Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Wanita

Showing 11–20 of 255 results

  • Kanker payudara sebagian besar terjadi pada wanita, meski tidak menutup kemungkinan pria juga dapat menderita kanker payudara. Pada tahun 2020, sekitar 2,3 juta wanita terdiagnosis  kanker payudara dengan angka kematian di dunia mencapai 685.000 kasus. Pada akhir 2020, terdapat 7,8 juta orang wanita yang masih bertahan hidup selama 5 tahun setelah didiagnosis kanker payudara. Data […]

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Kanker payudara sebagian besar terjadi pada wanita, meski tidak menutup kemungkinan pria juga dapat menderita kanker payudara. Pada tahun 2020, sekitar 2,3 juta wanita terdiagnosis  kanker payudara dengan angka kematian di dunia mencapai 685.000 kasus. Pada akhir 2020, terdapat 7,8 juta orang wanita yang masih bertahan hidup selama 5 tahun setelah didiagnosis kanker payudara.

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Kanker Payudara dan Cara Mencegahnya

    Data dari Global Cancer Observatory 2018 dan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni mencapai 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Disusul dengan kanker serviks (kanker leher rahim) yang merupakan jenis kanker kedua yang paling sering terjadi di Indonesia yaitu mencapai 32.469 kasus atau 9.3% dari total kasus.

    Data dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa angka kasus kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk, dengan rata-rata angka kematian akibat kanker mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Apa Penyebab Kanker Payudara?

    Sekitar 15% kasus kanker payudara terjadi pada jaringan kelenjar yang menghasilkan susu (lobulus) sementara 85% kasus kanker payudara terjadi di saluran air susu (ductus) yang mengalirkan air susu ke puting payudara. Disamping itu, kanker juga dapat terjadi pada jaringan lemak atau jaringan ikat di payudara.

    Hingga kini belum diketahui penyebab pasti kanker payudara. Namun terdapat dugaan bahwa faktor genetik, gaya hidup, lingkungan dan perubahan hormon mempunyai kaitan erat terbentuknya kanker payudara. Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa faktor resiko penyebab kanker payudara:

    • Usia
      Seiring bertambahnya usia, angka kejadian kanker payudara juga semakin meningkat yaitu mencapai 0,06% setiap tahunnya. Setelah usia 70 tahun, angka kejadian kanker payudara mencapai 3,84%.

    Baca Juga: Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    • Genetik
      Kelainan dan mutasi dari gen BRCA1 dan BRCA2 diketahui berkaitan dengan kejadian kanker payudara, kanker ovarium atau keduanya. Mutasi dari gen TP53 juga memiliki kaitan dengan terjadinya resiko kanker payudara. Kemungkinan terjadinya kanker payudara akan meningkat apabila, dalam satu keluarga kandung terdapat riwayat kanker payudara.
    • Riwayat kanker payudara sebelumnya
      Wanita yang pernah didiagnosa kanker payudara sebelumnya beresiko menderita kanker payudara kembali di kemudian hari.
    • Perubahan Hormon
      Kadar hormon estrogen yang tinggi, misalnya pada wanita yang mengalami mens pertama kali terlalu cepat dan pada awal masa menopause, memiliki kadar estrogen yang cukup tinggi sehingga resiko kanker payudara juga meningkat. Bagi ibu menyusui terutama yang memberikan ASI lebih dari 1 tahun, diketahui mengurangi resiko terjadinya kanker payudara karena kadar hormon estrogen yang rendah. Begitu juga wanita hamil, diketahui memiliki kadar estrogen yang cukup rendah.
    • Berat Badan
      Wanita dengan berat badan berlebih atau obesitas beresiko menderita kanker payudara karena berkaitan dengan kadar hormon estrogen yang tinggi.

    Baca Juga: Mitos/Fakta: Pakai Bra Saat Tidur Sebabkan Kanker Payudara?

    • Konsumsi Alkohol
      National Cancer Institute mengungkapkan bahwa wanita yang mengkonsumsi alkohol akan lebih beresiko menderita kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi alkohol.
    • Terpapar Sinar Radiasi
      Adanya paparan sinar radiasi dari pengobatan kanker pada tubuh wanita meningkatkan resiko terjadinya kanker pada payudara akibat efek samping dari sinar radiasi dan kemoterapi.
    • Pengobatan Hormonal
      Beberapa penelitian menyebutkan bahwa wanita yang menerima pengobatan hormon, misal menggunakan pil KB, suntik KB, maupun terapi pengganti hormon, beresiko menderita kanker payudara.

    Baca Juga: Hubungan Antara Menyusui dan Kanker Payudara

    Bagaimana Cara Mencegah Kanker Payudara?

    Untuk mencegah terjadinya kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai tips berikut di rumah:

    • Hindari minuman beralkohol
    • Menjaga berat badan agar tetap ideal. 
    • Olahraga teratur antara 75 – 150 menit per minggu untuk menjaga kesehatan tubuh. 
    • Hindari penggunaan terapi hormon setelah menopause. 
    • Menyusui.
    • Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti buah dan sayur.
    • Menghindari menu makanan daging yang sudah diproses, seperti sosis, ham, bacon yang meningkatkan resiko terjadinya kanker.

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai faktor penyebab dan cara mencegah kanker payudara. Untuk mendeteksi dini kanker payudara, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan pemeriksaan payudara secara berkala.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Breast cancer.
    2. Widiowati H. Kasus Kanker Payudara Paling Banyak Terjadi di Indonesia.
    3. Ranchod R. Breast cancer: Symptoms, causes, and treatment.
    4. Breast Cancer Now. Breast cancer causes.Mayo Clinic. Breast cancer: How to reduce your risk.
    5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Enam Langkah SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara.
    Read More
  • Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di negara berkembang, bahkan di seluruh dunia. Sangat penting bagi wanita untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini sebab tingkat kesembuhan kanker payudara semakin tinggi jika ditangani lebih dini. Salah satu upaya mendeteksi kanker payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan mamografi. Sahabat Sehat, kapan waktu yang tepat […]

    Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di negara berkembang, bahkan di seluruh dunia. Sangat penting bagi wanita untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini sebab tingkat kesembuhan kanker payudara semakin tinggi jika ditangani lebih dini.

    Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    Usia Tepat untuk Menjalani Pemeriksaan Mamografi

    Salah satu upaya mendeteksi kanker payudara adalah dengan melakukan pemeriksaan mamografi. Sahabat Sehat, kapan waktu yang tepat untuk menjalani pemeriksaan mamografi ? Mari simak penjelasan berikut.

    Mengapa Perlu Melakukan Mammografi?

    Pemeriksaan mamografi merupakan jenis pemeriksaan yang menggunakan sinar-x tingkat rendah untuk melihat bagian dalam payudara. Pemeriksaan mamografi disebut berperan dalam mendeteksi dini dan mendiagnosa kelainan pada payudara, seperti kanker payudara, kista payudara, tumor jinak payudara, maupun penumpukan kalsium (kalsifikasi) pada jaringan payudara. 

    Jenis Pemeriksaan Mammografi

    Sahabat Sehat, terdapat 2 jenis pemeriksaan mamografi berdasarkan tujuan pemeriksaannya yakni:

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    • Mammografi Screening 

    Pemeriksaan mamografi dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada payudara, meskipun jika Sahabat Sehat tidak memiliki keluhan apapun. Dengan melakukan pemeriksaan mammografi, Sahabat Sehat dapat mendeteksi benjolan atau area abnormal pada jaringan payudara. Selain itu skrining payudara dengan pemeriksaan mamografi juga dapat memantau perubahan pada payudara dari waktu ke waktu dan dapat mendeteksi kanker payudara pada tahap awal.

    • Mamografi Diagnostik

    Pemeriksaan mamografi dilakukan untuk mendiagnosis adanya masalah pada payudara, seperti benjolan payudara. Selain itu pemeriksaan mamografi diagnostik juga dapat membantu menemukan area abnormal selama pemeriksaan biopsi. 

    Baca Juga: 6 Cara Akurat Deteksi Kanker Payudara pada Wanita

    Kapan Waktu yang Tepat Untuk Melakukan Mamografi ?

    Sebuah penelitian merekomendasikan wanita untuk melakukan mamografi skrining tahunan secara rutin saat mulai memasuki usia 45 tahun. Namun, deteksi dini juga diperlukan dalam mengurangi penyakit dan angka kematian akibat kanker payudara.  Berikut ini beberapa kondisi yang direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan skrining kanker payudara pada wanita yang berisiko menderita, diantaranya:

    • Wanita harus melakukan skrining mamografi rutin mulai usia 45 tahun.
    • Wanita berusia 45-54 tahun harus menjalani skrining mamografi setiap tahun.
    • Wanita berusia 55 tahun keatas dapat beralih menjalani skrining dua tahun sekali atau tetap pada pilihan untuk melanjutkan skrining setiap tahun.
    • Wanita dengan risiko kanker payudara harus melakukan mamografi skrining tahunan rutin yang dapat dimulai pada usia 45 tahun. 

    Wanita memiliki risiko yang lebih tinggi menderita kanker payudara jika memiliki ibu atau saudara perempuan yang mengidap kanker payudara. 

    Baca Juga: Jenis Kanker yang Sering Menyerang Wanita

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai usia yang tepat untuk menjalani pemeriksaan mammografi. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Canadian Cancer Society. Mammography.
    2. Herndon J. What is a Mammogram?.
    3. Medline Plus. Mammogram: MedlinePlus Medical Encyclopedia.
    4. Pruthi S. Breast implants: Do they interfere with mammograms?.
    5. Mayo Clinic. Mammogram – Mayo Clinic.
    6. Freedman R. Mammograms and Older Women: Is It Ever Safe to Stop?.
    Read More
  • Operasi tumor payudara bisa menyisakan bekas luka yang kecil hingga besar, tergantung dari ukuran tumornya. Jika tidak dirawat dengan benar, luka pasca operasi tumor akan lebih lama sembuhnya bahkan hingga terjadi infeksi tambahan. Kebersihan area luka adalah kunci dari pemulihan luka. Tapi, Sahabat Sehat tidak boleh sembarang membersihkan. Ada hal-hal yang Anda perlu perhatikan. Mari […]

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Operasi tumor payudara bisa menyisakan bekas luka yang kecil hingga besar, tergantung dari ukuran tumornya. Jika tidak dirawat dengan benar, luka pasca operasi tumor akan lebih lama sembuhnya bahkan hingga terjadi infeksi tambahan.

    Kebersihan area luka adalah kunci dari pemulihan luka. Tapi, Sahabat Sehat tidak boleh sembarang membersihkan. Ada hal-hal yang Anda perlu perhatikan. Mari simak cara perawatan luka di bawah ini untuk mengetahui langkahnya.

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Cara Perawatan Luka Pasca Operasi Tumor Payudara

    Ciri-Ciri Benjolan Tumor Payudara Jinak

    Tumor adalah pertumbuhan sel tubuh yang tidak normal (abnormal). Terdapat dua jenis dari tumor payudara yaitu kanker dan non-kanker (jinak).

    Tidak semua jenis benjolan pada payudara merupakan tumor ganas, sebagian besar tumor pada payudara termasuk jinak dan tidak membahayakan penderitanya, misalnya fibroadenoma mammae atau yang disebut FAM.

    Tumor payudara yang bersifat ganas dan jinak dapat dibedakan berdasarkan dengan ciri-ciri fisiknya, seperti :

    • Batasan bentuk tumor jinak jelas dan tegas

    Benjolan pada tumor payudara jinak memiliki batas yang jelas dan tegas dengan tepi rata, tidak seperti tumor ganas yang tidak beraturan bentuknya dengan batasan tepi yang tidak jelas.

    • Teraba kenyal dan lunak pada tumor payudara jinak

    Benjolan payudara yang bersifat jinak memiliki konsistensi yang kenyal dan lunak. Berbeda sekali dengan tumor payudara ganas pada kanker payudara misalnya. Pada kanker payudara, benjolan akan teraba keras dan padat.

    • Mudah digerakkan

    Benjolan akibat tumor payudara jinak akan mudah untuk digerakkan (mobile), sedangkan pada tumor ganas, benjolan menyatu dengan jaringan sekitarnya dan terikat sehingga sulit apabila digerakkan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Operasi Tumor Payudara Jinak

    Prinsip utama dalam terapi tumor payudara adalah pembedahan atau operasi (eksisi lokal). Prosedur pembedahan akan dilakukan apabila tumor payudara jinak semakin membesar dan menimbulkan nyeri.

    Merawat Luka Pasca Operasi

    Setelah operasi, berikut cara perawatan luka yang harus dilakukan:

    • Jangan melepas kasa pada area yang dioperasi

    Sebaiknya kasa diganti oleh dokter atau perawat luka terlatih.

    • Jaga luka operasi tetap kering.

    Salah satu perawatan bekas sayatan operasi yang terpenting adalah menjaga luka sayatan agar tetap kering. Hindari luka operasi dari air selama kurang lebih 24-48 jam pertama. Oleh karena itu, disarankan agar pasien tidak mandi atau hanya menyeka badan dengan waslap lembap.

    Selain itu, pasien tidak disarankan untuk berenang atau berendam hingga jahitan dinyatakan kering dan boleh dilepas. Apabila kasa penutup jahitan basah atau terlepas, maka pasien harus menggantinya dengan kassa yang kering atau ke dokter untuk mengganti kasa penutup.

    • Ganti perban secara berkala

    Kasa perban yang digunakan bertujuan untuk melindungi luka bekas sayatan operasi dari cidera luar agar tidak mudah tergesek dan memberikan waktu agar luka sembuh lebih cepat. Perban perlu diganti secara berkala, dokter akan memberikan arahan apakah perban perlu diganti oleh dokter atau dapat dilakukan secara mandiri di rumah.

    Berikut arahan untuk mengganti perban:

    1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memegang luka operasi.
    2. Basahi perekat dengan air bersih sebelum dibuka agar tidak sakit ketika perekat kasa ditarik.
    3. Setelah perban dibuka, pasien dapat membersihkan luka bekas sayatan dengan cairan steril atau cairan infus, usap dengan lembut dan jangan ditekan.
    4. Hindari penggunaan cairan antiseptik, alkohol atau povidone iodine karena berpotensi merusak kulit sekitarnya sehingga luka akan lebih sulit sembuh.
    5. Jangan mengoleskan salep sembarangan tanpa anjuran dokter.
    6. Jaga agar kassa dan luka sayatan tetap kering.
    • Hindari penggunaan bra terlalu kencang.

    Baca Juga: Mengapa Perlu Melakukan Pemeriksaan Pap Smear?

    Yang Harus Diperhatikan

    Berikut ini hal yang perlu diperhatikan dan segera ke dokter, apabila:

    1. Demam tinggi dalam 24 jam pasca operasi
    2. Apabila pada area operasi ditemukan bengkak, nyeri, kemerahan pada area luka operasi
    3. Nyeri yang sangat berat walaupun sudah dibantu dengan obat-obatan.

    Sahabat Sehat, itulah cara perawatan luka pasca operasi tumor payudara agar bekas luka tidak kotor atau terkontaminasi kuman sehingga bisa cepat pulih. Jika Sahabat Sehat memerlukan perawatan luka di rumah, Prosehat siap membantu Anda.

    Baca Juga: Yuk, Kenali Perbedaan Kanker Serviks dan Kanker Rahim

    Bila Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Breast Tumors – National Breast Cancer Foundation.
    2. Cancer.org. What Is Breast Cancer?
    3. Columbia Surgery. Non-Cancerous Breast Disease.
    4. Suyatno. Peran Pembedahan Pada Tumor Jinak Payudara.
    5. Farrar, M.D. J, Kubiak, M.D. B, McCord, M.D. C. Breast Reconstruction Surgery Post-Op.
    Read More
  • Sahabat Sehat mungkin sudah mendengar bahwa pemerintah telah menambahkan vaksin HPV (human papillomavirus) sebagai salah satu imunisasi wajib bagi anak. Sayangnya, program pemerintah ini baru menyasar anak sekolah dasar (SD) berusia antara 10-11 tahun atau SD kelas 5-6 saja, belum untuk kelompok lainnya. Vaksin HPV diindikasikan bagi semua perempuan mulai dari usia 9 tahun dengan tujuan […]

    Perbedaan Vaksin HPV Bivalent dan Quadrivalent, Pilih yang Mana?

    Sahabat Sehat mungkin sudah mendengar bahwa pemerintah telah menambahkan vaksin HPV (human papillomavirus) sebagai salah satu imunisasi wajib bagi anak. Sayangnya, program pemerintah ini baru menyasar anak sekolah dasar (SD) berusia antara 10-11 tahun atau SD kelas 5-6 saja, belum untuk kelompok lainnya.

    Perbedaan Vaksin HPV Bivalent dan Quadrivalent, Pilih yang Mana

    Perbedaan Vaksin HPV Bivalent dan Quadrivalent, Pilih yang Mana

    Vaksin HPV diindikasikan bagi semua perempuan mulai dari usia 9 tahun dengan tujuan agar terhindar dari infeksi HPV penyebab kanker serviks. Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian vaksin HPV di usia 10 tahun ke atas.

    Saat ini ada tiga macam vaksin HPV, yaitu vaksin HPV yang mencakup 2 strain, 4 strain, dan 9 strain. Di Indonesia sendiri hanya ada dua jenis vaksin HPV yang tersedia, yaitu vaksinasi HPV 2 strain (bivalent) dan 4 strain (quadrivalent). Lalu apakah perbedaan dari kedua vaksinasi HPV tersebut? Mari simak ulasannya berikut ini.

    Tipe HPV yang menyebabkan Kanker Serviks

    Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papiloma Virus), yang disebabkan oleh tipe 16 dan 18 (sebanyak 70% kasus di dunia). Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui menjadi 90% penyebab kasus kutil kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual.

    Virus HPV dapat menyerang laki-laki dan perempuan. Pada daerah kelamin, kanker tidak hanya terjadi pada leher rahim (serviks), tapi juga vulva atau bibir vagina, vagina dan penis. Sedangkan pada daerah non-kelamin, virus HPV dapat menyerang bagian mulut dan saluran napas atas.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Kasus Kanker Serviks di Indonesia

    Angka kejadian kanker serviks di Indonesia mencapai 15.000 hingga 21.000 kasus setiap tahunnya. Angka ini menjadikan kanker serviks sebagai penyebab kematian akibat kanker nomor 1 bagi perempuan di Indonesia, sekaligus menempatkan Indonesia pada urutan kedua di dunia untuk kasus kanker serviks di dunia. Penyebaran kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan melakukan vaksinasi kanker serviks.

    Baca Juga: Mari Lindungi Si Gadis Dari Kanker Serviks

    Perbedaan jenis vaksin HPV, pilih yang mana?

    Di Indonesia ada 2 jenis vaksin HPV yang beredar, yaitu bivalent dan quadrivalent. Berikut ini perbedaan kedua vaksin tersebut :

    • Vaksinasi HPV bivalent

    Vaksin HPV ini mengandung 2 tipe HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim. Vaksinasi HPV bivalent ini hanya ditujukkan bagi wanita saja.

    • Vaksin HPV Quadrivalent 

    Vaksin HPV ini mengandung 4 tipe virus HPV (tipe 6, 11, 16 dan 18) yang dapat mencegah kanker dan pra kanker pada leher rahim, kanker vulva, kanker vagina dan juga kanker anus. Selain mencegah kuman HPV tipe 16 dan 18 yang menyebabkan kanker serviks, vaksin HPV quadrivalent juga mencegah kuman HPV tipe 6 dan 11 sebagai penyebab kutil kelamin. Vaksinasi ini dapat diberikan pada laki-laki dan juga perempuan.

    Untuk vaksin quadrivalent dapat digunakan untuk laki-laki yang berusia 9-26 tahun dan vaksinasi pada perempuan dapat dilakukan dengan rentang usia 9-45 atau bahkan 55 tahun.

    Pada anak berusia 9-14 tahun, vaksin ini diberikan sebanyak dua kali dengan jarak 6-15 bulan. Jika diberikan pada usia 15 tahun ke atas, vaksin diberikan sebanyak tiga kali dengan jadwal sebagai berikut:

    • Vaksin HPV bivalent: dosis kedua 1 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.
    • Vaksin HPV quadrivalent: dosis kedua 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.

    Baca Juga: Pria Juga Berisiko Terinfeksi Virus HPV

    Efek Samping Pemberian Vaksin HPV

    Efek samping yang mungkin timbul setelah dilakukan vaksinasi yaitu:

    • Nyeri dan kemerahan di area tempat suntikan
    • Pusing dan nyeri kepala
    • Mual dan muntah.

    Baca Juga: Vaksin Kanker Serviks, Apa dan Bagaimana Aturan Penggunaannya

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L


    Referensi

    1. Perdoski. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    2. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    3. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    4. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    5. CDC. Human Papillomavirus (HPV) Vaccine.
    6. Mayo Clinic. HPV vaccine: Get the facts.
    Read More
  • Dalam upaya menjaga menjaga kesehatan reproduksi wanita, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menetapkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) masuk ke dalam program imunisasi rutin di Indonesia.  Sebelumnya, hanya 11 jenis vaksin yang ditetapkan Kemenkes dalam program imunisasi rutin, namun kini bertambah menjadi 14 jenis vaksin, termasuk di dalamnya vaksin HPV. Tak hanya itu, vaksin kanker serviks […]

    Vaksin HPV: Efektif dan Melindungi Jangka Panjang

    Dalam upaya menjaga menjaga kesehatan reproduksi wanita, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menetapkan vaksin Human Papillomavirus (HPV) masuk ke dalam program imunisasi rutin di Indonesia. 

    Vaksin HPV Efektif dan Melindungi Jangka Panjang

    Vaksin HPV: Efektif dan Melindungi Jangka Panjang

    Sebelumnya, hanya 11 jenis vaksin yang ditetapkan Kemenkes dalam program imunisasi rutin, namun kini bertambah menjadi 14 jenis vaksin, termasuk di dalamnya vaksin HPV. Tak hanya itu, vaksin kanker serviks dalam program imunisasi rutin ini dipastikan akan diberikan secara gratis mulai tahun ini bagi anak berusia 10-11 tahun.

    Virus HPV Menyebabkan Kanker dan Infeksi Menular Seksual

    Vaksin HPV merupakan jenis vaksin yang berfungsi untuk mencegah penyakit akibat human papillomavirus. Virus ini dapat menyebabkan kanker leher rahim, kanker vagina, kanker vulva, kutil kelamin dan anus pada wanita. Sementara pada pria, virus HPV dapat menyebabkan kanker anus, kanker penis, hingga penyakit infeksi menular seksual seperti kutil kelamin. 

    Beberapa jenis HPV juga berkaitan dengan kanker mulut dan tenggorokan. Sehingga, imunisasi HPV ini juga akan melindungi Anda dari kanker mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh virus HPV. 

    Virus HPV umumnya menyerang bagian epitel pada kulit dan membrane mukosa, yang salah satunya berada di area kelamin. Setelah virus tersebut masuk ke dalam tubuh, sel-sel sehat akan rusak dan mulai tumbuh secara abnormal. Kondisi inilah yang akhirnya memicu tumbuhnya kanker. 

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Efektivitas Vaksin HPV

    Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat 2 jenis vaksin HPV di Indonesia yang mampu membantu mencegah kanker serviks, yakni bivalent dan quadrivalent. 

    • Vaksin bivalent mencegah virus HPV tipe 16 dan 18 yang menyebabkan kanker serviks. 
    • Vaksin quadrivalent mencegah virus HPV tipe 6, 11, 16, dan 18 yang menyebabkan kanker serviks dan infeksi menular seksual.

    Dalam penelitian terbaru disebutkan bahwa satu dosis vaksin HPV efektif dalam mencegah kanker serviks. Hal ini terbukti dalam 10 tahun setelah vaksin direkomendasikan di Amerika Serikat, infeksi HPV tipe 6, 11, 16, dan 18 menurun sebesar 86% pada perempuan usia 14-19 tahun dan 71% pada perempuan di usia awal 20-an. 

    Tak hanya itu, penelitian lainnya juga menunjukkan terjadinya penurunan pada jumlah kasus remaja dan dewasa muda perempuan yang terinfeksi penyakit menular seksual dan lesi prakanker. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk mewajibkan pemberian vaksin HPV terutama untuk perempuan. 

    Meski demikian, vaksinasi HPV tidak ditujukan untuk mengobati infeksi atau penyakit HPV yang sudah ada.

    Baca Juga: Mengapa Calon Pengantin Perlu Vaksin HPV? Ini Penjelasannya

    Aturan Penggunaan Vaksin HPV

    Jadwal pemberian vaksin HPV harus berdasarkan kelompok usia. Berikut aturan pemakaian vaksin HPV:

    Usia 9-14 tahun

    Anak-anak pada usia ini memiliki sistem reproduksi yang belum sempurna, yang membuatnya lebih rentan jika terpapar virus HPV. Oleh sebab itu, ini menjadi waktu terbaik untuk mendapatkan vaksin HPV.

    Pada usia 9-14 tahun, vaksin HPV diberikan sebanyak 2 kali. Jarak vaksin HPV dosis pertama ke dosis kedua adalah 6-15 bulan.

    Baca Juga: Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    Usia 15 tahun

    Jika anak sudah menerima vaksin HPV dosis pertama di antara usia 9-14 tahun, maka di usia 15 tahun ini bisa dijadikan penyuntikan vaksin yang kedua kalinya untuk mereka. 

    Dokter akan menanyakan mengenai riwayat vaksin sebelumnya untuk memastikan vaksin diberikan dalam rentang waktu yang sesuai.

    Namun, jika anak baru mendapatkan vaksin HPV pertama kalinya di usia 15 tahun ke atas, maka vaksin perlu diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu dosis kedua sebagai berikut:

    • Vaksin HPV bivalent: dosis kedua 1 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.
    • Vaksin HPV quadrivalent: dosis kedua 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.

    Usia 27-55 tahun 

    Untuk perempuan dalam kelompok usia ini, vaksin HPV tetap dapat diberikan. Namun, untuk lebih baiknya disarankan untuk melakukan pemeriksaan Pap smear terlebih dahulu jika Sahabat Sehat sudah menikah atau sudah pernah melakukan hubungan seksual agar dapat dipastikan tidak tampak lesi prakanker atau kecurigaan kanker serviks. 

    Pada usia ini, dokter akan memberikan vaksin sebanyak 3 kali dengan jarak penyuntikan sama seperti anak usia 15 tahun ke atas (sesuai dengan jenis vaksin HPV bivalent atau quadrivalent). 

    Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Bagi Perempuan untuk Pap Smear?

    Vaksin HPV Melindungi Lebih Lama

    Imunisasi HPV dosis pertama bekerja untuk menciptakan sel memori di tubuh. Saat mendapatkan suntikan kedua, antibodi sudah mengenali virus dan bisa langsung melawannya.

    Penelitian menunjukan bahwa vaksin HPV mampu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap infeksi HPV. Terdapat studi mengenai vaksin HPV bivalen dan kuadrivalen pada mereka yang divaksinasi, yakni tidak ditemukan adanya penurunan antibodi selama 8-10 tahun. 

    Hingga saat ini diketahui bahwa antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi bivalen setidaknya bertahan selama rata-rata 9 tahun. Sementara vaksin HPV quadrivalent bertahan selama setidaknya 10 tahun, dan vaksin HPV 9-valen bertahan selama sekitar 6 tahun. 

    Sahabat Sehat, itulah mengenai seberapa efektifnya vaksin HPV. Manfaat yang didapatkan seseorang yang telah divaksinasi amat besar dan jangka panjang dalam melindunginya terhadap virus HPV.

    Baca Juga: Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Sudahkah Sahabat Sehat divaksinasi HPV? Ayo segera jadwalkan bersama Prosehat dan gunakan layanan vaksin kanker serviks di rumah bagi Anda yang berada di Bekasi dan Jakarta. Layanan vaksinasi adalah salah satu layanan unggulan Prosehat, jadi Anda tidak perlu lagi ragu dengan kualitas produk dan pelayanannya.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1.  Medscape. Human Papillomavirus (HPV): Practice Essentials, Background, Pathophysiology.
    2. Mayo Clinic. HPV vaccine: Get the facts.
    3. CDC. HPV Vaccine.
    4. IDAI. Sekilas Tentang Vaksin HPV.
    5. Harvard Health. By the way, doctor: Should I get the HPV vaccine if I’m already infected?
    Read More
  • Pemeriksaan IVA adalah salah satu pemeriksaan yang berperan penting dalam pendeteksian kanker serviks. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) kanker leher rahim atau yang dikenal juga sebagai kanker serviks merupakan jenis kanker keempat tertinggi di dunia dengan estimasi sebesar 604.000 kasus baru yang ditemukan pada tahun 2020. Dari perkiraan 342.000 kasus kematian akibat kanker serviks […]

    Prosedur Pemeriksaan IVA untuk Mendeteksi Kanker Serviks

    Pemeriksaan IVA adalah salah satu pemeriksaan yang berperan penting dalam pendeteksian kanker serviks. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) kanker leher rahim atau yang dikenal juga sebagai kanker serviks merupakan jenis kanker keempat tertinggi di dunia dengan estimasi sebesar 604.000 kasus baru yang ditemukan pada tahun 2020. Dari perkiraan 342.000 kasus kematian akibat kanker serviks pada tahun 2020, hampir 90% terjadi di negara berkembang.

    Pemeriksaan IVA adalah pemeriksaan yang berperan penting dalam pendeteksian kanker serviks. lantas bagaimana Prosedur Pemeriksaan IVA?

    Prosedur Pemeriksaan IVA untuk Mendeteksi Kanker Serviks

    Di Indonesia sendiri, kanker serviks berada pada urutan kedua kanker terbanyak pada wanita dengan insiden sebesar 23,4 per 100.000 penduduk. Dengan tingginya angka kejadian, penting sekali bagi wanita untuk mengambil langkah pencegahan dan deteksi dini. Lalu, bagaimana prosedur pemeriksaan IVA dilakukan? Tindakan apa yang perlu diambil bila hasilnya ada kelainan? Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

    Penyebab Kanker Serviks

    Hampir seluruh kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan terhadap kanker serviks adalah dengan melakukan vaksinasi HPV dan deteksi dini. 

    Perubahan pra kanker pada leher rahim jarang menimbulkan gejala, hal ini menyebabkan sering terjadi keterlambatan diagnosis pada pasien. Kabar baiknya, kanker serviks merupakan jenis kanker yang dapat disembuhkan bila cepat terdeteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat. Pemeriksaan ini juga sangat dianjurkan bagi wanita yang memiliki risiko kanker serviks, seperti riwayat kanker serviks pada keluarga, memiliki lebih dari satu pasangan seksual, atau sering mengalami infeksi menular seksual.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Prosedur Pemeriksaan IVA

    Pemeriksaan standar baku yang dilakukan untuk kanker serviks adalah pap smear. Selain itu, ada juga pemeriksaan lain yang lebih sederhana dan terjangkau, yaitu dengan Inspeksi Visual Asam asetat (IVA). Pemeriksaan ini bisa dilakukan oleh dokter maupun bidan yang terlatih.

    Prosedur melakukan IVA adalah sebagai berikut:

    1. Orang yang akan diperiksa dibaringkan dengan posisi seperti saat akan melahirkan.
    2. Tenaga kesehatan akan membuka liang vagina menggunakan alat agar leher rahim dapat terlihat jelas.
    3. Tenaga kesehatan akan menyeka asam asetat (asam cuka 3-5%) menggunakan kapas yang disambungkan dengan tangkai ke sekitar leher rahim.
    4. Setelah didiamkan sekitar 1 menit, tenaga kesehatan akan mencari area yang berubah warna dengan mata telanjang dan penerangan yang cukup.
    5. Setelah tindakan selesai dan diketahui hasilnya, Anda boleh kembali menggunakan pakaian.

    Jaringan serviks normal tidak terpengaruh oleh olesan asam asetat. Sebaliknya, jaringan yang rusak seperti yang ditemukan pada lesi pra kanker atau kanker akan berubah warna menjadi putih.

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Pemeriksaan Lanjutan Bila Ada Kelainan

    Jika hasilnya sudah diketahui, bisa ditentukan langkah selanjutnya. Bila hasil normal, Sahabat Sehat dianjurkan mengulang pemeriksaan setidaknya tiga tahun sekali. Bila meragukan atau tidak normal, Anda akan disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan yang dilakukan oleh dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi.

    Pemeriksaan yang mungkin dilakukan adalah biopsi. Tindakan ini menggunakan alat pembeku krioterapi atau teknik lainnya untuk mengambil sampel jaringan. Tes tambahan yang mungkin direkomendasikan dokter adalah tes HPV yaitu tes untuk mendeteksi ada atau tidaknya DNA HPV pada leher rahim atau pemeriksaan pap smear.

    Baca Juga: 10 Makanan Si Pencegah Kanker Serviks

    Kapan Pemeriksaan IVA Baiknya Dilakukan?

    Pada dasarnya, pemeriksaan IVA dapat dilakukan kapan saja selama siklus menstruasi, termasuk saat menstruasi, saat hamil, saat pemeriksaan nifas, atau saat pemeriksaan pasca aborsi. Namun, tetap dianjurkan bila pemeriksaan dilakukan setelah selesai hari menstruasi, tidak dalam keadaan hamil, dan tidak melakukan hubungan seksual 24 jam sebelum pemeriksaan agar mendapatkan hasil pemeriksaan yang maksimal.

    Skrining IVA direkomendasikan untuk wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual atau berusia 30-50 tahun dan dapat dilakukan secara berkala setidaknya setiap 3-5 tahun sekali. Pemeriksaan ini kurang efektif bila dilakukan pada wanita diatas 50 karena sudah ada perubahan pada zona transformasi leher rahim.

    Baca Juga: Mengenal Pemeriksaan IVA Untuk Deteksi Kanker Serviks

    Sahabat Sehat, pemeriksaan IVA dapat membantu untuk deteksi dini kanker serviks dan memiliki tingkat akurasi mencapai 61%. Selain mudah dan cepat untuk dikerjakan, pemeriksaan ini juga terjangkau sehingga dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan primer asalkan dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih. Meski demikian perlu diingat pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining saja, sehingga masih diperlukan pemeriksaan tambahan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis kanker serviks. Untuk mendapat anjuran pemeriksaan yang tepat, Sahabat Sehat dapat berkonsultasi lebih lanjut ke dokter ya.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Erika Gracia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. WHO. Cervical cancer.
    2. Sehat Negeriku Kementrian Kesehatan. CERDIK Tanggulangi Kanker.
    3. Mayo Clinic. Cervical cancer – Symptoms and causes.
    4. Verywell Health. Visual Inspection With Acetic Acid (VIA) as a Low Cost Cervical Screen.
    5. Medscape. Cervical Cancer Screening in Low Resource Settings.
    6. Poli UR, Bidinger PD, Gowrishankar S. Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) Screening Program: 7 Years Experience in Early Detection of Cervical Cancer and Pre-Cancers in Rural South India.
    7. Direktorat P2PTM. Penapisan Kanker Leher Rahim lewat Kunjungan Tunggal (TES IVA).
    Read More
  • Pap smear merupakan pemeriksaan yang umum dilakukan wanita, terutama yang sudah menikah. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemeriksaan Pap smear dan bagaimana cara memahami makna dari hasilnya? Mari kita bahas satu per satu. Apa itu Pap Smear? Pap smear atau disebut juga dengan Pap test adalah prosedur skrining terhadap potensi kanker serviks (leher rahim). […]

    Tahapan dan Cara Membaca Hasil Tes Pemeriksaan Pap Smear

    Pap smear merupakan pemeriksaan yang umum dilakukan wanita, terutama yang sudah menikah. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemeriksaan Pap smear dan bagaimana cara memahami makna dari hasilnya? Mari kita bahas satu per satu.

    Tahapan dan Cara Membaca Hasil Tes Pemeriksaan Pap Smear

    Tahapan dan Cara Membaca Hasil Tes Pemeriksaan Pap Smear

    Apa itu Pap Smear?

    Pap smear atau disebut juga dengan Pap test adalah prosedur skrining terhadap potensi kanker serviks (leher rahim). Tujuannya yaitu untuk mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya keganasan atau kanker leher rahim yang disebabkan oleh Human papillomavirus (HPV).

    Pemeriksaan Pap smear ditujukan terutama bagi wanita dengan rentang usia 21-65 tahun yang telah aktif secara seksual. Wanita yang berusia lebih dari 21 tahun disarankan untuk melakukan pap smear setiap 1-3 tahun sekali.

    Indikasi Pemeriksaan Pap Smear

    Menurut Yayasan Kanker Indonesia, wanita yang telah aktif secara seksual wajib melakukan pemeriksaan Pap smear secara berkala. Tanda seorang wanita memerlukan pemeriksaan Pap smear antara lain:

    • Mengalami keputihan yang berwarna kekuningan dan kehijauan yang terasa gatal
    • Terjadi pendarahan seusai berhubungan seksual
    • Terjadi perdarahan diluar jadwal menstruasi
    • Terlambat menstruasi namun tidak ada tanda-tanda kehamilan
    • Nyeri ketika berhubungan seksual.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Membaca hasil Pap Smear

    Hasil Pap smear biasanya diterima dalam 1-3 minggu setelah pemeriksaan dan dibacakan oleh dokter saat pasien melakukan konsultasi.

    Ada tiga kategori hasil Pap smear, yaitu normal, abnormal, dan perlu dievaluasi ulang. Hasil Pap smear normal menunjukkan bahwa tidak ada bukti perubahan sel atau sel-sel abnormal di dalam sampel yang diambil. Sedangkan, Pap smear dengan hasil abnormal menandakan bahwa sel-sel abnormal terdeteksi dalam sampel yang diambil sehingga membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan.

    Apabila pada hasil disimpulkan perlu dievaluasi ulang, maka kemungkinan terdapat perubahan sel serviks namun belum dapat dipastikan apakah mengarah ke kanker serviks atau karena pengaruh perubahan dalam tubuh seperti kehamilan, infeksi, atau menopause.

    Baca Juga: Fakta tentang Pap Smear yang Perlu Diketahui

    Penjelasan Hasil Pap Smear

    Selain kesimpulan normal, abnormal, dan perlu dievaluasi ulang, hasil Pap smear juga menjelaskan jenis sel abnormal yang ditemukan. Ada dua jenis sel serviks yang dapat menjadi abnormal, yaitu sel skuamosa dan sel kelenjar.

    Sel Skuamosa

    Sel skuamosa merupakan jenis sel yang melapisi bagian luar serviks. Perubahan sel skuamosa ditemukan dibagi menjadi lima kategori: 

    1. Atypical Squamous Cells (ASC)

    Merupakan temuan sel skuamosa yang paling umum ditemukan pada pemeriksaan Pap smear. Sel skuamosa dibagi menjadi ASC-US dan ASC-H. Kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa sel-sel serviks tampak abnormal, tetapi arti dari perubahan sel tersebut tidak jelas.

    Hasil ASC-H menunjukkan bahwa sel berisiko lebih tinggi menjadi sel kanker dari pada hasil ASC-US.

    2. Low Grade Squamous Intraepithelial Lesions (LSIL)

    Hasil ini kadang menunjukkan displasia (perkembangan sel yang tidak normal) derajat ringan. Hasil LSIL mungkin tidak memerlukan pengobatan karena biasanya perubahan ini dapat diatasi oleh sistem imun tubuh, terutama pada usia muda.

    3. High Grade Squamous Intraepithelial Lesions (HSIL)

    Temuan HSIL ini termasuk displasia derajat sedang atau berat. HSIL biasanya lebih sering menjadi lesi kanker jika tidak diobati dengan segera.

    4. Carcinoma In Situ (CIS)

    Hasil CIS menunjukkan perubahan sel yang lebih parah ditemukan dari pemeriksaan Pap smear. Perubahan ini tampak mirip dengan kanker serviks, tetapi belum menyebar keluar permukaan serviks. CIS kemungkinan akan berkembang menjadi kanker jika tidak diobati.

    5. Squamous Cell Carcinoma

    Baca Juga: Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Karsinoma sel skuamosa adalah jenis kanker serviks. Adanya sel ini pada pemeriksaan Pap smear menandakan bahwa pasien menderita kanker serviks.

    Sel Kelenjar

    Sel kelenjar ditemukan pada jaringan yang melapisi bagian dalam serviks. Perubahan abnormalnya dibagi menjadi tiga macam:

    1. Atypical Glandular Cells (AGC)

    Hasil AGC menunjukkan bahwa tampak sel kelenjar yang abnormal pada pemeriksaan namun arti dari perubahan ini tidak jelas.

    2. Endocervical Adenocarcinoma in situ (AIS)

    Hasil Pap smear AIS menunjukkan bahwa perubahan sel yang lebih parah ditemukan tetapi belum menyebar ke luar jaringan kelenjar serviks.

    3. Adenokarsinoma

    Adenokarsinoma merupakan jenis kanker serviks yang dimulai dengan perubahan sel kelenjar. Hasil adenokarsinoma menunjukkan bahwa sel kelenjar abnormal telah menyebar ke dalam serviks atau ke organ tubuh lainnya.

    Baca Juga: Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh?

    Kelainan lainnya

    Dalam pemeriksaan Pap smear, ada beberapa sel lain yang perubahannya ikut terdeteksi seperti:

    1. Sel-sel endometrium

    Pap smear juga dapat mendeteksi sel-sel endometrium yang berasal dari lapisan rahim. Sel-sel ini normal ditemukan pada individu sehat saat menstruasi, namun seharusnya tidak muncul pada wanita yang sudah menopause. Maka, hasil terkait abnormalitas sel endometrium hanya dilaporkan bagi wanita berusia diatas 45 tahun.

    2. Jenis kanker lainnya

    Meski bukan merupakan tujuan utama pemeriksaan Pap smear, tes ini juga dapat mendeteksi sel kanker yang terkait dengan kanker serviks, seperti sel kanker tuba fallopi, ovarium, endometrium, peritoneum, vulva atau vagina.

    3. Infeksi atau peradangan

    Tes Pap smear dapat mendeteksi bukti infeksi dan peradangan pada serviks.

    Sahabat Sehat, pemeriksaan Pap smear sangat penting untuk dilakukan sebagai usaha pendeteksian dini kanker serviks. Semakin awal diketahui dan diobati, semakin besar kesembuhannya. Bila Sahabat Sehat termasuk dari kelompok yang berisiko, segera lakukan pemeriksaan sesuai saran dokter. Pembacaan hasil Pap smear juga harus dibaca oleh dokter agar Anda mendapatkan rekomendasi yang tepat terkait langkah selanjutnya.

    Baca Juga: Mengapa Perlu Melakukan Pemeriksaan Pap Smear?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat.  

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. Budiman Syahputra. Manfaat dan Cara Kerja Pemeriksaan Pap Smear.
    2. Cancer Council. Understanding your Pap smear or cervical screening test results.
    3. Testing.com. Pap Smear (Pap Test).
    4. WebMD. What If My Pap Test Results Are Abnormal?
    5. CDC. What Do My Cervical Cancer Screening Test Results Mean?
    Read More
  • Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan salah satu infeksi virus yang banyak menyerang janin. Virus ini dapat ditemukan di darah, urin, semen, cairan serviks, air liur, dan air susu ibu (ASI). Infeksi CMV bersifat endemis dan tidak bergantung pada musim tertentu. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi CMV sebesar 50% sehingga wanita hamil dengan usia produktif memiliki […]

    Gejala Penyakit Cytomegalovirus (CMV) dan Pencegahannya

    Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan salah satu infeksi virus yang banyak menyerang janin. Virus ini dapat ditemukan di darah, urin, semen, cairan serviks, air liur, dan air susu ibu (ASI). Infeksi CMV bersifat endemis dan tidak bergantung pada musim tertentu. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi CMV sebesar 50% sehingga wanita hamil dengan usia produktif memiliki resiko terjadinya infeksi primer CMV.

    Gejala Penyakit Cytomegalovirus (CMV) dan Pencegahannya

    Gejala Penyakit Cytomegalovirus (CMV) dan Pencegahannya

    Cytomegalovirus menyebabkan infeksi pada janin dengan angka insidensi mencapai 2% dari semua bayi lahir hidup atau sebanyak 7 per 1000 kelahiran hidup. Sebanyak 12,7% bayi yang terinfeksi memperlihatkan gejala saat lahir dan sebanyak 13,5% bayi tidak memperlihatkan gejala saat lahir namun gejala berkembang di kemudian hari, termasuk gangguan pendengaran sensorineural saat usia anak-anak.

    Virus ini menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya orang dengan diabetes melitus dan HIV. Penularan CMV dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, termasuk saat hubungan seksual, transplantasi organ atau donor darah. Virus CMV ini ternyata juga dapat menular dari ibu ke janin saat di dalam kandungan, persalinan dan menyusui.

    Gejala Infeksi Cytomegalovirus

    Infeksi CMV kongenital dapat muncul tanpa gejala (asimptomatik) atau dengan gejala (simptomatik). Satu dari setiap 200 kelahiran bayi berpotensi mengalami infeksi CMV, dan dari 5 bayi yang terinfeksi CMV mengalami gangguan jangka panjang. Berikut ini gejala CMV kongenital pada bayi baru lahir:

    • Rash atau ruam kemerahan
    • Jaundice atau kulit kekuningan di bagian badan dan mata
    • Mikrosefali (kepala kecil)
    • Berat badan lahir rendah
    • Hepatosplenomegali (pembesaran organ hati dan limpa)
    • Kejang
    • Retinitis (gangguan pada retina mata)
    • Kelenjar getah bening membengkak.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Sebagian bayi yang lahir dengan gejala CMV kongenital kemungkinan besar akan memiliki gejala jangka panjang, seperti:

    • Gangguan pendengaran 
    • Perkembangan motorik terhambat sehingga menyebabkan gangguan koordinasi tubuh
    • Gangguan penglihatan
    • Mikrosefali
    • Kejang
    • Gangguan perkembangan intelektual
    • Pneumonia berat seperti sesak napas, batuk dan nyeri dada
    • Gangguan pencernaan yang ditandai dengan kesulitan menelan, nyeri perut dan diare berdarah.

    Baca Juga: Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Diagnosis CMV Kongenital

    Infeksi CMV kongenital dapat didiagnosis dengan menguji air liur bayi baru lahir, urin atau darah. Specimen ini harus dikumpulkan untuk pengujian dalam dua hingga tiga minggu setelah bayi baru lahir untuk memastikan apakah ada infeksi virus CMV.

    Namun, pada ibu hamil yang diduga terkena infeksi CMV, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berupa:

    • USG kehamilan untuk mendeteksi dini adanya kelainan pada janin
    • Amniosentesis (pemeriksaan air ketuban) untuk mendeteksi adanya keberadaan virus CMV jika memang ditemukan kelainan pada janin.

    Baca Juga: Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya? Ini Penjelasannya

    Pengobatan CMV

    Untuk bayi dengan tanda-tanda infeksi CMV kongenital saat lahir, obat antivirus, terutama valgansiklovir dapat meningkatkan pendengaran dan perkembangan si kecil. Namun, valgansiklovir memiliki efek samping yang serius dan perlu dikonsultasikan lebih dahulu dengan dokter yang menangani. Pengobatan yang cepat dan tepat akan meminimalisir komplikasi akibat infeksi virus CMV.

    Baca Juga: Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Pencegahan infeksi CMV

    Upaya pencegahan infeksi CMV sangat penting dilakukan, terutama bagi ibu hamil, orang dengan daya tahan tubuh rendah, dan orang dengan penyakit kronis. Berikut adalah cara mengurangi risiko terinfeksi CMV, antara lain:

    1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, terutama sebelum dan sesudah kontak dengan anak-anak dan cairan tubuh orang lain.
    2. Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang lain, seperti mencium bibir dan berbagi makanan dari tempat makan yang sama.
    3. Hindari penggunaan alat pribadi secara bersamaan seperti alat makan, dan sikat gigi.
    4. Lakukan pemeriksaan TORCH saat merencanakan kehamilan.
    5. Hindari melakukan hubungan seksual berisiko dengan berganti-ganti pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom dengan orang yang riwayat kehidupan seksualnya tidak diketahui.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Rampengan, N. DIAGNOSIS INFEKSI SITOMEGALOVIRUS PADA BAYI DAN ANAK.
    2. CDC. About Cytomegalovirus and Congenital CMV Infection.
    3. FKUI. Teliti Dampak Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Akibat Infeksi CMV kongenital serta Faktor Risiko yang Memengaruhi.
    4. CDC. Babies Born with Congenital Cytomegalovirus (CMV).
    5. CDC. CMV Fact Sheet for Pregnant Women and Parents.
    Read More
  • Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu? Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya […]

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu?

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya ini serasi dengan perkembangan dunia digital yang memfasilitasi banyak hal. Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini setiap harinya?

    Ya, itulah hustle culture. Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture adalah standar di masyarakat yang menganggap bahwa Anda hanya bisa mencapai sebuah kesuksesan apabila benar-benar mendedikasikanqc  hidup untuk pekerjaan. Selain itu, mereka bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan diatas segala-galanya.

    Tren baru di Indonesia

    Budaya ini sedang menjadi tren di Indonesia bahkan di masyarakat dunia. Budaya ini dikenalkan pertama kali oleh beberapa tokoh besar seperti Jeff Bezos, Elon Musk dan Jack Ma yang melakukan normalisasi bekerja melebihi batas waktu normal untuk mencapai kesuksesan. Bahkan, di Tiongkok sendiri budaya ini dikenal dengan budaya 966 atau bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam dalam 6 hari.

    Banyak anak muda yang menjadikan berbagai buku, tokoh terkenal di platform media sosial, dan juga tokoh-tokoh wirausahawan atau entrepreneur sebagai inspirasi dalam mengejar kesuksesan mereka sendiri. Sebagai anak muda yang ambisius bekerja menuju tujuan mereka, tidak mengherankan melihat banyak sekali pekerja menjadi korban dari hustle culture ini. Waktu istirahat, kehidupan pribadi, dan kesehatan fisik dan mental adalah hal-hal yang pada akhirnya luput dari perhatian.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Mengapa Hustle Culture tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental?

    Hustle culture tidak baik untuk kesehatan fisik dan juga mental. Pasalnya, orang yang terjebak dalam hustle culture menganggap jalan menuju kesuksesan dan kesejahteraan hanya dengan bekerja, sehingga bekerja melebihi batas jam kerja dan lembur dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar.

    Menurut penelitian yang dilakukan tahun 2018 di Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok, pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu memiliki berbagai risiko kesehatan fisik dan psikologis. Beberapa risiko kesehatan fisik antara lain:

    • Penyakit jantung dan pembuluh darah, misalnya penyakit jantung koroner
    • Penyakit serebrovaskular
    • Peningkatan tekanan darah dan detak jantung
    • Resistensi insulin, gangguan irama jantung (aritmia), hiperkoagulasi dan iskemia.

    Baca Juga: Tips Atasi Kelelahan akibat Overworking

    Sedangkan, bahaya psikologis dari hustle culture membuat pekerja menjadi lebih rentan mengalami burnout, depresi, gangguan kecemasan berlebih, dan muncul perasaan ingin bunuh diri. Burnout sering ditemukan dalam hustle culture. Burn out adalah kondisi dimana seseorang merasa lelah berkepanjangan karena stres kerja yang berat hingga kehilangan motivasi. Berikut ini beberapa gejala burnout:

    • Menunda atau menghindari pekerjaan sama sekali
    • Membuat lebih banyak kesalahan saat melakukan tugas
    • Kehilangan minat pada bagian pekerjaan yang sebelumnya sangat diminati
    • Merasa lebih cemas dan depresi
    • Merasa kurang bisa mendengarkan atau peduli pada orang lain
    • Makan berlebihan, mengonsumsi obat-obatan dan alkohol
    • Melampiaskan frustasi pada orang lain (misalnya, mudah tersinggung, mengacuhkan dan marah)
    • Sulit berkonsentrasi dan menjadi tidak terarah dalam bekerja.

    Baca Juga: Waspadai! 4 Gangguan Kesehatan Saat WFH dan Tips Pencegahannya

    Apa yang bisa dilakukan untuk memutuskan hustle culture?

    Work-life balance

    Kehidupan pribadi dan pekerjaan penting untuk diseimbangkan. Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara, antara lain:

    • Membuat jadwal kegiatan
    • Mengomunikasikan perasaan dan kondisi
    • Mengurangi pikiran negatif terkait pekerjaan
    • Melakukan kegiatan relaksasi agar mengurangi stres, seperti yoga dan meditasi
    • Melakukan liburan selama beberapa hari untuk mengurangi stres kerja
    • Melakukan olahraga secara rutin
    • Cukup waktu tidur dan istirahat.

    Hard work tidak sama dengan sukses

    Kerja keras tidak dapat menjadi indikator satu-satunya kesuksesan seseorang. Ada banyak faktor lain yang turut berkontribusi. Bekerja keras dan melakukan semua hal secara terburu-buru demi mencapai kesuksesan tidak akan membawa seseorang sampai kepada kesuksesan.

    Jangan membandingkan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain di media sosial

    Salah satu latar belakang terciptanya hustle culture adalah media sosial. Semua orang berlomba-lomba ingin terlihat sukses, mapan, dan kaya dalam tampilannya di media sosial. Sebagian juga memamerkan dengan bangga kondisi bekerja di tengah malam dan terus bekerja di akhir pekan.

    Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain dan membuat ekspektasi yang berlebihan hanya karena orang lain melakukan hal tersebut. Ingat, setiap orang mempunyai kecepatannya masing-masing dan jangan takut terlihat lambat dalam mencapai posisi yang diharapkan.

    Mengenal batasan diri

    Anda harus berani untuk bilang tidak pada pekerjaan. Sama halnya dalam mengenali kapan badan Anda harus beristirahat dan kapan sudah siap untuk diajak kembali bekerja.

    Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

    Sahabat Sehat, sebesar apapun dorongan dan semangat diri dalam meraih impian, tubuh mempunyai hak untuk diperhatikan kesehatannya. Tidak sekadar kesehatan fisik, namun juga secara psikologis dan sosial. Maka dari itu, memaksakan diri diluar kapasitas tubuh Anda bukanlah hal yang patut dilakukan. Mari hargai dan sayangi diri sendiri.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Costa, C. Stop Idolizing Hustle Culture And Do This Instead.
    2. Rachmahyanti, S. Marak di Kalangan Milenial, Yuk Kenali Ciri-Ciri Hustle Culture.
    3. medcom.id. Bahaya Hustle Culture pada Pekerja di Indonesia.
    4. Arfa, A., 2021. The Truth About the Hustle Culture.
    5. CNN Indonesia. Mengenal ‘Hustle Culture’, Gila Kerja yang Berujung Burnout.
    6. Jackson, A. How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It.
    7. Headversity. The Toxicity of Hustle Culture: The Grind Must Stop.
    Read More
  • Kesehatan ibu hamil merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik sebagai upaya pencegahan penyakit, terutama selama mengandung. Dengan kondisi kesehatan yang prima, anak yang dikandung juga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu penyakit yang dapat menginfeksi ibu hamil adalah tetanus, namun dapat dicegah melalui vaksinasi tetanus. Mengapa vaksin tetanus penting bagi ibu hamil? […]

    Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Kesehatan ibu hamil merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik sebagai upaya pencegahan penyakit, terutama selama mengandung.

    Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus

    Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Dengan kondisi kesehatan yang prima, anak yang dikandung juga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu penyakit yang dapat menginfeksi ibu hamil adalah tetanus, namun dapat dicegah melalui vaksinasi tetanus. Mengapa vaksin tetanus penting bagi ibu hamil? Apa dampak penyakit tetanus terhadap ibu hamil dan anak yang dikandung?

    Mengenal Infeksi Tetanus

    Tetanus merupakan sebuah infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Clostridium tetani. Saat bakteri tetanus menginfeksi tubuh, bakteri tersebut akan mengeluarkan toksin atau racun yang menyebabkan otot berkontraksi secara berlebihan dan menyebabkan rasa nyeri.

    Semua usia dapat menderita infeksi tetanus, namun ibu hamil dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami infeksi berat bila belum divaksinasi. Tetanus yang terjadi saat hamil atau dalam waktu 6 minggu sebelum melahirkan dinamakan tetanus maternal. Sedangkan, bila terjadi dalam 28 hari pertama pasca melahirkan disebut tetanus neonatorum.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Infeksi tetanus dapat terjadi apabila bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka. Bakteri tetanus secara umum dapat ditemukan pada kotoran hewan, tanah, dan alat-alat tindakan yang tidak steril. Setelah terinfeksi tetanus, tanda dan gejala dapat timbul dalam rentang waktu 3-21 hari. Tanda dan gejala yang dapat terjadi dari infeksi tetanus adalah:

    • Kram pada rahang atau mulut menjadi tidak bisa dibuka
    • Otot kaku pada punggung, perut, atau tangan dan kaki
    • Nyeri pada saat otot kaku
    • Sulit menelan
    • Kejang
    • Nyeri kepala
    • Demam dan berkeringat
    • Perubahan pada tekanan darah atau denyut jantung yang cepat

    Infeksi tetanus sangat berbahaya bagi ibu hamil dan anak yang sedang dikandung. Terdapat data dari sebuah penelitian di Asia dan Afrika bahwa ibu hamil yang mengalami infeksi tetanus memiliki angka kematian yang tinggi. Infeksi tetanus dapat menyebabkan gangguan pernapasan, kejang, tensi dan denyut jantung yang berubah secara drastis sehingga mengancam nyawa ibu dan anak tersebut. Apabila tidak ditangani dengan segera dan tepat, maka tetanus dapat menyebabkan kematian.

    Baca Juga: 11 Jenis Vaksinasi Wajib Bagi Ibu Hamil yang Harus Diketahui

    Cara Mencegah Infeksi Tetanus

    Terdapat beberapa cara untuk mencegah infeksi tetanus. Mencuci tangan dan menjaga kebersihan merupakan dasar penting pencegahan penyakit, namun dalam hal infeksi tetanus, vaksinasi juga tidak kalah penting dan perlu diberikan karena sudah terbukti menurunkan angka infeksi. Vaksin tetanus bertujuan bukan hanya untuk mencegah ibu hamil terinfeksi tetanus, namun juga untuk melindungi bayinya.

    Vaksin tetanus aman untuk diberikan kepada ibu hamil. Apabila belum pernah atau lupa riwayat pemberian vaksin tetanus sebelumnya, maka anjurannya adalah mendapatkan tiga dosis vaksin tetanus. Dosis vaksin tersebut diberikan dengan jarak 0, 1, dan 6 bulan. Bila sudah pernah mendapatkan vaksin tetanus sebelumnya, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk mendapatkan booster saja. Pada saat ini di Indonesia terdapat vaksin tetanus dalam rupa Tetanus Toxoid (TT) atau Tdap (Tetanus, Difteri, Pertussis).

    Setelah melakukan vaksinasi, ibu hamil bisa mengalami efek samping. Beberapa efek samping yang dapat timbul adalah nyeri atau kemerahan pada daerah penyuntikan vaksin, demam, dan sakit kepala. Efek samping tersebut umumnya ringan dan dapat dapat membaik sendiri dalam jangka waktu yang pendek. Vaksinasi tetanus memiliki keuntungan yang jauh lebih banyak dibanding efek sampingnya. Apabila Anda ingin mendapatkan vaksin tetanus atau ingin bertanya seputar vaksin tetanus, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Vaksinasi Tetanus Untuk Anak?

    Sahabat Sehat, itulah penjelasan pentingnya vaksin tetanus bagi ibu hamil. Dengan mendapatkan vaksinasi tetanus sesuai rekomendasi, ibu dan janin akan terlindungi. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. CDC. Tetanus Disease (Lockjaw).
    2. WHO. Tetanus.
    3. Thwaites C, Beeching N, Newton C. Maternal and neonatal tetanus.
    4. WHO. Maternal immunization against tetanus.
    5. ACOG. Update on Immunization and Pregnancy: Tetanus, Diphtheria, and Pertussis Vaccination.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com