Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ gangguan kesehatan mental”

  • Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda. Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab […]

    3 Jenis Eat Disorder Yang Paling Berbahaya Beserta Gejalanya

    Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda.

    jenis eat disorder

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Gangguan makan akan memperparah kondisi tubuh dan menyebakan konsekuensi kesehatan yang lebih serius, hingga berujung kematian. Beberapa gejala yang paling umum ditimbulkan dari gangguan makan, yaitu:

    • Pembatasan konsumsi makanan secara berlebihan
    • Makan berlebihan dengan durasi yang cepat, bahkan ketika sedang tidak lapar
    • Sengaja memuntahkan makan
    • Melakukan olahraga secara berlebihan

    Gejala Eat Disorder Berdasakan Jenisnya

    Gejala yang dialami penderita eat disorder dapat bermacam-macam, tergantung dari jenis gangguannya. Gejala pada gangguan makan yang berlebihan biasanya berupa:

    1. Anoreksia Nervosa

    Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang paling terkenal. Penderita anoreksia nervosa memiliki ganguan pada pola makan yang dipicu oleh keinginan seseoang untuk memiliki bentuk tubuh yang jauh dibawah normal atau sangat kurus. Mereka juga tidak pernah merasa puas dengan kondisi bentuk tubuh yang dimilikinya.

    Kondisi ini umumnya terjadi pada masa remaja dan kemungkinan lebih banyak mempengarui wanita dibanding pria. Penderita anoreksia biasanya akan menganggap dirinya memiliki berat badan berlebih dari berat badan normal, padahal sebenarnya mereka sangat kurus.

    Baca Juga: Apa Itu Anoreksia Nervosa? Yuk, Sahabat Kenali Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganannya

    Mereka akan terus-menerus  memantau berat badan mereka, menghindari konsumsi jenis makanan tertentu, dan memperketat asupan kalori.

    Angka penderita anoreksia pada umumnya dikalangan wanita yang berusia 11 hingga 5 tahun berkisar dari 0 sampai 2,2% dan sekitar 0,3% diderita oleh pria. Kasus anoreksia nervosa berkisar antara 109 sampai 270/100.000 orang pertahun dengan angka kematian yang bervariasi berdasarkan populasi yang dipertimbangkan.

    Gejala umum yang dialami oleh penderita anoreksia nervosa, di antaranya:

    • Pola makan yang minim
    • Tubuh menjadi sangat kurus dibandingkan dengan orang normal dengan usia dan tinggi yang sama.
    • Sangat ketakutan dengan kenaikan berat badan
    • Enggan untuk mempertahankan berat badan ideal yang sehat karena merasa harga diri nya bergantung pada berat badan dan bentuk tubuh yang dimiliki.
    • Citra tubuh yang telah terdistorsi

    Gejala lain seperti obsesif-kompulsif juga sering muncul. Misalnya pada penderita anoreksia yang disibukan dengan pola pikir tentang makanan secara terus-menerus, dan beberapa diantaranya kemungkinan mengumpulkan resep atau menimbun makanan secara obsesif.

    Penderita anoreksia dengan gejala seperti yang disebutkan diatas apabila dibiarkan terus-menerus dapat memicu kerusakan pada tubuh seiring berjalannya waktu, seperti:

    • Otot melemah
    • Kemandulan
    • Rapuhnya rambut dan kuku
    • Tumbuh lapisan rambut diseluruh tubuh
    • Suhu tubuh rendah sehingga sering merasa kedinginan
    • Siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami haid
    • Darah rendah
    • Anemia
    • Tulang menjadi keropos
    • Tidak berfungsinya beberapa organ
    • Gagal ginjal
    • Kerusakan otak
    • kematian

    Penderita anoreksia akan berada pada kondisi kelaparan yang berkepanjangan. Hal ini tentunya memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan yang kompleks dan sangat berbahaya bagi tubuh.

    2. Bulimia Nervosa

    Bulimia nervosa merupakan bentuk gangguan mental yang mempengaruhi pola makan sehingga penderitanya akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan kebanyakan dari mereka kesulitan dalam mengontrol porsi makannya, yang kemudian akan dimuntahkan kembali dengan sengaja.

    Mereka akan menggunakan berbagai cara memuntahkan makanan tersebut, bahkan dengan menggunakan obat-obatan seperti obat pencahar dan sejenisnya.

    Bulimia nervosa dapat menyerang perempuan 9 kali lebih sering dibanding laki-laki. Sekitar satu sampai tiga persen wanita akan mengalami bulimia dalam hidupnya. Kasus terbaru terjadi pada sekitar 12 per 100.000 penduduk per tahun dengan rasio kematian standar pada bulimia adalah 1% hingga 3%.

    Penderita bulimia juga melakukan olahraga ketat untuk membakar kalori dalam makanan yang telah dikonsumsinya.

    Mereka sangat terobsesi pada berat badan yang stabil pada jumlah angka tertentu. Namun, berlainan dengan perilaku tersebut mereka akan merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena telah mengonsumsi banyak makanan.

    Baca Juga: Inilah 10 tips Langsing Alami, Mudah Kok!

    Sebab, mereka tidak ingin berat badannya bertambah sehingga ia akan memuntahkan makanan yang telah dimakan tersebut.

    Karena perilaku tersebut, penderita bulimia nervosa akan mengalami gejala yang tampak mirip dengan subtipe pesta atau pembersihan anoreksia nervosa.

    Namun, penderita bulia pada umumnya hanya akan mempertahankan berat badan idealnya yang cenderung normal, bukan untuk mendapatkan berat badan dengan angka paling kecil.

    Gejala umum pada bulimia nervosa, di antaranya:

    • Memiliki porsi makan berlebih yang berulang dan tidak dapat terkontrol
    • Memiliki kebiasaan untuk mengeluarkan atau memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan untuk mencegah naiknya berat badan
    • Bentuk tubuh dan berat badan sangat berpengaruh pada harga diri
    • Ketakutan yang ekstrim pada pertambahan berat badan, meski berat badan yang dimiliki sudah normal

    Dengan gejala seperti yang telah disebutkan, penderita bulimia nervosa akan memiliki efek samping yang akan dirasakan oleh tubuh, seperti:

    • Perdangan dan sakit tenggorokan
    • Bengkak pada kelenjar ludah
    • Lapisan email gigi terkikis
    • Kerusakan pada gigi
    • Refluks asam
    • Iritasi pada usus
    • Dehidrasi akut
    • Gangguan hormonal

    Pada kasus yang lebih parah, penderita bulimia juga dapat memicu ketidakseimbangan pada kadar elektrolit, seperti natrium, kalsium, dan kalium. Bahkan dapat menyebabkan serangan jantung hingga stroke.

    3. Binge Eating Disorder

    Binge eating disorder (BED) atau gangguan makan berlebih merupakan gangguan pada pola makan, yaitu si penderita akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan tidak terkontrol.

    Berbeda dengan dua jenis gangguan makan sebelumnya, penderita binge eating justru tidak mempedulikan ukuran badan dan berat badannya. Malah, kebanyakan dari mereka juga menderita kelebihan berat badan yang ekstrim atau obesitas.

    Berdasarkan survei, BED sangat mempengaruhi sekitar 1-2% di beberapa fase dalam kehidupan mereka. BED juga cenderung lebih sering terjadi pada wanita dari pada pria.

    Penderita BED akan memiliki durasi makan dalam waktu yang sangat cepat denga porsi yang besar, mereka tidak akan berhenti jika belum merasa sangat kenyang.

    Mereka juga akan mengonsumsi makanan dalam porsi yang besar meskipun sedang tidak merasa lapar dan akan merasa depresi setelah melakukan hal tersebut. Pada umumnya penderita binge eating ini dipicu oleh rasa stress akibat penderitaan yang mereka alami.

    Baca Juga: 4 Jenis Makanan Agar Rasa Kenyang Lebih Lama

    Penderita binge eating tidak akan membatasi jumlah kalori yang masuk dan juga tidak memiliki perilaku seperti memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan ataupun olahraga berlebihan, untuk menyeimbangkan berat badan yang diinginkan.

    Gejala umumnya yang dialami oleh penderita gangguan makan berlebih ini meliputi:

    • mengonsumsi makanan dalam porsi besar dengan waktu yang cepat hingga kekenyangan, meskupun tidak sedang lapar
    • tidak dapat mengontrol selama episode pesta makan
    • merasa tertekan, jijik, dan sangat bersalah atas perilaku makannya yang berlebihan
    • tidak melakukan perilaku membersihkan, seperti membatasi kalori, memuntahkan makanan, olahraga berlebih atau menggunakan obat pencar untuk mengurangi berat badan

    Penderita gangguan makan berlebihan seeperti itu akan sering mengalami kelebihan berat badan atau obesitas sehingga dapat meningkatkan risiko adanya komplikasi medis yang berkaitan dengan kelebihan berat badan, sperti stoke, penyakit jantung, maupun diabetes tipe 2.

    Gangguan makan seperti yang telah dijelaskan di atas, pada dasarnya dipicu oleh adanya kelainan pada kesehatan mental yang tidak wajar. Apabila sahabat sehat merasa mengalami salah satu gangguan makan tersebut, segeralah untuk berkonsultasi ke psikiater, karena kondisi gangguan makan tersebut akan sangat sulit apabila tanpa bantuan dokter.

    Namun sayangnya, orang yang memiliki gejala gangguan makan sering kali menganggap remeh dan merasa tidak memerlukan bantuan. Jika sahabat merasa sangat khawatir deng perilaku yang janggal tersebut sahabat dapat membujuk mereka agar mau berkonsultasi dengan psikiater.

    Baca Juga: Inilah Gejala Kesehatan Mental yang Sering Sahabat Anggap Remeh!

    Apabila penderita gangguan makan ini merasa enggan untuk berpergian keluar rumah, sahabat cukup arahkan si penderita untuk langsung berkonsultasi secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.  Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. 2021. Learn about 6 common types of eating disorders and their symptoms.. [online] Available at: <https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders#anorexia> [Accessed 23 March 2021].
    2. wikipedia.org. 2021. Eating disorder – Wikipedia. [online] Available at: <https://en.wikipedia.org/wiki/Eating_disorder#Anorexia> [Accessed 23 March 2021].
    3. or.id. 2021. APAKAH ANDA MENGALAMI EATING DISORDER? | Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia. [online] Available at: <https://apki.or.id/apakah-anda-mengalami-eating-disorder/> [Accessed 23 March 2021].
    4. National Eating Disorders Association. 2021. Warning Signs and Symptoms. [online] Available at: <https://www.nationaleatingdisorders.org/warning-signs-and-symptoms> [Accessed 23 March 2021].
    Read More
  • Pertolongan pertama kesehatan mental sebenarnya sudah ada dan sudah diterapkan sebelum Perang Dunia Kedua. Hal ini diakui sebagai cara terbaik untuk menolong banyak orang dalam kondisi yang berisiko. Gejala penyakit gangguan mental ini sulit sekali untuk dideteksi, banyak orang lain atau keluarga yang menemukan perilaku atau sikap dengan perubahan yang seperti biasanya. Meskipun orang lain […]

    Seperti Apa dan Bagaimana Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Jiwa?

    Pertolongan pertama kesehatan mental sebenarnya sudah ada dan sudah diterapkan sebelum Perang Dunia Kedua. Hal ini diakui sebagai cara terbaik untuk menolong banyak orang dalam kondisi yang berisiko.

    Gejala penyakit gangguan mental ini sulit sekali untuk dideteksi, banyak orang lain atau keluarga yang menemukan perilaku atau sikap dengan perubahan yang seperti biasanya. Meskipun orang lain atau keluarga sendiri menemukannya, tetap saja cara menghadapi dan bagaimana melakukan intervensi atau mencari pengobatan yang tepat itu tidak mudah.

    pertolongan pertama gangguan kesehatan jiwa

    Baca Juga: Penyebab Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Pertolongan pertama kesehatan jiwa adalah kursus selama 8 jam. Pasien diberi pemahaman dan dikenalkan tentang risiko-risiko dan tanda-tanda awal gangguan jiwa. Pasien dikenalkan dampak dari gangguan jiwa serta cara pengobatannya secara umum.

    Selain itu, pasien juga ikut simulasi dalam menilai seberapa krisis gangguan jiwa, melakukan intervensi, memberikan bantuan awal dan bagaimana cara menguhubungi dokter, teman terdekat, keluarga, serta bantuan dukungan sosial.

    Dekati, kaji dan dengar masalah yang sedang dialami

    Hal yang pertama yang harus Sahabat lakukan adalah melakukan pendekatan dengan penuh perhatian dan sikap positif, dengarkan masalahnya, dan coba memberi bantuan atau solusi sesuai dengan masalah yang sedang dihadapinya. Step by step melakukan pendekatan juga harus memperhatikan

    • Cara pendekatan dengan penuh perhatian dan sikap yang nyaman
    • Cari tempat yang nyaman untuk kita maupun orang tersebut, tempat yang nyaman dan tenang untuk bercerita
    • Apabila orang tersebut tidak berinisiatif memulai cerita, maka kita boleh memulai pembicaraan dengan syarat tidak langsung to the point
    • Jika orang tersebut sudah memulai cerita, hormati privasi dan kerahasiaan orang tersebut.

    Dengarkan ceritanya tanpa menghakimi

    Ketika orang tersebut mulai bercerita, salah satu yang harus anda lakukan yang penting sekali adalah dengarkan dan tahan penilaian anda dahulu,  jangan memotong cerita orang tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran Sahabat, dengarkan dulu sampai selesai, dengarkan dengan rasa empati yang tinggi dan dengarkan secara verbal maupun non verbal.

    Perhatikan juga untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengerti apa yang diceritakan kemudian berikan kebebasan untuk berbicara tanpa menghakimi. Ada hal yang harus dilakukan dan jangan sesekali Sahabat lakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan adalah:

    Lakukan

    • Beretika dan lakukan hal yang sewajarnya sesuai dengan budaya, usia dan orang yang kita hadapi
    • Jujur dan dapat dipercaya
    • Hormati keputusan dan hak orang lain
    • Jangan mengungkapkan tentang penilaian pertama terhadap orang tersebut dan berhati-hati dalam menilai
    • Jelaskan ketersediaanmu dalam membantunya kapan saja

    Jangan Lakukan

    • Jangan berlebihan dalam memberikan informasi
    • Jangan berlebihan dalam berbicara
    • Jangan menonjolkan status kita sebagai penolong
    • Jangan memaksa mereka untuk bercerita kepada kita
    • Jangan ambisius, membosankan atau memaksa untuk menolong
    • Jangan menghakiminya karena perilaku dan perasaannya
    • Jangan menceritakan masalahnya ke semua orang maupun sedikit orang

    Berikan informasi dan dukungan

    Setelah seseorang tersebut merasa lebih didengarkan dan merasa ada dukungan lebih, maka ini adalah peluang anda untuk terus melanjutkan bantuan.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Berikan dukungan berupa dukungan emosional seperti memberikan harapan bahwa masalah ini akan selesai dengan kondisi yang membaik dan berikan dukungan seperti berempati apa yang orang tersebut rasakan. Jangan lupa untuk menanyakan atau memberikan informasi tentang bantuan kesehatan jiwa.

    Beri dorongan untuk mendapatkan bantuan profesional

    Ketika mereka sudah mulai terbuka terkait cerita dan masalahnya, sebaiknya langkah selanjutnya Sahabat memberikan pilihan bantuan profesional yang tepat, seseorang dengan gangguan kesehatan jiwa harus ditangani langsung dengan yang lebih profesional.

    Kita dalam membantu memiliki batasan dan pilihan bantuan terapi ada berbagai macam misalnya dengan obat-obatan, terapi psikis atau konseling, dukungan dari anggota keluarga/terdekat, bantuan/bimbingan aktifitas.

    Beberapa gejala yang harus diperhatikan dan butuh bantuan lebih, yaitu:

    • Orang dengan kondisi serius, yang dapat membahayakan nyawa diri sendiri maupun orang lain dan membutuhkan perawatan gawat darurat
    • Orang dengan kondisi yang sangat sedih dan berlarut-larut, sehingga tidak mampu merawat diri sendiri dan anak-anaknya
    • Orang yang hanya membahayakan orang lain

    Setelah itu, beri dorongan untuk mendapatkan bantuan lainnya

    Orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa sangat penting juga untuk mendapatkan bantuan dorongan lainnya, selain bantuan profesional atau bantuan yang tepat, orang-orang di sekitar yang pernah mengalami gangguan kesehatan jiwa bisa untuk membantu mereka yang saat ini sedang mengalami, bantuan dorongannya orang-orang di sekitar saja dan orang-orang terdekat.

    Menurut data World Federation of Mental Health (WFMH) seseorang di suatu tempat di dunia meninggal akibat bunuh diri. Data menunjukkan bahwa satu dari empat orang dewasa akan mengalami masalah hidupnya dan mengganggu kesehatan jiwa.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    Hal itu karena orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan jiwa ini tidak mendapatkan perhatian dan tidak mendapatkan dukungan psikologis dari orang-orang di sekitar. Apalagi jika masalah psikis mereka dalam keadaan darurat, mengakibatkan banyak sekali orang-orang yang akan mengalami gangguan kesehatan jiwa

    Karena itu, pertolongan pertama pada gangguan kesehatan jiwa berasal dari orang-orang terdekat dan keluarga, rasa peduli dan perhatian terhadap orang-orang yang dekat dengan kita adalah obat pertama untuk pertolongan awal menghadapi orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.

    Baca Juga: 5 Gangguan Jiwa Paling Sering Dialami Kawula Muda

    Demikianlah mengenai pertolongan pertama pada kesehatan jiwa bagi teman atau saudara yang sedang mengalaminya. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai pertolongan pertama ini dan produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi :

    1. RSJ Dr. Radjiman W. Lawang [Internet]. Rsjlawang.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: http://rsjlawang.com/news/detail/154/pertolongan-pertama-pada-gangguan-kesehatan-jiwa
    2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Internet]. Kemkes.go.id. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.kemkes.go.id/article/view/16101100004/hkjs-2016-pertolongan-pertama-psikologis-dan-kesehatan-jiwa-bagi-semua-.html
    3. Penerapan Metode Algee Dalam Pertolongan Pertama Pada Gangguan Jiwa [Internet]. Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://dinkes.bulelengkab.go.id/artikel/penerapan-metode-algee-dalam-pertolongan-pertama-pada-gangguan-jiwa-44

     

    Read More
  • Seseorang yang bisa memiliki keadaan sehat jiwanya adalah seseorang yang mampu menempatkan dan memberikan porsi atau potensi terbaik di dalam hidupnya, beradaptasi baik dengan kehidupannya, mampu memberikan peran terbaik dalam lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau tempat kerja, masyarakat, komunitas dan lain hal yang menyangkut sosialisasi di kehidupan. Bicara soal kesehatan mental, psikiater dan psikososial dari RS Siloam […]

    Penyebab Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Seseorang yang bisa memiliki keadaan sehat jiwanya adalah seseorang yang mampu menempatkan dan memberikan porsi atau potensi terbaik di dalam hidupnya, beradaptasi baik dengan kehidupannya, mampu memberikan peran terbaik dalam lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau tempat kerja, masyarakat, komunitas dan lain hal yang menyangkut sosialisasi di kehidupan. Bicara soal kesehatan mental, psikiater dan psikososial dari RS Siloam Bogor mengatakan bahwa gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, tidak memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, jabatan, atau status sosialnya. Gangguan jiwa juga bisa menyerang dalam jangka waktu yang cepat maupun lambat.

    Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

     

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Perasaan tidak nyaman akan satu waktu dalam kehidupan adalah hal yang wajar, namun akan dikategorikan dalam hal yang tidak wajar sehingga dibutuhkan penanganan invertensi dan pertolongan lebih lanjut apabila seseorang mengalami merasakannya dalam satu waktu dan berlangsung terus-menerus.

    Adanya gangguan mental ini dapat memicu perubahan keseimbangan dan kestabilan zat kimia yang ada di otak (neurotransmiter) yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan sikap, perubahan pola pikir, perasaan, dan perilaku. Terdapat beberapa penyebab seseorang menderita gangguan mental kesehatan, yaitu:

    1. Faktor genetik

    Sebuah penelitian yang dilakukan dari Amerika Serikat, menemukan adanya variasi genetik pada 33.000 pasien yang didiagnosis mengalami skizofrenia, autis, gangguan bipolar, ADHD, dan depresi. Penelitian tersebut menemukan adanya variasi pada gen CACNA1C dan CACNAB2 yang mempengaruhi memori, cara berpikir, perhatian, dan emosi. Orangtua ke anak menurunkan gen sebesar 10%, dari keponakan atau cucu sebesar 2-4%, sedangkan saudara kembar 48%.

    2. Penggunaan narkoba/alkohol

    Penggunaan alkohol dan obat-obatan serta narkoba seperti ganja (cannabis), synthe, shabu-shabu, ekstasi, obat penenang, dan heroin (putaw) sangat mempengaruhi pola pikir, perasaan, dan emosional yang akan dilakukan di luar batas. Selain itu, penderita akan membahayakan dan melukai diri sendiri ataupun orang lain diluar kesadarannya. Pada pengguna narkoba/alkohol yang sudah mengalami kecanduan memiliki risiko efek samping yang lebih berbahaya karena sekalipun sedang tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut, mereka akan mengalami gangguan sistem saraf yang bekerja di luar normal dan mungkin juga akan mengalami sakau.

    3. Ibu hamil

    Pada ibu hamil, jika mengalami gangguan mental maka kondisi ini akan berpengaruh besar pada perkembangan saraf otak janin yang dikandungnya. Selain itu, jika ibu mengalami gangguan kondisi kejiwaan, seperti depresi atau gelisah saat hamil, risiko kelahiran prematur juga bisa meningkat. Itulah mengapa seringkali kita mendengar bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu banyak fikiran yang mengakibatkan stress.

    4. Riwayat trauma

    Kejadian traumatis bisa disebabkan oleh banyak hal, biasanya yang menyangkut dalam kehidupan sehari-hari namun tanpa disadari seperti pelecehan seksual ataupun pengalaman hidup yang pahit, misalnya patah hati terus menerus, mendapatkan olokan atau dikucilkan terus-menerus oleh lingkungan sekitar, kesedihan yang mendalam, kemarahan yang terpendam, tujuan yang tidak tercapai, dan adanya masalah yang sulit diselesaikan.

    Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    5. Riwayat gangguan mental

    Jika sebelumnya seseorang pernah mengalami gangguan mental jenis apapun, akan ada kemungkinan mereka akan mengalami gangguan mental lagi, walaupun sudah dikatakan pulih. Untuk menjaga kepulihannya dan tetap jadi produktif, penderita harus tetap menjaga pola pikir yang tidak terlalu berat, perbanyak hiburan dan tetap harus konsultasi dengan psikiater sebelumnya, agar selalu mendapatkan arahan.

    6. Putus obat

    Biasanya seseorang yang mengalami gangguan jiwa akan terus mengkonsumsi obat seumur hidupnya untuk tetap mengkontrol aktifitas dalam kehidupannya agar selalu normal. Sebagian orang yang mengalami gangguan jiwa akan lelah dalam mengonsumsi obat terus-menerus tanpa henti dan membuat keputusan untuk berhenti minum. Jika benar sampai putus obat seperti itu, maka penderita tersebut akan rentan mengalami gangguan jiwa lagi.

    7. Konflik dengan keluarga atau teman

    Beberapa konflik yang besar dengan keluarga atau teman bisa jadi pemicu untuk mengalami gangguan jiwa, apalagi jika memiliki perasaan bersalah, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, dan tidak mau menerima pendapat orang lain, biasanya tingkat emosional seseorang akan meningkat. Konflik dengan keluarga yang dimaksud bisa berupa pertengkaran soal harta dan warisan, sedangkan masalah dengan teman bisa jadi karena hubungan atau cinta segitiga dengan pasangan yang bisa membuat penyebab gangguan kesehatan mental terjadi.

    8. Beban yang terlalu berat

    Beban hidup yang terlalu berat pada umumnya berhubungan dengan masalah ekonomi. Sebagian orang dewasa yang memiliki masalah tersebut bisa saja memutuskan untuk pisah rumah dengan orangtua atau menghidupi dirinya sendiri, baik dari biaya kuliah, sandang, pangan, maupun papan. Belum lagi pada anak yang harus menanggung beban orangtua atau harus melunasi hutang piutang, cicilan, biaya sekolah adiknya, maka beratnya beban yang harus ditanggung akan mempengaruhi kesehatan mental seseorang selama proses hidupnya menjadi dewasa.

    Baca Juga: 14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak

    Nah, dengan demikian Sahabat perlu mewaspadai penyebab dan gejala gangguan mental sehingga dapat mendeteksinya lebih awal dan ditangani dengan cepat. Karena pada orang dengan gangguan mental yang ditangani lebih cepat akan lebih mudah diterapi dan mereka akan segera pulih dan bisa kembali melakukan kegiatan normal dengan produktif.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penyebab gangguan kesehatan mental dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Mengenal gejala dan penyebab gangguan jiwa[Internet]. Pustaka.unpad.ac.id. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/12-Mengenal-gejala-dan-penyebab-gangguan.pdf
    2. Anggraini AP. Memahami Tanda Gangguan Kesehatan Mental dan Cara Menanganinya Halaman [Internet]. Kompas.com. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://health.kompas.com/read/2020/10/17/181500668/memahami-tanda-gangguan-kesehatan-mental-dan-cara-menanganinya?page=all
    3. Virdhani MH. Ketahui 7 Penyebab Seseorang Bisa Alami Gangguan Mental [Internet]. JawaPos.com. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://www.jawapos.com/kesehatan/11/10/2020/ketahui-7-penyebab-seseorang-bisa-alami-gangguan-mental/
    4. Family Health Service. Kesehatan Mental Prapersalinan [Internet]. Fhs.gov.hk. 2021 [Diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://www.fhs.gov.hk/english/other_languages/bahasa_indonesia/women_health/postnatal_care/30098.html
    Read More
  • Dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Penularan virus yang begitu cepat membuat orang menjadi khawatir dan cemas. Begitu pula dampaknya, mulai dari segi ekonomi, sosial, agama, dan juga psikologis. Nah, dari segi psikologis dapat dilihat kesehatan mental di masa pandemi. Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi? Pandemi menimbulkan kecemasan dan […]

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi

    Dunia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Penularan virus yang begitu cepat membuat orang menjadi khawatir dan cemas. Begitu pula dampaknya, mulai dari segi ekonomi, sosial, agama, dan juga psikologis. Nah, dari segi psikologis dapat dilihat kesehatan mental di masa pandemi.

    kesehatan mental di masa pandemi

    Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi?

    Pandemi menimbulkan kecemasan dan kegelisahan dalam masyarakat dan keadaan ini harus secepatnya diatasi. Kita tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Sehingga rasa cemas sebaiknya segera diatasi karena kecemasan dapat membuat imun seseorang menjadi turun dan mudah terpapar virus.

    Pandemi menyebabkan orang yang biasanya bekerja dan beraktivitas di luar rumah, sekarang semua hal harus dilakukan dari rumah. Keadaan yang dikhawatirkan dari kondisi pandemi ini, selain penyakit Covid, juga penyakit kesehatan mental karena perubahan yang terjadi secara drastis pada seseorang dapat menyebabkan orang tersebut gampang terkena gangguan mental.

    Kondisi pandemi dapat mengancam kesehatan mental semua orang. Namun, ada beberapa kelompok yang rentan terkena stres antara lain lansia, orang yang memiliki penyakit kronis, anak-anak, remaja, ibu hamil, dan para tenaga kesehatan (nakes) yang merawat pasien Covid-19.

    Selain itu,  ada juga yang berisiko tinggi terkena penyakit kesehatan mental, yaitu orang yang sebelumnya pernah memiliki riwayat gangguan mental, termasuk juga mereka yang bermasalah dengan penggunaan narkoba. Berikut penjelasan tentang kesehatan mental, yuk kita simak.

    Pengertian Kesehatan Mental

    Kesehatan mental adalah salah satu kajian ilmu jiwa kejiwaan yang sudah dikenal sejak abad ke-19 dan kesehatan mental adalah suatu keadaan emosional serta psikologis yang baik. Kesehatan mental sendiri pada dasarnya harus dirawat keberadaannya agar mental tetap sehat.

    Pengertian anxiety (cemas)

    Anxiety adalah suatu perasaan yang tidak tentu yang kemudian perasaannya berisi ketakutan serta keprihatinan akan sesuatu di masa mendatang. Kecemasan juga merupakan suatu perasaan subjektif, mengenai ketegangan mental. Dan hal menggelisahkan tersebut muncul sebagai reaksi dari ketidakmampuan mengatasi sesuatu atau bisa jadi karena rasa tidak aman.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah, dan Tanda-tandanya

    Gejala gangguan kesehatan mental

    Gejala gangguan jiwa ringan (cemas, depresi, psikosomatis, dan kekerasan):

    – Perasaan khawatir

    – Firasat buruk

    – Takut akan pikirannya sendiri

    – Mudah tersinggung

    – Merasa tegang

    – Merasa tidak tenang

    – Gelisah

    – Mudah terkejut

    – Takut sendirian, takut pada keramaian, dan banyak orang

    – Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkah

    – Gangguan konsentrasi dan daya ingat

    -berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, dan sakit kepala

    Gejala gangguan kesehatan mental berat (skizofernia, manik depresif, dan psikotik lainnya)

    – Bicaranya tidak nyambung

    – Sering berperilaku menyimpang

    – Tidak bisa mengontrol diri, sehingga terkadang mengamuk

    Namun, gejala-gejala yang disebutkan di atas belum tentu dirasakan oleh semua orang yang memiliki gangguan kesehatan mental ya, Sahabat Sehat. Karena setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Hal yang harus dilakukan guna menjaga kesehatan mental di masa pandemi

    Agar Sahabat semua tetap waras dan dapat beraktivitas seperti biasa pada masa pandemi, ada beberapa tips yang dapat dilakukan:

    – Penyesuaian diri harus dilakukan dengan semua yang terjadi di lingkungan sekarang. Melakukan penyesuaian berguna untuk mendapat keharmonisan dan keselarasan, antara tuntutan lingkungan dengan tuntutan di dalam diri.

    – Membangun mindset atau motivasi. Kesehatan mental yang baik harus dibangun melaui mindset dan motivasi, agar pikiran yang ada tidak menimbulkan stres yang akan mengganggu kesehatan mental.

    – Menjalankan hobi. Menjalani hobi sebagai pelarian dari kesibukan dan juga pemikiran setiap hari yang menumpuk. Nantinya, melaukan hobi akan meningkatkan mood dan menjaga kesehatan mental kita. Makanya, banyak di masa sekarang, orang yang memiliki hobi baru seperti berkebun ataupun berternak. Banyak orang yang memiliki waktu luang, yang akhirnya dimanfaatkan dengan hal-hal baru. Ini menunjukkan, banyak orang yang sudah pintar memanage hidupnya di masa pandemi.

    – Menyaring informasi, karena informasi di tengah pandemi juga nyatanya bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Di era sekarang, yaitu era digital 4.0, media sosial menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kecemasan seseorang. Suatu berita yang menjelaskan tentang wabah, bisa menyebabkan kecemasan dan respon yang negatif. Dan ingat, tak semua berita atau informasi sifatnya benar. Sehingga, Sahabat Sehat harus pintar dalam menyaring informasi di masa pandemi ini.  Sahabat harus dapat memilih media sosial ataupun platform mana yang bisa menyediakan serta memelihara komunikasi yang benar, akurat, dan jujur. Sehingga tidak mudah terhasut oleh berita atau informasi yang tidak jelas dan hoax. Hal itu, juga melindungi kesehatan mental kalian.

    Jadi, diharapkan Sahabat Sehat agar tetap menjaga kesehatan mentala di masa pandemi ini. Mulai bergantunglah pada diri sendiri, harus lebih peduli akan kesehatan mental. Karena intinya, setiap manusia bebas dalam menentukan pilihannya.

    Kesimpulan yang dapat diambil adalah pandemi ini memang masalah global, yang dirasakan seluruh dunia, serta tida bisa dihindari. Tidak hanya kesehatan fisik saja yang diserang, tetapi juga kesehatan mental. Solusi yang paling baik dan paling mendasar satu-satunya adalah memberikan stigma positif kepada diri sendiri.

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbeban Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir

    Sahabat Sehat bisa menghadapi pandemi ini dengan cara tidak terpancing dengan kepanikan atau juga kecemasan serta ketakutan yang berlebih. Khawatir wajar, namun tidak perlu berlebih. Karena, apabila hal tersebut ada di diri secara berlebih akan sangat mempengaruhi kesehatan mental.

    Pengaruh dari kecemasan, kepanikan, dan ketakutan yang berlebih bukan hanya akan membawa dampak buruk bagi diri sendiri. Namun, akan berpengaruh kepada orang dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perlu adanya strategi dan kemampuan dalam memahami tahapan menyelesaikan kesehatan mental saat pandemi. Yang tentunya dengan solusi lebih baik. Agar solusi-solusi yang diberikan dapat terealisasi dengan baik. Apabila Sahabat membutuhkan informasi lebih mengenai kesehatan mental di tengah pandemi dan produk-produk kesehatan yang berkaitan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Salsabila NA. Menjaga Kesehatan di Masa Pandemi. [Internet]. [cited 21 January 2021]. Available from: https://psyarxiv.com/rd4zf/
    2. Fakhriyani DV. KESEHATAN MENTAL. 2019. Jakarta: Duta Media Publishing.
    3. Fitria L, Neviyarni, Netrawati, Karneli Y. Cognitive Behavior Therapy Counseling Untuk Mengatasi Anxiety Dalam Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan dan Konseling. 2020;10:1.
    4. Swarahapsari M. Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemi Covid-19. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental. 2021 [cited 21 January 2021]. Available from: https://www.researchgate.net/publication/346646530_Pentingnya_Menjaga_Kesehatan_Mental_saat_Pandemi_COVID-19
    5. Covid-19 dalam ragam tinjauan dan perspektif. Santoso DH, santoso A. Editor. 2020. Yogyakarta: MBridge Press. [cited 21 January 2021]. Available from: http://lppm.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2020/07/BUKU-RAPID-RESEARCH-COVID-UPDATE-1.pdf
    6. [Internet]. Pustaka.unpad.ac.id. 2021 [cited 26 January 2021]. Available from: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/12-Mengenal-gejala-dan-penyebab-gangguan.pdf
    Read More
  • Sobat Sehat pasti sudah sering mendengar tentang istilah gangguan kesehatan jiwa. Tetapi apakah Sobat sudah mengetahui secara persis apa arti dari istilah tersebut? Jadi, gangguan kesehatan jiwa atau gangguan mental didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang. Gangguan ini bisa terjadi karena dua faktor utama, yakni faktor biologis dan […]

    Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Sobat Sehat pasti sudah sering mendengar tentang istilah gangguan kesehatan jiwa. Tetapi apakah Sobat sudah mengetahui secara persis apa arti dari istilah tersebut? Jadi, gangguan kesehatan jiwa atau gangguan mental didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang. Gangguan ini bisa terjadi karena dua faktor utama, yakni faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis umumnya berupa kelainan genetik maupun kelainan yang terjadi pada bagian otak tertentu. Sedangkan faktor psikologis berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang mengguncang psikologis penderita.

    gangguan kesehatan jiwa, gangguan kesehatan mental

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    Menurut Riskesdas 2019, sebanyak 450 juta orang di dunia menderita gangguan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri terdapat 13,4% atau 14 juta orang yang menderita gangguan ini. WHO sendiri menyatakan dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2020 pada 1 Oktober menyatakan bahwa 1 milyar orang di dunia hidup dengan gangguan kejiwaan, dan 1 orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri.

    Nah, ternyata pandemi Covid-19 yang merebak sejak Maret 2020 juga membuat banyak orang mengalami gangguan jiwa akibat berbagai tekanan kehidupan, seperti kondisi ekonomi yang menjadi tidak stabil. Apalagi selama masa pandemi ini, pelayanan kesehatan mental pun terganggu sehingga cukup menghambat penyembuhan jiwa orang-orang yang terganggu mentalnya.

    Apa Saja Penyebab Gangguan Kesehatan Jiwa?

    Penyebabnya terdiri dari beberapa hal, yaitu:

    • Adanya gangguan pada fungsi sel darah di otak
    • Kelainan bawaan atau cedera di otak
    • Kekurangan nutrisi terutama nutrisi otak
    • Penyalahgunaan NAPZA dalam jangka waktu panjang
    • Mengalami peristiwa traumatik seperti kecelakaan, kekerasan, dan lain-lain

    Lalu Bagaimana Gejalanya?

    Terdapat beberapa gejala yang perlu diwaspadai, yaitu:

    • Delusi (meyakini sesuatu yang tidak nyata)
    • Halusinasi (melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang tidak nyata)
    • Mood swing(suasana hati yang mudah berubah)
    • Perasaan sedih dan cemas yang berlarut-larut (berminggu-minggu hingga berbulan-bulan)
    • Perubahan pola tidur (mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, atau sampai mengalami gangguan pernapasan saat tidur)
    • Marah berlebihan (mengamuk hingga melakukan tindak kekerasan)
    • Sering melakukan perilaku yang tidak wajar (berteriak tidak jelas dan berbicara atau tertawa tanpa sebab)

    Meski begitu, seseorang yang memiliki gejala-gejala di atas tidak bisa secara langsung mengklaim dirinya mengalami gangguan jiwa, karena sebenarnya bisa saja gejala itu muncul sementara akibat stres biasa dalam menjalani kehidupannya.

    Apakah penyakit ini ada jenis-jenisnya?

    Gangguan kesehatan jiwa sendiri terbagi menjadi beberapa jenis. Apa sajakah itu? Berikut ini adalah tipe-tipenya. 

    Gangguan kecemasan (anxiety disorder)

    Gangguan kecemasan adalah jenis gangguan jiwa yang diidap oleh seseorang saat merespons suatu objek atau situasi. Biasanya penderita akan mengalami ketakutan yang hebat disertai dengan perubahan tanda fisik seperti detak jantung yang semakin cepat, berkeringat, merasa pusing, serta sulit berkonsentrasi atau tidur. Hal lainnya adalah kecemasan saat berada di tempat umum, kepanikan dan fobia terhadap sesuatu. Penderita gangguan ini hidup dengan perasaan penuh kecemasan, ketakutan serta kekhawatiran yang berlebihan.

    Gangguan suasana hati (mood disorder)

    Gangguan suasana hati atau disebut juga dengan gangguan afektif adalah gangguan yang membuat penderitanya merasa sedih terus-menerus atau bahagia secara berlebihan. Perpindahan emosional atau fluktuasi dari perasaan bahagia menjadi sedih secara ekstrem (bipolar disorder) juga termasuk di dalamnya. Beberapa contoh gangguan lainnya seperti depresi jangka panjang, gangguan afektif musiman, perubahan suasana hati dan iritabilitas yang terjadi selama fase pramenstruasi, serta depresi karena penyakit fisik.

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma Depresi

    Gangguan psikotik (psychotic disorder)

    Gangguan psikotik termasuk gangguan jiwa yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, misalnya yang termasuk didalamnya adalah penyakit skizofrenia dan gangguan jiwa parah. Gejala yang paling umum adalah halusinasi serta delusi.

    Gangguan makan (eating disorder)

    Gangguan kesehatan jiwa lainnya adalah eating disorder. Gangguan ini termasuk penyakit serius dan sering kali fatal akibat gangguan parah pada perilaku makan seseorang. Gangguan paling umum adalah anoreksia (menganggap diri kelebihan berat badan padahal tidak), bulimia nervosa (makan dalam jumlah besar yang kemudian dikeluarkan secara paksa misalnya muntah), dan binge-eating (makan berlebihan dan sulit dihentikan). 

    Gangguan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder-OCD)

    Seseorang dengan gangguan OCD selalu memiliki pikiran atau obsesi yang konstan terhadap sesuatu sehingga mendorongnya untuk melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Salah satu contohnya adalah orang yang merasa ketakutan terhadap kuman atau debu yang membuatnya terus-menerus mencuci tangan atau anggota tubuh lainnya.

    Gangguan kontrol impuls dan kecanduan (impulse control and addition disorder-ICAD)

    Orang yang mengalami gangguan dengan tipe seperti ini biasanya tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Beberapa contohnya adalah pyromania (menyulut api hingga menyebabkan kebakaran) dan kleptomania (mencuri). Penderita ini juga biasanya kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan atau kecanduan pada aktivitas tertentu seperti seks atau belanja.

    Gangguan kepribadian (personality disorder)

    Gangguan kepribadian merupakan gangguan pada kepribadian seseorang dan membuatnya memiliki pola pikir, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dari kebanyakan orang. Gangguan ini mempunyai 10 jenis, antara lain borderline personality disorder, yaitu perubahan suasana hati yang intens, ketakutan akan ditinggalkan, perilaku impulsif dan tidak stabil. Jenis gangguan lainnya adalah antisocial personality disorder yang membuatnya seperti mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain, memanipulasi orang lain untuk kepentingan dirinya, tidak merasa bersalah atas tindakan buruk yang dilakukan, dan sebagainya.

    Baca Juga: 5 Gangguan Jiwa Paling Sering Dialami Kawula Muda

    Selain dua jenis gangguan kepribadian itu, jenis lainnya adalah:

    • Paranoid, selalu curiga dan tidak percaya pada orang lain bahkan teman, keluarga, dan pasangannya sendiri
    • Skizoid, suka menyendiri, tak ingin berhubungan sosial dan seksual, tak peduli pada orang lain, dan tak memiliki respons emosional
    • Skizotipal, takut pada interaksi sosial dan menganggap orang lain berbahaya
    • Historionik, merasa tak memiliki rasa harga diri, sering menarik perhatian, dan mendramatisasi atau memainkan peran agar didengar dan dilihat
    • Narsistik, memiliki perasaan ekstrem mengenai kepentingan sendiri, tidak memilik empati, serta siap berbohong dan mengeksploitasi orang lain demi tujuannya
    • Dependen, kurang percaya diri dan butuh bantuan dalam membuat keputusan sehari-hari dan menyerahkan keputusan hidup yang penting kepada orang lain
    • Avoidant, atau menghindar, yaitu percaya dirinya tidak kompeten, inferior, dan terus-menerus takut dipermalukan atau dikritik
    • Anankastik, teliti berlebihan pada aturan, rincian, daftar, urutan organisasi atau jadwal. Termasuk kategori perfeksionis ekstrem

    Gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder-PTSD)

    Gangguan ini dapat muncul pada seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis atau mengerikan seperti pelecehan fisik dan seksual, kematian tidak terduga dari orang yang dicintai atau bencana alam. Kenangan tidak menyenangkan tersebut tidak bisa hilang dan membuat penderitanya cenderung mati rasa secara emosional. 

    Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona, Justru Turunkan Imun Tubuh

    Gangguan Disosiatif (dissociative disorder)

    Gangguan disosiatif adalah gangguan kejiwaan parah atau perubahan dalam ingatan, kesadaran, dan identitas umum tentang diri mereka dan lingkungan penderita. Gangguan disosiatif ini biasanya dikaitkan dengan stres luar biasa yang diakibatkan oleh peristiwa traumatis yang dialami atau disaksikan oleh penderita. Contohnya, gangguan identitas kepribadian ganda.

    Bagaimanakah Cara Mengatasinya?

    Apabila melihat gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa gangguan kesehatan jiwa atau mental adalah hal-hal yang perlu diwaspadai karena bisa berdampak negatif untuk diri sendiri dan orang lain. Sayangnya, di Indonesia masalah gangguan ini sering disepelekan bahkan pengidapnya sering dianggap sebagai ‘orang gila’ atau kerap mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Bahkan, satu keluarga bisa saja memasung salah satu anggota keluarganya jika ada yang mengalami gangguan ini. Padahal, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk tetap bisa menjaga kesehatan mental supaya tidak mengalami gangguan jiwa.

    Menjalin hubungan baik dengan orang lain

    Cara pertama ini dapat meningkatkan harga diri, memberikan kesempatan berbagai pengalaman positif sampai memberikan dukungan emosional. Alih-alih menyendiri coba sesekali luangkan waktu bersama teman atau keluarga. Jika tidak memungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung, coba manfaatkan media sosial dan lain-lain.

    Katakan sesuatu yang positif pada diri sendiri

    Cara pandang dalam menilai diri sendiri sangat mempengaruhi kondisi perasaan. Ketika mempersepsikan diri dengan sudut pandang positif seseorang jadi memiliki tambahan kekuatan untuk mengerjakan sesuatu. Sebaliknya, cara pandang negatif dapat menurunkan motivasi dan harga diri sendiri.

    Aktif bergerak dan rajin olahraga

    Tubuh yang aktif bergerak tentunya berdampak baik bagi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak baik pada kesehatan jiwa dan mental. Aktif bergerak dapat meningkatkan harga diri, memotivasi diri sendiri, dan mengubah kimia di otak menjadi lebih positif. Cukup olahraga yang mudah saja dengan rutin beranjak dari tempat duduk setiap 20 menit untuk jalan kaki mengambil minum atau ke kamar mandi. Jika ingin semakin prima rutin berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari, dan lakukan di luar ruangan yang bisa membantu meredakan stres. 

    Mempelajari Keterampilan Baru

    Mempelajari keterampilan baru ternyata juga dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan terhindar dari gangguan jiwa. Saat mempelajari ilmu atau pengetahuan baru kepercayaan diri dan harga diri seseorang jadi meningkat. Selain itu, mempelajari keterampilan baru membuka peluang seseorang terhubung dengan orang lain. Untuk melakukannya bisa dengan santai dan rileks serta tidak muluk-muluk menerapkan target. Cukup temukan dan rutin jalankan.

    Membantu orang lain

    Dengan membantu orang lain, perasaan jadi lebih positif dan muncul rasa menghargai diri sendiri. Selain itu, membantu orang lain juga bisa membuat seseorang terhubung dengan orang lain untuk saling bersosialisasi.

    Membangun kesadaran dan fokus

    Membangun kesadaran dengan memperhatikan hal yang terjadi dapat mencegah emosi yang negatif. Seseorang dapat terbebas dari masa lalu atau kekhawaoram pada satu hal yang belum tentu terjadi jika fokus pada hal yang dikerjakan saat ini. Karena itu, fokuslah pada yang sedang dilakukan. Apabila pikiran sudah kemana-mana, coba tarik kembali perhatian pada rasa, bau, suara, atau sensasi fisik yang sedang dirasakan saat itu.

    Konsumsi makanan bergizi seimbang

    Menerapkan pola makan bergizi seimbang juga bagian dari cara menjaga kesehatan mental. Karbohidrat dapat meningkatkan hormon yang membangun suasana hati agar positif. Seperti karbohidrat, sayur dan buah juga dapat memberi makan sel tubuh termasuk mengontrol suasana hati lebih positif, serta protein yang juga dapat meningkatkan zat kimia di otak yang membantu tubuh tetap waspada. Pastikan juga tubuh mendapatkan pasokan lemak sehat seperti dari ikan dan kacang-kacangan. 

    Produk Terkait: Jual Makanan dan Minuman Sehat

    Rehat

    Rehat menjadi cara alternatif untuk dapat menjaga kesehatan jiwa jika segala sesuatunya mulai terasa membebani pikiran. Cobalah beristirahat dengan melakukan latihan pernapasan sederhana. Pejamkan mata dan tarik napas dalam-dalam selama 10 kali. Saat mengambil, menahan, dan mengeluarkan napas, masing-masing lakukan dalam empat hitungan.

    Tidur yang Cukup

    Tidur yang cukup rupanya juga mampu menjaga kesehatan mental dengan baik sebab jika kurang tidur bisa berdampak negatif.  Karena itu, pastikan untuk tidur yang cukup selama 6-8 jam setiap hari. Bangun kebiasaan baik dengan tidur secara teratur di jam yang sama setiap hari. Jika susah tidur, coba segera cari solusinya.

    Baca Juga: Duh, Sering Susah Tidur di Malam Hari Nih!

    Cari Bantuan Medis

    Kalau Sobat sudah kewalahan terhadap permasalahan kesehatan jiwa, segera konsultasikan dengan tenaga medis profesional. Apalagi jika sobat merasakan suasana hati yang tak kunjung membaik sampai menganggu kehidupan sehari-hari. Ahli nantinya akan memberikan saran paling pas, baik itu lewat terapi atau obat-obatan.

    Itulah mengenai gangguan kesehatan jiwa yang ternyata bukanlah permasalahan yang harus dianggap sepele sehingga harus segera ditangani karena akan berdampak sangat negatif pada diri sendiri dan orang lain yang tentu saja harus dihindari. Apabila Sobat memerlukan informasi dan penanganan lebih lanjut beserta produk-produk yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Hari Kesehatan Mental Dunia 2020: Dampak Pandemi & Hasil Survei WHO – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://tirto.id/hari-kesehatan-mental-dunia-2020-dampak-pandemi-hasil-survei-who-f5Ne
    2. [Internet]. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/20031100001/situasi-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
    3. [Internet]. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://www.tokopedia.com/blog/penyakit-gangguan-jiwa-penyebab-gejala-cara-mengobati/
    4. Alfari S. 9 Macam Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana? [Internet]. Blog.ruangguru.com. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://blog.ruangguru.com/9-macam-gangguan-mental-joker-termasuk-yang-mana
    5. [Internet]. Beritagar.id. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/apa-itu-gangguan-kepribadian
    6. Media K. 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/10/11/090100068/10-cara-menjaga-kesehatan-mental?
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja