Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ kesehatan mental”

Showing 11–20 of 21 results

  • Pertolongan pertama kesehatan mental sebenarnya sudah ada dan sudah diterapkan sebelum Perang Dunia Kedua. Hal ini diakui sebagai cara terbaik untuk menolong banyak orang dalam kondisi yang berisiko. Gejala penyakit gangguan mental ini sulit sekali untuk dideteksi, banyak orang lain atau keluarga yang menemukan perilaku atau sikap dengan perubahan yang seperti biasanya. Meskipun orang lain […]

    Seperti Apa dan Bagaimana Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Jiwa?

    Pertolongan pertama kesehatan mental sebenarnya sudah ada dan sudah diterapkan sebelum Perang Dunia Kedua. Hal ini diakui sebagai cara terbaik untuk menolong banyak orang dalam kondisi yang berisiko.

    Gejala penyakit gangguan mental ini sulit sekali untuk dideteksi, banyak orang lain atau keluarga yang menemukan perilaku atau sikap dengan perubahan yang seperti biasanya. Meskipun orang lain atau keluarga sendiri menemukannya, tetap saja cara menghadapi dan bagaimana melakukan intervensi atau mencari pengobatan yang tepat itu tidak mudah.

    pertolongan pertama gangguan kesehatan jiwa

    Baca Juga: Penyebab Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Pertolongan pertama kesehatan jiwa adalah kursus selama 8 jam. Pasien diberi pemahaman dan dikenalkan tentang risiko-risiko dan tanda-tanda awal gangguan jiwa. Pasien dikenalkan dampak dari gangguan jiwa serta cara pengobatannya secara umum.

    Selain itu, pasien juga ikut simulasi dalam menilai seberapa krisis gangguan jiwa, melakukan intervensi, memberikan bantuan awal dan bagaimana cara menguhubungi dokter, teman terdekat, keluarga, serta bantuan dukungan sosial.

    Dekati, kaji dan dengar masalah yang sedang dialami

    Hal yang pertama yang harus Sahabat lakukan adalah melakukan pendekatan dengan penuh perhatian dan sikap positif, dengarkan masalahnya, dan coba memberi bantuan atau solusi sesuai dengan masalah yang sedang dihadapinya. Step by step melakukan pendekatan juga harus memperhatikan

    • Cara pendekatan dengan penuh perhatian dan sikap yang nyaman
    • Cari tempat yang nyaman untuk kita maupun orang tersebut, tempat yang nyaman dan tenang untuk bercerita
    • Apabila orang tersebut tidak berinisiatif memulai cerita, maka kita boleh memulai pembicaraan dengan syarat tidak langsung to the point
    • Jika orang tersebut sudah memulai cerita, hormati privasi dan kerahasiaan orang tersebut.

    Dengarkan ceritanya tanpa menghakimi

    Ketika orang tersebut mulai bercerita, salah satu yang harus anda lakukan yang penting sekali adalah dengarkan dan tahan penilaian anda dahulu,  jangan memotong cerita orang tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran Sahabat, dengarkan dulu sampai selesai, dengarkan dengan rasa empati yang tinggi dan dengarkan secara verbal maupun non verbal.

    Perhatikan juga untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengerti apa yang diceritakan kemudian berikan kebebasan untuk berbicara tanpa menghakimi. Ada hal yang harus dilakukan dan jangan sesekali Sahabat lakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan adalah:

    Lakukan

    • Beretika dan lakukan hal yang sewajarnya sesuai dengan budaya, usia dan orang yang kita hadapi
    • Jujur dan dapat dipercaya
    • Hormati keputusan dan hak orang lain
    • Jangan mengungkapkan tentang penilaian pertama terhadap orang tersebut dan berhati-hati dalam menilai
    • Jelaskan ketersediaanmu dalam membantunya kapan saja

    Jangan Lakukan

    • Jangan berlebihan dalam memberikan informasi
    • Jangan berlebihan dalam berbicara
    • Jangan menonjolkan status kita sebagai penolong
    • Jangan memaksa mereka untuk bercerita kepada kita
    • Jangan ambisius, membosankan atau memaksa untuk menolong
    • Jangan menghakiminya karena perilaku dan perasaannya
    • Jangan menceritakan masalahnya ke semua orang maupun sedikit orang

    Berikan informasi dan dukungan

    Setelah seseorang tersebut merasa lebih didengarkan dan merasa ada dukungan lebih, maka ini adalah peluang anda untuk terus melanjutkan bantuan.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Berikan dukungan berupa dukungan emosional seperti memberikan harapan bahwa masalah ini akan selesai dengan kondisi yang membaik dan berikan dukungan seperti berempati apa yang orang tersebut rasakan. Jangan lupa untuk menanyakan atau memberikan informasi tentang bantuan kesehatan jiwa.

    Beri dorongan untuk mendapatkan bantuan profesional

    Ketika mereka sudah mulai terbuka terkait cerita dan masalahnya, sebaiknya langkah selanjutnya Sahabat memberikan pilihan bantuan profesional yang tepat, seseorang dengan gangguan kesehatan jiwa harus ditangani langsung dengan yang lebih profesional.

    Kita dalam membantu memiliki batasan dan pilihan bantuan terapi ada berbagai macam misalnya dengan obat-obatan, terapi psikis atau konseling, dukungan dari anggota keluarga/terdekat, bantuan/bimbingan aktifitas.

    Beberapa gejala yang harus diperhatikan dan butuh bantuan lebih, yaitu:

    • Orang dengan kondisi serius, yang dapat membahayakan nyawa diri sendiri maupun orang lain dan membutuhkan perawatan gawat darurat
    • Orang dengan kondisi yang sangat sedih dan berlarut-larut, sehingga tidak mampu merawat diri sendiri dan anak-anaknya
    • Orang yang hanya membahayakan orang lain

    Setelah itu, beri dorongan untuk mendapatkan bantuan lainnya

    Orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa sangat penting juga untuk mendapatkan bantuan dorongan lainnya, selain bantuan profesional atau bantuan yang tepat, orang-orang di sekitar yang pernah mengalami gangguan kesehatan jiwa bisa untuk membantu mereka yang saat ini sedang mengalami, bantuan dorongannya orang-orang di sekitar saja dan orang-orang terdekat.

    Menurut data World Federation of Mental Health (WFMH) seseorang di suatu tempat di dunia meninggal akibat bunuh diri. Data menunjukkan bahwa satu dari empat orang dewasa akan mengalami masalah hidupnya dan mengganggu kesehatan jiwa.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    Hal itu karena orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan jiwa ini tidak mendapatkan perhatian dan tidak mendapatkan dukungan psikologis dari orang-orang di sekitar. Apalagi jika masalah psikis mereka dalam keadaan darurat, mengakibatkan banyak sekali orang-orang yang akan mengalami gangguan kesehatan jiwa

    Karena itu, pertolongan pertama pada gangguan kesehatan jiwa berasal dari orang-orang terdekat dan keluarga, rasa peduli dan perhatian terhadap orang-orang yang dekat dengan kita adalah obat pertama untuk pertolongan awal menghadapi orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.

    Baca Juga: 5 Gangguan Jiwa Paling Sering Dialami Kawula Muda

    Demikianlah mengenai pertolongan pertama pada kesehatan jiwa bagi teman atau saudara yang sedang mengalaminya. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai pertolongan pertama ini dan produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi :

    1. RSJ Dr. Radjiman W. Lawang [Internet]. Rsjlawang.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: http://rsjlawang.com/news/detail/154/pertolongan-pertama-pada-gangguan-kesehatan-jiwa
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Internet]. Kemkes.go.id. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.kemkes.go.id/article/view/16101100004/hkjs-2016-pertolongan-pertama-psikologis-dan-kesehatan-jiwa-bagi-semua-.html
    3. Penerapan Metode Algee Dalam Pertolongan Pertama Pada Gangguan Jiwa [Internet]. Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://dinkes.bulelengkab.go.id/artikel/penerapan-metode-algee-dalam-pertolongan-pertama-pada-gangguan-jiwa-44

     

    Read More
  • Bermain game online di waktu luang atau saat merasa jenuh memang sangat menyenangkan. Apalagi di masa pandemi Covid-19, banyak waktu luang yang dimiliki banyak orang karena berdiam diri di rumah. Game online bisa berdampak positif apabila memang dimanfaatkan sebagai hiburan. Namun, game online juga mempunyai dampak yang buruk bagi kesehatan. Baca Juga: Cara Mencegah Kecanduan […]

    Yuk, Sahabat Sehat, Ketahui Dampak Kecanduan Game Online di Tengah Pandemi Bagi Kesehatan Mental

    Bermain game online di waktu luang atau saat merasa jenuh memang sangat menyenangkan. Apalagi di masa pandemi Covid-19, banyak waktu luang yang dimiliki banyak orang karena berdiam diri di rumah. Game online bisa berdampak positif apabila memang dimanfaatkan sebagai hiburan. Namun, game online juga mempunyai dampak yang buruk bagi kesehatan.

    dampak kecanduan game online di tengah pandemi

    Baca Juga: Cara Mencegah Kecanduan Game Online di Tengah Pandemi

    Saat ini, game online banyak dimainkan secara berlebihan dah digunakan untuk melarikan diri dari realita kehidupan yang sebenarnya. Akibatnya adalah kecanduan game online yang berdampak bagi kesehatan mental.

    Berdasarkan survei, remaja dianggap lebih sering dan rentan terhadap kecanduan game online dibandingkan orang dewasa. Pada masa remaja, individu dianggap berada di periode yang tidak stabil dan cenderung lebih mudah terjerumus terhadap percobaan hal-hal baru.

    World Health Organization (2018) telah mengklasifikasikan dampak kecanduan game online sebagai gangguan mental ke dalam International Classification of Diseases (IDC-11). Hal tersebut ditandai dengan adanya gangguan kontrol atas game dengan meningkatnya prioritas yang diberikan pada dibandingkan dengan kegiatan yang lain.

    Sebuah studi menunjukkan bahwa salah satu dampak kecanduan game online yang dialami remaja adalah mereka akan lebih banyak menghabiskan waktunya hanya untuk bermain. Berdasarkan studi, remaja menghabiskan waktu bermain game online pada umumnya lebih dari dua jam per hari atau setara dengan lebih dari 14 jam per minggu.

    Penelitian yang dilakukan Jap, Tiatri, Jaya, & Suteja (2013) mengungkapkan bahwa 10,15% remaja di Indonesia terindikasi mengalami kecanduan game online. Artinya, satu dari 1 sepuluh  remaja di Indonesia terindikasi mengalami kecanduan game online. Fenomena kecanduan game online ini semakin meluas dan memprihatinkan.

    Bahaya utama yang ditimbulkan akibat kecanduan game online adalah investasi waktu ekstrem dalam bermain. Waktu yang digunakan berlebihan untuk bermain game online, membuat kehidupan sehari-hari terganggu. Dan jelas, gangguan tersebut secara nyata mengubah prioritas hidup, serta menghasilkan minat yang sangat rendah terhadap sesuatu yang tidak terkait dengan game online.

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma dan Depresi

    Dampak kecanduan game online

    • Kurang peduli terhadap kegiatan sosial
    • Kehilangan kontrol atas waktu
    • Menurunnya prestasi akademik
    • Menurunnya relasi sosial
    • Menurunnya finansial
    • Menurunnya kesehatan, dan fungsi kehidupan lain yang penting
    • Tidak bisa mengendalikan keinginan bermain game
    • Lebih memprioritaskan bermain game daripada kegiatan lain
    • Merasa gelisah saat tidak dapat bermain game online

    Dampak negatif yang muncul akibat kecanduan game online

    Aspek kesehatan

    Kecanduan game online mengakibatkan gangguan kesehatan pada remaja bisa menurun, di antaranya daya tahan tubuh yang lemah. Hal tersebut diakibatkan karena kurangnya aktivitas fisik, kurangnya waktu tidur, dan sering terlambat makan.

    Aspek Psikologis

    Saat bermain game online, biasanya banyak adegan yang memperlihatkan tindakan kriminal atau kekerasan seperti perkelahian, perusakan, dan pembunuhan. Hal tersebut secara tidak langsung telah mempengaruhi alam bawah sadar pemain, bahwa sebenarnya kehidupan nyata disamakan dengan kehidupan di game online.

    Dari sinilah, dampak kecanduan game online terhadap kesehatan mental terjadi. Biasanya pemain akan lebih mudah marah dan sulit mengatur emosinya.

    Aspek akademik

    Bagi para remaja yang tentunya ada di usia sekolah, kecanduan game online bisa membuat perfoma akademik menurun. Waktu luang yang seharusnya bisa digunakan untuk mempelajari pelajaran sekolah, justru lebih dimanfaatkan untuk menyelesaikan misi dalam game online.

    Baca Juga: Dampak Buruk Bullying pada Kesehatan Mental Remaja

    Kemudian, biasnaya daya konsentrasi pemain atau remaja pada umumnya sangat terganggu, sehingga kemampuan dalam menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru tidak diterima dengan maksimal.

    Aspek sosial

    Biasanya para pemain menemukan jati dirinya saat bermain game online, karena dirasa ada keterikatan emosional. Hal tersebut menyebabkan para pemain game online tenggelam dalam dunia fantasi yang diciptakannya sendiri.

    Hal inilah yang dapat membuat para pecandu game online kehilangan kontak dengan dunia nyata, dan mengurangi interaksi dengan sekelilingnya. Dan saat sudah terbiasa hidup di dunia maya, biasanya para pecandu game online akan sulit bersosialisasi di dunia nyata. Sikap antisosialnya mucul dan tidak memiliki keinginan untuk berbaur dengan masyarakat, keluarga, dan teman.

    Aspek keuangan

    Biasanya bermain game online membutuhkan biaya, entah untuk membeli voucher agar tetap bisa memainkan jenis game online atau untuk membeli pulsa kuota. Yang jelas, biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit.

    Apabila ada remaja yang kecanduan game online dan belum memiliki penghasilan sendiri, biasanya mereka dapat melakukan kebohongan kepada orangtuanya. Bahkan tidak sedikit yang melakukan berbagai cara lainnya, seperti mencuri.

    Sesuai dengan hasil penelitian Chen et al. (2005) yang menemukan bahwa mayoritas kejahatan game online ialah pencurian (73,7%) dan penipuan (20,2%). Penelitian ini juga menemukan bahwa usia pelaku kejahatan akibat game online adalah remaja usia sekolah.

    Sahabat Sehat, sekarang sudah tahu kan betapa bahayanya dampak dari kecanduan game online? Kalau bisa, mulai sekarang coba hindari waktu bermain game online dengan terlalu sering ya! Bermain game online bisa dilakukan secukupnya dan seperlunya saja, karena segala sesuatu yang berlebihan tidak baik, dan bisa menimbulkan dampak bagi kesehatan mental dan fisik manusia.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Kesehatan Mental di Indonesia

    Apalagi di masa pandemi Covid-19, masih banyak kegiatan lain yang bisa Sahabat Sehat lakukan di rumah. Antara lain, berkebun, membaca, olahraga, dan masih banyak lainnya. Jika Sahabat Sehat sudah merasa kecanduan game online dan dampak dari kecanduan game online sudah mulai terasa, Sahabat Sehat bisa langsung konsultasi kepada psikolog atau psikiater. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    The Conversation. 2021. WHO tetapkan kecanduan game sebagai gangguan mental, bagaimana “gamer” Indonesia bisa sembuh?. [online] Available at: <https://theconversation.com/who-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental-bagaimana-gamer-indonesia-bisa-sembuh-99029> [Accessed 5 March 2021].

    Jurnal.ugm.ac.id. 2021. [online] Available at: <https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/47402/pdf> [Accessed 5 March 2021].

    Media, K., 2021. 4 Bahaya Game Online untuk Kesehatan, dari Kecanduan hingga Obesitas Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://health.kompas.com/read/2020/01/25/073300368/4-bahaya-game-online-untuk-kesehatan-dari-kecanduan-hingga-obesitas?page=all> [Accessed 5 March 2021].

    Read More
  • Pandemi Covid-19 mengharuskan banyak orang untuk melakukan aktivitas di rumah. Salah satunya bekerja, atau yang biasa disebut Work From Home (WFH). Dengan adanya WFH, banyak yang merasa jenuh dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja. Dampak hal tersebut salah satunya bisa berakibat ke perselingkuhan. Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Sebenarnya, konsekuensi […]

    Dampak Perselingkuhan di Tengah Pandemi Bagi Kesehatan Mental Apa Saja?

    Pandemi Covid-19 mengharuskan banyak orang untuk melakukan aktivitas di rumah. Salah satunya bekerja, atau yang biasa disebut Work From Home (WFH). Dengan adanya WFH, banyak yang merasa jenuh dengan kegiatan yang hanya itu-itu saja. Dampak hal tersebut salah satunya bisa berakibat ke perselingkuhan.

    perselingkuhan di tengah pandemi

    Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    Sebenarnya, konsekuensi logis dari tujuan pernikahan adalah diikatkan sebuah komitmen untuk mengarungi sebuah pernikahan dalam waktu yang tidak terbatas, atau bahkan berlangsung seumur hidup, dan selamanya. Namun, realita menunjukkan janji kesetiaan ketika akad nikah seringkali diabaikan.

    Perselingkuhan tentunya akan banyak memberikan dampak negatif karena biasanya mempengaruhi seluruh aspek dalam kehidupan dan berdampak dalam jangka panjang. Biasanya muncul perasaan negatif seperti marah, sedih, kecewa, tidak, berharga, dikhianati, dan benci, akan dirasakan oleh korban perselingkuhan,

    Menurut Satiuadarma (2001), perselingkuhan yang dialami oleh korban menghasilkan luka dan sakit hati yang muncul akibat adanya cedera yang dialami pada kesatuan hubungan interpersonal yang diyakini sebagai selubung rasa aman dalam kehidupannya.

    Berikut Dampak Perselingkuhan di Tengah Pandemi bagi Kesehatan Mental

    Marah

    Dampak perselingkuhan terhadap kesehatan mental, salah satunya kemarahan. Kemarahan muncul akibat perasaan kehilangan, sehingga menjadi tidak berdaya dan tidak jarang menyebabkan perubahan suasana hari yang berlangsung cepat. Bahkan marah biasanya dapat terjadi dalam kurun waktu yang tidak sebentar.

    Sedih

    Dampak dari perselingkuhan adalah sedih, karena sedih merupakan perasaan yang paling intens dan wajar terjadi. Kesedihan dan perasaan kehilangan mengakibatkan korban menjadi menutup diri dengan orang lain. Biasanya korban akan mengalami emosi yang mengguncang kestabilan jiwanya. Keguncangan jiwa seorang korban dialami secara bertahap.

    Tahap pertama adalah syok, karena masih sulit mempercayai kenyataan yang terjadi. Baru kemudian akan timbul rada marah dan kecewa. Dan tahap ketiga barulah ada penyesalan. Biasanya korban akan menyalahkan dirinya sendiri, dan akan menelaah dirinya agar menyadari kekurangan-kekurangannya.

    Depresi

    Dampak perselingkuhan terhadap kesehatan mental adalah depresi, salah satunya. Setelah melewati sedih dan menyalahkan diri sendiri, biasanya korban mulai timbul depresi yang berkepanjangan. Terlebih harus mengalami dua pilihan. Yaitu tetap bertahan atau tetap bersama namun rela diselingkuhi.

    Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona Justru Turunkan Imun Tubuh

    Namun, bagi pasangan yang memutuskan untuk tetap bertahan dalam hubungannya, dampak negatif akan sangat dirasakan oleh korban. Rasa sakit yang amat dalam membuat korban menjadi mudah marah dan kehilangan kepercayaan diri. Serta juga memiliki trauma yang mendalam atau mempengaruhi pola relasi pasangannya dengan orang lain.

    Kesulitan memercayai orang lain

    Jika suatu hubungan berakhir karena perselingkuhan, pasti ada lapisan yang hancur dan mempengaruhi kepercayaan yang telah dimiliki. Karena perselingkuhan membawa emosi dan pikiran yang sangat kompleks, tentang amarah, sakit hati, ragu, penghinaan, kebingungan, dan ketakutan. Jadi tidak hanya rasa sakit hati yang membuat move on menjadi lebih sulit, namun juga sulitnya percaya lagi kepada orang lain.

    Lemahnya kepercayaan diri

    Bagian yang paling berbahaya dari dampak selingkuh terhadap kesehatan mental adalah hilang atau melemahnya kepercayaan diri korban. Seorang pakar kencan, Cherly Chong mengatakan, berusahalah agar tidak jatuh dalam perangkap membandingkan diri sendiri dengan selingkungan sang mantan.

    Karena biasanya bukan hanya rasa kehilangan yang hadir, namun juga rasa malu karena digantikan oleh orang lain. Sehingga korban terus membandingkan dirinya dengan selingkuhannya. Padahal perbandingan tersbeut bukanlah kenyataan dari situasi yang ada. Korban seharusnya bisa menyadari bahwa selingkuh merupakan keputusan masing-masing individu, dan bukanlah kesalahan korban.

    Apakah Hal ini Juga Berdampak pada Anak?

    Selain berdampak pada korban perselingkuhan, perselingkuhan di tengah pandemi juga mempunyai dampak kepada psikis anak dalam hubungannya. Karena situasi tersebut, anak cenderung mengalami beban mental. Anak yang belum bisa mengekspresikan emosinya, biasanya akan menunjukkan gejala kecemasan.

    Antara lain, mengompol, menyendiri, mengisap jempol, bermimpi buruk, dan memiliki emosi yang tidak stabil. Hal tersebut muncul kepada anak sebagai respons ketakutan, bahwa kebahagiaan keluar mereka akan sirna.

    Sementara, apabila anak sudah mulai beranjak dewasa, maka yang didapatkan adalah rasa marah, dikhianati, dan mungkin akan lebih berani mengekspresikan kekesalannya. Seperti yang dijelaskan oleh psikolog anak, Anna Surti, ketika ada anak yang memergoki secara langsung perselingkuhan orangtuanya, mereka akan kebingungan.

    Dampak perselingkuhan bagi anak lainnya adalah menurunnya prestasi belajar, berkurangnya rasa percaya diri, depresi, dan bisa jadi berlaku kasar. Secara jangka panjang, perselingkuhan bisa membuat anak menyimpan amarah dan luka sekaligus kepada orangtuanya yang berselingkuh.

    Baca Juga: 14 Kesehatan Mental pada Anak

    Bahkan, dampak perselingkuhan bagi anak juga bisa menyebabkan trauma dan memiliki kecemasan dalam membina hubungan intim di kala dewasa nanti. Dan akan sulit percaya pada orang lain, terutama pasangan. Karena merasa teringat perselingkuhan yang telah dilakukan oleh orangtuanya.

    Bahkan, penelitian psikolog klisis Ana Nogales, menunjukkan bahwa perselingkuhan orantua mengakibatkan 75 persen anak jadi merasa dikhianati. Kemudian sebanyak 80 persen, perselingkuhan orangtuanya membawa dampak mereka takut dalam membina hubungan. Serta 70 persen anak akan sulit mempercayai orang lain. Bahkan, penelitian juga menemukan pola berulang yang terjadi pada hubungan si anak saat dewasa.

    Sahabat Sehat, sudah tahu kan dampak dari perselingkuhan  di tengah pandemi terhadap kesehatan mental. Maka dari itu, sebelum melakukan sesuatu, Sahat Sehat harus memikirkannya terlebih dahulu. Jangan sampai melakukan sesuatu yang nantinya berujung merugikan diri sendiri dan orang lain, apalagi orang-orang tersayang.

    Namun sesungguhnya, para korban perselingkuhan, janganlah selalu menyalahkan diri sendiri. Karena pada dasarnya, bukan kalianlah yang salah dalam keretakan hubungan kalian. Namun, karena yang selingkuh memang salah.

    Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur Selama Pandemi?

    Kondisi di tengah pandemi Covid-19, banyak hal yang bisa membuat hubungan Sahabat Sehat dengan pasangan semakin harmonis, bahkan apabila bertemu di rumah seharian. Sahabat Sehat bisa menciptakan suasan yang nyaman dan damai di rumah selama WFH.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan mental dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Putri, A., 2021. Perselingkuhan Orangtua Berisiko Merusak Mental Anak – Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: <https://tirto.id/perselingkuhan-orangtua-berisiko-merusak-mental-anak-cAqr> [Accessed 5 March 2021].
    2. liputan6.com. 2021. 2 Dampak Psikologis yang Terjadi Bila Pasangan Selingkuh. [online] Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/4106251/2-dampak-psikologis-yang-terjadi-bila-pasangan-selingkuh> [Accessed 5 March 2021].
    3. Adam, A., 2021. Dampak Perselingkuhan Suami Terhadap Kesehatan Mental dan Fisik Istri. [online] Journal.iain-ternate.ac.id. Available at: <http://journal.iain-ternate.ac.id/index.php/alwardah/article/view/291> [Accessed 5 March 2021].

     

     

     

    Read More
  • Pandemi virus Corona yang masih mewabah hingga saat ini memang membawa dampak yang cukup besar. Tidak hanya pada kesehatan fisik saja, tetapi juga pada kesehatan mental. Banyak orang yang merasakan kesepian di tengah pandemi ini. Perasaan tersebut muncul saat harus membatasi diri melalui isolasi yang diterapkan pemerintah. Baca Juga: Penyebab Gangguan Mental yang Perlu Dideteksi […]

    Cara Mengatasi Rasa Kesepian di Tengah Pandemi

    Pandemi virus Corona yang masih mewabah hingga saat ini memang membawa dampak yang cukup besar. Tidak hanya pada kesehatan fisik saja, tetapi juga pada kesehatan mental. Banyak orang yang merasakan kesepian di tengah pandemi ini. Perasaan tersebut muncul saat harus membatasi diri melalui isolasi yang diterapkan pemerintah.

    kesepian di tengah pandemi

    Baca Juga: Penyebab Gangguan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Isolasi yang diterapkan tersebut memang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus secara massif dan terkontrol. Rasa kesepian yang muncul karena isolasi bisa disebabkan karena yang diisolasi positif Covid-19, ditinggal anggota keluarga yang menderita virus tersebut serta tidak bebasnya untuk bepergian ke luar.

    Psikolog klinis Rosalina Vauli, seperti dilansir dari CNN Indonesia, menyatakan bahwa kesepian yang dialami seseorang di masa pandemi dapat menyebabkan kesehatan mental. Banyak yang mengatakan bahwa efeknya bisa berupa depresi walaupun sebenarnya cukup berbeda antara depresi dan kesepian.

    Depresi lebih pada masalah emosional seperti menyalahkan diri sendiri sedangkan kesepian lebih pada pada penghayatan kondisi sepi dan sendirian serta isolasi sosial. Orang yang merasa kesepian tidak harus dalam kondisi sendiri, tetapi di tengah keramaian juga akan merasakan kesepian. Rasa ini banyak yang tidak tahu sama sekali penyebabnya.

    Apa yang Terjadi Jika Seseorang Mengalami Kesepian Bahkan Berkepanjangan?

    Pandemi Covid-19 yang belum diketahui dengan pasti kapan berakhirnya tentunya akan dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian yang cukup panjang. Hal ini tentu saja akan memberikan dampak negatif pada tubuh seperti berpikiran buruk terus-menerus, dan mengalami masalah tidur serta interaksi dengan orang lain.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab Hingga Cara Mengatasi

    Hal-hal tersebut tentu saja tidak bisa dilihat secara langsung oleh orang lain seperti halnya orang yang tengah menderita kesehatan fisik. Pada akhirnya kebanyakan orang akan menilai bahwa yang bersangkutan baik-baik saja, dan tidak ada kepedulian lagi setelahnya untuk memberikan pertolongan. Sebab, jika dibiarkan hal ini dapat memberikan dampak yang cukup negatif bagi diri sendiri dan orang lain.

    Lalu Bagaimana Caranya?

    Berikut ini adalah beberapa cara untuk membantu mengatasi kesepian di tengah pandemi yang dapat Sahabat coba ke diri sendiri dan orang lain.

    Buat Waktu Berkualitas untuk Diri Sendiri

    Membuat waktu berkualitas untuk diri sendiri me time quality adalah satu cara untuk dapat mengatasi kesepian di masa pandemi. Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan meditasi atau perenungan terhadap diri selama setengah jam atau satu jam. Lakukanlah secara perlahan, mulai dari hitungan menit lalu meningkat jadi belasan menit.

    Selain itu, Sahabat s harus dapat mengenali diri sendiri secara perlahan dan utuh sehingga hal ini dapat membuat diri rileks dan nyaman. Caranya adalah luangkan waktu jeda dengan tidak melakukan apa-apa sama sekali. Hal ini akan dapat memunculkan memori-memori di masa silam dan imajinasi masa depan yang menakutkan. Sahabat bisa memberikan analisis cara untuk mencegah dan mengatasinya.

    Lakukan Hal-hal yang Membuat Bahagia

    Cara melawan kesepian sebenarnya cukup sederhana tapi banyak orang yang tidak menyadarinya, yaitu menciptakan rasa kebahagiaan. Hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan saat Sahabat melakukan hal-hal yang menurut Sahabat menyenangkan.

    Baca Juga: Manfaat Belanja Online untuk Menghilangkan Stres Karena Pandemi Covid-19

    Apabila Sahabat menyukai kegiatan yang bersifat visual seperti menggambar dan melukis, lakukan saja jika hal tersebut benar-benar dapat menciptakan rasa bahagia untuk mengusir rasa kesepian yang timbul. Sebab, ada aspek kegembiraan yang lama hilang di dalamnya. Hal ini setidaknya untuk menghindari juga perasaan ikut-ikutan terhadap hal-hal baru yang belum bisa dikuasai karena jika ikut-ikutan, Sahabat malah akan menjadi stres sehingga Sahabat malah tidak menjadi bahagia.

    Berkomunikasi Secara Online dengan Teman

    Apabila Sahabat butuh teman bicara karena merasakan kesepian di tengah pandemi, Sahabat juga bisa melakukan komunikasi secara online dengan teman dekat atau keluarga. Ketika Sahabat bisa berkomunikasi meski secara online, Sahabat akan merasakan energi positif bagi tubuh.

    Meningkatkan Aktivitas Fisik

    Melawan kesepian juga dilakukan dengan melakukan dan meningkatkan aktivitas-aktivitas fisik seperti berolahraga. Ketika Sahabat melakukannya ada efek menyenangkan yang didapat setelah selesai dengan hal tersebut.

    Efek menyenangkan itu sangat bagus tak hanya untuk kesehatan fisik tetapi juga untuk kesehatan mental. Untuk hal ini Sahabat bisa melakukannya secara perlahan setiap harinya, dan catat setiap kemajuan yang ada.

    Memelihara Hewan

    Memelihara hewan juga dapat menjadi terapi untuk melawan kesepian karena hewan yang dipelihara itu bisa menjadi teman interaksi. Meski begitu, Sahabat disarankan untuk selektif dalam memiliki hewan peliharaan.

    Untuk masa pandemi ini, hewan yang dianjurkan dipelihara adalah dari kelompok mamalia seperti kucing dan anjing karena hewan-hewan ini juga bisa memberikan feedback secara emosional kepada Sahabat. Sedangkan untuk kelompok reptil tidak disarankan karena reptil tidak mempunyai emosi yang berkembang.

    Hindari Media Sosial

    Banyak orang yang merasa kesepian, stres, dan depresi justru melarikan dirinya ke media sosial sebagai obat penenang. Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru hal-hal negatif yang akan Sahabat dapatkan. Sebab, media sosial malah menjadi ajang pamer dan membanding-bandingkan kondisi. Tentu hal tersebut belum dapat diterima semua orang termasuk Sahabat.

    Apa yang Harus Dilakukan Jika Kesepian yang Sahabat Alami Menjadi Kronis?

    Apabila Sahabat benar-benar mengalami hal yang demikian, disarankan untuk segera menghubungi psikolog demi menjalani konsultasi dan terapi yang sesuai dengan kondisi yang dialami Sahabat. Setidaknya, mereka akan membantu Sahabat dalam permasalahan ini.

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Kapan Terbeban Covid-19 Berakhir

    Itulah beberapa cara mengatasi kesepian di tengah pandemi yang bisa Sahabat lakukan ketika mengalami kesepian. Sahabat juga konsultasi mengenai perasaan kesepian ini di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Cara Mengatasi Kesepian, Mulai dari Kenali Diri Sendiri [Internet]. gaya hidup. 2021 [cited 1 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210202151125-284-601368/cara-mengatasi-kesepian-mulai-dari-kenali-diri-sendiri
    2. Kesepian, Pemantik Masalah Kesehatan Mental [Internet]. gaya hidup. 2021 [cited 1 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210205195232-260-602939/kesepian-pemantik-masalah-kesehatan-mental
    3. Pandemi Bikin Orang Merasa Kesepian, Gangguan Mental? : Okezone Tren [Internet]. https://www.okezone.com/. 2021 [cited 1 March 2021]. Available from: https://www.okezone.com/tren/read/2020/11/02/620/2302789/pandemi-bikin-orang-merasa-kesepian-gangguan-mental
    Read More
  • Lima belas persen dari orang dewasa yang berusia 60 tahun mengalami gangguan mental, sistem saraf, dan otaknya. Gangguan kesehatan mental perlu ditangani melalui perawatan medis secara intens dengan ahli kesehatan jiwa, karena sebenarnya masalah ini merupakan proses normal dari penuaan yang akan sangat membahayakan fisik untuk jutaan orang. Baca Juga: 14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak Gangguan kesehatan mental […]

    Inilah Gejala Kesehatan Mental yang Sering Sahabat Anggap Remeh!

    Lima belas persen dari orang dewasa yang berusia 60 tahun mengalami gangguan mental, sistem saraf, dan otaknya. Gangguan kesehatan mental perlu ditangani melalui perawatan medis secara intens dengan ahli kesehatan jiwa, karena sebenarnya masalah ini merupakan proses normal dari penuaan yang akan sangat membahayakan fisik untuk jutaan orang.

    gejala kesehatan mental

    Baca Juga: 14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak

    Gangguan kesehatan mental diartikan sebagai adanya gangguan terhadap kecemasan, suasana hati, dan perilaku seseorang. Gejala dari gangguan mental jarang sekali disadari karena beberapa dari gejala tersebut sebenarnya memang sering dialami seseorang, misalnya saja munculnya perasaan cemas, suasana hati sedih, ataupun emosi yang meledak-ledak di dalam diri kita. Akan tetapi jika perasaan tersebut melebihi batas normal bisa dikatakan bahwa Anda harus mewaspadainya. Oleh karena itu, berikut akan dibahas beberapa gejala masalah kesehatan mental yang umumnya tidak disadari dan banyak yang menganggapnya remeh.

    1. Cemas yang berlebih

    Rasa cemas adalah perasaan yang wajar dalam diri seseorang. Namun apabila perasaan cemas ini berlebihan dan terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama, maka mungkin akan menyebabkan gejala seperti detak jantung berdetak sangat kencang atau keringat berlebihan. Selain itu, penderita akan mengalami perubahan mood atau perubahan suasana hati yang sangat cepat, sehingga berpengaruh pada gangguan fisik seperti kesulitan tidur dan kesulitan berkonsentrasi.

    2. Skizofrenia

    Banyak masyarakat yang sudah banyak mendengar dan mengenal gangguan mental yang satu ini, namun banyak juga masyarakat yang tidak tahu artinya. Skizofrenia merupakan salah satu jenis masalah kesehatan mental yang disebabkan karena adanya gangguan perkembangan saraf yang sangat serius dan akan berlangsung lama seumur hidup. Adapun gejala yang umumnya dialami antara lain halusinasi, delusi, dan sulit mengendalikan pikirannya sehingga berisiko untuk melukai dirinya sendiri.

    3. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

    Tanpa disadari banyak sekali masyarakat yang menganggap seseorang dengan ketelitian berlebih sebagai suatu hal yang remeh dan wajar. Namun dari segi psikologi, sikap seperti ini merupakan salah satu gejala dari gangguan mental OCD, yaitu penderita OCD akan melakukan hal yang sama untuk kesekian kalinya hanya untuk memastikan kembali bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. Misalnya saat seseorang sudah mematikan kompor namun kemudian ia kembali untuk memeriksakannya lagi apakah kompor sudah mati atau belum, dan mungkin akan dilakukan sebanyak lebih dari tiga kali. Selain itu, gejala yang lainnya yang dialami penderita OCD adalah menyukai peraturan dan keteraturan dengan ketat, tidak suka kotor dan akan selalu bersih, serta takut akan melakukan kesalahan karena tidak mau disalahkan.

    4. Attention Deficit/Hyperactivty Disorders (ADHD)

    Gejala Attention Deficit/Hyperactivity Disorders (ADHD) juga banyak tidak akan disadari oleh banyak orang. Gangguan kesehatan mental satu ini sebagian besarnya dialami oleh anak-anak dan banyak orangtua yang jarang sekali menyadari gangguan mental ADHD di dalam diri sang buah hati, karena gejalanya berkaitan dengan tindakan anak pada umumnya sehingga menganggap itu hal yang wajar. Adapun gejala yang dimaksud adalah selalu aktif bergerak, tampak gelisah, sulit untuk fokus dan berkonsentrasi, sering sekali melamun, tidak mau mendengarkan instruksi dari orang lain, serta kurang bisa bergaul dengan teman sebayanya.

    Baca Juga: Waspada Bahaya Narsistik di Medsos!

    5. Stres Pascatrauma

    Stress pascatrauma merupakan kondisi mental seseorang setelah mengalami kejadian yang sangat menyedihkan atau hingga membuat luka di hati, yang membuat dirinya ketakutan berlebih akan berulangnya peristiwa tersebut pada dirinya. Itulah sebabnya bagi seseorang yang baru saja mengalami suatu kejadian yang menyakitkan, biasanya mereka tidak mau melakukan hal yang sama karena selalu mengingat kejadian yang sangat menakutkan dan menyakiti dirinya tersebut. Sehingga kebanyakan penderita stess pascatrauma ini cenderung akan mati rasa secara emosional.

    6. Gangguan Mood

    Gangguan mood yang dimaksud bisa berupa perasaan sedih yang berlarut-larut ataupun perasaan bahagia yang terlalu merasakan bahagia. Tapi bisa juga berupa gabungan dari perasaan keduanya namun transisi perasaannya berpindah secara ekstrim dan cepat, misalnya dari perasaan sedih kemudian bisa langsung berubah jadi benar-benar merasa berbahagia. Adapun jenis dari gangguan mood ini yang paling umum antara lain depresi, manik, bipolar dan siklotimik.

    7. Kecanduan

    Kecanduan alkohol atau narkoba adalah hal yang paling umum, namun jika gangguan kecanduan alkohol dan narkoba ini membuat penderita hingga melupakan tanggung jawab dan hubungan, penderita termasuk dalam jenis gangguan mental kecanduan.

    8. Kontrol Impuls

    Gangguan kontrol impuls adalah gangguan yang sudah banyak sekali diderita namun juga banyak orang sekitar yang tidak menyadarinya. Gangguan mental ini biasanya ditandai dengan seseorang yang sulit mengendalikan atau mengkontrol dirinya dalam melakukan tindakan yang membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri. Misalnya, kleptomania (pencurian), pyromania (menyalakan api), dan perjudian kompulsif.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    Itulah beberapa jenis gangguan mental yang sering tampak gejalanya namun jarang disadari oleh seseorang yang mengalaminya, padahal masalah ini akan sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidupnya. Maka dari itu, penting untuk memperhatikan apakah gejala-gejala gangguan mental tersebut terjadi pada diri Anda atau tidak, karena sesungguhnya masalah kesehatan mental ini akan sangat berpengaruh besar bagi kelangsungan hidup seseorang.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut gejala kesehatan mental dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi

    1. Anggraini AP. Memahami Tanda Gangguan Kesehatan Mental dan Cara Menanganinya [Internet]. KOMPAS.com. 2021 (Diakses pada 10 Februari 2021). Tersedia di: https://health.kompas.com/read/2020/10/17/181500668/memahami-tanda-gangguan-kesehatan-mental-dan-cara-menanganinya?page=all
    2. Anggraini AP. Benarkah Makin Tua Kian Rentan Alami Gangguan Mental? [Internet]. KOMPAS.com. 2021 (Diakses pada 10 Februari 2021). Tersedia di: https://health.kompas.com/read/2019/12/23/183000668/benarkah-makin-tua-kian-rentan-alami-gangguan-mental-
    3. Karisma N. 5 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Anda Ketahui [Internet]. Lifepack.id. 2021 (Diakses pada 10 Februari 2021). Tersedia di: https://lifepack.id/5-jenis-gangguan-kesehatan-mental-yang-perlu-anda-ketahui/
    4. Koesno DA. Mengenal Mental Illness: Jenis, Ciri-Ciri dan Cara Memilih Psikolog [Internet]. tirto.id. 2021 (Diakses pada 10 Februari 2021). Tersedia di: https://tirto.id/mengenal-mental-illness-jenis-ciri-ciri-dan-cara-memilih-psikolog-f4o9

     

    Read More
  • Seseorang yang bisa memiliki keadaan sehat jiwanya adalah seseorang yang mampu menempatkan dan memberikan porsi atau potensi terbaik di dalam hidupnya, beradaptasi baik dengan kehidupannya, mampu memberikan peran terbaik dalam lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau tempat kerja, masyarakat, komunitas dan lain hal yang menyangkut sosialisasi di kehidupan. Bicara soal kesehatan mental, psikiater dan psikososial dari RS Siloam […]

    Penyebab Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Seseorang yang bisa memiliki keadaan sehat jiwanya adalah seseorang yang mampu menempatkan dan memberikan porsi atau potensi terbaik di dalam hidupnya, beradaptasi baik dengan kehidupannya, mampu memberikan peran terbaik dalam lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau tempat kerja, masyarakat, komunitas dan lain hal yang menyangkut sosialisasi di kehidupan. Bicara soal kesehatan mental, psikiater dan psikososial dari RS Siloam Bogor mengatakan bahwa gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, tidak memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, jabatan, atau status sosialnya. Gangguan jiwa juga bisa menyerang dalam jangka waktu yang cepat maupun lambat.

    Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

     

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Perasaan tidak nyaman akan satu waktu dalam kehidupan adalah hal yang wajar, namun akan dikategorikan dalam hal yang tidak wajar sehingga dibutuhkan penanganan invertensi dan pertolongan lebih lanjut apabila seseorang mengalami merasakannya dalam satu waktu dan berlangsung terus-menerus.

    Adanya gangguan mental ini dapat memicu perubahan keseimbangan dan kestabilan zat kimia yang ada di otak (neurotransmiter) yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan sikap, perubahan pola pikir, perasaan, dan perilaku. Terdapat beberapa penyebab seseorang menderita gangguan mental kesehatan, yaitu:

    1. Faktor genetik

    Sebuah penelitian yang dilakukan dari Amerika Serikat, menemukan adanya variasi genetik pada 33.000 pasien yang didiagnosis mengalami skizofrenia, autis, gangguan bipolar, ADHD, dan depresi. Penelitian tersebut menemukan adanya variasi pada gen CACNA1C dan CACNAB2 yang mempengaruhi memori, cara berpikir, perhatian, dan emosi. Orangtua ke anak menurunkan gen sebesar 10%, dari keponakan atau cucu sebesar 2-4%, sedangkan saudara kembar 48%.

    2. Penggunaan narkoba/alkohol

    Penggunaan alkohol dan obat-obatan serta narkoba seperti ganja (cannabis), synthe, shabu-shabu, ekstasi, obat penenang, dan heroin (putaw) sangat mempengaruhi pola pikir, perasaan, dan emosional yang akan dilakukan di luar batas. Selain itu, penderita akan membahayakan dan melukai diri sendiri ataupun orang lain diluar kesadarannya. Pada pengguna narkoba/alkohol yang sudah mengalami kecanduan memiliki risiko efek samping yang lebih berbahaya karena sekalipun sedang tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut, mereka akan mengalami gangguan sistem saraf yang bekerja di luar normal dan mungkin juga akan mengalami sakau.

    3. Ibu hamil

    Pada ibu hamil, jika mengalami gangguan mental maka kondisi ini akan berpengaruh besar pada perkembangan saraf otak janin yang dikandungnya. Selain itu, jika ibu mengalami gangguan kondisi kejiwaan, seperti depresi atau gelisah saat hamil, risiko kelahiran prematur juga bisa meningkat. Itulah mengapa seringkali kita mendengar bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu banyak fikiran yang mengakibatkan stress.

    4. Riwayat trauma

    Kejadian traumatis bisa disebabkan oleh banyak hal, biasanya yang menyangkut dalam kehidupan sehari-hari namun tanpa disadari seperti pelecehan seksual ataupun pengalaman hidup yang pahit, misalnya patah hati terus menerus, mendapatkan olokan atau dikucilkan terus-menerus oleh lingkungan sekitar, kesedihan yang mendalam, kemarahan yang terpendam, tujuan yang tidak tercapai, dan adanya masalah yang sulit diselesaikan.

    Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    5. Riwayat gangguan mental

    Jika sebelumnya seseorang pernah mengalami gangguan mental jenis apapun, akan ada kemungkinan mereka akan mengalami gangguan mental lagi, walaupun sudah dikatakan pulih. Untuk menjaga kepulihannya dan tetap jadi produktif, penderita harus tetap menjaga pola pikir yang tidak terlalu berat, perbanyak hiburan dan tetap harus konsultasi dengan psikiater sebelumnya, agar selalu mendapatkan arahan.

    6. Putus obat

    Biasanya seseorang yang mengalami gangguan jiwa akan terus mengkonsumsi obat seumur hidupnya untuk tetap mengkontrol aktifitas dalam kehidupannya agar selalu normal. Sebagian orang yang mengalami gangguan jiwa akan lelah dalam mengonsumsi obat terus-menerus tanpa henti dan membuat keputusan untuk berhenti minum. Jika benar sampai putus obat seperti itu, maka penderita tersebut akan rentan mengalami gangguan jiwa lagi.

    7. Konflik dengan keluarga atau teman

    Beberapa konflik yang besar dengan keluarga atau teman bisa jadi pemicu untuk mengalami gangguan jiwa, apalagi jika memiliki perasaan bersalah, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, dan tidak mau menerima pendapat orang lain, biasanya tingkat emosional seseorang akan meningkat. Konflik dengan keluarga yang dimaksud bisa berupa pertengkaran soal harta dan warisan, sedangkan masalah dengan teman bisa jadi karena hubungan atau cinta segitiga dengan pasangan yang bisa membuat penyebab gangguan kesehatan mental terjadi.

    8. Beban yang terlalu berat

    Beban hidup yang terlalu berat pada umumnya berhubungan dengan masalah ekonomi. Sebagian orang dewasa yang memiliki masalah tersebut bisa saja memutuskan untuk pisah rumah dengan orangtua atau menghidupi dirinya sendiri, baik dari biaya kuliah, sandang, pangan, maupun papan. Belum lagi pada anak yang harus menanggung beban orangtua atau harus melunasi hutang piutang, cicilan, biaya sekolah adiknya, maka beratnya beban yang harus ditanggung akan mempengaruhi kesehatan mental seseorang selama proses hidupnya menjadi dewasa.

    Baca Juga: 14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak

    Nah, dengan demikian Sahabat perlu mewaspadai penyebab dan gejala gangguan mental sehingga dapat mendeteksinya lebih awal dan ditangani dengan cepat. Karena pada orang dengan gangguan mental yang ditangani lebih cepat akan lebih mudah diterapi dan mereka akan segera pulih dan bisa kembali melakukan kegiatan normal dengan produktif.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penyebab gangguan kesehatan mental dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Mengenal gejala dan penyebab gangguan jiwa[Internet]. Pustaka.unpad.ac.id. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/12-Mengenal-gejala-dan-penyebab-gangguan.pdf
    2. Anggraini AP. Memahami Tanda Gangguan Kesehatan Mental dan Cara Menanganinya Halaman [Internet]. Kompas.com. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://health.kompas.com/read/2020/10/17/181500668/memahami-tanda-gangguan-kesehatan-mental-dan-cara-menanganinya?page=all
    3. Virdhani MH. Ketahui 7 Penyebab Seseorang Bisa Alami Gangguan Mental [Internet]. JawaPos.com. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://www.jawapos.com/kesehatan/11/10/2020/ketahui-7-penyebab-seseorang-bisa-alami-gangguan-mental/
    4. Family Health Service. Kesehatan Mental Prapersalinan [Internet]. Fhs.gov.hk. 2021 [Diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://www.fhs.gov.hk/english/other_languages/bahasa_indonesia/women_health/postnatal_care/30098.html
    Read More
  • Kesehatan mental adalah kondisi seseorang mampu menyadari potensi yang ada pada dirinya, mampu untuk mengatasi rintangan hidup normal dalam berbagai situasi hidup, mampu bekerja produktif dan berkontribusi kepada lingkungan sekitarnya. Mengutip slogan yang digunakan oleh WHO, “there is no health without mental health” artinya kesehatan mental perlu diperhatikan dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Hal ini […]

    14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak

    Kesehatan mental adalah kondisi seseorang mampu menyadari potensi yang ada pada dirinya, mampu untuk mengatasi rintangan hidup normal dalam berbagai situasi hidup, mampu bekerja produktif dan berkontribusi kepada lingkungan sekitarnya. Mengutip slogan yang digunakan oleh WHO, “there is no health without mental health” artinya kesehatan mental perlu diperhatikan dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Hal ini bertujuan agar terjaganya keseimbangan antara diri sendiri, orang lain, dan lingkungan masyarakat.

    kesehatan mental pada anak

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    WHO mengatakan ada sekitar 450 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan mental dengan jumlah kasus pada anak-anak adalah 20% (O’Reilly, 2015). Seiring dengan bertambahnya jumlah kasus dari tahun ke tahun, sangat penting untuk terus mengembangakan pengetahuan terkait kesehatan mental anak-anak dan remaja. Hal tersebut dikarenakan dapat memengaruhi masa depan mereka sebagai individu dan berdampak sosial terhadap keluarga serta lingkungan masyarakat.

    Kesehatan mental yang buruk pada anak dapat berdampak lebih buruk pada prognosis (prediksi perbaikan dan kesembuhan) mereka, rentan akan gangguan perilaku dan psikologis, memberikan stigma negatif, juga terhambat dalam mendapat akses layanan kesehatan dan Pendidikan. Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk lebih mengamati proses perkembangan anak.

    Masalah kesehatan mental pada anak dapat dikategorkan sebagai berikut:

    1. Emosi

    Anak kurang mampu dalam menilai, membedakan, mengelola, serta mengekspresikan emosi yang ia rasakan. Selalu merasa sedih, pemurung, menarik diri, stress, bersikap khawatir dan cemas berlebihan, serta merasa tidak bahagia. Ketika ia ingin mengungkapkan emosinya, justru akan menangis dan berteriak berlebihan.

    1. Perilaku

    • Sulit untuk bangun tidur, pola tidur yang berantakan, gangguan pada pola makan, bersikap tidak jujur, memberontak, hingga melanggar aturan.
    • ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) atau gangguan perilaku hiperaktif akibat kurangnya perhatian yang mereka dapatkan.
    • Conduct Disorder,gangguan pada perilaku dan emosi serius, sehingga anak melakukan kekerasan dan sulit diatur.
    1. Perkembangan

    Pemasalahan ini sangat berkaitan dengan proses tumbuh kembang anak. Beberapa diantaranya dapat diamati dari faktor kognisi dan atensi nya.

    • Faktor kognisi berkaitan dengan masalah kecerdasan.
    • faktor atensi merupakan pusat dari sumber daya mental yang meningkatkan proses kognitif dari tugas-tugas, seperti meraih mainan, menendang bola, hingga menyanyi.

    Umumnya anak-anak memiliki ruang lingkup atensi yang terbatas. Oleh karena itu, hanya beberapa saja dari informasi yang sanggup mereka perhatikan. Biasanya atensi akan berkembang mengikuti usia dan kegiatan anak.

    1. Autisme

    anak-anak yang mengalami kesulitan bersosialisasi, tingkah laku dan cara berbicara yang kurang normal. Anak autisme biasanya sibuk dengan dunianya sendiri, sulit fokus dan berinteraksi dengan orang lain, karena mereka hanya fokus pada apa yang mereka sukai.

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma dan Depresi

    1. Retardasi Mental

    Penyakit keterbelakangan mental atau biasa disebut denga oligofrenia ini terjadi akibat gangguan pada perkembangan kecerdasan dan mental anak yang tidak sesuai dengan usia sebenarnya. Reterdasi mental terjadi  karena adanya proses abnormal di otak sehingga terjadi infeksi, racun, trauma, dan gen. hal tersebut bisa dilihat dari sikap anak dan juga IQ nya.

    1. Diseleksia

    Diseleksia dapat ditandai dengan sulitnya seorang anak dalam membaca ataupun menulis huruf dengan teratur dan berurutan. Kurangnya kemampuan dalam membedakan atau membaca susunan huruf dengan benar di usia yang matang. Gangguan ini disebabkan informasi yang diteria oleh otak sedikit berbeda.

    1. Bipolar

    Gangguan bipolar terjadi karena adanya perubahan mood secara ekstrem tanpa adanya sebab yang jelas. Gangguan ini sangat membahayakan, karena akan menyebabkan serang anak akan merasa terlalu senang kemudian menjadi terlalu sedih hingga terpuruk, depresi, dan muncul keinginan untuk bunuh diri tanpa ada sebab yang jelas.

    Bipolar dapat ditangani dengan terapis dan metode psikologi lainnya.

    1. Skizofrenia

    Skizofrenia adalah penyakit mental akut yang menyebabkan seorang anak kehilangan kemapuan untuk memahami sesautu yang sedang terjadi merupakan hal nyata, realistis, atau tidak. Penyakit ini banyak menyerang anak usia tanggung hingga usia 20 tahun.

    1. Somatoform

    Somatoform terjadi akibat adanya ilusi yang mereka ciptakan sendiri. Penyakit mental ini membuat si penderita berhalusinasi marasa amat kesakitan dibagian tubuhnya, walaupun sebenarnya ia sehat dan tidak menderita apapun.

    Baca Juga: Waspada Bahaya Narsistik di Medsos!

    1. Sindrom gender dan seksual

    Gangguan mental ini bisa muncul sejak kecil atau sejak anak mulai bersosialisasi. Jika semakin dibiarkan, gangguan mental ini akan semakin menjadi ketika dewasa dan akan menyebabkan si penderita salah pergaulan hingga berperilaku menyimpang diluar batasan norma dan agama.

    1. Sindrom respon stres

    Seseorang yang memiliki sindrom ini biasanya akan merasakan gejala seperti depresi, mudah menangis, merasa putus asa, dan kehilangan minat dalam kegiatan apapun. Mereka yang mengalami sindrom ini umumnya dampak dari hal yang tidak diinginkan, seperti perceraian, bencana alam, maupun kematian seseorang

    1. Disosiatif

    Gangguan disosiatif merupakan gangguan pada kejiwaan yang disebabkan adanya trauma hebat pada masa kanak-kanak, penyiksaan fisik, pelecehan seksual, cemas berlebih akibat munculnya ingatan yang menyakitkan . Kondisi ini ditandai oleh hilangnya sebagian atau seluruh komponen normal dari ingatan masa lalu, dan lemah pengendalian gerakan tubuh. Gangguan disosiatf dapat ditangani dengan mengikuti terapi kesenian, terapi kognitif, dan terapi psikonalis.

    1. Psikopat

    Psikopat merupakan gangguan mental yang paling berbahaya. Si penderita biasanya berprilaku antisosial dan tida memiliki rasa empati. Kemungkinan penyebab dari seseorang yang menderita psikopat berasal dari adanya banyak faktor, seperti genetika, lingkungan sekitar, dan kepribadian.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    1. Antisosial personality

    Antisosial personality merupakan gangguan kepribadian disosial, dan disebabkan oleh adanya perbedaan yang ekstrem antara perilaku dan norma sosial yang berlaku. Penderita gangguan seperti ini biasanya memiliki sikap pandai bebicara, kepercayaan diri tinggi, tidak jujur, berprilaku kasar, kurang empati impulsive, dan tidak ertanggung jawab atas perbuatannya.

    Itulah mengenai 14 masalah kesehatan mental pada anak yang perlu Sahabat Sehat ketahui. Apabila Sahabat butuh informasi lebih dalam mengenai kesehatan mental pada anak dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. [Internet]. Repository.ubaya.ac.id. 2021 [cited 2 February 2021]. Available from: http://repository.ubaya.ac.id/35835/1/Kesehatan%20Mental%20Anak%20dan%20Remaja%20-%20Buku%20Ajar-part.pdf
    2. Media K. Tak Hanya Orang Dewasa, Anak Remaja Pun Bisa Mengalami Gangguan Mental Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 2 February 2021]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/23/191950120/tak-hanya-orang-dewasa-anak-remaja-pun-bisa-mengalami-gangguan-mental?page=all
    3. Media K. Kenali 15 Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 2 February 2021]. Available from: https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/12/17325821/kenali-15-tanda-gangguan-kesehatan-mental-pada-anak?page=all
    4. Iqbal M. Direktori Psikologi: Gangguan Disosiatif [Internet]. Pijar Psikologi. 2021 [cited 2 February 2021]. Available from: https://pijarpsikologi.org/direktori-psikologi-gangguan-disosiatif/
    5. [Internet]. Repository.uma.ac.id. 2021 [cited 2 February 2021]. Available from: http://repository.uma.ac.id/bitstream/123456789/1605/5/098600193_file5.pdf
    6. Penyebab Psikopat: Definisi, Gejala, Tanda | Ciputra Hospital [Internet]. Rumah Sakit Terbaik Berstandarisasi Internasional | Ciputra Hospital. 2021 [cited 2 February 2021]. Available from: https://www.ciputrahospital.com/penyebab-psikopat-definisi-gejala-tanda/
    Read More
  • Dampak Buruk Bullying pada Kesehatan Mental Remaja

    Bullying merupakan suatu perilaku dengan keinginan untuk melakukan kekerasan dan menyakiti orang lain sehingga menyebabkan seseorang dalam situasi tidak meyenangkan, tidak nyaman dan tersakiti, biasanya perbuatan ini dilakukan secara berulang.

    kesehatan mental remaja

     

    Baca Juga: Mengenai Kesehatan Mental di Indonesia

    Mereka yang mendapatkan perlakuan bullying akan memiliki kenangan buruk yang tidak terlupakan. Beberapa para ahli menyimpulkan, bahwa perilaku bullying merupakan perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan secara terus menerus dengan maksud menyakiti orang lain. Bullying biasa ditemukan di lingkungan sekolah dan dilakukan secara perorangan maupun perkelompok.

    Perilaku bullying sudah seharusnya memperoleh perhatian istimewa oleh para praktisi Pendidikan. Jika terus dibiarkan, dampak dari perilaku bullying ini akan semakin fatal. Bahkan seorang anak dapat melakukan aksi nekat seperti bunuh diri akibat mendapatkan perlakuan bullying.

    Macam-macam bentuk bullying

    1. Fisik

    Bentuk bullying ini pada umumnya menggunakan kekerasan fisik pada korbannya, sehingga perbuatan bullying ini paling mudah untuk dikenali. Bullying seperti ini biasanya berupa pukulan, dorongan, tendangan, tinjuan, maupun tamparan yang dilakukan oleh pelaku kepada tubuh ataupun barang milik korban.

    Dalam beberapa kasus, pelaku bullying seperti ini biasanya memiliki postur tubuh yang lebih besar dari korban dan mereka melakukannya secara kelompok. Tujuannya adalah agar pelaku dapat mengontrol dan mengintimidasi kehidupan korbannya. Jika perbuatan pelaku terus dibiarkan, makan ia akan melakukan perbuatan kriminal yang lebih parah.

    2. Verbal

    Bullying verbal merupakan bentuk kekerasan melalui lisan maupun tulisan. Umumnya pelaku bullying verbal memiliki maksud untuk mengintimidasi dengan mengejek, menghina, memfitnah dan mengancam korban. Bentuk Bullying seperti ini merupakan perilaku penindasan yang sangat mudah dilakukan dan paling sering ditemui, juga sebagai awal dari bentuk bullying yang lebih parah.

    Bentuk bullying ini berfokus pada kepribadian, bentuk tubuh, penampilan, pola hidup, kecerdasan, warna kulit, ras, suku, maupun tingkat social ekonomi seseorang. Pelaku bullying ini pada umumnya memiliki rasa rendah percaya diri, sehingga mereka perlu mengintimdasi orang untuk meningkatkan kelas sosial mereka.

    3. Emosional

    Dalam perilaku bullying ini, umumnya pelaku langsung menyerang korban tingkat emosional. Pelaku bertujuan untuk melemahkan harga diri korban. Seperti melakukan cibiran, tawa, desahan, mata beringas dan bahasa tubuh mengejek. Perbuatan pelaku bullying ini seringkali yang paling sulit dikenali dari luar, seringkali diabaikan.

    4. Cyberbullying

    Cyberbullying merupakan bentuk penindasan yang paling umum ditemukan di era teknologi sekarang. Pelaku penindasan ini menggunakan teknologi untuk menyerang korbannya. Dalam hal ini sosial media berperan penting dalam meningkatnya kasus cyberbullying, terutama di kalangan remaja hingga dewasa.

    Beberapa bentuk dari cyberbullying ini berupa rekaman video ancaman, pencemaran nama baik, ataupun komentar-komentar kasar di sosial media. Tujuannya adalah untuk membuat orang lain merasa tidak nyaman dan melemahkan mental korbannya.

    5. Bullying Mental

    Bentuk bullying ini adalah bentuk penindasan yang paling berbahaya karena sulit dilihat oleh mata dan telinga jika kita tidak hati-hati mendeteksinya. Penindasan secara diam-diam dan diluar jangkauan pengelihatan kita, seperti pandangan sinis, pandangan penuh ancaman, mengolok di depan umum, menudh, membentak, menggosipkan, mencibir, hingga memlototi.

    Faktor-faktor penyebab bullying

    1. Faktor Internal

    Pada faktor ini, aspek pemicu berasal dari dalam diri pelaku, seperti masalah psikologis. Masalah psikologis semacam gangguan kepribadian maupun emosi dapat diakibatkan oleh berbagai macam masalah yang dialami oleh si pelaku. Umumnya perilaku mereka dipengaruhi oleh toleransi sekolah atas tindakan bullying, sikap guru, serta aspek area lain seperti lingkungan keluarga.

    Minimnya  kehangatan dan tingkat kepedulian keluarga terutama orang tua yang rendah terhadap anaknya, pola asuh orang tua yang keras menjadikan anak akrab dengan Susana mengecam, serta minimnya pengawasan dari orang tua menjadi resiko dari dalam keluarga.

    2. Faktor eksternal

    Aspek eksternal yang menyebabkan perilaku bullying menjadi beragam, seperti pengaruh dari lingkungan (teman sebaya), keluarga yang tidak harmonis, aspek ekonomi keluarga, dan tayangan televisi yang kurang mendidik, serta pengaruh kecanggihan teknologi juga berperan penting dalam perilaku negatif ini.

    Baca Juga: 5 Gangguan Jiwa Paling Sering Dialami Kawula Muda

    Pelaku bullying ini beralasan bahwa mereka merasakan kepuasan apabila ia “berkuasa” diantara teman sebayanya. Bukan hanya itu, tawa teman sekelompok yang mendukungnya saat melakukan bullying terhadap korban memberikan kekuatan kepada si pelaku. Status sosial yang tinggi maupun yang rendah juga bisa menjadi pemicu mereka melakukan perbuatan bullying demi mendapatkan perhatian dan pengahagaan dari teman sebayanya.

    Dampak bullying

    Dampak bullying terhadap kesehatan mental berupa trauma terhadap pelaku. Rasa khawatir dan malu akibat perilaku bullying kerapkali membuat korban menutupi apa yang terjadi kepadanya. Mereka akan depresi dan memiliki gangguan kecemasan, serta meningkatnya perasaan sedih dan kesepian.

    Efek dari bullying sering membekas jangka Panjang hingga usia dewasa. Akibatnya, memori ketika di bullying akan sangat menyiksa korban walaupun tidak nampak jelas wujudnya. 

    Dampak jangka Panjang yang dirasakan korban, antara lain:

    1. Kondisi kesehatan mental dan fisik dari korban bullying usia 50 tahun, cenderung lebih buruk dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami
    2. Keadaan psikologis mereka dibawah normal orang seusianya yang tidak pernah mengalami
    3. Korban bullying memeiliki kualitas hidup yang rendah dan tidak puas dengan hidupnya.

    Dampak bullying jangka pendek, antara lain:

    1. Masalah psikologis
    • Gangguan kecemasan hingga depresi
    • Selalu takut untuk melakukan bermacam hal
    • Hilangnya tingkat kepercayaan diri
    • Timbul gejala psikosomatris, seperti: sakit perut dan sakit kepala ketika hendak masuk sekolah.
    1. Gangguan tidur
    • Sulit untuk tidur
    • Sering mimpi buruk akibat dari bullying yang dialaminya
    • Takut untuk menjalai hari esok
    1. Pikiran untuk mengakhiri hidup
    • Depresi
    • Merasa hidupnya tidak berguna
    • Keinginan dan mencoba untuk melakukan bunuh diri
    1. Menjadi introvert
    • Menutup diri dari lingkungan sekitar
    • Merasa kesepian
    • Merasa sendirian
    • Merasa tidak dipedulikan
    • Merasa terabaikan

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma dan Depresi

    Itulah mengenai dampak bullying pada kesehatan mental remaja yang perlu Sahabat ketahui. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih mengenai kesehatan mental remaja dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. [Internet]. Lib.unnes.ac.id. 2021 [cited 4 February 2021]. Available from: http://lib.unnes.ac.id/33405/1/1401414449__Optimized.pdf
    2. [Internet]. Etheses.iainponorogo.ac.id. 2021 [cited 4 February 2021]. Available from: http://etheses.iainponorogo.ac.id/8256/1/BAB%20I-BAB%20VI.pdf
    3. Prasetyo J. Dampak Psikologis Remaja Korban Bullying [Internet]. Academia.edu. 2021 [cited 4 February 2021]. Available from: https://www.academia.edu/7313182/Dampak_Psikologis_Remaja_Korban_Bullying
    4. Manurung H. PENGARUH BULLYING TERHADAP KESEHATAN MENTAL REMAJA [Internet]. Academia.edu. 2021 [cited 4 February 2021]. Available from: https://www.academia.edu/44945253/PENGARUH_BULLYING_TERHADAP_KESEHATAN_MENTAL_REMAJA
    5. Types of Bullying: What Parents Need to Know [Internet]. Healthline. 2021 [cited 4 February 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health/parenting/types-of-bullying
    Read More
  • Banyak cara untuk menghilangkan stres. Selain dengan berolahraga, menonton film, dan membaca buku, menghilangkan stres dan depresi juga dapat dengan berbelanja. Apalagi di masa pandemi yang mengharuskan semua aktivitas berada di rumah, berbelanja online menjadi pilihan yang tepat agar tidak terkena stres berlebihan. Lalu mengapa belanja online bisa menjadi salah satu cara untuk menghadapi stres? […]

    Manfaat Belanja Online untuk Menghilangkan Stres Karena Pandemi Covid-19

    Banyak cara untuk menghilangkan stres. Selain dengan berolahraga, menonton film, dan membaca buku, menghilangkan stres dan depresi juga dapat dengan berbelanja. Apalagi di masa pandemi yang mengharuskan semua aktivitas berada di rumah, berbelanja online menjadi pilihan yang tepat agar tidak terkena stres berlebihan. Lalu mengapa belanja online bisa menjadi salah satu cara untuk menghadapi stres?

    manfaat belanja online

    Baca Juga: Berikut Trik Anti Rugi Belanja Online yang Perlu Dicoba

    Manfaat Belanja Online untuk Menghilangkan Stres

    Dilansir dari Cleveland Clinic, ada beberapa hal yang membuat berbelanja menjadi suatu aktivitas menyenangkan di kala stres terutama di saat pandemi. Apa saja hal-hal itu? Yuk, Sahabat Sehat mari simak bersama di bawah ini:

    Meredakan Perasaan Sedih

    Belanja online mempunyai manfaat pada tubuh yaitu bisa meredakan perasaan sedih yang ditimbulkan dari stres dan depresi. Hal ini berdasarkan sebuah studi tahun 2014 dari Journal of Consumer Psychology. Jurnal tersebut mengungkapkan bahwa kesedihan umumnya berkaitan dengan perasaan bahwa pengendalian situasi adalah hasil dalam kehidupan daripada diri kita sendiri. Pilihan dan hasil ini dapat memulihkan perasaan dan emosi pribadi ketika berbelanja termasuk perasaan sedih.

    Studi lain juga menunjukkan bahwa membeli barang yang disukai secara pribadi dapat 40 kali lebih efektif memberikan rasa kendali daripada tidak berbelanja sama sekali. Dapat diartikan bahwa ada semacam pencapaian pribadi yang positif.

    Mengalihkan Diri dari Rasa Kecemasan

    Hal lain yang membuat belanja online baik untuk tubuh dan kesehatan mental adalah dapat mengalihkan diri rasa kecemasan karena tidak bisa berbuat banyak hal akibat pandemi. Hal ini karena adanya visualisasi produk yang cukup bagus saat Sahabat berbelanja online. Visualisasi berupa tampilan dan warna-warni yang berpadu menciptakan semacam pengalaman indrawi yang cukup imajinatif untuk dapat mengalihkan diri dari realita.

    Baca Juga: Tips Aman dari Corona Saat Belanja Online

    Hal tersebut tentunya dapat menimbulkan rasa kepuasan. Secara ilmiah, hal ini juga dikarenakan oleh hormon dopamin yang dilepaskan oleh tubuh bahkan sebelum Sahabat melakukan pembelian. Dopamin inilah yang memengaruhi pikiran di otak sehingga membuat perasaan lebih baik. Bahkan, Sahabat hanya dengan window shopping saja bisa memberikan dampak yang positif pada suasana hati. Dopamin sendiri dapat meningkatkan keinginan Sahabat untuk terus mencari-cari hal-hal yang membuat diri lebih baik.

    Memberikan Mood yang Baik

    Manfaat belanja online lainnya yang dapat menghilangkan stres adalah dapat memberikan mood yang baik. Mood yang diciptakan oleh dopamin ini tercipta tidak hanya ketika memilih barang dan mengambil kerjaan, tetapi juga ketika Sahabat menelusuri barang-barang yang terlihat menarik meskipun pada akhirnya tidak membeli barang tersebut.

    Produk Terkait: Promo Prosehat

    Mood dari Dopamin ini juga terlihat saat Sahabat menunggu paket belanja online tiba. Hal itu dikarenakan juga adanya ketidakpastian saat pengiriman barang. Sahabat membayangkan tampilan barang yang dikemas tersebut sehingga Dopamin muncul, dan Sahabat merasa gembira apalagi ketika paket tiba.

    Kemungkinan Terkena Compulsive Shopping Disorder

    Meski kenyataannya memberikan manfaat yang baik untuk tubuh terutama jika dikaitkan dengan kesehatan mental, Sahabat tentunya harus menghindari kecanduan berbelanja yang disebut dengan compulsive shopping disorder. Ciri-cirinya adalah tidak dapat menolak pembelian barang yang dibutuhkan, mempunyai keasyikan karena belanja yang tidak terkontrol, serta dapat menghabiskan banyak waktu untuk terus-menerus melihat barang yang diinginkan. Jika dibiarkan hal ini tentu akan memengaruhi kondisi finansial Sahabat.

    Baca Juga: Bijak Berbelanja Obat Melalui Aplikasi Online

    Bagaimana Cara Mengatasinya?

    Cara mengatasi kecanduan berbelanja berlebihan secara online ini adalah sebagai berikut:

    • Uninstall aplikasi belanja di gadget
    • Unfollow akun belanja di media sosial
    • Berhenti berlangganan atau unsubscribe marketing newsletter
    • Hapus aplikasi mobile banking di gadget
    • Hapus data kartu kredit di aplikasi belanja
    • Memberlakukan masa tunggu untuk berbelanja
    • Buatlah rekening belanja khusus

    Itulah mengenai manfaat berbelanja online bagi kesehatan mental terutama di masa pandemi yang mengakibatkan stres, depresi, dan cemas karena harus di rumah saja. Meski begitu, Sahabat jangan lantas menjadi impulsif dengan kalap berbelanja sehingga melupakan hal-hal yang diprioritaskan. Akibatnya, berkomplikasi pada kondisi finansial.

    Baca Juga: Tips Aman Berbelanja Online

    Untuk belanja online di tengah pandemi ini Sahabat bisa berbelanja produk-produk kesehatan di Prosehat termasuk layanan tes Covid-19 ke rumah serta untuk imunitas tubuh seperti vitamin C dan Vitamin E. Tentunya dengan promo-promo yang tidak akan menguras kantong sehingga Sahabat bisa berbelanja dengan puas dan aman. Untuk berbelanja ini, Sahabat bisa mengakses Prosehat melalui website dan aplikasi. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Why Retail “Therapy” Makes You Feel Happier [Internet]. Health Essentials from Cleveland Clinic. 2021 [cited 26 January 2021]. Available from: https://health.clevelandclinic.org/retail-therapy-shopping-compulsion/
    2. Why Compulsive Shopping Disorder Needs to Be Taken More Seriously [Internet]. Verywell Mind. 2021 [cited 26 January 2021]. Available from: https://www.verywellmind.com/what-is-compulsive-shopping-disorder-2510592#:~:text=Research%20has%20shown%20that%20compulsive,at%20least%2
    3. Coba 7 Tips Mengatasi Kecanduan Belanja Online [Internet]. LIFE GUIDE. 2021 [cited 26 January 2021]. Available from: http://avrist.com/lifeguide/2019/11/21/7-tips-mengatasi-kecanduan-belanja-online/
    Read More
  • Dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Penularan virus yang begitu cepat membuat orang menjadi khawatir dan cemas. Begitu pula dampaknya, mulai dari segi ekonomi, sosial, agama, dan juga psikologis. Nah, dari segi psikologis dapat dilihat kesehatan mental di masa pandemi. Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi? Pandemi menimbulkan kecemasan dan […]

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi

    Dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Penularan virus yang begitu cepat membuat orang menjadi khawatir dan cemas. Begitu pula dampaknya, mulai dari segi ekonomi, sosial, agama, dan juga psikologis. Nah, dari segi psikologis dapat dilihat kesehatan mental di masa pandemi.

    kesehatan mental di masa pandemi

    Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi?

    Pandemi menimbulkan kecemasan dan kegelisahan dalam masyarakat dan keadaan ini harus secepatnya diatasi. Kita tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Sehingga rasa cemas sebaiknya segera diatasi karena kecemasan dapat membuat imun seseorang menjadi turun dan mudah terpapar virus.

    Pandemi menyebabkan orang yang biasanya bekerja dan beraktivitas di luar rumah, sekarang semua hal harus dilakukan dari rumah. Keadaan yang dikhawatirkan dari kondisi pandemi ini, selain penyakit Covid, juga penyakit kesehatan mental karena perubahan yang terjadi secara drastis pada seseorang dapat menyebabkan orang tersebut gampang terkena gangguan mental.

    Kondisi pandemi dapat mengancam kesehatan mental semua orang. Namun, ada beberapa kelompok yang rentan terkena stres antara lain lansia, orang yang memiliki penyakit kronis, anak-anak, remaja, ibu hamil, dan para tenaga kesehatan (nakes) yang merawat pasien Covid-19.

    Selain itu,  ada juga yang berisiko tinggi terkena penyakit kesehatan mental, yaitu orang yang sebelumnya pernah memiliki riwayat gangguan mental, termasuk juga mereka yang bermasalah dengan penggunaan narkoba. Berikut penjelasan tentang kesehatan mental, yuk kita simak.

    Pengertian Kesehatan Mental

    Kesehatan mental adalah salah satu kajian ilmu jiwa kejiwaan yang sudah dikenal sejak abad ke-19 dan kesehatan mental adalah suatu keadaan emosional serta psikologis yang baik. Kesehatan mental sendiri pada dasarnya harus dirawat keberadaannya agar mental tetap sehat.

    Pengertian anxiety (cemas)

    Anxiety adalah suatu perasaan yang tidak tentu yang kemudian perasaannya berisi ketakutan serta keprihatinan akan sesuatu di masa mendatang. Kecemasan juga merupakan suatu perasaan subjektif, mengenai ketegangan mental. Dan hal menggelisahkan tersebut muncul sebagai reaksi dari ketidakmampuan mengatasi sesuatu atau bisa jadi karena rasa tidak aman.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah, dan Tanda-tandanya

    Gejala gangguan kesehatan mental

    Gejala gangguan jiwa ringan (cemas, depresi, psikosomatis, dan kekerasan):

    – Perasaan khawatir

    – Firasat buruk

    – Takut akan pikirannya sendiri

    – Mudah tersinggung

    – Merasa tegang

    – Merasa tidak tenang

    – Gelisah

    – Mudah terkejut

    – Takut sendirian, takut pada keramaian, dan banyak orang

    – Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkah

    – Gangguan konsentrasi dan daya ingat

    -berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, dan sakit kepala

    Gejala gangguan kesehatan mental berat (skizofernia, manik depresif, dan psikotik lainnya)

    – Bicaranya tidak nyambung

    – Sering berperilaku menyimpang

    – Tidak bisa mengontrol diri, sehingga terkadang mengamuk

    Namun, gejala-gejala yang disebutkan di atas belum tentu dirasakan oleh semua orang yang memiliki gangguan kesehatan mental ya, Sahabat Sehat. Karena setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Hal yang harus dilakukan guna menjaga kesehatan mental di masa pandemi

    Agar Sahabat semua tetap waras dan dapat beraktivitas seperti biasa pada masa pandemi, ada beberapa tips yang dapat dilakukan:

    – Penyesuaian diri harus dilakukan dengan semua yang terjadi di lingkungan sekarang. Melakukan penyesuaian berguna untuk mendapat keharmonisan dan keselarasan, antara tuntutan lingkungan dengan tuntutan di dalam diri.

    – Membangun mindset atau motivasi. Kesehatan mental yang baik harus dibangun melaui mindset dan motivasi, agar pikiran yang ada tidak menimbulkan stres yang akan mengganggu kesehatan mental.

    – Menjalankan hobi. Menjalani hobi sebagai pelarian dari kesibukan dan juga pemikiran setiap hari yang menumpuk. Nantinya, melaukan hobi akan meningkatkan mood dan menjaga kesehatan mental kita. Makanya, banyak di masa sekarang, orang yang memiliki hobi baru seperti berkebun ataupun berternak. Banyak orang yang memiliki waktu luang, yang akhirnya dimanfaatkan dengan hal-hal baru. Ini menunjukkan, banyak orang yang sudah pintar memanage hidupnya di masa pandemi.

    – Menyaring informasi, karena informasi di tengah pandemi juga nyatanya bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Di era sekarang, yaitu era digital 4.0, media sosial menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kecemasan seseorang. Suatu berita yang menjelaskan tentang wabah, bisa menyebabkan kecemasan dan respon yang negatif. Dan ingat, tak semua berita atau informasi sifatnya benar. Sehingga, Sahabat Sehat harus pintar dalam menyaring informasi di masa pandemi ini.  Sahabat harus dapat memilih media sosial ataupun platform mana yang bisa menyediakan serta memelihara komunikasi yang benar, akurat, dan jujur. Sehingga tidak mudah terhasut oleh berita atau informasi yang tidak jelas dan hoax. Hal itu, juga melindungi kesehatan mental kalian.

    Jadi, diharapkan Sahabat Sehat agar tetap menjaga kesehatan mentala di masa pandemi ini. Mulai bergantunglah pada diri sendiri, harus lebih peduli akan kesehatan mental. Karena intinya, setiap manusia bebas dalam menentukan pilihannya.

    Kesimpulan yang dapat diambil adalah pandemi ini memang masalah global, yang dirasakan seluruh dunia, serta tida bisa dihindari. Tidak hanya kesehatan fisik saja yang diserang, tetapi juga kesehatan mental. Solusi yang paling baik dan paling mendasar satu-satunya adalah memberikan stigma positif kepada diri sendiri.

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbeban Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir

    Sahabat Sehat bisa menghadapi pandemi ini dengan cara tidak terpancing dengan kepanikan atau juga kecemasan serta ketakutan yang berlebih. Khawatir wajar, namun tidak perlu berlebih. Karena, apabila hal tersebut ada di diri secara berlebih akan sangat mempengaruhi kesehatan mental.

    Pengaruh dari kecemasan, kepanikan, dan ketakutan yang berlebih bukan hanya akan membawa dampak buruk bagi diri sendiri. Namun, akan berpengaruh kepada orang dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perlu adanya strategi dan kemampuan dalam memahami tahapan menyelesaikan kesehatan mental saat pandemi. Yang tentunya dengan solusi lebih baik. Agar solusi-solusi yang diberikan dapat terealisasi dengan baik. Apabila Sahabat membutuhkan informasi lebih mengenai kesehatan mental di tengah pandemi dan produk-produk kesehatan yang berkaitan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Salsabila NA. Menjaga Kesehatan di Masa Pandemi. [Internet]. [cited 21 January 2021]. Available from: https://psyarxiv.com/rd4zf/
    2. Fakhriyani DV. KESEHATAN MENTAL. 2019. Jakarta: Duta Media Publishing.
    3. Fitria L, Neviyarni, Netrawati, Karneli Y. Cognitive Behavior Therapy Counseling Untuk Mengatasi Anxiety Dalam Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan dan Konseling. 2020;10:1.
    4. Swarahapsari M. Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemi Covid-19. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental. 2021 [cited 21 January 2021]. Available from: https://www.researchgate.net/publication/346646530_Pentingnya_Menjaga_Kesehatan_Mental_saat_Pandemi_COVID-19
    5. Covid-19 dalam ragam tinjauan dan perspektif. Santoso DH, santoso A. Editor. 2020. Yogyakarta: MBridge Press. [cited 21 January 2021]. Available from: http://lppm.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/07/BUKU-RAPID-RESEARCH-COVID-UPDATE-1.pdf
    6. [Internet]. Pustaka.unpad.ac.id. 2021 [cited 26 January 2021]. Available from: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/12-Mengenal-gejala-dan-penyebab-gangguan.pdf
    Read More

Showing 11–20 of 21 results

Chat Asisten ProSehat aja