Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Hemodialisa vs CAPD, Lebih Baik Mana?

Pada keadaan gagal ginjal kronis stadium lanjutan (stadium 4 – 5), yaitu dengan kerusakan ginjal sebesar 85-90%, maka ginjal tidak lagi dapat melakukan fungsi seutuhnya. Fungsi yang paling penting adalah menyaring “sampah” di dalam tubuh dan mengeluarkannya dalam bentuk urin. Fungsi ginjal yang menurun menyebabkan “sampah” akan tetap menumpuk di dalam tubuh yang ditandai dengan meningkatnya kadar ureum dan kreatinin dalam darah. Akibatnya sangat fatal dan dapat menyebabkan penurunan kesadaran. Pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut adalah tindakan khusus yaitu hemodialisa (cuci darah dengan menggunakan alat diluar tubuh) dan CAPD (Continous Ambulantory Peritoneal Dialysis).

Baca Juga: Tanda-tanda Gangguan Ginjal

Hemodialisa

Hemodialisa adalah cara mencuci darah dengan menggunakan mesin khusus yang berfungsi untuk menyaring darah dan mengeluarkan “sampah” dari tubuh. Mesin hemodialisa ini menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring darah. Setelah bersih, maka darah akan dikembalikan kembali kedalam tubuh pasien. Hemodialisa dilakukan untuk pasien gagal ginjal akut (sebagai tindakan sementara, karena pada gagal ginjal akut fungsi ginjal masih dapat kembali normal seperti sedia kala) dan gagal ginjal kronis.

Baca Juga: 8 Makanan Ini Bisa Picu Resiko Darah Tinggi

Tujuan dilakukannya hemodialisa:

  • Membuang produk metabolisme tubuh atau “sampah” tubuh di dalam darah seperti ureum, kreatinin, dan asam urat
  • Membuang kelebihan air di dalam tubuh akibat kerusakan ginjal, maka air akan menumpuk didalam tubuh yang ditandai dengan pembengkakan pada tubuh pasien.
  • Memperbaiki kesehatan pasien (mengurangi gejala sesak napas dan bengkak akibat penumpukan cairan, mengurangi efek ureum dan kreatinin tinggi didalam darah seperti mual, muntah, pusing serta bahkan penurunan kesadaran).
  • Membantu menyeimbangkan kadar elektrolit didalam darah (terutama natrium, kalium).

Lalu, siapa sajakah pasien gagal ginjal yang membutuhkan hemodialisa? Berikut ini pasien yang membutuhkan terapi hemodialisa:

  1. Pasien gagal ginjal akut ataupun kronis dengan gangguan keseimbangan elekrolit (kalium darah meningkat, asidosis atau asam di dalam darah meningkat, pasien dengan peningkatan kadar ureum darah yaitu >200mg, kadar kreatinin darah meningkat >6 mEq/L)
  2. Pasien dengan gejala mual, muntah berlebih, serta penumpukan cairan berlebih di dalam tubuh sehingga menimbulkan gejala sesak napas serta nyeri dada akibat penumpukkan cairan di dalam jantung dan paru-paru, pembengkakan pada tungkai dan perut.
  3. Pasien gagal ginjal akut akibat keracunan obat (intoksikasi obat).
  4. Urin yang keluar sedikit atau tidak ada sama sekali dalam sehari.
  5. Pasien dengan penurunan kesadaran akibat keracunan ureum dalam darah (perlu dilakukan hemodialisis emergensi).

Baca Juga: 8 Makanan Penurun Darah Tinggi

Prosedur Tindakan Hemodialisa

  1. Dokter akan membuat sambungan antara pembuluh darah arteri dan pembuluh darah vena dengan menggunakan metode Fistula, Graft atau Kateter.

Fistula (cimino), merupakan saluran yang menghubungkan arteri dan vena. Cimino lebih sering dipakai karena lebih aman dan penyembuhan luka akibat pembuatan cimino lebih cepat membaik.

Graft atau cangkok, dengan cara menyambungkan arteri dan vena dengan alat atau selang khusus yang lentur. Cangkok ini digunakan bagi pasien dengan pembuluh darah yang kecil.

Kateter, dengan menyambungkan kateter plastik steril ke dalam vena yang lebih besar (vena leher atau lipat paha), biasanya tehnik ini dilakukan bagi pasien yang membutuhkan cuci darah segera atau dalam keadaan darurat.

  1. Dua Jarum dihubungkan antara mesin dengan sambungan di lengan pasien.
  2. Dengan perlahan, darah pasien keluar menuju mesin hemodialisa dan kemudian dibersihkan dari “sampah” layaknya seperti fungsi ginjal.
  3. Darah yang sudah bersih kembali dimasukkan dari mesin hemodialisa menuju sambungan yang berada di lengan pasien.
  4. Selama proses hemodialisa berlangsung, pasien dapat dalam posisi tidur atau duduk.

Cuci darah atau hemodialisa ini menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam per sesi. Pasien dapat mengulangi cuci darah kembali sebanyak 2-3 sesi dalam 1 minggu. Efek samping yang mungkin timbul setelah hemodialisa seperti gatal, keram pada otot, tekanan darah menurun, dan nyeri pada tempat suntikan.

CAPD (Continous Ambulantory Peritoneal Dialysis) atau cuci darah di rumah

CAPD merupakan teknik cuci darah tanpa menggunakan mesin sehingga dapat dilakukan di rumah. Cuci darah melalui rongga perut dilakukan dengan menggunakan selaput rongga perut, karena selaput rongga perut dianggap kaya akan pembuluh darah kecil yang dapat berfungsi menyaring darah selayaknya fungsi ginjal. Metode ini dianggap lebih mudah karena pasien tidak perlu bolak balik ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah. Selain itu, keuntungan lainnya yaitu, tidak menganggu aktifitas sehari-hari pasien. namun, masih harus diperlukan kontrol rutin untuk penggantian kateter. Kateter bagian luar dapat diganti setiap 6 bulan sekali, sedangkan kateter bagian dalam diganti setiap 6-8 tahun.

Metode CAPD:

  1. Pasien akan menjalankan operasi kecil dengan membuat sayatan di pusar sebagai jalan masuk selang. Selang di bagian dalam perut akan ditinggl secara permanen didalam rongga perut yang berfungsi untuk memasukkan cairan dialisat (yang mengandung gula tinggi yang berfungsi menarik zat limbah dan kelebihan cairan di dalam darah sehingga ditarik ke dalam rongga perut), dan selang bagian luar sebagai sarana untuk memasukan cairan ke dalam selang di dalam rongga perut.

Selang CAPD bagian luar

  1. Setelah cairan dimasukkan dan telah menarik “sampah” didalam perut, maka cairan akan kembali dikeluarkan dengan menggunakan kantong khusus untuk dibuang.
  2. Kemudian ganti cairan dialisat (cairan pencuci) dengan menggunakan air steril.

Metode cuci darah ini dapat dilakukan di rumah, biasanya pasien melakukannya setiap sebelum tidur atau sedang tidur. Pasien dapat melakukan cuci darah sendiri di rumah dalam waktu 30-45 menit selama 3-4 kali dalam sehari.

Baca Juga: Hepatitis B, Risiko, Gejala dan Pengobatan

Efek samping berupa penurunan asupan nutrisi pada pasien mungkin akan timbul pada pasien dengan usia lanjut karena efek kembung atau penuh saat tindakan memasukkan cairan dialisat ke dalam perut sehingga pasien tidak napsu makan. Namun, bagi sebagian besar pasien mengatakan lebih nyaman cuci darah dengan menggunakan metode CAPD.

Apabila Sobat Sehat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan ginjal dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Ditulis Oleh: dr. Jesica Chintia Dewi

 

Daftar Pustaka

  1. Khatri, M. (2018). When Do I Need Dialysis?. [online] WebMD. Available at: https://www.webmd.com/a-to-z-guides/kidney-dialysis [Accessed 22 Feb. 2019].
  2. National Kidney Foundation. (2017). Hemodialysis. [online] Available at: https://www.kidney.org/atoz/content/hemodialysis [Accessed 22 Feb. 2019].
  3. Sudoyo, A., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simandibrata, M. and setiati, S. (n.d.). Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam. 5th ed. Jakarta: PAPDI, pp.1050-1058.
  4. Williams, R. (2017). Kidney Dialysis Overview. [online] WebMD. Available at: https://www.webmd.com/a-to-z-guides/living-day-day-kidney-dialysis#1 [Accessed 22 Feb. 2019].
  5. Yulianti, M., Suhardjono, S., Kresnawan, T. and Harimurti, K. (2017). Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, [online] 2(1), p.2. Available at: http://jurnalpenyakitdalam.ui.ac.id/index.php/jpdi/article/viewFile/59/56 [Accessed 22 Feb. 2019].

Chat Asisten ProSehat aja