Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 41–50 of 909 results

  • Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum dapat diprediksi kapan berakhirnya kemudian membuat sebuah fenomena long Covid atau Covid berkepanjangan berdasarkan laporan WHO pada 9 September 2020. Long Covid adalah istilah untuk gejala-gejala yang dialami pasien pasca-infeksi Covid-19. Keluhan yang terjadi biasanya berupa mild symtomps atau gejala ringan, dan rata-rata mengalami gejala lebih dari 3 minggu […]

    Fenomena Long Covid, Gejala yang Menyerang Eks-Pasien Covid-19

    Pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum dapat diprediksi kapan berakhirnya kemudian membuat sebuah fenomena long Covid atau Covid berkepanjangan berdasarkan laporan WHO pada 9 September 2020. Long Covid adalah istilah untuk gejala-gejala yang dialami pasien pasca-infeksi Covid-19. Keluhan yang terjadi biasanya berupa mild symtomps atau gejala ringan, dan rata-rata mengalami gejala lebih dari 3 minggu bahkan berbulan-bulan setelah gejala awal dialami oleh pasien. Adapun Covid berkepanjangan ini bukanlah virus. Demikian yang ditegaskan oleh Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Agus Dwi Susanto, seperti dilansir Tirto.id.

    fenomena long covid, long covid, long covid-19

    Baca Juga: Isolasi Mandiri Covid-19 di Fasilitas Pemerintah dan Pengajuannya

    Fenomena yang dahulunya bernama post-covid syndrome ini merupakan gejala sisa yang muncul setelah pasien positif Covid-19 dinyatakan sembuh. Ini dapat terjadi akibat proses ketika sakit kemudian menimbulkan kelainan yang menetap secara anatomis yang akhirnya memengaruhi secara fungsional. Eks pasien Covid-19 yang berisiko terkena long Covid adalah mereka yang mempunyai penyakit penyerta atau komorbid. Begitu juga dengan lanjut usia. Meski begitu, eks pasien dalam kelompok umur 19 hingga 59 tahun tanpa komorbid ternyata juga dapat mengalaminya.

    Gejala-gejala Terkena Long Covid

    Seperti halnya Covid-19, fenomena long Covid ini juga dimulai dari sebuah gejala. Meski begitu gejala-gejala yang dialami berbeda berdasarkan sifat dan durasinya. Jika pada Covid-19, gejala yang dialami bersifat akut dan berlangsung harian dan bulanan, pada long Covid bisa berlangsung menetap seminggu hingga bulanan. Gejalanya sendiri cukup bervariasi dari gejala kelelahan kronis hingga depresi. Long Covid sendiri mempunyai dua gejala, yaitu, fisik dan psikis.

    Produk Terkait: Layanan Rapid Test-PCR Swab

    Gejala Fisik

    Untuk gejala fisik yang dialami adalah sebagai berikut:

    • Rasa lelah berlebihan
    • Gangguan napas
    • Nyeri sendi
    • Nyeri dada
    • Sakit kepala
    • Nyeri otot
    • Pegal-pegal

    Gejala Psikis

    Sedangkan untuk gejala psikis adalah adanya gangguan pada kualitas hidup seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan pengalaman psikis yang dialami pasien Covid-19 selama sakit, dan akan masih dirasakan setelah sembuh. Jika dibiarkan hal ini dapat mengakibatkan depresi berkepanjangan. Karena itulah, mereka yang terkena gejala psikis ini membutuhkan pendampingan di rumah sakit oleh psikiater.

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid-19, dari Suspek hingga Kematian

    Cara Mendeteksinya

    Pasien dengan gejala long Covid ini tentunya bisa dideteksi. Cara mendeteksinya adalah dengan 4 tahapan, yaitu:

    • Ananesis
    • Pemeriksaan fisik,
    • Riwayat penyakit sebelumnya
    • Pemeriksaan penunjang untuk menentukan ada tidaknya gejala long Covid

    Pada tahapan anamnesis dilakukan wawancara kepada pasien mengenai gejala-gejala yang dialaminya setelah dirawat dan diterapi  di rumah sakit sebagai pasien Covid-19. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik yang menggunakan pemeriksaan radiologi paru serta laboratorium. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah lengkap, penanda proses peradangan dan infeksi, penanda enzim jantung hingga pemeriksaan molekuler.

    Cara Dinyatakan Sembuh

    Untuk dapat dinyatakan sembuh dari long Covid, pasien harus mempunyai hasil tes PCR swab yang negatif. Meski demikian, pasien yang telah melakukan perawatan Covid-19 cukup lama dapat masih dinyatakan positif pada hasil tes swabnya dengan menilai CT value. Hasil positif tersebut kemungkinan terjadi karena masih ada serpihan virus yang terdeteksi PCR, namun kemungkinan menularkan virus ke orang lain semakin kecil. Jika tanpa pemeriksaan PCR, biasanya pasien positif Covid-19 dapat mengakhiri masa isolasi selama 10 hari sejak muncul gejala ditambah dengan 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala. Setelah masa tersebut potensi penularan virus dapat semakin kecil.

    Baca Juga: Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Fenomena Long Covid tidak dapat diremehkan sebab dapat menyebabkan depresi dan kecemasan yang berlebihan jika tidak ditangani. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat Sehat. Supaya Sahabat dapat terlindungi dari Covid-19 sehingga tidak mengalami Covid berkepanjangan, yuk tetap disipilin dalam melaksanakan 3M, dan jangan lupa untuk rapid test dan PCR swab di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media K. Mengenal Long Covid dari Gejala, Deteksi hingga Dinyatakan Sembuh Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/31/170200923/mengenal-long-covid-dari-gejala-deteksi-hingga-dinyatakan-sembuh?page=all
    2. Fenomena Long Covid-19 Bisa Muncul pada Semua Pasien yang Sembuh | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://www.merdeka.com/peristiwa/fenomena-long-covid-19-bisa-muncul-pada-semua-pasien-yang-sembuh.html
    3. Taher A. Perhimpunan Dokter Paru: Long COVID Mengintai Eks Pasien Corona – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://tirto.id/perhimpunan-dokter-paru-long-covid-mengintai-eks-pasien-corona-f7HK
    4. Media K. Fenomena Long Covid, Ancaman Bagi Penyintas Covid-19 yang Perlu Diwaspadai [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/12/04/06145931/fenomena-long-covid-ancaman-bagi-penyintas-covid-19-yang-perlu-diwaspadai
    Read More
  • Pandemi Covid-19 yang masih mewabah hingga saat ini rupanya membuat banyak orang di seluruh dunia lupa mengenai HIV/AIDS. Ini adalah salah satu penyakit mematikan di dunia yang secara global jumlah penderitanya mencapai angka 38 juta orang berdasarkan data UNAIDS pada tahun 2019, dan 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Sebanyak […]

    Bagaimana Cara Penderita HIV/AIDS Menghadapi Covid-19?

    Pandemi Covid-19 yang masih mewabah hingga saat ini rupanya membuat banyak orang di seluruh dunia lupa mengenai HIV/AIDS. Ini adalah salah satu penyakit mematikan di dunia yang secara global jumlah penderitanya mencapai angka 38 juta orang berdasarkan data UNAIDS pada tahun 2019, dan 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun. Sebanyak 81% mengetahui statusnya dan 67% telah menerima pengobatan. Setiap tahunnya juga sekitar 1,7 juta orang terinfeksi virus ini, dan 690.000 orang dilaporkan meninggal dunia. Di Indonesia sendiri jumlah penderita menurut data Kementerian Kesehatan pada triwulan II 2020 seperti yang dilansir dari Tempo.co diperkirakan mencapai 543.100 orang. Dari jumlah itu baru 398.784 orang yang sudah ditemukan, dan baru 205.945 orang yang mengonsumsi obat antiretroviral atau ARV sebagai obat untuk menurunkan komplikasi HIV/AIDS.

    penderita hiv/aids menghadapi covid-19

    Baca Juga: HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Data di atas menunjukkan bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit yang sama berbahayanya dengan Covid-19. Namun, wabah ini justru  membuat HIV/AIDS tidak terlihat sama sekali, dan terkesan diabaikan. Jika dikaitkan dengan Covid-19, para penderita HIV/AIDS atau ODHA disebut 3 kali lebih besar berpeluang untuk meninggal jika terkena virus asal Wuhan tersebut apabila dikaitkan dengan imun tubuh yang dimiliki dan saluran pernapasan. Hal itu berdasarkan temuan penderita HIV/AIDS di Afrika Selatan oleh departemen kesehatan negara tersebut yang juga menderita Covid-19. Karena itulah, WHO meminta ODHA yang belum pernah menjalani terapi ARV agar segera melakukannya supaya terhindar dari virus.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Seperti dilansir dari Avert.org, penderita HIV/AIDS yang berpotensi terinfeksi Covid-19 adalah mereka yang mempunyai tingkat CD4 atau sel darah putih limfosit yang rendah (dengan jumlah kurang dari 200 per sel), memiliki viral load yang tinggi, dan memiliki infeksi oportunistik akibat virus, jamur, dan bakteri yang menyerang pada tubuh dengan imun yang lemah.

    Cara Penderita HIV/AIDS Menghadapi Covid-19

    Lalu bagaimana cara penderita HIV/AIDS menghadapi Covid-19? Masih dikutip dari situs yang sama, berikut ini adalah cara-caranya, dan tidak jauh berbeda dari cara-cara yang sudah ada, yaitu:

    • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 40 detik.
    • Gunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol seperti hand sanitizer dalam situasi tidak ada akses mencuci dengan sabun pada air yang mengalir
    • Hindari menyentuh wajah karena ini salah satu cara virus masuk ke tubuh
    • Hindari orang yang merasa tidak enak badan
    • Tutupi hidung dan mulut dengan tisu bersih saat Sahabat bersin atau batuk kemudian cucilah tangan. Jika tidak ada tisu, gunakan bagian dalam siku untuk menutupi mulut dan hidung
    • Batasi kontak fisik jika merasa berisiko terkena Covid-19 dengan di rumah saja
    • Apabila sudah merasakan gejala-gejala seperti batuk kering yang terus-menerus serta tidak bisa mencium sesuatu, segera hubungi petugas kesehatan terdekat
    • Pastikan memiliki stok obat ARV untuk maksimal 30 hari
    • Pastikan Sahabat juga sudah divaksinasi terakhir sebelum di rumah saja, baik itu flu maupun pneumokokus
    • Menjalankan pola makan yang baik
    • Istirahat teratur
    • Berolahraga terutama olahraga ringan
    • Tetap terhubung dengan orang-orang sekitar melalui pemanfaatan teknologi online agar tidak mengalami gangguan kesehatan mental dan stres

    Baca Juga: Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    Sekian mengenai tips yang perlu dilakukan penderita HIV/AIDS atau ODHA dalam menghadapi Covid-19. Intinya, Sahabat Sehat harus bersikap waspada namun juga tenang serta mau dan disiplin menjalankan protokol-protokol kesehatan yang ditetapkan. Ini dilakukan agar Sahabat jangan sampai terpapar Covid-19 yang tentunya akan menambah penderitaan. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai HIV/AIDS dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Jember P. Sejarah Hari AIDS Sedunia yang Diperingati 1 Desember dan Tema dari Tahun ke Tahun – Portal Jember [Internet]. Portal Jember. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://portaljember.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-161039326/sejarah-hari-aids-sedunia-yang-diperingati-1-desember-dan-tema-dari-tahun-ke-tahun
    2. Kemenkes Bilang HIV/AIDS Tak Boleh Luput dari Perhatian Semasa Pandemi Covid-19 [Internet]. Tempo. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://nasional.tempo.co/read/1410430/kemenkes-bilang-hivaids-tak-boleh-luput-dari-perhatian-semasa-pandemi-covid-19/full&view=ok
    3. Kena Covid-19, Pengidap HIV/AIDS Berpeluang 3 Kali Lebih Besar untuk Mati | Lifestyle – Bisnis.com [Internet]. Bisnis.com. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://lifestyle.bisnis.com/read/20200611/106/1251218/kena-covid-19-pengidap-hivaids-berpeluang-3-kali-lebih-besar-untuk-mati
    4. Orang yang Hidup dengan HIV-AIDS (ODHA) Rentan Terinfeksi COVID-19? – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://tirto.id/orang-yang-hidup-dengan-hiv-aids-odha-rentan-terinfeksi-covid-19-f7eD
    5. Coronavirus (COVID-19) and HIV [Internet]. Avert. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://www.avert.org/coronavirus/covid19-HIV
    Read More
  • Menghadapi musim hujan di tengah pandemi Covid-19 tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan menghadapi musim hujan di masa sebelum pandemi. Perbedaan itu tentu saja membutuhkan usaha ekstra supaya tubuh tetap dapat terlindungi dari penyakit-penyakit yang kerap muncul di musim hujan seperti flu, diare, dan kolera, serta terlindungi dari Covid-19 yang masih mewabah dan mempunyai sifat […]

    Tips Menghadapi Musim Hujan di Tengah Pandemi Covid-19

    Menghadapi musim hujan di tengah pandemi Covid-19 tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan menghadapi musim hujan di masa sebelum pandemi. Perbedaan itu tentu saja membutuhkan usaha ekstra supaya tubuh tetap dapat terlindungi dari penyakit-penyakit yang kerap muncul di musim hujan seperti flu, diare, dan kolera, serta terlindungi dari Covid-19 yang masih mewabah dan mempunyai sifat penularan yang sangat cepat. Musim hujan sendiri memang kerap identik dengan munculnya banyak penyakit yang mudah menyerang seseorang. Hal itu karena adanya perubahan suhu pada lingkungan. Saat musim hujan, kuman lebih mudah berkembang biak dan menginfeksi tubuh manusia. Para ahli juga sudah membuktikan, semakin rendah suhu, semakin kuat pula virus sehingga sulit mati. Jika tubuh lemah, akan mudah menjadi sasaran empuk bakteri dan virus. Karena itu, supaya tubuh tidak mudah terserang penyakit saat musim hujan, Sahabat selalu disarankan untuk menguatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan bernutrisi, berolahraga, dan juga vaksinasi.

    musim hujan di tengah pandemi covid-19, musim hujan saat covid-19

    Baca Juga: Khawatir Beraktivitas di Musim Hujan? Nggak Lagi Tuh!

    Lalu bagaimana jika yang dihadapi adalah Covid-19? Apakah caranya sama atau berbeda sama sekali dengan penyakit-penyakit yang sudah ada? Yuk, Sahabat, tanpa berlama-lama, mari kita simak penjelasan di bawah ini!

    Bagaimana Menghadapi Musim Hujan di Tengah Covid-19?

    Covid-19 sekarang ini merupakan penyakit yang teramat istimewa sehingga untuk menghadapinya di kala musim hujan juga berbeda, yaitu sebagai berikut.

    Memiliki Masker Cadangan

    Mengenakan masker merupakan hal wajib bagi semua orang di masa pandemi ini. Penggunaan masker dipercaya dapat secara efektif mengurangi penyebaran virus. Pemakaian masker sendiri juga termasuk dalam 3M yang dianjurkan pemerintah berdasarkan saran dari WHO. Untuk musim hujan ini ternyata masker yang digunakan harus lebih dari satu. Hal itu karena masker berpotensi besar basah terkena air hujan, dan masker yang basah serta lembap dinilai tidak akan efektif karena air membatasi aliran udara dan mengurangi jumlah pengurangan virus. Karena itu, jika masker Sahabat basah karena air hujan segera ganti, dan jangan lupa pakailah masker medis atau kain tiga lapis.

    Produk Terkait: Jual Masker Medis

    Tetap Menjaga Kebersihan Lingkungan

    Musim hujan berpotensi mendatangkan banjir terutama bagi Sahabat yang tinggal di daratan rendah atau dekat sungai. Banjir sendiri juga disebut mendatangkan banyak penyakit seperti kolera, leptosipirosis, dan tifus. Apalagi, Covid-19 juga berpotensi muncul terutama saat berada di pengungsian yang dapat menciptakan kluster penyebaran virus. Karena itu, sangat penting bagi Sahabat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, dan selalu membuat sumur resapan untuk menampung air hujan yang turunnya cukup banyak.

    Hati-hati Terhadap Penyakit Musiman

    Musim hujan di tengah pandemi Covid-19 memang benar-benar membutuhkan tenaga ekstra saat menghadapinya. Hal ini karena adanya penyakit-penyakit musiman yang sudah pasti datang dan menyerang. Sebut saja diare dan demam berdarah. Datangnya penyakit-penyakit musiman tentu akan sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Apabila lemah, tubuh yang sudah terserang penyakit itu juga mudah terserang Covid-19.

    Baca Juga: 10 Penyakit Karena Banjir yang Perlu Diwaspadai

    Tetap Disiplin dalam Menjalankan Protokol Kesehatan

    Musim hujan saat pandemi bukan berarti Sahabat abai dalam menjalankan protokol kesehatan, yang di dalamnya terdapat 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) untuk memutus mata rantai penularan penyakit Covid-19. Jangan sampai musim hujan dijadikan alasan karena hingga saat ini pandemi belum akan berakhir meskipun nanti vaksin sudah ditemukan dan tersedia.

    Baca Juga: Infografik Pentingnya Vaksin Influenza untuk Pencegahan Flu di Musim Hujan

    Selain tips-tips di atas, jangan lupa untuk melakukan vaksinasi sebagai salah satu cara mencegah penyakit musim hujan di tengah pandemi Covid-19. Vaksinasi yang tentu saja utama dan penting dilakukan adalah vaksinasi flu. Penyakit flu sendiri bersifat musiman dan mempunyai kemiripan dengan Covid-19 sehingga dengan vaksinasi ini akan mencegah Sahabat terkena Covid-19. Untuk vaksinasi ini, Sahabat bisa melakukannya di Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi ke rumah. Layanan ini mempunyai banyak keunggulan, yaitu:

    • Produk dijamin asli
    • Ditangani oleh dokter yang profesional dan berizin resmi
    • Ada tanya jawab dengan Asisten Kesehatan Maya
    • Proses pembayaran yang mudah dan dapat dicicil
    • Jadwal vaksinasi yang fleksibel
    • Dokter akan mengunjungi lokasi sesuai perjanjian

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Indonesia C. Penyakit-penyakit yang Meradang saat Musim Hujan [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20181029082340-255-342178/penyakit-penyakit-yang-meradang-saat-musim-hujan
    2. VIVA P. Virus Kuat di Musim Hujan, Satgas COVID-19 Khawatirkan Libur Panjang [Internet]. Viva.co.id. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1316133-virus-kuat-di-musim-hujan-satgas-covid-19-khawatirkan-libur-panjang
    3. Musim Hujan saat Pandemi Covid-19 P. Musim Hujan saat Pandemi Covid-19, Para Ahli Sarankan untuk Selalu Bawa Barang Cadangan Ini – Semua Halaman – Grid Health [Internet]. Grid Health. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://health.grid.id/read/352387335/musim-hujan-saat-pandemi-covid-19-para-ahli-sarankan-untuk-selalu-bawa-barang-cadangan-ini?page=all
    4. 4 Tips Hindari Paparan Covid-19 Saat Musim Hujan Tiba | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://www.merdeka.com/sehat/4-tips-hindari-paparan-covid-19-saat-musim-hujan-tiba.html
    Read More
  • Depresi, stres, frustrasi, kecemasan, dan ketakutan berlebihan menjadi penyebab munculnya gangguan mental pada semua orang di seluruh dunia akibat Covid-19. Gangguan tersebut muncul karena banyak yang bertanya mengenai kapan pandemi yang muncul sejak November 2019 di Cina lalu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia sejak Maret 2020 di Indonesia akan kelar. Belum ada waktu yang […]

    Rangkuman Webinar Prosehat “Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi”, dengan Salah Satu Pembicara dr. Nova Riyanti Yusuf, 2 Desember 2020

    Depresi, stres, frustrasi, kecemasan, dan ketakutan berlebihan menjadi penyebab munculnya gangguan mental pada semua orang di seluruh dunia akibat Covid-19. Gangguan tersebut muncul karena banyak yang bertanya mengenai kapan pandemi yang muncul sejak November 2019 di Cina lalu menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia sejak Maret 2020 di Indonesia akan kelar. Belum ada waktu yang pasti mengenai kelarnya pandemi pada akhirnya memberikan banyak pembatasan untuk bergerak dengan tetap di rumah saja.

    rangkuman webinar Prosehat Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Strs Karena Terbeban Kapan Covid-19 Berakhir

    Berangkat dari situlah, webinar Prosehat kali ini mengangkat tema mengenai gangguan kesehatan mental dengan judul “Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi”. Webinar ini sendiri diselenggarakan pada Rabu, 2 Desember 2020 pukul 19.00 WIB. Pembicara pada webinar ini ada dua, yaitu dr. Jeffri Aloys Gunawan, Sp. PD, CHt atau akrab disapa dengan nama dr. Jeff, dan tentunya Sahabat Sehat sudah cukup familiar dengan sosok yang satu ini karena sudah sering muncul di webinar-webinar Prosehat.

    Pembicara kedua adalah Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ atau biasa akrab disapa dengan nama Noriyu. Sahabat Sehat tentu sudah tidak asing lagi juga dengan sosok yang satu ini. Sebab, Noriyu adalah seorang psikiater dan dokter kesehatan jiwa yang cukup terkenal juga sebagai seorang penulis psikologi dan novelis. Di samping itu, ia juga pernah menjadi anggota DPR pada periode 2014-2019. Webinar ini tentunya dimoderatori oleh dr. Rosa Widian dari Prosehat.

    Dalam pemaparannya, dr. Jeff menjelaskan mengenai perkembangan Covid-19 itu sendiri terutama di Indonesia yang hingga saat ini masih terus menunjukkan peningkatan jumlah kasus. Selanjutnya, ia juga membahas mengenai kebijakan pemerintah berupa PSBB, dan sebagai ahli penyakit dalam ia membahas dampak Covid-19 terhadap berbagai organ tubuh seperti jantung yang menyebabkan serangan penyakit jantung dan gangguan irama jantung. Tak hanya pada gangguan organ tubuh, Covid-19 kenyataannya menyebabkan depresi yang cukup parah terutama di Amerika Serikat yang mencapai 53% daripada sebelum pandemi.

    Baca Juga: 10 Makanan Pencegah Serangan Penyakit Jantung

    Menurut dr. Jeff, gangguan psikis dan gangguan mental di masa pandemi saling berkaitan satu sama lain. Hal itu terjadi karena Covid-19 yang benar-benar sangat berdampak terutama pada pikiran yang bisa memengaruhi kondisi tubuh. Tandanya berupa sulit berpikir dan mudah lelah, mengalami masalah pada pencernaan, dan detak jantung yang cukup meningkat. Hal ini juga disertai dengan gejala seperti rasa takut berlebihan akan tertular, stres traumatik, dan kecemasan terhadap masalah keuangan. Cara mengatasinya bisa dilakukan dengan mengajak berkomunikasi dengan teman yang bisa memahami kondisi serta berolahraga.

    Lalu bagaimana cara mengatasi gangguan mental dari dr. Nova Riyanti Yusuf atau Noriyu? Dalam pemaparannya dokter yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa DKI Jakarta itu memberikan mengenai definisi sehat menurut WHO yang berbunyi:…keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap, dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan”. Selain itu, ia memberikan definisi kesehatan jiwa berdasarkan Undang-undang Kesehatan Jiwa Nomor 18 Tahun 2014, yaitu kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

    Di masa pandemi, ujar dr. Nova yang juga praktek sebagai psikiater di Ciputra Medical Centre ini, banyak orang yang merasa bahwa dirinya adalah orang dengan masalah kejiwaan atau ODMK. Dr. Nova menyatakan bahwa 2020 ini adalah tahun yang sulit bagi kesehatan jiwa. Hal itu karena adanya pandemi yang mengakibatkan lockdown atau karantina wilayah secara berulang, ancaman infeksi, isolasi sosial, dan ketidakpastian ekonomi yang berujung pada ketakutan dan kecemasan yang semakin luas. Hal ini juga dirasakan sendiri oleh sang dokter yang biasanya bepergian ke beberapa negara untuk menghadiri konferensi dan seminar internasional namun merasa takut tertular terkena infeksi walaupun dia tidak terkena.

    Karantina sosial yang diberlakukan demi menghindari penyebaran, menurut dr. Nova dalam pemaparannya juga dapat meningkatkan gangguan psikologis seperti menghindar diri dari orang lain dan frustrasi, dan lockdown merupakan laboratorium eksperimen terbesar yang dihadapi umat manusia pada saat ini. dr. Nova juga memaparkan bahwa selama 5 bulan pandemi banyak 64,8% perempuan yang mengalami masalah psikologis. Bahkan 15% memikirkan usaha untuk bunuh diri karena pandemi ini, yaitu pada umur 18-29 tahun.

    Baca Juga: Keinginan Bunuh Diri, Cara Mencegah dan Tanda-tandanya

    Akibat pandemi Covid-19 banyak orang yang menjadi lelah karena keadaan akibat protokol-protokol kesehatan supaya tidak terinfeksi.  Dampaknya banyak yang berperilaku demotivasi terutama pada mereka yang tidak terkena Covid-19 karena akan tertular juga. Efek selanjutnya menciptakan sindrom burnout berupa kelelahan emosi, depersonalisasi, dan penurunan prestasi. Hal inilah yang banyak dialami para tenaga kesehatan yang sebenarnya sudah lelah namun Covid-19 belum selesai sama sekali.

    Lalu bagaimana tips menjaga kesehatan mental menurut dr.Nova? Dalam pemaparannya ia menyebutkan seperti membutuhkan berita dan mengatur pemakaian gadget supaya dapat beristirahat secara teratur, dan selalu berpikir positif. Webinar yang penuh keakraban di antara dua narasumber ini dilanjutkan pada sesi pertanyaan. Salah satu peserta, Ratna Mardiati, menanyakan kepada dr.Jeff apakah kekebalan tubuh bisa ditingkatkan dengan olahraga jalan kaki 30 menit dan olahraga kekuatan otot 2 kali seminggu? Dijawab oleh dr. Jeff bahwa hal tersebut dapat meningkatkan kekebalan tubuh, dan sebaiknya 5 hari dalam seminggu supaya tidak berefek buruk pada tubuh.

    Untuk dr. Nova sendiri mendapat pertanyaan dari Gery cara mengatasi kesalahpahaman dalam berkomunikasi melalui telepon seluler yang bisa mengakitbatkan stres. Cara mengatasinya adalah memperhatikan koridor atau berkomunikasi secara visual. dr. Nova menyarankan agar mengirim voice note apabila ada kendala dalam pertemuan virtual.

    Baca Juga: Stres dan Panik Hadapi Corona, Justru Turunkan Imun Tubuh

    Untuk pemaparan lebih lanjut, Sahabat Sehat bisa menonton video di bawah ini, dan jangan lupa subscribe YouTube Prosehat.

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan jiwa dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Read More
  • Seiring berjalannya waktu, banyak isu yang berkembang terkait kaum gay, salah satunya adalah tentang benar tidaknya bahwa kaum gay sangat rentan tertular HIV. Human Immunodeficiency Virus(HIV) seperti namanya berarti suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Keadaaan ini menyebabkan seseorang yang terinfeksi HIV akan sangat mudah terinfeksi kuman atau virus lain tanpa adanya perlawanan […]

    Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    Seiring berjalannya waktu, banyak isu yang berkembang terkait kaum gay, salah satunya adalah tentang benar tidaknya bahwa kaum gay sangat rentan tertular HIV. Human Immunodeficiency Virus(HIV) seperti namanya berarti suatu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Keadaaan ini menyebabkan seseorang yang terinfeksi HIV akan sangat mudah terinfeksi kuman atau virus lain tanpa adanya perlawanan dari sistem kekebalan tubuh, sehingga sering kali infeksi yang terjadi pada penderita HIV berada dalam kondisi yang sangat berat dan mengancam jiwa karena sulit disembuhkan.

    Baca Juga: Apakah Virus HIV Dapat Ditularkan Saat Facial?

    Berbicara mengenai kerentanan kaum gay terkena HIV, pada tahun 2008 CDC (centers for disease control and prevention) mengumumkan hasil sebuah penelitian bahwa pada tahun 2006 terdapat 53.000 kasus HIV baru di Amerika Serikat pada kelompok usia diatas 13 tahun, jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 40.000 kasus baru. Perlu Sahabat Sehat ketahui bahwa dari kasus-kasus baru ini didapati bahwa 53% di antaranya disebabkan kontak seksual antara pria dengan pria, sedangkan 4% disebabkan kontak seksual pria dengan pria, juga pemakaian obat-obatan. Selain itu, dari seluruh kasus-kasus baru itu 73% di antaranya adalah pria dan dari seluruh pria ini yang mengaku melakukan kontak seksual antara pria dengan pria adalah 72%. Berdasarkan data statistik di atas sebenarnya kita dapat menyimpulkan bahwa kaum gay memang lebih rentan terkena HIV.

    Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan kaum gay lebih rentan terkena HIV? Menurut National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD and TB Prevention,ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi.

    Penyebab Gay Rentan Terkena HIV

    1. Masih tingginya persentase kaum gay yang terinfeksi HIV sehingga angka penularan antara mereka juga tinggi.
    2. Banyak kaum gay yang tidak peduli bahwa mereka terkena HIV atau tidak, hal ini dibuktikan dengan hanya 56% dari kaum gay dan biseksual pada tahun 2008 meningkat menjadi 66% pada tahun 2011 yang mengetahui bahwa mereka terkena HIV, tentunya dari data diatas dapat disimpulkan bahwa masih banyak yang belum mengetahuinya.
    3. Kebiasaan berhubungan seksual secara anal seks yang memiliki risiko tertinggi dalam penularan HIV.
    4. Kaum gay cenderung memiliki pasangan seksual yang banyak dan bergonta-ganti.
    5. Stigma jelek yang berkembang pada masyarakat dan homofobia yang menyebabkan mereka malu atau cenderung menutup diri sehingga keinginan dan kesempatan mereka untuk datang ke pusat layanan kesehatan rendah.

    Karena itu, kita harus sadar bahwa kaum gay maupun HIV ada di sekitar kita. Nah, hal yang kita lakukan bukanlah menjauhi orangnya tetapi penyakitnya. Berhubungan seksual dengan lawan jenis setelah menikah dan tidak bergonta-ganti pasangan adalah cara terbaik untuk mencegah dan mengurangi penularan HIV.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Jangan lupa Sahabat, jika masih membutuhkan ulasan HIV AIDS maupun produk kesehatan,bisa menghubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Daftar Pustaka

    1. National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD and TB Prevention. HIV Among Gay and Bisexual Men. CDC ( Centers of Disease Control and Prevention); 2015 p. 1-2.
    2. Darnell B, Guzman A, Krivo-kaufman A. Gay Men and HIV : An Urgent Priority. New York: GMHC (Gay Men’s Health Crisis); 2010.
    3. Dewi G, Indrawati E. Pengalaman Menjadi Gay (Studi Fenomenologi pada Pria Homoseksualitas Menuju Coming Out). Jurnal Empati. 2017;7(3):116-126.
    4. Boellstroff T. Gay dan Lesbian Indonesia Serta Gagasan Nasionalisme. Antropologi Indonesia. 2006;30(1):1-6.
    5. UCD LGBT Society [Internet]. Ucd.ie. 2018 [cited 18 November 2018]. Available from: ucd.ie/lgbt/lgbt-gay.html

     

    Read More
  • Gay, biseksual maupun pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria (LSL: lelaki seks dengan lelaki) memiliki risiko tertular virus HIV lebih besar dari pasangan heteroseksual. AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndromes adalah penyakit yang sangat popular saat ini, terutama di kalangan pasangan homoseksual. Banyak yang mengaitkan penyakit ini dengan pasangan sejenis, dan ternyata di Indonesia […]

    Ancaman HIV/AIDS Pada Pasangan Gay

    prosehat gay couple

    Gay, biseksual maupun pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria (LSL: lelaki seks dengan lelaki) memiliki risiko tertular virus HIV lebih besar dari pasangan heteroseksual. AIDS atau Acquired Immuno Deficiency Syndromes adalah penyakit yang sangat popular saat ini, terutama di kalangan pasangan homoseksual. Banyak yang mengaitkan penyakit ini dengan pasangan sejenis, dan ternyata di Indonesia sendiri, tingkat presentasenya cukup besar:

    • Berdasarkan CDC, pada tahun 2010, ditemukan 72% orang yang terjangkit virus HIV adalah gay dan biseksual dengan rentang usia 13-24 tahun.

    Ancaman HIV AIDS pada pasangan gay atau homoseksual memang patut dikhawatirkan karena tingkat penularannya yang sangat tinggi, karena hubungan seks melalui anal, mukosa anus yang tipis tidak dipersiapkan untuk koitus sehingga mudah pecah, rusak dan virus dapat langsung masuk. Badan organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pria gay untuk mengkonsumsi obat antiretroviral yang sempat dibahas di sini, sebagai usaha melindungi diri sendiri dari infeksi HIV, selain tentunya menggunakan kondom setiap bercinta dengan sejenisnya.

    Baca Juga: HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta, dan Mitos

    Mengkonsumsi obat antiretroviral merupakan salah satu upaya pencegahan dan perlindungan dari penyakit sebelum terpapar virus HIV. Pencegahannya adalah dengan mengonsumsi 1 pil ARV bagi mereka yang masuk ke dalam kelompok berisiko tinggi seperti pasangan sejenis yang telah hidup bersama dan 1 pil ARV bagi mereka yang sudah positif terinfeksi virus HIV.

    Produk Terkait: Cek HIV/AIDS di Klinik

    Menurut Gotfried Hirnschall, sebagai direktur departemen WHO, “Secara global WHO mengalami kesulitan menangani penyebaran HIV pada negara dengan populasi berisiko tinggi namun rendahnya layanan kesehatan.”

    Populasi berisiko tinggi yang dimaksud adalah pasangan gay (sejenis), biseksual, pria yang berhubungan seks dengan pria, transgender wanita (berganti kelamin), pekerja seks, pemadat (orang yang menggunakan narkoba/jarum suntik) dan para tahanan.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV/AIDS

    Bentuk pencegahan dengan konsumsi obat ARV dapat menekan penularan HIV pada pria gay hingga sebesar 20-25 persen dan dalam jangka waktu 10 tahun. Sebaiknya pasangan gay menyadari ancaman yang mengintai dan konsisten untuk konsumsi obat ARV sehingga risiko penularan dapat ditekan hingga 92 persen (pada orang yang berisiko tinggi).

    Perlindungan tambahan pada pria gay lebih digalakkan karena dikhawatirkan terjadi peningkatan insiden HIV  yang berujung kematian. Hal ini atas dasar penelitian WHO yang menemukan bahwa:

    • pekerja seks wanita berisiko 14 kali tertular HIV dibanding wanita pada umumnya
    • pria gay berisiko 19 kali tertular HIV dibanding populasi umum
    • wanita transgender memiliki risiko hingga 50 kali lebih besar dibanding orang dewasa lainnya
    • orang yang memakai narkoba jarum suntik berisiko 50 kali lebih tinggi dibanding populasi umum

    Akibat ledakan epidemi pada populasi kelompok pasangan sejenis ini maka upaya pencegahan harus digalakkan. Di seluruh dunia sendiri terdapat 35,3 juta orang dengan HIV, namun peningkatan jumlah pasien ini terjadi karena kemajuan tes deteksi dini virus HIV. Dan kombinasi obat ARV yang semakin baik memperpanjang hidup orang dengan infeksi HIV hingga bertahun-tahun lamanya. Konsumsi obat antiretroviral dapat membuat virus HIV tidak terdeteksi, namun nasib naas terkadang berkata lain. Seperti yang baru-baru ini dialami aktor kondang Hollywood, Charlie Sheen. Gaya hidupnya yang kerap meniduri 4 bintang porno setiap harinya dan rajin minum obat kombinasi ARV berujung pada HIV yang sudah dibahas di sini.

    Baca Juga: Apakah Virus HIV/AIDS Dapat Ditularkan Saat Facial?

    Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai HIV AIDS dan pencegahannya serta produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Better be prepared than sorry.

    Referensi:

    Read More
  • Belakangan ini terdengar kabar mengenai penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV)dari perawatan wajah, yaitu facial. Mungkin hal tersebut membuat Sahabat Sehat mempertanyakan apakah HIV dapat ditularkan saat melakukan facial. Sebelum menduga apakah HIV dapat ditularkan lewat facial, alangkah baiknya kita mengetahui dahulu mengenai fakta dari HIV. Baca Juga: Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV? HIV merupakan […]

    Apakah Virus HIV Dapat Ditularkan Saat Facial?

    Belakangan ini terdengar kabar mengenai penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV)dari perawatan wajah, yaitu facial. Mungkin hal tersebut membuat Sahabat Sehat mempertanyakan apakah HIV dapat ditularkan saat melakukan facial. Sebelum menduga apakah HIV dapat ditularkan lewat facial, alangkah baiknya kita mengetahui dahulu mengenai fakta dari HIV.

    HIV AIDS lewat facial

    Baca Juga: Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    HIV merupakan virus yang dapat menginfeksi sel imunitas tubuh dengan menghancurkan atau menurunkan fungsi sel tersebut. Lain dengan virus-virus lain, HIV sekali terinfeksi  tidak dapat dimusnahkan oleh pertahanan tubuh maupun dengan obat-obatan. Awalnya infeksi tersebut tidak bergejala atau sakit ringan, seperti saat sedang sakit flu, hingga menyebabkan Acquired Immunodeficiency Syndrome(AIDS), yaitu tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS yang mengakibatkan penderita mengalami berbagai penyakit infeksi akibat HIV.

    Ada beberapa cara penularan HIV, seperti berhubungan intim yang berisiko, baik melalui vagina maupun dubur,ataupun oral sex dengan orang yang terinfeksi, transfusi darah yang terkontaminasi HIV, penggunaan jarum suntik, peralatan medis, atau peralatan tajam lainnya yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita. Selain itu, infeksi HIV dapat ditularkan dari ibu ke anak ketika mengandung, persalinan, atau menyusui .Kemungkinan terjadinya penularan HIV dapat dilihat pada tabel di bawah:

    Tabel Kemungkinan Terjadinya Penularan HIV Berdasarkan Tempat Terinfeksinya

    Menurut data diatas 1 dari 150 orang terinfeksi HIV saat menggunakan peralatan tajam yang terkontaminasi seperti berbagi jarum suntik dengan penderita atau menjalankan tindakan medis termasuk facial dengan peralatan yang tidak steril. Namun, kekhawatiran Sahabat dapat berkurang karena kejadian tersebut dapat dicegah dengan penggunaan peralatan yang tajam sekali pakai atau peralatan medis yang sudah disterilisasi.

    Baca Juga: 6 Tips Menghindari Perilaku Seks Berisiko 

    Facial biasanya dilakukan dengan menggunakan peralatan logam, ekstraktor komedo, atau dengan benda tajam lainnya, yang dapat bersifat hanya sekali pakai ataupun dapat dipakai berulang. Tidak jarang peralatan ini terkontaminasi dengan cairan tubuh, seperti darah atau cairan serum pada saat facial dilakukan. Sehingga setelah facial, peralatan yang dapat dipakai berulang perlu dilakukan sterilisasi untuk mencegah penularan penyakit. Bila sterilisasi dilakukan tentunya dapat mencegah penularan virus HIV saat facial.

    Tips untuk mencegah agar Sahabat tidak tertular HIV saat facial, yaitu dengan berhati-hati untuk memilih tempat perawatan wajah yang tepat, dengan memastikan bahwa klinik tersebut memiliki izin resmi dari pemerintah dan dilakukan oleh dokter. Lalu pada saat akan facialperlu memastikan bahwa peralatan facialyang dipakai benar-benar baru atau telah disterilkan dengan menanyakan kepada klinik tersebut.

    Baca Juga: HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Nah, sekarang Sahabat sudah tak penasaran bukan dengan berita maraknya kaitan facial dengan HIV? Jika Sahabat Sehat masih membutuhkan informasi kesehatan mengenai HIV AIDS dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Daftar Pustaka
    1. HIV/AIDS [Internet]. World Health Organization. 2018 [cited 28 September 2018]. Available from: who.int/features/qa/71/en/
    2. About HIV/AIDS | HIV Basics | HIV/AIDS | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2018 [cited 28 September 2018]. Available from: cdc.gov/hiv/basics/whatishiv.html
    3. Shaw G, Hunter E. HIV Transmission. Cold Spring Harb Perspect Med. 2012 Nov; 2(11): a006965.

    Read More
  • Penyakit HIV AIDS sudah tidak asing lagi kita dengar. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh dengan cara menginfeksi sel CD4, setelah sel CD4 terinfeksi, maka CD4 akan dihancurkan oleh virus HIV. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, maka jumlah CD4 di dalam tubuh berkurang, sehingga sistem pertahanan tubuh dan […]

    HIV dan AIDS: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Fakta dan Mitos

    Penyakit HIV AIDS sudah tidak asing lagi kita dengar. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem daya tahan tubuh dengan cara menginfeksi sel CD4, setelah sel CD4 terinfeksi, maka CD4 akan dihancurkan oleh virus HIV. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, maka jumlah CD4 di dalam tubuh berkurang, sehingga sistem pertahanan tubuh dan daya tahan tubuh melemah sehingga mudah terserang berbagai penyakit.

    HIV AIDS

    Baca Juga: Apakah Virus HIV Dapat Ditularkan Saat Facial?

    Infeksi dari virus HIV akan berlanjut ke arah yang lebih serius yaitu AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS merupakan stadium terakhir dari infeksi HIV. Pada stadium ini, tubuh dalam kondisi lemah, sel daya tahan tubuh tidak mampu lagi melawan virus HIV.

    Menurut data statistik WHO (World Health Organization) pada tahun 2018 di seluruh dunia mencatat total penderita HIV sebanyak 37,9 juta jiwa (terdiri dari 18,2 juta wanita dan 16,8 juta pria), yang terdiri dari usia dewasa sebanyak 35,1 juta penderita dan 1,7 juta penderita anak-anak usia dibawah 15 tahun. Pada awal tahun 2017, tercatat 1,8 juta pasien baru yang baru didiagnosis HIV dan sebanyak 940.000 penderita HIV meninggal. Pada 2020, WHO memprediksi jumlah global pengidap virus ini sebanyak 600.000 orang.

    Sedangkan di Indonesia, menurut data statistik UNAIDS Indonesia, jumlah penderita HIV AIDS Indonesia sebanyak 621.344 jiwa pada segala usia, dan dengan kasus baru pasien terdiagnosis HIV AIDS sampai tahun 2019 sebanyak 49.000 jiwa, sedangkan angka kematian yang disebabkan HIV AIDS di Indonesia sebanyak 39.000 jiwa.

    Oleh karena HIV AIDS belum ada pengobatannya, maka pemerintah mengupayakan berbagai edukasi dan promosi melalui Departemen Kesehatan Republik Indonesia maupun lembaga-lembaga lainnya seperti penyuluhan, pembagian leaflet/brosur, media massa dan kampanye penggunaan kondom namun belum dapat mengurangi angka HIV AIDS di Indonesia.

    Gejala

    Gejala HIV AIDS dibagi dalam beberapa fase. Fase awal disebut juga fase infeksi akut yang terjadi pada bulan awal infeksi HIV. Pada tahap ini tubuh membentuk sistem daya tahan tubuh (antibodi) untuk melawan virus HIV, pada fase awal ini gejala muncul 1-2 bulan setelah terjadi infeksi. Gejala yang muncul seperti gejala flu, yaitu demam ringan, tidak enak badan, lemas, batuk, pilek, menggigil. Gejala yang muncul dapat ringan atau berat sesuai dengan daya tahan tubuh pasien. Gejala yang mungkin timbul antara lain:

    • demam ringan sampai berat
    • nyeri sendi
    • lemas
    • mudah lelah dan nyeri-nyeri otot
    • mual dan muntah
    • nyeri kepala
    • nyeri perut
    • diare
    • ruam merah pada kulit seluruh badan
    • nyeri tenggorokan dan nyeri menelan
    • sariawan
    • bengkak pada kelenjar getah bening pada area leher dan ketiak.

    Setelah berlangsung beberapa bulan, fase awal akan berlanjut ke fase laten. Pada fase ini, gejala dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan dapat berlangsung bertahun-tahun. Pada fase laten, virus HIV merusak lebih banyak lagi antibodi CD4. Gejala yang mungkin timbul bervariasi, ada yang tidak bergejala, gejala ringan sampai berat. Berikut ini gejala yang timbul pada fase laten :

    • berat badan semakin menurun drastis
    • nafsu makan menurun
    • diare berkepanjangan
    • keringat saat malam hari
    • mual dan muntah
    • pembengkakan kelenjar getah bening
    • lemah dan lemas
    • tumbuh jamur pada lidah
    • timbul Herpes zooster (tidak semua pasien mengalami)

    Setelah fase laten, fase selanjutnya adalah AIDS. Pada tahap ini, penderita AIDS mengalami penurunan antibodi yang drastis, karena sel antibodi CD4 mengalami kerusakan parah. Pada fase ini, pasien seringkali mudah terinfeksi oleh penyakit lain. Gejala yang timbul pada fase AIDS antara lain:

    Contoh Infeksi Jamur pada Mulut Penderita AIDS

    • berat badan menurun drastis
    • nafsu makan turun
    • badan lemah
    • mudah terinfeksi penyakit lain (TBC paru, diare terus-menerus, penyakit kulit)
    • bintik putih pada mulut, lidah dan kelamin
    • timbul jamur pada lidah, mulut, vagina dan kulit tubuh (Candidiasis)
    • demam terus-menerus sepanjang hari dan berlangsung lama
    • mudah berdarah (gusi dan hidung) tanpa sebab
    • gangguan saraf (meningitis kriptokokus atau infeksi selaput otak akibat infeksi jamur)
    • terserang Herpes zooster yang menyerng kerusakan saraf, mata dan pencernaan (infeksi virus cryptomegalovirus)
    • gangguan psikis dan emosional (mudah marah, depresi, perubahan mood)
    • kelenjar getah bening membesar (dapat berlanjut menjadi kanker kelenjar getah bening atau limfoma)

    Fakta dan Mitos

    AIDS ditularkan saat cairan tubuh penderita masuk ke dalam tubuh orang lain seperti darah, sperma dan cairan vagina. Banyak mitos yang beranggapan bahwa ludah dapat menularkan virus HIV. Nyatanya, ludah tidak dapat menularkan virus HIV kecuali terdapat luka terbuka pada area mulut misalnya gusi berdarah atau sariawan. Selain itu, mitos lain beranggapan bahwa berjabat tangan, berpelukan dapat menularkan infeksi virus HIV, nyatanya virus HIV hanya dapat ditularkan melalui cairan tubuh penderita saja sehingga berjabat tangan atau sentuhan fisik lainnya tidak dapat menularkan infeksi HIV. Virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual, pengunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah dari penderita HIV, penularan dari ibu hamil ke janin, proses melahirkan, serta dari air susu ibu.

    Baca Juga: 10 Pertanyaan Penting Seputar HIV AIDS

    Pengobatan

    Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa HIV AIDS tidak dapat diobati. Obat-obatan antivirus dapat digunakan untuk pencegahan tertular dengan pasien HIV setelah berhubungan seksual secara tidak sengaja dengan penderita HIV dan bagi penderita HIV, antivirus hanya berfungsi untuk memperlambat perkembangan virus HIV saja. Obat-obatan simptomatik atau obat-obatan sesuai gejala dapat digunakan untuk meringankan gejala yang timbul, misalnya seperti anti demam, anti jamur serta obat-obatan lain sesuai dengan gejala yang timbul.

    Produk Terkait: Mono Rapid Test HIV

    Pencegahan

    Sebagai langkah pencegahan agar tidak tertular HIV, berikut ini langkah yang dapat dilakukan :

    1. Jangan melakukan seks bebas.
    2. Hindari berganti-ganti pasangan seks, usahakan setia dengan satu pasangan saja.
    3. Hindari penggunaan jarum suntik bergantian.
    4. Gunakan kondom bila melakukan hubungan seksual berisiko.
    5. Bila pasangan menderita HIV, segera konsultasikan ke dokter atau layanan kesehatan untuk dilakukan tes HIV dan dilakukan profilaksis atau pencegahan penularan virus HIV terhadap pasangannya.
    6. Hindari oral seks dengan pendreita HIV terutama bila terdapat luka terbuka pada area mulut (sariawan atau gusi berdarah) hal ini memungkinkan virus HIV akan masuk melalui luka tersebut.

    Baca Juga: Benarkah Gay Lebih Rentan Terkena HIV?

    Nah, itulah ulasan seputar HIV AIDS yang bisa Sahabat Sehat pahami. Jika Sahabat masih membutuhkan ulasan maupun produk kesehatan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Daftar Pustaka

    1. AIDSinfo. (2018). HIV/AIDS: The Basics Understanding HIV/AIDS. [online] Available at: aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/19/45/hiv-aids–the-basics [Accessed 18 Nov. 2018].
    2. Aidsinfo.unaids.org. (2018). AIDSinfo | UNAIDS. [online] Available at: aidsinfo.unaids.org/ [Accessed 18 Nov. 2018].
    3. Apps.who.int. (2018). GHO | By category | Number of people (all ages) living with HIV – Estimates by country. [online] Available at: apps.who.int/gho/data/view.main.22100?lang=en [Accessed 18 Nov. 2018].
    4. HIV.gov. (2018). HIV Basics. [online] Available at: hiv.gov/hiv-basics [Accessed 18 Nov. 2018].
    5. World Health Organization. (2018). Data and statistics. [online] Available at: who.int/hiv/data/en/ [Accessed 18 Nov. 2018].

     

    Read More
  • Gorengan merupakan salah satu bentuk makanan yang populer di Indonesia. Makanan yang dijadikan sebagai kudapan ini tidak hanya berupa tempe, tahu, bakwan, pastel, ayam, dan ikan, tetapi juga pada makanan-makanan lain seperti sayur-sayuran, singkong, sukun, dan ubi. Gorengan sering ditemukan pada penjual-penjual makanan sehari-hari seperti pada tukang nasi uduk, lontong sayur, restoran-restoran, baik kaki lima […]

    Alasan Orang Indonesia Gemar Konsumsi Gorengan Meski Tidak Menyehatkan

    Gorengan merupakan salah satu bentuk makanan yang populer di Indonesia. Makanan yang dijadikan sebagai kudapan ini tidak hanya berupa tempe, tahu, bakwan, pastel, ayam, dan ikan, tetapi juga pada makanan-makanan lain seperti sayur-sayuran, singkong, sukun, dan ubi. Gorengan sering ditemukan pada penjual-penjual makanan sehari-hari seperti pada tukang nasi uduk, lontong sayur, restoran-restoran, baik kaki lima maupun restoran ternama, dan tukang gorengan keliling. Konsumsi gorengan menjadi hal yang wajib bagi orang Indonesia karena rasanya seperti ada yang hilang bila makan tanpa gorengan dan camilan ini juga dapat dijadikan sebagai lauk.

    gemar konsumsi gorengan

    Baca Juga: Apa Saja Risiko Kurang Konsumsi Buah dan Sayur?

    Pada bulan Ramadan tepatnya saat menjelang buka Puasa, hampir semua penjual gorengan ada di mana-mana. Aroma makanan yang digoreng tersebut tentu saja cukup menggoda selera terutama di saat perut sedang kosong sehingga akhirnya kita sering lupa dan makan gorengan secara berlebihan. Padahal, mengonsumsi gorengan secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai macam masalah kesehatan seperti penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Selain itu, gorengan mengandung kalori dan lemak trans yang tinggi dan dapat menyebabkan obesitas.

    Orang Indonesia sering mengonsumsi gorengan dan yang lebih mengkhawatirkan lagi karena hampir semua makanan yang ada di negeri ini selalu diolah dengan cara menggoreng. Jarang sekali ada yang menyajikan bentuk makanan yang direbus atau dikukus. Padahal, dua jenis bentuk makanan itu sangat aman dan mempunyai banyak manfaat positif bagi kesehatan daripada gorengan. Meski begitu, orang tetap saja akan mengonsumsi gorengan dan tidak peduli walaupun gorengan bermanfaat buruk bagi kesehatan meskipun sudah tahu hal tersebut. Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari penyebab orang Indonesia suka makan gorengan. Lalu, mengapa gorengan sangat dinikmati? Yuk, Sahabat Sehat, mari kita simak bersama-sama!

    Mudah Ditemui dan Didapat

    Hal pertama yang membuat orang Indonesia gemar mengonsumsi gorengan meski tidak menyehatkan adalah bentuk makanan ini mudah didapat. Gorengan dapat terlihat di warteg, warung nasi uduk, dan bahkan restoran-restoran Jepang dan Korea yang berada di mal. Gorengan menjadi makanan yang praktis dan menjadi camilan untuk menghilangkan rasa lapar di saat makanan-makanan yang lain tidak ada.

    Mudah Dibuat Sendiri

    Apabila gorengan yang diinginkan tidak dijual atau habis terjual, tidak masalah karena gorengan dapat dibuat dengan mudah sendiri. Cukup menyiapkan adonan tepung kemudian campurkan dengan bahan-bahan makanan yang akan digoreng seperti tahu dan tempe. Bahan-bahan makanan yang digunakan saja cukup familiar yang tentu saja sudah membentuk gambaran di otak kita bahwa makanan tersebut mempunyai cita rasa yang lezat.

    Baca Juga: 7 Makanan Ini Memicu Kolestrol

    Aroma dan Cita Rasa yang Menggoda

    Gorengan mempunyai aroma dan cita rasa yang menggoda. Hal inilah juga yang menjadi salah satu alasan orang Indonesia menyukai gorengan. Aroma makanan yang digoreng akan memberikan persepsi bahwa gorengan merupakan makanan yang lezat, dan sehingga mudah diterima di otak kita. Selain aroma yang menggoda, cita rasa makanan yang digoreng, dengan tekstur yang membuat renyah di mulut, membuat lidah merasakan kenikmatan saat menyantapnya daripada mengonsumsi makanan kukusan atau rebusan yang dianggap tidak menarik dan hambar.

    Dapat Disantap Setiap Saat

    Gorengan merupakan makanan yang fleksibel, dan tidak tergantung pada waktu yang tepat untuk mengonsumsinya. Makanan ini dapat dikonsumsi pada pagi, siang, sore, atau bahkan malam hari. Gorengan dapat dikonsumsi bersamaan dengan makanan berat lain seperti nasi uduk, lontong dan ketupat sayur, bahkan mi instan. Di saat musim hujan pun, gorengan akan menjadi kudapan lezat yang tepat untuk menikmati waktu santai apalagi jika dihidangkan dalam keadaan masih panas dan hangat. Hal tersebut akan semakin terasa jika gorengan dilengkapi dengan cabai, sambal, atau saos.

    Produk Terkait: Jual Makanan dan Minuman Sehat

    Harganya yang Cukup Murah

    Penyebab terakhir orang Indonesia gemar mengonsumsi gorengan adalah karena harga makanan ini yang cukup murah, sehingga orang dapat membeli gorengan dalam jumlah yang banyak. Tak salah jika gorengan disebut sebagai makanan yang cukup merakyat meskipun hal tersebut harus dibayar dengan jumlah kalori yang cukup banyak dan memengaruhi kesehatan.

    Itulah tadi alasan orang Indonesia gemar mengonsumsi gorengan meskipun kenyataannya gorengan tidak menyehatkan. Bila ingin mengonsumsinya, janganlah berlebihan. Makanlah makanan yang bergizi sehat dan seimbang agar Sahabat tetap sehat.

    Baca Juga: Diet Sehat dan Seimbang untuk Menurunkan Berat Badan

    Apabila Sahabat memerlukan informasi kesehatan mengenai makanan yang digoreng, dan cara terbaik menguranginya, serta produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Kebiasaan Makan Gorengan Orang Indonesia Sudah Mengkhawatirkan [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1602645/kebiasaan-makan-gorengan-orang-indonesia-sudah-mengkhawatirkan
    2. Terungkap I. Terungkap, Ini Alasannya Kenapa Orang Indonesia Suka Gorengan – Semua Halaman – Nakita [Internet]. Nakita. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://nakita.grid.id/read/0221555/terungkap-ini-alasannya-kenapa-orang-indonesia-suka-gorengan?page=all
    3. Media K. 4 Bahaya Makan Gorengan Berlebih untuk Kesehatan Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://health.kompas.com/read/2020/11/24/140600368/4-bahaya-makan-gorengan-berlebih-untuk-kesehatan?page=all
    4. Times I, Andini T. 5 Alasan Logis Kenapa Semua Orang Menggemari Gorengan, Setuju? [Internet]. IDN Times. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://www.idntimes.com/food/dining-guide/tresna-nur-andini/alasan-logis-orang-suka-gorengan-c1c2/5
    Read More
  • Setelah 8 bulan melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau PJJ, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka kembali sekolah tatap muka mulai Januari 2021 di seluruh zona. Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Paduan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19. Pelaksanaan sekolah ini akan diberikan […]

    Tepatkah Sekolah Tatap Muka Dibuka Kembali di Tengah Pandemi?

    Setelah 8 bulan melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau PJJ, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuka kembali sekolah tatap muka mulai Januari 2021 di seluruh zona. Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Paduan Pembelajaran pada Semester Genap Tahun Ajaran dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19. Pelaksanaan sekolah ini akan diberikan kepada tiga pihak, yakni pemerintah daerah, kantor wilayah, dan orang tua melalui komite sekolah. Kebijakan ini bahkan sudah didukung oleh Komisi X DPR yang beralasan mencegah anak putus sekolah.

    sekolah tatap muka

    Baca Juga: 10 Tips Persiapan Hari Pertama Sekolah

    Namun, dalam pelaksanaannya nanti karena masih dalam situasi pandemi, Menteri Kementerian dan Kebudayaan, Nadiem Makariem, memberikan kebebasan kepada orang tua siswa untuk menentukan diperbolehkan ikut masuk sekolah atau tidak sekalipun sekolah dan daerah tertentu telah memutuskan kembali belajar tatap muka. Selain itu, Nadiem meminta sekolah harus memenuhi enam syarat supaya bisa benar-benar dibuka, yaitu memperhatikan sanitasi dan kebersihan seperti toilet, sarana cuci tangan, penyemprotan desinfektan, akses kepada pelayanan kesehatan, dan kesiapan menerapkan wajib masker.  Tentunya, kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan dan kelelahan seperti ekstrakurikuler, olahraga, dan kantin ditiadakan.

    Produk Terkait: Jual Masker Medis

    Kebijakan membuka sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19 ini tentu saja banyak menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan kondisi Covid-19 di Indonesia yang sampai sejauh ini jumlah penderitanya terus meningkat dari hari ke hari. Kekhawatiran datang dari para orang tua yang tidak mau anak-anaknya terpapar Covid-19 ketika belajar tatap muka yang akan dilaksanakan kembali meskipun dengan menjalankan protokol-protokol kesehatan.

    Kekhawatiran itu sangat wajar karena tercatat banyak anak-anak di Indonesia terpapar Covid-19, dengan jumlah 50.790 kasus, terlebih virus ini banyak menyerang anak usia 0-17 tahun. Jumlah ini lebih besar daripada kelompok usia 60 tahun ke atas, yaitu 47.666 kasus. Anak usia 6-17 tahun (39.874 kasus) lebih mudah terpapar daripada anak usia 0-5 tahun (11.916 kasus). Dari jumlah kasus itu tercatat sebanyak 238 anak Indonesia meninggal dunia, dan tingkat kematian mereka sama dengan tingkat kematian kelompok usia 18-30 tahun, yaitu 0,46%.

    Baca Juga: 7 Tips Orang Tua Dampingi Anak yang Bosan dan Stres Belajar di Rumah

    Kebijakan membuka kembali sekolah tatap muka di masa pandemi diduga tidak realistis karena positivity rate Covid-19 di Indonesia masih terbilang tinggi, yaitu 10% alias masih melebihi standar 5% yang sudah ditetapkan WHO. Apabila sekolah kembali dibuka dikhawatirkan akan terjadi penularan dan pembentukan kluster baru. Pembukaan sekolah ini berdekatan dengan acara-acara lain seperti Pilkada 2020 dan Libur Akhir Tahun 2020 yang berpotensi besar menjadi medium penyebaran virus.

    Tidak hanya dari sudut pandang epidemiolog mengenai sekolah tatap muka ini. KPAI atau Komite Perlindungan Anak Indonesia memberikan pandangan yang serupa. Komisioner KPAI, menyatakan bahwa banyak sekolah yang belum siap menerapkan protokol kesehatan jika belajar tatap muka kembali digelar serentak berdasarkan survei terhadap 48 sekolah di 8 provinsi dan 20 kabupaten dan kota sejak 15 Juni hingga 19 November. Oleh karena itu, disarankan supaya sekolah tatap muka sebaiknya ditunda, dan jika dibuka harus diiringi dengan tes swab massif kepada para peserta dan tenaga pendidik.

    Baca Juga: 3 Tips Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak Selama Pandemi

    Jika melihat gambaran di atas, tentunya kebijakan membuka kembali sekolah di masa pandemi dirasa kurang tepat karena kasus Covid-19 di Indonesia cenderung masih menaik. Cara terbaik adalah tetap belajar di rumah sembari menunggu wabah benar-benar mereda. Hal ini supaya  anak-anak Indonesia sebagai masa depan bangsa tidak terpapar virus. Selain dengan belajar di rumah anak-anak juga harus berperilaku hidup bersih dan sehat, menjalankan 3M, dan melakukan tes rapid-PCR di rumah dari Prosehat. Info lebih lengkap, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Kekhawatiran Sekolah Tatap Muka Januari 2021 [Internet]. nasional. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201122073814-20-572867/kekhawatiran-sekolah-tatap-muka-januari-2021
    2. Media K. Sekolah Tatap Muka Dibolehkan Mulai Januari 2021, Ini Teknis Pelaksanaan dan Imbauan Pemerintah Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/11/21/07101241/sekolah-tatap-muka-dibolehkan-mulai-januari-2021-ini-teknis-pelaksanaan-dan?page=all
    3. [Internet]. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://www.instagram.com/p/CH5HaThgGHd/
    4. Sekolah tatap muka dibuka Januari 2021 ‘tidak realistis’ karena tingkat penularan Covid-19 di atas 10% – BBC News Indonesia [Internet]. BBC News Indonesia. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from:https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-55034667
    5. Komisi X DPR RI dukung kebijakan kembali sekolah [Internet]. Antara News. 2020 [cited 25 November 2020]. Available from: https://www.antaranews.com/berita/1857800/komisi-x-dpr-ri-dukung-kebijakan-kembali-sekolah
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja