Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ infeksi”

  • Minggu, 28 Maret 2021 terjadi dua peristiwa yang cukup mengejutkan yaitu meledaknya bom di area Gereja Katedral Makassar dan terbakarnya kilang minyak Balongan milik Pertamina di Indramayu. Kedua peristiwa itu tentu dapat menimbulkan kepanikan maupun kecemasan bagi masyarakat sekitar. Selain itu, ledakan bom dan kebakaran dapat berpotensi menimbulkan luka bakar pada beberapa bagian atau seluruh […]

    Terkena Luka Bakar Seperti Ledakan Bom di Makasar dan Kebakaran Kilang Minyak di Indramayu? Berikut Cara Penanganannya!

    Minggu, 28 Maret 2021 terjadi dua peristiwa yang cukup mengejutkan yaitu meledaknya bom di area Gereja Katedral Makassar dan terbakarnya kilang minyak Balongan milik Pertamina di Indramayu.

    terkena luka bakar

    Kedua peristiwa itu tentu dapat menimbulkan kepanikan maupun kecemasan bagi masyarakat sekitar. Selain itu, ledakan bom dan kebakaran dapat berpotensi menimbulkan luka bakar pada beberapa bagian atau seluruh tubuh.

    Baca Juga: Benarkah Air Liur Manusia Mampu Menyembuhkan Luka?

    Luka bakar merupakan hal yang harus segera ditangani dengan tepat, karena jika penanganan kurang tepat dapat memperburuk kondisi luka dan menimbulkan infeksi pada luka.

    Berkaitan dengan hal tersebut, masyarakat Indonesia hingga kini masih melakukan penanganan awal luka bakar dengan cara yang salah misalnya mengoleskan kecap maupun pasta gigi pada luka bakar.

    Lalu bagaimana sebenarnya penanganan pertama yang tepat bagi penderita luka bakar? Yuk, Sahabat Sehat mari simak beberapa langkah berikut!

    Penanganan Pertama Bagi Luka Bakar

    1. Gunakan air dingin untuk mengompres dan membilas lukayang terasa panas selama sekitar 10-20 menit.
    2. Bila timbul gelembung luka, sebaiknya dibiarkan saja. Hindari menutupluka dengan plester, dan sebaiknya tidak memecahkan gelembung luka.
    3. Oleskan salep khusus untuk luka bakar atau salep antibiotik yang berfungsi sebagai antiradang dan antimikroba untuk membantu pembentukan jaringan kulit baru. Oleskan setiap 4-6 jam sekali, dengan ketebalan sekitar 1 milimeter. Karena itu, penting bagi Sahabat untuk selalu menyediakan salep kulit pada kotak P3K di rumah sebagai antisipasi.

    Produk Terkait: Jual Salep Luka Bakar

    Sahabat juga dapat menggunakan beberapa cara alami seperti berikut, untuk luka bakar ringan:

    Menggunakan Susu

    Susu yang biasa Sahabat minum setiap hari juga dapat Sahabat jadikan sebagai penanganan awal luka bakar. Susu dianggap dapat membantu menenangkan kulit yang meradang karena luka bakar. Siapkan semangkuk susu skim dingin dalam mangkuk lalu siramkan susu cair ke bagian kulit yang mengalami luka bakar.

    Mengiris Kentang

    Cara kedua adalah dengan menggunakan kentang mentah. Sahabat dapat membelah kentang dan letakan pada area luka selama beberapa menit. Irisan kentang dipercaya mampu membantu menghilangkan iritasi di sekitar luka.

    Mengoleskan Lidah Buaya

    Lidah buaya merupakan tanaman yang bisa dijadikan sebagai obat luka bakar ringan karena mengandung berbagai zat yang dapat memberi efek menenangkan peradangan di kulit, dan dapat mengurangi pembengkakan pada luka bakar.

    Baca Juga: Kenali Impetigo, Infeksi Kulit pada Anak 

    Mengoleskan Minyak kelapa

    Kandungan vitamin E dan asam lemak seperti asam laurat pada minyak kelapa berguna untuk mencegah timbulnya jamur dan bakteri pada luka bakar.

    Menggunakan Teh kantong hitam

    Teh kantong hitam yang dingin dipercaya dapat meredakan luka bakar. Kandungan tanin dalam teh hitam dapat membantu menurunkan panas dari luka bakar dan meredakan rasa nyeri. Letakkan kantong teh yang sudah dicelupkan kedalam air dingin, pada area luka lalu balut dengan menggunakan perban.

    Apabila luka bakar yang Sahabat alami bukan termasuk luka bakar ringan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Baca Juga: Luka Lama yang Sulit Menyembuh

    Sahabat juga bisa memanfaatkan layanan perawatan luka bakar ini di Prosehat melalui layanan panggil ke rumah. Info lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Sandi F. Fakta-fakta Terbaru Bom Meledak di Depan Katedral Makassar [Internet]. news. 2021 [cited 29 March 2021]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/news/20210329070922-4-233483/fakta-fakta-terbaru-bom-meledak-di-depan-katedral-makassar
    2. Media K. Kilang Minyak Pertamina di Balongan Indramayu Terbakar Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 29 March 2021]. Available from: https://regional.kompas.com/read/2021/03/29/054533678/kilang-minyak-pertamina-di-balongan-indramayu-terbakar?page=all
    3. Cara Mengatasi Luka Bakar untuk Pertolongan Pertama [Internet]. CNN Indonesia. 2021 [cited 29 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200722161849-255-527723/cara-mengatasi-luka-bakar-untuk-pertolongan-pertama
    4. 5 Cara Alami Sembuhkan Luka Bakar [Internet]. CNN Indonesia. 2021 [cited 29 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20181114134752-255-346495/5-cara-alami-sembuhkan-luka-bakar
    Read More
  • Di masa tumbuh-kembang, anak-anak rentan terhadap berbagai infeksi kuman salah satu contohnya adalah impetigo, yaitu suatu infeksi pada kulit. Baca Juga: Jangan Lewatkan Tahap Tumbuh Kembang Anak  Infeksi kulit ini lebih sering diderita anak-anak pada usia 2-5 tahun daripada orang dewasa, dan diperkirakan sekitar 162 juta orang anak di seluruh dunia mengalami impetigo dan lebih […]

    Kenali Impetigo, Infeksi Kulit pada Anak yang Sering Dialami di Masa Tumbuh-Kembang

    Di masa tumbuh-kembang, anak-anak rentan terhadap berbagai infeksi kuman salah satu contohnya adalah impetigo, yaitu suatu infeksi pada kulit.

    infeksi kulit pada anak

    Baca Juga: Jangan Lewatkan Tahap Tumbuh Kembang Anak 

    Infeksi kulit ini lebih sering diderita anak-anak pada usia 2-5 tahun daripada orang dewasa, dan diperkirakan sekitar 162 juta orang anak di seluruh dunia mengalami impetigo dan lebih sering terjadi di negara berkembang maupun negara miskin. Impetigo dapat ditularkan melalui sentuhan kulit penderitanya.

    Penularan biasanya terjadi setelah anak selesai bermain dan memegang benda yang sebelumnya sudah dipakai oleh orang yang menderita infeksi kulit ini, yang ditandai dengan munculnya luka kecil atau ruam pada kulit.

    Penyebab Impetigo

    Impetigo disebabkan oleh bakteri bernama Staphylococcus aureus (S.aureus) atau Streptococcus pyogenes (S.pyogenes).Bakteri ini dapat menginfeksi  lapisan kulit luar, misal pada wajah, lengan, dan tungkai.

    Bakteri tersebut dapat berkembang biak dalam kondisi cuaca yang panas serta lembab, sehingga kasusnya dapat memuncak di saat cuaca panas dan akan menurun saat musim dingin.

    Pada anak-anak, impetigo dapat terjadi ketika kulit anak terluka atau tergores karena gigitan serangga. Anak berisiko menderita impetigo jika mengalami salah satu kondisi di bawah ini:

    • Menderita diabetes.
    • Tinggal di iklim yang hangat atau
    • Menderita gangguansistem kekebalan
    • Menjalani cuci darah.
    • Riwayat gigitan serangga.
    • Sering berolahraga.
    • Memiliki riwayat gangguan kulit seperti eksim, ataupun gangguan psoriasis.
    • Kulit terbakar sinar matahari atau mengalami luka bakar.

    Jenis & Gejala Impetigo

    Gejala impetigo dapat mulai dirasakan dalam kurun waktu 4-10 hari setelah terpapar oleh bakteri, dapat diawali dengan keluhan demam, tidak enak badan, maupun pembesaran kelenjar getah bening. Gejala lainnya dapat dibedakan sesuai jenis impetigo, sebagai berikut:

    Impetigo NonBulosa

    Diperkirakan 70% impetigo merupakan jenis impetigo nonbulosa, yang ditandai dengan gejala:

    • Kemerahan, luka gatal di sekitar mulut dan hidung
    • Luka pecah, meninggalkan kulit merah, dan iritasi di sekitarnya
    • Kulit berkerak berwarna kuning kecoklatan
    • Ketika kulit sembuh terdapat bintik kemerahan yang memudar dan tidak meninggalkan bekas pada kulit

    Impetigo Bulosa

    Ditandai dengan gejala berikut :

    • Muncul lepuhan atau bintikberisi cairan bening yang dapat terlihat keruh, serta tidak dikelilingi oleh area kemerahan
    • Lepuhan atau bintik menjadi lunak dan pecah
    • Bentuk luka kekuningan dan berkerak di area lepuhan yang pecah
    • Lepuhan atau bintik biasanya tidak meninggalkan bekas luka pada kulit saat sudah sembuh

    Ecthyma

    Merupakan jenis impetigo yang terjadi bila tidak ditangani dengan baik, dan dapat ditandai dengan gejala berikut :

    • Muncul lepuhan atau pun luka lecet yang terasa nyeri pada kulit bokong, paha, tungkai, pergelangan kaki, dan kaki
    • Lepuhan berubah menjadi luka yang berisi nanah dengan kerak yang tebal
    • Kulit di sekitar luka sering kali tampak merah
    • Luka sembuh secara perlahan dan dapat meninggalkan bekas pada kulit setelah  penyakit sembuh

    Baca Juga: Benarkah Air Liur Manusia Mampu Menyembuhkan Luka?

    Bagaimana Cara Mengatasi Impetigo?

    Impetigo dapat diatasi dengan pemberian obat dan menjaga kesehatan kulit. Dokter umumnya memberikan obat salep serta antibiotik untuk melawan infeksi pada kulit.

    Produk Terkait: Jual Salep Ruam 

    Jika ditangani dengan baik, impetigo dapat menunjukan perbaikan dalam waktu 7-10 hari. Namun proses pemulihan dapat membutuhkan waktu lebih lama jika ada infeksi lain pada kulit.

    Untuk mencegah terjadinya impetigo, dapat melakukan beberapa hal berikut :

    • Bersihkan benda-benda yang sering disentuh oleh anak seperti mainan, kaus, seprai, karpet, boneka bulu, kasur lipat, handuk, maupun sofa.
    • Cuci hingga bersih dan sebaiknya dijemur di bawah sinar matahari.
    • Anjurkan anak untuk mandi teratur.
    • Gunting kuku jari secara berkala.
    • Cuci tangan teratur sebelum dan setelah makan serta setiap habis bermain.
    • Berikan sayur, buah yang kaya akan vitamin C.
    • Beri air putih yang cukup.

    Nah, itulah Sahabat Sehat mengenai impetigo yang merupakan salah satu jenis infeksi kulit pada anak yang seringkali dialami pada masa tumbuh-kembang.

    Baca Juga: Luka Lama yang Sulit Menyembuh

    Apabila Sahabat perlu informasi lebih lanjut mengenai impetigo dan produk-produk kesehatan yang berkaitan, silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Danti N. Infeksi Kulit Impetigo: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya [Internet]. POPMAMA.com. 2021 [cited 23 March 2021]. Available from: https://www.popmama.com/kid/1-3-years-old/nisrina-danti/infeksi-kulit-impetigo/7
    2. Afani A. Kenali Impetigo Bulosa, Infeksi Bakteri yang Sering Menyerang Kulit Balita [Internet]. parenting. 2021 [cited 23 March 2021]. Available from: https://www.haibunda.com/parenting/20201104165610-60-171348/kenali-impetigo-bulosa-infeksi-bakteri-yang-sering-menyerang-kulit-balita#
    3. Irawan D. Mengenal Impetigo Bulosa, Infeksi Kulit Pada Anak yang Muncul di Musim Pancaroba [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 23 March 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/3361887/mengenal-impetigo-bulosa-infeksi-kulit-pada-anak-yang-muncul-di-musim-pancaroba
    Read More
  • Hepatitis B adalah penyakit peradangan pada hati dan merupakan penyakit menular. Penyebab infeksi hepatitis B adalah virus Hepatitis B (VHB). Virus hepatitis B dalam perjalanan penyakitnya dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis. Hepatitis merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia. Indonesia  menjadi negara kedua […]

    Penyebab Infeksi Hepatitis B pada Bayi

    Hepatitis B adalah penyakit peradangan pada hati dan merupakan penyakit menular. Penyebab infeksi hepatitis B adalah virus Hepatitis B (VHB). Virus hepatitis B dalam perjalanan penyakitnya dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis.

    Hepatitis merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit endemis di Indonesia. Indonesia  menjadi negara kedua tertinggi sebagai negara endemisitas hepatitis B di antara negara South East Asian Region(SEAR) lainnya. Sedangkan peringkat satu sebagai negara endemisitas hepatitis B tertinggi adalah Myanmar.

    Virus Hepatitis B telah menginfeksi sekitar 2 milyar orang di dunia. Sekitar 240 juta orang diantaranya menjadi pengidap Hepatitis B kronik. Sebanyak 1,5 juta penduduk dunia meninggal setiap tahunnya karena Hepatitis. Menurut Riskesdas 2013, prevalensi hepatitis di Indonesia adalah 1,2% dari jumlah total penduduk. Sekitar 1-5% diantaranya merupakan ibu hamil dengan virus hepatitis B.

    Penularan infeksi virus hepatitis B dapat terjadi melalui 2 cara, yaitu penularan secara horizontal dan penularan secara vertikal. Penularan horizontal virus hepatitis B dapat terjadi melalui berbagai cara seperti penggunaan jarum suntik secara bersamaan, transfusi darah, hubungan seksual, dan lainnya. Sementara penularan secara vertikal biasanya didapatkan pada bayi yang memiliki ibu dengan hepatitis B akut atau persisten. Istilah penularan vertikal ini sering juga disebut sebagai Mother to Child Transmission atau MTCT.

    Penyebab penularan infeksivirus hepatitis B secara  MTCT atau Mother to Child Transmission dapat terjadi melalu tiga cara. Tiga cara tersebut yaitu penularanVHB in-utero (di dalam kandungan), penularanVHB perinatal (saat melahirkan) dan penularanVHB post natal (setelah melahirkan).

    Penularan virus hepatitis B in-utero atau dalam kandungan ini sampai sekarang belum diketahui dengan pasti mekanismenya. Karena salah satu fungsi plasenta adalah sebagai proteksi terhadap bakteri atau virus. Bayi dikatakan mengalami infeksi in-utero jika dalam 1 bulan post partum atau 1 bulan setelah lahir sudah menunjukkan HbsAg positif.

    Penularan perinatal adalah penularan yang terjadi pada saat persalinan. Sebagian besar ibu dengan HbeAg ( salah satu bentuk antigen yang menandakan adanya replikasi atau perbanyakan virus hepatitis b secara aktif) positif akan menularkan infeksi VBH vertikal kepada bayi yang dilahirkannya. Sedangkan ibu dengan anti-Hbe (salah satu bentuk antibodi untuk melawan virus yang sedang bereplikasi) positif tidak akan menularkannya. Untuk mengurangi risiko penularan perinatal, maka pada ibu dengan hepatitis b akut dan aktif lebih baik disarankan persalinan dengan operasi sectio ceasaria. Penularan virus hepatitis B pada bayi yang lahir dengan operasi sectio caesaria elektif (direncanakan) memiliki persentase yang lebih rendah yaitu 1,4%, jika dibandingkan dengan persalinan pervaginam (persalinan normal) yaitu 3,4% atau operasi sectio caesaria darurat yaitu 4,2%.

    Penularan post natal terjadi setelah bayi lahir misalnya melalui ASI yang diduga tercemar oleh virus hepatitis B yang masuk ke dalam tubuh bayi melalui luka kecil di dalam mulut bayi. Untuk mencegah infeksi tersebut maka bayi perlu dilakukan vaksinasi. Dan apabila bayi sudah diduga terpapar virus hepatitis B atau ibu memiliki HbeAg positif, maka bayi juga dianjurkan untuk diberikan imunoglobulin (HBIG). Tidak ada masalah untuk menyusui bayi jika bayi sudah mendapatkan vaksinasi. Setelah divaksinasi, maka tubuh bayi akan membentuk antibodi sehingga mampu melawan virus hepatitis B yang masuk dari ibu.

    Infeksi akut virus hepatitis B pada ibu hamil tidak dikaitkan dengan peningkatan mortalitas (kematian) dan teratogensitas (kecacatan) pada janin. Namun, apabila anak tersebut lahir dan tertular secara vertikal dari ibu dengan HBsAg (+) selama tahun pertama kehidupannya, 90% nya akan berkembang menjadi hepatitis B kronis dan anak akan menjadi carrier. Sedangkan anak-anak yang terinfeksi sebelum usia 6 tahun, 30% sampai 50% nya akan berkembang menjadi infeksi kronis. Dan berdasarkan data statistik, 25% anak tersebut akan meninggal karena kanker hati. Maka pencegahan penularan secara vertikal merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam memutus rantai penularan Hepatitis B dan kanker hati.

    Segera setelah lahir atau kurang dari 12 jam setelah lahir, bayi harus segera mendapatkan vaksinasi hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B dilakukan secara intramuskular (disuntikan di otot) di bagian paha kiri lateral (bagian luar). Vaksin hepatitis B diulangi saat bayi berusia 1-2 bulan dan saat usia 6 bulan, setelah bayi berusia 10 tahun ke atas dapat diberikan booster vaksin hepatitis B. Untuk bayi yang perlu mendapatkan imunoglobulis hepatitis B atau HBIG harus segera diberikan sebelum bayi berusia satu minggu. HBIG disuntikkan di paha kanan bagian lateral.

    Penyebab bayi dapat terinfeksi hepatitis B adalah karena penularan vertikal dari ibu yang memiliki hepatitis B positif. Pada bayi-bayi dengan ibu yang memiliki hepatitis B positif, perlu dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HBsAg  berkala pada usia 7 bulan atau satu bulan setelah pemberian vaksin hepatitis B ketiga. Bila pada usia 7 bulan anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan ulang antiHBs danHBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun. Namun, bila pada usia 7 bulan dalam pemeriksaan didapatkan anti HBs negative dan HBs Agpositif, maka dilakukan pemeriksaan 6 bulan kemudian dan bila hasilnya masih positif, dianggap sebagai hepatitis kronis. Bayi dikatakan non responder apabila setelah pemberian vaksin tambahan namun anti HBs dan HbsAgnya tetap negatif.

    Oleh karena itu, Jika Anda ingin melindungi diri dan keluarga dari bahaya hepatitis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi hepatitis, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. KementerianKesehatan RI. Pusat Data danInformasi. Jakarta: KementerianKesehatan RI; 2014.
    2. Depkes RI. RisetKesehatanDasar. Jakarta:BadanPenelitiandanpengembanganKesehatanKementrianKesehatan RI;2013.
    3. Dunkelberg JC, Berkley. Hepatitisb and c in pregnancy: a review andrecommendations for care. J Perinatol.2014.
    4. Ankur J, Sarin K. Prevention ofperipartum hepatitis b transmission. NewDelhi : New England J Med 2017.
    5. Ayoub, Cohen. Hepatitis managementin the pregnant patient : an update. USA :JClin Trans Hepatol. 2016.
    6. Pujiarto PS, Sari Pediatri: Bayi Terlahir dari Ibu Hepatitis B. Jakarta: 2013.
    7. Kemenkes RI. PedomanPengendalian Hepatitis Virus. Jakarta: KementrianKesehatanRepublik Indonesia; 2012.

     

    Read More
Chat Asisten ProSehat aja