Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Mental

Showing 1–10 of 30 results

  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Cara mengatasi anak yang rewel dengan langsung memenuhi permintaannya hanya membuat dia jadi semakin manja. Juga semakin mudah tantrum. Oleh sebab itu, sebagai orang tua bukan hanya mendiamkan si kecil yang rewel, namun juga membuat si kecil menjadi pribadi yang tidak […]

    7 Cara Ampuh Mengatasi Anak yang Rewel dan Mudah Tantrum

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Cara Mengatasi Anak yang Rewel dengan Pendekatan Persuasif

    Cara mengatasi anak yang rewel dengan langsung memenuhi permintaannya hanya membuat dia jadi semakin manja. Juga semakin mudah tantrum. Oleh sebab itu, sebagai orang tua bukan hanya mendiamkan si kecil yang rewel, namun juga membuat si kecil menjadi pribadi yang tidak lagi rewel, lebih bertanggung jawab, dan jauh lebih mandiri.

    Bagaimana langkah yang benar dalam mengatasi perilaku si kecil yang mudah rewel? Apa yang harus dilakukan jika si kecil terus merengek, rewel, dan tantrum?

    Cara Mengatasi Anak yang Rewel

    Saat Si Kecil masih bayi, orang tua akan menganggap bila bayi rewel dan sering menangis merupakan hal yang sangat wajar karena bayi masih belum dapat mengekspresikan perasaan mereka selain dengan cara menangis.

    Namun Sahabat Sehat perlu mengetahui bahwa ternyata pola asuh yang kurang tepat turut menjadi penyebab Si Kecil menjadi mudah rewel atau cengeng. Anak yang terlalu dilindungi dan tidak diberikan kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri akan tumbuh menjadi pribadi yang cengeng. Selain itu, anak yang kurang bersosialisasi dengan anak-anak seusianya dapat mengakibatkan kurang percaya diri dan mudah cengeng. Perasaan dan emosi Si Kecil kadang kala sulit ditebak.

    Penting sekali bagi Sahabat Sehat untuk  mengambil langkah yang tepat agar si kecil tidak lagi mudah rewel. Berikut ini beberapa tips yang dapat Sahabat Sehat lakukan di rumah untuk mengatasi Si Kecil yang rewel:

    Buat Si Kecil Nyaman

    Pada usia anak 2-4 tahun, Si Kecil masih dalam tahap mengenal dan mempelajari emosi yang ada didalam dirinya. Terkadang Si Kecil tidak mengerti cara untuk mengungkapkan perasaannya sehingga mereka akan menangis atau rewel secara tiba-tiba. Berikan rasa hangat dan peluk Si Kecil agar merasa nyaman.

    Jangan Berteriak atau Membentak Si Kecil 

    Jika Si Kecil rewel, sebaiknya diam dan bersabar. Jangan membentak Si Kecil yang sedang marah atau menangis karena akan memperparah keadaan.4 Jika Sahabat Sehat berhasil mengendalikan emosi, nantinya Si Kecil akan meniru cara orang tua mengatasi emosi.

    Minta Si Kecil Menjelaskan Perasaannya

    Setelah Si Kecil tenang, secara perlahan mintalah Si Kecil menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Berikan pengertian bahwa saat meminta sesuatu atau merasakan sesuatu tidak perlu diucapkan dengan emosi atau menangis. Ajarkan Si Kecil untuk mengungkapkan emosinya secara perlahan.

    Mengalihkan Emosi

    Agar Si Kecil tidak merengek terus menerus, alihkan energinya dengan melakukan aktivitas lain misalnya berolahraga, menggambar, atau bernyanyi. Jika memungkinkan, gendong si kecil, dan goda dia dengan mengayun-ayunkan si kecil.

    Berikan Pujian Saat Si Kecil Tidak Menangis

    Setelah Si Kecil berhasil mengendalikan emosinya, berikan pujian atau ucapan terima kasih karena Si Kecil tidak rewel. Dengan adanya pujian ini, si kecil akan terbiasa untuk lebih mandiri karena dia merasa perilaku mandirinya akan lebih dihargai oleh orang tuanya.

    Ajak Si Kecil untuk Lebih Disiplin

    Biasanya malas menjadi kepribadian anak yang mudah rewel dan menangis. Hasilnya, dia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak disiplin. Oleh sebab itu, si kecil perlu diajarkan untuk hidup lebih disiplin. Misalnya sehabis bangun harus merapikan tempat tidurnya sendiri. Sebelum tidur harus menggosok gigi, dan harus berdoa sebelum serta setelah makan. Latihan-latihan kedisiplinan ringan ini akan membantu si kecil tidak lagi mudah rewel dan tantrum.

    Hindari Terlalu Memanjakan Si Kecil

    Sahabat Sehat tentu ingin agar si kecil menghentikan tangis ataupun tantrum yang sedang dia lakukan. Namun tentunya bukan dengan langsung mengalah dan memberikan apa mau si kecil. Ajarkan pada si kecil mengapa permintaannya tidak bisa dipenuhi saat ini, dan berikan syarat agar permintaannya bisa dipenuhi. Misal dia ingin memiliki sebuah boneka berukuran besar, Sahabat Sehat bisa menjanjikan memberi boneka tersebut dengan syarat si kecil rajin menggosok gigi sebelum tidur selama sebulan penuh.

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai tips dan cara mengatasi anak yang rewel dan mudah tantrum. Pastikan agar si kecil tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan semakin mandiri. Dengan demikian, akan menjadi bekalnya di masa dewasa nanti.

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. theAsianparent. Tips Mengatasi Anak Cengeng [Internet]. Indonesia : theAsianparent; [cited 23 August 2021].
    2. Harvard Health. Irritable Child [Internet]. USA : Harvard Health; [cited 23 August 2021].
    3. Herliafifah R. 7 Tips Jitu Mengatasi Anak Cengeng Tanpa Drama [Internet]. Indonesia : Hello Sehat; [cited 23 August 2021].
    4. The Times of India. How to deal with a cranky toddler [Internet]. India : The Times of India. 2019 [updated 2019 Dec 06; cited 23 August 2021].
    5. Trillium School. 8 Ways to Calm Down a Cranky Kid [Internet]. USA : Trillium School; [cited 23 August 2021].
    6. Banks C. Angry Child Outbursts: 10 Essential Rules for Dealing with an Angry Child [Internet]. USA : Empowering Parents; [cited 23 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Serangan panik dapat dialami oleh siapa saja. Muncul mendadak, tanpa sebab dan peringatan. Meskipun demikian, masalah ini bisa diatasi. Walaupun pada beberapa orang sulit untuk disembuhkan, namun dengan metode yang tepat, frequensi munculnya gejala yang kerap disebut panic attack ini bisa dikurangi. Setidaknya […]

    Memahami Penyebab Serangan Panik serta Cara Mengatasinya

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Munculnya Serangan Panik dapat Mengganggu Aktivitas

    Serangan panik dapat dialami oleh siapa saja. Muncul mendadak, tanpa sebab dan peringatan. Meskipun demikian, masalah ini bisa diatasi. Walaupun pada beberapa orang sulit untuk disembuhkan, namun dengan metode yang tepat, frequensi munculnya gejala yang kerap disebut panic attack ini bisa dikurangi.

    Setidaknya sekitar 13% orang akan mengalami serangan panik dalam satu episode kehidupan mereka. Sahabat Sehat, bagaimana cara mengatasi masalah ini? Mari simak penjelasan berikut.

    Gejala yang Muncul saat Terjadi Serangan Panik

    Serangan panik lebih sering muncul pada remaja hingga dewasa muda dibawah usia 25 tahun. Jika Sahabat Sehat pernah mengalaminya sebanyak empat kali atau lebih, kemungkinan akan terus mengalaminya lagi di kemudian hari. Biasanya masalah ini akan berlangsung selama 10 hingga 20 menit, maupun hingga lebih dari satu jam pada kondisi berat.

    Berikut adalah beberapa gejala yang menjadi tanda kemungkinan besar seseorang mengalami serangan panik :

    • Denyut jantung tidak teratur
    • Sesak nafas
    • Pusing dan sakit kepala
    • Mual dan sensasi tersedak
    • Kelelahan
    • Gemetar dan berkeringat
    • Mulas
    • Nyeri dada
    • Kejang otot
    • Kesemutan di ekstremitas
    • Ketakutan
    • Rasa panik tanpa dasar seolah-olah telah terjadi sesuatu

    Beberapa orang mengidentifikasikan panic attack sebagai gangguan kecemasan atau bahkan tanda serangan jantung. Sebenarnya kedua hal tersebut berbeda. Saat seseorang mengalami serangan panik, perasaan yang muncul adalah rasa takut dan ingin berlari kabur. Sementara saat muncul gangguan kecemasan, rasa takut akan disertai dengan gelisah serta hanya ingin diam.

    Berbeda pula dengan serangan jantung. Walaupun memiliki gejala yang hampir mirip, namun serangan jantung berlangsung dengan perasaan menyakitkan di jantung, atau membuat badan lemas dan pusing hingga ingin tertidur.

    Tips Mengatasi Serangan Panik

    Ketika mengalami serangan panik, terutama di tengah keramaian, tentu akan sangat mengganggu. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu mengetahui bagaimana menangani masalah ini ketika gejalanya muncul.

    Sahabat Sehat, berikut adalah berbagai metode yang dapat diterapkan dalam mengatasi serangan panik:

    Melatih Pola Pernapasan

    Saat terjadi serangan panik, Sahabat Sehat dapat mengalami kesulitan bernafas dan terasa sesak. Untuk mengatasinya, fokuskan diri untuk mengambil nafas dalam dan keluarkan dari mulut. Tarik napas selama empat detik, tahan selama satu detik lalu lepaskan secara bertahap.

    Mengenali Faktor Pemicu Serangan Panik

    Jika Sahabat Sehat pernah mengalami serangan panik, kenali faktor pemicu nya agar dapat dihindari di kemudian hari. Dengan mengenali bahwa yang Sahabat Sehat tengah alami adalah serangan panik, ingatkan diri bahwa kondisi ini hanya terjadi sementara saja dan akan berlalu.

    Mencoba Menutup Mata

    Untuk mengurangi rangsangan dan membantu menenangkan diri, tutuplah mata selama serangan panik berlangsung. Hal ini dapat mengurangi rangsangan pemicu dan membantu Sahabat Sehat untuk lebih mudah fokus pada pernapasan.

    Melatih Kesadaran Penuh

    Mindfulness atau kesadaran penuh dapat membantu Sahabat Sehat menyadari kondisi yang tengah terjadi. Pasalnya, serangan panik dapat membuat Sahabat Sehat tidak sadar akan kondisi lingkungan sekitar. Untuk mengatasinya, fokuskan pikiran pada sensasi fisik sekitar misalnya menghentakan kaki ke tanah atau meraba tekstur pakaian yang sedang dikenakan.

    Melakukan Teknik Relaksasi Otot

    Sama halnya dengan melakukan teknik pernapasan dalam, teknik relaksasi otot juga dapat meredakan serangan panik serta membantu mengendalikan respon tubuh. Lakukan beberapa gerakan, misal menggerakkan jari tangan dan gerakan ke atas atau kebawah untuk membantu membuat rileks. 

    Bayangkan Tempat yang Membuat Bahagia

    Bayangkanlah diri Sahabat Sehat sedang berada di tempat yang menyenangkan, misalnya pantai ataupun pegunungan. Hal ini terbukti membantu Sahabat Sehat menjadi lebih tenang.

    Melakukan Olahraga Ringan

    Hormon endorfin berperan dalam menjaga agar darah tetap terpompa dengan baik ke seluruh tubuh. Dengan melakukan olahraga ringan, Sahabat Sehat dapat menghasilkan lebih banyak hormon endorphin sehingga dapat menaikan suasana hati. Oleh karena itu jika Sahabat Sehat merasa stress, cobalah melakukan olahraga ringan seperti jalan santai. 

    Beritahu Orang Terdekat

    Jika Sahabat Sehat kerap mengalami serangan panik, sebaiknya beritahu orang terdekat agar membantu apabila Sahabat Sehat membutuhkan penanganan lebih lanjut. Jika mengalami sesak nafas, pucat, hingga lemas maka segera memeriksakan diri ke Fasilitas Kesehatan terdekat.

    Nah Sahabat Sehat itulah mengenai berbagai metode mengatasi serangan panik. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Smith A. How to stop a panic attack: 13 effective methods [Internet]. USA : Medical News Today. 2020 [updated 2020 Sep 29; cited 2021 Sep 01].
    2. Gotter A. 11 Ways to Stop a Panic Attack [Internet]. USA : Healthline. 2021 [updated 2021 July 23; cited 2021 Sep 01].
    3. Bressert S. Tips to Cope with a Panic Attack [Internet]. Psych Central. 2016 [updated 2016 May 17; cited 2021 Sep 01].
    4. Burke D. Panic Disorder: Causes, Symptoms, and Treatment [Internet]. USA : Healthline. 2018 [updated 2018 Aug 29; cited 2021 Sep 01].
    Read More
  • Ditulis oleh : Redaksi Prosehat Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Mengatasi rasa duka dan kehilangan akibat perginya orang tersayang memang tidak mudah. Namun kesedihan tidak boleh dibiarkan berlarut. Jika membiarkan kesedihan itu tetap ada akan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis. Kesedihan berlarut bukan hanya menyebabkan tubuh jadi mudah jatuh saki. Pikiran akan […]

    Cara Mengatasi Rasa Duka dan Kehilangan Orang Tersayang

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Agar Dapat Mengatasi Rasa Duka dan Kehilangan Diperlukan Dukungan dari Orang di Sekitar Kita

    Mengatasi rasa duka dan kehilangan akibat perginya orang tersayang memang tidak mudah. Namun kesedihan tidak boleh dibiarkan berlarut. Jika membiarkan kesedihan itu tetap ada akan berdampak pada kesehatan fisik dan psikis.

    Kesedihan berlarut bukan hanya menyebabkan tubuh jadi mudah jatuh saki. Pikiran akan mudah stress dan dapat mempengaruhi mental. Kita semua tentu tidak ingin hal tersebut terjadi.

    Dampak Kehilangan Orang Tersayang

    Kehilangan orang yang Sahabat Sehat cintai, baik keluarga maupun teman dekat secara tiba-tiba memang sangat menyakitkan. Bahkan pada kasus tertentu dapat menyebabkan berbagai gangguan kejiwaan pada mereka yang ditinggal akibat kesedihan yang mendalam, seperti:

    • gangguan depresi berat,
    • gangguan kecemasan,
    • gangguan panik,
    • gangguan stress pasca trauma,
    • hingga penggunaan alkohol yang berlebih.

    Meski demikian, jangan terlalu larut dalam duka karena hal tersebut dapat memperburuk kesehatan Sahabat Sehat. Bagaimana cara mengatasi duka akibat kehilangan orang yang dicintai ? Mari simak penjelasan berikut. 

    Cara Mengatasi Rasa Duka dan Kehilangan

    Merupakan hal yang wajar jika Sahabat Sehat tidak dapat langsung menerima kondisi yang terjadi secara tiba-tiba, terutama kehilangan orang yang dicintai. Rasa duka dan merasa sangat kehilangan adalah sesuatu yang wajar. Namun agar tidak terus berlarut-larut dan dapat tegar menghadapinya, ada beberapa hal yang bisa Sahabat Sehat lakukan:

    Berikan Waktu Untuk Diri Sendiri

    Cara mengatasi rasa duka dan kehilangan yang dapat Sahabat Sehat lakukan adalah dengan memberikan waktu pada diri sendiri untuk memahami dan biarkan perasaan sedih itu hilang. Melansir Journal of Death and Dying, kesedihan memiliki 5 tahapan, yakni:

    • Denial (Penolakan)
    • Marah
    • Kompromi
    • Depresi
    • Penerimaan

    Dari berbagai tahapan tersebut, cobalah untuk membangun pola pikir bahwa kesedihan yang berlarut hanya akan membuat Sahabat Sehat semakin terpuruk dan sulit untuk kembali bangkit. 

    Luapkan Perasaan

    Bersikap tertutup dan enggan menunjukan kesedihan hanya akan mempersulit proses pemulihan. Pasalnya, menyembunyikan perasaan dan berpura-pura tegar adalah cara yang salah dalam mengatasi kesedihan. Jujurlah pada perasaan dan luapkan dengan melakukan suatu hal, baik menangis ataupun melakukan aktivitas lain misal menulis buku harian dapat membantu melegakan hati dan perasaan Sahabat Sehat. 

    Jangan Ragu Minta Dukungan

    Cara efektif dalam mengatasi rasa kesedihan, kesepian, dan kecemasan, akibat kehilangan orang tersayang adalah dengan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar. Beberapa studi telah mengungkapkan bahwa kurangnya dukungan sosial setelah kehilangan yang tak terduga adalah pemicu utama depresi. Oleh sebab itu, mintalah bantuan orang lain baik keluarga, teman, komunitas agama maupun psikolog agar memberikan  

    Jaga Kesehatan Fisik 

    Larut dalam perasaan duka akan sangat berdampak buruk pada kesehatan tubuh dan mental. Tidak nafsu makan hingga sulit tidur mungkin menjadi gejala pertama yang akan Sahabat Sehat alami. Cobalah untuk tetap menjaga dan merawat diri dengan memperbaiki pola makan, berolahraga, dan tidur yang cukup. Pepatah “mens sana in corpore sano” cukup tepat menggambarkan kondisi ini, yang artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Oleh karena itu, usahakan untuk tetap menjaga kesehatan tubuh agar jiwa tetap kuat dan dapat mengatasi rasa sedih. 

    Lakukan Hobi yang Disukai

    Saat Sahabat Sehat merasa tidak berdaya,hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menyibukan diri dan melakukan hobi yang disukai atau mengeksplorasi hobi baru. Dengan melakukan kegiatan yang disukai, Sahabat Sehat akan lupa pada kesedihan secara berangsur-angsur.

    Nah Sahabat Sehat, itulah tips mengatasi rasa duka dan kehilangan akibat perginya orang yang tersayang. Namun, jika kesedihan yang dirasakan semakin memburuk seiring waktu hingga dapat mengganggu aktivitas dan kehidupan sehari-hari sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter maupun psikolog. 

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama dirumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Verywell Mind. Tips for Coping With the Life-Changing Loss of a Spouse [Internet]. USA : Verywell Mind; [cited 2021 Sep 06].
    2. Public Health Columbia. Unexpected Death of a Loved One Linked to Psychiatric Disorders [Internet]. USA : Columbia Public Health; [cited 2021 Sep 06].
    3. National Institute on Aging. Mourning the Death of a Spouse [Internet]. USA : National Institute on Aging; [cited 2021 Sep 06].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Hendsun Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Gangguan psikologi berupa sering merasa cemas dan gelisah dapat mempengaruhi kesehatan. Berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan jiwa. Oleh sebab itu, penderita perlu mencari tahu apa yang menjadi penyebab munculnya masalah ini. Dengan demikian, solusi terbaik bisa dilakukan. Apakah Sahabat Sehat sering merasa […]

    7 Penyebab Seseorang Jadi Sering Merasa Cemas dan Gelisah

    Ditulis oleh : dr. Hendsun
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Gangguan Kesehatan Mental Berupa Sering Merasa Cemas dan Gelisah Berlebihan dalam Hidup

    Gangguan psikologi berupa sering merasa cemas dan gelisah dapat mempengaruhi kesehatan. Berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan jiwa. Oleh sebab itu, penderita perlu mencari tahu apa yang menjadi penyebab munculnya masalah ini. Dengan demikian, solusi terbaik bisa dilakukan.

    Apakah Sahabat Sehat sering merasa cemas? Waspada, mungkin Sahabat Sehat mengalami gangguan cemas. Gangguan kecemasan menyeluruh adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas dan khawatir berlebihan, walaupun terkadang kecemasan tersebut dapat diperberat oleh kondisi tertentu. Sahabat Sehat, bagaimana mengatasi gangguan cemas ? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Gangguan Cemas?

    Rasa cemas tentunya sering dialami setiap orang dan merupakan respon psikologis terhadap suatu kejadian. Namun, Sahabat Sehat perlu mewaspadai jika sering merasa cemas dan gelisah secara terus menerus. Apalagi jika rasa cemas dan gelisah tersebut sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika hal tersebut terjadi, maka perlu melakukan konsultasi ke dokter. Tujuannya agar Sahabat Sehat tidak sampai mengalami masalah gangguan kecemasan menyeluruh.

    Penyebab Gangguan Cemas

    Penyebab pasti dari gangguan cemas dan gelisah hingga kini masih belum diketahui. Namun diperkirakan kondisi berikut dapat menyebabkan gangguan cemas:

    • Aktivitas berlebihan pada area otak yang mengatur emosi dan tingkah laku. 
    • Ketidakseimbangan dari hormon serotonin dan noradrenaline
    • Riwayat kejadian traumatis di masa lalu dan perasaan bersalah
    • Penggunaan obat-obatan tertentu
    • Adanya penyakit di dalam tubuh
    • Konsumsi rokok dan alkohol
    • Stress berlebihan

    Catatan: Hormon serotonin dan noradrenaline merupakan hormon yang berfungsi mengatur kendali dan regulasi mood seseorang. 

    Penanganan Medis Jika Sering Merasa Cemas dan Gelisah

    Pada umumnya untuk mengatasi gangguan cemas dapat diberikan obat-obatan, serta terapi perilaku dan dukungan dari orang sekitar. Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi gangguan cemas perlu dikonsultasikan dengan dokter agar disesuaikan dengan kondisi tubuh. 

    Selanjutnya, Sahabat Sehat dianjurkan mengikuti terapi perilaku yang berfokus untuk mengubah pola pikir dari rasa takut menjadi lebih tenang. Diharapkan Sahabat Sehat menjadi tidak sensitif terhadap hal-hal yang mengakibatkan cemas, dan lebih tenang. 

    Selain itu, Sahabat Sehat dapat mengikuti terapi Mindfulness yang berfokus untuk melepaskan pikiran yang membuat cemas, mengenali emosi dan meditasi untuk membantu mengurangi stres dan menjadi lebih tenang.

    Tips Atasi Gangguan Cemas

    Selain mengikuti penanganan diatas, Sahabat Sehat juga dapat melakukan berbagai hal berikut untuk membantu mengatasi gangguan cemas di rumah:

    • Berhenti merokok
    • Hindari konsumsi alkohol dan obat terlarang
    • Belajar bersyukur
    • Berolahraga minimal 30 menit sehari atau minimal 150 menit dalam seminggu
    • Melakukan hobi atau hal yang disenangi
    • Melakukan meditasi atau yoga
    • Mengajak keluarga atau sahabat dekat untuk mengobrol atau menghabiskan waktu bersama
    • Membuat buku harian untuk mengeluarkan unek-unek
    • Mendekatkan diri secara agama
    • Jika ada tugas yang perlu diselesaikan, segera cicil dan selesaikan tugas tersebut

    Kapan Butuh Pertolongan Gangguan Cemas?

    Sahabat Sehat, seringkali masyarakat menganggap bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan suatu hal yang wajar dan biasa dialami semua orang. Namun, apabila cemas dirasakan hampir setiap hari dan mengganggu aktivitas sehari-hari maka sebaiknya carilah bantuan tenaga profesional seperti dokter atau psikolog. Hal ini sangat penting karena bisa saja rasa cemas dan gelisah berlebihan adalah response tubuh atas adanya penyakit di dalam tubuh.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai tips untuk mengatasi masalah sering merasa cemas dan gelisah berlebihan. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat.  Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Tyrer P, Baldwin D. Generalised anxiety disorder. Lancet. 2006 Dec 16;368(9553):2156-66.
    2. Locke A, Nell K, Shultz C. Diagnosis and Management of Generalized Anxiety Disorder and Panic Disorder in Adults. Am Fam Physician. 2015 May 1;91(9):617-624.
    3. National Health Services. Overview – Generalised anxiety disorder in adults [Internet]. UK : National Health Services. 2018 [updated 2018 Dec 19; cited 2021 Aug 23].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja saat ini. Mulai dari pergaulan, kondisi ekonomi, hingga kondisi keluarga. Semua itu membawa pengaruh yang berbeda-beda pada tiap remaja. Kesehatan mental merupakan hal yang cukup penting bagi kehidupan seseorang. Kesehatan mental sangat berpengaruh […]

    5 Faktor Utama yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Remaja

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Konseling Mencari Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Remaja Perempuan

    Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja saat ini. Mulai dari pergaulan, kondisi ekonomi, hingga kondisi keluarga. Semua itu membawa pengaruh yang berbeda-beda pada tiap remaja.

    Kesehatan mental merupakan hal yang cukup penting bagi kehidupan seseorang. Kesehatan mental sangat berpengaruh bagi kehidupan yaitu dimulai dari cara berpikir, mengendalikan stress dan emosi, interaksi dengan sesama, hingga cara membuat keputusan.1 

    Pada masa remaja, mood atau suasana hati dapat berubah dengan cepat. Perubahan mood (mood swing) yang drastis pada remaja kerap kali dipengaruhi beban pekerjaan rumah, sekolah dan kegiatan sehari-hari di rumah. Meskipun suasana hati remaja berubah dengan cepat, belum tentu hal tersebut merupakan tanda adanya masalah psikologis.

    Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental Remaja

    Para remaja sangat rentan mengalami krisis identitas diri, sebab menganggap bahwa orang lain mungkin mengagumi atau mengkritik diri mereka. Anggapan seperti itu dapat membuat seorang remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image).2

    Sahabat Sehat, kondisi mental dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang apabila tidak ditangani dengan baik. Gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat gangguan kesehatan mental yaitu sakit kepala, mual hingga kelelahan. Apa saja faktor yang mempengaruhi kesehatan mental seorang remaja ? Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut.

    Faktor Biologis

    Faktor biologis seperti keturunan (genetik), kondisi kesehatan fisik (misal sedang menderita suatu penyakit), dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental seorang remaja. Apabila remaja memiliki suatu keluhan terkait kondisi kesehatan, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.

    Faktor Psikologis

    Faktor psikologis disebabkan karena ikatan emosional seseorang dengan keluarga atau teman, kemampuan kognitif saat belajar, serta emosi yang belum matang. Faktor psikologis berikut dapat mempengaruhi kondisi kesehatan mental remaja, antara lain :

    Pengalaman Kehilangan Orang Terdekat

    Rasa kehilangan muncul ketika orang terdekat meninggal, hubungan dengan pasangan berakhir atau ketika berpisah dengan teman atau keluarga. Ketika menghadapi masalah tersebut akan muncul rasa syok, sedih dan menyesal. Setiap orang memiliki waktu pemulihan berbeda-beda bisa berhari-hari sampai berminggu-minggu. Namun bila mulai tampak mengganggu kesehatan mental, segera hubungi orang terdekat atau bantuan Dokter.

    Kekerasan Dalam Keluarga

    Kekerasan dapat berupa kekerasan fisik, psikologis, maupun kekerasan verbal dapat menyebabkan gangguan mental seperti stress pasca trauma, hingga depresi.

    Sosial Budaya

    Hubungan sosial yang tidak sehat seperti hujatan di media sosial dan perundungan (Bully) dapat mempengaruhi kesehatan mental seorang remaja.

    Lingkungan

    Lingkungan yang positif dapat memberikan dampak bagi jiwa, sementara tinggal di lingkungan yang penuh polusi dan berisik tanpa disadari akan mempengaruhi kesehatan mental.

    Kondisi Keluarga

    Perceraian serta pola asuh dalam keluarga turut mempengaruhi kondisi kesehatan seorang remaja. Pola asuh yang terlalu mengekang, serta perpisahan dengan salah satu anggota keluarga akibat perceraian dapat menyebabkan seorang anak mengalami trauma psikologis.

    Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja

    Untuk menjaga kesehatan mental remaja, Sahabat Sehat dianjurkan melakukan beberapa tips berikut :

    • Menciptakan lingkungan yang sehat mental
    • Saling mencintai, menghargai dan mempercayai anggota keluarga
    • Saling terbuka dan tidak ada diskriminasi
    • Memberikan pujian dan hukuman sesuai dengan perilaku remaja
    • Menghadapi ketegangan dengan tenang dan menyelesaikan masalah secara tuntas
    • Menunjukkan empati antar anggota keluarga
    • Menyediakan waktu untuk kebersamaan seperti rekreasi bersama, maupun hanya sekedar mengobrol santai di rumah.4
    • Ajak remaja aktif dalam kegiatan sosial baik di lingkungan maupun disekolah.5

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja serta tips untuk menjaga kesehatan remaja. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan kesehatan selama di rumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat.

    Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Mental Health [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [updated 2021 July 20; cited 2021 Aug 15].
    2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Masalah kesehatan mental emosional remaja [Internet]. Indonesia : Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2013 [updated 2013 Sep 10; cited 2021 Aug 15].
    3. Farmaku. Informasi A-Z Tentang Kesehatan Mental [Internet]. Indonesia : Farmaku. 2020 [updated 2020 Aug 05; cited 2021 Aug 15].
    4. Yuliatun I. Sehat Mental Atau Gangguan Mental ? Berawal Dari Keluarga oleh Ismiyati [Internet]. Indonesia : RS Jiwa Daerah Surakarta. 2020 [updated 2020 Aug 27; cited 2021 Aug 15].
    5. Mental Health Foundation. Children and young people [Internet]. USA : Mental Health Foundation; [cited 15 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D Menurut para ahli, cara menjaga kesehatan mental remaja seharusnya dimulai dengan membangun komunikasi antara orangtua dengan anak. Pada dasarnya masalah mental pada remaja terjadi akibat adanya tekanan pada para remaja. Entah itu tekanan dari keluarga, dari lingkungan sosialnya, maupun tekanan batin […]

    21 Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja Menurut Para Ahli

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cynthia D

    Konseling Merupakan Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja yang Terbukti Efektif

    Menurut para ahli, cara menjaga kesehatan mental remaja seharusnya dimulai dengan membangun komunikasi antara orangtua dengan anak. Pada dasarnya masalah mental pada remaja terjadi akibat adanya tekanan pada para remaja. Entah itu tekanan dari keluarga, dari lingkungan sosialnya, maupun tekanan batin karena ada cita-cita yang ingin digapai.

    Masa remaja, yaitu pada rentang usia 10-19 tahun merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Perubahan fisik, emosional, sosial dan berbagai masalah lainnya dapat membuat seorang remaja rentan mengalami masalah mental. Untuk itu, beberapa langkah perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah-masalah mental yang mungkin terjadi.

    Jenis Masalah Kesehatan Mental Pada Remaja

    Menurut ahli suciodologist, sekitar 4,2% orang siswa di Indonesia pernah berpikir untuk melakukan bunuh diri. Sementara itu, 3% orang siswa lainnya pernah melakukan percobaan bunuh diri. Depresi pada remaja biasanya diakibatkan oleh berbagai hal seperti tekanan dibidang akademik, perundungan (bullying), faktor keluarga dan faktor ekonomi.

    Sahabat Sehat, setidaknya ada 3 masalah mental yang kerap dialami oleh para remaja. Masalah mental yang sering dialami remaja tersebut antara lain:

    Depresi

    Bukan hanya orang dewasa, remaja juga bisa mengalamai depresi. Depresi adalah masalah pada mental yang muncul dengan beberapa gejala berikut, yaitu: 

    • Sedih, cemas dan hampa terus menerus
    • Lekas marah
    • Merasa bersalah, tidak berharga dan tidak berdaya
    • Kehilangan minat dan hobi atau kegiatan yang sebelumnya dilakukan dan menyenangkan
    • Merasa lelah sepanjang waktu
    • Gelisah
    • Sulit mengambil keputusan
    • Nafsu makan menurun dan berat badan menurun
    • Muncul ide untuk mengakhiri hidup
    • Nyeri dan sakit yang tidak dapat dijelaskan dan tidak hilang bila diobati.

    Masalah depresi pada remaja harus dicegah atau segera diatasi. Depresi bukan hanya berdampak negatif pada psikologis (kesehatan mental). Pada tingkat lanjut, depresi dapat merusak otak penderitanya. Selain itu, berdasarkan beberapa penelitian, remaja yang mengalami depresi rentan mengalami penuaan dini, gangguan fungsi otak, dan penurunan kemampuan berpikir rasional.

    Cemas

    Semua orang tentu pernah merasa cemas. Cemas merupakan perasaan normal pada seseorang. Nemun jika memiliki kecemasan yang berlebihan maka hal tersebut digolongkan pada masalah mental. Remaja saat ini banyak yang mengalami masalah kecemasan yang berlebihan, terutama pada masa depan dan asmara. Berikut ini berbagai gejala cemas (anxiety) yang kerap dialami oleh remaja, yaitu:

    • Mudah lelah 
    • Sulit berkonsentrasi
    • Mudah tersinggung
    • Takut dan khawatir berlebihan
    • Sulit tidur dan mudah terbangun
    • Otot tegang dan kaku.

    Jika masalah kecemasan ini tidak segera diatasi maka otak penderita akan melepaskan hormon-hormon tertentu secara teratur sehingga menyebabkan munculnya gejala sakit kepala, mudah pusing, serta gangguan mental lain seperti depresi. Pada hubungan sosial, orang yang cemas berlebihan umumnya akan mudah tersinggung. Hal ini menyebabkan orang dengan rasa cemas berlebihan akan dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya.

    Sulit Bersosialisasi

    Masalah mental yang selanjutnya dialami para remaja adalah sulitnya bersosialisasi. Apalagi ditambah dengan maraknya game online di gadget masing-masing remaja. Para remaja akan lebih mudah bersosialisasi melalui game dibandingkan bertemu orang secara langsung.

    Beberapa gejala masalah mental sulit bersosialisasi dapat ditandai dari perilaku remaja berikut ini:

    • Cemas apabila berada disekitar orang lain
    • Merasa sulit memulai pembicaraan
    • Tidak percaya diri, malu, khawatir akan penolakan dan khawatir bila menyinggung orang lain
    • Cemas berhari-hari atau berminggu-minggu menjelang acara sosial.
    • Menghindari bersosialisasi dengan teman
    • Berkeringat dan gemetar bila berada dekat orang lain.

    Salah satu kunci kesuksesan adalah kemampuan bersosialisasi dan melakukan persuasi (pendekatan) gagasan kepada orang lain. Mereka yang sulit bersosialisasi akan kesulitan dalam mencapai kesuksesan dalam karir pekerjaan, bisnis, ataupun asmara. Kebanyakan orang-orang sukses memang memiliki masalah sulit bersosialisasi dan cenderung orang-orang yang tertutup, namun kunci kesuksesan mereka adalah kemauan bersosialisasi dengan orang lain untuk membangun impian bersama.

    Sebenarnya masih ada beberapa masalah mental lain yang juga dialami oleh para remaja. Namun pada umumnya 3 masalah mental di atas adalah yang paling sering terjadi dan paling sering ditemukan, khususnya di Indonesia. Lantas bagaimana cara menjaga kesehatan mental remaja di masa penuh tekanan seperti sekarang?

    Panduan Cara Menjaga Kesehatan Mental Remaja

    Untuk menjaga kesehatan mental para remaja maka diperlukan tindakan yang tepat. Tindakan pertama adalah bagaimana cara agar remaja tidak mengalami masalah mental. Sementara tindakan kedua adalah bagaimana cara mengatasi masalah mental yang sedang dialami oleh seorang remaja.

    Agar Remaja Tidak Mengalami Masalah Mental

    Mencegah munculnya masalah mental bisa dilakukan dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Dukungan penuh orang tua dan kemauan anak akan membantu mencegah munculnya gejala-gejalan masalah mental. Beberapa tindakan lain yang diperlukan agar mental remaja tetap sehat dan kuat antara lain:

    Berolahraga

    Dengan berolahraga, tubuh akan tetap aktif, energi di dalam tubuh juga akan meningkat. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi stress, serta meningkatkan kualitas tidur, dan menjaga pikiran agar tetap berpikir positif.

    Menurut penelitian, berolahraga dapat meminimalisir gangguan-gangguan mental secara signifikan. Remaja disarankan melakukan olahraga seperti jogging, bersepeda, ataupun berenang ketika merasa sedang tertekan.

    Jaga Pola Makan

    Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang seperti buah dan sayur, serta susu dan multivitamin akan menunjang kesehatan tubuh. Enzim-enzim baik akan keluar sehingga tubuh dan pikiran akan kuat menangani tekanan-tekanan yang muncul di sekitar.

    Remaja juga sebaiknya menghindari mengkonsumsi makanan yang berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Misalnya rokok, alkohol, gorengan, dan makanan-makanan penuh lemak jenuh. Karena masalah kesehatan pada diri remaja dapat mempengaruhi mental dan pikiran.

    Beberapa mungkin akan merasa rokok dan alkohol dapat membantu melupakan tekanan yang ada. Namun pada kenyataannya, rokok dan alkohol justru akan menyebabkan rasa tertekan semakin besar. Pada akhirnya, konsumsi rokok dan alkohol menjadi semakin tidak terkendali karena ketika konsumsinya dihentikan maka rasa cemas dan gelisah akan muncul lebih besar. Oleh sebab itu, remaja jangan pernah mencoba mengurangi rasa tertekan pada dirinya dengan berlari ke rokok dan alkohol.

    Istirahat yang Cukup

    Waktu tidur yang cukup dan berkualitas akan membantu anak mendapatkan energi yang cukup untuk beraktivitas keesokan harinya, Tidur menjadi cara menjaga kesehatan mental remaja yang terbukti efektif. Pastikan tubuh mendapatkan istirahat tidur yang mencukupi. Jika mengalami gangguan tidur, segera konsultasikan kepada dokter karena gangguan tidur bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, namun juga kesehatan tubuh.

    Sebisa mungkin hindari penggunaan obat tidur. Agar tidur bisa lebih nyenyak, cobalah untuk berolahraga di sore hari serta mulai konsumsi makanan berupa buah dan sayur.

    Jika Remaja Mengalami Masalah Mental

    Jika masalah mental sudah muncul maka penanganan yang tepat sebagai bagian dari cara menjaga kesehatan mental remaja harus segera dilakukan. Sahabat Sehat disarankan melakukan beberapa perawatan, tindakan, maupun pengobatan untuk membantu mengembalikan kesehatan mentalnya agar pulih seperti sedia kala.

    Bantuan dari Sisi Orang Tua

    Tindakan-tindakan untuk mengembalikan kesehatan mental remaja harus dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak orang tua dan dari pihak sang remaja itu sendiri. Dari pihak orang tua, beberapa cara menjaga kesehatan mental remaja yang bisa dilakukan antara lain:

    1.  Tunjukkan cinta, kasih sayang, dan perhatian
    2.  Buka diri untuk menjadi teman mendengar dan solusi dari masalah mereka
    3.  Mulai puji usaha dan prestasi mereka
    4.  Beri motivasi bahwa mereka tetap menjadi kebanggan orang tua
    5.  Hargai dan beri apresiasi pendapat mereka
    6.  Biarkan anak remaja mencoba mengekspresikan diri dan cita-citanya
    7.  Dorong mereka untuk mau terlibat dalam kegiatan fisik seperti berolahraga bersama
    8.  Dorong mereka untuk mau terlibat dalam kegiatan rohani seperti doa makan bersama
    9.  Hindari pengekangan dan berikan ruang untuk mereka memberikan pendapat
    10. Berikan makanan bergizi
    11. Ingatkan mereka untuk beristirahat dan tidur yang cukup
    12. Bantu mereka menyelesaikan masalah yang sedang mereka alami
    13. Hindari pernyataan yang memojokkan serta membuat mereka merasa bersalah
    14. Ajak untuk konsultasi ke dokter untuk membantu masalah mereka
    15. Terus pantau kesehatannya sampai mereka benar-benar kembali sehat

    Kemauan dari Sisi Remaja

    Sementara itu, dari sisi remaja ada beberapa tindakan yang diperlukan agar proses pemulihan mental bisa berjalan dengan lancar. Beberapa tindakan yang perlu dilakukan remaja agar kembali sehat secara mental antara lain:

    1. Mulai membuka diri kepada orang tua
    2. Ceritakan masalah dan perasaan yang selama ini dipendam
    3. Tingkatkan kesehatan fisik dengan berolahraga, makan makanan bergizi, dan beristirahat dengan cukup
    4. Hindari faktor-faktor yang dapat membuat tertekan, misalnya social media
    5. Berlibur maupun berwisata kuliner dapat membantu mengurangi rasa tertekan pada diri sendiri
    6. Jangan ragu dan malu jika membutuhkan bantuan profesional seperti psikiater maupun psikolog

    Sahabat Sehat, itulah solusi mencegah dan cara menjaga kesehatan mental remaja yang memang pada dasarnya sedang berada pada fase mencari jati diri. Jika Sahabat Sehat memerlukan bantuan untuk mengatasi masalah ini, Chat Dokter 24 Jam Prosehat siap membantu. Informasi lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi 

    1. World Health Organization. Adolescent mental health [Internet]. USA : World Health Organization. 2020 [cited 7 August 2021].
    2. Universitas Gadjah Mada. Darurat Kesehatan Mental bagi Remaja [Internet]. Indonesia : Universitas Gadjah Mada. 2020 [cited 7 August 2021].
    3. Penn Medicine. 6 Facts Parents Should Know about Mental Illness in Teens [Internet]. USA : Penn Medicine. 2018 [cited 7 August 2021].
    4. Raising Children. Mental health in pre-teens and teenagers [Internet]. USA : Raising Children Network. 2021 [cited 7 August 2021].
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Mental Health[Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [cited 7 August 2021].
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Cukup banyak dampak negatif memarahi anak walaupun Si Kecil memang bersalah. Memarahi Si Kecil dapat mempengaruhi kondisi psikologisnya. Oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara yang baik dalam menegur si kecil, dan apa yang harus dilakukan setelah anda memarahinya. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas […]

    Dampak Negatif Memarahi Anak yang Harus Orang Tua Waspadai

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Rasa Kecewa Anak Menjadi Dampak Negatif Memarahi Anak yang Sulit Dihindari

    Cukup banyak dampak negatif memarahi anak walaupun Si Kecil memang bersalah. Memarahi Si Kecil dapat mempengaruhi kondisi psikologisnya. Oleh sebab itu sangat penting untuk mengetahui bagaimana cara yang baik dalam menegur si kecil, dan apa yang harus dilakukan setelah anda memarahinya.

    Pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa hal yang menjadi dampak negatif akibat orang tua memarahi anaknya. Harapannya, dengan tahu resiko yang terjadi kita bisa lebih menahan emosi dan mampu memperbaiki cara mendidik anak sehingga si kecil memiliki karakter yang jauh lebih baik.

    Sedikitnya Ada 9 Dampak Negatif Memarahi Anak

    Ketika si kecil anda marahi, harapannya tentu agar dia merubah perilaku menjadi pribadi yang lebih baik. Namun seringkali hal ini tidak terjadi. Alih-alih menjadi lebih baik, si kecil justru memiliki luka secara psikologi.

    Memarahi atau bahkan membentak dapat menjadi suatu pengalaman traumatis bagi anak. Bahkan beberapa orang cenderung mengingat kejadian tersebut hingga dewasa. Berikut beberapa dampak negatif secara psikologis yang dapat dialami anak :

    • Kehilangan Rasa Percaya Diri

      Kehilangan Percaya Diri Akibat Sering Dimarahi
      Ketika si kecil melakukan sesuatu, kemungkinan besar dia merasa hal tersebut adalah hal yang baik dan benar. Malahan mungkin si kecil berharap hal tersebut dapat membuat anda senang dan bangga.

      Ketika hal yang dia kerjakan justru dihargai dengan bentakan, hal ini tentunya akan membawa dampak negatif. Bisa jadi si kecil akan merasa kecewa dan kehilangan percaya diri. Si anak akan merasa takut melakukan hal-hal kreatif karena takut hal tersebut akan membuatnya dimarahi.

    • Membuat Anak Menjadi Pribadi yang Egois dan Keras Kepala

      Pribadi Egois dan Tidak Mau Mengalah pada Anak
      Memarahi anak juga beresiko membuat anak menjadi pribadi yang egois dan keras kepala. Hal ini biasa terjadi ketika anda memarahi anak tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya. Apalagi jika anak anda merasa yakin dia melakukan hal yang benar namun tetap anda marahi.

      Oleh sebab itu, sangat disarankan bagi orang tua untuk mendengarkan apa alasan seorang anak melakukan hal yang anda anggap merupakan kesalahan tersebut. Membuka jalur komunikasi akan membentuk pribadi anak yang mampu menghargai orang lain sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih mudah diterima di masyarakat.

    • Memiliki Jiwa Pemberontak dan Tidak Bisa Diatur

      Anak yang Suka Melawan dan Tidak Peduli Lagi Apa Kata Orang Tuanya
      Ketika anak anda sudah merasa melakukan hal yang baik dan benar namun anda justru terus menerus memarahinya maka akan ada rasa kecewa dirinya terhadap anda. Dia mungkin merasa sudah saatnya untuk tidak lagi diatur-atur oleh anda.

      Untuk menghindari terjadinya dampak negatif memarahi anak maka hubungan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak harus dibangun. Terutama setelah anda memarahinya. Misalnya dengan memberikan hadiah dimana jika dia menuruti apa yang anda katakan maka anda akan memberikan hadiah sesuai yang dia mau. Cara ini sangat efektif dilakukan untuk membangun kesadaran bahwa dibalik kemauan menuruti perintah orang tua pasti akan ada hal baik yang bisa diperoleh.

    • Suka Menyendiri dan Tertutup (Introvert)

      Anak yang Merasa Lebih Aman dan Nyaman Menyendiri
      Anak yang memiliki sifat ekstrovert atau mudah bersosialisasi cenderung lebih mudah untuk sukses dalam karir maupun usaha yang dijalankan. Memarahi anak dapat memberikan dampak negatif pada psikologi seorang anak menjadi pribadi yang introvert. Hal ini erat kaitannya dengan rasa percaya diri dimana seorang anak takut jika dia melakukan sesuatu akan membuat orang lain kecewa, memarahinya, atau trauma dimarahi membuatnya tidak memiliki keberanian untuk menjawab lawan bicara.

      Lagi-lagi sangat ditekankan bahwa ketika seorang anak memang harus dimarahi, pastikan memberikannya ruang untuk bicara mengapa dia melakukan hal tersebut. Jika diperlukan, temani dia untuk melakukan hal-hal yang anda minta. Tentunya bukan dengan suasana memarahi. Dengan demikian, tidak akan ada trauma yang membuatnya merasa takut berbicara ataupun merasa menyendiri adalah sesuatu yang lebih nyaman. Si kecil justru merasa menyenangkan jika melakukan banyak hal bersama-sama.

    • Mudah Stress dan Ketakutan

      Mudah Stress dan Rentan Depresi
      Setiap anak memiliki response yang berbeda-beda. Bisa jadi marah yang anda berikan pada anak pertama membuatnya jadi pribadi yang lebih baik. Namun pada anak kedua bisa jadi marah yang anda lakukan bisa membuatnya stress dan ketakutan. Apalagi jika marah tersebut diiringi dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

      Ketika memarahi anak, pastikan sekedar untuk memberitahunya bahwa tindakannya salah. Tidak perlu menekan psikologi anak dengan tanggung jawab yang berlebihan, apalagi jika si anak sampai merasa dibanding-bandingkan dengan orang lain. Hal tersebut dapat memicu stress karena alih-alih memberikan motivasi, anda justru memberikan padanya beban yang sulit dia kejar.

    • Terjerumus dalam Kenakalan Remaja

      Kriminalitas Banyak Tumbuh Pada Orang yang Mengalami Luka Batin di Saat Masa Anak-Anak
      Anak yang sering dimarahi akan merasa stress. Untuk melampiaskan rasa tertekannya maka seorang anak akan melakukan kenakalan-kenakalan, khususnya saat remaja ketika dia merasa sudah memiliki kemampuan untuk melawan orang-orang di sekelilingnya. Beberapa kenakalan ini seperti penggunaan obat terlarang, pergaulan bebas, bolos sekolah, atau bahkan tindakan-tindakan kriminal. Oleh sebab itu, pendekatan yang baik antara orang tua dan anak sangat diperlukan.

      Memarahi anak bukan hal yang salah. Namun sebagai orang tua kita harus memastikan anak tidak merasa tertekan. Sebagai orang tua andapun dituntut untuk memahami keadaan anak pasca dimarahi dan segera mengambil tindakan yang diperlukan setelah memarahi anak. Misalnya memeluk, mengajaknya jajan, atau mengajaknya bermain. Jangan sampai dampak negatif memarahi anak yang telah anda lakukan terbawa hingga dia beranjak dewasa.

    • Menjadi Pribadi yang Mudah Marah

      Perilaku Anak yang Mudah Marah Karena Meniru Orang Tua yang Juga Suka Memarahinya
      Tumbuh kembang anak secara psikologi akan dipengaruhi dari meniru perilaku orang tua dan orang di sekitarnya. Jika si kecil sering dimarahi maka dampak negatifnya adalah si anak juga akan berubah menjadi pribadi yang mudah marah. Sebaliknya, jika cara anda memarahinya dengan baik dan tidak melukai mentalnya maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mau mendengarkan arahan-arahan anda.

      Jika setelah marah yang anda lakukan selama ini justru membuat si kecil semakin mudah marah maka ini merupakan gejala bahwa anak anda sudah berusaha meniru perilaku yang anda lakukan kepadanya. Bimbingan profesional dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini.

    • Kurang Inisiatif dan Cenderung Malas

      Rasa Malas Karena  Trauma Takut Apa yang Dilakukannya Hanya Akan Berujung Dimarahi dan Disalahkan
      Kebanyakan anak kecil melakukan sesuatu karena inisatif spontan. Mereka cenderung tidak tahu apa yang dilakukan adalah sesuatu yang salah. Malahan kebanyakan mengira hal tersebut adalah hal yang benar. Misalnya anak yang mencoret-coret dinding rumah karena mengira hal tersebut dapat membuat dinding rumah tampak lebih menarik.

      Tindakan memarahi tanpa adanya arahan menyalurkan kreativitas anak akan cenderung menghambat inisiatif mereka dalam melakukan sesuatu. Pada titik tertentu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang malah berpikir dan cenderung hanya akan melakukan apa yang diperintahkan. Hal ini tentunya akan kurang baik bagi kehidupannya di usia dewasa nantinya.

    • Menjadi Anak yang Kurang Tanggap

      Dampak Negatif Memarahi Anak Salah Satunya Adalah Membuat Anak Cenderung Sulit Mencerna Informasi
      Ada dampak negatif memarahi anak terus menerus walaupun memang dia melakukan kesalahan. Dampak tersebut adalah menjadikan anak pribadi yang kurang tanggap dan sulit memahami apa yang dikatakan orang lain. Hal ini terjadi karena otak pada umumnya tidak ingin menyimpan trauma terlalu lama. Otak kemudian menjadi lebih cepat melupakan marah yang anda lakukan hari ini. Di sisi lain otak juga tidak mengolah informasi dengan benar. Hal ini membuat otak menjadi sulit berkonsentrasi dan cenderung cuek dengan informasi di sekelilingnya.

      Anak yang cenderung menjadi kurang tanggap di kemudian hari memiliki ciri-ciri cenderung cuek ketika anda marahi. Jika hal ini terjadi, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi dan pemeriksaan kondisi anak.

    • Gangguan Kesehatan pada Anak

      Anak Cenderung Mudah Jatuh Sakit Akibat Sering Dimarahi dan Dibentak
      Memarahi anak bukan hanya mempengaruhi mental anak. Kesehatan anak bisa terganggu. Mulai dari jantung lambung, hingga masalah susah tidur.

      Lihat Juga: Penyebab dan Solusi dari Sering Susah Tidur

      Saat anak dimarahi, jantungnya akan berdetak lebih kencang. Ada potensi reaksi dimana jantung akan terus merasa tertekan dan berdetak lebih kencang ketika si anak bertemu dengan anda. Masalah ini dapat membuat anak merasa mudah lelah dan cenderung cuek kepada anda.

      Pada sisi lain, stress akibat dimarahi bisa membuat masalah kesehatan pada lambung anak. Hal ini bisa terjadi karena ketika anak dimarahi maka produksi asam lambung bisa meningkat. Tentunya ini bisa beresiko menyebabkan kerusakan lambung.

    Tips Bagi Orang Tua Saat Marah

    Bagi Sahabat Sehat yang sebelumnya seringkali marah atau melampiaskan kemarahan pada anak, sebaiknya lakukan beberapa hal berikut sebagai solusinya :

    Beri waktu luang

    Saat Sahabat Sehat ingin melampiaskan emosi pada anak, hentikan kegiatan sejenak dan tarik nafas dalam secara perlahan. Ingatkan pada diri sendiri mengenai dampak negatif memarahi anak yang mungkin dia alami saat dan pasca Sahabat Sehat marah.

    Bicara dengan anak

    Saat Sahabat Sehat marah, cobalah membicarakan hal yang dialami dengan anak sehingga mereka dapat memahami hal yang dirasakan oleh Sahabat Sehat.

    Beri batasan tegas

    Jika anak melakukan perilaku diluar batas sopan santun atau norma yang berlaku, sebaiknya Sahabat Sehat menjelaskan dengan tegas mengenai hal tersebut. Hindari emosi berlebihan dan bicarakan hal ini dengan baik-baik.

    Beri konsekuensi, bukan ancaman

    Sebagian orang tua kerap kali mengancam anak, terutama jika berperilaku tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun hal ini tidak dapat dibenarkan, sebab ancaman dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Jadi Sahabat Sehat dapat memberikan konsekuensi dengan memberi peringatan. Sebagai contoh, jika anak tidak membereskan mainan maka nanti tidak diperkenankan menonton televisi.

    Nah Sahabat Sehat, demikianlah beberapa hal yang menjadi dampak negatif memarahi anak yang wajib Sahabat Sehat waspadai. Semoga informasi ini bisa bermanfaat, dan jika ada pertanyaan seputar kesehatan anak maka silahkan hubungi kami melalui fitur chat yang ada di pojok kanan bawah halaman ini. 

    Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama dirumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter 24 Jam Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Sahabat Sehat, kini sudah lebih dari 1 tahun pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Tidak jarang masyarakat mengalami kelelahan baik dari segi fisik dan mental. Berita mengenai Covid-19 hampir setiap hari menghiasi layar kaca, ditambah dengan munculnya berita bohong yang turut berdampak pada kondisi mental masyarakat.  Mungkin […]

    Cara Menjaga Kesehatan Mental Di Masa Pandemi Covid-19

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    gangguan kesehatan jiwa, gangguan kesehatan mental

    Sahabat Sehat, kini sudah lebih dari 1 tahun pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Tidak jarang masyarakat mengalami kelelahan baik dari segi fisik dan mental. Berita mengenai Covid-19 hampir setiap hari menghiasi layar kaca, ditambah dengan munculnya berita bohong yang turut berdampak pada kondisi mental masyarakat. 

    Mungkin Sahabat Sehat turut merasakan kepanikan, cemas berlebihan, maupun paranoid akibat pandemi Covid-19. Nah Sahabat Sehat, bagaimana cara kita menjaga kesehatan mental selama masa pandemi Covid-19 ? Mari simak penjelasan berikut

    Dampak Stress Pada Tubuh

    Sahabat Sehat, stress yang berlebihan dapat mempengaruhi kondisi tubuh dan berdampak pada kesehatan fisik yang ditandai dengan :

    • Merasa takut, mudah marah, sedih dan frustasi
    • Perubahan nafsu makan
    • Menarik diri dari lingkungan sosial
    • Konsentrasi menurun
    • Gangguan tidur
    • Penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang
    • Munculnya keluhan fisik, seperti sakit kepala, nyeri pada tubuh, gemetar, dan kulit kemerahan.

    Merupakan hal yang wajar apabila Sahabat Sehat merasa cemas, stress, atau sedih selama masa pandemi Covid-19 karena pandemi berdampak pada semua sektor kehidupan. Namun ada baiknya tidak terlarut dalam emosi tersebut dan lakukan berbagai cara untuk mengatasi stress agar tidak mempengaruhi kondisi kesehatan fisik dan mental.

    Cara Mengatasi Stress Selama Pandemi Covid-19

    Bagi Sahabat Sehat yang mengalami stress atau merasa cemas selama masa pandemi Covid-19, lakukan beberapa tips berikut dirumah :

    • Rehat sejenak dari membaca berita atau menonton televisi mengenai Covid-19. 

    Sahabat Sehat dapat mulai membatasi penggunaan ponsel dan sediakan waktu luang untuk menenangkan diri

    • Lakukan meditasi, atau mendekatkan diri secara agama dapat membantu Sahabat Sehat menenangkan diri
    • Istirahat yang cukup sekitar 7-9 jam sehari
    • Lakukan beragam hal baru ataupun kegiatan yang disukai, misalnya berolahraga, melukis, memasak, atau bahkan sekedar mendengarkan musik.
    • Hindari menggunakan alkohol, rokok, maupun obat-obatan terlarang
    • Bertemu dengan sahabat atau keluarga secara daring. Gunakan sosial media untuk tetap berinteraksi dengan sahabat ataupun keluarga. 
    • Berkonsultasi dengan keluarga atau sahabat

    Jika Sahabat Sehat memiliki suatu masalah yang mengganjal, ceritakan dengan keluarga dan sahabat untuk mengeluarkan unek-unek.

    • Membantu orang lain yang membutuhkan. 

    Dengan membantu orang lain, secara tidak langsung mempengaruhi kondisi psikologis Sahabat Sehat. Membantu orang lain bisa melalui berbagai cara, misal memberikan dukungan emosional, bantuan finansial, maupun bahan dasar makanan (sembako) bagi mereka yang membutuhkan.

    Jika Sahabat Sehat masih merasa gelisah, cemas, paranoid, atau bahkan muncul keinginan menyakiti diri sendiri serta keinginan menggunakan obat terlarang, maka sebaiknya lakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter maupun psikolog.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai berbagai cara menjaga kesehatan mental selama masa pandemi Covid-19. Jika Sahabat Sehat mengalami keluhan selama dirumah, segera manfaatkan layanan Chat Dokter Prosehat 24 jam. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa 

    Referensi :

    1. Centers for Disease Control and Prevention. Coping with Stress [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021 [updated 2021 Jan 22; cited 2021 July 12]. Available from : https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/managing-stress-anxiety.html
    2. Dewi B. 5 Cara Menjaga Kesehatan Mental Selama Pandemi Virus corona [Internet]. Indonesia : Kompas. 2020 [updated 2020 May 02; cited 2021 July 12]. Available from : https://lifestyle.kompas.com/read/2020/05/02/040300520/5-cara-menjaga-kesehatan-mental-selama-pandemi-virus-corona?page=all
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Sahabat Sehat, kesehatan tidak hanya sebatas kondisi fisik semata namun juga meliputi kesehatan jiwa atau mental. Jika kesehatan jiwa terganggu tentu dapat berdampak pada kesehatan fisik, dan sebaliknya. Nah Sahabat Sehat, bagaimana ciri seseorang memiliki jiwa yang sehat, serta cara mendapatkannya ? Mari simak penjelasan berikut. Ciri Sehat […]

    Ketahui Ciri Seseorang Sehat Jiwa

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    Sahabat Sehat, kesehatan tidak hanya sebatas kondisi fisik semata namun juga meliputi kesehatan jiwa atau mental. Jika kesehatan jiwa terganggu tentu dapat berdampak pada kesehatan fisik, dan sebaliknya. Nah Sahabat Sehat, bagaimana ciri seseorang memiliki jiwa yang sehat, serta cara mendapatkannya ? Mari simak penjelasan berikut.

    Ciri Sehat Jiwa

    Pakar Ilmu Kesehatan Jiwa, Dr. dr. Kristiana Siste, Sp.KJ(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan bahwa berikut adalah ciri seseorang memiliki jiwa yang sehat :

    • Dapat menerima kenyataan yang baik maupun buruk
    • Puas dengan hasil karyanya
    • Merasa lebih puas untuk memberi daripada menerima.
    • Bebas dari rasa tegang dan cemas.
    • Berhubungan dengan orang lain untuk saling menolong dan memuaskan.
    • Mengambil hikmah dari kejadian buruk.
    • Mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian
    • Memiliki rasa kasih sayang yang besar.

    Baca Juga : Kesehatan Mental di Masa Pandemi

    Tips Memperoleh Jiwa yang Sehat

    Di masa pandemi Covid-19, Sahabat Sehat perlu menjaga kesehatan fisik maupun jiwa agar sistem kekebalan tubuh tetap terjaga dengan baik. Sahabat Sehat dapat mencoba melakukan beberapa hal berikut untuk memperoleh kesehatan jiwa :

    • Jalin relasi dengan orang lain

    Dengan menjalin relasi dengan orang lain baik dalam keluarga, rekan kerja, sahabat, maupun mengikuti kegiatan komunitas. Sahabat Sehat dapat memperoleh keseimbangan dalam hidup melalui berkomunikasi dengan orang lain 

    • Olahraga

    Olahraga mampu mengurangi depresi dan gangguan cemas. Kondisi fisik yang baik dapat menjaga kesehatan mental, menjauhkan dari penggunaan alkohol dan obat terlarang, serta meningkatkan kualitas tidur.

    • Belajar bersyukur

    Sahabat Sehat sebaiknya mulai menuliskan jurnal atau buku harian dan uraikan 3 hal positif yang patut disyukuri setiap hari nya. Hal ini terbukti dapat menjaga kesehatan jiwa Sahabat Sehat dirumah.

    Baca Juga : Gejala Kesehatan Mental

    • Kenali kelebihanmu

    Dengan mengenali kelebihan dan talenta yang dimiliki, Sahabat Sehat dapat berkontribusi pada komunitas dan memberikan peran sesuai talenta yang dimiliki. Cara ini cukup efektif untuk menjaga jiwa dan mental Sahabat Sehat tetap baik. 

    • Bersedekah

    Selain mengamalkan perintah agama, bersedekah turut berdampak baik bagi kesehatan jiwa. Dengan bersedekah, Sahabat Sehat dapat berbagi dan meringankan beban orang lain. Selain itu, ikuti kegiatan amal maupun relawan dalam aktivitas sosial sehingga mengasah kemampuan sosial dan komunikasi dengan orang lain.

    • Mendekatkan diri secara spiritual

    Bagi sebagian orang, mendekatkan diri secara agama atau spiritual dapat menjadi salah satu cara untuk meredakan stress. Sahabat Sehat dapat melakukan meditasi, mengikuti kelas yoga dan Tai Chi, maupun mengikuti kegiatan keagamaan.

    Baca Juga : Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

    Kapan Perlu Mencari Penanganan Medis ?

    Jika Sahabat Sehat merasa kesulitan dalam mengendalikan emosi, menutup diri, kurang bergairah dalam menjalani kehidupan sosial, maupun muncul keinginan menyakiti diri sendiri maka sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter maupun psikolog profesional untuk melakukan konseling.

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai ciri beserta tips mendapatkan jiwa yang sehat. Jika Sahabat Sehat memiliki keluhan selama dirumah, segera manfaatkan layanan konsultasi Chat Dokter 24 Jam Prosehat. 

    Referensi :

    1. Ansori A. 8 Ciri Orang yang Sehat Jiwa [Internet]. Indonesia : Liputan 6. 2021 [updated 2021 April 08; cited 2021 July 05]. Available from : https://www.liputan6.com/health/read/4525522/8-ciri-orang-yang-sehat-jiwa
    2. Health Direct. Good mental health [Internet]. Australia : Health Direct. 2021[updated 2021 March; cited 2021 July 05]. Available from : https://www.healthdirect.gov.au/good-mental-health 
    Read More
  • Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi Apakah Sahabat Sehat akhir-akhir ini mudah merasa cemas atau panik ketika berada di luar rumah ? Waspadai, mungkin ini dampak akibat pandemi Covid-19 yang Sahabat Sehat tidak sadari. Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut perihal dampak Covid-19 secara psikologis serta cara mengatasinya. Dampak Psikologis Akibat Covid-19 Berdasarkan penelitian […]

    Kenali Dampak Covid-19 Secara Psikologis dan Cara Mengatasinya

    Ditulis oleh : dr. Monica Cynthia Dewi

    mental block, blok mental, hambatan mental

    Apakah Sahabat Sehat akhir-akhir ini mudah merasa cemas atau panik ketika berada di luar rumah ? Waspadai, mungkin ini dampak akibat pandemi Covid-19 yang Sahabat Sehat tidak sadari. Sahabat Sehat, mari simak penjelasan berikut perihal dampak Covid-19 secara psikologis serta cara mengatasinya.

    Dampak Psikologis Akibat Covid-19

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 1.600 orang subjek di 7 negara yang terdampak Covid-19 (Australia, China, Ekuador, Iran, Italia, Norwegia dan Amerika Serikat) menunjukan adanya kaitan antara stress dengan faktor pembatasan kegiatan sosial akibat Covid-19. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa sekitar 60-80% populasi sampel mengalami tingkat stress diatas normal. 

    Baca Juga : Stres Akibat Corona

    Dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rini Setyowati, M.Psi., Psikolog mengungkapkan bahwa dampak psikologis yang dapat dialami penderita Covid-19 meliputi perasaan tertekan, stres, cemas, serta gangguan perilaku obsesif kompulsif yang ditandai dengan melakukan tindakan secara berulang kali. 

    Aturan Pemerintah yang menghimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah, pembatasan kegiatan di tempat umum, serta ancaman pemutusan kerja, turut berdampak terhadap psikologis masyarakat sehingga mengalami kebosanan dan stress selama dirumah. Meski demikian, tidak dipungkiri masih banyak masyarakat yang kurang bijak dalam menyikapi kebijakan pemerintah dan tetap nekat berlibur maupun mudik. 

    Baca Juga : Kesehatan Mental di Masa Pandemi

    Bagaimana Cara Mengatasi Dampak Psikologis Akibat Covid-19 ?

    Rini Setyowati mengungkapkan perlu strategi adaptif yang dapat mengarahkan individu pada reaksi melindungi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga dapat mengatasi stres, cemas, gangguan obsesif kompulsif maupun permasalahan psikologis lainnya akibat dampak Covid-19.

    Untuk membantu mengatasi dampak psikologis akibat Covid-19, Sahabat Sehat sebaiknya melakukan beberapa hal berikut :

    • Istirahat yang cukup
    • Tetap menerapkan protokol 5 M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,  menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi.
    • Konsumsi buah, sayur, serta multivitamin untuk menjaga imunitas tubuh
    • Lakukan kebiasaan menutup mulut dan hidung ketika batuk maupun bersin, serta hindari menyentuh bagian wajah dengan tangan
    • Berolahraga secara rutin
    • Membatasi akses berita maupun konten terkait Covid-19, misalkan hanya sekali sehari atau dua hari sekali membaca berita terkait Covid-19.
    • Mengelola stress dengan baik
    • Meningkatkan komunikasi dengan keluarga atau sahabat dekat untuk mengeluarkan unek-unek.
    • Melakukan meditasi dan melatih pernapasan untuk membantu menenangkan diri
    • Mendekatkan diri secara agama

    Produk Terkait : Rapidtest Covid19

    Nah Sahabat Sehat, ingin mengetahui lebih lanjut mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap psikologis dan cara mengatasinya? Mari ikuti Workshop dan Webinar Dies Natalis Unika Atma Jaya ke 61 dengan tema “Tips Menghadapi Dinamika Covid-19 Dalam Dunia Sekolah, Kuliah, dan Kerja” dengan pembicara Dr. Yap Fu Lan, Debri Pristinella,S.Psi.,M.Si serta dr.Angela Shinta Dewi Amita,Sp.M. Acara ini Gratis ! Silakan daftar segera di : http://s.id/prosehat050621

    Jika Sahabat Sehat memerlukan pemeriksaan Covid-19, segera manfaatkan layanan Prosehat dan Klinik Kasih Prosehat. Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi :

    1. Universitas Sebelas Maret. Dampak Covid-19 Menurut Psikolog UNS [internet]. Indonesia : Universitas Sebelas Maret; 2020 [updated 2020 Mar 19; cited 2021 May 27]. Available from : https://uns.ac.id/id/uns-update/dampak-covid-19-menurut-psikolog-uns.html
    2. Passavanti M, Argentieri A, Barbieri D, et al. The psychological impact of COVID-19 and restrictive measures in the world. Journal of Affective Disorders. 2021; 283: 36–51
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Coping with Stress [internet]. Indonesia : Centers for Disease Control and Prevention; 2021 [updated 2021 Jan 22; cited 2021 May 25]. Available from : https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/managing-stress-anxiety.html
    Read More

Showing 1–10 of 30 results

Chat Asisten ProSehat aja