Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ tetanus”

  • Imunisasi menjadi salah satu cara si kecil terhindar dari penyakit menular. Namun ada beberapa imunisasi yang memberikan beberapa reaksi imunisasi yang sering kali membuat Bunda takut, sehingga Bunda enggan membawa si kecil untuk imunisasi. Bunda khawatir, karena reaksi-reaksi tersebut merupakan reaksi kecil yang wajar terjadi.      Reaksi yang umum terjadi biasanya seperti demam, bercak […]

    Kenali dan Cara Mengatasi Reaksi Imunisasi Si Kecil

    Imunisasi menjadi salah satu cara si kecil terhindar dari penyakit menular. Namun ada beberapa imunisasi yang memberikan beberapa reaksi imunisasi yang sering kali membuat Bunda takut, sehingga Bunda enggan membawa si kecil untuk imunisasi. Bunda khawatir, karena reaksi-reaksi tersebut merupakan reaksi kecil yang wajar terjadi.   

     

    Reaksi yang umum terjadi biasanya seperti demam, bercak merah hingga reaksi lokal ditempat suntikan. Karena itu, yuk kenali dan cara mengatasi reaksi imunisasi si kecil, berikut ini:

    1. BCG (Tubercolosis)

    Reaksi : Dalam 2-6 minggu setelah si kecil imunisasi BCG maka akan timbul bisul kecil yang membesar dan luka dapat terbuka (ulserasi) selama 2 hingga 4 bulan yang akan sembuh secara perlahan dan berganti kulit pada bisul tersebut.

    Cara mengatasinya : Jika luka tersebut mengelurkan cairan, maka Bunda dapat mengkompresnya dengan cairan antiseptik. Segeralah membawa si kecil ke dokter bila cairan tersebut semakin banyak, luka semakin membesar atau semakin parah.

    Produk Terkait:

    2. Hepatitis B

    Reaksi: Setelah imunisasi Hepatitis B, biaasnya timbul demam namun tidak tinggi, timbul kemerahan pada tempat penyuntikan, bengkak, rasa nyeri disekitar sendi dan rasa mual.

    Cara Mengatasinya: Untuk mengatasi reaksi tersebut, dianjurkan untuk si kecil minum lebih banyak baik ASI ataupun air buah. Saat si kecil demam, gunakanlah pakaian yang tipis lalu bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air dingin.

    Produk Terkait:

    Namun jika demam belum turun, berikan parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3-4 jam bila diperlukan dan maksimal 6 kali pemberian dalam 24 jam. Saat si kecil demam boleh Bunda seka dengan air hangat. Apabila reaksi tersebut semakin berat maka bawalah si kecil ke dokter.

    3. DPT (Difteri Pertusis Tetanus)

    Reaksi : reaksi yang dapat terjadi setelah imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) ini antara lain terjadi demam tinggi, si kecil menjadi sedikit rewel, timbul kemerahan pada tempat suntikan, nyeri serta pembengkakan. Reaksi ini tidak akan berlangsung lama Bunda, kurang lebih selama 2 hari.

    Cara Mengatasinya : Cara mengatasinya yaitu beri si kecil minum lebih banyak dapat berupa ASI atau air buah. Sama seperti penanganan pada imunisasi Hepatitis B, beri pakaian yang lebih tipis jika si kecil demam, kompreslah bekas suntikan yang nyeri dengan air dingin, apabila demam dapat diberikan parasetamol 15 kg/kgbb setiap 3-4 jam dan maksimal 6 kali pemberian dalam 24 jam.

    Produk Terkait: Imunisasi DPT ke Rumah

    Si Kecil di perbolehkan mandi atau cukup diseka dengan air hangat dan bila reaksi si kecil lebih berat dibandingkan sebelumnya maka bawalah si kecil ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

    4. Polio

    Reaksi: Pemberian imunisasi polio pada umumnya tidak memberikan dampak apapun. Namun sebagian kecil anak yang telah melakukan imunisasi akan merasa pusing, diare ringan dan nyeri otot.

    Cara Mengatasinya: karena reaksi ini jarang terjadi maka Bunda tidak perlu khawatir dan tidak perlu melakukan tindakan apapun.

    Produk Terkait: Imunisasi 3 Bulan Komplit ke Rumah

    5. Campak dan MMR

    Reaksi: Hal yang dapat terjadi pasca imunisasi campak dan MMR yaitu berupa rasa tidak nyaman disekitar bekas penyuntikan.

    Terjadi beberapa gejala-gejala lain yang timbul  5-12 hari setelah penyuntikan seperti demam tidak tinggi atau erupsi kulit halus atau tipis yang berlangsung kurang dari 48 jam. Pembengkakan kelenjar getah bening pada belakang telingan yang dapat terjadi sekitar 3 minggu pasca imunisasi MMR.

    Cara Mengatasinya: Berilah si kecil minum lebih banyak seperti ASI atau air buah, jika demam gunakan pakaian yang tipis, kompreslah area bekas suntikan yang nyeri dengan menggunakan air dingin, bila demam berikan parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3-4 jam bila diperlukan, maksimum 6 kali dalam 24 jam. Untuk membersihkan si kecil cukup disekan menggunakan air hangat. Apabila reaksi tersebut berat maka bawalah si kecil ke dokter.

    Produk Terkait: Vaksinasi Campak ke Rumah

     

    6. DT (Diteri, Tetanus)

    Reaksi : Reaksi pasca imunisasi DT (Difteri, Tetanus) biasanya timbul kemerahan, bengkak dan nyeri sekitar bekas suntikan.

    Cara Mengatasinya: Kompreslah area bekas suntikan yang terasa nyeri dengan menggunakan air dingin. Bunda tenang saja karena imunisasi ini tidak memerlukan tindakan khusus.

    Produk Terkait: imunisasi booster ke rumah

    Bila si kecil mengalami demam setelah imunisasi dan tak kunjung turun setelah diberi obat, maka periksakan ke dokter. Selalu catat apa yang dialami si kecil untuk imunisasi ke dua dan selanjutnya.

    Untuk mendapatkan kenyamanan imunisasi si kecil dan layanan imunisasi ke rumah silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

     

    Sumber:

    Trisbiantara, Irene. “Apa Saja Efek Samping Setelah Imunisasi?”. tanyadok.com

    IDAI. “Penjelasan Kepada Orang Tua Mengenai Imunisasi”. idai.or.id

    Read More
  • Saat Anda menemui anak Anda terluka atau tertusuk paku, apa yang ada di benak Anda? Apakah Anda langsung memberikan obat luka dan berharap luka akan segera sembuh? Anda perlu hati-hati karena kuman dapat menyebar dan menginfeksi anak. Bisa jadi, orangtua akan khawatir luka itu mengakibatkan tetanus. Tetanus yang merupakan salah satu penyakit berbahaya pada anak. […]

    Fakta Seputar Tetanus Pada Anak

    Saat Anda menemui anak Anda terluka atau tertusuk paku, apa yang ada di benak Anda? Apakah Anda langsung memberikan obat luka dan berharap luka akan segera sembuh? Anda perlu hati-hati karena kuman dapat menyebar dan menginfeksi anak. Bisa jadi, orangtua akan khawatir luka itu mengakibatkan tetanus.

    Tetanus yang merupakan salah satu penyakit berbahaya pada anak. Tetanus dicirikan dengan kekakuan dan kejang berulang pada otot rangka. Penyebabnya adalah bakteri Clostridium tetani yang ditemukan di tanah, debu, pupuk, dan besi berkarat. Penyakit ini juga disebut lockjaw karena terjadi kekakuan sendi rahang yang menyebabkan penderita tak bisa membuka mulut.

    Baca Juga: Sebelum Menikah, Lakukan 5 Jenis Vaksin Ini

    Pada anak, kuman tetanus menginfeksi melalui luka yang dalam atau luka yang terkontaminasi bakteri tetanus, misalnya, pada saat pemotongan tali pusar dengan alat yang tidak steril atau luka terbuka yang kemudian terinfeksi kuman. Bakteri yang masuk ke dalam tubuh kemudian menghasilkan neurotoxin berupa racun yang menyerang sistem syaraf pusat. Racun yang menginfeksi sistem syaraf pusat ini bisa menjalar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan system limfatik. Akibatnya, terjadi kekakuan dan kejang otot.

    Masa inkubasi kuman tetanus berkisar 7-10 hari. Gejala awal yang muncul adalah kaku pada leher, rahang, dan otot. Kekakuan pada otot muka menyebabkan ekspresi khusus yang disebut “Risus Sardonicus” dimana alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, dan bibir tertekan kuat. Kejang otot yang hebat bahkan bisa mengakibatkan patah tulang pada anak. Penyakit ini sangat berbahaya karena menyebabkan gangguan pernapasan, kekakuan otot, kejang, hingga mengakibatkan kematian. Dilansir dari CDC, 1 dari 5 anak meninggal akibat terinfeksi tetanus.

    Sebagai langkah pencegahan tetanus yang optimal dan efektif, lengkapi imunisasi Tetanus anak. Imunisasi tetanus yang diberikan pada berupa imunisasi kombinasi DTP (difteri-pertusis dan tetanus), dimulai pada usia 2, 3, dan 4 bulan kemudian booster saat usia 18 bulan dan 5 tahun. Pada anak di atas usia 7 tahun dapat dilakukan imunisasi ulangan berupa imunisasi Td atau Tdap.

    Produk Terkait: Vaksinasi Tetanus

    Sudah lengkapkah pemberian imunisasi anak Anda? Jika belum, segera jadwalkan untuk imunisasi sekarang. Namun jika Anda ingin lebih praktis, bisa vaksinasi di rumah loh! Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah. Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Lestari C. TanyaDok.com | Hati-hati Terkena Tetanus | Page 7 of 7 [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2 February 2018]. Available from: tanyadok.com
    2. Tetanus [Internet]. Kidshealth.org. 2010 [cited 2 February 2018]. Available from: kidshealth.org
    3. Tetanus Fact Sheet for Parents | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2014 [cited 2 February 2018]. Available from: cdc.gov
    4. Tetanus Vaccination | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2017 [cited 2 February 2018]. Available from: cdc.gov
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com