Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 161–170 of 836 results

  • Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di Cina untuk menganalisa sampel darah dari 2.173 penderita Coronavirus disease 2019 (COVID-19), terdapat kecenderungan peningkatan risiko terhadap golongan darah A, sedangkan risiko yang lebih rendah pada golongan darah O untuk terinfeksi virus SARS-CoV 2. Dengan mengetahui kecenderungan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat membantu para petugas medis dalam tata laksana […]

    Benarkah Golongan Darah A Lebih Rentan dengan Virus Corona?

    Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di Cina untuk menganalisa sampel darah dari 2.173 penderita Coronavirus disease 2019 (COVID-19), terdapat kecenderungan peningkatan risiko terhadap golongan darah A, sedangkan risiko yang lebih rendah pada golongan darah O untuk terinfeksi virus SARS-CoV 2. Dengan mengetahui kecenderungan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat membantu para petugas medis dalam tata laksana pasien COVID-19. Mari kita telaah lebih lanjut.

    Penelitian pendahuluan berjudul “Relationship between the ABO Blood Group and the COVID-19 Susceptibility”, oleh beberapa peneliti asal Cina yang melakukan riset untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kerentanan pada penyakit COVID-19.  Penelitian pendahuluan ini berasal dari situs medRxiv, sebuah website tempat peneliti mempublikasi temuan awal mengenai sebuah topik, sehingga penelitian tersebut belum ditelaah dan dinilai oleh peneliti lainnya, jadi belum dapat dipastikan apakah metodologi dan penemuannya dapat diterapkan.

    Penyebaran golongan darah pada populasi normal di Wuhan adalah tipe A (31%), tipe B (24%), tipe AB (9%), dan tipe O (34%). Sedangkan penyebaran golongan darah pada penderita COVID-19 yang dikumpulkan pada penelitian dari Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Cina, adalah tipe A (38%), tipe B (26%), tipe AB (10%), dan tipe O (25%). Penyebaran golongan darah ini juga serupa dari dua rumah sakit lainnya di Wuhan dan Shenzhen.

    Darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan cairan yang dikenal sebagai plasma. Pembagian golongan darah selama ini adalah berdasarkan antibodi dan antigen yang ditemukan dalam darah. Antibodi adalah glikoprotein yang ditemukan dalam plasma darah, yang merupakan bagian dari sistem imun tubuh, antibodi dapat mengenali benda asing seperti kuman penyakit dan mengaktifkan sistem imun tubuh untuk melawannya. Sedangkan antigen adalah molekul glikoprotein yang ditemukan pada permukaan sel darah merah.

    • Golongan darah A, memiliki antigen A, antibodi anti B.
    • Golongan darah B, memiliki antigen B, antibodi anti A.
    • Golongan darah AB, memiliki antigen A dan B, namun tidak memiliki antibodi anti A dan anti B.
    • Golongan darah O, tidak memiliki antigen A dan B, namun memiliki antibodi anti A dan anti B.

    Mekanisme yang mendasari mengapa golongan darah A lebih rentan belum dapat dipastikan dari penelitian tersebut. Salah satu dugaan adalah adanya anti-A antibodi yang dimiliki oleh orang dengan golongan darah selain tipe A, yang dapat menghambat adesi virus ke reseptor sel tubuh manusia.

    Limitasi dari penelitian ini adalah sampel yang terbatas oleh jumlah dan batasan geografis, selain itu pengambilan sampel yang dilakukan hanya pada penderita yang dirawat di rumah sakit. Hal ini tidak dapat mewakili keseluruhan populasi penderita COVID-19, karena penderita dengan gejala ringan juga banyak yang tidak dirawat di rumah sakit.

    Selain itu penyebaran karakteristik dasar pengambilan sampel juga tidak disajikan, seperti usia, faktor risiko, gejala klinis, dan temuan lainnya sehingga sangat banyak parameter lainnya yang dapat menjadi bias dalam penelitian ini.

    Kesimpulannya, hasil penelitian tersebut belum dapat diaplikasikan pada praktik klinis saat ini. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang mendukung temuan yang didapatkan ini. Sehingga bagi mereka yang memiliki golongan darah A tidak perlu panik dan mereka yang memiliki golongan darah O juga masih rentan terhadap COVID-19, sehingga pastikan untuk tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan virus, seperti rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta memeriksakan diri bila terdapat gejala.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Blood Type May Affect COVID-19 Risk: Study [Internet]. WebMD. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.webmd.com/lung/news/20200320/blood-type-may-affect-covid19-risk-study
    2. Jiao Z, Yan Y, Han-Ping H. Relationship between the ABO Blood Group and the COVID-19 Susceptibility. The Southern University of Science and Technology Shenzhen. 2020;
    3. The Week That Wasn’t in COVID-19: Centenarian Survives, High-Risk Blood Types [Internet]. Medscape. [cited 2020 Mar 23]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/927299
    4. ABO Grouping: Overview, Clinical Indications/Applications, Test Performance. 2019 Nov 26 [cited 2020 Mar 23]; Available from: https://emedicine.medscape.com/article/1731198-overview#a2
    5. Blood groups [Internet]. nhs.uk. 2017 [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/blood-groups/
    6. Is blood type linked to coronavirus infection risk? [Internet]. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/is-blood-type-linked-to-covid-19-risk
    7. Are People With Type-A Blood More Susceptible to COVID-19? [Internet]. Snopes.com. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.snopes.com/fact-check/blood-type-covid-19/
    8. Advice for public [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    9. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 19]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    Read More
  • Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona. Penyebaran infeksi virus corona di […]

    Kenali Apa dan Bagaimana Rapid Test Corona

    Sobat mungkin sudah sering membaca berita bahwa penyebaran infeksi virus corona melalui droplet penderita yang sudah positif terkena COVID-19 atau dari kontak, seperti salaman atau berada terlalu dekat dengan penderita (kontak fisik). Oleh karena itu, social distancing atau membatasi kontak dengan orang lain sangat penting untuk memutuskan penyebaran virus corona.

    Penyebaran infeksi virus corona di dunia sangatlah cepat dan sudah menjadi masalah dunia atau pandemi. Menurut data yang diambil dari WHO (World Health Organization), per tanggal 23 Maret 2020 telah tercatat kasus positif corona sebanyak 294.110 kasus, dengan kasus kematian yang disebabkan karena infeksi virus corona sebanyak 12.944 kasus yang tersebar di 186 negara di dunia. Sedangkan di Indonesia sendiri sudah terdeteksi sebanyak 579 kasus positif COVID-19, dengan kasus yang meninggal sebanyak 49 kasus dan kasus sembuh sebanyak 30 kasus.

    Tingginya kasus COVID-19 terurtama di Indonesia, membuat pemerintah menggalakkan salah satu upaya pendeteksi dini yang disebut rapid test corona. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan rapid test dan apakah efektif untuk mendeteksi corona ?

    Rapid test merupakan salah satu cara atau pemeriksaan yang dapat dilakukan secara cepat untuk melihat suatu adanya infeksi di dalam tubuh manusia. Pada kasus ini, rapid test corona berarti alat yang digunakan sebagai pendeteksi diri secara cepat adanya infeksi corona di dalam tubuh seseorang. Pada kasus corona, cara kerja rapid test menggunakan metode pemeriksaan kadar antibodi (sistem imun tubuh) terhadap infeksi penyakit, dalam hal ini adalah IgM dan IgG yang diambil dari sampel darah.

    IgM atau immunoglobulin M dan IgG adalah immunoglobulin G, yang keduanya merupakan bentuk antibodi atau sistem imun yang ada di dalam tubuh, yang terbentuk apabila tubuh terjadi infeksi. Selain itu, IgG bertugas sebagai sel memori yang dapat mengingat infeksi bakteri yang pernah masuk sebelumnya. Sedangkan antibodi IgM merupakan pertanda bahwa kita sedang terinfeksi virus tertentu. Intinya, saat kita terinfeksi, IgM yang paling awal naik kemudian lambat laun akan menurun dan digantikan dengan IgG. Karena rapid test merupakan test secara kasar saja, apabila hasilnya positif, maka diperlukan pemeriksaan lebih spesifik yang dilakukan di laboratorium yang ditunjuk, yaitu pemeriksaan swap tenggorokan dan swap hidung. Namun, apabila hasilnya negatif, jangan berbesar hati terlebih dahulu, dalam test ini bisa saja terjadi false negative (artinya, seseorang sedang terinfeksi namun belum terdeteksi di dalam darah), sehingga tidak menutup kemungkinan masih dapat menularkan virus ke orang lain.

    Lalu, siapa saja yag memerlukan rapid test? Bapak Presiden RI, Joko Widodo menyarankan untuk melakukan rapid test masal bagi seluruh warga Indonesia. Namun, karena alat rapid test masih terbatas, maka yang didahulukan adalah para tenaga medis, pasien dengan gejala khas (demam, batuk, pilek dan sesak napas), adanya paparan atau kontak dengan para penderita yang telah di diagnosis COVID-19 atau mempunyai riwayat perjalanan ke luar negeri atau kontak dengan seseorang yang baru pulang dari luar negeri.

    Saat rapid test, pasien ditusuk dengan jarum pada salah satu jari tangannya kemudian diteteskan ke papan rapid test, lalu ditambahkan tetesan reagen kemudian ditunggu selama beberapa menit, lalu akan timbul garis. Pemeriksaannya terbilang sangat cepat dan mudah sehingga dapat dijadikan sebagai tes penyaring untuk mendeteksi infeksi virus corona namun bukan pemeriksaan acuan atau pegangan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Menurut beberapa peneliti, rapid test menjadi kurang efektif bagi pasien dengan penyakit immunocompromized (gangguan penurunan sistem imun akibat penyakit kronis) seperti HIV karena kekebalan tubuhnya sedang mengalami gangguan. Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa

    DAFTAR PUSTAKA

    1. arcgis.com. 2020. Experience. [online] Available at: <https://experience.arcgis.com/experience/685d0ace521648f8a5beeeee1b9125cd> [Accessed 23 March 2020].
    2. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). [online] Available at: <https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/testing-laboratories.html> [Accessed 23 March 2020].
    3. Confirm BioSciences. 2020. Coronavirus (COVID-19) Instant Test Kit | Confirm Biosciences. [online] Available at: <https://www.confirmbiosciences.com/covid19-instant-coronavirus-test-kit/> [Accessed 23 March 2020].
    4. European Centre for Disease Prevention and Control. 2020. Rapid Risk Assessment: Novel Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic: Increased Transmission In The EU/EEA And The UK – Sixth Update. [online] Available at: <https://www.ecdc.europa.eu/en/publications-data/rapid-risk-assessment-novel-coronavirus-disease-2019-covid-19-pandemic-increased> [Accessed 23 March 2020].
    5. Rodriguez, A., O’Donnell, J. and Alltucker, K., 2020. How Can I Get Tested For Coronavirus? What You Should Know About Test Kits. [online] Usatoday.com. Available at: <https://www.usatoday.com/story/news/health/2020/03/06/coronavirus-test-kit-how-can-get-tested-us-covid-19-virus/4973697002/> [Accessed 23 March 2020].
    Read More
  • Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah […]

    Kenali Avigan dan Klorokuin, Obat yang Disiapkan Jokowi untuk COVID-19

    Saat ini virus corona (COVID-19) telah menyebar luas ke berbagai negara. Tak terlewatkan Indonesia juga terkena penyebaran virus tersebut. Jumlah orang yang terinfeksi di Indonesia masih terus meningkat hingga saat ini.1,2 Tetapi perkembangan penelitian mengenai virus corona juga semakin bertambah. Terdapat penelitian yang menemukan bahwa Favipivavir (Avigan) dan Klorokuin dapat melawan virus corona.3 Lalu, apakah Avigan dan Kloroquin? Bagaimana cara kedua obat tersebut dapat melawan virus corona?

    Favipiravir (Avigan)

    Avigan merupakan nama dagang dari Favipiravir (T-705), yaitu suatu agen anti-viral yang ditemukan di Laboratorium Penelitian Toyama Chemical Co., Ltd. Pada saat itu, Favipiravir digunakan sebagai obat anti-viral terhadap virus Influenza yang merupakan virus RNA. Selain itu, Favipiravir juga menunjukkan aktivitas anti-viralnya terhadap virus RNA lainnya seperti flavivirus, alphavirus, filovirus, bunyavirus, arenavirus, dan norovirus.4,5

    Favipiravir bekerja dengan menghambat replikasi virus. Mekanisme ini termasuk unik untuk suatu obat anti-viral karena pada umumnya hanya menghambat proses masuk (entry) atau penyebaran (release) virus dari sel. Proses ini awalnya dimulai dengan Favipiravir masuk ke dalam sel yang terinfeksi virus. Enzim dalam sel tersebut akan mengaktivasi Favipiravir menjadi bentuk aktifnya yaitu Favipiravir-RTP yang dianggap sebagai substrat oleh virus sehingga masuk ke rantai RNA virus lalu menghambat pemanjangan rantai RNA virus yang mengakitbatkan terhentinya proses replikasi dari virus pada sel tersebut.4 Dengan dasar tersebut dan fakta bahwa COVID-19 merupakan virus RNA, maka Favipiravir  diduga memiliki potensial sebagai anti-viral untuk COVID-19. Namun terdapat juga efek samping dari obat ini berupa teratogenik dan embriotoksik yang berarti dapat mengganggu perkembangan dan bersifat racun untuk janin pada ibu hamil.4 Saat ini telah didapatkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral terhadap COVID-19. Sebuah penelitian terhadap 80 pasien juga menunjukkan bahwa Favipiravir memiliki efek anti-viral yang lebih poten dibandingkan dengan Iopinavir/Ritopinavir terhadap COVID-19. Meski demikian, penemuan tersebut masih dalam tahap penelitian lebih lanjut.5,6

    Kloroquin

    Obat ini mungkin pernah terdengar familiar bagi Sobat? Ini karena Kloroquin telah digunakan sebagai obat anti malaria lebih dari 70 tahun. Selain itu kloroquin juga digunakan sebagai obat autoimun, dan juga dapat digunakan sebagai anti-viral spektrum luas sejak 2006.5,6 Kloroquin termasuk dalam pedoman pengobatan COVID-19 di Cina dan juga CDC.5,7

    Peran Kloroquin dalam tubuh adalah mem-block infeksi dari COVID-19 pada konsentrasi mikromolar-rendah. Kloroquin bekerja dengan cara mengganggu proses fusi virus/sel (dengan meningkatkan pH endosom) dan mengganggu (proses glikosilasi) reseptor selular virus corona. Ditemukan bahwa Kloroquin bekerja pada stadium entry dan post entry dari COVID-19. Selain itu, Kloroquin juga memiliki efek meningkatkan imun yang dapat membantu dalam melawan infeksi virus. Obat ini tersebar dengan mudah ke seluruh jaringan tubuh, termasuk paru.6,8 Pemberian Kloroquin harus dengan dosis dan anjuran yang tepat karena terdapat beberapa efek samping seperti mual, muntah, diare, nyeri perut hingga keracunan Kloroquin yang menyebabkan kerusakan pigmen epitel retina, gangguan jantung, dan kerusakan saraf.9,10,11

    Dari hasil penelitian terkini, telah didapatkan bahwa Favipiravir dan Kloroquin dapat melawan infeksi COVID-19. Favipiravir dan Kloroquin memiliki mekanisme anti-viral yang berbeda. Favipiravir menghambat replikasi virus dalam sel, sedangkan Kloroquin menghambat masuknya virus ke dalam sel. Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk kedua obat tersebut. Pastikan untuk tidak membeli dan menggunakan kedua obat tersebut tanpa anjuran atau instruksi dari dokter. Jika Sobat mengalami gejala COVID-19 seperti demam, batuk, sesak napas, dan berkunjung atau terpapar seseorang yang berkunjung pada negara risiko tinggi, segeralah periksakan diri Sobat ke dokter atau hubungi call center krisis virus corona 119 ext 9.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020. Available from: https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
    2. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html
    3. Adnan Shereen M, Khan S, Kazmi A, Bashir N, Siddique R. COVID-19 infection: origin, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research. 2020;.
    4. FURUTA Y, KOMENO T, NAKAMURA T. Favipiravir (T-705), a broad spectrum inhibitor of viral RNA polymerase. Proceedings of the Japan Academy, Series B. 2017;93(7):449-463.
    5. Dong L, Hu S, Gao J. Discovering drugs to treat coronavirus disease 2019 (COVID-19). Drug Discoveries & Therapeutics. 2020;14(1):58-60.
    6. Wang M, Cao R, Zhang L, Yang X, Liu J, Xu M et al. Remdesivir and chloroquine effectively inhibit the recently emerged novel coronavirus (2019-nCoV) in vitro. Cell Research. 2020;30(3):269-271.
    7. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html
    8. Cortegiani A, Ingoglia G, Ippolito M, Giarratano A, Einav S. A systematic review on the efficacy and safety of chloroquine for the treatment of COVID-19. Journal of Critical Care. 2020;.
    9. Chloroquine and Hydroxychloroquine : Side Effects of Medications : The Eyes Have It [Internet]. Kellogg.umich.edu. 2020.Available from: http://kellogg.umich.edu/theeyeshaveit/medica/chloroquine-hydorxychloroquine.html
    10. DeMott M, Young M, Williams S, Clark R. Overdose of Cardiotoxic Drugs. Cardiac Intensive Care. 2010;:427-442.
    11. Cavaletti G. Toxic and Drug-Induced Neuropathies. Neurobiology of Disease. 2007;:871-883.
    Read More
  • Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya. Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan […]

    6 Tips Menjaga Kesehatan bagi Sobat yang Tidak Bisa Kerja dari Rumah (WFH)

    Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya.

    Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Sehingga Sobat yang tidak dapat melakukan pekerjaannya dari rumah harus lebih menjaga kesehatan. Saat ini vaksin untuk COVID-19 masih belum ada, sehingga hal terbaik untuk mencegah penularan adalah mengurangi paparan pada virus. COVID-19 menular melalui kontak erat dan percikan saat batuk maupun bersin.1

    Berikut tips yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan dan terhindar dari COVID-19:

    1. Rutin mencuci tangan, biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang bersih selama minimal 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudahtercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol minimal 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, dan bila tangan terlihat kotor. Hindari menyentuh wajah baik sebelum maupun sesudah cuci tangan.
    1. Mengetahui etika batuk dan bersin, gunakan tisu atau bagian lipat dalam siku untuk menutup hidung dan mulut saat batuk maupun bersin, jangan gunakan tangan. Tisu yang digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya.
    2. Menjaga jarak dengan orang lain, jagalah jarak minimal 1 meter dari orang lain. Hindari kontak fisik dengan orang lain, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala, atau membungkuk.
    3. Membersihkan barang-barang yang sering disentuh, membersihkan barang-barang yang digunakan setiap hari dengan disinfektan seperti meja, gagang pintu, handphone, dan keran air.
    4. Menerapkan pola hidup sehat:
    • Pola makan yang baik dan benar, biasakan untuk mengonsumsi makanan bergizi, pastikan untuk memenuhi kebutuhan makronutrien Sobat, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien seperti vitamin dan mineral juga yang banyak didapatkan dari buah dan sayuran. Selain makan, jaga pula hidrasi tubuh, konsumsi air putih sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari.
    • Cukup istirahat, tidur yang cukup karena regenerasi sel tubuh terjadi saat sedang beristirahat. Pastikan untuk tidur selama minimal 8 jam sehari agar sistem imun tetap prima.
    • Hindari stres, adanya pandemik dapat menyebabkan stres bagi beberapa orang baik orang dewasa maupun anak-anak. Cobalah untuk mengambil waktu sejenak dan ambil nafas yang dalam atau melakukan meditasi. Lakukan aktivitas yang membuat Anda santai dan lebih rileks. Berbicaralah dengan orang-orang sekitar. Hindari membaca atau mendengar berita mengenai pandemik secara terus-menerus.
    • Rutin berolahraga, olah raga yang rutin dapat meningkatkan kebugaran sistem jantung dan paru-paru Sobat. Lakukanlah olah raga minimal 150 menit selama satu minggu. Aktif bergerak dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti membatasi duduk yang terlalu lama, memilih untuk naik tangga dibandingkan dengan eskalator, jalan kaki bila tujuan dekat, dan lain-lain.
    • Hindari rokok dan alkohol, rokok dapat menurunkan sistem imun tubuh karena zat kimia yang terkandung didalamnya mengandung banyak radikal bebas yang dapat menurunkan kerja sistem imun tubuh.
    1. Segera memeriksakan diri bila terdapat gejala, segera melakukan pemeriksaan bila Sobat mengalami demam, batuk, pilek, serta kesulitan bernapas. Gunakan masker hanya bila Sobat sakit, masker yang dapat digunakan adalah masker bedah atau masker N95 yang memiliki saringan untuk mencegah penularan virus.

    Untuk informasi kesehatan lainnya,silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    2. Advice for public [Internet].Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    4. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    5. A healthy lifestyle [Internet]. 2020. Available from: http://www.euro.who.int/en/health-topics/disease-prevention/nutrition/a-healthy-lifestyle
    6. Chaput J-P, Dutil C, Sampasa-Kanyinga H. Sleeping hours: what is the ideal number and how does age impact this? Nat Sci Sleep. 2018 Nov 27;10:421–30.
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    8. Sato J, Takahashi I, Umeda T, Matsuzaka M, Danjyo K, Tsuya R, et al. Effect of alcohol drinking and cigarette smoking on neutrophil functions in adults. Luminescence. 2011;26(6):557–64.
    9. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    Read More
  • Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan membeli antiseptik, hand sanitizer, sabun cuci tangan serta alkohol yang diyakini dapat membunuh virus penybab infeksi Corona. Lalu, apakah pembersih tubuh yang benar-benar efektif dapat membunuh virus Corona? Perlu Sobat ketahui, cairan pembersih seperti antiseptik, alkohol, hand sanitizer bahkan sabun mandi biasa secara teori dapat merusak struktur […]

    Ingat! Batasi Gunakan Hand Sanitizer Sampai 5 Kali

    Beberapa waktu belakangan ini, masyarakat seringkali dihebohkan dengan membeli antiseptik, hand sanitizer, sabun cuci tangan serta alkohol yang diyakini dapat membunuh virus penybab infeksi Corona. Lalu, apakah pembersih tubuh yang benar-benar efektif dapat membunuh virus Corona?

    Perlu Sobat ketahui, cairan pembersih seperti antiseptik, alkohol, hand sanitizer bahkan sabun mandi biasa secara teori dapat merusak struktur virus. Lantas, manakah yang lebih baik? Jawabannya semua baik, tergantung ketersediaan dan cara menggunakannya.

    Apabila memungkinkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, hal ini lebih direkomendasikan. Namun, apabila tidak dekat dengan sumber air, penggunaan alkohol ataupun hand sanitizer boleh digunakan.

    Sabun Biasa VS Sabun Antiseptik

    Penggunaan sabun antiseptik nyatanya sangat efektif untuk membasmi kuman seperti bakteri, virus dan juga jamur. Sabun antiseptik umumnya mengandung bahan aktif triclosan 0,1-0,45% atau triclocarbon yang lebih ampuh untuk membasmi kuman dibandingkan dengan sabun biasa. Namun, karena mengandung bahan kimia aktif maka tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan iritasi seperti kulit kering dan gatal apabila sering dipakai. Pada orang yang mempunyai kulit yang sensitif, maka akan menimbulkan dermatitis kontak iritan atau dermatitis kontak alergi. Namun, sejumlah penelitian menyatakan bahwa sabun biasa ternyata juga efektif untuk membunuh kuman, karena struktur virus yang terdiri dari lipid (lemak) dan protein dapat dirusak juga dengan sabun mandi biasa, minimal cuci tangan 20 detik dan dengan gerakan cuci tangan yang benar.

    Hand sanitizer Batasi Sampai 5 Kali

    Hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60% dapat membunuh kuman, keuntungan hand sanitizer dibanding alkohol biasa karena hand sanitizer biasanya telah dilengkapi dengan kandungan pelembap sehingga tidak menyebabkan kulit kering.

    Namun ternyata, KEMENKES RI (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia) menyatakan bahwa penggunaan hand sanitizer lebih dari 5 kali berturut-turut dapat menyebabkan kuman menjadi resisten, sehingga setelah 5 kali penggunaan, tangan perlu tetap dicuci dengan sabun kemudian dibilas dengan air mengalir.

    Ditambah lagi, penggunaan alkohol diatas 60% memang terbukti efektif dalam membunuh kuman. Namun, penggunaannya diperlukan perhatian khusus, karena dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi, penyimpanan di rumah juga perlu perhatian khusus, jauhkan dari jangkauan anak-anak (hindari terhirup atau terminum oleh anak-anak) dan hati-hati karena alkohol mudah terbakar.

    Selain penggunaan antiseptik untuk mencuci tangan, berikut hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah infeksi virus Corona :

    1. Membersihkan lingkungan rumah (buka jendela rumah setiap pagi agar cahaya matahari masuk serta memperbaiki pertukaran udara).
    2. Bersihkan benda-benda yang sering digunakan (seperti gagang pintu, telpon selular, laptop) dengan menggunakan cairan antiseptik.
    3. Mandi setelah bepergian dari luar rumah.
    4. Apabila sedang sakit batuk dan pilek, gunakan masker penutup hidung dan mulut.
    5. Jangan sentuh bagian depan masker.
    6. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau dengan antiseptik lainnya setelah memegang benda.
    7. Hindari memegang wajah (mata, hidung dan mulut).
    8. Social distancing (hindari keluar rumah untuk hal yang tidak penting, hindari kerumunan).
    9. Jangan menggunakan pakaian yang telah dipakai berulang kali.
    10. Jaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang sehat (sayur, buah-buahan, suplemen multivitamin) serta istirahat yang cukup.
    11. Apabila terdapat gejala demam, batuk, sesak napas, serta riwayat berpergian keluar negeri (selama 14 hari terakhir) atau kontak dengan orang yang baru pulang dari luar negeri atau orang yang positif COVID-19 segera hubungi Dokter.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Lodish H. Molecular cell biology. 4th ed. New York: W.H. Freeman; 2000.
    2. Yasemin Saplakoglu L. Researchers Map Structure of Coronavirus &ldquo;Spike&rdquo; Protein [Internet]. Scientific American. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: scientificamerican.com/article/researchers-map-structure-of-coronavirus-spike-protein/
    3. Cuci Tangan dengan Sabun dan Air Mengalir versus Hand sanitizer [Internet]. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: promkes.kemkes.go.id/?p=2589
    4. Mohammed M. Why Alcohol-Based Hand sanitizers Are the Best to Use During the Coronavirus Pandemic [Internet]. The National Interest. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: nationalinterest.org/blog/buzz/why-alcohol-based-hand-sanitizers-are-best-use-during-coronavirus-pandemic-132977
    5. Advice for public [Internet]. Who.int. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Prevention & Treatment [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/prevention.html

     

    Read More
  • Maraknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), terdapat banyak hal yang dihimbau kepada masyarakat. Salah satunya mengenai self isolation pada seseorang yang memiliki riwayat berpergian atau tinggal di area transmisi lokal atau pernah kontak erat dengan pasien positif COVID-19 yang dilakukan secara volunter atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan untuk melakukan isolasi diri di rumah selama 14 hari […]

    7 Cara Melakukan Self Isolation yang Tepat saat Wabah Corona

    Maraknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), terdapat banyak hal yang dihimbau kepada masyarakat. Salah satunya mengenai self isolation pada seseorang yang memiliki riwayat berpergian atau tinggal di area transmisi lokal atau pernah kontak erat dengan pasien positif COVID-19 yang dilakukan secara volunter atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan untuk melakukan isolasi diri di rumah selama 14 hari atau sampai dikatakan negatif COVID-19. Kontak erat adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam satu ruangan dalam radius 1 meter dengan kasus pasien dalam pengawasan, probabel, atau konfirmasi COVID-19.

    Gejala klinis dari COVID-19 adalah gangguan pernapasan akut seperti demam serta gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak nafas. Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan percik renik (droplet) saat batuk atau bersin.2 Bila Sobat disarankan untuk melakukan isolasi mandiri, berikut tips untuk melakukan isolasi di rumah:

    1. Tidak keluar dari rumah kecuali untuk mendapatkan pengobatan. Tetaplah berada di rumah. Jika harus keluar rumah, gunakan masker, hindari tempat ramai dan hindari menggunakan transportasi umum. Sebaiknya batasi orang-orang yang berkunjung.
    2. Pisahkan diri dari orang-orang sekitar yang tinggal serumah. Sebaiknya walaupun tinggal di rumah yang sama, pasien yang melakukan isolasi diri berada dalam ruangan yang terpisah dari anggota keluarga yang lain. Jaga jarak lebih dari 1 meter dengan orang yang sehat. Hindari penggunaan alat makan atau linen bersamaan, cucilah dengan air dan sabun setelah digunakan. Linen sebaiknya dipisahkan dari linen anggota keluarga yang lain, gunakan deterjen, dan suhu air 60-90
    3. Menggunakan masker. Gunakan masker yang dilengkapi dengan filter seperti masker bedah atau masker N95 untuk menyaring partikel yang keluar saat batuk atau bersin. Buang masker sehabis digunakan di tempat sampah.
    4. Melakukan etika batuk yang benar. Menutup batuk atau bersin dengan menggunakan tisu atau lipat dalam siku. Langsung membuang tisu di tempat sampah dan mencuci tangan.
    5. Sering mencuci tangan. Mencuci tangan dengan air dan sabun minimal selama 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudah tercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan gunakan hand-rub yang berbahan dasar alkohol diatas 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor.
    6. Membersihkan benda yang sering disentuh setiap harinya. Bersihkan gagang pintu, meja, kursi, gadget, dan benda lain yang sering disentuh. Gunakan larutan pembersih atau lap. Sebaiknya gunakan sarung tangan saat membersihkan benda-benda tersebut.
    7. Melakukan observasi gejala. Memantau gejala klinis selama dilakukan isolasi diri, gejala yang perlu di perhatikan adalah demam disertai gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas. Bila terjadi perburukan gejala segera menghubungi petugas kesehatan.

    Penyakit yang disebabkan oleh virus bersifat self limiting, yang artinya dapat sembuh dengan sendirinya. Sehingga penting juga untuk menguatkan sistem imun tubuh untuk membantu melawan penyakit. Istirahat yang cukup minimal 8 jam sehari. Perbanyak mengonsumsi makanan yang sehat seperti sayur dan buah. Minum air yang cukup sebanyak 2 liter atau 8 gelas setiap harinya. Rutin berolahraga bila tidak ada gejala penyakit, sebanyak 30 menit setiap harinya, 2 kali setiap minggu.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    2. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24 [cited 2020 Jan 27];0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    3. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 20]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/guidance-prevent-spread.html
    4. Advice for public [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    5. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    6. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    Read More
  • Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya. Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut […]

    5 Mitos yang Perlu Sobat Ketahui Tentang Virus COVID 19

    Sobat, semenjak ditemukannya pasien pertama yang terinfeksi virus Corona di Indonesia, maka masyarakat dihebohkan dengan berbagai macam antisipasi yang dapat menangkal masuknya virus Corona masuk ke dalam tubuh. Namun sayangnya, segala bentuk pencegahan kebanyakan masih sebatas mitos dan tidak diketahui sumber pastinya.

    Sebagai masyarakat yang peduli akan kesehatan, Sobat perlu memastikan sumber berita kesehatan tersebut apakah resmi dari badan kesehatan seperti Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) atau badan kesehatan Republik Indonesia atau KEMENKES RI.

    Virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-COV-2) merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan yang menyebabkan infeksi COVID-19 yang dapat menyebabkan kematian karena dapat berakibat gagal napas. Virus ini dapat menyerang berbagai usia baik anak sampai dewasa.

    Infeksi virus corona ini sangat berbahaya, sehingga, muncullah berbagai macam mitos, antara lain:

    1. Antibiotik Bisa Cegah Virus Corona

    WHO menyatakan bahwa antibiotik tidak bekerja terhadap infeksi virus. Antibiotik hanya bekerja pada infeksi bakteri. Dengan kata lain, antibiotik tidak dapat mengatasi apalagi mencegah COVID-19. Pemberian antibiotik tentunya harus secara bijaksana dengan resep dokter. Penggunaan antibiotik secara sembarangan dapat menyebabkan resisten.

    Lalu, obat-obatan apa yang dapat mencegah infeksi virus corona? Sampai saat ini belum ada obat-obatan khusus yang dapat mencegah infeksi virus corona. WHO tidak merekomendasikan mengonsumsi obat-obatan termasuk antibiotik segai pencegahan COVID-19.

    1. Bawang Putih Ampuh Menangkal Virus Corona

    Bawang putih memang dikenal mempunyai segudang manfaat positif bagi kesehatan, seperti mencegah risiko terjadinya penyakit jantung, anti-tumor, anti infeksi bakteri dan menurunkan tekanan darah serta menurunkan gula darah.

    Namun, sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa mengonsumsi bawang putih dapat mencegah infeksi virus corona.

    1. Paket dari Cina Dapat Membawa Virus Corona

    Bagi Sobat yang terbiasa belanja online mungkin sudah biasa menerima kiriman paket dari luar negeri, terutama Cina. Namun tak perlu was-was, seperti yang diketahui penyebaran virus corona dari manusia ke manusia dapat melalui droplet (bersin, batuk) serta kontak tubuh pada pasien yang positive COVID-19. Karakteristik dari virus corona tidak tahan lama hidup pada benda mati. Sehingga, menurut WHO menerima paket dari Cina cukup aman.

    1. Mandi Air Panas Dapat Membunuh Virus Corona yang Menempel di Badan

    WHO telah menyatakan bahwa mandi dengan air suhu panas tidak dapat mencegah terjangkitnya COVID-19. Mandi dengan air panas justru dapat membahayakan kulit karena dapat menyebabkan kulit menjadi kering, iritasi atau malah terbakar karena kulit tidak tahan dengan suhu yang terlalu panas.

    Mengingat cara penyebaran virus corona yang dapat terjadi akibat kontak dengan penderita positive COVID-19, baik dengan bersalaman atau dengan droplet (bersin dan batuk) dalam jarak dekat, maka mandi dengan air panas tidak dapat mencegah masuknya virus apabila kita tidak memerhatikan faktor pencegahan lainnya seperti mencuci tangan setelah memegang benda, menghindari orang dengan gejala batuk, bersin dan demam serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola makan yang sehat.

    1. Penyemprotan Alkohol di Seluruh Tubuh Efektif Mencegah Corona

    Masih menurut WHO, penyemprotan alkohol di seluruh tubuh tidak akan membunuh virus corona yang telah masuk ke dalam tubuh, sebaliknya malah akan berbahaya karena akan mengiritasi kulit serta melukai selaput lendir seperti mulut dan mata. Alkohol 60% dapat digunakan dengan menyemprotkannya ke tangan untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh. Namun, perlu diperhatikan, terlalu sering Sobat menyemprotkan alkohol ke tangan dapat menyebabkan kulit menjadi kering sampai timbul iritasi.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/health-topics/coronavirus
    2. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    3. Myth busters [Internet]. Who.int. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters
    4. Bayan L, Hossain Koulivand P, Gorji A. Garlic: a review of potential therapeutic effects. NCBI [Internet]. 2014 [cited 20 March 2020];v.4(1); Jan-Feb 2014. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4103721/
    5. Staff L. 13 Coronavirus myths busted by science [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/coronavirus-myths.html
    6. Lockerd Maragakis, M.D., M.P.H. L. Coronavirus Disease 2019: Myth vs. Fact [Internet]. Johns Hopkins. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/2019-novel-coronavirus-myth-versus-fact
    Read More
  • Penyebaran infeksi Corona virus telah dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization). Arti dari pandemi adalah wabah yang menyerang hampir seluruh belahan dunia. Lalu bagaimana virus ini dapat menyebar dengan cepat? Seperti yang diketahui bahwa penyebaran virus corona disebabkan akibat kontak dengan penderita, baik dari droplet penderita (bersin atau batuk) […]

    Berapa Lama Virus Corona Hidup pada Benda di Sekitar Kita?

    Penyebaran infeksi Corona virus telah dinyatakan sebagai pandemi oleh badan kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization). Arti dari pandemi adalah wabah yang menyerang hampir seluruh belahan dunia. Lalu bagaimana virus ini dapat menyebar dengan cepat?

    Seperti yang diketahui bahwa penyebaran virus corona disebabkan akibat kontak dengan penderita, baik dari droplet penderita (bersin atau batuk) maupun dari benda yang terkontaminasi droplet penderita lalu kita pegang dan kemudian masuk ke saluran pernapasan melalui hidung maupun mulut. Oleh sebab itu, menjaga jarak dengan pasien penderita COVID-19 atau pasien yang dicurigai menderita COVID-19 sangat diperlukan. Minimal jarak yang ditetapkan adalah 1 sampai 2 meter.

    Lalu, apakah virus corona dapat hidup di luar tubuh manusia dan berapa lamakah virus corona dapat bertahan di luar tubuh manusia? Jawabannya ya, virus corona dapat bertahan hidup di luar tubuh sel inang atau host (manusia atau hewan) namun tidak dapat berkembang biak di luar tubuh sel inangnya dan hanya bertahan beberapa waktu saja tergantung dari permukaannya.

    Penelitian yang dilakukan oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases’ laboratory of Virology in the Division of Intramural Research di Hamilton, Montana menyatakan bahwa coronavirus yang disemprotkan ke udara menjadi partikel airborne dapat bertahan hidup di udara selama 1-3 jam. Hasil penelitian ini telah dicantumkan pada jurnal kedokteran New England Journal of Medicine pada 17 maret 2020. Artinya, ketika pasien dengan COVID-19 bersin atau batuk, partikel aerosol yang ada di udara dapat bertahan selama 1-3 jam.

    Sedangkan pada beberapa penelitian lainnya menyebutkan bahwa virus corona dapat bertahan hidup selama 4 jam pada besi, 24 jam bertahan hidup di atas permukaan kayu, dan lebih dari 3 hari dapat bertahan hidup pada permukaan plastik dan stainless steel. Tetapi ada banyak faktor yang dapat memengaruhi lama hidup virus corona di atas permukaan tersebut, antara lain suhu, kelembapan, paparan sinar matahari atau paparan suhu yang terlalu dingin.

    Oleh karena itu, Lembaga pusat pengendalian penyakit atau CDC (Centers for Disease control and Prevention) merekomendasikan untuk membersihkan permukaan benda yang sering digunakan setiap hari seperti telepon seluler, gagang pintu, toilet, dan komputer dengan menggunakan cairan pembersih, cairan antiseptik atau alkohol 70% untuk membunuh virus corona. Sehingga, secara tidak langsung dapat meminimalkan penyebaran virus corona. Selain itu, biasakan cuci tangan menggunakan sabun dengan air yang mengalir atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol setelah memegang benda atau permukaan benda.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Burhan E, Isbaniah F, Dwi Susanto A, Yoga Aditama T. Pneumonia COVID 19, Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 1st ed. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia; 2020.
    2. Publishing H. Coronavirus Resource Center – Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: health.harvard.edu/diseases-and-conditions/coronavirus-resource-center
    3. New coronavirus stable for hours on surfaces [Internet]. National Institutes of Health (NIH). 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: nih.gov/news-events/news-releases/new-coronavirus-stable-hours-surfaces
    4. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) – Environmental Cleaning and Disinfection Recommendations [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/community/organizations/cleaning-disinfection.html
    5. Writer Y. Here’s how long the coronavirus will last on surfaces, and how to disinfect those surfaces. [Internet]. livescience.com. 2020 [cited 20 March 2020]. Available from: livescience.com/how-long-coronavirus-last-surfaces.html

     

    Read More
  • Saat membaca pemberitaan mengenai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), seringkali digunakan istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Apakah Sobat sudah mengetahui perbedaanya? Kapankah harus memeriksakan diri ke Rumah Sakit? Mari simak artikel di bawah ini. COVID-19 adalah jenis penyakit baru yang ditemukan pertama kali di Kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. […]

    Perbedaan Orang dalam Pemantauan dan Pasien dalam Pengawasan COVID-2019

    Saat membaca pemberitaan mengenai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), seringkali digunakan istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Apakah Sobat sudah mengetahui perbedaanya? Kapankah harus memeriksakan diri ke Rumah Sakit? Mari simak artikel di bawah ini.

    COVID-19 adalah jenis penyakit baru yang ditemukan pertama kali di Kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Virus penyebab COVID-19 ini dinamakan SARS-COV-2. Setidaknya ada dua jenis coronavirus lainnya yang menimbulkan gejala berat seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Gejala klinis dari COVID-19 adalah gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk, dan sesak nafas. Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan percik renik (droplet) saat batuk atau bersin.

    Berdasarkan definisi operasional yang keluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,

    • Orang Dalam Pemantauan (ODP) adalah:
      Seseorang yang mengalami demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, pilek, dan sakit tenggorokan
      DAN
      Tidak ada penyebab lain berdasarkan gejala klinis yang meyakinkan
      DAN
      Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.
    • Pasien dalam Pengawasan (PDP) adalah:
    1. Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam, serta gejala gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, pilek, gejala pneumonia ringan hingga berat.

    DAN

    Tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan

    DAN

    Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal baik di luar maupun dalam negeri.

    1. Seseorang dengan demam (³38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan DAN pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel COVID-19
    2. Seseorang dengan gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berat di area transmisi lokal di Indonesia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
    • Kasus konfirmasi adalah seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.
    • Kontak probabel adalah PDP yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi tidak dapat disimpulkan.4

    Apabila ditemukan kasus PDP maka perlu dilakukan pemantauan dan penelusuran lebih lanjut terhadap kontak erat termasuk keluarga maupun petugas kesehatan yang merawat pasien. Kontak erat risiko rendah wajib dilakukan observasi selama 14 hari, apabila PDP dinyatakan negatif COVID-19 maka kegiatan pemantauan dapat dihentikan, bila PDP dinyatakan probabel/positif COVID-19 maka digolongkan sebagai kontak erat risiko tinggi. Kontak erat risiko tinggi wajib dilakukan observasi dan pengambilan spesimen oleh petugas laboratorium setempat, apabila hasil pemeriksaan laboratorium positif maka pasien dirujuk ke rumah sakit rujukan.4

    ODP wajib melakukan isolasi diri di rumah dan dilakukan pengambilan spesimen oleh petugas laboratorium setempat. ODP perlu dipantau secara berkala untuk dievaluasi apabila terjadi perburukan gejala selama 14 hari. Bila hasil pemeriksaan positif maka pasien di rujuk ke rumah sakit rujukan, begitu pula bila ODP memenuhi kriteria PDP selama pemantauan 14 hari tersebut segera di rujuk ke rumah sakit rujukan. Pemantauan yang dilakukan dalam bentuk pemeriksaan suhu tubuh dan skrining gejala harian yang dilakukan oleh petugas kesehatan setempat. Jenis pemeriksaan spesimen pada COVID-19 bisa diambil dari uji usap hidung, tenggorok, pemeriksaan dahak, dan jaringan saluran pernafasan. Spesimen dikirim ke laboratorium dan dilakukan pemeriksaan dengan metode spesimen Polymerase Chain Reaction (PCR).

    Kini setelah Sobat Sehat telah mengetahui perbedaan keduanya, yuk kita sama-sama lebih menjaga kesehatan pribadi dan selalu waspada. Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019
    2. Wuhan novel coronavirus: epidemiology, virology and clinical features [Internet]. GOV.UK. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-background-information/wuhan-novel-coronavirus-epidemiology-virology-and-clinical-features
    3. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24 [cited 2020 Jan 27];0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    4. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    5. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 19]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html

     

    Read More
  • Semakin hari berita seputar virus corona (COVID-19) semakin menyebar dimana-mana. Bahkan Presiden Jokowi sudah mengeluarkan kebijakan untuk  beraktivitas dari rumah, seperti belajar di rumah bagi para pelajar dan mahasiswa, serta pegawai juga melakukan tugasnya dari rumah atau dengan sistem online. Tak jauh berbeda dengan himbauan Presiden Jokowi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyarankan masyarakat dapat […]

    Social Distancing, Pentingnya Jaga Jarak 5 Langkah

    Semakin hari berita seputar virus corona (COVID-19) semakin menyebar dimana-mana. Bahkan Presiden Jokowi sudah mengeluarkan kebijakan untuk  beraktivitas dari rumah, seperti belajar di rumah bagi para pelajar dan mahasiswa, serta pegawai juga melakukan tugasnya dari rumah atau dengan sistem online.

    Tak jauh berbeda dengan himbauan Presiden Jokowi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyarankan masyarakat dapat melakukan social distancing atau pembatasan interaksi. Menurut Anies, kedisiplinan social distancing amat penting dan amat instrumental dalam menjaga agar penyebaran kasus COVID-19 bisa selesai.
    Social distancing juga sudah dilakukan sejumlah negara dalam penanganan virus corona. Lantas, apa yang dimaksud Social Distancing?

    Ada beberapa pendapat seputar Social Distancing, antara lain menurut Center for Disease Control (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang merupakan badan Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat, social distancing adalah menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia. Sementara menurut Katie Pearce dari John Hopkins University, social distance atau social distancing adalah sebuah praktek dalam kesehatan masyarakat untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang sehat guna mengurangi peluang penularan penyakit.  Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara seperti membatalkan acara kelompok atau menutup ruang publik, serta menghindari keramaian.

    JAGA JARAK LIMA LANGKAH

    Untuk memutus mata rantai penularan COVID-19, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Brian Prahastuti, menginstruksikan masyarakat mematuhi pembatasan sosial untuk menghindari penularan. Salah satu bentuk pembatasan sosial adalah menjaga jarak hingga lima langkah.

    “Social distancing artinya menjaga jarak sosial dengan orang lain yaitu lima langkah,” ujar Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, saat video conference yang ditayangkan melalui akun youtube saluran BNPB, Rabu (18/3).

    Hal ini tentu sejalan dengan WHO yang menyatakan bahwa masyarakat harus menjaga jarak minimal 2 meter dari orang lain ketika berinteraksi dan jangan bersentuhan.

    LANGKAH-LANGKAH SOCIAL DISTANCING

    1. Hindari berkumpul secara langsung dengan teman atau saudara.
    2. Tidak perlu mengunjungi pusat keramaian seperti mall atau tempat wisata.
    3. Jika terpaksa keluar rumah, usahakan TIDAK berjabat tangan dengan orang lain. Jika harus menggunakan fasilitas umum seperti KRL atau menekan tombol lift, sering-seringlah mencuci tangan.
    4. Jangan lupa terapkan etika batuk dengan benar yaitu menggunakan siku lengan sehingga partikel air liur (droplet) tidak menyebar.
    5. Jaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter.

    Nah, Sobat Sehat, tentunya kita berharap COVID-19 segera berlalu dari Indonesia, agar kita bisa beraktivitas seperti semula. Melakukan social distancing termasuk langkah tepat untuk memutus mata rantai virus corona. Mungkin kita perlu meniru negara lain seperti Korea Selatan. Dilansir dari voa news, dampak suksesnya praktek social distancing di Korea Selatan terlihat dari negara ini yang tidak perlu melakukan lock down. Hal tersebut berimbas pada perekonomian negara tersebut yang cenderung lebih stabil jika dibandingkan Italia dan Iran.

    Oleh karena itu, yuk Sobat Sehat bersama-sama menerapkan social distancing, dan menyebarkan pentingnya manfaat social distancing.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, Sobat dapat mengakses www.prosehat.com atau install aplikasi ProSehat atau bisa menghubungi nomor Asisten Kesehatan Maya melalui Telp/SMS /WhatsApp: 0811-18-16-800. Salam sehat!

    Referensi:

    1. Cegah Corona dengan Social Distancing, Apa Itu? | Republika Online [Internet]. Republika Online. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: republika.co.id/berita/q7dnp7370/cegah-corona-dengan-social-distancing-apa-itu
    2. Apa Arti Social Distancing yang Disebut Bisa Mencegah Penyebaran Corona Baru? [Internet]. liputan6.com. 2020 [cited 19 March 2020]. Available from: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4203725/apa-arti-social-distancing-yang-disebut-bisa-mencegah-penyebaran-corona-baru
    Read More
Chat Asisten ProSehat aja