Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Rangkuman Webinar Prosehat “Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi”, dengan Salah Satu Pembicara dr. Nova Riyanti Yusuf, 2 Desember 2020

Depresi, stres, frustrasi, kecemasan, dan ketakutan berlebihan menjadi penyebab munculnya gangguan mental pada semua orang di seluruh dunia akibat Covid-19. Gangguan tersebut muncul karena banyak yang bertanya mengenai kapan pandemi yang muncul sejak November 2019 di Cina lalu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia sejak Maret 2020 di Indonesia akan kelar. Belum ada waktu yang pasti mengenai kelarnya pandemi pada akhirnya memberikan banyak pembatasan untuk bergerak dengan tetap di rumah saja.

rangkuman webinar Prosehat Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Strs Karena Terbeban Kapan Covid-19 Berakhir

Berangkat dari situlah, webinar Prosehat kali ini mengangkat tema mengenai gangguan kesehatan mental dengan judul “Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi”. Webinar ini sendiri diselenggarakan pada Rabu, 2 Desember 2020 pukul 19.00 WIB. Pembicara pada webinar ini ada dua, yaitu dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp. PD, CHt atau akrab disapa dengan nama dr. Jeff, dan tentunya Sahabat Sehat sudah cukup familiar dengan sosok yang satu ini karena sudah sering muncul di webinar-webinar Prosehat.

Pembicara kedua adalah Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ atau biasa akrab disapa dengan nama Noriyu. Sahabat Sehat tentu sudah tidak asing lagi juga dengan sosok yang satu ini. Sebab, Noriyu adalah seorang psikiater dan dokter kesehatan jiwa yang cukup terkenal juga sebagai seorang penulis psikologi dan novelis. Di samping itu, ia juga pernah menjadi anggota DPR pada periode 2014-2019. Webinar ini tentunya dimoderatori oleh dr. Rosa Widian dari Prosehat.

Dalam pemaparannya, dr. Jeff menjelaskan mengenai perkembangan Covid-19 itu sendiri terutama di Indonesia yang hingga saat ini masih terus menunjukkan peningkatan jumlah kasus. Selanjutnya, ia juga membahas mengenai kebijakan pemerintah berupa PSBB, dan sebagai ahli penyakit dalam ia membahas dampak Covid-19 terhadap berbagai organ tubuh seperti jantung yang menyebabkan serangan penyakit jantung dan gangguan irama jantung. Tak hanya pada gangguan organ tubuh, Covid-19 kenyataannya menyebabkan depresi yang cukup parah terutama di Amerika Serikat yang mencapai 53% daripada sebelum pandemi.

Baca Juga: 10 Makanan Pencegah Serangan Penyakit Jantung

Menurut dr. Jeff, gangguan psikis dan gangguan mental di masa pandemi saling berkaitan satu sama lain. Hal itu terjadi karena Covid-19 yang benar-benar sangat berdampak terutama pada pikiran yang bisa memengaruhi kondisi tubuh. Tandanya berupa sulit berpikir dan mudah lelah, mengalami masalah pada pencernaan, dan detak jantung yang cukup meningkat. Hal ini juga disertai dengan gejala seperti rasa takut berlebihan akan tertular, stres traumatik, dan kecemasan terhadap masalah keuangan. Cara mengatasinya bisa dilakukan dengan mengajak berkomunikasi dengan teman yang bisa memahami kondisi serta berolahraga.

Lalu bagaimana cara mengatasi gangguan mental dari dr. Nova Riyanti Yusuf atau Noriyu? Dalam pemaparannya dokter yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa DKI Jakarta itu memberikan mengenai definisi sehat menurut WHO yang berbunyi:…keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap, dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan”. Selain itu, ia memberikan definisi kesehatan jiwa berdasarkan Undang-undang Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014, yaitu kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Di masa pandemi, ujar dr. Nova yang juga praktek sebagai psikiater di Ciputra Medical Centre ini, banyak orang yang merasa bahwa dirinya adalah orang dengan masalah kejiwaan atau ODMK. Dr. Nova menyatakan bahwa 2020 ini adalah tahun yang sulit bagi kesehatan jiwa. Hal itu karena adanya pandemi yang mengakibatkan lockdown atau karantina wilayah secara berulang, ancaman infeksi, isolasi sosial, dan ketidakpastian ekonomi yang berujung pada ketakutan dan kecemasan yang semakin luas. Hal ini juga dirasakan sendiri oleh sang dokter yang biasanya bepergian ke beberapa negara untuk menghadiri konferensi dan seminar internasional namun merasa takut tertular terkena infeksi walaupun dia tidak terkena.

Karantina sosial yang diberlakukan demi menghindari penyebaran, menurut dr. Nova dalam pemaparannya juga dapat meningkatkan gangguan psikologis seperti menghindar diri dari orang lain dan frustrasi, dan lockdown merupakan laboratorium eksperimen terbesar yang dihadapi umat manusia pada saat ini. dr. Nova juga memaparkan bahwa selama 5 bulan pandemi banyak 64,8% perempuan yang mengalami masalah psikologis. Bahkan 15% memikirkan usaha untuk bunuh diri karena pandemi ini, yaitu pada umur 18-29 tahun.

Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

Akibat pandemi Covid-19 banyak orang yang menjadi lelah karena keadaan akibat protokol-protokol kesehatan supaya tidak terinfeksi.  Dampaknya banyak yang berperilaku demotivasi terutama pada mereka yang tidak terkena Covid-19 karena akan tertular juga. Efek selanjutnya menciptakan sindrom burnout berupa kelelahan emosi, depersonalisasi, dan penurunan prestasi. Hal inilah yang banyak dialami para tenaga kesehatan yang sebenarnya sudah lelah namun Covid-19 belum selesai sama sekali.

Lalu bagaimana tips menjaga kesehatan mental menurut dr.Nova? Dalam pemaparannya ia menyebutkan seperti membutuhkan berita dan mengatur pemakaian gadget supaya dapat beristirahat secara teratur, dan selalu berpikir positif. Webinar yang penuh keakraban di antara dua narasumber ini dilanjutkan pada sesi pertanyaan. Salah satu peserta, Ratna Mardiati, menanyakan kepada dr.Jeff apakah kekebalan tubuh bisa ditingkatkan dengan olahraga jalan kaki 30 menit dan olahraga kekuatan otot 2 kali seminggu? Dijawab oleh dr. Jeff bahwa hal tersebut dapat meningkatkan kekebalan tubuh, dan sebaiknya 5 hari dalam seminggu supaya tidak berefek buruk pada tubuh.

Untuk dr. Nova sendiri mendapat pertanyaan dari Gery cara mengatasi kesalahpahaman dalam berkomunikasi melalui telepon seluler yang bisa mengakitbatkan stres. Cara mengatasinya adalah memperhatikan koridor atau berkomunikasi secara visual. dr. Nova menyarankan agar mengirim voice note apabila ada kendala dalam pertemuan virtual.

Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona, Justru Turunkan Imun Tubuh

Untuk pemaparan lebih lanjut, Sahabat Sehat bisa menonton video di bawah ini, dan jangan lupa subscribe YouTube Prosehat.

Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan jiwa dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

 

Chat Asisten ProSehat aja