Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 301–310 of 995 results

  • Ketika kasus Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merebak di Indonesia, banyak sekali istilah yang bermunculan berkaitan dengan infeksi virus yang menyebabkan pandemi tersebut. Di Indonesia, terdapat istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) untuk mengambarkan status orang yang mungkin terkena virus yang berasal dari Wuhan tersebut. Namun, sejak 13 […]

    8 Istilah Baru Penderita COVID-19, Mulai Dari Suspek Hingga Kematian

    Ketika kasus Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merebak di Indonesia, banyak sekali istilah yang bermunculan berkaitan dengan infeksi virus yang menyebabkan pandemi tersebut. Di Indonesia, terdapat istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pemantauan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG) untuk mengambarkan status orang yang mungkin terkena virus yang berasal dari Wuhan tersebut. Namun, sejak 13 Juli 2020 malam, melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah Indonesia menyatakan telah mengganti istilah-istilah tersebut dengan istilah baru seperti kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi dengan atau tanpa gejala, yang mulai diketahui secara luas pada 14 Juli 2020.2 (hal 1) Selain ketiga istilah baru tersebut, terdapat lima istilah baru lainnya, yaitu kontak erat, pelaku perjalanan, discarded, selesai isolasi, dan kematian.1 (hal 31) Secara total, terdapat delapan istilah baru yang digunakan pemerintah di saat New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru ini.

    penderita Corona, penderita virus Corona, penderita virus Covid-19

    Penggantian istilah-istilah ini berdasarkan Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19.2 (hal 1) Alasan pemerintah mengganti istilah tersebut adalah untuk kemudahan dan efisiensi dalam penanganan penderita COVID-19, terutama bagi para petugas medis. Salah satu pakar epidemologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menyatakan bahwa penggantian istilah juga untuk memperbaiki data statistik COVID-19.3 (hal 2)

    Baca Juga: Infografik Corona Virus Terkini

    Lalu, seperti apakah penjelasan mengenai istilah-istilah baru tersebut? Berikut Prosehat lampirkan berdasarkan keputusan Kemenkes Terawan Agus Putranto.

    Istilah Baru Penderita COVID-19

    1. Kasus Suspek

    Suspek adalah istilah baru pertama untuk penderita COVID-19. Dalam lembaran keputusan Kemenkes, istilah ini digunakan untuk:

    • Orang yang menderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan selama 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di salah satu wilayah Indonesia yang terkonfirmasi positif mempunyai kasus COVID-19.
    • Orang yang mempunyai salah satu gejala ISPA, dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19.
    • Penderita ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak mempunyai penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

    Apabila melihat penjabaran di atas, kasus suspek ini digunakan untuk menggantikan istilah ODP atau PDP.1 (hal 31-32)

    2. Kasus Probable

    Setelah suspek adalah probable, yaitu orang yang mempunyai kasus suspek dengan ISPA berat atau acute respiratory disease system (ARDS) yang meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19, namun belum ada hasil pemeriksaan laboratorium reverse-transcriptase PCR (RT-PCR) menggunakan spesimen swab tenggorok.1 (hal 32)

    3. Kasus Konfirmasi

    Istilah selanjutnya adalah konfirmasi yang oleh pemerintah dibagi menjadi dua, yaitu kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) dan kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).  Keputusan Kemenkes menyebut orang dalam status kasus ini adalah mereka yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR.1 (hal 32-33)

    4. Kontak Erat

    Kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau terkonfirmasi positif. Riwayat kontak erat yang dimaksud meliputi:1 (hal 33)

    • Kontak tatap muka/berdekatan dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
    • Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi, seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain.
    • Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar.
    • Situasi lain yang mengindikasikan terdapat kontak erat, berdasarkan penilaian risiko lokal oleh tim penyelidikan epidemiologi.

    5. Pelaku Perjalanan

    Istilah ini merujuk pada orang-orang yang melakukan perjalanan domestik dan mancanegara selama 14 hari terakhir.1 (hal 33)

    6. Discarded

    Discarded merupakan istilah untuk orang-orang sebagai berikut:1 (hal 33)

    • Orang dengan status kasus suspek yang hasil RT-PCR (swab) sebanyak 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan jarak waktu lebih dari 24 jam.
    • Orang dengan status kontak erat yang sudah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.

    7. Selesai Isolasi

    Istilah ini digunakan untuk orang-orang yang memenuhi salah satu kriteria di bawah ini:1 (hal 34)

    • Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan RT-PCR swab lanjutan dan orang ini sudah menyelesaikan 10 hari isolasi mandiri sejak dilakukan pemeriksaan swab untuk konfirmasi diagnosis
    • Kasus probable atau kasus terkonfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak  diperiksa RT-PCR lanjutan, terhitung 10 hari sejak tanggal munculnya gejala, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan
    • Kasus probable atau kasus terkonfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang hasil pemeriksaan RT-PCR lanjutan 1 kali negatif, lalu ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

    8. Kematian

    Istilah terakhir adalah kematian. Istilah kematian COVID-19 digunakan untuk kasus konfirmasi atau probable COVID-19 yang meninggal.1 (hal 34)

    Itulah 8 istilah baru yang digunakan pemerintah untuk membedakan kasus infeksi COVID-19 di Indonesia sebagai bentuk upaya penanggulangan salah satu bencana nasional ini. Apabila Sobat Sehat bukan termasuk orang dengan status suspek, probable, dan konfirmasi tanpa atau dengan gejala, tentunya Sobat tetap harus menjalankan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, memakai masker saat keluar rumah, dan physical distancing, supaya dapat memutus penyebaran virus Corona yang jumlah penderita positifnya terus meningkat setiap hari.1 (hal 74)

    Apabila Sobat ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai virus Corona, Sobat bisa bertanya kepada instansi-intansi pemerintah yang menangani virus ini, serta bisa memeriksakan diri di beberapa fasilitas kesehatan pemerintah atau swasta. Selain itu, Sobat bisa memeriksakan diri di Prosehat yang juga menyediakan layanan rapid test  layanan PCR  swab. Nah, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2020.
    2. Nugraheny D. Perubahan Istilah OTG, ODP, PDP, dan Penjelasan. Kompas.com [Internet]. 2020 [cited 22 July 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/07/15/07531781/perubahan-istilah-otg-odp-pdp-dan-penjelasan-pemerintah?page=all
    3. K N. 4 Fakta Gonta-ganti Istilah ODP-PDP Jadi Suspek Corona. detikHealth [Internet]. 2020 [cited 22 July 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5093795/4-fakta-gonta-ganti-istilah-odp-pdp-jadi-suspek-corona
    Read More
  • Hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang masih bingung dan belum mengetahui  perbedaan PCR Swab dan rapid test sebagai metode-metode yang dijalankan pemerintah untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Kebingungan dan ketidaktahuan itu kebanyakan disebabkan oleh hasil tes manakah yang sebenarnya lebih akurat dan menjanjikan […]

    Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Hingga hari ini, masih banyak masyarakat yang masih bingung dan belum mengetahui  perbedaan PCR Swab dan rapid test sebagai metode-metode yang dijalankan pemerintah untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona yang melanda Indonesia sejak awal Maret 2020. Kebingungan dan ketidaktahuan itu kebanyakan disebabkan oleh hasil tes manakah yang sebenarnya lebih akurat dan menjanjikan atau kedua-duanya sama saja.

    Ketidaksamaan PCR Swab dan rapid test

    Pemberlakuan PCR swab dan rapid test sebagai cara untuk mengetahui penderita Corona di Indonesia menjadi hal yang wajib dilakukan terutama setelah pemerintah memberlakukan New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru sejak awal Juni 2020. Pada fase ini masyarakat diperbolehkan kembali menjalankan aktivitas seperti biasa yang terhenti selama 3 bulan akibat diberlakukannya PSBB sehingga mengharuskan mereka bekerja dari rumah atau menganggur sama sekali. Namun, semua itu tetap dengan protokol-protokol kesehatan.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Pemberlakuan keduanya pada masa New Normal itu sesuai dengan Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 5 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Dengan munculnya aturan tersebut, kedua tes Corona itu wajib bagi orang-orang yang hendak beraktivitas kembali atau kantor atau bepergian jarak jauh. Kedua hasil tes ini pun wajib dibawa sebagai bukti bahwa yang bersangkutan bebas dari virus Corona, dan keduanya masuk dalam persyaratan SIKM seperti yang ada di Provinsi DKI Jakarta.

    Lalu mengenai perbedaan keduanya, sebenarnya hal-hal apa sajakah yang membuat keduanya tidak sama? Tanpa berlama-lama, mari Sobat simak poin-poin kedua metode penanggulangan Corona itu supaya tidak bingung dan salah kaprah.

    Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Fungsi

    Meskipun bertujuan untuk mengetahui positif atau negatifnya seseorang terkena virus Corona, baik rapid test maupun PCR Swab ternyata mempunyai fungsi yang sebenarnya berbeda jika diperhatikan. Rapid test atau tes cepat atau uji cepat jika melihat pada namanya adalah sebuah tes untuk mengetahui penderita Corona secara cepat, dengan melihat dua antibodi pada tubuh, yaitu immnuglobulin G (IgG) dan immunoglobulin M (IgM) sebagai pertahanan untuk melawan Corona. Jika seseorang terindikasi positif terkena Covid-19, antibodi-antibodi tersebut akan terdeteksi. Dapat juga dikatakan, tes ini merupakan sebuah skrining atau pemeriksaan tahap awal.

    Sedangkan PCR adalah sebuah tes Corona yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh melalui material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Material genetik yang terdapay dalam bakteri atau virus bisa berupa DNA atau RNA, yang mempunyai tampilan berbeda pada jumlah rantai yang dipunyai keduanya. DNA mempunyai rantai ganda sedangkan RNA mempunyai rantai tunggal. Keberadaan keduanya melalui swab test adalah melalui teknik amplifikasi atau pembanyakan sehingga dari situ penyakit bisa diketahui dan didiagnosis. Hasil penelitian bahwa ternyata Corona merupakan virus RNA. Dari pemaparan di atas bisa disimpulkan bahwa PCR swab merupakan tes lanjutan setelah rapid test.

    Produk Terkait: Rapid Test Covid-19

    Proses

    Baik PCR swab maupun rapid test mempunyai perbedaan dalam proses untuk mengetahui seseorang terkena  virus Corona atau tidak sama sekali. Untuk PCR, seseorang akan menjalani proses dengan petugas memasukkan alat swab ke dalam hidung atau tenggorokan untuk diambil cairan atau lendir dalam tubuh seseorang tersebut. Selanjutnya, alat swab itu dimasukkan ke dalam tabung khusus dan dikirim ke laboratorium, dan di sana petugas akan mencocokkan DNA yang terdapat pada alat swab dengan DNA virus Corona.

    Sedangkan pada rapid test prosesnya jauh lebih simpel. Sobat yang menjalani proses hanya diminta oleh petugas untuk diambil sampe darah dari ujung jari kemudian diteteskan ke alat rapid test. Kemudian, cairan pendeteksi antobodi itu diteteskan ke alat yang sama. Karena cepat, hasil dari proses ini memakan waktu 10-20 menit. Hal ini tentu saja berbeda pada PCR yang memakan waktu hingga beberapa hari sehingga cukup lama untuk memastikannya.

    Tingkat Keakuratan

    Perbedaan PCR swab dan rapid test lainnya adalah pada tingkat keakuratan, suatu hal yang sebenarnya sangat diharapkan seseorang ketika sudah menjalani kedua tes tersebut. Karena dengan hasil yang akurat akan bisa menjadi bahan untuk tindakan selanjutnya. Pada rapid test tingkat keakuratan yang dihasilkan rendah karena pembentukan antibodi membutuhkan waktu hingga beberapa minggu. Oleh karena itu, orang yang mendapat hasil positif dalam rapid test belum tentu positif Corona, begitu pula sebaliknya sehingga hasil tes harus segera dipastikan melalui PCR.

    Sedangkan pada PCR karena merupakan tes lanjutan, tingkat keakuratan yang dihasilkan tinggi sehingga hasilnya juga pasti, dan tidak memerlukan tes lain. Karena hasilnya yang benar-benar akurat tersebut, tidak salah jika epidemolog UI, Pandu Riono, meminta pemerintah untuk memperbanyak PCR daripada rapid test yang belum tentu akurat sama sekali.

    Biaya

    Biaya juga membuat kedua tes Corona ini benar-benar berbeda. Apabila Sobat menginginkan tes yang tidak hanya cepat namun juga ekonomis, Sobat bisa memilih rapid test. Untuk biayanya pun sesuai peraturan pemerintah adalah Rp 150.000 meskipun masih banyak sekali fasilitas kesehatan yang ternyata menetapkan biaya yang berbeda-beda bahkan hingga Rp 1 jutaan.

    Sedangkan PCR membutuhkan biaya yang tentu saja tidak sedikit alias lebih mahal dari rapid test. Biayanya pun berbeda-beda tergantung fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang memberikan layanan tersebut. Rata-rata biaya untuk PCR adalah berkisar pada angka Rp 1,3 jutaan hingga Rp 1,7 jutaan bahkan bisa di angka Rp 2 jutaan. Karena itu, bagi Sobat yang menginginkan tes PCR harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam.

    Orang-orang Wajib Tes

    Untuk orang-orang wajib tes pada kedua tes Corona ini tentu saja berbeda. Pada rapid test orang-orang yang wajib adalah mereka yang punya status suspek, probable, dan konfirmasi dengan atau tanpa gejala. Istilah-istilah ini digunakan oleh Kementerian Kesehatan per 14 Juli 2020 untuk menggantikan istilah-istilah lama, yaitu ODP, PDP, dan OTG.  Selain itu, adalah orang-orang yang berprofesi sebagai sebagai pelayan publik, dan lebih sering berinteraksi dengan masyarakat. Untuk PCR, yang wajib menjalaninya adalah orang-orang yang hasil rapid test-nya positif.

    Baca Juga: Kapan dan Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Tindakan

    Baik PCR Swab maupun rapid test punya tindakan yang berbeda-beda. PCR Swab sendiri karena merupakan tes lanjutan harus dilakukan secara profesional oleh pihak rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah. Dengan demikian, penanganannya tidak main-main dan tidak bisa sembarangan. Hal ini tentu berbeda dari rapid test yang bisa dilakukan secara sendiri bahkan bisa membeli alatnya langsung secara online. Namun hal tersebut malah membuat hasilnya tidak akurat bahkan abal-abal karena alat yang dijual belum tentu berkualitas.

    Efek Samping

    Perbedaan kedua tes Corona yang lain lagi adalah dalam hal efek samping. Pada rapid test, efek samping yang dihasilkan adalah memar dan nyeri pada bagian tubuh pengambilan sampel darah sedangkan pada PCR efek samping yang dialami oleh mereka yang sudah menjalaninya adalah rasa sakit dan geli terutama di bagian hidung dan tenggorokan sebagai tempat untuk memasukkan alat swab.

    Itulah 7 perbedaan PCR swab dan rapid test yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus Corona dalam tubuh seseorang sehingga dari hasil yang didapatkan akan dilakukan tindakan lanjutan seperti isolasi 14 hari jika orang yang menjalani tes tersebut benar-benar terkena virus Corona. Apabila melihat pada sisi keakuratannya, sudah jelas bahwa PCR swab sangat direkomendasikan sebagai tes untuk mendeteksi virus Corona daripada rapid test apalagi secara prosedur juga harus dilakukan secara profesional oleh petugas medis dan fasilitas kesehatan yang terpercaya dan ditunjuk oleh pemerintah.

    Meski begitu, karena akurat, PCR swab menjadi mahal dari sisi harga. Tak hanya itu, untuk hasilnya pun tidak bisa dalam waktu cepat sehingga banyak orang yang menjalani rapid test karena alasan ekonomis dan waktu yang diperlukan. Bagaimana pun, kedua tes Corona ini sangat penting untuk membantu mencegah dan menanggulangi penyebaran virus Corona yang dari hari ke hari semakin meningkat terutama di masa New Normal. 

    Apabila Sobat ingin melakukan rapid test dan swab test melalui layanan ke  rumah, Sobat bisa segera memanfaatkan layanan rapid test secara drive thru dan layanan ke rumah atau ke kantor minimal 20 orang untuk PCR swab. Nah, bagi Sobat yang memerlukan info lebih lanjut mengenai layanan PCR swab dan rapid test ini ke rumah silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Wangi R. Mengenal Perbedaan 2 Jenis Tes Corona: Rapid Test dan PCR Test, Biar Nggak Bingung dan Salah Kaprah [Internet]. Hipwee. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.hipwee.com/feature/jenis-tes-corona/
    2. Sianturi E. PCR vs Rapid Test COVID-19, Yuk Kenali Perbedaan Keduanya [Internet]. tech. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200527153620-40-161267/pcr-vs-rapid-test-covid-19-yuk-kenali-perbedaan-keduanya
    3. Apa Itu Kasus Suspek, Kasus Probable, dan Kasus Konfirmasi untuk Covid-19? [Internet]. suara.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.suara.com/health/2020/07/15/195226/apa-itu-kasus-suspek-kasus-probable-dan-kasus-konfirmasi-untuk-covid-19
    Read More
  • Sejak virus Corona melanda secara global pada awal 2020 ini, banyak masyarakat dunia mulai mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan untuk menekan dan melawan salah satu virus ganas tersebut. Dimulai dari mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, hingga memakai masker. Kebiasaan-kebiasaan ini melengkapi peraturan yang sudah ada, yaitu jaga jarak selama 1 meter, dan tidak boleh berkumpul dalam satu area. […]

    Seperti Apa Plus Minus Penggunaan Face Shield?

    Sejak virus Corona melanda secara global pada awal 2020 ini, banyak masyarakat dunia mulai mempraktekkan kebiasaan-kebiasaan untuk menekan dan melawan salah satu virus ganas tersebut. Dimulai dari mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, hingga memakai masker. Kebiasaan-kebiasaan ini melengkapi peraturan yang sudah ada, yaitu jaga jarak selama 1 meter, dan tidak boleh berkumpul dalam satu area. Kemudian muncul lagi kebiasaan baru belakangan ini selain memakai masker untuk melindungi diri dari percikan air ludah penyebab Corona, yaitu face shield.

    pemakaian face shield

    Sobat Sehat tentu bertanya-tanya apakah face shield itu? Face shield jika dibahasandonesiakan adalah pelindung wajah. Alat ini merupakan salah satu APD atau alat pelindung diri yang kerap dipakai oleh para petugas medis saat menangani pasien yang terkena virus Corona. Di masa sebelum terjadinya Corona, face shield sering digunakan oleh petugas medis gigi untuk melindungi diri dari cipratan ludah saat operasi gigi.Belakangan, penggunaan alat pelindung diri ini meluas sehingga bukan hanya petugas medis saja yang memakainya namun juga petugas pelayanan publik lainnya seperti petugas di stasiun kereta api, terminal bis bahkan polisi sekalipun.

    Baca Juga: Masker, Ampuhkah Lawan Corona? Kapan Harus Gunakan Masker

    Tak hanya petugas medis dan petugas pelayanan publik yang memakai alat berbentuk perisai dan transparan menutupi wajah tersebut. Masyarakat pun sekarang mulai juga menggunakannya sebagai alat perlindungan ekstra selain masker. Pemerintah melalui Keputusan Kementerian Kesehatan HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum mewajibkan masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di keramaian.

    Pemerintah beralasan bahwa tempat-tempat tersebut sangat berpotensi besar menjadi area penyebaran virus Corona sehingga masyarakat harus membekali diri dengan perlindungan ekstra dan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Tempat-tempat umum yang disarankan pemerintah bagi Sobat Sehat untuk memakai face shield adalah sebagai berikut:

    • Pasar
    • Mal
    • Hotel
    • Pusat kebugaran
    • Pusat olahraga
    • Stasiun kereta api
    • Terminal bus
    • Tempat wisata

    Bagi Sobat Sehat yang berniat memakai face shield di tempat-tempat tersebut tentunya harus mengetahui terlebih dahulu aturan-aturan memakainya. Apa saja aturan-aturannya? Simak di bawah ini ya, Sobat!

    Aturan Penggunaan Face Shield

    Ketahui Jenis Bahan Pembuatan dan Bentuknya

    Hal pertama yang perlu Sobat Sehat ketahui dalam aturan penggunaan face shield adalah jenis bahan pembuatan dan bentuknya. Seperti dilansir oleh Journal American Medical Association, APD ini mempunyai banyak ragam bentuk. Namun, sangat disarankan bagi Sobat untuk memilih produk yang terbuat dari plastik bening yang menutupi wajah, dengan ketebalan 0,50 mm.

    Selain itu, face shield yang digunakaan harus berada hingga di bawah dagu, panjang samping tidak menutupi cuping telinga, dan tidak boleh ada celah terbuka antara dahi dan penutup kepala. Pita dahinya juga terbuat dari plastik bening dengan ketebalan yang sama, dan tali silikon bebas lateksnya mempunyai ketebalan 1,4-1,6 mm. Hal lain yang perlu Sobat perhatikan adalah bahan yang digunakan harus jelas secara optic dan tidak retak saat dilipat ke atas hingga sudut 180 derajat untuk membentuk lipatan.

    Masker Tetap Dipakai

    Memakai face shield sebagai alat perlindungan diri memang terlihat lebih praktis daripada menggunakan masker yang jika belum terbiasa membuat tidak bernapas maksimal. Bahkan, pelindung wajah ini kenyataannya dapat melindungi seluruh bagian wajah bahkan yang sangat sensitif sekalipun seperti mata.

    Meski begitu, tidak serta-merta APD ini dapat melindungi secara efektif dari serangan virus Corona. Pemerintah melalui Gugus Tugas Covid-19 menyatakan bahwa face shield bukanlah satu-satunya alat yang dapat melindungi diri dari virus tersebut. Hal itu dikarenakan adanya microdroplet yang bisa saja masuk ke celah face shield yang terbuka sehingga untuk penggunaan secara maksimal harus disertai dengan masker yang dapat dengan efektif menutup rapat hidung dan mulut.

    Baca Juga: Ingin Aman Memakai Masker Saat Berolahraga? Berikut Tipsnya

    Harus Rutin Dibersihkan

    Seperti halnya masker terutama masker kain, face shield pun bisa digunakan supaya dapat digunakan berkali-kali. Cara membersihkannya pun cukup mudah, yaitu cukup bersihkan bagian dalam secara hati-hati lalu bersihkan bagian luarnya dengan menggunakan sabun dan air atau disinfektan rumah tangga biasa.

    Selama masih terlihat utuh, dan belum rusak, serta nyaman dipakai, face shield bisa tetap digunakan berkali-kali sehingga dapat menjadi penghalang masuknya virus Corona, dan mencegah si pemakai untuk menyentuh wajah sendiri secara langsung. Selain aturan pemakaian untuk pencegahan Corona yang efektif, face shield tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan yang perlu Sobat Sehat ketahui.

    Kelebihan Face shield

    Face shield mempunyai beberapa kelebihan daripada memakai masker, yaitu mampu memproteksi keseluruhan area muka, memudahkan Sobat untuk berbicara karena dengan APD ini suara Sobat tidak teredam. Selain itu, alat ini juga membuat Sobat mudah menghirup oksigen, dan tidak merasa gerah ketika memakai masker, dan bagi para pengtuna kacamata tidak membuat kacamata tidak berembun. Hal lainnya lagi adalah face shield juga mudah dibersihkan daripada masker karena untuk membersihkannya cukup menggunakan tisu anti-bakteri dan lap yang telah dibasahi sabun dan air.

    Kekurangan Face shield

    Selain kelebihan, face shield juga mempunyai beberapa kekurangan yang perlu Sobat ketahui, yaitu tidak benar-benar efektif melindungi diri dari Corona karena ada celah yang terbuka yang memungkinkan air liur yang jatuh bisa masuk ke alat pernapasan. Apalagi diketahui bahwa virus lebih lama bertahan di permukaan plastik daripada kain dan kertas sehingga setiap kali dipakai harus disterilkan. Selain itu, APD ini juga terasa panas saat digunakan, dan membuat gerah.

    Baca Juga: Perhatikan Cara Gunakan APD yang Benar

    Face shield ternyata juga bisa berembun jika digunakan secara ketat, dan tidak praktis karena sulit disimpan dalam tas saat akan dibawa bekerja. Itulah mengenai aturan penggunaan serta kelebihan dan kekurangan face shield sebagai salah satu APD terhadap Corona. Jika Sobat ingin mengetahui lebih dalam mengenai aturan penggunaan face shield dan efektivitasnya untuk mencegah Corona silakan klik video Youtube berikut ini:

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Menteri Terawan Terbitkan Aturan Kesehatan Menggunakan Face Shield [Internet]. JawaPos.com. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.jawapos.com/nasional/20/06/2020/menteri-terawan-terbitkan-aturan-kesehatan-menggunakan-face-shield/
    2. Media K. Face Shield atau Masker, Mana Lebih Efektif Tangkal Covid-19? Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/06/05/083747120/face-shield-atau-masker-mana-lebih-efektif-tangkal-covid-19?page=all
    3. Mulai Banyak Digunakan A. Mulai Banyak Digunakan, Apa Itu Face Shield? Berikut Ini Kelebihan dan Kelemahannya – Semua Halaman – Kids [Internet]. Kids.grid.id. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://kids.grid.id/read/472172627/mulai-banyak-digunakan-apa-itu-face-shield-berikut-ini-kelebihan-dan-kelemahannya?page=all
    4. Cara Memakai Face Shield yang Benar dan Aman, Tetap Menggunakan Masker | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.merdeka.com/sumut/cara-memakai-face-shield-yang-benar-dan-seberapa-efektif-melindungi-dari-covid-19-kln.html
    5. Face Shield Saja Disebut Tak Ampuh Cegah Microdroplet Corona [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200712182011-255-523782/face-shield-saja-disebut-tak-ampuh-cegah-microdroplet-corona
    Read More
  • Pekerjaan yang menuntut konsistensi dan performa yang tinggi terutama di daerah perkotaan tidak jarang menuntut para pekerjanya untuk melakukan pekerjaan hingga larut malam atau dini hari. Hal ini yang kemudian menyebabkan para pekerja tersebut begadang atau bekerja di waktu jam-jam biologis untuk istirahat atau tidur. Ternyata banyak sekali pekerjaan yang mengharuskan para pekerjanya untuk begadang […]

    Karyawan yang Sering Begadang, Waspada Dampaknya pada Kesehatan

    Pekerjaan yang menuntut konsistensi dan performa yang tinggi terutama di daerah perkotaan tidak jarang menuntut para pekerjanya untuk melakukan pekerjaan hingga larut malam atau dini hari. Hal ini yang kemudian menyebabkan para pekerja tersebut begadang atau bekerja di waktu jam-jam biologis untuk istirahat atau tidur.

    dampak negatif kerja lembur, bahaya kerja larut malam

    Ternyata banyak sekali pekerjaan yang mengharuskan para pekerjanya untuk begadang atau bekerja di malam hari terutama di media massa seperti televisi dan media online, bidang konstruksi, keamanan, atau malah kesehatan itu sendiri.Tentu saja hal ini sebenarnya kurang bagus untuk kesehatan mengingat banyak sekali dampak negatif yang dihasilkan dari begadang.

    Para ahli pun menekankan pentingnya tidur demi kesehatan mental dan fisik. Tak hanya itu, tidur juga mampu mengonservasi energi, merestorasi tubuh, dan untuk perkembangan otak.Terlihat cukup mudah sebenarnya untuk dilakukan, namun ternyata hal tersebut sukar bagi orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan untuk begadang demi menyelesaikan tugas. Sebenarnya seperti apa dampak negatif begadang tersebut? 

    Baca Juga: 7 Makanan Ini Dapat Cegah Akibat Buruk Bergadang

    Dampak Negatif Bergadang

    Konsentrasi Menurun

    Dampak negatif yang Sobat akan rasakan akibat sering begadang adalah Sobat mengalami turunnya konsentrasi. Hal itu karena begadang juga mengubah aktivitas otak. Konsentrasi yang menurun itu membuat Sobat menjadi lambat dalam merespons segala sesuatu terutama pada lingkungan sekitar. Hal ini yang kemudian keinginan untuk sering tidur menjadi lebih tinggi. Tentu saja hal ini dapat membahayakan mengingat keseringan tidur atau bahkan tidur secara berlebihan akibat begadang dapat menyebabkan masalah-masalah kesehatan seperti diabetes, obesitas, sakit kepala, sakit punggung hingga malah menyebabkan kematian.

    Mood menjadi Labil

    Dampak kedua yang Sobat rasakan adalah mood menjadi labil. Akibatnya, Sobat akan menjadi orang yang tidak mudah mengendalikan emosi atau gampang emosian. Sobat juga mudah sensitif terhadap hal-hal yang sebenarnya sepele, dan bahkan Sobat bisa mempunyai kecenderungan tinggi untuk depresi.

    Menjadi Pelupa

    Lupa adalah hal wajar yang terjadi pada setiap orang akibat menurunnya daya ingat dalam otak. Hal ini biasanya terjadi pada orang yang sudah tua atau lanjut usia.Namun ternyata sifat lupa juga bisa terjadi pada orang yang sering begadang. Lupa muncul karena adanya hambatan pada otak untuk memproses sesuatu yang sudah terjadi, dan dapat dipastikan informasi yang baru diterima itu hilang dalam sekejap. Karena itu, supaya Sobat tidak menjadi orang yang pelupa sebaiknya mulai mengurangi begadang atau tidak begadang sama sekali.

    Turunnya Daya Tahan Tubuh

    Keseringan begadang ternyata juga dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh sehingga tubuh dapat mudah terserang penyakit termasuk Corona. Turunnya daya tahan tersebut dikarenakan kemampuan sel imun untuk melawan kuman terganggu kemudian hal tersebut diperparah dengan meningkatnya hormon stres sehingga kuman dapat mudah masuk ke tubuh.

    Berdampak Negatif pada Pekerjaan

    Keseringan begadang karena tuntutan pekerjaan ternyata malah berdampak negatif bagi pekerjaan itu sendiri. Beberapa dampak yang Sobat rasakan adalah sebagai berikut:

    • Terjadinya kecelakaan kerja akibat atensi yang terganggu dan kurang waspada terhadap lingkungan sekitar.
    • Menyebabkan miskomunikasi yang berujung pada terjadinya emosi akibat salah persepsi, dan salah menerima informasi.
    • Produktivitas menurun yang berujung pada respon yang menurun, bekerja secara lambat, dan sering tertidur saat bekerja.
    • Absen karena sakit berawal dari daya tahan tubuh yang menurun sehingga mudah terserang penyakit. Apabila dibiarkan terus-menerus tentu akan menganggu performa dan kelanjutan Sobat di tempat kerja.

    Apa yang Harus Dilakukan untuk Mengatasi Dampaknya?

    Untuk mengurangi dampak negatif akibat begadang sebenarnya cukup mudah. Sobat hanya perlu tidur cukup selama 8 jam, kemudian merelaksasi pikiran, konsumsi vitamin, dan melakukan vaksinasi. Namun apabila Sobat memang tidak bisa mengurangi begadang karena pekerjaan, beberapa hal ini bisa Sobat lakukan supaya tetap sehat saat begadang.

    Istirahatlah dengan Cukup Terlebih Dahulu

    Kunci pertama supaya begadang tetap sehat adalah Sobat sebaiknya tidur dengan cukup terlebih dahulu di waktu siang.  Dengan istirahat yang cukup tersebut, Sobat tidak akan merasa terbebani dan mengantuk sehingga bisa semangat dalam bekerja. Karena itu, aturlah pencahayaan dengan cukup di tempat kerja supaya Sobat tidak mengantuk, dan bisa bekerja.

    Baca Juga: 5 Tips Bergadang Agar Tidak Cepat Lelah

    Perhatikan yang Harus Dikonsumsi

    Supaya begadang tetap sehat dan dalam keadaan prima, konsumsi makanan harus juga diperhatikan. Usahakan jangan mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan yang berat yang justru akan menyebabkan kantuk, dan menurunkan performa. Karena itu, sebaiknya konsumsi saja makanan yang ringan dan menyehatkan alias mengandung vitamin untuk kebugaran tubuh. Jika Sobat ingin meminum kopi, hal itu boleh saja asalkan diminum secara teratur dan tidak berlebihan.

    Jika Sudah Mengantuk, Tidurlah Sejenak

    Meski Sobat sudah mempersiapkan diri dengan tidur di waktu pagi atau siang, tentu saja yang namanya rasa kantuk akan kembali melanda. Jika Sobat sudah merasakan hal tersebut, sebaiknya Sobat tidur saja sejenak. Namun apabila Sobat tidak ingin tidur karena tidak enak dengan atasan, Sobat bisa mengalihkan rasa kantuk itu dengan menonton TV atau mendengarkan musik. Atau Sobat bisa berdiri, melakukan peregangan atau berjalan-jalan di sekitar tempat kerja supaya aliran darah menjadi lancar dan tidak kaku, serta Sobat mendapatkan penyegaran.

    Baca Juga: Ternyata Tidur 6 Jam Saja Tidak Cukup

    Itulah dampak negatif dari begadang serta mengatasinya, dan cara begadang yang sehat apabila Sobat memang tidak bisa menghindari yang namanya begadang karena tuntutan pekerjaan. Meski begitu, jika ingin mempunyai kehidupan yang bagus dan berkualitas, sebaiknya Sobat tetap menghindari begadang jika hal itu memang bisa dihindari.

    Apabila Sobat ingin mengetahui secara lengkap dampak negatif dari begadang, silakan tonton video Youtube berikut inidan jangan lupa subscribe YouTube ProSehat.



    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. Inilah 6 profesi yang menuntut aktif bekerja pada malam hari [Internet]. brilio.net. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.brilio.net/creator/inilah-6-profesi-yang-menuntut-aktif-bekerja-pada-malam-hari-cfa7bb.html
    2. [Internet]. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://greatdayhr.com/id/kerjaan-banyak-mengharuskan-begadang-inilah-tips-sehat-saat-begadang/
    3. Bahaya Begadang untuk Kesehatan [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 21 July 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191021141513-255-441495/7-bahaya-begadang-untuk-kesehatan
    Read More
  • Perlukah berolahraga saat pandemi Corona? Tentu saja banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Jawabannya, tentu saja perlu sebab olahraga sebagai salah satu aktivitas fisik mempunyai banyak manfaat. Baca Juga: Hindari Kesalahan Berolahraga Saat Pandemi Corona Manfaat-manfaat itu adalah: Menurunkan berat badan Meningkatkan imunitas tubuh Mengurangi stres dan rasa cemas Meningkatkan kualitas tidur Selain […]

    Ingin Aman Memakai Masker Saat Berolahraga? Berikut Tipsnya!

    Perlukah berolahraga saat pandemi Corona? Tentu saja banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya mengenai hal tersebut. Jawabannya, tentu saja perlu sebab olahraga sebagai salah satu aktivitas fisik mempunyai banyak manfaat.

    Baca Juga: Hindari Kesalahan Berolahraga Saat Pandemi Corona

    berlari memakai masker

    Manfaat-manfaat itu adalah:

    • Menurunkan berat badan
    • Meningkatkan imunitas tubuh
    • Mengurangi stres dan rasa cemas
    • Meningkatkan kualitas tidur

    Selain itu, olahraga di masa pandemi juga mempunyai manfaat mampu menurunkan risiko tertular infeksi saluran pernapasan atas. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan pada seekor mencit yang ternyata mampu bertahan terhadap sindrom pernapasan akut setelah diuji untuk berolahraga. Namun bagaimanakah olahraga yang aman ketika pandemi Corona tersebut mengingat Corona adalah virus mematikan yang mudah menyebar dengan cepat bahkan dalam olahraga yang tentu saja berkumpul banyak orang?

    Baca Juga: Tren Bersepeda di Masa Pandemi, Apa Saja Tipsnya?

    Salah satu cara aman supaya tetap bisa berolahraga saat pandemi adalah tetap memakai masker sebagai salah satu protokol kesehatan Covid-19 terutama di masa New Normal atau PSBB Transisi. Memakai masker diyakini akan mencegah dan mengurangi penyebaran virus Wuhan tersebut terutama dari droplet atau air liur atau udara yang baru-baru ini oleh WHO disebut sebagai medium penyebaran virus mematikan tersebut.

    Masker juga perlu dipakai untuk perlindungan diri selain mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir selama 20 detik atau hand sanitizer jika tidak sempat mencuci tangan. Meski begitu, perihal memakai masker ini juga menjadi pertanyaan apakah hal tersebut aman karena banyak sekali kasus orang meninggal saat berolahraga karena memakai masker?Untuk hal ini, ada beberapa tips supaya aman memakai masker saat berolahraga di saat New Normal. Apa saja tipsnya? Tanpa berlama-lama, yuk mari simak!

    Tips Aman Memakai Masker Saat Berolahraga

    Jangan Berolahraga dengan Intensitas Berat

    Para pakar kesehatan menyarankan untuk berolahraga yang aman saat pandemi adalah jangan berolahraga dengan intensitas yang berat. Mengapa? Karena olahraga dengan intensitas seperti itu akan membutuhkan pasokan oksigen yang besar.

    Pasokan oksigen ini tentu saja akan terganggu ketika alat pernapasan, baik hidung atau mulut tertutup karena memakai masker. Akibatnya, terjadilah sesak napas, pingsan, dan masalah kesehatan lainnya. Apabila Sobat merasakan sesak napas, tetap tidak melepas masker sama sekali namun Sobat bisa menurunkan intensitas. 

    Baca Juga: 5 Trik Kuruskan Badan dengan Cepat, Tepat, dan Sehat

    Karena itu, usahakan berolahraga dengan intensitas ringan seperti jogging atau bersepeda. Penggunaan masker ini relatif aman untuk olahraga dengan intensitas tersebut selama yang berolahraga tidak mempunyai riwayat penyakit pada jantung dan pernapasan.

    Pakailah Masker Kain

    Masker memang wajib digunakan saat berolahraga. Meski begitu, Sobat Sehat harus mengetahui bahwa masker yang harus digunakan saat berolahraga adalah masker kain bukan masker medis atau N95. Masker kain ini merupakan pilihan yang tepat saat berolahraga di luar rumah karena akan memudahkan sirkulasi udara akibat kebutuhan oksigen yang tinggi saat berolahraga menggunakan masker. Namun masker kain merupakan masker yang tipis sehingga rentan basah saat berolahraga. Jika sudah seperti itu, Sobat Sehat dianjurkan untuk menggantinya supaya tidak mengganggu pernapasan.

    Konsultasi ke Dokter

    Sebelum memulai olahraga kembali dengan memakai masker, sebaiknya Sobat Sehat yang punya masalah penyakit kardiovaskular atau pernapasan untuk terlebih dahulu berkonsultasi pada dokter. Dari konsultasi dokter akan memberikan saran kesehatan yang terbaik untuk Sobat lakukan saat berolahraga sehingga menghindari risiko yang tidak diinginkan.

    Istirahat Jika Merasa Tidak Enak Badan

    Apabila Sobat Sehat merasa badan tidak begitu enak saat berolahraga sewaktu menggunakan masker, sobat disarankan untuk beristirahat. Gejala yang didapat dari tidak enak badan ini adalah merasa pusing, tidak seimbanf, serta terlalu lelah. Hal ini terjadi karena perlunya seseorang melakukan adaptasi selama beberapa waktu saat berolahraga menggunakan masker. Hal ini juga akan menimpa orang-orang yang memiliki tingkat kebugaran tinggi. Karena itu, Sobat sebaiknya beristirahat, dan tidak memaksakan diri.

    Apakah Boleh Melepaskan Masker Saat Berolahraga?

    Memakai masker memang wajib karena sudah termasuk protokol kesehatan Covid-19 untuk kegiatan di luar rumah termasuk berolahraga. Namun yang menjadi pertanyaan apakah boleh melepaskan masker saat berolahraga.

    Jawabannya tentu saja tidak boleh karena dengan tidak memakai masker saat berolahraga malah akan memperbanyak risiko penularan virus Corona, baik melalui air liur atau udara sehingga memakai masker itu perlu. Apabila tidak memakai masker saat berolahraga di masa pandemi, bukan hanya masalah kesehatan yang menimpa, namun juga akan dikenakan tindakan disiplin dan denda bagi yang melanggar. Meski begitu, ada hal yang diperbolehkan untuk tidak memakai masker saat berolahraga. Hal-hal tersebut adalah:

    Saat Berolahraga di Rumah

    Berada di dalam rumah tentu saja merupakan hal yang paling aman untuk tidak terkena virus Corona. Karena itu, di dalam rumah boleh saja berolahraga tanpa menggunakan masker. Karena berada di dalam rumah jenis olahraga yang bisa dilakukan bisa mulai dari intensitas ringan hingga tinggi.

    Baca Juga: 5 Makanan Sehat bagi Kamu yang Suka Ngegym

    Untuk bisa mengukur ringan atau tidaknya intensitas olahraga, Dr. Vika Ardianto Laksono dari Rumah Sakit Siloam menyarankan untuk memakai metode talk test. Metode ini diukur dari cara berbicara sewaktu berolahraga. Apabila masih bisa berbicara panjang namun sudah tidak bisa menyanyi, berarti intensitasnya sedang. Intensitas berat akan didapat jika sudah tidak bisa mengobrol sama sekali.

    Saat Menjaga Jarak

    Melepaskan masker saat berolahraga di luar rumah diperbolehkan asalkan Sobat Sehat menjaga jarak satu sama lain dalam jarak 1-2 meter sesuai protokol kesehatan. Selain menjaga jarak adalah tidak melakukan kontak sama sekali demi meminimalkan penyebaran virus Corona.

    Berolahraga di Tempat yang Sepi

    Sobat Sehat juga diperbolehkan untuk melepaskan masker saat berolahraga ketika berolahraga di tempat yang sepi atau jauh di keramaian. Sebab, tempat yang sepi tidak akan menimbulkan risiko terkena virus. Selain itu, dengan berolahraga di tempat yang sepi, Sobat akan merasa tenang dan nyaman, serta bisa lebih leluasa.

    Baca Juga: 10 Tips Langsing Alami, Mudah Kok

    Itulah tips-tips berolahraga dengan aman saat memakai masker di masa pandemi. Olahraga tetap dianjurkan selain makan makanan yang sehat dan teratur. Apabila Sobat ingin mengetahui secara lengkap dan dalam mengenai olahraga dengan aman memakai masker saat Corona silakan tonton video Youtube berikut ini:

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatansilakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi:

    1. 4 Tips Aman Olahraga Pakai Masker di Saat Pandemi – Halaman 4 [Internet]. style. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.insertlive.com/style/20200611103918-19-145753/4-tips-aman-olahraga-pakai-masker-di-saat-pandemi/4
    2.  Tips Aman Olahraga Saat Memasuki Masa New Normal, Jaga Tubuh Tetap Prima | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://www.merdeka.com/jatim/6-tips-aman-olahraga-saat-memasuki-masa-new-normal-jaga-tubuh-tetap-prima-kln.html
    3. Ketahui 5 Tips Aman Menggunakan Masker Saat Olahraga di Tengah Pandemi Corona Covid-19 [Internet]. Plus.kapanlagi.com. 2020 [cited 20 July 2020]. Available from: https://plus.kapanlagi.com/ketahui-5-tips-aman-menggunakan-masker-saat-olahraga-di-tengah-pandemi-corona-covid-19-42b3c7.html
    Read More
  • Selama ini rapid test mungkin lebih familiar di telinga Sobat dibanding PCR swab test untuk mendeteksi virus corona dalam tubuh. Lalu apakah sebenarnya PCR swab test itu? Apa saja perbedaannya dengan rapid test yang juga jamak dilakukan?  Apakah PCR Swab Itu? PCR Swab Test atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi material genetik […]

    Sudahkah Sobat Paham Tentang PCR Swab?

    Selama ini rapid test mungkin lebih familiar di telinga Sobat dibanding PCR swab test untuk mendeteksi virus corona dalam tubuh. Lalu apakah sebenarnya PCR swab test itu? Apa saja perbedaannya dengan rapid test yang juga jamak dilakukan? 

    Apakah PCR Swab Itu?

    pcr swab test corona, tes pcr

    PCR Swab Test atau polymerase chain reaction adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Pemeriksaan laboratorium ini juga digunakan sebagai salah satu metode untuk mendiagnosis sebuah virus, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus tersebut.
    Material genetik yang terdapat dalam bakteri atau virus bisa berupa DNA atau deoxyribonucleic acid atau RNA (ribonucleic acid). Kedua jenis materi genetik ini tentu saja berbeda, dan perbedaan keduanya dapat dilihat dari jumlah rantai yang ada di dalamnya.

    Produk terkait: PCR Swab Test

    Diketahui bahwa DNA merupakan material genetik yang mempunyai rantai ganda sedangkan RNA adalah material genetik dengan rantai tunggal. Baik DNA maupun RNA pada setiap spesies makhluk hidup membawa informasi genetik yang unik.


    Untuk bisa mengetahui keberadaan DNA dan RNA dalam swab test adalah melalui teknik amplifikasi atau pembanyakan. Dari swab test ini, keberadaan material genetik yang ditimbulkan dari berbagai jenis penyakit akibat infeksi bakteri atau virus akan bisa dideteksi, dan akhirnya bisa membantu mendiganosis penyakit tersebut.

    Jenis Penyakit Apa Saja yang Bisa Didiagnosis?

    Ada beberapa jenis penyakit atau infeksi yang bisa didiagnosis menggunakan swab test atau PCR, antara lain: 

    • HIV
    • Hepatitis C
    • Cytomegalovirus
    • HPV
    • Gonore
    • Klamdia
    • Lyme
    • Pertusis (batuk rejan)

    Ternyata selain untuk mendiagnosis penyakit-penyakit di atas, swab test juga dapat digunakan untuk mendeteksi virus corona. Virus ini adalah salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, dan merupakan jenis virus RNA.

    Siapa Saja yang Harus Menjalani Swab Test?

    Orang-orang yang perlu menjalani swab test adalah mereka yang dikenakan status ODP, PDP, orang-orang yang mempunyai kontak erat dengan pasien positif Corona, dan pasien dengan hasil rapid test yang positif.

    Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukannya

    Untuk melakukan swab test ini sebaiknya dilakukan selama 2 hari ketika Sobat mengalami gejala Corona, dan hasilnya akan keluar dalam 2×24 jam. Jika Sobat melakukan swab pada pagi hari, hasilnya pun sudah bisa keluar pada sore harinya. Selama menanti hasil swab tersebut, Sobat tetap diarahkan oleh dokter untuk melakukan isolasi.

    Seperti Apa Prosedurnya?

    Ada dua prosedur dalam pelaksanaan swab test ini. Pertama, melalui hidung, dan yang kedua melalui tenggorokan.

    Untuk hidung adalah sebagai berikut:

    • Pasien agak mendongak dan diminta membuang napas dari hidung.
    • Alat swab akan masuk ke lubang hidung pasien hingga ke bagian belakang hidung.
    • Petugas medis akan mengambil sampel dengan cara memutar alat swab selama beberapa detik.

    Sedangkan melalui tenggorokan adalah sebagai berikut:

    • Pasien membuka mulut lebar-lebar lalu petugas medis akan memasukkan alat swab ke dalam mulut sampai menyentuh tenggorokan.
    • Alat swab tidak boleh menyentuh lidah.
    • Setelah itu, alat swab akan diputar selama beberapa detik untuk mengambil sampel.

    Sampel dahak yang diambil melalui metode swab ini memakan waktu sekitar 15 detik, dan tidak menimbulkan rasa sakit. Setelah itu sampel dahak tersebut akan diteliti di laboratorium.

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    Untuk bisa mendeteksi keberadaan virus Corona dalam tubuh manusia melalui swab test, terlebih dahulu akan diawali dengan mengubah RNA yang ada dalam sampel menjadi DNA. Hal ini perlu dilakukan sebab Corona merupakan virus RNA. Proses pengubahannya dilakukan dengan enzim reverse-transcriptase sehingga teknik pemeriksaan virus RNA dengan mengubah terlebih dahulu menjadi DNA, dan mendeteksinya dengan PCR yang kemudian disebut dengan reverse-transcriptase polymerase chain reaction atau RT-PCR.

    Baca Juga: Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test

    Setelah pengubahan tersebut, barulah alat yang digunakan untuk PCR akan melakukan amplifikasi atau pembanyakan materi genetik ini sehingga bisa terdeteksi. Jika mesin PCR mendeteksi RNA virus Corona di sampel dahak atau lendir yang diperiksa, sudah dapat dipastikan hasilnya positif.

    Di Mana Bisa Melakukannya?

    Sobat bisa melakukan swab test Corona ini di rumah sakit mana saja terutama rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh pemerintah untuk menangani wabah Covid-19. Tidak ada persiapan khusus untuk melakukan ini. Sobat cukup datang saja, dan melalukan prosedur yang diminta oleh petugas kesehatan yang memeriksa Sobat. Selain rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang punya kewenangan, swab test juga bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas publik seperti stasiun kereta api dan terminal bis. Untuk di rumah sakit pun, Sobat bisa melakukannya secara drive thru yang bakal mempermudah Sobat sekaligus juga menimimalkan penyebaran virus yang rentan terjadi di rumah sakit.

    Baca Juga: Kapan & Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Apakah Swab PCR Bisa Dilakukan Sendiri?

    Tentu Sobat Sehat bertanya-tanya apakah swab test bisa dilakukan sendiri seperti halnya rapid test? Jawabannya, tidak bisa karena swab test adalah tes finalisasi atau terakhir, seseorang positif atau negatif terkena Corona. Karena merupakan tes terakhir, berarti tes ini bukanlah tes yang main-main sehingga semua prosedur dan protokol kesehatannya harus dilakukan petugas medis yang sudah mempunyai keahlian dalam hal tersebut.

    Mengapa Harus Swab Test?

    Swab test diperlukan untuk mengetahui secara pasti dan tepat bahwa orang yang terindikasi terkena virus Corona itu benar-benar positif atau malah negatif sehingga setelah diketahui hasilnya, bagi yang positif akan diarahkan untuk diisolasi selama 14 hari untuk menghentikan penyebaran virus.


    Sedangkan bagi yang negatif, otomatis akan dinyatakan sembuh sehingga tidak perlu menjalani isolasi. Meski begitu, untuk Sobat yang mendapatkan hasil yang negatif tetap harus menjalankan protokol kesehatan dari pemerintah dan WHO, yaitu mencuci tangan dengan sabun, memakai hand sanitizer, serta memakai masker bila akan keluar rumah.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Selain sebagai indikator positif dan negatif Corona, swab test juga bisa digunakan sebagai  persyaratan bagi mereka yang akan bepergian keluar kota melalui SIKM atau surat izin keluar masuk seperti yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang PSBB Transisi. Dengan mengantongi SIKM yang di dalamnya ada hasil swab test, tentu akan mempermudah Sobat yang bepergian untuk urusan bisnis dan pekerjaan.

    Adakah Efek Samping?

    Sebagaimana halnya sebuah tes atau uji kesehatan, tentu saja ada efek samping yang akan dirasakan. Untuk swab test ini efek sampingnya merupakan efek samping yang tergolong ringan. Efek samping itu adalah rasa sakit dan geli. Kedua rasa itu timbul sebagai akibat alat swab masuk ke salah satu atau dua lubang hidung yang kemudian diputar beberapa kali.

    Perbedaan dengan Rapid Test

    Seperti sudah disinggung sebelumnya bahwa swab test dan rapid test itu sangat berbeda. Perbedaan mendasar keduanya adalah jika swab test untuk mendiagnosis secara final, sedangkan rapid test sebagai pemeriksaan tahap awal atau pembuka. Perbedaan lainnya adalah pada prosedur. Apabila swab menggunakan dahak atau liur, rapid menggunakan sampel darah. Begitu juga dengan alat-alat yang digunakan.

    Untuk keakuratan hasil, swab test tentu saja lebih akurat karena merupakan tes final. Meski begitu, swab test tidak serta-merta bisa dijadikan sebagai deteksi pasti Corona. Karena, positif atau negatifnya seseorang terkena Corona adalah dari daya tahan atau imun dalam tubuhnya. Apabila daya tahan tubuhnya bagus, orang tersebut akan bisa dinyatakan negatif atau sembuh. Apabila Sobat ingin melakukan rapid test maupun swab PCR, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Referensi

    1. Hasibuan L. Daftar Lokasi Swab Test Covid-19 Jalur Mandiri dan Tarifnya [Internet]. tech. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200603142032-37-162783/daftar-lokasi-swab-test-covid-19-jalur-mandiri-dan-tarifnya
    2. Shafa F. Bedanya Rapid Test, Swab atau PCR, Mana yang Lebih Efektif? [Internet]. POPMAMA.com. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://www.popmama.com/life/health/faela-shafa/bedanya-rapid-test-swab-atau-pcr-mana-yang-lebih-efektif
    3. Media K. Mengenal Tes Swab Corona: Pengertian, Tahapan hingga Biayanya Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/01/183200065/mengenal-tes-swab-corona–pengertian-tahapan-hingga-biayanya?page=all
    4. Berbagai Metode Test Covid-19; PCR A. Berbagai Metode Test Covid-19; PCR, Rapid Test, TCM, Apa Perbedaannya? – Semua Halaman – Grid Health [Internet]. Health.grid.id. 2020 [cited 16 July 2020]. Available from: https://health.grid.id/read/352088718/berbagai-metode-test-covid-19-pcr-rapid-test-tcm-apa-perbedaannya?page=all
    Read More
  • Rapid test menjadi istilah yang begitu populer ketika virus Corona merebak di Indonesia sejak awal Maret 2020. Prosedur kesehatan ini dilakukan untuk mengetahui secara cepat positif atau negatif orang yang terindikasi menderita Corona. Hampir semua instansi, baik pemerintah maupun swasta mewajibkan para pegawainya untuk melakukan rapid test yang sudah disediakan di kantor-kantor tersebut. Tujuannya supaya […]

    Hal-hal yang Perlu Sobat Ketahui Tentang Rapid Test Corona

    Rapid test menjadi istilah yang begitu populer ketika virus Corona merebak di Indonesia sejak awal Maret 2020. Prosedur kesehatan ini dilakukan untuk mengetahui secara cepat positif atau negatif orang yang terindikasi menderita Corona. Hampir semua instansi, baik pemerintah maupun swasta mewajibkan para pegawainya untuk melakukan rapid test yang sudah disediakan di kantor-kantor tersebut. Tujuannya supaya virus Corona dapat dicegah dan dikendalikan penyebarannya mengingat sifat virus ini yang begitu massif penyebarannya.

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona

    Pengertian Rapid Test

    rapid tesr corona

    Rapid Test yang jika dibahasaindonesiakan menjadi tes cepat atau uji cepat adalah metode skrining awal untuk  mendeteksi antibodi, IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan Corona melalui sampel darah. Keduanya akan terbentuk apabila ada paparan virus Corona atau SARS-CoV2. Ketika ada antigen yang masuk ke tubuh kita seperti Corona, tentu saja sistem pertahanan tubuh kita akan melawan. Hal tersebut bisa disamakan dengan sistem pertahanan negara, yang dalam hal ini sel darah putih dalam tubuh kita adalah tentaranya.
    Apabila serangan virus semakin banyak ke dalam tubuh, semua sel darah putih akan dikerahkan menangkal berbagai fungsi selain menyerang. Jadi ada yang berperan sebagai mata-mata untuk kemudian dijadikan sebagai informasi untuk melawan virus tersebut.

    Produk Terkait: Rapid Test Covid-19


    Dari situlah kemudian ada tim khusus untuk melawan yang disebut dengan antibodi, yang akan menempel pada antigen sehingga kemampuan virus memasuki sel dan memperbanyak diri dapat dicegah. Fungsinya untuk melawan bakteri, virus, dan benda asing lainnya. 

    Dua Jenis Antibodi dalam Darah
    Immonuglobulin G (IgG)

    Ini adalah jenis antibodi yang paling umum ditemukan dalam darah dan cairan tubuh lainnya. Antibodi tersebut akan menyimpan memori yang berkaitan dengan bakteri atau virus yang pernah masuk ke dalam tubuh sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi yang bisa ditimbulkan kemudian hari.

    Imunoglobulin M (IgM)

    Antibodi ini adalah antibodi yang akan memberikan perlindungan pertama terhadap suatu infeksi. Artinya, ia akan muncul setelah tubuh terpapar oleh bakteri atau virus untuk pertama kali. Kadar IgM kemudian akan meningkat karena pertama kali terinfeksi  lalu menurun seiring dengan meningkatnya kadar IgG untuk memberikan perlindungaan jangka panjang terhadap infeksi. Karena dapat menentukan secara cepat positif atau tidaknya seseorang terkena corona, maka rapid test atau uji cepat wajib dilakukan sebagai sebuah skrining awal yang ke depannya dapat mencegah dan memutus rantai penyebaran Corona selain tetap di rumah dan tidak berkumpul di ruang publik.

    Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukannya?

    Sobat Sehat bisa melakukan rapid test Corona, yaitu 7 hari setelah terpapar virus Corona. Waktu ini lebih efektif, dan karena dalam jeda waktu tersebut diperlukan juga untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk dalam tubuh pasien akibat infeksi, yakni IgG dan IgM.
    Kedua immunoglobulin tersebut merupakan jenis antibodi yang akan terdeteksi melalui tes cepat Corona. Namun, apabila Anda merasa mengalami gejala yang mencurigakan, segera periksakan diri ke dokter.

    Siapa yang Perlu Melakukan Rapid Test?

    Uji cepat Corona ini direkomendasikan kepada orang-orang berikut:

    • Orang tanpa gejala atau OTG, terutama yang pernah melakukan kontak minimal 7 hari dengan pasien positif COVID-19 atau memiliki risiko tertular. Contohnya adalah petugas kesehatan.
    • Orang dalam pemantauan atau ODP.
    • Pasien dalam pengawasan atau PDP.
    • Orang-orang yang berprofesi dalam kesehariannya kontak dengan banyak orang seperti polisi, tentara, sopir transportasi massal, petugas bandara, kurir, pejabat publik pengemudi ojek online, dan sebagainya.
    • Uji cepat  Corona ini bisa dilakukan setelah orang-orang yang disebut di atas terpapar Corona  supaya bisa lebih efektif ketika memeriksa dua antibodi dalam tubuh.

    Sobat tentu juga akan bertanya mengenai harga dan prosedur yang harus dilakukan mengenai rapid Corona ini.

    Baca Juga: Kapan dan Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Berapa Harganya?

    Harga rapid test Corona mulai dari Rp 350.000, dan dapat bervariasi tergantung paket yang ditawarkan oleh fasilitas kesehatan yang ditunjuk melakukan tes ini. Biasanya tes dilakukan bersamaan dengan beberapa tes lainnya seperti rontgen thorax dan tes darah. Akan tetapi harga yang demikian dikeluhkan sebagian besar masyarakat terutama bagi yang kurang mampu sehingga pemerintah memutuskan pada 6 Juli 2020 bahwa harga tertinggi untuk rapid test Corona ini sebesar Rp 150.000 berdasarkan SE Nomor HK.02.02/I/2875/2020.

    Bagaimana Prosedurnya?

    Prosedur untuk melakukan uji cepat Corona ini terdiri dari berbagai tahapan, yaitu:

    • Tenaga medis akan membersihkan area pengambilan darah dengan cairan antiseptik untuk membunuh kuman dan mencegah infeksi.
    • Lengan atas akan diikat dengan perban elastis agar aliran darah dapat terkumpul dan pembuluh darah vena lebih mudah ditemukan.
    • Darah kemudian akan diambil dengan menyuntikkan jarum steril ke pembuluh darah setelah vena ditemukan.
    • Tabung khusus lalu dipasang di belakang jarum suntik.
    • Jarum akan dilepas dan bagian yang disuntik akan ditutup dengan perban ketika jumlah darah sudah cukup.

    Cara lain yang bisa digunakan adalah seperti pada tes golongan darah, yaitu dapat dilakukan dengan menusukkan jarum di ujung jari pasien. Setelah darah keluar dari hasil penusukan kemudian akan diteteskan pada alat rapid test. Hasilnya akan keluar dalam 15-20 menit.

    Seperti Apa Hasilnya?

    Hasil Corona sendiri bisa reaktif atau non-reaktif. Reaktif atau positif terjadi jika salah satu atau kedua antibodi IgM atau IgC menunjukkan hasil reaktif yang menandakan bahwa pasien mengalami infeksi tertentu yang bisa akibat virus lain, bukan Covid-19. Karena itulah, untuk memastikan infeksi yang muncul bukan karena Covid-19, biasanya dokter akan merujuk Sobat untuk langsung melakukan swab test atau PCR. Sedangkan non-reaktif terjadi jika antibody IgG dan IgM menunjukkan hasil yang negatif. Dengan kata lain, tidak ada infeksi pada pasien.
    Pemeriksaan rapid test ini supaya benar-benar efektif perlu diulang sekali lagi pada 7-10 hari kemudian jika memang hasilnya negatif. Apabila positif, Sobat disarankan untuk isolasi mandiri selama 14 hari dengan tetap menghubungi petugas kesehatan secara online. Jika parah, Sobat harus segera dirujuk ke rumah sakit darurat atau khusus untuk penanganan Corona.

    Perbedaan dengan Swab Test

    Seperti yang sudah disebutkan setelah Sobat melakukan rapid test, Sobat juga disarankan untuk melakukan swab test atau PCR. Tentu banyak Sobat Sehat yang bertanya-tanya apa perbedaan antara rapid dan swab?
    Perbedaan mendasar pada keduanya adalah apabila rapid untuk skrining atau pemeriksaan tahap awal secara cepat, swab adalah untuk mendiagnosis secara pasti dan tepat apakah Sobat benar-benar terkena Covid-19 atau tidak.
    Dapat dipastikan bahwa swab merupakan langkah terakhir untuk mengetahui seseorang terinfeksi Corona atau tidak sama sekali. Selain perbedaan mendasar, juga terdapat perbedaan lainnya meliputi prosedur, alat yang digunakan beserta harga yang ditetapkan.

    Baca Juga: Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test

    Apakah Ada Efek Sampingnya?

    Rapid test Corona tentu saja mempunyai efek samping yang ringan seperti memar dan nyeri yang terjadi pada lokasi penyuntikan. Efek ini seperti pengambilan darah pada umumnya.

    Bolehkah Melakukan Secara Mandiri?

    Cara seperti ini sangat tidak disarankan sama sekali karena hasil  yang didapatkan sangat tidak akurat atau bahkan meragukan sama sekali. Bahkan, para pakar kesehatan menyarankan untuk sebaiknya melakukan tes cepat ini di fasilitas-fasilitas kesehatan yang terpercaya. Ketidakakuratan atau hasil yang meragukan didapat dari kualitas alat tes yang tidak begitu bagus bahkan abal-abal sehingga akan menyesatkan Sobat dalam membaca hasilnya. Karena itu, sebaiknya Sobat percayakan saja kepada para petugas kesehatan yang terpercaya dalam tes ini.

    Apabila Anda ingin melakukan rapid test namun terkendala waktu karena kesibukan yang dimiliki, Sobat bisa segera memanfaatkan layanan rapid test dari Prosehat yang tentu saja memudahkan Sobat. Silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

     

    Referensi
    1. Media K. Kemenkes: Batasan Biaya Tertinggi Rapid Test Rp 150.000 Berlaku untuk Pasien Mandiri Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2020/07/14/06264481/kemenkes-batasan-biaya-tertinggi-rapid-test-rp-150000-berlaku-untuk-pasien?page=all

    1. Azizah K. Marak Rapid Test Corona Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri? [Internet]. detikHealth. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4977547/marak-rapid-test-corona-mandiri-bolehkah-dilakukan-sendiri
    2. Hasil Rapid Test Reaktif Ternyata Belum Tentu Positif Virus Corona Begitu Pula Sebaliknya I. Hasil Rapid Test Reaktif Ternyata Belum Tentu Positif Virus Corona Begitu Pula Sebaliknya, Ini Penjelasannya – Semua Halaman – Kids [Internet]. Kids.grid.id. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://kids.grid.id/read/472195074/hasil-rapid-test-reaktif-ternyata-belum-tentu-positif-virus-corona-begitu-pula-sebaliknya-ini-penjelasannya?page=all
    3. Widiyani R. Mengenal Apa Itu Rapid Test, Biaya, dan Lokasi Tes COVID-19 [Internet]. detiknews. 2020 [cited 15 July 2020]. Available from: https://news.detik.com/berita/d-5031349/mengenal-apa-itu-rapid-test-biaya-dan-lokasi-tes-covid-19
    Read More
  • Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut. Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan […]

    4 Hal Penting Terkait Melahirkan Saat Pandemi Menurut IDAI

    Virus Corona atau Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak awal Maret 2020 telah mengubah tata cara atau kebiasaan semua bidang kehidupan supaya bisa menghindari dan memutus rantai penyebaran virus yang lebih ganas daripada SARS atau MERS tersebut.

    ibu melahirkan


    Salah satu bidang yang berubah untuk menyesuaikan dengan virus tersebut adalah kesehatan yang merupakan bidang paling utama dan terdepan dalam menghadapi Covid-19. Tak ketinggalan protokol kesehatan untuk ibu hamil.

    Baca Juga: 6 Panduan Nutrisi Ibu Hamil untuk Menjaga Kesehatan Calon Buah Hati

    Protokol diperlukan mengingat Corona adalah virus yang mudah menyebar dan cepat masuk ke dalam sistem pernafasan utama seperti paru-paru. Apalagi ibu hamil merupakan orang yang mudah terpapar virus tersebut karena daya tahan tubuh yang menurun. 

    Tidak hanya ibu hamil, bayi yang dikandung juga terpapar virus sehingga setelah dilahirkan harus segera dijauhkan dari sang ibu. Meskipun penelitian belum bisa dengan pasti mengungkapkan tingkat penularan tersebut. Adanya Corona yang mempunyai efek sangat mematikan juga membuat ibu hamil menjadi enggan memeriksakan diri ke puskesmas atau mengikuti kelas khusus ibu hamil. Ketakutan juga ditambah dengan belum adanya standarisasi yang lengkap untuk APD tenaga medis.

    Lalu seperti apakah protokol atau pedoman kesehatan untuk ibu hamil pada masa pandemi atau new normal? Simak poin-poin di bawah ini seperti yang dipaparkan oleh dr. Toto Wisnu Hendarto dari PP IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

    1. Memulai Pencegahan dengan Membaca KIA
      Seperti yang sudah diumumkan oleh WHO pada akhir 2019 bahwa untuk mencegah dan memutus penyebaran virus Corona adalah mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir selama 20 detik.
      Perihal mencuci tangan yang baik dan benar ini juga ada dalam buku KIA atau Kesehatan Ibu dan Anak 2020 yang telah direvisi. Di dalam buku pegangan utama tersebut juga dijabarkan bahwa mencuci tangan untuk ibu hamil harus memakai juga hand sanitizer dengan kandungan alkohol sebanyak 70% apabila sabun cuci tangan tidak tersedia.
      KIA untuk Corona ini juga memuat beberapa poin penting seperti penggunaan masker untuk mencegah cipratan air liur, baik langsung maupun tidak langsung. Kemudian menghindari kontak dengan tidak bepergian ke daerah-daerah rawan Corona serta tidak berinteraksi dengan hewan-hewan penyebab virus tersebut seperti kelelawar, tikus, dan musang.
    2. Lakukan Pemeriksaan Kehamilan Sesuai Protokol Covid-19
      Pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang harus dilakukan untuk ibu hamil supaya bisa mengetahui kesehatan bayi yang dikandungnya. Pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan terpercaya milik pemerintah atau swasta.
      Namun dalam masa pandemi atau new normal ini, diusahakan agar bumil tidak terlalu menunggu lama dalam memeriksakan kehamilan. Karena itu, perlu dibuat perjanjian antara ibu hamil dan pihak pemeriksa.

    Untuk panduan pemeriksaan kesehatan, bumil dapat membaca panduannya melalui KIA 2020 yang telah direvisi. KIA juga memuat beberapa risiko tanda bahaya yang mesti diketahui oleh si ibu hamil untuk bayi yang dikandungnya. Apabila si ibu hamil merasa ada tanda bahaya seperti yang termuat dalam KIA, disarankan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan.

    Baca Juga: 9 Tips ASI setelah melahirkan


    Untuk masa pandemi ini, petugas kesehatan bisa mendatangi rumah supaya ibu hamil bisa menghindari virus Corona, dan ibu hamil dapat mengikuti kelas pelatihan kehamilan secara online. Apabila bumil terindikasi terkena Covid-19, pemeriksaan USG bisa ditunda sampai masa isolasi berakhir.


    Untuk ibu hamil yang terindikasi terkena Covid-19 juga memerlukan beberapa penanganan khusus seperti tidak memberikan tablet tambah darah, petugas kesehatan melakukan antenatal care selama 14 hari setelah isolasi, dan pembentukan tim multi-disiplin yang terdiri dari beberapa dokter spesialis, serta pemberian konseling.

    1. Ketahui Beberapa Tingkatan Pelayanan
      Toto Wisnu Hendarto juga memaparkan tingkatan pelayanan kelahiran pada masa pandemi dan new normal. Terdapat tiga level seperti yang tercantum di KIA 2020 hasil revisi yaitu,
    • Level I untuk kemampuan penanganan dasar
    • Level II A dan B untuk kemampuan penanganan khusus
    • Level III A dan B untuk penanganan dasar namun subspesial 
    • Level III C dan D untuk penanganan lanjutan

    Level-level ini diberikan kepada fasilitas kesehatan sesuai dengan standar dan APD yang dimiliki untuk pengananan ibu hamil saat pandemi. Juga sesuai dengan status yang disandang si ibu hamil apakah penderita atau bukan. Jika ia penderita, tentu harus diketahui status penderitanya.


    Untuk level 1 di Indonesia berlaku ketentuan pelayanan umum seperti pasca kelahiran bayi, yaitu 37-42 minggu, dengan berat berkisar di 2.500-4.000 gram. Sedangkan pelayanan luar biasa ada pada level III plus. Karena level atau tingkatan yang berbeda, tentu saja APD yang digunakan juga berbeda seperti level III harus menggunakan delivery chamber.

    1. Pemberian Pelayanan untuk Bayi Baru Lahir
      Bayi yang baru lahir rentan terkena Corona dikarenakan belum mempunyai daya imunitas yang bagus. Untuk hal ini dalam pemaparannya IDAI memberikan 4 tahapan periode waktu dalam penanganan pasca-kelahiran.
    • Tahapan pertama adalah berdasarkan detik (30 detik)
    • Tahapan kedua berdasarkan jam (6-12 jam)
    • Tahapan ketiga berdasarkan hari (47-72 jam)
    • Tahapan  keempat berdasarkan minggu

    Pada tahapan pertama penanganan yang perlu dilakukan adalah resusitasi neonatal kurang lebih 30 detik yang meliputi pemberian kehangatan, pemberian posisi kepala untuk bernafas, pengeringan, dan perangsangan taktil.

    Apabila dalam tahapan ini bayi terindikasi Corona, langkah yang perlu dilakukan adalah melakukan prosedur aerosol generated secara isolatif. Pada tahapan kedua prosedur yang perlu dilakukan adalah neonatal esensial, pemberian vitamin K1, antibiotik, dan vaksin hepatitis B.

    Baca Juga: Bolehkah Ibu Hamil Terbang?


    Apabila bayi terkena Corona, neonatal esensial tetap dilakukan namun dengan melakukan isolasi selama 14 hari. Pada kategori ketiga perawatan yang perlu dilakukan adalah rooming in, pemeriksaan detak jantung, dan pemeriksaan hipotiroidisme. Apabila bayi terkena Covid-19 langkah yang perlu dilakukan adalah isolasi khusus berdasarkan protokol Covid-19, dan boleh meninggalkan rumah sakit. Tahapan terakhir adalah berdasarkan minggu yaitu dimulainya pemberian ASI secara terkontrol, monitor berat badan, dan monitor metabolisme bilirubin. Jika bayi pada tahapan ini terkena Corona, prosedur yang dilakukan adalah identifikasi final berdasarkan protokol Covid-19.

    Nah, itulah 4 poin penting dari IDAI mengenai prosedur melahirkan pada masa pandemi. Semoga bermanfaat bagi para ibu hamil yang ingin tetap melahirkan dalam keadaan sehat dan aman. Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    Read More
  • S&K Voucher Hemat Vaksinasi / Imunisasi

    Syarat dan Ketentuan Voucher Hemat Vaksinasi / Imunisasi di Prosehat

    • Setiap pembeli yang membeli layanan vaksinasi / imunisasi maka akan mendapatkan voucher tambahan senilai Rp 50.000 untuk imunisasi anak, Rp 100.000 untuk vaksin HPV.
    • Voucher didapatkan setelah melakukan vaksinasi / imunisasi di Prosehat
    • Voucher potongan imunisasi anak sebesar Rp 50.000 tanpa minium pembelian
    • Voucher potongan vaksinasi HPV sebesar Rp 100.000 tanpa minimum pembelian
    • Masa berlaku 60 hari dari setelah vaksin
    • Voucher akan masuk di dompet akun masing2 pembeli setelah pemberian vaksinasi selesai
    • Promo ini untuk pembelian vaksin hingga tanggal 31 Agstus 2020
    Read More
  • Maraknya pandemi COVID-19 yang masih belum mereda di Indonesia membuat masyarakat ingin mengecek status kesehatan mereka. Bahkan banyak yang membeli rapid test yang dijual online untuk melakukan tes secara mandiri. Apakah Sobat perlu melakukan rapid test secara mandiri? Bolehkah dilakukan sendiri? Baca Juga: Kenali Rapid Test dan Pembacaan Hasilnya Rapid test merupakan sebuah pemeriksaan skrining […]

    Kapan & Di Mana Bisa Rapid Test Mandiri?

    Maraknya pandemi COVID-19 yang masih belum mereda di Indonesia membuat masyarakat ingin mengecek status kesehatan mereka. Bahkan banyak yang membeli rapid test yang dijual online untuk melakukan tes secara mandiri. Apakah Sobat perlu melakukan rapid test secara mandiri? Bolehkah dilakukan sendiri?

    Baca Juga: Kenali Rapid Test dan Pembacaan Hasilnya

    Rapid test merupakan sebuah pemeriksaan skrining awal untuk mendeteksi antigen maupun antibodi yaitu IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Tipe rapid test yang lebih sering dijumpai adalah yang mendeteksi antibodi melalui sampel darah. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh sebagai respon bila terdapat paparan virus corona. Pembentukan antibodi membutuhkan waktu sekitar beberapa hari hingga minggu, dipengaruhi oleh faktor usia, status gizi, tingkat keparahan penyakit, konsumsi obat-obatan sebelumnya, dan penyakit sebelumnya yang dapat memengaruhi sistem imun.

    Hasil rapid test positif menandakan bahwa orang yang diperiksa pernah terinfeksi virus Corona. Namun, orang yang sudah terinfeksi virus Corona dan memiliki virus di dalam tubuhnya bisa saja mendapatkan hasil rapid test yang negatif karena tubuhnya belum membentuk antibodi terhadap virus Corona. Peristiwa ini dikenal juga sebagai false negative, oleh karena itu jika hasilnya negatif maka pemeriksaan rapid test perlu diulang 7-10 hari setelahnya. Bila hasil test Sobat positif, tidak perlu panik terlebih dahulu, terdapat juga peristiwa false positive karena rapid test mendeteksi antibodi terhadap coronavirus jenis lain, bukan yang menyebabkan COVID-19.  Jadi pemeriksaan rapid test ini hanyalah digunakan sebagai pemeriksaan skrining atau penyaring awal saja bukan pemeriksaan untuk mendiagnosis infeksi COVID-19. Tes yang dapat memastikan apakah seseorang positif terinfeksi virus, adalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) karena pemeriksaan ini bisa mendeteksi langsung keberadaan virus Corona.1,2

    Produk Terkait: Rapid Test ke Rumah atau Klinik

    Perlu diketahui, rapid test hanya dilakukan kepada orang yang berisiko tertular COVID-19. Sehingga tidak semua orang perlu melakukan pemeriksaan ini. Rapid test corona direkomendasikan untuk:

    • Orang Tanpa Gejala (OTG), terutama yang pernah melakukan kontak minimal 7 hari dari pasien positif COVID-19.
    • Orang Dalam Pemantauan (ODP), yaitu seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.
    • Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yaitu seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.
    • Profesi yang mengharuskan kontak dengan banyak orang seperti petugas kesehatan, polisi, tentara petugas kurir, dan lainnya.2

    Meski prosedurnya terlihat mudah dan kit pemeriksaan sudah bisa didapatkan online, pemeriksaan rapid test sebaiknya tetap dilakukan dibawah pengawasan petugas kesehatan karena setelah pengambilan sampel, perlu dilakukan pencatatan dan pelaporan kasus sesuai dengan pedoman penatalaksanaan COVID-19 yang berlaku di Indonesia. Selain itu, petugas kesehatan juga dapat mengarahkan apa yang harus dilakukan setelah mendapatkan hasil pemeriksaan. Kit rapid test yang beredar bebas di kalangan masyarakat pun tidak semuanya memenuhi standar yang diakui oleh pemerintah Indonesia, ketika pemeriksaan ini dilakukan menggunakan alat yang tidak valid, maka bisa timbul hasil false negative yang tinggi, hal ini bisa jadi sangat berbahaya. Orang yang menerima hasil false negative mungkin akan merasa tidak terinfeksi sehingga tidak melakukan pencegahan penyebaran virus Corona. 2,3

    Baca Juga: Bagaimana Cara Mendapat Surat Keterangan Bebas Corona?

    Pemeriksaan rapid test yang disarankan tetap dilakukan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit pemerintah maupun swasta. Selain di rumah sakit, untuk mengurangi paparan terhadap kuman penyakit, pemeriksaan rapid test sekarang juga sudah bisa dilakukan melalui bantuan aplikasi kesehatan dan juga pemeriksaan drive thru seperti layanan yang dimiliki ProSehat. Dengan bantuan aplikasi kesehatan, maka Sobat dapat membuat penjadwalan rapid test terlebih dahulu sehingga tidak perlu repot-repot mengantri. Pengambilan sampel juga seringkali dengan menggunakan metode drive thru jadi Sobat tidak perlu turun dari mobil. Pemeriksaan ini tentunya juga tetap dilakukan dibawah pantauan dan arahan petugas kesehatan.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Advice on the use of point-of-care immunodiagnostic tests for COVID-19 [Internet]. Available from: https://www.who.int/news-room/commentaries/detail/advice-on-the-use-of-point-of-care-immunodiagnostic-tests-for-covid-19
    2. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    3. Azizah KN. Marak Rapid test Corona Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri? [Internet]. detikHealth. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4977547/marak-rapid-test-corona-mandiri-bolehkah-dilakukan-sendiri
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja