Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ pandemi covid-19”

  • Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut. Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan […]

    4 Hal Penting Terkait Melahirkan Saat Pandemi Menurut IDAI

    Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut.

    ibu melahirkan


    Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan terdepan dalam menghadapi Covid-19. Tak ketinggalan protokol kesehatan untuk ibu hamil.

    Baca Juga: 6 Panduan Nutrisi Ibu Hamil untuk Menjaga Kesehatan Calon Buah Hati

    Protokol diperlukan mengingat Corona adalah virus yang mudah menyebar dan cepat masuk ke dalam sistem pernafasan utama seperti paru-paru. Apalagi ibu hamil merupakan orang yang mudah terpapar virus tersebut karena daya tahan tubuh yang menurun. 

    Tidak hanya ibu hamil, bayi yang dikandung juga terpapar virus sehingga setelah dilahirkan harus segera dijauhkan dari sang ibu.

    Meskipun penelitian belum bisa dengan pasti mengungkapkan tingkat penularan tersebut. Adanya Corona yang mempunyai efek sangat mematikan juga membuat ibu hamil menjadi enggan memeriksakan diri ke puskesmas atau mengikuti kelas khusus ibu hamil. Ketakutan juga ditambah dengan belum adanya standarisasi yang lengkap untuk APD tenaga medis.

    Lalu seperti apakah protokol atau pedoman kesehatan untuk ibu hamil pada masa pandemi atau new normal? Simak poin-poin di bawah ini seperti yang dipaparkan oleh dr. Toto Wisnu Hendarto dari PP IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

    1. Memulai Pencegahan dengan Membaca KIA

    Seperti yang sudah diumumkan oleh WHO pada akhir 2019 bahwa untuk mencegah dan memutus penyebaran virus Corona adalah mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir selama 20 detik.

    Perihal mencuci tangan yang baik dan benar ini juga ada dalam buku KIA atau Kesehatan Ibu dan Anak 2020 yang telah direvisi.

    Di dalam buku pegangan utama tersebut juga dijabarkan bahwa mencuci tangan untuk ibu hamil harus memakai juga hand sanitizer dengan kandungan alkohol sebanyak 70% apabila sabun cuci tangan tidak tersedia.

    KIA untuk Corona ini juga memuat beberapa poin penting seperti penggunaan masker untuk mencegah cipratan air liur, baik langsung maupun tidak langsung.

    Kemudian menghindari kontak dengan tidak bepergian ke daerah-daerah rawan Corona serta tidak berinteraksi dengan hewan-hewan penyebab virus tersebut seperti kelelawar, tikus, dan musang.

    2. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Sesuai Protokol Covid-19

    Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang harus dilakukan untuk ibu hamil supaya bisa mengetahui kesehatan bayi yang dikandungnya. Pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan terpercaya milik pemerintah atau swasta.

    Namun dalam masa pandemi atau new normal ini, diusahakan agar bumil tidak terlalu menunggu lama dalam memeriksakan kehamilan. Karena itu, perlu dibuat perjanjian antara ibu hamil dan pihak pemeriksa.

    Untuk panduan pemeriksaan kesehatan, bumil dapat membaca panduannya melalui KIA 2020 yang telah direvisi. KIA juga memuat beberapa risiko tanda bahaya yang mesti diketahui oleh si ibu hamil untuk bayi yang dikandungnya.

    Apabila si ibu hamil merasa ada tanda bahaya seperti yang termuat dalam KIA, disarankan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan.

    Baca Juga: 9 Tips ASI setelah melahirkan


    Untuk masa pandemi ini, petugas kesehatan bisa mendatangi rumah supaya ibu hamil bisa menghindari virus Corona, dan ibu hamil dapat mengikuti kelas pelatihan kehamilan secara online. Apabila bumil terindikasi terkena Covid-19, pemeriksaan USG bisa ditunda sampai masa isolasi berakhir.

    Untuk ibu hamil yang terindikasi terkena Covid-19 juga memerlukan beberapa penanganan khusus seperti tidak memberikan tablet tambah darah, petugas kesehatan melakukan antenatal care selama 14 hari setelah isolasi, dan pembentukan tim multi-disiplin yang terdiri dari beberapa dokter spesialis, serta pemberian konseling.

    3. Ketahui Beberapa Tingkatan Pelayanan

    Toto Wisnu Hendarto juga memaparkan tingkatan pelayanan kelahiran pada masa pandemi dan new normal. Terdapat tiga level seperti yang tercantum di KIA 2020 hasil revisi yaitu,

    • Level I untuk kemampuan penanganan dasar
    • Level II A dan B untuk kemampuan penanganan khusus
    • Level III A dan B untuk penanganan dasar namun subspesial 
    • Level III C dan D untuk penanganan lanjutan

    Level-level ini diberikan kepada fasilitas kesehatan sesuai dengan standar dan APD yang dimiliki untuk pengananan ibu hamil saat pandemi. Juga sesuai dengan status yang disandang si ibu hamil apakah penderita atau bukan. Jika ia penderita, tentu harus diketahui status penderitanya.

    Untuk level 1 di Indonesia berlaku ketentuan pelayanan umum seperti pasca kelahiran bayi, yaitu 37-42 minggu, dengan berat berkisar di 2.500-4.000 gram. Sedangkan pelayanan luar biasa ada pada level III plus.

    Karena level atau tingkatan yang berbeda, tentu saja APD yang digunakan juga berbeda seperti level III harus menggunakan delivery chamber.

    4. Pemberian Pelayanan untuk Bayi Baru Lahir

    Bayi yang baru lahir rentan terkena Corona dikarenakan belum mempunyai daya imunitas yang bagus. Untuk hal ini dalam pemaparannya IDAI memberikan 4 tahapan periode waktu dalam penanganan pasca-kelahiran.

    • Tahapan pertama adalah berdasarkan detik (30 detik)
    • Tahapan kedua berdasarkan jam (6-12 jam)
    • Tahapan ketiga berdasarkan hari (47-72 jam)
    • Tahapan  keempat berdasarkan minggu

    Pada tahapan pertama penanganan yang perlu dilakukan adalah resusitasi neonatal kurang lebih 30 detik yang meliputi pemberian kehangatan, pemberian posisi kepala untuk bernafas, pengeringan, dan perangsangan taktil.

    Apabila dalam tahapan ini bayi terindikasi Corona, langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan prosedur aerosol generated secara isolatif.

    Pada tahapan kedua prosedur yang perlu dilakukan adalah neonatal esensial, pemberian vitamin K1, antibiotik, dan vaksin hepatitis B.

    Baca Juga: Bolehkah Ibu Hamil Terbang?

    Apabila bayi terkena Corona, neonatal esensial tetap dilakukan namun dengan melakukan isolasi selama 14 hari. Pada kategori ketiga perawatan yang perlu dilakukan adalah rooming in, pemeriksaan detak jantung, dan pemeriksaan hipotiroidisme.

    Apabila bayi terkena Covid-19 langkah yang perlu dilakukan adalah isolasi khusus berdasarkan protokol Covid-19, dan boleh meninggalkan rumah sakit.

    Tahapan terakhir adalah berdasarkan minggu yaitu dimulainya pemberian ASI secara terkontrol, monitor berat badan, dan monitor metabolisme bilirubin.

    Jika bayi pada tahapan ini terkena Corona, prosedur yang dilakukan adalah identifikasi final berdasarkan protokol Covid-19.

    Nah, itulah 4 poin penting dari IDAI mengenai prosedur melahirkan pada masa pandemi. Semoga bermanfaat bagi para ibu hamil yang ingin tetap melahirkan dalam keadaan sehat dan aman.

    Selain itu, bagi Sahabat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatansilakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Read More
  • Berpuasa merupakan kewajiban dari seorang muslim. Bahkan, di tengan pandemi Covid-19 sekalipun, umat muslim tetap diwajibkan berpuasa. Apalagi bagi yang masih dalam keadaan sehat. Baca Juga: 8 Solusi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Fit Saat Puasa Di Indonesia, ibadah puasa di tengah pandemi Covid-19 sudah memasuki kali kedua. Namun, Sahabat Sehat tetap harus mengikuti beberapa […]

    Tips Berpuasa di Tengah Pandemi yang Perlu Sahabat Ketahui

    Berpuasa merupakan kewajiban dari seorang muslim. Bahkan, di tengan pandemi Covid-19 sekalipun, umat muslim tetap diwajibkan berpuasa. Apalagi bagi yang masih dalam keadaan sehat.

    Baca Juga: 8 Solusi Menjaga Tubuh Tetap Sehat dan Fit Saat Puasa

    Di Indonesia, ibadah puasa di tengah pandemi Covid-19 sudah memasuki kali kedua. Namun, Sahabat Sehat tetap harus mengikuti beberapa tips berpuasa di tengah pandemi. Berikut tips berpuasa di tengah pandemi Covid-19:

    Menjaga Asupan Makan

    Agar kondisi tubuh tetap prima, maka Sahabat Sehat dianjurkan untuk menjaga asupan makanan selama bulan puasa. Karena hal pertama yang paling penting dalam berpuasa adalah menjaga asupan makan yang bergizi.

    Agar Sahabat Sehat tetap prima, Sahabat Sehat bisa mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang, dengan komposisi karbohidrat, protein, lemak dan mineral yang cukup.

    Makan yang kaya karbohidrat sebagai sumber kalori, contohnya seperti nasi, roti, umbi-umbian, dan sebagainya. Kemudian juga Sahabat Sehat bisa mengonsumsi telur, ikan, dan daging bagi sumber protein hewani, serta kacang-kacangan sebagai protein nabati yang berguna untuk membentuk imunitas dan pembentukan jaringan tubuh lainnya.

    Produk Terkait: Jual Makanan Sehat

    Sahabat Sehat juga wajib mengonsumsi mineral, seperti sayur dan buah-buahan yang kaya nutrisi dan antioksidan. Mengonsumsi lemak baik juga diperlukan, seperti yang terkandung dalam zaitun dan ikan salmon.

    Lemak baik diketahui bisa mengurangi peradangan di dalam tubuh. Peradangan tersebut dapat menghambat kinerja sistem imun.

    Oleh karena itu, konsumsi lemak baik seperti zaitun dan ikan salmon bisa menjaga daya tahan tubuh Sahabat Sehat selama menjalankan ibadah puasa.

    Asupan nutrisi saat sahur dan berbuka puasa harus seimbang dan diperhatikan. Kebutuhan zat gizi harian rata-rata adalah 50% dari karbohidrat, 30% dari lemak, dan 15 % dari protein.

    Tetap Berolahraga

    Biasanya puasa di bulan Ramadan dijadikan alasan untuk tidak berolahraga. Padahal sebenarnya, olahraga berguna untuk menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.

    Bahkan, sejumlah pakar juga mengatakan, bulan puasa adalah momen yang paling tepat untuk meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari.

    Waktu terbaik untuk berolahraga sendiri adalah 30 sampai 60 menit sebelum berbuka puasa, dan 60 menit setelah berbuka puasa, yang berguna untuk mempermudah rehidrasi.

    Baca Juga: 8 Jenis Olahraga yang Pas Dilakukan Saat Puasa

    Jika ingin berolahraga, sebaiknya Sahabat Sehat memilih olahraga yang ringan. Contoh olahraga ringan seperti berjalan kaki atau senam kecil di rumah.

    Minum Air Putih yang Cukup

    Biasanya saat berbuka puasa, banyak orang cenderung mengonsumsi minuman yang manis sehingga lupa minum air putih. Padahal, air putih sangat dibutuhkan bagi tubuh agar terhindar dari dehidrasi saat menjalani puasa di siang hari.

    Idealnya, minum air putih adalah sebanyak 8 sampai 10 gelas dalam sehari. Sahabat Sehat bisa melakukannya saat berbuka puasa, setelah berbuka puasa, menjelang tarawih, setelah tarawih, sebelum tidur, setelah bangun untuk sahur, saat makan sahur, dan setelah makan sahur.

    Baca Juga: Cegah Dehidrasi Saat Berpuasa di Bulan Ramadan

    Untuk menyiasati kebutuhan air perharinya juga bisa dengan pola 2 gelas air saat sahur, 2 gelas air saat berbuka puasa, dan 4 gelas air di malam hari.

    Hindari Makan dan Minum yang Manis

    Sahabat Sehat tidak disarankan untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang manis secara berlebihan di saat bulan puasa.

    Karena mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan bisa menyebabkan obesitas dan meningkatkan risiko terserang penyakit lainnya, seperti diabetes dan jantung.

    Sahabat Sehat disarankan mengurangi makanan dan minuman manis, bukan tidak sama sekali menyentuh makanan dan minuman manis. Dan satu hal lagi yang perlu diketahui, makanan dan minuman manis dapat juga melemahkan imun tubuh.

    Tidur Cukup

    Kurang tidur bisa menyebabkan gangguan imunitas tubuh dan juga meningkatkan risiko penyakit. Maka dari itu, Sahabat Sehat diharapkan bisa memenuhi waktu tidur, minimal 7 jam dalam semalam demi kesehatan tubuh.

    Konsumsi Suplemen

    Mengonsumsi suplemen sangatlah penting, apalagi di tengah bulan puasa seperti ini. Dengan mengonsumsi suplemen, kinerja sistem imun akan terjaga.  Suplemen multivitamin yang bisa dikonsumsi saat bulan Ramadhan bisa berupa Vitamin C, Vitamin B kompleks, Vitamin E, kalsium, dan zat besi.

    Suplemen seperti Vitamin C, Vitamin D, dan zat besi telah terbukti menjaga sistem imun dan daya tahan tubuh manusia. Sahabat Sehat bisa mengonsultasikan ke dokter, terkait suplemen yang bisa dikonsumsi.

    Produk Terkait: Jual Suplemen

    Dan yang paling penting dari semua itu adalah Sahabat Sehat harus tetap menjaga pola hidup yang sehat dan teratur, sehingga imun tetap terjaga dan Covid-19 tidak berani menyerang tubuh Sahabat Sehat.

    Tetap Beraktivitas

    Puasa bukan berarti dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan tidak melakukan aktivitas. Sahabat Sehat tetap harus melakukan aktivitas seperti biasa.

    Hal tersebut bisa dilakukan dengan olahraga, bekerja, mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, atau aktivitas lainnya. Dengan mengerjakan dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa, membuat Sahabat Sehat semakin bersemangat dalam menjalani hari-hari di tengah puasa dan pandemi Covid-19.

    Menjaga Protokol Kesehatan

    Di masa pandemi Covid-19, Sahabat Sehat tentunya memiliki tugas tambahan, yaitu menjaga kesehatan diri selama berpuasa. Meskipun saat berpuasa tubuh lemas, namun Sahabat Sehat tetap harus menerapkan protokol kesehatan (prokes).

    Bahkan, saat Sahabat Sehat datang atau menghadiri acara buka bersama, pastikan Sahabat Sehat dalam kondisi sehat dan pastikan menerapkan prokes yang ketat.

    Seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, dan lainnya. Hal tersebut berguna untuk menjaga diri sendiri agar tidak mudah terpapar atau tertular Covid-19.

    Menjaga Kondisi Mental

    Dalam kondisi pandemi Covid-19, diharapkan Sahabat Sehat tetap bisa menjaga kesehatan mental. Dan mulai menerima keadaan di masa sekarang. Sahabat Sehat bisa serahkan semua yang terjadi kepada Tuhan, karena sebenarnya apa yang telah terjadi memang yang telah dikehendaki oleh Tuhan.

    Nah, Sahabat Sehat bisa menerapkan tips berpuasa di tengah pandemi Covid-19. Semoga Sahabat Sehat bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar, walaupun di tengah pandemi Covid-19, ya!

    Baca Juga: Sahabat Sehat, Ini Manfaat Puasa Bagi Kesehatan Jiwa

    Ingin konsultasi kesehatan mengenai puasa? Yuk, manfaatkan segera Chat Dokter 24 jam di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Persiapan dan Tips Berpuasa Saat Pandemi [Internet] com. 2021 [cited 29 April 2021] Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/22/200500365/persiapan-dan-tips-berpuasa-saat-pandemi?page=all
    2. 4 Tips Sehat Berpuasa di Tengah Pandemi Covid-19 [Internet]com [cited 29 April 2021] Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210413101541-255-629133/4-tips-sehat-berpuasa-di-tengah-pandemi-covid-19
    3. Puasa Ramadan Saat Pandemi COVID-19, Ini Tips dari Satgas untuk Perkuat Imunitas. [Internet] com [cited 29 April 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/ramadan/read/4527506/puasa-ramadan-saat-pandemi-covid-19-ini-tips-dari-satgas-untuk-perkuat-imunitas
    4. 7 Cara Menjaga Imunitas Tubuh Saat Puasa Selama Pandemi. [Internet]tv [cited 29 April 2021]. Available from: https://www.kompas.tv/article/164825/7-cara-menjaga-imunitas-tubuh-saat-puasa-selama-pandemi
    Read More
  • Vaksinasi HPV adalah pemberian vaksin HPV atau Human Papillomavirus untuk terhindar dari kanker serviks. Vaksin ini sering dikenal dengan vaksin kanker serviks. Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh virus HPV yang menular pada wanita saat berhubungan seksual terutama kontak langsung pada area genital. Dari situlah kemudian muncul sel yang tumbuh secara tidak normal pada mulut […]

    Amankah Vaksinasi HPV Selama Pandemi Corona?

    Vaksinasi HPV adalah pemberian vaksin HPV atau Human Papillomavirus untuk terhindar dari kanker serviks. Vaksin ini sering dikenal dengan vaksin kanker serviks.

    Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh virus HPV yang menular pada wanita saat berhubungan seksual terutama kontak langsung pada area genital. Dari situlah kemudian muncul sel yang tumbuh secara tidak normal pada mulut rahim atau serviks, yang lama-kelamaan berkembang menjadi kanker serviks yang termasuk salah satu kanker paling mematikan di dunia.1

    Baca Juga: Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturan Pemberiannya?vaksinsi hpv selama pandemi, vaksinasi hpv selama corona

    Menurut data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan, jumlah penderita kanker serviks  di Indonesia adalah 90-100 kasus per 100.000 penduduk, dan setiap tahunnya adalah 15.000 kasus.

    Indonesia bahkan termasuk negara kedua dengan angka kejadian kanker serviks tertinggi di dunia. Angka global kematian akibat virus ini adalah 99,7%, dan hampir semuanya wanita. Oleh karena itu, pemberian vaksin sangat penting dan perlu dilakukan.1

    Namun, Bagaimanakah dengan Pemberian Vaksin di Masa Pandemi Corona ini? Apakah Pemberian  Vaksin Aman dan Tetap Harus Dilakukan?

    Semenjak ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada Maret 2020, Corona Virus Disease 2019 atau COVID-19 telah mempengaruhi banyak gaya hidup orang-orang di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

    Angka penderita dan kematian yang terus meningkat setiap harinya dan belum ditemukannya vaksin untuk pencegahan membuat WHO menerbitkan protokol-protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

    WHO juga meminta kepada para pemerintah negara di seluruh dunia untuk tidak berkerumun karena hal tersebut akan mempermudah penyebaran virus. Hal inilah yang kemudian membuat semua orang menjadi khawatir untuk beraktivitas di luar rumah dan memilih tetap berada di dalam rumah sebagai salah satu cara paling aman.2

    Karena itulah, banyak orang yang mengurungkan niat ke fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas untuk vaksinasi sehingga angka vaksinasi kian menurun. Program vaksinasi yang telah dicanangkan terganggu.

    Menurut WHO dan UNICEF, ada 82 negara dengan program vaksinasi yang terganggu, di antaranya termasuk Indonesia.3

    Salah satu program vaksinasi yang terganggu itu adalah vaksinasi HPV. Indonesia sendiri mempunyai program penapisan atau skrining vaksinasi, dengan target perempuan di usia 30-50 tahun.

    Target tersebut kenyataannya belum dapat terpenuhi karena yang ditapis masih kurang dari 8%, jauh di bawah target sebesar 50%, itu pun berdasarkan data dari 2014 hingga 2018.4

    Baca Juga: Cara Imunisasi Tetap Aman Selama Covid-19

    Target yang hendak dicapai itu menjadi berantakan karena datangnya COVID-19. Sebelum wabah, setiap hari, 50 perempuan Indonesia meninggal karena kanker serviks, sehingga upaya penapisan terus dilakukan.

    Namun, ketika wabah datang, aktivitas menurun tajam sehingga upaya pemerintah untuk mencegah kanker serviks semakin terhambat.

    Alasan penurunan itu adalah sangat ketakutannya orang-orang untuk keluar rumah, apalagi ke fasilitas-fasilitas kesehatan yang sudah pasti banyak orang.4

    Padahal, WHO sendiri sudah mengatakan bahwa vaksinasi, baik untuk anak-anak maupun dewasa, tetap harus dilakukan mengingat penyakit-penyakit memerlukan vaksinasi tersebut bisa datang kapan saja.2

    Keterlambatan pemberian vaksin akan menghambat tumbuh-kembang anak dan tingkat kekebalan orang dalam menghadapi virus, termasuk virus HPV, yang pemberiannnya mulai harus dilakukan pada perempuan usia 9 tahun sebagai langkah pencegahan dini.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi HPV ke Rumah

    Supaya vaksinasi HPV tetap berjalan dan dirasa aman tanpa perlu khawatir terhadap ancaman virus Corona, berdasarkan anjuran WHO, pemerintah telah melaksanakan hal-hal berikut agar orang tetap mau vaksinasi, yaitu:2

    • Membatasi jumlah kunjungan ke fasilitas-fasilitas layanan kesehatan
    • Menerapkan jaga jarak saat berada di dalam fasyankes
    • Mengatur jadwal dengan mengadakan janji temu imunisasi
    • Menggabungkan kegiatan imunisasi dengan kegiatan preventif
    • Menggunakan area terbuka apabila memungkinkan jika area dalam sudah dirasa penuh karena jaga jarak, sementara pengunjung yang datang banyak
    • Membuat sesi layanan imunisasi khusus bagi lansia dan orang-orang dengan gangguan kesehatan yang sudah ada seperti darah tinggi, penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan diabetes.

    Baca Juga: Pilih Mana? Imunisasi di Rumah atau Faskes Selama Pandemi?

    Namun, apabila hal-hal di atas masih dirasa kurang meyakinkan karena faktor berkerumun yang menjadi medium menyebarnya virus dengan cepat, terdapat solusi-solusi yang bisa membuat orang yang ingin divaksinasi tidak perlu ke rumah sakit, puskesmas, atau klinik, alias cukup di rumah saja.

    Fasilitas ini memanfaatkan teknologi berupa telemedisin yang memungkinkan pasien bisa konsultasi secara daring atau online melalui perangkat-perangkat teknologi yang ada.

    Tentu saja layanan ini ada di Prosehat yang juga mempunyai layanan vaksinasi HPV ke rumah sehingga Sobat Sehat tetap bisa vaksinasi dengan aman tanpa perlu khawatir tertular COVID-19, dan tentunya Sobat dapat mendukung program pemerintah untuk mencegah virus HPV.4

    Layanan vaksinasi ke rumah dari Prosehat ini mempunyai beberapa keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturan Pemberiannya? • ProSehat [Internet]. ProSehat. 2020 [cited 6 October 2020]. Available from: https://www.prosehat.com/artikel/wanitasehat/vaksin-kanker-serviks
    2. Tanya Jawab (FAQ) Imunisasi dalam konteks pandemi COVID-19 [Internet]. 2020 [cited 6 October 2020]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/tanya-jawab-imunisasi-dalam-konteks-pandemi-covid-19-16-april 2020.pdf%3Fsfvrsn%3D66813218_2+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
    3. developer m. WHO dan UNICEF Peringatkan Penurunan Vaksinasi Selama Covid-19 [Internet]. Mediaindonesia.com. 2020 [cited 6 October 2020]. Available from: https://mediaindonesia.com/read/detail/328954-who-dan-unicef-peringatkan-penurunan-vaksinasi-selama-covid-19
    4. Media K. Screening Terhenti karena Covid-19, Kematian Kanker Serviks Diduga Naik Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 6 October 2020]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/02/092600023/screening-terhenti-karena-covid-19-kematian-kanker-serviks-diduga-naik?page=all
    Read More
  • Sahabat Sehat, momen berbuka puasa adalah salah satu hal yang dinantikan saat bulan Ramadan. Selama masa pandemi Covid-19, Sahabat Sehat disarankan untuk tetap memilih menu makanan yang sehat dan bergizi seimbang untuk tetap menjaga sistem kekebalan tubuh. Baca Juga: 8 Manfaat Positif Berpuasa Bagi Kesehatan Tubuh dan Mental yang Perlu Kamu Ketahui Nah, apa saja […]

    Catat ! Ini Menu Sehat Berbuka Puasa di Tengah Pandemi Covid-19

    Sahabat Sehat, momen berbuka puasa adalah salah satu hal yang dinantikan saat bulan Ramadan. Selama masa pandemi Covid-19, Sahabat Sehat disarankan untuk tetap memilih menu makanan yang sehat dan bergizi seimbang untuk tetap menjaga sistem kekebalan tubuh.

    menu sehat berbuka puasa di tengah pandemi

    Baca Juga: 8 Manfaat Positif Berpuasa Bagi Kesehatan Tubuh dan Mental yang Perlu Kamu Ketahui

    Nah, apa saja menu sehat yang dapat dikonsumsi untuk berbuka puasa? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut ini !

    Pilih Makanan Bergizi Seimbang

    Saat berpuasa, Sahabat Sehat membutuhkan energi agar dapat melakukan berbagai aktivitas. Agar tubuh tidak lesu, Sahabat Sehat harus memilih makanan dengan komposisi gizi yang seimbang seperti mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan mineral.

    Ahli gizi dari RSU PKU Muhammadiyah Bantul, dr. Ika Rubaidah mengungkap bahwa karbohidrat yang terbaik adalah karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan roti gandum.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsumsi buah dan sayur untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat bagi tubuh. Menu makanan bergizi seimbang tersebut sebaiknya Sahabat Sehat terapkan ketika sahur dan berbuka puasa.

    Konsumsi Makanan Segar

    Agar tubuh kembali bertenaga setelah berpuasa, Sahabat Sehat sebaiknya pilih makanan yang segar seperti pisang, jambu biji, pepaya, bayam, sawi, kacang panjang, pare, dan lainnya.

    Produk Terkait: Jual Vegeblend

    Hindari makanan atau minuman yang diawetkan, sebab makanan segar lebih kaya akan vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi tubuh.

    Hindari Gorengan & Santan

    Saat berbuka puasa, banyak Sahabat Sehat yang langsung menyantap gorengan karena aroma, tekstur, dan rasanya yang menggoda.

    Namun ternyata kebiasaan ini kurang baik bagi tubuh sebab makanan gorengan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Selain makanan gorengan, yang perlu Sahabat Sehat hindari juga adalah makanan bersantan.

    Baca Juga: Alasan Orang Indonesia Gemar Konsumsi Gorengan Meski Tidak Menyehatkan

    Ada baiknya Sahabat Sehat mulai mengurangi asupan makanan gorengan dan bersantan dan sebagai gantinya Sahabat Sehat dapat memilih sayur, buah, maupun kurma yang lebih bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

    Batasi Asupan Gula dan Garam

    Saat menyajikan makanan untuk berbuka puasa, Sahabat Sehat perlu memperhatikan takaran  gula dan garam. Asupan gula dibatasi maksimal 4 sendok makan per hari sebab konsumsi gula yang berlebihan berisiko menyebabkan penyakit degeneratif seperti kencing manis.

    Sedangkan untuk asupan garam dibatasi sekitar 1 sendok teh garam per hari. Asupan garam yang berlebihan meningkatkan risiko penyakit hipertensi.

    Produk Terkait: Jual Garam Himalaya

    Sahabat Sehat juga sebaiknya membatasi konsumsi makanan cepat saji dan minuman berpengawet karena mengandung garam dan gula yang tinggi.

    Makan Secukupnya

    Supaya tubuh tetap sehat saat berbuka puasa, sebaiknya Sahabat Sehat memastikan porsi makan secukupnya dan tidak berlebihan.

    Makan secara berlebihan, dapat berimbas pada kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko timbulnya penyakit metabolik. Sementara itu jika asupan makanan kurang, dapat meningkatkan resiko kekurangan gizi sehingga sistem kekebalan tubuh menurun dan mudah terinfeksi penyakit.

    Sahabat Sehat, jangan lupa konsumsi air putih yang cukup untuk mencegah kekurangan cairan tubuh saat berpuasa. Minum air putih 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas saat sahur.

    Hindari Makan dan Minum di Luar Rumah

    Supaya Sahabat Sehat dapat menjalani puasa di tengah masa pandemi Covid-19 dengan baik, sebaiknya hindari makan dan minum di luar rumah. Sahabat Sehat dapat mengolah makanan dan minuman buatan sendiri, sehingga lebih terjamin kualitas dan kebersihan makanan yang dikonsumsi.

    Baca Juga: Panduan Menu Masakan Sehari-hari Buat Keluarga dengan Gizi Seimbang

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips menu makanan sehat untuk berbuka puasa di tengah masa pandemi Covid-19 yang dapat Sahabat Sehat lakukan sehingga tetap melindungi tubuh dari berbagai penyakit.

    Ingin konsumsi makanan sehat yang berkualitas untuk menu buka puasa? Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Cara Memilih Makanan Sehat saat Puasa Ramadhan di Masa Pandemi – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2021 [cited 26 April 2021]. Available from: https://tirto.id/cara-memilih-makanan-sehat-saat-puasa-ramadhan-di-masa-pandemi-gdd8
    2. Tepat Memilih Menu Buka dan Sahur Saat Ramadan Jaga Tubuh Tetap Sehat di Masa Pandemi [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 26 April 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/ramadan/read/4529276/tepat-memilih-menu-buka-dan-sahur-saat-ramadan-jaga-tubuh-tetap-sehat-di-masa-pandemi#
    3. Media K. Tips Pilih Menu Buka Puasa dan Sahur dari Dokter Gizi Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 26 April 2021]. Available from: https://www.kompas.com/food/read/2021/04/12/141943575/tips-pilih-menu-buka-puasa-dan-sahur-dari-dokter-gizi?page=all

     

    Read More
  • Mewabahnya COVID-19 di Indonesia membuat semua aktivitas rutin menjadi terganggu, termasuk imunisasi anak. Imunisasi pada anak dilakukan sebagai upaya membentuk kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit menular, seperti cacar, polio, tuberkulosis, hepatitis B, difteri, campak, dan rubella. Hal ini dikarenakan anak-anak, terutama bayi, masih rentan terserang penyakit. Berbagai penyakit dapat mempengaruhi pertumbuhan anak, seperti menyebabkan kecacatan, […]

    Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi COVID-19?

    Mewabahnya COVID-19 di Indonesia membuat semua aktivitas rutin menjadi terganggu, termasuk imunisasi anak. Imunisasi pada anak dilakukan sebagai upaya membentuk kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit menular, seperti cacar, polio, tuberkulosis, hepatitis B, difteri, campak, dan rubella.

    Hal ini dikarenakan anak-anak, terutama bayi, masih rentan terserang penyakit. Berbagai penyakit dapat mempengaruhi pertumbuhan anak, seperti menyebabkan kecacatan, kelumpuhan, bahkan kematian. Oleh karena itu, imunisasi pada anak begitu penting untuk dilakukan.1

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap untuk Bayi

    vaksinasi anak, imunisasi anak di masa Corona

    Namun, ketika COVID-19 mewabah, banyak orang tua yang bertanya-tanya, apakah imunisasi masih perlu dilakukan? Hal ini disebabkan virus corona adalah salah satu virus mematikan yang dapat menyebar begitu cepat sehingga membuat banyak orang tua khawatir dirinya dan anaknya tertular bila pergi ke luar rumah.2

    Jawabannya adalah perlu. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sebagai organisasi yang bertanggung jawab terhadap kesehatan anak-anak Indonesia, termasuk di dalamnya mengenai imunisasi, menyatakan bahwa imunisasi untuk anak-anak tetap harus dilakukan sesuai jadwal yang sudah ditetapkan berdasarkan rekomendasi dari WHO.

    Penetapan jadwal juga melihat kondisi perkembangan anak di Indonesia sehingga jadwal pemberian imunisasi yang sesuai dan bertahap akan membantu perkembangan anak.2

    Karena imunisasi anak tetap harus dilakukan, pelaksanaannya pun menyesuaikan dengan kondisi yang ada, yaitu menerapkan protokol kesehatan sebagai tindak lanjut upaya mengurangi penyebaran corona.

    Hal itu tertuang dalam Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan.1 Lalu, seperti apakah imunisasi anak di masa pandemi? Yuk, tanpa berlama-lama, mari kita simak, Sobat Sehat!

    Dilaksanakan di Fasilitas Kesehatan

    Fasilitas kesehatan seperti posyandu, puskesmas, dan rumah sakit tetap melaksanakan imunisasi dasar lengkap untuk anak-anak, namun dengan berbagai protokol kesehatan, seperti melakukan physical distancing 1-2 meter, melakukannya di ruangan yang cukup besar dan mempunyai sirkulasi udara yang baik untuk mencegah terjadinya penularan corona secara airborne, dan petugas medis diharuskan memakai APD lengkap.1

    Selain itu, ruangan dipastikan harus steril sebelum dan sesudah kunjungan dengan disemprotkan cairan desinfektan.

    Tak lupa, setiap orang yang membawa anaknya untuk imunisasi harus memakai masker dan mencuci tangan. Untuk jam kunjungan pun diusahakan tidak sampai membuat orang tua dan anak lama menunggu untuk meminimalkan paparan virus.

    Karena itu, diharapkan orang tua untuk mengatur jadwal imunisasi anak sebelumnya dengan mengatur janji bertemu dokter.1

    Dapat Dilaksanakan di Tempat Pribadi Dokter atau Layanan ke Rumah

    Apabila Sobat Sehat yang telah menjadi orang tua masih begitu khawatir mengenai pelayanan pemberian imunisasi secara langsung di fasilitas kesehatan yang menjadi tempat rentan penyebaran virus, Sahabat juga bisa melakukannya di tempat pribadi dokter yang membuka praktik pribadi sehingga bersifat lebih privat. Pilihan lainnya dapat berupa layanan imunisasi ke rumah sebagai salah satu cara mengurangi penyebaran virus.3

    Untuk layanan imunisasi ini, Sobat juga dapat memanfaatkan layanan imunisasi ke rumah dari Prosehat yang mempunyai beberapa kelebihan seperti:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Imunisasi Tidak Dilakukan di Wilayah Rawan Corona

    Imunisasi anak boleh saja tidak dilakukan di wilayah yang menurut pemerintah merupakan wilayah rawan COVID-19. Penundaannya adalah satu bulan jika memang imunisasi tidak memungkinkan dan sangat berisiko. Namun, apabila memungkinkan, imunisasi harus dijalankan.3

    Dapat Diberikan Imunisasi Tambahan dan Kombinasi

    Jika sebelum datangnya virus corona imunisasi yang diberikan sebatas pemberian vaksinasi dasar seperti hepatitis, polio, BCG, DPT, HiB, dan campak/MR, di masa pandemi ini, pemberian imunisasi tambahan dan kombinasi, seperti influenza dan PCV dapat sangat bermanfaat dalam mencegah pneumonia pada anak.2

    Catat Waktu Kunjungan

    Agar imunisasi dasar anak di masa pandemi dapat berjalan seperti biasa dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, sebaiknya Sobat mencatat waktu kunjungan ke fasilitas kesehatan yang memberikan layanan imunisasi.

    Pencatatan ini akan membuat jadwal kunjungan menjadi teratur. Dari pencatatan ini pun Sobat bisa merencanakan jadwal kunjungan setelahnya.3

    Physical Distancing untuk Anak di Rumah

    Ketika di rumah, anak yang sudah diimunisasi sebaiknya diusahakan jangan keluar rumah supaya tidak tertular virus corona.

    ASI juga harus tetap diberikan pada anak yang berusia di bawah 2 tahun. Selain itu, jauhkan anak dari orang-orang dengan gejala flu, seperti batuk dan pilek yang diindikasikan sebagai gejala COVID-19.

    Itulah gambaran mengenai imunisasi anak di masa pandemi corona yang harus tetap sesuai jadwal dan memperhatikan banyak protokol kesehatan dari pemerintah.

    Apabila Sahabat ingin mengetahui secara lengkap dan dalam mengenai imunisasi di masa pandemi silakan tonton YouTube di bawah ini,  dan jangan lupa subscribe YouTube Prosehat.

    Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut silakan hubungi asisten kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID-19 [Internet]. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2020 [cited 6 August 2020]. Available from: https://covid19.go.id/storage/app/media/Protokol/Final%20Juknis%20Pelayanan%20Imunisasi%20pada%20Masa%20Pandemi%20COVID-19.pdf
    2. Ada jadwal imunisasi anak saat pandemi corona? Ini yang wajib Parents tahu! [Internet]. theAsianparent: Situs Parenting Terbaik di Indonesia. 2020 [cited 29 July 2020]. Available from: https://id.theasianparent.com/anak-imunisasi-saat-pandemi-corona
    3. Media K. Selama Pandemi, Jadwal Imunisasi Anak Tetap Dilakukan atau Ditunda? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 29 July 2020]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/02/152505420/selama-pandemi-jadwal-imunisasi-anak-tetap-dilakukan-atau-ditunda?page=all
    Read More
  • Banyak Sahabat Sehat yang bertanya–tanya, perlukah pemberian vaksin flu selama pandemi? Jawabannya tentu saja perlu mengingat vaksin flu diberikan untuk mencegah datangnya virus influenza atau flu yang datangnya musiman terutama saat musim hujan. WHO selaku Badan Kesehatan Dunia menegaskan bahwa pemberian vaksin flu bisa mencegah keparahan infeksi yang disebabkan oleh COVID-19, namun vaksin influenza ini […]

    Pentingnya Vaksinasi Flu Selama Pandemi Corona

    Banyak Sahabat Sehat yang bertanya–tanya, perlukah pemberian vaksin flu selama pandemi? Jawabannya tentu saja perlu mengingat vaksin flu diberikan untuk mencegah datangnya virus influenza atau flu yang datangnya musiman terutama saat musim hujan.

    WHO selaku Badan Kesehatan Dunia menegaskan bahwa pemberian vaksin flu bisa mencegah keparahan infeksi yang disebabkan oleh COVID-19, namun vaksin influenza ini tidak bisa memberikan kekebalan terhadap penularan virus asal Wuhan tersebut.

    Sebuah penelitian awal menyatakan bahwa vaksin influenza kenyataannya bukan hanya mencegah tetapi juga menghasilkan molekul yang disebut bisa melawan COVID-19, serta bisa menciptakan imun tubuh yang kuat. Bahkan disebutkan jika orang yang diberikan vaksin flu peluangnya lebih kecil terkena COVID-19.

    Sebab, jika seseorang terkena flu akan berakibat pada turunnya daya tahan tubuh sehingga menjadi pintu masuk yang lebih mudah bagi Covid-19 untuk menginfeksi.

    flu selama pandemi

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Flu untuk Penderita Penyakit Kronis

    Influenza dan COVID-19 mempunyai gejala yang hampir mirip, karena itu pemberian vaksin dilakukan sebagai tindakan preventif bagi penderita dengan penyakit penyerta, lansia, tenaga kesehatan, anak-anak, dan ibu hamil.

    Perlu diketahui hingga saat ini, penyakit flu merupakan penyakit yang telah mengakibatkan 650 orang meninggal. Kematian yang dikarenakan kasus flu berat berkisar di angka 3-5 juta dari total 1 miliar kasus flu di seluruh dunia.

    Penyebab flu bisa menjadi penyakit yang mematikan karena masih banyak orang yang menganggap remeh penyakit ini serta menyamakannya dengan selesma sehingga bisa dengan sendirinya sembuh, dan tentu saja kurangnya pengetahuan mengenai flu dan vaksinasinya.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi Flu ke Rumah

    Pemberian vaksin flu selama pandemi diperlukan supaya tidak terjadi twindemic, yaitu situasi yang terjadi ketika flu dan Covid-19 menyerang secara bersamaan.

    Jika hal yang demikian terjadi akan mengakibatkan kolapsnya sistem kesehatan di suatu negara sebab akan banyak pasien penderita kedua penyakit tersebut yang berduyun-duyun datang ke fasilitas kesehatan untuk dirawat.

    Karena sifatnya menular, tentu saja akan semakin menambah jumlah penderita dengan sangat cepat serta mengakibatkan bertambahnya jumlah kematian sehingga pemberian vaksin flu pada masa pandemi benar-benar penting dilakukan, dan lebih cepat lebih baik.

    Baca Juga: Seberapa Penting Vaksin Influenza?

    Mengenai pemberian vaksin flu tetap harus dilakukan dengan menjalankan protokol-protokol kesehatan apabila di fasilitas layanan kesehatan serta menjalankan pembatasan pengunjung.

    Layanan vaksinasi ke rumah juga bisa dilakukan untuk mencegah transmisi virus. Untuk layanan vaksinasi flu ke rumah ini Sobat bisa melakukannya di Prosehat. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Septiani A. WHO Sarankan Pentingnya Vaksin Flu di Tengah Pandemi Corona [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 10 November 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5142623/who-sarankan-pentingnya-vaksin-flu-di-tengah-pandemi-corona
    2. Media K. Kenapa Vaksin Influenza Penting di Masa Pandemi Corona? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 10 November 2020]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/09/09/201500368/kenapa-vaksin-influenza-penting-di-masa-pandemi-corona-?page=all
    3. Media K. Studi Awal, Vaksin Flu Dapat Kurangi Infeksi Virus Corona Covid-19 Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 10 November 2020]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/11/03/080300123/studi-awal-vaksin-flu-dapat-kurangi-infeksi-virus-corona-covid-19?page=all
    4. Anwar F. Waspada Flu Musiman, WHO Rekomendasikan Vaksin Flu Saat Wabah Corona [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 10 November 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5229363/waspada-flu-musiman-who-rekomendasikan-vaksin-flu-saat-wabah-corona
    5. id I. Inspiring Better Health – Gridhealth.id [Internet]. Grid Health. 2020 [cited 10 November 2020]. Available from: https://health.grid.id/read/352348709/vaksinasi-influenza-menyelamatkan-di-masa-pandemi-sebabnya-serangan-flu-sekaligus-covid-19-bisa-tingkatkan-risiko-kematian?page=all
    Read More
  • Perceraian merupakan suatu keputusan dalam memutus tali perkawinan yang disebabkan oleh suatu hal dan di sahkan oleh keputusan hakim atas permintaan dari salah satu pihak maupun dari kedua belah pihak. Perceraian sendiri dapat dipicu oleh beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi? Sampai saat ini, angka kasus perceraian […]

    5 Alasan Meningkatnya Angka Perceraian di Tengah Pandemi Covid-19

    Perceraian merupakan suatu keputusan dalam memutus tali perkawinan yang disebabkan oleh suatu hal dan di sahkan oleh keputusan hakim atas permintaan dari salah satu pihak maupun dari kedua belah pihak. Perceraian sendiri dapat dipicu oleh beberapa alasan yang melatarbelakanginya.

    perceraian di tengah pandemi covid-19

    Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi?

    Sampai saat ini, angka kasus perceraian di Indonesia terus mengalami peningkatan. Terutama semenjak merebaknya wabah pandemi Covid-19 di Indonesia.

    Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat besar dalam rutinitas kehidupan keluarga. Hal tersebut terjadi karena adanya kebijakan dari pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi menekan jumlah penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

    Kebijakan ini mengharuskan seluruh anggota keluarga untuk melakukan aktivitas dari rumah, seperti belajar, beribadah, hingga bekerja. Atas dasar inilah setiap anggota keluarga akhirnya banyak menghabiskan waktu dirumah dan kondisi ini tentunya disikapi berbeda-beda oleh setiap keluarga.

    Beberapa orang menyikapi keadaan ini dengan positif, seperti membangun kembali momen kebersamaan dan harmonisasi keluarga yang dulu sempat hilang.

    Namun, banyak pula yang menyikapinya dengan negatif sehingga berujung pada perselisihan, pertengkaran, atau bahkan hingga perceraian.

    Berikut adalah aspek-aspek yang paling sering memicu konflik antar pasangan suami istri hingga menyebabkan perceraian di tengah pandemi Covid-19, di antaranya:

    1. Kesulitan Ekonomi

    Perubahan ekonomi yang terjadi sampai saat ini akibat pandemi Covid-19 belum juga menemukan ujungnya. Menurunnya grafik perekonomian di Indonesia tidak sepenuhnya mampu diterima oleh semua keluarga, terutama pada golongan ekonomi menengah kebawah.

    Hal ini diperparah dengan adanya keluarga yang tidak cukup memiliki persiapan keuangan untuk menghadapi kondisi darurat seperti pada saat pandemi Covid-19 ini.

    Alhasil, pertengkaran dan perselisihan pun kerap terjadi. Misalnya, adanya rasa ingin diakui dan gagasan yang selalu harus dilakukan oleh pasangannya, namun pada kenyataannya mereka sulit membendung ego tersebut.

    Ada beberapa diantara mereka yang mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan baik, namun banyak pula yang membiarkannya berlarut-larut hingga menyebabkan keretakan pada perkawinannya yang berakhir pada perceraian.

    Alasannya sangat beragam, seperti besarnya peluang menjadi pengangguran, diharuskan untuk cuti oleh pihak kantor, atau kehilangan sebagian pengasilan.

    2. Munculnya Kebiasaan yang Tidak Biasa

    Kondisi pandemi secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk menjalani aktivitas dan kebiasaan baru alias new normal. Adanya kebiasaan baru yang mendadak harus dijalankan tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya permasalahan baru, terutama dalam kehidupan pernikahan.

    Contohnya, pada sepasang suami istri yang sebelumnya memiliki kebiasaan berinteraksi jarak jauh atau jarang bertemu.

    Tetapi saat pandemi mereka diharuskan untuk berada didalam rumah, sehingga mau tidak mau mereka akan terus bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

    Baca Juga: Kehidupan Seks Tetap Membara Setelah Menikah dan Punya Anak

    Kebiasaan baru ini bukan menjadi hal yang tidak mungkin dalam memicu terjadinya konflik diantara mereka. Terlebih jika salah satu diantara mereka tidak ada yang mengalah dan saling meninggikan ego, perceraian menjadi tak terhindarkan.

    3. Perasaan Jenuh

    Panjangnya masa pemberlakuan PSBB berdampak juga pada kondisi mental setiap keluarga, terutama pasangan suami istri.

    Kondisi tersebut membuat mereka yang sebelumnya memiliki kegiatan aktif di luar, kini merasa “terkurung” karena berada di dalam rumah pada jangka waktu yang panjang. Hal ini menyebabkan kedua pasangan akan merasa jenuh dan bosan.

    Mengulang kebiasaan yang sama di dalam rumah setiap harinya, dengan tidak adanya aktivitas lain tentunya akan menimbulkan perasaan jenuh.

    Maka, sangat penting bagi pasangan suami istri untuk terus mengkomunikasikan segala sesuatu demi mencegah hal yang tidak diinginkan. Misalnya, dengan menjaga komunikasi untuk mempererat keharmonisan di dalam kehidupan rumah tangga.

    4. Usia Pernikahan

    Usia pernikahan juga sangat berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga. Banyak dari mereka menjadikan usia pernikahan sebagai alasan untuk bercerai di tengah pandemi Covid-19.

    Pada pengantin baru atau yang usia pernikahannya masih muda, kemungkinan akan terkejut dengan perubahan yang terjadi akibat pandemi Covid-19.

    Ikatan pernikahan mereka cenderung lebih mudah goyah karena belum banyaknya pengalaman dalam menghadapi ujian pernikahan.

    Selain itu, tuntutan untuk menjalani gaya hidup sederhana akibat masa krisis sangat bersebrangan dengan kebanyakan visi pasangan baru yang mengacu pada ‘indahnya pernikahan dan kesempurnaan hidup’.

    Akibat dari kenyataan yang tidak sesuai dengan angan-angan tersebutlah, banyak dari mereka yang menyerah dengan kehidupan pernikahannya.

    5. Kesehatan Emosional

    Peningkatan jumlah kasus KDRT saat ini telah dilaporkan semenjak berlakunya kebijakan PSBB, jumlahnya menginjak angka 110 kasus KDRT di Indonesia.

    Salah satu alasan meningkatnya angka KDRT disebabkan oleh bertambahnya berbagai bentuk ketidakberdayaan yang dialami perempuan.

    Sebagian besar juga terjadi karena bertambahnya tuntutan rumah tangga yang dibebankan kepada perempuan, seperti megurus anak dan tugas internal lainnya.

    Baca Juga: 3 Faktor yang Memengaruhi Tingkat Stres Pada Pria dan Wanita

    Selain itu, KDRT yang terjadi bisa juga dipicu oleh kesulitan ekonomi yang kemudian merembet ke beberapa aspek kehidupan rumah tangga.

    Ditambah pula ketika pasangan mulai mempertanyakan kesanggupan dalam menafkahi keluarga, hal ini akan berujung pada pertengkaran karena perekomonian yang tidak kunjung membaik. Sehingga sangat mempengaruhi kesehatan emosional.

    Baik istri maupun suami pasti lama-lama akan merasa lelah dan jenuh dengan konflik yang terjadi setiap harinya. Jika kondisi ini terus diabaikan, hubungan antara suami istri akan semakin merenggang dan menjauh, atau bahkan akan timbul perasaan sudah tidak ada perasaan bahagia ketika bersama.

    Setiap pernikahan sejatinya memang tidak ada yang sempurna dan memiliki masalah merupakan hal yang wajar. Namun, apabila terjadi perubahan kondisi yang mendadak sehingga menimbulkan masalah baru tak terhindarkan dan justru terus berulang setiap harinya.

    Jadi, ada baiknya jika Sahabat Sehat mulai mempertimbangkan dan membuat perencanaan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dikemudian hari.

    Untuk mengurangi beban pikiran dan mental, Sahabat Sehat bisa mulai mengajak bicara sanak saudara, teman atau sahabat yang dapat dipercaya.

    Baca Juga: Seperti Apa dan Bagaimana Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Jiwa?

    Namun, jika pada akhirnya merasa belum juga menemukan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi, Sahabat Sehat bisa mengagendakan untuk berkonsultasi dengan psikiater secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.

    Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

     

    Referensi:

    1. ipb.ac.id. 2021. View of ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PERCERAIAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN BANYUMAS. [online] Available at: <https://jurnal.ipb.ac.id/index.php/jikk/article/view/31790/21087> [Accessed 8 April 2021].
    2. BBC News Indonesia. 2021. Mengapa angka perceraian di berbagai negara melonjak saat pandemi Covid-19? – BBC News Indonesia. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-55284729> [Accessed 8 April 2021].
    3. Ramadhi, A., 2021. Perceraian di Masa Pandemi Covid-19 – Love Life –. [online] Love Life. Available at: <https://ilovelife.co.id/blog/perceraian-di-masa-pandemi-covid-19/> [Accessed 8 April 2021].
    Read More
  • Covid-19 yang sekarang menjadi pandemi akan menjadi endemik. Itulah yang diungkapkan oleh epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University, Australia. Hal itu berdasarkan pengamatannya jika melihat pada perkembangan dan mutasi virus selama ini. Prediksi ini ia sudah ungkapkan pada Mei 2020 lalu. Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu? Hal serupa diungkapkan pula oleh para […]

    Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Covid-19 yang sekarang menjadi pandemi akan menjadi endemik. Itulah yang diungkapkan oleh epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University, Australia. Hal itu berdasarkan pengamatannya jika melihat pada perkembangan dan mutasi virus selama ini. Prediksi ini ia sudah ungkapkan pada Mei 2020 lalu.

    covid-19 akan menjadi endemik

    Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu?

    Hal serupa diungkapkan pula oleh para peneliti dalam jurnal Nature pada Januari 2021. Jurnal tersebut menyatakan bahwa lebih dari 100 ahli imunologi, peneliti penyakit menular, dan ahli virologi berpendapat bahwa virus Corona akan menjadi endemik. Artinya, virus akan terus beredar dan akan ada terus di tengah masyarakat selama bertahun-tahun mendatang.

    World Health Organization (WHO) juga sudah mengungkapkan hal ini pada akhir 2020 lalu. Profesor David Heymann, Ketua Kelompok Penasihat Strategi dan Teknis WHO untuk Bahaya Infeksi menyatakan bahwa dunia sudah harus siap hidup berdampingan dengan Covid-19 saat menjadi endemik.

    Lalu Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Merujuk pada istilah dalam epidemiologi, pandemi merupakan sebutan untuk penyakit yang mewabah di sebagian besar dunia dalam waktu yang bersamaan. Pada awal kemunculannya, Covid-19 merupakan endemik karena hanya terjadi di suatu wilayah saja.

    Baca Juga: Infodemik, Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    Berikut ini adalah penyakit-penyakit yang sempat menjadi pandemi, yaitu:

    • Flu Spanyol 1918
    • Flu Asia 1956
    • HIV-AIDS
    • Flu Babi

    Sedangkan endemik adalah penyakit yang terjadi dalam satu wilayah saja dalam rentang waktu tertentu, contohnya:

    Apakah Covid-19 di Indonesia Dapat Menjadi endemik?

    Seperti dilansir dari CNBC Indonesia, epidemiolog Dicky Budiman menyatakan sangat mungkin Covid-19 di Indonesia menjadi endemi. Hal itu berdasarkan angka reproduksi suatu wilayah atau negara, dan bila sulit mencapai angka di bawah satu, Covid-19 bisa menjadi endemik. Hal lainnya adalah sistem kesehatan yang masih buruk dan strategi 3T (tracing, testing,treatment) yang belum maksimal.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Demikianlah Sahabat Sehat mengapa Covid-19 bisa menjadi kondisi endemik dari sebelumnya pandemi. Sahabat disarankan tetap harus berperilaku 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak,menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi atau interaksi) serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

    Baca Juga: Virus Nipah, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19?

    Selain itu, jangan lupa vaksinasi Covid-19 jika vaksinasi massal sudah berjalan sebagai salah satu pencegahan, dan tetap lakukan deteksi dini Covid-19 melalui Prosehat. Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Alam S. COVID-19 Disebut Sangat Mungkin Jadi endemikdi RI, Apa Bedanya dengan Pandemi? [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5485048/covid-19-disebut-sangat-mungkin-jadi-endemik-di-ri-apa-bedanya-dengan-pandemi
    2. Media K. WHO Peringatkan, Pandemi Covid-19 Kemungkinan Besar Bakal Jadi endemik[Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/28/170200423/who-peringatkan-pandemi-covid-19-kemungkinan-besar-bakal-jadi-endemik
    3. Media K. Covid-19 Diprediksi Bakal Jadi endemik, Apa Artinya untuk Kita? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/01/124314423/covid-19-diprediksi-bakal-jadi-endemik-apa-artinya-untuk-kita?page=all
    4. Waspadai 10 Penyakit Endemis Ini Saat Jalan-jalan ke Luar Negeri [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1899299/waspadai-10-penyakit-endemis-ini-saat-jalan-jalan-ke-luar-negeri
    5. Hasibuan L. Akankah Virus Covid-19 Jadi endemik di RI? Ini Prediksinya! [Internet]. tech. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210308115922-37-228539/akankah-virus-covid-19-jadi-endemik-di-ri-ini-prediksinya
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja