Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

7 Makanan Pemicu Alergi yang Perlu Dihindari

Moms yang memiliki buah hati dengan riwayat alergi pasti harap-harap cemas setiap memberi asupan makanan untuknya. “Duh, habis makan ini, Si Dedek bakal gatal-gatal alergi lagi nggak ya?”
Makanan yang dapat menjadi pemicu alergi ialah makanan yang dapat menyebabkan reaksi sistem kekebalan tubuh anak bekerja berlebihan,  serta menyebabkan gejala dan tanda seperti masalah pencernaan, gatal–gatal atau sesak napas.

Pada beberapa anak, alergi makanan dapat menyebabkan gejala berat atau bahkan reaksi yang mengancam nyawa, dikenal sebagai reaksi anafilaksis, sehingga penting sekali untuk Moms tahu, apa saja makanan yang dapat menyebabkan alergi pada anak.

Alergi makanan memengaruhi sekitar 6-8 % anak–anak usia di bawah 3 tahun dan hingga 3% pada orang dewasa. Meskipun tidak dapat disembuhkan, beberapa anak dapat mengatasi alergi makanan mereka seiring bertumbuh usia. Alergi cenderung terjadi dalam keluarga, tapi tidak mungkin untuk memprediksi apakah seorang anak akan mewarisi alergi makanan orang tua atau apakah sesama saudara akan memiliki kondisi yang sama.

Saat anak Moms alergi, badannya melakukan kesalahan dimana makanan yang seharusnya tidak berbahaya dianggap sebagai sesuatu yang dapat menyebabkan anak Moms sakit, sehingga sistem kekebalan anak akan merespons untuk melindungi tubuh. Moms mungkin dapat melihat gejala–gejala seperti bercak–bercak di kulit, mata gatal, atau bisa juga reaksi yang lebih besar hingga anak sulit bernapas.

Alergi makanan dapat menjadi masalah yang serius, namun Moms dapat melakukan beberapa hal untuk mencegahnya. Salah satunya adalah Moms dapat menghindari makanan yang dapat memicu alergi anak.

Berikut ini adalah 7 makanan yang dapat memicu alergi:

1. Susu

Alergi pada susu sapi merupakan alergi yang paling sering terjadi pada anak. Reaksi dapat timbul bahkan dengan jumlah yang sedikit. Ibu yang meminum susu sapi dan memberikan ASI kepada anak dengan alergi susu bahkan dapat menimbulkan reaksi alergi. Seiring bertambahnya usia, alergi susu pada anak dapat menghilang, tapi pada 1 dari 5 anak dapat menetap hingga dewasa.

2. Telur

Alergi pada telur disebabkan oleh protein yang terdapat pada telur, seperti ovomucoid, ovalbumin dan conalbumin. Memasak telur dapat menghilangkan protein ini, tapi tidak seluruhnya. Sehingga beberapa anak bisa tetap alergi pada telur yang dimasak. Kadang–kadang, anak dapat alergi pula terhadap daging ayam, burung puyuh, kalkun, atau bahkan bulu burung. Hal ini disebut sindrom “bird-egg “.

3. Kacang–kacangan, termasuk almond, walnut, hazelnut

Alergi pada kacang umumnya terjadi seumur hidup. Alergi pada kacang dapat menimbulkan reaksi yang berat, seperti anafilaksis. Jika anak Moms alergi terhadap kacang, konsultasikan kepada dokter atau ahli alergi. Anak yang memiliki alergi pada satu jenis kacang dapat juga bereaksi terhadap jenis kacang lainnya.

4. Kedelai

Alergi kedelai sering terjadi sejak usia dini. Sebagian orang dengan alergi kedelai juga dapat bereaksi dengan susu. Kedelai banyak digunakan sebagai bahan makanan seperti roti, sereal, minuman, es krim, margarin, pasta, daging olahan, dan makanan berbumbu.

5. Gandum dan biji – biji lainnya, termasuk barley, oats

Alergi gandum sering terjadi, terutama pada bayi. Salah satu allergen utama pada gandum yaitu gliadin, dapat ditemukan pada gluten. Sehingga anak dengan alergi gandum disarankan untuk makan–makanan yang bebas dari gluten.

6. Ikan

Alergi pada ikan sering menyebabkan reaksi berat, termasuk anafilaksis. Orang dewasa cenderung memiliki reaksi alergi terhadap ikan dan kerang dibandingkan anak–anak. Jika anak alergi terhadap satu jenis ikan, maka kemungkinan besar juga akan alergi dengan ikan lainnya, karena allergen pada ikan mirip dan memasak ikan tidak merusak allergen.

7. Kerang

Alergi terhadap kerang cukup sering terjadi. Berbagai jenis kerang yang dapat menimbulkan alergi yaitu udang, lobster, kepiting, tiram. Anak yang alergi terhadap satu jenis kerang sering bereaksi pula dengan jenis kerang lainnya.

Hampir semua makanan dapat memicu alergi. Jenis yang kurang umum termasuk:

  • Jagung
  • Agar–agar
  • Kelapa
  • Nasi
  • Daging–daging sapi, ayam, kambing dan babi
  • Wijen, bunga matahari
  • Rempah–rempah, seperti jintan, ketumbar, bawang putih, dan mustard
  • Buah–buahan dan sayur – sayuran

Reaksi alergi dapat terjadi beberapa menit setelah anak Moms makan, atau bisa juga beberapa jam setelahnya. Gejala yang dapat timbul :

  • Ruam, kulit merah, bengkak, kering atau gatal.
  • Pilek, hidung tersumbat, bersin, batuk kering ringan.
  • Mata gatal, berair, merah.
  • Mulut atau di dalam telinga terasa gatal.
  • Sakit perut, kram, muntah, atau diare.

Seringkali, makanan seperti kacang – kacangan, ikan atau kerang dapat menimbulkan reaksi yang lebih berat, namun alergi pada tiap makanan juga dapat menimbulkan gejala berikut:

  • Kesulitan bernapas atau menelan.
  • Bengkak pada bibir, lidah atau tenggorokan.
  • Rasa lemah, pusing, atau pingsan.
  • Nyeri pada dada, denyut jantung tidak beraturan.

Terkadang gejala dapat terjadi pada seluruh badan dan bisa sangat serius hingga mengancam jiwa. Reaksi ini disebut anafilaksis, dan ini adalah keadaan darurat medis. Biasanya dapat terjadi beberapa menit setelah anak Moms makan. Jika anak Moms memiliki asma dan alergi makanan, maka anak Moms cenderung memiliki anafilaksis. Jika hal ini terjadi pada si kecil, segera bawa ke dokter atau tenaga kesehatan terdekat.

Penyebab Tersembunyi

Seperti yang kita sudah bahas tadi, kunci untuk mengontrol alergi makanan ialah dengan menghindari makanan yang dapat menjadi pemicu alergi. Namun hal ini tidaklah mudah, bisa saja dari bahan–bahan untuk makanan tertentu seperti:

  • Sebagian besar makanan yang dipanggang, seperti kue dibuat dengan telur dan kadang–kadang kacang.
  • Saus salad, mungkin dibuat dengan minyak kedelai.
  • Hot dog mungkin mengandung protein susu.

Jadi, Moms harus memastikan dan membaca tiap label makanan. Namun, label makanan tidak selalu menuliskan keseluruhan bahan yang digunakan. Misalkan nanas, susu, atau protein kedelai yang dicampurkan mungkin saja terdapat pada popcorn, namun Anda tidak melihatnya di daftar bahan. Sebagai gantinya, Moms akan melihat “natural flavor”.

Ketika anak Moms memiliki alergi terhadap makanan, Moms harus selalu mengingat bahkan jika perlu mencatat makanan apa saja yang dapat menimbulkan alergi pada anak. Bila Moms akan memesan makanan di restoran, tanyakan bagaimana makanan dibuat sebelum memesan makanan tersebut.

Temui dokter atau ahli alergi jika anak Moms memiliki gejala alergi makanan sesaat setelah makan. Carilah perawatan darurat bila si kecil memiliki gejala–gejala anafilaksis seperti:

  • Penyempitan saluran udara yang membuat anak sulit bernapas.
  • Syok, dengan penurunan tekanan darah yang parah.
  • Nadi cepat.
  • Pusing atau pingsan.

Jadi Moms, itulah 7 makanan yang dapat menjadi pemicu alergi. Alergi terhadap makanan terkadang dapat hilang dengan bertambahnya usia, namun jika anak Moms alergi terhadap suatu makanan tertentu, cara terbaik adalah menghindari bahan ataupun olahan dari makanan tersebut. Nah, Moms yang ingin mencari tahu seputar alergi atau masalah kesehatan lainnya, coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat sekarang juga. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800.

instal aplikasi prosehat

Daftar Pustaka

  1. Food allergy – acaai.org/allergies/types/food-allergy, diakses pada tanggal 18-9-2018
  2. Deteksi Penyebab Alergi Makanan Pada si Kecil – tanyadok.com/anak/deteksi-penyebab-alergi-makanan-pada-si-kecil, diakses pada tanggal 18-9-2018
  3. Common Food Allergy Triggers – webmd.com/allergies/food-triggers#1, diakses pada tanggal 18-9-2018
  4. Food Alergy – mayoclinic.org/diseases-conditions/food-allergy/symptoms-causes/syc-20355095, diakses pada tanggal 18-9-22018
  5. Eight common food allergies : Causes, symptoms, and triggers – medicalnewstoday.com/articles/8624.php, diakses pada tanggal 18-9-2018
  6. The 8 Most Common Food Alergies – healthline.com/nutrition/common-food-allergies#section12, diakses pada tanggal 18-9-2018

 

WhatsApp Asisten Maya saja