Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ covid 19”

Showing 131–136 of 136 results

  • Selama ini bulan suci Ramadan identik dengan kehangatan kegiatan sosial serta keagamaannya. Seperti adanya sahur dan berbuka puasa bersama teman dan keluarga, serta peningkatan kunjungan ke tempat ibadah. Namun, mengingat situasi pandemi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19), ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan pada Ramadan tahun ini. Penularan COVID-19 terjadi melalui percik renik yang keluar […]

    Ramadan Saat Pandemi Corona, Inilah Rekomendasi WHO

    Selama ini bulan suci Ramadan identik dengan kehangatan kegiatan sosial serta keagamaannya. Seperti adanya sahur dan berbuka puasa bersama teman dan keluarga, serta peningkatan kunjungan ke tempat ibadah. Namun, mengingat situasi pandemi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19), ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan pada Ramadan tahun ini.

    Penularan COVID-19 terjadi melalui percik renik yang keluar saat penderita batuk dan bersin. Percikan ini bisa terkena pada permukaan benda maupun langsung ke orang lain. Seseorang dapat tertular bila memegang permukaan ini lalu memegang area mata, hidung, maupun mulut. Sehingga secara umum himbauan dari pemerintah adalah dengan melakukan physical distancing untuk menurunkan angka penularan penyakit tersebut, yaitu dengan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, menghindari kontak fisik dengan orang lain dan mengganti sapaan, cukup dengan mengangguk atau melambaikan tangan saja, serta melarang aktivitas yang mengumpulkan orang dalam jumlah yang banyak, termasuk penutupan tempat ibadah.

    Berikut adalah rekomendasi dari the World Health Organization (WHO) agar Sobat dan keluarga tetap aman menajalani Ramadan ditengah pandemi COVID-19:

    1. Puasa

    Sejauh ini belum ada penelitian yang mempelajari hubungan puasa dengan risiko terinfeksi COVID-19. Seseorang yang sehat tetap direkomendasikan untuk melakukan puasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan, untuk pasien penderita COVID-19 perlu menanyakan ke dokter yang merawatnya untuk mempertimbangkan apakah boleh puasa atau tidak.

    1. Aktivitas fisik

    Selama masa pandemi ini, bila masih memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik, pastikan untuk tetap menjaga jarak dengan orang lain, melakukan kebersihan tangan yang rutin. Sebagai pengganti aktivitas di luar ruangan, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik di dalam ruangan saja, bisa juga dengan mengikuti beragam kelas aktivitas fisik yang tersedia secara online.

    1. Makanan sehat dan bergizi

    Status gizi yang kurang maupun berlebih dapat berdampak buruk pada sistem imun tubuh, sehingga penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Status gizi kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi imunosupresi yaitu daya tahan tubuh yang kurang sehingga mudah terkena penyakit. Sedangkan, status gizi yang berlebih meningkatkan risiko terjadi inflamasi kronis yang akan mengganggu daya tahan tubuh juga. Kebutuhan nutrisi manusia dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan nutrisi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta nutrisi mikro yaitu vitamin dan mineral. Pastikan Sobat tetap mendapatkan asupan nutrisi dan hidrasi yang cukup selama bulan suci Ramadan ini.

    1. Merokok

    Merokok tidak dianjurkan dalam segala kondisi, terutama selama bulan suci Ramadan dan pandemi COVID-19 ini. Seorang perokok bisa jadi sudah memiliki penyakit paru-paru yang dapat mengurangi kapasitas fungsi paru-paru sehingga dapat meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19. Selain itu, saat merokok, jari bisa saja memegang rokok yang sudah terkontaminasi dan memegang area mulut serta meningkatkan kemungkinan virus menyerang sistem pernafasan.

    1. Menjaga kesehatan mental dan psikososial

    Walaupun kegiatan beribadah yang mengumpulkan orang dalam jumlah besar dibatasi, tetaplah berdoa, berbagi, dan mempedulikan orang-orang disekitar Sobat dengan tetap melakukan physical distancing. Sobat bisa tetap menjaga hubungan dengan kerabat melalui bantuan media digital, mendoakan yang sakit, serta menyebarkan pesan yang membangkitkan semangat dan harapan bagi sesama.

    1. Sedekah atau zakat

    Saat membagikan sedekah atau zakat selama bulan suci Ramadan, pastikan tetap melakukan physical distancing. Hindari kerumunan orang banyak, bila mau berbagi makanan lebih baik makanan yang sudah dikemas sebelumnya. Sebaiknya dibentuk pengurus khusus untuk mengumpulkan, mengemas, menyimpan, dan mendistribusi.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. World Health Organizaton. Safe Ramadan practices in the context of the COVID-19.
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    3. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    4. Alwarawrah Y, Kiernan K, MacIver NJ. Changes in Nutritional Status Impact Immune Cell Metabolism and Function. Front Immunol [Internet]. 2018 May 16;9. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5968375/
    5. Karacabey K. The Effect of Nutritional Elements on the Immune System. J Obes Wt Loss Ther [Internet]. 2012.;02(09). Available from: https://www.omicsonline.org/open-access/the-effect-of-nutritional-elements-on-the-immune-system-2165-7904.1000152.php?aid=10186
    Read More
  • Bulan suci Ramadan tahun 2020 memang berbeda dari sebelumnya karena saat ini dunia juga sedang dilanda dengan pandemi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Pada bulan Ramadan, merupakan suatu kewajiban bagi semua umat muslim yang sehat di seluruh dunia bangun pagi untuk melakukan sahur dan berbuka puasa atau iftar setelah matahari terbenam, puasa dilakukan dari fajar […]

    Puasa Saat Pandemi, Benarkah Puasa Bisa Menurunkan Imun Tubuh?

    Bulan suci Ramadan tahun 2020 memang berbeda dari sebelumnya karena saat ini dunia juga sedang dilanda dengan pandemi akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Pada bulan Ramadan, merupakan suatu kewajiban bagi semua umat muslim yang sehat di seluruh dunia bangun pagi untuk melakukan sahur dan berbuka puasa atau iftar setelah matahari terbenam, puasa dilakukan dari fajar hingga matahari terbenam.

    Sejauh ini, belum ada penelitian yang mendalami korelasi puasa dengan peningkatan risiko terinfeksi COVID-19. Anjuran dari the World Health Organization (WHO), puasa tetap boleh dilakukan oleh orang yang sehat dengan catatan tetap melakukan physical distancing dan selalu menjaga kebersihan tangan. Sedangkan, bagi pasien penderita COVID-19 sebaiknya tetap menanyakan ke dokter yang merawatnya untuk mempertimbangkan apakah kondisi pasien memungkinkan untuk melakukan puasa.

    Menurut penelitian, puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Salah satunya puasa Ramadan dapat meningkatkan kerja sistem imun, namun peningkatan ini hanya bersifat sementara dan dapat balik kembali ke kondisi awal bila sudah berhenti puasa. Selain meningkatkan kerja sistem imun, puasa juga dapat mengurangi risiko terjadinya kanker, obesitas, diabetes, dan sindrom metabolik.

    Hal yang dapat menurunkan kerja sistem imun tubuh adalah status gizi yang kurang maupun berlebih. Sehingga penting untuk tetap menjaga kebutuhan asupan nutrisi. Status gizi kurang dikaitkan dengan kondisi imunosupresi yaitu daya tahan tubuh yang kurang sehingga mudah terkena penyakit. Sedangkan, status gizi yang berlebih meningkatkan risiko terjadi inflamasi kronis yang akan mengganggu daya tahan tubuh juga.

    Berikut tips agar tubuh menjadi kuat dan sehat saat puasa di tengah pandemi akibat COVID-19:

    1. Makan makanan yang bernutrisi

    Pastikan Sobat mendapatkan kebutuhan nutrisi yang seimbang, mulai dari nutrisi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta nutrisi mikro yaitu vitamin dan mineral. Secara umum, hindari gorengan dan makanan olahan yang tinggi lemak atau gula. Hindari juga makanan yang mengandung garam berlebih seperti sosis produk daging olahan, makanan ringan, dan saus siap saji (mayonais, saus tomat, mustard). Kebutuhan vitamin dan mineral juga tidak kalah pentingnya untuk menjaga kerja sistem imun tubuh yang banyak dapat ditemukan pada buah dan sayur-sayuran.

    1. Dapatkan hidrasi yang cukup

    Minumlah air yang cukup saat sahur dan berbuka. Air putih merupakan pilihan utama karena dapat memberikan hidrasi yang cukup untuk tubuh tanpa menambahkan kalori. Sebaiknya membatasi konsumsi minuman manis karena mengandung banyak gula, bila dikonsumsi secara berlebihan dapat meningkatkan berat badan. Selain dari minuman, hidrasi juga bisa didapatkan dari makanan yang mengandung kadar air tinggi seperti timun, tomat, pepaya, bayam, dan yang lainnya.

    1. Tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan COVID-19

    Penularan COVID-19 terjadi melalui percik renik yang keluar saat penderita batuk dan bersin. Percikan ini bisa terkena pada permukaan benda maupun langsung ke orang lain. Seseorang dapat tertular bila memegang permukaan ini lalu memegang area mata, hidung, maupun mulut. Sehingga secara umum himbauan dari pemerintah adalah dengan rajin mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik, mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, serta melakukan physical dengan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, menghindari kontak fisik dengan orang lain dan mengganti sapaan, cukup dengan mengangguk atau melambaikan tangan saja, serta melarang aktivitas yang mengumpulkan orang dalam jumlah yang banyak, termasuk penutupan tempat ibadah.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. World Health Organizaton. Safe Ramadan practices in the context of the COVID-19.
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    3. Intermittent fasting from dawn to sunset for 30 consecutive days is associated with anticancer proteomic signature and upregulates key regulatory proteins of glucose and lipid metabolism, circadian clock, DNA repair, cytoskeleton remodeling, immune system and cognitive function in healthy subjects. Journal of Proteomics. 2020 Apr 15;217:103645.
    4. Adawi M, Watad A, Brown S, Aazza K, Aazza H, Zouhir M, et al. Ramadan Fasting Exerts Immunomodulatory Effects: Insights from a Systematic Review. Front Immunol [Internet]. 2017;8. Available from: https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fimmu.2017.01144/full
    5. Alwarawrah Y, Kiernan K, MacIver NJ. Changes in Nutritional Status Impact Immune Cell Metabolism and Function. Front Immunol [Internet]. 2018 May 16;9. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5968375/
    6. Karacabey K. The Effect of Nutritional Elements on the Immune System. J Obes Wt Loss Ther [Internet]. 2012;02(09). Available from: https://www.omicsonline.org/open-access/the-effect-of-nutritional-elements-on-the-immune-system-2165-7904.1000152.php?aid=10186
    7. Tips Berpuasa Ramadhan di Saat Wabah Virus Corona | Fakultas Farmasi UGM [Internet]. 2020. Available from: https://farmasi.ugm.ac.id/id/tips-berpuasa-ramadhan-di-saat-wabah-virus-corona
    Read More
  • Presiden Joko Widodo meminta masyakat yang sedang sakit untuk memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk berobat secara online (telemedicine). Dengan adanya layanan online, tidak semua orang yang sakit perlu berobat ke rumah sakit. Konsultasi kesehatan bisa dilakukan melalui aplikasi, salah satunya ProSehat. Di tengah pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) ini, anjuran konsultasi online sendiri bertujuan untuk melindungi […]

    Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    Presiden Joko Widodo meminta masyakat yang sedang sakit untuk memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk berobat secara online (telemedicine). Dengan adanya layanan online, tidak semua orang yang sakit perlu berobat ke rumah sakit. Konsultasi kesehatan bisa dilakukan melalui aplikasi, salah satunya ProSehat. Di tengah pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) ini, anjuran konsultasi online sendiri bertujuan untuk melindungi para tenaga medis dengan mengurangi risiko mereka tertular virus.

    Saat ini masyarakat sudah terbiasa untuk mencari informasi kesehatan di internet, tapi belum tentu sumber yang didapat memberikan informasi yang valid. Lebih baik informasi didapatkan dari dokter-dokter yang memang sudah berpengalaman di bidangnya. Telemedicine adalah suatu hasil dari kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang memungkinkan pasien berdiskusi dengan dokter secara privat, tanpa harus bertatap muka secara langsung. Sobat dapat berdiskusi langsung dengan dokter dengan memberitahukan keluhan-keluhan yang dialami melalui media komunikasi yang disediakan. Dokter pun akan membantu untuk memberikan informasi mengenai dugaan diagnosis, cara penanganan dan perawatan pertama terhadap kasus cedera atau penyakit, hingga tips lainnya untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

    Dampak dari telemedicine tergolong besar karena dapat meningkatkan akses terhadap pelayanan medis yang berkualitas guna meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Telemedicine juga akan terus berinovasi menggunakan teknologi terbaru untuk memaksimalkan pelayanan yang bisa diberikan. Konsultasi online sangat menguntungkan karena tidak terbatas oleh jarak dan posisi geografis, sehingga Sobat tidak perlu repot-repot beranjak keluar rumah dan menghabiskan waktu mengantri untuk mendapatkan saran dari dokter.

    Dalam usaha untuk menegakkan suatu diagnosis, seorang dokter memerlukan informasi yang mendukung diagnosis melalui anamnesis, yaitu tanya-jawab terarah mengenai keluhan pasien saat ini, riwayat penyakit sebelumnya yang mungkin berhubungan, dan riwayat lainnya seperti riwayat penyakit dalam keluarga atau riwayat kebiasaan pasien. Secara teori, anamnesis sendiri memegang pernanan penting sebesar 80% untuk menentukan diagnosis yang pasti. Sisanya bisa melalui bantuan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lainnya. Memang dengan konsultasi online, dokter dapat melakukan anamnesis dengan pasien melalui fitur komunikasi tanya-jawab yang disediakan. Namun, saat ini salah satu kekurangan dari konsultasi online adalah dokter tidak bisa melakukan pemeriksaan fisik langsung ke pasien sehingga diagnosis pasti belum bisa ditegakan. Dokter hanya bisa memberikan kemungkinan diagnosis disertai beberapa diagnosis pembanding lainnya. Sehingga obat yang bisa diberikan juga lebih terbatas.

    Melihat kelebihan dan kekurangan yang sudah dibahas dari telemedicine, berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan melalui konsultasi online:

    • Memberikan kemudahan untuk bertanya jawab mengenai penanganan pertama sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah, seperti pada kasus luka akibat terjatuh, batuk pilek biasa, diare, gigitan serangga, dan lain-lain.
    • Menjawab pertanyaan dengan tepat seputar penyakit dan pengobatan yang sedang atau sudah selesai dijalani sebelumnya.
    • Mempermudah pasien untuk mengetahui hasil laboratorium dengan cepat dan tepat.
    • Memberikan saran mengenai kunjungan ke spesialisasi bidang kedokteran yang sesuai dengan penyakit yang dialami.

    Di tengah pandemi COVID-19 dan himbauan pemerintah untuk di rumah saja, memang kunjungan ke rumah sakit sebaiknya dibatasi bila tidak terlalu darurat. Dengan adanya bantuan aplikasi kesehatan, akan sangat mempermudah Sobat untuk melakukan konsultasi dengan dokter mengenai keluhan yang dialami. Penggunaan telemedicine sendiri akan terus dikembangkan, namun bukan berarti dapat menggantikan kunjungan langsung ke dokter untuk kasus yang memang memerlukan penanganan lebih lanjut. Melainkan sebagai pendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang mudah diakses dan efisien.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kurangi Risiko Tenaga Medis Tertular Covid-19, Jokowi Minta Warga Berobat Online [Internet]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/04/13/10491681/kurangi-risiko-tenaga-medis-tertular-covid-19-jokowi-minta-warga-berobat
    2. What’s the difference between telemedicine and telehealth? [Internet]. Available from: https://www.aafp.org/media-center/kits/telemedicine-and-telehealth.html
    3. Global Observatory for eHealth series. Telemedicine: Opportunities and developments in Member States. Vol. 2. World Health Organization; 2010.
    4. History and Physical Examination information. What to expect [Internet]. Available from: https://patient.info/doctor/history-and-physical-examination
    5. Telemedicine: What Is It, How Does It Work, and Should I Use It? [Internet]. The GoodRx Prescription Savings Blog. 2020. Available from: https://www.goodrx.com/blog/what-is-telemedicine/
    Read More
  • Pandemi global COVID-19 selama beberapa bulan terakhir telah memberi dampak signifikan terhadap perekonomian di Indonesia. Hal ini juga memengaruhi kinerja para karyawan perusahaan. Demi menekan penyebaran COVID-19 dan menjaga kesehatan karyawannya, banyak instansi pemerintahan dan perkantoran swasta yang mengeluarkan kebijakan work from home (WFH). Karyawan merupakan aset perusahaan yang tentunya berdampak besar bagi operasi perusahaan. […]

    Dampak COVID–19 pada Kesehatan Karyawan

    Pandemi global COVID-19 selama beberapa bulan terakhir telah memberi dampak signifikan terhadap perekonomian di Indonesia. Hal ini juga memengaruhi kinerja para karyawan perusahaan. Demi menekan penyebaran COVID-19 dan menjaga kesehatan karyawannya, banyak instansi pemerintahan dan perkantoran swasta yang mengeluarkan kebijakan work from home (WFH).

    Karyawan merupakan aset perusahaan yang tentunya berdampak besar bagi operasi perusahaan. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan menjaga keselamatan karyawan juga merupakan salah satu tanggung jawab perusahaan yang tetap harus dipenuhi, terutama saat masa pandemi COVID-19 berlangsung. Selain WFH, cara lain yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan jaminan kesehatan bagi para karyawan adalah dengan menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan dalam bentuk rapid test COVID-19.

    Rapid test COVID-19 adalah alat untuk menguji antibody SARS-CoV-2, yaitu Immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM), yang terdapat pada sampel darah mengunakan metode Lateral Flow Assay3. Saat sampel darah masuk ke dalam alat rapid test, antibody IgG dan IgM yang terdapat dalam darah akan bereaksi dan menimbulkan warna pada alat tersebut, menandakan bahwa pasien tersebut positif terinfeksi COVID-19. Meskipun demikian rapid test bukanlah alat diagnostik melainkan alat skrining sehingga bila hasil menunjukkan positif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan swab test.

    Saat ini banyak perusahaan yang sudah bekerja sama dengan beberapa platform telemedicine untuk menyelenggarakan pemeriksaan rapid test COVID-19 baik di kantor ataupun di rumah. Perusahaan dapat mendaftarkan karyawannya dan nantinya akan ditangani oleh tim yang bersangkutan. ProSehat termasuk salah satu aplikasi kesehatan yang menyediakan layanan tersebut.

    Karyawan yang telah terdata untuk dites akan ditindaklanjuti dengan screening awal secara online dan rapid test akan dilakukan di kantor perusahaan atau petugas dapat datang ke rumah karyawan yang bertempat tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Hasil rapid test tersebut dapat ditindaklanjuti dengan rujukan ke rumah sakit rekanan maupun isolasi mandiri secara terpantau (telemedicine). Jika rapid test karyawan menunjukkan hasil negatif, karyawan akan diberikan edukasi preventif mengenai COVID-19.

    Namun, akibat terbatasanya jumlah tenaga kesehatan, tentunya akan ada pembatasan jumlah rapid test yang disediakan. Selain itu, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) harus tetap diterapkan. Oleh karena itu, rapid test yang dilakukan di kantor harus menerapkan jadwal test karyawan, sehingga tidak terjadi penumpukan karyawan di kantor pada hari tes dan dengan demikian, physical distancing tetap dapat dilaksanakan.

    Alat rapid test dapat mendeteksi antibodi karyawan yang terinfeksi COVID-19 dalam waktu empat hari.  Jika test pertama menunjukan hasil negatif, akan dilaksankan tes kedua pada hari ke-14 setelah tes pertama untuk memastikan hasil tes tersebut karena rapid test dapat menimbulkan hasil negatif palsu apabila pasien berada dalam window period infeksi. Jika pasien belum bergejala/asimptomatik dan dalam masih periode inkubasi, IgM atau IgG belum dapat terseteksi oleh rapid test4. Meskipun hal tersebut membuat masyarakat beranggapan bahwa rapid test tidak efektif dan akurat dalam mendeteksi virus Corona. Namun, rapid test merupakan metode yang cukup baik untuk screening awal COVID-19 dan tentunya dapat ditindaklanjuti menggunakan test PCR yang lebih akurat.

    Dengan informasi di atas, perusahaan dapat mempertimbangkan untuk menyelenggarakan rapid test bagi karyawannya. Selain itu, bagi perusahaan dapat menyediakan hand sanitizer, tempat cuci tangan, serta masker untuk karyawan yang tidak dapat menjalankan work from home. Terlebih lagi, sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan suhu badan sebelum memasuki gedung kantor. Untuk Sobat yang masih melaksanakan WFH, jangan lupa untuk terus menerapkan physical distancing, mengenakan masker saat berpergian keluar rumah, dan menjaga kebersihan serta kesehatan diri. Stay safe and healthy!

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Harsono, F. (2020). Karyawan Perusahaan Bisa Rapid Test COVID-19 di Rumah, Cek Caranya. Retrieved 25 April 2020, from https://www.liputan6.com/health/read/4236292/karyawan-perusahaan-bisa-rapid-test-covid-19-di-rumah-cek-caranya#
    2. Kompas Media. (2020). Ada Layanan Tes Covid-19 untuk Perusahaan, Ini Cara Daftarnya Halaman all – Kompas.com. Retrieved 25 April 2020, from https://money.kompas.com/read/2020/04/23/163100326/ada-layanan-tes-covid-19-untuk-perusahaan-ini-cara-daftarnya?page=all
    3. Cassaniti, I., Novazzi, F., Giardina, F., Salinaro, F., Sachs, M., & Perlini, S. et al. (2020). Performance of VivaDiag COVID-19 IgM/IgG Rapid Test is inadequate for diagnosis of COVID-19 in acute patients referring to emergency room department. Journal Of Medical Virology. doi: 10.1002/jmv.25800
    4. Kolifarhood, G., Aghaali, M., Saadati, H., Taherpour, N., Rahimi, S., Izadi, N., & Nazar, S. (2020). Epidemiological and Clinical Aspects of COVID-19; a Narrative Review. Archives Of Academic Emergency Medicine8(1), 41.
    5. Al-Muharraqi, M. (2020). Testing recommendation for COVID-19 (SARS-CoV-2) in patients planned for surgery – continuing the service and ‘suppressing’ the pandemic. British Journal Of Oral And Maxillofacial Surgery. doi: 10.1016/j.bjoms.2020.04.014
    Read More
  • Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah […]

    Kenali Avigan dan Klorokuin, Obat yang Disiapkan Jokowi untuk COVID-19

    Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah Avigan dan Kloroquin? Bagaimana cara kedua obat tersebut dapat melawan virus corona?

    Favipiravir (Avigan)

    Avigan merupakan nama dagang dari Favipiravir (T-705), yaitu suatu agen anti-viral yang ditemukan di Laboratorium Penelitian Toyama Chemical Co., Ltd. Pada saat itu, Favipiravir digunakan sebagai obat anti-viral terhadap virus Influenza yang merupakan virus RNA. Selain itu, Favipiravir juga menunjukkan aktivitas anti-viralnya terhadap virus RNA lainnya seperti flavivirus, alphavirus, filovirus, bunyavirus, arenavirus, dan norovirus.4,5

    Favipiravir bekerja dengan menghambat replikasi virus. Mekanisme ini termasuk unik untuk suatu obat anti-viral karena pada umumnya hanya menghambat proses masuk (entry) atau penyebaran (release) virus dari sel. Proses ini awalnya dimulai dengan Favipiravir masuk ke dalam sel yang terinfeksi virus. Enzim dalam sel tersebut akan mengaktivasi Favipiravir menjadi bentuk aktifnya yaitu Favipiravir-RTP yang dianggap sebagai substrat oleh virus sehingga masuk ke rantai RNA virus lalu menghambat pemanjangan rantai RNA virus yang mengakitbatkan terhentinya proses replikasi dari virus pada sel tersebut.4 Dengan dasar tersebut dan fakta bahwa COVID-19 merupakan virus RNA, maka Favipiravir  diduga memiliki potensial sebagai anti-viral untuk COVID-19. Namun terdapat juga efek samping dari obat ini berupa teratogenik dan embriotoksik yang berarti dapat mengganggu perkembangan dan bersifat racun untuk janin pada ibu hamil.4 Saat ini telah didapatkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral terhadap COVID-19. Sebuah penelitian terhadap 80 pasien juga menunjukkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral yang lebih poten dibandingkan dengan Iopinavir/Ritopinavir terhadap COVID-19. Meski demikian, penemuan tersebut masih dalam tahap penelitian lebih lanjut.5,6

    Kloroquin

    Obat ini mungkin pernah terdengar familiar bagi Sobat? Ini karena Kloroquin telah digunakan sebagai obat anti malaria lebih dari 70 tahun. Selain itu kloroquin juga digunakan sebagai obat autoimun, dan juga dapat digunakan sebagai anti-viral spektrum luas sejak 2006.5,6 Kloroquin termasuk dalam pedoman pengobatan COVID-19 di Cina dan juga CDC.5,7

    Peran Kloroquin dalam tubuh adalah mem-block infeksi dari COVID-19 pada konsentrasi mikromolar-rendah. Kloroquin bekerja dengan cara mengganggu proses fusi virus/sel (dengan meningkatkan pH endosom) dan mengganggu (proses glikosilasi) reseptor selular virus corona. Ditemukan bahwa Kloroquin bekerja pada stadium entry dan post entry dari COVID-19. Selain itu, Kloroquin juga memiliki efek meningkatkan imun yang dapat membantu dalam melawan infeksi virus. Obat ini tersebar dengan mudah ke seluruh jaringan tubuh, termasuk paru.6,8 Pemberian Kloroquin harus dengan dosis dan anjuran yang tepat karena terdapat beberapa efek samping seperti mual, muntah, diare, nyeri perut hingga keracunan Kloroquin yang menyebabkan kerusakan pigmen epitel retina, gangguan jantung, dan kerusakan saraf.9,10,11

    Dari hasil penelitian terkini, telah didapatkan bahwa Favipiravir dan Kloroquin dapat melawan infeksi COVID-19. Favipiravir dan Kloroquin memiliki mekanisme anti-viral yang berbeda. Favipiravir menghambat replikasi virus dalam sel, sedangkan Kloroquin menghambat masuknya virus ke dalam sel. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk kedua obat tersebut. Pastikan untuk tidak membeli dan menggunakan kedua obat tersebut tanpa anjuran atau instruksi dari dokter. Jika Sobat mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, sesak napas, dan berkunjung atau terpapar seseorang yang berkunjung pada negara risiko tinggi, segeralah periksakan diri Sobat ke dokter atau hubungi call center krisis virus corona 119 ext 9.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
    2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html
    3. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    4. FURUTA Y, KOMENO T, NAKAMURA T. Favipiravir (T-705), a broad spectrum inhibitor of viral RNA polymerase. Proceedings of the Japan Academy, Series B. 2017;93(7):449-463.
    5. Dong L, Hu S, Gao J. Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19). Drug Discoveries & Therapeutics. 2020;14(1):58-60.
    6. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M et al. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020;30(3):269-271.
    7. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html
    8. Cortegiani A, Ingoglia G, Ippolito M, Giarratano A, Einav S. A systematic review on the efficacy and safety of chloroquine for the treatment of COVID-19. Journal of Critical Care. 2020;.
    9. Chloroquine and Hydroxychloroquine : Side Effects of Medications : The Eyes Have It [Internet]. Kellogg.umich.edu. 2020.Available from: http://kellogg.umich.edu/theeyeshaveit/medica/chloroquine-hydorxychloroquine.html
    10. DeMott M, Young M, Williams S, Clark R. Overdose of Cardiotoxic Drugs. Cardiac Intensive Care. 2010;:427-442.
    11. Cavaletti G. Toxic and Drug-Induced Neuropathies. Neurobiology of Disease. 2007;:871-883.
    Read More
  • Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya. Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut […]

    5 Mitos yang Perlu Sobat Ketahui Tentang Virus COVID 19

    Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya.

    Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut apakah resmi dari badan kesehatan seperti Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) atau badan kesehatan Republik Indonesia atau KEMENKES RI.

    Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-COV-2) merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan yang menyebabkan infeksi COVID-19 yang dapat menyebabkan kematian karena dapat berakibat gagal napas. Virus ini dapat menyerang berbagai usia baik anak sampai dewasa.

    Infeksi virus corona ini sangat berbahaya, sehingga, muncullah berbagai macam mitos, antara lain:

    1. Antibiotik Bisa Cegah Virus Corona

    WHO menyatakan bahwa antibiotik tidak bekerja terhadap infeksi virus. Antibiotik hanya bekerja pada infeksi bakteri. Dengan kata lain, antibiotik tidak dapat mengatasi apalagi mencegah COVID-19. Pemberian antibiotik tentunya harus secara bijaksana dengan resep dokter. Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat menyebabkan resisten.

    Lalu, obat-obatan apa yang dapat mencegah infeksi virus corona? Sampai saat ini belum ada obat-obatan khusus yang dapat mencegah infeksi virus corona. WHO tidak merekomendasikan mengonsumsi obat-obatan termasuk antibiotik segai pencegahan COVID-19.

    1. Bawang Putih Ampuh Menangkal Virus Corona

    Bawang putih memang dikenal mempunyai segudang manfaat positif bagi kesehatan, seperti mencegah risiko terjadinya penyakit jantung, anti-tumor, anti infeksi bakteri dan menurunkan tekanan darah serta menurunkan gula darah.

    Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa mengonsumsi bawang putih dapat mencegah infeksi virus corona.

    1. Paket dari Cina Dapat Membawa Virus Corona

    Bagi Sobat yang terbiasa belanja online mungkin sudah biasa menerima kiriman paket dari luar negeri, terutama Cina. Namun tak perlu was-was, seperti yang diketahui penyebaran virus corona dari manusia ke manusia dapat melalui droplet (bersin, batuk) serta kontak tubuh pada pasien yang positive COVID-19. Karakteristik dari virus corona tidak tahan lama hidup pada benda mati. Sehingga, menurut WHO menerima paket dari Cina cukup aman.

    1. Mandi Air Panas Dapat Membunuh Virus Corona yang Menempel di Badan

    WHO telah menyatakan bahwa mandi dengan air suhu panas tidak dapat mencegah terjangkitnya COVID-19. Mandi dengan air panas justru dapat membahayakan kulit karena dapat menyebabkan kulit menjadi kering, iritasi atau malah terbakar karena kulit tidak tahan dengan suhu yang terlalu panas.

    Mengingat cara penyebaran virus corona yang dapat terjadi akibat kontak dengan penderita positive COVID-19, baik dengan bersalaman atau dengan droplet (bersin dan batuk) dalam jarak dekat, maka mandi dengan air panas tidak dapat mencegah masuknya virus apabila kita tidak memerhatikan faktor pencegahan lainnya seperti mencuci tangan setelah memegang benda, menghindari orang dengan gejala batuk, bersin dan demam serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan yang sehat.

    1. Penyemprotan Alkohol di Seluruh Tubuh Efektif Mencegah Corona

    Masih menurut WHO, penyemprotan alkohol di seluruh tubuh tidak akan membunuh virus corona yang telah masuk ke dalam tubuh, sebaliknya malah akan berbahaya karena akan mengiritasi kulit serta melukai selaput lendir seperti mulut dan mata. Alkohol 60% dapat digunakan dengan menyemprotkannya ke tangan untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh. Namun, perlu diperhatikan, terlalu sering Sobat menyemprotkan alkohol ke tangan dapat menyebabkan kulit menjadi kering sampai timbul iritasi.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/health-topics/coronavirus
    2. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    3. Myth busters [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
    4. Bayan L, Hossain Koulivand P, Gorji A. Garlic: a review of potential therapeutic effects. NCBI [Internet]. 2014 [cited 20 March 2020];v.4(1); Jan-Feb 2014. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4103721/
    5. Staff L. 13 Coronavirus myths busted by science [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/coronavirus-myths.html
    6. Lockerd Maragakis, M.D., M.P.H. L. Coronavirus Disease 2019: Myth vs. Fact [Internet]. Johns Hopkins. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/2019-novel-coronavirus-myth-versus-fact
    Read More
Chat Dokter 24 Jam