Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ obesitas”

Showing 11–15 of 15 results

  • Rekan Sehat yang penasaran bagaimana obesitas dan diabetes memiliki kaitan kerat benar-benar suatu kemalangan jika tidak dapat mengikuti Trending Health Talk (THT) bersama dr. Irzan, MSc yang diadakan di twitter ProSehat, 22 April kemarin. Beliau  merupakan seorang Medical Life Coach yang juga aktif sbagai praktisi dan trainer di dunia akupunktur. Selain aktif sebagai coach dan […]

    Trending Health Talk (THT) Bersama dr. Irzan – Obesitas & Diabetes

    Rekan Sehat yang penasaran bagaimana obesitas dan diabetes memiliki kaitan kerat benar-benar suatu kemalangan jika tidak dapat mengikuti Trending Health Talk (THT) bersama dr. Irzan, MSc yang diadakan di twitter ProSehat, 22 April kemarin. Beliau  merupakan seorang Medical Life Coach yang juga aktif sbagai praktisi dan trainer di dunia akupunktur. Selain aktif sebagai coach dan dokter klinis akupunktur, dr. Irzan juga menjadi pendiri Fit Skin Clinic, yang merupakan sebuah lembaga riset dalam bidang estetika.

    THT_Obesitas_&_Diabetes-03

    Pada 22 April kemarin ProSehat berkesempatan untuk mengadakan THT yang membahas mengenai Obesitas dan Diabetes. Rekan Sehat tidak sempat mengikuti THT kemarin? Simak yang berikut ini:

    1. Sebenarnya apa itu obesitas? Dan kapan seseorang dikatakan obesitas?

    Jawab: Obesitas adalah kondisi kelebihan berat badan akibat penimbunan lemak tubuh berlebih. Menurut WHO (2000) obese: kondisi abnormal atas akumulasi lemak berlebih pada jaringan lemak. Kita perlu bedakan dengan overweight. Overweight adalah kelebihan berat badan dibanding BB ideal yang didapat akibat penimbunan lemak dan jaringan non lemak, contohnya adalah massa otot. Sementara obesitas sentral adalah penimbunan lemak tubuh yang lokasinya lebih banyak di perut dibanding pinggul, paha, lengan. Kapan dikatakan obesitas? Paling sederhana bisa menggunakan rumus Broca, di mana berat badan ideal: (Tinggi badan – 100) – 10 %. Jika hasilnya > 12% maka berat badannya termasuk ideal. Pendekatan lebih baik, gunakan perhitungan Indeks Massa Tubuh / IMT. Rumusnya berat (kg) dibagi tinggi (m) kuadrat. IMT >25 sudah mulai masuk obesitas. Lingkar perut >90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk wanita. dh mulai msuk obese.

    2. Bagaimana obesitas atau berat badan seseorang bisa dikaitkan dengan diabetes?

    Jawab: Obesitas adalah salah satu faktor risiko diabetes. Makin besar IMT risiko diabetes naik. Tingginya kadar lemak viseral di perut yang membungkus organ-organ dalam berhubungan dengan resistensi insulin yang ujungnya adalah penyakit diabetes itu sendiri. Orang yang obesitas kadar asam lemak bebasnya naik sehingga memicu gangguan metabolisme gula darah dan terjadi peradangan sel-sel.

    3. Bagaimana dengan orang yang obesitas namun gula darah puasa dan sewaktunya normal? Apakah tetap perlu waspada diabetes?

    Jawab: 20% dari yang obesitas ada yang masih sehat, belum ada gangguan karena belum terjadi gangguan fungsi sel-sel lemak. Pada non-morbid obesity ini, yang terjadi baru perubahan jumlah dan massa sel lemak tapi tidak terjadi adiposopathy. Adiposopathy adalah gangguan fungsi sel-sel lemak yang berujung pada gangguan metabolisme, termasuk resistensi insulin. Apakah perlu waspada? Jelas harus waspada, karena risiko penimbunan jumlah menjadi gangguan fungsi tetap besar. Apalagi selain obesitas, walau masih sehat namun masih mempunyai faktor-faktor risiko diabetes lainnya, jadi harus lebih berhati-hati.

    4. Apa gejala dari seseorang yang obesitas kemudian positif terdiagnosa diabetes?

    Jawab: Yang klasik diwaspadai adalah cepat lapar, cepat haus, banyak buang air kecil, berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas. Keluhan lain bisa saja jadi sering lemas, mudah lelah, sering kesemutan, pandangan kabur, luka yang sulit sembuh, gatal-gatal dan disfungsi ereksi. Selain gejala klasik dan pemeriksaan gula darah puasa >126 mg/dl atau sewaktu >200 mg/dL, kadar HbA1C >6.5%.

    5. Apa yang bisa dilakukan oleh orang dengan obesitas agar tidak terkena diabetes (jika setelah dicek orang ybs belum positif diabetes)?

    Jawab: Menurunkan BB menuju ideal, dengan modifikasi pola makan, aktivitas fisik, manajemen stress. Menurunkan berat badan dengan bertahap dan aman. Penggunaan obat untuk turunkan berat badan menurut WHO hanya diperbolehkan jika IMT >30 atau >27 dengan sindrom metabolik. Pilar utama bukanlah obat atau suntik-suntik lipolisis. Pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik adalah yang utama. Pola makan rendah gula, garam, tinggi serat sangat dianjurkan. Pola makan tinggi protein bantu kurangi lapar berlebih. Dan yang penting juga jangan sampai dehidrasi. Minum air putih 2-2.5 Liter sehari sangat membantu metabolisme tubuh. Aktivitas fisik yang rutin seperti jalan kaki, kalau bisa dengan target 10.000 langkah/hari lebih baik. Atau bisa juga dengan rutin olahraga lain. Bagi yang obesitas dan merasa berat karena lutut, disarankan untuk olahraga dengan low-impact seperti berenang. Manage stress penting dalam penurunan BB serta istirahat yang cukup sangat berperan dalam pembakaran lemak optimal.

    6. Apakah diabetes hanya dapat dilihat dari faktor berat badan berlebih/obesitas saja?

    Jawab: Tidak, masih ada faktor risiko lain, seperti ras, riwayat keluarga, dan usia >45 tahun. Faktor risiko lainnya yaitu pernah melahirkan bayi >4 kg, diabetes saat hamil, aktivitas yang kurang, merokok, hipertensi, dislipidemia HDL <35 mg/dL trigliserida >250 mg/dL, diet tinggi gula rendah serat.

    7. Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit diabetes?

    Jawab: Diabetes dapat dicegah dengan gaya hidup yang sehat. Pola makan sehat, sesuai kebutuhan tubuh. Jumlah yang tidak berlebih, pilih karbo sederhana dengan indeks glikemik rendah, bervariasi, tinggi serat. Jangan biasakan berlapar-lapar, namun tetap berhenti sebelum kenyang, serta makan pada waktu yang lebih teratur. Kurangi minuman berkemasan yang tinggi gula. Biasakan banyak bergerak dan beraktivitas fisik. Olahraga rutin jadikan kebiasaan. Merokok tinggalkan. Dan jika memang punya risiko, periksa gula secara teratur dan kontrol penyakit yang mendasari, seperti hipertensi atau gangguan kolesterol.

    Read More
  • Hallo Rekan Sehat! Pada tanggal 29 Januari 2016 yang lalu telah diadakan Ngobrol Sehat part 3 tentang Obesitas Anak bersama dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK di Instagram ProSehat. Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part 3 kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Stella dengan pertanyaan terkait dengan obesitas pada anak. […]

    Ngobrol Sehat part 3 Tentang #Obesitas Anak dengan dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK

    Hallo Rekan Sehat!

    Pada tanggal 29 Januari 2016 yang lalu telah diadakan Ngobrol Sehat part 3 tentang Obesitas Anak bersama dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK di Instagram ProSehat. Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part 3 kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Stella dengan pertanyaan terkait dengan obesitas pada anak.  Apakah Rekan Sehat juga berpartisipasi dalam ngobrol sehat part 3? Jika tidak, berikut rangkuman beserta pertanyaan yang diutarakan oleh kami dan Rekan Sehat yang kemudian dijawab oleh dr. Stella secara langsung.

    12568194_1675422216063204_307394012_n

    Pertanyaan 1:

    Sebenarnya apa yang dimaksud dengan obesitas pada anak, ya dok?

    Jawaban:

    Obesitas pada anak dilihat dari status gizi berdasarkan pengukuran berat serta tingginya. Jika berlebih dan melewati Index Massa Tubuh (IMB), maka ia dikategorikan obesitas.

    Pertanyaan 2:

    Apa perbedaan obesitas pada anak dan orang dewasa? Apakah jauh lebih berbahaya dampak yang akan dialami si kecil jika ia obesitas, dok?

    Jawaban:

    Ya, tentunya akan lebih berbahaya jika si kecil sudah obesitas sejak ia kecil. Beban kerusakan organ tubuhnya juga akan dimulai sejak dini dan berakibat fatal di saat ia dewasa dan masih obesitas.

    Pertanyaan 3:

    Bagaimana cara mencegah obesitas anak? Makanan apa saja yang harus dihindari atau dikurangi?

    Jawaban:

    Agari tidak terjadi obesitas, makan sesuai pola gizi yang seimbang, cukup air dan aktivitas fisik. Hindari cemilan seperti gorengan dan yang terlalu manis. Perbanyaklah sayuran dan buah-buahan.

    Pertanyaan 4:

    Masalah kesehatan apa yang akan terjadi pada anak yang obesitas? Bagaimana cara penanganannya?

    Jawaban:

    Obesitas anak tentunya akan mengganggu kenyamanan anak dalam aktivitas. Ia akan mudah sesak nafas saat berlari, kaki yang tidak kuat menyangga badan dan gangguan organ tubuh seperti jantung, hati, dan lain-lain, karena timbunan lemak berlebihan di tubuhnya. Penanganan yang tepat adalah dengan mengurangi asupan kalori, perbanyak sayuran dan buah, serta meningkatkan aktifitas fisik si kecil setiap harinyaa.

    Pertanyaan 5:

    Faktor apa saja yang menyebabkan anak obesitas?

    Jawaban:

    Keturunan hanya mempengaruhi obesitas anak sebesar 20 persen. Ketahui bahwa pengaruh terbesar adalah pola hidup, jenis makanan yang ia konsumsi, atau ketika ia sakit, serta faktor lingkungan dan ketersediaan sumber makanan.

    Pertanyaan 6:

    Kriteria apa saja yang dapat mengkategorikan seorang anak mengalami obesitas? Apa yg harus kita waspadai sebelum mereka masuk dalam kategori tersebut?

    Jawaban:

    Kriteria obesitas anak dapat dilihat dari pengukuran status gizi yang biasa dilakukan berdasarkan berat badan dan tinggi badan setiap bulan lalu dicocokkan dengan kurva di buku KMS atau kurva yg dikeluarkan CDC dan WHO. Jika masuk kriteria obesitas, maka sebaiknya mulai diperhatikan jenis dan jumlah asupan makanan dan minumannya.

    Pertanyaan 7:

    Adakah cara praktis dan tepat untuk mendeteksi secara dini adanya masalah gizi dalam hal obesitas pada anak, dok?

    Jawaban:

    Lakukan kontrol berat badan dan tinggi badan setiap bulan di sarana kesehatan atau cocokkan dengan grafik pada buku KMS.

    Pertanyaan 8:

    Bagaimana cara mengontrol nafsu makan berlebih pada anak ketika anak sedang dalam masa pertumbuhan?

    Jawaban:

    Mudah saja. Atur jadwal pemberian makan dan berikan mereka asupan kaya akan serat seperti sayur dan buah. Pada saat seperti itu Ibu bisa lebih kreatif mengkreasikan makanan dan cemilan sehat untuknya.

    Pertanyaan 9:

    Berpengaruhkah obesitas terhadap tingkat kecerdasan anak?

    Jawaban:

    Tentu saja. Seperti contohnya si kecil yang mengkonsumsi banyak makanan, melebihi asupan yang disarankan perharinya dapat dengan mudah membuat ia mengantuk. Jika mudah mengantuk, ia akan kesulitan untuk berkonsentrasi dan lambat (akhirnya) dalam menangkap pelajaran yang diberikan di sekolah.

    Pertanyaan 10:

    Apa yang menyebabkan obesitas anak, apakah makanan berat atau cemilan dan susu? Lalu perlukah menu tertentu makanan harian yang dikonsumsi agar anak terhindar obesitas?

    Jawaban:

    Obesitas anak terjadi karena jumlah asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi terlalu berlebihan. Menu harian dari jumlah, jenis dan jadwal makan dengan salah satu caranya memperbanyak cemilan sehat seperti buah-buahan tentunya harus dilakukan untuk menghindari obesitas anak.

    Pertanyaan 11:

    Adakah kaitannya obesitas anak dengan penyakit menyeramkan seperti jantung atau kanker?

    Jawaban:

    Ya, ada tentunya. Obesitas menyebabkan peningkatan inflamasi dan zat prooksidan yang dapat merusak sel-sel di dalam tubuh si kecil.

    Pertanyaan 12:

    Sebaiknya saya memberikan susu yg seperti apa setelah waktu wajib ASI si kecil selesai? Apakah UHT atau Susu Formula? Jika susu formula sebaiknya yang seperti apa? Apakah dengan kandungan sukrosa atau tidak?

    Jawaban:

    Susu UHT maupun susu formula sama-sama mengandung kalori yang berasal dari karbohidrat, protein dan lemak. Dan yg harus diperhatikan adalah jumlah kalori di dalam asupan makanan dan minuman yg diberikan pada anak. Pantau dari status gizinya yaitu dengan timbang berat badan dan ukur tinggi badannya setiap bulan di sarana kesehatan terdekat atau dokter gizi Anda.

    Nah itu tadi beberapa pertanyaan dengan jawaban hasil Ngobrol Sehat part 3 dengan dokter spesialis gizi anak, dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK. Temukan pertanyaan beserta penjelasan lainnya di sini.

    Read More
  • Memiliki anak yang gemuk memang menggemaskan. Tapi jangan sampai gemuknya berlanjut hingga si kecil memasuki usia 5 tahun. Dikhawatirkan ia malah akan obesitas pada saat sudah besar! Obesitas pada anak belum lama menjadi sorotan permasalahan gizi pada anak. Hal ini disebabkan karena komplikasi obesitas pada anak yang dapat ditimbulkan lebih kompleks dibandingkan dengan obesitas pada […]

    Hati-hati Obesitas Pada Anak!

    Memiliki anak yang gemuk memang menggemaskan. Tapi jangan sampai gemuknya berlanjut hingga si kecil memasuki usia 5 tahun. Dikhawatirkan ia malah akan obesitas pada saat sudah besar!

    obese-child

    Obesitas pada anak belum lama menjadi sorotan permasalahan gizi pada anak. Hal ini disebabkan karena komplikasi obesitas pada anak yang dapat ditimbulkan lebih kompleks dibandingkan dengan obesitas pada orang dewasa. Hal ini atas pertimbangan anak yang masih akan terus tumbuh dan berkembang, serta karena anak merupakan generasi penerus bangsa. Dan jika mereka obesitas, aktifitas mereka dalam membangun bangsa ini akan terganggu.

    Tapi sebenarnya, apa itu obesitas pada anak?

    Obesitas adalah akumulasi jaringan lemak di bawah kulit yang berlebihan dan menyebar di seluruh tubuh. Obesitas pada umumnya memiliki tanda dan gejala yang khas, yaitu wajah membulat, dagu rangkap (double chin), leher pendek, pipi membulat, dada mengembung dan payudara yang membesar dengan jaringan lemak. Pada anak laki-laki penis akan tampak kecil karena terkubur dalam jaringan lemak supra-pubik sementara pada anak perempuan indikasinya adalah menstruasi dini.

    Hati-hati obesitas pada anak karena akan menyebabkan masalah kesehatan yang timbul ketika mereka dewasa, seperti berikut ini:

    • Penyakit jantung
    • Resistensi terhadap insulin sehingga rentan terhadap penyakit diabetes
    • Penyakit muskuloskeletal (penyakit otot dan tulang) seperti osteoarhtritis
    • Penyakit kanker
    • Disabilitas

    Berikut fakta-fakta yang terkait dengan resiko obesitas pada anak:

    1. Fakta Genetik: Sebuah penelitian mengatakan bahwa jika ibu biologis mengalami obesitas, maka keturunannya memiliki peluang 75% mengalami obesitas.

    2. Fakta Diet: Dalam hal ini ada 2 poin penting yang diperhatikan yaitu:

    • Perubahan trend makanan cepat saji atau junkfood: Salah satu penyebab obesitas pada anak disebabkan oleh terlalu banyak makan makanan junkfood. Peran orang tua yang memiliki lebih sedikit waktu dan energi untuk menyiapkan makanan sehat juga turut menjadi andil dalam pengalihan makanan ke junkfood. Makanan junkfood biasanya tinggi kadar gula dan lemaknya. Makanan ini juga biasa ditawarkan dalam ukuran besar yang menggiurkan.
    • Konsumsi minuman ringan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik: Selain itu, minuman ringan sudah lebih populer ketimbang susu dan air. Misalnya, setiap tahun, orang Meksiko membelanjakan lebih banyak uang untuk minuman ringan, daripada untuk gabungan sepuluh makanan pokok. Menurut buku Overcoming Childhood Obesity, menenggak minuman ringan 600 mililiter saja setiap hari dapat menaikkan berat badan sebanyak 11 kilogram dalam waktu setahun.

    3. Fakta Kurangnya Olahraga: Asupan makanan tidak berbanding lurus dengan kegiatan fisik atau kegiatan olahraga si kecil. Menonton TV sambil makan, bermain games sambil disuapin makan, tentunya akan menyebabkan obesitas pada anak dengan mudah.

    4. Fakta Faktor Psikologi: Beberapa anak memakan lebih banyak karena adanya gangguan emosi seperti stress atau sekedar bosan.

    5. Fakta Faktor Sosio-ekonomi: Makanan yang tersedia dengan harga  tidak terlalu mahal biasanya cepat saji seperti frozen meals, crackers dan cookies. Makanan tersebut biasanya tinggi lemak dan garam yang berperan dalam penambahan berat badan.

    Bertindak sekarang!

    Badan Kesehatan Dunia atau WHO, menghimbau agar keluarga terutama orang tua lebih pintar dan cermat dalam memilih makanan yang sehat bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan karena preferensi atau kecenderungan untuk menyukai makanan tertentu dibentuk sejak awal masa kanak-kanak dan saat tersebut orang tua memiliki peran yang penting. Memberikan anak-anak balita makanan yang tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi gula dan tinggi kadar garam/natrium merupakan kontribusi utama obesitas di masa kanak-kanak. Para orang tua, terutama ibu harus paham mengenai nutrisi pada anak-anak dan harus membongkar kebiasaan lama yang mengatakan anak yang sehat adalah anak yang gemuk. Adanya mitos inilah yang juga menyebabkan orang tua cenderung memberikan asupan makanan berlebihan kepada anak-anaknya.

    Sumber: TanyaDok.com

    Daftar Pustaka

    • Budiwarti, Y. Endang, SKM,MPH. Gizi pada Anak Obesitas. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from  http://www.rscm.co.id/index.php?bhs=in&id=GIZ0000001
    • Anonymous. Fakta Penyakit Jantung pada Anak. [internet] 2014. [cited May 29 2014]. Available from http://www.parenting.co.id/article/mode/fakta.penyakit.jantung.pada.anak/001/003/640
    • Gabriella, J. Hartono, dr. Laporan  Gizi di Awal Tahun 2014 : Kurus vs Obesitas. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from http://www.tanyadok.com/anak/laporan-gizi-di-awal-tahun-2014-kurus-vs-obesitas
    • Agtadwimawanti, Nur Resti. Fakta Tentang Obesitas dan Kegemukan. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from  http://intisari-online.com/read/fakta-tentang-obesitas-dan-kegemukan
    • Mahadikawati, Ika. Obesitas  pada Anak. [internet] 2012. [cited May 28 2014]. Available from http://mediasehat.com/konten7no107
    • Anonymous, Mayo Clinic Staff. Childhood Obesity. [internet] 2014 [cited May 28 2014]. Available from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/basics/causes/con-20027428
    • Anonymous. Obesitas – Fakta, Penyebab dan Resikonya.  [internet] 2014 [cited May 28 2014]. Available from Obesitas – Fakta, Penyebab dan Resikonya
    • Facts and figures on childhood obesity. [homepage on the Internet]. 2014 [cited 2014 Jun 11]. Available from: WHO, Web site: Facts and figures on childhood obesity
    Read More
  • Carb meets carb. Yup, istilah itu tepat banget dipakai pas lihat adik kita makan mi instan dengan nasi! Nasi dan mi instan adalah pilihan anak kos ketika uang bulanan cekak ya. Tapi memang kedua jenis karbohidrat ini favorit banget deh sampai ‘nggak rela gitu untuk makan salah satunya sendirian. Tapi pertanyaannya, sebenarnya baik atau tidak […]

    Kebiasaan Buruk Orang Indonesia: Makan Mi Instan dengan Nasi!

    Carb meets carb. Yup, istilah itu tepat banget dipakai pas lihat adik kita makan mi instan dengan nasi! Nasi dan mi instan adalah pilihan anak kos ketika uang bulanan cekak ya. Tapi memang kedua jenis karbohidrat ini favorit banget deh sampai ‘nggak rela gitu untuk makan salah satunya sendirian. Tapi pertanyaannya, sebenarnya baik atau tidak makan mi instan dengan nasi?

    prosehat makan mie instant dengan nasi

    Baca Juga: 10 Daftar Makanan Rendah Kalori yang Bantu Turunkan BB

    Jawabannya sudah jelas ya. Tidak baik bagi kesehatan kita. Mengapa? Karena asupan kalori yang diperlukan tubuh kita setiap harinya sebenarnya kurang dari 2000 kkal, sedangkan kombinasi super nikmat ini sudah hampir  melebihi 700 kkal/porsi (indomie goreng: 390 kkal/porsi & nasi putih: 350 kkal/saji). Apapun yang berlebihan tentunya akan membawa dampak yang tidak baik bagi tubuh, beberapa dampak buruknya adalah:

    Kegemukan

    Pasti sudah banyak yang tahu tentang waktu yang diperlukan tubuh untuk mencerna satu buah mi instan. Lumayan lama lho, sekitar 3 hari. Nah, apakah kita akan membiarkan perut keroncongan selama menunggu proses pencernaan itu selesai? Tentu tidak! Nah, hal inilah yang mengakibatkan kegemukan. Banyaknya karbohidrat yang masuk, dan proses pembakaran yang hampir tidak ada akan mengubah mereka menjadi timbunan lemak pada tubuh. Kita bisa cek dengan mengukur lingkar perut yang lebih dari setengah tinggi badan, yang artinya tubuh kalian kegemukan hingga akhirnya menjadi sumber segala macam penyakit, salah satunya adalah penyakit diabetes melitus atau kencing manis.

    Produk Terkait: Cek Lab

    Penyakit Diabetes

    Makan mi instan dengan nasi putih menghasilkan kalori yang cukup besar yakni sekitar 750 kalori pe rporsi. Jumlah ini sangat tidak dianjurkan untuk kesehatan tubuh. Secara normal, makanan ataupun snack yang kita makan akan diproses oleh pankreas dan menghasilkan hormon insulin. Hal ini tidak akan bagus untuk kesehatan tubuh kita karena jika pertumbuhan hormon insulin terlalu tinggi maka hal tersebut akan merusak fungsi dari pankreas yang akan membuat Sahabat terkena gejala dari diabetes.

    Baca Juga: 5 Tanda Gejala Diabetes Atau Kencing Manis

    Darah Tinggi

    Coba kamu perhatikan kandungan natrium dalam satu bungkus mi instan. Kamu akan terkejut saat kamu melihat bahwa dalam 1 bungkus mi instan terkandung lebih dari 1000 miligram atau 1 gram natrium! Dokter dan perhimpunan dokter menganjurkan asupan natrium harian sebaiknya maksimal 3 gram dalam 1 hari supaya terhindar dari penyakit darah tinggi. Bayangkan kamu menyantap 1 mangkok mi instan yang mengandung 1 gram natrium ditambah sambal instan yang juga mengandung natrium plus makanan atau minuman siap saji lainnya yang juga mengandung natrium. Berapa coba jumlah natrium yang sudah kamu makan?

    Baca Juga: Perlu Makan Apa Supaya Tekanan Darah Menjadi Normal?

    Jadi, masih tertarik makan mie instan dengan nasi? Pilih salah satu saja, ya! Jangan lupa juga cek rutin kadar gula dalam darah, ya! Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai dampak negatif makan mi instan dengan nasi dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Obesitas dan penyakit jantung merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kedua hal ini menjadi pembunuh nomor 1 di dunia. Faktanya, 65% populasi dunia hidup di negara di mana lebih banyak kematian yang diakibatkan oleh obesitas dibandingkan underweight. Secara global, 44% kematian terkait obesitas disebabkan oleh diabetes, 23% serangan jantung, dan 7-41% kanker, menurut The Heart […]

    Gaya Hidup Ini Berujung Kematian!

    Obesitas dan penyakit jantung merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kedua hal ini menjadi pembunuh nomor 1 di dunia. Faktanya, 65% populasi dunia hidup di negara di mana lebih banyak kematian yang diakibatkan oleh obesitas dibandingkan underweight. Secara global, 44% kematian terkait obesitas disebabkan oleh diabetes, 23% serangan jantung, dan 7-41% kanker, menurut The Heart Foundation. Kenal lebih jauh tentang obesitas!

    Apa Itu Obesitas?

    Obesitas atau kegemukan adalah kondisi medis di mana tubuh memiliki kelebihan lemak akibat gaya hidup tidak sehat, seperti kurang olahraga, konsumsi makanan berlebihan (lebih dari yang diperlukan oleh tubuh), dan masih banyak lagi. Lemak tubuh ini kemudian terakumulasi sedemikian rupa sehingga menambah bobot (massa). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2005, sekitar 1,6 miliar orang dewasa di atas usia 15 + kelebihan berat badan dan setidaknya 400 juta orang dewasa menderita obesitas.

    Baca Juga:

    Ketahui BMI (Indeks Massa Tubuh) Anda

    Untuk mengetahui apakah anda obesitas atau tidak, ada metode mudah untuk melakukannya. BMI atau Body Mass Index adalah ukuran yang digunakan untuk menilai proporsionalitas perbandingan antara tinggi dan berat badan. Untuk mengetahui BMI anda, lakukan dengan cara: membagi BB (berat badan) dalam satuan kilogram dengan TB (tinggi badan) kuadrat dalam satuan meter. Contoh: Jika berat badan anda adalah 80 dan tinggi anda adalah 150, maka BMI anda: 80/(1.5*1.5) = 35.5. Nilai tersebut dapat anda cek melalui tabel berikut ini:

    obesitas dan penyakit jantung - prosehat

     

    Mencegah dan Menanggulangi Obesitas

    Bagi anda yang ingin terhindar dari obesitas, ada baiknya untuk tetap menjaga bentuk tubuh anda. Cara yang paling efektif adalah meluangkan waktu 30 menit dalam sehari untuk berolahraga dalam intensitas sedang. Perhatikan juga makanan yang dapat membuat tubuh cepat membengkak, seperti susu, lemak gajih, gorengan, mie instant, dan masih banyak lagi. Menanggulangi obesitas bukanlah hal yang mudah. Jika anda sudah menghitung Indeks Massa Tubuh anda dan masih dalam tahap moderate atau malah sudah di atas 40, segera konsultasi dengan dokter tentang hal-hal apa yang harus anda lakukan. Dokter anda mungkin menyarankan berbagai macam cara untuk menghilangkan lemak dalam lipatan kulit, salah satu caranya adalah dengan melakukan sedot lemak, akupunktur, dan lain-lain jika memang IMT (Indeks Massa Tubuh) anda sudah di atas angka tidak normal (Obese II).

    Baca Juga: Cegah Obesitas Anak Dengan 5 Menu Berikut

    Obesitas dan jantung memang saling berkaitan erat. Jika anda obesitas, risiko anda membawa penyakit jantung meningkat 10 kali lipat lebih besar dibanding mereka yang memiliki bentuk tubuh ideal. Jika tubuh anda ideal, tanpa lemak berlebihan dalam lipatan kulit anda, maka tekanan darah, sirkulasi darah dan kadar lemak dalam tubuh yang sedikit dapat menjadi teman yang baik bagi jantung anda. Ingat, endapan lemak pada pembuluh darah dapat menyebabkan penyempitan aliran darah yang berujung pada berbagai macam penyakit jantung.

    Obesitas hanya dapat ditanggulangi dengan merubah gaya hidup anda. Dengan memulai gaya hidup sehat seperti berolahraga, konsumsi banyak air putih, makan makanan berserat dan berolahraga secara teratur, anda dapat mencegah risiko obesitas.

    Baca Juga: 7 Info Penting Seputar Hepatitis A yang Perlu Kamu Ketahui

    Bagi yang sudah obesitas, perlunya kesadaran untuk meningkatkan intensitas olahraga dan melakukan diet sehat. Ketika Anda menjalankan diet, sangatlah penting untuk memperhatikan porsi dan juga jenis makanan yang sehat seperti biji-bijian, buah-buahan, sayuran dan protein. Ketika anda telah mencapai berat badan yang ideal, tubuh anda dapat kembali meningkatkan sirkulasi darah. Ketika sirkulasi darah anda baik, jantung pun ikut merasakan akibatnya.

    Read More

Showing 11–15 of 15 results

Chat Asisten ProSehat aja