Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ pandemi”

  • Sahabat Sehat, momen berbuka puasa adalah salah satu hal yang dinantikan saat bulan Ramadan. Selama masa pandemi Covid-19, Sahabat Sehat disarankan untuk tetap memilih menu makanan yang sehat dan bergizi seimbang untuk tetap menjaga sistem kekebalan tubuh. Baca Juga: 8 Manfaat Positif Berpuasa Bagi Kesehatan Tubuh dan Mental yang Perlu Kamu Ketahui Nah, apa saja […]

    Catat ! Ini Menu Sehat Berbuka Puasa di Tengah Pandemi Covid-19

    Sahabat Sehat, momen berbuka puasa adalah salah satu hal yang dinantikan saat bulan Ramadan. Selama masa pandemi Covid-19, Sahabat Sehat disarankan untuk tetap memilih menu makanan yang sehat dan bergizi seimbang untuk tetap menjaga sistem kekebalan tubuh.

    menu sehat berbuka puasa di tengah pandemi

    Baca Juga: 8 Manfaat Positif Berpuasa Bagi Kesehatan Tubuh dan Mental yang Perlu Kamu Ketahui

    Nah, apa saja menu sehat yang dapat dikonsumsi untuk berbuka puasa? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut ini !

    Pilih Makanan Bergizi Seimbang

    Saat berpuasa, Sahabat Sehat membutuhkan energi agar dapat melakukan berbagai aktivitas. Agar tubuh tidak lesu, Sahabat Sehat harus memilih makanan dengan komposisi gizi yang seimbang seperti mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan mineral.

    Ahli gizi dari RSU PKU Muhammadiyah Bantul, dr. Ika Rubaidah mengungkap bahwa karbohidrat yang terbaik adalah karbohidrat kompleks seperti nasi merah dan roti gandum.

    Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsumsi buah dan sayur untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan serat bagi tubuh. Menu makanan bergizi seimbang tersebut sebaiknya Sahabat Sehat terapkan ketika sahur dan berbuka puasa.

    Konsumsi Makanan Segar

    Agar tubuh kembali bertenaga setelah berpuasa, Sahabat Sehat sebaiknya pilih makanan yang segar seperti pisang, jambu biji, pepaya, bayam, sawi, kacang panjang, pare, dan lainnya.

    Produk Terkait: Jual Vegeblend

    Hindari makanan atau minuman yang diawetkan, sebab makanan segar lebih kaya akan vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi tubuh.

    Hindari Gorengan & Santan

    Saat berbuka puasa, banyak Sahabat Sehat yang langsung menyantap gorengan karena aroma, tekstur, dan rasanya yang menggoda.

    Namun ternyata kebiasaan ini kurang baik bagi tubuh sebab makanan gorengan dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Selain makanan gorengan, yang perlu Sahabat Sehat hindari juga adalah makanan bersantan.

    Baca Juga: Alasan Orang Indonesia Gemar Konsumsi Gorengan Meski Tidak Menyehatkan

    Ada baiknya Sahabat Sehat mulai mengurangi asupan makanan gorengan dan bersantan dan sebagai gantinya Sahabat Sehat dapat memilih sayur, buah, maupun kurma yang lebih bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

    Batasi Asupan Gula dan Garam

    Saat menyajikan makanan untuk berbuka puasa, Sahabat Sehat perlu memperhatikan takaran  gula dan garam. Asupan gula dibatasi maksimal 4 sendok makan per hari sebab konsumsi gula yang berlebihan berisiko menyebabkan penyakit degeneratif seperti kencing manis.

    Sedangkan untuk asupan garam dibatasi sekitar 1 sendok teh garam per hari. Asupan garam yang berlebihan meningkatkan risiko penyakit hipertensi.

    Produk Terkait: Jual Garam Himalaya

    Sahabat Sehat juga sebaiknya membatasi konsumsi makanan cepat saji dan minuman berpengawet karena mengandung garam dan gula yang tinggi.

    Makan Secukupnya

    Supaya tubuh tetap sehat saat berbuka puasa, sebaiknya Sahabat Sehat memastikan porsi makan secukupnya dan tidak berlebihan.

    Makan secara berlebihan, dapat berimbas pada kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko timbulnya penyakit metabolik. Sementara itu jika asupan makanan kurang, dapat meningkatkan resiko kekurangan gizi sehingga sistem kekebalan tubuh menurun dan mudah terinfeksi penyakit.

    Sahabat Sehat, jangan lupa konsumsi air putih yang cukup untuk mencegah kekurangan cairan tubuh saat berpuasa. Minum air putih 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas saat sahur.

    Hindari Makan dan Minum di Luar Rumah

    Supaya Sahabat Sehat dapat menjalani puasa di tengah masa pandemi Covid-19 dengan baik, sebaiknya hindari makan dan minum di luar rumah. Sahabat Sehat dapat mengolah makanan dan minuman buatan sendiri, sehingga lebih terjamin kualitas dan kebersihan makanan yang dikonsumsi.

    Baca Juga: Panduan Menu Masakan Sehari-hari Buat Keluarga dengan Gizi Seimbang

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips menu makanan sehat untuk berbuka puasa di tengah masa pandemi Covid-19 yang dapat Sahabat Sehat lakukan sehingga tetap melindungi tubuh dari berbagai penyakit.

    Ingin konsumsi makanan sehat yang berkualitas untuk menu buka puasa? Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Cara Memilih Makanan Sehat saat Puasa Ramadhan di Masa Pandemi – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2021 [cited 26 April 2021]. Available from: https://tirto.id/cara-memilih-makanan-sehat-saat-puasa-ramadhan-di-masa-pandemi-gdd8
    2. Tepat Memilih Menu Buka dan Sahur Saat Ramadan Jaga Tubuh Tetap Sehat di Masa Pandemi [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 26 April 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/ramadan/read/4529276/tepat-memilih-menu-buka-dan-sahur-saat-ramadan-jaga-tubuh-tetap-sehat-di-masa-pandemi#
    3. Media K. Tips Pilih Menu Buka Puasa dan Sahur dari Dokter Gizi Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 26 April 2021]. Available from: https://www.kompas.com/food/read/2021/04/12/141943575/tips-pilih-menu-buka-puasa-dan-sahur-dari-dokter-gizi?page=all

     

    Read More
  • Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama satu tahun lebih. Salah satu dampaknya adalah  peningkatan awareness terhadap kesehatan dari masing–masing individu. Baca Juga: Boleh Tes Swab Selama Bulan Ramadan, Yuk Cek di Prosehat Aja! Mengurangi risiko terjadinya gangguan kesehatan dapat dilakukan dengan medical check up yang artinya memeriksa keseluruhan kondisi kesehatan tubuh dan mendeteksi ada atau tidaknya […]

    Pentingnya Medical Check Up di Masa Pandemi

    Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama satu tahun lebih. Salah satu dampaknya adalah  peningkatan awareness terhadap kesehatan dari masing–masing individu.

    medical check up di masa pandemi

    Baca Juga: Boleh Tes Swab Selama Bulan Ramadan, Yuk Cek di Prosehat Aja!

    Mengurangi risiko terjadinya gangguan kesehatan dapat dilakukan dengan medical check up yang artinya memeriksa keseluruhan kondisi kesehatan tubuh dan mendeteksi ada atau tidaknya kelainan pada tubuh kita.

    Medical check up sebaiknya dilakukan secara berkala karena dinilai untuk memastikan kondisi kesehatan diri. Masih banyak di antara kita yang menganggap bahwa medical check up dilakukan demi keperluan tertentu saja, seperti melamar pekerjaan atau syarat saat bekerja ke luar negeri.

    Padahal prosedur pengecekkan kondisi tubuh secara menyeluruh juga dibutuhkan oleh perempuan ataupun laki-laki, baik yang berusia muda ataupun usia lanjut.

    Manfaat Medical Check Up di Masa Pandemi

    Selain melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan tanda vital tubuh, pasien akan ditanya mengenai kondisi kesehatan yang sedang dirasakan serta riwayat kesehatan, baik diri sendiri ataupun keluarga. Tujuannya adalah untuk mendeteksi risiko penyakit yang kemungkinan diderita.

    Jika terdapat kelainan, biasanya dokter akan merekomendasikan metode penanganan dan pengobatan yang paling tepat, sebelum penyakit tersebut berprogress lebih jauh.

    Dengan rutin melakukan medical check up, maka Sahabat Sehat bisa mendeteksi sedini mungkin penyakit dengan gejala yang sering tidak tampak.

    Produk Terkait: Cek Lab

    Seperti contohnya, penyakit hipertensi, diabetes melitus, kelainan lemak, penyakit darah, penyakit hati, penyakit ginjal, penyakit paru, dan lain sebagainya.

    Bahkan, dengan dilakukannya medical check up bisa mencegah penyakit dan komplikasinya. Pengobatan bisa dilakukan tanpa menunggu keadaan lanjut sehingga terkait pengeluaran biaya pun menjadi lebih hemat.

    Siapa yang Perlu Medical Check Up?

    Sahabat Sehat harus ingat, medical check up bukan dibutuhkan bagi orang dewasa saja. Seluruh anggota keluarga yang berasal dari tahapan usia membutuhkan medical check up untuk memantau risiko penyakitnya masing-masing.

    Terlebih lagi bagi anggota keluarga yang sudah berusia lebih dari 40 tahun atau anggota keluarga yang mengidap suatu penyakit tertentu, medical check up sebaiknya dilakukan secara rutin sesuai kebutuhannya.

    Baca Juga: Sahabat Ingin Menikah? Yuk, Tes Check-Up Kesehatan Pranikah

    Beberapa orang mungkin memiliki rasa takut untuk melakukan medical check up, alasannya pun beragam. Mulai dari takut saat diambil sampel darahnya, hingga takut jika mendapatkan hasil yang tidak normal atau tidak sesuai ekspektasi. Namun, perlu diingat mencegah tetap lebih baik dibandingkan mengobati.

    Kapan Waktu Medical Check Up?

    Bagi orang yang berusia di bawah 50 tahun, sebaiknya melakukan medical check up minimal tiga tahun sekali. Namun, bagi lansia yang berusia di atas 50 tahun, setidaknya harus melakukan pengecekkan kondisi kesehatan satu kali dalam setahun.

    Namun, apabila Sahabat Sehat ingin memberikan self-reward, Sahabat Sehat bisa melakukan medical check up setidaknya satu kali dalam setahun. Hal tersebut dilakukan juga agar lebih mudah diingat, apabila melakukan medical check up satu tahun sekali.

    Nah, Sahabat Sehat sekarang sudah tahu kan manfaat dari medical check up. Jadi, sebenarnya medical check up bisa dilakukan tanpa harus menunggu gangguan kesehatan, akrena tidak sedikit penyakit yang gejala awalnya tidak terlihat.

    Baca Juga: 8 Alasan Pentingnya Melakukan Medical Check Up

    Karena meski fisik terlihat sehat dan bugar, bukan berarti Sahabat Sehat bisa terbebas dari ancaman penyakit. Untuk itu, Sahabat Sehat penting untuk memantau kondisi kesehatan tubuh dengan melakukan medical check up secara rutin.

    Ingin medical check up yang praktis dan mudah? Yuk, ke Prosehat aja. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Resolusi Kesehatan 2021: Yuk Pahami Pentingnya Medical Check Up! [Internet]. kumparan. 2021 [cited 8 April 2021]. Available from: https://kumparan.com/kumparansains/resolusi-kesehatan-2021-yuk-pahami-pentingnya-medical-check-up-1usK5Jjnhwd
    2. <em>General Medical Check up </em>Kian Penting Saat Pandemi |Republika Online [Internet]. Republika Online. 2021 [cited 8 April 2021]. Available from: https://republika.co.id/berita/qedk5s368/emgeneral-medical-check-up-emkian-penting-saat-pandemi
    3. Sambut Tahun Baru 2021, Ini Waktu yang Tepat untuk Medical Check-Up [Internet]. JawaPos.com. 2021 [cited 8 April 2021]. Available from: https://www.jawapos.com/kesehatan/18/12/2020/sambut-tahun-baru-2021-ini-waktu-yang-tepat-untuk-medical-check-up/

     

    Read More
  • Perceraian merupakan suatu keputusan dalam memutus tali perkawinan yang disebabkan oleh suatu hal dan di sahkan oleh keputusan hakim atas permintaan dari salah satu pihak maupun dari kedua belah pihak. Perceraian sendiri dapat dipicu oleh beberapa alasan yang melatarbelakanginya. Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi? Sampai saat ini, angka kasus perceraian […]

    5 Alasan Meningkatnya Angka Perceraian di Tengah Pandemi Covid-19

    Perceraian merupakan suatu keputusan dalam memutus tali perkawinan yang disebabkan oleh suatu hal dan di sahkan oleh keputusan hakim atas permintaan dari salah satu pihak maupun dari kedua belah pihak. Perceraian sendiri dapat dipicu oleh beberapa alasan yang melatarbelakanginya.

    perceraian di tengah pandemi covid-19

    Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi?

    Sampai saat ini, angka kasus perceraian di Indonesia terus mengalami peningkatan. Terutama semenjak merebaknya wabah pandemi Covid-19 di Indonesia.

    Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat besar dalam rutinitas kehidupan keluarga. Hal tersebut terjadi karena adanya kebijakan dari pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi menekan jumlah penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

    Kebijakan ini mengharuskan seluruh anggota keluarga untuk melakukan aktivitas dari rumah, seperti belajar, beribadah, hingga bekerja. Atas dasar inilah setiap anggota keluarga akhirnya banyak menghabiskan waktu dirumah dan kondisi ini tentunya disikapi berbeda-beda oleh setiap keluarga.

    Beberapa orang menyikapi keadaan ini dengan positif, seperti membangun kembali momen kebersamaan dan harmonisasi keluarga yang dulu sempat hilang.

    Namun, banyak pula yang menyikapinya dengan negatif sehingga berujung pada perselisihan, pertengkaran, atau bahkan hingga perceraian.

    Berikut adalah aspek-aspek yang paling sering memicu konflik antar pasangan suami istri hingga menyebabkan perceraian di tengah pandemi Covid-19, di antaranya:

    1. Kesulitan Ekonomi

    Perubahan ekonomi yang terjadi sampai saat ini akibat pandemi Covid-19 belum juga menemukan ujungnya. Menurunnya grafik perekonomian di Indonesia tidak sepenuhnya mampu diterima oleh semua keluarga, terutama pada golongan ekonomi menengah kebawah.

    Hal ini diperparah dengan adanya keluarga yang tidak cukup memiliki persiapan keuangan untuk menghadapi kondisi darurat seperti pada saat pandemi Covid-19 ini.

    Alhasil, pertengkaran dan perselisihan pun kerap terjadi. Misalnya, adanya rasa ingin diakui dan gagasan yang selalu harus dilakukan oleh pasangannya, namun pada kenyataannya mereka sulit membendung ego tersebut.

    Ada beberapa diantara mereka yang mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan baik, namun banyak pula yang membiarkannya berlarut-larut hingga menyebabkan keretakan pada perkawinannya yang berakhir pada perceraian.

    Alasannya sangat beragam, seperti besarnya peluang menjadi pengangguran, diharuskan untuk cuti oleh pihak kantor, atau kehilangan sebagian pengasilan.

    2. Munculnya Kebiasaan yang Tidak Biasa

    Kondisi pandemi secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk menjalani aktivitas dan kebiasaan baru alias new normal. Adanya kebiasaan baru yang mendadak harus dijalankan tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya permasalahan baru, terutama dalam kehidupan pernikahan.

    Contohnya, pada sepasang suami istri yang sebelumnya memiliki kebiasaan berinteraksi jarak jauh atau jarang bertemu.

    Tetapi saat pandemi mereka diharuskan untuk berada didalam rumah, sehingga mau tidak mau mereka akan terus bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

    Baca Juga: Kehidupan Seks Tetap Membara Setelah Menikah dan Punya Anak

    Kebiasaan baru ini bukan menjadi hal yang tidak mungkin dalam memicu terjadinya konflik diantara mereka. Terlebih jika salah satu diantara mereka tidak ada yang mengalah dan saling meninggikan ego, perceraian menjadi tak terhindarkan.

    3. Perasaan Jenuh

    Panjangnya masa pemberlakuan PSBB berdampak juga pada kondisi mental setiap keluarga, terutama pasangan suami istri.

    Kondisi tersebut membuat mereka yang sebelumnya memiliki kegiatan aktif di luar, kini merasa “terkurung” karena berada di dalam rumah pada jangka waktu yang panjang. Hal ini menyebabkan kedua pasangan akan merasa jenuh dan bosan.

    Mengulang kebiasaan yang sama di dalam rumah setiap harinya, dengan tidak adanya aktivitas lain tentunya akan menimbulkan perasaan jenuh.

    Maka, sangat penting bagi pasangan suami istri untuk terus mengkomunikasikan segala sesuatu demi mencegah hal yang tidak diinginkan. Misalnya, dengan menjaga komunikasi untuk mempererat keharmonisan di dalam kehidupan rumah tangga.

    4. Usia Pernikahan

    Usia pernikahan juga sangat berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga. Banyak dari mereka menjadikan usia pernikahan sebagai alasan untuk bercerai di tengah pandemi Covid-19.

    Pada pengantin baru atau yang usia pernikahannya masih muda, kemungkinan akan terkejut dengan perubahan yang terjadi akibat pandemi Covid-19.

    Ikatan pernikahan mereka cenderung lebih mudah goyah karena belum banyaknya pengalaman dalam menghadapi ujian pernikahan.

    Selain itu, tuntutan untuk menjalani gaya hidup sederhana akibat masa krisis sangat bersebrangan dengan kebanyakan visi pasangan baru yang mengacu pada ‘indahnya pernikahan dan kesempurnaan hidup’.

    Akibat dari kenyataan yang tidak sesuai dengan angan-angan tersebutlah, banyak dari mereka yang menyerah dengan kehidupan pernikahannya.

    5. Kesehatan Emosional

    Peningkatan jumlah kasus KDRT saat ini telah dilaporkan semenjak berlakunya kebijakan PSBB, jumlahnya menginjak angka 110 kasus KDRT di Indonesia.

    Salah satu alasan meningkatnya angka KDRT disebabkan oleh bertambahnya berbagai bentuk ketidakberdayaan yang dialami perempuan.

    Sebagian besar juga terjadi karena bertambahnya tuntutan rumah tangga yang dibebankan kepada perempuan, seperti megurus anak dan tugas internal lainnya.

    Baca Juga: 3 Faktor yang Memengaruhi Tingkat Stres Pada Pria dan Wanita

    Selain itu, KDRT yang terjadi bisa juga dipicu oleh kesulitan ekonomi yang kemudian merembet ke beberapa aspek kehidupan rumah tangga.

    Ditambah pula ketika pasangan mulai mempertanyakan kesanggupan dalam menafkahi keluarga, hal ini akan berujung pada pertengkaran karena perekomonian yang tidak kunjung membaik. Sehingga sangat mempengaruhi kesehatan emosional.

    Baik istri maupun suami pasti lama-lama akan merasa lelah dan jenuh dengan konflik yang terjadi setiap harinya. Jika kondisi ini terus diabaikan, hubungan antara suami istri akan semakin merenggang dan menjauh, atau bahkan akan timbul perasaan sudah tidak ada perasaan bahagia ketika bersama.

    Setiap pernikahan sejatinya memang tidak ada yang sempurna dan memiliki masalah merupakan hal yang wajar. Namun, apabila terjadi perubahan kondisi yang mendadak sehingga menimbulkan masalah baru tak terhindarkan dan justru terus berulang setiap harinya.

    Jadi, ada baiknya jika Sahabat Sehat mulai mempertimbangkan dan membuat perencanaan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dikemudian hari.

    Untuk mengurangi beban pikiran dan mental, Sahabat Sehat bisa mulai mengajak bicara sanak saudara, teman atau sahabat yang dapat dipercaya.

    Baca Juga: Seperti Apa dan Bagaimana Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Jiwa?

    Namun, jika pada akhirnya merasa belum juga menemukan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi, Sahabat Sehat bisa mengagendakan untuk berkonsultasi dengan psikiater secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.

    Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

     

    Referensi:

    1. ipb.ac.id. 2021. View of ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PERCERAIAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN BANYUMAS. [online] Available at: <https://jurnal.ipb.ac.id/index.php/jikk/article/view/31790/21087> [Accessed 8 April 2021].
    2. BBC News Indonesia. 2021. Mengapa angka perceraian di berbagai negara melonjak saat pandemi Covid-19? – BBC News Indonesia. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-55284729> [Accessed 8 April 2021].
    3. Ramadhi, A., 2021. Perceraian di Masa Pandemi Covid-19 – Love Life –. [online] Love Life. Available at: <https://ilovelife.co.id/blog/perceraian-di-masa-pandemi-covid-19/> [Accessed 8 April 2021].
    Read More
  • Covid-19 yang sekarang menjadi pandemi akan menjadi endemik. Itulah yang diungkapkan oleh epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University, Australia. Hal itu berdasarkan pengamatannya jika melihat pada perkembangan dan mutasi virus selama ini. Prediksi ini ia sudah ungkapkan pada Mei 2020 lalu. Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu? Hal serupa diungkapkan pula oleh para […]

    Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Covid-19 yang sekarang menjadi pandemi akan menjadi endemik. Itulah yang diungkapkan oleh epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University, Australia. Hal itu berdasarkan pengamatannya jika melihat pada perkembangan dan mutasi virus selama ini. Prediksi ini ia sudah ungkapkan pada Mei 2020 lalu.

    covid-19 akan menjadi endemik

    Baca Juga: Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa Itu?

    Hal serupa diungkapkan pula oleh para peneliti dalam jurnal Nature pada Januari 2021. Jurnal tersebut menyatakan bahwa lebih dari 100 ahli imunologi, peneliti penyakit menular, dan ahli virologi berpendapat bahwa virus Corona akan menjadi endemik. Artinya, virus akan terus beredar dan akan ada terus di tengah masyarakat selama bertahun-tahun mendatang.

    World Health Organization (WHO) juga sudah mengungkapkan hal ini pada akhir 2020 lalu. Profesor David Heymann, Ketua Kelompok Penasihat Strategi dan Teknis WHO untuk Bahaya Infeksi menyatakan bahwa dunia sudah harus siap hidup berdampingan dengan Covid-19 saat menjadi endemik.

    Lalu Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Merujuk pada istilah dalam epidemiologi, pandemi merupakan sebutan untuk penyakit yang mewabah di sebagian besar dunia dalam waktu yang bersamaan. Pada awal kemunculannya, Covid-19 merupakan endemik karena hanya terjadi di suatu wilayah saja.

    Baca Juga: Infodemik, Pengertian, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    Berikut ini adalah penyakit-penyakit yang sempat menjadi pandemi, yaitu:

    • Flu Spanyol 1918
    • Flu Asia 1956
    • HIV-AIDS
    • Flu Babi

    Sedangkan endemik adalah penyakit yang terjadi dalam satu wilayah saja dalam rentang waktu tertentu, contohnya:

    Apakah Covid-19 di Indonesia Dapat Menjadi endemik?

    Seperti dilansir dari CNBC Indonesia, epidemiolog Dicky Budiman menyatakan sangat mungkin Covid-19 di Indonesia menjadi endemi. Hal itu berdasarkan angka reproduksi suatu wilayah atau negara, dan bila sulit mencapai angka di bawah satu, Covid-19 bisa menjadi endemik. Hal lainnya adalah sistem kesehatan yang masih buruk dan strategi 3T (tracing, testing,treatment) yang belum maksimal.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Demikianlah Sahabat Sehat mengapa Covid-19 bisa menjadi kondisi endemik dari sebelumnya pandemi. Sahabat disarankan tetap harus berperilaku 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak,menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi atau interaksi) serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

    Baca Juga: Virus Nipah, Calon Pandemi Baru Setelah Covid-19?

    Selain itu, jangan lupa vaksinasi Covid-19 jika vaksinasi massal sudah berjalan sebagai salah satu pencegahan, dan tetap lakukan deteksi dini Covid-19 melalui Prosehat. Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Alam S. COVID-19 Disebut Sangat Mungkin Jadi endemikdi RI, Apa Bedanya dengan Pandemi? [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5485048/covid-19-disebut-sangat-mungkin-jadi-endemik-di-ri-apa-bedanya-dengan-pandemi
    2. Media K. WHO Peringatkan, Pandemi Covid-19 Kemungkinan Besar Bakal Jadi endemik[Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/28/170200423/who-peringatkan-pandemi-covid-19-kemungkinan-besar-bakal-jadi-endemik
    3. Media K. Covid-19 Diprediksi Bakal Jadi endemik, Apa Artinya untuk Kita? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/03/01/124314423/covid-19-diprediksi-bakal-jadi-endemik-apa-artinya-untuk-kita?page=all
    4. Waspadai 10 Penyakit Endemis Ini Saat Jalan-jalan ke Luar Negeri [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1899299/waspadai-10-penyakit-endemis-ini-saat-jalan-jalan-ke-luar-negeri
    5. Hasibuan L. Akankah Virus Covid-19 Jadi endemik di RI? Ini Prediksinya! [Internet]. tech. 2021 [cited 9 March 2021]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210308115922-37-228539/akankah-virus-covid-19-jadi-endemik-di-ri-ini-prediksinya
    Read More
  • Seluruh dunia sepakat bahwa hingga saat ini Covid-19 merupakan sebuah pandemi. Bahkan, WHO sendiri juga sudah menegaskan dalam beberapa pertanyaan badan kesehatan dunia tersebut karena sifat Covid-19 yang terjadi secara global alias mewabah di seluruh dunia. Hingga hari ini tercatat sudah 52,6 juta kasus virus di seluruh dunia, dengan 34,1 juta sembuh dan 1,29 juta […]

    Covid-19 Disebut Sebagai Sindemi, Apa itu Sindemi?

    Seluruh dunia sepakat bahwa hingga saat ini Covid-19 merupakan sebuah pandemi. Bahkan, WHO sendiri juga sudah menegaskan dalam beberapa pertanyaan badan kesehatan dunia tersebut karena sifat Covid-19 yang terjadi secara global alias mewabah di seluruh dunia. Hingga hari ini tercatat sudah 52,6 juta kasus virus di seluruh dunia, dengan 34,1 juta sembuh dan 1,29 juta meninggal. Untuk Indonesia sendiri sudah tercatat melebihi 450.000, yaitu 452.000l, dengan 382.000 sembuh dan 14.933 meninggal. Beberapa langkah juga sudah dilakukan seperti meminta masyarakat untuk melakukan 3M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak sebanyak 1-2 meter kemudian melakukan tes-tes Corona seperti PCR swab dan rapid test. Tak hanya itu, beberapa negara pun juga sudah melakukan karantina wilayah atau lockdown dan menutup beberapa akses meskipun harus mengorbankan perekonomian yang juga terguncang akibat virus yang mewabah ini.

    sindemi

    Baca Juga: Mastubasi Dapat Menguatkan Imun Tubuh Hadapi Covid-19?

    Hasilnya, ada beberapa negara yang sukses, ada juga yang tidak. Jumlah penderita virus perlahan bisa dikurangi meskipun kemudian mengalami lonjakan kembali setelah ada pelonggaran. Harapan satu-satunya pun kini tertuju pada vaksin Covid-19 yang masih dalam pengembangan meskipun vaksin tidak serta-merta dengan cepat menghilangkan pandemi. Kini setelah Covid-19 sudah dinyatakan sebagai pandemi muncul lagi istilah untuk menyebut virus asal Wuhan tersebut sebagai sindemi. Tentu banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya apa itu sindemi?

    Pengertian Sindemi

    Sindemi adalah akronim yang berasal dari dua kata, yaitu sinergi dan pandemi. Artinya, penyakit seperti Covid-19 tidak boleh berdiri sendiri sebab pada kenyataannya di satu sisi ada Covid-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, dan di sisi lainnya ada serangkaian penyakit yang sudah diidap seseorang. Kedua elemen ini berinteraksi dalam konteks ketimpangan sosial yang mendalam.Istilah ini sendiri dimunculkan oleh Richard Horton, pemimpin redaksi jurnal ilmiah The Lancet pada 26 September 2020. Melalui sindemi ini, Horton hendak menunjukkan satu tingkat keseriusan yang lebih parah dari pandemi. Dengan demikian, para pemangku kebijakan perlu mengambil langkah yang lebih serius untuk menjaga kesehatan masyarakat.

    Komentar ini ia tulis tepat saat virus Covid-19 atau Corona merenggut 1 juta nyawa manusia di seluruh dunia. Horton juga menyatakan bahwa pendekatan yang diambil dalam penanganan virus memakai pendekatan yang terlalu sempit. Sebab, selama ini ia menilai semua intervensi hanya berfokus pada pemotongan laju penularan virus. Penanganan ini bahwa penanganan yang ada lebih berdasarkan pada pandangan bahwa Covid-19 sebagai penyakit menular. Sejarah ilmu pengetahuan epidemiologi selama berabad-abad menunjukkan bahwa memutus rantai penularan adalah cara yang tepat untuk mengatasi wabah penyakit menular.

    Baca Juga: Isolasi Mandiri Covid-19 di Fasilitas Pemerintah dan Pengajuannya

    Ketimpangan sosial yang pernyataan Horton soal sindemi terlihat dari pernyataan PBB pada awal tahun 2020. PBB telah memperingatkan bahwa pandemi memiliki dampak yang tidak proporsional di antara populasi termiskin di dunia. Hal itu ditegaskan oleh Sekjen PBB, Antonio Guterres. Yang paling terdampak adaklah kelompok masyarakat paling rentan, orang yang hidup dalam kemiskinan, pekerja miskin, perempuan dan anak-anak, penyandang disabilitas, dan kelompok marginal lainnya.

    Bukan Istilah Baru

    Sindemi bukanlah istilah baru dan sudah muncul pada dekade 90-an oleh seorang antropolog medis asal Amerika Serikat, Merill Singer. Istilah ini dicetuskannya untuk menyebiut kondisi ketika dua penyakit atau lebih berinteraksi sedemikian rupa sehingga menyebablan kerusakan yang lebih besar ketimbang dampak dari masing-masing penyakit tersebut. Dampak dari interaksi ini juga difasilitasi oleh kondisi sosial dan lingkungan yang tidak bisa dijelaskan dapat menyatukan kedua penyakit atau membuat populasi menjadi lebih rentan terhadap dampaknya. Istilah ini muncul saat Singer dan koleganya sedang meneliti penggunaan narkoba di komunitas berpenghasilan rendah di AS. Ia dan koleganya menemukan bahwa banyak masyarakat yang menggunakan narkoba menderita sejumlah penyakit seperti TBC dan penyakit menular seksual. Kesimpulan dari penelitian bahwa dalam beberapa kasus kombinasi penyakit memperkuat dampak dan kerusakan yang dialami penderita.

    Cara Penanganan

    Mengenai sindemi ini beberapa ahli seperti Tiff-Annie Kenny dari Laval University di Kanada menyarankan hal yang sama seperti Norton, yaitu mengganti pendekatan epidemiologi klasik mengenai risiko penularan Covid-19 dengan pendekatan dalam konteks sosial. Hal lainnya, menurut Merill Singer adalah mengatasi faktor struktural yang mempersulit masyarakat miskin untuk mengakses layanan kesehatan atau mengonsumsi makanan yang memadai. Perubahan strategi ini diperlukan untuk menghadapi pandemi di masa depan sebagai akibat tindakan manusia yang selalu melampaui batas yang menyebabkan beberapa hal negatif seperti perubahan iklim dan deforestasi. Hal ini perlu supaya pengobatan atau pencegahan terhadap Covid-19 benar-benar berjalan efektif.

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid1-19, Mulai dari Suspek hingga Kematian

    Nah, itulah Sobat Sehat mengenai sindemi, istilah yang baru-baru ini diluncurkan untuk menyebut Covid-19 yang masih mewabah. Yuk, Sobat, tetap jaga diri dari Covid-19 dengan menerapkan 3M, menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat, serta jangan lupa untuk PCR-swab dan rapid test di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. COVID-19: Dulu Pandemi Kini Jadi Sindemi, Apa Itu? [Internet]. kumparan. 2020 [cited 13 November 2020]. Available from: https://kumparan.com/kumparansains/covid-19-dulu-pandemi-kini-jadi-sindemi-apa-itu-1uZnXdKkJNo
    2. Media K. Ilmuwan Sebut Covid-19 Bukan Lagi Pandemi, tetapi Sindemi, Apa Itu? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 13 November 2020]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/11/12/180200023/ilmuwan-sebut-covid-19-bukan-lagi-pandemi-tetapi-sindemi-apa-itu?page=all
    3. Indonesia B. Sejumlah Ilmuwan Sebut COVID-19 Bukan Pandemi Tapi Sindemi, Maksudnya? [Internet]. detiknews. 2020 [cited 13 November 2020]. Available from: https://news.detik.com/bbc-world/d-5251747/sejumlah-ilmuwan-sebut-covid-19-bukan-pandemi-tapi-sindemi-maksudnya
    Read More
  • Tumbuh kembang anak merupakan fase paling penting terutama pada masa toddler dan prasekolah karena proses perkembangan otak, psikomotor, dan psikososial anak sangat cepat pada rentang usia ini. Terutama di 1.000 hari pertama kehidupan atau sejak anak masih berada di dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Sebab, waktu tersebut adalah ‘golden age’ atau periode emas karena pertumbuhan […]

    3 Tips Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Selama Pandemi

    Tumbuh kembang anak merupakan fase paling penting terutama pada masa toddler dan prasekolah karena proses perkembangan otak, psikomotor, dan psikososial anak sangat cepat pada rentang usia ini. Terutama di 1.000 hari pertama kehidupan atau sejak anak masih berada di dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Sebab, waktu tersebut adalah ‘golden age’ atau periode emas karena pertumbuhan otak begitu pesat. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mencukupi kebutuhan dasar buah hati dengan memberikan nutrisi, stimulasi yang tepat, dan cinta yang dapat mengoptimalkan proses tumbuh kembang serta melindungi mereka dari berbagai penyakit.

    tumbuh kembang anak selama corona

    Baca Juga: Jangan Lewatkan Tahap Tumbuh Kembang Anak

    Namun, di tengah pandemi virus Corona saat ini, tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir jika tumbuh kembang anak mereka akan terhambat. Hal ini karena ruang eksplorasi anak seperti bermain di luar rumah harus dibatasi demi mencegah penularan virus tersebut. Lalu bagaimana caranya supaya tumbuh kembang anak tetap optimal selama anak harus terus di rumah saja? Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa Sobat lakukan sebagai orang tua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak tercinta. Apa saja tipsnya? Yuk, tanpa berlama-lama, mari simak sampai tuntas!

    Tips Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Selama Pandemi

    1. Perhatikan Nutrisi dan Beri Stimulasi yang Tepat

    Tips pertama untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak secara tepat di masa pandemi virus Corona adalah perhatikan nutrisi anak secara tepat, dan juga berikan stimulasinya dengan tepat. Pada usia balita perkembangan otak menjadi pesat. Nutrisi merupakan bahan baku utama untuk membentuk struktur otak. Hal ini ibarat komputer, nutrisi menyusun rangkaian microchip menjadi prosesor. Ibarat dalam komputer juga prosesor yang bagus tanpa perangkat lunak yang bagus kinerjanya juga tidak akan bagus. Karena itu, selain pemberian nutrisi yang tepat, juga harus ada pemberian stimulasi yang tepat. Pada saat fase belajar, anak akan meniru, melihat, dan mendengar. Dengan begitu, orang tua perlu memberikan contoh praktis, misalnya cara bermain, menyelesaikan masalah yang sederhana, dan jangan lupa berikan pujian sekecil apa pun pada anak.

    Baca Juga: Jenis Buah dan Sayur yang Baik untuk Nutrisi Otak Anak

    2. Cegah Anak Terkena Penyakit Menular

    Tips kedua adalah orang tua harus semampu mungkin mencegah anak terkena penyakit terutama penyakit menular. Caranya, selain dengan memberikan nutrisi yang cukup, ajarilah mereka hidup bersih dan sehat (PHBS). Di masa pandemi, hal tersebut sangat penting. Ajari mereka memakai masker saat keluar rumah dan menjaga jarak ketika di keramaian serta tidak lupa ajari cara mencuci tangan yang benar dengan sabun pada air yang mengalir selama 20 detik. Tentunya dengan diberikan contoh ya, supaya mereka bisa menirukan.

    3. Jangan Lupa Imunisasi

    Tips terakhir yang bisa Sobat lakukan sebagai orang tua untuk mengoptimalkan pertumbuhan anak adalah jangan lupa imunisasi. Imunisasi pada anak terutama imunisasi dasar lengkap tetap harus dijalankan meskipun di masa pandemic namun tetap dengan menjalankan protokol-protokol kesehatan. Sebab, penyakit-penyakit menular yang biasa menyerang anak-anak seperti difteri, influenza, pneumonia, diare, dan campak tetap ada. Kemudian pada masa Corona imunisasi dasar dilengkapi dengan imunisasi tambahan sehingga mereka tetap terlindung dari penyakit.

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19?

    Itulah 3 tips yang bisa Sobat jalankan untuk mengotimalkan tumbuh kembang anak di masa pandemi. Namun yang terpenting, Sobat jangan sampai lupa melakukan imunisasi sebagai kebutuhan dasar supaya anak terlindung dari penyakit dan pertumbuhan mereka tidak terganggu. Apabila Sobat ingin melakukan imunisasi anak dengan aman dan nyaman tanpa perlu mendatangi fasilitas-fasilitas kesehatan yang dikhawatirkan menyebarkan Corona, Sobat bisa melakukannya di rumah dengan memanfaatkan layanan imunisasi anak di rumah dari Prosehat.

    Layanan ini tentu saja akan membuat Sobat merasa aman dan nyaman. Selain itu, layanan ini mempunyai kelebihan-kelebihan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut mengenai layanan vaksinasi ke rumah atau produk-produk kesehatan untuk tumbuh kembang anak silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

     

     

    Referensi

    1. Tips Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Pandemi Corona [Internet]. kumparan. 2020 [cited 12 August 2020]. Available from: https://kumparan.com/kumparanmom/tips-optimalkan-tumbuh-kembang-anak-di-masa-pandemi-corona-1tjlDBlKpNn/full
    2. Ketahui 3 Hal Penting Soal Tumbuh Kembang Balita Saat Pandemi – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2020 [cited 12 August 2020]. Available from: https://tirto.id/ketahui-3-hal-penting-soal-tumbuh-kembang-balita-saat-pandemi-fH2s
    3. Novita M. Dukung Tumbuh Kembang Anak saat Pandemi, Jangan Lupa Imunisasi [Internet]. Tempo. 2020 [cited 12 August 2020]. Available from: https://cantik.tempo.co/read/1353989/dukung-tumbuh-kembang-anak-saat-pandemi-jangan-lupa-imunisasi
    Read More
  • Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalkan paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai […]

    Bagaimana Berobat Setelah Masa Pandemi Berakhir?

    Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalkan paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai perubahan dalam cara berobat, apa saja yang akan terjadi setelah masa pandemi ini berakhir:

     

    Baca Juga: Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    1. Masyarakat akan lebih memanfaatkan fasilitas telemedicine

    Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah meminta masyarakat yang sedang sakit untuk memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk berobat secara online (telemedicine). Dengan adanya layanan online, tidak semua orang yang sakit perlu dibawa berobat ke rumah sakit. Setelah masa pandemi ini berakhir, pola berobat atau konsultasi medis secara online diharapkan tetap mampu menjadi budaya baru di masyarakat. Mengingat tingginya paparan terhadap kuman penyakit di rumah sakit, pengobatan secara online juga yang memungkinkan Sobat untuk melakukan konsultasi dengan dokter tanpa perlu keluar dari rumah juga sudah terbukti merupakan pilihan yang efektif dan efisien. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan melalui konsultasi online:

    • Memberikan kemudahan untuk bertanya- jawab mengenai penanganan pertama sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah, seperti pada kasus luka akibat terjatuh, batuk pilek biasa, diare, gigitan serangga, dan lain-lain.
    • Menjawab pertanyaan dengan tepat seputar penyakit dan pengobatan yang sedang atau sudah selesai dijalani sebelumnya.
    • Mempermudah pasien untuk mengetahui hasil laboratorium dengan cepat dan tepat.
    • Memberikan saran mengenai kunjungan ke spesialisasi bidang kedokteran yang sesuai dengan penyakit yang dialami.

    Pelayanan kesehatan secara online ini juga akan sangat bermanfaat khususnya bagi pasien dengan mobilitas rendah yang membutuhkan pelayanan dalam jangka panjang seperti pasien penderita sakit kronis (hipertensi, diabetes, perawatan luka, perawatan paska stroke, dan lain-lain). Telemedicine sudah diterima sebagai salah satu cara manajemen yang efektif untuk pasien dengan penyakit kronis oleh sebagian besar penyedia pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penggunaan telemedicine sendiri akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman, namun bukan berarti dapat menggantikan kunjungan langsung ke dokter untuk kasus yang memang memerlukan penanganan lebih lanjut. Telemedicine merupakan pendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang mudah diakses dan efisien.

    1. Membuat appointment sebelum ke rumah sakit

    Bila kondisi penyakit Sobat memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, ada baiknya untuk tetap membiasakan diri membuat penjadwalan (appointment) terlebih dahulu dengan pihak rumah sakit, sehingga Sobat tidak perlu mengantri terlalu lama dan jumlah pasien yang berobat juga dibatasi sesuai dengan jam sehingga tidak menumpuk. Selain itu, sebaiknya janji pertemuan dengan dokter dilakukan secara rutin sesuai anjuran dokter, sebelum obat rutin yang dikonsumsi habis atau sebelum munculnya gejala penyakit baru.

    Baca Juga: Seperti Apa Imunisasi Anak di Masa Pandemi Covid-19?

    1. Tetap memerhatikan pola hidup bersih dan sehat

    Sejak terjadinya pandemi COVID-19, membiasakan kehidupan pola hidup bersih dan sehat lebih ditekankan kepada masyarakat seperti rutin mencuci tangan, mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak dengan orang lain, cara-cara untuk menjaga kesehatan agar imun tubuh tetap kuat, dan lainnya. Pola hidup seperti ini juga harus tetap dipertahankan bahkan sampai masa pandemi ini berakhir, baik dalam kehidupan sehari-hari, serta terutama bila Sobat sedang berobat ke rumah sakit. Jumlah kuman penyebab bakteri di rumah sakit tentunya lebih banyak sehingga pastikan untuk tetap melakukan pola hidup bersih dan sehat.

    Baca Juga: Dampak Covid-19 Pada Kesehatan Karyawan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kurangi Risiko Tenaga Medis Tertular Covid-19, Jokowi Minta Warga Berobat Online [Internet]. Available from: nasional(dot)kompas(dot)com/read/2020/04/13/10491681/kurangi-risiko-tenaga-medis-tertular-covid-19-jokowi-minta-warga-berobat
    2. Global Observatory for eHealth series. Telemedicine: Opportunities and developments in Member States. Vol. 2. World Health Organization; 2010.
    3. Williamson R. The Role of Telemedicine in Chronic Disease Management [Internet]. Medium. 2019. Available from: medium(dot)com/@ryanwilliamsonc/the-role-of-telemedicine-in-chronic-disease-management-5ec79bb0e575
    4. How Telemedicine Can Make Getting Your Prescription Easier – GoodRx [Internet]. The GoodRx Prescription Savings Blog. 2019. Available from: goodrx(dot)com/blog/how-telemedicine-can-make-getting-your-prescription-easier/
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja