Radang Usus Buntu, Kenali Tandanya!

Appendisitis adalah peradangan pada usus buntu yang dapat terjadi cepat (akut) maupun lambat (kronis). Appendisitis adalah penyebab umum dari nyeri perut yang membutuhkan pembedahan dan dapat terjadi kapan saja. Penyakit ini paling sering terjadi antara usia 10 hingga 30 tahun dan  lebih sering terjadi pada pria dari pada wanita. Jika penyakit ini tidak diobati, appendisitis dapat menyebabkan usus buntu Sahabat pecah dan menyebabkan infeksi menyebar ke dalam rongga perut. Akibatnya, terjadi peradangan serius pada jaringan peritoneum (lapisan yang melapisi perut) yang disebut peritonitis yang dapat berakibat fatal jika tidak segera diobati.

Baca Juga: Kenali Gejala dan Pencegahan Kanker Kolon Pada Dewasa Muda

Appendisitis terjadi ketika usus buntu Sobat tersumbat oleh tinja, benda asing maupun kanker. Penyumbatan ini juga dapat terjadi karena infeksi, sehingga usus buntu membengkak sebagai respons terhadap infeksi tersebut.

Baca Juga: 8 Penyakit Anak yang Sering Menyerang

Gejala – gejala yang dapat dilihat pada usus buntu adalah:

  • Nyeri seperti ditekan di dekat pusar atau perut bagian atas yang menjadi tajam saat bergerak ke perut kanan bawah. Ini biasanya merupakan tanda yang pertama kali muncul.
  • Kehilangan selera makan
  • Mual dan atau muntah segera setelah nyeri perut dimulai
  • Pembengkakan pada bagian perut
  • Demam hingga 99-102 derajat Fahrenheit
  • Tidak mampu membuang gas perut

Jika gejala ini dibiarkan tidak diobati, gejala usus buntu lainnya dapat muncul, seperti:

  • Nyeri tumpul atau tajam di perut bagian atas atau bawah, punggung, ataupun dubur
  • Nyeri saat buang air kecil atau kesulitan buang air kecil
  • Muntah yang didahului oleh sakit perut
  • Kram parah
  • Sembelit atau diare dengan gas

Baca Juga: Bagaimana Cara Mencegah Radang Paru

Jika Sobat memiliki salah satu gejala yang disebutkan di atas, segera cari bantuan medis karena diagnosis dan perawatan yang tepat waktu merupakan hal yang penting. Sobat dapat menghindari penggunaan obat penghilang rasa sakit, antasida, pencahar, atau bantalan pemanas yang dapat menyebabkan usus buntu lebih cepat pecah.

Diagnosis appendisitis terkadang sulit dilakukan karena gejalanya sering mirip dengan penyakit lain, terutama penyakit masalah kantung empedu, infeksi kandung kemih atau saluran kemih, penyakit Chron, gastritis, infeksi usus, dan masalah ovarium.

Pemeriksaan berikut dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis:

  • Pemeriksaan perut untuk mendeteksi peradangan
  • Tes urin untuk menyingkirkan infeki saluran kemih
  • Uji rektal
  • Tes darah untuk melihat adanya infeksi
  • CT scan dan / atau USG

Appendisitis diobati dengan menggunakan pembedahan untuk mengangkat usus buntu, yang merupakan standar dari pengobatan penyakit. Jika dokter mencurigai appendisitis,maka dokter akan memberikan rekomendasi dengan membuang usus buntu untuk mencegah pecahnya usus buntu. Jika usus buntu telah membentuk abses, ada 2 cara yang dapat dilakukan, yaitu mengeringkan abses nanah dan cairan, dan membuang usus buntu yang radang. Namun, ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa pengobatan appendisitis akut dengan antibiotik dapat menghilangkan kebutuhan untuk operasi pada kasus – kasus tertentu.

Prosedur operasi usus buntu disebut appendiktomi. Sebelum prosedur ini dilakukan, antibiotika diberikan untuk melawan kemungkinan peritonitis. Biasanya digunakan anestesi umum, dan usus buntu diangkat melalui sayatan 4 inci atau dengan menggunakan laparaskopi. Jika perut Sobat sudah menderita peritonitis, maka bagian dalam perut akan diirigasi untuk menghilangkan nanah dan cairan infeksi.

Setelah 12 jam setelah operasi, Sobat sudah bisa bangun dan bergerak. Sobat dapat melakukan aktivitas normal dalam 2 hingga 3 minggu. Jika operasi dilakukan dengan menggunakan laparaskopi (alat seperti teloskop tipis untuk melihat bagian dalam perut), sayatan yang digunakan lebih kecil dan pemulihan tentunya lebih cepat.

Baca Juga: 9 Gejala Flu dan Pencegahannya

Bila setelah operasi, sobat mengalami muntah tidak terkontrol, peningkatan rasa nyeri di perut, pusing / perasaan pingsan, adanya darah dalam muntah atau urin, rasa sakit dan kemerahan yang meningkat pada sayatan operasi, demam, dan nanah di luka, segera hubungi dokter Sobat.

Appendisitis tidak dapat dicegah. Namun, appendisitis lebih jarang terjadi pada orang yang makan makanan dengan kadar serat yang tinggi, seperti buah-buahan dan sayuran. Nah, Apabila Sahabat ingin mengonsumsi makanan sehat, yuk beli dan pesan segera di Prosehat. Info selengkapnya silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

 

Daftar Pustaka

  1. Appendicitis – https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-appendicitis#1, diakses pada tanggal 16-1-2019
  2. Everything You Need to Know About Appendicitis – https://www.healthline.com/health/appendicitis , diakses pada tanggal 16-1-2019
  3. Appendicitis – https://www.nhs.uk/conditions/appendicitis/ ,diakses pada tanggal 16-1-2019
  4. Acute (Early) Appendicitis – https://www.eapsa.org/parents/conditions/a-e/acute-(early)-appendicitis/ , diakses pada tanggal 16-1-2019
  5. Appendicitis – https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543 ,diakses pada tanggal 16-1-2019
Read More