Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Berita Terkini

Showing 51–60 of 115 results

  • Melalui kanal YouTube Pemrov DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada hari Kamis, 4 Juni 2020 menyampaikan keputusan bahwa masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) DKI Jakarta kembali diperpanjang. Seperti Sobat ketahui, sebelumnya PSBB pertama kali dijalankan pada 10 April sampai 24 April 2020, lalu diperpanjang dari 24 April sampai 7 Mei dan diperpanjang […]

    PSBB DKI Jakarta Diperpanjang, Hadapi Masa Transisi

    Melalui kanal YouTube Pemrov DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada hari Kamis, 4 Juni 2020 menyampaikan keputusan bahwa masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) DKI Jakarta kembali diperpanjang.

    Seperti Sobat ketahui, sebelumnya PSBB pertama kali dijalankan pada 10 April sampai 24 April 2020, lalu diperpanjang dari 24 April sampai 7 Mei dan diperpanjang lagi hingga 22 Mei. Terakhir, Anies memperpanjang PSBB hingga 4 Juni. Mungkin Sobat bertanya-tanya sampai kapan PSBB akan berakhir?

    Baca Juga: Mengapa Terjadi Covid-19 di Perkantoran Saat PSBB Transisi?

    Dalam konferensi pers yang dilakukan pada hari ini (4 Juni 2020), Anies tidak menyebut secara pasti perihal tanggal, namun menetapkan bulan Juni sebagai masa transisi. “Saat ini statusnya tidak berubah, tetap PSBB, tapi kita mulai melakukan transisi di bulan Juni, menuju apa? Menuju aman, sehat, produktif,” lanjutnya.

    Anies mengatakan perpanjangan ini dilakukan karena masih ada wilayah memiliki angka kasus positif yang masih tinggi. Secara umum grafik penularan Covid-19 di Jakarta memang menurun. Namun, dari 2.741 RW, masih  ada 66 RW yang masih harus jadi perhatian karena angka penyebarannya cukup tinggi. Adapun persebaran RW yang masih dalam zona merah tersebut ialah wilayah Jakarta Barat ada 15 RW, Jakarta Pusat ada 15 RW, Jakarta Selatan ada 3 RW, Jakarta Utara 15 RW, Jakarta Timur 15 RW di Kepulauan Seribu ada di dua pulau.

    Baca Juga: Siapkan Diri Kembali Bekerja Setelah PSBB

    Dalam masa transisi ini, kegiatan sosial ekonomi sudah bisa dilakukan secara bertahap dan ada batasan yang harus ditaati. Tahapan jadwal pembukaan masa transisi dibagi menjadi 4 pekan. Pekan pertama adalah tanggal 5-7 Juni, pekan kedua dari 8-14 Juni, pekan ketiga berlangsung sejak 15-21 Juni dan pekan terakhir 22-28 Juni. Fase pertama dilakukan dengan melakukan pelonggaran HANYA atas kegiatan yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat, serta efek risiko yang terkendali.

    Prinsip Umum Masa Transisi
    – Warga sehat diperbolehkan berkegiatan di luar rumah.
    – Dilarang bepergian bagi warga tidak sehat/bugar.
    – Fasilitas/kegiatan hanya digunakan dengan maksimal 50% kapasitas.
    – Selalu gunakan masker jika berada di luar rumah (denda Rp. 250.000 bagi yang tidak mengenakan masker).
    – Jaga jarak aman 1 meter antar orang.
    – Cuci tangan dengan sabun secara rutin.
    – Menerapkan etika batuk, bersin dengan benar.
    – Untuk kegiatan-kegiatan tertentu, warga lanjut usia, ibu hamil dan anak-anak belum diperbolehkan.

    Inilah Protokol masa transisi PSBB Jakarta:

     

     

     

     

    Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Pemda DKI telah membuat roadmap untuk pembukaan fasilitas-fasilitas publik selama masa transisi tersebut. Ditegaskan oleh Anies, pada akhir Juni setelah fase ini berjalan, Pemprov DKI akan melakukan evaluasi jalannya masa transisi.

    Baca Juga: Sudah Tahukah Sobat, Apa itu The New Normal?

    Semoga pandemi ini segera berlalu ya Sobat, agar kita semua bisa beraktivitas kembali tanpa hambatan apapun. Tetap jaga kesehatan Sobat, dan bagi Sobat yang membutuhkan produk-produk maupun layanan kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Manfaatkan Layanan Chatbot ProSehat di Aplikasi PeduliLindungi

    Dalam keseharian kita yang tidak bisa lepas dari gadget, tentulah beragam aplikasi cukup memudahkan kebutuhan saat masa pandemi corona. Salah satu aplikasi kesehatan yang bisa Sobat manfaatkan adalah PeduliLindungi. Aplikasi ini merupakan hasil kolaborasi dari Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNB), serta operator telekomunikasi, yang berguna untuk menanggulangi dan mencegah pandemi virus corona.

    Dinkes DKI Gandeng Prosehat yang Didukung Botika Melalui Aplikasi Chatbot  Online untuk "Jakarta Tanggap Covid-19" | Botika | Answering Opportunity

    Aplikasi PeduliLindungi dapat memandu jarak dan mengidentifikasi individu suspect Covid-19. Selain itu, membantu setiap orang melakukan tracing (penelusuran), tracking (pelacakan), dan fencing (pengurungan) terhadap warga yang diduga mengidap Covid-19. Aplikasi tersebut mengandalkan partisipasi masyarakat untuk saling membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dapat dilakukan.

    Pengguna PeduliLindungi juga akan mendapatkan notifikasi jika berada di keramaian atau berada di zona merah, yaitu area atau kelurahan yang sudah terdata bahwa ada orang yang terinfeksi COVID-19 positif atau ada Pasien Dalam Pengawasan.

    Cara kerja PeduliLindungi menggunakan data yang diproduksi oleh gadget Sobat dengan bluetooth aktif untuk merekam informasi yang dibutuhkan. Aplikasi ini memudahkan Sobat yang beraktivitas di luar rumah untuk lebih waspada. Namun dengan catatan, seluruh masyarakat baik yang positif, sembuh, dalam pemantauan, maupun sehat, secara jujur memberikan informasi diri masing-masing. Pertukaran data akan terjadi ketika ada gawai lain dalam radius bluetooth atau sekitar 2-5 meter yang terdaftar di PeduliLindungi. Apabila terdeteksi ancaman virus dalam radius dekat, sistem akan menginformasikan ke si pengguna.

    Sobat juga dapat memaksimalkan aplikasi PeduliLindungi dengan layanan chatbot dari ProSehat. Pada bagian teledokter, akan muncul logo ProSehat yang jika Sobat tekan/klik, maka otomatis muncul tampilan chat dengan pilihan menu sebagai berikut:
    1. Skrining & Rapid Test Covid-19
    2. Info Penyakit, Cek Lab dan Imunisasi
    3. Direktori RS
    4. Konsultasi Chat (Dokter)
    5. Tebus Resep (CS)
    6. Pesan Obat Lain/Alat Kesehatan (CS)
    7. Layanan Ke Rumah & Drive Thru (CS)
    8. Tanya CS Tentang Pesanan (CS)

    Selanjutnya Sobat dapat memilih sesuai kebutuhan Anda masing-masing. Misalnya jika Sobat memerlukan informasi skrining atau rapid test, silakan mengetik angka 1. Atau bila Anda membutuhkan informasi penyakit, maka pilihannya ada pada nomor 2, dan seterusnya. Selanjutnya, chatbot asisten Maya akan otomatis menjawab pertanyaan atau layanan yang Sobat inginkan. Tentu lebih praktis dan sangat membantu bukan? Kemudahan seperti ini sungguh amat disayangkan jika tidak digunakan semaksimal mungkin. Sebab dengan peran aktif masyarakat untuk tetap #Dirumahaja, menggunakan aplikasi PeduliLindungi, sudah membantu pemerintah untuk menangani kondisi pandemi penyebaran virus corona saat ini. Salam sehat.

    Read More
  • Pandemi corona yang belum berlalu dari Indonesia masih menjadi pusat perhatian. Jakarta, sebagai ibu kota tentu berperan penting melawan virus Covid-19 tersebut. Salah satu gerakan yang dilakukan adalah JAKARTA TANGGAP COVID-19. Seksi Data & Informasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI turut berperan serta bersama ProSehat untuk melayani masyarakat dengan layanan chat wa (whatsapp), yang didukung oleh […]

    Prosehat Bekerja Sama dengan Dinkes DKI Didukung Botika untuk “Jakarta Tanggap Covid-19”

    Pandemi corona yang belum berlalu dari Indonesia masih menjadi pusat perhatian. Jakarta, sebagai ibu kota tentu berperan penting melawan virus Covid-19 tersebut. Salah satu gerakan yang dilakukan adalah JAKARTA TANGGAP COVID-19.

    Seksi Data & Informasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI turut berperan serta bersama ProSehat untuk melayani masyarakat dengan layanan chat wa (whatsapp), yang didukung oleh Botika. Seperti diketahui, ProSehat merupakan salah satu platform digital kesehatan di Indonesia, sedangkan Botika adalah perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan buatan anak negeri dan menghadirkan chatbot kesehatan.

    Baca Juga: Benarkah Golongan Darah A Lebih Rentan dengan Virus Corona?

    Masyarakat yang ingin mengakses chatbot dapat menghubungi nomor layanan wa 0813-883-76-955. Lewat layanan ini, ada beberapa manfaat yang dapat digunakan. Ketika pertama kali Anda mengakses wa tersebut, maka ada sejumlah pilihan yang ditawarkan yaitu:
    1. Skrining dan Rapid Test COVID-19
    2. Informasi Pemeriksaan Swab
    3. Info RS Rujukan
    4. Manajemen Pasien (Khusus Faskes dan Tenaga Kesehatan)
    5. Konsultasi Chat Dokter (ProSehat)
    6. Pertanyaan lainnya (Posko Dinkes DKI)

    Bagi Anda yang membutuhkan informasi seputar corona akan dilayani langsung oleh Tim Posko Dinas Kesehatan DKI, hingga saat ini sudah ribuan telepon yang masuk. Posko COVID-19 di command center beroperasi selama 24 jam, dengan pembagian tiga shift yang masing-masing diisi oleh enam petugas. Selain nomor kontak 112 dan 119, layanan nomor posko 0813-883-76-955 dapat dihubungi lewat telepon dan WhatsApp. Jadi, tak perlu khawatir, meski tengah malam Anda punya pertanyaan atau kebutuhan informasi mengenai COVID-19, tetap mendapat pelayanan.

    Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    Lalu, Anda pun bisa melakukan screening Covid-19, termasuk berkonsultasi pula dengan dokter secara langsung. Layanan chatbot pastinya lebih memudahkan pada era serba teknologi seperti saat ini. Masyarakat hanya tinggal mengetik wa (whatsapp), yang tentunya aplikasi ini sudah menjadi bagian keseharian kita.

    Untuk layanan chatbot dengan fitur screening corona, cara kerjanya dimulai dengan bot memberi pertanyaan umum terkait gejala corona. Kemudian setelah menjawab, Anda akan mendapatkan hasil screening tersebut dan diberi saran untuk hidup sehat serta isolasi mandiri. Selain itu, masyarakat dapat terhubung langsung dengan dokter melalui live chat atau one-on-one video call. Fitur ini memungkinkan para pengguna berkonsultasi langsung dengan dokter tanpa harus keluar rumah. Melalui chatbot, Anda juga dapat mengetahui lokasi rumah sakit rujukan terdekat melalui sharing location via whatsapp messenger.

    Nah, jangan lupa menyimpan nomor ini 0813-883-76-955 ya. Ayo kita lawan penyebaran virus corona dengan tetap waspada dan menjaga kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai konsultasi dengan dokter 24 jam,  silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Read More
  • Covid-19 yang telah mewabah selama beberapa bulan terakhir membuat pemerintah menganjurkan masyarakat untuk isolasi secara mandiri di rumah. Meskipun tak sedikit masyarakat yang menganggap remeh masa karantina ini, periode karantina diri di rumah sangatlah penting untuk mencegah penyebaran virus corona. Masa inkubasi COVID-19 adalah 2-14 hari, artinya orang yang terpapar virus corona akan menujukkan gejala […]

    7 Tips Hindari Stres Saat Karantina Diri di Rumah

    Covid-19 yang telah mewabah selama beberapa bulan terakhir membuat pemerintah menganjurkan masyarakat untuk isolasi secara mandiri di rumah. Meskipun tak sedikit masyarakat yang menganggap remeh masa karantina ini, periode karantina diri di rumah sangatlah penting untuk mencegah penyebaran virus corona. Masa inkubasi COVID-19 adalah 2-14 hari, artinya orang yang terpapar virus corona akan menujukkan gejala dalam periode ini1. Karantina diri di rumah selama 14 hari dapat membantu Sobat melindungi diri sendiri dan orang-orang sekitar. Tentunya bagi Sobat yang tidak terbiasa berdiam diri di rumah, hal ini dapat memicu stres dan mengundang depresi. Berikut 7 tips ampuh untuk menghindari stres bagi Sobat yang #DiRumahAja:

    1. Bersih-bersih rumah

    Membersihkan rumah dengan pembersih antiseptik harus dilakukan untuk menjaga rumah agar tetap higenis2. Jangan lupa membersihkan tempat dan barang-barang yang sering kita sentuh, seperti gagang pintu, handphone, keyboard laptop, saklar lampu, kunci rumah, dan masih banyak lagi. Karena Sobat akan menghabiskan banyak waktu di rumah,  rumah harus tetap bersih dan rapi. Clear space equals clear mind!

    1. Olahraga

    Merasa stres dan depresi karena terkurung di rumah? Mungkin ini saatnya untuk Sobat berolahraga! Olahraga dapat membuat tubuh sehat, meningkatkan imunitas, dan mencegah stres3. Tidak semua olahraga memerlukan tempat yang luas atau peralatan khusus. Sobat dapat melakukan olahraga sederhana di dalam rumah seperti yoga, pilates, dan HIIT (High-Intensity Interval Training).

    1. Relaksasi diri

    Stres yang diakibatkan social distancing dapat diredam dengan melakukan banyak aktivitas yang merilekskan badan seperti mandi air hangat, menulis jurnal, dan meditasi4. Jangan lupa untuk tetap memiliki waktu tidur yang cukup, yakni delapan jam sehari5. #DiRumahAja bukan berarti kamu bisa begadang nonton drama korea ya, Sobat!

    1. Mempelajari lebih dalam tentang virus corona

    Memperkaya diri dengan informasi mengenai virus corona dapat membantu Sobat mengerti lebih dalam mengenai virus ini. Hal tersebut penting untuk mencegah penyebaran hoaks mengenai virus corona lewat media sosial. Kalau sudah mengerti tentang virus corona, Sobat tidak akan tertipu dengan hoaks yang beredar di media sosial.

    1. Melakukan hobi

    Kapan terakhir kali kamu menekuni hobimu, Sobat? Selama di rumah, Sobat bisa kembali melakukan hobi yang sudah lama ditinggalkan, entah itu memasak, mencoba gaya make up baru, melukis, dll.

    1. Menghabiskan waktu dengan keluarga

    Sudah lama tidak memiliki quality time dengan keluarga? Ini adalah saat yang tepat untuk kembali mendekatkan diri bersama keluarga dengan cara makan malam sederhana di rumah, bermain board game dan card game seperti monopoly, ular tangga, hingga capsa dapat dilakukan untuk menghabiskan waktu di rumah dengan keluarga.

    1. Beramal

    #DiRumahAja bukan berarti kita tidak bisa ikut membantu memerangi COVID-19. Jika Sobat tergerak, Sobat bisa mengirimkan donasi lewat berbagai situs donasi online yang menggalang dana untuk membantu penyediaan APD (Alat Pelindung Diri) bagi para petugas medis hingga membantu ekonomi masyarakat yang terdampak corona. Selain itu, Sobat juga dapat menebarkan semangat untuk pasien dan petugas medis lewat media sosial. Dengan begitu, Sobat telah membantu masyarakat dalam menghadapi pandemi ini.

    Banyak aktivitas yang dapat dilakukan untuk mencegah stres di rumah selama masa karantina diri berlangsung. Mari kita mendukung pencegahan penyebaran virus corona dengan menerapkan social distancing dengan patuh. Yuk, #DiRumahAja !

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Lauer, S., Grantz, K., Bi, Q., Jones, F., Zheng, Q., & Meredith, H. et al. (2020). The Incubation Period of Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) From Publicly Reported Confirmed Cases: Estimation and Application. Annals Of Internal Medicine. doi: 10.7326/m20-0504
    2. Cascella M, Rajnik M, Cuomo A, et al. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19) [Updated 2020 Mar 8]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020 Jan-. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554776/
    3. Gradari, S., Pallé, A., McGreevy, K., Fontán-Lozano, Á., & Trejo, J. (2016). Can Exercise Make You Smarter, Happier, and Have More Neurons? A Hormetic Perspective. Frontiers In Neuroscience10. doi: 10.3389/fnins.2016.00093
    4. Wang, X., Smith, C., Ashley, L., & Hyland, M. (2019). Tailoring Self-Help Mindfulness and Relaxation Techniques for Stroke Survivors: Examining Preferences, Feasibility and Acceptability. Frontiers In Psychology10. doi: 10.3389/fpsyg.2019.00391
    5. Chaput, J., Dutil, C., & Sampasa-Kanyinga, H. (2018). Sleeping hours: what is the ideal number and how does age impact this?. Nature And Science Of SleepVolume 10, 421-430. doi: 10.2147/nss.s163071
    Read More
  • Tahukah Sobat bahwa tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengembangkan penelitian terkait kandidat senyawa yang dapat mencegah virus corona, salah satunya bisa didapatkan dari jambu biji. Metode penelitian bioinformatikan ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, dengan total basis […]

    Jambu Biji Diteliti untuk Mencegah Virus Corona

    Tahukah Sobat bahwa tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengembangkan penelitian terkait kandidat senyawa yang dapat mencegah virus corona, salah satunya bisa didapatkan dari jambu biji. Metode penelitian bioinformatikan ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, dengan total basis data sebanyak 1.377 senyawa herbal. Senyawa-senyawa ini akan dipetakan sesuai struktur dan ligand kemudian hasilnya dikonfirmasi dengan penelitian molekuler untuk mengevaluasi aktivitas antivirusnya.

    Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, diperoleh beberapa golongan senyawa yang berpotensi untuk menghambat dan mencegah ikatan protein virus SARS-CoV-2 ke reseptor tubuh manusia. Golongan senyawa yang didapatkan dan diprediksi dapat menjadi antivirus adalah hesperidia, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin. Senyawa ini dapat ditemukan dalam jambu biji, daun kelor, madu, dan kulit jeruk. Pada buah jambu, senyawa yang disebutkan tersebut dapat ditemukan pada bagian daun dan kulit batangnya. Penelitian ini memang sedang dipersiapkan untuk publikasi internasional. Namun, prosesnya masih panjang karena membutuhkan percobaan lanjutan dan akses untuk melakukan uji preklinik, uji klinik, uji pada binatang, kemudian pada manusia.

    Psidium guajava atau yang dikenal sebagai jambu biji adalah buah yang mudah ditemukan sehari-hari terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Jambu adalah buah yang bisa dikonsumsi dengan mudah, baik dimakan langsung atau dibuat jus. Kulit buah jambu mengandung banyak vitamin A, C, besi, fosfor, kalsium, dan mineral lainnya, buah ini juga mengandung banyak konten metabolit organik maupun inorganik yang bersifat sebagai antioksidan, antibakterial, antijamur, antivirus, dan anti peradangan. Jambu dapat mengendalikan infeksi virus, salah satunya adalah virus influenza, hal ini terjadi karena ekstrak buah jambu dapat menahan replikasi virus dengan mendegradasi protein. Buah ini memang banyak khasiatnya sehingga sering digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk diare, disentri, hipertensi, diabetes, pereda nyeri, batuk, dan pilek.

    Kandungan vitamin C dalam buah jambu ternyata hampir empat kali lebih banyak dibandingkan buah jeruk. Dalam setiap 100 gram buah jambu mengandung 228 mg vitamin C, sedangkan dalam 100 gram buah jeruk hanya mengandung 53 mg vitamin C. Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang sudah terbukti bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian orang dewasa adalah 100-200 mg/hari.

    Sejauh ini tidak ditemukan efek samping yang berbahaya dari mengonsumsi buah jambu atau suplemen daun buah jambu yang beredar di pasaran. Namun, disarankan bagi ibu hamil atau ibu yang sedang menyusui, serta orang-orang yang mengonsumsi obat-obatan rutin untuk tetap konsultasi ke dokter sebelum menggunakan suplemen untuk memastikan tidak ada interaksi antar obat ataupun efek samping lain yang tidak diinginkan.

    Buah jambu sudah lama digunakan sebagai pengobatan tradisional berbagai macam penyakit di berbagai negara. Terdapat beragam penelitian terdahulu yang membuktikan efektivitas buah jambu untuk meningkatkan kesehatan. Saat ini sedang dikembangkan penelitian di dalam negeri untuk menilai kandungan buah jambu biji sebagai antivirus corona. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan temuan-temuan ini. Pastikan untuk tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan virus ini, seperti rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta segera memeriksakan diri ke dokter bila terdapat gejala.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA 

    1. Ayu W. Tim FK UI dan IPB Temukan Kandidat Pencegah Virus Corona [Internet]. Universitas Indonesia. 2020. Available from: ui.ac.id/tim-fk-ui-dan-ipb-temukan-kandidat-pencegah-virus-corona/
    2. Riset UI-IPB: Jambu Biji Diprediksi Bisa Mencegah Corona [Internet]. Available from: cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200324091059-255-486316/riset-ui-ipb-jambu-biji-diprediksi-bisa-mencegah-corona
    3. Naseer S, Hussain S, Naeem N, Pervaiz M, Rahman M. The phytochemistry and medicinal value of Psidium guajava (guava). Clinical Phytoscience. 2018 Dec 12;4(1):32.
    4. Health benefits of guava: How to use it, nutrition, and risks [Internet].. Available from: medicalnewstoday.com/articles/324758
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    Read More
  • Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri […]

    Benarkah Vitamin C dan E Tingkatkan Antibodi untuk Mencegah Corona?

    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan. Namun, pada penderita yang memiliki gangguan sistem imun dan penyakit lain yang mendasari, infeksi virus ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan yang lebih berat.

    Belakangan ini informasi seputar konsumsi vitamin C dan E untuk meningkatkan antibodi sudah sering Sobat dengar bukan? Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh yang dapat membantu melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, dikenal juga sebagai antigen, seperti virus ataupun bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Bila ada antigen yang masuk ke dalam tubuh, sel imun akan mengenali dan melakukan serangkaian proses biokimia untuk memproduksi antibodi. Antibodi yang diproduksi ini akan spesifik untuk melawan antigen jenis tersebut, sehingga antigen dapat dihancurkan dan dikeluarkan dari tubuh. Saat pertama kali seseorang terpapar dengan antigen, sistem imun tubuh membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk membentuk antibodi yang spesifik guna melawan penyakit. Setelah infeksi teratasi, maka tubuh dapat mengingat jenis antigen yang sudah pernah menyerang tubuh ini. Sehingga bila berikutnya tubuh terpapar terhadap antigen yang sama, proteksi antibodi akan menjadi lebih cepat.

    Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian adalah 100-200 mg/hari. Konsumsi vitamin C menjadi populer sejak tahun 1970, saat Linus Pauling seorang penerima Hadiah Nobel merekomendasikannya untuk mencegah batuk pilek biasa yang dikenal juga sebagai common cold. Namun, hasil dari berbagai penelitian sampai saat ini masih tidak konsisten dan sering menimbulkan kontroversi. Memang terdapat beberapa penelitian yang mengatakan dengan mengonsumsi vitamin C saat dilanda common cold dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala yang dialami, hal ini diduga karena adanya efek antihistamin pada vitamin C dosis tinggi. Konsumsi vitamin C tidak dapat mencegah common cold pada populasi umum. Namun, konsumsi vitamin C sebanyak 250 mg/hari dapat menurunkan 50% kejadian common cold pada orang yang melakukan aktivitas fisik ekstrim seperti pelari marathon atau tentara. Vitamin C cenderung aman untuk dikonsumsi asalkan sesuai dengan dosis yang dianjurkan, bila lebih dari 1000 mg, vitamin C meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan diare berat.

    Selain dapat membantu untuk menjaga kesehatan kulit dan mata, vitamin E juga merupakan senyawa yang larut dalam lemak dan bersifat sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan penyakit. Kebutuhan harian vitamin E adalah 15 mg/hari (22.4 IU). Terdapat penelitian yang mengatakan pemberian vitamin E 200 mg/hari dapat menurunkan angka kejadian dan memperpendek durasi common cold. Konsumsi vitamin E diatas 400 IU setiap harinya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung. Selain itu, penggunaan suplemen vitamin E juga tidak disarankan untuk ibu yang sedang hamil karena meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung bawaan.

    Vitamin C dan E dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sumber vitamin bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan. Vitamin C bisa didapatkan dari buah dan sayuran seperti jeruk, lemon, strawberi, kiwi, brokoli, dan tomat. Vitamin E bisa didapatkan dari kacang-kacangan, sayuran, dan minyak sayur seperti minyak jagung dan olive oil. Pada kelompok yang berisiko terhadap kekurangan vitamin, ataupun lansia, pemberian suplemen dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar dapat mengoptimalkan kerja sistem imun.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Cascella M, Rajnik M, Cuomo A, Dulebohn SC, Di Napoli R. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554776/
    2. Murin CD, Wilson IA, Ward AB. Antibody responses to viral infections: a structural perspective across three different enveloped viruses. Nat Microbiol. 2019;4(5):734–47.
    3. Wuhan novel coronavirus: epidemiology, virology and clinical features [Internet]. GOV.UK. Available from: gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-background-information/wuhan-novel-coronavirus-epidemiology-virology-and-clinical-features
    4. Writers S. How Vaccines Work [Internet]. PublicHealth.org. 2019. Available from: publichealth.org/public-awareness/understanding-vaccines/vaccines-work/
    5. Carr AC, Maggini S. Vitamin C and Immune Function. Nutrients. 2017 Nov 3;9(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5707683/
    6. Lee GY, Han SN. The Role of Vitamin E in Immunity. Nutrients [Internet]. 2018 Nov 1];10(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6266234/
    7. Lewis ED, Meydani SN, Wu D. Regulatory role of vitamin E in the immune system and inflammation. IUBMB Life. 2019;71(4):487–94.
    Read More
  • ProSehat, startup kesehatan Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bidang komunikasi, informasi, dan edukasi untuk mewujudkan penyebaran informasi dan mengedukasi masyarakat dalam menghadapi Corona Virus Disease atau COVID-19. ProSehat, tergabung sebagai salah satu anggota ATENSI (Aliansi Telemedika Indonesia) terus berperan aktif dalam melakukan penyebaran informasi dan edukasi melalui platform asisten kesehatan maya […]

    Hadapi COVID-19, ProSehat dan ATENSI Jalin Kerja Sama dengan Kemenkes RI

    ProSehat, startup kesehatan Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bidang komunikasi, informasi, dan edukasi untuk mewujudkan penyebaran informasi dan mengedukasi masyarakat dalam menghadapi Corona Virus Disease atau COVID-19. ProSehat, tergabung sebagai salah satu anggota ATENSI (Aliansi Telemedika Indonesia) terus berperan aktif dalam melakukan penyebaran informasi dan edukasi melalui platform asisten kesehatan maya (virtual health assistant) yang dikembang oleh ProSehat pada kanal Whatsapp dan kanal media lainnya yang dikelola oleh ProSehat.

    ATENSI merupakan organisasi dalam menaungi berbagai individu, institusi dan perusahaan swasta untuk mengembangkan pelayanan telemedik di Indonesia. Bersama-sama dengan ATENSI dan 11 startup lainnya, ProSehat memberikan dukungan pemerintah RI menghadapi situasi COVID-19, utamanya melalui pemanfaatan teknologi telemedisin.

    ATENSI menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Kamis (19/02/20). Kerja sama yang dijalin merupakan salah satu program kebijakan sosial sebagai bentuk kepedulian ATENSI terhadap masyarakat. Tujuan kerja sama dalam bidang komunikasi, informasi, dan edukasi tersebut untuk mewujudkan penyebaran informasi dan mengedukasi masyarakat dalam menghadapi COVID19.

    “Perjanjian kerja sama ini mengukuhkan kebersamaan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha khususnya yang bergerak di bidang telemedik di Indonesia dalam menanggulangi pandemi COVID-19,” ujar ketua ATENSI Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, Ph.D.

    Ada dua belas perusahaan kesehatan digital yang sudah memberikan surat kuasa kepada ATENSI untuk turut membantu menanggulangi COVID-19. Perusahaan tersebut terdiri dari ProSehat, DokterSehat, Alodokter, Halodoc, SehatQ, Klikdokter, Good Doctor Technology Indonesia, Link MedisSehat, Klinikgo, Perawatku.id, Aveeno, dan Docquity.

    Ruang lingkup kerja sama yang diatur dalam perjanjian ini yaitu penyediaan informasi dan edukasi terkait COVID-19, pemanfaatan informasi, serta pemanfaatan infrastruktur komunikasi yang mendukung penyediaan informasi dan edukasi.

    Langkah ATENSI dalam penanggulangan wabah COVID-19 yaitu dengan memberi edukasi tentang COVID-19 yang selaras dengan strategi Pemerintah Indonesia, khususnya dalam bidang promotif dan preventif. Beberapa di antaranya seperti cara cuci tangan yang benar, etika batuk, hingga penerapan social distancing. ATENSI juga membantu pemerintah dalam memberikan informasi COVID-19 yang benar, sehingga tidak ada informasi kesehatan yang palsu/hoax untuk mengurangi kepanikan masyarakat Indonesia.

    Pemberian informasi alternatif mengenai cara menjaga kesehatan, karantina mandiri (selfquarantine), hingga nasihat kesehatan pun akan diberikan sesuai kewenangan yang dimiliki oleh tim dokter ATENSI. Cara ini diharapkan akan membantu fasilitas kesehatan untuk lebih fokus terhadap penanganan pasien positif COVID-19.

    Langkah lain yang dilakukan ATENSI bersama dengan ProSehat dan startup kesehatan lainnya untuk membantu masyarakat Indonesia menghadapi COVID-19 yaitu dengan cara menghubungkan seseorang yang merasa kurang sehat ke fasilitas kesehatan terdekat maupun rumah sakit rujukan sesuai dengan protokol resmi pemerintah. “Mudah-mudahan dengan saling bekerja sama, kita bisa mengatasi wabah COVID-19, sehingga Indonesia bisa pulih seperti sediakala,” tandas Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, Ph.D.

    ProSehat bersama-sama dengan ATENSI dan 11 startup kesehatan lainnya memberikan bantuan kepada masyarakat Indonesia dalam menghadapi COVID-19 ini dengan mengkomunikasikan, menyampaikan informasi yang benar dan mengedukasi masyarakat di tengah-tengah situasi COVID-19. Sahabat ProSehat dapat mengakses informasi dan edukasi COVID-19 ini melalui chatbot ProSehat di Whatsapp nomor 0811 15 12 800 dengan menyapa asisten kesehatan Maya. Sapa Maya dengan “Hi” dan Sahabat akan dipandu untuk melakukan skrining COVID-19 dan akses informasi lengkap terkait COVID-19.

    Sahabat ProSehat dapat mengakses informasi dan edukasi COVID-19 ini melalui Chatbot ProSehat di Whatsapp nomor 0811-1816-800 dengan menyapa asisten kesehatan Maya. Sapa Maya dengan “Hi” dan Sahabat akan dipandu untuk melakukan skrining COVID-19 dan akses informasi lengkap lain terkait COVID-19.

    Read More
  • Jumlah penderita virus corona makin hari makin bertambah, di Indonesia sendiri jumlah penderita mencapai 514 orang (23/3/2020) dan memakan korban jiwa mencapai 48 jiwa1. Angka ini diprediksi akan terus meningkat jika tidak ditangani dengan segera. Deteksi secara dini dianggap sebagai metode paling ampuh dalam upaya menurunkan angka kematian corona. Deteksi dini diawali dengan mengetahui tanda […]

    Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    Jumlah penderita virus corona makin hari makin bertambah, di Indonesia sendiri jumlah penderita mencapai 514 orang (23/3/2020) dan memakan korban jiwa mencapai 48 jiwa1. Angka ini diprediksi akan terus meningkat jika tidak ditangani dengan segera. Deteksi secara dini dianggap sebagai metode paling ampuh dalam upaya menurunkan angka kematian corona.

    Deteksi dini diawali dengan mengetahui tanda dan gejala dari virus tersebut. Secara umum, virus corona memiliki gejala demam, batuk dan kesulitan bernafas yang dapat berlangsung hingga 14 hari. Jika diteliti lebih lanjut, gejala corona akan berbeda dari hari ke hari, simak penjelasan berikut:

    Hari ke-1

    Pada hari pertama, penderita corona akan muncul gejala berupa nyeri sendi, lemah badan, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang, gejala virus corona berbeda tergantung usia dan jenis kelamin individu. Pada wanita usia 40 tahun gejala umumnya demam yang tidak terlalu tinggi. Sedangkan pada wanita usia usia 70 tahun, gejala demam lebih tinggi mencapai 38 derajat. Pada laki-laki usia 40 tahun, gejala yang timbul antara lain kelelahan, berkeringat, panas dingin dan nyeri otot. Sedangkan pada laki-laki usia 70 tahun demam dan nyeri tenggorokan2. Pada kasus yang lebih jarang akan muncul gejala pencernaan seperti mual, muntah dan diare

    Hari ke 4-5

    Pada saat ini gejala demam, batuk yang bersifat kering lebih dominan. Batuk yang timbul umumnya batuk kering sebanyak 68% kasus. Pada 33% kasus batuk yang timbul batuk berdahak. Demam semakin tinggi mencapai 39 derajat. Pada pasien usia tua dapat muncul gejala sesak nafas

    Hari ke 6-7

    Gejala pneumonia akan semakin jelas. Biasanya pasien akan mulai mencari pertolongan ke rumah sakit pada masa–masa ini. Sedangkan pada pasien yang sudah mendapat pertolongan dari awal, pada hari ke-7 akan mengalami perbaikan

    Hari ke 8

    Bila gejala belum mengalami perbaikan pada hari sebelumnya, di hari ke-8 pada 15% pasien akan mengalami gangguan pernafasan. Pada pemeriksaan radiologi tampak adanya penumpukan cairan pada paru-paru. Pada tahap ini, alat bantu pernafasan sangat diperlukan

    Hari ke 10

    Pada pasien yang dapat melewati hari sebelumnya, di hari ke-10 umumnya sudah menimbulkan perbaikan gejala yang ditandai dengan berkurangnya rasa sesak dan demam yang sudah turun. Sebaliknya pada pasien yang memiliki risiko tinggi seperti lansia, pasien dengan penyakit penyerta seperti jantung, asma, diabetes, gagal ginjal serta pasien dengan obesitas5 pada hari-hari ini dapat terjadi perburukan. Hal ini disebabkan penyebaran virus secara menyeluruh dalam tubuh yang menyebabkan terjadi infeksi sekunder dan menimbulkan kondisi sepsis.

    Bila berlanjut akan menimbulkan kematian.

    Hari ke 14

    Jika pasien sudah dapat memasuki saat ini, umumnya pasien sudah dapat dinyatakan sembuh. Meskipun demikian, penderita korona ini tetap harus isolasi secara mandiri selama dua minggu lagi di rumah karena meskipun sudah tidak ada gejala namun tetap dapat menjadi sumber transmisi bagi orang lain.

    Meskipun penyakit ini pada awalnya mirip seperti flu biasa namun virus corona memiliki kekhasan tersendiri, yaitu berkaitan dengan perkembangan gejala dari waktu ke waktu. Pada flu atau pneumonia biasa, gejala akan membaik dalam minggu awal. Sebaliknya pada virus corona, gejala akan mengalami perburukan dari waktu ke waktu. Namun Sobat tidak perlu khawatir. Lakukan tindakan pencegahan dengan selalu cuci tangan, makan makanan bergizi, olahraga, istirahat yang cukup dan yang paling utama segera periksakan diri ke dokter bila menemukan gejala di atas.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (COVID-19) 22 Maret 2020 » Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI [Internet]. Info Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. 2020 [cited 23 March 2020]. Available from: https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/info-corona-virus/situasi-terkini-perkembangan-coronavirus-disease-covid-19-22-maret-2020/
    2. [Internet]. 2020 [cited 23 March 2020]. Available from: https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-symptoms/
    3. [Internet]. Ecdc.europa.eu. 2020 [cited 23 March 2020]. Available from: https://www.ecdc.europa.eu/sites/default/files/documents/RRA-sixth-update-Outbreak-of-novel-coronavirus-disease-2019-COVID-19.pdf
    4. [Internet]. Who.int. 2020 [cited 24 March 2020]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/clinical-management-of-novel-cov.pdf
    5. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 24 March 2020]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/people-at-higher-risk.html
    6. Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study – Chen et al, The Lancet, January 30, 2020
    7. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (COVID-19). Indonesia: Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    8. Clinical Characteristics of 138 Hospitalized Patients With 2019 Novel Coronavirus–Infected Pneumonia in Wuhan, China – JAMA, Wang et al., February 7, 2020
    Read More
  • Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona. Penyebaran infeksi virus corona di […]

    Kenali Apa dan Bagaimana Rapid Test Corona

    Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona.

    Penyebaran infeksi virus corona di dunia sangatlah cepat dan sudah menjadi masalah dunia atau pandemi. Menurut data yang diambil dari WHO (World Health Organization), per tanggal 23 Maret 2020 telah tercatat kasus positif corona sebanyak 294.110 kasus, dengan kasus kematian yang disebabkan karena infeksi virus corona sebanyak 12.944 kasus yang tersebar di 186 negara di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah terdeteksi sebanyak 579 kasus positif COVID-19, dengan kasus yang meninggal sebanyak 49 kasus dan kasus sembuh sebanyak 30 kasus.

    Tingginya kasus COVID-19 terurtama di Indonesia, membuat pemerintah menggalakkan salah satu upaya pendeteksi dini yang disebut rapid test corona. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan rapid test dan apakah efektif untuk mendeteksi corona ?

    Rapid test merupakan salah satu cara atau pemeriksaan yang dapat dilakukan secara cepat untuk melihat suatu adanya infeksi di dalam tubuh manusia. Pada kasus ini, rapid test corona berarti alat yang digunakan sebagai pendeteksi diri secara cepat adanya infeksi corona di dalam tubuh seseorang. Pada kasus corona, cara kerja rapid test menggunakan metode pemeriksaan kadar antibodi (sistem imun tubuh) terhadap infeksi penyakit, dalam hal ini adalah IgM dan IgG yang diambil dari sampel darah.

    IgM atau immunoglobulin M dan IgG adalah immunoglobulin G, yang keduanya merupakan bentuk antibodi atau sistem imun yang ada di dalam tubuh, yang terbentuk apabila tubuh terjadi infeksi. Selain itu, IgG bertugas sebagai sel memori yang dapat mengingat infeksi bakteri yang pernah masuk sebelumnya. Sedangkan antibodi IgM merupakan pertanda bahwa kita sedang terinfeksi virus tertentu. Intinya, saat kita terinfeksi, IgM yang paling awal naik kemudian lambat laun akan menurun dan digantikan dengan IgG. Karena rapid test merupakan test secara kasar saja, apabila hasilnya positif, maka diperlukan pemeriksaan lebih spesifik yang dilakukan di laboratorium yang ditunjuk, yaitu pemeriksaan swap tenggorokan dan swap hidung. Namun, apabila hasilnya negatif, jangan berbesar hati terlebih dahulu, dalam test ini bisa saja terjadi false negative (artinya, seseorang sedang terinfeksi namun belum terdeteksi di dalam darah), sehingga tidak menutup kemungkinan masih dapat menularkan virus ke orang lain.

    Lalu, siapa saja yag memerlukan rapid test? Bapak Presiden RI, Joko Widodo menyarankan untuk melakukan rapid test masal bagi seluruh warga Indonesia. Namun, karena alat rapid test masih terbatas, maka yang didahulukan adalah para tenaga medis, pasien dengan gejala khas (demam, batuk, pilek dan sesak napas), adanya paparan atau kontak dengan para penderita yang telah di diagnosis COVID-19 atau mempunyai riwayat perjalanan ke luar negeri atau kontak dengan seseorang yang baru pulang dari luar negeri.

    Saat rapid test, pasien ditusuk dengan jarum pada salah satu jari tangannya kemudian diteteskan ke papan rapid test, lalu ditambahkan tetesan reagen kemudian ditunggu selama beberapa menit, lalu akan timbul garis. Pemeriksaannya terbilang sangat cepat dan mudah sehingga dapat dijadikan sebagai tes penyaring untuk mendeteksi infeksi virus corona namun bukan pemeriksaan acuan atau pegangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Menurut beberapa peneliti, rapid test menjadi kurang efektif bagi pasien dengan penyakit immunocompromized (gangguan penurunan sistem imun akibat penyakit kronis) seperti HIV karena kekebalan tubuhnya sedang mengalami gangguan. Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    DAFTAR PUSTAKA

    1. arcgis.com. 2020. Experience. [online] Available at: <https://experience.arcgis.com/experience/685d0ace521648f8a5beeeee1b9125cd> [Accessed 23 March 2020].
    2. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). [online] Available at: <https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/testing-laboratories.html> [Accessed 23 March 2020].
    3. Confirm BioSciences. 2020. Coronavirus (COVID-19) Instant Test Kit | Confirm Biosciences. [online] Available at: <https://www.confirmbiosciences.com/covid19-instant-coronavirus-test-kit/> [Accessed 23 March 2020].
    4. European Centre for Disease Prevention and Control. 2020. Rapid Risk Assessment: Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic: Increased Transmission In The EU/EEA And The UK – Sixth Update. [online] Available at: <https://www.ecdc.europa.eu/en/publications-data/rapid-risk-assessment-novel-coronavirus-disease-2019-covid-19-pandemic-increased> [Accessed 23 March 2020].
    5. Rodriguez, A., O’Donnell, J. and Alltucker, K., 2020. How Can I Get Tested For Coronavirus? What You Should Know About Test Kits. [online] Usatoday.com. Available at: <https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/03/06/coronavirus-test-kit-how-can-get-tested-us-covid-19-virus/4973697002/> [Accessed 23 March 2020].
    Read More
  • Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah […]

    Kenali Avigan dan Klorokuin, Obat yang Disiapkan Jokowi untuk COVID-19

    Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah Avigan dan Kloroquin? Bagaimana cara kedua obat tersebut dapat melawan virus corona?

    Favipiravir (Avigan)

    Avigan merupakan nama dagang dari Favipiravir (T-705), yaitu suatu agen anti-viral yang ditemukan di Laboratorium Penelitian Toyama Chemical Co., Ltd. Pada saat itu, Favipiravir digunakan sebagai obat anti-viral terhadap virus Influenza yang merupakan virus RNA. Selain itu, Favipiravir juga menunjukkan aktivitas anti-viralnya terhadap virus RNA lainnya seperti flavivirus, alphavirus, filovirus, bunyavirus, arenavirus, dan norovirus.4,5

    Favipiravir bekerja dengan menghambat replikasi virus. Mekanisme ini termasuk unik untuk suatu obat anti-viral karena pada umumnya hanya menghambat proses masuk (entry) atau penyebaran (release) virus dari sel. Proses ini awalnya dimulai dengan Favipiravir masuk ke dalam sel yang terinfeksi virus. Enzim dalam sel tersebut akan mengaktivasi Favipiravir menjadi bentuk aktifnya yaitu Favipiravir-RTP yang dianggap sebagai substrat oleh virus sehingga masuk ke rantai RNA virus lalu menghambat pemanjangan rantai RNA virus yang mengakitbatkan terhentinya proses replikasi dari virus pada sel tersebut.4 Dengan dasar tersebut dan fakta bahwa COVID-19 merupakan virus RNA, maka Favipiravir  diduga memiliki potensial sebagai anti-viral untuk COVID-19. Namun terdapat juga efek samping dari obat ini berupa teratogenik dan embriotoksik yang berarti dapat mengganggu perkembangan dan bersifat racun untuk janin pada ibu hamil.4 Saat ini telah didapatkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral terhadap COVID-19. Sebuah penelitian terhadap 80 pasien juga menunjukkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral yang lebih poten dibandingkan dengan Iopinavir/Ritopinavir terhadap COVID-19. Meski demikian, penemuan tersebut masih dalam tahap penelitian lebih lanjut.5,6

    Kloroquin

    Obat ini mungkin pernah terdengar familiar bagi Sobat? Ini karena Kloroquin telah digunakan sebagai obat anti malaria lebih dari 70 tahun. Selain itu kloroquin juga digunakan sebagai obat autoimun, dan juga dapat digunakan sebagai anti-viral spektrum luas sejak 2006.5,6 Kloroquin termasuk dalam pedoman pengobatan COVID-19 di Cina dan juga CDC.5,7

    Peran Kloroquin dalam tubuh adalah mem-block infeksi dari COVID-19 pada konsentrasi mikromolar-rendah. Kloroquin bekerja dengan cara mengganggu proses fusi virus/sel (dengan meningkatkan pH endosom) dan mengganggu (proses glikosilasi) reseptor selular virus corona. Ditemukan bahwa Kloroquin bekerja pada stadium entry dan post entry dari COVID-19. Selain itu, Kloroquin juga memiliki efek meningkatkan imun yang dapat membantu dalam melawan infeksi virus. Obat ini tersebar dengan mudah ke seluruh jaringan tubuh, termasuk paru.6,8 Pemberian Kloroquin harus dengan dosis dan anjuran yang tepat karena terdapat beberapa efek samping seperti mual, muntah, diare, nyeri perut hingga keracunan Kloroquin yang menyebabkan kerusakan pigmen epitel retina, gangguan jantung, dan kerusakan saraf.9,10,11

    Dari hasil penelitian terkini, telah didapatkan bahwa Favipiravir dan Kloroquin dapat melawan infeksi COVID-19. Favipiravir dan Kloroquin memiliki mekanisme anti-viral yang berbeda. Favipiravir menghambat replikasi virus dalam sel, sedangkan Kloroquin menghambat masuknya virus ke dalam sel. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk kedua obat tersebut. Pastikan untuk tidak membeli dan menggunakan kedua obat tersebut tanpa anjuran atau instruksi dari dokter. Jika Sobat mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, sesak napas, dan berkunjung atau terpapar seseorang yang berkunjung pada negara risiko tinggi, segeralah periksakan diri Sobat ke dokter atau hubungi call center krisis virus corona 119 ext 9.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
    2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html
    3. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    4. FURUTA Y, KOMENO T, NAKAMURA T. Favipiravir (T-705), a broad spectrum inhibitor of viral RNA polymerase. Proceedings of the Japan Academy, Series B. 2017;93(7):449-463.
    5. Dong L, Hu S, Gao J. Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19). Drug Discoveries & Therapeutics. 2020;14(1):58-60.
    6. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M et al. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020;30(3):269-271.
    7. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html
    8. Cortegiani A, Ingoglia G, Ippolito M, Giarratano A, Einav S. A systematic review on the efficacy and safety of chloroquine for the treatment of COVID-19. Journal of Critical Care. 2020;.
    9. Chloroquine and Hydroxychloroquine : Side Effects of Medications : The Eyes Have It [Internet]. Kellogg.umich.edu. 2020.Available from: http://kellogg.umich.edu/theeyeshaveit/medica/chloroquine-hydorxychloroquine.html
    10. DeMott M, Young M, Williams S, Clark R. Overdose of Cardiotoxic Drugs. Cardiac Intensive Care. 2010;:427-442.
    11. Cavaletti G. Toxic and Drug-Induced Neuropathies. Neurobiology of Disease. 2007;:871-883.
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja