Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

3 Jenis Eat Disorder Yang Paling Berbahaya Beserta Gejalanya

Eat disorder atau gangguan makan adalah suatu rangkaian dari kondisi psikologis gangguan mental yang dapat disebabkan dari pola makan yang tidak sehat. Kondisi ini biasanya dipicu oleh adanya obsesi pada makanan tertentu, berat badan, atau bentuk tubuh. Eat disorder dapat dialami oleh siapa saja, terutama pada wanita muda.

jenis eat disorder

Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

Gangguan makan akan memperparah kondisi tubuh dan menyebakan konsekuensi kesehatan yang lebih serius, hingga berujung kematian. Beberapa gejala yang paling umum ditimbulkan dari gangguan makan, yaitu:

  • Pembatasan konsumsi makanan secara berlebihan
  • Makan berlebihan dengan durasi yang cepat, bahkan ketika sedang tidak lapar
  • Sengaja memuntahkan makan
  • Melakukan olahraga secara berlebihan

Gejala Eat Disorder Berdasakan Jenisnya

Gejala yang dialami penderita eat disorder dapat bermacam-macam, tergantung dari jenis gangguannya. Gejala pada gangguan makan yang berlebihan biasanya berupa:

1. Anoreksia Nervosa

Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang paling terkenal. Penderita anoreksia nervosa memiliki ganguan pada pola makan yang dipicu oleh keinginan seseoang untuk memiliki bentuk tubuh yang jauh dibawah normal atau sangat kurus. Mereka juga tidak pernah merasa puas dengan kondisi bentuk tubuh yang dimilikinya.

Kondisi ini umumnya terjadi pada masa remaja dan kemungkinan lebih banyak mempengarui wanita dibanding pria. Penderita anoreksia biasanya akan menganggap dirinya memiliki berat badan berlebih dari berat badan normal, padahal sebenarnya mereka sangat kurus.

Baca Juga: Apa Itu Anoreksia Nervosa? Yuk, Sahabat Kenali Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Penanganannya

Mereka akan terus-menerus  memantau berat badan mereka, menghindari konsumsi jenis makanan tertentu, dan memperketat asupan kalori.

Angka penderita anoreksia pada umumnya dikalangan wanita yang berusia 11 hingga 5 tahun berkisar dari 0 sampai 2,2% dan sekitar 0,3% diderita oleh pria. Kasus anoreksia nervosa berkisar antara 109 sampai 270/100.000 orang pertahun dengan angka kematian yang bervariasi berdasarkan populasi yang dipertimbangkan.

Gejala umum yang dialami oleh penderita anoreksia nervosa, di antaranya:

  • Pola makan yang minim
  • Tubuh menjadi sangat kurus dibandingkan dengan orang normal dengan usia dan tinggi yang sama.
  • Sangat ketakutan dengan kenaikan berat badan
  • Enggan untuk mempertahankan berat badan ideal yang sehat karena merasa harga diri nya bergantung pada berat badan dan bentuk tubuh yang dimiliki.
  • Citra tubuh yang telah terdistorsi

Gejala lain seperti obsesif-kompulsif juga sering muncul. Misalnya pada penderita anoreksia yang disibukan dengan pola pikir tentang makanan secara terus-menerus, dan beberapa diantaranya kemungkinan mengumpulkan resep atau menimbun makanan secara obsesif.

Penderita anoreksia dengan gejala seperti yang disebutkan diatas apabila dibiarkan terus-menerus dapat memicu kerusakan pada tubuh seiring berjalannya waktu, seperti:

  • Otot melemah
  • Kemandulan
  • Rapuhnya rambut dan kuku
  • Tumbuh lapisan rambut diseluruh tubuh
  • Suhu tubuh rendah sehingga sering merasa kedinginan
  • Siklus menstruasi tidak teratur atau bahkan tidak mengalami haid
  • Darah rendah
  • Anemia
  • Tulang menjadi keropos
  • Tidak berfungsinya beberapa organ
  • Gagal ginjal
  • Kerusakan otak
  • kematian

Penderita anoreksia akan berada pada kondisi kelaparan yang berkepanjangan. Hal ini tentunya memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan yang kompleks dan sangat berbahaya bagi tubuh.

2. Bulimia Nervosa

Bulimia nervosa merupakan bentuk gangguan mental yang mempengaruhi pola makan sehingga penderitanya akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan kebanyakan dari mereka kesulitan dalam mengontrol porsi makannya, yang kemudian akan dimuntahkan kembali dengan sengaja.

Mereka akan menggunakan berbagai cara memuntahkan makanan tersebut, bahkan dengan menggunakan obat-obatan seperti obat pencahar dan sejenisnya.

Bulimia nervosa dapat menyerang perempuan 9 kali lebih sering dibanding laki-laki. Sekitar satu sampai tiga persen wanita akan mengalami bulimia dalam hidupnya. Kasus terbaru terjadi pada sekitar 12 per 100.000 penduduk per tahun dengan rasio kematian standar pada bulimia adalah 1% hingga 3%.

Penderita bulimia juga melakukan olahraga ketat untuk membakar kalori dalam makanan yang telah dikonsumsinya.

Mereka sangat terobsesi pada berat badan yang stabil pada jumlah angka tertentu. Namun, berlainan dengan perilaku tersebut mereka akan merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena telah mengonsumsi banyak makanan.

Baca Juga: Inilah 10 tips Langsing Alami, Mudah Kok!

Sebab, mereka tidak ingin berat badannya bertambah sehingga ia akan memuntahkan makanan yang telah dimakan tersebut.

Karena perilaku tersebut, penderita bulimia nervosa akan mengalami gejala yang tampak mirip dengan subtipe pesta atau pembersihan anoreksia nervosa.

Namun, penderita bulia pada umumnya hanya akan mempertahankan berat badan idealnya yang cenderung normal, bukan untuk mendapatkan berat badan dengan angka paling kecil.

Gejala umum pada bulimia nervosa, di antaranya:

  • Memiliki porsi makan berlebih yang berulang dan tidak dapat terkontrol
  • Memiliki kebiasaan untuk mengeluarkan atau memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan untuk mencegah naiknya berat badan
  • Bentuk tubuh dan berat badan sangat berpengaruh pada harga diri
  • Ketakutan yang ekstrim pada pertambahan berat badan, meski berat badan yang dimiliki sudah normal

Dengan gejala seperti yang telah disebutkan, penderita bulimia nervosa akan memiliki efek samping yang akan dirasakan oleh tubuh, seperti:

  • Perdangan dan sakit tenggorokan
  • Bengkak pada kelenjar ludah
  • Lapisan email gigi terkikis
  • Kerusakan pada gigi
  • Refluks asam
  • Iritasi pada usus
  • Dehidrasi akut
  • Gangguan hormonal

Pada kasus yang lebih parah, penderita bulimia juga dapat memicu ketidakseimbangan pada kadar elektrolit, seperti natrium, kalsium, dan kalium. Bahkan dapat menyebabkan serangan jantung hingga stroke.

3. Binge Eating Disorder

Binge eating disorder (BED) atau gangguan makan berlebih merupakan gangguan pada pola makan, yaitu si penderita akan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan tidak terkontrol.

Berbeda dengan dua jenis gangguan makan sebelumnya, penderita binge eating justru tidak mempedulikan ukuran badan dan berat badannya. Malah, kebanyakan dari mereka juga menderita kelebihan berat badan yang ekstrim atau obesitas.

Berdasarkan survei, BED sangat mempengaruhi sekitar 1-2% di beberapa fase dalam kehidupan mereka. BED juga cenderung lebih sering terjadi pada wanita dari pada pria.

Penderita BED akan memiliki durasi makan dalam waktu yang sangat cepat denga porsi yang besar, mereka tidak akan berhenti jika belum merasa sangat kenyang.

Mereka juga akan mengonsumsi makanan dalam porsi yang besar meskipun sedang tidak merasa lapar dan akan merasa depresi setelah melakukan hal tersebut. Pada umumnya penderita binge eating ini dipicu oleh rasa stress akibat penderitaan yang mereka alami.

Baca Juga: 4 Jenis Makanan Agar Rasa Kenyang Lebih Lama

Penderita binge eating tidak akan membatasi jumlah kalori yang masuk dan juga tidak memiliki perilaku seperti memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan ataupun olahraga berlebihan, untuk menyeimbangkan berat badan yang diinginkan.

Gejala umumnya yang dialami oleh penderita gangguan makan berlebih ini meliputi:

  • mengonsumsi makanan dalam porsi besar dengan waktu yang cepat hingga kekenyangan, meskupun tidak sedang lapar
  • tidak dapat mengontrol selama episode pesta makan
  • merasa tertekan, jijik, dan sangat bersalah atas perilaku makannya yang berlebihan
  • tidak melakukan perilaku membersihkan, seperti membatasi kalori, memuntahkan makanan, olahraga berlebih atau menggunakan obat pencar untuk mengurangi berat badan

Penderita gangguan makan berlebihan seeperti itu akan sering mengalami kelebihan berat badan atau obesitas sehingga dapat meningkatkan risiko adanya komplikasi medis yang berkaitan dengan kelebihan berat badan, sperti stoke, penyakit jantung, maupun diabetes tipe 2.

Gangguan makan seperti yang telah dijelaskan di atas, pada dasarnya dipicu oleh adanya kelainan pada kesehatan mental yang tidak wajar. Apabila sahabat sehat merasa mengalami salah satu gangguan makan tersebut, segeralah untuk berkonsultasi ke psikiater, karena kondisi gangguan makan tersebut akan sangat sulit apabila tanpa bantuan dokter.

Namun sayangnya, orang yang memiliki gejala gangguan makan sering kali menganggap remeh dan merasa tidak memerlukan bantuan. Jika sahabat merasa sangat khawatir deng perilaku yang janggal tersebut sahabat dapat membujuk mereka agar mau berkonsultasi dengan psikiater.

Baca Juga: Inilah Gejala Kesehatan Mental yang Sering Sahabat Anggap Remeh!

Apabila penderita gangguan makan ini merasa enggan untuk berpergian keluar rumah, sahabat cukup arahkan si penderita untuk langsung berkonsultasi secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.  Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

 

Referensi:

  1. 2021. Learn about 6 common types of eating disorders and their symptoms.. [online] Available at: <https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders#anorexia> [Accessed 23 March 2021].
  2. wikipedia.org. 2021. Eating disorder – Wikipedia. [online] Available at: <https://en.wikipedia.org/wiki/Eating_disorder#Anorexia> [Accessed 23 March 2021].
  3. or.id. 2021. APAKAH ANDA MENGALAMI EATING DISORDER? | Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia. [online] Available at: <https://apki.or.id/apakah-anda-mengalami-eating-disorder/> [Accessed 23 March 2021].
  4. National Eating Disorders Association. 2021. Warning Signs and Symptoms. [online] Available at: <https://www.nationaleatingdisorders.org/warning-signs-and-symptoms> [Accessed 23 March 2021].

Chat Asisten ProSehat aja