Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ mitos”

Showing 11–12 of 12 results

  • Topik tentang payudara sering kali masih terasa ‘janggal’ atau ‘tabu’ di masyarakat kita. Akibatnya ada beragam mitos yang beredar seputar payudara. Tak sedikit pula kaum Hawa yang menelan mentah-mentah informasi yang salahdari teman, saudara, atau bahkan dari Ibunda mereka sendiri. So, Ladies, jangan sampai terjebak lagi ya dari informasi yang salah. Yuk, simak mitos dan […]

    Jangan Terkecoh! Ini 5 Mitos & Fakta tentang Payudara

    Topik tentang payudara sering kali masih terasa ‘janggal’ atau ‘tabu’ di masyarakat kita. Akibatnya ada beragam mitos yang beredar seputar payudara. Tak sedikit pula kaum Hawa yang menelan mentah-mentah informasi yang salahdari teman, saudara, atau bahkan dari Ibunda mereka sendiri. So, Ladies, jangan sampai terjebak lagi ya dari informasi yang salah. Yuk, simak mitos dan kebenaran tentang payudara berikut:

    kanker payudara

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    1. Payudara Besar, ASI-nya Banyak!

    Mitos. Tak ada hubungan antara ukuran payudara dengan jumlah produksi ASI. Wanita yang memiliki payudara kecil maupun besar, sama-sama bisa menghasilkan ASI yang banyak dan berlimpah loh.

    Namun, hal ini harus didukung dengan asupan nutrisi yang baik dan serta kondisi psikologis Ibu menyusui. Stres bisa berpengaruh loh terhadap kelancaran produksi ASI. Perlu diketahui bahwa ASI diproduksi karena adanya rangsangan dari hormon prolaktin dan oksitosin yang biasanya terjadi 2 atau 3 hari pascamelahirkan. Bisa dikatakan hormon prolaktin berperan penting dalam produksi ASI. Prolaktin inilah yang diistilahkan sebagai ‘pabrik ASI’. Nah, satu hal lagi yang perlu digarisbawahi ialah prolaktin tidak bisa bekerja sendiri, prolaktin harus didukung oleh hormon oksitoksin. Hormon oksitoksin tersebut memiliki istilah ‘love hormone’, kalau si Ibu yang menyusui merasa happy, tidak kelelahan, suami dan orang sekitar mendukung, tubuh fit, produksi ASI pun akan meningkat.

    2. Menyusui Bikin Payudara Kendur

    Mitos. Ada banyak faktor yang menyebabkan payudara tak kencang lagi, dan menyusui bukanlah satu-satunya penyebab utama. Lantas, apa saja faktor-faktor tersebut? Usia, genetik, kehamilan, kenaikan dan penuruan berat badan selama hamil, merokok, menopause,dan lain-lain. Solusi terbaik untuk menjaga kekencangan payudara, yakni dengan berolahraga.

    3. Tidur Tanpa Bra Bikin Payudara Makin Besar dan ‘Melorot’

    Mitos. Melepas bra ketika tidur tidak membuatnya membesar. Namun, bagaimana dengan urusan payudara ‘melorot’? Bisa jadi fakta loh! Hal ini harus jadi perhatian khusus untuk Ladies yang memiliki payudara besar. Bagi kamu yang berpayudara cup C dan D harus membiasakan diri tidur tetap mengenakan bra supaya payudara tetap kencang. Berbeda dengan pemilik cup A dan B yang tidak perlu khawatir jika ingin tidur tanpa bra.

    Baca Juga: Jangan Sembarang Pakai, Yuk Ukur Bra dengan Benar

    Menurut salah satu pakar bedah kosmetik, tertidur delapan jam tanpa bra dapat menyebabkan proses penurunan payudara berlangsung selama itu pula. Kondisi ini disebut dengan istilah ilmiah, ‘breastptosis’, yakni berkaitan dengan gaya gravitasi, ukuran, dan waktu. Jadi, gaya gravitasi ke bawah meregangkan kulit di sekitar payudara. Lalu, seiring bertambah usia, sistem pendukung kolagen alami pada kulit turut melemah dan membuatnya sulit untuk kembali kencang.

    4. Olahraga Bisa Memperbesar Payudara

    Mitos. Satu-satunya cara untuk membesarkan payudara ialah dengan melakukan implan. So, buat para Ladies yang getol berolahraga dengan tujuan agar payudara makin besar sebaiknya ‘jangan terlalu berharap’ ya.
    Pada dasarnya payudara terdiri dari jaringan, bukan otot. Memperkuat otot payudara tidak membuat ukuran payudara membesar.

    5. Tidur Tengkurap Berefek Buruk pada Bentuk Payudara

    Fakta. Menurut para ahli, posisi tidur terbaik yang tidak memengaruhi bentuk payudara yakni posisi tidur terlentang, sebab payudara di-support oleh dada. Namun jika tidur dengan posisi miring, otomatis akan membuat payudara cenderung mengendur sebab posisinya menggantung, bahkan menarik otot penopang payudara dengan rongga dada.

    Baca Juga: Cara Periksa Sendiri (SADARI) Gejala Kanker Payudara

    Nah, bagi para wanita yang gemar tidur tengkurap, tentunya payudara akan mendapatkan tekanan dari seluruh rongga dada, otomatis bentuk payudara pun cenderung ikut terpengaruh. Oleh karena itu, usahakan untuk berganti posisi tidur ya Ladies.

    Jangan lupa selalu merawat kebersihan dan kesehatan payudara Anda. Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai payudara silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:
    1. 9 myths about breasts that you should stop believing [Internet]. INSIDER. 2018 [cited 1 October 2018]. Available from: thisisinsider.com/myths-about-breasts-boobs-2017-11
    2. Media M. Ukuran Payudara dan Produksi ASI [Internet]. www.motherandbaby.co.id. 2018 [cited 1 October 2018]. Available from: motherandbaby.co.id/article/2015/7/38/4546/Ukuran-Payudara-dan-Produksi-ASI
    3. Sulaiman M. Payudara Kecil Berarti Produksi ASI Sedikit? Dokter: Itu Mitos [Internet]. detikHealth. 2018 [cited 1 October 2018]. Available from: https://health.detik.com/ibu-dan-anak/d-3450760/payudara-kecil-berarti-produksi-asi-sedikit-dokter-itu-mitos
    4. Benarkah Menyusui Bikin Payudara Kendur? [Internet]. liputan6.com. 2018 [cited 1 October 2018]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/2925643/benarkah-menyusui-bikin-payudara-kendur
    5. Media K. Tidur Tanpa Bra Tidak Buat Payudara Lebih Besar dan Kencang – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2018 [cited 1 October 2018]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2015/01/06/161238020/Tidur.Tanpa.Bra.Tidak.Buat.Payudara.Lebih.Besar.dan.Kencang
    6. Sulaiman M. Jangan Percaya, 5 Mitos Soal Payudara Besar Ini Terbukti Hoax [Internet]. detikHealth. 2018 [cited 1 October 2018]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4130099/jangan-percaya-5-mitos-soal-payudara-besar-ini-terbukti-hoax/5/#news

    Read More
  • Sobat sekalian mungkin sering mendengar, “Hati-hati, traveling bisa bikin berat badan naik alias gemuk, loh!”. Hmm, ini mitos atau fakta ya? Traveling atau jalan-jalan merupakan aktivitas yang disenangi oleh semua orang, terutama untuk menghilangkan kejenuhan dalam bekerja dan mengurangi stres. Pasti Sobat pun pernah melakukannya: ambil cuti saat sudah terlalu jenuh dengan pekerjaan, pergi traveling […]

    Traveling Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

    Sobat sekalian mungkin sering mendengar, “Hati-hati, traveling bisa bikin berat badan naik alias gemuk, loh!”. Hmm, ini mitos atau fakta ya? Traveling atau jalan-jalan merupakan aktivitas yang disenangi oleh semua orang, terutama untuk menghilangkan kejenuhan dalam bekerja dan mengurangi stres. Pasti Sobat pun pernah melakukannya: ambil cuti saat sudah terlalu jenuh dengan pekerjaan, pergi traveling mengunjungi beberapa tempat baru, lalu pulang dengan semangat untuk kembali bekerja. Namun, selain baik untuk menghilangkan stres, apakah traveling juga baik untuk kesehatan? Apalagi bagi Sobat yang bahkan pekerjaannya mengharuskan untuk traveling atau disebut “business travel”, apakah membuat Sobat menjadi sehat atau justru tidak sehat dan menggemuk? Yuk, kita simak lebih lanjut.

    Kegemukan atau obesitas ialah masalah kesehatan dunia yang sangat kompleks. Banyak sekali faktor yang dapat menyebabkannya, mulai dari faktor genetik, gaya hidup, pola makan, aktivitas, pekerjaan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, obesitas juga berhubungan dengan berbagai penyakit lain seperti diabetes, gangguan jantung, dan berbagai penyakit metabolik lainnya. Berbagai penelitian pun dilakukan untuk dapat mengintervensi masalah ini dan terus mencari berbagai penyebab yang berkontribusi terhadap terjadinya obesitas. Meskipun saat ini peningkatan prevalensi obesitas sudah mulai melambat dan cenderung stabil, namun jumlah orang yang menderita obesitas di dunia masih banyak. Akumulasi peningkatan berat badan yang sedikit demi sedikit namun konsisten sejak usia muda juga akan menyebabkan obesitas di kemudian hari. Dan ternyata penelitian yang dilakukan melihat bahwa peningkatan konsumsi makanan yang berlebih dalam periode yang sebentar saja dalam setahun dapat berdampak signifikan pada peningkatan berat badan, seperti pada saat musim liburan. Tentu saat-saat liburan ini paling sering digunakan untuk traveling.

    Traveling atau jalan-jalan tentu sangat menyenangkan, siapa yang tidak suka? Apalagi jika bersama dengan keluarga dan sahabat tercinta. Bahkan pasti ada di antara Sobat pembaca yang juga memiliki hobi traveling.

    Traveling yang dapat dilakukan juga bermacam-macam, mulai dari traveling yang sederhana dengan hanya mengunjungi tempat yang tidak terlalu jauh, menginap beberapa hari dengan keluarga atau sahabat, sampai traveling yang cukup panjang dan berat seperti naik gunung dan lain-lain. Saat ini pun cukup mudah bagi kita untuk bepergian ke suatu tempat baru dengan maraknya jasa open trip. Seiring dengan hal tersebut, ternyata juga marak informasi yang beredar bahwa traveling akan membuat gemuk. Tentu ini berita buruk apalagi bagi Sobat yang sedang menjalani program diet.

    Ternyata benar loh Sobat, penelitian terbaru menemukan bahwa traveling dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang cukup signifikan dan dapat berujung pada obesitas, bahkan traveling yang singkat sekalipun. Peningkatan berat badan tersebut cenderung persisten hingga 6 minggu setelahnya. Dari 122 orang berusia 18-65 tahun yang berlibur dalam jangka waktu 1 sampai 3 minggu yang diteliti, 61% di antaranya pulang dengan peningkatan berat badan yang signifikan. Hanya sedikit yang kembali berlibur dengan penurunan berat badan. Penemuan ini menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan menyelidiki apa penyebab di balik peningkatan berat badan saat traveling.

    Untuk dapat mengerti apakah ini mitos atau fakta, Sobat sekalian harus benar-benar paham apa yang menyebabkannya. Nah, apa sih penyebabnya? Apalagi sering kali peningkatan berat badan ini tidak begitu disadari kecuali Sobat sering berolahraga dan memantau berat badan secara rutin. Meski kebanyakan pulang dengan peningkatan berat badan, namun ada juga yang tidak dan bahkan justru mengalami penurunan berat badan. Tentu banyak faktor yang dapat berhubungan dengan hal ini, mulai dari pola konsumsi saat traveling, transportasi yang digunakan, pola aktivitas fisik, lamanya traveling, hingga jenis traveling yang dilakukan.

    Faktor yang paling penting menyebabkan peningkatan berat badan setelah traveling adalah pola konsumsi makanan lebih banyak dari biasanya saat sedang traveling. Biasanya saat traveling berbagai jenis makanan disediakan dalam jumlah banyak dan camilan akan selalu tersedia agar kita selalu kenyang dan happy saat traveling.

    Jenis makanan yang disajikan biasanya adalah makanan yang disenangi semua orang seperti makanan cepat saji, goreng-gorengan, dan lain-lain. Selain itu, banyak yang mengonsumsi alkohol saat sedang berlibur untuk merayakan kebersamaan dengan sahabat. Tidak hanya makanan yang sudah disiapkan, sering kali Sobat yang berlibur mengunjugi tempat baru akan mencoba berbagai makanan unik yang ditemukan. Faktor-faktor lain ikut ambil andil memperberat kondisi ini, seperti traveling yang cenderung duduk lama di dalam kendaraan dan jarang berjalan kaki serta tidak adanya aktivitas fisik yang bermakna selama liburan.

    Bagaimana dengan Sobat yang pekerjaannya mengharuskan untuk traveling atau bussiness travel? Ternyata tidak jauh berbehda, penelitian menunjukkan bahwa business travel juga dapat menyebabkan obesitas dan gangguan kesehatan lainnya seperti gangguan tidur. Penyebabnya juga biasanya karena pola makan yang tidak teratur, cenderung memilih makanan cepat saji, dan tingginya konsumsi alkohol. Jadi mereka yang pekerjaannya mengharuskan untuk traveling pun juga dihantui dengan berbagai masalah kesehatan.

    Wah, tampaknya mulai banyak yang tidak ingin traveling ya setelah mengetahui tentang hal ini? Jangan khawatir, penelitian menunjukkan traveling juga memberikan berbagai manfaat seperti menurunkan tingkat stres dan menurunkan tekanan darah sistolik yang berdampak positif bagi kesehatan. Peningkatan berat badan karena traveling dapat dicegah dengan mengubah pola makan yang tidak menyehatkan saat traveling, kurangi camilan yang tidak terlalu perlu, hindari mengonsumsi alkohol, dan perbanyak aktivitas fisik seperti berjalan kaki saat sedang traveling.

    Mitos atau fakta? Saat ini Sobat pasti mengerti bahwa semuanya tergantung bagaimana Sobat mengatur pola makan saat traveling dan menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Yuk, meski sedang traveling dan bersenang-senang, jangan lupa untuk tetap menerapkan gaya hidup yang sehat.
    Jangan lupa, Sobat, jika ingin mencari tahu informasi kesehatan lainnya, coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat sekarang juga. Info lebih lanjut bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Díaz-Zavala RG, Castro-Cantú MF, Valencia ME, Álvarez-Hernández G, Haby MM, Esparza-Romero J. Effect of the Holiday Season on Weight Gain: A Narrative Review. Journal of Obesity, 2017;2085136(2017):1-13.
    2. Cooper JA, Tokar T. A prospective study on vacation weight gain in adults. Physiology and Behavior. 2016;156:43–7.
    3. Preidt R. Vacation weight gain can mean ‘creeping obesity’. Diupdate 6 Februari 2016. Diakses 12 September 2018. Available at: https://www.webmd.com/diet/obesity/news/20160207/vacation-weight-gain-can-lead-to-creeping-obesity-study-finds
    4. Science Daily .Vacations can lead to weight gain, contribute to ‘creeping obesity’. Diupdate 1 Februari 2016. Diakses 12 September 2018. Available at: https://www.sciencedaily.com/releases/2016/02/160201220320.htm
    5. Yang J, French S. The travel-obesity connection: Discerning the impacts of commuting trips with the perspective of individual energy expenditure and time use. Environment and Planning B: Planning and Design. 2013;40(4):617–629.
    6. Richards CA & Rundle AG. Business travel and self-rated health, obesity, and cardiovascular disease risk factors. Journal of Occupational and Environmental Medicine. 2011;53(4):358–363.
    Read More

Showing 11–12 of 12 results

Chat Asisten ProSehat aja