Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ mitos dan fakta”

  • Belakangan ini banyak sekali beredar isu mengenai fakta dan mitos terkait vaksin MR. Banyak informasi yang tidak benar atau hoax yang beredar sejak pemerintah mulai melaksanakan vaksinasi MR di seluruh Indonesia pada bulan Agustus dan September ini. Tentunya, setiap program pemerintah tidak ada yang ditujukan untuk mencelakakan masyarakat Indonesia. Dari sekian banyak informasi memusingkan yang […]

    Mitos dan Fakta Vaksin MR, Mana yang Benar?

    Belakangan ini banyak sekali beredar isu mengenai fakta dan mitos terkait vaksin MR. Banyak informasi yang tidak benar atau hoax yang beredar sejak pemerintah mulai melaksanakan vaksinasi MR di seluruh Indonesia pada bulan Agustus dan September ini. Tentunya, setiap program pemerintah tidak ada yang ditujukan untuk mencelakakan masyarakat Indonesia. Dari sekian banyak informasi memusingkan yang sudah beredar hingga saat ini, manakah yang benar? Nah, supaya tidak ikut terjebak dalam informasi yang tidak benar, para Ibu perlu betul-betul memahami terlebih dahulu mengenai apa itu vaksin MR dan mengapa vaksin ini penting untuk buah hati Anda serta memahami reaksi yang dapat muncul setelah vaksinasi, sehingga dapat membedakan mana yang termasuk fakta dan mitos mengenai vaksin MR. Yuk, Moms, mari pahami lebih lanjut.

    Vaksin MR adalah singkatan dari Measles atau yang disebut campak dan Rubella atau yang disebut campak jerman. Vaksin MR bertujuan untuk melindungi anak agar tidak terkena penyakit campak dan rubella. Sayangnya, penyakit tersebut belum ada obatnya, tapi Moms bisa melakukan pencegahan dengan vaksinasi. Berdasarkan data, jumlah kasus penyakit campak dan rubella di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan negara lain. Lantas apa itu penyakit campak? Bahayanya apa saja?

    Penyakit campak adalah penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus campak. Campak akan memberikan gejala berupa:

    • Demam,
    • Batuk dan pilek,
    • Mata kemerahan,
    • Ruam kemerahan pada seluruh tubuh.

    Jika dibiarkan dan tidak tertangani dengan baik maka infeksi virus campak akan menyebabkan infeksi telinga, infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan diare, infeksi paru (pneumonia), hingga peradangan otak dan kematian. Gejala yang berat ini akan mudah terjadi pada anak yang memiliki status gizi kurang baik serta daya tahan tubuh yang rendah.

    Ruam kemerahan akibat campak

    Penyakit rubella atau yang sering disebut sebagai campak jerman disebabkan oleh virus rubella dan menyebabkan gejala berupa:

    • Demam,
    • Nyeri tenggorokan,
    • Sakit kepala,
    • Mata kemerahan,
    • Ruam kemerahan pada tubuh yang menyerupai campak.

    Pada orang dewasa, virus ini sering menyebabkan nyeri dan bengkak pada persendian. Virus rubella ini sangat berbahaya jika tertular oleh ibu yang sedang hamil karena ibu biasanya tidak akan mengalami gejala spesifik seperti di atas, namun virus rubella memberikan dampak buruk pada janin yang dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir dengan berbagai cacat bawaan berupa kebutaan, tuli, dan kelainan jantung.

    Bahaya penyakit rubella

    Kedua penyakit ini sangatlah menular, dapat dengan mudah ditularkan melalui saluran pernapasan saat batuk dan bersin, bahkan anak Anda dapat tertular jika memasuki ruangan yang sebelumnya sudah sempat dimasuki oleh seorang penderita dalam 2 jam terakhir. Oleh karena itu, vaksin MR ada untuk membantu mencegah kedua penyakit yang sangat menular ini. Para Ibu perlu tahu, sejak ditemukannya vaksin campak, kematian anak akibat penyakit campak menurun sebesar 78% secara global, loh. Ini artinya pemberian vaksin sangat penting untuk menjaga dan melindungi anak Anda.

    Vaksin MR mengandung virus campak dan rubella yang sudah dilemahkan. Saat vaksin ini disuntikkan, maka tubuh akan membentuk antibodi terhadap virus ini sehingga si kecil akan memiliki daya tahan tubuh terhadap virus campak dan rubella, terlindung dari kecacatan dan kematian akibat infeksi paru, diare, kerusakan otak, ketulian, kebutaan, dan penyakit jantung bawaan. Pemberian vaksin MR dapat ditunda sementara jika anak Anda sedang mengalami demam, batuk, pilek, atau diare. Vaksin MR tidak boleh diberikan pada kondisi berikut ini:

    • Sedang mengonsumsi obat kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya dan radioterapi,
    • Wanita hamil,
    • Penyakit leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya,
    • Gangguan fungsi ginjal dan jantung yang berat,
    • Memiliki riwayat alergi dengan vaksin sebelumnya.

    Nah, untuk membedakan fakta dan mitos seputar vaksin MR, para ibu perlu bersikap hati-hati dan kritis, tidak boleh serta-merta menerima informasi tanpa menelusuri dan mencari kebenarannya terlebih dahulu. Bila perlu tanyakan lebih lanjut pada petugas kesehatan. Banyak sekali peristiwa muncul yang sebenarnya disebabkan karena kecemasan ataupun sebuah koinsiden (terjadinya dua peristiwa dalam waktu yang sama), dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan vaksin MR, namun dikatakan sebagai efek samping atau reaksi dari vaksin MR. Apakah benar demikian?

    Vaksin MR adalah vaksin yang sangat aman dan efektif. Namun Moms perlu ingat, setiap vaksin tidak terhindar dari reaksi simpang atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), termasuk vaksin MR. Reaksi yang dapat muncul setelah pemberian vaksin MR biasanya ringan. Namun, seperti juga pada jenis obat apapun, kemungkinan reaksi berat seperti reaksi alergi berat tetap dapat terjadi pada setiap orang. Reaksi ringan yang biasanya muncul berupa:

    • Nyeri dan kemerahan pada bekas suntikan (sekitar 10%),
    • Demam ringan dan pembesaran kelenjar getah bening di leher sebagai reaksi tubuh dalam membentuk antibodi (sekitar 10%).

    Reaksi yang ringan biasanya terjadi dalam 2 minggu setelah suntikan. Reaksi yang lebih jarang terjadi adalah:

    • Demam tinggi >39.4oC ( sekitar 5%),
    • Ruam kemerahan pada seluruh tubuh (sekitar 2%),
    • Nyeri sendi (0-3%),
    • Kejang yang disebabkan karena demam (sekitar 0.033%), dan
    • Reaksi alergi terhadap vaksin (sekitar 0.0001%).

    Setelah pemberian vaksin, biasanya anak akan dipantau selama beberapa saat untuk melihat ada tidaknya KIPI yang terjadi, terutama reaksi berat berupa reaksi alergi berat yang biasanya dapat langsung terjadi saat itu juga atau beberapa saat setelah penyuntikan. Para Ibu juga perlu memerhatikan si buah hati dan jika terjadi reaksi yang tidak lazim, Moms harus segera membawa si kecil ke fasilitas kesehatan terdekat supaya segera ditangani.

    Mitos yang beredar menyatakan bahwa vaksin MR merugikan, berbahaya, berdampak buruk bagi anak dan dapat menyebabkan cacat mental, autisme, hingga kematian. Faktanya, vaksin MR adalah vaksin yang aman untuk diberikan dan tidak menyebabkan gangguan mental hingga autisme. Justru sebaliknya, anak akan berisiko mengalami berbagai bahaya dan kecacatan jika tidak mendapatkan vaksin MR.

    Nah, setelah lebih memahami tentang vaksin MR, saatnya kita ikut membantu menyebarkan berita yang benar tentang vaksin MR kepada sanak-saudara dan sahabat agar anak-anak kita sehat dan terhindar dari penyakit campak dan rubella.

    Selain itu, Moms juga bisa mendapatkan layanan dokter ke rumah untuk melakukan vaksinasi dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Atau hubungi Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp: 0811-18-16-800 untuk keterangan lebih lanjut.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk teknis kampanye imunisasi measles rubella (MR). Indonesia: Kemenkes; 2017. h. 7-14;59-67.
    2. CDC. MMR (measles, mumps, and rubella) vaccine: what you need to know. Updated 12 Desember 2018. Diakses 28 Agustus 2018. Avaiable at: cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/mmr.html
    3. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin’s vaccines. 7th ed. Philadelphia: Elsevier; 2018. p. 579;970.
    4. Betsch C. Measles and rubella elimination: communicating the importance of vaccination. Stockholm: European Centre for Disease Prevention and Control; 2014. p. 5;20.
    5. IDAI. Apa saja fakta dan mitos tentang vaksinasi?. Updated 29 April 2016. Diakses 28 Agustus 2018. Avaiable at: idai.or.id/ artikel/klinik/imunisasi/apa-saja-fakta-dan-mitos-tentang-vaksinasi
    Read More
  • Vaksin. Apa sih yang terlintas di benak kalian mengenai vaksin? Apakah kalian melakukan vaksin dari kecil? Sebenarnya apa sih fungsi vaksin untuk tubuh kita? Vaksin merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga anak tetap sehat setiap saat. Kok bisa? Yup, jawabannya tentu saja karena vaksin terbuat dari bakteri penyebab penyakit yang telah […]

    5 Mitos dan Fakta Seputar Vaksin anak

    Vaksin. Apa sih yang terlintas di benak kalian mengenai vaksin? Apakah kalian melakukan vaksin dari kecil? Sebenarnya apa sih fungsi vaksin untuk tubuh kita? Vaksin merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga anak tetap sehat setiap saat. Kok bisa? Yup, jawabannya tentu saja karena vaksin terbuat dari bakteri penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau bahkan mati. Bakteri patogen yang sudah tidak se ”kuat” seharusnya inilah yang justru membuat sistem imun anak menguat dan pastinya menangkal berbagai penyakit yang dapat membahayakan keselamatan jiwa anak. Berarti pemberian vaksin sejak dini sangat penting dong?

    Jawabannya tentu saja iya, pemberian vaksin sejak dini sangatlah penting dan wajib hukumnya. Siapa sih di antara kita yang mau terjangkit penyakit berbahaya? Siapa juga di antara kita yang mau dan tega melihat anak kita tersiksa karena suatu penyakit tertentu? Mengingat pentingnya peran vaksin untuk kehidupan seseorang, maka bukan suatu hal mengherankan pula jika pemerintah menggalakkan program vaksin atau imunisasi yang dilakukan sejak dini. Menariknya lagi, pemerintah melakukan program vaksin ini secara gratis sehingga semua orang bisa mendapatkan vaksin sejak dini.

    Apakah pemberian vaksin ini hanya dilakukan di negeri tercinta kita saja, alias Indonesia? Tentu saja tidak! Pemberian vaksin sejak dini hampir dilakukan di semua negara bahkan dilakukan secara rutin agar anak terhindar dari berbagai penyakit. Apakah kita sebaiknya tetap melakukan vaksin tertentu meskipun penyakit tersebut sudah jarang ditemukan di Indonesia? Tentu saja jawabannya iya karena kita tidak bisa memprediksi dari manakah suatu penyakit berasal. Contohnya saja vaksin polio tetap gencar dilakukan di Indonesia meskipun dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir hampir sudah tidak ditemukan kasus polio lagi. Vaksin cacar juga masih gencar dilakukan mengingat penyakit cacar juga dapat menjadi penyakit yang mengancam keselamatan jiwa seseorang.

    Namun, apakah semua orang sudah melakukan vaksin secara rutin? Sayangnya, tidak semua orang bersedia melakukan vaksin secara rutin meskipun sudah difasilitasi oleh pemerintah – alias diberikan secara gratis. Wah yang benar? Yup, hal ini didukung dengan tingginya angka kasus campak di Papua pada bulan Januari 2018. Bukan hanya itu saja, Indonesia juga ditetapkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri yang meliputi 29 provinsi pada bulan Desember 2017 silam. Angka yang cukup fantastis bukan?

    Lalu, apa yang membuat seseorang tidak melakukan vaksinasi? Bukankah dengan melakukan vaksin kita justru mendapatkan banyak manfaat dan badan kita tetap fit setiap waktu? Yup, sangatlah benar jika vaksin memberi banyak manfaat untuk tubuh kita, tapi sayangnya banyak kabar burung yang beredar di masyarakat dan membuat orang tua ragu untuk melakukan vaksin pada anaknya sejak dini. Memangnya apa saja sih mitos yang masih beredar di masyarakat mengenai vaksin anak? Apakah mitos ini terbukti secara ilmiah? Nah daripada penasaran mengenai apa saja mitos vaksin anak apa saja yang masih beredar di masyarakat, yuk mending kita simak yang satu ini!

    1. Vaksin menyebabkan autisme.

    Siapa pastinya yang tidak seram ketika mendengar hal ini? Kabar baiknya hal ini adalah mitos semata alias tidak benar adanya. Namun, bukankah hal ini dinyatakan oleh tokoh terkenal dan beliau juga merupakan seorang dokter? Yup, benar sekali jika Wakefield adalah seorang dokter; tapi dirinya adalah spesialis bedah. Selain itu dia menyatakan pernyataan jika vaksin dapat menyebabkan autisme dengan jumlah sampel hanya 18 dan hal ini tidak bisa mewakili dengan apa yang terjadi di masyarakat, bahkan tingkat dunia. Bahkan pada tahun 2011, tepatnya bulan Februari majalah resmi kedokteran Inggris yaitu British Medical Journal menyatakan bahwa Wakefield memalsukan data dan hal ini berarti vaksin sama sekali tidak berisiko menimbulkan autisme pada anak.

    1. Vaksin mengandung lemak babi

    Hal yang satu ini merupakan perdebatan besar dan menyebabkan banyak orang tua menolak untuk melakukan vaksin pada anaknya karena vaksin tidak halal karena adanya kandungan lemak babi. Namun, apakah hal ini benar? Tentu saja ini hanya mitos! Faktanya hanya sebagian kecil vaksin yang pernah berinteraksi langsung dengan tripsin pada proses pengembangannya, di mana vaksin yang dimaksud di sini adalah vaksi meningitis dan polio. Setelah proses pengembangan selesai tentu saja induk vaksin bibit dicuci dan dibersihkan total sehingga bisa dipastikan tidak ada tripsin babi yang tersisa.

    1. Vaksin hanya dilakukan di negara miskin

    Pernyataan yang satu ini sangatlah berbeda dengan fakta di lapangan. Yup, sebanyak 194 negara di dunia saat ini masih melakukan vaksin sejak dini bahkan menggalakkan program ini mengingat banyaknya manfaat yang bisa kita dapatkan di masa mendatang. Seperti yang kita tahu, vaksin dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh kita dan pastinya membuat kita kebal terhadap berbagai penyakit yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.

    1. Vaksin memiliki efek jangka panjang pada anak

    Hal ini hanyalah mitos belaka, karena pada kenyataannya vaksin akan menimbulkan efek samping lokal seperti ruam merah ataupun rasa nyeri pada daerah sekitar suntikan. Demam juga merupakan hal biasa yang timbul setelah dilakukannya vaksin pada anak, tapi hal ini jauhlah dari kata yang dapat membahayakan keselamatan anak. Justru anak akan mengalami sakit yang lebih parah ketika orang tua enggan melakukan vaksin sejak dini.

    1. Vaksin hanya perlu dilakukan seumur hidup

    Banyak orang yang masih beranggapan jika vaksin hanya perlu dilakukan seumur hidup dan ternyata hal ini adalah pernyataan yang salah. Kok bisa? Vaksin perlu dilakukan secara rutin karena fungsi vaksin sebagai booster seperti kita perlu melakukan vaksin DPT secara rutin. Booster yang dimaksud di sini adalah untuk memperkuat antibodi anak kita dari waktu ke waktu karena antibodi seseorang dapat turun dari waktu ke waktu dan dengan rutin melakukan vaksin membuat anak akan terlindungi secara maksimal dari berbagai penyakit membahayakan.

    Nah, itu tadi adalah beberapa mitos seputar vaksin anak yang perlu diketahui.  Pastinya sekarang sudah tidak beranggapan jika vaksin tidak halal ataupun justru dapat membuat anak menjadi lemah bukan? Pastinya sudah tidak ragu lagi kan untuk melakukan vaksin pada anak kita sejak dini dan rutin? So, tunggu apalagi untuk melakukan vaksin? Yuk vaksin bersama ProSehat. Ingat Sehat Ingat Prosehat.

    Read More
  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com