Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Serangan Jantung pada Wanita dan Pria, Sejauh Mana Perbedaannya?

Serangan jantung atau dalam bahasa medis dikenal sebagai sindrom koroner akut ialah masalah kesehatan yang sangat serius baik bagi pria maupun wanita. Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. WHO memperkirakan sekitar 3,8 juta pria dan 3,4 juta wanita meninggal setiap tahunnya karena penyakit jantung yang fatal dan paling banyak disebabkan karena serangan jantung. Di Inggris, 1 dari 3 pria dan 1 dari 4 wanita meninggal karena serangan jantung dan sekitar 188.000 orang mengalami serangan jantung setiap tahunnya. Baik di negara maju, maupun negara berkembang, serangan jantung masih menjadi momok yang menakutkan.

Tentu Sobat sekalian sudah sering mendengar berbagai informasi terkait serangan jantung dan gejala yang ditimbulkan. Meskipun benar gejala serangan jantung pada umumnya adalah nyeri pada dada kiri, namun apakah gejala serangan jantung pada wanita dan pria sepenuhnya sama? Hal ini penting untuk diketahui karena gejala serangan jantung perlu disadari dengan cepat agar tidak terlambat mendapatkan penanganan dan intervensi medis, apalagi kita semua tahu bahwa jantung merupakan organ yang sangat vital. Nah untuk dapat memahaminya, yuk Sobat baca lebih lanjut.

Sindrom koroner akut merupakan kumpulan gejala dan spektrum penyakit yang umumnya disebabkan karena adanya plak aterosklerosis yang menyumbat pembuluh darah koroner jantung. Kondisi ini akan menyebabkan gejala berupa:

  • Rasa tidak nyaman atau nyeri di dada kiri seperti tertekan beban berat yang menjalar ke daerah leher, bahu, lengan, dagu, atau punggung.
  • Gejala lain yang dapat menyertai: sesak nafas, mual dan muntah, berkeringat dingin, berdebar-debar, dan sinkop.

Gejala-gejala tersebut biasanya tidak membaik dengan istirahat. Selain itu, terdapat beberapa faktor risiko yang telah diketahui dapat menyebabkan serangan jantung seperti:

  • Hipertensi,
    Diabetes melitus,
  • Dislipidemia atau kadar lemak darah yang tinggi,
  • Merokok,
  • Riwayat serangan jantung pada keluarga atau faktor genetik,
  • Obesitas,
  • Konsumsi alkohol, dan
  • Depresi.

Setiap gejala yang dicurigai mengarah kepada serangan jantung perlu dipastikan dengan pemeriksaan penunjang seperti rekam jantung dan pemeriksaan enzim jantung. Serangan jantung jika tidak tertangani dengan segera dapat menyebabkan berbagai komplikasi seperti kerusakan katup dan struktur jantung lainnya, kegagalan pompa jantung, gangguan irama jantung, hingga kematian.

Penanganan yang cepat harus dilakukan agar dapat mencegah terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan. Namun agar bisa mendapatkan penangan yang optimal dan maksimal, tentu tidak boleh sampai terlambat menyadari gejala dari serangan jantung itu sendiri. Permasalahannya tidak sesederhana itu loh ternyata! Banyak yang tidak menyadari bahwa gejala yang sedang dialami adalah gejala serangan jantung yang tidak khas sehingga terlambat mengunjungi fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan penanganan. Sobat semua perlu ingat bahwa gejala dari serangan jantung tidak selalu sama seperti gejala yang dicantumkan di atas. Banyak sekali faktor yang menyebabkan gejala serangan jantung menjadi tidak spesifik, seperti usia, adanya penyakit penyerta lainnya seperti diabetes melitus, dan bahkan jenis kelamin. Mungkin cukup mengagetkan namun hal tersebut terbukti benar bahwa jenis kelamin menjadi salah satu faktor penting.

Ternyata penelitian melihat adanya beberapa perbedaan serangan jantung pada wanita dan pria. Data menunjukkan bahwa serangan jantung ialah penyebab kematian pada wanita yang paling tinggi, lebih tinggi dibandingkan kanker payudara, kanker serviks, ataupun berbagai jenis kanker lainnya yang biasanya lebih ditakuti oleh wanita. Wanita cenderung lebih lama untuk mengunjungi fasilitas kesehatan terkait keluhan serangan jantung yang dialaminya, sehingga sering terlambat mendapatkan penanganan yang maksimal.

Gejala serangan jantung pada wanita seringkali menunjukkan gejala yang tidak khas. Banyak dari wanita yang mengalami serangan jantung tanpa mengeluhkan adanya nyeri dada sama sekali, namun keluhan yang muncul berupa nyeri punggung, nyeri ulu hati, gangguan pencernaan, mual dan muntah, dan terasa lemas pada seluruh tubuh, meskipun masih ada sebagian kecil yang mengalami nyeri dada yang khas.

Hal ini sangat berbeda dengan pria, di mana gejala nyeri dada kiri yang disertai keringat dingin hebat adalah yang paling sering dikeluhkan. Pria sangat jarang mengeluhkan nyeri ulu hati dan mual muntah sebagai gejala dari serangan jantung. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat serangan jantung pada wanita juga lebih tinggi dibandingkan pria akibat keluhan pada wanita yang kurang spesifik dan semakin tua usia wanita mengalami serangan jantung.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya mengapa hal ini dapat terjadi. Wanita pada awalnya cukup ‘terlindungi‘ dari serangan jantung oleh hormon estrogen yang dimilikinya. Namun saat menopause terjadi, maka produksi estrogen seorang wanita menurun drastis yang dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas dan peningkatan tekanan darah. Hal ini menyebabkan risiko serangan jantung pada wanita menjadi sama besar dengan pria saat memasuki periode menopause. Selain itu, rata-rata usia wanita yang mengalami serangan jantung lebih tua dibandingkan pria dan seringkali disertai dengan penyakit penyerta lain seperti diabetes melitus, kadar lemak darah tinggi, dan depresi. Hal inilah yang menyebabkan keluhan serangan jantung yang dialami oleh wanita seringkali tidak spesifik dibandingkan dengan pria.

Serangan jantung pada wanita dan pria ternyata cukup berbeda bukan? Mulai dari gejala yang cenderung lebih tidak khas pada wanita dan berbagai faktor penyebab yang mendasarinya, sehingga hal ini pun perlu menjadi perhatian bagi setiap kita untuk lebih sadar akan kemungkinan gejala serangan jantung yang seringkali tidak khas. Setelah mengetahui mengenai hal ini, Sobat jangan lupa untuk ikut memberikan edukasi bagi orang tua ataupun saudara dan sahabat agar setiap kita semua lebih berhati-hati dan sadar akan kemungkinan gejala serangan jantung. Sobat bisa mencari informasi kesehatan lainnya dengan cara mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat sekarang juga. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800.

instal aplikasi prosehat

DAFTAR PUSTAKA

1. Ralston SH, Penman ID, Strachan MWJ, Hobson RP. Davidson’s principles and practice of medicine. 23rd ed. China: Elsevier; 2018. p. 484-6.
2. Morrow DA. Myocardial infactions: a companion to Braunwald’s heart disease. China: Elsevier; 2017. p. 11.
3. Patel H, Rosengren A, Ekman I. Symptoms in acute coronary syndromes: does sex make a difference? American Heart Journal. 2004;148(1):27–33.
4. Ferri FF. Ferri’s clinical advisor. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 31-2.
5. Devon HA, Ryan CJ, Ochs AL, Shapiro M. Symptoms across the continuum of acute coronary syndromes: differences between women and men. American Journal of Critical Care. 2008;17:14-25.
6. Arslanian-Engoren C, Patel A, Fang J, Armstrong D, Kline-Rogers E, Cuvernoy CS, et al. Symptoms of men and women presenting with acute coronary syndromes. Am J Cardiol. 2006;98:1177–1181.
7. Canto JG, Rogers WJ, Goldberg RJ, Peterson ED, Wenger NK, Vaccarino V, et al. Association of age and sex with myocardial infarction symptom presentation and in-hospital mortality. JAMA. 2012;307(8):813-822.
8. Maas AHEM, Appelman YEA. Gender differences in coronary heart disease. Neth Heart J 2010;18:598-603.

WhatsApp Asisten Maya saja