Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ gangguan jiwa”

  • Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda. Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab […]

    3 Jenis Eat Disorder Yang Paling Berbahaya Beserta Gejalanya

    Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda.

    jenis eat disorder

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Gangguan makan akan memperparah kondisi tubuh dan menyebakan konsekuensi kesehatan yang lebih serius, hingga berujung kematian. Beberapa gejala yang paling umum ditimbulkan dari gangguan makan, yaitu:

    • Pembatasan konsumsi makanan secara berlebihan
    • Makan berlebihan dengan durasi yang cepat, bahkan ketika sedang tidak lapar
    • Sengaja memuntahkan makan
    • Melakukan olahraga secara berlebihan

    Gejala Eat Disorder Berdasakan Jenisnya

    Gejala yang dialami penderita eat disorder dapat bermacam-macam, tergantung dari jenis gangguannya. Gejala pada gangguan makan yang berlebihan biasanya berupa:

    1. Anoreksia Nervosa

    Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang paling terkenal. Penderita anoreksia nervosa memiliki ganguan pada pola makan yang dipicu oleh keinginan seseoang untuk memiliki bentuk tubuh yang jauh dibawah normal atau sangat kurus. Mereka juga tidak pernah merasa puas dengan kondisi bentuk tubuh yang dimilikinya.

    Kondisi ini umumnya terjadi pada masa remaja dan kemungkinan lebih banyak mempengarui wanita dibanding pria. Penderita anoreksia biasanya akan menganggap dirinya memiliki berat badan berlebih dari berat badan normal, padahal sebenarnya mereka sangat kurus.

    Baca Juga: Apa Itu Anoreksia Nervosa? Yuk, Sahabat Kenali Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganannya

    Mereka akan terus-menerus  memantau berat badan mereka, menghindari konsumsi jenis makanan tertentu, dan memperketat asupan kalori.

    Angka penderita anoreksia pada umumnya dikalangan wanita yang berusia 11 hingga 5 tahun berkisar dari 0 sampai 2,2% dan sekitar 0,3% diderita oleh pria. Kasus anoreksia nervosa berkisar antara 109 sampai 270/100.000 orang pertahun dengan angka kematian yang bervariasi berdasarkan populasi yang dipertimbangkan.

    Gejala umum yang dialami oleh penderita anoreksia nervosa, di antaranya:

    • Pola makan yang minim
    • Tubuh menjadi sangat kurus dibandingkan dengan orang normal dengan usia dan tinggi yang sama.
    • Sangat ketakutan dengan kenaikan berat badan
    • Enggan untuk mempertahankan berat badan ideal yang sehat karena merasa harga diri nya bergantung pada berat badan dan bentuk tubuh yang dimiliki.
    • Citra tubuh yang telah terdistorsi

    Gejala lain seperti obsesif-kompulsif juga sering muncul. Misalnya pada penderita anoreksia yang disibukan dengan pola pikir tentang makanan secara terus-menerus, dan beberapa diantaranya kemungkinan mengumpulkan resep atau menimbun makanan secara obsesif.

    Penderita anoreksia dengan gejala seperti yang disebutkan diatas apabila dibiarkan terus-menerus dapat memicu kerusakan pada tubuh seiring berjalannya waktu, seperti:

    • Otot melemah
    • Kemandulan
    • Rapuhnya rambut dan kuku
    • Tumbuh lapisan rambut diseluruh tubuh
    • Suhu tubuh rendah sehingga sering merasa kedinginan
    • Siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami haid
    • Darah rendah
    • Anemia
    • Tulang menjadi keropos
    • Tidak berfungsinya beberapa organ
    • Gagal ginjal
    • Kerusakan otak
    • kematian

    Penderita anoreksia akan berada pada kondisi kelaparan yang berkepanjangan. Hal ini tentunya memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan yang kompleks dan sangat berbahaya bagi tubuh.

    2. Bulimia Nervosa

    Bulimia nervosa merupakan bentuk gangguan mental yang mempengaruhi pola makan sehingga penderitanya akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan kebanyakan dari mereka kesulitan dalam mengontrol porsi makannya, yang kemudian akan dimuntahkan kembali dengan sengaja.

    Mereka akan menggunakan berbagai cara memuntahkan makanan tersebut, bahkan dengan menggunakan obat-obatan seperti obat pencahar dan sejenisnya.

    Bulimia nervosa dapat menyerang perempuan 9 kali lebih sering dibanding laki-laki. Sekitar satu sampai tiga persen wanita akan mengalami bulimia dalam hidupnya. Kasus terbaru terjadi pada sekitar 12 per 100.000 penduduk per tahun dengan rasio kematian standar pada bulimia adalah 1% hingga 3%.

    Penderita bulimia juga melakukan olahraga ketat untuk membakar kalori dalam makanan yang telah dikonsumsinya.

    Mereka sangat terobsesi pada berat badan yang stabil pada jumlah angka tertentu. Namun, berlainan dengan perilaku tersebut mereka akan merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena telah mengonsumsi banyak makanan.

    Baca Juga: Inilah 10 tips Langsing Alami, Mudah Kok!

    Sebab, mereka tidak ingin berat badannya bertambah sehingga ia akan memuntahkan makanan yang telah dimakan tersebut.

    Karena perilaku tersebut, penderita bulimia nervosa akan mengalami gejala yang tampak mirip dengan subtipe pesta atau pembersihan anoreksia nervosa.

    Namun, penderita bulia pada umumnya hanya akan mempertahankan berat badan idealnya yang cenderung normal, bukan untuk mendapatkan berat badan dengan angka paling kecil.

    Gejala umum pada bulimia nervosa, di antaranya:

    • Memiliki porsi makan berlebih yang berulang dan tidak dapat terkontrol
    • Memiliki kebiasaan untuk mengeluarkan atau memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan untuk mencegah naiknya berat badan
    • Bentuk tubuh dan berat badan sangat berpengaruh pada harga diri
    • Ketakutan yang ekstrim pada pertambahan berat badan, meski berat badan yang dimiliki sudah normal

    Dengan gejala seperti yang telah disebutkan, penderita bulimia nervosa akan memiliki efek samping yang akan dirasakan oleh tubuh, seperti:

    • Perdangan dan sakit tenggorokan
    • Bengkak pada kelenjar ludah
    • Lapisan email gigi terkikis
    • Kerusakan pada gigi
    • Refluks asam
    • Iritasi pada usus
    • Dehidrasi akut
    • Gangguan hormonal

    Pada kasus yang lebih parah, penderita bulimia juga dapat memicu ketidakseimbangan pada kadar elektrolit, seperti natrium, kalsium, dan kalium. Bahkan dapat menyebabkan serangan jantung hingga stroke.

    3. Binge Eating Disorder

    Binge eating disorder (BED) atau gangguan makan berlebih merupakan gangguan pada pola makan, yaitu si penderita akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan tidak terkontrol.

    Berbeda dengan dua jenis gangguan makan sebelumnya, penderita binge eating justru tidak mempedulikan ukuran badan dan berat badannya. Malah, kebanyakan dari mereka juga menderita kelebihan berat badan yang ekstrim atau obesitas.

    Berdasarkan survei, BED sangat mempengaruhi sekitar 1-2% di beberapa fase dalam kehidupan mereka. BED juga cenderung lebih sering terjadi pada wanita dari pada pria.

    Penderita BED akan memiliki durasi makan dalam waktu yang sangat cepat denga porsi yang besar, mereka tidak akan berhenti jika belum merasa sangat kenyang.

    Mereka juga akan mengonsumsi makanan dalam porsi yang besar meskipun sedang tidak merasa lapar dan akan merasa depresi setelah melakukan hal tersebut. Pada umumnya penderita binge eating ini dipicu oleh rasa stress akibat penderitaan yang mereka alami.

    Baca Juga: 4 Jenis Makanan Agar Rasa Kenyang Lebih Lama

    Penderita binge eating tidak akan membatasi jumlah kalori yang masuk dan juga tidak memiliki perilaku seperti memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan ataupun olahraga berlebihan, untuk menyeimbangkan berat badan yang diinginkan.

    Gejala umumnya yang dialami oleh penderita gangguan makan berlebih ini meliputi:

    • mengonsumsi makanan dalam porsi besar dengan waktu yang cepat hingga kekenyangan, meskupun tidak sedang lapar
    • tidak dapat mengontrol selama episode pesta makan
    • merasa tertekan, jijik, dan sangat bersalah atas perilaku makannya yang berlebihan
    • tidak melakukan perilaku membersihkan, seperti membatasi kalori, memuntahkan makanan, olahraga berlebih atau menggunakan obat pencar untuk mengurangi berat badan

    Penderita gangguan makan berlebihan seeperti itu akan sering mengalami kelebihan berat badan atau obesitas sehingga dapat meningkatkan risiko adanya komplikasi medis yang berkaitan dengan kelebihan berat badan, sperti stoke, penyakit jantung, maupun diabetes tipe 2.

    Gangguan makan seperti yang telah dijelaskan di atas, pada dasarnya dipicu oleh adanya kelainan pada kesehatan mental yang tidak wajar. Apabila sahabat sehat merasa mengalami salah satu gangguan makan tersebut, segeralah untuk berkonsultasi ke psikiater, karena kondisi gangguan makan tersebut akan sangat sulit apabila tanpa bantuan dokter.

    Namun sayangnya, orang yang memiliki gejala gangguan makan sering kali menganggap remeh dan merasa tidak memerlukan bantuan. Jika sahabat merasa sangat khawatir deng perilaku yang janggal tersebut sahabat dapat membujuk mereka agar mau berkonsultasi dengan psikiater.

    Baca Juga: Inilah Gejala Kesehatan Mental yang Sering Sahabat Anggap Remeh!

    Apabila penderita gangguan makan ini merasa enggan untuk berpergian keluar rumah, sahabat cukup arahkan si penderita untuk langsung berkonsultasi secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.  Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. 2021. Learn about 6 common types of eating disorders and their symptoms.. [online] Available at: <https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders#anorexia> [Accessed 23 March 2021].
    2. wikipedia.org. 2021. Eating disorder – Wikipedia. [online] Available at: <https://en.wikipedia.org/wiki/Eating_disorder#Anorexia> [Accessed 23 March 2021].
    3. or.id. 2021. APAKAH ANDA MENGALAMI EATING DISORDER? | Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia. [online] Available at: <https://apki.or.id/apakah-anda-mengalami-eating-disorder/> [Accessed 23 March 2021].
    4. National Eating Disorders Association. 2021. Warning Signs and Symptoms. [online] Available at: <https://www.nationaleatingdisorders.org/warning-signs-and-symptoms> [Accessed 23 March 2021].
    Read More
  • Kesehatan mental adalah gangguan yang sangat serius. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa 7 dari 1.000 rumah tangga terdapat anggota yang memiliki gangguan kesehatan psikis, lebih dari 19 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun mengalami depresi. Baca Juga: […]

    Rendahnya Penanganan Kesehatan Jiwa di Indonesia

    Kesehatan mental adalah gangguan yang sangat serius. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa 7 dari 1.000 rumah tangga terdapat anggota yang memiliki gangguan kesehatan psikis, lebih dari 19 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun mengalami depresi.

    penanganan kesehatan jiwa, penanganan kesehatan mental

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma dan Depresi

    Melihat kondisi tersebut, pemerintah sebaiknya cepat tanggap tangani masalah penanganan kesehatan jiwa di Indonesia yang semakin meningkat,. Apalagi dengan kondisi negara yang sedang dilanda wabah penyakit virus Covid-19, kemungkinan besar banyak sekali yang mengalami gangguan kesehatan jiwa, dikarenakan beberapa faktor, yaitu:

    • Krisis ekonomi
    • Kehilangan pekerjaan
    • Disabilitas ketidakmampuan untuk bekerja
    • Gangguan kecemasan
    • Pandemi Covid-19

    Indonesia menempati urutan ke-7 dalam kategori depresi. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas menyatakan bahwa pihaknya akan menargetkan mengenai cekatan dalam menanggapi masalah gangguan kesehatan jiwa di Indonesia.

    Pada pembangunan program kerja selanjutnya, pemerintah akan meningkatkan program kerja dan salah satu targetnya adalah di tahun 2020 penduduk Indonesia harus mengurangi angka kematian akibat penyakit tidak menular dan mengutamakan peningkatan kesehatan jiwa penduduk Indonesia.

    Bappenas melakukan beberapa strategi seperti mendeteksi gangguan kejiwaan, secara rutinitas memberikan informasi mengenai gangguan kejiwaan. Setelah itu, jika menemukan pasien yang berkasus, segera untuk mengeksekusi pasien dan mengikuti prosedur dalam perawatan atau pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien tersebut.

    Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    Pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia memiliki berbagai tingkat, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Di tingkat primer pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di Puskesmas. Di tingkat sekunder pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di rumah sakit umum (RSU).

    Di tingkat tersier pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan di rumah sakit jiwa (RSJ) atau bisa di rumah sakit umum (RSU) yang benar-benar memiliki dokter spesialis jiwa konsultan jiwa (SpKJ) atau dokter spesialis jiwa konsultan yang berada di kota umum dan memiliki pusat pendidikan khusus dokter spesialis kedokteran jiwa di Indonesia.

    Upaya Pelayanan Kesehatan Jiwa Tingkat Sekunder di RSU (Rumah Sakit Umum)

    Tidak seluruh RSU mempunyai poliklinik jiwa. Artinya, tidak semua RSU memiliki dokter spesialis jiwa konsultan jiwa yang juga merupakan dokter tetap di RSU tersebut.

    Sedangkan untuk perawatan dalam pengobatan di RSU, tidak selalu mempunyai rawat inap untuk pasien tersebut. Jadi, apabila ada RSU yang mempunyai rawat inap untuk pasien sakit jiwa ialah hanya pasien yang benar-benar kondisinya akut atau gawat darurat.

    Sehingga, pelayanan kesehatan jiwa di Rumah Sakit Umum (RSU) dalam kategori sekunder, belum memenuhi perawatan terbaik atau belum maksimal.

    Upaya Pelayanan Kesehatan Jiwa Tingkat Premier di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)

    Upaya pemerintah dalam penanganan melalui pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas berbeda, bahkan data Rifaskes 2011 menyatakan bahwa Puskesmas di Indonesia mempunyai program kesehatan jiwa sebesar 64% di seluruh Indonesia.

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbeban Kapan Corona Berakhir

    Namun, dengan kategori yang berbeda-beda yaitu terlaksana atau tidaknya program pelayanan kesehatan jiwa, nyatanya direktorat kesehatan menyatakkan bahwa hanya 21,4% yang melaksanakan pelayanan kesehatan jiwa yang di puskesmas Indonesia.

    Upaya Sumber Daya Manusia dan Pembiayaan Kesehatan Jiwa

    Data mengenai fasilitas dan sumber daya manusia dalam penanganan kesehatan jiwa bisa dikatakan hampir fasilitas seluruhnya belum tersedia di RSJ dan sebagian kecil sekali di RSU, yang tersedia hanya tempat tidur.

    Itu pun dengan presentase yang sangat kecil. Fasilitas pelayanan lain misalnya rumah singgahan, rumah perawatan dikomunitas, day care treatment, dan sebagainya belum ada di Indonesia.

    Sedangkan mengenai data biaya kesehatan jiwa, menurut ASEAN, Indonesia adalah negara paling rendah pengeluarannya untuk penanganan kesehatan jiwa, dan belum ada data pasti dari pemerintah. Akan tetapi, jumlah presentase untuk pengeluaran kesehatan jiwa dari Kementerian Kesehatan sebanyak 2,89% dari total anggaran kesehatan.

    Akses terhadap obat esensial

    Dalam penanganan akses obat esensial terhadap pasien gangguan kesehatan mental jiwa, Indonesia termasuk kategori yang cukup memadai dalam obat-obatan tersebut, daftar obat-obatan tersebut mengacu pada buku Formularium Nasional (FORNAS) dan Esensial Nasional (DOEN) tahun 2015 dan 2017.

    Indonesia memiliki UU (Undang-Undang) kesehatan jiwa yang khusus dan terpisah dari UU (Undang-Undang) di bidang kesehatan, yaitu Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014 yang isinya hal-hal penting mengenai hak-hak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), kewajiban pemerintah dan masyarakat, fasilitas pelayanan khusus kesehatan jiwa dan anggaran kesehatan jiwa.

    Namun, sampai saat ini banyak hal-hal yang perlu ditingkatkan dan dimaksimalkan kembali untuk pelayanan kesehatan jiwa, karena beberapa hal masih belum dieksekusi dan terlaksana sesuai dengan amanat UU Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014, yaitu mengatur fasilitas non kesehatan yang sedang dalam perawatan/pengobatan pasien gangguan jiwa.

    Baca Juga: Mengenai Kesehatan Mental di Indonesia

    Misalnya, rehabilitas pasien gangguan jiwa masih belum jelas bentuk dan kriterianya, hal lainnya adalah mendorong promotif dan preventif ditingkat keluarga.

    Jadi, kondisi pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat kecil presentasenya, belum memenuhi kebutuhan akses layanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.

    Jumlah psikiater di Indonesia masih sangat jauh tertinggal sekali dengan negara-negara lainnya, bahkan upaya penanganan kesehatan jiwa di Puskesmas saja, masih banyak yang merangkap tugasnya.

    Akses terhadap pelayanan kesehatan jiwa, fasilitas untuk pelayanannya, sumber daya manusia yang akan merawat pasien gangguan kesehatan jiwa secara intensif dan legalisasi pembiayaan khusus untuk kesehatan jiwa terus dan harus dapat ditingkatkan lagi.

    Itulah mengenai rendahnya penanganan kesehatan jiwa di Indonesia. Padahal, kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan dampaknya cukup besar bagi diri sendiri dan orang lain.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penanganan kesehatan jiwa dan produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Indonesia C. Penanganan Kesehatan Mental RI Diklaim Masih Terbatas [Internet]. gaya hidup. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201019042144-255-559867/penanganan-kesehatan-mental-ri-diklaim-masih-terbatas
    2. https://www.jpnn.com/news/bappenas-penanganan-kesehatan-mental-di-indonesia-masih-terbatas?page=2
    3. [Internet]. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.researchgate.net/publication/331595372_Sistem_Kesehatan_Jiwa_di_Indonesia_Tantangan_untuk_Memenuhi_Kebutuhan
    Read More
  • Seseorang yang bisa memiliki keadaan sehat jiwanya adalah seseorang yang mampu menempatkan dan memberikan porsi atau potensi terbaik di dalam hidupnya, beradaptasi baik dengan kehidupannya, mampu memberikan peran terbaik dalam lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau tempat kerja, masyarakat, komunitas dan lain hal yang menyangkut sosialisasi di kehidupan. Bicara soal kesehatan mental, psikiater dan psikososial dari RS Siloam […]

    Penyebab Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Seseorang yang bisa memiliki keadaan sehat jiwanya adalah seseorang yang mampu menempatkan dan memberikan porsi atau potensi terbaik di dalam hidupnya, beradaptasi baik dengan kehidupannya, mampu memberikan peran terbaik dalam lingkungan sekolah, kampus, pekerjaan atau tempat kerja, masyarakat, komunitas dan lain hal yang menyangkut sosialisasi di kehidupan. Bicara soal kesehatan mental, psikiater dan psikososial dari RS Siloam Bogor mengatakan bahwa gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, tidak memandang latar belakang ekonomi, pendidikan, jabatan, atau status sosialnya. Gangguan jiwa juga bisa menyerang dalam jangka waktu yang cepat maupun lambat.

    Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

     

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Perasaan tidak nyaman akan satu waktu dalam kehidupan adalah hal yang wajar, namun akan dikategorikan dalam hal yang tidak wajar sehingga dibutuhkan penanganan invertensi dan pertolongan lebih lanjut apabila seseorang mengalami merasakannya dalam satu waktu dan berlangsung terus-menerus.

    Adanya gangguan mental ini dapat memicu perubahan keseimbangan dan kestabilan zat kimia yang ada di otak (neurotransmiter) yang menyebabkan seseorang mengalami perubahan sikap, perubahan pola pikir, perasaan, dan perilaku. Terdapat beberapa penyebab seseorang menderita gangguan mental kesehatan, yaitu:

    1. Faktor genetik

    Sebuah penelitian yang dilakukan dari Amerika Serikat, menemukan adanya variasi genetik pada 33.000 pasien yang didiagnosis mengalami skizofrenia, autis, gangguan bipolar, ADHD, dan depresi. Penelitian tersebut menemukan adanya variasi pada gen CACNA1C dan CACNAB2 yang mempengaruhi memori, cara berpikir, perhatian, dan emosi. Orangtua ke anak menurunkan gen sebesar 10%, dari keponakan atau cucu sebesar 2-4%, sedangkan saudara kembar 48%.

    2. Penggunaan narkoba/alkohol

    Penggunaan alkohol dan obat-obatan serta narkoba seperti ganja (cannabis), synthe, shabu-shabu, ekstasi, obat penenang, dan heroin (putaw) sangat mempengaruhi pola pikir, perasaan, dan emosional yang akan dilakukan di luar batas. Selain itu, penderita akan membahayakan dan melukai diri sendiri ataupun orang lain diluar kesadarannya. Pada pengguna narkoba/alkohol yang sudah mengalami kecanduan memiliki risiko efek samping yang lebih berbahaya karena sekalipun sedang tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang tersebut, mereka akan mengalami gangguan sistem saraf yang bekerja di luar normal dan mungkin juga akan mengalami sakau.

    3. Ibu hamil

    Pada ibu hamil, jika mengalami gangguan mental maka kondisi ini akan berpengaruh besar pada perkembangan saraf otak janin yang dikandungnya. Selain itu, jika ibu mengalami gangguan kondisi kejiwaan, seperti depresi atau gelisah saat hamil, risiko kelahiran prematur juga bisa meningkat. Itulah mengapa seringkali kita mendengar bahwa ibu hamil tidak boleh terlalu banyak fikiran yang mengakibatkan stress.

    4. Riwayat trauma

    Kejadian traumatis bisa disebabkan oleh banyak hal, biasanya yang menyangkut dalam kehidupan sehari-hari namun tanpa disadari seperti pelecehan seksual ataupun pengalaman hidup yang pahit, misalnya patah hati terus menerus, mendapatkan olokan atau dikucilkan terus-menerus oleh lingkungan sekitar, kesedihan yang mendalam, kemarahan yang terpendam, tujuan yang tidak tercapai, dan adanya masalah yang sulit diselesaikan.

    Baca Juga: Rangkuman Webinar Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    5. Riwayat gangguan mental

    Jika sebelumnya seseorang pernah mengalami gangguan mental jenis apapun, akan ada kemungkinan mereka akan mengalami gangguan mental lagi, walaupun sudah dikatakan pulih. Untuk menjaga kepulihannya dan tetap jadi produktif, penderita harus tetap menjaga pola pikir yang tidak terlalu berat, perbanyak hiburan dan tetap harus konsultasi dengan psikiater sebelumnya, agar selalu mendapatkan arahan.

    6. Putus obat

    Biasanya seseorang yang mengalami gangguan jiwa akan terus mengkonsumsi obat seumur hidupnya untuk tetap mengkontrol aktifitas dalam kehidupannya agar selalu normal. Sebagian orang yang mengalami gangguan jiwa akan lelah dalam mengonsumsi obat terus-menerus tanpa henti dan membuat keputusan untuk berhenti minum. Jika benar sampai putus obat seperti itu, maka penderita tersebut akan rentan mengalami gangguan jiwa lagi.

    7. Konflik dengan keluarga atau teman

    Beberapa konflik yang besar dengan keluarga atau teman bisa jadi pemicu untuk mengalami gangguan jiwa, apalagi jika memiliki perasaan bersalah, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, dan tidak mau menerima pendapat orang lain, biasanya tingkat emosional seseorang akan meningkat. Konflik dengan keluarga yang dimaksud bisa berupa pertengkaran soal harta dan warisan, sedangkan masalah dengan teman bisa jadi karena hubungan atau cinta segitiga dengan pasangan yang bisa membuat penyebab gangguan kesehatan mental terjadi.

    8. Beban yang terlalu berat

    Beban hidup yang terlalu berat pada umumnya berhubungan dengan masalah ekonomi. Sebagian orang dewasa yang memiliki masalah tersebut bisa saja memutuskan untuk pisah rumah dengan orangtua atau menghidupi dirinya sendiri, baik dari biaya kuliah, sandang, pangan, maupun papan. Belum lagi pada anak yang harus menanggung beban orangtua atau harus melunasi hutang piutang, cicilan, biaya sekolah adiknya, maka beratnya beban yang harus ditanggung akan mempengaruhi kesehatan mental seseorang selama proses hidupnya menjadi dewasa.

    Baca Juga: 14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak

    Nah, dengan demikian Sahabat perlu mewaspadai penyebab dan gejala gangguan mental sehingga dapat mendeteksinya lebih awal dan ditangani dengan cepat. Karena pada orang dengan gangguan mental yang ditangani lebih cepat akan lebih mudah diterapi dan mereka akan segera pulih dan bisa kembali melakukan kegiatan normal dengan produktif.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penyebab gangguan kesehatan mental dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Mengenal gejala dan penyebab gangguan jiwa[Internet]. Pustaka.unpad.ac.id. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/04/12-Mengenal-gejala-dan-penyebab-gangguan.pdf
    2. Anggraini AP. Memahami Tanda Gangguan Kesehatan Mental dan Cara Menanganinya Halaman [Internet]. Kompas.com. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://health.kompas.com/read/2020/10/17/181500668/memahami-tanda-gangguan-kesehatan-mental-dan-cara-menanganinya?page=all
    3. Virdhani MH. Ketahui 7 Penyebab Seseorang Bisa Alami Gangguan Mental [Internet]. JawaPos.com. 2021 [diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://www.jawapos.com/kesehatan/11/10/2020/ketahui-7-penyebab-seseorang-bisa-alami-gangguan-mental/
    4. Family Health Service. Kesehatan Mental Prapersalinan [Internet]. Fhs.gov.hk. 2021 [Diakses pada 11 Februari 2021]. Tersedia di: https://www.fhs.gov.hk/english/other_languages/bahasa_indonesia/women_health/postnatal_care/30098.html
    Read More
  • Sobat Sehat pasti sudah sering mendengar tentang istilah gangguan kesehatan jiwa. Tetapi apakah Sobat sudah mengetahui secara persis apa arti dari istilah tersebut? Jadi, gangguan kesehatan jiwa atau gangguan mental didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang. Gangguan ini bisa terjadi karena dua faktor utama, yakni faktor biologis dan […]

    Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Sobat Sehat pasti sudah sering mendengar tentang istilah gangguan kesehatan jiwa. Tetapi apakah Sobat sudah mengetahui secara persis apa arti dari istilah tersebut? Jadi, gangguan kesehatan jiwa atau gangguan mental didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat mempengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang. Gangguan ini bisa terjadi karena dua faktor utama, yakni faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis umumnya berupa kelainan genetik maupun kelainan yang terjadi pada bagian otak tertentu. Sedangkan faktor psikologis berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang mengguncang psikologis penderita.

    gangguan kesehatan jiwa, gangguan kesehatan mental

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    Menurut Riskesdas 2019, sebanyak 450 juta orang di dunia menderita gangguan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri terdapat 13,4% atau 14 juta orang yang menderita gangguan ini. WHO sendiri menyatakan dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2020 pada 1 Oktober menyatakan bahwa 1 milyar orang di dunia hidup dengan gangguan kejiwaan, dan 1 orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri.

    Nah, ternyata pandemi Covid-19 yang merebak sejak Maret 2020 juga membuat banyak orang mengalami gangguan jiwa akibat berbagai tekanan kehidupan, seperti kondisi ekonomi yang menjadi tidak stabil. Apalagi selama masa pandemi ini, pelayanan kesehatan mental pun terganggu sehingga cukup menghambat penyembuhan jiwa orang-orang yang terganggu mentalnya.

    Apa Saja Penyebab Gangguan Kesehatan Jiwa?

    Penyebabnya terdiri dari beberapa hal, yaitu:

    • Adanya gangguan pada fungsi sel darah di otak
    • Kelainan bawaan atau cedera di otak
    • Kekurangan nutrisi terutama nutrisi otak
    • Penyalahgunaan NAPZA dalam jangka waktu panjang
    • Mengalami peristiwa traumatik seperti kecelakaan, kekerasan, dan lain-lain

    Lalu Bagaimana Gejalanya?

    Terdapat beberapa gejala yang perlu diwaspadai, yaitu:

    • Delusi (meyakini sesuatu yang tidak nyata)
    • Halusinasi (melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu yang tidak nyata)
    • Mood swing(suasana hati yang mudah berubah)
    • Perasaan sedih dan cemas yang berlarut-larut (berminggu-minggu hingga berbulan-bulan)
    • Perubahan pola tidur (mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, atau sampai mengalami gangguan pernapasan saat tidur)
    • Marah berlebihan (mengamuk hingga melakukan tindak kekerasan)
    • Sering melakukan perilaku yang tidak wajar (berteriak tidak jelas dan berbicara atau tertawa tanpa sebab)

    Meski begitu, seseorang yang memiliki gejala-gejala di atas tidak bisa secara langsung mengklaim dirinya mengalami gangguan jiwa, karena sebenarnya bisa saja gejala itu muncul sementara akibat stres biasa dalam menjalani kehidupannya.

    Apakah penyakit ini ada jenis-jenisnya?

    Gangguan kesehatan jiwa sendiri terbagi menjadi beberapa jenis. Apa sajakah itu? Berikut ini adalah tipe-tipenya. 

    Gangguan kecemasan (anxiety disorder)

    Gangguan kecemasan adalah jenis gangguan jiwa yang diidap oleh seseorang saat merespons suatu objek atau situasi. Biasanya penderita akan mengalami ketakutan yang hebat disertai dengan perubahan tanda fisik seperti detak jantung yang semakin cepat, berkeringat, merasa pusing, serta sulit berkonsentrasi atau tidur. Hal lainnya adalah kecemasan saat berada di tempat umum, kepanikan dan fobia terhadap sesuatu. Penderita gangguan ini hidup dengan perasaan penuh kecemasan, ketakutan serta kekhawatiran yang berlebihan.

    Gangguan suasana hati (mood disorder)

    Gangguan suasana hati atau disebut juga dengan gangguan afektif adalah gangguan yang membuat penderitanya merasa sedih terus-menerus atau bahagia secara berlebihan. Perpindahan emosional atau fluktuasi dari perasaan bahagia menjadi sedih secara ekstrem (bipolar disorder) juga termasuk di dalamnya. Beberapa contoh gangguan lainnya seperti depresi jangka panjang, gangguan afektif musiman, perubahan suasana hati dan iritabilitas yang terjadi selama fase pramenstruasi, serta depresi karena penyakit fisik.

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma Depresi

    Gangguan psikotik (psychotic disorder)

    Gangguan psikotik termasuk gangguan jiwa yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, misalnya yang termasuk didalamnya adalah penyakit skizofrenia dan gangguan jiwa parah. Gejala yang paling umum adalah halusinasi serta delusi.

    Gangguan makan (eating disorder)

    Gangguan kesehatan jiwa lainnya adalah eating disorder. Gangguan ini termasuk penyakit serius dan sering kali fatal akibat gangguan parah pada perilaku makan seseorang. Gangguan paling umum adalah anoreksia (menganggap diri kelebihan berat badan padahal tidak), bulimia nervosa (makan dalam jumlah besar yang kemudian dikeluarkan secara paksa misalnya muntah), dan binge-eating (makan berlebihan dan sulit dihentikan). 

    Gangguan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder-OCD)

    Seseorang dengan gangguan OCD selalu memiliki pikiran atau obsesi yang konstan terhadap sesuatu sehingga mendorongnya untuk melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Salah satu contohnya adalah orang yang merasa ketakutan terhadap kuman atau debu yang membuatnya terus-menerus mencuci tangan atau anggota tubuh lainnya.

    Gangguan kontrol impuls dan kecanduan (impulse control and addition disorder-ICAD)

    Orang yang mengalami gangguan dengan tipe seperti ini biasanya tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain. Beberapa contohnya adalah pyromania (menyulut api hingga menyebabkan kebakaran) dan kleptomania (mencuri). Penderita ini juga biasanya kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan atau kecanduan pada aktivitas tertentu seperti seks atau belanja.

    Gangguan kepribadian (personality disorder)

    Gangguan kepribadian merupakan gangguan pada kepribadian seseorang dan membuatnya memiliki pola pikir, perasaan, atau perilaku yang sangat berbeda dari kebanyakan orang. Gangguan ini mempunyai 10 jenis, antara lain borderline personality disorder, yaitu perubahan suasana hati yang intens, ketakutan akan ditinggalkan, perilaku impulsif dan tidak stabil. Jenis gangguan lainnya adalah antisocial personality disorder yang membuatnya seperti mengabaikan perasaan atau kebutuhan orang lain, memanipulasi orang lain untuk kepentingan dirinya, tidak merasa bersalah atas tindakan buruk yang dilakukan, dan sebagainya.

    Baca Juga: 5 Gangguan Jiwa Paling Sering Dialami Kawula Muda

    Selain dua jenis gangguan kepribadian itu, jenis lainnya adalah:

    • Paranoid, selalu curiga dan tidak percaya pada orang lain bahkan teman, keluarga, dan pasangannya sendiri
    • Skizoid, suka menyendiri, tak ingin berhubungan sosial dan seksual, tak peduli pada orang lain, dan tak memiliki respons emosional
    • Skizotipal, takut pada interaksi sosial dan menganggap orang lain berbahaya
    • Historionik, merasa tak memiliki rasa harga diri, sering menarik perhatian, dan mendramatisasi atau memainkan peran agar didengar dan dilihat
    • Narsistik, memiliki perasaan ekstrem mengenai kepentingan sendiri, tidak memilik empati, serta siap berbohong dan mengeksploitasi orang lain demi tujuannya
    • Dependen, kurang percaya diri dan butuh bantuan dalam membuat keputusan sehari-hari dan menyerahkan keputusan hidup yang penting kepada orang lain
    • Avoidant, atau menghindar, yaitu percaya dirinya tidak kompeten, inferior, dan terus-menerus takut dipermalukan atau dikritik
    • Anankastik, teliti berlebihan pada aturan, rincian, daftar, urutan organisasi atau jadwal. Termasuk kategori perfeksionis ekstrem

    Gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder-PTSD)

    Gangguan ini dapat muncul pada seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis atau mengerikan seperti pelecehan fisik dan seksual, kematian tidak terduga dari orang yang dicintai atau bencana alam. Kenangan tidak menyenangkan tersebut tidak bisa hilang dan membuat penderitanya cenderung mati rasa secara emosional. 

    Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona, Justru Turunkan Imun Tubuh

    Gangguan Disosiatif (dissociative disorder)

    Gangguan disosiatif adalah gangguan kejiwaan parah atau perubahan dalam ingatan, kesadaran, dan identitas umum tentang diri mereka dan lingkungan penderita. Gangguan disosiatif ini biasanya dikaitkan dengan stres luar biasa yang diakibatkan oleh peristiwa traumatis yang dialami atau disaksikan oleh penderita. Contohnya, gangguan identitas kepribadian ganda.

    Bagaimanakah Cara Mengatasinya?

    Apabila melihat gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa gangguan kesehatan jiwa atau mental adalah hal-hal yang perlu diwaspadai karena bisa berdampak negatif untuk diri sendiri dan orang lain. Sayangnya, di Indonesia masalah gangguan ini sering disepelekan bahkan pengidapnya sering dianggap sebagai ‘orang gila’ atau kerap mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Bahkan, satu keluarga bisa saja memasung salah satu anggota keluarganya jika ada yang mengalami gangguan ini. Padahal, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk tetap bisa menjaga kesehatan mental supaya tidak mengalami gangguan jiwa.

    Menjalin hubungan baik dengan orang lain

    Cara pertama ini dapat meningkatkan harga diri, memberikan kesempatan berbagai pengalaman positif sampai memberikan dukungan emosional. Alih-alih menyendiri coba sesekali luangkan waktu bersama teman atau keluarga. Jika tidak memungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung, coba manfaatkan media sosial dan lain-lain.

    Katakan sesuatu yang positif pada diri sendiri

    Cara pandang dalam menilai diri sendiri sangat mempengaruhi kondisi perasaan. Ketika mempersepsikan diri dengan sudut pandang positif seseorang jadi memiliki tambahan kekuatan untuk mengerjakan sesuatu. Sebaliknya, cara pandang negatif dapat menurunkan motivasi dan harga diri sendiri.

    Aktif bergerak dan rajin olahraga

    Tubuh yang aktif bergerak tentunya berdampak baik bagi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak baik pada kesehatan jiwa dan mental. Aktif bergerak dapat meningkatkan harga diri, memotivasi diri sendiri, dan mengubah kimia di otak menjadi lebih positif. Cukup olahraga yang mudah saja dengan rutin beranjak dari tempat duduk setiap 20 menit untuk jalan kaki mengambil minum atau ke kamar mandi. Jika ingin semakin prima rutin berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari, dan lakukan di luar ruangan yang bisa membantu meredakan stres. 

    Mempelajari Keterampilan Baru

    Mempelajari keterampilan baru ternyata juga dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan terhindar dari gangguan jiwa. Saat mempelajari ilmu atau pengetahuan baru kepercayaan diri dan harga diri seseorang jadi meningkat. Selain itu, mempelajari keterampilan baru membuka peluang seseorang terhubung dengan orang lain. Untuk melakukannya bisa dengan santai dan rileks serta tidak muluk-muluk menerapkan target. Cukup temukan dan rutin jalankan.

    Membantu orang lain

    Dengan membantu orang lain, perasaan jadi lebih positif dan muncul rasa menghargai diri sendiri. Selain itu, membantu orang lain juga bisa membuat seseorang terhubung dengan orang lain untuk saling bersosialisasi.

    Membangun kesadaran dan fokus

    Membangun kesadaran dengan memperhatikan hal yang terjadi dapat mencegah emosi yang negatif. Seseorang dapat terbebas dari masa lalu atau kekhawaoram pada satu hal yang belum tentu terjadi jika fokus pada hal yang dikerjakan saat ini. Karena itu, fokuslah pada yang sedang dilakukan. Apabila pikiran sudah kemana-mana, coba tarik kembali perhatian pada rasa, bau, suara, atau sensasi fisik yang sedang dirasakan saat itu.

    Konsumsi makanan bergizi seimbang

    Menerapkan pola makan bergizi seimbang juga bagian dari cara menjaga kesehatan mental. Karbohidrat dapat meningkatkan hormon yang membangun suasana hati agar positif. Seperti karbohidrat, sayur dan buah juga dapat memberi makan sel tubuh termasuk mengontrol suasana hati lebih positif, serta protein yang juga dapat meningkatkan zat kimia di otak yang membantu tubuh tetap waspada. Pastikan juga tubuh mendapatkan pasokan lemak sehat seperti dari ikan dan kacang-kacangan. 

    Produk Terkait: Jual Makanan dan Minuman Sehat

    Rehat

    Rehat menjadi cara alternatif untuk dapat menjaga kesehatan jiwa jika segala sesuatunya mulai terasa membebani pikiran. Cobalah beristirahat dengan melakukan latihan pernapasan sederhana. Pejamkan mata dan tarik napas dalam-dalam selama 10 kali. Saat mengambil, menahan, dan mengeluarkan napas, masing-masing lakukan dalam empat hitungan.

    Tidur yang Cukup

    Tidur yang cukup rupanya juga mampu menjaga kesehatan mental dengan baik sebab jika kurang tidur bisa berdampak negatif.  Karena itu, pastikan untuk tidur yang cukup selama 6-8 jam setiap hari. Bangun kebiasaan baik dengan tidur secara teratur di jam yang sama setiap hari. Jika susah tidur, coba segera cari solusinya.

    Baca Juga: Duh, Sering Susah Tidur di Malam Hari Nih!

    Cari Bantuan Medis

    Kalau Sobat sudah kewalahan terhadap permasalahan kesehatan jiwa, segera konsultasikan dengan tenaga medis profesional. Apalagi jika sobat merasakan suasana hati yang tak kunjung membaik sampai menganggu kehidupan sehari-hari. Ahli nantinya akan memberikan saran paling pas, baik itu lewat terapi atau obat-obatan.

    Itulah mengenai gangguan kesehatan jiwa yang ternyata bukanlah permasalahan yang harus dianggap sepele sehingga harus segera ditangani karena akan berdampak sangat negatif pada diri sendiri dan orang lain yang tentu saja harus dihindari. Apabila Sobat memerlukan informasi dan penanganan lebih lanjut beserta produk-produk yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Hari Kesehatan Mental Dunia 2020: Dampak Pandemi & Hasil Survei WHO – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://tirto.id/hari-kesehatan-mental-dunia-2020-dampak-pandemi-hasil-survei-who-f5Ne
    2. [Internet]. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/20031100001/situasi-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html+&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id
    3. [Internet]. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://www.tokopedia.com/blog/penyakit-gangguan-jiwa-penyebab-gejala-cara-mengobati/
    4. Alfari S. 9 Macam Gangguan Mental, Joker Termasuk yang Mana? [Internet]. Blog.ruangguru.com. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://blog.ruangguru.com/9-macam-gangguan-mental-joker-termasuk-yang-mana
    5. [Internet]. Beritagar.id. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/apa-itu-gangguan-kepribadian
    6. Media K. 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 12 October 2020]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/10/11/090100068/10-cara-menjaga-kesehatan-mental?
    Read More
  • Pernahkah Sobat merasa sedih yang berkepanjangan, merasa tidak berguna, tidak semangat hidup lagi, merasa ada suara-suara tidak terlihat di sekitar atau merasa semua orang memperhatikan gerak gerik Sobat? Hati-hati, ya, bila Sobat mengalami hal tersebut dalam jangka waktu lama karena itu adalah beberapa gejala dari gangguan jiwa. Wah, masa iya?Seram sekali. Makanya, bila Sobat atau […]

    5 Gangguan Jiwa Paling Sering Dialami Kawula Muda

    Pernahkah Sobat merasa sedih yang berkepanjangan, merasa tidak berguna, tidak semangat hidup lagi, merasa ada suara-suara tidak terlihat di sekitar atau merasa semua orang memperhatikan gerak gerik Sobat? Hati-hati, ya, bila Sobat mengalami hal tersebut dalam jangka waktu lama karena itu adalah beberapa gejala dari gangguan jiwa. Wah, masa iya?Seram sekali. Makanya, bila Sobat atau orang di sekitar ada yang mengalami hal tersebut perlu ditelusuri seberapa sering mengalami hal tersebut. Gangguan jiwa bukan perkara main-main karena pengobatannyapun biasanya cukup lama dan perlu pengawasan dari psikiater.

    Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 di Indonesia menunjukkan bahwa angka kejadian gangguan mental emosional yang dengan gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang. Cukup banyak ya ternyata.

    conversation with a therapist

    Gangguan jiwa ini merupakan kondisi seseorang yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Selain itu, pada gangguan jiwa berat dapat terjadi gangguan pada aktifitas sehari-hari seperti tidak mau makan, sulit tidur,atau tidak mau mandi. Gangguan jiwa ini bukan hanya berlangsung sementara loh, tapi dapat terjadi seterusnya sepanjang hidup. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bila Sobat atau orang di sekitar mengalami gejala yang mengarah pada gangguan jiwa dan berlangsung lama. Pertolongan kita amat berarti dalam kehidupan mereka, misal dengan konsultasi ke psikiater.

    Gangguan jiwa dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain adalah faktor somatogenik (berhubungan dengan saraf dan faktor saat di dalam kandungan), faktor psikogenik (interaksi abnormal anak-orang tua, peranan ayah, bersaing dengan saudara kandung, tingakt perkembangan emosi,dsb), serta faktor sosiogenik (kestabilan keluarga, pola asuh anak, ekonomi, tempat tinggal, pendidikan, fasilitas kesehatan, dsb). Jadi, kita dapat menelusuri penyebab dari gangguan jiwa.

    Gangguan jiwa banyak sekali jenisnya, tetapi ada beberapa gangguan jiwa yang sering dialami oleh orang dewasa. Nah, berikut adalah beberapa gangguan jiwa tersebut. Yuk, kita cek:

    Skizofrenia

    Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang sering terjadi dan melibatkan 23 juta orang di dunia. Gangguan ini ditandai dengan penyimpangan pada cara berpikir, persepsi, bahasa, emosi serta perilaku. Gejala yang sering dialami antara lain halusinasi (melihat, mendengar, merasakan sesuatu yang tidak ada), dan delusi (kepercayaan yang salah atau kecurigaan yang mendalam).

    Gangguan bipolar

    Gangguan bipolar merupakan gangguan mental emosional yang ditandai dengan perubahan perasaan yang tiba-tiba (mood swing) dari sedih (depresi) menjadi sangat bahagia (manik) maupun sebaliknya. Seringkali orang dengan gangguan bipolar tidak menyadari bahwa ia mengalaminya, bahkan terkadang gangguan tersebut berpengaruh buruk terhadap hubungan keluarganya. Gangguan jiwa ini tidak dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga peran keluarga dan orang sekitar sangat penting agar gangguan ini dapat segera ditangani.

    Gangguan depresi dan cemas

    Gangguan depresi merupakan salah satu gangguan mental emosional yang diikuti dengan rasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat, perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan tidur atau makan, perasaan lelah berlebihan dan konsentrasi yang buruk. Gejala ini dialami sekurang-kurangnya selama 2 minggu.

    Gangguan cemas merupakan gangguan yang juga sering terjadi di sekitar kita. Pernahkah kalian melihat orang yang terkena serangan panik?Nah, mereka biasanya mengalami gangguan kecemasan karena sebab tertentu. Gejala yang dapat dirasakan antara lain panik, perasaan takut berlebihan, gangguan tidur, rasa dingin dan berkeringat, sangat gelisah, dan jantung berdebar-debar. Nah, bila Sobat atau orang sekitar ada yang mengalami hal ini, jangan segan untuk segera mencari bantuan dan menolongnya, ya.

    Post Traumtic Stress Disorders (PTSD)

    PTSD merupakan gangguan jiwa yang dicetuskan oleh peristiwa yang sangat mengerikan dalam hidup seseorang dan mempengaruhinya dalam aktifitasnya setiap hari. PTSD banyak terjadi pada veteran perang, korban perkosaan, atau masyarakat yang pernah mengalami bencana alam seperti tsunami, banjir, gempa, angina topan,dsb. Mereka seringkali merasakan kejadian mengerikan itu kembali (flashback), mimpi buruk karena kejadian itu, dan menyebabkan stres bila mengingatnya.

    Obsesive Compulsive Disorders (OCD)

    OCD merupakan gangguan mental kronis dimana penderitanya tidak dapat mengontrol pikirannya (obsesif) atau perilakunya (kompulsif). Gangguan ini ditandai dengan takut terhadap bakteri dan lingkungan kotor, senang melihat sesuatu yang simetris atau urutan yang sempurna, pikiran agresif terhadap diri sendiri atau orang lain, mencuci tangan berulang-ulang, melakukan pemeriksaan berulang kali, dan berhitung berulang-ulang. Biasanya OCD sering disertai dengan perasaan cemas akan sesuatu buruk terjadi pada dirinya padahal tidak.

    Nah, itulah beberapa gangguan jiwa yang sering terjadi. Bila Sobat atau orang sekitar mengalaminya, jangan tinggal diam, segera konsultasikan ke psikiater agar diperoleh penanganan yang tepat. Kualitas hidup orang dengan gangguan jiwa akan meningkat dengan penanganan dari dokter yang tepat. Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dan Salam Sehat!

    Referensi:
    1. Kementerian Kesehatan RI. Stop stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan jiwa. 2014. [Internet]. Availabel at: depkes.go.id/article/view/201410270011/stop-stigma-dan-diskriminasi-terhadap-orang-dengan-gangguan-jiwa-odgj.html
    2. Putri AW, Wibhawa B, Gutama AS. Kesehatan mental masyarakat Indonesia (pengetahuan dan keterbukaan masyarakat terhadap gangguan kesehatan mental. Prosiding KS: Riset dan PKM. 2010;2;2;147-300.
    3. World Health Organization. Mental disorder. 2018. [Internat]. Available at: who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-disorders (05.10.18)
    4. Mayo Clinic Staff. Bipolar disorder. [Internet]. Available at: mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955 (05.10.18)
    5. WebmD. All about anxiety disorder. 2018.[Internet]. Available at: webmd.com/anxiety-panic/guide/anxiety-disorders#1 (05.10.18)
    6. Mayo Clinic Staff. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). 2018.[ Internet]. Available at: mayoclinic.org/diseases-conditions/post-traumatic-stress-disorder/symptoms-causes/syc-20355967 (05.10.18)

    Read More
Chat Asisten ProSehat aja