Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ kanker serviks”

Showing 1–10 of 18 results

  •   Kanker serviks menjadi hal yang menakutkan bagi para wanita di dunia termasuk di Indonesia. Persepsi seseorang pada penyakit ini masih dianggap miring, karena pola hidup yang kurang sehat, merokok, infeksi kelamin  hingga seringnya berganti-ganti pasangan. Memang hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kanker serviks. Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita Kanker […]

    Takut Sama Kanker Serviks? Vaksinasi HPV Aja

     

    Kanker serviks menjadi hal yang menakutkan bagi para wanita di dunia termasuk di Indonesia. Persepsi seseorang pada penyakit ini masih dianggap miring, karena pola hidup yang kurang sehat, merokok, infeksi kelamin  hingga seringnya berganti-ganti pasangan. Memang hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab kanker serviks.

    vaksinasi HPV

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Kanker yang menyerang daerah leher rahim wanita ini disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus). Kanker ini tidak memiliki gejala, hingga seseorang baru mengetahui terkena kanker serviks setelah mencapai stadium lanjut. Jika kalian yang mengalaminya bagaimana? Rasa takut dan hancur menjadi satu karena kanker serviks merenggut masa depanmu.

    Mengatasi ketakutan kalian pada kanker serviks, maka bisa dicegah dengan vaksinasi HPV. Namun sebelum melakukan vaksinasi, harus ketahui beberapa hal berikut ini.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi HPV ke Rumah

    1. Vaksinasi HPV Dapat diberikan Pada Anak-anak

    Beberapa pendapat dari Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP) serta Centre for diagnosis Control Prevention (CDC) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi HPV dapat diberikan pada anak perempuan mulai dari usia 10 tahun.

    2. Mungkin Anda pernah mendengar atau mendapat broadcast tentang vaksinasi HPV yang bisa menyebabkan menopause?

    Jangan langsung percaya, kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto menyangkal hal tersebut. Menurutnya “Setiap 1 jam ada 33 wanita di Indonesia meninggal karena kanker serviks. Dengan tingginya kasus kanker serviks maka pemerintah mengambil keputusan untuk memberikan vaksinasi guna mencegah kanker serviks. Sedangkan berita di luar sana tidak bisa di pertanggungjawabkan alasannya”.


    Menopause sendiri dipengaruhi dari fungsi sel ovarium yang berkurang karena usia sehingga produksi hormon estrogen menurun. Penyebab lainnya akibat dari operasi pengangkatan ovarium (yang dilakukan bersamaan dengan pengangkatan kandungan atau histerektomi) atau adanya paparan radiasi dan juga kemoterapi.

    3. Paps Smear Dulu Baru Vaksinasi HPV

    Untuk Anda wanita yang telah aktif secara seksual disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear yang berfungsi untuk mendeteksi sel abnormal atau lesi prakanker dan dilakukan secara berkala untuk wanita berusia di atas 40 tahun atau wanita yang beresiko tinggi terkena kanker. Apabila menunjukkan hasil negatif, maka bisa dijalankan proses vaksinasi HPV.

    Baca Juga: Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturannya?

    4. Vaksinasi HPV Dilakukan Sebanyak 3 Kali

    Untuk pemberian vaksinasi HPV ini pada umumnya dilakukan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu 0, 2 dan 6 bulan dan pemberian tidak dianjurkan melebihi dari waktu 1 tahun. Khusus untuk anak usia 10-13 tahun, cukup dengan pemberian 2 dosis, yaitu bulan 0 dan bulan 6.

    5. Dapat Mencegah Penyebaran Kanker Serviks

    Hingga saat ini, penelitian menunjukkan keberhasilan vaksinasi HPV bisa mencapai 100%. Walau demikian, tetap disarankan untuk melakukan pap smear secara berkala sebagai pencegahan sekunder.

    Baca Juga: Lindungi Diri Anda dari Kanker Serviks

    Jadi itulah hal-hal yang perlu Anda ketahui seputar vaksinasi HPV. Mari cegah sekarang juga, lindungi dirimu dan orang yang Anda cintai dengan vaksinasi HPV guna cegah kanker serviks. Untuk vaksinasi Sobat bisa melakukannya di Prosehat yang mempunyai layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Sumber:

    1. TanyaDok. “Info Tentang Kanker Serviks”. tanyadok.com
    2. Khusen, Daniel Denny. “Kanker Serviks Pembunuh Banyak Wanita” . tanyadok.com
    3. Winardo, Donny Sutrisno. “Kanker Serviks dan Imunisasi HPV”. tanyadok.com
    4. CDC. “Human Papillomavirus (HPV)”. cdc.gov
    5. Alief, Bisma. “Ini Penjelasan Dinkes DKI Soal Kabar Vaksin Sebabkan Menopause Dini”. detik.com
    6. Valentine, Maria. “Apa Sebenarnya Menopause Bagi Wanita?”. tanyadok.com
    7. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id

     

    Read More
  • Obesitas atau biasa disebut dengan kelebihan berat badan merupakan masalah medis kronis jangka panjang yang terjadi saat seseorang memiliki lemak tubuh yang terlalu banyak sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan. Seseorang dapat didiagnosis obesitas apabila memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi. Baca Juga: Berikut 7 Kiat Sederhana Mengatasi Obesitas IMT adalah suatu indikator umum […]

    Berbahaya! Simak 14 Dampak Obesitas Bagi Wanita Berikut!

    Obesitas atau biasa disebut dengan kelebihan berat badan merupakan masalah medis kronis jangka panjang yang terjadi saat seseorang memiliki lemak tubuh yang terlalu banyak sehingga bisa berdampak buruk pada kesehatan. Seseorang dapat didiagnosis obesitas apabila memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi.

    dampak obesitas bagi wanita

    Baca Juga: Berikut 7 Kiat Sederhana Mengatasi Obesitas

    IMT adalah suatu indikator umum yang sering dipakai oleh dokter atau ahli gizi untuk menilai proporsi berat badan seseorang sesuai dengan usia, tinggi badan, dan jenis kelaminnya. Pengukuran ini dihitung dengan cara menggabungkan berat badan dan tinggi badan.

    Berat Status Indeks Massa Tubuh

    Kurang dari 18,5 = Rendah
    18,5 – 24,9 = Normal
    25,0 – 29,9 = Kelebilahan berat badan
    30,0 ke atas = Obesitas

    Secara umum, tubuh wanita cenderung lebih mudah mengalami obesitas dibandingkan pria. Tidak hanya akan merusak penampilan dan mengurangi rasa percaya diri, namun obesitas pada tubuh wanita juga mempunyai efek lebih buruk pada kesehatan.

    Efek obesitas pada umumnya bersifat medis, sedangkan pada wanita juga akan mempengaruhi psikologis atau kejiwaannya. Apabila psikisnya sudah tidak sehat maka akan semakin memperburuk kondisi kesehatannya.

    Berikut ini adalah beberapa dampak buruk yang ditimbulkan obesitas pada tubuh wanita

    1. Menstruasi Tidak Teratur

    Tidak teraturnya siklus menstruasi merupakan perubahan signifikan akibat bertambahnya berat badan. Obesitas seringkali dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya ketidakteraturan haid.

    Hal tersebut dikarenakan adanya lemak berlebih yang mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh. Biasanya kondisi ini lebih banyak diderita oleh remaja akibat kebiasaan sering konsumsi makanan cepat saji.

    2. Risiko Serangan Jantung

    Sama halnya dengan wanita yang menopause, wanita obesitas juga memiliki risiko terkena serangan jantung yang lebih besar. Selalu ingat bahwa setiap orang yang mengalami obesitas akan masuk ke dalam kategori risiko tinggi mengidap penyakit jantung.

    3. Degenerasi Otot

    Degenerasi otot dapat terjadi akibat terlalu banyaknya lemak yang menumpuk pada tubuh. Orang obesitas pada umumnya kurang berolahraga ataupun menggerakan badan, sehingga mengakibatkan lemah otot.

    4. Tekanan Darah Tinggi

    Obesitas merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya hipetensi atau tekanan darah tinggi akibat penumpukan kolestrol pada pembuluh darah. Meningkatnya kasus obesitas yang bersamaan dengan hipertensi dapat memicu diabetes dan penyakit ginjal kronis.

    5. Arthritis

    Arthritis atau radang sendi adalah kondisi tubuh sudah tidak bisa menerima tekanan ekstra dari berat badan yang berlebihan. Oleh karena itu, penderita obesitas memiliki risiko tinggi terkena pernyakit inflamasi kronis seperti arthritis.

    Baca Juga: 9 Jenis Penyakit Autoimun yang Terjadi pada Tubuh

    Sendi, otot kaki dan juga punggung bagian bawah akan kaku dan sakit, sehingga kondisi ini akan mempengaruhi postur tubuh dalam jangka panjang.

    6. Tumit Pecah-Pecah

    Berat badan yang berlebih akan membuat tekanan secara ekstrem terhadap tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan tumit pecah-pecah dan terasa perih menyakitkan.

    7. Batu Empedu

    Terbentuknya batu di kantung emppedu disebabkan karena metabolisme lemak yang tidak tepat. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menurunkan berat badan secara drastis dalam jumlah besar berisiko terhadap batu empedu.

    8. Kista

    Kista ovarium dapat terjadi akibat kebiasaan pola makan yang tidak sehat. Terbentuknya kista kecil di ovarium dapat menyebabkan siklus menstruasi yang tidak teratur, bahkan yang lebih parah, dapat menyebabkan kemandulan pada beberapa kasus.

    9. Kemandulan

    Obesitas pada wanita dapat mengakibatkan ketidaksuburan dan berpotensi mengidap sindrom ovarium polikistik yang menyebabkan kemandulan. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan horman sehingga terjadi infertilitas atau kemandulan pada wanita.

    10. Masalah Kulit

    Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya masalah kulit pada penderita obesitas adalah adanya perubahan hormon pada tubuh, sehingga mengakibatkan menghitamnya daerah leher atau lipatan tubuh lainnya.

    Selain itu, perenggangan kulit juga dapat menyebabkan stretch mark. Lembabnya daerah lipatan tubuh dapat memicu timbulnya bakteri dan jamur hingga menimbulkan ruam kulit serta berbagai infeksi lainnya.

    11. Depresi

    Ketidakseimbangan hormon pada wanita penderita obesitas dapat menyebabkan efek psikologis dalam tubuh. Selain itu, mereka akan lebih sering mengalami stress terkait berat badannya dibandingkan dengan wanita dengan tubuh kurus.

    Hal ini tidak hanya terjadi pada pada wanita yang benar-benar kelebihan berat badan, namun juga dapat terjadi pada wanita yang berpikir bahwa mereka gemuk. Penderita obesitas biasanya malu dan takut akan diejek sehingga mereka cenderung memilih untuk menyediri atau mengisolasi diri dari kehidupan sosial dan hal tersebut merupakan tanda-tanda seseorang yang depresi.

    12. Berdampak Saat Melahirkan

    Pada wanita obesitas yang sedang hamil memiliki risiko yang tinggi terjadinya diabetes kehamilan. Sedangkan dampak dari wanita hamil yang tekena diabetes itu sendiri akan membuat berat badan bayi lebih besar dibanding dengan bayi normal lainnya sehingga kemungkinan akan lahir secara Caesar.

    Selain itu, bayi tersebut akan berisiko tinggi terkena penyakit kuning dan bahkan fungsi jantungnya dapat terpengaruh.

    Baca Juga: Mari Mengenal Penyakit Kuning pada Bayi

    13. Kanker Rahim

    Risiko terkena kanker rahim akan meningkat akibat dari sel-sel lemak wanita yang memproduksi hormon esterogen. Semakin banyak lemak, maka akan semakin banyak estrogen di dalam tubuhnya. Selain itu, reaksi endometrium terhadap estrogen akan membuat penebalan yang meningkat sehingga memicu kanker rahim.

    14. Varises

    Timbulnya varises karena pelebaran pemuluh darah dapat menyebabkan melemahnya dinding pembuluh darah. Varises dapat muncul seperti kumpulan pembuluh darah berwarna biru ataupun ungu yang terkadang dilapisi kapiler merah tipis atau yang biasa disebut dengan spider veins.

    Obesitas adalah salah satu faktor dari risiko utama terjadinya varises, selain dari riwayat keluarga, jenis kelamin, umur, karena kehamilan, ataupun kurang gerak.

    Jadi, tidak ada salahnya untuk menjaga tubuh agar tidak terlalu gemuk. Oleh sebab itu, mulailah dari sekarang untuk menjaga berat badan sahabat agar tetap sehat dengan berolahraga secara teratur dan menerapkan pola makan sehat.

    Dengan memiliki berat badan yang ideal, Sahabat Sehat dapat mengurangi risiko terkena penyakit serta dapat menjalankan hidup maksimal yang berkualitas.

    Baca Juga: 10 Obat Herbal Obesitas yang Layak Dicoba

    Selain itu, Sahabat perlu melakukan vaksinasi HPV atau Human Papillomavirus agar terhindar dari kanker serviks. Sekarang vaksinasi HPV telah hadir di Prosehat dengan fasilitas penggunaan teknologi telemedisin yang akan memudahkan pasien dalam berkonsultasi secara daring atau online melalui perangkat teknologi milik sahabat.

    Prosehat juga memiliki layanan vaksinasi HPV ke rumah sehingga sahabat dapat melakukan vaksinasi dengan aman tanpa perlu khawatir tertular COVID-19 serta sahabat ikut turut mendukung program pemerintah untuk mencegah timbulnya virus HPV.

    Layanan vaksinasi ke rumah dari Prosehat ini mempunyai beberapa keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Ratini M. Health Risks Linked to Obesity. [online] WebMD. Available at: <https://www.webmd.com/diet/obesity/obesity-health-risks> [Accessed 18 March 2021].
    2. Alfian, A., 2021. Pengertian Obesitas Dan Penyebab Obesitas. [online] Academia.edu. Available at: <https://www.academia.edu/10916589/Pengertian_Obesitas_Dan_Penyebab_Obesitas> [Accessed 18 March 2021].
    3. 2021. 10 Tanda Seseorang Mengalami Obesitas. [online] Available at: <https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2348609/10-tanda-seseorang-mengalami-obesitas> [Accessed 18 March 2021].
    4. 2021. Begini Efek Buruknya Kegemukan di Tubuh Wanita. [online] Available at: <https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2256288/begini-efek-buruknya-kegemukan-di-tubuh-wanita> [Accessed 18 March 2021].
    5. com. 2021. Dampak buruk obesitas pada kesehatan wanita Semua Halaman | merdeka.com. [online] Available at: <https://www.merdeka.com/sehat/dampak-buruk-obesitas-pada-kesehatan-wanita.html?page=all> [Accessed 18 March 2021].

     

     

    Read More
  • Penyakit kritis merupakan suatu kondisi penyakit dengan tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi, atau mengancam jiwa. Berdasarkan penelitian, telah dibuktikan bawah perempuan lebih rentan terkena beberapa penyakit kritis tertentu. Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita Salah satu contoh penyakit kritis adalah penyakit ginjal. Menurut Riskesdas 2013, penderita penyakit ginjal 60% adalah kaum perempuan dan […]

    Alasan Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Kritis

    Penyakit kritis merupakan suatu kondisi penyakit dengan tingkat mortalitas atau kematian yang tinggi, atau mengancam jiwa. Berdasarkan penelitian, telah dibuktikan bawah perempuan lebih rentan terkena beberapa penyakit kritis tertentu.

    rentan terkena penyakit kritis

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Salah satu contoh penyakit kritis adalah penyakit ginjal. Menurut Riskesdas 2013, penderita penyakit ginjal 60% adalah kaum perempuan dan 40% sisanya barulah kaum laki-laki. Di seluruh dunia, terdapat 195 juta perempuan yang mengidap penyakit ginjal kronis pada setiap tahunnya dan 600.000 perempuan meninggal akibat penyakit kronis ini.

    Terdapat beberapa faktor yang membuat perempuan rentan terkena penyakit kritis, antara lain:

    Kehamilan

    Salah satu faktor yang membuat perempuan rentan terkena penyakit kritis adalah kehamilan. Seperti contohnya, kehamilan yang disertai oleh komplikasi preeklamsia dapat berujung pada penyakit ginjal kronis. Dan sebaliknya, penyakit ginjal kronis juga bisa berisiko menimbulkan preeklamsia.

    Infeksi saluran kemih, lupus, dan kanker serviks

    Rasio penderita penyakit tersebut perbandingannya antara perempuan dan laki-laki adalah 9 : 1. Dari perbandingan tersebut, bisa dilihat resiko perempuan terhadap penyakit ginjal kronis yang diakibatkan oleh penyakit lain adalah sangat rentan.

    Kondisi biologis dan fisiologis perempuan dan pria berbeda

    Karena kondisi biologis dan fisiologis perempuan dan pria berbeda, akibatnya ada beberapa kondisi kesehatan yang lebih mempengaruhi perempuan dibanding pria.

    Antara lain, gangguan pola makan atau hormonal. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit autoimun yang lebih umum menyerang wanita disbanding pria, seperti penyakit lupus. 9 dari 10 wanita yang terkena penyakit lupus adalah perempuan.

    Penyakit yang lebih sering menyerang perempuan:

    Multipel Sklerosis (MS)

    Penyakit MS merupakan penyakit yang gangguan pada sistem saraf pusat. Multiple Sclerosis Society melaporkan, MS saat ini diderita oleh 2 juta orang di dunia. Angka tersebut bisa dua sampai tiga kali lebih rentan terkena pada perempuan disbanding pria.

    Beberapa dokter juga mengklasifikasikan MS sebagai penyakit autoimun. Hal ini dikarenakan tidak adanya penyebab khusus yang terindentifikasi. Kebanyakan orang yang mengalami gejala MS pertama adalah saat berusia 20 sampai 40 tahu. Gejala MS juga bervariasi, mulai dari kelumpuhan sampai hilangnya penglihatan.

    Pengobatan dari penyakit yang lebih rentan menyerang perempuan ini adalah hanya berfungsi mengurangi gejala yang timbul, karena belum ada obat yang jelas untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

    Lupus

    Penyakit lupus juga merupakan penyakit autoimun yang lebih rentan menyerang perempuan. Penyakit ini memicu kekerasan pada kulit, sendi, dan juga organ. Gejala dari penyakit lupus sendiri sangat banyak, namun kebanyakan pasien mengalami gejala sangat lelah, sakit kepala, rambut rontok, dan persendian bengkak.

    Berdasarkan data Lupus Foundation of America, 90% penderita lupus adalah wanita. Namun, penyakit ini jarang bisa didiagnosa di awal, sehingga penderita yang biasanya sudah terkena dampaknya untuk waktu yang lama.

    Sindrom kelelahan kronis

    Sindrom ini merupakan sesuatu yang bisa dibilang kompleks. Kondisi kelelahan ini tidak bisa hilang hanya dengan beristirahat.

    Ada gejala lain yang mengikuti dari sindrom ini, antara lain nyeri otot, kurangnya daya ingat, serta insomnia. Bahkan, saat melakukan kegiatan ringan, seperti berpakaian, mandi, atau berpikir, bisa menyebabkan seseorang sangat kelelahan.

    Depresi

    Para ahli yakin bahwa depresi menyerang perempuan dua kali lebih banyak dibandingkan lelaki. Alasan biologis yang menjadi penyebab utamanya.

    Seperti pada saat menstruasi, melahirkan, dan menopause, perempuan biasanya mengalami fluktuasi hormone yang mempengaruhi mood.

    Baca Juga: Sahabat, Ketahui Fenomena Ghosting dan Cara Menghadapinya

    Dan menurut Psychology Today, perempuan lebih sering merenung dibandingkan lelaki. Hal tersebut kemudian diduga dapat memicu depresi, apalagi perempuan biasa lebih cenderung memiliki umur yang panjang sehingga lebih merasa kesepian dan berujung depresi.

    Celiac

    Berdasarkan National Foundation for Celiac Awareness, 60 sampai 70 persen penderita celiac adalah perempuan. Celiac disease merupakan reaksi negative yang diberikan oleh tubuh, karena tidak bisa mencerna gluten protein yang terdapat dalam tepung atau juga gandum.

    Pada umumnya, perempuan yang memiliki penyakit celiac disease baru didiagnosa saat berusia 45 tahun. Dan diagnose celiac disease memerlukan waktu selama 10 tahun, yang berarti perempuan sudah mengalami gangguan reproduksi beberapa tahun sebelumnya.

    Irritable Bowel Syndrome (IBS)

    IBS adalah gangguan yang terjadi pada usus besar dan mempengaruhi usus secara keseluruhan. IBS sendiri dapat menyebabkan perut menjadi sakit, kembung, diare, dan konstipasi paling sedikit selama tiga bulan.

    Sebanyak 65% pasien dari IB adalah perempuan, namun alasan perempuan rentan terkena penyakin ini belum juga diketahui,. Gejala ini semakin parah apabila sedang dalam periode menstruasi.

    Infeksi penyakit seksual

    Di Amerika sendiri, kasus infeksi seksual setiap tahunnya mencapai 19 juta kasus. Dan perempuan lebih sering tertular serta mengalami sebab yang serius dibandingkan lelaki.

    Sebabnya adalah kulit vagina dari perempuan lebih halus dibandingkan penis. Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa perempuan lebih rentan terkena penyakit ini, karena virus dan bakteri jadi lebih mudah masuk.

    Baca Juga: Kanker Serviks, Bisakah Disembuhkan?

    Nah, Sahabat Sehat sudah paham kan alasan perempuan lebih rentan terkena penyakit? Maka dari itu, mari sama-sama menjaga kesehatan. Mulai sekarang, berperilaku dan mulailah hidup sehat agar tidak rentan terkena penyakit.

    Bahkan jangan segan untuk periksa dan kontrol ke dokter apabila sudah ada gejala tentang tubuh yang sudah memberikan sinyal tidak enak. Karena, bagaimana pun untuk mengetahui sebuah penyakit harus diserahkan kembali kepada ahlinya.

    Untuk pemeriksaan kesehatan penyakit kritis ini, Sahabat bisa melakukan salah satu pencegahannya dengan vaksinasi HPV di Prosehat untuk melindungi diri dari kanker serviks, dan tersedia layanan ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Eprints.umpo.ac.id. 2021. [online] Available at: <http://eprints.umpo.ac.id/1262/1/Artikel%20Jurnal%20Florence%20Vol%20VII%202014.pdf> [Accessed 11 March 2021].
    2. Eprints.undip.ac.id. 2021. [online] Available at: <http://eprints.undip.ac.id/44025/3/Kwa_Angela_G2A009110_BAB_2KTI.pdf> [Accessed 11 March 2021].
    3. Media, K., 2021. Perempuan Rentan Terserang Penyakit Ginjal Kronis, Kenapa Begitu?. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://sains.kompas.com/read/2018/03/10/163400723/perempuan-rentan-terserang-penyakit-ginjal-kronis-kenapa-begitu-> [Accessed 11 March 2021].
    4. Media, K., 2021. 7 Penyakit yang Lebih Sering Menyerang Wanita Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://health.kompas.com/read/2013/08/07/1107224/7.Penyakit.yang.Lebih.Sering.Menyerang.Wanita?page=all> [Accessed 11 March 2021].
    Read More
  • Salah satu artis Indonesia yaitu Julia Perez meninggal di usia 36 tahun akibat dari ganasnya kanker leher rahim atau biasa disebut dengan kanker serviks. Tahun 2014 menjadi tahun yang berat bagi Julia Perez dan keluarga, karena ia baru mengetahui jika ia mengidap kanker serviks, sehingga ia memutuskan untuk melakukan perawatan di salah satu rumah sakit […]

    5 Gejala Kanker Serviks yang Perlu Sahabat Ketahui

    Salah satu artis Indonesia yaitu Julia Perez meninggal di usia 36 tahun akibat dari ganasnya kanker leher rahim atau biasa disebut dengan kanker serviks. Tahun 2014 menjadi tahun yang berat bagi Julia Perez dan keluarga, karena ia baru mengetahui jika ia mengidap kanker serviks, sehingga ia memutuskan untuk melakukan perawatan di salah satu rumah sakit di Singapura. Namun, di tahun 2016, kondisinya kembali memburuk dan pada akhirnya Julia Perez harus menyerah melawan kanker serviks.

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Kisah lainnya dari pejuang kanker serviks yaitu Ibu Elly Mawati yang merupakan salah satu anggota CISC (Cancer Information & Support Center) yang aktif menyebarkan kepedulian tentang Kanker serviks dan HPV. Ibu Elly harus merasakan mimpi-mimpinya terenggut di tahun 2015.  Ibu Elly mengeluh keputihan yang tidak wajar yang ia alami. Keputihan yang parah tersebut membuat Ibu Elly memilih menggunakan pembalut setiap harinya dan 2 jam sekali harus buang air kecil.

    Ibu Elly memutuskan untuk melakukan pap smear dengan hasil ia positif mengidap kanker serviks. Hatinya hancur berkeping-keping menerima kenyataan bahwa ia menderita kanker serviks. Saat mengetahui kanker serviks tersebut masih stadium awal, Ia melakukan operasi pengangkatan rahim. Dorongan orang-orang sekitar dan para rekan di komunitasmembuat Ibu Elly yakin dapat melewatinya.  

    Kemudian cerita lain juga dialami oleh Ibu Evie Trefina yang menderita kanker serviks stadium 3B dan telah menjalani delapan kali kemoterapi, 25 kali radioterapi eksternal serta tiga kali radioterapi internal enam tahun yang lalu. Biaya yang dikeluarkan Ibu Evie tidaklah sedikit, pasalnya untuk satu kali kemoterapi, Ibu Evie harus mengeluarkan biaya sebanyak Rp 20 juta. Gejala yang dialami Ibu Evie hampir sama dengan Ibu Elly yaitu keputihan yang berlebihan, hanya saja Ibu Evie harus mengalami pendarahan. Tidak lama setelah itu Ibu Evie menemukan flek darah yang lama-lama semakin banyak.

    Kisah dari Julia Perez, Ibu Elly dan Ibu Evie menjadi pelajaran agar kita perlu waspada terhadap gejala-gejala kanker serviks stadium awal. Biasanya gejala pada stadium awal tidak menunjukkan apapun, gejala baru akan terlihat saat stadium lanjut. Oleh karena itu, mari kita kenali lebih lanjut gejala-gejala kanker serviks:

    1. Pendarahan yang Tidak Biasa

    Pendarahan yang tidak biasa menjadi salah satu gejala kanker serviks di stadium awal yang harus ditangani lebih cepat dan serius. Pendarahan biasa disertai dengan keluarnya cairan-cairan atau flek berwarna dan bau  yang tidak biasa. Pendarahan hebat juga bisa terjadi setelah berhubungan seksual.

    2. Rasa Nyeri Bagian Panggul

    Apabila anda merasakan nyeri dibagian panggul, segera periksakan ke dokter karena nyeri panggul dapat menjadi salah satu gejala dari kanker serviks yang efek nyerinya menyebar ke bagian panggul. Hal ini disebabkan karena reaksi peradangan  yang ditimbulkan dari kanker serviks menjalar ke saraf di daerah panggul.

    3. Tubuh Mudah Lemas

    Apabila badan terasa lemah, lesu dan letih dalam jangka waktu yang lama, berhati-hatilah. Apalagi bila disertai dengan penurunan nafsu makan yang menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan. Meskipun banyak faktor yang dapat menurunkan kondisi badan, ada baiknya memeriksakan diri untuk menyingkirkan gejala dari kanker serviks.

    Baca Juga: Waspadai Kanker Serviks dengan Metode Pendeteksi Dini Berikut

    4. Perubahan Pola Buang Air Besar atau Kecil

    Apabila Kanker serviks sudah memasuki stadium lanjut, gejala yang dirasakan juga menjadi bervariasi tergantung pada penyebaran kankernya. Letak serviks di ruang panggul berdekatan dengan usus besar dan kandung kemih. Invasi sel kanker ke kandung kemih dan usus dapat menyebabkan perubahan pada pola buang air besar/kecil. Sembelit, kencing ada darah, hingga sering mengompol karena hilangnya kontrol terhadap kandung kemih dapat terjadi.

    5. Keluarnya Cairan Berbau

    Kanker serviks sering ditandai dengan keputihan tidak normal berupa cairan berwarna putih atau hijau kekuningan dalam jumlah yang banyak sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada organ intim Anda. Segera periksa diri Anda bila memiliki keluhan keputihan seperti ini.

    Baca Juga: Amankah Vaksinasi HPV di Masa Pandemi Corona?

    Kanker serviks merupakan penyakit yang mematikan yang dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi dini gejala-gejalanya. Perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat seperti berolahraga, konsumsi makanan bergizi, dan istirahat dapat mencegah terjadinya kanker serviks. Selain itu, vaksinasi HPV merupakan hal yang sangat penting yang harus dilakukan untuk terhindar dari kanker serviks.

    Produk Terkait: Vaksinasi HPV

    Vaksinasi kanker serviks bisa Sahabat dapatkan di Prosehat layanan kesehatan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Sumber:

    1. BBC. “Julia Perez Tutup Usia Setelah Tiga  Tahun Melawan Kanker Serviks”. Diakses pada 9 Maret 2018
    2. CegahKankerServiks. Kicks. “Komunitas dan Keluarga adalah Payung Saya Dalam Melawan Badai”. Diakses pada 9 Maret 2018
    3. CnnIndonesia. Taylor, Gloria Safira. “Cerita Perjuangan Evie Trefina, PenyintasKankerServiks”. Diaksespada 9 Maret 2018
    4. TanyaDok. “Gejala Kanker Serviks”. Diakses pada 9 Maret 2018
    5. Tanyadok. Khusen, Daniel Denny. “Kanker Serviks Pembunuh Banyak Wanita”. Diakses pada 9 Maret 2018
    6. TanyaDok. “Info Tentang Kanker Serviks”. Diakses pada 9 Maret 2018
    7. TanyaDok. “Haid Tidak Teratur”. Diakses pada 9 Maret 2018
    8. Tanyadok. Suwito, Anton. “Ayo! Cegah Kanker Leher Rahim Dengan Vaksinasi”. Diakses pada 9 Maret 2018
    Read More
  • Vaksin kanker serviks adalah salah satu vaksin yang diberikan untuk mencegah penularan penyakit tersebut yang terjadi akibat dari berhubungan seksual. Kanker ini disebabkan oleh HPV atau human papillomavirus. Kanker ini menyerang dengan cara menularkan infeksi pada wanita melalui hubungan seksual atau kontak langsung dengan area genital. Dari kontak langsung inilah kemudian muncul sel yang tumbuh […]

    Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturan Pemberiannya?

    Vaksin kanker serviks adalah salah satu vaksin yang diberikan untuk mencegah penularan penyakit tersebut yang terjadi akibat dari berhubungan seksual. Kanker ini disebabkan oleh HPV atau human papillomavirus. Kanker ini menyerang dengan cara menularkan infeksi pada wanita melalui hubungan seksual atau kontak langsung dengan area genital. Dari kontak langsung inilah kemudian muncul sel yang tumbuh secara tidak normal pada mulut rahim atau serviks, dan lama-kelamaan berkembang menjadi kanker serviks yang termasuk salah satu kanker paling mematikan.

    Produk Terkait: Vaksinasi HPV

    Di Indonesia sendiri menurut data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan, jumlah penderita kanker serviks adalah 90-100 kasus per 100.000 penduduk, dan setiap tahunnya adalah 40.000 kasus. Bahkan, Indonesia termasuk kedua tertinggi di dunia. Angka global kematian akibat virus ini adalah 99,7 %, dan hampir semuanya menimpa wanita. Melihat dari jumlah tersebut, pemberian vaksin sangat penting dan harus dilakukan.

    Penyebab Kanker

    Sebelum membahas mengenai vaksin serviks, sebaiknya Sobat mengetahui terlebih dahulu penyebab kanker serviks. Penyebabnya terdiri dari berbagai faktor yang dapat meningkatkan seseorang untuk menderita penyakit ini, yaitu salah satunya infeksi human papillomavirus (HPV).

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    HPV merupakan penyebab utama kanker serviks. Virus ini dapat menginfeksi sel-sel di permukaan kulit dan alat kelamin, anus, serta mulut, dan tenggorokan. HPV bisa muncul karena perilaku seks yang cukup berisiko seperti sering berganti pasangan seksual sejak usia muda, atau berhubungan seks tanpa kondom.

    Menderita Penyakit Menular Seksual

    Selain HPV, kanker serviks juga bisa disebabkan oleh wanita yang menderita penyakit menular seksual seperti kutil kelamin, klamidia, gonore, dan sifilis. Tidak hanya yang pernah, bahkan wanita yang sedang menderita penyakit menular seksual juga memiliki risiko tinggi terkena kanker ini. Jaid, infeksi HPV bisa muncul bersamaaan dengan penyakit menular seksual.

    Pola Hidup yang Tidak Sehat

    Pola hidup yang tidak mengutamakan kesehatan seperti jarang berolahraga, jarang mengonsumsi buah dan sayuran bisa menyebabkan timbulnya kanker serviks. Hal ini akan semakin meningkat jika wanita yang menderita kanker juga memiliki kebiasaan merokok.
    Mengapa bisa demikian? Karena tembakau dalam rokok dapat merusak sel DNA, serta membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah sehingga kurang efektif dalam melawan HPV.

    Lemahnya Sistem Kekebalan Tubuh

    Melemahnya sistem kekebalan tubuh karena HIV/AIDS atau akibat pengobatan kanker dan penyakit autoimun ternyata juga lebih berisiko terinfeksi HPV sebagai penyebab utama kanker serviks.

    Baca Juga: Kanker dan Tumor Itu Sama?

    Penggunaan Pil KB

    Pil KB yang dimaksudkan untuk mencegah kehamilan ternyata dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Karena itu, Sobat disarankan untuk memilih metode pencegahan kehamilan lain seperti IUD atau KB Spiral. Supaya aman, sebaiknya Sobat konsultasikan terlebih dahulu ke dokter kandungan untuk memilih jenis kontrasepsi yang tepat dan cocok.

    Hamil Usia Muda

    Hamil usia muda atau saat usia kurang dari 17 tahun dapat membuat seorang wanita lebih rentan terkena kanker serviks. Tak hanya itu, wanita yang pernah hamil dan melahirkan lebih dari 3 kali juga malah lebih berisiko. Hal ini disebabkan sistem kekebalan tubuh yang melemah dan perubahan hormon selama masa kehamilan dapat membuat wanita lebih rentan terhadap HPV.

    Pernah Mengonsumsi DES

    DES atau diethylstilbestrol adalah obat hormonal yang diberikan pada wanita untuk mencegah keguguran. Risiko yang ditimbulkan bahkan lebih besar. Selain itu, obat dapat meningkatkan risiko kanker pada janin perempuan yang dikandungnya.

    Faktor Keturunan

    Risiko terkena kanker serviks lebih tinggi juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan, yaitu keluarga perempuan pernah didiagnosis penyakit serupa.

    Langkah Pencegahan

    Ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan dalam menghadapi kanker serviks. Mulai dari menjalankan pola hidup sehat, menjalani pap smear atau tes IV A, dan vaksinasi HPV. Pemberian vaksin merupakan hal yang paling penting dalam pencegahan.

    Kapan Sebaiknya Vaksin Diberikan?

    Untuk pemberian vaksin sebaiknya disarankan mulai dari wanita usia 10 tahun ke atas atau lebih tepatnya sejak usia remaja atau belum pernah melakukan hubungan seksual sama sekali.
    Pemberian pada usia-usia yang masih “perawan” tersebut ternyata menurut penelitian lebih efektif dalam mencegah penularan kanker serviks daripada diberikan saat sudah berhubungan seksual karena kemungkinan infeksi HPV sudah ada. Pemberian vaksin biasanya diberikan dalam bentuk suntikan oleh dokter dengan cara menyuntik ke dalam otot di lengan atas atau paha.

    Berapa Dosis yang Diperlukan?

    Dosis yang diberikan pun cukup dua saja terutama pada usia 10-13 tahun sedangkan pada usia 16-18 tahun, dosisnya bertambah menjadi 3. Semua dilakukan dengan jarak 1-6 bulan dari masing-masing dosis penyuntikan.
    Pemberian dosis diperlukan untuk dapat memberikan perlindungan jangka panjang dari infeksi HPV. Jika belum lengkap, bisa segera berkonsultasi ke dokter untuk melengkapinya. Ternyata pemberian vaksin juga bermanfaat bagi pria, dan sangat direkomendasikan untuk pria berusia 26 tahun ke bawah, dan pernah berhubungan intim dengan sesama pria ataupun yang punya gangguan imunitas.

    Mengapa vaksin HPV juga penting untuk pria? Sebab ternyata virus ini juga dapat menyebabkan kutil kelamin, kanker anus, serta kanker tenggorokan yang bisa saja terjadi pada pria.

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Jenis-jenis Vaksin Kanker Serviks

    Vaksin kanker serviks sendiri mempunyai beberapa tiga jenis yang bisa dimanfaatkan sesuai dengan jenis virusnya. Jenis-jenisnya antara lain:

    • Pertama adalah vaksin yang umumnya digunakan untuk mencegah kanker serviks dan pra kanker. Vaksin jenis ini akan mencegah infeksi HPV-16 dan HPV-18 sebagai penyebab umum terjadinya kanker. Pemberiannya ditujukan untuk wanita berusia 10-25 tahun.
    • Kedua adalah Gardasil yang digunakan untuk mencegah kanker dan pra-kanker serviks, vulva, vagina, dan anus. Vaksin ini juga bisa menangkal infeksi HPV-6 dan HPV-11 sebagai penyebab kutil pada kelamin, serta bisa diberikan pada pria usia 9-26 tahun.
    • Ketiga adalah Gardasil 9. Cakupannya lebih luas dari Gardasil sebelumnya karena mencakup HPV-31, HPV-33, HPV-45, HPV 52, dan HPV-58 yang juga dapat menyebabkan kanker serviks, dan bisa diberikan pada pria usia 9-15 tahun.

    Seberapa Efektifkah?

    Vaksinasi HPV cukup efektif dalam mencegah penyebaran kanker serviks lebih lanjut . Hal tersebut bisa terlihat contohnya pada Amerika dan Australia yang mampu menurunkan kejadian akibat serviks sebanyak 75% dalam 10 tahun terakhir setelah menjalankan program vaksinasi secara nasional.

    Adakah Efek Samping yang Ditimbulkan?

    Tentu saja mengenai vaksin HPV ini banyak Sobat yang bertanya-tanya apakah vaksin pencegah penularan kanker tersebut mempunyai efek samping?
    Jawabannya, tentu saja ada.  Akan tetapi efek samping yang terjadi biasanya sementara dan tergolong ringan. Beberapa efek samping yang dikeluhkan adalah sebagai berikut:

    • Bengkak
    • Nyeri
    • Kemerahan di area suntikan
    • Sakit kepala

    Sedangkan efek samping yang tidak terlalu sering dan jarang ditemukan adalah:

    • Demam
    • Mual
    • Rasa sakit di sekitar lengan, tangan atau kaki
    • Muncul ruam merah yang menyebabkan gatal
    • Terhambatnya saluran pernafasan dan kesulitan bernafas

    Selain efek-efek samping di atas, vaksin kanker serviks juga dapat memicu reaksi alergi yang parah atau lebih dikenal dengan nama alergi anafilaksis yang bisa mengancam keselamatan jiwa.

    Karena itu, sebelum meminta diberikan vaksin, ada baiknya Sobat berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang akan memberikan informasi lengkap  termasuk membuat pertimbangan yang tepat mengenai manfaat yang dapat diperoleh serta risiko efek samping yang ditimbulkan.
    Setelah mendapatkan vaksin serviks, Sobat dianjurkan untuk melakukan pap smear sesuai dengan rekomendasi dari dokter. Tes ini untuk menguji keberadaan sel pra kanker atau kanker pada serviks. Jadi, bisa dibilang pap smear adalah tes lanjutan.
    Nah, bagi Sobat yang memerlukan vaksin HPV, informasi kesehatan, maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Harsono F. Berapa Harga Vaksin HPV untuk Penangkal Kanker Serviks? [Internet]. liputan6.com. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/3914327/berapa-harga-vaksin-hpv-untuk-penangkal-kanker-serviks
    2. Media K. Mengapa Vaksin HPV untuk Cegah Kanker Serviks Diberikan Dua Kali? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2019/12/22/094000620/mengapa-vaksin-hpv-untuk-cegah-kanker-serviks-diberikan-dua-kali-?page=all
    3. Rakyat P. Berniat Vaksinasi Kanker Serviks? Ketahui Dulu 6 Hal Berikut – Pikiran-Rakyat.com [Internet]. www.Pikiran Rakyat. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://www.pikiran-rakyat.com/gaya-hidup/pr-01283087/berniat-vaksinasi-kanker-serviks-ketahui-dulu-6-hal-berikut-405268

     

    Read More
  • Beberapa vaksin Corona diketahui menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA) untuk melawan virus Covid-19. Vaksin tersebut adalah buatan Moderna dan Pfizer. Menurut para ahli, teknologi tersebut ternyata dapat juga dimanfaatkan untuk mengatasi kanker. Hal inilah yang diungkapkan oleh dr. Jeffrey A. Mets, Kepala Staf di Pusat Perawatan Kanker Amerika Serikat di Atlanta, AS, seperti dilansir dari […]

    Penggunaan mRNA dalam Vaksin Corona untuk Mencegah Kanker

    Beberapa vaksin Corona diketahui menggunakan teknologi messenger RNA (mRNA) untuk melawan virus Covid-19. Vaksin tersebut adalah buatan Moderna dan Pfizer. Menurut para ahli, teknologi tersebut ternyata dapat juga dimanfaatkan untuk mengatasi kanker. Hal inilah yang diungkapkan oleh dr. Jeffrey A. Mets, Kepala Staf di Pusat Perawatan Kanker Amerika Serikat di Atlanta, AS, seperti dilansir dari Healthline.

    mRNA dalam vaksin Corona

    Baca Juga: Bagaimana Pengobatan Kanker yang Tepat?

    Hal ini berdasarkan pada pengamatannya bahwa sel kanker sendiri memproduksi protein yang merupakan target dari vaksin Corona yang menggunakan mRNA. Hal tersebut juta berdasarkan laporan bahwa mRNA dapat mengobati melanoma, jenis kanker kulit yang berasal dari sel melanosit. Namun, menurut dr. Jeffrey, cara mengatasi kanker selama ini masih sebatas pada pencegahan.

    Ia melihat contohnya pada kanker serviks yang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mampu memberikan angka penurunan yang drastis melalui peningkatan kesadaran mengenai bahaya kanker tersebut, skrining atau penapisan, dan pemberian vaksin HPV. Namun semua masih sebatas pencegahan, dan bukan pengobatan.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi HPV

    Antara vaksin Corona dan vaksin kanker mempunyai cara kerja yang sama, yaitu mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali sel kanker, baik untuk mencegah kanker kembali atau secara aktif mencari dan menghancurkan tumor dalam tubuh sebagai imunoterapi. Menurutnya, mRNA adalah teknologi yang fleksibel.

    Hal yang sama diungkapkan oleh Jacob Becraft, PhD dari Strand Therapeutics, sebuah perusahaan yang mengembangkan terapi mRNA dan biologi sintetis. Menurutnya, mRNA bisa dikodekan dengan protein apa pun, dan dapat dikirimkan ke dalam sel kanker sehingga kanker akan mengekspresikan protein yang memberi sinyal pada sistem kekebalan untuk menyerang sel tumor sebagai patogen asing yang perlu dihilangkan.

    Selain itu, mRNA bisa dimasukkan pada sel kekebalan dengan sensor sebagai senjata untuk dapat mendeteksi kanker, dan secara efektif mengajarkan sistem kekebalan untuk dapat membunuh sel kanker. Tak hanya itu, mRNA juga dapat menyebabkan sel kanker membuat terapi sendiri secara langsung di dalam kanker.

    Penelitian mengenai penggunaan teknologi mRNA ini secara langsung memang pernah dipraktikkan oleh para peneliti Cina. Hasil penelitian ini kemudian dimuat dalam jurnal Nano Letters dari American Chemical Society. Seperti dilansir dari Eurekalert! para peneliti tersebut menggunakan tikus sebagai media percobaan yang disuntikkan dengan tumor melanoma yang direkayasa dengan untuk mengekspresikan ovalbumin, protein yang biasanya ada putih telur ayam.

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Penggunaan ovalbumin dalam penelitian tersebut untuk dijadikan sebagai model antigen. Para peneliti kemudian akan mencampurkan ovalbumin yang sudah ada mRNA-nya itu dan bahan pembantu bersenyawa lain untuk membentuk hydrogel. Ketika sudah disuntikkan ke tikus, hidrogel perlahan-lahan melepaskan nanopartikel mRNA, bersama dengan adjuvan -molekul yang membantu mengaktifkan sistem kekebalan selama 30 hari.

    Vaksin mRNA mengaktifkan sel T dan merangsang produksi antibodi, menyebabkan tumor menyusut pada tikus yang dirawat. Selain itu, berbeda dari tikus yang tidak diobati, tikus yang divaksinasi tidak menunjukkan metastasis ke paru-paru. Hasil ini menunjukkan bahwa hidrogel memiliki potensi besar untuk mencapai imunoterapi kanker yang tahan lama dan efisien hanya dengan satu pengobatan,kata para peneliti.

    Meski begitu mRNA adalah molekul tidak stabil karena dengan cepat terdegradasi oleh enzim di dalam tubuh. Untuk imunoterapi kanker, peneliti telah mencoba menggunakan nanopartikel untuk melindungi dan mengirimkan mRNA. Penggunaan ini menyebabkan  mRNA dibersihkan dari tubuh dalam 1-2 hari setelah injeksi.

    Itulah mengenai penggunaan teknologi mRNA untuk mengatasi berbagai macam kanker termasuk kanker serviks. Namun sebelum teknologi tersebut benar-benar bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata, yuk Sahabat Sehat tetap proteksi diri dari kanker serviks yang disebabkan oleh virus HPV.

    Baca Juga: Aktivitas Pemicu Kanker

    Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang mempunyai layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. COVID-19 Vaccine Technology May Help Fight Cancer [Internet]. Healthline. 2021 [cited 19 February 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health-news/how-covid-19-technology-may-help-fight-cancer-in-the-near-future#The-latest-research
    2. An mRNA vaccine for cancer immunotherapy [Internet]. EurekAlert!. 2021 [cited 19 February 2021]. Available from: https://www.eurekalert.org/pub_releases/2021-02/acs-amv021221.php

     

    Read More
  • Bagi setiap orangtua ingin mempunyai anak yang dapat dibanggakan dan segala sesuatu akan dilakukan demi masa depannya. Terlebih lagi untuk perlindungan kesehatannya akan Bunda lakukan. Sebuah studi menyebutkan terdapat 11,6% remaja perempuan yang belum melakukan hubungan seksual, juga dapat terininfeksi dengan satu jenis dari Human Papillomavirus (HPV). Baca Juga: Takut Sama Kanker Serviks? Vaksinasi HPV […]

    Mari Lindungi Si Gadis Dari Kanker Serviks

    Bagi setiap orangtua ingin mempunyai anak yang dapat dibanggakan dan segala sesuatu akan dilakukan demi masa depannya. Terlebih lagi untuk perlindungan kesehatannya akan Bunda lakukan. Sebuah studi menyebutkan terdapat 11,6% remaja perempuan yang belum melakukan hubungan seksual, juga dapat terininfeksi dengan satu jenis dari Human Papillomavirus (HPV).

    Baca Juga: Takut Sama Kanker Serviks? Vaksinasi HPV Aja

    Seperti yang kita ketahui, infeksi HPV menjadi salah satu pencetus dari kanker serviks yang merupakan penyakit menular melalui kontak seksual vagina ataupun anal. Namun terdapat kontak lainnya secara genital-genital ataupun tangan-genital yang juga dapat meningkatkan risiko infeksi HPV. National Cancer institute mengatakan, lebih dari 40 jenis strain HPC yang ditransmisikan secara kontak seksual dapat menyebabkan kanker.

    Maka dari itu program rekomendasi untuk mencegah infeksi HPV  adalah pemberian vaksin HPV untuk remaja putri berusia 11-12 tahun sebelum terjadinya hubungan seksual secara aktif. Asisten Profesor dari bagian Anak Cincinnati Children, Lea Widdice mengatakan usia 11-12 tahun bukanlah hal yang terlalu cepat karena untuk melindungi mereka sebelum aktif hubungan seksual. Namun sebelumnya anak-anak juga sudah terpapar dengan HPV.

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi HPV ke Rumah

    Namun beberapa penelitian lain telah dilakukan dengan mengambil sample sebanyak 259 perempuan berusia 13-21 tahun yang mayoritas dari komunitas Afrika-Amerika. Pada hasil studi tersebut terdapat 109 partisipan telah melakukan hubungan seksual dan juga memiliki lebih dari satu pasangan. Terdapat 133 dari mereka terinfeksi oleh HPV dan 69 partisipan belum pernah berhubungan seksual namun 8 partisipan diantaranya terinfeksi virus HPV.

    Baca Juga: Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturan Pemberiannya?

    Dari penelitian tersebut, terdapat 2 diantaranya terinfeksi HPV 16 yang merupakan penyebab kanker serviks. Tentu orang yang sudah melakukan hubungan seksual, lebih beresiko terserang kanker serviks, namun hal tersebut akan lebih ringan bila dilakukan terlebih dahulu sebelumnya. Walaupun seseorang telah terinfeksi HPV pada vagina namun tetap bisa mendapatkan proteksi tambahan terhadap infeksi pada serviks dengan vaksin HPV ini.

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Jadi beri yang terbaik bukan hanya untuk Bunda saja namun untuk si Gadis dengan mendapatkan vaksinasi HPV di Prosehat yang mempunyai layanan vaksinasi ke rumah. Kenapa harus di Prosehat? Karena Prosehat mempunyai banyak kelebihan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Sumber:
    Effendi, Bonita. “Pencegahan Infeksi HP untuk Kaum Muda” https://www.tanyadok.com/berita/pencegahan-infeksi-hpv-untuk-kaum-muda. Diakses pada 29 Januari 2018

     

    Read More
  • Pap smear sebagai deteksi dini kanker serviks pasti sering terdengar familiar di telinga perempuan. Namun jangan salah, bagi sebagian perempuan Indonesia lainnya, papsmear terdengar asing. Pemeriksaan ini adalah salah satu cara untuk mewaspadai kanker serviks yang menyerang banyak perempuan di Indonesia. Sobat pasti bertanya-tanya seberapa penting papsmear dilakukan?apakah wajib dilakukan? Bagaimana prosedur pemeriksaan pap smear, […]

    Waspadai Kanker Serviks dengan Metode Pendeteksi Dini Berikut

    Pap smear sebagai deteksi dini kanker serviks pasti sering terdengar familiar di telinga perempuan. Namun jangan salah, bagi sebagian perempuan Indonesia lainnya, papsmear terdengar asing. Pemeriksaan ini adalah salah satu cara untuk mewaspadai kanker serviks yang menyerang banyak perempuan di Indonesia. Sobat pasti bertanya-tanya seberapa penting papsmear dilakukan?apakah wajib dilakukan? Bagaimana prosedur pemeriksaan pap smear, dan sebagainya. Yuk, mari kita kupas tuntas tentang papsmear dan kanker serviks.

    Prevalensi dan faktor risiko kanker seviks

    Tahukah Sobat bahwa kanker serviks merupakan salah satu kanker terbanyak pada wanita disamping kanker payudara? Ya, menurut WHO, 2 dari 20 wanita Indonesia menderita kanker serviks dan setiap harinya terdapat sekitar 26 orang wanita meninggal karena kanker seviks.1 Lebih mirisnya lagi, pada stadium awal kanker seringkali tidak terdeteksi karena tidak bergejala. Gejala akan dirasakan apabila kanker sudah berkembang menjadi stadium lanjut. Hal inilah yang menyebabkan angka kejadian kanker serviks pada wanita terus meningkat setiap tahunnya.

    Baca Juga: 5 Gejala Kanker Serviks yang Perlu Diwaspadai

    Penyebab kanker serviks

    Penyebab kanker serviks adalah Human Papiloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18. Sebanyak 12 jenis HPV menyebabkan kanker pada manusia, dan 70% dari kasus kanker serviks disebabkan oleh 2 tipe HPV tersebut.2 Virus ini menular melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, sehingga beberapa orang memiliki risiko untuk terkena kanker ini, antara lain:

    • Memiliki pasangan seksual lebih dari satu
    • Melakukan hubungan seks pertama kali di usia dini
    • Riwayat melahirkan lebih dari 6 kali
    • Penggunaan kontrasepsi oral dalam jangka waktu lama
    • Merokok
    • Riwayat menderita Penyakit Menular Seksual (PMS)
    • Menurunnya daya tahan tubuh karena HIV
    • Diet rendah serat (buah dan sayuran)
    • Kegemukan dan obesitas
    • Riwayat keluarga penderita kanker serviks

    Gejala kanker serviks

    Kanker serviks pada stadium awal tidak bergejala. Ketika kanker sudah berkembang ke stadium lanjut, gejala yang dapat dirasakan berupa perdarahan tidak normal dari vagina seperti perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan setelah menopause, di antara siklus haid, serta perdarahan saat haid yang lebih banyak dan panjang dari biasanya. Kemudian, gejala lainnya adalah keluarnya cairan tidak normal dari vagina diantara siklus haid. Rasa nyeri juga dapat dirasakan bila ada infeksi yang terjadi di daerah serviks.3Kanker serviks memiliki massa pra-kanker yang panjang dan butuh proses 3 hingga 20 tahun sampai terjadinya kanker serviks dimulai dari infeksi HPV.4

    Baca Juga: 6 Tips Menghindari Seks Berisiko

    Pemeriksaan papsmear sebagai deteksi dini

    Pap smear atau papanicolau smear merupakan pemeriksaan mikroskopik sel mulut rahim (serviks) untuk mendeteksi adalanya sel prekanker atau kanker. Pemeriksaan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1928 oleh dr. George N. Papanicoloau yang berhasil menurunkan kejadian kanker serviks saat itu sebesar 75%. Pemeriksaan ini hendaknya dilakukan setahun sekali pada wanita yang sudah aktif secara seksual sekitar usia 21 tahun dan dapat berhenti dilakukan saat 70 tahun bila tidak ada kelainan abnormal.5

    Tes pap smear dilakukan pada hari ke 14 setelah menstruasi. Bila sobat ingin melakukan tes ini, harus abstain atau tidak melakukan hubungan seksual 48 jam sebelum pemeriksaan dan tidak boleh menggunakan kontrasepsi, pelumas, atau pembersih vagina sebelum pemeriksaan. Kemudian, pengambilan sampel dilakukan dengan posisi litotomi (mengangkang) dan alat berupa spekulum dimasukkan serviks dapat terlihat. Setelah itu, diambil bagian dari mulut serviks dengan menggunakan spatula dan dioleskan dengan di kaca gelas.5

    Baca Juga: Kanker Serviks Bisakah Disembuhkan?

    Hasil pemeriksaan pap smear dapat diambil kemudian dan dapat terlihat apakah ada lesi kanker atau pra kanker di sana. Hasil pap smear dapat negatif (meskipun ada sel abnormal pada serviks anda) karena beberapa sebab antara lain kurangnya sel serviks yang diambil, jumlah sel yang tidak normalnya sedikit, adanya sel darah atau sel radang yang menutupi sel yang tidak normal. Bila hasil pemeriksaan positif atau ditemukan sel tidak normal, maka Sobat akan disarankan melakukan pemeriksaan kolposkopi atau biopsi untuk memeriksa jaringan serviks, vagina dan vulva.

    Produk Terkait: Papsmear

    Apakah pemeriksaan pap smear sakit?Tentu tidak. Kemungkinan penyebab rasa sakit pada saat diperiksa adalah saat alat spekulum dimasukkan ke dalam vagina. Hal ini menimbulkan sedikit rasa sakit, pada saat pengambilan sel tidak akan terasa sakit. Selain rasa sakit, berbagai alasan membuat wanita menjadi enggan untuk memeriksakan diri. Ada yang bilang takut ketahuan bila ternyata hasil pemeriksaan positif kanker hingga alasan tidak ada waktu untuk melakukan pemeriksaan. Ayolah, satu hari dalam setahun dapat Sobat luangkan untuk pemeriksaan pap smear.

    Pencegahan kanker serviks

    Kanker serviks sekarang dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi kanker serviks. Vaksinasi ini mulai dapat diberikan anak usia 11 atau 12 tahun dalam 2 kali suntik. Jika anak berusia diatas 14 tahun, vaksin ini diberikan dalam 3 kali suntik. Selain itu, semua wanita dapat diberikan vaksin ini. Pencegahan lain dari kanker serviks adalah dengan menghindari semua faktor risiko seperti setia pada satu pasangan seksual, tidak merokok, lawan kegemukan, dan pastinya selalu jalanin gaya hidup sehat setiap harinya dengan makan makanan sehat, olahraga teratur, lakukan pemeriksaan kesehatan berkala serta kelola stres.

    Baca Juga: 10 Makanan Pencegah Kanker Serviks

    Suduh cukup tahu tentang pap smear dan kanker serviks, kan? Mau tunggu apalagi, yuk, segera datangi layanan kesehatan terdekat untuk melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur. Jangan takut untuk untuk diperiksa ya, karena pencegahan dan deteksi dini lebih baik dibandingkan dengan bila sudah terkena penyakit. Apabila memerlukan informasi  mengenai papsmear dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kendalikan kanker serviks sejak dini dengan imunisasi. 2016. [Internet]. Retrieved from: kemkes.go.id
    Murillo R, Herrero R, Sierra MS, Forman D. Etiology of cervical cancer (C53) in Central and South America.2016. In: Cancer in Central and South America. Lyon: International Agency for Research on Cancer
    American Cancer Society. Cervical cancer causes, risk factors and prevention. [Internet]. Retrieved from: cancer.org/content/dam/CRC/PDF/Public/8600.00.pdf
    Mastutik G, Alia R, Rahniayu A, Kurniasari N, Rahaju AS, Mustokoweni S. Skirining kanker serviks dengan pemeriksaan papsmear di Puskesmas Tanah Kali Kedinding Surabaya dan RS Mawadah Mojokerto. Majalah Obstetri dan ginekologi.
    Mehta V, Vasanth V, Balachandran C. Pap smear. Indian Journal Dermatology Venereology Leprology 2009;75:214-6.

    Read More
  • Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia setelah penyakit jantung. Bagi kaum wanita, jumlah penderita kanker serviks menempati posisi kedua tertinggi setelah kanker payudara. Kanker serviks adalah tumor ganas yang berasal dari serviks (mulut rahim) dan 90% diawali oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Meskipun kanker serviks memiliki tingkat keberhasilan pencegahan dan kesembuhan paling […]

    Kanker Serviks Bisakah Disembuhkan?

    Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia setelah penyakit jantung. Bagi kaum wanita, jumlah penderita kanker serviks menempati posisi kedua tertinggi setelah kanker payudara. Kanker serviks adalah tumor ganas yang berasal dari serviks (mulut rahim) dan 90% diawali oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Meskipun kanker serviks memiliki tingkat keberhasilan pencegahan dan kesembuhan paling tinggi di antara jenis kanker lainnya, sampai pada tahun 2013, lebih dari separuh populasi wanita di dunia mendapat kanker serviks setiap tahun. Hal ini disebabkan kurang terlaksananya strategi pencegahan kanker serviks, yaitu vaksinasi HPV dan deteksi dini. Saat ini, di Indonesia telah tersedia fasilitas yang melaksanakan strategi tersebut. Oleh karena itu, sayang sekali jika Anda atau kerabat akhirnya menderita kanker serviks hanya karena kita tidak memiliki informasi yang cukup. Melalui artikel ini, mari kita kupas bersama cara pencegahan dan terapi efektif kanker serviks!

    Siapa saja yang harus mendapat vaksin HPV?

    Setiap remaja perempuan dan wanita berusia 9 – 26 tahun yang tidak sedang hamil, disarankan mendapat vaksin HPV dan sebaiknya sebelum melakukan hubungan seksual pertama kali. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan usia terbaik untuk mendapat vaksin HPV adalah 11 – 12 tahun. Untuk perempuan berusia < 14 tahun, cukup diberikan dua dosis (dua kali penyuntikkan) dengan jarak waktu 6 – 12 bulan, sedangkan untuk perempuan berusia 14 – 26 tahun diperlukan tiga dosis (tiga kali penyuntikkan). Jadwal vaksin tiga dosis ini berbeda – beda sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Di Indonesia, terdapat dua jenis vaksin HPV yaitu kuadrivalen (melawan HPV tipe 6, 11, 16, dan 18) dan bivalen (melawan HPV tipe 16 dan 18). Jika Anda menggunakan vaksin kuadrivalen, penyuntikkan dilakukan di bulan ke 0, 2, dan 6, sedangkan jika Anda menggunakan vaksin bivalen, penyuntikkan dilakukan di bulan ke 0, 1, dan 6.

    Baca Juga: Fakta Seputar Tetanus Pada Anak

    Hingga saat ini belum ada penelitian yang membandingkan perbedaan efektivitas kedua jenis vaksin tersebut, tapi keduanya terbukti mencegah kanker serviks yang disebabkan HPV tipe 16 dan 18 sebesar hampir 100%. Perlu diketahui, kanker serviks juga dapat disebabkan oleh HPV tipe lain dan virus lain, meskipun memang penyebab tersering kanker serviks dan paling berbahaya adalah HPV tipe16 dan 18. Setelah mendapat vaksin HPV, setiap wanita di atas usia 30 tahun tetap wajib melakukan pemeriksaan rutin untuk skrining kanker serviks.

    Sebagai informasi tambahan, pria berusia 9 – 26 tahun juga disarankan mendapat vaksin HPV karena selain menyebabkan kanker serviks, beberapa tipe HPV juga dapat menyebabkan    kanker lain seperti anus, penis (alat kelamin pria), dan orofaring (dinding belakang rongga mulut).

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi HPV

    Kanker serviks paling bisa disembuhkan di antara kanker lain karena perjalanan penyakitnya cukup lama, sehingga konsensus merekomendasikan setiap wanita melakukan pemeriksaan rutin mulai usia 30 tahun setiap 5 tahun sekali, karena semakin  awal stadium saat terdeteksi, semakin besar tingkat kesembuhannya. Pemeriksaan kanker serviks dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan awal (skrining) bertujuan untuk melihat apakah ada kelainan pada serviks, berupa Pap smear (sel serviks diambil dan diperiksa di laboratorium) atau  tes Inspeksi Visual Asam-asetat/IVA yang lebih sederhana (kapas yang dibasahi asam-asetat ditempel di serviks selama 5 menit, kemudian serviks diamati secara langsung).

    Baca Juga: 5 Mitos Nyeri Sendi

    Jika hasil skrining menunjukkan kelainan, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa kolposkopi (melihat serviks secara langsung dengan bantuan alat seperti mikroskop, bernama kolposkop) dan biopsi (mengambil sedikit jaringan serviks untuk diperiksa di laboratorium) untuk menegakkan diagnosis.

    Apa saja pilihan pengobatan yang tersedia di Indonesia bagi penderita kanker serviks? Berapa besar kemungkinan untuk sembuh?

    Pilihan pengobatan kanker serviks bergantung pada stadium saat terdiagnosis. Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker membutuhkan waktu kurang lebih 7 tahun. Sel serviks yang terinfeksi secara persisten (bertahan dalam waktu yang lama) akan berubah menjadi lesi pra-kanker atau disebut cervical intraepithelial neoplasia (CIN), yaitu sel serviks yang tidak normal tapi belum sepenuhnya berubah menjadi sel kanker. Jika seseorang terdeteksi pada stadium CIN, ada 3 pilihan prosedur pengobatan. World Health Organization (WHO) menyatakan pilihan terbaik saat ini adalah ablasi (menghancurkan sel tidak normal tanpa membuang bagian dari serviks). Prosedur ablasi dilakukan tanpa bius umum, dengan menggunakan alat bersuhu sangat dingin (-90oC) atau sangat panas (100 – 120oC) untuk membunuh sel serviks yang tidak normal. Prosedur ini memiliki angka kesembuhan 85 – 95%. Pilihan kedua adalah eksisi serviks (membuang seluruh atau sebagian dari serviks) dengan kemungkinan kesembuhan 84%. Pilihan ketiga adalah histerektomi (mengangkat rahim), dapat menjadi pilihan bagi wanita yang sudah tidak ingin memiliki anak.

    Baca Juga: 6 Mitos dan Fakta Seputar Imunisasi

    Jika stadium CIN terlewati dan berlanjut menjadi kanker, pilihan pengobatan akan berkurang. Pada kanker serviks stadium I (kanker terbatas pada serviks), terdapat pilihan eksisi dan pengangkatan seluruh bagian serviks bagi wanita yang masih ingin memiliki anak, atau pengangkatan rahim jika sudah tidak ingin memiliki anak. Harapan hidup untuk 5 tahun ke depan pada stadium I masih 100%. Pada stadium II (harapan hidup untuk 5 tahun: 44 – 68%) dan stadium III (harapan hidup untuk 5 tahun: 18 – 39%), operasi sulit memberikan hasil yang baik, sehingga pilihan terbatas pada kemoradiasi (gabungan kemoterapi dan radioterapi). Jika sampai pada stadium IV-A (harapan hidup untuk 5 tahun: 18 – 39%), kemoradiasi menjadi pilihan utama, dan pada kasus yang sangat jarang dapat dilakukan pengangkatan seluruh organ panggul. Pada stadium akhir, yaitu IV-B, harapan hidup dalam 5 tahun ke depan sudah < 18%, sehingga umumnya perawatan yang diberikan bukan bertujuan untuk menyembuhkan tetapi meningkatkan kualitas hidup dengan bantuan kemoradiasi.

    Jadi, kanker serviks bisa disembuhkan jika terdeteksi pada stadium awal. Perlu diketahui, setelah dinyatakan sembuh, masih terdapat kemungkinan untuk muncul sel kanker baru sebesar 30 – 70%, tergantung kondisi masing – masing pasien. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap perempuan untuk melakukan vaksin HPV dan pemeriksaan rutin sesuai rekomendasi untuk mencegah kanker serviks.

    Baca Juga: 10 Makanan si Pencegah Kanker Serviks

    Nah, bila Sahabat ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya kanker serviks, tak perlu bingung untuk melakukan vaksinasi HPV, Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang mempunyai layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

     

    Referensi

    1. Castle P, Murokora D, Perez C, Alvarez M, Quek S, Campbell C. Treatment of cervical intraepithelial lesions. International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2017;138:20-25.
    2. Hoffman B, Schorge J, Schaffer J, Halvorson L, Bradshaw K, Cunningham F. Williams Gynecology. 2nd ed. McGrawHill; 2012.
    3. HPV Vaccine Information For Young Women [Internet]. Cdc.gov. 2017 [cited 6 July 2018]. Available from: https://www.cdc.gov/std/hpv/stdfact-hpv-vaccine-young-women.htm
    4. JadwalImunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2017 [cited 6 July 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
    5. Petry K. HPV and cervical cancer. Scandinavian Journal of Clinical and Laboratory Investigation. 2014;74(sup244):59-62.

     

    Read More
  • Sahabat Sehat, sudah tahukah Anda mengenai vaksin HPV? Apa kegunaannya, apa saja jenisnya, dan bagaimana pemberian yang tepat? Simaklah artikel di bawah ini yang akan membahas seputar vaksin tersebut. Baca Juga: Amankah Vaksinasi HPV Selama Pandemi Corona? Vaksin HPV adalah vaksin yang bertujuan untuk mencegah penyakit menular seksual akibat human papillomavirus. Vaksin ini terbukti efektif […]

    Apa Bedanya HPV Bivalen dan Tetravalen?

    Sahabat Sehat, sudah tahukah Anda mengenai vaksin HPV? Apa kegunaannya, apa saja jenisnya, dan bagaimana pemberian yang tepat? Simaklah artikel di bawah ini yang akan membahas seputar vaksin tersebut.

    HPV bivalen dan tetravalen

    Baca Juga: Amankah Vaksinasi HPV Selama Pandemi Corona?

    Vaksin HPV adalah vaksin yang bertujuan untuk mencegah penyakit menular seksual akibat human papillomavirus. Vaksin ini terbukti efektif untuk mencegah terjadinya penyakit kanker leher rahim pada perempuan akibat paparan terhadap HPV. Selain itu, vaksin ini juga dapat mencegah kanker vagina dan vulva pada perempuan, serta penyakit kutil kelamin maupun kanker anus pada perempuan dan laki-laki. Berikut adalah tipe HPV yang dapat menimbulkan penyakit:

    • HPV tipe 16 dan 18, penyebab 70% kejadian penyakit kanker leher rahim.
    • HPV tipe 6 dan 11, menyebabkan 90% kejadian penyakit kutil kelamin.
    • Terdapat pula 5 tipe HPV lainnya yaitu tipe 31, 33, 45, 52, dan 58 yang dapat menyebabkan kanker leher rahim, kanker vagina, kanker vulva, kanker anus, kanker penis, dan kanker tenggorokan.1,2

    Berdasarkan cakupan tipe HPV yang dapat dicegah dengan vaksin, maka terdapat dua jenis vaksin HPV yang digunakan di Indonesia:

    • Bivalen

    Vaksin HPV bivalen memberikan proteksi terhadap HPV tipe 16 dan 18 yang dapat mencegah kanker leher rahim.

    • Tetravalen

    Vaksin HPV tetravalen memberikan proteksi terhadap HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Sehingga selain berfungsi mencegah kanker leher rahim, vaksin ini juga memberikan perlindungan dari penyakit kutil kelamin.1,3 

    Produk Terkait: Layanan Vaksinasi HPV

    Menurut rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) vaksin HPV dapat diberikan mulai usia 10 tahun atau sebelum yang bersangkutan aktif secara seksual. Tujuannya adalah untuk memberikan kekebalan terhadap infeksi HPV sebelum yang bersangkutan aktif secara seksual dan terpapar dengan virus ini yang ditularkan melalui hubungan seksual. Vaksin HPV masih dapat diberikan kepada perempuan yang sudah aktif secara seksual dengan pertimbangan bahwa yang bersangkutan belum tentu sudah terpapar dengan jenis HPV yang dapat menimbulkan penyakit. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa vaksin ini tidak dapat digunakan untuk mengobati infeksi HPV yang sedang terjadi. Selain pada perempuan, vaksinasi varian tetravalen pada laki-laki juga akan memberikan efek proteksi terhadap penyakit kutil kelamin dan juga menurunkan penularan HPV pada pasangannya.3,4

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Jadwal dari pemberian vaksin bivalen diberikan tiga kali yaitu:

    • Dosis pertama: saat ini
    • Dosis kedua: 1 bulan setelah dosis pertama
    • Dosis ketiga: 6 bulan setelah dosis kedua

    Sedangkan untuk vaksin tetravalen diberikan juga tiga kali yaitu:

    • Dosis pertama: saat ini
    • Dosis kedua: 2 bulan setelah dosis pertama
    • Dosis ketiga: 6 bulan setelah dosis kedua

    Apabila vaksin ini diberikan pada remaja usia 10-13 tahun, pemberian cukup diberikan 2 dosis dengan interval 6-12 bulan karena pada usia tersebut, respons antibodi yang diberikan dari 2 kali suntikan setara dengan 3 kali suntikan. Jika jadwal pemberian vaksin terlewat, Anda tidak perlu mengulangnya dari awal. Cukup dengan melengkapi dosis vaksin untuk kanker serviks yang terlewat sebelumnya.3–6

    Vaksin HPV tidak disarankan dilakukan pada wanita yang sedang hamil. Walaupun pemberian vaksin ini tidak menimbulkan gangguan pada bayi yang dikandung,  masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini. Apabila kehamilan terjadi ditengah-tengah pemberian vaksin, dosis berikutnya sebaiknya diberikan setelah melahirkan.7

    Baca Juga: Takut Sama Kanker Serviks? Vaksinasi HPV Saja!

    Efek samping dari pemberian vaksin sebenarnya tergolong cukup ringan seperti rasa nyeri pada lokasi penyuntikan, demam, pusing, dan mual. Efek samping ini juga hanya bersifat sementara dan bisa dikurangi dengan cara beristirahat dalam posisi duduk atau berbaring selama 15 menit terlebih dahulu setelah penyuntikan.7

    Demikian penjelasan singkat mengenai vaksinasi HPV dan jenis-jenisnya, semoga artikel ini bermanfaat bagi Sahabat Sehat. Yuk vaksinasi HPV sekarang untuk mencegah kanker leher rahim ke depannya, lindungi keluarga dan sahabat dengan vaksinasi lengkap di Prosehat. Mengapa di Prosehat? Karena Prosehat mempunyai layanan vaksinasi ke rumah yang mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Human Papillomavirus (HPV) Vaccines – National Cancer Institute [Internet]. 2019. Available from: https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/infectious-agents/hpv-vaccine-fact-sheet
    2. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination [Internet]. Available from: https://www.plannedparenthood.org/learn/stds-hiv-safer-sex/hpv/should-i-get-hpv-vaccine
    3. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
    4. STD Facts – HPV and Men [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/std/hpv/stdfact-hpv-and-men.htm
    5. HPV Vaccines and Cervical Cancer [Internet]. WebMD. Available from: https://www.webmd.com/sexual-conditions/hpv-genital-warts/hpv-vaccines-human-papillomavirus
    6. HPV | For Clinicians | Vaccination Schedules and Recommendations | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/hpv/hcp/schedules-recommendations.html
    7. HPV Vaccine Information For Young Women [Internet]. 2021. Available from: https://www.cdc.gov/std/hpv/stdfact-hpv-vaccine-young-women.htm
    Read More

Showing 1–10 of 18 results

Chat Asisten ProSehat aja