Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ gejala covid-19”

  • Maraknya pandemi yang terjadi akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19), penting bagi Sahabat yang sudah menjadi orang tua untuk mengenali apa saja yang menandakan anak terinfeksi virus SARS-CoV-2 ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk para orang tua:1 Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19 1. Apakah COVID-19 itu? COVID-19 adalah penyakit yang menyerang […]

    Panduan dan Gejala Covid-19 pada Anak-anak

    Maraknya pandemi yang terjadi akibat Coronavirus disease 2019 (Covid-19), penting bagi Sahabat yang sudah menjadi orang tua untuk mengenali apa saja yang menandakan anak terinfeksi virus SARS-CoV-2 ini. Berikut adalah beberapa panduan untuk para orang tua:1

    gejala Covid-19 pada anak-anak

    Baca Juga: Yang Perlu Sahabat Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    1. Apakah COVID-19 itu?

    COVID-19 adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yaitu SARS-CoV-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019.1,2

    2. Apakah COVID-19 berbahaya pada anak?

    Angka kejadian COVID-19 adalah 1% pada kelompok usia 10-19 tahun dan 0.9% pada kelompok usia <10 tahun. Sehingga pada saat ini anak merupakan kelompok dengan angka kejadian COVID-19 paling rendah.

    Dari penelitian lain yang dilakukan pertengahan bulan Januari 2020, kasus jarang sekali ditemukan kasus pada anak usia di bawah 15 tahun, serta bila terjadi infeksi pada anak-anak gejala yang ditimbulkan bersifat lebih ringan.1,

    3. Di mana saja area terjangkit di Indonesia?

    Area terjangkit di Indonesia: seluruh provinsi di Indonesia

    4. Apa itu Suspek?

    Seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid-19, Mulai dari Suspek hingga Kematian

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gejala klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat.

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    • Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19
    • Seseorang dengan gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat di area transmisi lokal di Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.4

    5. Bila salah satu orang tua/pengasuh terdekat menjadi suspek, apakah anak menjadi suspek juga?

    Belum tentu. Lakukan pengawasan mandiri, apabila pada anak timbul gejala, lakukan isolasi mandiri dan lapor petugas kesehatan.1

    6. Bila salah satu orang tua/pengasuh terdekat menjadi PDP, bagaimana mengetahui apakah anak sudah terjangkit?

    Belum tentu. Lakukan pengawasan mandiri, apabila pada anak timbul gejala, lakukan isolasi mandiri dan lapor petugas kesehatan.1

    7. Apa saja tanda dan gejala Covid-19 pada anak?

    Tanda dan gejala Covid-19 sebenarnya menyerupai common cold biasa yang umumnya bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan.

    Baca Juga: Tanda dan Gejala Covid-19: Delirium, Happy Hypoxia, dan Anosmia

    Namun bila sudah menyerang paru-paru akan timbul radang paru yang dikenal juga sebagai pneumonia. Gejala pneumonia adalah demam, batuk, kesulitan bernafas yang ditandai dengan nafas cepat dan sesak nafas.1,5

    8. Bagaimana cara mengetahui kesulitan bernapas pada anak?

    Hitunglah jumlah pernapasan anak dalam waktu satu menit. Napas dikatakan cepat bila pada usia 0-<2 bulan lebih dari 60 kali /menit, pada usia 2 bulan – <12 bulan lebih dari 50 kali/menit, dan usia 1-<5 tahun lebih dari 40 kali/menit.

    Saat menghitung napas anak, jangan lupa perhatikan sesak napas dengan melihat usaha tambahan untuk bernafas seperti cuping hidung yang kembang kempis dan tarikan dinding dada.1

    9. Kapan anak perlu dibawa ke dokter?

    Bila gejala anak cenderung ringan dan masih dapat ditangani sendiri di rumah, sebaiknya tidak segera berkunjung ke fasilitas kesehatan. Berikan obat demam paracetamol 10 mg/kg berat badan, dapat diulang setiap 4-6 jam selama masih demam, maksimal 5 kali dalam 24 jam.

    Produk Terkait: Jual Paracetamol 

    Apabila demam terus-menerus dan memasuki hari ketiga, atau ada tanda bahaya seperti anak lemas cenderung tertidur, sesak nafas, demam lebih dari 39oC atau lebih, kejang, tampak biru, muntah-muntah, buang air kecil berkurang, segera bawa ke fasilitas kesehatan.1,5

    10. Bagaimana cara mencegah tertular COVID-19?

    • Rajin mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor. Bila tidak ada sabun, dapat menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol.
    • Mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, bila batuk atau bersin tutuplah bagian hidung dan mulut dengan tisu atau lipat siku bagian dalam. Segera buang tisu dan cuci tangan dengan air dan sabun.
    • Menjaga jarak lebih dari 1-2 meter dari orang lain, hal ini dilakukan karena adanya percik renik yang mungkin mengandung virus yang dapat menyebar saat seseorang batuk maupun bersin. Hindari membawa anak ke tempat yang ramai dan hindari pula perjalanan keluar kota terutama dalam rangka mengunjungi kakek nenek yang merupakan kelompok risiko tinggi tertular dan sakit berat akibat COVID-19.1,6

    Baca Juga: Long Hauler, Paparan Virus Covid-19 Berkepanjangan

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan  seperti tes Covid-19, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. IDAI. Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia: FAQ COVID-19.20 Maret 2020
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    3. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    4. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    5. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24.0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html

     

    Read More
  • Tuberkulosis atau yang biasa disebut TBC ternyata memiliki berbagai perbedaan. Walaupun ada juga kesamaannya, Sahabat Sehat harus bisa membedakan antara TBC dan Covid-19. Agar Sahabat Sehat dapat segera aware terhadap penyakit yang diderita TBC Tuberculosis merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC merupakan salah satu penyakit yang  sangat mengancam keselamatan jiwa, sama […]

    Mari Kenali Perbedaan TBC dan Covid-19

    Tuberkulosis atau yang biasa disebut TBC ternyata memiliki berbagai perbedaan. Walaupun ada juga kesamaannya, Sahabat Sehat harus bisa membedakan antara TBC dan Covid-19. Agar Sahabat Sehat dapat segera aware terhadap penyakit yang diderita

    perbedaan tbc dan covid-19

    TBC

    Tuberculosis merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC merupakan salah satu penyakit yang  sangat mengancam keselamatan jiwa, sama seperti Covid-19.

    Baca Juga: Bagaimana Penderita TBC Menghadapi Covid-19 dan Bolehkah Divaksin?

    Menurut WHO, setiap detiknya paling tidak ada satu orang yang treinfeksi TBC di dunia. Indonesia sendiri telah menempati urutan atau peringkat kedua sebagai negara dengan kasus penyakit TBC terbanyak setelah India.

    TBC bahkan menjadi infeksi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Namun sayangnya, masih banyak yang tidak menyadari atau bahkan tidak tahu tentang penyakit TBC.

    Kebanyakan, orang biasanya tidak menyadari saat mengalami gejala penyakit TBC dan bingung membedakannya dengan penyakit lain, karena memang tidak mudah untuk mengenalinya. Padahal sebenarnya, gejala penyakit TBC dimulai secara bertahap dan berkembang dalam jangka waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan.

    Gejala TBC

    Biasanya pasien sering mengalami satu atau dua gejala ringan yang membuat tidak bisa mengenali gejala penyakit apa tersebut.

    Mengidentifikasi gejala penyakit TBC sendiri bisa membantu seseorang mencegah komplikasi seperti infeksi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) pada organ tubuh lainnya. Berikut gejala penyakit TBC:

    – Batuk terus-menerus

    Batuk sendiri merupakan gejala umum dari penyakit TBC. Apabila Sahabat Sehat batuk yang terus menerus dan menyakitkan selama lebih dari dua minggu, sebaiknya segera periksa ke dokter.

    – Batuk darah

    Selain batuk yang tidak juga kunjung sembuh, penderita TBC biasanya juga mengalami batuk darah. Oleh karena itu waspadalah ketika ada noda darah ketika batuk.

    – Penurunan berat badan

    Penderita TBC juga biasanya mengalami penurunan berat badan. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya bakteri TB yang berkembang di dalam tubuh penderita penyakit TBC.

    – Demam

    Biasanya setiap penderita infeksi TBC disertai dengan demam.

    – Lemah

    Sahabat Sehat harus tahu, biasanya penyakit TBC bisa membuat tubuh menjadi cepat merasa lemah.

    – Rasa sakit di paru-paru

    TBC sendiri merupakan penyakit yang menginfeksi paru-paru. Jika Sahabat Sehat merasakan nyeri tajam di paru-paru dan merasa kesakitan ketika menghembuskan udara, maka bisa dipastikan memiliki infeksi paru-paru yang parah.

    – Infeksi yang tidak kunjung sembuh

    Selain membuat infeksi paru-paru, TBC juga dapat menginfeksi setiap bagian tubuh seperti perut, hati, bahkan otak. Jika Sahabat Sehat memiliki infeksi di daerah tersebut lebih dari 3 minggu, sebaiknya periksakanlah hal tersebut ke dokter.

    Baca Juga: Pelayanan TBC Selama Masa Pandemi Covid-19

    – Menggigil di malam hari

    Jika Sahabat Sehat menggigil di malam hari padahal udara sedang tidak dingin atau bisa dibilang normal, hal ini bisa juga menjadi tanda TBC. Sebab, infeksi dari bakteri TBC ini biasanya akan menyebabkan menggigil di malam hari.

    – Kelelahan

    Gejala yang lain adalah Sahabat Sehat akan mudah sekali lelah karena daya tahan tubuh mulai melemah saat menderita penyakit TBC.

    – Urine kemerahan

    Sahabat Sehat bisa mengamati urine yang berubah warna (kemerahan) atau urine keruh. hal ini juga merupakan gejala yang muncul pada tahap selanjutnya.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona jenis SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

    Virus ini dapat menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Baca Juga: Kiat Penderita Asma Menghadapi Covid-19

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    – Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Persamaan TBC dan Covid-19

    Persamaan TBC dan Covid-19 adalah dapat menular melalui droplet atau percikan ludah dan saluran pernapasan. Penularannya pun bisa berasal dari orang-orang yang memang tidak memiliki gejala (asimptomatik).

    Namun, Covid-19 juga bisa masuk ke dalam tubuh melalui kontak pada permukaan, seperti pada mata, hidung, dan mulut, jika sebelumnya virus terdapat di permukaan tubuh.

    Terkait pengendalian infeksi penyakitnya, TBC dan Covid-19 dapat dikendalikan lewat tindakan administratif termasuk triase pasien berdasarkan gejala pernapasan serta menyarankan pasien atau penderita untuk menggunakan masker.

    Baca Juga: Tepat dan Efektifkah  Masker Berlapis untuk Menangkal Covid-19?

    Selain menggunakan masker, tindakan lingkungan atau penerapan perilaku hidup bersih dan sehat bisa mempercepat pemulihan masing-masing penyakit tersebut. Seperti memberikan ventilasi dengan aliran udara yang baik.

    Nah, kini Sahabat Sehat sudah mengetahui perbedaan dan persamaan dari penyakit TBC dan Covid-19. Sahabat Sehat bisa memeriksakan apabila sudah mulai ada gejala yang sudah disebutkan di atas.

    Namun, di masa pandemi Covid-19 seperti ini, guna mengecek kepastian, Sahabat Sehat bisa langsung melakukan tes swab atau sebagainya guna mengecek kesehatan pada Sahabat Sehat masing-masing.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Untuk TBC Sahabat bisa mencegahnya dengan vaksinasi BCG di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sobat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Ansori, A., 2021. Wajib Tahu Beda Penularan TBC dengan COVID-19. [online] liputan6.com. Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/4331285/wajib-tahu-beda-penularan-tbc-dengan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    2. merdeka.com. 2021. Pahami Perbedaan TBC dengan Covid-19 di Tengah Pandemi | merdeka.com. [online] Available at: <https://www.merdeka.com/sehat/pahami-perbedaan-tbc-dengan-covid-19-di-tengah-pandemi.html> [Accessed 5 April 2021].
    3. liputan6.com. 2021. 10 Gejala Penyakit TBC dan Cara Pengobatannya, Kenali Sejak Dini Sebelum Terlambat. [online] Available at: <https://www.liputan6.com/health/read/3874937/10-gejala-penyakit-tbc-dan-cara-pengobatannya-kenali-sejak-dini-sebelum-terlambat> [Accessed 5 April 2021].
    4. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    Read More
  • Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia […]

    Yang Perlu Sahabat Ketahui Mengenai Perbedaan Pneumonia dan Covid-19

    Di masa pandemi Covid-19, banyak orang yang kesulitan dalam membedakan antara penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya. Salah satunya adalah dengan penyakit pneumonia. Pneumonia sendiri merupakan peradangan jaringan paru-paru yang biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

    perbedaan pneumonia dan covid-19

    Baca Juga: Yuk, Kenali Bahaya Pneumonia dan Pencegahannya Lebih Lanjut

    Banyak orang yang sulit membedakan penyakit Covid-19 dengan Pneumonia karena kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang hampir serupa. Bahkan, pneumonia sama seperti Covid-19 bisa bersifat dan menyebabkan kematian.

    Namun bukan berarti kedua penyakit tersebut tidak memiliki perbedaan. Berikut perbedaan antara Pneumonia dan Covid-19.

    Pneumonia

    Penyakit peradangan jaringan paru-paru mengakibatkan kantung udara di ujung pernapasan di paru-paru terisi oleh cairan. Pneumonia berisiko pada orang yang biasanya memiliki sistem kekebalan atau imunitasnya rendah. Bisa menyerang usia berapa pun, mulai dari bayi, orang tua, perokok, peminum berat dan lainnya.

    Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), pneumonia atau radang paru-paru menjadi penyebab kematian pada balita dan juga anak tersebesar di Indonesia.

    Sedangkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat pneumonia menyumbang  14 sampai 16% dari total kematian anak yang ada di Indonesia.

    Pneumonia dapat memiliki derajat berat maupun ringan. Hal tersebut dipengaruhi oleh jenis kuman penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatan penderita dari penyakit pneumonia itu sendiri.

    Dalam kasus pneumonia ringan, biasanya penderita hanya memerlukan waktu beberapa hari atau satu minggu untuk bisa kembali sehat.

    Namun, jika dalam kasus yang parah, pneumonia bisa memerlukan waktu sampai dengan enam bulan, agar penderita pulih atau sehat kembali. Bahkan bisa juga menyebabkan kematian.

    Pada seseorang dengan kesehatan yang buruk atau dengan sistem kekebalan yang lemah, Pneumonia yang tidak diobati dapat menyebabkan kadar oksigen turun sehingga jaringan tubuh akan berpengaruh.

    Penyakit pneumonia ini juga bisa menular lewat percikan cairan pernapasan saat penderita batuk, bersin, ataupun bernapas.

    Gejala Pneumonia

    Gejala dari pneumonia biasanya mirip dengan influenza sehingga penderita bisa merasakan gejala yang umum terjadi, seperti:

    – Demam atau suhu tinggi

    – Menggigil

    – Batuk

    – Kehilangan nafsu makan

    – Merasa sakit di sisi dada

    – Jantung berdebar

    – Tidak selera makan

    – Batuk berdarah

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Badan terasa nyeri

    – Nyeri sendi dan otot

    – Linglung atau merasa bingung, terutama biasanya terjadi pada orang lansia

    Penyakit pneumonia bisa diketahui lewat pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Dokter pada umumnya akan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian merekomendasikan rontgen dada, tes dahak, atau juga melakukan tes darah.

    Produk Terkait: Jual Vaksinasi Pneumonia Dewasa

    Apabila memang bisa mengancam jiwa, penyakit ini seharusnya bisa segera ditangani atau diobati. Penderita juga perlu minum banyak air putih dan banyak istirahat selama atau dalam proses pemulihan.

    Covid-19

    Berbeda dari pneumonia, Covid-19 muncul akibat adanya virus corona yang bernama SARS-CoV-2 yang belum pernah ditemukan sebelumnya, di mana pun. Virus ini juga bisa menyebabkan pneumonia. Maka dari itu, biasanya penderita yang terinfeksi lebih sering dilaporkan menderita batuk, demam, dan juga kesulitan bernapas.

    Dalam kasus serius, penderita Covid-19 bisa menyebabkan terjadinya kegagalan organ. Bahkan, seperti yang sama-sama diketahui, banyak penderita Covid-19 yang meninggal, hal tersebut dikarenakan mereka memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

    Baca Juga: Covid-19 Akan Menjadi Endemik, Apa Perbedaannya dengan Pandemi?

    Kemudian, terkait proses pemulihannya. Setiap orang yang menderita Covid-19 memiliki sistem kekebalan tubuh, yang nantinya akan berpengaruh terhadap proses pemulihan Covid-19.

    Gejala Covid-19

    – Batuk terus-menerus

    – Demam tinggi

    – Kehilangan indera perasa dan penciuman

    – Sakit kepala

    – Kelelahan

    – Sakit tenggorokan

    – Nyeri otot yang tidak biasa

    Diare

    – Sesak dada

    – Sakit perut

    Nah, Sahabat Sehat sudah mengetahui kan perbedaan dari Pneumonia dan juga Covid-19. Namun, guna memastikan dan mengecek kebenaran, sebaiknya apabila sudah bergejala, Sahabat Sehat bisa melakukan tes swab. Sehingga nantinya tidak hanya menerka-nerka jenis penyakit apa yang ada di tubuh Sahabat Sehat.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Tetaplah berperilaku hidup sehat, senantiasa patuh dan taat dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan juga mencuci tangan dengan sabun.

    Baca Juga: Berikut 5 Alat Pemantau Kesehatan yang Sahabat Wajib Punya di Masa Pandemi!

    Pneumonia sendiri bisa dicegah dengan vaksinasi. Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah.

    Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media, K., 2021. Kenali Apa Itu Pneumonia, Gejala, dan Penyebabnya Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://health.kompas.com/read/2020/11/12/170100868/kenali-apa-itu-pneumonia-gejala-dan-penyebabnya?page=all#page2.> [Accessed 5 April 2021].
    2. [online] Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/16/151500565/apa-bedanya-pneumonia-dengan-covid-19-yang-disebabkan-virus-corona?page=2> [Accessed 5 April 2021].
    3. suara.com. 2021. Punya Gejala Mirip, Ini Cara Membedakan Pneumonia dan Covid-19. [online] Available at: <https://www.suara.com/health/2020/11/07/094431/punya-gejala-mirip-ini-cara-membedakan-pneumonia-dan-covid-19> [Accessed 5 April 2021].
    4. Widiyarti, Y., 2021. Kenali Beda Pneumonia dan Covid-19. [online] Tempo. Available at: <https://gaya.tempo.co/read/1405686/kenali-beda-pneumonia-dan-covid-19/full&view=ok> [Accessed 5 April 2021].
    5. Media, K., 2021. 15 Gejala Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/26/133000565/-15-gejala-covid-19-yang-perlu-diwaspadai?page=2> [Accessed 5 April 2021]
    Read More
  • Anosmia adalah salah satu gejala Covid-19 yang ditandai dengan hilangnya indera penciuman. Kondisi ini pun dapat membuat nafsu makan berkurang yang tentu saja dapat memperlambat masa pemulihan. Hal itu ditambah dengan kondisi psikologis yang bisa menyebabkan stres. Kondisi ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih. Sejauh ini belum ada obat yang bisa secara […]

    Bahan Makanan Pereda Anosmia untuk Membantu Mengatasi Gejala

    Anosmia adalah salah satu gejala Covid-19 yang ditandai dengan hilangnya indera penciuman. Kondisi ini pun dapat membuat nafsu makan berkurang yang tentu saja dapat memperlambat masa pemulihan. Hal itu ditambah dengan kondisi psikologis yang bisa menyebabkan stres. Kondisi ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih. Sejauh ini belum ada obat yang bisa secara tepat mengatasi anosmia. Namun, terdapat beberapa bahan makanan pereda anosmia yang disarankan untuk dapat membantu mengatasi gejala ini.

    bahan makanan pereda anosmia

    Baca Juga: Parosmia dan Phantosmia, Gejala-gejala Baru Covid-19, Apa Saja Perbedaannya?

    Bahan Makanan Membantu Meredakan Anosmia

    Lalu apa sajakah bahan makanan tersebut? Yuk, Sahabat Sehat simak penjelasannya di bawah ini:

    Bubuk Cabai Merah dan Cabai Rawit

    Makanan pertama yang dapat membantu meredakan anosmia adalah bubuk cabai merah dan cabai rawit. Keduanya memang belum terbukti secara sains alias baru sebatas pada hal yang berlangsung di masyarakat saja. Meski begitu, kedua bubuk ini mempunyai capsaicin yang disebut dapat secara efektif membersihkan hidung yang tersumbat, mengaktifkan indera, dan meningkatkan fungsi indera penciuman. Keduanya juga sering digunakan untuk membantu menghilangkan flu. Untuk penggunaan, campurkan dengan secangkir air atau tambahkan madu.

    Bawang Putih

    Bawang putih termasuk salah satu bahan makanan yang cukup populer. Selama pandemi keberadaannya juga digunakan sebagai alternatif untuk membantu meningkatkan kekebalan daya tahan tubuh. Mengonsumsi bawang putih berkhasiat untuk meredakan pembengkakan dan peradangan di sekitar saluran hidung. Manfaat lainnya adalah untuk memudahkan pernapasan serta membantu memulihkan indera penciuman dan perasa lebih cepat. Untuk penggunaannya Sahabat bisa membuat ramuan panas dari bawang putih yang dihancurkan dan diberi air.

    Jahe

    Bahan makanan pereda anosmia lainnya yang bisa Sahabat gunakan adalah jahe yang merupakan salah satu bahan makanan paling populer dalam kehidupan sehari-hari. Jahe sendiri merupakan salah satu tumbuhan herbal yang merupakan ekspetoran alami serta mempunyai sifat anti mikroba dan pereda nyeri yang ampih untuk membantu mengobati infeksi di saluran hidung dan membersikan partikel rematik dari hidung. Cara menggunakannya adalah konsumsilah jahe dengan diseduh atau dikunyah langsung.

    Produk Terkait: Jual Kapsul Jahe Borobudur Isi 100

    Minyak Jarak

    Sahabat juga bisa menggunakan minyak jarak untuk membantu meredakan anosmia yang Sahabat alami. Diketahui bahwa minyak ini adalah salah satu bahan makanan yang mengandung sifat anti-oksidan dan anti-inflamasi. Minyak ini juga sering digunakan untuk orang-orang yang sering menderita gejala nyeri sinusitis dan alergi untuk mengurangi pertumbuhan polip hidung sehingga bermanfaat dalam meredakan gejala batuk, pilek, dan membangun kembali indera penciuman.

    Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

    Beberapa Cara Lain untuk Membantu Meredakan Anosmia

    Berikut ini adalah beberapa cara lain untuk membantu meredakan anosmia selain bahan makanan.

    Melakukan Terapi Penciuman

    Terapi ini bisa Sahabat gunakan untuk membantu meredakan, yaitu dengan menggunakan minyak esensial. Tujuan penggunaan minyak ini adalah untuk mengembalikan kemampuan indera penciuman dan pengecap. Menurut beberapa penelitian, terapi ini cukup efektif merangsang mekanisme pemulihan alami tubuh yang tidak peka terhadap bau. Beberapa jenis minyak esensial yang disarankan adalah beraroma tajam seperti kayu manis, vanilla, jeruk, dan pisang. Caranya adalah dengan menghirup minyak selama 20-40 detik. Lakukanlah sebanyak 2-3 kali sehari.

    Produk Terkait: Jual Owellness Pure Bliss Diffuser Oil

    Berhenti Merokok

    Ternyata kebiasaan merokok juga bisa menyebabkan anosmia dan malah memperparah hal tersebut. Hal itu karena rokok dapat menumpulkan kepekaan beragam indera termasuk penciuman. Untuk itu cara terbaik adalah berhenti merokok agar dapat bisa mencium bau kembali.

    Operasi

    Ini adalah cara terakhir untuk membantu meredakan anosmia yang berkaitan dengan penyumbatan saluran pernapasan seperti polip, tumor, atau kelainan bentuk tulang di dalam hidung yang terkadang tidak bisa disembuhkan dengan obat. Dokter umumnya merekomendasikan operasi untuk mengangkat polip, tumor untuk melapangkan saluran pernapasan yang tersumbat tersebut.

    Baca Juga: Inilah 5 Perbedaan Kanker dan Tumor yang Perlu Sahabat Ketahui

    Itulah beberapa bahan makanan pereda anosmia yang bisa Sahabat gunakan untuk membantu meredakan gejala tersebut. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai bahan makanan tradisional dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Nabila F. 5 Makanan yang Bisa Bantu Mengatasi Hilangnya Penciuman dan Rasa [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 15 February 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5311487/5-makanan-yang-bisa-bantu-mengatasi-hilangnya-penciuman-dan-rasa
    2. 5 Cara Alami Atasi Anosmia [Internet]. CNNIndonesia.com. 2021 [cited 15 February 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201208131733-255-579361/5-cara-alami-atasi-anosmia
    3. Media K. 4 Cara Mengatasi Anosmia dengan Obat dan Secara Alami [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 15 February 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/12/04/101000668/4-cara-mengatasi-anosmia-dengan-obat-dan-secara-alami?page
    Read More
  • Kembali Covid-19 memberikan kondisi yang dinamakan dengan long-hauler. Kondisi ini adalah gejala yang membuat para pengidap virus mengalaminya selama berbulan-bulan setelah terinfeksi. Seperti dilansir dari Cleveland Clinic, berdasarkan sebuah penelitian gejala ini menimpa sekitar 10% penderita. Adanya gejala ini membuktikan bahwa sebenarnya orang yang terkena Covid-19 tidak selalu sembuh dalam 2 minggu, virus ini dapat […]

    Long-Hauler, Paparan Virus Covid-19 Berkepanjangan

    Kembali Covid-19 memberikan kondisi yang dinamakan dengan long-hauler. Kondisi ini adalah gejala yang membuat para pengidap virus mengalaminya selama berbulan-bulan setelah terinfeksi. Seperti dilansir dari Cleveland Clinic, berdasarkan sebuah penelitian gejala ini menimpa sekitar 10% penderita. Adanya gejala ini membuktikan bahwa sebenarnya orang yang terkena Covid-19 tidak selalu sembuh dalam 2 minggu, virus ini dapat bertahan hingga 6 minggu. Long-hauler dapat menyerang siapa saja, tidak peduli muda, tua, sehat, penderita penyakit kronis, yang dirawat di rumah sakit atau tidak.

    long hauler

    Baca Juga: Fenomena Long Covid, Gejala yang Menyerang Eks Pasien Covid-19

    Seperti Apa Gejalanya?

    Meskipun informasinya terbatas mengenai gejala panjang yang dialami oleh penyintas Covid-19, beberapa kasus melaporkan bahwa gejala persisten ditandai  sebagai berikut:

    • Batuk
    • Sesak di dada
    • Sesak napas
    • Sakit kepala
    • Nyeri otot
    • Diare

    Gejala lain yang dilaporkan seperti:

    • Kelelahan
    • Brain fog
    • Sulit berkonsentrasi
    • Penciuman tidak setajam di awal

    Apakah Gejala pada kondisi Ini Menular?

    Tentu saja gejala pada kondisi ini menular, dan penularannya dapat hilang setelah seminggu atau lebih. Orang-orang yang terkena gejala ini diketahui akan memilikinya dalam waktu sebulan atau lebih meskipun sudah didiagnosis negatif saat tes swab. Selain itu, disebutkan bahwa gejala ini dapat memberi efek jangka panjang penuh yang dapat berpengaruh pada organ-organ tubuh seperti ginjal, paru-paru, dan jantung.

    Baca Juga: Tanda dan Gejala Covid-19: Delirium, Happy Hypoxia, dan Anosmia. Yuk, Kenali Perbedaannya!

    Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Gejala Ini dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

    Segera hubungi dokter setelah 28 hari terkena Covid-19 tetapi Sahabat masih merasakan gejala sisanya. Selain dengan pengobatan ke dokter, cara lain yang bisa dilakukan secara mandiri adalah selalu meminum banyak cairan agar tetap terhidrasi, istirahat yang cukup, kelola stres dengan baik, dan makan yang teratur.

    Baca Juga: Mengenal Covid Tongue, Gejala Covid-19 pada Lidah

    Itulah Sahabat mengenai long-hauler Covid yang dirasakan oleh penyintas Covid-19, kondisi gejala sisa yang bertahan cukup lama meskipun penderita dinyatakan sembuh. Yuk, Sahabat, tetap terapkan 5M dan PHBS, dan jangan lupa deteksi dini Covid-19 di Prosehat. Caranya mudah, Sahabat bisa mengakses via website dan aplikasi lalu pilih Layanan Kesehatan dan klik Rapid Test Covid-19. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. What It Means to Be a Coronavirus “Long-Hauler” [Internet]. Health Essentials from Cleveland Clinic. 2021 [cited 1 February 2021]. Available from: https://health.clevelandclinic.org/what-it-means-to-be-a-coronavirus-long-hauler/
    2. Callard F, Perego E. How and why patients made long Covid. Social Science and Medicine.2021:268;113426.
    3. Center for Diseases Control. Late sequelae of Covid-19. 2020. [Internet]. Available at: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/clinical-care/late-sequelae.html(cited February 3,2021).
    Read More
  • Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh varian virus corona baru, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Cina pada akhir 2019 kemarin. Sampai saat ini para ilmuan dan ahli kesehatan masih terus melakukan penelitian untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan penyakit ini, seperti gejala dan cara penanganannya. Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari Umumnya gejala […]

    Tanda dan Gejala COVID-19: Delirium, Happy Hypoxia, dan Anosmia. Yuk Kenali Perbedaannya!

    Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh varian virus corona baru, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Cina pada akhir 2019 kemarin. Sampai saat ini para ilmuan dan ahli kesehatan masih terus melakukan penelitian untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan penyakit ini, seperti gejala dan cara penanganannya.

    tanda dan gejala Covid-19

    Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    Umumnya gejala bisa timbul pada saat seseorang yang terinfeksi terpapar setelah dua hari oleh virus corona, walaupun masa inkubasi pada virus ini sekitar 5-6 hari. Gejala umum yang muncul pada  pasien Covid-19 adalah demam, batuk, sakit kepala, sesak napas, hingga kelelahan. Namun, kini berbagai fakta baru mengenai virus tersebut mulai terungkap.

    Berdasarkan penelitian para ahli medis, menunjukan bahwa varian baru dari mutasi virus corona ini lebih mudah menyebar dari orang ke orang. Sejauh ini mereka berhasil mengidentifikasi beberapa gejala dari virus corona jenis baru, SARS-CoV-2. Diantaranya adalah delirium, happy hypoxia, dan anosmia.

    Yuk cari tahu gejala dan penanganan yang tepat!

    1. Delirium

    Penyakit ini merupakan gejala baru dari COVID-19 yang menyerang mental si penderita. Biasanya penyakit ini dialami oleh penderita lansia. Delirium sendiri merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami gangguan seperti kebingungan berat dan kurangnya kesadaran. Penderita akan merasa seperti sedang bermimpi. Kondisi seperti ini terjadi akibat adanya disfungsi otak pada penderita COVID-19.

    Gejalanya pun muncul secara fluktuatif dan bisa berkembang cepat dalam beberapa jam atau hari. Beberapa gejalanya sebagai berikut:

    1. Sulit fokus dan mudah teralihkan
    2. Sering melamun dan lambat dalam merespon
    3. Menurunnya daya ingat
    4. Sulit berbicara
    5. Suka behalusinas
    6. Mudah tersinggung dan pergantian mood yang ekstrem serta merasa gelisah
    7. Kebiasaan tidur berubah
    8. Kesadaran berkurang
    9. Depresi
    10. Kebingungan
    11. Komplikasi neurologis yang parah dan jaran terjadi, seperti stroke, radang otak, dan kerusakan syaraf

    Bagaimana penanganan pada penderita delirium?

    • Pada usia dewasa sampai lajut usia, diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan pengobatan, karena gejala delirium sangat mirip dengan demensa. Oleh karena itu, pengobatannya tentu saja berbeda.
    • Delirium biasanya juga dapat diiatasi berdasarkan penyebabnya, seperti pemberian obat tertentu.
    • Delirium yang disebabkan oleh serangan asma yang parah, bisa diatasi dengan pemberian inhaler atau oksigen untuk membantu system pernapasannya.
    • Dokter juga dapat memberikan antibiotic, apabila delirium disebabkan oleh infeksi bakteri.
    • Dokter juga dapat menyarankan untuk berhenti konsumsi alcohol atau obat tertentu kepada penderita dalam beberapa kasus.
    • Delirium yang disebabkan oleh tekanan emosional, dapat ditasi dengan memberikan antidepresan, obat penenang, atau tiamin.
    • Pemberian konseling agar penderita merasa nyaman dan untuk mendiskusikan pikiran dan perasaannya.

    2. Happy Hypoxia

    Tanda yang muncul pada Covid-19 di antaranya adalah  happy hypoxia yang ditandai dengan saturasi oksigen dalam darahnya menurun, namun orang tersebut tidak merasakan sesak hingga berakibat fatal. Oleh karena itu, penyakit ini sangat diwaspadai oleh banyak orang karena dapat membahayakan nyawa.

    Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

    Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan MSc, SpP, mengatakan bahwa happy hypoxia terjadi karena adanya kerusakan pada sistem saraf yang mengantarkan sensor sesak ke otak. Kondisi tersebut mengakibatkan otak tidak dapat memberi respon, sehingga tidak mengenal adanya kekurangan oksigen dalam darah.

    Berikut beberapa gejala happy hypoxia pada pasien COVID-19

    1. Terus bertambahnya gejala COVID-19

    Kekurangan oksigen dalam darah yang memicu organ bereaksi sehingga menimbulkan berbagai gejala lainnya.

    2. Batuk bertambah dan terus menerus

    Batuk yang diperparah oleh kurangnya oksigen membuat batuk semakin keras dikarenakan paru-paru tidak memiliki cukup pertukaran CO2 dengan oksigen.

    3. Tubuh semakin lemas

    Oksigen yang kurang dapat mengakibatkan tubuh semakin lama semakin lemas, bahkan hingga hilang kesadaran

    4. Detak jantung menjadi cepat atau sebaliknya menjadi lemah

    5. Warna bibir dan ujung jari mulai kebiruan

    Apabila warna bibir dan ujung jari sudah mulai membiru, itu menjadi pertanda bahwa oksigen tidak tersebar keseluruh tubuh

    Penanganan yang tepat untuk mengatasi happy hypoxia antara lain:

    • Pemberian oksigen

    Bertujuan untuk meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh. Bisa diberikan melalui masker atau selang hidung, terapi hiperbarik, atau alat bantu napas (ventilator)

    • Obat-obatan

    Pemberian obat dimaksudkan untuk mengobati penyebab timbulnya happy hypoxia. Seperti inhaler atau obat asma, obat golongan kortikosteroid untuk peradangan paru, antibiotik untuk infeks bakterii, dan obat anti kejang untuk meredakan kejang.

    3. Anosmia

    Anosmia merupakan stilah yang digunakan pada suatu kondisi menghilangnya kemampuan indera penciuman secara total. Melansir laman Harvard Medical School (HMS), anosmia adalah gejala neurologis utama dan merupakan salah satu gejala Covid-19 paling awal dan yang paling sering dilaporkan.

    Orang yang menderita anosmia tidak dapat mencium aroma apapun, baik aroma bunga atau parfum maupun baru tdak sedap seperti bau busuk dan bau amis.

    Baca Juga: Parosmia dan Phantosmia, Gejala-gejala Baru Covid-19, Apa Saja Perbedaannya?

    Berikut beberapa penyebab anosmia:

    • Pembengkakan atau penyumbatan pada rongga hidung yang membuat bau atau aroma tertentu tidak dapat terdeteksi oleh saraf dalam hidung.
    • Adanya masalah pada system saraf yang berfungsi untuk mendeteksi aroma.

    Cara penangnan anosmia:

    • Istirahat yang cukup
    • Minum air putih lebih banyak
    • Konsumsi obat penurun panas dan multivitamin
    • Jika muncul gejala Covid-19 yang lebih berat, segera hubungi dokter untuk penanganan yang lebih tepat.

    Itulah Sahabat mengenai tanda dan gejala Covid-19, delirium, happy hypoxia, dan anosmia. Apabila Sahabat merasakan gejala-gejala di atas, yuk jangan ragu untuk tes Covid-19 di Prosehat. Caranya cukup mudah, Sahabat bisa mengakses via website dan aplikasi lalu pilih Layanan Kesehatan dan klik Rapid Test Covid-19. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Nabila F. Terpopuler Sepekan: Fakta-fakta Delirium, Gejala Terbaru COVID-19 [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5302554/terpopuler-sepekan-fakta-fakta-delirium-gejala-terbaru-covid-19
    2. Kenali Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.merdeka.com/jateng/kenali-delirium-gejala-baru-covid-19-yang-perlu-diwaspadai.html?page=2
    3. Media K. Penyakit Delirium: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/07/25/133400268/penyakit-delirium–gejala-penyebab-dan-cara-mengatasinya?page=all#:~:text=Cara%20mengatasi,atau%20oksigen%20untuk%20megenbalikan%20pernapasan.
    4. What’s Delirium and How Does It Happen? [Internet]. Healthline. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health/delirium#treatment
    5. [Internet]. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200916145443-255-547227/tanpa-sesak-kenali-4-tanda-utama-happy-hypoxia-pada-covid-19
    6. Media K. Simak 3 Gejala Baru Covid-19, dari Anosmia hingga Parosmia Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/05/193500365/simak-3-gejala-baru-covid-19-dari-anosmia-hingga-parosmia?page=all
    Read More
  • Corona Virus atau serve acute respiratory syndrome corona virus 2 (SARS-CoV2) merupakan jenis virus baru dari corona yang menularkan virus dari hewan ke manusia. Infeksi akibat virus ini disebut juga dengan Covid-19. Virus yang merupakan indikasi dari transmisi virus SARS dan MERS ini lebih banyak menyerang lansia, tetapi sebenarnya visus ini bisa menyerang siapa saja, […]

    Gejala COVID-19 vs Flu dan Pilek, Apa Perbedaannya?

    Corona Virus atau serve acute respiratory syndrome corona virus 2 (SARS-CoV2) merupakan jenis virus baru dari corona yang menularkan virus dari hewan ke manusia. Infeksi akibat virus ini disebut juga dengan Covid-19. Virus yang merupakan indikasi dari transmisi virus SARS dan MERS ini lebih banyak menyerang lansia, tetapi sebenarnya visus ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak–anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

    Baca Juga: Panduan Covid-19 untuk Anak-anak

    Angka penyebaran dan penularan virus corona di dunia pun masih terus meningkat setiap harinya Virus ini akan membuat penderitanya terinfeksi beberapa penyakit sebagai gejalanya, seperti menyerang sistem pernapasan yang akan menyebab kan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru–paru yang berat, hingga kematian.

    Virus tersebut dengan mudah menularkan kesebuah kelompok populasi dengan jumlah terinfeksi terus meningkat. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di John Hopkins Medicine menemukan adanya tanda dan gejala komplikasi pada paru-paru yang berkaitan dengan Covid-19 dalam jangka pendek ataupun jangka panjang dapat dilihat di awal infeksi.

    Berikut ini beberapa gejala Covid-19

    Seseorang yang terinfeksi Covid-19 biasanya diawali dengan munculnya gejala pada 2–14 hari setelah anda bersentuhan dengan virus.  Gejala Covid-19 muncul secara bertahap. Meskipun gejala awalnya dapat bervariasi, namun gejala COVID-19 yang paling umum ditemui adalah

    • Demam: suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius
    • Batuk kering: batuk baru dan terus menerus lebih dari 24 jam (jika anda terbiasa batuk, maka pada penderita Covid-19 akan lebih buruk dari pada biasanya dan sangat menggangu)
    • Kelelahan: sakit dan nyeri tubuh

    Beberapa gejala lain yang bisa muncul akibat terinfeksi virus corona, yaitu:

    • Kesulitan bernapas atau sesak napas
    • Sakit kepala: berlangsung selama lebih dari 72 jam, sakit berdenyut-denyut
    • Konjungtivitis: keluhan mata merah, berair, dan belekan.
    • Hilangnya kemampuan mengecap rasa
    • Hilangnya kemampuan untuk mencium bau (anosmia)
    • Muncul ruam di kulit: ruam kulita tidak merata, kulit bentol-bentol dan gatal, sebagian kulit melepuh seperti cacar air.
    • Sakit dan nyeri tubuh
    • Pilek atau hidung tersumbat
    • Sakit tenggorokan
    • Gejala pencernaan seperti mual, muntah, atau diare
    • berulang kali gemetar karena kedinginan
    • nyeri otot dan nyeri
    • perubahan warna pada jari tangan atau kaki
    • mata merah muda

    Penderita Covid-19 mungkin memiliki beberapa, semua, atau tidak satu pun dari gejala tersebut. Gejala ini mungkin akan menjadi lebih parah pada beberapa orang yang memiliki imunitas tubuh rendah dan komplikasi dari Covid-19, seperti:

    • orang tua
    • orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya
    • orang dengan sistem kekebalan yang lemah

    Baca Juga: Adakah Metode Tes Covid-19 dengan Hasil 5 Menit?

    Akan tetapi perlu untuk diingat bahwa siapa pun dapat terkena risiko sakit parah akibat infeksi Covid-19. Di bawah ini merupakan indikator dari tanda adanya penyakit yang lebih serius. Segeralah cari pertolongan medis jika mengalami salah satu dari gejala berikut ini:

    • sulit bernafas
    • nyeri atau tekanan di dada Anda
    • bibir, wajah, atau kuku yang tampak berwarna biru
    • kebingungan
    • kesulitan tetap terjaga atau kesulitan bangun

    Dari sekian banyak gejala Covid-19, ada beberapa gejala mirip dengan penyakit pernapasan lainnya, seperti flu atau pilek. Berikut beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk membedakan penyakit Covid-19 dengan penyakit lainnya:

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Covid-19 atau Gejala Flu dan Pilek?

    • Gejala Covid-19 datang secara bertahap, sedangkan gejala flu biasanya datang secara tiba–tiba.
    • Gejala umum dari flu adalah nyeri dan nyeri tubuh, menggigil, dan sakit kepala adalah gejala kurang umum dari Covid-19 dan flu biasa.
    • Demam merupakan gejala Covid-19 yang umum dan tidak semua orang yang terkena flu akan mengalami demam. Demam juga jarang terjadi pada flu biasa.
    • Pilek, hidung tersumbat dan sakit tenggorokan merupakan gejala awal yang umum dari flu biasa. Namun, hal ini lebih jarang terjadi pada Covid-19 dan flu.
    • Bersin termasuk dalam gejala flu biasa yang jarang terjadi pada Covid-19.

    Baca Juga: Vitamin C, Wajibkah Dikonsumsi Agar Tidak Terserang Virus Corona?

    Berikut beberapa hal penting yang perlu di perhatikan untuk meredakan gejala Covid-19, untuk di rumah maupun di rumah sakit, seperti:

    • Beritahu orang lain bahwa Sahat terinfeksi Covid-19 agar mereka dapat menjaga jarak.
    • Kenakan alat perlindungan diri seperti masker, dan upayakan untuk menutup area hidung dan mulut dengan tisu atau siku apabila anda bersin atau batuk.
    • Bersihkan dan desinfektan selalu area sekitar tempat tinggal anda.
    • Beristirahatlah dengan cukup, agar dapat mempercepat pemulihan anda.
    • Perbanyak minum cairan, seperti air mineral agar terhindar dari dehidrasi. Karena dehidrasi dapat memperburuk gejala dan menimbulkan masalah kesehatn lainnya.
    • Tetap tinggal di rumah. Hindari berpergian keluar rumah seperti ke sekolah maupun ke tempat kerja, dengan begitu anda turut membantu mencegah penyebaran virus ke orang lain disekitar lingkungan anda. Apabila mendesak, keluar rumah lah seperlunya saja, seperti ke tempat perawatan medis dan tetap dengan protokol kesehatan.
    • Isolasi atau pisahkan diri anda dari orang lain. Gunakan ruangan dan fasilitas apapun yang berbeda dengan orang lain.
    • Konsultasikan ke dokter atau penyedia layanan kesehatan tentang gejala yang anda alami.
    • Ikuti arahan dari dokter anda tentang bagaimana cara merawat diri sendiri saat sakit.
    • Tanyakan juga kepada dokter anda tentang obat bebas apa yang dapat membantu, seperti asetaminofen untuk mmenurunkan demam atau multivitamin untuk meningkatkan imun tubuh.
    • Lakukan tes Covid-19 jika anda belum pernah di uji.
    • Pantau selalu gejala Sahabat, jika semakin memburuk, segeralah meminta bantuan medis. Upayakan untuk menelpon dahulu sebelum anda tiba di kantor dokter anda, fasilitas perawatan mendesak, atau ruang gawat darurat.
    • Hal terpenting yang harus dilakukan adalah menghindari penularan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang berusia diatas 65 tahun dan kepada bayi atau anak–anak.

    Itulah mengenai gejala Covid-19, flu, dan pilek yang ternyata cukup berbeda. Apabila Sahabat merasakan gejala seperti di atas yuk segera periksakan diri dengan tes PCR swab di Prosehat. Caranya mudah, Sahabat bisa mengakses via website dan aplikasi lalu pilih Layanan Kesehatan dan klik Rapid Test Covid-19. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. What to Do If You Start to Feel COVID-19 Symptoms [Internet]. Healthline. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health/what-to-do-if-you-start-to-feel-covid-symptoms#precautions
    2. yuli s. LAWAN COVID 19 DENGAN CARA MENGENALI GEJALA DAN PENCEGAHAN MELALUI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT20200719 4633 ymcpjj [Internet]. Academia.edu. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.academia.edu/43664076/LAWAN_COVID_19_DENGAN_CARA_MENGENALI_GEJALA_DAN_PENCEGAHAN_MELALUI_PERILAKU_HIDUP_BERSIH_DAN_SEHAT20200719_4633_ymcpjj
    3. Symptoms of coronavirus (COVID-19) [Internet]. nhs.uk. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/coronavirus-covid-19/symptoms/
    4. Dwianto A. Perlu Tahu, Ini Bedanya Sakit Kepala Biasa dengan Gejala COVID-19 [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5334383/perlu-tahu-ini-bedanya-sakit-kepala-biasa-dengan-gejala-covid-19
    5. [Internet]. 2021 [cited 27 January 2021]. Available from: https://www.webmd.com/lung/covid-treatment-home-hospital#1

     

    Read More
  • Gejala Covid-19 seperti tidak ada habisnya. Baru-baru ini, para peneliti menemukan sebuah gejala baru, yaitu Covid tongue. Pada awalnya, gejala Covid-19 umumnya hanya berupa batuk persisten, pilek, dan kesulitan bernapas. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai macam gejala baru mulai bermunculan. Mulai dari ruam kulit, anosmia, dan yang terakhir, Covid tongue. Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium […]

    Mengenal Covid Tongue, Gejala Baru Covid-19 pada Lidah

    Gejala Covid-19 seperti tidak ada habisnya. Baru-baru ini, para peneliti menemukan sebuah gejala baru, yaitu Covid tongue. Pada awalnya, gejala Covid-19 umumnya hanya berupa batuk persisten, pilek, dan kesulitan bernapas. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai macam gejala baru mulai bermunculan. Mulai dari ruam kulit, anosmia, dan yang terakhir, Covid tongue.

    covid tongue

    Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

    Pengertian Covid Tongue dan Gejalanya

    Covid tongue adalah rasa tidak nyaman pada lidah yang dikeluhkan oleh pasien terkonfirmasi positif Covid-19.  Pada Covid tongue, terjadi perubahan warna, bentuk, kondisi permukaan lidah, serta rasa nyeri. Kondisi ini ditemukan oleh Tim Spector, epidemiolog dari King’s College, London, Inggris. Setelah diteliti, ternyata terdapat bercak-bercak atau luka seperti sariawan pada lidah pasien yang terkadang bisa menyebabkan rasa sakit.

    Pada sebuah penelitian lain yang dimuat dalam Jurnal Integrative Medicine Research didapatkan bahwa pasien yang didiagnonis Covid-19 dengan gejala ringan dan sedang biasanya memiliki lidah berwarna merah terang dengan lapisan putih. Pada pasien Covid-19 dengan gejala berat, ditemukan lidah berwarna ungu atau pucat dengan lapisan kekuningan. Rasa nyeri lidah banyak ditemukan pada pasien dengan gejala berat. Proporsi pasien kritis dengan lidah nyeri meningkat menjadi 75%. Pada lidah pasien Covid-19 juga didapatkan lapisan berminyak. Proporsinya adalah 53,3%, 73,3%, 83,6%, dan 87,5% untuk kategori penyakit ringan, sedang, berat, dan kritis. Selain itu, proporsi lapisan tebal meningkat dari ringan (24,9%) menjadi kritis (50,0%). Metode untuk mengetahui gejala pada lidah ini adalah dengan analisis citra lidah TCM, yaitu mengekstrasi data warna lidah, warna lapisan, bentuk tubuh lidah, dan fitur lapisan yang tepat.

    Dalam sebuah laporan kasus oleh Chaux-Bodard, dkk yang dipublikasikan dalam Journal of Oral Medicine and Oral Surgery (Jomos), seorang pasien wanita berusia 45 tahun mengeluhkan rasa tidak nyaman pada sisi punggung lidah. Sebelumnya, terdapat peradangan di papil lidah yang sangat nyeri selama 24 jam, diikuti munculnya bercak kemerahan selama 24 jam berikutnya, kemudian bercak kemerahan menjadi luka tidak rata dan tidak nyeri. Setelah 10 hari, luka sembuh tanpa bekas luka.

    Baca Juga: Parosmia dan Phantosmia, Gejala-gejala Baru Covid-19, Apa Saja Perbedaaannya?

    Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Pertanda yang Mengarah ke Covid Tongue?

    Gejala rasa sakit dan tidak nyaman di lidah sebenarnya juga bisa dialami oleh penderita sariawan biasa, herpes, atau lidah geografis. Jadi, ketika Sahabat merasa mengalami gejala tersebut jangan lantas menyimpulkan terkena Covid-19. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

    • Gunakan sikat gigi yang lembut untuk menyikat gigi
    • Sikat lidah atau gunakan pengikis untuk membantu menghilangkan bercak pada lidah
    • Gunakan sedotan untuk mengonsumsi minuman dingin
    • Konsumsi parasetamol atau ibuprofen

    Apa yang Akan Terjadi Jika Covid Tongue Tidak Ditangani?

    Jika tidak ditangani Covid Tongue dapat menyebabkan infeksi serius di mulut. Gejala ini sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari atau minggu. Namun, jika Sahabat mengalami gejala baru ini bersama dengan gejala-gejala lain yang juga mengarah ke Covid-19, segera periksakan diri ke dokter, serta lakukan isolasi mandiri dan tindakan pencegahan untuk memastikan Sahabat tidak terkena Covid-19.

    Baca Juga: Penyakit Gigi dan Gusi yang Sering Terjadi dan Penanganannya

    Itulah beberapa hal mengenai Covid Tongue, gejala baru Covid-19 pada lidah. Supaya Sahabat bisa dengan mudah mendeteksi gejala ini, selain dengan menyikat gigi dan lidah atau periksa ke dokter, Sahabat bisa menggunakan jam pintar WISH yang mempunyai teknologi untuk mendeteksi gejala Covid-19 melalui empat parameter, yakni suhu tubuh, detak jantung, kadar oksigen darah, dan analisis citra lidah. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Mengenal ‘Covid Tongue’ yang Jadi Gejala Baru Covid-19 [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 29 January 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2021/01/28/180000068/mengenal-covid-tongue-yang-jadi-gejala-baru-covid-19?page=all
    2. Dokter RSA UGM: Ini Ciri Gejala Baru Covid Tongue [Internet]. kompas.com. 2021 [cited 1 February 2021]. Available from: https://edukasi.kompas.com/read/2021/01/30/134915971/dokter-rsa-ugm-ini-ciri-gejala-baru-covid-tongue?page=all
    3. Chaux-Bodard A, Deneuve S, Desoutter A. Oral manifestation of Covid-19 as an inaugural symptom?. J Oral Med Oral Surg. 2020;26(2):18.
    4. Pang W, Zhang D, Zhang J, Li N, Zheng W, Wang H et al. Tongue features of patients with coronavirus disease 2019: a retrospective cross-sectional study. Integr Med Res. 2020;9(3):100493.
    Read More
  • Setelah happy hypoxia,1 anosmia, dan keluhan pada mata sebagai gejala-gejala baru penderita Covid-19, kini muncul lagi gejala baru untuk penyakit tersebut, yaitu delirium.2 Sebelumnya, gejala-gejala yang biasa dialami oleh pengidap Covid-19 ini dapat berupa kelelahan, sesak napas, batuk, sakit kepala, nyeri dada dan nyeri otot, sulit berkonsentrasi, demam, menggigil serta mengalami masalah pencernaan.3 Baca Juga: Vitamin C, […]

    Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

    Setelah happy hypoxia,1 anosmia, dan keluhan pada mata sebagai gejala-gejala baru penderita Covid-19, kini muncul lagi gejala baru untuk penyakit tersebut, yaitu delirium.2 Sebelumnya, gejala-gejala yang biasa dialami oleh pengidap Covid-19 ini dapat berupa kelelahan, sesak napas, batuk, sakit kepala, nyeri dada dan nyeri otot, sulit berkonsentrasi, demam, menggigil serta mengalami masalah pencernaan.3

    gangguan delirium

    Baca Juga: Vitamin C, Wajibkah Dikonsumsi Agar Tidak Terserang Corona?

    Delirium, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah gangguan mental yang ditandai oleh ilusi, halusinasi, ketegangan otak, dan kegelisahan fisik.4 Definisi ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh dr. Gina Anindyajati SpKJ dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, seperti dilansir Kompas.com. Disebutnya bahwa orang yang mengalami delirium biasanya menunjukkan gangguan tingkat kesadaran, perhatian, kognitif, dan persepsi yang terjadi secara fluktuatif.3 Berdasarkan sebuah studi umumnya, delirium kerap dialami oleh pasien Covid-19 yang berusia lanjut.5

    Seperti Apa Gejala dan Pemicunya?

    Delirium biasanya mempunyai gejala yang begitu cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari, sering berfluktuasi sepanjang hari, dan memburuk pada malam hari. Meski begitu, ada periode dimana delirium tidak menunjukka gejala apa pun. Sejumlah penelitian juga telah mempelajari manifestasi Covid-19 pada sistem saraf. Delirium dan keadaan kebingungan adalah gejala yang cukup umum dialami oleh pasien Covid-19 yang dapat terjadi sejak hari pertama. Berdasarkan studi yang diterbitkan oleh JAMA Network seperti dilansir dari Detik.com, terdapat 817 pasien lansia positif Covid-19. Sebanyak 28% mengalami delirium saat presentasi, yang merupakan gejala keenam yang paling umum dari semua gejala dan tanda yang muncul. Di antara pasien yang mengigau, sebanyak 16% menunjukkan delirium sebagai gejala utama dan 37% tidak memiliki gejala Covid-19 yang khas seperti batuk atau demam.6

    Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa delirium harus dimasukkan pada daftar periksa pasien yang menunjukkan tanda dan gejala Covid-19. Beberapa faktor yang dapat menjadi pemicu delirium, yaitu:6

    • Hipoksia, ketika jaringan otak kekurangan kadar oksigen yang dapat menyebabkan pembengkakan saraf dan edema otak serta menyebabkan kerusakan eksternal dan internal di otak
    • Peradangan, ketika sistem kekebalan menjadi terlalu aktif sehingga menyerang organ-organ juga serta mengubah atau merusak fungsi otak
    • Toksisitas neuronal, ketika virus SARS-CoV-2 secara langsung menganggu fungsi saraf pada tingkat sel bahkan sebelum mencapai paru (komplikasi ini jarang terjadi)
    • Hiperkoagulasi, pengentalan darah yang hebat sehingga menganggu aliran darah ke otak

    Bagaimana Cara Mengobatinya?

    Pengobatan untuk orang-orang yang terkena delirium harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jika disebabkan infeksi, pengobatan ditujukan untuk menghilangkan sumber infeksinya. Namun, jika disebabkan pengentalan darah yang berlebihan, perlu diberikan terapi agar kekentalan darahnya berkurang. Selain itu, terapi juga diperlukan untuk pasien yang mengalami delirium bergejala reorientasi. Orang-orang yang mengalami hal ini juga perlu dirawat pada ruangan yang cukup nyaman, cukup pencahayaan dan tenang, serta suhu ruangan yang hangat.3

    Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona Justru Turunkan Imun Tubuh

    Apakah Delirium Merupakan Gejala Baru?

    Delirium disebut merupakan gejala baru, namun, menurut Ikatan Dokter Indonesia atau IDI, delirium bukanlah gejala baru. Dilansir dari Kompas TV, Ketua Satgas Covid-19 dari IDI, Zuhairi Djoerban, menyatakan bahwa gejala ini sebenarnya sudah pernah dipublikasikan sebelumnya di beberapa media di Amerika Serikat dan Inggris.5

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbebani Kapan Covid-19 Berakhir

    Demikianlah mengenai delirium yang belakangan ini menyita perhatian semua orang karena berkaitan dengan Covid-19. Apabila Sahabat masih memerlukan informasi mengenai delirium dan gejala-gejala Covid-19 lainnya serta produk-produk kesehatan yang berkaitan untuk deteksi dini seperti PCR swab dan rapid test silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Mediatama G. Mengenal happy hypoxia dan bahayanya jika menyerang pasien Covid-19 [Internet]. PT. Kontan Grahanusa Mediatama. 2020 [cited 14 December 2020]. Available from: https://kesehatan.kontan.co.id/news/mengenal-happy-hypoxia-dan-bahayanya-jika-menyerang-pasien-covid-19?page=all
    2. Anindita K. Deretan Gejala COVID-19 yang Tak Terbayangkan, Anosmia hingga Delirium [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 14 December 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5293529/deretan-gejala-covid-19-yang-tak-terbayangkan-anosmia-hingga-delirium
    3. Media K. Kenali Tanda-tanda Mengalami Delirium, Gejala Baru Covid-19 Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 14 December 2020]. Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/12/091000465/kenali-tanda-tanda-mengalami-delirium-gejala-baru-covid-19?page=all
    4. Setiawan E. Arti kata delirium – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online [Internet]. Kbbi.web.id. 2020 [cited 14 December 2020]. Available from: https://kbbi.web.id/delirium
    5. IDI: Delirium Bukan Gejala Baru Covid-19 [Internet]. KOMPAS.tv. 2020 [cited 14 December 2020]. Available from: https://www.kompas.tv/article/129881/idi-delirium-bukan-gejala-baru-covid-19
    6. Nabila F. Kenali Pemicu Delirium, Gejala Baru yang Diidap Pasien COVID-19 [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 14 December 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5292222/kenali-pemicu-delirium-gejala-baru-yang-diidap-pasien-covid-19
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja