Telp / SMS / WhatsApp : 0857-75-500-800

Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim)


Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim) Enam Penyakit mematikan bisa dihindari dalam sekali suntik dengan Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim) di Prosehat. Agar sikecil terhindar dari Diphteria, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Poliomyelitis dan penyakit invasif yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae type b (Hib). Kenapa harus vaksin di Prosehat? Karena Sahabat [...]

Rp 6.967.000 Rp 5.740.000

Qty:
Harga yang tercantum dapat berubah sewaktu-waktu.

SKU: 00029399. Categories: , . Tags: , , , , , , .

Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim)

Enam Penyakit mematikan bisa dihindari dalam sekali suntik dengan Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim) di Prosehat.

Agar sikecil terhindar dari Diphteria, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Poliomyelitis dan penyakit invasif yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae type b (Hib).

Kenapa harus vaksin di Prosehat? Karena

  • Sahabat bebas tanya jawab dengan Maya seputar vaksinasi
  • Produk vaksin yang Asli
  • Proses pembayaran yang mudah
  • Jadwal Vaksinasi Yang Fleksibel
  • Ditangani oleh Dokter profesional
  • Kenyamanan Vaksin di Rumah

Yuk lindungi dan beri yang terbaik untuk buah hati Sahabat dengan Prosehat. Jadi kenapa harus ragu pilih yang terbaik bagi buah hatimu.

Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim)

Jenis Vaksin yang digunakan : Hexaxim

 Paket sudah termasuk:

1. Vaksin Hexaxim untuk 3 kali suntik

2. Jasa dokter yang akan melakukan vaksinasi 3 kali suntik

FAQ Vaksinasi :

  • Layanan Vaksinasi tersedia H+3 dari tanggal pemesanan
  • Jadwal layanan akan disesuaikan dengan ketersediaan jadwal dokter
  • Pembayaran layanan vaksinasi dilakukan selambat-lambatnya 1×24 jam setelah konfirmasi pesanan dari CS ProSehat
  • Penjadwalan ulang dapat dilakukan maksimum 2x dalam bulan yang sama
  • Pembatalan dapat dilakukan bila stok vaksin kosong secara nasional dan/atau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan vaksinasi
  • Informasi lebih lanjut dan konfirmasi pemesanan Hubungi CS Prosehat 085775500800

Deskripsi Paket Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim) :

Manfaat Vaksinasi DTP + Hib + Polio (Hexaxim)

Indikasi :

Hexaxim memberikan proteksi pada bayi dan anak berusia 6 minggu – 24 bulan terhadap enam penyakit, yaitu:

  • Diphtheria
  • Tetanus
  • Pertusis
  • Hepatitis B
  • Poliomyelitis
  • Penyakit invasif yang disebabkan oleh  Haemophilus influenzae type b (Hib)

Kelebihan : 

Penelitian terhadap Hexaxim menunjukan efektivitas sebesar 96.7% setelah vaksinasi primer lengkap dan 98.5% setelah vaksinasi booster

Mengapa Bukan Yang Lain :

  • Penggunaan yang mudah dengan pre-filled syringe sehingga menjamin sterilisasi vaksin dan mengurangi risiko kegagalan pencampuran vaksin oleh tenaga medis
  • Proteksi terhadap 6 penyakit sekaligus mengurangi jumlah kunjungan ke dokter dan mengurangi jumlah injeksi yang diterima oleh anak

Usia :

Bayi dan anak berusia 6 minggu hingga 24 bulan

Pemberian Vaksin :

Vaksinasi primer

  • Hexaxim diberikan dalam 3 dosis masing-masing 0.5 mL pada usia 6, 10, 14 minggu atau pada usia 2, 4, 6 bulan melalui penyuntikan ke dalam otot sisi samping tungkai atas pada semua usia atau ke dalam otot lengan atas pada anak usia di atas 15 bulan.
  • Jika anak telah mendapatkan vaksinasi Hepatitis B segera setelah lahir, Hexaxim bermanfaat sebagai dosis tambahan. Jika dosis Hepatitis B yang kedua dibutuhkan sebelum anak berusia 6 bulan, maka sebaiknya vaksinasi menggunakan vaksin Hepatitis B saja.

Vaksinasi booster

  • Vaksinasi booster harus dilakukan saat anak mencapai usia 2 tahun
  • Jika anak telah menerima vaksinasi primer Hepatitis B secara lengkap, maka Hexaxim dapat digunakan sebagai vaksinasi booster

Efek samping yang mungkin terjadi adalah: demam, rewel, nyeri/kemerahan/bengkak pada likasi penyuntikan, menangis lebih sering, penurunan napsu makan, mengantuk, muntah, dan diare.

Bahaya Penyakit :

Difteri

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria. Penyakit ini sangat menular, menyebar melalui batuk, bersin, sentuhan dengan penderita, atau kontak dengan barang milik penderita yang terkontaminasi oleh bakteri. Racun yang diproduksi oleh bakteri Corynebacterium diphtheria menyerang saluran pernapasan bagian atas (hidung, amandel, pita suara, dan tenggorok), dan dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, dan saraf.

Gejala yang muncul adalah lemah, demam, nyeri tenggorok, suara serak, pembengkakan kelenjar pada leher, sulit menelan, dan sulit bernapas. Komplikasi yang dapat disebabkan oleh difteri adalah sumbatan jalan napas, kerusakan otot jantung (miokarditis), kerusakan saraf (polineuropati), kelumpuhan, dan infeksi paru (gagal napas atau pneumonia). Dengan terapi, 1 dari 10 pasien difteri mengalami kematian. Tanpa terapi, 1 dari 2 pasien meninggal akibat difteri.

Pertusis

Pertusis lebih dikenal dengan istilah batuk rejan atau batuk 100 hari. Jika batuk biasa dapat sembuh dalam 3-4 hari, batuk ini dapat berlangsung lama hingga lebih dari 100 hari, dan dapat menyebabkan kematian terutama jika menyerang bayi berusia di bawah 6 bulan.

Bakteri penyebabnya adalah Bordetella pertusis. Bakteri ini dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak udara atau melalui barang-barang yang telah terkontaminasi seperti kain dan mainan anak. Ketika penderita bersin atau batuk, maka ribuan bakteri akan tersebar ke lingkungan sekitar. Itulah mengapa penyakit ini sangat menular.

Bagian dari tubuh yang diserang pada penyakit ini adalah selaput lendir dari saluran napas. Saluran napas meradang dan bengkak, mengakibatkan bertambahnya produksi lendir berlebih. Kedua hal ini membuat saluran napas menjadi sempit. Pada kasus yang lebih parah, terutama pada bayi, dapat menyebabkan sumbatan jalan napas yang berakibat kematian.

Pada awalnya gejala yang muncul seperti flu biasa, berupa pilek, rasa kering atau peradangan pada tenggorok, dan demam. Namun, biasanya lendir yang dihasilkan biasanya sangat berlebihan. Setelah muncul gejala ini, penderita bersifat sangat menular sampai kurang lebih 2 minggu berikutnya. Pada tahap ini, penderita harus dipisahkan yang lainnya, terutama dengan bayi. Bersamaan dengan gejala flu tadi, timbul batuk yang akan bertambah buruk pada malam hari. Frekuensi batuk bervariasi, dari hanya beberapa kali sampai ratusan kali per hari, namun biasanya berkisar antara 12 sampai 15 kali. Pada saat batuk, biasanya wajah penderita terlihat memerah dan mata terlihat berair. Pada sebagian kasus, karena batuk yang begitu beratnya, mengakibatkan tidak ada kesempatan penderita untuk menghirup oksigen di antara periode batuk tersebut, sehingga asupan oksigen menurun dan wajah terlihat membiru. Kesulitan bernapas tersebut menyebabkan penderita menarik napas dengan suara melengking di antara periode batuk. Biasanya pada akhir batuk, penderita akan muntah. Batuk akan berakhir 6 sampai 8 minggu, walaupun dengan menggunakan antibiotik. Namun pada sebagian kasus, bisa mencapai 3 bulan atau lebih, maka dinamakan batuk 100 hari.

Komplikasi terburuk dapat terjadi jika penyakit ini menyerang bayi. Sekitar dua pertiga kasus pada bayi, mengharuskan bayi dirawat di rumah sakit. Bahkan data di Inggris, menunjukan 1 dari 500 bayi yang terserang pertusis meninggal dunia. Komplikasi yang dapat timbul adalah pneumonia (radang jaringan paru), atelektasis (jaringan paru menciut) dan bronchiektasis (terbentuk kantong infeksi pada saluran nafas kecil dari paru), pendarahan (biasanya pada mata) akibat batuk yang amat parah, hernia (karena batuk yang parah menyebabkan tekanan dalam perut meningkat), dan kejang akibat kurangnya pasokan oksigen ke otak atau karena terdapat pendarahan kecil pada otak.

Tetanus

Tetanus adalah suatu penyakit yang akut dan fatal dengan tanda utama kekakuan dan kejang berulang menyeluruh pada otot-otot rangka. Tetanus disebabkan oleh toksin/racun yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Bakteri tetanus banyak ditemukan di tanah, debu, pupuk, kotoran manusia, kotoran hewan, dan sampah. Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka, misalnya luka tusuk atau luka iris yang dalam dan kotor, luka tusuk akibat duri atau paku yang berkarat, luka peluru, pisau, gigitan hewan, atau tindik yang dibuat dengan jarum yang tidak steril. Pada bayi yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak dipotong dengan pisau atau gunting steril.

Gejala mulai terlihat sekitar 8 hari setelah mengalami luka tersebut. Tetanus dapat menyebabkan gejala berikut yaitu nyeri kepala, gelisah, demam, nyeri pada otot rahang yang kemudian diikuti rasa kaku (trismus) pada rahang, kekakuan otot leher, kekakuan otot menelan menyebabkan penderita sulit menelan, kekakuan otot muka yang menyebabkan ekspresi khusus yang disebut Risus Sardonicus (alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, dan bibir tertekan kuat), otot perut mengeras, dan akhirnya kekakuan pada seluruh otot-otot rangka tubuh. Kekakuan biasanya berkurang setelah 2-3 minggu, namun dapat tetap berlangsung sampai 6-8 minggu pada kasus yang berat.

Tetanus juga disertai kejang yang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5-7 hari. Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekuensinya dan setelah 2 minggu kejang mulai hilang. Yang perlu diingat adalah selama kejang, pasien biasanya tetap sadar. Ini yang membedakan kejang tetanus dengan kejang karena sebab lain. Gambaran umum yang khas berupa badan kaku melengkung pada bagian punggung, tungkai menekuk, lengan kaku dengan tangan mengepal. Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi kesulitan bernapas, tidak keluarnya urine akibat gagal ginjal akut, bahkan dapat terjadi patah tulang belakang (pada anak).

Penyakit tetanus pada bayi baru lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada bayi.  Tetanus pada bayi baru lahir menyebabkan 50% kematian perinatal dan 20% kematian bayi. Gejala tetanus pada bayi terjadi 3-10 hari setelah persalinan, bayi menangis terus menerus, tidak mau menyusu, demam, daerah tali pusat tampak kotor, meradang, kemerahan, dan bengkak akibat infeksi.

Hepatitis B

Hepatitis B adalah penyakit pada hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Pada kondisi akut, pasien akan mengeluh mual, muntah, lemas, demam, dan kuning.  Sekitar 90% dari mereka yang mengalami infeksi Hepatitis B akut akan sembuh tanpa gejala sisa setelah beberapa minggu hingga bulan. Sedangkan sekitar 10% penderita hepatitis B akut akan menjadi penderita kronis. Penderita kronis ini dapat menjadi agen penularan dan dapat berubah menjadi penderita sirosis hati (hati mengkerut sehingga tidak dapat berfungsi dengan normal) dan keganasan (kanker hati).

Poliomyelitis

Poliomyelitis atau polio adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus polio yang menyebabkan kelumpuhan. Polio dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia, dengan lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3-5 tahun. Infeksi polio menular melalui rute fekal oral. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses yang mengandung virus polio, lalu menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat sehingga menyebabkan kelemahan otot dan bahkan kelumpuhan.

Terdapat dua jenis infeksi polio, yaitu:

  • Polio non-paralisis

Polio non-paralisis menyebabkan gejala demam, muntah, sakit perut, lesu, kram otot pada leher dan punggung, serta otot teraba lemah jika disentuh.

  • Polio Paralisis

Kurang dari 1 persen orang yang terinfeksi virus polio berkembang menjadi polio paralisis atau menderita kelumpuhan. Polio paralisis dimulai dengan demam, lalu 5-7 hari berikutnya akan muncul gejala dan tanda seperti nyeri kepala, kram otot leher dan punggung, sembelit/konstipasi, dan meningkatnya sensitivitas terhadap stimulasi perabaan.

Polio paralisis tidak bersifat permanen. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal. Anak-anak yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Polio memunculkan gejala yang lebih berbahaya jika menginfeksi orang dewasa.

Penyakit invasif yang disebabkan oleh  Haemophilus influenzae type b (Hib)

Influenza (“flu”) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza, yang terjadi di Indonesia hampir merata sepanjang tahun. Virus influenza menyebar melalui batuk, bersin, dan bersentuhan dengan penderita atau barang milik penderita yang terkontaminasi oleh virus. Oleh karenanya, influenza sering menyebabkan wabah yang terlokalisir pada sebuah periode tertentu, di satu area atau komunitas tertentu, terutama di area padat populasi yang tinggal atau bekerja bersama di suatu ruangan tertutup. Keadaan inilah yang akan mempermudah penyebaran virus dan menyebabkan “musim flu” di komunitas tersebut.

Gejala influenza muncul mendadak dan bisa berlangsung selama beberapa hari. Beberapa gejala influenza adalah demam/menggigil, nyeri tenggorok, letih, batuk, pusing, nyeri pada otot, pilek atau hidung tersumbat.  Gejala flu bisa jauh lebih parah pada sebagian orang dibanding lainnya, antara lain pada anak-anak, mereka yang berusia 65 tahun ke atas, wanita hamil, dan mereka yang menderita penyakit tertentu (misalnya penyakit jantung, ginjal, paru-paru, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah). Flu juga bisa menyebabkan radang paru-paru disertai demam tinggi, radang selaput otak, serta memperberat kondisi penyakit yang sudah ada. Bahkan, flu dapat menyebabkan diare dan kejang pada anak-anak.

Faktor Resiko :

Difteri

  • belum pernah menerima vaksinasi difteri sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap
  • kontak dengan seseorang yang terdiagnosis difteri
  • tenaga medis

 Tetanus

  • belum pernah menerima vaksinasi tetanus sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap
  • menerima vaksinasi tetanus secara lengkap namun lebih dari 10 tahun yang lalu dan tidak menerima vaksinasi booster
  • bayi baru lahir yang dilahirkan di tempat yang tidak steril, terutama jika tali pusar terinfeksi
  • bayi baru lahir dari ibu yang tidak pernah menerima vaksinasi tetanus sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap atau tidak melakukan vaksinasi booster

 Pertusis

  • bayi di bawah 6 bulan
  • belum pernah menerima vaksinasi pertusis sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap
  • kontak rutin dengan seseorang yang menderita pertusis (anggota keluarga yang tinggal serumah, anak-anak satu sekolah, atau satu tempat kerja)

 Hepatitis B:

  • belum pernah menerima vaksinasi hepatitis B sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap
  • bayi dari ibu hamil dengan antigen Hepatitis B positif
  • rutin menjalani hemodialisa atau cuci darah
  • rutin menerima transfusi darah
  • memiliki pekerjaan berisiko tinggi seperti tenaga medis
  • anggota keluarga pasien dengan antigen Hepatitis B positif
  • menderita hemofilia/thallasemia
  • menggunakan narkotika jenis suntik
  • melakukan aktivitas seksual risiko tinggi (misal sering berganti pasangan seksual)

Poliomyelitis

  • belum pernah menerima vaksinasi polio sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap
  • belum pernah menerima vaksinasi polio dan kontak dengan orang yang baru saja divaksinasi polio
  • bepergian ke daerah yang endemik polio atau baru saja terjadi Kejadian Luar Biasa polio
  • tinggal dengan orang yang terinfeksi virus polio
  • memiliki pekerjaan yang mengharuskan Anda kontak dengan spesimen laboratorium yang mengandung virus polio (misalnya tenaga medis)
  • mengalami penurunan sistem imun

 Penyakit invasif yang disebabkan oleh  Haemophilus influenzae type b (Hib)

  • belum pernah menerima vaksinasi influenza sama sekali atau menerima vaksinasi secara tidak lengkap
  • anak-anak berusia 6 bulan – 4 tahun (59 bulan)
  • orang dewasa berusia 50 tahun ke atas
  • penderita penyakit paru kronis termasuk pengidap asma, penderita penyakit jantung menahun kecuali penderita hipertensi, penderita penyakit gangguan ginjal, hati, saraf, gangguan darah, dan penyakit gangguan metabolik termasuk penderita diabetes mellitus
  • memiliki kekebalan tubuh yang menurun (kondisi yang menyebabkan imunosupresi baik oleh karena obat maupun karena infeksi HIV)
  • ibu hamil dan ibu yang sedang merencanakan kehamilan
  • tinggal di panti perawatan atau fasilitas perawatan penyakit kronis lainnya
  • obesitas (IMT di atas dari 40)
  • tenaga medis
  • pekerja yang kontak dan merawat anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun atau lansia yang berusia di atas 50 tahun
  • pekerja yang kontak dan merawat orang-orang dengan gangguan medis yang berisiko tinggi untuk terkena komplikasi fatal dari influenza.

Pencegahan :

Difteri

Dalam program pemerintah Indonesia, vaksinasi terhadap difteri diberikan bersama vaksin untuk penyakit pertusis dan tetanus, yaitu DPT. Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu, dan vaksinasi ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun.

Pertusis

Dalam program pemerintah Indonesia, vaksinasi terhadap pertusis diberikan bersama vaksin untuk penyakit difteri dan tetanus, yaitu DPT. Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu, dan vaksinasi ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun.

Tetanus

Pencegahan primer

Tetanus dapat dicegah dengan vaksinasi. Pemerintah telah menetapkan vaksin tetanus yang dikombinasikan dengan vaksin difteri dan pertusis (DPT) sebagai salah satu imunisasi dasar wajib bagi balita. Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu, ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun. Disarankan vaksinasi booster tetanus dilakukan setiap 10 tahun sekali.

Pencegahan sekunder

Jika terjadi luka, lakukan pembersihan luka buang lalu jaringan mati dan benda asing dibuang. Setelah itu, dapat diberikan ATS (Anti Tetanus Serum) dan atau tetanus immunoglobulin.

Hepatitis B

Infeksi virus hepatitis B menular melalui darah (transfusi, jarum suntik, jarum akupuntur, jarum tato, dari ibu ke anak saat proses persalinan) dan hubungan seksual.

Cara pencegahannya adalah tidak menggunakan jarum yang tidak steril dan menerapkan perilaku seksual yang aman (menggunakan kondom, tidak sering berganti pasangan seksual).

Cara pencegahan lain adalah dengan vaksinasi hepatitis B. Vaksinasi primer lengkap yang diberikan sejak bayi baru lahir terbukti dapat mencegah infeksi hepatitis B selama 25 tahun. Akan tetapi pada orang-orang dengan faktor risiko tinggi tertular infeksi hepatitis B seperti yang disebutkan di atas, maka vaksinasi booster tetap disarankan jika hasil pemeriksaan menunjukan kadar antibodi terhadap antigen Hepatitis B yang mengalami penurunan dan tidak lagi bersifat protektif.

Poliomyelitis

Walaupun sanitasi umum dan kebersihan individual baik dapat menurunkan resiko penyebaran polio, namun hal yang paling efektif untuk mencegah terinfeksi polio adalah dengan vaksinasi. Terdapat dua jenis vaksin polio, yaitu:

  • Vaksin polio oral

Vaksin ini berisi virus polio hidup yang telah dilemahkan, dan diadministrasikan dengan cara diteteskan ke dalam mulut

  • Vaksin polio injeksi

Vaksin ini berisi virus polio yang tidak aktif karena telah dimatikan, dan diadministrasikan dengan cara injeksi atau penyuntikan

Penyakit invasif yang disebabkan oleh  Haemophilus influenzae type b (Hib)

Terdapat dua jenis vaksin influenza, yaitu:

  • Vaksin dari virus influenza yang dinonaktifkan (vaksin mati/inaktif)

Vaksinasi ini diberikan melalui suntikan dan sebaiknya diberikan rutin setiap tahun. Anak-anak usia 6 bulan-8 tahun sebaiknya mendapatkan dua dosis pada tahun pertama mereka divaksinasi. Virus influenza selalu berubah-ubah. Setiap tahun, vaksinasi flu dibuat untuk melindungi diri Anda dari virus yang kemungkinan besar menyebabkan influenza pada tahun itu. Kendati vaksinasi flu tidak dapat mencegah semua kasus penyakit flu, vaksin ini merupakan pertahanan terbaik melawan penyakit ini. Vaksin flu yang dinonaktifkan melindungi dari 3-4 virus influenza. Diperlukan waktu 2 minggu sejak hari penyuntikan, untuk membentuk pertahanan tubuh yang optimal. Perlindungan ini bertahan selama beberapa bulan sampai satu tahun. Sebagian penyakit yang tidak disebabkan oleh virus influenza sering disalahpahami sebagai flu. Vaksin flu tidak akan mencegah semua penyakit batuk-pilek, melainkan hanya mencegah influenza.

  • Vaksin yang terbuat dari virus influenza yang masih hidup dan dilemahkan

Vaksin ini diadministrasikan dengan cara disemprotkan ke dalam hidung. Vaksin ini belum tersedia di Indonesia.

Kemasan Jual

Related Products

Other Products From This Seller