Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 41–50 of 784 results

  • Pemerintah telah menetapkan kebijakan kerja dari rumah semasa pandemi COVID-19 untuk mengurangi rantai penularan penyakit ini. Namun, terdapat sejumlah profesi yang masih mengharuskan karyawan untuk tetap bekerja di kantor. Untuk mengetahui cara pencegahan yang benar, Sobat sebaiknya juga mengenal cara penularan virus tersebut, yaitu melalui percik renik yang keluar saat seseorang sedang batuk atau bersin, […]

    Cara Mengendalikan Laju COVID-19 di Lingkungan Kantor

    Pemerintah telah menetapkan kebijakan kerja dari rumah semasa pandemi COVID-19 untuk mengurangi rantai penularan penyakit ini. Namun, terdapat sejumlah profesi yang masih mengharuskan karyawan untuk tetap bekerja di kantor. Untuk mengetahui cara pencegahan yang benar, Sobat sebaiknya juga mengenal cara penularan virus tersebut, yaitu melalui percik renik yang keluar saat seseorang sedang batuk atau bersin, percik renik ini bisa menyebar lalu terjatuh ke permukaan benda seperti meja, kursi, atau benda lainnya dalam radius sekitar 1 meter. Seseorang bisa tertular bila percik renik tersebut terhirup oleh orang lain, atau bila seseorang memegang permukaan benda yang sudah terkena percik renik lalu orang tersebut memegang bagian wajah seperti mata, hidung, dan mulut. Berikut adalah cara untuk mencegah penularan COVID-19 di lingkungan kantor:

    1. Membiasakan cuci tangan bagi pekerja, sebaiknya disediakan tempat khusus untuk mencuci tangan serta hand rub berbahan dasar alkohol di lingkungan kantor. Biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang bersih selama minimal 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudah tercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, dan bila tangan terlihat kotor. Hindari menyentuh wajah, baik sebelum maupun sesudah cuci tangan.
    2. Membiasakan etika batuk dan bersin yang benar, gunakan tisu atau bagian lipat dalam siku untuk menutup hidung dan mulut saat batuk maupun bersin, jangan gunakan tangan. Tisu yang digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya. Untuk orang yang tidak bergejala disarankan untuk menggunakan masker kain setiap harinya.
    3. Tetap menjaga jarak dengan orang lain, jagalah jarak minimal 1 meter dari orang lain. Hindari kontak fisik dengan orang lain, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala, atau membungkuk.
    4. Jaga kebersihan benda atau peralatan kantor yang sering digunakan, bersihkan barang-barang yang digunakan setiap hari dengan air dan sabun bila terlihat kotor secara kasat mata, lalu bersihkan dengan disinfektan secara rutin benda-benda yang sering disentuh seperti meja, gagang pintu, handphone, keyboard, dan keran air.
    5. Membatasi pertemuan orang dalam jumlah banyak, sebelum melakukan pertemuan sebaiknya memastikan terlebih dahulu apakah pertemuan perlu dilakukan secara langsung atau dapat digantikan melalui bantuan media online (teleconference), serta membatasi jumlah orang yang berada dalam satu ruangan kantor, bila memang diperlukan pertemuan langsung sebaiknya dilakukan di ruangan berventilasi baik, dengan tetap menjaga jarak minimal 1 meter dan menggunakan masker.
    6. Secara aktif mengingatkan karyawan yang sakit untuk tetap di rumah, karyawan yang memiliki gejala atau kontak erat dengan penderita sebaiknya memberitahu atasannya dan dianjurkan untuk tetap di rumah. Serta dilakukan skrining kesehatan setiap harinya sebelum karyawan atau pelanggan masuk ke dalam gedung kantor, seperti mengukur suhu tubuh dan menanyakan gejala, bila ada yang tidak memenuhi syarat maka segera berikan masker bedah dan diarahkan untuk tetap di rumah.
    7. Mengetahui tata cara pencegahan dan pengendalian virus sepulang dari kantor, setelah pulang dari kantor, lepas masker kain dari bagian belakang, setelah itu masker kain segera dicuci dan dikeringkan di tempat yang telah disediakan. Letakan kunci, dompet, dan tas di tempat di luar kamar Sobat. Lepaskan baju dan rendam dengan deterjen. Hindari memegang benda lainnya di dalam rumah Sobat, segera mandi dan bersihkan badan.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    2. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. World Health Organizaton. Getting your workplace ready for COVID-19 [Internet]. 2020. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/getting-workplace-ready-for-covid-19.pdf
    4. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet].]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    5. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Interim Guidance for Businesses and Employers [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/guidance-business-response.html

     

    Read More
  • Tidak hanya anak, orang dewasa juga seringkali enggan untuk berhubungan dengan jarum suntik. Walaupun Sobat sudah pernah mendapatkan vaksinasi lengkap saat masih kecil, perlu diketahui bahwa orang dewasa juga butuh vaksinasi karena ada beberapa jenis vaksin tertentu yang masih harus diberikan sebagai booster (penguat) dalam jangka waktu beberapa tahun setelah pemberian terakhir. Setidaknya ada 15 […]

    Apa Keuntungan Perusahaan Memberikan Benefit Vaksinasi Bagi Karyawan Kantor?

    Tidak hanya anak, orang dewasa juga seringkali enggan untuk berhubungan dengan jarum suntik. Walaupun Sobat sudah pernah mendapatkan vaksinasi lengkap saat masih kecil, perlu diketahui bahwa orang dewasa juga butuh vaksinasi karena ada beberapa jenis vaksin tertentu yang masih harus diberikan sebagai booster (penguat) dalam jangka waktu beberapa tahun setelah pemberian terakhir.

    Setidaknya ada 15 kasus penyakit menular yang dapat terjadi pada pekerja (karyawan) yang bisa dicegah oleh vaksinasi. Penyakit menular pada pekerja dapat menyebar melalui individu dan komunitas melalui kontak fisik, makanan, cairan tubuh, darah, serangga/binatang, dan udara. Vaksinasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sampai batas optimal, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut, tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Selain itu, salah satu keuntungan vaksin adalah adanya herd immunity yaitu, suatu kekebalan kelompok yang didapatkan karena sebagian besar orang telah mendapatkan kekebalan melalui imunisasi sehingga tidak terjadi penularan penyakit.

    Suatu profesi mengharuskan seseorang untuk bekerja setiap harinya selama sekian tahun lamanya, hal ini akan memengaruhi jumlah paparan terhadap kuman penyakit yang didapatkan dari tempat kerja. Lambat laun paparan terus-menerus ini akan menimbulkan efek terhadap kesehatan. Sehingga perlu dipertimbangkan pemberian vaksinasi pada pekerja dengan memerhatikan jenis paparan di lingkungan kerja atau proses kerja, risiko penularan, dan status kekebalan tubuh pekerja. Selain itu, terdapat beberapa dasar regulasi yang mengatur pemberian vaksinasi di tempat kerja seperti UU No.1 Tahun 1970 pasal 2 yang berbunyi, “Pemberi kerja mempunyai kewajiban menyediakan layanan kesehatan kerja untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan pekerja” dan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi.

    Tanpa mendapatkan informasi yang lengkap, mungkin vaksinasi untuk melindungi pekerja masih dianggap pemborosan biaya, namun sebenarnya banyak keuntungan yang didapatkan dari sisi upaya pencegahan penularan penyakit yang sebetulnya dapat dicegah dengan vaksinasi dan produktivitas. Berikut adalah keuntungan vaksinasi di lingkungan kantor:

    • Meringankan biaya yang dikeluarkan dengan menurunkan waktu izin karyawan untuk vaksinasi di luar kantor.
    • Meringankan biaya yang dikeluarkan dengan mengurangi jumlah absensi karyawan akibat penyakit dan akan meningkatkan produktivitas kerja.
    • Pencegahan penyakit tertentu akan mencegah keluarga dan lingkungan sekitar untuk ikut terjangkit penyakit (herd immunity), sehingga biaya perawatan pencegahan penyakit akan lebih murah.1,3

    Semua keuntungan yang disebutkan di atas dapat dinilai dengan indikator peningkatan produktivitas dan efisiensi pemberian vaksin berikut ini:

    • Turunnya absensi karena sakit.
    • Meningkatkan moral dan motivasi pekerja dengan memberikan rasa tenang dan nyaman dalam bekerja.
    • Meningkatnya citra perusahaan.
    • Menurunnya biaya berobat.

    Untuk petugas layanan publik, seperti karyawan perkantoran, jenis vaksinasi yang disarankan diberikan oleh perusahaan adalah vaksin terhadap penyakit Influenza, Varicella, Tetanus, Difteri, dan Pertusis (Td/Tdap). Pemberian vaksin influenza sebaiknya diulang setiap setahun sekali, karena virus influenza mudah untuk bermutasi, sehingga isi dari vaksin pun akan berbeda setiap tahunnya, hal ini ditentukan oleh pertimbangan para ahli yang dapat memprediksi jenis virus influenza apa saja yang akan menyebabkan penyakit paling banyak pada tahun itu. Vaksin Varicella melindungi dari penyakit cacar air, penyakit ini sangat mudah menular, sehingga bila Sobat belum pernah terkena cacar air sebelumnya sebaiknya melakukan vaksinasi booster untuk melindungi diri. Penyakit tetanus, difteri, dan pertusis merupakan jenis penyakit yang bisa mematikan. Namun sejak ditemukannya vaksin Tdap ini, kasus kematian akibat tetanus dan difteri telah menurun hingga 99% dan pertusis turun hingga 80%. Oleh karena itu, orang dewasa juga perlu melakukan booster vaksin Td/Tdap ini setiap 10 tahun.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia. Imunisasi untuk Perlindungan dan Upaya Peningkatan Produktivitas Pekerja. I. Jakarta;
    2. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C. Epidemiology and Prevention of Vaccine-preventable Diseases. Centers for Disease Control and Prevention; 2015. 376 p.
    3. Promoting Vaccination in the Workplace | CDC [Internet]. 2019 [cited 2020 May 30]. Available from: https://www.cdc.gov/flu/business/promoting-vaccines-workplace.htm
    4. Shahrabani S, Benzion U. Workplace Vaccination and Other Factors Impacting Influenza Vaccination Decision among Employees in Israel. International Journal of Environmental Research and Public Health. 2010 Mar;7(3):853.
    Read More
  • Di tengah pandemi COVID-19 terdapat berbagai himbauan yang berlaku, salah satunya adalah agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian, serta mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin bisa menjadi dilema apakah perlu membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi di rumah sakit atau tidak.1 Imunisasi adalah suatu […]

    Efektivitas Imunisasi Drive Thru

    Di tengah pandemi COVID-19 terdapat berbagai himbauan yang berlaku, salah satunya adalah agar masyarakat tetap di rumah dan menghindari pusat keramaian, serta mengurangi jumlah kunjungan ke rumah sakit bila kondisi tidak gawat darurat. Hal ini mungkin bisa menjadi dilema apakah perlu membawa Si Kecil untuk melakukan imunisasi di rumah sakit atau tidak.1

    Imunisasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sampai batas optimal, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut, tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Tujuan dari program imunisasi adalah untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio, dan Campak. Dalam mengambil keputusan, kita perlu menimbang risiko dan manfaatnya. Manfaat dari imunisasi sendiri tergolong besar terutama bagi bayi dan anak dibawah 18 bulan serta jadwal imunisasi dasar pada usia tersebut yang cukup padat. Jadwal imunisasi telah disusun oleh para ahli agar vaksin diberikan sebelum Si Kecil dalam usia yang berisiko tinggi terkena penyakit tersebut, maka sebaiknya vaksinasi tetap dilakukan sesuai dengan jadwal yang ada. Apabila banyak bayi dan balita tidak mendapat imunisasi dasar lengkap, akan memungkinkan terjadi wabah penyakit lain yang bisa mengakibatkan anak sakit berat, cacat, atau meninggal.2,3

    Untuk menurunkan risiko paparan terhadap virus pada anak yang akan melakukan imunisasi terdapat beberapa hal yang diterapkan saat ini, seperti mengatur jadwal kedatangan agar anak tidak banyak berkumpul terlalu lama, memisahkan ruang pelayanan untuk anak sakit dan anak sehat di rumah sakit, sampai dilakukannya imunisasi drive thru. Menurut penelitian, pemberian imunisasi secara drive thru di tengah pandemik merupakan salah satu pilihan yang efektif karena dapat menjangkau lebih banyak cakupan dan dapat meminimalisir paparan terhadap kuman penyakit pada anak yang sehat. Namun, dalam pelaksanaan imunisasi drive thru juga harus tetap memegang prinsip pemberian imunisasi yang baik, yaitu sistem pencatatan dan penjadwalan imunisasi yang tepat, pengelolaan distribusi vaksin yang benar yaitu tersimpan pada suhu dan kondisi yang telah ditetapkan tanpa terganggu (2-8oC), cara pemberian dan dosis yang tepat sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan, serta memerhatikan prinsip higienitas yang baik.4–6

    Berikut adalah tips aman untuk Mama dan Si Kecil dalam melaksanakan pemberian imunisasi dasar:

    • Melakukan perjanjian dengan penyedia jasa imunisasi sesuai dengan jadwal imunisasi Si Kecil.
    • Pastikan penyedia jasa yang terpercaya dan memerhatikan prinsip-prinsip pemberian imunisasi secara baik dan benar. Layanan ini juga tersedia di ProSehat.
    • Cukup satu orang saja yang mengantarkan Si Kecil imunisasi, tidak perlu beramai-ramai.
    • Menggunakan masker dan sering mencuci tangan, baik dengan air dan sabun maupun handrub berbahan dasar alkohol.
    • Melakukan physical distancing, yaitu menjaga jarak 1-2 meter dari orang lain, karena apabila seseorang batuk atau bersin terdapat percik renik yang mungkin mengandung virus yang bisa menyebar lalu terjatuh ke permukaan benda dalam radius sekitar 1 meter.
    • Setelah melakukan imunisasi, langsung pulang ke rumah dan usahakan tidak keluar rumah kecuali ada keperluan yang sangat penting. Sampai di rumah, segera mencuci tangan dengan air dan sabun, serta mengganti pakaian anak.
    • Di rumah tetap berikan Si Kecil ASI, makanan yang bergizi, menjauhi orang yang sedang sakit, pastikan juga Mama cuci tangan sebelum menyentuh bayi serta jangan mencium bayi.2,7

    Jika keadaan tidak memungkinkan karena alasan tertentu, imunisasi Si Kecil dapat ditunda 1 bulan. Terdapat juga program imunisasi catch-up bagi mereka yang tertinggal dari jadwal imunisasinya, sebaiknya imunisasi segera diberikan bila situasi memungkinkan. Pemberian vaksin juga diberikan selang 1 bulan karena rentang waktu yang dibutuhkan tubuh untuk merangsang pembentukan antibodi paling optimal dalam jarak 1 bulan.2,3

    Selain itu, bagi Anda yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis oleh: dr Erika Gracia 

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    2. Rekomendasi Imunisasi Anak pada Situasi Pandemi COVID-19 [Internet]. IDAI. Available from: http://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/rekomendasi-imunisasi-anak-pada-situasi-pandemi-covid-19
    3. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C. Epidemiology and Prevention of Vaccine-preventable Diseases. Centers for Disease Control and Prevention; 2015. 376 p.
    4. Gupta A, Evans GW, Heragu SS. Simulation and optimization modeling for drive-through mass vaccination – A generalized approach. Simulation Modelling Practice and Theory. 2013 Sep;37:99–106.
    5. Jadwal Imunisasi IDAI 2014 [Internet]. IDAI. Available from: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014
    6. Banks LL, Crandall C, Esquibel L. Throughput times for adults and children during two drive-through influenza vaccination clinics. Disaster Med Public Health Prep. 2013 Apr;7(2):175–81.
    7. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    Read More
  • Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? […]

    5 Persiapan untuk Kondisi New Normal

    Hingga saat ini pandemi COVID-19 masih berlangsung, dan para ahli pun belum yakin sampai kapan pandemi akan berakhir. Ini berlaku untuk seluruh negara, termasuk di Indonesia. Dengan berjalannya pandemi yang cukup lama, Sobat harus beradaptasi karena dunia akan memasuki fase New Normal. Sobat mungkin baru pertama kali mendengar istilah ini, apakah fase New Normal itu? Perlukah Sobat bersiap-siap untuk menghadapi fase New Normal?

    Dikutip dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB), fase New Normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona jenis baru, penyebab COVID-19.1 Dengan kata lain, fase New Normal adalah situasi dimana terdapat perubahan standar yang menjadi kondisi normal yang baru. Beberapa dari Sobat mungkin akan kembali bekerja di kantor dan melakukan aktivitas rutin lainnya, namun harus ditambahkan dengan perilaku social distancing dan protokol pencegahan lainnya dalam masa pandemi COVID-19. Semua hal ini dianggap standar yang baru sehingga menjadi normal yang baru. Sobat akan menghadapi rutinitas sehari-hari dengan perilaku yang berbeda, pastikan Sobat siap untuk menghadapi fase New Normal. Berikut adalah perilaku yang harus Sobat siapkan untuk fase New Normal:

    1. Social Distancing Dimanapun Berada

    Perilaku social distancing sudah berjalan sekian lama seiring dengan masa pandemi COVID-19 ini. Tentu Sobat mungkin sudah terbiasa dengan social sistancing seperti bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) atau menghindari untuk berkumpul dengan teman-teman. Namun Sobat suatu saat akan kembali bekerja ke kantor, atau harus menggunakan angkutan umum. Selama pandemi ini berlangsung, social distancing tetap harus diterapkan. Pada saat di angkutan umum, berilah jarak 1 kursi kosong dengan penumpang lain dan jangan berjalan dalam kerumunan orang. Hal ini dikarenakan metoda penyebaran virus yang berupa droplet yang diproduksi oleh orang terinfeksi yang batuk atau bersin.2 WHO merekomendasikan untuk menjaga jarak minimal 1 meter antara Sobat dan orang lain.

    1. Selalu Gunakan Masker

    Untuk Sobat yang akan kerja dan bepergian melalui tempat umum, pastikan selalu menggunakan masker. Masker merupakan pencegahan yang efektif agar virus tidak masuk melalui hidung dan mulut Sobat. Lebih efektif lagi jika orang yang sedang sakit menggunakan masker, sehingga sumber penyebarannya terhenti pada masker orang sakit tersebut. Masker harus digunakan secara benar untuk dapat bekerja dengan efektif. Pastikan masker Sobat menutupi bagian hidung dan mulut dengan rapat. Masker bedah memiliki tingkat efektivitas paling tinggi.4 Apabila Sobat ingin membeli atau membuat masker buatan sendiri, pilihlah yang berbahan 100% katun karena memiliki efektivitas yang cukup tinggi dibandingkan bahan lain.

    1. Jangan Lupa untuk Mencuci Tangan

    Virus COVID-19 dalam bentuk droplet tidak hanya dibatukkan saja lalu menghilang. Droplet penuh virus dapat menempel pada permukaan-permukaan benda di sekitar Sobat. Pada permukaan plastik dan stainless steel virus dapat bertahan hingga 72 jam, selain itu pada kardus dapat bertahan hingga 24 jam dan pada tembaga hanya bertahan hingga 4 jam.6 Sebelum Sobat makan atau menyentuh wajah, pastikan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan menggunakan air mengalir dengan sabun atau dengan hand sanitizer berbasis alkohol cukup untuk membunuh virus tersebut.

    1. Jagalah Kesehatan Tubuh

    Makan makanan yang bergizi, minumlah yang cukup, rutin berolahraga, istirahat yang cukup dan jangan lupa untuk menghindari alkohol dan rokok. Jalanilah hidup Sobat dengan pola hidup yang sehat. Semua hal ini akan berdampak terhadap sistem imun tubuh Sobat. Jika imun tubuh sobat sedang tidak optimal, infeksi lebih mudah terjadi.

    1. Vaksin untuk Mencegah Infeksi Lain

    Sobat dapat melakukan vaksinasi untuk mencegah tubuh terinfeksi oleh penyakit lain. Salah satu contoh vaksinasi berupa vaksin influenza. Vaksin influenza akan membuat tubuh Sobat menjadi lebih tidak rentan terhadap virus yang memiliki tanda dan gejala yang mirip dengan COVID-19. Vaksin influenza dapat mengurangi 60% angka kejadian kasus pada orang yang dibawah 65 tahun, dan dapat menurunkan 50-60% angka rawat inap pada orang lanjut usia.7 Lalu, untuk mengurangi kunjungan Sobat ke rumah sakit, manfaatkan layanan Drive Thru seperti yang disediakan ProSehat, untuk meminimalisir kontak.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Jonathan Christopher

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Ariansyah A. Ketika Semua Harus Memulai Fase “New Normal” Hadapi COVID-19 [Internet]. BNPB. [cited 2020 May 19]. Available from: https://bnpb.go.id/berita/ketika-semua-harus-memulai-fase-new-normal-hadapi-covid19-1
    2. Shereen MA, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: Origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. J Adv Res. 2020 Jul 1;24:91–8.
    3. Coronavirus [Internet]. [cited 2020 May 19]. Available from: https://www.who.int/westernpacific/health-topics/coronavirus
    4. Bowen LE. Does That Face Mask Really Protect You? Appl Biosaf. 2010 Jun 1;15(2):67–71.
    5. Davies A, Thompson K-A, Giri K, Kafatos G, Walker J, Bennett A. Testing the efficacy of homemade masks: would they protect in an influenza pandemic? Disaster Med Public Health Prep. 2013 Aug;7(4):413–8.
    6. van Doremalen N, Bushmaker T, Morris DH, Holbrook MG, Gamble A, Williamson BN, et al. Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. N Engl J Med. 2020 Apr 16;382(16):1564–7.
    7. Hamborsky J, Kroger A, Wolfe C, National Center for Immunization and Respiratory Diseases (U.S.), Communication and Education Branch. Epidemiology and prevention of vaccine-preventable diseases. 2015.
    Read More
  • Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Masyarakat diimbau untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Namun, setelah beberapa bulan melaksanakan PSBB, jumlah pasien yang terinfeksi virus corona masih naik-turun.2 Berdasarkan data pemerintah hingga Selasa, 19 Mei 2020, jumlah total kasus positif […]

    Sudah Tahukah Sobat, Apa Itu ‘The New Normal’?

    Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah telah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Masyarakat diimbau untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Namun, setelah beberapa bulan melaksanakan PSBB, jumlah pasien yang terinfeksi virus corona masih naik-turun.2 Berdasarkan data pemerintah hingga Selasa, 19 Mei 2020, jumlah total kasus positif COVID-19 mencapai 18.496 orang dan diperkirakan akan terus bertambah.3 Selain itu, pandemi COVID-19 diprediksikan baru akan usai pada akhir Juni dan bahkan masih dapat berlanjut.4

    Pandemi COVID-19 juga berdampak pada ekonomi masyarakat dan tidak sedikit orang yang kehilangan mata pencaharian dan terpaksa meninggalkan rumah untuk bekerja. Oleh karena itu, pemerintah telah mengumumkan perubahan gaya hidup The New Normal, untuk mendampingi kebijakan PSBB yang telah berlangsung. The New Normal adalah adaptasi gaya hidup, yaitu dengan tetap menjalankan aktivitas normal, namun disertai penerapan protokol kesehatan demi mencegah penyebaran COVID-19.6

    Himbauan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup The New Normal bukan berarti pemerintah telah melonggarkan PSBB, melainkan pemerintah menganjurkan perubahan budaya dengan cara menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengenakan masker saat keluar rumah, serta sering mencuci tangan dan menggunakan handsanitizer.7 Selain itu, penerapan gaya hidup The New Normal dapat dilakukan dalam bentuk pengurangan kontak fisik dengan orang lain dan menghindari kerumunan dengan cara menetap di rumah.6 Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 juga wajib dilakukan, termasuk larangan menyentuh area wajah terutama mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor, penerapan etika batuk dan bersin dengan menutup mulut menggunakan lengan atas bagian dalam serta menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi.5 Tak lupa, penerapan gaya hidup sehat seperti mendapat sinar matahari pagi yang cukup, tidur malam yang berkualitas, serta berolahraga minimal 30 menit perhari dapat membantu dalam meningkatkan imunitas tubuh dalam menghadapi pandemi COVID-19.8

    Konsep perubahan gaya hidup ini merupakan salah satu imbauan World Health Organization (WHO) untuk negara-negara di Wilayah Asia Tenggara yang tengah mengurangi lockdown secara bertahap.1 WHO juga menjelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dalam penerapan gaya hidup The New Normal, salah satunya adalah kewajiban mendidik, melibatkan, dan memberdayakan masyarakat dalam gaya hidup baru ini.

    Pemerintah telah mengumumkan bahwa gaya hidup The New Normal akan terus diterapkan selama pandemi COVID-19 berlangsung hingga vaksin untuk COVID-19 ditemukan.6 Saat ini, penelitian mengenai vaksin COVID-19 tengah berlangsung dan diperkirakan siap digunakan pada akhir 2021 hingga 2022.9 Sementara itu, Sobat diharapkan untuk beradaptasi dengan gaya hidup baru dan mematuhi protokol Kesehatan yang ada.

    Tak hanya perubahan gaya hidup, konsep The New Normal diprediksi juga akan mengubah paradigma pelayanan kesehatan melalui online platform.7 Dengan begitu, konsultasi dan penulisan resep obat akan dilakukan secara daring oleh dokter umum maupun spesialis. Resep akan secara otomatis dikirim ke apotek terhubung dan diantar langsung ke rumah pasien setelah melakukan pembayaran dengan cara transfer. Jika diperlukan untuk bertemu langsung dengan dokter, pasien dapat melakukan penjadwalan khusus dengan dokter yang bersangkutan.

    Perlu kembali diingat bahwa perubahan gaya hidup ini bukan berarti pelonggaran PSBB. Oleh karena itu, Sobat diharapkan dapat beradaptasi dengan gaya hidup The New Normal dan mematuhi protokol kesehatan yang telah di tetapkan pemerintah. Diharapkan untuk tetap #dirumahaja dan sangat tidak disarankan untuk pergi keluar kota demi menjaga kesehatan diri sendiri, keluarga, dan sesama.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Fenyta Christyani

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Local epidemiology should guide focused action in ‘new normal’ COVID-19 world. (2020). Retrieved 19 May 2020, from https://www.who.int/southeastasia/news/detail/15-05-2020-local-epidemiology-should-guide-focused-action-in-new-normal-covid-19-world
    2. Media, K. (2020). Kurva Kasus Covid-19 di Jakarta dalam Sepekan, Naik Turun Belum Terlihat Landai Halaman all – Kompas.com. Retrieved 19 May 2020, from https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/12/20070791/kurva-kasus-covid-19-di-jakarta-dalam-sepekan-naik-turun-belum-terlihat?page=all#page3
    3. Media, K. (2020). UPDATE 19 Mei: Tambah 30 Orang, Pasien Covid-19 Meninggal Jadi 1.221. Retrieved 19 May 2020, from https://nasional.kompas.com/read/2020/05/19/16084001/update-19-mei-tambah-30-orang-pasien-covid-19-meninggal-jadi-1221
    4. Post, T. (2020). Indonesia’s strategy to end COVID-19 outbreak lacks effectiveness: Study. Retrieved 19 May 2020, from https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/25/indonesias-strategy-to-end-covid-19-outbreak-lacks-effectiveness-study.html
    5. Media, K. (2020). Hal-hal yang Harus Kita Pahami soal New Normal… Halaman all – Kompas.com. Retrieved 19 May 2020, from https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/19/082622465/hal-hal-yang-harus-kita-pahami-soal-new-normal?page=all#page3
    6. Media, K. (2020). Sering Disebut-sebut, Apa Itu New Normal?. Retrieved 19 May 2020, from https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/16/164600865/sering-disebut-sebut-apa-itu-new-normal-
    7. Media, K. (2020). Pemerintah: New Normal adalah Perubahan Budaya, Bukan Pelonggaran PSBB. Retrieved 19 May 2020, from https://nasional.kompas.com/read/2020/05/19/07422531/pemerintah-new-normal-adalah-perubahan-budaya-bukan-pelonggaran-psbb
    8. Naja, F., & Hamadeh, R. (2020). Nutrition amid the COVID-19 pandemic: a multi-level framework for action. European Journal Of Clinical Nutrition. doi: 10.1038/s41430-020-0634-3
    9. Peeples, L. (2020). News Feature: Avoiding pitfalls in the pursuit of a COVID-19 vaccine. Proceedings Of The National Academy Of Sciences117(15), 8218-8221. doi: 10.1073/pnas.2005456117

     

    Read More
  • Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai Work From Home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat […]

    Panduan Ergonomi Saat WFH

    Seperti kita ketahui, efek pandemi COVID-19 membuat kantor dan tempat kerja lainnya harus ditutup untuk mencegah penularan. Namun beberapa dari pekerjaan Sobat mungkin dapat dikerjakan di rumah. Inilah yang disebut sebagai Work From Home (WFH). WFH untuk beberapa dari Sobat mungkin mengharuskan untuk bekerja di depan layar komputer dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan isu ergonomi. Ergonomi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi manusia dengan komponen sistem lainnya untuk mendapatkan rancangan yang optimal terkait dengan human well-being dan kinerja sistem secara keseluruhan.1

    Beberapa isu ergonomi yang dapat Sobat alami pada umumnya seperti pegal pada bahu, leher, atau nyeri pinggang, keluhan mata seperti gatal atau perih, nyeri pada pergelangan tangan, hingga kelelahan. Semua isu tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar dari Sobat tidak memiliki lingkungan bekerja yang ergonomis di rumah, atau Sobat bekerja dalam posisi yang tidak baik untuk kesehatan seperti:1

    • Duduk dengan posisi membungkuk dan punggung tidak tersangga.
    • Bekerja di sofa dengan leher yang membungkuk atau pergelangan tangan yang menekuk.

    Sebuah penelitian menyatakan bahwa keluhan nyeri pada leher dan mata gatal atau perih disebabkan karena penderita melihat layar terlalu bawah yang dapat dihindari jika layar diposisikan sedikit di bawah ketinggian mata.2 Penelitian lain menemukan bahwa nyeri pada pergelangan tangan berupa Carpal Tunnel Syndrome dapat dikaitkan dengan penggunaan mouse yang lama.3 Semua keluhan tersebut dapat dihindari jika Sobat bekerja dalam posisi yang ideal. Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) telah mengeluarkan sebuah panduan untuk posisi yang ideal bagi tubuh Sobat saat bekerja. Sobat dapat ikuti panduannya sebagai berikut:1

    Untuk bekerja dalam durasi <1 jam

    Dapat dilakukan pada posisi duduk atau berdiri.

    • Untuk bekerja dengan posisi duduk di kursi/sofa:
      • Pilih kursi/sofa yang mendukung sikap duduk tegak yang nyaman.
      • Jika ada meja, maka tempatkan laptop di meja, dan posisi pergelangan tangan lurus saat mengetik.
      • Jika tidak ada meja, tempatkan laptop di pangkuan, pergelangan tangan harus tetap lurus saat mengetik.
      • Tambahkan buku/laptop riser/adjustable desk agar leher tidak menekuk.
      • Gunakan handuk gulung atau bantal untuk menopang punggung bagian bawah.
      • Miringkan layar laptop untuk mempertahankan postur netral.
    • Untuk bekerja dengan posisi berdiri, menggunakan prinsip yang sama.

    Untuk bekerja dalam waktu yang lama (> 1 jam)

    • Hindari bekerja sambil duduk di atas kasur atau sofa dalam jangka panjang.
    • Pilih meja yang paling memadai (cukup luas dengan ruang di bawah kaki memadai).
    • Pilih kursi yang bisa memberikan support untuk punggung bawah.
    • Tambahkan bantalan jika diperlukan.
    • Gunakan keyboard dan mouse terpisah dengan laptop Anda.
    • Posisi pergelangan tangan tetap lurus saat mengetik.
    • Posisikan laptop Anda sehingga bagian atas layar sejajar dengan ketinggian mata Anda. Gunakan kotak atau beberapa buku untuk meninggikan laptop anda atau pasang monitor terpisah jika ada.

    Saat Sobat bekerja dimanapun, 3 hal yang selalu harus diperhatikan adalah:1

    1. Pertahankan siku dalam posisi 90 derajat.
    2. Jarak mata dengan monitor 50-70 cm.
    3. Posisi tubuh netral dan rileks.

    Sebuah penelitian diadakan untuk menilai apakah ada perbedaan pada para pekerja setelah menerima pelatihan ergonomik. Hasilnya menunjukkan bahwa kejadian nyeri pinggang atau low back pain berkurang.4 Selain itu, Sobat juga dapat melakukan peregangan selama 5-10 menit sesuai panduan PEI. Modifikasi ergonomik seperti menggunakan posisi yang benar dan aktivitas peregangan terbukti dapat memperbaiki keluhan nyeri otot secara signifikan.5 Peregangan dapat dilakukan dengan cara seperti gambar di bawah:

    Saat WFH maupun nanti saat kembali ke kantor, jangan lupa untuk kerja dalam posisi ergonomis dan lakukan peregangan otot sesuai panduan PEI. Dengan posisi yang ergonomis dan peregangan otot, Sobat akan terhindar dari isu ergonomis yang menyebabkan timbulnya keluhan-keluhan tidak nyaman.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Jonathan Christopher

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Yassierle, Titis W, Dewi H, Orchida D, Khoirul M, Wyke K. Panduan Ergonomis: “Working From Home”. Perhimpunan Ergonomi Indonesia; 2020.
    2. Mowatt L, Gordon C, Santosh ABR, Jones T. Computer vision syndrome and ergonomic practices among undergraduate university students. Int J Clin Pract. 2018;72(1):e13035.
    3. Shiri R, Falah-Hassani K. Computer use and carpal tunnel syndrome: A meta-analysis. J Neurol Sci. 2015 Feb 15;349(1):15–9.
    4. Kajiki S, Izumi H, Hayashida K, Kusumoto A, Nagata T, Mori K. A randomized controlled trial of the effect of participatory ergonomic low back pain training on workplace improvement. J Occup Health. 2017;advpub.
    5. Shariat A, Cleland JA, Danaee M, Kargarfard M, Sangelaji B, Tamrin SBM. Effects of stretching exercise training and ergonomic modifications on musculoskeletal discomforts of office workers: a randomized controlled trial. Braz J Phys Ther. 2018 Mar 1;22(2):144–53.
    Read More
  • Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalisir paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai […]

    Bagaimana Berobat Setelah Masa Pandemi Berakhir?

    Terdapat beragam perubahan pola hidup yang harus dilakukan masyarakat akibat terjadinya pandemi COVID-19, salah satunya adalah anjuran cara berobat ke rumah sakit. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalisir paparan terhadap virus bila tidak ada kondisi gawat darurat yang perlu penanganan segera dari dokter dan tenaga medis lainnya. Berikut akan dibahas mengenai perubahan dalam cara berobat, apa saja yang akan terjadi setelah masa pandemi ini berakhir:

    1. Masyarakat akan lebih memanfaatkan fasilitas telemedicine

    Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah meminta masyarakat yang sedang sakit untuk memanfaatkan aplikasi kesehatan untuk berobat secara online (telemedicine). Dengan adanya layanan online, tidak semua orang yang sakit perlu dibawa berobat ke rumah sakit. Setelah masa pandemi ini berakhir, pola berobat atau konsultasi medis secara online diharapkan tetap mampu menjadi budaya baru di masyarakat. Mengingat tingginya paparan terhadap kuman penyakit di rumah sakit, pengobatan secara online juga yang memungkinkan Sobat untuk melakukan konsultasi dengan dokter tanpa perlu keluar dari rumah juga sudah terbukti merupakan pilihan yang efektif dan efisien. Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan melalui konsultasi online:

    • Memberikan kemudahan untuk bertanya- jawab mengenai penanganan pertama sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah, seperti pada kasus luka akibat terjatuh, batuk pilek biasa, diare, gigitan serangga, dan lain-lain.
    • Menjawab pertanyaan dengan tepat seputar penyakit dan pengobatan yang sedang atau sudah selesai dijalani sebelumnya.
    • Mempermudah pasien untuk mengetahui hasil laboratorium dengan cepat dan tepat.
    • Memberikan saran mengenai kunjungan ke spesialisasi bidang kedokteran yang sesuai dengan penyakit yang dialami.

    Pelayanan kesehatan secara online ini juga akan sangat bermanfaat khususnya bagi pasien dengan mobilitas rendah yang membutuhkan pelayanan dalam jangka panjang seperti pasien penderita sakit kronis (hipertensi, diabetes, perawatan luka, perawatan paska stroke, dan lain-lain). Telemedicine sudah diterima sebagai salah satu cara manajemen yang efektif untuk pasien dengan penyakit kronis oleh sebagian besar penyedia pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penggunaan telemedicine sendiri akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman, namun bukan berarti dapat menggantikan kunjungan langsung ke dokter untuk kasus yang memang memerlukan penanganan lebih lanjut. Telemedicine merupakan pendukung pelayanan kesehatan masyarakat yang mudah diakses dan efisien.

    1. Membuat appointment sebelum ke rumah sakit

    Bila kondisi penyakit Sobat memang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit, ada baiknya untuk tetap membiasakan diri membuat penjadwalan (appointment) terlebih dahulu dengan pihak rumah sakit, sehingga Sobat tidak perlu mengantri terlalu lama dan jumlah pasien yang berobat juga dibatasi sesuai dengan jam sehingga tidak menumpuk. Selain itu, sebaiknya janji pertemuan dengan dokter dilakukan secara rutin sesuai anjuran dokter, sebelum obat rutin yang dikonsumsi habis atau sebelum munculnya gejala penyakit baru.

    1. Tetap memerhatikan pola hidup bersih dan sehat

    Sejak terjadinya pandemi COVID-19, membiasakan kehidupan pola hidup bersih dan sehat lebih ditekankan kepada masyarakat seperti rutin mencuci tangan, mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak dengan orang lain, cara-cara untuk menjaga kesehatan agar imun tubuh tetap kuat, dan lainnya. Pola hidup seperti ini juga harus tetap dipertahankan bahkan sampai masa pandemi ini berakhir, baik dalam kehidupan sehari-hari, serta terutama bila Sobat sedang berobat ke rumah sakit. Jumlah kuman penyebab bakteri di rumah sakit tentunya lebih banyak sehingga pastikan untuk tetap melakukan pola hidup bersih dan sehat.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kurangi Risiko Tenaga Medis Tertular Covid-19, Jokowi Minta Warga Berobat Online [Internet]. Available from: nasional(dot)kompas(dot)com/read/2020/04/13/10491681/kurangi-risiko-tenaga-medis-tertular-covid-19-jokowi-minta-warga-berobat
    2. Global Observatory for eHealth series. Telemedicine: Opportunities and developments in Member States. Vol. 2. World Health Organization; 2010.
    3. Williamson R. The Role of Telemedicine in Chronic Disease Management [Internet]. Medium. 2019. Available from: medium(dot)com/@ryanwilliamsonc/the-role-of-telemedicine-in-chronic-disease-management-5ec79bb0e575
    4. How Telemedicine Can Make Getting Your Prescription Easier – GoodRx [Internet]. The GoodRx Prescription Savings Blog. 2019. Available from: goodrx(dot)com/blog/how-telemedicine-can-make-getting-your-prescription-easier/
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    Read More
  • Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir telah membuat masyarakat menjadi takut, cemas, dan gelisah. Terlebih lagi, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran COVID-19 membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Hal ini membuat banyak orang menjadi jenuh dan stres karena tidak bisa pergi jalan-jalan, liburan, dan pulang ke kampung […]

    7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbeban Kapan Covid-19 Berakhir

    Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir telah membuat masyarakat menjadi takut, cemas, dan gelisah. Terlebih lagi, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna menekan penyebaran COVID-19 membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Hal ini membuat banyak orang menjadi jenuh dan stres karena tidak bisa pergi jalan-jalan, liburan, dan pulang ke kampung halaman. Tidak sedikit orang yang telah bertanya-tanya kapankah COVID-19 berakhir dan berharap dapat kembali ke rutinitas semula. Jika Sobat adalah salah satu orang yang mengalami stres dalam menghadapi wabah COVID-19, jangan khawatir, karena berikut adalah 7 tips untuk mengatasi stres akibat pandemi corona.

    1. Batasi dan filter berita

    Mengikuti informasi dan berita terkini mengenai pandemi COVID-19 merupakan hal yang penting. Namun, terkadang berita yang tersebar juga dapat menimbulkan stres dan kegelisahan di kalangan masyarakat. Untuk itu, penting untuk membatasi berita yang dibaca. Terlebih lagi, pastikan berita yang dibaca memilki sumber yang terpercaya agar Sobat terhindar dari penyebaran hoax.

    1. Meditasi

    Penelitian telah membuktikan bahwa meditasi dapat membantu menenangkan pikiran, melatih fokus, dan menghilangkan stres1. Saat seseorang mengalami stres, tubuh melepasakan hormon kortisol yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Meditasi adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dimana saja dan dipercaya dapat mengembalikan detak jantung dan tekanan darah kembali normal. Meditasi dapat dilakukan dengan mengatur hembusan napas secara perlahan, sembari membuang pikiran negatif dan stres yang dialami.

    1. Yoga

    Yoga adalah salah satu olahraga simpel yang tidak membutuhkan banyak peralatan. Bahkan, jika tidak memiliki matras yoga, yoga juga dapat dilakukan di tempat tidur. Yoga merupakan bentuk meditasi yang juga terbukti ampuh untuk menghilangkan stres, kegelisahan, dan depresi3. Selain mengatur pernapasan, yoga juga dapat meregangkan otot sehingga menimbulkan efek relaksasi.

    1. Memasak

    Bagi Sobat yang senang berada di dapur, memasak bisa menjadi salah satu aktivitas penghilang stres. Selama masa pandemi COVID-19, banyak content creator yang membagikan resep mudah di media sosial. Mencoba berbagai resep dan berkreasi di dapur dapat mengurangi jenuh selama di rumah.

    1. Membersihkan rumah

    Kebersihan rumah adalah hal penting yang harus tetap dijaga, terutama selama masa pandemi ini. Pembersih desinfektan yang berbahan dasar alkohol dapat membunuh virus yang ada di sekitar dan di dalam rumah. Jangan lupa untuk membersihkan tempat dan barang yang sering dipegang seperti keyboard, saklar lampu, handphone, dan sebagainya.

    1. Membaca buku dan menonton film

    Selain menambah pengetahuan dan mengusir kebosanan selama masa karantina di rumah, membaca buku dan menonton film dapat menjadi aktivitas bermanfaat untuk mengisi waktu luang. Orang yang sering membaca memiliki kemampuan belajar, komunikasi, dan komprehensi yang lebih tinggi dari orang yang jarang membaca5.

    1. Mengasah keterampilan

    Tetap menghasilkan karya selama masa karantina di rumah bisa menjadi salah satu cara mengusir stres. Manfaatkan waktu luang untuk mengasah keterampilan atau hobi yang sudah lama ditinggalkan. Entah itu menjahit, menggambar, menulis, melukis dan sebagainya. Melakukan hal yang disukai dapat mengurangi stres selama di rumah.

    Nah, Sobat itulah sederet tips untuk mengatasi stres selama masa pandemi COVID-19. Daripada stres dan pusing memikirkan kapan COVID-19 akan berakhir, Sobat dapat mencoba berbagai tips di atas untuk mengurangi stres selama masa karantina di rumah.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Fenyta Christyani

    DAFTAR PUSTAKA 

    1. Sharma, H. (2015). Meditation: Process and effects. AYU (An International Quarterly Journal Of Research In Ayurveda)36(3), 233. doi: 10.4103/0974-8520.182756
    2. Ranabir, S., & Reetu, K. (2011). Stres and hormones. Indian journal of endocrinology and metabolism15(1), 18–22. https://doi.org/10.4103/2230-8210.77573
    3. Shohani, M., Badfar, G., Nasirkandy, M. P., Kaikhavani, S., Rahmati, S., Modmeli, Y., Soleymani, A., & Azami, M. (2018). The Effect of Yoga on Stres, Anxiety, and Depression in Women. International journal of preventive medicine9, 21. https://doi.org/10.4103/ijpvm.IJPVM_242_16
    4. Rabenau, H., Kampf, G., Cinatl, J., & Doerr, H. (2005). Efficacy of various disinfectants against SARS coronavirus. Journal Of Hospital Infection61(2), 107-111. doi: 10.1016/j.jhin.2004.12.023
    5. Duff, D., Tomblin, J. B., & Catts, H. (2015). The Influence of Reading on Vocabulary Growth: A Case for a Matthew Effect. Journal of speech, language, and hearing research : JSLHR58(3), 853–864. https://doi.org/10.1044/2015_JSLHR-L-13-0310
    Read More
  • Puasa idealnya menjadi waktu Sobat untuk banyak melakukan ibadah dan meninggalkan kebiasan buruk. Terutama bagi para perokok aktif, puasa seharusnya bisa menjadi latihan untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Seperti diketahui, selain makan dan minum, merokok merupakan salah satu hal yang dinantikan oleh seorang perokok aktif saat berbuka puasa. Sehingga setelah berbuka, seringkali perokok akan segera […]

    Dampak Langsung Merokok Setelah Buka Puasa

    Puasa idealnya menjadi waktu Sobat untuk banyak melakukan ibadah dan meninggalkan kebiasan buruk. Terutama bagi para perokok aktif, puasa seharusnya bisa menjadi latihan untuk menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Seperti diketahui, selain makan dan minum, merokok merupakan salah satu hal yang dinantikan oleh seorang perokok aktif saat berbuka puasa. Sehingga setelah berbuka, seringkali perokok akan segera menyalakan rokoknya. Padahal langsung merokok saat berbuka puasa sangat tidak disarankan, karena memiliki beragam dampak yang buruk bagi tubuh.

    Rokok sendiri pada dasarnya menyebabkan beragam penyakit hampir ke seluruh organ tubuh. Penyakit yang sering ditimbulkan seperti kanker, penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit paru obstruksi kronis termasuk emfisema dan bronkitis akut, diabetes, dan lainnya. Ketika berpuasa, kita tidak mengonsumsi makanan dan minuman sekitar 14 jam dan perut sedang berada dalam keadaan kosong. Sehingga saat kita berbuka puasa, sebaiknya dibuka dengan makanan-makanan yang bergizi dan mengandung zat antioksidan yang tinggi seperti sayur dan buah-buahan untuk mengganti energi yang hilang selama puasa. Namun kalau saat berbuka langsung merokok, berarti hal pertama yang masuk adalah zat-zat beracun seperti nikotin, tar, karbon monoksida, gas oksidan, benzene, dan lainnya. Bahan-bahan kimia ini akan lebih berbahaya jika masuk ke dalam tubuh saat keadaan perut sedang kosong. Berikut adalah bahaya langsung merokok setelah buka puasa:

    1. Nikotin yang masuk dalam waktu singkat dengan jumlah banyak berefek mual dan menimbulkan sakit kepala. Nikotin sendiri merupakan senyawa yang dapat menimbulkan adiksi, saat masuk ke dalam tubuh akan menstimulasi kerja kelenjar adrenal yang menghasilkan adrenalin. Peningkatan adrenalin dalam tubuh ini bersifat stimulan sehingga akan meningkatkan denyut jantung, nafas, dan tekanan darah. Secara tidak langsung, nikotin juga akan melepaskan hormon dopamin yang memengaruhi perasaan, gerakan, dan sensasi senang maupun nyeri. Peningkatan dopamin inilah yang seringkali menyebabkan adiksi pada seorang perokok sehingga bila seorang perokok menghentikan kebiasaan buruk ini secara tiba-tiba, maka akan muncul perasaan cemas, mudah marah, hingga depresi. Efek buruk dari nikotin dapat memengaruhi:
      • Sistem sirkulasi darah, yaitu peningkatan risiko pembekuan darah serta pembentukan plak yang dapat menyumbat pembuluh darah.
      • Sistem saraf pusat/otak, yaitu rasa sakit kepala, pusing, gangguan tidur, serta mimpi buruk.
      • Sistem pencernaan, yaitu rasa mual, muntah, mulut kering, gangguan pencernaan, rasa panas di dada, dan diare.
      • Sistem kardiovaskular/jantung, yaitu peningkatan denyut nadi, peningkatan tekanan darah, peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
    2. Karbon monoksida yang terdapat pada asap rokok akibat proses pembakaran adalah gas yang beracun, tidak berwarna, serta tidak berbau. Gas ini berbahaya karena bila terhirup oleh paru-paru dan masuk ke dalam tubuh, karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin di sel darah merah dan terbawa dengan aliran darah kita. Karbon monoksida dapat mengikat hemoglobin darah 300 kali lebih kuat dan cepat dibanding oksigen. Hal ini mengakibatkan sel dalam tubuh Sobat bisa kekurangan oksigen, sehingga yang dirasakan adalah lelah dan pusing. Gas ini juga dapat menurunkan fungsi otot dan jantung, gejala yang dirasakan adalah peningkatan denyut nadi, kelemahan untuk melakukan olah raga, nyeri kepala, mual, muntah, dan pandangan yang buram. Kurangnya oksigen dalam darah juga akan menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mendistribusikan darah yang mengandung sedikit oksigen ke seluruh tubuh, sehingga karbon monoksida dalam darah akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan peningkatan kadar kolesterol jahat dalam darah yang lama-kelamaan menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah arteri.

    Jadi, ingatlah bahaya langsung merokok saat buka puasa dalam keadaan perut kosong, zat-zat berbahaya yang ada dalam rokok akan masuk dalam darah dengan cepat. Selain itu, langsung merokok saat berbuka ini juga bisa memicu batuk akibat iritasi saluran pernafasan, karena tenggorokan yang masih dalam keadaan yang kering.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: dr Erika Gracia

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Apa bahaya langsung merokok saat berbuka puasa? [Internet]. Direktorat P2PTM. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik/apa-bahaya-langsung-merokok-saat-berbuka-puasa
    2. CDCTobaccoFree. Health Effects of Smoking and Tobacco Use [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2017 . Available from: https://www.cdc.gov/tobacco/basic_information/health_effects/index.htm
    3. What Chemicals Are In Cigarette Smoke? [Internet]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/215420#3
    4. Nicotine: Facts, effects, and addiction [Internet]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/240820
    5. How Carbon Monoxide Hurts Smokers [Internet]. Verywell Mind. Available from: https://www.verywellmind.com/carbon-monoxide-in-cigarette-smoke-2824730
    Read More
  • Pandemi COVID-19 selama beberapa bulan terakhir membuat masyarakat banyak berdiam diri di rumah. Berbagai cara telah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona, salah satunya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Namun, kegiatan belajar-mengajar di rumah juga membuat anak menjadi jenuh […]

    7 Tips Orang tua Dampingi Anak yang Bosan & Stres Belajar di Rumah

    Pandemi COVID-19 selama beberapa bulan terakhir membuat masyarakat banyak berdiam diri di rumah. Berbagai cara telah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona, salah satunya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini membuat masyarakat belajar, bekerja, dan beribadah di rumah. Namun, kegiatan belajar-mengajar di rumah juga membuat anak menjadi jenuh dan stres. Oleh karena itu, peran Sobat sebagai orang tua sangatlah penting dalam proses belajar dan mengajar anak di rumah.

    Berikut adalah 7 panduan bagi orang tua dalam mendampingi anak yang bosan dan stres belajar di rumah:

    1. Mengatur jadwal belajar anak

    Selama pandemi, perubahan runitinas juga membuat anak stres. Jadwal anak untuk tidur, makan, bermain dan belajar juga harus tetap dipertahankan selama proses belajar dirumah. Rutinitas harian yang baik akan membuat anak mendapatkan waktu tidur ideal selama 8-9 jam sehari, sehingga anak berada dalam kondisi prima untuk belajar. Pengaturan jadwal yang baik dapat membuat anak tetap produktif selama menjalani physical distancing.

    1. Memilih lokasi belajar yang nyaman

    Lokasi belajar yang nyaman memungkinkan anak untuk belajar dengan penuh konsentrasi. Hindari belajar di atas tempat tidur, karena akan berakibat buruk pada tulang belakang, penglihatan dan membuat anak mengantuk.2 Oleh karena itu, saat belajar, pilihlah tempat dimana anak bisa duduk dengan postur tubuh yang baik dan belajar dengan nyaman dan fokus, contohnya meja belajar. Selain itu, jauhkan gangguan seperti suara TV, mainan, dan handphone dari anak selama jam belajar.

    1. Membangun suasana belajar yang positif dan menyenangkan

    Selama belajar di rumah, orang tua harus siap berperan sebagai guru di rumah. Jika tidak didampingi, anak akan mudah merasa bosan dan tidak semangat belajar. Oleh karena itu, orang tua didorong untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui lagu, peragaan, diskusi dan soal-soal latihan yang mendorong anak antusias belajar.

    1. Bersabar

    Bukan hanya anak yang belajar di rumah, orang tua pun harus belajar menahan emosi dan bersabar selama mendampingi anak belajar. Mungkin anak akan bertanya berkali-kali mengenai pelajaran yang tidak dipahami. Namun, perlu diingat bahwa kemampuan anak berbeda-beda dan mereka tetap membutuhkan tuntunan orang tua dalam belajar. Orang tua sebaiknya tetap tenang dan sabar karena antusias mengajar akan membuat anak juga semangat untuk belajar.

    1. Berkomunikasi dengan guru

    Bagaimanapun juga, guru di sekolah tetap menjadi sosok yang telah mendampingi anak dalam belajar. Bahkan guru juga tahu kebiasaan anak saat belajar dan hal-hal yang membuat mereka semangat belajar. Jangan ragu untuk berkomunikasi dengan guru mengenai hal ini.3 Ceritakan kesulitan Sobat dalam mendampingi anak belajar dan tanyakan apakah sang guru memiliki tips untuk mengatasinya. Komunikasi guru dan orang tua adalah yang penting demi kelangsungan proses belajar-mengajar di rumah selama pandemi COVID-19.

    1. Beri motivasi kepada anak

    Memberi motivasi kepada anak untuk belajar merupakan hal yang harus dilakukan orang tua, terutama saat belajar di rumah. Penelitian telah membuktikan bahwa dorongan dan motivasi dari orang tua berpegaruh besar dalam menstimulasi anak untuk belajar.4 Motivasi dapat diberikan dalam bentuk pujian, kalimat pembangun semangat, snack, hadiah, dan aktivitas seru lainnya.

    1. Sediakan waktu untuk bersenang-senang

    Sama seperti di sekolah, anak mendapatkan waktu istirahat disela-sela pelajaran. Oleh karena itu, berikan waktu bagi anak untuk beristirahat. Menyusun puzzle merupakan salah satu kegiatan seru dan mengasah otak untuk dilakukan bersama anak selama waktu istirahat. Selama istrirahat, orang tua dapat mengajak anak untuk stretching badan dan juga mengadakan permainan yang mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik seperti bermain petak umpet, lompat tali, dan lain-lain.5

    Nah, itulah  7 tips untuk mendampingi anak yang bosan dan stres belajar dirumah. Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Ditulis Oleh: Fenyta Christyani

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Chaput, J., Dutil, C., & Sampasa-Kanyinga, H. (2018). Sleeping hours: what is the ideal number and how does age impact this?. Nature And Science Of SleepVolume 10, 421-430. doi: 10.2147/nss.s163071
    2. Is Studying in Bed Bad For Your Grades? Pros and Cons of Studying in Bed – studyplaces.com. (2020). Retrieved 8 May 2020, from https://studyplaces.com/is-studying-in-bed-bad-for-your-grades-pros-and-cons-of-studying-in-bed/
    3. Building Parent-Teacher Relationships. (2020). Retrieved 9 May 2020, from https://www.readingrockets.org/article/building-parent-teacher-relationships
    4. Xia, T., Gu, H., & Li, W. (2019). Effect of Parents’ Encouragement on Reading Motivation: The Mediating Effect of Reading Self-Concept and the Moderating Effect of Gender. Frontiers in psychology10, 609. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.00609
    5. Egger, F., Benzing, V., Conzelmann, A., & Schmidt, M. (2019). Boost your brain, while having a break! The effects of long-term cognitively engaging physical activity breaks on children’s executive functions and academic achievement. PloS one14(3), e0212482. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0212482
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja