Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Benarkah Vitamin C dan E Tingkatkan Antibodi untuk Mencegah Corona?

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan. Namun, pada penderita yang memiliki gangguan sistem imun dan penyakit lain yang mendasari, infeksi virus ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan yang lebih berat.

Belakangan ini informasi seputar konsumsi vitamin C dan E untuk meningkatkan antibodi sudah sering Sobat dengar bukan? Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh yang dapat membantu melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, dikenal juga sebagai antigen, seperti virus ataupun bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Bila ada antigen yang masuk ke dalam tubuh, sel imun akan mengenali dan melakukan serangkaian proses biokimia untuk memproduksi antibodi. Antibodi yang diproduksi ini akan spesifik untuk melawan antigen jenis tersebut, sehingga antigen dapat dihancurkan dan dikeluarkan dari tubuh. Saat pertama kali seseorang terpapar dengan antigen, sistem imun tubuh membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk membentuk antibodi yang spesifik guna melawan penyakit. Setelah infeksi teratasi, maka tubuh dapat mengingat jenis antigen yang sudah pernah menyerang tubuh ini. Sehingga bila berikutnya tubuh terpapar terhadap antigen yang sama, proteksi antibodi akan menjadi lebih cepat.

Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian adalah 100-200 mg/hari. Konsumsi vitamin C menjadi populer sejak tahun 1970, saat Linus Pauling seorang penerima Hadiah Nobel merekomendasikannya untuk mencegah batuk pilek biasa yang dikenal juga sebagai common cold. Namun, hasil dari berbagai penelitian sampai saat ini masih tidak konsisten dan sering menimbulkan kontroversi. Memang terdapat beberapa penelitian yang mengatakan dengan mengonsumsi vitamin C saat dilanda common cold dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala yang dialami, hal ini diduga karena adanya efek antihistamin pada vitamin C dosis tinggi. Konsumsi vitamin C tidak dapat mencegah common cold pada populasi umum. Namun, konsumsi vitamin C sebanyak 250 mg/hari dapat menurunkan 50% kejadian common cold pada orang yang melakukan aktivitas fisik ekstrim seperti pelari marathon atau tentara. Vitamin C cenderung aman untuk dikonsumsi asalkan sesuai dengan dosis yang dianjurkan, bila lebih dari 1000 mg, vitamin C meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan diare berat.

Selain dapat membantu untuk menjaga kesehatan kulit dan mata, vitamin E juga merupakan senyawa yang larut dalam lemak dan bersifat sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan penyakit. Kebutuhan harian vitamin E adalah 15 mg/hari (22.4 IU). Terdapat penelitian yang mengatakan pemberian vitamin E 200 mg/hari dapat menurunkan angka kejadian dan memperpendek durasi common cold. Konsumsi vitamin E diatas 400 IU setiap harinya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung. Selain itu, penggunaan suplemen vitamin E juga tidak disarankan untuk ibu yang sedang hamil karena meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung bawaan.

Vitamin C dan E dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sumber vitamin bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan. Vitamin C bisa didapatkan dari buah dan sayuran seperti jeruk, lemon, strawberi, kiwi, brokoli, dan tomat. Vitamin E bisa didapatkan dari kacang-kacangan, sayuran, dan minyak sayur seperti minyak jagung dan olive oil. Pada kelompok yang berisiko terhadap kekurangan vitamin, ataupun lansia, pemberian suplemen dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar dapat mengoptimalkan kerja sistem imun.

Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Cascella M, Rajnik M, Cuomo A, Dulebohn SC, Di Napoli R. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554776/
  2. Murin CD, Wilson IA, Ward AB. Antibody responses to viral infections: a structural perspective across three different enveloped viruses. Nat Microbiol. 2019;4(5):734–47.
  3. Wuhan novel coronavirus: epidemiology, virology and clinical features [Internet]. GOV.UK. Available from: gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-background-information/wuhan-novel-coronavirus-epidemiology-virology-and-clinical-features
  4. Writers S. How Vaccines Work [Internet]. PublicHealth.org. 2019. Available from: publichealth.org/public-awareness/understanding-vaccines/vaccines-work/
  5. Carr AC, Maggini S. Vitamin C and Immune Function. Nutrients. 2017 Nov 3;9(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5707683/
  6. Lee GY, Han SN. The Role of Vitamin E in Immunity. Nutrients [Internet]. 2018 Nov 1];10(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6266234/
  7. Lewis ED, Meydani SN, Wu D. Regulatory role of vitamin E in the immune system and inflammation. IUBMB Life. 2019;71(4):487–94.

Chat Asisten ProSehat aja