Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Cara Diet Ketofastosis untuk Turunkan Berat Badan

Diet adalah salah satu cara yang banyak dilakukan untuk menurunkan berat badan. Saat ini sudah banyak sekali metode diet yang bermunculan. Salah satu diet yang cukup populer untuk menurunkan berat badan adalah diet ketogenik atau yang umum disebut sebagai diet keto. Ternyata selain diet keto, tidak berapa lama kemudian muncul diet ketofastosis, yaitu gabungan dari diet ketogenik dan fastosis. Diet ini terdiri dari beberapa tahap yang perlu dilalui dan memerlukan komitmen dan niat yang tinggi untuk menjalaninya seumur hidup, tidak boleh onoff yang justru dapat merusak metabolisme tubuh. Wah, Sobat tentu penasaran kan? Yuk kita simak lebih lanjut.

Baca Juga: 8 Makanan Rendah Lemak untuk Diet yang Enak dan Mengenyangkan

Pengertian Diet Ketofastosis

Diet ketofastosis adalah gabungan antara proses diet ketogenik dan fastosis. Lalu apa makna keduanya? Ketogenik merupakan suatu pola makan rendah karbohidrat, tinggi lemak dan protein sedang. Sedangkan fastosis sendiri adalah fasting on ketosis, artinya puasa dalam keadaan ketosis. Fastosis bukanlah sebuah pola makan melainkan suatu gaya hidup yang harus diaplikasikan seumur hidup. Ketosis adalah kondisi organ liver manusia memproduksi ‘keton’ untuk digunakan sebagai bahan bakar utama penghasil energi dalam tubuh, terutama otak. Ketosis akan terjadi ketika tubuh tidak lagi menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi utama, tapi lemak, dimana hasil metabolismenya akan menghasilkan keton.

Baca Juga: 5 Aplikasi Jaman Now yang Bisa Bantu Dietmu

Sebelum memulainya, Sobat harus benar-benar memahami sebelumnya mengenai diet ketofastosis. Diet ini terdiri dari 70-80% lemak, 15-25% protein, dan 5% karbohidrat. Terdapat 3 fase di dalam diet ini, yaitu:

Fase-fase Diet

  • Fase 1: Induksi (3 hari – 2 minggu). Fase ini adalah fase memicu adaptasi awal tubuh untuk menggunakan lemak sebagai sumber energi. Fase ini mengombinasikan puasa (intermittent fasting/IF) selama 16-18 jam sehari dengan menu makanan yang sangat rendah karbohidrat (dibawah 10 gram per hari). Menu makanan selama fase ini adalah lemak hewani (ikan, ayam, telur, dan daging) serta harus dimasak dengan menggunakan atau menambahkan unsur lemak seperti minyak kelapa, minyak zaitun, mentega, santan, keju, krim susu, dan sebagainya. Pada fase ini tidak boleh mengandung unsur sayuran atau buah.
  • Fase 2: Konsolidasi (1 minggu – 1 bulan). Fase ini adalah fase unsur nabati seperti sayur mulai dimasukkan dalam menu makanan. Unsur buah belum boleh dimasukkan dalam fase ini. Fase tersebut menambahkan jumlah asupan karbohidrat sehari namun tetap tidak boleh lebih dari 15 gram per hari. Sayur yang dikonsumsi adalah sayuran tinggi serat seperti brokoli, bayam, sawi, bok choy, kangkung, kol, buncis, kacang panjang, kembang kol, dan sebagainya. Durasi puasa IF ditambahkan menjadi 18-20 jam. Pada fase ini tubuh sudah mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi. Pada fase tersebut, Sobat harus mengontrol gula darah puasa setiap 3 hari atau 1 minggu sekali, dan harus selalu di bawah 80 mg/dL (untuk melihat efek penambahan karbohidrat dari sayuran). Jika ternyata penambahan sayuran ini menaikkan gula darah puasa dari zona optimal tersebut, maka harus kembali ke fase pertama untuk menurunkannya kembali.

Baca Juga: Hubungan Obesitas dengan Jantung Koroner

  • Fase 3: Maintenance (selama program berlangsung atau menjadi gaya hidup sehat). Pada fase ini, unsur nabati seperti buah sudah dimasukkan. Pada fase ini, sayur dan buah harus memerhatikan jenis dan takaran saji per harinya agar tetap menjaga gula darah di bawah 80 mg/dL. Total asupan karbohidrat per hari dengan penambahan dari buah adalah maksimal 20 gram per hari (berat buah maksimal 100 gram dan dikonsumsi dengan sumber lemak seperti santan, whip cream atau cream cheese). Buah yang dapat dikonsumsi adalah buah tinggi serat dan rendah karbohidrat seperti alpukat, strawberry, blueberry, mulberry, raspberry, blackberry, belimbing, dan sebagainya. Durasi puasa IF ditambah menjadi 20-23 jam. Pada fase ini tubuh sudah terbiasa dan telah beradaptasi menggunakan lemak sebagai bahan bakar energi tubuh.

Dalam menjalankan diet ini, baik sedang dalam fase manapun, sedang waktu berpuasa atau tidak, disarankan untuk mengonsumsi Immunator Honey, yaitu suplementasi yang berguna untuk mencegah penurunan metabolisme dari efek pembatasan kalori yang terjadi secara alami.

Baca Juga: 5 Jenis Olahraga Bagi Penderita Diabetes

Diet Ini Amankah?

Mungkin yang akan menjadi pertanyaan Sobat, apakah semua orang aman dan diperbolehkan untuk menjalani diet ini? Diet ini tidak dianjurkan pada pasien dengan gangguan ginjal, diabetes yang tidak terkontrol, nefropati diabetes, kanker jenis tertentu (dietary fat-related cancer) dan lansia. Ingat loh sahabat, diet yang seimbang tetap harus mengutamakan kebutuhan tubuh akan bahan makanan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Jangan lupa, untuk olahraga teratur dan kelola stress agar berat badan impian anda tercapai.

Bagi Anda yang masih membutuhkan ulasan maupun produk kesehatan, silakan akses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat. Untuk info lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Apa bedanya diet ketogenik dan diet ketofastosis? Diupdate 16 April 2018. Diakses 10 November 2018. Available at: hellosehat(dot)com/hidup-sehat/nutrisi/beda-diet-ketogenik-dan-diet-ketofastosis/
  2. Ketofastosis: fastosis on ketosis. Diupdate 8 September 2016. Diakses 10 November 2018. Available at: ketofastosis.com/fastosis-fasting-on-ketosis
  3. I-KetoFast. Diakses 10 November 2018. Available at: ketofastosis.com/download
  4. Coconut ketogenic (fastosis). Diakses 10 November 2018. Available at: foodketo.com/QwudSd34exUU/Panduan%20CocoKeto%20Indonesia%20v1.2.pdf
  5. Lukito W. Menyikapi diet yang populer di masyarakat: ketofastosis. Diupdate 10 Februari 2018. Diakses 10 November 2018. Available at: idicabangtangerang(dot)org/upload/20180213113025-1.%20dr.%20Widjaja%20L-Ketofastosis-PIT-IDI-Tangerang-10022018.pdf

Chat Asisten ProSehat aja