Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Posts tagged “ anak”

Showing 41–50 of 71 results

  • Pilek. Siapa sih di antara kita yang sering mengalami penyakit ini? Kapan sih terakhir kalian terserang pilek? Pilek merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang kita sewaktu-waktu bahkan sudah dikenal sebagai penyakit yang tidak berbahaya dan dapat sembuh tanpa resep dokter – bahkan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, apakah benar pilek tidak berbahaya seperti yang […]

    Cara Mencegah Pilek pada Anak

    Pilek. Siapa sih di antara kita yang sering mengalami penyakit ini? Kapan sih terakhir kalian terserang pilek? Pilek merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang kita sewaktu-waktu bahkan sudah dikenal sebagai penyakit yang tidak berbahaya dan dapat sembuh tanpa resep dokter – bahkan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, apakah benar pilek tidak berbahaya seperti yang kita pikir selama ini? Siapa sebenarnya yang rentan untuk terserang pilek?

    Pada penderita pilek, masa inkubasi virus biasanya berlangsung selama 2 hingga 3 hari dan gejala penyakit ini justru muncul setelah masa inkubasi selesai. Pliek merupakan penyakit yang bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu, alias bisa menyerang dari mereka yang masih balita hingga yang sudah berusia paruh baya bahkan berusia lanjut. Lalu siapa yang paling rentan terserang virus pilek?

    Seperti berbagai penyakit lainnya, tentu saja penyakit pilek sangat mudah untuk menyerang mereka yang berdaya tahan tubuh lemah. Balita cenderung lebih menderita ketika terserang pilek karena daya tahan tubuh mereka lemah dan penyakit pilek ini cenderung lebih lama daripada golongan usia lainnya, yaitu dengan rentang waktu 10 hingga 14 hari. Hal ini cukup berbeda ketika anak sudah menginjak usia lebih besar, di mana penyakit pilek ini hanya berlangsung dalam kurun waktu 7 hingga 10 hari.

    Kok bisa? Tentu saja jawabannya karena daya tahan tubuh kita yang semakin kuat dari hari ke hari. Anak-anak diperkirakan bisa mengalami penyakit ini sebanyak 8 hingga 12 kali dalam setahun sedangkan orang dewasa hanya 2 hingga 4 kali. Perbedaan yang cukup mencolok bukan?

    Pilek cenderung muncul hanya dalam bulan-bulan tertentu, lebih tepatnya ketika dalam masa pergantian antara musim kemarau ke musim penghujan – lebih tepatnya terjadi antara bulan Oktober hingga Februari. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir terserang virus pilek ini? Apa yang menandakan kita atau anak sedang terserang virus pilek? Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai gejala pilek serta upaya mencegah terjangkit virus pilek yang pastinya praktis untuk dilakukan. Daripada semakin penasaran, yuk kita simak penjelasan yang satu ini!

    Gejala Pilek Anak

    Meskipun pilek bukan suatu penyakit berbahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang, tentu saja kita sebaiknya segera menanganinya ketika muncul beberapa gejala pilek agar penyakit ini tidak bertambah parah dari waktu ke waktu. Berikut adalah beberapa gejala pilek awal yang mudah dikenali pada anak:

    1. Anak mengalami kelelahan yang berlebih atau lebih cepat lelah daripada sebelumnya meskipun melakukan aktivitas yang sama. Kelelahan ini juga disertai dengan terjadinya gangguan pada sistem pernafasan anak seperti tidak berhenti bersin ataupun batuk kering;
    2. Anak mengalami demam. Demam yang dialami oleh anak pun tidak biasa, alias anak tiba-tiba mengalami demam bahkan bisa berlangsung selama beberapa hari. Demam yang dimaksud di sini pun tidak main-main alias bisa mencapai 38,3 derajat celcius dan apabila tidak segera ditangani tentu saja dapat menyebabkan kejang. Parahnya lagi, anak yang mengalami pilek dan berusia di atas 6 bulan suhunya dapat mencapai hingga 39,3 derajat ataupun lebih.
    3. Nafsu makan anak menurun. Hal ini tentu saja disebabkan kondisi tubuh anak yang tidak enak bahkan untuk menelan saja terasa sakit yang membuat anak enggan untuk makan, meskipun hanya mengemil atau biasanya nafsu makan anak besar. Bukan saja hanya nafsu makan menurun, anak juga bisa mengalami muntah ataupun diare ketika penanganan pilek terlambat.
    4. Anak mengalami gangguan pernafasan. Meskipun kita sudah tahu jika virus pilek menyerang saluran pernafasan, gejalanya akan terlihat sebagai gejala awal pilek di mana nafas anak akan menjadi pendek-pendek atau justru nafas anak menjadi sangat cepat dan tidak terkendali. Timbulnya gejala yang satu ini biasanya juga disertai dengan anak mengeluhkan timbulnya rasa nyeri pada bagian telinga.

    Cara Mencegah Pilek Pada Anak

    Nah, bagaimana? Pastinya sekarang sudah paham, kan mengenai apa saja gejala pilek anak yang harus kita waspadai dan segera kita lakukan penanganan agar penyakit ini tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Lalu apakah ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah datangnya virus ini ke anak? Tentu saja ada! Wah apa saja ya kira-kira cara mencegah pilek pada anak yang mudah untuk dilakukan? Nah daripada semakin penasaran, yuk kita simak penjelasannya yang satu ini!

    1. Mencuci tangan

    Meskipun kelihatannya hal ini sepele, mencuci tangan merupakan hal yang efektif untuk dilakukan untuk mencegah anak terjangkit virus pilek. Tentu saja mencuci tangan yang dimaksud di sini pun bukan sembarangan alias kita perlu melakukan teknik cuci tangan yang tepat agar kuman dan bakteri dapat mati. Teknk cuci tangan yang dimaksud di sini pun mudah dilakukan , yaitu mencuci kedua tangan dengan sabun setidaknya selama 15 detik kemudian dibilas dengan air hingga bersih.

    2. Menjauhkan anak dari orang sakit

    Cara ini juga mudah untuk dilakukan sekaligus efektif untuk meminimalisir anak terserang penyakit. Seperti yang kita tahu pula, daya tahan tubuh anak belum sebagus orang dewasa sehingga sebaiknya kita menjauhkan anak dari orang lain yang sedang mengalami penyakit tertentu; setidaknya 6 meter agar kesehatan anak tetap terjaga. Hal ini juga bisa kita terapkan di rumah, di mana ketika ada anggota keluarga lainnya yang sakit sebaiknya anak tidak berada di satu ruangan dengan mereka.

    3. Vaksinasi Flu

    Seperti layaknya penyakit berbahaya lainnya, kita juga bisa memberikan vaksin flu pada anak sehingga daya tahan tubuh anak semakin kuat dan pastinya anak semakin kebal terhadap virus flu ataupun pilek. Vaksin flu bisa kita berikan sejak anak menginjak usia 6 bulan dan bisa kita berikan secara berkala alias setiap tahun yang berfungsi sebagai penguat (booster). Vaksin pilek bisa diberikan dalam dua bentuk, yaitu suntikan ataupun semprotan di mana vaksin ini diberikan dengan cara disemprotkan ke dalam lubang hidung atau biasa kita kenal dengan “flu mist”. Flu mist sendiri bisa diberikan pada anak yang sudah berusia 2 tahun dan juga bisa diberikan pada kita yang sudah tidak muda lagi – lebih tepatnya vaksin ini tetap bisa bekerja dengan efektif untuk mereka yang sudah menginjak usia 49 tahun.

    Nah, itu tadi adalah sekilas informasi mengenai pilek – lebih tepatnya bagaimana pilek menyerang anak dan gejala apa yang biasanya muncul. Mengetahui bagaimana cara mencegah anak terserang virus pilek juga merupakan hal penting supaya anak selalu dalam kondisi fit dan pastinya bisa riang gembira sepanjang hari. Bukan suatu hal yang sulit untuk dilakukan bukan untuk mencegah anak terserang pilek?

    Buat sobat yang ingin melakukan vaksinasi tapi tak sempat maka bisa mencoba salah satu layanan imunisasi flu dari prosehat. Prosehat memberikan layanan vaksinasi lengkap datang ke rumah. Ingat sehat ingat prosehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    • https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/8-jurus-ampuh-cegah-flu
    Read More
  • Tuberkulosis paru atau penyakit TB paru merupakan salah satu penyakit pernapasan yang sangat ditakuti kebanyak orang, terutama masyarakat Indonesia. Menurut laporan WHO kematian masyarakat dunia banyak yang disebabkan oleh TB dan juga malaria. Tak lupa juga AIDS menjadi permasalahan di kalangan masyarakat dunia. Penyakit tuberkolosis disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini bisa saja […]

    7 Gejala TB Paru pada Si Kecil

    Tuberkulosis paru atau penyakit TB paru merupakan salah satu penyakit pernapasan yang sangat ditakuti kebanyak orang, terutama masyarakat Indonesia. Menurut laporan WHO kematian masyarakat dunia banyak yang disebabkan oleh TB dan juga malaria. Tak lupa juga AIDS menjadi permasalahan di kalangan masyarakat dunia.

    Penyakit tuberkolosis disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini bisa saja menyerang berbagai usia, tidak hanya orang dewasa tetapi anak-anak sampai anak yang masih kecil sekalipun. Penyakit ini dapat dihindari dengan berbagai cara mulai dari menjaga kebersihan lingkungan sampai pengobatan dan juga terapi. Namun, sebelum mengenali penyakitnya Sobat harus bisa mengenali gejala yang ada, apa saja ?

    1. Batuk lama

    Batuk lama menjadi pertanda bahwa anak terserang atau terkena TB paru. Namun, bukan berarti ketika anak Sobat mengalami batuk maka langsung panik dan menyangka anak terkena TB paru. Sobat dapat mengkonsultasikan hal ini ke dokter terkait batuk yang diderita oleh anak. Jenis batuk pada TB paru biasanya berbeda dengan batuk biasa terjadi pada anak.

    Batuk yang diakibatkan TB paru penyebaran bakterinya terjadi dengan sangat cepat. Sulit untuk menghentikan batuk yang ada, apalagi pada malam hari tubuh anak merasa tidak enak. Selain itu, batuk TB paru memiliki karakter tidak pernah reda dan semakin parah serta sulit hilang sampai waktu 14 hari. Jika memang sudah melewati waktu tersebut segera ke dokter.

    1. Batuk berdarah

    Gejala selanjutnya yang mudah dikenali adalah batuk berdarah, dimana pasien yang terserang TB paru  pasti mengalami tahapan ini terutama mereka yang sudah terserang dengan waktu yang lama. Anak yang sudah mengalami batuk berdahak harus segera dilarikan ke rumah sakit karena darah yang terkandungpun terdapat bakteri berbahaya dan menular.

    Pengobatan TB paru jika sudah sampai tahapan batuk berdarah ini seringkali sulit. Selain itu anak-anak akan mengalami sakit yang terus menerus di bagian dada karena darah yang ada menyebabkan kurangnya oksigen dan infeksi pada paru. Jika sudah seperti ini biasanya penanganannya menjadi lebih kompleks.

    1. Anak menjadi sangat lemah

    TB paru mengandung bakteri yang sangat aktif dan bisa menyebabkan tubuh menjadi sangat lemah. Hal ini terjadi karena kondisi pernapasan anak yang memburuk dan menyebabkan mereka mudah lesu serta kehilangan oksigen. Gejala awalnya dapat disertai batuk atau tidak, batuk berdarah dan gejala lesu atau lemas sudah jelas menjadi tanda bahwa anak terserang TB paru.

    Selain itu tanda lainnya adalah anak menjadi tidak semangat baik bermain maupun bergerak. Pada umumnya anak sehat mungkin merasa lemah dan juga lesu tetapi jika berhubungan dengan mainan atau hal yang ia suka dapat menjadi semangat lagi. Hal ini berbeda dengan anak yang terserang TB paru.

    1. Berat badan terus menurun

    Anak yang terserang TB paru bisa mengalami penurunan berat badan yang sangat signifikan. Sebenarnya semua masalah pernafasan yang menyerang manusia khususnya anak-anak akan menyerang kondisi tubuh dan berat badan. Pada TB paru, berat badan anak akan turun atau tidak naik dalam 2 bulan sebelumnya meskipun sudah diberikan perbaikan gizi dalam 1-2 bulan.

    Lantas bagaimana kondisi mereka jika berat badan terus menurun? kemungkinan masalah yang dihadapi anak dengan TB paru adalah kurang gizi dan juga mengalami pertumbuhan yang buruk. Padahal, anak-anak pada masa pertumbuhan dan perkembangan banyak membutuhkan banyak nutrisi. Jelas jika TB paru tidak diobati maka akan bertambah buruk.

    1. Demam

    Demam berkepanjangan menjadi tanda selanjutnya anak terserang TB paru, dimana demam terjadi lebih dari 2 minggu dan atau berulang tanpa sebab yang jelas. Jika TB paru semakin parah maka demampun dapat semakin parah dan menyebabkan kejang. Sobat bisa menggunakan obat penurun panas tetapi hal tersebut tidak akan berlangsung lama karena demam seringkali kambuh.

    1. Mengeluarkan keringat pada malam hari

    Malam hari biasanya anak-anak tidur dengan nyenyak terutama jika anak sudah main dengan cukup lama. Sayangnya berbeda dengan kondisi anak yang terserang TB paru, ketika malam hari seringkali demam dan juga keluar keringat dingin. Kondisi ini terjadi baik ketika anak sedang demam ataupun tidak demam.

    Keringat dingin di malam hari ini disebabkan oleh infeksi dan adanya perubahan sistem imun dalam tubuh anak. Gejala ini seringkali diabaikan karena umumnya anak akan terlihat normal di siang hari. Sebagai orang tua, Sobat harus peka terhadap kondisi anak.

    1. Anak mudah murung dan marah

    Ketika sakit, anak-anak sangat mudah dikenali dan juga dipahami. Berbeda dengan orang dewasa yang bisa menutupi rasa sakit anak-anak lebih mengekspresikan rasa tidak nyaman mereka, terutama ketika terserang TB paru yang bisa menyebabkan mereka menjadi lemah atau lesu.

    Hal ini berimbas pada kondisi anak yang mudah marah dan seringkali murung. Tidak diketahui pasti mengapa anak menjadi rewel seperti bayi, tapi perlu Sobat pahami bahwa anak yang sedang tidak nyaman akibat penyakit akan mempengaruhi suasana hatinya. Apalagi jika hal tersebut menyebabkan batuk atau demam terus menerus yang membuat mereka lelah.

    Itulah ketujuh tanda yang paling bisa dikenali dari gejala TB paru pada anak. Memang jika dilihat sekilas gejalanya sama dengan gejala penyakit lainya sehingga tidak mudah untuk orang awam. Namun, sebagai orang tua baiknya peka dan juga mulai memahami jika ada masalah pada anak. TB paru pada anak bukanlah penyakit ringan yang mudah disembuhkan, melainkan berbahaya dan juga menular dan bisa menyebabkan penyakit menyebar disekitar keluarga Sobat.

    Untuk pencegahan, sobat bisa menggunakan vaksin BCG atau TB agar semua keluarga terlindungi dari penyakit tersebut. Prosehat juga memberikan layanan vaksinasi ke rumah sehingga tidak perlu lagi antri untuk melakukan vaksinasi. Ingat Sehat Ingat Prosehat

    Read More
  • Sekarang ini pemerintah banyak mempromosikan perang terhadap berbagai penyakit yang mudah menular atau menjadi wabah. Salah satunya adalah Rubella yang mengkhawatirkan banyak orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa dan tentu saja ibu hamil yang bukan hanya mementingkan kesehatan sendiri tetapi calon bayi yang ada diperutnya. Banyaknya masalah yang terjadi akibat ibu hamil yang terinfeksi Rubella […]

    Rubella dan Kehamilan serta Dampaknya pada Janin

    Sekarang ini pemerintah banyak mempromosikan perang terhadap berbagai penyakit yang mudah menular atau menjadi wabah. Salah satunya adalah Rubella yang mengkhawatirkan banyak orang, mulai dari anak-anak hingga dewasa dan tentu saja ibu hamil yang bukan hanya mementingkan kesehatan sendiri tetapi calon bayi yang ada diperutnya.

    Banyaknya masalah yang terjadi akibat ibu hamil yang terinfeksi Rubella dan berimbas pada bayi menyebabkan banyak orang yang mencoba mencegah atau menghindari rubella dengan berbagai cara. Namun, beberapa ibu hamil juga masih ada yang belum sadar betapa pentingnya menjaga kesehatan khususnya dari Rubella. Berikut ini akan kita bahas secara gamblang.

    Bahaya Rubella atau Campak Jerman bagi ibu hamil

    Rubella bisa dikategorikan penyakit yang berbahaya bagi ibu hamil serta janinnya, karena dapat menimbulkan cacat lahir. Rubella atau campak jerman termasuk virus yang paling berbahaya dan mematikan, umumnya menyerang ibu hamil pada 12 minggu pertama atau trimester pertama.

    Selain itu, ada juga penyakit yang disebut Congenital Rubella Syndrome (CRS), kondisi ini terjadi pada janin yang ada dalam perut atau rahim ibu yang terinfeksi virus tersebut. CRS bisa mempengaruhi kondisi di segala bagian tubuh bayi yang sedang berkembang. Tentu menjadi ketakutan sendiri jika yang terkena adalah bagian otak atau tubuh lain.

    Cacat lahir yang paling umum dari CRS dapat mencakup:

    • Gangguan pendengaran
    • katarak
    • penyakit jantung bawaan
    • keterlambatan perkembangan

    Tanda dan gejala

    Kenali gejala penyakit ini bila Sobat sangat khawatir mengenai keselamatan anak yang dikandung. Memang beberapa gejala hampir serupa dengan penyakit lainnya. Namun, Sobat bisa menilai dari tanda khusus rubella yang tidak akan muncul pada penyakit lain, yakni ruam merah yang sudah pasti muncul pertama kali.

    • Ruam merah

    Untuk anda yang terjangkit rubella, masalah yang pertama muncul adalah ruam merah khususnya di bagian wajah serta leher. Selain itu rubella akan menyebar ke semua bagian tubuh dan berproses selama 3 hari gejala lainnya kemudian akan menyusul atau muncul. Diantaranya adalah :

    • demam ringan (<39°C) yang sulit untuk terun
    • adanya mual dan juga muntah meskipun tidak salah makan
    • sakit kepala
    • mata mulai memerah dan bengkak
    • Tubuh mulai terasa tidak nyaman, batuk dan nyeri tenggorokan
    • Pembengkakan pada kelenjar getah bening
    • Khusus ibu hamil adanya kondisi tidak nyaman dan kurang sehat pada tubuh serta janin lambat merespon anda. selain itu pegal yang dirasakan berbeda dengan pegal ibu hamil biasanya, karena menyerang berbagai bagian tubuh tidak hanya punggung ataupun kaki.

    Penyebaran Rubella

    Rubella menular melalui percikan cairan penderita ketika mereka bersin atau batuk. Bila mengenai wanita hamil, maka besar kemungkinan janin yang dikandung tertular penyakit ini. Pada ibu hamil jika memang sang ibu terkena rubella maka kemungkinan menularkan ke bayinya secara langsung sebesar 90% . Bayi dengan CRS dapat membawa virus selama satu tahun atau lebih. Berdasarkan WHO sendiri angka CSR sangat tinggi di Afrika dan Asia Tenggara.

    Pemerintah menggalakan program vaksin MR atau rubella untuk mengurangi wabah dan kandungan virus rubella di Indonesia. Khususnya mereka yang tinggal di lingkungan padat penduduk dan mudah sekali menular wabahnya. Ibu hamil yang membekali diri dengan banyak nutrisipun tetap bisa terkena masalah tersebut.

    Cara Menghindari dan Menyembuhkan Rubella

    Ada beberapa cara pada ibu hamil untuk menghindari dan juga menyembuhkan rubella agar tidak semakin parah atau tidak terjangkit. Pertama yakni mengonsumsi makanan bergizi khususnya ibu hamil trisemester pertama yang masih mengalami mual dan sulit makan. Nutrisi ibu hamil harus lebih banyak mengingat daya tahan tubuh bekerja untuk dua nyawa.

    Sedangkan virus termasuk masalah penyakit yang banyak ditakuti karena bisa masuk dan menyerang pasien dengan mudah. Ibu hamil harus memperhatikan porsi makan serta kandungan nutrisi apa saja yang ada pada makanan tersebut.

    Selanjutnya adalah istirahat yang cukup pada ibu hamil karena ibu hamil mudah lelah dengan membawa janin yang ada di kandungan tanpa bisa dilepas sedikitpun. Sobat harus bisa mengtur waktu untuk mengistirahatkan tubuh dan kondisi anda. Jika tidak fit dan membiarkan tubuh terlalu lelah, maka berbagai penyakit termasuk virus mudah masuk ke dalam tubuh.

    Pilihan tepat lainnya adalah melakukan vaksin rubella untuk mencegah dan meminimalisir terjangkitnya virus rubella tersebut. Tentu kamu bisa melakukan vaksin rubella di ProSehat yang memberikan layanan vaksinasi ke rumah.

    Namun, semua kembali pada kemauan Sobat dan tekat sebagai ibu yang melindungi janinnya. Rubella yang menyerang ibu hamil berpotensi untuk merugikan dan menularkan kembali pada anak Sobat yang lainnya atau orang disekitarnya. Usahakan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat.

     

    Read More
  • Kelahiran si Kecil selalu disambut dengan berbagai persiapan oleh orangtua sebagai ungkapan sayang dan bahagia. Seringkali, tantangan yang dihadapi orangtua dalam mengasuh si Kecil seperti menyesuaikan jadwal tidur dan menyusui di malam hari, ditambah rutinitas pekerjaan yang tetap harus berjalan, membuat beberapa bulan pertama setelah melahirkan adalah masa – masa yang melelahkan secara fisik dan […]

    Olahraga Asyik Moms & Kids Sesuai Tahap Perkembangan Motorik

    Kelahiran si Kecil selalu disambut dengan berbagai persiapan oleh orangtua sebagai ungkapan sayang dan bahagia. Seringkali, tantangan yang dihadapi orangtua dalam mengasuh si Kecil seperti menyesuaikan jadwal tidur dan menyusui di malam hari, ditambah rutinitas pekerjaan yang tetap harus berjalan, membuat beberapa bulan pertama setelah melahirkan adalah masa – masa yang melelahkan secara fisik dan emosional. Menariknya, The American College of Obstetrics and Gynecologists menyatakan bahwa olahraga bagi Ibu yang baru saja melahirkan justru memberikan banyak keuntungan, termasuk meningkatkan energi dan kondisi psikologi. Mari kita simak olahraga apa saja yang dapat dilakukan Moms bersama si Kecil, serta manfaat – manfaatnya!

    Untuk Ibu dan si Kecil usia 0 – 1 tahun

    Di bawah usia 1 tahun, kemampuan motorik si Kecil masih dalam tahap perkembangan, sehingga pilihan olahraga lebih disesuaikan dengan kebutuhan sang Ibu. Setelah melahirkan secara normal dan tanpa komplikasi, Ibu dianjurkan untuk memulai aktivitas fisik kembali secara perlahan setelah 4 – 6 minggu.

    Olahraga yang disarankan bagi Moms pada masa ini adalah aktivitas fisik taraf sedang, yaitu aktivitas yang cukup untuk meningkatkan detak jantung dan berkeringat, namun tidak terlalu berat. Contoh olahraga yang dimaksud seperti jalan cepat dan bersepeda pada permukaan datar. Lama olahraga yang disarankan sebanyak 150 menit/minggu dan dibagi sesuai waktu luang yang tersedia. Jika sudah mulai terbiasa, Moms dapat melakukan olahraga ini sambil mengajak si Kecil dengan bantuan kereta bayi. Bagi Ibu menyusui, disarankan untuk menyusui si Kecil terlebih dahulu sebelum olahraga agar tidak terganggu oleh kondisi payudara yang kencang.

    Keuntungan bagi Ibu, aktivitas fisik taraf sedang ini dapat menguatkan kembali otot perut yang teregang akibat kehamilan, meningkatkan mood dan mengurangi stres, membantu mengembalikan berat badan, meningkatkan kebugaran dan energi, serta menjalin kedekatan hubungan Ibu–Anak. Bagi si Kecil, diajak mengenal lingkungan luar sangat membantu perkembangan motoriknya, seperti menggerakkan kepala, melirik, memusatkan pandangan terhadap objek, mengenali dan merespons terhadap suara, juga melatih ekspresi saat diajak bersosialisasi.

    Untuk Ibu dan si Kecil usia 1 – 3 tahun

    Mulai usia di atas 1 tahun, si Kecil sudah dapat berjalan sendiri dan menginjak usia 2 tahun umumnya sudah dapat berlari. Pada tahap ini, si Kecil perlu diajak kerja sama untuk melakukan olahraga bersama Moms, yang tentu saja harus dikemas dalam bentuk permainan atau aktivitas yang disenangi si Kecil. Contohnya, si Kecil yang baru bisa berjalan sangat gemar untuk berjalan – jalan, berlari, maupun melompat, dimana hal ini dapat menjadi bentuk olahraga bagi Moms untuk ikut menemani si Kecil bermain. Usia 1 – 3 tahun juga merupakan periode dimana si Kecil butuh mengeksplorasi objek dan lingkungan yang baru, sehingga Moms dapat melakukan olahraga dengan mengajak si Kecil berjalan di taman atau area bermain untuk memperkenalkannya dengan berbagai objek baru, serta melatih kelincahan motoriknya.

    Untuk Ibu dan si Kecil usia 3 – 6 tahun

    Setelah mencapai usia 3 tahun, semakin banyak pilihan olahraga yang dapat dilakukan bersama si Kecil. Aktivitas yang memerlukan gerakan kompleks sudah dapat dilakukannya. Contoh olahraga yang dapat dilakukan Ibu bersama si Kecil adalah lempar – tangkap bola, bermain sepeda bersama (dengan bantuan sepeda roda tiga), memanjat struktur tinggi di area bermain, bahkan menari atau senam bersama.

    Secara psikologi, mulai usia 3 tahun ke atas, si Kecil berada pada masa ingin belajar mandiri dan tidak bergantung kepada orang tua lagi. Namun, sangat penting bagi orang tua untuk tetap menjaga hubungan yang baik tanpa menghalangi si Kecil mengenal dan berinteraksi dengan dunia luar. Dengan demikian, selain bertujuan melatih kemampuan motorik dan kekuatan fisik, mengajak si Kecil olahraga bersama merupakan salah satu cara yang baik untuk tetap meningkatkan komunikasi pada masa peralihan ini.

    Untuk Ibu dan si Kecil 6 – 11 tahun

    Memasuki usia sekolah, si Kecil semakin lama menghabiskan waktunya di sekolah dan dibutuhkan rasa percaya diri serta kemampuan komunikasi yang baik untuk bisa bersosialisasi dengan guru dan teman – temannya. Telah terbukti secara ilmiah, bahwa hal tersebut dapat tercapai bila si Kecil mendapat dukungan yang kuat secara psikologis di rumah, dimana orang tua memegang peranan yang sangat penting. Salah satu cara memberikan dukungan tersebut adalah dengan membina hubungan yang erat dan menyenangkan bagi si Kecil, salah satunya dengan olahraga bersama, seperti bermain basket bersama Ayah atau menari bersama Ibu. Bagi anak usia sekolah, aktivitas fisik yang dianjurkan adalah 1 jam/hari, untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mencegah obesitas pada anak.

    Bagaimana Moms? Tidak sulit bukan untuk berolahraga bersama si Kecil? Jadi, jangan ragu untuk memulai aktivitas bersama si Kecil sejak dini ya, karena selain memberikan manfaat bagi Anda yang baru melahirkan, ternyata banyak juga manfaat yang bisa didapatkan si Kecil baik secara fisik dan psikologis, sehingga dapat meningkatkan kemampuan dirinya dalam proses belajar kelak.

    Jangan lupa, Anda juga bisa mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Info lebih lanjut, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS/WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi

    1. Felfe C, Lechner M, Steinmayr A. Sports and Child Development. PLOS ONE. 2016;11(5):e0151729.
    2. Nelson. Textbook of Pediatrics. Edisi ke-20. Philadelphia: Elsevier, 2016.
    3. Roy B. Postpartum Exercise. ACSM’s Health and Fitness Journal. 2014;18(6):3-4.
    4. Şahin F. Mother-Child Relation and Factors Affecting This Relation. International Journal of Science Culture and Sport. 2014;2(3):79-88.
    Read More
  • Apa yang menjadi moment berharga Si kecil? Kedipan pertama, senyuman pertama hingga langkah pertama menjadi moment yang tak terlupakan untuk Moms. Dr. dr. Saptawi Bardosono, MSC dari Indonesian Nutrition Association mengatakan tumbuh kembang Si Kecil dikatakan berkembang jika banyak melakukan aktivitas fisik dan kognitif. Proses tumbuh kembang tersebut dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik […]

    Jangan Lewatkan Moment Tumbuh Kembang Si Kecil

    Apa yang menjadi moment berharga Si kecil? Kedipan pertama, senyuman pertama hingga langkah pertama menjadi moment yang tak terlupakan untuk Moms. Dr. dr. Saptawi Bardosono, MSC dari Indonesian Nutrition Association mengatakan tumbuh kembang Si Kecil dikatakan berkembang jika banyak melakukan aktivitas fisik dan kognitif.

    Proses tumbuh kembang tersebut dari berbagai faktor yang saling berkaitan, baik secara genetik maupun lingkungan. Perkembangan setiap anak berbeda-beda dan memiliki ciri khasnya tersendiri. Jadi, jangan sampai Moms melewatkan tumbuh kembang Si Kecil, abadikan dan bagikan moment aktifnya di ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat.

    ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat, foto aktivitas seru Moms bersama Si Kecil dan ceritakan betapa berharganya kesehatan Si Kecil. Berikut Syarat & Ketentuan ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat.

    Syarat & Ketentuan ProSehat Photo Competition #AkuAnakSehat

    1. Bagikan foto bersama Si Kecil dan tunjukkan keseruan dari aktivitas yang dilakukan bersama anak usia 1-5 tahun
    2. Berikan caption, betapa berharganya kesehatan anak. Contoh : Shelly, anak yang aktif dan periang, dia sangat suka sekali mencoba hal baru. Tapi kalau lagi sakit, dia suka sedih dan nggak mau ngelakuin apa-apa. Penting banget menjaga mood anak tetap bagus serta menjaga nutrisi nya tercukupi.
    3. Pastikan bahwa account Moms tidak di private
    4. Berikan hashtag #AkuAnakSehat #IngatSehatIngatProsehat dan ajak/mention 3 moms lain untuk ikutan
    5. Follow Instagram Account @prosehatdan #repost Pic ini di IG mom
    6. Durasi Photo Competition : 20 Juli – 10 Agustus 2018

    3 Foto paling seru akan mendapatkan hadiah menarik :

    Juara 1 : voucher Vaksinasi ke Rumah senilai Rp. 1 Juta + Tas Okiedog

    Juara 2 : voucher Vaksinasi ke Rumah senilai Rp. 500 ribu + Tas Okiedog

    Juara 3 : voucher Vaksinasi ke Rumah senilai Rp. 300 ribu + Tas Okiedog

    Jadi tunggu apalagi Moms? Ikutan sekarang dan menangkan hadiah menarik dari ProSehat. Jangan sampai kelewatan ya Moms!. Ingat Sehat Ingat ProSehat..

    Referensi:

    ProSehat. “Jangan Lewatkan Tahap Tumbuh Kembang Anak”. https://www.prosehat.com/artikel/anaksehat/jangan-lewatkan-tahap-tumbuh-kembang-anak. Diakses pada 25 Juli 2018

     

    Read More
  •   Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dan family Paramyxoviridae. Virus ini dapat bertahan selama dua jam di udara maupun permukaan. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Data yang […]

    SEPUTAR CAMPAK PADA ANAK YANG HARUS DIKETAHUI ORANGTUA

     

    Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus dan family Paramyxoviridae. Virus ini dapat bertahan selama dua jam di udara maupun permukaan. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak. Insiden tertinggi usia terkena campak adalah pada anak usia 1-2 tahun. Data yang dilansir dari Kemenkes menunjukkan setiap tahun dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek campak, 12–39% di antaranya terkonfirmasi laboratorium. Selama kurun waktu lima tahun (2010-2015), diperkirakan terdapat 23.164 kasus campak.

    Penderita akan mendapati gejala berupa demam tinggi, mata merah, hidung beringus, nyeri, lemas, hilang nafsu makan, dan diare. Lalu, dua hingga empat hari kemudian muncul ruam diseluruh tubuhnya dan pembengkakan pada kelenjar getah bening. Campak menular lewat droplet saat penderita bersin atau batuk. Pada dasarnya campak dapat menginfeksi semua orang terlebih pada balita yang belum mendapat vaksinasi campak. Komplikasi campak antara lain diare, infeksi telinga, bronkitis, infeksi paru (pneumonia), infeksi otak (ensefalitis), dan kebutaan.

    Kesembuhan campak bergantung dari daya tahan tubuh penderita. Pengobatan campak umumnya bersifat mengurangi gejala. Hal yang dapat anda lakukan adalah memberikan penurun panas, mencukupi kebutuhan cairan, dan memberikan vitamin A. Untuk menjaga kebersihan anak yang terkena campak masih boleh dimandikan dengan air hangat.

    Campak dapat dicegah dengan vaksinasi. Lakukan pencegahan campak dengan vaksinasi campak atau MR yang merupakan vaksin gabungan campak dan campak jerman. Dosis pertama imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan lalu booster usia 12-15 bulan, dan dosis selanjutnya usia 4-6 tahun.

    Hampir 95% anak yang diimunisasi campak tidak akan terkena campak. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan bahwa dengan bertambahnya usia daya tahan tubuh dapat menurun. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melengkapi status imunisasi dengan melakukan imunisasi ulangan. Apabila status imunisasi tidak lengkap dikhawatirkan akan berpeluang terinfeksi campak.

    Nah, sekarang ada cara praktis untuk melakukan imunisasi. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Cdc.gov. (2017). Measles | Vaccination | CDC. [online] Available at: https://www.cdc.gov/measles/vaccination.html [Accessed 25 Jan. 2018].
    2. Lestari, C. TanyaDok.com | Campak | Page 8 of 8. [online] TanyaDok.com. Available at: https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/campak/8 [Accessed 25 Jan. 2018]
    3. Suci H. TanyaDok.com | Dari A-Z tentang Sakit Campak [Internet]. TanyaDok.com. [cited 5 February 2018]. Available from: https://www.tanyadok.com/anak/dari-a-z-tentang-sakit-campak
    4. STATUS CAMPAK DAN RUBELLA SAAT INI DI INDONESIA [Internet]. Searo.who.int. 2017 [cited 5 February 2018]. Available from: http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_measles_status.pdf?ua=1
    Read More
  • Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia […]

    Imunisasi Polio Tetes VS Suntik, Yuk Disimak Penjelasannya

    Penyakit polio atau lumpuh layu merupakan penyakit yang banyak ditakutkan oleh sebagian orang karena akan menimbulkan kecacatan seumur hidupnya. Penyakit ini tidak bisa diobati dan hanya dapat dicegah dengan pemberian vaksin polio. Vaksin ini diberikan 4 dosis ditambah dengan satu dosis penguatan, yaitu pada waktu bayi lahir-1 bulan, bulan ke-2,3,4 dan dosis penguatan saat usia bayi 18 bulan. Vaksin yang diberikan dapat berupa Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) and Oral Poliovirus Vaccine (OPV).

    Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus polio yang sudah tidak aktif dan diberikan dalam bentuk suntikan di bahu atau paha dalam. Pada vaksin ini terdapat sedikit komponen neomisin, streptomisin dan polimiksin B, sehingga bagi mereka yang memiliki alergi terhadap antibiotik tersebut tidak disarankan mendapatkan vaksin IPV karena ditakutkan akan menimbulkan reaksi alergi. Reaksi ringan yang dapat terjadi setelah penyuntikan adalah kemerahan, bengkak di tempat suntikan yang akan hilang dalam 2-3 hari. Reaksi berat biasanya jarang terjadi, yaitu berupa reaksi alergi yang dapat menyebabkan syok anafilaksis.

    Efektivitas perlindungan vaksin polio IPV sampai dengan 99%-100% bila diberikan dalam 3 dosis.3 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perlindungan lapisan usus terhadap virus polio sedikit lebih rendah daripada perlindungan yang didapat dari vaksin polio OPV, namun, perlindungan lapisan kerongkongan terhadap virus polio sama saja dengan vaksinasi polio OPV.

    Oral Poliovirus Vaccine (OPV) merupakan vaksin polio yang berisi virus Polio yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini diberikan secara oral berupa tetesan ke dalam mulut bayi. Pemberian vaksin polio tetes masih mungkin sekalipun sangat jarang sekali, menimbulkan reaksi berat berupa Paralitik Poliomielitis (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis atau VAPP) dan Vaccine-derived Polioviruses (VDPVs), yang dapat menyebabkan wabah polio.

    Baca Juga:

    Orang tua pasti memilih jenis vaksin yang paling aman untuk diberikan kepada anaknya. Vaksin polio tetes masih diberikan di banyak negara di berbagai belahan dunia karena praktis dan kemudahan pemberian vaksin. Rekomendasi dari IDAI 2017 bagi anak Indonesia adalah memberikan vaksin polio tetes sebanyak 3 dosis dan pada dosis ketiga, diberikan vaksin polio suntik (IPV) bersamaan dengan vaksin polio tetes (OPV). Dosis penguat vaksinasi polio dapat diberikan berupa vaksin polio tetes (OPV) atau vaksin polio suntik (IPV).

    Baca Juga: 5 Pertanyaan Seputar Vaksin Bayi

    Kini orangtua tak perlu bingung untuk melakukan vaksin, hanya dengan mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh! Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    instal aplikasi prosehat

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine.[Internet]. Retrieved form: cdc.gov
    2. World Health Organization. Information sheet observed rate vaccine reactions: Polio Vaccines.2014. [Internet]. Retrieved from: who.int
    3. Polio Vaccine Effectiveness and Duration of Protection | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: cdc.gov
    4. WHO | Inactivated polio vaccine (IPV) [Internet]. Who.int. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: who.int
    5. Jadwal Imunisasi 2017 [Internet]. IDAI. 2018 [cited 1 April 2018]. Available from: idai.or.id
    Read More
  • Rubela merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Rubela. Pada anak-anak gejala yang sering terjadi adalah timbulnya ruam merah di muka yang menyebar ke leher, dada,  tangan dan kaki. Namun, sebagian besar lainnya tidak merasakan gejala yang khas saat terkena rubela. Penyakit ini menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan penderita melalui batuk, atau saat bersin. Gejala […]

    RUBELA PADA ANAK

    Rubela merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Rubela. Pada anak-anak gejala yang sering terjadi adalah timbulnya ruam merah di muka yang menyebar ke leher, dada,  tangan dan kaki. Namun, sebagian besar lainnya tidak merasakan gejala yang khas saat terkena rubela. Penyakit ini menular melalui percikan cairan yang dikeluarkan penderita melalui batuk, atau saat bersin.

    Gejala penyakit rubela pada anak yang dapat ditimbulkan biasanya timbul 1-5 hari sebelum munculnya ruam pada tubuh, gejala tersebut antara lain:

    1. Nyeri pada mata terutama saat mata bergerak
    2. Radang pada selaput konjungtiva mata (konjungtivitis)
    3. Batuk, sakit kepala, dan disertai dengan nyeri pada sendi tubuh
    4. Demam, menggigildan mual
    5. Pembengkakan kelenjar getah bening terutama di belakang telinga dan belakang kepala.

    Agar anak dapat terhindar dari Rubela, maka pencegahannya adalah dengan diberikannya vaksin Rubela. Vaksin rubela tersedia dalam sediaan tunggal atau kombinasi dengan vaksin campak (measles). Menurut rekomendasi IDAI vaksin MR dapat diberikan pada usia 15 bulan dan dilakukan dosis penguatan (booster) pada usia 5 tahun.

    Vaksin MR aman diberikan pada anak dan tidak akan menyebabkan autisme. Reaksi ringan yang mungkin terjadi adalah rasa nyeri, kemerahan, dan bengkak di tempat penyuntikan. Reaksi lebih berat dapat terjadi bila seseorang alergi terhadap komponen yang ada di vaksin MR. Reaksi tersebut dapat menimbulkan syok anafilaksis.

    Jadi, jangan takut untuk memberikan vaksin yang dapat mencegah anak Anda dari penyakit rubela. Bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. Center for Disease Control and Prevention. Rubella. 2013. [Internet]. Retrieved from: cdc.gov
    2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Lembar fakta poliomieitis, rubela, dan campak. 2016.[Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    3. Ezike E. Pediatric Rubella. 2017. [Internet]. Retrieved from: emedicine.medscape.com
    Read More
  • Imunisasi diberikan untuk mencegah agar tidak tertular oleh penyakit. Imunisasi, terkadang mengandung beberapa bahan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap orang yang disuntik. Kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi kita sebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu adalah benar. Gejala dari KIPI […]

    REAKSI KIPI BERAT, KAPAN PERLU BAWA ANAK KE DOKTER?

    Imunisasi diberikan untuk mencegah agar tidak tertular oleh penyakit. Imunisasi, terkadang mengandung beberapa bahan yang dapat menimbulkan reaksi terhadap orang yang disuntik. Kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi kita sebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Namun, tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu adalah benar.

    Gejala dari KIPI dapat terjadi ringan dan berat. Gejala ringan seperti reaksi yang terjadi pada tempat suntikan berupa bisul, bengkak, merah pada tempat suntikan. Reaksi berat  dapat melibatkan sistem organ yang lebih luas lagi seperti sistem saraf pusat yang menyebabkan kejang, radang pada selaput otak (meningitis), dan kelumpuhan. Reaksi lain yang lebih berbahaya adalah syok anafilaksis yang dapat terjadi sesaat setelah dilakukan penyuntikan. Petugas kesehatan yang terlatih harus segera melakukan tindakan penyelamatan di tempat, sehingga kegawatan dapat diatasi.

    Lalu, apakah semua KIPI harus segera dilaporkan ke dokter? Tidak. Reaksi pasca imunisasi yang ringan, misalnya nyeri dan bengkak kemerahan pada area bekas suntikan atau demam, umumnya akan hilang dengan sendirinya dalam 2-3 hari. Namun, beberapa tanda dan gejala KIPI yang harus dilaporkan segera atau anak diperiksakan kembali ke dokter adalah:

    1. Reaksi ringan yang terjadi terus menerus seperti bengkak yang tidak hilang,
    2. Tangan atau lengan atau tungkai yang sakit/sulit digerakkan setelah dilakukan penyuntikan,
    3. Anak demam tinggi dan tidak mereda,
    4. Anak menangis terus-menerus dan tidak mau berhenti,
    5. Anak alami kejang,
    6. Adanya gejala-gejala lainnya.

    Tapi, orang tua jangan takut untuk tetap melakukan vaksinasi karena reaksi ini sangat sangat jarang terjadi dan perlindungan vaksinasi sangat diperlukan untuk mencegah dari penyakit yang berbahaya.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp: 0811-18-16-800 sekarang juga!

    REFERENSI:

    1. Hadinegoro SR. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Sari Pediatri.2000;2(1):2-10.
    2. Soedjatmiko. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. 2013. [Internet]. Retrieved from: idai.or.id
    Read More
  • Tuberkulosis (TBC) pada anak disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lain seperti tulang, mata, ginjal, selaput otak, kelenjar getah bening, jantung, hati, kulit, dan usus. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima prevalensi TBC paru terbanyak. Setiap tahun didapatkan 250.000 kasus baru dan 100.000 kematian karena TBC. Di negara […]

    TUBERKULOSIS (TBC) PADA ANAK

    Tuberkulosis (TBC) pada anak disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru-paru, tetapi dapat menyerang organ lain seperti tulang, mata, ginjal, selaput otak, kelenjar getah bening, jantung, hati, kulit, dan usus. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima prevalensi TBC paru terbanyak. Setiap tahun didapatkan 250.000 kasus baru dan 100.000 kematian karena TBC. Di negara berkembang, TBC pada anak <15 tahun adalah 15% dari seluruh kasus TBC, sedangkan di negara maju 5%-7%.1,2

    Tuberkulosis paru menular melalui percikan dahak orang dewasa sewaktu bersin, berbicara, atau bernyanyi, lalu terhirup dan masuk ke dalam paru-paru anak. Faktor risiko terjadinya TBC paru pada anak antara lain riwayat kontak dengan penderita TBC paru dewasa, daerah endemis, kemiskinan, lingkungan tidak sehat, dan tempat penampungan umum yang terdapat orang dewasa dengan TBC aktif.

    Gejala TBC pada anak terkadang sulit didiagnosis menyebabkan penanganan TBC dengan anak terabaikan. Gejala TBC pada anak antara lain adalah:

    1. Demam lama > 2 minggu atau demam berulang (umumnya demam tidak terlalu tinggi)
    2. Batuk yang menetap atau memburuk > 3 minggu
    3. Nafsu makan turun, berat badan turun atau tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut
    4. Teraba benjolan di leher (umumnya lebih dari satu)
    5. Anak tampak lesu dan tidak kelihatan seaktif biasanya
    6. Kontak erat dengan penderita TBC paru aktif1

    Apabila anak anda diduga menderita TBC paru, maka segera lakukan pemeriksaan penunjang yaitu tes mantoux. Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan cairan tuberkulin di bawah kulit dan hasilnya dapat dilihat dalam 48-72 jam dengan timbulnya benjolan kurang lebih 10 mm, berati tes positif, anak pernah terpapar dengan kuman tersebut. Selanjutnya, pemeriksaan rontgen dada dilakukan untuk melihat adanya gambaran infeksi paru.3

    Pencegahan dari penyakit ini adalah dengan diberikannya vaksinasi BCG. Vaksin ini diberikan sekali pada saat bayi baru lahir. Pemberian vaksin ini dilakukan secara intrakutan di otot lengan atas. Vaksin BCG merupakan vaksin yang berisi bakteri yang dilemahkan, sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan orang dengan penurunan sistem imun. Selain itu, skrining terhadap orang-orang di sekitar anak yang kemungkinan mengidap TBC juga sebaiknya dilakukan agar anak dapat terhindar dari penularannya.

    Nah, bila ingin mendapatkan vaksin dengan nyaman, ada cara praktis. Coba akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat, Anda bisa mendapatkan layanan vaksin ke rumah loh!

    Info lebih lanjut mengenai vaksinasi, hubungi segera Asisten Kesehatan Maya melalui Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800 sekarang juga!

    Referensi:

    1. Indawati W. Amankan buah hati anda dari tuberkulosis.2013. [internet]. Retrieved from: .idai.or.id
    2. Kartasasmita CB. Epidemiologi Tuberkulosis.Sari Pediatri 2009;11(2):124-9.
    3. Esposito S, Tagliabue C, Bosis S. Tuberculosis in children. Mediterranean Journal of Hematology and Infectious Diseases. 2013;5.
    Read More

Showing 41–50 of 71 results

Chat Asisten ProSehat aja