Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ anosmia”

  • Anosmia adalah salah satu gejala Covid-19 yang ditandai dengan hilangnya indera penciuman. Kondisi ini pun dapat membuat nafsu makan berkurang yang tentu saja dapat memperlambat masa pemulihan. Hal itu ditambah dengan kondisi psikologis yang bisa menyebabkan stres. Kondisi ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih. Sejauh ini belum ada obat yang bisa secara […]

    Bahan Makanan Pereda Anosmia untuk Membantu Mengatasi Gejala

    Anosmia adalah salah satu gejala Covid-19 yang ditandai dengan hilangnya indera penciuman. Kondisi ini pun dapat membuat nafsu makan berkurang yang tentu saja dapat memperlambat masa pemulihan. Hal itu ditambah dengan kondisi psikologis yang bisa menyebabkan stres. Kondisi ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih. Sejauh ini belum ada obat yang bisa secara tepat mengatasi anosmia. Namun, terdapat beberapa bahan makanan pereda anosmia yang disarankan untuk dapat membantu mengatasi gejala ini.

    bahan makanan pereda anosmia

    Baca Juga: Parosmia dan Phantosmia, Gejala-gejala Baru Covid-19, Apa Saja Perbedaannya?

    Bahan Makanan Membantu Meredakan Anosmia

    Lalu apa sajakah bahan makanan tersebut? Yuk, Sahabat Sehat simak penjelasannya di bawah ini:

    Bubuk Cabai Merah dan Cabai Rawit

    Makanan pertama yang dapat membantu meredakan anosmia adalah bubuk cabai merah dan cabai rawit. Keduanya memang belum terbukti secara sains alias baru sebatas pada hal yang berlangsung di masyarakat saja. Meski begitu, kedua bubuk ini mempunyai capsaicin yang disebut dapat secara efektif membersihkan hidung yang tersumbat, mengaktifkan indera, dan meningkatkan fungsi indera penciuman. Keduanya juga sering digunakan untuk membantu menghilangkan flu. Untuk penggunaan, campurkan dengan secangkir air atau tambahkan madu.

    Bawang Putih

    Bawang putih termasuk salah satu bahan makanan yang cukup populer. Selama pandemi keberadaannya juga digunakan sebagai alternatif untuk membantu meningkatkan kekebalan daya tahan tubuh. Mengonsumsi bawang putih berkhasiat untuk meredakan pembengkakan dan peradangan di sekitar saluran hidung. Manfaat lainnya adalah untuk memudahkan pernapasan serta membantu memulihkan indera penciuman dan perasa lebih cepat. Untuk penggunaannya Sahabat bisa membuat ramuan panas dari bawang putih yang dihancurkan dan diberi air.

    Jahe

    Bahan makanan pereda anosmia lainnya yang bisa Sahabat gunakan adalah jahe yang merupakan salah satu bahan makanan paling populer dalam kehidupan sehari-hari. Jahe sendiri merupakan salah satu tumbuhan herbal yang merupakan ekspetoran alami serta mempunyai sifat anti mikroba dan pereda nyeri yang ampih untuk membantu mengobati infeksi di saluran hidung dan membersikan partikel rematik dari hidung. Cara menggunakannya adalah konsumsilah jahe dengan diseduh atau dikunyah langsung.

    Produk Terkait: Jual Kapsul Jahe Borobudur Isi 100

    Minyak Jarak

    Sahabat juga bisa menggunakan minyak jarak untuk membantu meredakan anosmia yang Sahabat alami. Diketahui bahwa minyak ini adalah salah satu bahan makanan yang mengandung sifat anti-oksidan dan anti-inflamasi. Minyak ini juga sering digunakan untuk orang-orang yang sering menderita gejala nyeri sinusitis dan alergi untuk mengurangi pertumbuhan polip hidung sehingga bermanfaat dalam meredakan gejala batuk, pilek, dan membangun kembali indera penciuman.

    Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

    Beberapa Cara Lain untuk Membantu Meredakan Anosmia

    Berikut ini adalah beberapa cara lain untuk membantu meredakan anosmia selain bahan makanan.

    Melakukan Terapi Penciuman

    Terapi ini bisa Sahabat gunakan untuk membantu meredakan, yaitu dengan menggunakan minyak esensial. Tujuan penggunaan minyak ini adalah untuk mengembalikan kemampuan indera penciuman dan pengecap. Menurut beberapa penelitian, terapi ini cukup efektif merangsang mekanisme pemulihan alami tubuh yang tidak peka terhadap bau. Beberapa jenis minyak esensial yang disarankan adalah beraroma tajam seperti kayu manis, vanilla, jeruk, dan pisang. Caranya adalah dengan menghirup minyak selama 20-40 detik. Lakukanlah sebanyak 2-3 kali sehari.

    Produk Terkait: Jual Owellness Pure Bliss Diffuser Oil

    Berhenti Merokok

    Ternyata kebiasaan merokok juga bisa menyebabkan anosmia dan malah memperparah hal tersebut. Hal itu karena rokok dapat menumpulkan kepekaan beragam indera termasuk penciuman. Untuk itu cara terbaik adalah berhenti merokok agar dapat bisa mencium bau kembali.

    Operasi

    Ini adalah cara terakhir untuk membantu meredakan anosmia yang berkaitan dengan penyumbatan saluran pernapasan seperti polip, tumor, atau kelainan bentuk tulang di dalam hidung yang terkadang tidak bisa disembuhkan dengan obat. Dokter umumnya merekomendasikan operasi untuk mengangkat polip, tumor untuk melapangkan saluran pernapasan yang tersumbat tersebut.

    Baca Juga: Inilah 5 Perbedaan Kanker dan Tumor yang Perlu Sahabat Ketahui

    Itulah beberapa bahan makanan pereda anosmia yang bisa Sahabat gunakan untuk membantu meredakan gejala tersebut. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai bahan makanan tradisional dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Nabila F. 5 Makanan yang Bisa Bantu Mengatasi Hilangnya Penciuman dan Rasa [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 15 February 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5311487/5-makanan-yang-bisa-bantu-mengatasi-hilangnya-penciuman-dan-rasa
    2. 5 Cara Alami Atasi Anosmia [Internet]. CNNIndonesia.com. 2021 [cited 15 February 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201208131733-255-579361/5-cara-alami-atasi-anosmia
    3. Media K. 4 Cara Mengatasi Anosmia dengan Obat dan Secara Alami [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 15 February 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/12/04/101000668/4-cara-mengatasi-anosmia-dengan-obat-dan-secara-alami?page
    Read More
  • Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh varian virus corona baru, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Cina pada akhir 2019 kemarin. Sampai saat ini para ilmuan dan ahli kesehatan masih terus melakukan penelitian untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan penyakit ini, seperti gejala dan cara penanganannya. Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari Umumnya gejala […]

    Tanda dan Gejala COVID-19: Delirium, Happy Hypoxia, dan Anosmia. Yuk Kenali Perbedaannya!

    Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh varian virus corona baru, pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Cina pada akhir 2019 kemarin. Sampai saat ini para ilmuan dan ahli kesehatan masih terus melakukan penelitian untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan penyakit ini, seperti gejala dan cara penanganannya.

    tanda dan gejala Covid-19

    Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    Umumnya gejala bisa timbul pada saat seseorang yang terinfeksi terpapar setelah dua hari oleh virus corona, walaupun masa inkubasi pada virus ini sekitar 5-6 hari. Gejala umum yang muncul pada  pasien Covid-19 adalah demam, batuk, sakit kepala, sesak napas, hingga kelelahan. Namun, kini berbagai fakta baru mengenai virus tersebut mulai terungkap.

    Berdasarkan penelitian para ahli medis, menunjukan bahwa varian baru dari mutasi virus corona ini lebih mudah menyebar dari orang ke orang. Sejauh ini mereka berhasil mengidentifikasi beberapa gejala dari virus corona jenis baru, SARS-CoV-2. Diantaranya adalah delirium, happy hypoxia, dan anosmia.

    Yuk cari tahu gejala dan penanganan yang tepat!

    1. Delirium

    Penyakit ini merupakan gejala baru dari COVID-19 yang menyerang mental si penderita. Biasanya penyakit ini dialami oleh penderita lansia. Delirium sendiri merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami gangguan seperti kebingungan berat dan kurangnya kesadaran. Penderita akan merasa seperti sedang bermimpi. Kondisi seperti ini terjadi akibat adanya disfungsi otak pada penderita COVID-19.

    Gejalanya pun muncul secara fluktuatif dan bisa berkembang cepat dalam beberapa jam atau hari. Beberapa gejalanya sebagai berikut:

    1. Sulit fokus dan mudah teralihkan
    2. Sering melamun dan lambat dalam merespon
    3. Menurunnya daya ingat
    4. Sulit berbicara
    5. Suka behalusinas
    6. Mudah tersinggung dan pergantian mood yang ekstrem serta merasa gelisah
    7. Kebiasaan tidur berubah
    8. Kesadaran berkurang
    9. Depresi
    10. Kebingungan
    11. Komplikasi neurologis yang parah dan jaran terjadi, seperti stroke, radang otak, dan kerusakan syaraf

    Bagaimana penanganan pada penderita delirium?

    • Pada usia dewasa sampai lajut usia, diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan pengobatan, karena gejala delirium sangat mirip dengan demensa. Oleh karena itu, pengobatannya tentu saja berbeda.
    • Delirium biasanya juga dapat diiatasi berdasarkan penyebabnya, seperti pemberian obat tertentu.
    • Delirium yang disebabkan oleh serangan asma yang parah, bisa diatasi dengan pemberian inhaler atau oksigen untuk membantu system pernapasannya.
    • Dokter juga dapat memberikan antibiotic, apabila delirium disebabkan oleh infeksi bakteri.
    • Dokter juga dapat menyarankan untuk berhenti konsumsi alcohol atau obat tertentu kepada penderita dalam beberapa kasus.
    • Delirium yang disebabkan oleh tekanan emosional, dapat ditasi dengan memberikan antidepresan, obat penenang, atau tiamin.
    • Pemberian konseling agar penderita merasa nyaman dan untuk mendiskusikan pikiran dan perasaannya.

    2. Happy Hypoxia

    Tanda yang muncul pada Covid-19 di antaranya adalah  happy hypoxia yang ditandai dengan saturasi oksigen dalam darahnya menurun, namun orang tersebut tidak merasakan sesak hingga berakibat fatal. Oleh karena itu, penyakit ini sangat diwaspadai oleh banyak orang karena dapat membahayakan nyawa.

    Baca Juga: Apakah Gangguan Delirium Merupakan Gejala Baru Covid-19?

    Dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan MSc, SpP, mengatakan bahwa happy hypoxia terjadi karena adanya kerusakan pada sistem saraf yang mengantarkan sensor sesak ke otak. Kondisi tersebut mengakibatkan otak tidak dapat memberi respon, sehingga tidak mengenal adanya kekurangan oksigen dalam darah.

    Berikut beberapa gejala happy hypoxia pada pasien COVID-19

    1. Terus bertambahnya gejala COVID-19

    Kekurangan oksigen dalam darah yang memicu organ bereaksi sehingga menimbulkan berbagai gejala lainnya.

    2. Batuk bertambah dan terus menerus

    Batuk yang diperparah oleh kurangnya oksigen membuat batuk semakin keras dikarenakan paru-paru tidak memiliki cukup pertukaran CO2 dengan oksigen.

    3. Tubuh semakin lemas

    Oksigen yang kurang dapat mengakibatkan tubuh semakin lama semakin lemas, bahkan hingga hilang kesadaran

    4. Detak jantung menjadi cepat atau sebaliknya menjadi lemah

    5. Warna bibir dan ujung jari mulai kebiruan

    Apabila warna bibir dan ujung jari sudah mulai membiru, itu menjadi pertanda bahwa oksigen tidak tersebar keseluruh tubuh

    Penanganan yang tepat untuk mengatasi happy hypoxia antara lain:

    • Pemberian oksigen

    Bertujuan untuk meningkatkan kadar oksigen dalam tubuh. Bisa diberikan melalui masker atau selang hidung, terapi hiperbarik, atau alat bantu napas (ventilator)

    • Obat-obatan

    Pemberian obat dimaksudkan untuk mengobati penyebab timbulnya happy hypoxia. Seperti inhaler atau obat asma, obat golongan kortikosteroid untuk peradangan paru, antibiotik untuk infeks bakterii, dan obat anti kejang untuk meredakan kejang.

    3. Anosmia

    Anosmia merupakan stilah yang digunakan pada suatu kondisi menghilangnya kemampuan indera penciuman secara total. Melansir laman Harvard Medical School (HMS), anosmia adalah gejala neurologis utama dan merupakan salah satu gejala Covid-19 paling awal dan yang paling sering dilaporkan.

    Orang yang menderita anosmia tidak dapat mencium aroma apapun, baik aroma bunga atau parfum maupun baru tdak sedap seperti bau busuk dan bau amis.

    Baca Juga: Parosmia dan Phantosmia, Gejala-gejala Baru Covid-19, Apa Saja Perbedaannya?

    Berikut beberapa penyebab anosmia:

    • Pembengkakan atau penyumbatan pada rongga hidung yang membuat bau atau aroma tertentu tidak dapat terdeteksi oleh saraf dalam hidung.
    • Adanya masalah pada system saraf yang berfungsi untuk mendeteksi aroma.

    Cara penangnan anosmia:

    • Istirahat yang cukup
    • Minum air putih lebih banyak
    • Konsumsi obat penurun panas dan multivitamin
    • Jika muncul gejala Covid-19 yang lebih berat, segera hubungi dokter untuk penanganan yang lebih tepat.

    Itulah Sahabat mengenai tanda dan gejala Covid-19, delirium, happy hypoxia, dan anosmia. Apabila Sahabat merasakan gejala-gejala di atas, yuk jangan ragu untuk tes Covid-19 di Prosehat. Caranya cukup mudah, Sahabat bisa mengakses via website dan aplikasi lalu pilih Layanan Kesehatan dan klik Rapid Test Covid-19. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Nabila F. Terpopuler Sepekan: Fakta-fakta Delirium, Gejala Terbaru COVID-19 [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5302554/terpopuler-sepekan-fakta-fakta-delirium-gejala-terbaru-covid-19
    2. Kenali Delirium, Gejala Baru Covid-19 yang Perlu Diwaspadai Halaman 2 | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.merdeka.com/jateng/kenali-delirium-gejala-baru-covid-19-yang-perlu-diwaspadai.html?page=2
    3. Media K. Penyakit Delirium: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/07/25/133400268/penyakit-delirium–gejala-penyebab-dan-cara-mengatasinya?page=all#:~:text=Cara%20mengatasi,atau%20oksigen%20untuk%20megenbalikan%20pernapasan.
    4. What’s Delirium and How Does It Happen? [Internet]. Healthline. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.healthline.com/health/delirium#treatment
    5. [Internet]. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200916145443-255-547227/tanpa-sesak-kenali-4-tanda-utama-happy-hypoxia-pada-covid-19
    6. Media K. Simak 3 Gejala Baru Covid-19, dari Anosmia hingga Parosmia Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 28 January 2021]. Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/05/193500365/simak-3-gejala-baru-covid-19-dari-anosmia-hingga-parosmia?page=all
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja