Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Wanita

Showing 31–40 of 255 results

  • Pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda tentunya membuat Sahabat Sehat semakin waspada terhadap suatu penyakit, terlebih saat teman sekantor terserang flu. Meski flu bukan termasuk suatu penyakit yang membahayakan, namun gejala yang ditimbulkan dapat menyebabkan ketidak nyamanan.  Ada beberapa cara mengatasi karyawan yang sering izin sakit di masa pandemi ini. Terutama jika keluhannya kurang enak […]

    Cara Mengatasi Karyawan yang Sering Sakit Demam atau Flu

    Pandemi Covid-19 yang tak kunjung mereda tentunya membuat Sahabat Sehat semakin waspada terhadap suatu penyakit, terlebih saat teman sekantor terserang flu. Meski flu bukan termasuk suatu penyakit yang membahayakan, namun gejala yang ditimbulkan dapat menyebabkan ketidak nyamanan. 

    Cara Mengatasi Karyawan yang Sering Sakit Demam atau Flu

    Cara Mengatasi Karyawan yang Sering Sakit Demam atau Flu

    Ada beberapa cara mengatasi karyawan yang sering izin sakit di masa pandemi ini. Terutama jika keluhannya kurang enak badan atau flu. Lantas Apa yang harus dilakukan jika rekan kerja atau karyawan sekantor kerap kali menderita flu ? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Penyebab Flu?

    Flu merupakan kondisi infeksi virus influenza yang menyerang saluran nafas dan paru. Flu merupakan salah satu penyakit yang paling mudah menular terutama di lingkungan yang sirkulasinya kurang baik. Gejala awal yang dapat Sahabat Sehat alami, yaitu keluarnya lendir dari hidung, bersin, demam, hingga nyeri otot.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Tips Mencegah Penularan Flu di Kantor

    Untuk mencegah penularan flu di kantor, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai tips berikut di rumah :

    • Menjaga Daya Tahan Tubuh

    Pada dasarnya suatu penyakit akan sulit menginfeksi tubuh jika daya tahan tubuh Sahabat Sehat kuat. Oleh sebab itu, menjaga daya tahan tubuh sangat diperlukan dalam menghindari infeksi virus flu. Mengkonsumsi buah dan sayur, makan makanan dengan gizi seimbang, serta mengelola stress dengan tidur cukup merupakan cara menjaga daya tahan tubuh yang baik dan paling mudah.

    • Menerima Vaksin Influenza

    Vaksin influenza adalah salah satu langkah pencegahan tertular flu. Melakukan vaksinasi flu dalam satu tahun sekali dapat menurunkan risiko tertular flu hingga lebih dari 80%. Meski demikian, Sahabat Sehat tetap dianjurkan menerapkan pola hidup sehat agar vaksin bekerja optimal. 

    • Rutin Mencuci Tangan

    Tangan menjadi sarana perpindahan kuman yang paling besar, termasuk virus flu. Sahabat Sehat beresiko tertular flu pada saat berjabat tangan dengan teman sekantor yang sedang flu. Selain itu, menyentuh benda-benda dan fasilitas umum (gagang pintu, peralatan makan dan sebagainya) yang berada di lingkungan kantor yang menjadi tempat tempat singgahnya virus juga akan meningkatkan risiko terserang flu. Maka dari itu, sebaiknya rutin mencuci tangan terutama setelah menyentuh benda ditempat umum.

    • Menjaga Jarak

    Virus flu dapat ditularkan melalui percikan air liur maupun saat bersin. Ketika bersin, virus dan kuman dapat meluncur hingga 3 meter dan bertahan di udara selama 45 menit. Inilah sebabnya mengapa penyakit flu sangat mudah menular di kantor. Jika rekan kerja ada yang sedang flu, sebaiknya jaga jarak saat ia sedang berbicara atau bersin. 

    Baca Juga: Apa Manfaat Imunisasi Influenza dan Efek Sampingnya Bagi Anak

    • Bersihkan Permukaan Benda

    Untuk mencegah penularan, Sahabat Sehat dianjurkan membersihkan seluruh permukaan benda di kantor dengan menggunakan cairan desinfektan mulai dari permukaan meja, telepon kantor, gagang pintu, hingga perangkat komputer.  Setidaknya lakukan pembersihan minimal dalam 4 jam sekali untuk membunuh virus dan bakteri yang menempel disana. 

    • Menggunakan Masker

    Untuk mencegah penularan flu dan Covid-19, dianjurkan menggunakan masker saat berada di luar rumah. Pastikan masker menutupi hidung dan mulut, serta perhatikan cara membuang masker dan hindari menyentuh permukaan luar masker.

    • Atur Sirkulasi Udara Kantor

    Jika pendingin ruangan di kantor tidak menggunakan AC sentral, maka usahakan sesekali membuka pintu dan jendela agar sirkulasi udara di ruangan berganti. Apabila ventilasi ruangan baik, maka virus tidak akan menetap di dalam ruangan.

    Baca Juga: Vaksin Flu: Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips mencegah penularan flu di tempat kerja. Untuk mencegah flu, Sahabat Sehat dianjurkan mengikuti vaksinasi influenza yang dapat diberikan satu kali setiap tahunnya. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh  Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Etika Mencegah Penularan Influenza di Tempat Umum [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
    2. World Health Organization. How can I avoid getting the flu? [Internet]. USA : World Health Organization.
    3. Centre of Disease Control and Prevention. About Flu [Internet]. Indonesia : Centre of Disease Control and Prevention.
    4. DetikHealth. Ini Dia 10 Cara Menghindari Flu Saat di Kantor [Internet]. Indonesia : DetikHealth.
    Read More
  • Sahabat Sehat, dengan kembali dibukanya penerbangan maka masyarakat kini sudah diperkenankan melakukan ibadah umroh. Selain perlu mengikuti vaksinasi Covid-19, Sahabat Sehat juga memerlukan vaksinasi meningitis dan yellow fever sebelum mengikuti ibadah umroh.  Pemerintah Saudi mewajibkan vaksin sebelum umroh ataupun haji. Selain vaksin Covid, jamaah juga diwajibkan sudah divaksin meningitis. Sahabat Sehat, mengapa penting menerima vaksinasi […]

    Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Sahabat Sehat, dengan kembali dibukanya penerbangan maka masyarakat kini sudah diperkenankan melakukan ibadah umroh. Selain perlu mengikuti vaksinasi Covid-19, Sahabat Sehat juga memerlukan vaksinasi meningitis dan yellow fever sebelum mengikuti ibadah umroh. 

    Pemerintah Saudi mewajibkan vaksin sebelum umroh ataupun haji. Selain vaksin Covid, jamaah juga diwajibkan sudah divaksin meningitis.

    Sahabat Sehat, mengapa penting menerima vaksinasi meningitis dan yellow fever sebelum umroh ? Mari simak penjelasan berikut.

    Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Meningitis

    Meningitis merupakan penyakit peradangan cairan serta selaput pembungkus otak (meningen) yang melapisi seluruh otak dan juga sistem saraf tulang belakang. Peradangan yang terjadi pada lapisan meningen akan menyebabkan berbagai keluhan mulai dari nyeri kepala, demam dan kaku pada tengkuk. 

    Sebagian besar meningitis disebabkan oleh karena infeksi virus, tetapi tentunya ada penyebab lain seperti infeksi bakteri, parasit hingga jamur. Beberapa kasus meningitis dapat sembuh sendiri namun tidak jarang kasus meningitis yang menjadi lebih serius dan membutuhkan serangkaian pengobatan antibiotik yang adekuat.

    Gejala Meningitis

    Gejala meningitis dapat berbeda-beda tergantung dari tipe atau jenis infeksi meningitis, usia dan keparahan dari kondisi pasien. Gejala yang paling umum dirasakan, yakni :

    • Demam tinggi
    • Kaku pada leher
    • Sakit kepala
    • Kejang
    • Sensitif terhadap cahaya
    • Mual dan muntah
    • Sulit berkonsentrasi
    • Ruam pada kulit
    • Nafsu makan berkurang.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Komplikasi Akibat Meningitis

    Sahabat Sehat perlu mewaspadai penyakit meningitis sebab beresiko menimbulkan komplikasi, seperti :

    • Kejang
    • Gangguan memori
    • Nyeri kepala sebelah atau migrain
    • Kehilangan pendengaran 
    • Syok
    • Gagal ginjal
    • Kerusakan otak
    • Hidrosefalus.

    Baca Juga: Mau Liburan Ke Luar Negeri? Jangan Lupa Persiapan Ini!

    Demam Kuning atau Yellow Fever

    Yellow fever atau disebut juga demam kuning, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh karena infeksi virus yang ditularkan melalui perantara nyamuk. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi serta mata dan kulit yang tampak kuning akibat penurunan fungsi hati. Demam kuning cukup berbahaya apabila tidak ditangani dengan baik karena dapat menyebabkan gagal ginjal, koma hingga kematian.

    Penyakit demam kuning ini disebabkan karena gigitan nyamuk Aedes aegypti dan biasanya ditemukan di wilayah Afrika, Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia. Demam kuning dapat ,menyerang penduduk yang tinggal di daerah endemis dan para turis yang sedang mengunjungi daerah tersebut.

    Baca Juga: Kenapa Vaksinasi Penting Sebelum Pergi Umroh?

    Gejala Demam Kuning

    Setelah kontak dengan nyamuk yang terinfeksi, virus akan mengalami masa inkubasi didalam tubuh selama 3 hingga 6 hari yang diikuti oleh infeksi yang dapat terjadi selama satu sampai dua tahap. 

    Fase pertama ditandai dengan demam, nyeri otot yang biasanya terjadi pada punggung, sakit kepala, menggigil, kehilangan nafsu makan dan mual dan muntah. Sebagian besar pasien akan pulih dalam 3 hingga 4 hari. 

    Fase kedua dapat dialami selama 24 jam yang ditandai dengan kulit berwarna kuning, gagal ginjal, meningitis dan berakhir dengan kematian. Pada fase ini akan terjadi demam tinggi dengan beberapa sistem tubuh yang terpengaruh.

    Perjalanan haji merupakan perjalanan yang dilakukan oleh umat muslim seluruh dunia ke Arab Saudi yaitu ke Mekkah-Madinah untuk melakukan ibadah haji. Sekitar 2 juta umat muslim di dunia akan melakukan ibadah serentak pada bulan Dzulhijjah. 

    Pada tahun 1987 dan 2000 terjadi kejadian luar biasa meningitis meningokokus yang menimpa Jemaah haji di Arab Saudi, yang merupakan salah satu negara endemis penyakit meningitis. terdapat 99 kasus meningitis meningokokus yang menimpa Jemaah haji Indonesia dan 40 diantaranya meninggal dunia.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksinasi Umroh untuk Ibadah yang Sehat

    Untuk itu, diperlukan sekali pencegahan berupa vaksinasi meningitis dan demam kuning yang bertujuan untuk melindungi turis atau Jemaah haji yang akan berangkat ke daerah endemis. Jika Sahabat Sehat memerlukan vaksinasi meningitis dan yellow fever segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Meningitis – Symptoms and causes [Internet]. USA : Mayo Clinic. 2021.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021.
    3. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. Demam Kuning [Internet]. Indonesia :  Infeksi Emerging Kemkes. 2021.
    4. Soebrata A. Mengenal Penyakit Yellow Fever [Internet]. Sinkarkes.kemkes.go.id.
    5. Lewaherilla N, Maitimu F, Niani C. Model Penyebaran Penyakit Meningitis Pada Musim Haji di Madinah dan Mekkah. Barekeng : Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan. 2017;11(1):55-62. 
    Read More
  • Cacar air atau disebut juga varicella atau chickenpox, dapat menyerang siapa saja baik anak, dewasa dan wanita hamil. Ibu hamil yang menderita cacar air di masa kehamilan beresiko membahayakan dirinya dan janin dalam kandungan. Sahabat Sehat, mengapa cacar air berbahaya selama hamil? Mari simak penjelasan berikut. Cacar Air Cacar air atau varicella merupakan penyakit yang […]

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya? Ini Penjelasannya

    Cacar air atau disebut juga varicella atau chickenpox, dapat menyerang siapa saja baik anak, dewasa dan wanita hamil. Ibu hamil yang menderita cacar air di masa kehamilan beresiko membahayakan dirinya dan janin dalam kandungan. Sahabat Sehat, mengapa cacar air berbahaya selama hamil? Mari simak penjelasan berikut.

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya Ini Penjelasannya

    Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya Ini Penjelasannya

    Cacar Air

    Cacar air atau varicella merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella-zoster virus. Virus ini menyebar dari penderita cacar air ke orang lain melalui kontak dengan pasien yang terinfeksi. Virus menyebar melalui udara yang terkontaminasi dari droplet bersin atau batuk orang yang terinfeksi. Cacar air sangat menular mulai dari 1-2 hari sebelum timbul kemerahan sampai dengan lentingan kecil kemerahan pada tubuh mengering, yang dialami kurang lebih selama 14-16 hari.

    Apa Gejala Cacar Air ?

    Cacar air menimbulkan bintik kemerahan berisi lentingan cairan pada anggota tubuh yang dapat pecah. Beberapa orang terjadi lentingan hanya di beberapa bagian tubuh, namun ada juga di seluruh area tubuh terutama di area wajah, telinga, kulit kepala, lengan, dada, perut dan kaki. Selain itu, Sahabat Sehat dapat mengalami demam dan tidak enak badan disertai dengan batuk dan bersin.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa Dampak Cacar Air Pada Masa Kehamilan ?

    Kebanyakan ibu hamil yang terkena cacar air dapat sembuh tanpa efek apapun. Namun, sebagian lagi mengalami komplikasi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu hamil berisiko terjadi komplikasi cacar air pada saat kehamilan seperti merokok, riwayat penyakit paru-paru, mengkonsumsi obat-obatan kortikosteroid dan mengandung lebih dari 20 minggu.

    Salah satu komplikasi cacar air pada ibu ketika hamil yang paling ditakutkan adalah terjadinya pneumonia. Infeksi pneumonia cukup mengkhawatirkan dan serius. Gejala pneumonia meliputi batuk, nyeri dada ketika bernapas dan batuk, demam, lelah dan napas pendek. Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai resiko yang dapat dialami janin jika ibu hamil menderita cacar air: 

    Jika cacar air terjadi pada usia kehamilan 20 minggu pertama, meningkatkan resiko gejala sindrom kongenital atau cacat bawaan pada janin seperti :

    • Bekas luka (scar) pada kulit 
    • Kelainan atau cacat pada anggota gerak tubuh janin (tangan dan kaki) dan mata (kebutaan)
    • Gangguan pencernaan
    • Berat badan lahir rendah 
    • Ukuran kepala kecil
    • Gangguan pada otak hingga timbul kejang sampai keterbelakangan mental.
    • Jika cacar air terjadi diantara 2 minggu sebelum melahirkan sampai 2 minggu setelah melahirkan, biasanya bayi tidak ikut terinfeksi. Namun apabila bayi ikut tertular, biasanya gejala yang dialami cukup ringan. Apabila virus kembali aktif dapat menyebabkan herpes zoster (cacar api) pada tahun pertama kehidupan Si Kecil.
    • Apabila cacar air terjadi 5 hari sebelum melahirkan sampai 2 hari setelah melahirkan, biasanya bayi berisiko terinfeksi. Penanganan yang optimal dapat meringankan gejala.
    • Apabila melahirkan secara prematur yaitu sebelum usia kehamilan 37 minggu maka resiko terjadinya komplikasi akan semakin meningkat.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Penanganan Cacar Air Saat Masa Kehamilan

    Apabila ibu hamil lupa apakah masa kecilnya sudah pernah mengalami cacar air atau belum, sebaiknya diperiksakan ke dokter agar diketahui kadar antibodi dalam darah terhadap virus varicella zoster. 

    Apabila ibu hamil tidak sengaja kontak dengan penderita cacar air, maka segera lakukan konsultasi ke Dokter agar diberi penanganan lanjutan seperti imunoglobulin atau antibodi untuk memberikan kekebalan terhadap virus varicella. Immunoglobulin umumnya dapat diberikan maksimal 10 hari setelah riwayat kontak dengan pasien yang terkena cacar air.

    Namun, apabila ibu hamil sudah mengalami gejala yang mengarah pada cacar air, maka dokter akan memberikan beberapa obat-obatan termasuk anti virus untuk meringankan gejala dan keparahan komplikasi.

    Baca Juga: Faktor Penyebab Bayi Lahir Prematur dan Cara Mencegahnya

    Kapan Harus Segera Menemui Dokter ?

    Berikut ini gejala yang mengharuskan ibu hamil yang terkena cacar air untuk segera ke Dokter :

    • Kesulitan bernapas dan sesak pada dada
    • Nyeri kepala, muntah dan tidak enak badan
    • Perdarahan vagina
    • Lentingan kemerahan nyeri dan berdarah

    Baca Juga: Asupan Persiapan Kehamilan

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai resiko yang dapat dialami janin jika ibu hamil terinfeksi cacar air. Untuk mencegah berbagai komplikasi tersebut, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan vaksinasi Varicella sebelum program hamil maupun sebelum menikah untuk mencegah cacar air. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Stanford Children’s Health. Chickenpox (Varicella) and Pregnancy [Internet]. UK : Stanford Children’s Health.
    2. Marple K. Chicken pox during pregnancy [Internet]. USA : BabyCenter.
    3. RCOG. Chickenpox and pregnancy [Internet]. UK : RCOG.
    4. March of Dimes. Chickenpox during pregnancy [Internet]. USA : March of Dimes. 2021.
    5. Danielsson K. Will Exposure to Chickenpox During Pregnancy Cause a Miscarriage? [Internet]. USA : Verywell Family. 2021.
    Read More
  • Tetanus adalah salah satu jenis penyakit menular, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium Tetani. Bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka atau bahkan melalui goresan kecil. Bakteri Clostridium Tetani menghasilkan racun yang disebut tetanospasmin, sesaat setelah masuk ke darah melalui kulit yang dapat menyerang sistem saraf. Jika tidak ditangani dengan baik, […]

    Alasan Pentingnya Vaksin TT Bagi Ibu Hamil

    Tetanus adalah salah satu jenis penyakit menular, yang disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium Tetani. Bakteri ini akan masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka atau bahkan melalui goresan kecil. Bakteri Clostridium Tetani menghasilkan racun yang disebut tetanospasmin, sesaat setelah masuk ke darah melalui kulit yang dapat menyerang sistem saraf. Jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengakibatkan kematian. 

    Alasan Pentingnya Vaksin TT Bagi Ibu Hamil

    Alasan Pentingnya Vaksin TT Bagi Ibu Hamil

    Alasan Ibu Hamil Perlu Mendapatkan Vaksin TT

    Indonesia merupakan negara terakhir di kawasan Asia yang berhasil eliminasi tetanus pada ibu dan bayi baru lahir (maternal neonatal tetanus = MNT). Padahal kasus tetanus pada maternal dan neonatal adalah penyebab kematian yang paling banyak ditemukan akibat persalinan dan penanganan tali pusat yang tidak steril. Pada ibu hamil, infeksi tetanus dapat terjadi akibat luka selama proses persalinan maupun alat yang digunakan selama proses persalinan yang tidak steril. 

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Tetanus

    Tetanus biasanya ditandai dengan kaku otot dan terasa nyeri. Tetanus neonatorum (TN) adalah tetanus yang terjadi pada bayi pada usia hari ke 3 dan 28 setelah kelahirannya, sedangkan Tetanus Maternal (TM) adalah tetanus yang menyerang ibu hamil dan 6 pekan setelah melahirkan. Bila ibu hamil terinfeksi tetanus, bayi beresiko lahir prematur hingga menyebabkan kematian pada ibu maupun bayi. Hal inilah yang menjadi alasan pentingnya ibu hamil untuk mendapatkan Vaksin TT. 

    Baca Juga: 

    Apa Itu Vaksin TT?

    Toksoid Tetanus (TT) adalah vaksin yang dapat mencegah infeksi terinfeksi tetanus. Vaksin TT dapat mencegah ibu hamil dan bayinya terinfeksi tetanus. Dengan mendapatkan vaksin TT, tubuh ibu hamil akan membentuk antibodi dalam melawan bakteri tetanus.

    Antibodi alami nantinya akan diteruskan ke tubuh janin dalam kandungan sehingga janin turut terlindungi dari tetanus selama beberapa bulan pertama hidupnya. Selanjutnya bayi akan menerima vaksin tetanus pada usia enam hingga delapan minggu, sebagai bagian dari vaksin DPT (Difteri-Pertusis-Tetanus).  

    Baca Juga: Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Kapan Waktu Tepat Untuk Mendapatkan Vaksin TT?

    Jika ini adalah kehamilan pertama dan Sahabat Sehat telah memiliki jadwal vaksin yang teratur sebelumnya, maka Sahabat Sehat membutuhkan dua vaksin TT dengan rentang waktu minimal empat minggu antara setiap dosis. 

    Namun bila Sahabat Sehat tidak memiliki riwayat vaksinasi yang lengkap sebelumnya, maka dianjurkan untuk menerima vaksin TT dosis pertama sedini mungkin dan diikuti dengan dosis kedua pada empat minggu berikutnya. Dosis ketiga dapat Sahabat Sehat terima setelah enam bulan dosis yang kedua. Dalam kondisi ini sebaiknya Sahabat Sehat mendapatkan vaksin tetanus ini sebanyak 3 dosis sebelum persalinan. 

    Jika Sahabat Sehat kembali hamil lagi dalam waktu dua tahun setelah persalinan anak pertama, pemberian vaksin TT akan bergantung pada riwayat vaksinasi sebelumnya. Jika pada kehamilan sebelumnya Anda telah mendapatkan 2 dosis vaksin tetanus, maka dokter hanya akan menyarankan pemberian vaksin booster. 

    Baca Juga: Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Efek Samping Vaksin Tetanus

    Berikut adalah berbagai efek samping yang dapat Sahabat Sehat alami setelah divaksin tetanus:

    • Kemerahan dan bengkak di lokasi suntikan
    • Nyeri
    • Demam
    • Sakit kepala. 

    Sahabat Sehat tak perlu khawatir sebab efek samping ini dapat hilang dengan sendirinya. Untuk meredakan keluhan, dianjurkan istirahat yang cukup dan memberi kompres air hangat pada bekas lokasi suntikan.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Tetanus Setelah Luka Akibat Benda Tajam

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai vaksin TT yang penting bagi ibu hamil untuk mencegah infeksi tetanus pada ibu dan janin. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Nabar A. Why do I need the TT injection (TT vaccine) in pregnancy and when will I get it? [Internet]. USA : Baby Center.
    2. Anjum S. Tetanus Toxoid (TT) Injection during Pregnancy [Internet]. USA : First Cry Parenting. 2018.
    3. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Pusat Data dan Informasi – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Internet]. 2012.
    4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PBB Deklarasikan Indonesia Eliminasi Tetanus pada Ibu dan Bayi [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016.
    5. World Health Organization. Maternal Immunization Against Tetanus [Internet]. USA : World Health Organization.
    6. Mayo Clinic. Vaccines during pregnancy: Are they safe? [Internet]. USA : Mayo Clinic. 2020.
    Read More
  • Sebagian besar penderita HIV dan AIDS (ODHA) tidak menyadari bahwa terinfeksi HIV. Oleh karena itu, bagi seseorang yang dicurigai menderita HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining HIV/Aids untuk deteksi awal. Sahabat Sehat, apa saja jenis pemeriksaan HIV ? Mari simak penjelasan berikut. Apa Itu HIV ? Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat menyerang […]

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    Sebagian besar penderita HIV dan AIDS (ODHA) tidak menyadari bahwa terinfeksi HIV. Oleh karena itu, bagi seseorang yang dicurigai menderita HIV dianjurkan menjalani pemeriksaan skrining HIV/Aids untuk deteksi awal. Sahabat Sehat, apa saja jenis pemeriksaan HIV ? Mari simak penjelasan berikut.

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    4 Metode yang Umum Digunakan Dalam Tes Pemeriksaan HIV

    Apa Itu HIV ?

    Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang. Jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi HIV dapat menyebabkan semakin berat nya perkembangan penyakit dalam tubuh yang disebut sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) pada penderitanya. AIDS merupakan stadium akhir pada penderita HIV. Apabila Sahabat Sehat termasuk dalam kelompok orang yang berpotensi tinggi menderita HIV, alangkah baiknya jika mulai melakukan melakukan pemeriksaan HIV sedini mungkin. 

    Apa Saja Jenis Tes Pemeriksaan HIV dan AIDS?

    Pada sebagian besar kasus, diagnosis HIV biasanya ditegakkan berdasarkan dengan gejala yang dialami serta pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi virus HIV. Berikut adalah berbagai jenis pemeriksaan HIV/ AIDS :

    • Pemeriksaan Antibodi

    Pemeriksaan antibodi merupakan metode pemeriksaan HIV/AIDS yang paling umum dilakukan. Pemeriksaan HIV jenis ini tujuannya bukanlah untuk mencari penyakit atau virus penyebabnya, melainkan menemukan protein untuk menangkal penyakit atau yang dikenal sebagai antibodi. Protein tersebut dapat ditemukan di dalam darah, air liur, atau urin. 

    Untuk melakukan pemeriksaan HIV, dokter biasanya akan mengambil darah. Antibodi  dihasilkan dalam tubuh penderita HIV dalam kurun waktu sekitar 3 – 12 minggu hingga dapat terdeteksi dalam pemeriksaan tersebut. 

    • Pemeriksaan Antibodi-Antigen (Ab-Ag)

    Pemeriksaan HIV Antibodi-Antigen merupakan jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi yang ditujukan terhadap HIV-1 atau HIV-2. Selain itu, pemeriksaan ini juga bertujuan untuk menemukan protein p24 yang merupakan antigen dari virus (bagian dari inti virus).

    Tubuh membutuhkan waktu beberapa minggu hingga terbentuknya antibodi usai infeksi awal. Artinya, pemeriksaan Antibodi-Antigen ini sangat memungkinkan untuk deteksi dini infeksi HIV. 

    Melalui pemeriksaan ini, diagnosis HIV dapat diketahui dalam kurun waktu satu minggu lebih cepat dari pada pemeriksaan antibodi. Apabila pemeriksaan ini menunjukan hasil positif,  dokter akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, misalnya pemeriksaan Western blot. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Pemeriksaan Serologi

    Terdapat tiga jenis pemeriksaan serologi yang umum direkomendasikan dalam pemeriksaan HIV dan AIDS, yakni:

    • Tes darah cepat

    Proses kerja pemeriksaan ini menggunakan reagen (bahan kimia aktif) yang telah dievaluasi dan direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Tes darah HIV dan AIDS in dapat mendeteksi antibodi HIV-1 maupun HIV-2. Selain itu, tes ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk dapat mengetahui hasilnya.

    • Tes ELISA

    Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) atau yang dikenal juga sebagai EIA (enzyme immunoassay) yakni merupakan suatu pemeriksaan HIV untuk mendeteksi antibodi HIV-1 dan HIV-2. Tes ini dilakukan dengan menambahkan enzim ke cawan petri tersebut untuk mempercepat proses reaksi kimia. Namun, hasil tes ini baru dapat diketahui dalam kurun waktu 1 – 3 hari. 

    • Tes Western Blot

    Tes ini hanya dapat dilakukan untuk menindaklanjuti tes skrining awal yang menunjukan hasil positif HIV. Umumnya, pemeriksaan ini disarankan apabila tes ELISA yang sebelumnya dijalani menunjukan hasil positif HIV karena terkadang tes ELISA menunjukan hasil positif (false positif). 

    Pemeriksaan Western Blot juga  diperlukan apabila Sahabat Sehat didiagnosa positif HIV dari pemeriksaan sebelumnya. Kondisi yang dimaksud meliputi Lyme, sifilis, atau lupus yang mungkin mempengaruhi hasil pemeriksaan HIV.

    Meski tes Western Blot ini hanya membutuhkan waktu 1 hari untuk pengujiannya, namun perlu diingat bahwa tes ini hanya dapat dilakukan sebagai pemeriksaan lanjutan sebab tes Western Blot ini tidak akan membantu jika tanpa melakukan tes lain sebelumnya. 

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Pemeriksaan Virologis Dengan PCR

    Pemeriksaan virologis merupakan salah satu jenis pemeriksaan HIV/AIDS yang dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR). Tes ini sangat penting bagi ibu hamil yang terdiagnosa positif HIV. Selain itu, bayi yang baru lahir dari ibu yang positif HIV juga harus melakukan pemeriksaan ini minimal saat ini telah berusia 6 minggu. 

    Tes ini juga sangat direkomendasikan bagi anak umur dibawah 18 tahun yang dicurigai mengidap HIV. Tes ini kemungkinan juga dapat membantu mendeteksi adanya infeksi HIV dalam 4 minggu pertama setelah terpapar virus penyebab HIV. Berikut beberapa tes virologi yang dianjurkan, yaitu:

    • HIV DNA Kualitatif (EID)

    Jenis pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan darah lengkap atau dried blood spot (DBS), yakni pemeriksaan yang berfungsi dalam mendeteksi keberadaan virus HIV, dan bukan pada antibodi penangkalnya. Tes HIV DNA kualitatis ini digunakan untuk mendiagnosis HIV pada bayi. 

    • HIV RNA Kuantitatif

    Tes HIV dan AIDS RNA kuantitatif ini dilakukan dengan menggunakan plasma darah. Periksaan ini bertujuan untuk memeriksa jumlah virus yang di dalam darah (viral load HIV).  Metode pemeriksaan HIV dengan bantuan PCR ini melibatkan enzim dalam menggandakan virus HIV dalam darah. Biasanya, pemeriksaan ini membutuhkan waktu beberapa hari hingga seminggu.

    Viral load dapat dinyatakan “tak terdeteksi” apabila hanya terdapat sangat sedikit dalam 1 ml sampel darah. Kondisi ini dapat menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh Sahabat Sehat gagal melawan infeksi HIV. 

    Baca Juga: HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa jenis pemeriksaan yang dapat Sahabat Sehat lakukan dalam mendeteksi virus HIV. Segera lakukan pemeriksaan bila dicurigai berkaitan dengan penyakit HIV. Mendapatkan penanganan sedini mungkin dapat membuat perkembangan lebih dapat ditangani sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup pengidapnya. 

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Stanford Health Care. Polymerase chain reaction (PCR) [Internet]. USA : Stanford Health Care.
    2. Kementerian Kesehatan RI. Buku Permenkes ARV [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan RI.
    3. HIV Gov. HIV Testing Overview [Internet]. USA : HIV Gov.
    4. Avert. HIV testing fact sheet [Internet]. USA : Avert.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Testing HIV Basics [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    Read More
  • Anda mungkin sudah cukup sering mendengar tentang penyakit kanker serviks. Ya, penyakit kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Tahukah Anda bahwa harapan hidup dan keberhasilan pengobatan kanker serviks bergantung dari stadium penyakit saat didiagnosis pertama kali? Semakin awal ditemukan lesi kankernya, maka semakin baik pula prognosis dan tingkat keberhasilan pengobatan. Maka, […]

    Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    Anda mungkin sudah cukup sering mendengar tentang penyakit kanker serviks. Ya, penyakit kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia setelah kanker payudara. Tahukah Anda bahwa harapan hidup dan keberhasilan pengobatan kanker serviks bergantung dari stadium penyakit saat didiagnosis pertama kali?

    Semakin awal ditemukan lesi kankernya, maka semakin baik pula prognosis dan tingkat keberhasilan pengobatan. Maka, pemeriksaan deteksi dini kanker serviks menjadi penting bagi wanita dan sangat disarankan untuk dilakukan rutin. Mari simak penjelasan di bawah ini.

    Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    Berbagai Jenis Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

    Usia Harapan Hidup Pasien dengan Kanker Serviks

    Berdasarkan data dari National Cancer Institute, Amerika Serikat, orang dengan kanker serviks yang terlokalisir (belum menyebar ke area sekitar atau organ

    jauh) memiliki harapan hidup 5 tahun ke depan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 92%.

    Bila saat didiagnosa kanker sudah mencapai area sekitar, maka harapan hidupnya selama 5 tahun ke depan menurun drastis menjadi 58%. Sedangkan, sel kanker yang sudah menyebar ke organ yang jauh saat didiagnosa pertama kali (misalnya paru-paru), maka harapan hidup 5 tahun kedepan menurun lebih drastis hingga 18%.

    Oleh karena itu, deteksi dini kanker serviks sangatlah penting, khususnya pada wanita dengan faktor risiko.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Faktor Risiko Kanker Serviks

    Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi human papillomavirus (HPV). Tetapi tidak semua wanita dengan infeksi HPV akan mengidap kanker serviks. Beberapa infeksi HPV hilang tanpa pengobatan. Dari berbagai jenis HPV, hanya beberapa di antaranya yang menyebabkan pertumbuhan sel serviks berlebihan menjadi kanker, yaitu tipe 16 dan 18.

    Infeksi HPV menyebar terutama melalui kontak seksual. Wanita yang menjadi aktif secara seksual pada usia muda dan memiliki banyak pasangan seksual memiliki risiko tinggi terinfeksi HPV.

    Faktor risiko lainnya meliputi merokok, mempunyai banyak anak, sosial ekonomi rendah, pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau positif), penyakit menular seksual, dan gangguan imunitas.

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Macam-macam Pemeriksaan Kanker Serviks

    Secara umum, deteksi dini bertujuan untuk menemukan kelainan sebelum adanya perburukan atau perkembangan lanjut dengan cara pemeriksaan secara berkala, biasanya sebelum ada gejala. Deteksi dini dapat dilakukan di puskesmas, klinik swasta, dan rumah sakit, oleh dokter atau bidan terlatih

    Ada beberapa macam pemeriksaan deteksi dini kanker serviks, yaitu:

    Tes Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA)

    Tes IVA merupakan pemeriksaan sederhana dan murah yang sering dilakukan di Puskesmas dan klinik. Tes ini menggunakan cairan asam asetat yang sudah diencerkan (3-5%). Bagian leher rahim/ serviks akan dioleskan asam asetat, lalu dilihat apakah ada perubahan warna. Bila area yang dioleskan berubah menjadi warna putih dan berbatas tegas (acetowhite), maka hasil mengindikasikan bahwa leher rahim mungkin memiliki lesi prakanker.

    Tes IVA dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat menstruasi dan saat asuhan nifas atau pasca keguguran. Pemeriksaan IVA juga boleh dilakukan pada perempuan yang dicurigai atau diketahui mengidap infeksi menular seksual.

    Pap Smear

    Pemeriksaan Pap smear biasanya dilakukan rutin pada wanita usia 21 tahun hingga 65 tahun untuk mendeteksi kanker serviks. Pemeriksaan ini menggunakan sikat kecil untuk mengumpulkan sampel dari permukaan serviks dan area di sekitarnya. Sampel akan dilihat di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah mereka abnormal.

    Sebagian dokter menyarankan agar pemeriksaan Pap smear dilakukan setiap tahun. Tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa, bila hasil pap smear normal, maka seorang wanita dapat mengulang pemeriksaan tersebut setiap 2-3 tahun.

    Tes Inspeksi Visual Lugol Iodine (VILI)

    Di daerah dengan sumber daya terbatas, skrining kanker serviks dengan Pap smear dapat diganti dengan metode visual seperti VILI. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas tertinggi (100%) untuk mendeteksi kelainan sel, dan spesifisitas yang baik (93,3%).

    Pada pemeriksaannya, serviks akan diolesi dengan iodine lugol (VILI). Bila tampak perubahan warna pada serviks menjadi coklat atau kuning coklat, maka artinya VILI negatif atau normal. Sedangkan, bila berwarna kuning sawi, maka dianggap VILI positif.

    Test DNA HPV (genotyping / hybrid capture) 

    Tes DNA HPV dapat dilakukan bila hasil tes Pap smear positif atau dicurigai abnormal. Tes DNA HPV adalah uji laboratorium yang digunakan untuk memeriksa DNA/ RNA untuk jenis infeksi HPV tertentu. Sel dari serviks akan dikumpulkan dan DNA/ RNA dari sel diperiksa untuk mengetahui apakah ada infeksi yang disebabkan oleh jenis human papillomavirus yang terkait dengan kanker serviks. 

    Untuk menyaring kanker serviks, tes DNA HPV dapat dilakukan dengan atau tanpa tes Pap smear pada wanita berusia 25 tahun ke atas.

    Biopsi

    Biopsi adalah mengambil sebagian kecil jaringan serviks untuk diperiksakan. Prosedur ini dilakukan bila ditemukan hasil abnormal atau mencurigakan dari hasil tes skrining lainnya, misalnya IVA. Sampel jaringan akan dikirim ke bagian patologi anatomi untuk diperiksa dan dinilai lebih jauh.

    Baca Juga: 10 Makanan Si Pencegah Kanker Serviks

    Sahabat Sehat, periksakan diri Anda untuk deteksi dini kanker serviks. Berikan proteksi terbaik bagi diri Anda sebagai langkah pencegahan, salah satunya dengan vaksinasi HPV. Bagaimanapun juga, pencegahan tetap lebih baik dari mengobati.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Gloria Teo
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. The Global Cancer Observatory. Indonesia.
    2. NHS. What happens at your appointment : Cervical screening.
    3. American Cancer Society. Cervical cancer: detection-diagnosis-staging-survival.
    4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PANDUAN PENATALAKSANAAN KANKER SERVIKS.
    5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. PROGRAM NASIONAL GERAKAN PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI KANKER : KANKER LEHER RAHIM DAN KANKER PAYUDARA.
    6. National Cancer Institute. Cervical cancer screening (PDQ)- patient version.
    7. Ghosh P et al. Visual inspection of cervix with Lugol’s iodine for early detection of premalignant & malignant lesions of cervix.
    8. NCCN. Guidelines for Patients: Cervical Cancer [internet].
    Read More
  • Dari sekian banyak jenis kanker, kanker serviks adalah jenis kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia. Kanker merupakan sebuah penyakit dimana sel tubuh bertumbuh secara tidak terkontrol dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Pada tahun 2018, diestimasikan 570.000 wanita terdiagnosis kanker serviks dan sekitar 311.000 wanita meninggal karena kanker tersebut. Lalu apa yang menyebabkan kanker […]

    Kenali Apa Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya

    Dari sekian banyak jenis kanker, kanker serviks adalah jenis kanker terbanyak kedua pada wanita di Indonesia. Kanker merupakan sebuah penyakit dimana sel tubuh bertumbuh secara tidak terkontrol dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

    Pada tahun 2018, diestimasikan 570.000 wanita terdiagnosis kanker serviks dan sekitar 311.000 wanita meninggal karena kanker tersebut. Lalu apa yang menyebabkan kanker serviks? Faktor resiko apa yang dapat meningkatkan seorang wanita mendapat kanker serviks?

    Kenali Apa Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya

    Kenali Apa Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risikonya

    Penyebab Kanker Serviks

    Terdapat beberapa penyebab kanker serviks, diantaranya adalah genetik dan infeksi dari virus bernama human papillomavirus (HPV). World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa hampir 99% kanker serviks disebabkan oleh HPV. Selain menyebabkan kanker serviks, virus ini juga dapat menyerang sel kulit atau sel rongga mulut sehingga menyebabkan pembentukan kutil pada daerah tersebut.

    Dapatkan: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Gejala HPV dan Cara Penularannya

    Gejala dari HPV bervariasi dan bergantung dari tipe virusnya. Bahkan beberapa wanita dapat tidak mengalami gejala apapun, namun pernah terinfeksi HPV. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah pembentukan kutil pada kelamin. Tetapi komplikasi dari penyakit ini cukup menyeramkan, yaitu terjadinya kanker serviks.

    Penularan HPV terjadi saat ada kontak kulit dengan kulit, atau pada saat berhubungan seksual. Hal inilah yang menjadikan HPV sebagai penyakit infeksi menular seksual (IMS). 

    Virus tersebut juga dapat menginfeksi pasangan saat berhubungan seksual, sehingga faktor risiko kanker serviks adalah aktif secara seksual dan memiliki beberapa pasangan seksual. Selain itu, merokok dan riwayat kanker serviks pada keluarga juga merupakan faktor risiko.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Mencegah Kanker Serviks

    HPV memiliki beberapa tipe, namun tipe yang paling sering menyebabkan kanker serviks adalah tipe 16 dan 18.  HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab kanker serviks terbanyak, yaitu hingga 70%. Sedangkan tipe yang paling sering menyebabkan kutil kelamin adalah tipe 6 dan 11. Masih banyak lagi tipe HPV lainnya dan tipe-tipe tersebut juga memiliki potensi untuk menyebabkan kanker serviks walau kemungkinannya tidak sebesar tipe 16 dan 18.

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Saat ini sudah terdapat vaksin untuk HPV dalam bentuk vaksin bivalen dan tetravalen. Untuk vaksin bivalen mencakup HPV tipe 16 dan 18 sedangkan vaksin tetravalen mencakup HPV tipe 6, 11, 16, dan 18.

    Vaksin HPV mulai dapat diberikan pada perempuan berusia 10 tahun ke atas. Jadwal pemberian vaksin HPV adalah 0, 1 atau 2 bulan, dan 6 bulan dengan total 3 kali suntikan.

    Vaksin HPV sudah terbukti dapat mencegah infeksi HPV sehingga menurunkan resiko menderita kanker serviks bagi wanita. Selain itu, menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seksual juga dapat menurunkan resiko penularan HPV, meskipun tidak 100%.

    Sahabat Sehat, HPV merupakan penyebab terbesar kanker serviks yang harus diperhatikan setiap wanita. Penularan dapat terjadi melalui kontak seksual sehingga aktivitas seksual menjadi faktor resiko terjadinya kanker serviks selain juga kebiasaan merokok dan faktor genetik. Ayo cegah kanker serviks dengan melakukan vaksinasi HPV dan menggunakan kondom saat beraktivitas seksual yang berisiko.

    Baca Juga: 10 Makanan Si Pencegah Kanker Serviks

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. National Cancer Institute. What Is Cancer?
    2. WHO. Cervical cancer.
    3. CDC. Genital HPV Infection – Fact Sheet.
    4. Kashyap N, Krishnan N, Kaur S, Ghai S. Risk Factors of Cervical Cancer: A Case-Control Study.
    5. Luria L, Cardoza-Favarato G. Human Papillomavirus.
    6. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    Read More
  • Tahukah Sahabat Sehat bahwa kanker serviks adalah penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada perempuan Indonesia? Ya, begitu seriusnya penyakit ini sekarang pemerintah telah memasukkan vaksinasi HPV ke dalam imunisasi wajib yang diberikan mulai usia 9 tahun pada momen Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Vaksinasi HPV memang sebaiknya diberikan di usia muda, terutama ketika seseorang belum pernah […]

    Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh?

    Tahukah Sahabat Sehat bahwa kanker serviks adalah penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada perempuan Indonesia? Ya, begitu seriusnya penyakit ini sekarang pemerintah telah memasukkan vaksinasi HPV ke dalam imunisasi wajib yang diberikan mulai usia 9 tahun pada momen Bulan Imunisasi Anak Sekolah.

    Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh

    Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh?

    Vaksinasi HPV memang sebaiknya diberikan di usia muda, terutama ketika seseorang belum pernah melakukan hubungan seksual dan tingkat kekebalan tubuh sedang tinggi-tingginya. Vaksinasi ini diberikan sebanyak 3 dosis.

    Apakah vaksinasi HPV boleh diberikan tanpa dilakukan skrining kanker serviks terlebih dahulu seperti Pap smear? Mari pahami penjelasan berikut.

    Manfaat pemeriksaan Pap smear

    Pap smear atau yang disebut juga dengan tes Pap adalah tindakan skrining yang bertujuan untuk melihat keberadaan sel kanker atau prakanker pada serviks atau leher rahim.

    Pada tindakan ini, dokter akan mengambil sampel dari usapan leher rahim menggunakan kapas cotton bud khusus yang kemudian diperiksakan di laboratorium. Apabila didapatkan hasil adanya sel kanker, maka vaksinasi tidak perlu diberikan.

    Dapatkan: Layanan Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Pemeriksaan Pap smear disarankan bagi semua perempuan mulai usia 21 tahun jika ia sudah aktif secara seksual. Bila Pap smear dilakukan dengan rutin dan lesi prakanker atau kanker terdeteksi lebih awal, maka kemungkinan ia sembuh dari kanker serviks menjadi lebih besar.

    Pemeriksaan Pap smear sangat penting bagi perempuan karena stadium awal kanker serviks jarang menyebabkan gejala. Umumnya, kanker serviks menimbulkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut dimana sudah ada penyebaran ke organ-organ sekitar.

    Rekomendasi pemeriksaan Pap smear adalah sebagai berikut:

    • Usia 21-29 tahun: 3 tahun sekali.
    • Usia 30-65 tahun: 5 tahun sekali disertai pemeriksaan HPV.
    • Usia di atas 65 tahun: sesuai rekomendasi dokter.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Bolehkah Vaksinasi HPV tanpa Pap smear?

    Menurut CDC, anak perempuan dan dewasa sebenarnya tidak perlu melakukan tes HPV ataupun Pap smear untuk mengetahui apakah mereka boleh divaksinasi HPV. Namun, penting bagi perempuan untuk rutin skrining kanker serviks, bahkan setelah mendapatkan semua suntikan vaksin HPV yang direkomendasikan.

    Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Bagi Perempuan untuk Pap Smear?

    Bentuk skrining kanker serviks antara lain:

    • Tes HPV. Tes ini memeriksakan terhadap tipe HPV yang berhubungan dengan kanker serviks.
    • Pap smear. Pemeriksaan ini dilakukan secara manual dimana sampel dari usapan leher rahim diambil dan diperiksakan di bawah mikroskop untuk melihat apakah ada sel kanker atau prakanker.
    • IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). Pemeriksaan yang paling mudah dan sederhana untuk melihat adanya abnormalitas di leher rahim setelah ditotolkan asam asetat. Pemeriksaan ini sangat berguna terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

    Sahabat Sehat, jadi melakukan vaksinasi HPV tanpa Pap smear boleh dilakukan. Tapi ingat bahwa Pap smear tetap direkomendasikan walaupun Sahabat Sehat sudah melengkapi vaksinasi HPV.

    Bagi Sahabat Sehat yang belum vaksinasi HPV, ayo segera jadwalkan vaksinasi HPV bersama Prosehat. Ajak saudara dan kerabat perempuan Anda agar sama-sama terlindungi dari virus HPV.

    Layanan vaksinasi di Prosehat bisa dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi Satu atau Palmerah Jakarta, atau bisa juga dilakukan di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Sahabat Sehat. Dapatkan juga harga menarik bagi Sahabat Sehat yang vaksinasi berkelompok.

    Baca Juga: Kanker Serviks Bisa Menyebar ke Paru-Paru, Cegah dengan Vaksin HPV

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat. 

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L


    Referensi

    1. Perdoski. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    2. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    3. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    4. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    5. Budiman Syahputra, SpOG. MKes. Manfaat dan Cara Kerja Pemeriksaan Pap Smear.
    6. CDC. HPV Vaccine Information For Young Women.
    7. Sulaiman M. Bagi yang Sudah Menikah, Lebih Baik Papsmear atau Vaksinasi HPV Dulu? 
    Read More
  • Infeksi toksoplasma atau disebut juga Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toksoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan pada air yang terkontaminasi, kotoran kucing, dan daging yang dimasak kurang matang. Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil sebab  dapat mengganggu tumbuh kembang janinnya seperti kerusakan otak, kehilangan penglihatan, hingga kelahiran prematur. Sahabat Sehat, bagaimana […]

    Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Infeksi toksoplasma atau disebut juga Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Toksoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan pada air yang terkontaminasi, kotoran kucing, dan daging yang dimasak kurang matang.

    Penyakit ini perlu diwaspadai pada ibu hamil sebab  dapat mengganggu tumbuh kembang janinnya seperti kerusakan otak, kehilangan penglihatan, hingga kelahiran prematur. Sahabat Sehat, bagaimana mengatasi toksoplasmosis pada ibu hamil ? Mari simak penjelasan berikut.

    Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya

    Menderita Toksoplasma Saat Hamil, Bagaimana Mengatasinya?

    Bagaimana Cara Penularan Toksoplasma ?

    Apabila Sahabat Sehat terinfeksi sebelum hamil, makan parasit memerlukan beberapa waktu hingga menimbulkan gejala. Sebagian besar kasus toksoplasma berasal dari makanan yang terkontaminasi misalnya:

    • Daging mentah atau setengah matang (daging masih berwarna merah muda atau mengeluarkan darah).
    • Susu yang tidak dipasteurisasi atau makan produk olahannya.
    • Makan makanan yang terkontaminasi tanah atau kotoran kucing.
    • Menyentuh kotoran kucing yang terkontaminasi (misalnya saat mengganti kotak pasir) dan lalu menyentuh makanan.  

    Membelai atau memelihara kucing umumnya tidak menyebabkan terinfeksi toksoplasma. Penyakit ini juga tidak dapat menular melalui kontak orang ke orang. Namun ibu hamil tetap perlu mewaspadai penyakit ini sebab berisiko menularkan infeksi ke janin melalui plasenta. 

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Gejala Toksoplasma

    Umumnya, toksoplasma tidak menimbulkan gejala apapun dan banyak penderita tidak menyadari bahwa telah terinfeksi toksoplasma. Berikut adalah beberapa gejala yang dapat Sahabat Sehat alami jika terinfeksi toksoplasma :

    • Demam
    • Nyeri otot
    • Kelelahan
    • Nyeri tenggorokan
    • Pembengkakan kelenjar getah bening

    Untuk memastikan apakah Sahabat Sehat terinfeksi toksoplasma atau tidak, maka dianjurkan berkonsultasi dengan dokter agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut seperti tes darah. 

    Baca Juga: Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Tips Mengurangi Risiko Toksoplasma

    Untuk mengurangi risiko terkena toksoplasma, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa hal berikut ini:

    • Cuci tangan sebelum menyiapkan atau memakan makanan.
    • Cuci tangan, pisau, talenan secara menyeluruh setelah menggunakannya untuk menyiapkan daging mentah. 
    • Cuci atau kupas buah dan sayuran secara menyeluruh untuk menghilangkan sisa-sisa tanah atau kotoran yang menempel.
    • Hindari mengkonsumsi daging mentah atau daging yang diawetkan 
    • Hindari mengkonsumsi susu yang belum dipasteurisasi serta produk olahannya. 
    • Masak daging secara menyeluruh (tidak meninggalkan jejak darah atau masih berwarna merah muda).
    • Kenakan sarung tangan saat berkebun dan cuci tangan setelahnya. 
    • Hindari berkebun di area yang mungkin tercemar oleh kotoran kucing. 
    • Hindari minum air yang tidak di masak sebelumnya. 

    Bagaimana Penanganan Toksoplasma?

    Apabila Sahabat Sehat terinfeksi toksoplasma saat hamil, dokter akan beberapa obat tertentu untuk membasmi parasit Toksoplasma gondii. Selain itu, risiko bayi terinfeksi Toksoplasma lebih kecil apabila ibu hamil telah mendapatkan perawatan yang tepat selama hamil. 

    risiko bayi terinfeksi Toksoplasma lebih kecil apabila ibu hamil telah mendapatkan perawatan yang tepat selama hamil.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai infeksi Toksoplasma saat hamil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. UOFM Health Toxoplasmosis During Pregnancy [Internet]. USA : Michigan Medicine.
    2. Up To Date. UpToDate [Internet]. USA : Up To Date.
    3. Tommys. Toxoplasmosis Pregnancy [Internet]. USA : Tommys.
    4. Mayo Clinic. Toxoplasmosis – Diagnosis and treatment [Internet]. USA : Mayo Clinic.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Toxoplasmosis [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    Read More
  • Beberapa bulan belakangan ini kasus Covid-19 sudah mulai melandai. Pemerintah pun mengumumkan bahwa Indonesia akan memasuki fase transisi dari pandemi menjadi endemi Covid-19 dengan berbagai pertimbangan. Walau demikian, bukan berarti virus corona sudah menghilang ya! Melandainya kasus Covid-19 memberi kesempatan bagi Anda dan keluarga untuk berlibur ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Sama juga […]

    Vaksin Flu: Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Beberapa bulan belakangan ini kasus Covid-19 sudah mulai melandai. Pemerintah pun mengumumkan bahwa Indonesia akan memasuki fase transisi dari pandemi menjadi endemi Covid-19 dengan berbagai pertimbangan. Walau demikian, bukan berarti virus corona sudah menghilang ya!

    Vaksin Flu Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Vaksin Flu: Perlindungan Ekstra Bagi Anak dan Dewasa Saat Liburan

    Melandainya kasus Covid-19 memberi kesempatan bagi Anda dan keluarga untuk berlibur ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Sama juga halnya bagi pelancong dari luar negeri yang berwisata ke Indonesia.

    Anda tetap perlu waspada saat mengunjungi keramaian. Apalagi kalau si Kecil belum divaksinasi Covid-19, atau jika Anda bepergian dengan orang lanjut usia (lansia), atau bersama orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid).

    Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan melakukan vaksinasi flu (influenza) sebelum bepergian.

    Mengapa Vaksin Flu Penting?

    Vaksin Flu melindungi diri dari infeksi virus influenza. Selain menyebabkan gejala seperti flu (demam, nyeri otot, pilek, batuk, dll), virus ini dapat menyebabkan sakit berat jika daya tahan tubuh Anda tidak bagus saat terinfeksi.

    Contoh komplikasinya seperti paru-paru basah (pneumonia), infeksi telinga, dan memperburuk kondisi gagal jantung, asma, dan diabetes bila Anda memilikinya.

    Yang lebih mengkhawatirkan, virus ini terus bermutasi layaknya sifat virus pada umumnya. Oleh sebab itu, para ahli menyarankan untuk meng-update vaksin flu setiap satu tahun sekali.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Bagaimana Vaksin Flu Melindungi Terhadap Covid-19?

    Sebuah penelitian terhadap 27.000 partisipan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa angka kematian lebih rendah pada mereka yang terinfeksi Covid-19 dan sudah divaksin influenza. Selain itu juga menunjukkan rendahnya kebutuhan perawatan intensif dan penggunaan bantuan alat nafas pada pasien Covid-19 yang telah divaksinasi influenza.

    Maka, vaksin flu adalah perlindungan ekstra yang bisa Anda berikan untuk diri sendiri, anak, dan keluarga terhadap risiko penularan berbagai penyakit menular.

    Baca Juga: Vaksin Influenza Trivalen atau Quadrivalen? Kenali Perbedaannya!

    Pelindung Bagi Balita

    Sekitar satu setengah tahun yang lalu vaksin Covid-19 berhasil diciptakan dan diedarkan untuk digunakan oleh seluruh masyarakat berusia 6 tahun ke atas secara bertahap.

    Tetapi, hingga kini belum ada lampu hijau untuk penggunaan vaksin Covid-19 pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Sedangkan, virus ini ada dimana-mana dan anak-anak sudah memulai interaksi dengan lingkungan seperti sedia kala.

    American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar semua anak sehat berusia 6 bulan ke atas divaksinasi influenza sebagai perlindungan terbaik terhadap flu, terutama dengan COVID-19, virus dan penyakit pernapasan lainnya yang beredar.

    Dosis Vaksin Flu

    Pada anak berusia kurang dari 8 tahun, pemberian vaksin influenza pertama kali diberikan sebanyak 2 dosis dengan jarak minimal 4-6 minggu.

    Sementara jika Si Kecil berusia diatas 8 tahun, maka dosis pertama cukup diberikan 1 dosis saja seperti dewasa, termasuk ibu hamil.

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Influenza untuk Anak dan Efek Sampingnya

    Nah Sahabat Sehat, itulah pentingnya vaksin flu bagi anak dan dewasa. Tidak hanya melindungi terhadap flu, tapi juga berbagai macam penyakit menular lainnya.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica C
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi 

    1. CDC. Influenza Prevention: Information for Travelers.
    2. CDC. Before You Travel.
    3. Conlon A, et al. Impact of the influenza vaccine on COVID-19 infection rates and severity.
    4. The Importance of Flu Vaccines as the COVID Pandemic Continues.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com