Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

5 Alasan Meningkatnya Angka Perceraian di Tengah Pandemi Covid-19

Perceraian merupakan suatu keputusan dalam memutus tali perkawinan yang disebabkan oleh suatu hal dan di sahkan oleh keputusan hakim atas permintaan dari salah satu pihak maupun dari kedua belah pihak. Perceraian sendiri dapat dipicu oleh beberapa alasan yang melatarbelakanginya.

perceraian di tengah pandemi covid-19

Baca Juga: Bagaimana Supaya Tetap Akur dengan Pasangan Selama Pandemi?

Sampai saat ini, angka kasus perceraian di Indonesia terus mengalami peningkatan. Terutama semenjak merebaknya wabah pandemi Covid-19 di Indonesia.

Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang sangat besar dalam rutinitas kehidupan keluarga. Hal tersebut terjadi karena adanya kebijakan dari pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) demi menekan jumlah penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

Kebijakan ini mengharuskan seluruh anggota keluarga untuk melakukan aktivitas dari rumah, seperti belajar, beribadah, hingga bekerja. Atas dasar inilah setiap anggota keluarga akhirnya banyak menghabiskan waktu dirumah dan kondisi ini tentunya disikapi berbeda-beda oleh setiap keluarga.

Beberapa orang menyikapi keadaan ini dengan positif, seperti membangun kembali momen kebersamaan dan harmonisasi keluarga yang dulu sempat hilang.

Namun, banyak pula yang menyikapinya dengan negatif sehingga berujung pada perselisihan, pertengkaran, atau bahkan hingga perceraian.

Berikut adalah aspek-aspek yang paling sering memicu konflik antar pasangan suami istri hingga menyebabkan perceraian di tengah pandemi Covid-19, di antaranya:

1. Kesulitan Ekonomi

Perubahan ekonomi yang terjadi sampai saat ini akibat pandemi Covid-19 belum juga menemukan ujungnya. Menurunnya grafik perekonomian di Indonesia tidak sepenuhnya mampu diterima oleh semua keluarga, terutama pada golongan ekonomi menengah kebawah.

Hal ini diperparah dengan adanya keluarga yang tidak cukup memiliki persiapan keuangan untuk menghadapi kondisi darurat seperti pada saat pandemi Covid-19 ini.

Alhasil, pertengkaran dan perselisihan pun kerap terjadi. Misalnya, adanya rasa ingin diakui dan gagasan yang selalu harus dilakukan oleh pasangannya, namun pada kenyataannya mereka sulit membendung ego tersebut.

Ada beberapa diantara mereka yang mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan baik, namun banyak pula yang membiarkannya berlarut-larut hingga menyebabkan keretakan pada perkawinannya yang berakhir pada perceraian.

Alasannya sangat beragam, seperti besarnya peluang menjadi pengangguran, diharuskan untuk cuti oleh pihak kantor, atau kehilangan sebagian pengasilan.

2. Munculnya Kebiasaan yang Tidak Biasa

Kondisi pandemi secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk menjalani aktivitas dan kebiasaan baru alias new normal. Adanya kebiasaan baru yang mendadak harus dijalankan tersebut menjadi salah satu penyebab munculnya permasalahan baru, terutama dalam kehidupan pernikahan.

Contohnya, pada sepasang suami istri yang sebelumnya memiliki kebiasaan berinteraksi jarak jauh atau jarang bertemu.

Tetapi saat pandemi mereka diharuskan untuk berada didalam rumah, sehingga mau tidak mau mereka akan terus bertemu dan menghabiskan waktu bersama.

Baca Juga: Kehidupan Seks Tetap Membara Setelah Menikah dan Punya Anak

Kebiasaan baru ini bukan menjadi hal yang tidak mungkin dalam memicu terjadinya konflik diantara mereka. Terlebih jika salah satu diantara mereka tidak ada yang mengalah dan saling meninggikan ego, perceraian menjadi tak terhindarkan.

3. Perasaan Jenuh

Panjangnya masa pemberlakuan PSBB berdampak juga pada kondisi mental setiap keluarga, terutama pasangan suami istri.

Kondisi tersebut membuat mereka yang sebelumnya memiliki kegiatan aktif di luar, kini merasa “terkurung” karena berada di dalam rumah pada jangka waktu yang panjang. Hal ini menyebabkan kedua pasangan akan merasa jenuh dan bosan.

Mengulang kebiasaan yang sama di dalam rumah setiap harinya, dengan tidak adanya aktivitas lain tentunya akan menimbulkan perasaan jenuh.

Maka, sangat penting bagi pasangan suami istri untuk terus mengkomunikasikan segala sesuatu demi mencegah hal yang tidak diinginkan. Misalnya, dengan menjaga komunikasi untuk mempererat keharmonisan di dalam kehidupan rumah tangga.

4. Usia Pernikahan

Usia pernikahan juga sangat berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga. Banyak dari mereka menjadikan usia pernikahan sebagai alasan untuk bercerai di tengah pandemi Covid-19.

Pada pengantin baru atau yang usia pernikahannya masih muda, kemungkinan akan terkejut dengan perubahan yang terjadi akibat pandemi Covid-19.

Ikatan pernikahan mereka cenderung lebih mudah goyah karena belum banyaknya pengalaman dalam menghadapi ujian pernikahan.

Selain itu, tuntutan untuk menjalani gaya hidup sederhana akibat masa krisis sangat bersebrangan dengan kebanyakan visi pasangan baru yang mengacu pada ‘indahnya pernikahan dan kesempurnaan hidup’.

Akibat dari kenyataan yang tidak sesuai dengan angan-angan tersebutlah, banyak dari mereka yang menyerah dengan kehidupan pernikahannya.

5. Kesehatan Emosional

Peningkatan jumlah kasus KDRT saat ini telah dilaporkan semenjak berlakunya kebijakan PSBB, jumlahnya menginjak angka 110 kasus KDRT di Indonesia.

Salah satu alasan meningkatnya angka KDRT disebabkan oleh bertambahnya berbagai bentuk ketidakberdayaan yang dialami perempuan.

Sebagian besar juga terjadi karena bertambahnya tuntutan rumah tangga yang dibebankan kepada perempuan, seperti megurus anak dan tugas internal lainnya.

Baca Juga: 3 Faktor yang Memengaruhi Tingkat Stres Pada Pria dan Wanita

Selain itu, KDRT yang terjadi bisa juga dipicu oleh kesulitan ekonomi yang kemudian merembet ke beberapa aspek kehidupan rumah tangga.

Ditambah pula ketika pasangan mulai mempertanyakan kesanggupan dalam menafkahi keluarga, hal ini akan berujung pada pertengkaran karena perekomonian yang tidak kunjung membaik. Sehingga sangat mempengaruhi kesehatan emosional.

Baik istri maupun suami pasti lama-lama akan merasa lelah dan jenuh dengan konflik yang terjadi setiap harinya. Jika kondisi ini terus diabaikan, hubungan antara suami istri akan semakin merenggang dan menjauh, atau bahkan akan timbul perasaan sudah tidak ada perasaan bahagia ketika bersama.

Setiap pernikahan sejatinya memang tidak ada yang sempurna dan memiliki masalah merupakan hal yang wajar. Namun, apabila terjadi perubahan kondisi yang mendadak sehingga menimbulkan masalah baru tak terhindarkan dan justru terus berulang setiap harinya.

Jadi, ada baiknya jika Sahabat Sehat mulai mempertimbangkan dan membuat perencanaan untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang mungkin terjadi dikemudian hari.

Untuk mengurangi beban pikiran dan mental, Sahabat Sehat bisa mulai mengajak bicara sanak saudara, teman atau sahabat yang dapat dipercaya.

Baca Juga: Seperti Apa dan Bagaimana Pertolongan Pertama Gangguan Kesehatan Jiwa?

Namun, jika pada akhirnya merasa belum juga menemukan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapi, Sahabat Sehat bisa mengagendakan untuk berkonsultasi dengan psikiater secara daring atau online melalui fasilitas kesehatan yang telah disediakan oleh Prosehat.

Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

 

Referensi:

  1. ipb.ac.id. 2021. View of ANALISIS FAKTOR PENYEBAB PERCERAIAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN BANYUMAS. [online] Available at: <https://jurnal.ipb.ac.id/index.php/jikk/article/view/31790/21087> [Accessed 8 April 2021].
  2. BBC News Indonesia. 2021. Mengapa angka perceraian di berbagai negara melonjak saat pandemi Covid-19? – BBC News Indonesia. [online] Available at: <https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-55284729> [Accessed 8 April 2021].
  3. Ramadhi, A., 2021. Perceraian di Masa Pandemi Covid-19 – Love Life –. [online] Love Life. Available at: <https://ilovelife.co.id/blog/perceraian-di-masa-pandemi-covid-19/> [Accessed 8 April 2021].

Chat Asisten Maya
di Prosehat.com