Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ anestesi”

  • Anestesi atau pembiusan berasal dari bahasa Yunani yaitu an– yang artinya tidak atau tanpa, dan aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan/operasi dan tindakan lain yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh. Prosedur anestesi atau bius ini dilakukan terutama untuk […]

    Anestesi pada Anak

    Anestesi atau pembiusan berasal dari bahasa Yunani yaitu an– yang artinya tidak atau tanpa, dan aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan/operasi dan tindakan lain yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh. Prosedur anestesi atau bius ini dilakukan terutama untuk keperluan tindakan pembedahan.

    Anastesi atau bius, umumnya dibagi menjadi 3, yaitu:

    1. Anestesi atau bius lokal (topikal)

    Anestesi ini dilakukan pada prosedur tindakan medis berupa pembedahan minor pada bagian tubuh yang kecil dan pasien masih dalam keadaan sadar penuh, misalnya operasi gigi.

    2. Anestesi atau bius regional

    Anestesi ini dilakukan untuk pembedahan pada bagian tubuh yang lebih besar. Pada kondisi ini pasien mati rasa hanya sebagian tubuh saja, dan pasien masih dalam keadaan sadar penuh. Contoh anestesi regional adalah pada pembedahan operasi sesar yaitu dengan penyuntikan pada area sumsum tulang belakang yang bertujuan memblokade saraf spinal.

    3. Anestesi atau bius umum (total)

    Anestesi atau bius ini dilakukan pada tindakan medis atau pembedahan yang lebih besar. Anestesi dilakukan dengan cara inhalasi (sungkup gas) dan penyuntikan melalui pembuluh darah. Pada anestesi tersebut, pasien dalam keadaan tertidur atau tidak sadar, sehingga tidak ada nyeri yang ditimbulkan selama operasi berlangsung.

    Dari ketiga tindakan anestesi atau bius di atas, yang sering dilakukan pada anak adalah anestesi atau bius total, untuk menghindari efek psikologis pada anak seperti rasa cemas, nyeri, maupun trauma akan tindakan medis yang dilakukan, serta untuk memberikan rasa nyaman. Tindakan premedikasi sebelum melakukan tindakan bius terhadap anak sangatlah penting untuk menentukan keberhasilan tindakan bius tersebut.

    Psikologis anak sangat besar pengaruhnya, sehingga diperlukan pertimbangan khusus saat melakukan tindakan pembiusan pada anak:

    1. Usia

    Pada usia bayi di bawah 6 bulan, anak masih dapat dipisahkan dengan orang tuanya karena bayi masih belum mengerti dengan lingkungan sekitarnya sehingga prosedur anestesi dapat lebih mudah untuk dilakukan. Sedangkan pada usia bayi 6-12 bulan, bayi sudah mengenal orang tua dan lingkungan sekitar sehingga ketika bayi dipisahkan dengan kedua orang tuanya lalu dipindahkan ke tempat asing (misalnya kamar operasi), maka bayi akan rewel karena mulai timbul perasaan cemas. Sedangkan pada anak usia 1 – 6 tahun, maka anak sudah mulai dapat mengamati prosedur medis apa saja yang akan dilakukan terhadap dirinya, timbul rasa khawatir dan takut karena harus dipisahkan dengan orang tuanya selama prosedur medis dilakukan, serta takut melihat ruangan atau lingkungan asing yang belum pernah mereka datangi, sehingga anak pada usia ini akan berontak dan sulit untuk dibujuk.

    Sedangkan pada usia 6-18 tahun, pola pikir anak sudah mulai berkembang sehingga apabila tenaga medis dapat melakukan pendekatan yang baik, maka walaupun anak dalam kondisi cemas dan khawatir, anak sudah mulai bisa kooperatif sehingga prosedur pembiusan dapat lebih mudah untuk dilakukan. Pada usia ini, kunci keberhasilan ada ditangan petugas medis, baik itu perawat maupun dokter anestesi, apabila tenaga medis dapat membangun rasa percaya si anak dan menimbulkan rasa keberanian dalam diri si anak, maka prosedur pembiusan dan pembedahan dapat berlangsung dengan baik.

    2. Riwayat penyakit yang diderita anak

    Apabila anak yang akan menjalani prosedur pembiusan telah dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama, maka pendekatan psikologis yang dilakukan tenaga medis harus lebih sabar dan hati-hati, karena anak cenderung rewel dan lelah akan prosedur-prosedur medis yang telah ia jalani.

    Mengingat tindakan medis yang dapat akan dilakukan dapat berisiko memberikan efek trauma pada usia dewasa, maka pemberian premedikasi (obat yang diberikan sebelum tindakan pembiusan) dapat diberikan pada anak. Tujuan pemberian premedikasi yaitu :

    1. Menghilangkan atau mengurangi rasa takut, cemas dan gelisah pada anak ketika anak masuk ke kamar operasi.
    2. Mencegah perubahan emosi anak seperti marah, rewel atau berontak saat akan dilakukan tindakan operasi.
    3. Mempermudah induksi anestesi.
    4. Mengurangi sekret atau lendir pada saluran napas sebelum dioperasi akibat anak menangis.

    Premedikasi ini umumnya tidak dibutuhkan pada pasien bayi usia 1-6 bulan mengingat  anak di usia tersebut belum memahami lingkungan asing di sekitarnya, sehingga lebih kooperatif dibandingkan usia anak.

    Pada anak, pemberian anestesi harus berjalan halus sehingga dokter anestesi harus bersikap bersahabat dengan pasien dan mengurangi rasa cemas pada anak untuk memaksimalkan rasa nyaman anak saat dianestesi.

    Persiapan yang dilakukan sebelum prosedur anestesi:

    1. Evaluasi dan persiapan anestesi

    Evaluasi dan persiapan pada pasien meliputi pemeriksaan laboratorium darah sesuai indikasi, untuk menilai apakah pasien aman untuk dilakukan tindakan anestesi dan pembedahan. Pemeriksaan dokter anestesi sebelum pembedahan dilakukan untuk menilai kondisi klinis anak dan meningkatkan kepercayaan anak terhadap dokter anestesi.

    2. Puasa

    Puasa yang dianjurkan pada anak yaitu stop susu 4 jam dan pemberian air gula 2 jam sebelum prosedur anestesi dilakukan pada umur <6 bulan. Stop susu 6 jam dan pemberian air gula 3 jam sebelum prosedur anestesi dilakukan untuk usia 6-36 bulan. Stop susu 8 jam dan pemberian air gula 3 jam sebelum anestesi pada usia >36 bulan. Pada anak yang hampir dewasa, puasa dilakukan 6-8 jam seperti orang dewasa.

    3. Infus

    Sebelum tindakan anestesi dan pembedahan, maka anak akan dipasang infus. Pemasangan infus bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasien karena pasien harus puasa. Cairan infus dapat dipasang minimal 3 jam sebelum tindakan operasi dilakukan, selain untuk mengoreksi cairan pada pasien, pemasangan infus dilakukan untuk mempermudah akses masuknya obat bius.

    4. Memastikan keberadaan orang tua pasien

    Pada usia anak, antara rentang 6 bulan sampai 4 tahun, keberadaan orang tua sangat diperlukan karena anak akan cemas dan takut pada prosedur medis yang akan dilakukan sehingga keberadaan orang tua sangat diperlukan bagi anak. Pada saat anak mulai sedasi atau tertidur akibat efek anestesi maka keberadaan orang tua tidak diperlukan lagi.

    Anestesi pada anak jelas berbeda dengan prosedur anestesi orang dewasa. Pada anak, diharapkan tenaga medis lebih bersabar dalam menghadapi anak yang cemas dan rewel karena tindakan medis pada usia anak akan berpengaruh sampai mereka dewasa seperti fobia terhadap peralatan medis dan rumah sakit.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Ellen Whipple Guthrie, G. (2018). General Anesthesia in Pediatric Patients. [online] Stage.uspharmacist.com. Available at: stage.uspharmacist.com/article/general-anesthesia-in-pediatric-patients [Accessed 8 Dec. 2018].
    2. HealthyChildren.org. (2018). Anesthesia Safety for Infants and Toddlers: Parent FAQs. [online] Available at: healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx [Accessed 8 Dec. 2018].
    3. HealthyChildren.org. (2018). Anesthesia Safety for Infants and Toddlers: Parent FAQs. [online] Available at: healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx [Accessed 8 Dec. 2018].
    4. Kidshealth.org. (2018). Anesthesia Basics. [online] Available at: kidshealth.org/en/parents/anesthesia-basics.html [Accessed 8 Dec. 2018].
    5. Mary Ellen McCann, S. (2018). General anesthetics in pediatric anesthesia: Influences on the developing brain. [online] PubMed Central (PMC). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4172352/ [Accessed 8 Dec. 2018].
    Read More
  • Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti […]

    Persiapan yang Diperlukan Sebelum Pembiusan atau Anestesi

    Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan (operasi) dan atau tindakan lainnya yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh.

    Umumnya, anestesi pada pembedahan besar dilakukan oleh ahli anestesi yaitu Dokter Spesialis Anestesi. Peran seorang Dokter Anestesi sangatlah penting mulai dari sebelum pembedahan yaitu memastikan bahwa kondisi pasien saat itu memungkinkan untuk dilakukan tindakan pembiusan dan tindakan operasi. Sedangkan pada saat tindakan operasi, seorang Dokter Anestesi berperan agar pasien nyaman saat tindakan operasi, dengan cara memastikan dan memantau pasien dalam keadaan mati rasa, pasien dalam keadaan tidak sadar atau tertidur saat pembedahan dan memantau rasa sakit saat pembedahan berlangsung (dengan memantau monitor tanda-tanda vital pasien). Sedangkan peran setelah prosedur anestesi, seorang Dokter Anestesi memastikan pasien sadar kembali setelah dilakukan pembiusan, meminimalkan efek samping dari pembiusan dan memantau tanda-tanda vital pasien setelah tindakan pembiusan serta mengatasi rasa sakit yang mungkin timbul akibat pembedahan.

    Peran Dokter anestesi sangatlah penting dalam kesuksesan suatu operasi. Namun untuk tindakan-tindakan pembedahan ringan yang hanya memerlukan anestesi lokal, tidak selalu dikerjakan oleh Dokter Spesialis Anestesi.

    Anestesi bekerja dengan cara mem-block sinyal pada jaringan saraf dari rasa sakit akibat tindakan medis yang diberikan (misalnya, pada kasus pembedahan). Jenis anestesi yang umum digunakan:

    1. Anestesi lokal
    2. Anestesi regional
    3. Anestesi umum atau general

    Anestesi lokal

    Anestesi lokal digunakan pada tindakan medis yang sifatnya minor (operasi kecil). Pada tindakan yang dilakukan dengan anestesi lokal, pasien akan tetap sadar dan terbangun. Misalnya anestesi pada tindakan pencabutan gigi (penyuntikan, penyemprotan atau pengolesan anestesi lokal hanya di bagian gusi pada gigi yang mau dicabut), atau tindakan medis kulit wajah pada perawatan wajah menggunakan anestesi krim yang dioles pada bagian wajah yang akan ditindak.

    Anestesi regional

    Pada anestesi regional, bagian tubuh yang mati rasa relatif lebih luas dibandingkan anestesi lokal, namun pasien masih dalam keadaan sadar. Contoh penggunaan anestesi regional  yang paling sering adalah pada operasi sesar. Saat tindakan operasi sesar, pasien akan merasakan mati rasa di bagian pinggang, perut sampai ujung kaki tanpa kehilangan kesadaran. Anestesi diberikan dengan cara penyuntikan di bagian tulang belakang.

    Anestesi umum atau general

    Anestesi umum dilakukan untuk tindakan operasi yang lebih besar. Pada kondisi ini, pasien dalam keadaan tertidur atau tidak sadar. Contoh operasi besar yang dilakukan dengan bius total misalnya operasi otak, operasi jantung, operasi pembedahan perut. Anestesi umum atau bius total dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara inhalasi (menghirup gas yang berisi obat anestesi) atau suntikan melalui intravena atau pembuluh darah.

    Sebelum melakukan tindakan anestesi, ada beberapa prosedur atau persiapan yang harus dilakukan yaitu :

    1. Menentukan apakah pasien layak dilakukan prosedur anestesi. Misalnya:

    • Pasien mempunyai riwayat alergi terhadap suatu obat tertentu.
    • Pasien memiliki alergi atau infeksi di area yang akan diinjeksikan (misalnya pada pasien dengan anestesi epidural, pasien memiliki luka pada tulang belakang).
    • Pasien menderita nyeri punggung kronik atau disebut dengan LBP (Low Back Pain).
    • Riwayat pengobatan yang diberikan pasien misalnya, pasien sedang mengonsumsi obat-obatan pengencer darah seperti aspirin, penggunaan obat nyeri yang berlangsung lama.
    • Riwayat penyakit pasien atau kondisi pasien saat ini yang tidak memungkinkan untuk dapat dilakukan anestesi, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung tidak terkontrol, diabetes tidak terkontrol, usia pasien yang terlalu tua.

    2. Tes Darah

    Sebelum melakukan tindakan pembedahan dan anestesi, pasien diminta untuk melakukan tindakan tes laboratorium darah untuk menilai jumlah Hemoglobin (Hb) atau jumlah sel darah merah untuk mempersiapkan apakah pasien memerlukan transfusi darah selama operasi berlangsung, serta menilai apakah jumlah leukosit (penanda infeksi) terlalu tinggi misalnya pada pasien sepsis (jumlah bakteri pada pembuluh darah terlalu tinggi) maka anestesi total tidak dapat dilakukan.

    3. Elektrokardiogram (EKG)

    Pemeriksaan EKG atau rekam jantung untuk menilai apakah pasien mempunyai kelainan listrik jantung. Pada pasien yang menderita kelainan listrik pada jantung maka akan dipertimbangkan apakah dapat dilakukan atau tidak prosedur anestesi tersebut.

    4. Puasa sebelum tindakan anestesi umum dan tindakan pembedahan

    Pada umumnya puasa dilakukan sebelum tindakan anestesi umum atau bius total dan pembedahan bertujuan untuk mengosongkan lambung. Pengosongan lambung bertujuan untuk me-minimalisasi masuknya makanan dari lambung ke paru-paru pada saat dilakukan prosedur anestesi. Masuknya sisa makanan ke dalam sistem pernapasan akan mengganggu jalan napas. Untuk itu, dokter sering kali menyarankan untuk melakukan puasa minimal 8 jam. Namun, pada kasus-kasus tertentu, misalnya operasi darurat yang memerlukan tindakan segera, tidak diperlukan persiapan puasa yang panjang.

    EFEK SAMPING YANG MUNGKIN TIMBUL SETELAH ANESTESI

    Pada umumnya, anestesi jarang memberikan efek samping pada pasien, terutama apabila pasien hanya melakukan anestesi lokal saja atau kondisi pasien dalam keadaan baik. Efek samping yang timbul dapat bervariasi antara satu pasien dengan yang lain. Faktor yang ikut berpengaruh adalah usia pasien, riwayat penyakit pasien, respons tubuh seseorang terhadap obat-obatan yang diberikan selama pembiusan, riwayat konsumsi obat-obatan pengencer darah, riwayat kebiasaan atau gaya hidup pasien seperti kebiasaan mengkonsumsi alkohol, rokok atau obat-obatan terlarang.  Pada pasien sehat, timbulnya efek samping setelah anestesi harus tetap diantisipasi. Efek sampiang yang sering timbul antara lain menggigil, nyeri pada tenggorokan (pada anestesi total dengan alat bantu napas), infeksi pada saluran napas (pneumonia), nyeri kepala, bingung atau kehilangan ingatan sementara (biasa terjadi pasien dengan usia tua), mual dan muntah.

    instal aplikasi prosehat Referensi:

    1. (2018). Prepare yourself mentally and physically before surgery. [online] Available at: health24.com/Medical-schemes/Hospitals/Prepare-yourself-mentally-and-physically-before-surgery-20150421 [Accessed 7 Dec. 2018].
    2. Newman, T. and Deborah Weatherspoon, C. (2018). General anesthesia: Side effects, risks, and stages. [online] Medical News Today. Available at: medicalnewstoday.com/articles/265592.php [Accessed 7 Dec. 2018].
    3. uk. (2018). General anaesthesia. [online] Available at: nhs.uk/conditions/general-anaesthesia/ [Accessed 7 Dec. 2018].
    4. (2018). What Is General Anesthesia?. [online] Available at: webmd.com/a-to-z-guides/what-is-general-anesthesia#1 [Accessed 7 Dec. 2018].
    5. Zambouri, A. (2018). Preoperative evaluation and preparation for anesthesia and surgery. [online] PubMed Central (PMC). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2464262/ [Accessed 7 Dec. 2018].
    Read More
  • Mendengar kata ‘bius’ mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Pembiusan sendiri atau di dalam dunia medis disebut dengan istilah anestesi berasal dari bahasa Yunani yaitu “anaesthesia” yang berarti tidak dapat merasakan. Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa anestesi adalah suatu kondisi dimana terjadi kehilangan sensasi atau kesadaran sementara akibat pengaruh obat-obatan anestesi dengan tujuan menghilangkan […]

    Anestesi Umum/Bius Total, Bagaimana Proses dan Persiapannya?

    Mendengar kata ‘bius’ mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Pembiusan sendiri atau di dalam dunia medis disebut dengan istilah anestesi berasal dari bahasa Yunani yaitu “anaesthesia” yang berarti tidak dapat merasakan. Dari kata tersebut dapat diartikan bahwa anestesi adalah suatu kondisi dimana terjadi kehilangan sensasi atau kesadaran sementara akibat pengaruh obat-obatan anestesi dengan tujuan menghilangkan nyeri pembedahan. Anestesi memiliki hubungan yang erat dengan dunia kedokteran terutama dalam proses operasi.

    Secara umum, anestesi dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu anestesi lokal, anestesi regional, dan anestesi umum. Dokter anestesi akan melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien dan akan menentukan tindakan anestesi yang sesuai dengan kondisi pasien dan prosedur operasi yang akan dilakukan.

    Anestesi umum atau yang sering disebut sebagai bius total merupakan kondisi yang dibuat untuk menimbulkan analgesia (hilangnya rasa nyeri), amnesia (hilangnya memori selama proses operasi), karena tentunya pasien tidak ingin mengingat tindakan yang dilakukan pada saat operasi agar pasien merasa lebih nyaman, dan menghilangkan kesadaran pasien. Anestesi umum sering dipilih ada kasus operasi besar seperti operasi otak, operasi tulang belakang, pembedahan pada jantung, cangkok ginjal atau pada tindakan operasi di mana lokasi pembedahan sulit dijangkau dengan anestesi lokal maupun regional, misal pada pengangkatan tumor payudara, pengangkatan tiroid, pengangkatan amandel, dan lain-lain.

    Jenis Obat untuk Anestesi Umum

    Terdapat empat jenis obat yang umum digunakan pada anestesi umum. Pertama, obat-obat yang bersifat sedatif, yang berfungsi menidurkan dan mempertahankan pasien dalam kondisi tidur. Kedua, obat-obatan anti-nyeri yang berfungsi menjaga pasien agar tidak merasakan nyeri saat pembedahan, karena rangsang nyeri dapat membangunkan pasien dan membuat kondisi pasien menjadi tidak stabil. Ketiga, obat-obatan amnestic dan anxiolitik yang memiliki fungsi untuk menghilangkan ingatan pasien selama proses pembedahan karena proses pembedahan bukan merupakan hal yang menyenangkan untuk pasien dan memberi pasien kondisi yang lebih tenang selama proses pembiusan. Keempat, obat pelemas otot yang berfungsi untuk melemaskan otot pasien, sehingga pada saat operasi, dokter bedah dapat leluasa melakukan manuver pembedahan.

    Sebelum dilakukan tindakan anestesi umum, ada beberapa persiapan yang harus dijalani pasien. Enam sampai delapan jam sebelum tindakan operasi, pasien diminta untuk berpuasa. Tujuan puasa adalah untuk mengosongkan lambung. Lambung yang terisi makanan pada pasien yang menjalani anestesi berisiko menimbulkan aspirasi (masuknya isi lambung ke jalan napas) sehingga fungsi pernapasan akan terganggu.

    Pasien yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti alergi, asma, wajib menginformasikan kondisi tersebut pada dokter anestesi. Informasi tersebut bermanfaat dalam pemilihan obat-obat yang akan digunakan selama proses operasi dan pembiusan untuk menghindari reaksi alergi yang membahayakan pasien.

    Saat akan memasuki ruang operasi, biasanya pasien diberikan obat penenang. Obat penenang ini bermanfaat untuk mengurangi rasa tegang pasien selama proses persiapan. Setelah tim dan peralatan untuk operasi lengkap, pasien akan dilakukan pembiusan dengan obat anestesi, melalui jalan infus maupun dengan inhalasi melalui masker. Setelah pasien tidak sadar, napas pasien akan dibantu beberapa alat bantu napas yang akan dipasang di jalan napas agar napas tetap terkontrol dan stabil. Setelah itu proses pembedahan akan dimulai. Selama proses pembedahan, pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim anestesi dan akan dikondisikan agar semua sistem di tubuh pasien dalam keadaan stabil.

    Setelah proses pembedahan selesai, obat-obat anestesi akan dihentikan, dan pasien akan dibangunkan. Alat bantu napas umumnya dilepas setelah pasien mulai bangun. Setelah bangun dan stabil, pasien akan dibawa ke ruang pemantauan pasca pembedahan untuk tindakan pengawasan. Pasien dipindahkan ke ruang rawat inap setelah kondisi benar-benar stabil.

    Sebelum operasi selesai,  pasien akan diberikan obat anti-nyeri untuk mengurangi nyeri pasca pembedahan. Apabila dalam perawatan pasca bedah pasien masih merasa nyeri yang mengganggu, pasien dapat menginformasikan tim medis agar diberikan tambahan obat anti-nyeri.

    Risiko Tindakan Anestesi Umum

    Setiap tindakan kedokteran, pasti memiliki risiko dan efek samping. Tidak semua efek samping ini timbul, dan tidak semua efek samping yang timbul membahayakan.

    Pada anestesi umum, salah satu risiko yang ditakutkan adalah kegagalan dalam mengontrol jalan napas pasien. Namun, dokter dan tim anestesi biasanya sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut serta mempersiapkan seluruh peralatan yang diperlukan jika risiko tersebut terjadi. Efek samping lain yang umum dirasakan pasien adalah rasa tidak nyaman pada mulut dan tenggorokan akibat pemasangan alat bantu napas selama tindakan operasi. Risiko kematian akibat tindakan anestesi saat ini sangan jarang terjadi. Di Amerika, pada awal tahun 2000, kematian akibat anestesi adalah 1 dari 100.000 tindakan.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Adler, A. (2018). General Anesthesia: General Considerations, Preoperative Period, Intraoperative Period. [online] Emedicine.medscape.com. Available at: emedicine.medscape.com/article/1271543-overview [Accessed 7 Dec. 2018].
    2. Li, G., Warner, M., Lang, B., Huang, L. and Sun, L. (2009). Epidemiology of Anesthesia-related Mortality in the United States, 1999–2005. Anesthesiology, 110(4), pp.759-765.
    3. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
    4. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
    Read More
  • “Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?” Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada […]

    Anestesi pada Operasi Sesar

    “Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?”

    Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada persalinan normal, dan juga dapat dilakukan apabila pasien dan keluarga yang meminta.

    Tentunya pada setiap proses operasi sesar akan melibatkan tindakan anestesi atau pembiusan. Anestesi regional, baik spinal maupun epidural lebih direkomendasikan daripada anestesi umum. Hal ini didasari adanya perubahan fisik pada ibu hamil, di mana obat-obatan yang digunakan pada anestesi umum dapat berisiko mengganggu pernapasan janin setelah lahir. Selain itu, terdapat perubahan pada pengosongan lambung ibu menjadi lebih lambat, sehingga anestesi umum berisiko memicu aspirasi, yaitu masuknya cairan lambung ke paru-paru, sehingga  dapat menyebabkan infeksi paru.

    Anestesi regional adalah pembiusan untuk menghilangkan sensasi dari sebagian area di tubuh, misal menghilangkan sensasi dari pusar ke bawah, atau menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan yang berkaitan. Anestesi regional ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu blok sentral dan blok perifer. Blok sentral ialah pengeblokan pada saraf pusat yaitu saraf tulang belakang, proses ini dapat berupa blok spinal atau epidural. Blok Perifer merupakan tindakan pengeblokan saraf tepi, misalnya pada pengeblokan saraf brakialis untuk menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan pada salah satu sisi yang berkaitan. Anestesi regional yang umum digunakan pada proses sesar adalah spinal.

    Setiap tindakan pembiusan dan pembedahan pasti diperlukan persiapan agar operasi berjalan lancar dan aman. Pada 8 jam sebelum tindakan pembiusan, pasien akan dipuasakan terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk mengosongkan lambung, sehingga mencegah aspirasi, terutama apabila pasien membutuhkan anestesi umum karena anestesi regional gagal dilakukan. Tim anestesi akan melakukan pemeriksaan dan evaluasi. Pasien sebaiknya mengutarakan riwayat penyakit yang dideritanya, riwayat alergi, dan riwayat kebiasaan apabila ada konsumsi zat-zat seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan lainnya untuk mencegah terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan saat pembiusan. Selama persiapan, pasien boleh berbaring dengan posisi miring ke kiri, hal ini bertujuan agar melancarkan aliran darah balik ke jantung, serta membantu mengurangi risiko tekanan darah turun setelah proses pembiusan.

    Sebelum tindakan operasi sesar dimulai, pasien akan dipindahkan ke ruang operasi. Sesaat sebelum pembiusan dimulai, pasien akan diberi obat untuk mengurangi asam lambung dan anti mual. Lalu, setelah itu akan dilakukan pembiusan. Pada anestesi spinal, pasien akan diminta duduk atau tidur miring, kemudian dokter anestesi akan meminta pasien untuk menundukkan kepalanya agar dokter dapat lebih mudah melakukan perabaan tulang belakang. Setelah itu dokter akan membersihkan area tulang belakang yang akan disuntik dengan antiseptik, lalu dokter akan menusukkan jarum suntik khusus kemudian memasukkan obat anestesi ke cairan serebrospinal  (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang), kemudian pasien diminta untuk tidur telentang. Setelah itu, pasien akan merasakan kesemutan pada daerah pinggang ke bawah, kaki akan terasa berat dan tidak bisa digerakkan, juga daerah yang dibius tidak akan merasakan nyeri lagi. Setelah proses tindakan pembiusan selesai, dokter kebidanan akan melakukan tindakan operasi, selama tindakan operasi pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim medis. Apabila pasien merasa sesak, atau mual, atau ada keluhan lainnya, harus segera dilaporkan ke tim medis.

    Selama proses operasi, pasien akan merasakan kalau ada yang ditarik, atau perut terasa digoyang-goyangkan namun tidak terasa nyeri. Selama operasi, pasien akan tetap sadar, karena setelah bayi lahir, bayi yang sudah dibersihkan akan diberikan kepada ibunya dan tentunya ini adalah momen kebahagiaan para ibu.

    Setelah operasi selesai, umumnya pasien masih belum dapat merasakan sensasi pada area yang dibius. Satu setengah jam setelah proses pembiusan, pasien mulai merasakan sensasi kembali secara perlahan, kaki pun perlahan-lahan mulai bisa digerakkan. Saat obat anestesi berangsur-angsur habis, dokter akan memberikan obat anti nyeri untuk mengurangi nyeri pasca operasi. Apabila pasien masih merasakan nyeri, jangan ragu untuk mengutarakannya kepada tim medis karena dokter anestesi akan memberikan obat anti nyeri tambahan.

    Terdapat beberapa hal penting yang harus dipatuhi pasien setelah prosedur pembiusan pada operasi caesar. Pertama, jangan mengangkat kepala selama 8-12 jam setelah pembiusan, karena hal ini dapat menimbulkan nyeri kepala yang hebat dan sangat mengganggu, tetapi untuk gerakan seperti miring ke kiri maupun kanan masih diperbolehkan asalkan tidak mengangkat kepala.

    Efek Samping Bius (Anestesi)

    Setiap tindakan pembiusan memiliki risiko dan efek samping. Pada anestesi spinal, efek samping yang sering terjadi adalah mual, karena pembiusan spinal memiliki risiko penurunan tekanan darah yang cukup besar. Oleh karena itu, tim anestesi baik dokter dan perawat anestesi akan melakukan pemantauan ketat selama proses pembiusan dan pembedahan untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.

    Selain mual, efek samping yang dapat terjadi adalah nyeri kepala, tetapi dapat diatasi dengan tidak mengangkat kepala, kencing juga menjadi terganggu karena proses spinal, namun jangan khawatir karena pasien akan dipasang kateter urin. Efek samping yang jarang terjadi adalah reaksi alergi, kejang, dan kerusakan pada saraf.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
    2. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
    3. Suryati T. (ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2010) PERSENTASE OPERASI CAESARIA DI INDONESIA MELEBIHI STANDARD MAKSIMAL, APAKAH SESUAI INDIKASI MEDIS? [Internet]. Ejournal.litbang.depkes.go.id. 2012 [cited 8 December 2018]. Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/3031
    4. Gymrek R. Local and Regional Anesthesia: Overview, Indications, Contraindications [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 8 December 2018]. Available from: emedicine.medscape.com/article/1831870-overview

     

    Read More
  • Sebelum membahas jauh mengenai anestesi pada lahiran normal, kita harus ingat bahwa mengandung dan memiliki anak merupakan impian hampir seluruh wanita di dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang memiliki ketakutan jika hamil, yaitu ketakutan saat melahirkan nanti, sebagian takut merasa nyeri yang hebat saat melahirkan apalagi dengan apa yang beredar di masyarakat bahwa nyeri […]

    Anestesi pada Lahiran Normal, Mungkinkah?

    Sebelum membahas jauh mengenai anestesi pada lahiran normal, kita harus ingat bahwa mengandung dan memiliki anak merupakan impian hampir seluruh wanita di dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang memiliki ketakutan jika hamil, yaitu ketakutan saat melahirkan nanti, sebagian takut merasa nyeri yang hebat saat melahirkan apalagi dengan apa yang beredar di masyarakat bahwa nyeri melahirkan adalah nyeri yang paling hebat atau melahirkan adalah proses mempertaruhkan nyawa, yang sebenarnya ada benarnya. Terobosan dunia kedokteran mengenai sectio caesarea yang aman telah berkembang sejak awal abad ke-19 dan membawa angin segar bagi masalah persalinan. Namun, masalah baru muncul dimana banyak keyakinan di masyarakat bahwa persalinan normallah yang menjadikan seseorang wanita yang sesungguhnya ditambah beredarnya isu-isu bahwa adanya komplikasi perkembangan atau pertumbuhan pada anak yang dilahirkan secara sectio caesarea, sehingga menyebabkan banyak wanita masih mendambakan persalinan normal, sangat ingin melahirkan normal tapi takut terhadap rasa nyerinya demikian  permasalahan yang menuntun pada pertanyaan, apakah ada cara mengurangi rasa sakit yang timbul? Apakah anestesi dapat dilakukan pada lahiran normal? Setiap wanita merasakan nyeri saat melahirkan dengan tingkat yang berbeda-beda. Banyak faktor yang mempengaruhi rasa nyeri tersebut, termasuk ukuran dan posisi janin, kekuatan kontraksi dan ambang atau batasan nyeri yang mampu ditoleransi masing-masing orang. Namun, ada pula yang tidak memerlukan pereda nyeri atau anestesi saat melahirkan, beberapa hanya dengan relaksasi dan latihan pernafasan, hipnotis dan masase atau pemijatan.

    Anestesi berasal dari istilah anaesthesia atau loss of sensation yang berarti hilang rasa atau sensasi. Rasa atau sensasi yang dimaksud adalah semua sensasi yang mungkin dirasakan namun yang paling utama adalah sensasi nyeri. Anestesi secara cakupannya dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu anestesi lokal, anestesi regional, anestesi umum, sedasi dan kombinasi. Dari semua jenis anestesi tersebut yang sering digunakan dan dianggap aman ialah anestesi regional dengan epidural, blok spinal atau kombinasi keduanya, sedangkan dengan sedasi, efek yang dirasakan sangatlah sedikit bahkan tidak mampu membendung nyeri saat lahiran normal. Anestesi epidural telah ramai dipergunakan, di Britania misalnya diperkirakan setidaknya ada 100.000 kelahiran normal yang menggunakan anestesi epidural setiap tahunnya. Diperkirakan pula sekitar 60% atau 2,4 juta lahiran normal di seluruh dunia menggunakan anestesi ini atau kombinasi dengan blok spinal.

    Anestesi epidural dilakukan dengan cara memasang kateter (selang halus) melalui pembedahan kecil dengan bantuan anestesi lokal terlebih dahulu ke dalam rongga lumbar epidural (rongga tulang belakang di pinggang bagian bawah) kemudian obat-obatan anestesi lokal  atau opioid dimasukkan ke dalam. Sedangkan blok spinal dilakukan dengan cara penyuntikan obat-obatan tersebut pada lokasi yang sama. Pada anestesi epidural, hal ini akan menghilangkan rasa nyeri dari pinggang ke bawah tanpa memengaruhi fungsi motorik (gerak) sedangkan efeknya baru mulai dirasakan pada 10 hingga 20 menit kemudian. Pada anestesi blok spinal, rasa nyeri yang hilang mulai dari dada ke bawah dan efeknya lebih cepat (langsung). Namun, pada praktiknya anestesi epidural lebih sering digunakan, hal ini disebabkan anestesi epidural dapat digunakan selama apapun karena dosis obat dapat ditambah atau dikurangi secara leluasa sedangkan anestesi dengan blok spinal hanya dapat digunakan dengan durasi 1 hingga 2 jam. Sebagai sesama anestesi regional, umumnya kedua jenis anestesi ini memiliki komplikasi atau risiko yang sama pula, pada ibu misalnya, komplikasinya adalah sebagai berikut:

    • Efeknya dapat menyebabkan gangguan saat mengejan maupun kencing,
    • Jika efeknya dirasa hingga ke dada, hal ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan,
    • Jika jarum yang digunakan mencederai selaput pembungkus saraf tulang belakang, hal ini akan menyebabkan nyeri kepala hingga beberapa hari, namun dapat ditangani dengan obat-obatan.
    • Tekanan darah dapat turun mendadak, jika ini terjadi maka akan diberikan tambahan cairan dan obat-obatan yang dapat menaikkannya.
    • Anda juga dapat merasa pusing serta rasa mual saat atau setelah tindakan anestesi,
    • Jika jarum epidural menyentuh saraf tulang belakang, dapat menyebabkan sensasi tersengat listrik pada salah satu sisi kaki bahkan dapat menyebabkan cedera saraf,
    • Walaupun jarang, kemungkinan infeksi, bekuan darah atau abses epidural sangat mungkin terjadi
    • Pada blok spinal, efek dapat tiba-tiba berkurang, berbeda pada epidural yang dosisnya dapat ditambah untuk mengantisipasi kemungkinan itu terjadi.

    Sedangkan pada janin, komplikasinya adalah sebagai berikut:

    • Bayi Anda mungkin akan tertidur dan akan sangat menyulitkan pada inisiasi menyusui dini.
    • Penurunan mendadak dari tekanan darah ibu dapat mengakibatkan denyut jantung bayi dan laju pernafasannya melambat.

    Komplikasi-komplikasi atau risiko di atas dapat diperkecil dengan penilaian awal dari dokter untuk mengantisipasi hingga memberikan tatalaksana pencegahan sebelum proses lahiran normal. Penggunaan anestesi saat proses lahiran  normal bukanlah suatu kesalahan, justru Anda harus menyadari batas-batasan yang Anda punya, oleh  sebab itu, ketika Anda merasa tidak kuat jangan segan-segan mengemukakannya pada dokter untuk kemudian mendiskusikan alternatif-alternatif yang ada. Betapapun majunya atau menguntungkannya suatu tindakan kedokteran, tetap tidak terlepas dari kemungkinan adanya komplikasi atau efek samping yang mungkin terjadi, terutama jika prosedur yang seharusnya dilakukan ternyata tanpa sengaja dilakukan secara keliru. Oleh sebab itu, penting untuk Anda berkonsultasi atau ditangani oleh orang yang tepat. Jadi, selamat mencoba dan mempertimbangkan apakah dalam proses lahiran normal,  Anda ingin menggunakan anestesi atau tidak, sebaiknya keputusan diambil bersama pasangan karena dukungan dari pasangan sangat membantu, terutama setelah berkonsultasi dengan dokter.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Anaesthesia Explained [Internet]. Oxford: Oxford University Hospital; 2016 [cited 9 December 2018]. Available from: ouh.nhs.uk
    2. Fyneface-Ogan S, Mato C, Anya S. Epidural anesthesia: Views and outcomes of women in labor in a Nigerian hospital. Annals of African Medicine. 2009;8(4):250.
    3. Anaesthesia for Labor and Delivery [Internet]. Intermountain Healthcarel [cited 9 December 2018]. Available from: intermountainhealthcare.org
    4. Moore M. Regional Anesthesia and Analgesia for Labor and Delivery. Survey of Anesthesiology. 2003;47(5):273.
    5. Using Epidural Anesthesia During Labor: Benefits and Risks [Internet]. American Pregnancy Association. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: americanpregnancy.org/labor-and-birth/epidural/
    Read More
  • Kata anestesi mungkin masih asing di telinga sebagian orang, kebanyakan dari kita lebih sering menggunakan kata bius untuk mendefinisikan penghilangan rasa nyeri. Kerap kali ketika dokter atau perawat ingin melakukan suatu tindakan yang berpotensi memberikan rasa nyeri misalnya; menjahit luka robek atau mencabut kuku, pertanyaan pertama yang kita lontarkan pastilah, “dibius kan, Dok?” Namun, sebenarnya […]

    Mengenal Anestesi dan Jenis-Jenisnya

    Kata anestesi mungkin masih asing di telinga sebagian orang, kebanyakan dari kita lebih sering menggunakan kata bius untuk mendefinisikan penghilangan rasa nyeri. Kerap kali ketika dokter atau perawat ingin melakukan suatu tindakan yang berpotensi memberikan rasa nyeri misalnya; menjahit luka robek atau mencabut kuku, pertanyaan pertama yang kita lontarkan pastilah, “dibius kan, Dok?” Namun, sebenarnya kata yang lebih tepat adalah anestesi, mengapa anestesi? Apa itu anestesi?

    Anestesi berasal dari kata anaesthesia yang dalam bahasa inggris berarti loss of sensation of atau hilang rasa, tentunya rasa atau sensasi yang dimaksud tidak hanya sensasi nyeri tapi juga rabaan dan sensasi lainnya.

    Anestesi bertujuan mencegah kita merasakan sensasi nyeri pada saat operasi atau tindakan diagnostik (tindakan mencari tahu penyakit). Secara umum cara kerjanya adalah dengan memblok jalur sinyal nyeri yang berjalan sepanjang jaringan saraf hingga ke otak. Tidak semua anestesi membuat kita tak sadar, anestesi dapat diberikan dengan berbagai cara pada berbagai area di tubuh.

    Anestesi saat ini sangat membantu proses operasi dan telah memberikan keuntungan yang sangat bagus. Anestesi pada masa sekarang juga dapat diberikan secara spesifik tergantung kebutuhan maupun jenis operasi yang akan dilakukan. Dalam melakukan tindakan anestesi, dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain riwayat operasi sebelumnya, kondisi kesehatan, reaksi alergi pada obat-obat tertentu dan risiko dari tindakan anestesi yang akan dilakukan.

    Sampai saat ini ada beberapa jenis anestesi yang dibagi berdasarkan cakupan kerjanya, masing-masing dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan. Adapun jenis-jenisnya adalah sebagai berikut:

     

    Anestesi lokal, jenis anestesi ini akan memberikan sensasi mati rasa pada area tertentu di tubuh yang cakupannya kecil, dapat diberikan secara suntikan, semprotan atau olesan yang diberikan pada jaringan dekat lokasi operasi, jenis dan dosisnya bergantung pada jenis tindakan dan perkiraan durasi dari tindakan yang akan kita lakukan. Operasi-operasi yang dilakukan pun biasanya berupa operasi-operasi kecil seperti pencabutan kuku kaki, penjahitan luka robek yang tidak terlalu panjang atau pemotongan sesuatu dari kulit yang ukurannya tidak terlalu besar, seperti lipoma (akumulasi lemak) atau kutil. Pasien  akan tetap sadar namun bebas dari rasa sakit.

     

    Anestesi regional, tindakan anestesi regional dilakukan untuk jenis operasi yang lebih dalam dan lebih besar, biasanya daerah yang dianestesi meliputi bagian tubuh yang lebih besar, misalnya paha, lengan, bahu atau bahkan setengah tubuh seperti pada operasi sectio caesarea (operasi melahirkan) atau pada operasi kandung kemih. Caranya dengan menggunakan obat-obatan anestesi lokal yang disuntikkan pada pangkal serabut saraf dari bagian tubuh yang akan dioperasi. Hal yang sering dilakukan juga anestesi spinal dan epidural yaitu dengan menyuntikkan obat bius pada saluran tulang belakang sehingga menyebabkan mati rasa pada tubuh bagian bawah. Pada anestesi regional, pasien juga akan tetap sadar namun bebas dari rasa sakit.

     

    Anestesi umum, anestesi ini akan membuat Anda dalam kondisi tidur dan kehilangan kesadaran, namun kondisi tak sadar ini berbeda dengan kondisi tak sadar akibat sakit, kecelakaan atau dalam kondisi tidur normal. Pada beberapa jenis operasi, anestesi umum sangatlah penting. Kita akan tertidur dan tidak akan merasakan apa-apa saat prosedur sedang berlangsung. Sebelum operasi dimulai, dokter akan menyuntikkan obat anestesi melalui pembuluh darah atau dengan memberikan gas anestesi (obat anestesi dalam bentuk gas). Kemudian obat atau gas tadi akan dibawa ke otak melalui aliran darah yang akan menyebabkan kita kehilangan kesadaran. Ketika kadar obat berkurang di dalam darah maka kesadaran kita pun akan kembali secara bertahap, dan seiring kembalinya kesadaran, sensasi akan mulai kembali dirasakan.

     

    Sedasi, adalah penggunaan obat-obatan anestesi atau sejenisnya dalam jumlah yang kecil sehingga dapat menurunkan level kesadaran pasien namun pasien masih dapat berkomunikasi secara verbal dan merasakan sentuhan-sentuhan halus. Dengan kata lain, tindakan ini menyebabkan pasien relaks secara fisik maupun mental. Umumnya sedasi digunakan pada prosedur diagnostik seperti endoskopi (meneropong saluran cerna). Kita sangat mungkin mengingat jalannya prosedur.

     

    Kombinasi, ada kalanya lebih dari 1 tindakan anestesi dilakukan secara berdampingan atau berurutan. Misalnya anestesi regional diberikan setelah anestesi umum untuk mengurangi nyeri pascaoperasi, atau sedasi diberikan bersamaan dengan anestesi regional, di mana anestesi regional bermanfaat untuk menghilangkan rasa nyeri, sedangkan sedasi akan membuat pasien relaks dalam menjalani prosedur operasi.

    Lalu, kondisi-kondisi apa yang dapat menyulitkan saat Anda dalam menjalani prosedur anestesi? Pertama, jika Anda adalah seorang perokok.  Kebiasaan merokok akan mengganggu fungsi kardiovaskular dan mengurangi kandungan oksigen dalam darah, sehingga akan meningkatkan risiko tindakan anestesi. Kedua, kondisi gigi yang tidak bagus. Pada tindakan anestesi umum, dokter akan memasang alat bantu napas melalui rongga mulut. Kondisi gigi yang rapuh atau goyang berisiko memicu tanggalnya gigi pada proses tersebut. Ketiga, jika Anda memiliki penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi atau masalah lainnya. Anda perlu memberitahu dokter anestesi Anda mengenai penyakit-penyakit tersebut serta pengobatan yang Anda jalani. Tujuannya adalah agar dokter dapat mempertimbangkan alternatif prosedur anestesi yang paling aman untuk Anda.

    Prosedur anestesi, apapun jenisnya sangat bergantung pada jenis tindakan yang akan dilakukan dan kondisi tiap individu pasien. Efek samping dan risiko yang akan dihadapi Pasien tetap menjadi pertimbangan utama suatu prosedur anestesi dilakukan atau tidak.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Types of Anaesthesia [Internet]. Australian and New Zealand College of Anaesthetists; 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: anzca.edu.au
    2. Anaesthesia Explained [Internet]. Dublin: College of Anaesthetists of Ireland, [cited 9 December 2018]. Available from: anaesthesia.ie
    3. Anaesthesia Explained [Internet]. Oxford: Oxford University Hospital; 2016 [cited 9 December 2018]. Available from: ouh.nhs.uk
    4. Anesthesia & Types of Anesthesia – Before and After Surgery – HealthCommunities.com [Internet]. Healthcommunities.com. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: healthcommunities.com/before-after-surgery/overview-types-anesthesia.shtml
    5. New Jersey Health System [Internet]. RWJBarnabas Health. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: rwjbh.org/treatment-care/surgery/anesthesiology/types-of-anesthesia/
    Read More
  • Setiap kali anak akan mengikuti operasi yang membutuhkan anestesi atau dibius, orang tua pastinya memiliki berbagai pertanyaan tentang risiko yang mungkin terjadi, terutama ketika anak itu adalah bayi atau balita. Oleh karena itu, yuk kita bahas berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang keamanan anestesi (bius). Apakah anestesi atau dibius itu aman untuk anak saya? Anestesi […]

    Amankah Bayi dan Anak Dibius?

    Setiap kali anak akan mengikuti operasi yang membutuhkan anestesi atau dibius, orang tua pastinya memiliki berbagai pertanyaan tentang risiko yang mungkin terjadi, terutama ketika anak itu adalah bayi atau balita. Oleh karena itu, yuk kita bahas berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang keamanan anestesi (bius).

    • Apakah anestesi atau dibius itu aman untuk anak saya?

    Anestesi atau pembiusan pada anak relatif aman. Dokter anestesi akan memastikan anak, bahkan bayi berusia beberapa jam sekalipun, dapat menjalani operasi yang diperlukan untuk menyelamatkan hidupnya. Seperti semua tindakan medis lainnya, anestesi atau pembiusan pada anak juga memiliki risiko, seperti juga pada dewasa. Teknik anestesi pada anak sedikit berbeda dibandingkan dengan pada dewasa.1,2

    • Ketika bayi atau anak–anak dibius, apakah hal tersebut mempengaruhi perkembangan otak anak?

    Para ilmuwan terus menyelidiki efek anestesi pada perkembangan otak hewan selama lebih dari 20 tahun. Pada hewan yang dibius dalam jangka waktu panjang atau berulang mungkin mengalami masalah dengan belajar dan perilaku kemudian hari, namun jika pemberian bius hanya satu kali yang diberikan secara hati–hati, belum pernah ditemukan masalah pada anak. Selama beberapa tahun terakhir, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk lebih memahami risiko dan aspek keamanan dari anestesi (bius) umum pada anak.1,3

    • Apa yang dapat keluarga lakukan ketika anak membutuhkan operasi?

    Orang tua tentu harus mendiskusikan semua risiko dan manfaat dari operasi atau prosedur yang akan dilakukan pada anak dengan dokter spesialis anak. Tanyakan tentang waktu, jika tidak ada risiko terkait dengan menjalani operasi (misalnya keadaan mengancam jiwa atau keadaan darurat), maka dapat dipertimbangkan dengan dokter anak untuk menunda operasi hingga anak berusia lebih dari 3 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa efek samping anestesi (bius) pada otak menurun seiring bertambahnya usia.

    Orang tua tentunya harus juga berkonsultasi dengan dokter anestesi. Dokter anestesi akan menggunakan obat yang paling tidak berbahaya bagi anak, untuk menghindari masalah dan untuk menyesuaikan jumlah obat anestesi (bius) yang diberikan kepada anak berdasarkan usia, berat badan, jenis kelamin, dan juga obat lain yang sedang dikonsumsi oleh anak.1,4

    • Bagaimana cara dokter anestesi menjaga agar anak saya tetap aman saat dibius?

    Dokter anestesi akan secara hati–hati memberikan obat bius untuk membantu anak tertidur dan tetap aman dan nyaman. Saat dibius, anak akan memiliki reaksi berbeda terhadap anestesi dibandingkan dewasa. Dokter anestesi akan memantau denyut jantung, tekanan darah, pernapasan serta kadar oksigen, serta menyesuaikan obat sesuai kebutuhan anak. Dokter akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga tanda–tanda vital anak stabil dan bebas dari rasa sakit.

    • Apa saja teknik bius yang dapat dilakukan pada anak?

    Terdapat beberapa prosedur yang dapat digunakan, yaitu:

    • Anestesi umum, yaitu anak akan dibuat “tertidur”, merupakan pilihan yang paling sering digunakan saat operasi.
    • Anestesi regional, yaitu jenis bius yang digunakan untuk membuat satu area besar dari tubuh mati rasa.
    • Anestesi lokal, yaitu teknik anestesi hanya satu bagian kecil dari tubuh yang dibuat mati rasa.
    • Apakah obat yang digunakan untuk anestesi (bius) lebih aman daripada obat lainnya?

    Semua obat yang digunakan untuk anestesi atau bius telah terbukti memengaruhi perkembangan otak normal pada hewan jika diberikan berulang kali atau dalam jangka waktu yang lama. Jenis anestesi dengan obat tertentu seperti opioid, clonidine dan dexmedetomidine mungkin tidak menimbulkan efek pada otak yang sama terhadap hewan, namun obat ini terkadang tidak sesuai untuk semua pasien atau beberapa prosedur. Saat ini para peneliti terus mengembangkan pilihan obat baru yang bebas dari efek samping.

    Jika Anda memiliki pertanyaan lagi tentang anestesi atau bius, silakan berkonsultasi dengan dokter anestesi sebelum hari tindakan. Semoga membantu.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Anesthesia Safety for Infants nad Toddlers : Parent FAQs – healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx, diakses pada tanggal 7-12-2018
    2. A Practice of Anesthesia for Infants and Children, 5th – journals.lww.com/anesthesia-analgesia/FullText/2013/11000/A_Practice_of_Anesthesia_for_Infants_and_Children,.42.aspx, diakses pada tanggal 7-12-2018
    3. Anesthesia Safe for Infants, Toddlers, Study Says – webmd.com/parenting/baby/news/20160607/anesthesia-safe-for-infants-toddlers-study-says, diaskes pada tanggal 7-12-2018
    4. Is Anesthesia Safe for Your Child – health.clevelandclinic.org/is-anesthesia-safe-for-children/, diakses pada tanggal 7-12-2018
    5. Anesthesia – What to expect – kidshealth.org/en/parents/anesthesia.html, diakses pada tanggal 7-12-2018
    Read More
  • Anda pernah menjalani proses pembiusan di rumah sakit? Mungkin hampir setiap orang di dalam hidupnya pernah menjalani proses bius, baik ketika akan dilakukan tindakan medis yang ringan, seperti dijahit, maupun tindakan medis yang cukup kompleks seperti operasi dan proses persalinan. Kata bius atau anestesi, berasal dari bahasa Yunani, dimana “an” berarti “tanpa” dan “aesthesis” berarti […]

    4 Mitos dan Fakta Terkait Bius/Anestesi

    Anda pernah menjalani proses pembiusan di rumah sakit? Mungkin hampir setiap orang di dalam hidupnya pernah menjalani proses bius, baik ketika akan dilakukan tindakan medis yang ringan, seperti dijahit, maupun tindakan medis yang cukup kompleks seperti operasi dan proses persalinan. Kata bius atau anestesi, berasal dari bahasa Yunani, dimana “an” berarti “tanpa” dan “aesthesis” berarti “sensasi atau rasa”. Bius merupakan salah satu proses yang bertujuan untuk menghilangkan secara sementara sensasi atau kewaspadaan pasien untuk tujuan medis. Ketika dibius, pasien dapat mengalami satu atau lebih kondisi, seperti tidak dapat merasakan rasa nyeri (analgesia), otot tidak dapat bergerak (paralisis), amnesia, kehilangan kesadaran selama periode waktu tertentu. Sampai saat ini, banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat berkaitan dengan proses bius sehingga banyak orang yang masih merasa khawatir untuk dibius. Yuk, Sahabat, coba kita bahas fakta dibalik mitos yang beredar mengenai proses bius!

    MITOS 1: SETIAP ORANG YANG DIBIUS PASTI AKAN KEHILANGAN KESADARANNYA

    Pernyataan ini adalah salah. Proses bius memang dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran. Namun, teknik pembiusan sendiri bervariasi dan tidak semua teknik akan menyebabkan kehilangan kesadaran. Terdapat 3 kelompok besar teknik bius berdasarkan bagian tubuh yang dipengaruhi oleh obat bius, yaitu bius total, bius lokal, dan bius regional.

    Pada bius total, obat bius yang digunakan akan memengaruhi seluruh tubuh sehingga pasien akan kehilangan kesadaran dan tidak dapat bergerak.  Sedangkan pada bius lokal dan regional, obat bius hanya akan memengaruhi  bagian tubuh tertentu saja, sehingga pasien tidak kehilangan kesadarannya. Bius lokal digunakan apabila bagian tubuh yang akan dioperasi tidak terlalu luas, seperti pada operasi gigi dan operasi katarak. Sedangkan bius regional digunakan untuk area tubuh yang lebih luas, seperti pada operasi patah tulang, proses persalinan, atau pada operasi caesar.

     

    MITOS 2: KETIKA SUDAH DIBIUS TOTAL, ADA KEMUNGKINAN PASIEN AKAN “BANGUN” DI TENGAH OPERASI.

    Pernyataan ini adalah benar. Walaupun sudah dibius total, kesadaran pasien dapat kembali di tengah operasi yang berjalan, hal ini disebut awareness with recall (AWR). Namun, Sahabat tidak perlu khawatir karena hal ini sangat jarang terjadi, hanya terjadi pada 0,15% populasi dunia. AWR merupakan pengalaman dan ingatan yang tidak dikehendaki berkaitan dengan proses operasi yang sedang atau telah dijalani. Hal ini bukan berarti kesadaran pasien pulih sepenuhnya di tengah operasi yang berjalan. AWR hanya dapat diketahui setelah selesai operasi berdasarkan laporan dari pasien yang bersangkutan. Pengalaman AWR ini dirasakan berbeda pada setiap orang, di mana dilaporkan 48% dapat mengingat suara yang terjadi pada saat operasi, 48% lainnya merasa kesulitan bernapas, dan 28% merasakan sensasi nyeri. Kejadian AWR cenderung lebih besar pada anak, kasus kebidanan, trauma, dan operasi jantung. Dokter anestesi biasanya memberikan obat yang bersifat amnestik pada malam sebelum operasi untuk mencegah terjadinya AWR, terutama pada kasus yang berisiko tinggi.

     

    MITOS 3: TEKNIK BIUS REGIONAL (SPINAL DAN EPIDURAL) MENYEBABKAN NYERI PUNGGUNG YANG PERMANEN

    Pernyataan ini adalah salah. Teknik bius spinal dan epidural merupakan bagian dari bius regional di mana obat bius disuntikkan ke dalam lapisan saraf di tulang belakang. Mitos mengatakan bahwa teknik bius tersebut menyebabkan nyeri punggung yang permanen. Perlu diketahui bahwa nyeri punggung setelah operasi dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti posisi tubuh saat operasi, perburukan dari kondisi medis yang telah ada, atau luka akibat suntikkan obat bius. Nyeri punggung yang disebabkan oleh luka pada tempat penyuntikan obat bius terjadi pada 25% pasien, namun umumnya nyeri punggung ini tidak bersifat permanen. Nyeri punggung pada tempat penyuntikan obat bius merupakan kondisi yang dapat sembuh tanpa pengobatan dalam 7 hari. Apabila nyeri punggung tidak hilang dalam waktu yang cukup lama, maka perlu dikaji ulang penyebab lainnya dan perlu dikonsultasikan kepada dokter yang terkait.

     

    MITOS 4: PENGGUNAAN BIUS REGIONAL PADA OPERASI CAESAR DAPAT MEMPENGARUHI BAYI.

    Pernyataan ini adalah salah. Pertama, pada seluruh operasi yang melibatkan ibu hamil, obat bius yang digunakan relatif aman untuk ibu maupun janin. Kedua, pada bius regional, obat bius yang disuntikkan ke dalam lapisan saraf di tulang belakang ibu memiliki kemampuan minimal untuk menembus plasenta, sehingga aman untuk janin yang dikandung. Selain itu, obat tersebut juga tidak mengganggu kontraksi rahim pasca persalinan, sehingga tidak memicu terjadinya perdarahan.

     

    Nah, sudah cukup jelas bukan, masalah seputar mitos bius. Untuk informasi lebih jelas, Anda dapat berkonsultasi atau mempercayakannya dengan Dokter Spesialis Anestesi pilihan Anda.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Anesthesia [Internet]. [dikutip 4 Desember 2018]. Tersedia pada: nigms.nih.gov/education/pages/factsheet_Anesthesia.aspx
    2. What is Anesthesia? [Internet]. [dikutip 4 Desember 2018]. Tersedia pada: anzca.edu.au/patients/what-is-anaesthesia
    3. Duke JC, Keech BM. Duke’s Anesthesia Secrets. 5th Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016.
    4. Chung HS. Awareness and recall during general anesthesia. Korean J Anesthesiol. 2014;66(5): 339–45.
    5. Rafique MK, Taqi A. The causes, prevention and management of post spinal backache: An overview. Anaesth, pain, & intensive care. 2011;15(1):65–9.
    Read More
  • Saat ini Sobat pasti sudah sering mendengar tentang operasi dan anestesi yang dilakukan sebelum suatu operasi dimulai. Namun apakah yang sebenarnya terjadi pada tubuh kita saat anestesi? Mari kita bahas dalam artikel ini. Bagaimana cara kerja dari anestesi (bius) di dalam tubuh? Anestesi umum bekerja dengan mengganggu sinyal saraf di otak dan tubuh Sobat. Anestesi […]

    Apa itu Anestesi atau Bius?

    Saat ini Sobat pasti sudah sering mendengar tentang operasi dan anestesi yang dilakukan sebelum suatu operasi dimulai. Namun apakah yang sebenarnya terjadi pada tubuh kita saat anestesi? Mari kita bahas dalam artikel ini.

    • Bagaimana cara kerja dari anestesi (bius) di dalam tubuh?

    Anestesi umum bekerja dengan mengganggu sinyal saraf di otak dan tubuh Sobat. Anestesi mencegah otak untuk memproses rasa sakit dan mengingat apa yang terjadi selama proses operasi. Dokter ahli anestesi atau perawat yang terlatihlah yang akan melakukan anestesi dan menjaga Sobat sebelum, saat , maupun setelah operasi.

    Sebelum operasi dimulai, obat anestesi dapat dimasukkan melalui kanul intravena atau  melalui masker, dan sobat akan tertidur dalam beberapa menit kemudian. Setelah pasien tertidur, dokter dan tim anestesi akan memasang alat-alat untuk menjamin pasien tetap aman.

    Selama operasi berjalan, tim anestesi akan memonitor fungsi-fungsi fisiologis pasien, menjaga kecukupan cairan serta mengatur pemberian obat-obat anestesi, dan memastikan pasien tetap tidur dan terbebas dari nyeri.

    Setelah operasi selesai, pemberian obat anestesi akan dihentikan, pasien dibangunkan, dan dipindahkan ke ruang pemulihan. Di ruang pemulihan, dokter dan perawat anestesi melakukan monitoring untuk memastikan pasien sudah sadar penuh dan siap kembali ke ruang rawat.

    • Kapan diperlukan anestesi umum?

    Dokter anestesi memilih teknik anestesi berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain: jenis operasi, lama tindakan operasi, luasnya area operasi, dan kondisi umum pasien

    • Anestesi umum tidak direkomendasikan pada kondisi apa?

    Ada beberapa keadaan yang menyebabkan pasien tidak layak atau tidak direkomendasikan untuk dilakukan anestesi umum. misal pada pasien dengan kondisi umum sangat buruk, sehingga perlu optimalisasi terlebih dahulu. Atau pada tindakan operasi bedah saesar elektif, di mana anestesi umum bisa memiliki efek samping terhadap janin.

    • Apa saja risiko dan efek samping dari anestesi (bius)?

    Efek samping yang umum terjadi adalah:

    • Mual dan muntah
    • Mulut kering
    • Sakit tenggorokan
    • Suara serak
    • Mengantuk
    • Gemetaran
    • Nyeri otot
    • Gatal
    • Pusing, terutama pada orang yang lebih tua

    Pada beberapa orang dapat terjadi masalah ingatan setelah mendapatkan anestesi umum. Hal ini lebih sering terjadi pada orang dengan penyakit jantung, paru–paru, alzheimer, atau penyakit parkinson. Dokter anestesi akan mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan pasien sebelum prosedur anestesi dilakukan.

    Pada umumnya, anestesi umum relatif aman bagi sebagian besar populasi. Risiko akan meningkat pada kelompok populasi:

    • Obesitas
    • Orang tua.
    • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, paru–paru, epilepsi, atau penyakit ginjal.
    • Gangguan tidur seperti apnea yang menyebabkan napas berhenti beberapa kali saat tertidur.
    • Merokok
    • Minum obat–obat pengencer darah seperti aspirin yang memicu perdarahan intra operatif
    • Alergi terhadap obat-obat anestesi

     

    • Apa saja yang dapat dipersiapkan sebelum operasi?

    Anda tentunya harus bertemu dengan dokter anestesi sebelum operasi. Mereka akan menanyakan beberapa hal berikut:

    • Kondisi medis Anda saat ini.
    • Obat-obat yang sering dikonsumsi, termasuk obat–obatan yang dijual bebas dan suplemen herbal.
    • Riwayat alergi, seperti telur, kedelai atau obat apapun
    • Riwayat merokok dan konsumsi alkohol.
    • Reaksi obat-obat anestesi pada operasi-operasi sebelumnya.

    Nah, bila masih ada yang ingin Anda ketahui, dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis anestesi sebelum operasi dimulai. Semoga membantu.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. What Is General Anesthesia? – webmd.com/a-to-z-guides/what-is-general-anesthesia#1, diakses pada tanggal 13-12-2018
    2. What to know about general anesthesia – medicalnewstoday.com/articles/265592.php, diakses pada tanggal 13-12-2018
    3. General anesthesia – mayoclinic.org/tests-procedures/anesthesia/about/pac-20384568, diakses pada tanggal 13-12-2018
    4. This Is What Happens To Your Brain During Anesthesia – tonic.vice.com/en_us/article/d3489z/this-is-what-happens-to-your-brain-during-anesthesia, diakses pada tanggal 13-12-2018
    5. What Happens To Your Body When You Go Under Anesthesia – ranker.com/list/what-happens-to-your-body-when-you-go-under-anesthesia/laura-allan, diakses pada tanggal 13-12-2018

     

    Read More
  • Dr. Trisna Haryo Prasetyo, SpAn-KIC Peran Penting Dokter Anestesi, “Dewa” Penghilang Nyeri Ketika kita mendengar profesi “dokter spesialis anak”, “dokter spesialis kandungan”, atau “dokter spesialis penyakit dalam”, sepertinya adalah hal biasa bukan? Namun bagaimana dengan dokter spesialis anestesi? Meskipun ini bukanlah bidang kedokteran yang baru, namun umumnya bagi masyarakat awam yang hanya menjalani pengobatan biasa […]

    Peran Penting Dokter Anestesi, “Dewa” Penghilang Nyeri Dr. Trisna Haryo Prasetyo

    Dr. Trisna Haryo Prasetyo, SpAn-KIC

    Peran Penting Dokter Anestesi, “Dewa” Penghilang Nyeri

    Ketika kita mendengar profesi “dokter spesialis anak”, “dokter spesialis kandungan”, atau “dokter spesialis penyakit dalam”, sepertinya adalah hal biasa bukan?

    Namun bagaimana dengan dokter spesialis anestesi? Meskipun ini bukanlah bidang kedokteran yang baru, namun umumnya bagi masyarakat awam yang hanya menjalani pengobatan biasa (tanpa tindakan operasi), dokter anestesi masih terasa kurang familiar bagi mereka.

    Nah, untuk mengenal lebih lanjut seputar bidang anestesi, yuk berkenalan dengan Dr. Trisna Haryo Prasetyo, SpAn-KIC, dokter anestesi yang akrab disapa Dokter Pras ini akan berbagi cerita:

    Q: Apa sih yang membuat Dokter Pras ingin menjadi dokter spesialis anestesi?

    A: Dulu sewaktu masih kuliah kedokteran, saya kok melihat Dokter Anestesi keren aja, bisa menolong pasien-pasien dalam keadaan kritis. Kalau dokter lain resusitasi pasien biasanya nggak berhasil, kalau dokter anestesi resusitasi kebanyakan berhasil. Selain itu, dokternya harus tetap tenang, tidak panik seberapapun tidak stabil kondisi pasien.

    Q: Orang awam terkadang mengenal anestesi sebagai bius, jika mendengar dokter anestesi disebut sebagai “dokter bius”, bagaimana opini pribadi Dokter Pras mendengarnya?

    A: Bisa dimengerti bahwa orang menyebut demikian karena itu yang dapat mereka pahami mengenai tugas dokter anestesi.

    Sebenarnya ilmu anestesi itu jauh lebih luas dari sekedar membius. Dokter anestesi mempersiapkan pasien mulai dari kondisi optimal sebelum operasi, menjaga keadaan pasien tetap baik sepanjang operasi berlangsung, memfasilitasi dokter bedah agar dapat melakukan operasi dengan baik dan nyaman sehingga keberhasilan operasi tinggi, menjaga agar tidak terjadi komplikasi pada pasien setelah operasi, lalu menjaga agar pasien tetap nyaman dan tidak nyeri sesudah operasi.

    Q: Apa saja tantangan maupun suka duka menjadi dokter anestesi?

    A: Rasanya sangat senang ya menjadi dokter anestesi, karena bisa membantu pasien sehingga tidak merasakan nyeri operasi. Namun memang waktunya sangat terbatas, terkadang saat sedang banyak yang harus dibantu, saya tidak sempat istirahat dengan cukup.

    Q: Dokter Pras punya pengalaman menarik dengan pasien atau keluarga pasien?

    A: Kalau sebelum operasi keadaan pasien mengkhawatirkan atau prognosis buruk, lalu kita sudah menceritakan semua kemungkinan terburuk pada keluarga pasien. Kemudian sepanjang operasi kita berupaya keras menjaga pasien tetap stabil dan akhirnya operasi berjalan lancar dan pasien pulih, rasanya sangat membahagiakan, tidak ternilai rasanya buat saya. Karena itulah di kemudian hari setelah menjadi dokter anestesi saya lanjut belajar lagi dan mengambil Konsultan Intensive Care (KIC)

    Q: Lalu, bagaimana tanggapan atau komentar keluarga Dokter Pras sendiri dengan profesi sekarang?
    A: Biasanya yang sulit masalah waktu, karena saya sebagai dokter anestesi harus setiap saat dan sewaktu-waktu siap dipanggil.

    Kebetulan istri saya juga dokter, sudah pasti lebih paham. Lalu, anak-anak sudah terbiasa dan mengerti bahwa ada orang lain yang lebih membutuhkan dan harus ditolong segera. Bahkan terkadang mereka ikut mengantar atau menunggui saya.
    Oh ya ada cerita lucu, pernah suatu kali ada kumpul-kumpul keluarga besar merayakan ulang tahun saya. Eh, malah saya tinggal karena mendadak ada panggilan he…he…he.

    Q: Menurut Dokter Pras, bagaimana dengan dunia anestesi di Indonesia? Sudah cukup baikkah?

    A: Ilmu anestesi berkembang dengan sangat pesat di Indonesia. Malah saat ini ilmu anestesi sudah berkembang menjadi beberapa sub bagian dan cukup maju. Namun demikian, kita tidak boleh berhenti mengembangkan diri serta tidak lupa benchmark juga ke negara-negara tetangga supaya tidak ketinggalan.

    Read More
WhatsApp Asisten Maya saja