Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ kehamilan”

  • Sekarang ini pemerintah banyak mempromosikan perang terhadap berbagai penyakit yang mudah menular atau menjadi wabah. Salah satunya adalah Rubella yang mengkhawatirkan banyak orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa dan tentu saja ibu hamil yang bukan hanya mementingkan kesehatan sendiri tetapi calon bayi yang ada diperutnya. Banyaknya masalah yang terjadi akibat ibu hamil yang terinfeksi Rubella […]

    Rubella dan Kehamilan serta Dampaknya pada Janin

    Sekarang ini pemerintah banyak mempromosikan perang terhadap berbagai penyakit yang mudah menular atau menjadi wabah. Salah satunya adalah Rubella yang mengkhawatirkan banyak orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa dan tentu saja ibu hamil yang bukan hanya mementingkan kesehatan sendiri tetapi calon bayi yang ada diperutnya.

    Banyaknya masalah yang terjadi akibat ibu hamil yang terinfeksi Rubella dan berimbas pada bayi menyebabkan banyak orang yang mencoba mencegah atau menghindari rubella dengan berbagai cara. Namun, beberapa ibu hamil juga masih ada yang belum sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan khususnya dari Rubella. Berikut ini akan kita bahas secara gamblang.

    Bahaya Rubella atau Campak Jerman bagi ibu hamil

    Rubella bisa dikategorikan penyakit yang berbahaya bagi ibu hamil serta janinnya, karena dapat menimbulkan cacat lahir. Rubella atau campak jerman termasuk virus yang paling berbahaya dan mematikan, umumnya menyerang ibu hamil pada 12 minggu pertama atau trimester pertama.

    Selain itu, ada juga penyakit yang disebut Congenital Rubella Syndrome (CRS), kondisi ini terjadi pada janin yang ada dalam perut atau rahim ibu yang terinfeksi virus tersebut. CRS bisa mempengaruhi kondisi di segala bagian tubuh bayi yang sedang berkembang. Tentu menjadi ketakutan sendiri jika yang terkena adalah bagian otak atau tubuh lain.

    Cacat lahir yang paling umum dari CRS dapat mencakup:

    • Gangguan pendengaran
    • katarak
    • penyakit jantung bawaan
    • keterlambatan perkembangan

    Tanda dan gejala

    Kenali gejala penyakit ini bila Sobat sangat khawatir mengenai keselamatan anak yang dikandung. Memang beberapa gejala hampir serupa dengan penyakit lainnya. Namun, Sobat bisa menilai dari tanda khusus rubella yang tidak akan muncul pada penyakit lain, yakni ruam merah yang sudah pasti muncul pertama kali.

    • Ruam merah

    Untuk anda yang terjangkit rubella, masalah yang pertama muncul adalah ruam merah khususnya di bagian wajah serta leher. Selain itu rubella akan menyebar ke semua bagian tubuh dan berproses selama 3 hari gejala lainnya kemudian akan menyusul atau muncul. Diantaranya adalah :

    • demam ringan (<39°C) yang sulit untuk terun
    • adanya mual dan juga muntah meskipun tidak salah makan
    • sakit kepala
    • mata mulai memerah dan bengkak
    • Tubuh mulai terasa tidak nyaman, batuk dan nyeri tenggorokan
    • Pembengkakan pada kelenjar getah bening
    • Khusus ibu hamil adanya kondisi tidak nyaman dan kurang sehat pada tubuh serta janin lambat merespon anda. selain itu pegal yang dirasakan berbeda dengan pegal ibu hamil biasanya, karena menyerang berbagai bagian tubuh tidak hanya punggung ataupun kaki.

    Penyebaran Rubella

    Rubella menular melalui percikan cairan penderita ketika mereka bersin atau batuk. Bila mengenai wanita hamil, maka besar kemungkinan janin yang dikandung tertular penyakit ini. Pada ibu hamil jika memang sang ibu terkena rubella maka kemungkinan menularkan ke bayinya secara langsung sebesar 90% . Bayi dengan CRS dapat membawa virus selama satu tahun atau lebih. Berdasarkan WHO sendiri angka CSR sangat tinggi di Afrika dan Asia Tenggara.

    Pemerintah menggalakan program vaksin MR atau rubella untuk mengurangi wabah dan kandungan virus rubella di Indonesia. Khususnya mereka yang tinggal di lingkungan padat penduduk dan mudah sekali menular wabahnya. Ibu hamil yang membekali diri dengan banyak nutrisipun tetap bisa terkena masalah tersebut.

    Cara Menghindari dan Menyembuhkan Rubella

    Ada beberapa cara pada ibu hamil untuk menghindari dan juga menyembuhkan rubella agar tidak semakin parah atau tidak terjangkit. Pertama yakni mengonsumsi makanan bergizi khususnya ibu hamil trisemester pertama yang masih mengalami mual dan sulit makan. Nutrisi ibu hamil harus lebih banyak mengingat daya tahan tubuh bekerja untuk dua nyawa.

    Sedangkan virus termasuk masalah penyakit yang banyak ditakuti karena bisa masuk dan menyerang pasien dengan mudah. Ibu hamil harus memperhatikan porsi makan serta kandungan nutrisi apa saja yang ada pada makanan tersebut.

    Selanjutnya adalah istirahat yang cukup pada ibu hamil karena ibu hamil mudah lelah dengan membawa janin yang ada di kandungan tanpa bisa dilepas sedikitpun. Sobat harus bisa mengtur waktu untuk mengistirahatkan tubuh dan kondisi anda. Jika tidak fit dan membiarkan tubuh terlalu lelah, maka berbagai penyakit termasuk virus mudah masuk ke dalam tubuh.

    Pilihan tepat lainnya adalah melakukan vaksin rubella untuk mencegah dan meminimalisir terjangkitnya virus rubella tersebut. Tentu kamu bisa melakukan vaksin rubella di ProSehat yang memberikan layanan vaksinasi ke rumah.

    Namun, semua kembali pada kemauan Sobat dan tekat sebagai ibu yang melindungi janinnya. Rubella yang menyerang ibu hamil berpotensi untuk merugikan dan menularkan kembali pada anak Sobat yang lainnya atau orang disekitarnya. Usahakan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

     

    Read More
  • Pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) sangat disarankan bagi para ibu hamil untuk memonitor kesehatan ibu dan janin dalam kandungan. Kenapa pemeriksaan ini penting? Kapan dan apa saja yang harus diperiksa? Pemeriksaan ini adalah serangkaian pemeriksaan yang dilakukan secara berkala dari awal kehamilan hingga proses persalinan untuk memonitor kesehatan ibu dan janin agar tercapai  kehamilan yang […]

    4 Hal Penting dari Pemeriksaan Kehamilan (Antenatal Care)

    Pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC) sangat disarankan bagi para ibu hamil untuk memonitor kesehatan ibu dan janin dalam kandungan. Kenapa pemeriksaan ini penting? Kapan dan apa saja yang harus diperiksa?

    Pemeriksaan ini adalah serangkaian pemeriksaan yang dilakukan secara berkala dari awal kehamilan hingga proses persalinan untuk memonitor kesehatan ibu dan janin agar tercapai  kehamilan yang optimal. Sementara untuk pemeriksaan antenatal merupakan pemeriksaan rutin menjelang persalinan dan salah satu satu program yang terencana berupa observasi, edukasi, dan penanganan medis pada ibu hamil.

    pemeriksaan kehamilan

    Proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan merupakan tujuan dari pemeriksaan antenatal ini. Belum lagi tujuan lainnya yang tidak kalah penting, yaitu menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan angka kematian bayi dan mendeteksi dini gangguan agar dapat diatasi dengan cepat. Berikut ini 4 hal penting dari Antenatal Care:

    1. Pemeriksaan Kehamilan Pertama

    Pemeriksaan ini dilakukan ketika usia kehamilan Anda antara 0-3 bulan. Pada usia kehamilan muda ini banyak para ibu yang tidak menyadari kehamilannya. Dan untuk pemeriksaan pertama ini diwajibkan dilakukan sebelum usia kehamilan < 12 minggu. Pemeriksaan ini cukup dilakukan sekali dan mungkin berlangsung 30-40 menit. Berikut ini hal-hal yang diperiksa pada pemeriksaan pertama:

    • Riwayat Kesehatan: Anda akan diajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui kelainan genetik, kondisi kesehatan, riwayat kehamilan sebelumnya dan keadaan mental/psikososial Anda.
    • Penentuan Usia Kehamilan: Pada langkah ini akan dilakukan USG transvaginal atau transabdominal untuk memastikan adanya janin dalam kandungan atau dengan menanyakan HPHT (hari pertama haid terakhir) Anda.
    • Pemeriksaan Fisik Secara Umum: Pemeriksaan seperti tekanan darah, berat badan dan pemeriksaan fisik lainnya dilakukan pada step ini.
    • Pemeriksaan Dalam: Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan vagina dan leher rahim Anda.
    • Pemeriksaan Laboratorium: Hal ini dilakukan untuk mengetahui kadar hemoglobin darah, urinalisis (pemeriksaan urin), golongan darah serta rhesus, TORCH dan tes hepatitis.

    Bila terdapat kelainan atau komplikasi dalam pemeriksaan fisik dan laboratorium maka sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis kandungan. Bila tidak terdapat kelainan maka pemeriksaan tetap dapat dilakukan di bidan atau puskesmas.

    2. Pemeriksaan Kehamilan Kedua

    Pemeriksaan yang kedua ini dilakukan saat usia kehamilan antara 4-6 bulan. Normalnya kunjungan kehamilan dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 26 minggu. Pemeriksaan ini hanya berlangsung kurang lebih 20 menit saja. Pemeriksaan yang akan dilakukan meliputi:

    • Anamnesa: Anda akan ditanyakan mengenai kondisi selama kehamilan, keluhan-keluhan yang muncul dan tanda-tanda pergerakan janin.
    • Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan ini berupa pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi fundus uteri (puncak rahim), detak denyut janin dan pemeriksaan fisik menyeluruh serta pemeriksaan dalam bila pada kunjungan pertama tidak dilakukan.
    • Pemeriksaan Laboratorium: Pemeriksaan yang meliputi urinalisis, cek protein dalam urin bila tekanan darah tinggi, gula darah dan hemoglobin terutama bila kunjungan pertama anda dinyatakan anemia. Anda juga bisa melakukan serangkaian pemeriksaan lainnya yang berguna dalam mendeteksi dini kelainan dalam janin misalnya alpha feto protein (AFP), Chorion Villius Sample (CVS), dan amniosintesis.
    • Pemeriksaan Ultrasonografi: Pemeriksaan USG ini berguna untuk mendeteksi kelainan bawaan janin, jumlah janin, pergerakan jantung janin, lokasi plasenta (ari-ari) dan lain-lain.

    3. Pemeriksaan Kehamilan Ketiga

    Pemeriksaan ketiga ini dilakukan saat usia kehamilan mencapai 32 minggu. Pemeriksaan ini mungkin memakan waktu 20 menit dengan komposisi pemeriksaan hampir sama dengan pemeriksaan kedua yaitu:

    • Anamnesa: Anda akan ditanyakan mengenai kondisi selama kehamilan, keluhan-keluhan yang muncul dan tanda-tanda pergerakan janin.
    • Pemeriksaan Fisik: berupa pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi fundus uteri (puncak rahim), detak denyut janin, pemeriksaan Leopold (pemeriksaan kandungan melalui perut) dan pemeriksaan fisik menyeluruh.
    • Pemeriksaan laboratorium: Urinalisis, cek protein dalam urin bila tekanan darah tinggi, gula darah dan hemoglobin.

    4. Pemeriksaan Kehamilan Keempat

    Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan terakhir dan dilakukan pada usia kehamilan antara 32-36 minggu. Pada pemeriksaan ini akan dilakukan pemeriksaan:

    • Anamnesa: Anda akan ditanyakan mengenai kondisi selama kehamilan, keluhan-keluhan yang muncul, pergerakan janin, dan tanda kontraksi rahim.
    • Pemeriksaan Fisik: berupa pemeriksaan tekanan darah, berat badan, tinggi fundus uteri (puncak rahim), detak denyut janin, pemeriksaan Leopold (menentukan letak janin dalam kandungan),  dan pemeriksaan fisik menyeluruh.
    • Pemeriksaan Laboratorium: uinalisis, cek protein dalam urin bila tekanan darah tinggi, gula darah dan hemoglobin terutama bila kunjungan pertama anda dinyatakan anemia. Saat pemeriksaan keempat inilah anda akan mulai mendiskusikan pilihan persalinan yang aman sesuai dengan kondisi kehamilan.

    Referensi:

    • TanyaDok.com: Perlukah Pemeriksaan Rutin Menjelang Persalinan
    • TanyaDok.com: Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan
    Read More
  • Hidup di negara dengan angka penyakit infeksi yang tinggi tentunya merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi penduduk Indonesia, khususnya wanita yang sedang hamil. Untuk itu pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan mutlak dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Banyak yang melupakan hal ini. Padahal banyak sekali manfaat dari melakukan pemeriksaan sebelum pernikahan dan melakukan vaksinasi ibu hamil atau […]

    10 Jenis Vaksinasi Wajib Bagi Calon Ibu Hamil

    Hidup di negara dengan angka penyakit infeksi yang tinggi tentunya merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi penduduk Indonesia, khususnya wanita yang sedang hamil. Untuk itu pemeriksaan kesehatan sebelum pernikahan mutlak dilakukan oleh pasangan yang akan menikah. Banyak yang melupakan hal ini. Padahal banyak sekali manfaat dari melakukan pemeriksaan sebelum pernikahan dan melakukan vaksinasi ibu hamil atau pra kehamilan.

    am_140820_pregnant_influenza_vaccine_800x600

    Salah satu manfaatnya adalah penyakit dan kelainan yang dimiliki oleh pasangan yang akan menikah dapat terdeteksi sehingga penyakit menular yang diidap oleh salah satunya dapat dengan segera ditangani. Sebab dalam pernikahan, seks tak bisa dilepaskan dari risiko tertularnya penyakit menular. Agar hasil lebih optimal, pemeriksaan kesehatan sebaiknya dilakukan satu tahun sebelum pernikahan. Pemeriksaan kesehatan yang mendekati hari pernikahan hanya bisa dipilih oleh pasangan yang rajin melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun.

    Dengan adanya penyakit HIV/AIDS, pernikahan tidak hanya berisiko batal, namun juga bisa mengancam kondisi jiwa pasangan dan anak yang akan dilahirkan. Untuk itu ibu yang pintar perlu melakukan beberapa tes kesehatan pranikah dan kehamilan yang meliputi:

    1. Tes kesehatan umum seperti USG, X-ray, tes laboratorium, dan sebagainya.
    2. Tes penyakit hubungan seksual (PHS).
    3. Tes persiapan kehamilan (TORCH dan lain-lain)
    4. Tes kesuburan
    5. Tes genetika

    Jika tes pra nikah dan kehamilan berhasil dilalui, jangan sampai melewatkan vaksinasi. Dengan melakukan vaksinasi ibu hamil, tubuh Anda akan kebal terhadap serangan penyakit. Tujuan dari imunisasi atau  memasukkan virus yang dilemahkan itu sendiri adalah agar terbentuk antibodi terhadap virus tersebut.

    Kemudian vaksin apa saja yang aman diberikan pada saat sebelum hamil dan saat hamil? Faktanya, tidak semua vaksin rutin dan aman diberikan pada ibu hamil. Hanya vaksin-vaksin yang tidak mengandung kuman hidup saja yang aman diberikan untuk ibu hamil. Vaksin hidup hanya boleh diberikan bila keuntungan yang diperoleh melebihi kerugian yang terjadi akibat pemberian vaksin.

    Berikut adalah pilihan vaksin yang menjadi pertimbangan para calon ibu hamil:

    1. Vaksin Hepatitis A

    • Sebelum Hamil: Ya, jika ada resiko
    • Saat Hamil: Ya, jika ada resiko
    • Setelah Hamil: Ya, jika ada resiko
    • Tipe Vaksin: Inaktif

    2. Vaksin Hepatitis B

    • Sebelum Hamil: Ya, jika ada resiko
    • Saat Hamil: Ya, jika ada resiko
    • Setelah Hamil: Ya, jika ada resiko
    • Tipe Vaksin: Inaktif

    3. Vaksin HPV

    • Sebelum Hamil: Ya, usia 9-26 tahun
    • Saat Hamil: Tidak dianjurkan
    • Setelah Hamil: Ya, usia 9-26 tahun
    • Tipe Vaksin: Inaktif

    4. Vaksin Influenza (Inaktif)

    • Sebelum Hamil: Ya
    • Saat Hamil: Ya
    • Setelah Hamil: Ya
    • Tipe Vaksin: Inaktif

    5. Vaksin Influenza (Aktif)

    • Sebelum Hamil: Ya, hindari konsepsi (hamil) selama 4 minggu
    • Saat Hamil: Tidak dianjurkan
    • Setelah Hamil: Ya, hindari konsepsi (hamil) selama 4 minggu
    • Tipe Vaksin: Hidup

    6. Vaksin MMR

    • Sebelum Hamil: Ya, hindari konsepsi (hamil) selama 4 minggu
    • Saat Hamil: Tidak dianjurkan
    • Setelah Hamil: Ya, berikan segera setelah kelahiran jika rentan
    • Tipe Vaksin: Hidup

    7. Vaksin Meningitis / Meningococcus

    • Sebelum Hamil: Jika ada indikasi
    • Saat Hamil: Jika ada indikasi
    • Setelah Hamil: Jika ada indikasi
    • Tipe Vaksin: Inaktif

     

    8. Vaksin Pneumonia / Pneumococcus / IPD

    • Sebelum Hamil: Jika ada indikasi
    • Saat Hamil: Jika ada indikasi
    • Setelah Hamil: Jika ada indikasi
    • Tipe Vaksin: Inaktif

    9. Vaksin DT

    • Sebelum Hamil: Ya, DPT lebih dipilih
    • Saat Hamil: Ya, DPT lebih dipilih jika usia kehamilan lebih dari 20 minggu
    • Setelah Hamil: Ya, DPT lebih dipilih
    • Tipe Vaksin: Toksoid

    10. Vaksin DPT

    • Sebelum Hamil: Ya
    • Saat Hamil: Ya
    • Setelah Hamil: Ya
    • Tipe Vaksin: Toksoid

    11. Vaksin Varicella

    • Sebelum Hamil: Ya, hindari konsepsi (hamil) selama 4 minggu
    • Saat Hamil: Tidak dianjurkan
    • Setelah Hamil: Ya, berikan segera setelah kelahiran jika rentan
    • Tipe Vaksin: Hidup

    Keterangan:

    • HPV: human papilloma virus,
    • MMR: mumps, measles, rubella,
    • DT: difteri, tetanus,
    • DPT: difteri, tetanus, pertusis

    Risiko terinfeksinya janin oleh vaksin hidup membuat vaksin hidup tidak direkomendasikan pada saat kehamilan. Dengan demikian hendaknya vaksin hidup diberikan sebelum hamil atau setelah melahirkan. MMR dan varicella merupakan vaksin-vaksin hidup yang direkomendasikan karena penyakit-penyakit yang dicegah dengan vaksin ini (rubella dan varicella) dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan kelainan pada janin. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pemberian vaksin merupakan hal penting dipertimbangkan sehubungan dengan kehamilan. Oleh karena pemberian vaksin yang cukup rumit pada saat kehamilan, maka setiap wanita yang berencana untuk hamil sebaiknya melakukan konsultasi pada dokter kebidanan dan kandungan untuk pemberian vaksin ini.

    Sudah  banyak ibu hamil yang mempersiapkan kehamilan dan melakukan vaksinasi saat hamilnya melalui layanan vaksinasi ProSehat. Dapatkan dengan mudah informasinya melalui aplikasi ProSehat (link) ini. Saat ini sudah dilengkapi dengan fitur tanya jawab dokter!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • TanyaDok.com: Vaksin Sebelum, Saat dan Setelah Kehamilan, Bolehkah?
    • TanyaDok.com: Perlukah Imunisasi Sebelum Menikah dan Saat Hamil
    • Merck. (2007). Merck Vaccine Patient Assistance Program. Retrieved December 19, 2007
    • Department of Vaccine and Biology. Report of a meeting on preventing CRS: Immunization strategies, surveillance needs. WHO. Geneva, 2000 (12-14 Jan)
    • Clark AL, Gall SA. Clinical uses of intravenous immunoglobulin in pregnancy. AmJ Obstet Gynecol 1997
    Read More
WhatsApp Asisten Maya saja