Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Posts tagged “ anak”

Showing 51–60 of 68 results

  • Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling […]

    6 Mitos Dan Fakta Seputar Imunisasi, Cek Sekarang!

    Mitos Fakta Seputar Vaksin – Masih banyak orang-orang yang ragu dengan manfaat yang dimiliki imunisasi akibat dari pemberitaan yang tidak bersumber jelas. Pada akhirnya mereka memilih tidak melakukan imunisasi untuk buah hatinya. Hal ini sangat merugikan dan dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh, KLB difteri di Indonesia yang terjadi merupakan kejadian yang paling tinggi di dunia. Sehingga IDI dan IDAI menghimbau seluruh masyarakat untuk melakukan imunisasi melalui ORI (Outbreak Response Immunization) sebagai salah satu cara untuk menghentikan penularan dari difteri.

    Berikut 6 mitos dan fakta seputar imunisasi, yang dikutip dari IDAI. Cek Sekarang:

    1. Mitos: Mencuci tangan atau membersihkan lingkungan sangatlah cukup dalam memberantas penyakit dan imunisasi tidaklah penting!

    Fakta Imunisasi: Melakukan kegiatan kebersihan, mencuci tangan dan menyediakan air bersih dapat membantu kita terlindungi dari beberapa penyakit infeksi. Namun, masih banyak infeksi-infeksi lain yang dapat menyebar walaupun kita merasa sudah bersih sepenuhnya. Contohnya, penyakit yang tidak biasa seperti campak dan polio dapat muncul kembali karena tidak melakukan imunisasi. Beberapa penyakit dapat dicegah dengan adanya imunisasi.

    2. Mitos: Penyakit anak-anak merupakan penyakit yang wajar terjadi dalam hidup walaupun dapat dicegah dengan imunisasi.

    Fakta Imunisasi: Mungkin bagi Anda penyakit anak-anak menjadi hal yang wajar. Namun. apakah hal tersebut wajar apabila si kecil mengalami beberapa penyakit seperti campak, gondongan dan rubela yang merupakan penyakit yang serius hingga dapat mengancam hidupnya? Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan melakukan imunisasi. Jangan buat si kecil harus merasakan sakit yang seharusnya tidak dirasakan.

    3. Mitos: Setelah imunisasi, timbul berbagai macam efek samping jangka panjang yang belum diketahui, imunisasi bisa berakibat fatal.

    Fakta Imunisasi:  Mungkin Anda yang belum mengetahuinya, vaksin aman walaupun dapat terjadi reaksi vaksin yang bersifat ringan dan sementara. Anda akan merasakan sedikit  nyeri pada tempat penyuntikan atau demam ringan. Masalah serius atau berat sangatlah jarang terjadi pada orang-orang yang melakukan imunisasi. Orang yang tidak melakukan imunisasi jauh lebih berisiko sakit lebih parah karena terinfeksi penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi.

    Sebagai contoh, komplikasi campak dapat menyebabkan radang otak hingga kebutaan, penyakit polio dapat menyebabkan kelumpuhan serta penyakit-penyakit lainnya dapat menyebabkan kematian. Imunisasi lebih banyak memberikan keuntungan untuk Anda.

    4. Mitos: Imunisasi Anak Dapat Menyebabkan Autisme

    Fakta Imunisasi: Sebuah studi di tahun 1998 dihebohkan dengan berita pernyataan antara imunisasi MMR dengan Autisme. Pernyataan tersebut ditarik oleh jurnal yang menerbitkannya. Dampak publikasi ini membuat masyarakat menjadi panik dan  imunisasi menjadi menurun. Jadi jangan khawatir, imunisasi terutama vaksin MMR tidak ada kaitan dengan autisme.

    5. Mitos: Pemberian imunisasi lebih dari satu dalam waktu bersamaan dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping yang berbahaya, sehingga membebani sistem imun si kecil.

    Fakta Imunisasi:Sebuah penelitian telah dilakukan dan bukti ilmiah menunjukkan pemberian beberapa vaksin di waktu yang bersamaan tidak akan mempengaruhi sistem imun anak. Anak-anak mudah terpapar dari berbagai zat asing yang memicu respons imun setiap harinya. Maka untuk mencegah hal tersebut, imunisasi menjadi salah satu cara melindungi si kecil dari berbagai penyakit.

    Baca Juga:

    10 Jenis Vaksinasi Ibu Hamil

    5 Persiapan Sebelum Menikah

    5 Gejala Kanker Serviks

    6. Mitos: Penyakit influenza merupakan penyakit ringan dan imunisasi tidak akan terlalu efektif

    Fakta Imunisasi:Influenza selalu dikaitkan dengan perubahan cuaca dan merupakan salah satu penyakit yang cukup ringan. Tahukah Anda, bahwa influenza merupakan salah satu penyakit yang serius hingga menyebabkan lebih dari 300.000 kematian diseluruh dunia disetiap tahunnya?Influenza sangat berisiko untuk wanita hamil, anak-anak, lansia serta orang-orang memiliki kesehatan atau metabolisme yang kurang, hingga orang-orang yang memiliki penyakit kronis seperti asma atau jantung. Imunisasi influenza mencegah diri kita agar tidak mudah terserang flu berat dan menularkan virus kepada orang lain.

     

    Dari penjelasan dari mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, imunisasi berguna mencegah diri kita dari berbagai penyakit. Selain itu, imunisasi dapat  mengurangi anda untuk bolak balik kerumah sakit sehingga dapat menghemat uang untuk berobat. Anda juga dapat menghemat waktu dengan imunisasi dirumah bersama ProSehat. Selain itu banyak keuntungan yang bisa Anda dapat seperti vaksin yang dijamin asli, bebas konsultasi dengan dokter saat imunisasi , jadwal yang fleksibel, ditangani oleh dokter profesional dan biaya imunisasi dapat dicicil hingga 0%. Info imunisasi anak melalui Maya Asisten Kesehatan di ProSehat Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau www.prosehat.com.

    Referensi:

    Detik. Nugraha, Indra Komara. “IDAI: KLB Difteri di Indonesia Paling Tinggi di Dunia”.  Diakses pada 12 Maret 2018

    Depkes. “ Higiene Sanitasi Pangan”. Diakses pada 12 Maret 2018

    IDAI. “Apa Saja Fakta dan Mitos Tentang Vaksinasi?”. Diakses pada 12 Maret 2018

    Read More
  • Kita pasti merasa sedih bila si kecil terserang penyakit pilek dan flu. Ayah dan Bunda mungkin panik saat menghadapinya. Kita akan mendapati si kecil mengalami penurunan nafsu makan dan terlihat lemas karena pilek dan flu yang dideritanya. Hal ini membuat Ayah dan Bunda berpikir, apa yang harus dilakukan untuk mengobati si Kecil. Pemberian obat memang […]

    5 Cara Mengatasi Gejala Pilek dan Flu Si Kecil

    Kita pasti merasa sedih bila si kecil terserang penyakit pilek dan flu. Ayah dan Bunda mungkin panik saat menghadapinya. Kita akan mendapati si kecil mengalami penurunan nafsu makan dan terlihat lemas karena pilek dan flu yang dideritanya. Hal ini membuat Ayah dan Bunda berpikir, apa yang harus dilakukan untuk mengobati si Kecil.

    Pemberian obat memang menjadi salah satu solusi untuk mengatasi penyakit pilek dan flu pada si Kecil. Meskipun  demi kebaikan Si Kecil, pemberian obat flu dan pilek tidak boleh sembarangan terlebih lagi jika obat yang diberikan merupakan obat yang dijual dipasaran. Pemberian obat yang tidak sesuai dengan resep dokter bukannya menyembuhkan, tapi bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya. Pemberian obat tanpa resep dokter pada bayi dibawah dua tahun dapat memberikan efek samping yang serius.

    Sebelum kita lanjut ke 5 cara mengatasi gejala pilek dan flu Si Kecil, yuk, kita pahami terlebih dahulu flu itu apa sih sebenarnya?Flu merupakan salah satu virus yang menyerang saluran pernapasan atas atau penyakitnya sering disebut ISPA. Gejalanya sering kita alami sehari-hari, seperti bersin, batuk, pilek hingga demam. Selain itu, penyakit lain yang dapat menyerang saluran pernafasan atas adalah Common Cold, rinitis, rinofaringitis atau nasofaringitis, dsb.

    Menurut para ahli, ISPA dapat disebabkan oleh lebih dari 100 jenis virus yang biasa menginfeksi saluran napas. Bahkan, jenis virus ini dapat mencapai 200 jenis dan virus flu lah merupakan salah satu penyebab nya,meskipun bukan yang tersering. Penyebab flu yang paling sering adalah Rhinovirus. ISPA menjadi penyakit infeksi virus yang sangat mudah menular yang dapat menggangu kenyamanan dan mengurangi tingkat produktivitas. Lalu bagaimana cara mengatasi atau meringankannya? Berikut 5 cara mengatasi gejala pilek dan flu si kecil

    1. Pilih Ruangan yang Tepat Untuk Si Kecil

    Bagi Si Kecil dengan gejala pilek dan flu, cobalah tempatkan di ruang non-AC. Hal ini berguna mengurangi hidungnya yang tersumbat,  tetapi jika si kecil lebih nyaman dalam ruangan AC cobalah lengkapi dengan alat pelembab udara atau uap air panas. Anda juga bisa menggunakaan wangi aromaterapi untuk memberikan  ketenangan. Selain itu biasakanlah untuk membuka jendela rumah yang berguna sebagai pintu masuk udara dan cahaya, agar sirkulasi udara di ruangan si kecil tidak mudah apek dan berbau.

    2. Tepuk Perlahan Punggung Si Kecil

    Jika pernapasan si kecil tersumbat, Anda dapat menepuk secara perlahan pada punggungnya. Menepuk punggung dapat membantu meringankan pernapasannya menjadi lebih lega. Selain itu, menepuk punggung akan membuat si kecil bersendawa karena keluarnya gas yang berlebih di dalam perut.

    3. Memberi Minuman Hangat Untuk Si Kecil

    Saat batuk pilek, tenggorokan akan terasa tidak enak dan kadang menjadi terbatuk-batuk. Air hangat dapat menjadi solusi untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada bayi Anda. Berikan si kecil air hangat yang dapat membantu meredakan hidung tersumbat.

    4. Mengkonsumsi Makanan Hangat

    Selain diberikan minuman hangat, makanan hangat juga dapat membantu meringkan rasa pilek dan flunya. Manfaat dari mengkonsumsi makanan atau minuman hangat dapat meningkatkan aliran lendir pada rongga hidung saat seseorang mengalami batuk dan pilek. Pada studi yang berjudul “The effects of a hot drink on nasal airflow and symptoms of common cold and flu”menyebutkan, minuman atau makanan hangat terbukti bermanfaat memberikan rasa lega dan mengurangi keluhan akibat batuk pilek yang muncul (hidung tersumbat, batuk, gatal sekitar tenggorokan, demam, lelah dan bersin).

    5. Sedot Cairan Hidung Pada Bayi

    Bila cairan hidung si kecil sudah sangat mengganggunya, maka anda bisa menggunakan alat penyedot namun cara ini harus pastikan alatnya steril dan pastikan ketika menyedot tidak terlalu keras karena nanti justru akan membahayakan si kecil. Apabila cairan hidung si kecil
    mengeras, maka gunakanlah kapas yang dibasahi dengan air hangat agar dapat menghilang.

    Agar pilek dan flu si kecil tidak berulang, beri perlindungan tambahan untuk si kecil dengan vaksinasi flu. Vaksinasi flu dapat diberikan mulai dari bayi berusia 6 bulan ke atas dan dewasa. Vaksin ini hendaknya diulang pemberiannya setiap tahun untuk perlindungan yang maksimal.

    Vaksinasi flu bisa Anda dapatkan di ProSehat aplikasi layanan kesehatan ke rumah yang siap melayani Anda dan buah hati. Di ProSehat, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan Maya Asisten Kesehatan di ProSehat melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 atau klik www.prosehat.com. Lindungi sekarang juga buah hati dari pilek dan flu.

    Sumber:

    1. IDAI. “Benarkah Minum Es Dapat Menyebabkan Flu?”. Diakses Pada 8 Maret 2018
    2. IDAI. “Flu, Istilah yang Rancu”. Diakses Pada 8 Maret 2018
    3. Tanyadok. Susanto, Agnes. “Bosan Sakit Flu? Vaksin Flu Sekarang!”. Diakses pada 8 Maret 2018
    4. Kompas. “Makanan hangat Redakan Batuk dan Pilek”. Diakses pada 8 Maret 2018
    5. IDAI. “Jadwal Imunisasi 2017”. Diakses pada 8 Maret 2018
    6. Tanyadok. Tios, Aisa. “Influenza: Cegah dengan Vaksin!”. Diakses pada 8 maret 2018
    Read More
  • Awal tahun 2017, Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal sebelumnya. Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun 2017 sebagai berikut: Pertama akan dijelaskan makna dari warna pada  kolom: Kolom hijau menAndakan jadwal pemberian imunisasi optimal sesuai usia. Kolom kuning menAndakan masa untuk melengkapi imunisasi yang […]

    Jadwal Imunisasi Anak dan Bayi Terbaru dan Lengkap

    Awal tahun 2017, Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi Imunisasi IDAI tahun 2017 untuk menggantikan jadwal sebelumnya. Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun 2017 sebagai berikut:

    Pertama akan dijelaskan makna dari warna pada  kolom:

    1. Kolom hijau menAndakan jadwal pemberian imunisasi optimal sesuai usia.
    2. Kolom kuning menAndakan masa untuk melengkapi imunisasi yang belum lengkap (catch up immunization).
    3. Kolom biru menAndakan imunisasi penguat atau booster
    4. Kolom warna merah muda menAndakan imunisasi yang direkomendasikan untuk daerah endemis.

    Berikut adalah beberapa keterangan dari imunisasi rekomendasi IDAI 2017:

    1. Vaksin hepatitis B (HB) terbaik diberikan dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir. Apabila diberikan vaksin HB kombinasi dengan DTPw, maka jadwal pemberian di usia 2, 3, dan 4 bulan.
    2. Vaksin polio diberikan secara oral pertama kali setelah bayi lahir atau sebelum bayi dibawa pulang dari tempat bersalin. Vaksin polio selanjutnya saat bayi berusia 2, 3, dan 4 bulan bisa berupa vaksin oral maupun suntik. Namun, disarankan setidaknya mendapatkan 1 kali polio suntik.
    3. Vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) pertama diberikan paling cepat usia 6 minggu. Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin polio, HB, dan Hib di usia 2,3,dan 4 bulan. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun vaksin yang diberikan adalah Td/Tdap.
    4. Vaksin BCG diberikan sebelum bayi berusia 3 bulan. Apabila bayi berusia lebih dari 3 bulan dianjurkan untuk melakukan uji tuberkulin dahulu sebelum vaksinasi BCG.
    5. Vaksin pneumonia (PCV) diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis booster. Pada anak usia di bawah 1 tahun diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Selanjutnya booster  diberikan setelah usai 1 tahun.
    6. Vaksin rotavirus monovalen diberikan 2 kali, dosis pertama diberikan saat usia 6-14 minggu dan dosis kedua diberikan minimal 4 minggu berikutnya. Maksimal pemberian dosis kedua pada usia 24 minggu. Untuk, vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak 3 kali. Dosis pertama diberikan pada usia 6-14 minggu, dosis kedua dan ketiga diberikan dengan interval 4-10 minggu. Batas akhir pemberian di usia 32 minggu.
    7. Vaksin influenza diberikan setelah usia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun.
    8. Vaksin MR masuk dalam jadwal imunisasi rutin dan diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat menggantikan imunisasi Campak.
    9. Vaksin HPV diberikan untuk remaja usia 10-13 tahun sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan.
    10. Vaksin Japanese encephalitis (JE) diberikan mulai usia 12 bulan pada daerah endemis atau turis yang akan bepergian ke daerah endemis.
    11. Vaksin varisela diberikan setelah usia 12 bulan, terbaik pada usia sebelum masuk sekolah.

    Setelah mengetahui jadwal imunisasi terbaru IDAI, segera bawa anak Anda untuk melengkapi imunisasinya. Anak sehat karena imunisasi yang lengkap. Namun bila  ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Budi Santoso B. Sekilas Vaksin Pneumokokus [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-vaksin-pneumokokus
    2. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR) [Internet]. IDAI. 2017 [cited 7 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
    3. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2017 [cited 8 February 2018]. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-2017
    4. Gunardi H, Kartasasmita C, Hadinegoro S, Satari H, Soedjatmiko S, Oswari H et al. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0 – 18 tahun Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia 2017. Sari Pediatri. 2017;18(5):417.
    Read More
  • Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada […]

    BAHAYA POLIO PADA ANAK

    Polio atau polimielitis atau yang dikenal dengan sebutan lumpuh layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh Poliovirus. Penyakit ini menyerang saluran pencernaan dan menyebar ke kelenjar getah bening, dan bagian tubuh lain seperti sistem saraf pusat. Penyakit ini sering disalahartikan dengan penyakit saraf lain yaitu Guillain-Bare Syndrome (GBS). Penyakit polio ditAndai dengan kelumpuhan yang layu pada bagian kaki yang hampir sama dengan penyakit GBS. Hanya saja, pada GBS kelumpuhan kaki terjadi simetris (kedua kaki) dan terjadi selama 10 hari tanpa disertai dengan demam, sakit kepala, mual dan muntah.

    Poliovirus ditularkan melalui feses yang mengkontaminasi ke makanan dan cepat menyebar pada area dengan kebersihan yang buruk dan sering terjadi pada negara-negara tropis dengan iklim panas. Pada umumnya, tidak ada gejala yang dapat dirasakan karena penyakit ini tetapi gejala yang sering terjadi antara lain adalah:

    1. Gejala gangguan pencernaan: mual, muntah, diare
    2. Gejala seperti terserang flu dan batuk: demam, sakit kepala, batuk
    3. Kekakuan otot leher, punggung, dan kaki yang dapat terjadi pada 1% penderita polio2

    Penyakit ini paling ditakutkan karena akan menyebabkan kecacatan sehingga anak tidak mampu untuk berjalan apabila kelumpuhan tidak segera ditangani. Penyembuhannya akan berlangsung kurang dari 12 bulan, tetapi bila kelumpuhan terjadi lebih dari waktu tersebut, umumnya akan menyebabkan kelumpuhan seumur hidup. Akibatnya, penderita tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari.

    Polio tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin polio terdapat dua buah yaitu Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV). IPV diberikan melalui suntikan di paha atau lengan atas, sedangkan OPV diberikan melalui tetesan mulut. Polio diberikan 4 dosis ditambah satu dosis penguat, pada waktu lahir-1 bulan, bulan ke 2, 3, dan 4 dan penguat diberikan pada usia 18 bulan.

    Ibu lebih baik memilih vaksin polio suntik pada anak karena lebih aman. Lalu, kenapa harus menunda lagi? Ayo, segera datang ke pelayanan kesehatan setempat untuk mendapatkan vaksin polio untuk anak Anda sehinga anak terhindar dari penyakit polio yang sangat berbahaya. Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    REFERENSI:

    1. Heymann D, Aylward B. Polimyelitis. Orphanet Encyclopedia. 2014 .[Internet]. Retrieved from: https://www.orpha.net/data/patho/GB/uk-Poliomyelitis.pdf (02.02.2018).
    2. Mehndiratta MM, Mehndiratta P, Pande R. Polimyelitis: hystorical facts, epidemiology and current challenge in eradication. The Neurohospitalist. 2014;4(4):223-229.
    3. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/ipv.pdf (02.02.2018).
    Read More
  • Hepatitis B adalah peradangan pada hati utamanya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B. Penyakit ini cukup menakutkan karena berpotensi menjadi infeksi kronik dimana dapat bertahan dalam tubuh paling tidak 6 bulan. Risiko kronik tertinggi bisa didapat saat bayi. Hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya. Penularan pada bayi didapat dari ibu yang membawa […]

    HEPATITIS B PADA ANAK, ANCAMAN YANG TAK TAMPAK

    Hepatitis B adalah peradangan pada hati utamanya disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B. Penyakit ini cukup menakutkan karena berpotensi menjadi infeksi kronik dimana dapat bertahan dalam tubuh paling tidak 6 bulan. Risiko kronik tertinggi bisa didapat saat bayi. Hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya. Penularan pada bayi didapat dari ibu yang membawa virus hepatitis B.

    Dilansir dari IDAI 70% anak yang terinfeksi hepatitis B akut tidak memunculkan gejala, kadang hanya timbul mual atau lemas. Meski tanpa gejala, virus tetap berkembang di dalam sel hati. Peradangan akan terus berlangsung dan bisa menimbulkan komplikasi. Untuk mengetahui secara pasti adanya infeksi hepatitis harus ditunjang dengan pemeriksaan darah. Pemeriksaan yang dapat menunjukkan anak menderita hepatitis B adalah HBsAg, bila nilai HBsAg positif tandanya anak membawa virus hepatitis.

    Pada anak yang lebih besar mungkin dapat timbul gejala hepatitis B akut berupa lemas, tidak nafsu makan, demam, mual/muntah, dan kuning (kulit dan mata). Hepatitis B menular melalui darah. Di Indonesia, kebanyakan anak mendapatkan penularan hepatitis B dari ibunya. Bayi yang terkena hepatitis B dapat membawa terus virus hepatitis B sehingga menjadi kronis. Dikhawatirkan, pada saat dewasa nanti akan berpotensi mengalami kanker hati atau sirosis hati. Pengobatan hepatitis B umumnya bersifat mengurangi gejala, belum spesifik untuk menyembuhkan. Oleh sebab itu penting sekali dilakukan pencegahan hepatitis B dengan cara vaksinasi secara lengkap.

    hepatitis b

    Mengapa anak anda harus mendapat vaksinasi Hepatitis B?

    • Sebagai perlindungan optimal dari hepatitis B kepada anak anda dan orang lain disekitarnya.
    • Mencegah anak anda terkena penyakit liver atau kanker hati yang berkembang akibat hepatitis B.

    Vaksin hepatitis B (HB) monovalen pertama diberikan terbaik dalam 12 jam setelah anak lahir. Kemudian, pemberian vaksinasi dapat dikombinasikan dengan vaksin lainnya misalnya vaksin Hepatitis B dan vaksin DPT maka vaksinasi diberikan pada usia 2,3, dan 4 bulan. Kebanyakan orang yang mendapat vaksin hepatitis B tidak punya  masalah efek samping. Masalah kecil yang timbul setelah pemberian vaksin hepatitis B adalah nyeri dan demam ringan. Efek samping tersebut biasanya mulai nampak setelah penyuntikan dan berlangsung sekitar 1 hingga 2 hari.

    Jika ingin melindungi keluarga dari bahaya hepatitis B, segera lakukan vaksinasi. Kini, tak perlu bingung untuk mendapatkan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Kenali Hepatitis B [Internet]. IDAI. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: idai.or.id
    2. Hepatitis Virus pada Anak (Bagian 1) [Internet]. IDAI. 2016 [cited 5 February 2018]. Available from: idai.or.id
    3. Hepatitis B Fact Sheet for Parents | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: cdc.gov

     

    Read More
  • Baru-baru ini kita dikagetkan dengan unggahan Kim Kardashian tentang curhatan yang sedih lantaran, Saint sang buah hati mengidap pneumonia atau dikenal dengan infeksi paru-paru. Hal ini membuat sedih lantaran sang buah hati baru berumur 2 tahun harus dirawat selama 3 hari. Pada unggahannya (@kimkardashian) kim menuliskan “Bayiku sangat kuat! Setelah menghabiskan tiga malam di rumah […]

    Vaksinasi Hib Bantu Cegah Pneumonia Pada Anak

    Baru-baru ini kita dikagetkan dengan unggahan Kim Kardashian tentang curhatan yang sedih lantaran, Saint sang buah hati mengidap pneumonia atau dikenal dengan infeksi paru-paru. Hal ini membuat sedih lantaran sang buah hati baru berumur 2 tahun harus dirawat selama 3 hari.

    Pada unggahannya (@kimkardashian) kim menuliskan “Bayiku sangat kuat! Setelah menghabiskan tiga malam di rumah sakit dan melihat bayiku diinfus serta terhubung dengan tabung oksigen”. Hal ini tentu membuat kita bingung apa sebenarnya pneumonia itu? Pneumonia sendiri merupakan radang infeksi akut yang berada pada saluran pernafasan bawah yang disebabkan dari virus, bakteri atau jamur.

    Pneumonia paling banyak menyerang bayi usia dibawah 2 tahun, penyakit ini dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Bunda perlu mewaspadai jika buah hati mengalami demam, batuk, susah bernafas atau nafas lebih cepat dan sesak. Karena penyebarang penyakit satu ini ditularkan oleh bakteri melalui percikan ludah yang berasal dari batuk, bersin ataupun saat berbicara.

    Pada negara berkembang seperti Afrika bagian sub-Sahara dan Asia Selatan, hampir 99% balita pneumonia meninggal dunia. Melihat dari tingginya kematian pada balita akibat Pneumonia, maka langkah pencegahannya yaitu dengan vaksinasi. Vaksinasi yang dilakukan sejak dini dapat mengurangi angka kematian balita, dua jenis vaksin yang diberikan yaitu vaksin pneumokokus dan vaksin Haemophilus influenza type B (Hib) yang lebih sering digunakan.

    Apa sih vaksin pneumokokus dan vaksin HiB itu? Vaksin Pneumokokus sendiri merupakan vaksin yang berisi protein konjugasi bertujuan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae atau lebih sering disebut dengan kuman pneumokokus. Vaksin ini ditunjukkan untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terserang kuman pneumokokus, yaitu anak-anak.

    Sedangkan vaksin HiB adalah vaksin untuk memberikan perlindungan terhadap kuman Haemophillus influenza tipe b, salah satu penyebab tersering pneumonia pada anak. Vaksin Hib ini diberikan di usia 2, 4 dan 6 bulan yang lakukan ulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB dapat diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi. Vaksin Hib sering dikombinasikan dengan DPT  yang menjadi vaksin DPT-Hib. Vaksin ini bukan hanya mencegah infeksi pneumonia Haemophilus influenza type B melainkan juga penyakit meningitis, pneumonia serta epiglotitis (infeksi yang berada pada katup pita suara dan tabung suara) yang juga disebabkan oleh kuman Haemophilus influenza type B. Pemberian vaksin kombinasi juga sekaligus mencegah infeksi yang disebabkan oleh difteri, pertusis dan tetanus. Namun vaksin Hib juga dapat diberikan secara terpisah.

    Pemberian vaksin DPT-Hib dapat diberikan pada usia 2, 4 dan 6 bulan.  Untuk anak yang baru memulai vaksin di usia 1-5 tahun maka cukup diberikan sebanyak 1 kali. Apakah ada efek samping yang timbul setelah vaksinasi? Terdapat tanda radang (nyeri, kemerahan dan bengkak) pada tempat suntikan, demam mencapai 380 C hingga lebih, si kecil akan mudah rewel dan kehilangan nafsu makan, muntah ataupun diare.

    Jika ingin melindungi keluarga tercinta dari pneumonia, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Sumber:

    Putri, Ucha Merendar. “Cegah Pneumonia Pada Anak dengan Vaksinasi”. tanyadok.com
    Mother & Baby. “Anak Kim Kardashian Terkena Pneumonia. motherandbaby.co.id
    IDAI. “Sekilas Vaksin Pneumokokus”. idai.or.id
    IDAI. “Melengkapi atau Mengejar Imunisasi (Bagian III)”. idai.or.id

    Read More
  • Difteri merupakan penyakit saluran nafas atas yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini berbahaya karena menyerang daerah nasofaring (tenggorokan), membentuk selaput semu (pseudomembran) di tenggorokan, menyebabkan penyumbatan saluran napas atas yang mengakibatkan kematian. Difteri juga menyebabkan berbagai komplikasi seperti peradangan pada jantung (miokarditis), gagal ginjal, neuritis, dan tromobositopenia. Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Bakteri […]

    TIPS CEGAH ANAK TERINFEKSI DIFTERI

    Difteri merupakan penyakit saluran nafas atas yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini berbahaya karena menyerang daerah nasofaring (tenggorokan), membentuk selaput semu (pseudomembran) di tenggorokan, menyebabkan penyumbatan saluran napas atas yang mengakibatkan kematian. Difteri juga menyebabkan berbagai komplikasi seperti peradangan pada jantung (miokarditis), gagal ginjal, neuritis, dan tromobositopenia.

    Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Bakteri akan dengan mudah menyebar lewat udara dan menginfeksi orang lain. Penularan terjadi lewat udara saat penderita bersin atau batuk.

    Gejala penyakit difteri antara lain:

    1. Demam berkisar 380C
    2. Nafsu makan menurun
    3. Lesu
    4. Nyeri tenggorokan dan sakit saat menelan.
    5. Sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah
    6. Muncul tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut sebagai bull neck.

    Pencegahan difteri yang optimal dilakukan dengan pemberian imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Vaksin difteri terbukti aman untuk melindungi dari penyakit difteri yang mematikan. Lengkapi imunisasi difteri anak anda sesuai jadwal rekomendasi sebagai berikut:

    USIA VAKSINASI Keterangan
    2 bulan DPT Pemberian vaksinasi bisa berupa vaksin kombinasi dengan penyakit lain misalnya kombinasi 5 penyakit (DPT, Hepatitis B, Hib) atau kombinasi 6 penyakit (DPT, Hepatitis B, Hib dan Polio)
    3 bulan
    4 bulan
    18 bulan
    5 tahun DT
    Lebih dari 7 tahun Td/Tdap

    Mungkin beberapa orangtua khawatir akan efek demam setelah vaksinasi DPT. Tahukah anda, bahwa efek demam dihasilkan dari vaksinasi DPwT dimana menggunakan sel utuh dari pertusis. Untuk itu, kini tersedia vaksinasi DPaT yang menggunakan sebagian sel pertusis sehingga mengurangi efek demam pasca penyuntikan.

    Difteri sangat mudah menyerang pada orang yang tidak memiliki kekebalan terutama anak-anak. Berikut tips cegah bahaya difteri:

    1. Yuk Bunda, segera cek kelengkapan status imunisasi anak.
    2. Jangan tunda pemberian imunisasi difteri. Anak dengan batuk atau pilek ringan TANPA demam tinggi (hasil pengukuran suhu tubuh < 38oC) TETAP bisa mendapatkan imunisasi difteri sesuai usia.
    3. Jangan lupa siapkan buku imunisasi anak untuk ditunjukkan kepada petugas kesehatan.

    Jika ingin lebih praktis, tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Amindoni, A. 2017. Wabah difteri di 20 provinsi: Lima hal yang perlu anda ketahui. http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042
    2. Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. 2017. Menkes Minta Produksi Vaksin untuk Difteri Dipercepat. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20171210/3524013/menkes-minta-produksi-vaksin-difteri-dipercepat/
    3. IDAI. 2017. Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri
    4. Kemenkes RI. 2017. Meningkatnya Kasus Difteri, 3 Provinsi Sepakat Lakukan Respon Cepat. http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html

     

    Read More
  • Seiring perkembangan zaman muncul banyak kreasi dan inovasi salah satunya di bidang kuliner. Berbagai kuliner jajanan menggugah dengan mudah dapat anda temui di setiap sudut keramaian. Tentunya, memunculkan hasrat anda untuk mencicipi aneka makanan tersebut. Tak hanya orang dewasa anak-anak pun pasti akan tergiur untuk ikut mencicipinya. Tapi, hal pertama yang harus anda antisipasi adalah […]

    Kuliner Bersama Anak Perhatikan Beberapa Hal Berikut

    Seiring perkembangan zaman muncul banyak kreasi dan inovasi salah satunya di bidang kuliner. Berbagai kuliner jajanan menggugah dengan mudah dapat anda temui di setiap sudut keramaian. Tentunya, memunculkan hasrat anda untuk mencicipi aneka makanan tersebut. Tak hanya orang dewasa anak-anak pun pasti akan tergiur untuk ikut mencicipinya. Tapi, hal pertama yang harus anda antisipasi adalah kebersihan dan keamanan pengolahan makanan tersebut. Karena jika tidak, bukannya rasa enak makanan yang didapatkan justru penyakit yang diundang.

    Apalagi jika anak anda mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri dan kotoran tentu akan memberikan efek negatif dalam tubuhnya. Bisa saja ia sakit perut, diare, mual, dan muntah setelah memakannya. Kejadian yang lebih buruk bisa terinfeksi typus atau hepatitis A. Mari kita bahas sedikit mengenai typus dan hepatitis A yang diakibatkan dari konsumsi makanan yang tidak bersih.

    Tipus atau tifus merupakan infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan bakteri Salmonella typhii. Tipus dapat menular melalui kotoran sehingga sangat erat kaitannya dengan higienitas. Gejala yang ditimbulkan dari tipus antara lain, demam lebih dari seminggu, mual, muntah, mencret atau bisa sembelit. Tipus ini cukup berbahaya terlebih setelah demam minggu kedua. Akan muncul komplikasi berupa perdarahan di saluran pencernaan akibat bakteri Salmonella typhii yang menggerogoti lapisan usus.

    toddler girl eating in outdoor cafe

    Hepatitis A merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi virus hepatitis A. Hepatitis A sering melanda anak-anak, terlebih didaerah dengan sanitasi rendah. gejala proses. Seringkali pada anak usia dibawah 6 tahun hepatitis tidak menampakan gejala, walaupun demikian peluang untuk menularkan virus hepatitis sangat besar. Beberapa gejala yang mungkin muncul antara lain demam, tidak nafsu makan, letih, sakit perut, muntah, warna air kencing seperti teh, mengunging pada kulit dan mata.

    Lantas makanan apa saja yang rentan terkontaminasi virus dan bakteri? Umumnya makanan yang rentan adalah makanan mentah seperti, daging, unggas, olahan laut, telur, buah, dan sayuran. Kontaminasi rentan jika pencucian tidak bersih dan pengolahan makanan tidak benar-benar matang.

    Untuk mencegah infeksi penyakit akibat makanan tersebut, apa yang harus anda lakukan?

    1. Mencuci tangan sebelum memegang makanan, setelah buang air, dan setelah mengganti popok.
    2. Masak makanan hingga matang
    3. Tutup makanan dengan tudung saji
    4. Cuci bersih bahan makanan dengan air mengalir

    Selain itu, Anda bisa melindungi diri dengan vaksinasi. Kini ada cara mudah loh! Hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah. Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Mengenal Hepatitis A pada Anak [Internet]. IDAI. 2015 [cited 7 February 2018]. Available from: idai.or.id
    2. Mengenal Demam Tifoid [Internet]. IDAI. 2016 [cited 6 February 2018]. Available from: idai.or.id

     

    Read More
  • Pernahkan Anda mendengar kata pertusis? Pertusis adalah batuk rejan atau batuk 100 hari yang disebabkan oleh infeksi tenggorokan akibat bakteri Bordetella pertussis. Menurut data WHO di tahun 2008 terjadi 16 juta kasus pertusis di seluruh dunia. Sebanyak 95% kasus ditemukan di Negara berkembang dan telah merenggut  nyawa 195000 anak. Batuk jenis pertusis ini tak seperti […]

    MENGENAL PERTUSIS PADA ANAK

    Pernahkan Anda mendengar kata pertusis? Pertusis adalah batuk rejan atau batuk 100 hari yang disebabkan oleh infeksi tenggorokan akibat bakteri Bordetella pertussis. Menurut data WHO di tahun 2008 terjadi 16 juta kasus pertusis di seluruh dunia. Sebanyak 95% kasus ditemukan di Negara berkembang dan telah merenggut  nyawa 195000 anak.

    Batuk jenis pertusis ini tak seperti batuk biasa, batuk ini bertahan lama seakan tak kunjung sembuh. Jika pada batuk biasa umumnya dapat sembuh dalam beberapa hari, lain halnya dengan pertusis yang berlangsung lama dan dapat mengancam nyawa terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan.

    Seperti halnya flu dan batuk, pertusis merupakan penyakit yang sangat menular. Penularan terjadi melalui droplet (percikan ludah) yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.  Kuman yang menyebar juga bisa menempel di permukaan, misalnya pada mainan anak. Kuman akan menyerang selaput lendir dalam saluran pernapasan sehingga saluran pernafasan akan meradang dan bengkak. Hal ini juga mengakibatkan peningkatan produksi lendir. Adanya pembengkakan dan banyaknya lendir membuat saluran nafas menjadi sempit. Pada bayi dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang berakibat kematian.

    Seperti apa gejala yang ditimbulkan dari pertusis? Gejala timbul sekitar 1 hingga 3 minggu setelah terpapar bakteri. Gejala awal yang timbul seperti flu biasa, pilek, batuk, radang tenggorokan, demam, dan produksi lendir berlebih. Pada masa ini  pertusis sangat menular. Pada malam hari batuk kian memburuk dengan frekuensi sering. Ketika batuk wajah akan memerah dan mata berair. Batuk yang berat terkadang menyebabkan penderita kesulitan mengambil nafas sehingga muncul suara melengking “whooping”. Namun, pada bayi yang usianya kurang dari 6 bulan tidak timbul suara melengking.

    Risiko terinfeksi pertusis tinggi pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi dan pada orang yang tinggal serumah dengan penderita pertusis. Komplikasi dari pertusis pada anak bisa berupa infeksi paru-paru, perdarahan pada mata, hernia, dan kejang. Bila anak Anda mengalami batuk yang tidak membaik dalam beberapa hari sebaiknya Anda mengunjungi dokter.  

    Selagi bisa mencegah, lakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan dan melakukan vaksinasi. Vaksinasi diberikan bersamaan vaksin difteri dan tetanus (DTP) saat anak usia 2,3,4 bulan dan booster di usia 18 bulan dan 5 tahun.
    Jika Anda ingin vaksinasi, sekarang bisa dilakukan di rumah loh! Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah. Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

     

    Referensi:

    1. TanyaDok.com | Pertussis / Batuk Rejan: Batuk 100 Hari Yang Mematikan [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2 February 2018]. Available from: tanyadok.com
    2. Pertussis [Internet]. Who.int. 2011 [cited 2 February 2018]. Available from: who.int
    Read More
  • Saat Anda menemui anak Anda terluka atau tertusuk paku, apa yang ada di benak Anda? Apakah Anda langsung memberikan obat luka dan berharap luka akan segera sembuh? Anda perlu hati-hati karena kuman dapat menyebar dan menginfeksi anak. Bisa jadi, orangtua akan khawatir luka itu mengakibatkan tetanus. Tetanus yang merupakan salah satu penyakit berbahaya pada anak. […]

    Fakta Seputar Tetanus Pada Anak

    Saat Anda menemui anak Anda terluka atau tertusuk paku, apa yang ada di benak Anda? Apakah Anda langsung memberikan obat luka dan berharap luka akan segera sembuh? Anda perlu hati-hati karena kuman dapat menyebar dan menginfeksi anak. Bisa jadi, orangtua akan khawatir luka itu mengakibatkan tetanus.

    Tetanus yang merupakan salah satu penyakit berbahaya pada anak. Tetanus dicirikan dengan kekakuan dan kejang berulang pada otot rangka. Penyebabnya adalah bakteri Clostridium tetani yang ditemukan di tanah, debu, pupuk, dan besi berkarat. Penyakit ini juga disebut lockjaw karena terjadi kekakuan sendi rahang yang menyebabkan penderita tak bisa membuka mulut.

    Baca Juga: Sebelum Menikah, Lakukan 5 Jenis Vaksin Ini

    Pada anak, kuman tetanus menginfeksi melalui luka yang dalam atau luka yang terkontaminasi bakteri tetanus, misalnya, pada saat pemotongan tali pusar dengan alat yang tidak steril atau luka terbuka yang kemudian terinfeksi kuman. Bakteri yang masuk ke dalam tubuh kemudian menghasilkan neurotoxin berupa racun yang menyerang sistem syaraf pusat. Racun yang menginfeksi sistem syaraf pusat ini bisa menjalar ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan system limfatik. Akibatnya, terjadi kekakuan dan kejang otot.

    Masa inkubasi kuman tetanus berkisar 7-10 hari. Gejala awal yang muncul adalah kaku pada leher, rahang, dan otot. Kekakuan pada otot muka menyebabkan ekspresi khusus yang disebut “Risus Sardonicus” dimana alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, dan bibir tertekan kuat. Kejang otot yang hebat bahkan bisa mengakibatkan patah tulang pada anak. Penyakit ini sangat berbahaya karena menyebabkan gangguan pernapasan, kekakuan otot, kejang, hingga mengakibatkan kematian. Dilansir dari CDC, 1 dari 5 anak meninggal akibat terinfeksi tetanus.

    Sebagai langkah pencegahan tetanus yang optimal dan efektif, lengkapi imunisasi Tetanus anak. Imunisasi tetanus yang diberikan pada berupa imunisasi kombinasi DTP (difteri-pertusis dan tetanus), dimulai pada usia 2, 3, dan 4 bulan kemudian booster saat usia 18 bulan dan 5 tahun. Pada anak di atas usia 7 tahun dapat dilakukan imunisasi ulangan berupa imunisasi Td atau Tdap.

    Produk Terkait: Vaksinasi Tetanus

    Sudah lengkapkah pemberian imunisasi anak Anda? Jika belum, segera jadwalkan untuk imunisasi sekarang. Namun jika Anda ingin lebih praktis, bisa vaksinasi di rumah loh! Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah. Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Lestari C. TanyaDok.com | Hati-hati Terkena Tetanus | Page 7 of 7 [Internet]. TanyaDok.com. [cited 2 February 2018]. Available from: tanyadok.com
    2. Tetanus [Internet]. Kidshealth.org. 2010 [cited 2 February 2018]. Available from: kidshealth.org
    3. Tetanus Fact Sheet for Parents | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2014 [cited 2 February 2018]. Available from: cdc.gov
    4. Tetanus Vaccination | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2017 [cited 2 February 2018]. Available from: cdc.gov
    Read More

Showing 51–60 of 68 results

WhatsApp Asisten Maya saja