Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ vaksin itu perlu”

Showing 21–25 of 25 results

  • Pemerintah Indonesia sedang gencar memberikan vaksin kepada masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19. Walaupun tidak banyak, sebagian masyarakat mungkin mengalami efek samping dari vaksin. Salah satu efek samping yang mungkin didapatkan adalah demam. Baca Juga: Sakit Kepala Setelah Vaksinasi Covid-19? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia telah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak […]

    Cara Mengatasi Demam Setelah Divaksin Covid-19

    Pemerintah Indonesia sedang gencar memberikan vaksin kepada masyarakat untuk mencegah penularan Covid-19. Walaupun tidak banyak, sebagian masyarakat mungkin mengalami efek samping dari vaksin. Salah satu efek samping yang mungkin didapatkan adalah demam.

    demam setelah divaksin

    Baca Juga: Sakit Kepala Setelah Vaksinasi Covid-19? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia telah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak menimbulkan efek samping yang serius.

    Dalam Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal (Dirjen) tentang pencegahan dan pengendalian penyakit Kemenkes No. HK. 02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona virus Disease 2019 (Covid-19) telah dijelaskan secara umum bahwa, vaksin Covid-19 tidak menimbulkan reaksi pada tubuh ataupun apabila terjadi hanya menimbulkan reaksi yang ringan.

    Vaksinasi memicu perlawanan tubuh akan infeksi dengan menyebabkan sistem kekebalan tubuh penerima bereaksi terhadap antigen yang terkandung di dalam vaksin. Pemberian vaksin ini dapat memicu reaksi lokal atau sistemik (seluruh tubuh), seperti nyeri pada tempat suntikan atau demam. Demam yang terjadi adalah bagian dari respon imun.

    Vaksin yang berkualitas adalah vaksin yang menimbulkan reaksi ringan seminimal mungkin, namun tetap memicu respons imun terbaik. Frekuensi terjadinya reaksi ringan vaksinasi biasanya ditentukan oleh jenis vaksinnya.

    Dalam surat keputusan yang ditetapkan oleh Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Muhammad Budi Hidayat mengatakan, bahwa reaksi yang mungkin terjadi setelah vaksinasi Covid-19 hampir sama dengan vaksin lainnya.

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat, demam adalah efek samping yang umum dari vaksinasi. Jadi, Sahabat Sehat, sangat penting untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mengalami demam setelah mendapatkan vaksin Covid-19.

    Alasan Munculnya Demam Setelah Divaksin

    Sahabat Sehat harus tahu, pada awalnya, tubuh belum mengenali virus dan dianggap seperti benda asing. Ketika disuntikkan vaksin, tubuh akan membentuk antibodi/kekebalan tubuh untuk mengenali protein virus.

    Karena sistem kekebalan tubuh dihidupkan oleh vaksin, tubuh akan meresponsnya dengan mengeluarkan mediator radang atau inflamasi yang menyebabkan demam. Terkadang, reaksi tubuh terhadap vaksin ini berbeda-beda, sehingga tidak semua orang yang divaksin akan mengalami demam.

    Tidak Perlu Khawatir

    Sahabat Sehat tidak perlu khawatir jika setelah vaksinasi mengalami demam karena demam pasca vaksinasi dalam konteks efek samping vaksin adalah suatu hal yang normal. Biasanya efek samping pasca vaksin akan cenderung hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.

    Baca Juga: Efek Samping Vaksin Covid-19 dan Cara Mengatasinya

    Untuk mengatasi reaksi seperti demam, petugas kesehatan biasanya menganjurkan penerima vaksin untuk minum lebih banyak, menggunakan pakaian yang nyaman, mengompres atau mandi air hangat, dan meminum obat parasetamol sesuai dosis.

    Jangan ragu untuk menghubungi dokter apabila terdapat gejala tambahan, seperti sakit di leher, diare, sesak napas ataupun batuk, atau pun bila Sahabat memiliki beberapa pertanyaan terkait reaksi pasca vaksin.

    Produk Terkait: Jual Obat Batuk

    Istirahat yang Cukup

    Jika Sahabat Sehat mengalami gejala demam setelah divaksin, Sahabat harus bisa memastikan tubuh mendapat waktu tidur dan asupan air yang cukup karena hidrasi dan istirahat yang cukup bisa bermanfaat bagi pasien yang mengalami demam pasca vaksinasi.

    Prof. Dr. Hindra Irawan Satari, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), pasca vaksin Covid-19 Sinovac, menjawab pertanyaan mengenai laporan efek samping dari beberapa orang seperti demam hingga lemas. Sebagian besar gejala pasca vaksin merupakan gejala ringan, seperti demam, pegal, nyari tempat suntikan, dan kemerahan, yang pada umumnya tidak memerlukan pengobatan.

    Namun, apabila didapatkan reaksi berat pasca vaksin dan sebelumnya memiliki riwayat penyakit komorbid, pasien mungkin perlu rawat inap dan membutuhkan tindakan segera.

    Sahabat Sehat, sekarang sudah paham kan mengapa Sahabat Sehat bisa mengalami demam setelah vaksin. Demam memang efek samping ringan yang umum ditemukan dari vaksin Covid-19.

    Bagi Sahabat Sehat yang memang mengalami efek samping demam karena vaksin Covid-19, tidak perlu khawatir. Sahabat hanya perlu menjaga asupan cairan dan istirahat cukup. Perlu diingat juga, biasanya, efek samping ringan dari vaksin Covid-19 bisa hilang dengan sendirinya hanya dalam waktu beberapa hari.

    Namun, apabila Sahabat Sehat merasa keluhan tidak kunjung hilang atau bertambah berat, Sahabat bisa segera melapor ke dokter dan menceritakan keluhan yang dirasakan.

    Satu hal yang perlu diingat juga, walaupun Sahabat Sehat telah divaksinasi, bukan berarti Sahabat Sehat tidak bisa terpapar Covid-19. Sahabat Sehat harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

    Baca Juga: Perilaku 5M, Cara Tepat dan Efektif Meminimalkan Penyebaran Covid-19

    Pastikan Sahabat Sehat tetap menjaga diri sendiri dan juga keluarga agar terhindar dari virus yang berbahaya ini. Sampai dengan pandemi Covid-19 ini berakhir di Indonesia atau bahkan dunia, Sahabat Sehat baru bisa sedikit melonggarkan kebiasaan-kebiasaan seperti sekarang.

    Terakhir, jangan takut divaksin hanya karena takut terjadi efek samping yang didapat oleh tubuh. Dukung lah pemerintah dalam program vaksinasi Covid-19, agar Indonesia segera bebas dari Covid-19.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi seputar vaksinasi Covid-19 Sahabat bisa mengonsultasikannya pada para dokter di Prosehat melalui layanan konsultasi online. Info lebih lengkap, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Media, K., 2021. 3 Reaksi yang Mungkin Terjadi Setelah Divaksin Covid-19 Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: https://health.kompas.com/read/2021/01/14/140700468/3-reaksi-yang-mungkin-terjadi-setelah-divaksin-covid-19?page=all[Accessed 20 March 2021].
    2. Astutik, Y., 2021. Dari Demam Hingga Lemas, Ini Efek Samping Pasca Vaksin Covid. [online] news. Available at: https://www.cnbcindonesia.com/news/20210120132626-4-217424/dari-demam-hingga-lemas-ini-efek-samping-pasca-vaksin-covid. [Accessed 20 March 2021].
    3. Media, K., 2021. Jika Demam Pasca-vaksinasi Covid-19, Apa yang Harus Dilakukan? Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: https://lifestyle.kompas.com/read/2021/02/25/105109320/jika-demam-pasca-vaksinasi-covid-19-apa-yang-harus-dilakukan?page=all. [Accessed 20 March 2021].

     

    Read More
  • Program vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan pemerintah terbagi dalam beberapa tahap. Pembagian tahap didasarkan pada beberapa hal, seperti aktivitas, profesi, maupun usia. Lansia termasuk salah satu kelompok yang masuk dalam daftar penerima vaksinasi Covid-19 tahap dua, bersama dengan SDM kesehatan dan petugas negara ataupun ASN.   Baca Juga: Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19? Vaksinasi Covid-19 […]

    Prosehat dan Sentra Vaksinasi Atmajaya Sediakan Layanan Vaksinasi Covid-19 Gratis untuk Lansia Tangerang dan Sekitarnya

    Program vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan pemerintah terbagi dalam beberapa tahap. Pembagian tahap didasarkan pada beberapa hal, seperti aktivitas, profesi, maupun usia.

    Lansia termasuk salah satu kelompok yang masuk dalam daftar penerima vaksinasi Covid-19 tahap dua, bersama dengan SDM kesehatan dan petugas negara ataupun ASN.

    Foto: Aditya Danamurti/Prosehat

     

    Baca Juga: Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19?

    Vaksinasi Covid-19 untuk lansia tercantum dalam surat edaran (SE) nomor HK.02.02/I/368/2021 tentang pelaksanaan vaksinasi Covid-19 pada kelompok sasaran lansia, komorbid, penyintas Covid-19, dan sasaran tunda.

    Menurunkan Angka Kematian

    Berdasarkan informasi dari pakar epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), dr. Syahrizal Syarif, pemberian vaksinasi pada kelompok lansia menjadi prioritas. Menurutnya, langkah ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan sekaligus  menurunkan beban pelayanan kesehatan yang selama ini ditanggung oleh pemerintah.

    Baca Juga: Pemerintah Mengizinkan Pemberian Vaksin Sinovac untuk Lansia

    Dari target ataupun sasaran pemberian vaksinasi Covid-19 secara nasional yang berjumlah 181. 554.465, kelompok lansia dan golongan tahap yang sama berjumlah lebih dari 40 juta lebih. Dari jumlah tersebut, per 15 Maret 2021, golongan lansia dan petugas negara yang divaksin barulah kurang dari 2 (dua) juta orang.

    Foto: Aditya Danamurti/Prosehat

    Jumlah penerima vaksin tersebut tentulah masih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang harus divaksin. Di lain sisi, pemerintah berkejaran dengan waktu untuk segera menargetkan vaksinasi masyarakat sebanyak mungkin. Mengingat pula bahwa para lansia rentan terhadap penyakit ini dan perode masa kedaluwarsa vaksin yang terus mepet.

    Peran Aktif Semua Komponen Masyarakat

    Dari fakta tersebut, pemerintah tidak bisa mengandalkan diri sendiri, melainkan harus mulai melibatkan berbagai komponen masyarakat yang berkompetensi untuk membantu penyebaran vaksinasi tersebut.

    Baca Juga: Yuk, Sukseskan Vaksinasi Covid-19 Bersama-sama Agar Pencegahan Virus Optimal

    Tergerak dan terpanggil, Prosehat sebagai salah satu layanan penyedia kesehatan Indonesia bekerja sama dengan Sentra Vaksinasi Atmajaya (SVA) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang akan melakukan vaksinasi Covid-19, terutama pada kelompok prioritas lansia.

    Acara ini mulai dilaksanakan 17-21 Maret 2021 di Kampus Universitas Katolik Atma Jaya, BSD,  Cisauk, Tangerang, Banten dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.

    Syarat dan Ketentuan Berlaku

    Vaksinasi massal gratis secara walk in ini menargetkan bisa menerima vaksinasi Covid-19 kepada sekitar 3.000 orang. Untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19 gratis ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh peserta, yaitu:

    1. Masyarakat umum, alumni dan keluarga alumni Unika Atma Jaya (berusia 60 tahun atau lebih)
    2. Memiliki KTP Kabupaten Tangerang atau Surat Keterangan Domisili RT/RW di Kabupaten Tangerang.
    3. Memenuhi persyaratan medis sesuai arahan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

    Didukung oleh Prosehat, sekitar 300 sukarelawan dari Ikatan Alumni Unika Atma Jaya beserta seluruh Paguyuban Widyani Atma Jaya akan secara total ambil bagian dalam vaksinasi massal yang juga didukung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang ini.

    Foto: Aditya Danamurti/Prosehat

    Langkah ini menjadi wujud nyata kepedulian dan sikap proaktif semua Anak Bangsa dari berbagai komponen dan bidang ilmu.

    Baca Juga: Sahabat Sehat, Yuk, Jangan Takut Vaksin Covid-19

    Bagi yang ingin mendaftar atau mendaftarkan sanak saudara yang berusial lanjut, silahkan mengakses info lebih lengkap  di klik www.vaksinasiatma.id dan mendaftar di Asisten Kesehatan Maya 08111816800.

     

    Read More
  • Ancaman kematian tertinggi di dunia adalah Virus Covid-19, tetapi masih banyak sekali masyarakat yang menganggap remeh virus ini, sementara pemerintah sudah berupaya keras mencegah dan menangani virus dengan berbagai cara termasuk mengedarkan vaksin Covid-19 secara massal walaupun masih dalam tahap percobaan. Baca Juga: Yuk, Sahabat, Ketahui dan Waspadai Mitos Vaksin Covid-19 Berikut! Vaksin COVID-19 sudah […]

    Yuk, Sahabat, Perhatikan Fakta vaksin COVID-19 Berikut!

    Ancaman kematian tertinggi di dunia adalah Virus Covid-19, tetapi masih banyak sekali masyarakat yang menganggap remeh virus ini, sementara pemerintah sudah berupaya keras mencegah dan menangani virus dengan berbagai cara termasuk mengedarkan vaksin Covid-19 secara massal walaupun masih dalam tahap percobaan.

    fakta vaksin Covid-19, fakta vaksin Corona

    Baca Juga: Yuk, Sahabat, Ketahui dan Waspadai Mitos Vaksin Covid-19 Berikut!

    Vaksin COVID-19 sudah melalui banyak tahap uji klinis dan ditangani dengan ribuan relawan untuk menciptakannya. Namun, tak sedikit masyarakat yang masih menanyakan keefektifan vaksin, keamanan, dan standar pembuatannya.

    Para ahli memberikan pesan untuk meninggalkan informasi yang tidak masuk akal dan merugikan diri sendiri sehingga dampaknya besar karena menganggap remeh virus COVID-19.

    Beberapa fakta vaksin COVID-19

    1. Efek samping vaksin 

    Setelah tenaga kesehatan mendapatkan vaksin, beberapa ada laporan mengenai efek samping vaksin COVID-19 yang merasakan seperi lemas, nyeri, ngantuk, nafsu makan bertambah dan juga demam, reaksi tubuh ini dianggap wajar karena adanya suatu reaksi dalam pembentukan sistem imunitas tubuh.

    Laporan tersebut termasuk laporan efek samping ringan dan tidak ada efek samping yang membutuhkan perawatan intensif atau berat, jadi efek samping dari vaksin COVID-19 itu hal yang wajar karena reaksi tubuh merespon vaksin untuk pembentukkan imunitas tubuh.

    2. Vaksin diuji ketat

    Setiap vaksin telah melakukan evaluasi keamanan, tujuan vaksin di uji klinis adalah keamanan nomer satu untuk manusia yang meliputi komponen, bahan kandungan serta dosisnya diperhatikan secara intensif dan sangat detail. Sebelum vaksin dilakukan ke manusia, vaksin sudah melalui percobaan pada hewan, setelah itu vaksin dilakukan ke puluhan ribu manusia hingga mendapatkan izin untuk digunakan kepada masyarakat.

    Pelaksanaan uji klinis ini sesuai dengan standar pelaksanaan yang ketat dan sesuai aspek ilmiah, menjunjung tinggi penelitian dan keamanan sehingga tidak ada reaksi yang berlebih setelah di vaksinisasi.

    3. Vaksin tidak mengandung sel vero

    Sebagian masyarakat mengira bahwa vaksin COVID-19 mengandung sel vero yang kabarnya haram. Padahal, sel vero digunakan hanya sebagai media kultur untuk tumbuh kembangnya virus sebagai bahan baku vaksin.

    Baca Juga: Penggunaan mRNA dalam Vaksin Corona untuk Mencegah Kanker

    Setelah mendapatkan cukup banyak virus, virus akan dipisahkan dengan media pertumbuhan kemudian dimatikan dan dijadikan vaksin, jadi sel vero tidak akan terbawa dalam proses akhir atau final pembuatan vaksin.

    4. Vaksin yang sudah diedarkan sudah melalui tahap uji klinis

    Informasi yang benar mengenai vaksin COVID-19 yang diedarkan sudah melalu tahap uji klinis dan sudah dalam persetujuan BPOM. Jadi, program vaksinisasi ini bukan untuk tahap uji klinis, akan tetapi sudah melalui uji klinis.

    5. Vaksin aman dan halal

    Vaksin COVID-19 sama sekali tidak mengandung virus yang hidup di dalamnya maupun dilemahkan, vaksin ini sudah lulus uji klinis artinya dalam standar keamanannya sudah dipastikan aman dan halal, bahan kandungan yang ada di dalam vaksin tidak mengandung boraks, formalin, merkuri dan pengawet.

    6. Distribusi vaksin akan selesai dengan waktu 15 bulan

    Pemerintah akan menyelesaikan vaksinasi ke seluruh masyarakat Indonesia hingga ke pelosok dalam jangka waktu 15 bulan, sedangkan untuk distribusi vaksin COVID-19 ke seluruh dunia memakan waktu 3,5 tahun. Jadi untuk masyarakat Indonesia, perlu sekali mengamati Informasi secara cerdas dan tuntas ya.

    7. Tahapan target penerima vaksin

    Pemerintah telah mengatur menyebaran vaksinasi kepada seluruh masyarakat, namun pemerintah tidak bisa menyebarkan vaksinasi dalam satu waktu ke seluruh masyarakat Indonesia.

    Karena itu, dibuat program secara bertahap dan mengutamakan yang diprioritaskan seperti tenaga kesehatan, tenaga publik, dan masyarakat yang berisiko besar terinfeksi virus COVID-19 dengan penyakit penyerta, masyarakat yang gampang tertular.

    Baca Juga: Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19?

    Tahapan vaksinasi virus COVID-19 ada dua:

    Periode pertama, akan dimulai dari Januari 2021 sampai dengan April 2021

    • 1,3 juta vaksin COVID-19 untuk Tenaga kesehatan
    • 17,4 juta vaksin untuk tenaga publik yang tidak bisa menjaga jarak secara efeketif
    • 21,5 juta vaksin untuk lansia yang berusia di atas 60 tahun

    Periode kedua, akan dimulai dari April 2021 hingga Maret 2022

    • 63,9 juta vaksin untuk masyarakat dengan risiko besar penularan tertinggi dari segi ekonomi maupun sosial
    • 77,4 juta vaksin untuk masyarakat umum dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin

    Program vaksinasi ini sudah dilakukan secara bertahap dan berharap dapat membentuk herd immunity. Kementerian Kesehatan melaporkan dan mencatat sebanyak 149.242 orang sudah di vaksin dari target vaksin 181.554.465 penduduk Indonesia yang akan di vaksin berumur di atas 18 tahun.

    Namun, dikarenakan jumlah ketersediaan vaksin COVID-19 ini terbatas dan bertahap ,maka dilakukan vaksinasi dahulu atau memprioritaskan sumber daya manusia (SDM), yaitu tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, dan tenaga penunjang yang bekerja di pelayanan kesehatan.

    Banyak masyarakat awam terpengaruh dengan informasi-informasi yang salah dan tidak masuk akal, sebagian masyarakat bahkan banyak yang meragukan vaksin COVID-19 dari standar keamanan, kemanjuran vaksin. Padahal vaksin ini sendiri bisa mencegah berbagai penyakit juga seperti vaksin lainnya, yaitu BCG, Polio, Hepatitis B, Campak, Rubela, Hib, PCV, Influenza, Dengue, HPV.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi ke Rumah

    Vaksin merupakan salah satu cara kita untuk menghindari agar tidak terinfeksi dari virus yang berbahaya, akan tetap antisipasi dalam menjaga protokol kesehatan tetap harus diterapakan setelah divaksinisasi bukan berarti Sahabat tidak bisa tertular atau terinfeksi ya, tetap menjalankan 3M (Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan).

    Produk Terkait: Chat Dokter 24 Jam

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai vaksin Covid-19, Sahabat bisa berkonsultasi dengan para dokter di Prosehat selama 24 jam. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Ini Fakta Penting Vaksin COVID-19 – DPPKBPMD Bantul [Internet]. Dppkbpmd.bantulkab.go.id. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://dppkbpmd.bantulkab.go.id/ini-fakta-penting-vaksin-covid-19/
    2. Anindita K. Fakta-fakta Vaksinasi COVID-19 RI, Efek Samping hingga Alasan Ada yang Batal [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5347008/fakta-fakta-vaksinasi-covid-19-ri-efek-samping-hingga-alasan-ada-yang-batal
    3. COVID-19 W. Mitos Vaksin Salah, Faktanya Vaksin Aman – Berita Terkini | Covid19.go.id [Internet]. covid19.go.id. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://covid19.go.id/p/berita/mitos-vaksin-salah-faktanya-vaksin-aman

     

    Read More
  • Berbagai macam upaya pemerintah sedang dilakukan guna menyukseskan program vaksinasi Covid-19. Berbagai cara dilakukan salah satunya meng-endorse artis dan influencer agar para pengikut mereka tertarik. Program vaksinasi secara massal yang diadakan pemerintah tidak selalu berjalan mulus, bahkan sejak awal saat diadakan sosialisasinya. Karena dalam sejarahnya pasti ada saja penolakan yang diikuti hoaks seputar vaksin. Meski BPOM sendiri […]

    Sahabat Sehat, Yuk, Jangan Takut Vaksin Covid-19!

    Berbagai macam upaya pemerintah sedang dilakukan guna menyukseskan program vaksinasi Covid-19. Berbagai cara dilakukan salah satunya meng-endorse artis dan influencer agar para pengikut mereka tertarik. Program vaksinasi secara massal yang diadakan pemerintah tidak selalu berjalan mulus, bahkan sejak awal saat diadakan sosialisasinya. Karena dalam sejarahnya pasti ada saja penolakan yang diikuti hoaks seputar vaksin. Meski BPOM sendiri sudah memberikan izin terkait vaksin yang akan disebarkan ke masyarakat.

    Baca Juga: BPOM Keluarkan Izin Penggunaan Darurat untuk Vaksin Sinovac

    takut vaksin covd-19

    Dalam sejarah vaksinasi di Indonesia, berita bohong adalah menjadi kendala pertama dalam penyebaran vaksin dan imunisasi. Sampai saat ini aksi penolakan program vaksin pun nyatanya masih berlanjut. Beberapa pihak yang bersikeras menolak program vaksin Covid-19 di Indonesia dengan beragam alasan. Mulai dari memercayai berita yang diterima dari media sosial, hingga mempertanyakan efikasi dari vaksin itu sendiri yang diberikan pemerintah.

    Jika diamati, banyak temuan menarik dari berbagai aksi penolakan vaksin dari masa ke masa ini. Sesungguhnya, ada peralihan alasan penolakan. Dari yang semula penolakannya bersifat irasional (percaya pada takdir atau kabar burung) menjadi penolakan yang rasional dengan meminta data yang akurat mengenai vaksin tersebut.

    Faktor-Faktor Munculnya Penolakan Untuk Divaksin

    Lingkungan

    Lingkungan menjadi salah satu yang memberikan efek besar terhadap apapun. Misalnya jika ada salah satu orang mendapatkan informasi yang salah mengenai vaksin dan membuat dirinya menolak untuk dilakukan vaksinasi, mungkin saja akan mempengaruhi orang lain yang berada di lingkungannya. Sehingga kemungkinan besar orang tersebut akan jadi kontra juga terhadap vaksin yang akan diberikan oleh pemerintah.

    Sudut Pandang

    Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Ada yang memang langsung pro dengan langkah pencegahan dari pemerintah, ada juga yang kontra dengan berbagai alasan. Mereka yang kontra terhadap vaksin tentunya akan berusaha untuk menyampaikan sudut pandang mereka kepada orang lain. Dengan sudut pandang mereka, mereka berupaya agar orang-orang yang dikenalnya tetap mempunyai persepsi yang sama terhadap mereka, untuk menolak adanya vaksin Covid-19.

    Baca Juga: Mengenal Trypanophobia atau Fobia Jarum Suntik Saat Vaksinasi Covid-19

    Nilai yang Dianut

    Sebagian orang di Indonesia mungkin ada yang memegang nilai teguh atau kepercayaan bahwa memasukkan cairan vaksin ke tubuh dilarang oleh kepercayaannya. Selain itu, bisa juga karena proses pembuatan dan kandungan vaksin dianggap tidak sesuai dengan ajaran kepercayaannya. Secara psikologis, seseorang cenderung apatis terhadap sesuatu yang baru, apalagi bila sebelumnya punya pengalaman yang tidak menyenangkan.

    Adapun beberapa kasus, misalnya ada anggota keluarga yang meninggal karena obat tersebut. Alhasil, ketika ada sesuatu yang bisa melindungi diri dan keluarganya dari infeksi virus tersebut, ia terlanjur trauma dan ragu. Kedua, perasaan itu bisa mengembangkan sikap apatis. Hal tersebut sangatlah alamiah. Seseorang memang punya kecenderungan untuk meragukan diri ketika hendak melakukan hal baru. Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, ketika hal yang dilakukan sudah memberi hasil baik, barulah ia akan percaya.

    Jangan Ragu Untuk Divaksin, Sahabat Sehat!

    Sampai saat ini, dalam menjalankan program vaksin Covid-19, pemerintah telah melakukan dua hal penting untuk meyakinkan masyarakat. Pertama, dengan melakukan sosialisasi melalui berbagai media terkait program vaksin Covid-19. Dan kedua, melibatkan tokoh penting, pemuka agama, dan sosok perwakilan masyarakat untuk menerima vaksin lebih dulu.

    Langkah ini seharusnya dapat mengurangi aksi penolakan bagi mereka yang hanya berargumen berdasarkan informasi keliru yang diterima. Namun, tentu tidak dapat berharap banyak karena kelompok ini cenderung memperjuangkan habis-habisan dan melawan apa pun yang tidak sesuai dengan yang mereka yakini.

    Baca Juga: Yuk, Sukseskan Vaksinasi Covid-19 Secara Bersama-sama!

    Tantangan berikutnya dari pemerintah justru berkaitan dengan kebenaran fakta uji klinis dari vaksin Sinovac yang digunakan saat ini. Berita tentang efikasi vaksin Sinovac di Brasil yang hanya sebesar 50,4 persen tentunya menjadi sasaran empuk para kelompok antivaksin untuk mengkritik pemerintah. Sebelumnya, bulan lalu Turki menyatakan, efikasi vaksin Sinovac sebesar 91,25 persen berdasarkan hasil sementara yang mereka ujikan.

    Dengan semakin banyaknya kampanye atau ajakan dari berbagai macam kalangan, diharapkan masyarakat juga mulai terbuka pemikirannya untuk segera divaksin. Karena tujuan dari vaksin tersebut sangat baik dan dapat mengurangi angka kematian lebih banyak lagi dari dampak pandemi Covid-19 kedepannya.

    Artis Raffi Ahmad menjadi salah satu perwakilan milenial atau influencer yang telah disuntik vaksin Covid-19 produksi Sinovac di Istana Merdeka, Jakarta. Raffi adalah kelompok pertama yang divaksin Covid-19 perdana bersama Presiden Jokowi dan beberapa orang lainnya. Raffi pun mengajak masyarakat untuk tidak ragu dan takut menerima vaksinasi Covid-19. Kata Raffi Ahmad, masyarakat yang masih ragu adalah mereka yang belum mendapat sosialisasi pentingnya vaksinasi Covid-19. Raffi mengatakan, vaksinasi Covid-19 merupakan salah satu senjata untuk perlindungan terhadap covid-19. Vaksinasi Covid-19 kata Raffi, bisa melindungi diri sendiri, keluarga dan bangsa Indonesia dari penyebaran Covid-19.

    Ayo, ini salah satu perlindungan diri kita untuk keluarga, Indonesia. Ini salah satu perlindungan diri kita untuk keluarga dan Indonesia,” katanya.

    Maka dari itu, Sahabat Sehat sebelum menolak tujuan baik pemerintah untuk mengurangi angka kematian akibat Covid-19, diharapkan dapat membuka mata, hati, dan pikiran secara luas. Sahabat Sehat bisa mencari tahu informasi terkait vaksin Covid-19 lalu efek dan lainnya.

    Baca Juga: Mengapa Vaksin itu Baik dan Perlu?

    Sahabat sehat juga bisa bertanya kepada ahlinya langsung apabila masih merasa kurang jelas saat mencari informasi sendiri. Dan yang terpenting, jangan sampai Sahabat Sehat menolak vaksin Covid-19 karena berita hoaks. Makanya, mulai sekarang Sahabat Sehat bisa memperbanyak bacaan tentang vaksin Covid-19, ya. Untuk info mengenai vaksin yang akurat dan terpercaya, Sahabat bisa berkonsultasi langsung dengan para dokter di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Bramasta DB. Bagaimana Upaya Pemerintah Yakinkan Masyarakat agar Mau Divaksin Covid-19?[Internet]. 2021 (Diakses pada 4 Februari 2021). Tersedia di: https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/15/091200765/bagaimana-upaya-pemerintah-yakinkan-masyarakat-agar-mau-divaksin-covid-19-?page=all
    2. Moko M. Bukan Faktor ‘’Keyakinan’’, Ternyata Ini Alasan Warga Tolak Vaksin Covid-19 [Internet]. 2021 (Diakses pada 4 Februari 2021). Tersedia di: https://www.suaramerdeka.com/news/nasional/252147-bukan-faktor-keyakinan-ternyata-ini-alasan-warga-tolak-vaksin-covid-19?page=all
    3. Rini RA. Alasan Penolakan Vaksin Covid-19 di Masyarakat Soal Keamanan [Internet]. 2021 (Diakses pada 4 Februari 2021). Tersedia di: https://www.tribunnews.com/corona/2020/11/18/alasan-penolakan-vaksin-covid-19-di-masyarakat-soal-keamanan?page=2
    4. Herdanto YM. 2021. Memahami Penolakan Vaksin Covid-19 [Internet]. 2021 (Diakses pada 4 Februari 2021). Tersedia di: https://bebas.kompas.id/baca/riset/2021/01/17/memahami-penolakan-vaksin-covid-19/
    Read More
  • Vaksin Covid-19 diketahui sedang terus dikembangkan untuk mencegah penyebaran virus secara optimal di seluruh dunia. WHO pun menyatakan bahwa vaksin ini dapat menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Vaksin bekerja dengan melatih dan mempersiapkan pertahanan alami tubuh untuk mengenali dan melawan virus dan bakteri. Jika nanti tubuh terpapar kuman penyebab penyakit tersebut, tubuh segera siap memusnahkannya, […]

    Mengapa Masih Bisa Terpapar Virus Meski Sudah Divaksin?

    Vaksin Covid-19 diketahui sedang terus dikembangkan untuk mencegah penyebaran virus secara optimal di seluruh dunia. WHO pun menyatakan bahwa vaksin ini dapat menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Vaksin bekerja dengan melatih dan mempersiapkan pertahanan alami tubuh untuk mengenali dan melawan virus dan bakteri. Jika nanti tubuh terpapar kuman penyebab penyakit tersebut, tubuh segera siap memusnahkannya, mencegah timbulnya penyakit.

    terpapar virus meski sudah divaksin

    Baca Juga: Virus dan Bakteri, Perbedaan dan Cara Mencegah Infeksinya

    Center for Diseases Control (CDC) menyatakan bahwa vaksin Covid-19 melindungi diri virus tersebut supaya tidak terlalu berat terkena efeknya, dan tidak akan terpapar virus setelahnya. Jenis vaksin apa pun dapat melindungi diri dari virus, baik melalui virus yang dimatikan, DNA, RNA, atau antibodi. Meski begitu ada pertanyaan apakah masih bisa terkena virus meski sudah divaksin?

    Penyebab Masih Bisa Terpapar Virus Meski Sudah Divaksin

    Data menunjukkan bahwa mereka yang positif Covid-19 setelah divaksin banyak yang langsung beraktivitas di luar dan tidak menerapkan 3M. Padahal hal tersebut tidak dianjurkan mengingat efektivitas vaksin belum akan terlihat karena membutuhkan waktu untuk meningkatkan antibodi di dalam tubuh. Saat seseorang disuntik vaksin sebanyak dua kali, antibodi di dalam tubuh yang didapatkan tidak bisa langsung tinggi sehingga hal tersebut memerlukan waktu selama 14 atau sebulan setelah penyuntikan, sehingga didapatkan antibodi yang maksimal.

    Baca Juga: Yuk, Sukseskan Vaksinasi Covid-19!

    Vaksinasi setidaknya akan memperkecil risiko tertular virus dengan catatan bahwa vaksin menawarkan respons imunologis yang kuat, yang mampu menghentikan perkembangbiakan virus dengan cepat. Sehingga disarankan suntikan vaksin diberikan jangan satu kali, melainkan dua kali.

    Bukan Lini Pertama Pencegahan Covid-19

    Adanya vaksinasi Covid-19 dapat menurunkan risiko tertular, tetapi belum tentu mengakhiri pandemi ini.  Hal ini berkaitan dengan daya tahan tubuh, distribusi vaksin yang merata ke berbagai wilayah di Indonesia. Vaksin bukanlah lini pertama dalam pencegahan Covid-19. Vaksin adalah lini kedua pencegahan sebab vaksinasi ditujukan untuk memberikan kekebalan supaya pada saat seseorang terpapar virus, ia tidak jatuh sakit.

    Tetap Melaksanakan 3M

    Semua pihak, terutama yang sudah divaksin diminta agar tetap melaksanakan 3M, mencuci  tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Perilaku 3M ini merupakan lini pertama dalam pencegahan yang tidak boleh dianggap enteng dan diabaikan, dan merupakan satu-satunya cara terbaik dalam menangkal Covid-19.

    Baca Juga: Vaksin Covid-19 Tersedia, Pandemi Berakhir?

    Demikianlah Sahabat mengenai mengapa orang yang divaksinasi masih bisa tertular virus. Vaksinasi dapat membentuk kekebalan tubuh, dan juga kekebalan kelompok yang harus mencapai 70%. Vaksin bukanlah obat karena fungsinya hanya untuk mencegah. Tetaplah berperilaku 3M dan menjalani PHBS, serta jangan lupa deteksi dini Covid-19 di Prosehat. Caranya cukup mudah. Sahabat bisa mengakses via website atau aplikasi lalu pilih Layanan Kesehatan dan klik Rapid Test Covid-19. Info selengkapnya silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. COVID-19 vaccines [Internet]. Who.int. 2021 [cited 22 January 2021]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/covid-19-vaccines
    2. COVID-19 and Your Health [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [cited 22 January 2021]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/vaccines/facts.html
    3. (PDF) COVID-19 Vaccine: An Update and Primer [Internet]. ResearchGate. 2021 [cited 22 January 2021]. Available from: https://www.researchgate.net/publication/345813274_COVID-19_Vaccine_An_Update_and_Primer#pf2c
    4. Maulana Y. 25 Relawan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Bandung Positif Corona [Internet]. detiknews. 2021 [cited 19 January 2021]. Available from: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5338366/25-relawan-uji-klinis-vaksin-sinovac-di-bandung-positif-corona
    5. Septiani A. Setelah Vaksin COVID-19 Masih Terinfeksi? Ahli Imunisasi: Bisa, Tapi Tidak Parah [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 19 January 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5329507/setelah-vaksin-covid-19-masih-terinfeksi-ahli-imunisasi-bisa-tapi-tidak-parah
    6. Media K. Bisakah Kita Menularkan Covid-19 Setelah Divaksin? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 19 January 2021]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/12/18/095832220/bisakah-kita-menularkan-covid-19-setelah-divaksin?page=all
    7. Even if you have been vaccinated, someone can still be exposed to the corona virus [Internet]. JawaPos.com. 2021 [cited 19 January 2021]. Available from: https://www.jawapos.com/keseh/19/10/2020/meski-sudah-divaksin-s Someone-tetap-bisa-terpapar-virus-korona/
    Read More

Showing 21–25 of 25 results

Chat Asisten ProSehat aja