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:
    1. Karina N. TanyaDok.com | Serba Serbi Leukemia [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: tanyadok.com
    2. Supit T. TanyaDok.com | Cara penularan leukemia [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: tanyadok.com
    3. Penderita Leukemia Bisa Berumur Panjang [Internet]. detikHealth. 2018 [cited 18 July 2018]. Available from: health.detik.com
    4. Chilhood Leukemia [Internet]. American Cancer Society. 2018 [cited 18 July 2018]. Available from: cancer.org
    5. Hartanti L. TanyaDok.com | Penyakit leukemia, bisakah sembuh? [Internet]. TanyaDok.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Available from: tanyadok.com
    8. VIVA P. Leukemia, Kanker Nomor Satu Bagi Anak Indonesia – VIVA [Internet]. Viva.co.id. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: viva.co.id
    9. Media K. Transplantasi Sumsum Tulang, Perpanjang Usia Pasien Leukemia – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: lifestyle.kompas.com
    10. [Internet]. .ha.org.hk. 2018 [cited 18 July 2018]. Availablefrom: ha.org.hk

    Read More
  • Apakah gejala hepatitis dan flu biasa berbeda? Apakah justru memang terdapat kesamaan di antara kedua penyakit ini? Sobat mungkin sering mendengar tentang pemberian vaksinasi hepatitis, tetapi biasanya sulit memahami pentingnya vaksinasi tersebut bila kita tidak memahami  hepatitis dan gejalanya. Baca Juga: Fungsi dan Manfaat Vaksin Hepatitis B Lalu, apakah yang dimaksud dengan Hepatitis? Hepatitis adalah […]

    Gejala Hepatitis Beda dengan Flu Biasa, Yuk Pahami Lebih Lanjut!  

    Apakah gejala hepatitis dan flu biasa berbeda? Apakah justru memang terdapat kesamaan di antara kedua penyakit ini? Sobat mungkin sering mendengar tentang pemberian vaksinasi hepatitis, tetapi biasanya sulit memahami pentingnya vaksinasi tersebut bila kita tidak memahami  hepatitis dan gejalanya.

    Baca Juga: Fungsi dan Manfaat Vaksin Hepatitis B

    Lalu, apakah yang dimaksud dengan Hepatitis?

    Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus ini memiliki target organ yang diserang adalah organ hati. Sedangkan flu biasa atau yang juga dikenal sebagai common cold adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus akut yang menyerang saluran pernapasan kita. Jika dilihat, kedua penyakit ini sama-sama disebabkan oleh virus, tetapi jenis virusnya berbeda dan target organ tubuhnya berbeda juga.

    Sebelumnya kita perlu meluruskan terlebih dahulu apa yang sebenarnya dimaksud dengan hepatitis. Hepatitis ialah infeksi yang menyerang organ hati. Infeksi organ hati ini secara umum dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, baik bakteri, virus, jamur hingga parasit.

    Jadi, tidak hanya virus saja yang menyerang hati dan menyebabkan hepatitis. Namun, infeksi yang paling sering menyerang organ hati adalah infeksi virus, sehingga istilah hepatitis biasanya langsung dikaitkan dengan infeksi virus, dan inilah yang menjadi topik pembahasan kali ini.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi Hepatitis A ke Rumah untuk Dewasa

    Hepatitis karena virus dibagi lagi menjadi beragam jenis, tergantung dari jenis virus hepatitis yang menyerang, yaitu mulai dari virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Perlu diingat juga, bahwa virus yang menyerang hati ini tidak hanya virus hepatitis A sampai E, ada virus-virus lain juga menyebabkan hepatitis. Hal ini perlu diketahui agar tidak salah dalam memahami hepatitis.

    Gejala hepatitis oleh virus hepatitis A hingga E ini secara umum sebenarnya memberikan gejala yang mirip antara satu sama lain. Gejalanya bervariasi dari gejala akut yang ringan sampai berat, hingga kronis yang tidak bergejala. Pembeda dari kelima virus hepatitis ini pada gejala akut yang ringan, berat, atau kronis tidak bergejala.

    Gejala yang paling umum saat terjadi pada infeksi hepatitis akut adalah gejala yang tidak spesifik seperti:

    • demam,
    • sakit kepala,
    • nyeri otot,
    • nyeri persendian,
    • mual,
    • hilangnya nafsu makan dan
    • dapat pula gejala gangguan saluran pernapasan atas seperti batuk dan pilek.

    Gejala lain yang juga dapat terjadi adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut terutama pada bagian perut kanan atas, muntah, diare, menggigil, kemerahan dan gatal-gatal pada kulit, warna tinja yang berubah menjadi pucat, hingga urin berwarna gelap seperti teh.

    Beberapa kondisi dapat dilanjutkan dengan perubahan warna kulit dan selaput putih mata menjadi kuning, meski tidak semuanya akan menunjukkan gejala ini. Gejala akut ini dapat berlangsung hingga 3-6 minggu dan jarang lebih lama dari rentang tersebut, bahkan gejala yang lebih ringan biasanya berlangsung lebih singkat.

    Baca Juga: 5 Penyakit Hepatitis yang Perlu Diwaspadai

    Dari ketiga jenis hepatitis virus yang paling sering, yaitu A, B, dan C, ketiganya mampu memberikan gejala akut seperti yang dijelaskan pada paragraf berikutnya, dengan kecenderungan masing-masing yang berbeda. Virus hepatitis A cenderung memberikan gejala akut yang lebih berat, tapi akan sembuh sempurna dan tidak akan berkembang menjadi kronis.

     

    Virus hepatitis B dan C ini berbeda dengan hepatitis A. Kedua virus ini tidak selalu memberikan gejala akut, dan bila terjadi biasanya ringan dan tidak spesifik. Virus ini mampu berlanjut menjadi infeksi kronis yang tidak bergejala bila ditemukan di dalam tubuh dan bertahan ≥ 6 bulan. Hepatitis C, khususnya, sangat jarang memberikan gejala akut. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi hepatitis B dan C, gejalanya bisa sama sekali tidak spesifik dan ringan.

    Lalu apakah flu biasa itu?

    Sudah cukup panjang lebar membahas tentang hepatitis, mari sekarang kita bahas mengenai flu biasa atau common cold. Common cold ini disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang saluran pernapasan. Virus yang menyebabkan common cold sangat bervariasi, dan sebagai pengetahuan, yang paling sering adalah Rhinovirus. Gejalanya dari infeksi virus ini tentu semua kita pernah mengalaminya, yaitu bersin-bersin, batuk dan pilek, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, nyeri menelan, kadang dapat terjadi nyeri otot dan persendian, demam, sakit kepala dan hilangnya nafsu makan.

    Jika diperhatikan dengan seksama, gejala pada common cold lebih berupa gejala pada pernapasan. Berbeda dengan gejala infeksi hepatitis, gejala pada pernapasan jarang terjadi, tetapi cenderung lebih berat pada pencernaan, seperti mual dan muntah, diare, dan   beberapa gejala yang cukup khas yaitu perubahan warna kulit menjadi kuning dan urin berwarna pekat gelap seperti teh, tidak akan terjadi pada infeksi flu biasa.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Flu untuk Penderita Penyakit Kronis

    Mengingat hepatitis ini cukup berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan organ hati yang fatal di kemudian hari, khususnya hepatitis B dan C, serta pengobatannya yang tidaklah mudah, maka pencegahan adalah cara yang paling baik dalam menangani penyakit hepatitis. Pencegahan terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan pemberian vaksinasi agar tubuh memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis.

    Inilah sebabnya mengapa vaksinasi hepatitis sangat penting. Baik di Indonesia maupun di dunia, saat ini vaksin yang tersedia adalah vaksin terhadap hepatitis A dan B. Vaksin hepatitis A tersedia di Indonesia namun tidak menjadi vaksin yang rutin diberikan, sedangkan vaksin hepatitis B sudah termasuk menjadi bagian dalam imunisasi wajib di Indonesia.

    Nah, jika Sobat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksinasi. Cukup di Prosehat yang mempunyai layanan vaksinasi hepatitis ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 871-3.
    2. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 580-2.
    3. Goldman L, Schafer AI. Goldman-cecil medicine. 25th ed. Philadelphia: Elsevier; 2016. p. 993-7;2185-6.
    4. Chang MH, Chen DS. Prevention of hepatitis B. Cold Spring Harb Perspect Med. 2015;5(3):a021493.
    5. Bennett JE, Dolin R, Blaser MJ. Infectious disease essentials. Philadelphia: Elsevier; 2017. p. 198-9.
    Read More

Showing 1–10 of 13 results

Chat Asisten ProSehat aja