Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ anak”

Showing 51–60 of 72 results

  •   Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dan family Paramyxoviridae. Virus ini dapat bertahan selama dua jam di udara maupun permukaan. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Data yang […]

    SEPUTAR CAMPAK PADA ANAK YANG HARUS DIKETAHUI ORANGTUA

     

    Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dan family Paramyxoviridae. Virus ini dapat bertahan selama dua jam di udara maupun permukaan. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Data yang dilansir dari Kemenkes menunjukkan setiap tahun dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek campak, 12–39% di antaranya terkonfirmasi laboratorium. Selama kurun waktu lima tahun (2010-2015), diperkirakan terdapat 23.164 kasus campak.

    Penderita akan mendapati gejala berupa demam tinggi, mata merah, hidung beringus, nyeri, lemas, hilang nafsu makan, dan diare. Lalu, dua hingga empat hari kemudian muncul ruam diseluruh tubuhnya dan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Campak menular lewat droplet saat penderita bersin atau batuk. Pada dasarnya campak dapat menginfeksi semua orang terlebih pada balita yang belum mendapat vaksinasi campak. Komplikasi campak antara lain diare, infeksi telinga, bronkitis, infeksi paru (pneumonia), infeksi otak (ensefalitis), dan kebutaan.

    Kesembuhan campak bergantung dari daya tahan tubuh penderita. Pengobatan campak umumnya bersifat mengurangi gejala. Hal yang dapat anda lakukan adalah memberikan penurun panas, mencukupi kebutuhan cairan, dan memberikan vitamin A. Untuk menjaga kebersihan anak yang terkena campak masih boleh dimandikan dengan air hangat.

    Campak dapat dicegah dengan vaksinasi. Lakukan pencegahan campak dengan vaksinasi campak atau MR yang merupakan vaksin gabungan campak dan campak jerman. Dosis pertama imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan lalu booster usia 12-15 bulan, dan dosis selanjutnya usia 4-6 tahun.

    Hampir 95% anak yang diimunisasi campak tidak akan terkena campak. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan bahwa dengan bertambahnya usia daya tahan tubuh dapat menurun. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melengkapi status imunisasi dengan melakukan imunisasi ulangan. Apabila status imunisasi tidak lengkap dikhawatirkan akan berpeluang terinfeksi campak.

    Nah, sekarang ada cara praktis untuk melakukan imunisasi. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Cdc.gov. (2017). Measles | Vaccination | CDC. [online] Available at: https://www.cdc.gov/measles/vaccination.html [Accessed 25 Jan. 2018].
    2. Lestari, C. TanyaDok.com | Campak | Page 8 of 8. [online] TanyaDok.com. Available at: https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/campak/8 [Accessed 25 Jan. 2018]
    3. Suci H. TanyaDok.com | Dari A-Z tentang Sakit Campak [Internet]. TanyaDok.com. [cited 5 February 2018]. Available from: https://www.tanyadok.com/anak/dari-a-z-tentang-sakit-campak
    4. STATUS CAMPAK DAN RUBELLA SAAT INI DI INDONESIA [Internet]. Searo.who.int. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_measles_status.pdf?ua=1
    Read More
  • Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia […]

    Imunisasi Polio Tetes VS Suntik, Yuk Disimak Penjelasannya

    Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia bayi 18 bulan. Vaksin yang diberikan dapat berupa Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV).

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus polio yang sudah tidak aktif dan diberikan dalam bentuk suntikan di bahu atau paha dalam. Pada vaksin ini terdapat sedikit komponen neomisin, streptomisin dan polimiksin B, sehingga bagi mereka yang memiliki alergi terhadap antibiotik tersebut tidak disarankan mendapatkan vaksin IPV karena ditakutkan akan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ringan yang dapat terjadi setelah penyuntikan adalah kemerahan, bengkak di tempat suntikan yang akan hilang dalam 2-3 hari. Reaksi berat biasanya jarang terjadi, yaitu berupa reaksi alergi yang dapat menyebabkan syok anafilaksis.

    Efektivitas perlindungan vaksin polio IPV sampai dengan 99%-100% bila diberikan dalam 3 dosis.3 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlindungan lapisan usus terhadap virus polio sedikit lebih rendah daripada perlindungan yang didapat dari vaksin polio OPV, namun, perlindungan lapisan kerongkongan terhadap virus polio sama saja dengan vaksinasi polio OPV.

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus Polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini diberikan secara oral berupa tetesan ke dalam mulut bayi. Pemberian vaksin polio tetes masih mungkin sekalipun sangat jarang sekali, menimbulkan reaksi berat berupa Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP) dan Vaccine-derived Polioviruses (VDPVs), yang dapat menyebabkan wabah polio.

    Baca Juga:

    Orang tua pasti memilih jenis vaksin yang paling aman untuk diberikan kepada anaknya. Vaksin polio tetes masih diberikan di banyak negara di berbagai belahan dunia karena praktis dan kemudahan pemberian vaksin. Rekomendasi dari IDAI 2017 bagi anak Indonesia adalah memberikan vaksin polio tetes sebanyak 3 dosis dan pada dosis ketiga, diberikan vaksin polio suntik (IPV) bersamaan dengan vaksin polio tetes (OPV). Dosis penguat vaksinasi polio dapat diberikan berupa vaksin polio tetes (OPV) atau vaksin polio suntik (IPV).

    Baca Juga: 5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi

    Kini orangtua tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: cdc.gov
    2. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    3. Polio Vaccine Effectiveness and Duration of Protection | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: cdc.gov
    4. WHO | Inactivated polio vaccine (IPV) [Internet]. Who.int. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: who.int
    5. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id
    Read More
  • Rubela merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Rubela. Pada anak-anak gejala yang sering terjadi adalah timbulnya ruam merah di muka yang menyebar ke leher, dada,  tangan dan kaki. Namun, sebagian besar lainnya tidak merasakan gejala yang khas saat terkena rubela. Penyakit ini menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan penderita melalui batuk, atau saat bersin. Gejala […]

    RUBELA PADA ANAK

    Rubela merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Rubela. Pada anak-anak gejala yang sering terjadi adalah timbulnya ruam merah di muka yang menyebar ke leher, dada,  tangan dan kaki. Namun, sebagian besar lainnya tidak merasakan gejala yang khas saat terkena rubela. Penyakit ini menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan penderita melalui batuk, atau saat bersin.

    Gejala penyakit rubela pada anak yang dapat ditimbulkan biasanya timbul 1-5 hari sebelum munculnya ruam pada tubuh, gejala tersebut antara lain:

    1. Nyeri pada mata terutama saat mata bergerak
    2. Radang pada selaput konjungtiva mata (konjungtivitis)
    3. Batuk, sakit kepala, dan disertai dengan nyeri pada sendi tubuh
    4. Demam, menggigildan mual
    5. Pembengkakan kelenjar getah bening terutama di belakang telinga dan belakang kepala.

    Agar anak dapat terhindar dari Rubela, maka pencegahannya adalah dengan diberikannya vaksin Rubela. Vaksin rubela tersedia dalam sediaan tunggal atau kombinasi dengan vaksin campak (measles). Menurut rekomendasi IDAI vaksin MR dapat diberikan pada usia 15 bulan dan dilakukan dosis penguatan (booster) pada usia 5 tahun.

    Vaksin MR aman diberikan pada anak dan tidak akan menyebabkan autisme. Reaksi ringan yang mungkin terjadi adalah rasa nyeri, kemerahan, dan bengkak di tempat penyuntikan. Reaksi lebih berat dapat terjadi bila seseorang alergi terhadap komponen yang ada di vaksin MR. Reaksi tersebut dapat menimbulkan syok anafilaksis.

    Jadi, jangan takut untuk memberikan vaksin yang dapat mencegah anak Anda dari penyakit rubela. Bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Rubella. 2013. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Lembar fakta poliomieitis, rubela, dan campak. 2016.[Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    3. Ezike E. Pediatric Rubella. 2017. [Internet]. Retrieved from: emedicine.medscape.com
    Read More
  • Imunisasi diberikan untuk mencegah agar tidak tertular oleh penyakit. Imunisasi, terkadang mengandung beberapa bahan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap orang yang disuntik. Kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi kita sebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu adalah benar. Baca Juga: Cara […]

    Reaksi KIPI Berat, Kapan Perlu Bawa Anak ke Dokter?

    Imunisasi diberikan untuk mencegah agar tidak tertular oleh penyakit. Imunisasi, terkadang mengandung beberapa bahan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap orang yang disuntik. Kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi kita sebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu adalah benar.

    Baca Juga: Cara Mengatasi KIPI Pasca Vaksinasi Covid-19

    Gejala KIPI dapat terjadi ringan dan berat. Gejala ringan seperti reaksi yang terjadi pada tempat suntikan berupa bisul, bengkak, merah pada tempat suntikan. Reaksi berat  dapat melibatkan sistem organ yang lebih luas lagi seperti sistem saraf pusat yang menyebabkan kejang, radang pada selaput otak (meningitis), dan kelumpuhan. Reaksi lain yang lebih berbahaya adalah syok anafilaksis yang dapat terjadi sesaat setelah dilakukan penyuntikan. Petugas kesehatan yang terlatih harus segera melakukan tindakan penyelamatan di tempat, sehingga kegawatan dapat diatasi.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT?

    Lalu, apakah semua KIPI harus segera dilaporkan ke dokter? Tidak. Reaksi pasca-imunisasi yang ringan, misalnya nyeri dan bengkak kemerahan pada area bekas suntikan atau demam, umumnya akan hilang dengan sendirinya dalam 2-3 hari. Namun, beberapa tanda dan gejala KIPI yang harus dilaporkan segera atau anak diperiksakan kembali ke dokter adalah:

    1. Reaksi ringan yang terjadi terus menerus seperti bengkak yang tidak hilang,
    2. Tangan atau lengan atau tungkai yang sakit/sulit digerakkan setelah dilakukan penyuntikan,
    3. Anak demam tinggi dan tidak mereda,
    4. Anak menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti,
    5. Anak alami kejang,
    6. Adanya gejala-gejala lainnya.

    Tapi, orang tua jangan takut untuk tetap melakukan vaksinasi karena reaksi ini sangat sangat jarang terjadi dan perlindungan vaksinasi sangat diperlukan untuk mencegah dari penyakit yang berbahaya.

    Baca Juga: Kenali dan Cara Mengatasi Reaksi Imunisasi Si Kecil

    Untuk imunisasi anak ini Sahabat bisa mendapatkannya di Prosehat yang menyediakan layanan imunisasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    REFERENSI:

    1. Hadinegoro SR. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri.2000;2(1):2-10.
    2. Soedjatmiko. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. 2013. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    Read More
  • Tuberkulosis (TBC) pada anak disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lain seperti tulang, mata, ginjal, selaput otak, kelenjar getah bening, jantung, hati, kulit, dan usus. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima prevalensi TBC paru terbanyak. Setiap tahun didapatkan 250.000 kasus baru dan 100.000 kematian karena TBC. Di negara […]

    TUBERKULOSIS (TBC) PADA ANAK

    Tuberkulosis (TBC) pada anak disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lain seperti tulang, mata, ginjal, selaput otak, kelenjar getah bening, jantung, hati, kulit, dan usus. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima prevalensi TBC paru terbanyak. Setiap tahun didapatkan 250.000 kasus baru dan 100.000 kematian karena TBC. Di negara berkembang, TBC pada anak <15 tahun adalah 15% dari seluruh kasus TBC, sedangkan di negara maju 5%-7%.1,2

    Tuberkulosis paru menular melalui percikan dahak orang dewasa sewaktu bersin, berbicara, atau bernyanyi, lalu terhirup dan masuk ke dalam paru-paru anak. Faktor risiko terjadinya TBC paru pada anak antara lain riwayat kontak dengan penderita TBC paru dewasa, daerah endemis, kemiskinan, lingkungan tidak sehat, dan tempat penampungan umum yang terdapat orang dewasa dengan TBC aktif.

    Gejala TBC pada anak terkadang sulit didiagnosis menyebabkan penanganan TBC dengan anak terabaikan. Gejala TBC pada anak antara lain adalah:

    1. Demam lama > 2 minggu atau demam berulang (umumnya demam tidak terlalu tinggi)
    2. Batuk yang menetap atau memburuk > 3 minggu
    3. Nafsu makan turun, berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut
    4. Teraba benjolan di leher (umumnya lebih dari satu)
    5. Anak tampak lesu dan tidak kelihatan seaktif biasanya
    6. Kontak erat dengan penderita TBC paru aktif1

    Apabila anak anda diduga menderita TBC paru, maka segera lakukan pemeriksaan penunjang yaitu tes mantoux. Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan cairan tuberkulin di bawah kulit dan hasilnya dapat dilihat dalam 48-72 jam dengan timbulnya benjolan kurang lebih 10 mm, berati tes positif, anak pernah terpapar dengan kuman tersebut. Selanjutnya, pemeriksaan rontgen dada dilakukan untuk melihat adanya gambaran infeksi paru.3

    Pencegahan dari penyakit ini adalah dengan diberikannya vaksinasi BCG. Vaksin ini diberikan sekali pada saat bayi baru lahir. Pemberian vaksin ini dilakukan secara intrakutan di otot lengan atas. Vaksin BCG merupakan vaksin yang berisi bakteri yang dilemahkan, sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan orang dengan penurunan sistem imun. Selain itu, skrining terhadap orang-orang di sekitar anak yang kemungkinan mengidap TBC juga sebaiknya dilakukan agar anak dapat terhindar dari penularannya.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Indawati W. Amankan buah hati anda dari tuberkulosis.2013. [internet]. Retrieved from: .idai.or.id
    2. Kartasasmita CB. Epidemiologi Tuberkulosis.Sari Pediatri 2009;11(2):124-9.
    3. Esposito S, Tagliabue C, Bosis S. Tuberculosis in children. Mediterranean Journal of Hematology and Infectious Diseases. 2013;5.
    Read More
  • Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk […]

    POSISI ANAK SAAT IMUNISASI

    Anak-anak seringkali menolak untuk dilakukan imunisasi. Hal ini disebabkan karena perasaan takut mereka terhadap jarum suntik yang dianggap sakit bila mengenai lokasi tempat suntikan. Hal ini menyebabkan orang tua harus membantu anak pada saat imunisasi diberikan. Beberapa anak ada yang mengalami tantrum atau bergerak aktif saat dilakukannya imunisasi, sehingga orang tua harus ekstra tenaga untuk menahan anak. Lalu, bagaimanakah posisi yang tepat bagi anak saat dilakukannya imunisasi?

    Rasa sakit pada saat dilakukannya imunisasi memberikan dampak fisik dan psikologis pada anak. Oleh karena itu, beberapa metode memposisikan anak saat penyuntikan imunisasi seringkali dilakukan. Namun, belum ada posisi yang pas yang ditemukan untuk bayi atau anak yang akan diimunisasi. Pada bayi usia 2 bulan posisi bayi telentang mengurangi rasa nyeri bila dibandingkan dengan posisi bayi ditegakkan. Posisi ini ditambah sambil menyusui diharapkan dapat menjadi salah satu kombinasi yang dapat dilakukan oleh orang tua saat anak mereka diimunisasi.

    Posisi lain  yang dapat dilakukan orang tua adalah posisi memeluk anak dari samping. Posisikan bayi dalam kondisi duduk menyamping di paha Anda, satu tangan menahan kaki anak dan tangan yang lainnya menahan kedua lengan anak. Keuntungan dari posisi ini adalah bagian lengan dan kaki dapat ditahan bila anak bergerak, anak juga akan merasa nyaman karena kontak langsung dengan orang tuanya. Selain posisi ini, posisi memeluk dari depan dengan cara mendudukkan anak di atas paha Anda sambil memeluknya dari depan juga dapat dilakukan.

    Pada bayi yang baru lahir, posisi bayi dengan kaki dilipat dapat dilakukan saat imunisasi. Penelitian mengemukakan bahwa bayi yang baru lahir dengan posisi kaki dilipat pada saat imunisasi bila dibandingkan dengan bayi baru lahir dengan posisi terlentang akan lebih tenang dan mengurangi nyeri saat dilakukan imunisasi. Jadi, pastikan posisi anak Anda nyaman sehingga vaksinasi dapat dengan aman diberikan.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Yin HC, Cheng SW, Yang CY, Chiu YW, Weng YH. Comparative survey of holding position for reducing vaccination pain in young infant. Pain Research and Management. 2017.
    2. World Health Organization. Immunization in practices. [Internet]. Retrieved from: http://www.who.int/immunization/documents/IIP2014Mod5_5june.pdf (04.02.2018).
    3. Kucukoglu S, Kurt S, Aytekin A. The effect of facilitated tucking position in reducing vaccination-induced pain in newborns. Italian Journal of Pediatric. 2015;41:51.
    Read More
  •   Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya. Lokasi […]

    Inilah 3 Lokasi Penyuntikan Imunisasi Pada Tubuh Anak

     

    Vaksinasi pada anak dan bayi harus dilakukan sesuai dengan jadwal rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Setiap kali dilakukan vaksinasi, daerah tempat suntikan ada yang berbeda-beda. Kedalaman jarum suntik di kulit juga berbeda-beda tergantung pada vaksinnya. Lokasi penyuntikan vaksin merupakan lokasi dengan respon imun optimal dan memberikan kerusakan minimal pada jaringan di sekitarnya.

    Lokasi Penyuntikan Pada Tubuh Anak

    • Suntikan intramuskular (dalam otot): vaksin biasanya disuntikkan pada otot bahu (M.deltoids) pada anak usia 3 tahun dan lebih dari 3 tahun atau otot paha luar (M.quadriceps anterolateral) pada anak usia kurang dari 3 tahun.
    • Suntikan intradermal: vaksin BCG dan terkadang vaksin rabies dan tifoid diberikan secara intradermal yaitu suntikan diberikan pada lapisan bawah kulit di lengan kanan atas.
    • Suntikan subkutan: vaksin disuntikan pada bagian paha atas atau bahu kemudian jarum ditusukkan dengan kemiringan kira-kira 45 derajat.

    Tidak ada vaksin yang disuntikkan langsung ke dalam darah melalui pembuluh darah. Rata-rata penyuntikan vaksin dilakukan secara intramuskular, melalui otot. Hal inilah yang menyebabkan banyak anak-anak yang taku disuntik. Padalah, rasa nyeri pada lokasi penyuntikan hanya sementara saja, dan nyeri akan hilang pada 2-3 hari pasca penyuntikan. Anda tidak perlu khawatir mengenai lokasi penyuntikan vaksin pada anak karena semua metodenya aman dan sesuai dengan prosedur yang ada.

    Itulah tadi mengenai lokasi penyuntikan imunisasi pada tubuh anak. Selain di fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, puskesmas, dan posyandu, Sobat Sehat juga bisa memanfaatkan layananan vaksinasi ke rumah dari Prosehat. Layanan ini mempunyai kelebihan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Satgas Imunisasi IDAI. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI. 2000;2(1): 43-47.
    Read More
  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More
  • Virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat banyak orang tua bertanya-tanya apakah masih perlu anak untuk diimunisasi? Untuk hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap menyarankan imunisasi supaya kekebalan tubuh anak tidak terganggu. Di bawah ini adalah jadwal imunisasi anak 2020 yang masih berpatokan pada rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017. Jadwal […]

    Jadwal Imunisasi Anak dan Bayi Terbaru dan Lengkap 2020

    Virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020 membuat banyak orang tua bertanya-tanya apakah masih perlu anak untuk diimunisasi? Untuk hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tetap menyarankan imunisasi supaya kekebalan tubuh anak tidak terganggu. Di bawah ini adalah jadwal imunisasi anak 2020 yang masih berpatokan pada rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017. Jadwal imunisasinya sebagai berikut, dan ditandai dengan kolom berwarna yang bermakna:

    Makna Warna Pada Kolom Jadwal Imunisasi Anak

    1. Kolom hijau menandakan jadwal pemberian imunisasi optimal sesuai usia.
    2. Kolom kuning menandakan masa untuk melengkapi imunisasi yang belum lengkap (catch up immunization).
    3. Kolom biru menandakan imunisasi penguat atau booster
    4. Kolom warna merah muda menandakan imunisasi yang direkomendasikan untuk daerah endemik.

    Berikut adalah beberapa keterangan dari imunisasi rekomendasi IDAI 2020:

    1. Vaksin hepatitis B (HB) terbaik diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Apabila diberikan vaksin HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian di usia 2, 3, dan 4 bulan.
    2. Vaksin polio diberikan secara oral pertama kali setelah bayi lahir atau sebelum bayi dibawa pulang dari tempat bersalin. Vaksin polio selanjutnya saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan bisa berupa vaksin oral maupun suntik. Namun, disarankan setidaknya mendapatkan 1 kali polio suntik.
    3. Vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) pertama diberikan paling cepat usia 6 minggu. Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin polio, HB, dan Hib di usia 2,3,dan 4 bulan. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun vaksin yang diberikan adalah Td/Tdap.
    4. Vaksin BCG diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Apabila bayi berusia lebih dari 3 bulan dianjurkan untuk melakukan uji tuberkulin dahulu sebelum vaksinasi BCG.
    5. Vaksin pneumonia (PCV) diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis booster. Pada anak usia di bawah 1 tahun diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Selanjutnya booster  diberikan setelah usai 1 tahun.
    6. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan saat usia 6-14 minggu dan dosis kedua diberikan minimal 4 minggu berikutnya. Maksimal pemberian dosis kedua pada usia 24 minggu. Untuk, vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan pada usia 6-14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian di usia 32 minggu.
    7. Vaksin influenza diberikan setelah usia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun.
    8. Vaksin MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.
    9. Vaksin HPV diberikan untuk remaja usia 10-13 tahun sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan.
    10. Vaksin Japanese encephalitis (JE) diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis.
    11. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah.

    Setelah mengetahui jadwal imunisasi terbaru IDAI, segeralah bawa anak Sobat ke fasilitas-fasilitas kesehatan terdekat supaya anak Sobat benar-benar kebal terhadap penyakit. Selain itu, Sobat juga bisa memanfaatkan layanan vaksinasi ke rumah dari Prosehat yang mempunyai banyak kelebihan sebagai berikut:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Sobat  jika memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Budi Santoso B. Sekilas Vaksin Pneumokokus [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus
    2. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
    3. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2017 [cited 8 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
    4. Gunardi H, Kartasasmita C, Hadinegoro S, Satari H, Soedjatmiko S, Oswari H et al. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017. Sari Pediatri. 2017;18(5):417.
    Read More
  • Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada […]

    BAHAYA POLIO PADA ANAK

    Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada bagian kaki yang hampir sama dengan penyakit GBS. Hanya saja, pada GBS kelumpuhan kaki terjadi simetris (kedua kaki) dan terjadi selama 10 hari tanpa disertai dengan demam, sakit kepala, mual dan muntah.

    Poliovirus ditularkan melalui feses yang mengkontaminasi ke makanan dan cepat menyebar pada area dengan kebersihan yang buruk dan sering terjadi pada negara-negara tropis dengan iklim panas. Pada umumnya, tidak ada gejala yang dapat dirasakan karena penyakit ini tetapi gejala yang sering terjadi antara lain adalah:

    1. Gejala gangguan pencernaan: mual, muntah, diare
    2. Gejala seperti terserang flu dan batuk: demam, sakit kepala, batuk
    3. Kekakuan otot leher, punggung, dan kaki yang dapat terjadi pada 1% penderita polio2

    Penyakit ini paling ditakutkan karena akan menyebabkan kecacatan sehingga anak tidak mampu untuk berjalan apabila kelumpuhan tidak segera ditangani. Penyembuhannya akan berlangsung kurang dari 12 bulan, tetapi bila kelumpuhan terjadi lebih dari waktu tersebut, umumnya akan menyebabkan kelumpuhan seumur hidup. Akibatnya, penderita tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Polio tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin polio terdapat dua buah yaitu Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV). IPV diberikan melalui suntikan di paha atau lengan atas, sedangkan OPV diberikan melalui tetesan mulut. Polio diberikan 4 dosis ditambah satu dosis penguat, pada waktu lahir-1 bulan, bulan ke 2, 3, dan 4 dan penguat diberikan pada usia 18 bulan.

    Ibu lebih baik memilih vaksin polio suntik pada anak karena lebih aman. Lalu, kenapa harus menunda lagi? Ayo, segera datang ke pelayanan kesehatan setempat untuk mendapatkan vaksin polio untuk anak Anda sehinga anak terhindar dari penyakit polio yang sangat berbahaya. Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Heymann D, Aylward B. Polimyelitis. Orphanet Encyclopedia. 2014 .[Internet]. Retrieved from: https://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-Poliomyelitis.pdf (02.02.2018).
    2. Mehndiratta MM, Mehndiratta P, Pande R. Polimyelitis: hystorical facts, epidemiology and current challenge in eradication. The Neurohospitalist. 2014;4(4):223-229.
    3. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/ipv.pdf (02.02.2018).
    Read More

Showing 51–60 of 72 results

Chat Asisten ProSehat aja