Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 141–150 of 1330 results

  • Mungkin Anda sudah familiar mengenai vaksin human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks pada wanita. Tapi apa Anda tahu seberapa penting vaksin hpv untuk pria? Ya, ternyata virus ini juga bisa menginfeksi pria karena HPV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit kutil pada kelamin, kanker anus, kanker penis, dan sebagainya. Simak artikel berikut ini untuk […]

    Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    Mungkin Anda sudah familiar mengenai vaksin human papillomavirus (HPV) untuk mencegah kanker serviks pada wanita. Tapi apa Anda tahu seberapa penting vaksin hpv untuk pria?

    Ya, ternyata virus ini juga bisa menginfeksi pria karena HPV merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit kutil pada kelamin, kanker anus, kanker penis, dan sebagainya. Simak artikel berikut ini untuk penjelasannya.

    Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria

    Selain Wanita, Seberapa Penting Vaksin HPV untuk Pria?

    HPV tidak selalu Bergejala

    Baik pria maupun wanita dapat terinfeksi oleh HPV. Virus ini menular melalui kontak seksual, atau kontak kulit dengan kulit. Pada usia 15 – 59 tahun, terdapat sekitar 40% orang akan terinfeksi oleh HPV.

    HPV memiliki berbagai jenis varian dan tidak semua jenis infeksi HPV menimbulkan gejala. Jadi, ada kemungkinan Anda atau pasangan Anda menularkan HPV meskipun saat tidak menunjukkan gejala apapun.

    agi wanita, skrining terhadap HPV dapat dilakukan apabila memiliki riwayat kanker serviks pada keluarga, atau sudah aktif secara seksual namun belum pernah mendapatkan vaksinasi HPV. Sedangkan tidak disarankan untuk dilakukan pada pria kecuali memiliki gejala yang khas.

    Dapatkan: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Tipe-tipe HPV

    Terdapat beberapa tipe HPV yang sudah diteliti dan terbukti dapat menimbulkan kanker pada daerah kemaluan. 

    Pada pria, HPV tipe 16 dan 18 dapat menyebabkan kanker penis, kanker anus, dan kanker mulut atau tenggorokan. Sedangkan terdapat HPV tipe 6 dan 11 yang sering menyebabkan kutil pada kelamin.

    Sedangkan pada wanita, HPV tipe 16 dan 18 dapat menyebabkan kanker serviks. Selain dari 4 tipe yang paling sering dijumpai ini, terdapat beberapa tipe lain seperti 31, 33, 45, 52, dan 58 yang juga dapat menyebabkan kanker namun lebih jarang dijumpai.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Pentingnya Vaksin HPV untuk Pria

    Pemberian vaksin HPV untuk pria bermanfaat karena dapat mencegah terjadinya infeksi HPV. Dari infeksi yang dicegah, maka komplikasi yang disebutkan diatas juga dapat dihindari. Yang tidak kalah penting, pemberian vaksin pada pria juga dapat memproteksi pasangannya secara tidak langsung dari infeksi HPV.

    Dengan melakukan vaksinasi HPV, diharapkan terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok pada komunitas. Herd immunity memberikan manfaat yang baik karena dapat menurunkan angka infeksi HPV pada komunitas.

    Baca Juga: Cek Fakta: Ini Dia Fungsi Vaksin HPV Pada Pria?

    Jenis dan Jadwal Pemberian Vaksin HPV

    Saat ini di Indonesia sudah terdapat 2 tipe vaksin HPV, yaitu vaksin HPV bivalen dan tetravalen. Untuk vaksin bivalen mencakup HPV tipe 16 dan 18, sedangkan vaksin tetravalen mencakup HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. Selain dewasa, vaksin HPV juga boleh dan aman diberikan pada remaja berusia 10 tahun keatas. 

    Pemberian vaksin dibagi menjadi 3 dosis yaitu 0, 1 atau 2, dan 6 bulan.6 Dosis 0 artinya dosis pertama, sedangkan dosis kedua diberikan 1 atau 2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga 6 bulan setelah dosis pertama.

    Efek Samping Vaksinasi

    Sama seperti vaksinasi pada umumnya, vaksinasi HPV pun dapat menimbulkan efek samping. Efek samping yang dapat terjadi setelah Anda vaksinasi berupa nyeri dan kemerahan pada lokasi vaksin, atau demam. Namun demikian, keuntungan yang didapatkan dari vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan kerugiannya.

    Baca Juga: 8 Tes Kesehatan yang Wajib Dilakukan Pria Sebelum Menikah

    Sahabat Sehat, pemberian vaksin HPV memang sudah lama dilakukan untuk wanita, namun ternyata tidak kalah pentingnya untuk melindungi pria. Vaksinasi ini sudah terbukti dapat mencegah infeksi HPV pada pria dan pasangannya sehingga terhindar dari terjadinya komplikasi infeksi HPV berupa kanker. Pastikan Anda berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. CDC. STD Facts – Human papillomavirus (HPV).
    2. WHO. Cervical Cancer.
    3. CDC. STD Facts – HPV and Men.
    4. Canadian Cancer Society. Human papillomavirus.
    5. National Cancer Institute. Human papillomavirus (HPV) Vaccine.
    6. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    Read More
  • Pemerintah baru saja mengumumkan bahwa akan menjadikan vaksin human papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi anak SD. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia. Human papillomavirus merupakan virus penyebab kanker serviks (leher rahim) dan beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker tenggorokan, amandel, dan anus. Selain itu juga bisa menyebabkan penyakit kulit […]

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Pemerintah baru saja mengumumkan bahwa akan menjadikan vaksin human papillomavirus (HPV) menjadi vaksin wajib bagi anak SD. Hal ini berkaitan dengan tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia.

    Human papillomavirus merupakan virus penyebab kanker serviks (leher rahim) dan beberapa jenis kanker lainnya seperti kanker tenggorokan, amandel, dan anus. Selain itu juga bisa menyebabkan penyakit kulit dan kelamin. Tapi apakah aman bagi anak-anak untuk menerima vaksin HPV? Mari simak penjelasannya.

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman

    Ketahui Pentingnya Vaksinasi HPV untuk Anak, Apakah Aman?

    Kanker serviks penyebab kematian kedua terbanyak di Indonesia

    Angka kejadian kanker serviks di Indonesia mencapai 15.000 hingga 21.000 kasus setiap tahunnya. Angka ini menjadikan jumlah kasus kanker serviks sebagai penyebab kematian nomor dua terbanyak bagi perempuan di Indonesia.

    Dapatkan: Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Penyebaran kasus kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, salah satunya dengan melakukan vaksinasi kanker serviks (HPV).

    Pentingnya Vaksinasi HPV

    Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa vaksinasi HPV pada anak-anak tidak diperlukan. Alasannya karena anak-anak belum berhubungan seksual di usia tersebut.

    Tapi sebenarnya efek perlindungan dari vaksin ini lebih bagus bila orang tersebut belum melakukan hubungan seksual. Justru, akan terlambat jika vaksin HPV diberikan setelah seseorang melakukan hubungan seksual karena ada risiko ia sudah terinfeksi.

    HPV tidak hanya menimbulkan penyakit pada wanita namun juga dapat menyerang pria karena virus ini bisa menyebabkan kanker penis.

    Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (Human Papillomavirus), yang disebabkan oleh tipe 16 dan 18 (sebanyak 70% kasus di dunia). Sedangkan HPV tipe 6 dan 11 diketahui menjadi 90% penyebab kasus kutil kelamin.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Vaksinasi HPV

    Pada anak-anak, vaksinasi HPV dianjurkan diberikan pada usia 9-14 tahun, vaksinasi sebaiknya dilakukan 2 kali dengan jarak 6-12 bulan.

    Sedangkan, bagi anak usia 15 tahun ke atas, HPV diberikan sebanyak 3 kali dengan jadwal pemberian vaksinasi pada bulan 0, 1 atau 2 bulan setelah penyuntikan pertama (tergantung dari jenis vaksin apa yang digunakan, apakah bivalen ataukah tetravalent) dan terakhir adalah 6 bulan setelah penyuntikan pertama. Apabila pemberian vaksinasi ada yang terlewat, maka vaksinasi dapat terus dilanjutkan tanpa mengulangi dosisnya dari awal.

    Di Indonesia, ada 2 jenis vaksin HPV yaitu bivalen dan tetravalent yang beredar. Bivalen mengandung 2 tipe HPV (16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim. Sedangkan vaksin tetravalent mengandung 4 tipe virus HPV (tipe 6, 11, 16 dan 18) yang dapat mencegah kanker leher rahim dan juga kutil kelamin.

    Baca Juga: 7 Hal Yang Harus Bunda Ketahui Tentang Vaksinasi HPV Anak

    Efek Samping Vaksinasi HPV

    Efek samping yang mungkin timbul setelah dilakukan vaksinasi paling umum adalah reaksi lokal di tempat penyuntikan seperti nyeri, kemerahan, memar atau bengkak.

    Selain itu, gejala lainnya antara lain demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, ruam, urtikaria, pusing dan rasa lelah.

    Kontraindikasi Pemberian Vaksinasi HPV

    Vaksinasi HPV umumnya tidak dapat diberikan atau perlu dilakukan penundaan pemberian apabila adanya kondisi sebagai berikut:

    • Memiliki riwayat reaksi alergi berat terhadap vaksin HPV
    • Memiliki reaksi alergi atau hipersensitif terhadap lateks atau ragi.
    • Sedang hamil
    • Mengalami penyakit berat, kronis atau keganasan.

    Baca Juga: Mengapa Vaksinasi HPV Juga Diperlukan Untuk Si Gadis?

    Sahabat Sehat, jadi vaksin HPV aman untuk diberikan ke anak-anak selama ia tidak memiliki kontraindikasi yang disebutkan di atas. Efek perlindungannya juga lebih bagus bila diberikan di usia dini sesuai rekomendasi ahli. Segera vaksinasi anak Anda agar ia terlindungi. Bila Anda khawatir untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan, vaksinasi juga bisa dilakukan dengan layanan ke rumah (home care).

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L



    Referensi 

    1. Wijaya, d. Pentingnya Vaksin HPV Pada Anak dan Dewasa.
    2. Armstrong M, Whelan C. HPV Vaccine for Kids: What You Need to Know.
    3. Perdoski. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    4. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    5. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    6. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    Read More
  • Pandemi Covid-19 menyisakan kisah pilu bagi banyak keluarga Indonesia. Ratusan ribu orang meninggal dunia karena tubuhnya tidak kuasa melawan ganasnya virus corona. Kabar baiknya, sekitar satu tahun yang lalu, vaksin Covid-19 sudah tersedia untuk melindungi warga mulai usia 6 tahun ke atas dan cakupannya pun sudah melebihi target minimal pemerintah. Alhasil, diiringi juga dengan menerapkan […]

    Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Pandemi Covid-19 menyisakan kisah pilu bagi banyak keluarga Indonesia. Ratusan ribu orang meninggal dunia karena tubuhnya tidak kuasa melawan ganasnya virus corona. Kabar baiknya, sekitar satu tahun yang lalu, vaksin Covid-19 sudah tersedia untuk melindungi warga mulai usia 6 tahun ke atas dan cakupannya pun sudah melebihi target minimal pemerintah. Alhasil, diiringi juga dengan menerapkan protokol kesehatan, kasus Covid-19 terus melandai hingga kini.

    Imunisasi Lengkap Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Imunisasi Lengkap: Sehatkan Keluarga, Lewati Masa Pandemi

    Dari kejadian pandemi, kita bisa memahami betapa pentingnya vaksinasi dalam menjaga keamanan kesehatan masyarakat. Sama halnya juga dengan imunisasi anak yang sudah rutin dilakukan selama puluhan tahun.

    Sayangnya, selama pandemi Covid-19 banyak anak-anak yang melewati jadwal imunisasi rutinnya karena kekhawatiran orang tua akan paparan virus corona. Sehingga, cakupan imunisasi turun drastis.

    Menanggapi kondisi ini, pemerintah dengan sigap mengimbau orang tua dan tenaga kesehatan untuk melakukan dan menggencarkan kegiatan Imunisasi Kejar, terlebih dengan kasus Covid-19 yang sudah menurun.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Apa yang dilakukan saat Imunisasi Kejar?

    Imunisasi Kejar sangat penting untuk dilakukan karena anak perlu dilindungi dari berbagai macam penyakit menular yang seharus bisa dicegah dengan vaksinasi. Terlebih, dengan belum adanya vaksinasi Covid-19 untuk anak balita, imunisasi rutin menjadi perlindungan utama baginya.

    Saat melakukan Imunisasi Kejar, orang tua butuh berkonsultasi lebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui vaksin apa saja yang anaknya perlu kejar. Karena, jadwal imunisasi kejar disesuaikan dengan usia anak saat ini, jenis vaksin yang terlewatkan, dan kondisi kesehatannya.

    Misalnya, anak berusia 18 bulan (1,5 tahun) yang belum diimunisasi setelah usia 6 bulan memerlukan imunisasi MR (campak dan cacar Jerman), hepatitis B, polio, DPT, HiB, dan PCV. Adapula tambahan imunisasi lainnya seperti varisela dan hepatitis A.

    Dengan jumlah vaksin yang multipel seperti ini, diperlukan saran dari dokter untuk penjadwalan yang terbaik bagi anak. Namun, dengan adanya vaksin combo, orang tua tidak perlu khawatir anaknya disuntik berkali-kali. Sebagian jenis vaksin sudah tergabung dalam satu suntikan. Sehingga anak pun bisa lebih nyaman.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Mengapa Perlu Imunisasi Lengkap?

    Imunisasi adalah cara yang sederhana, aman, dan efektif untuk melindungi diri dari berbagai penyakit menular yang memiliki dampak berat. Apalagi, daya tahan tubuh anak belum sempurna dan tidak semua anak memiliki daya tahan tubuh yang baik.

    Dalam proses imunisasi, virus dan bakteri yang sudah dilemahkan akan dimasukkan ke dalam tubuh agar dapat merangsang timbulnya daya tahan tubuh terhadap penyakit tertentu sehingga menurunkan risiko komplikasi sakit berat, kecacatan, dan kematian.

    Ada 15 jenis imunisasi yang disarankan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan didukung oleh Pemerintah, yaitu:

    1. BCG – melindungi dari infeksi tuberkulosis (TBC).
    2. Hepatitis B – melindungi dari virus hepatitis B yang menyebabkan peradangan dan merusak hati.
    3. Polio – melindungi dari virus polio yang menyebabkan paralisis (tidak bisa menggerakkan tubuh).
    4. DPT – melindungi dari virus penyebab difteri, pertussis (batuk rejan), dan tetanus. Ketiga penyakit ini bisa berakibat fatal bila terinfeksi.
    5. MR – melindungi dari virus measles (campak) dan rubella (cacar Jerman) yang dampak beratnya yaitu pneumonia (paru-paru basah), meningitis, dan radang sendi.
    6. HiB – melindungi dari infeksi meningitis (radang selaput otak) yang berakibat fatal pada anak-anak.
    7. PCV – melindungi dari virus pneumokokus penyebab pneumonia, meningitis, dan infeksi darah.
    8. Rotavirus – melindungi dari virus penyebab diare. Diare adalah penyebab kematian tertinggi pada anak-anak di Indonesia.
    9. Influenza – melindungi dari virus penyebab flu yang dampak beratnya adalah pneumonia.
    10. Hepatitis A – melindungi dari peradangan hati.
    11. HPV – melindungi dari virus penyebab kanker serviks dan kelamin.
    12. Tifoid – melindungi dari virus penyebab tipes yang mudah sekali ditemui di Indonesia.
    13. Varisela – melindungi dari cacar air yang dampak beratnya termasuk pneumonia, ensefalitis (radang otak), dan herpes zoster di kemudian hari.
    14. Japanese encephalitis (JE) – melindungi dari pembengkakan otak bila digigit nyamuk terinfeksi JE.
    15. Dengue – melindungi dari virus dengue yang rentan menyebabkan syok bila terinfeksi.

    Dengan melengkapi imunisasi lengkap sesuai rekomendasi dan jadwal dari IDAI, anak-anak dan keluarga Indonesia memiliki perlindungan yang optimal dalam menghadapi pandemi Covid-19. Jadi, jangan tunda lagi jadwal imunisasinya. Segera lindungi anak-anak kita dari bahayanya penyakit karena mencegah selalu lebih baik dari mengobati.

    Baca Juga: Usia Berapa Saja Anak Perlu Imunisasi MMR?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. WHO. Vaccines and Immunization.
    2. Omer SB et al. Vaccine Refusal, Mandatory Immunization, and the Risks of Vaccine-Preventable Diseases.
    3. IDAI. Jadwal Imunisasi IDAI 2020.
    Read More
  • 7 Cara Pencegahan Kanker Hati yang Dapat Anda Lakukan

    Kanker hati merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Meski demikian, bukan berarti penyakit kanker hati ini tidak dapat dicegah. Terdapat sejumlah hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan sebagai upaya agar terhindar dari kanker hati. Mari simak penjelasan berikut.

    7 Cara Pencegahan Kanker Hati yang Dapat Anda Lakukan

    7 Cara Pencegahan Kanker Hati yang Dapat Anda Lakukan

    Menjalani Pengobatan Bagi Penderita Hepatitis B dan C

    Melansir dari American Cancer Society, salah satu faktor penyebab kanker hati adalah infeksi dari penyakit hepatitis B dan C yang kronis. Salah satu penyakit menular ini sangat mudah menyebar dari satu orang ke orang lainnya melalui jarum suntik yang digunakan secara berulang, biasanya digunakan untuk pengobatan. Selain itu, penyakit ini juga dapat menular melalui seks bebas atau seks tanpa proteksi (penggunaan kondom) dan dari ibu kepada anaknya yang dilahirkan.

    Salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar dari infeksi menular ini adalah dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama dengan orang lain, serta selalu menggunakan kondom atau alat proteksi lainnya ketika berhubungan seksual. Bukan hanya itu saja, anak-anak hingga orang dewasa juga dianjurkan untuk mendapatkan suntik vaksin HBV (untuk hepatitis B) guna mengurangi risiko terinfeksi hepatitis sekaligus sebagai upaya pencegahan terhadap kanker hati. 

    Apabila Sahabat Sehat memiliki resiko atau riwayat hepatitis B dan C, sebaiknya segera lakukan deteksi dini kanker hati. Sedangkan bagi Sahabat Sehat yang telah terinfeksi hepatitis B dan C, segera jalani pengobatan dan perawatan guna mencegah berkembangnya infeksi hepatitis menjadi kanker hati. Meski penggunaan obat belum tentu dapat menyembuhkan hepatitis B secara efektif, tetapi metode ini dinilai mampu mengurangi risiko sirosis hati dan kanker hati. 

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Hindari Minuman Beralkohol dan Merokok

    Mengkonsumsi minuman beralkohol dan merokok terbukti dapat memicu munculnya berbagai penyakit, termasuk penyakit kanker hati. Oleh karena itu, jika Sahabat Sehat kerap mengkonsumsi alkohol dan merokok maka sebaiknya segera hentikan kebiasaan buruk ini. 

    Terlalu banyak mengkonsumsi alkohol berpotensi meningkatkan resiko pengerasan hati (sirosis hati) yang merupakan salah satu faktor risiko penyebab kanker hati. Selain itu, menghentikan kebiasaan merokok juga mampu mengurangi risiko berbagai jenis penyakit berbahaya lainnya. 

    Menjaga Berat Badan Tetap Ideal 

    Memiliki berat badan berlebih atau obesitas juga menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker hati. Oleh sebab itu, Sahabat Sehat perlu menjaga berat badan untuk selalu ideal sebagai upaya pencegahan terhadap kanker hati. Hal ini dapat dilakukan dengan cara rutin berolahraga dan menjaga pola makan sehat. 

    Pasalnya obesitas juga dapat meningkatkan risiko sirosis hati dan menjadi faktor risiko lain dari penyakit kanker hati. Apabila ingin menurunkan berat badan, Sahabat Sehat dapat memulai dengan mengurangi jumlah kalori dari asupan makanan harian kemudian tingkatkan pula durasi atau intensitas olahraga. 

    Baca Juga: Hal Sepele yang Jadi Penyebab Hepatitis A Kambuh Lagi

    Lakukan Deteksi Dini Kanker Hati

    Melakukan deteksi dini terhadap kanker hati menjadi langkah pencegahan yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan, terutama jika Sahabat Sehat sudah mulai mengalami beberapa gejala kanker hati. Akan tetapi ada beberapa orang yang dikategorikan wajib untuk melakukan deteksi kanker hati, yakni mereka yang mengalami sirosis hati, infeksi hepatitis B, dan hepatitis C. Selain itu, Sahabat Sehat juga dapat melakukan pemeriksaan dengan dokter untuk kemudian mendiskusikan apakah perlu melakukan deteksi dini atau tidak. 

    Mengatasi Penyakit yang Menjadi Faktor Pemicunya

    Terdapat beberapa jenis penyakit yang mungkin dapat meningkatkan risiko kanker hati. Beberapa penyakit yang meningkatkan resiko kanker hati yaitu diabetes, dan sirosis hati. Diabetes dapat mempengaruhi peredaran darah secara sehingga apabila terjadi komplikasi dapat menyerang organ tubuh lainnya, termasuk hati. Selain itu, memiliki riwayat penyakit keturunan seperti sirosis hati juga dapat meningkatkan risiko kanker hati. 

    Konsultasikan Dengan Dokter

    Sahabat Sehat dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kondisi tubuh dan  memastikan langkah yang akan diambil selanjutnya. Selain itu, ada berbagai informasi terkait upaya pencegahan kanker hati yang perlu Anda konfirmasi kebenaranan dengan dokter. 

    Diagnosis Kanker Hati

    Saat melakukan pemeriksaan, dokter umumnya akan mendiagnosis kanker hati dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan tambahan seperti:

    • Pemeriksaan darah, untuk menilai fungsi organ hati dan kadar Alpha Fetoprotein (AFP) dalam darah.
    • Pencitraan dengan USG, MRI atau CT scan, untuk mengetahui bentuk hati, lokasi kanker, keberadaan tumor, hingga sejauh mana penyebarannya.
    • Biopsi hati, dengan mengambil sedikit sampel jaringan hati untuk dianalisa di laboratorium.
    • Laparoskopi, untuk memeriksa kondisi bagian dalam perut dengan menggunakan selang berkamera. 

    Baca Juga: Kenali dan Cegah Hepatitis

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai informasi mengenai cara mencegah kanker hati. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. World Health Organization. Cancer.
    2. Cancer. Can Liver Cancer Be Prevented?
    3. Memorial Sloan Kettering Cancer Center. Liver Cancer Prevention & Risk Factors.
    4. Mayo Clinic. Liver cancer – Symptoms and causes.
    5. Mayo Clinic. Liver cancer – Diagnosis and treatment.
    Read More
  • Tahukah Sahabat Sehat bahwa kanker serviks adalah penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada perempuan Indonesia? Ya, begitu seriusnya penyakit ini sekarang pemerintah telah memasukkan vaksinasi HPV ke dalam imunisasi wajib yang diberikan mulai usia 9 tahun pada momen Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Vaksinasi HPV memang sebaiknya diberikan di usia muda, terutama ketika seseorang belum pernah […]

    Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh?

    Tahukah Sahabat Sehat bahwa kanker serviks adalah penyakit yang banyak menyebabkan kematian pada perempuan Indonesia? Ya, begitu seriusnya penyakit ini sekarang pemerintah telah memasukkan vaksinasi HPV ke dalam imunisasi wajib yang diberikan mulai usia 9 tahun pada momen Bulan Imunisasi Anak Sekolah.

    Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh

    Vaksinasi HPV Tanpa Pap Smear, Apakah Boleh?

    Vaksinasi HPV memang sebaiknya diberikan di usia muda, terutama ketika seseorang belum pernah melakukan hubungan seksual dan tingkat kekebalan tubuh sedang tinggi-tingginya. Vaksinasi ini diberikan sebanyak 3 dosis.

    Apakah vaksinasi HPV boleh diberikan tanpa dilakukan skrining kanker serviks terlebih dahulu seperti Pap smear? Mari pahami penjelasan berikut.

    Manfaat pemeriksaan Pap smear

    Pap smear atau yang disebut juga dengan tes Pap adalah tindakan skrining yang bertujuan untuk melihat keberadaan sel kanker atau prakanker pada serviks atau leher rahim.

    Pada tindakan ini, dokter akan mengambil sampel dari usapan leher rahim menggunakan kapas cotton bud khusus yang kemudian diperiksakan di laboratorium. Apabila didapatkan hasil adanya sel kanker, maka vaksinasi tidak perlu diberikan.

    Dapatkan: Layanan Paket Vaksinasi Kanker Serviks HPV dari ProSehat

    Pemeriksaan Pap smear disarankan bagi semua perempuan mulai usia 21 tahun jika ia sudah aktif secara seksual. Bila Pap smear dilakukan dengan rutin dan lesi prakanker atau kanker terdeteksi lebih awal, maka kemungkinan ia sembuh dari kanker serviks menjadi lebih besar.

    Pemeriksaan Pap smear sangat penting bagi perempuan karena stadium awal kanker serviks jarang menyebabkan gejala. Umumnya, kanker serviks menimbulkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut dimana sudah ada penyebaran ke organ-organ sekitar.

    Rekomendasi pemeriksaan Pap smear adalah sebagai berikut:

    • Usia 21-29 tahun: 3 tahun sekali.
    • Usia 30-65 tahun: 5 tahun sekali disertai pemeriksaan HPV.
    • Usia di atas 65 tahun: sesuai rekomendasi dokter.

    harga vaksin hpv, biaya vaksin hpv

    Bolehkah Vaksinasi HPV tanpa Pap smear?

    Menurut CDC, anak perempuan dan dewasa sebenarnya tidak perlu melakukan tes HPV ataupun Pap smear untuk mengetahui apakah mereka boleh divaksinasi HPV. Namun, penting bagi perempuan untuk rutin skrining kanker serviks, bahkan setelah mendapatkan semua suntikan vaksin HPV yang direkomendasikan.

    Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Bagi Perempuan untuk Pap Smear?

    Bentuk skrining kanker serviks antara lain:

    • Tes HPV. Tes ini memeriksakan terhadap tipe HPV yang berhubungan dengan kanker serviks.
    • Pap smear. Pemeriksaan ini dilakukan secara manual dimana sampel dari usapan leher rahim diambil dan diperiksakan di bawah mikroskop untuk melihat apakah ada sel kanker atau prakanker.
    • IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). Pemeriksaan yang paling mudah dan sederhana untuk melihat adanya abnormalitas di leher rahim setelah ditotolkan asam asetat. Pemeriksaan ini sangat berguna terutama di daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

    Sahabat Sehat, jadi melakukan vaksinasi HPV tanpa Pap smear boleh dilakukan. Tapi ingat bahwa Pap smear tetap direkomendasikan walaupun Sahabat Sehat sudah melengkapi vaksinasi HPV.

    Bagi Sahabat Sehat yang belum vaksinasi HPV, ayo segera jadwalkan vaksinasi HPV bersama Prosehat. Ajak saudara dan kerabat perempuan Anda agar sama-sama terlindungi dari virus HPV.

    Layanan vaksinasi di Prosehat bisa dilakukan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi Satu atau Palmerah Jakarta, atau bisa juga dilakukan di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Sahabat Sehat. Dapatkan juga harga menarik bagi Sahabat Sehat yang vaksinasi berkelompok.

    Baca Juga: Kanker Serviks Bisa Menyebar ke Paru-Paru, Cegah dengan Vaksin HPV

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L


    Referensi

    1. Perdoski. 6 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Vaksin HPV.
    2. IDAI. Sekilas tentang Vaksin HPV.
    3. CDC. HPV Vaccination: What Everyone Should Know.
    4. Planned Parenthood. HPV Vaccine | What Is the HPV Vaccination.
    5. Budiman Syahputra, SpOG. MKes. Manfaat dan Cara Kerja Pemeriksaan Pap Smear.
    6. CDC. HPV Vaccine Information For Young Women.
    7. Sulaiman M. Bagi yang Sudah Menikah, Lebih Baik Papsmear atau Vaksinasi HPV Dulu? 
    Read More
  • Imunisasi MMR (measles/ campak, mumps/ gondongan, rubella/ campak Jerman) adalah imunisasi lanjutan dari imunisasi MR (measles and rubella) yang dilakukan saat anak berusia 9 bulan. Imunisasi MR sendiri adalah pengganti imunisasi campak yang sebelumnya digunakan sebagai imunisasi tunggal. Jika Moms sudah familiar dengan jadwal imunisasi campak atau MR, sudah tahukah Moms di usia berapa saja […]

    Usia Berapa Saja Anak Perlu Imunisasi MMR?

    Imunisasi MMR (measles/ campak, mumps/ gondongan, rubella/ campak Jerman) adalah imunisasi lanjutan dari imunisasi MR (measles and rubella) yang dilakukan saat anak berusia 9 bulan. Imunisasi MR sendiri adalah pengganti imunisasi campak yang sebelumnya digunakan sebagai imunisasi tunggal.

    Usia Berapa Saja Anak Perlu Imunisasi MMR

    Usia Berapa Saja Anak Perlu Imunisasi MMR?

    Jika Moms sudah familiar dengan jadwal imunisasi campak atau MR, sudah tahukah Moms di usia berapa saja anak perlu diimunisasi MMR? Yuk simak ulasannya di bawah ini.

    Puluhan ribu kasus campak dan rubella di Indonesia

    Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 23 ribu kasus campak dan 30 ribu kasus rubella sepanjang 2010 hingga 2015. Penyakit-penyakit ini mudah penularannya dan rentan menginfeksi anak-anak. Itulah mengapa pemberian imunisasi MMR pada bayi sangat diperlukan ya, Moms. 

    Dapatkan: Layanan Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) ke Rumah

    Campak merupakan penyakit dengan gejala utama yang khas seperti ruam merah pada kulit yang muncul bertahap dan disertai demam. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat memicu infeksi paru, kerusakan otak, hingga kematian. 

    Berbeda dengan campak, penyakit gondongan menyerang kelenjar air liur (parotis) dan menyebabkan pembengkakan. Komplikasi akibat gondongan jarang terjadi, namun sebagian komplikasinya bersifat serius, diantaranya peradangan otak, testikel (buah zakar), selaput otak, dan pankreas. 

    Sama seperti campak dan gondongan, penularan virus rubella juga melalui droplet. Jika terinfeksi, penderita akan menunjukkan gejala ruam merah yang gatal, yang timbul 2-3 minggu setelah terpapar virus. Penyebaran ruam juga secara bertahap dimulai dari wajah lalu ke seluruh tubuh. Komplikasi serius rubella antara lain tuli dan kerusakan hati dan limpa.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Usia berapa anak harus mendapatkan imunisasi MMR?

    Imunisasi MMR adalah bagian dari program imunisasi wajib pemerintah. Berdasarkan jadwal imunisasi yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2020, dosis pertama vaksin MMR adalah saat anak berusia 18 bulan dan dilanjutkan di usia 5-7 tahun. Umumnya, booster MMR di usia 5-7 tahun dilakukan pada Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

    Jika sampai dengan usia 12 bulan anak belum menerima dosis primer MR yang seharusnya diberikan di usia 9 bulan, maka anak boleh langsung diberikan imunisasi MMR. Jangan lupa untuk melengkapi dosis boosternya agar perlindungannya sempurna ya, Moms!

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Harga imunisasi MMR di Prosehat

    Imunisasi MMR adalah salah satu imunisasi yang diwajibkan pemerintah, namun tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan melayani imunisasi MMR. Sebagian hanya memiliki imunisasi MR.

    Moms tidak perlu khawatir karena di Prosehat selalu tersedia layanan imunisasi MMR bagi si Kecil. Layanan imunisasi di Prosehat bisa dilakukan di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Moms dan Si Kecil, atau bisa juga diberikan di klinik Prosehat di Grand Wisata Bekasi Satu dan Palmerah Jakarta.

    Berikut kisaran harga paket imunisasi MMR di ProSehat:

    Layanan di Rumah
    Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) Rp 900.000
    Paket Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) + Flu 4 strain Rp 1.100.000
    Vaksinasi MMRV (Campak, Gondong, Rubella, Cacar Air) Rp 1.600.000
    Paket Vaksinasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) (2 kali suntik) Rp 1.700.000
    Paket Imunisasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) + Pneumonia (PCV-13)  Rp 1.750.000
    Layanan di Klinik Mitra Prosehat
    Vaksinasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) di Klinik Kasih Palmerah Rp 550.000
    Vaksinasi Measles, Mumps dan Rubella (MMR) di Klinik Bekasi Satu Rp 550.000

    Yuk Moms jadwalkan imunisasi MMR untuk Si Kecil. Imunisasi bersama Prosehat aman, nyaman, dan mudah!

    Baca Juga: Seberapa Pentingkah Imunisasi MR Dilakukan?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Primaya Hospital. Seputar Imunisasi MMR pada Anak.
    2. KOMINFO. Imunisasi MR Lindungi Anak Indonesia dari Kecacatan.
    3. IDAI. Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR).
    4. CDC. MMR.
    5. ProSehat. Mencari mmr.
    Read More
  • Sebelum adanya kejadian yang menimpa penyanyi Justin Bieber pada pertengahan Juni, Sahabat Sehat mungkin hampir tidak pernah mendengar penyakit bernama Ramsay Hunt Syndrome. Penyakit yang termasuk langka ini menyerang saraf wajah yang terletak dekat telinga. Hanya sekitar 5 dari 100.000 orang yang terinfeksi virus varisela-zoster yang mengalami Ramsay Hunt Syndrome. Gangguan ini dinamakan setelah nama […]

    Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Sebelum adanya kejadian yang menimpa penyanyi Justin Bieber pada pertengahan Juni, Sahabat Sehat mungkin hampir tidak pernah mendengar penyakit bernama Ramsay Hunt Syndrome.

    Penyakit yang termasuk langka ini menyerang saraf wajah yang terletak dekat telinga. Hanya sekitar 5 dari 100.000 orang yang terinfeksi virus varisela-zoster yang mengalami Ramsay Hunt Syndrome. Gangguan ini dinamakan setelah nama penemunya, yaitu James Ramsay Hunt, pada tahun 1907. Jadi, sebenarnya kondisi ini sudah lama ada di dunia.

    Ramsay Hunt Syndrome Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Ramsay Hunt Syndrome: Komplikasi dari Virus Penyebab Cacar Air

    Penyebab dari penyakit ini sama dengan penyebab cacar air dan juga herpes zoster, yaitu virus varisela-zoster. Virus ini bisa ditularkan melalui cairan tubuh (liur) yang tersentuh atau melalui droplet saat orang yang sakit berbicara, bersin, atau batuk.

    Setelah seseorang terinfeksi cacar air pertama kali, virus ini tidak menghilang dari tubuh, melainkan menetap atau “tidur” di serabut saraf. Jika suatu hari teraktivasi dan “bangun” serta menyerang saraf wajah, maka akan timbul Ramsay Hunt Syndrome.

    Dapatkan: Layanan Vaksinasi Varicella (Cacar Air) dari ProSehat

    Membedakan Ramsay Hunt Syndrome dari Bell’s Palsy

    Orang yang menderita Ramsay Hunt Syndrome akan mengalami kelemahan atau kelumpuhan wajah pada sisi dimana virus varisela-zoster menyerang. Gejala utama lainnya dari kondisi ini adalah munculnya ruam merah di luar, dalam, atau sekitar telinga yang menyebabkan rasa nyeri pada telinga. Kelumpuhan wajah akan berada pada sisi wajah dimana ruam merah muncul.

    Selain itu, gejala lainnya termasuk gangguan pendengaran seperti telinga berdenging, vertigo, hilang indra pengecap, nyeri telinga, mata kering, dan lain-lain.

    Lalu bagaimana membedakannya dengan Bell’s Palsy? Bell’s Palsy memiliki penyebab yang berbeda, bukan virus varisela-zoster. Gejala pada Bell’s Palsy sama-sama kelumpuhan wajah, tapi tidak diikuti dengan ruam kulit seperti Ramsay Hunt Syndrome dan dapat membaik dalam waktu yang relatif lebih cepat. Orang yang terkena Bell’s Palsy juga bisa merasakan adanya demam ringan dan leher kaku.

    Penyebab kelumpuhan wajah pada Bell’s Palsy adalah penurunan suplai darah (iskemia) dan penekanan (kompresi) pada saraf wajah. Namun penyebab pastinya masih belum bisa disimpulkan hingga saat ini.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Penanganan Ramsay Hunt Syndrome

    Virus varisela-zoster umumnya bersifat self-limiting atau sembuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, tujuan utama pengobatan adalah untuk mengurangi kemungkinan komplikasi lanjut seperti Ramsay Hunt Syndrome (kelumpuhan wajah) dan neuralgia post herpetik (nyeri saraf pasca herpes). Beberapa jenis obat yang biasa digunakan adalah antivirus dan steroid.

    Penanganan gejala nyeri dan mata kering akibat kelopak mata tidak bisa menutup penuh juga sangat penting untuk dilakukan. Orang dengan Ramsay Hunt Syndrome boleh diberikan pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen jika tidak ada kontraindikasi, serta tetes mata khusus yang diresepkan oleh dokter agar mata tidak kering yang bisa menyebabkan kerusakan kornea mata.

    Selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumi obat-obatan.

    Baca Juga: Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Mencegah Virus Varisela-Zoster

    Kabar baiknya, virus varisela-zoster ada vaksinnya. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap jika terpapar virus tersebut. Vaksin ini boleh diberikan kepada orang yang belum pernah dan sudah pernah cacar air, termasuk kelompok lanjut usia.

    Justru, pada usia dewasa, mulai usia 50 tahun ke atas sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksin ini mengingat kekebalan tubuhnya sudah menurun sehingga lebih rentan sakit. Vaksin ini hanya memerlukan dua dosis saja untuk mendapatkan efek perlindungan yang lebih efektif.

    Selain vaksinasi, langkah pencegahan lainnya termasuk membiasakan mencuci tangan dengan benar sebelum menyentuh wajah, menggunakan masker jika sakit, dan menghindari orang yang sedang sakit cacar air atau cacar ular.

    Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit Ramsay Hunt Syndrome yang ternyata termasuk dari komplikasi akibat virus varisela-zoster. Walau kondisi ini langka, kita tetap harus waspada dan mengambil langkah pencegahan karena virus penyebabnya umum ditemukan di banyak tempat.

    Bagi Sahabat Sehat yang belum divaksin varisela-zoster, maka segeralah menjadwalkan vaksinasi Anda bersama Prosehat. Layanan vaksinasi di Prosehat bisa dilakukan di Klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat dan Grand Wisata Bekasi, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda. Layanan ini adalah salah satu layanan unggulan dari Prosehat, jadi Sahabat Sehat tidak perlu ragu akan keamanannya.

    Baca Juga: Mengenal 3 Jenis Baru Vaksin Wajib Untuk Anak-anak

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Crouch AE, et al. Ramsay Hunt Syndrome [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022.
    2. Kim D. Ramsay Hunt Syndrome [Internet]. NORD. 2011.
    Read More
  • Penyanyi tersohor asal Kanada, Justin Bieber, merilis video yang ia rekam sendiri dan memberitakan bahwa dirinya sedang menderita penyakit langka, yaitu Ramsay Hunt Syndrome. Ia menjelaskan bahwa sebagian wajahnya mengalami paralisis atau kelumpuhan sebagaimana ia tunjukkan dalam videonya saat mengedipkan mata, menggerakkan cuping hidung, dan tersenyum. Apa sebenarnya Ramsay Hunt Syndrome? Apakah sama dengan Bell’s […]

    Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Penyanyi tersohor asal Kanada, Justin Bieber, merilis video yang ia rekam sendiri dan memberitakan bahwa dirinya sedang menderita penyakit langka, yaitu Ramsay Hunt Syndrome. Ia menjelaskan bahwa sebagian wajahnya mengalami paralisis atau kelumpuhan sebagaimana ia tunjukkan dalam videonya saat mengedipkan mata, menggerakkan cuping hidung, dan tersenyum.

    Apa sebenarnya Ramsay Hunt Syndrome? Apakah sama dengan Bell’s Palsy? Simak informasi berikut ini untuk memahami penyakit ini.

    Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Mengenal Ramsay Hunt Syndrome Yang Diderita Justin Bieber

    Virus Penyebab Ramsay Hunt Syndrome

    Ramsay Hunt Syndrome, disebut juga sebagai herpes zoster otikus, adalah komplikasi dari infeksi virus varisela-zoster yang menyebabkan penyakit cacar air dan cacar ular. Setelah cacar air sembuh, virus menetap di saraf tubuh dan bertahun-tahun kemudian bisa aktif kembali. Seringkali, pada saat virus aktif kembali, ia muncul sebagai cacar ular atau herpes zoster.

    Pada sebagian kecil orang, virus ini dapat menyebabkan komplikasi langka, yaitu Ramsay Hunt Syndrome. Penyakit ini disebut langka karena hanya sekitar 5 dari setiap 100.000 orang yang terinfeksi mengalami ini.

    Dapatkan: Vaksinasi Varicella (Cacar Air) dari ProSehat

    Gejala Ramsay Hunt Syndrome Mirip Bell’s Palsy

    Selain terasa nyeri, Ramsay Hunt Syndrom bisa menyebabkan kelumpuhan wajah pada sisa yang diserang. Kelumpuhan wajah ini sekilas mirip dengan penyakit saraf lainnya, yaitu Bell’s Palsy.

    Ada dua gejala utama Ramsay Hunt Syndrome, yakni ruam merah yang menyakitkan dengan lepuh berisi cairan di luar, dalam, dan sekitar telinga, serta kelemahan atau kelumpuhan wajah pada sisi yang sama dengan telinga yang terkena.

    Gejala lainnya termasuk:

    • Nyeri telinga
    • Hilang pendengaran
    • Telinga berdenging
    • Sulit menutup salah satu mata
    • Vertigo
    • Perubahan indra pengecap
    • Mulut dan mata kering

    Pada Bell’s Palsy, tidak ada ruam merah dan menyebabkan rasa nyeri yang lebih ringan, walau sama-sama menyebabkan kelumpuhan wajah.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Baca Juga: Mengapa Anak Perlu Imunisasi Rubella?

    Siapa Saja Yang Bisa Menderita Ramsay Hunt Syndrome?

    Ramsay Hunt Syndrome bisa terjadi pada siapa saja yang pernah menderita cacar air. Namun seringnya, penyakit ini menyerang orang lanjut usia, terutama yang berusia 60 tahun ke atas, dan jarang ditemukan pada anak-anak.

    Pada orang-orang imunokompromais atau dengan kekebalan tubuh yang rendah, penyakit ini juga lebih mudah menginfeksi. Kelompok yang termasuk memiliki kekebalan tubuh yang rendah antara lain ibu hamil, bayi dan anak-anak, orang dengan HIV/AIDS, dan sebagainya.

    Sahabat Sehat, itulah sekilas tentang Ramsay Hunt Syndrome yang diderita oleh Justin Bieber. Jika tidak banyak kerusakan pada saraf, maka kondisi ini bisa pulih dalam beberapa minggu. Semoga Justin Bieber cepat pulih dari penyakit ini dan Sahabat Sehat pun terlindungi dari infeksi virus varisela-zoster.

    Jika Sahabat Sehat belum pernah cacar air atau belum divaksinasi cacar air, saatnya Sahabat Sehat mendapatkan vaksin ini. Dengan demikian, tubuh akan lebih siap menghadapi virus ini jika terpapar.

    Baca Juga: Cacar Air dan Pencegahan yang Bisa Kamu Coba

    Sahabat Sehat bisa mendapatkan layanan vaksinasi varisela-zoster dan vaksin lainnya dari Prosehat. Layanan ini bisa dilakukan di klinik Prosehat di Palmerah Jakarta Barat dan Grand Wisata Bekasi, atau di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Sahabat Sehat.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Nurul L
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Mayo Clinic. Ramsay Hunt Syndrome.
    Read More
  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini menyampaikan kenaikan kasus Covid-19 di tanah air. Hal ini baru diketahui setelah teridentifikasi satu kasus subvarian Omicron BA.4 dan tiga jenis Omicron lainnya yakni BA.5. Laporan ini diambil berdasarkan data kasus Covid-19 tiga pekan terakhir.  Sebelumnya, Juru bicara Satuan Tugas Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa data grafik kasus […]

    Waspada Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Berikut Fakta-Faktanya

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI baru-baru ini menyampaikan kenaikan kasus Covid-19 di tanah air. Hal ini baru diketahui setelah teridentifikasi satu kasus subvarian Omicron BA.4 dan tiga jenis Omicron lainnya yakni BA.5. Laporan ini diambil berdasarkan data kasus Covid-19 tiga pekan terakhir. 

    Sebelumnya, Juru bicara Satuan Tugas Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyebutkan bahwa data grafik kasus positif mingguan naik 31 persen pada 22 Mei 2022, dari 1.814 kasus menjadi 2.385 kasus. Tak hanya itu, kasus aktif juga meningkat sebesar 10 persen dari 2 Juni yakni 2.105 kasus menjadi 3.433 kasus.

    Waspada Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Berikut Fakta-Faktanya

    Waspada Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Berikut Fakta-Faktanya

    Menurut Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, kenaikan kasus Covid-19 ini dipicu oleh ditemukannya subvarian Omicron baru. Selain itu, mobilitas yang sangat tinggi pada perayaan hari besar seperti Lebaran juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. 

    Oleh sebab itu, Budi terus mewanti-wanti karena subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini dapat lolos dari imunitas pasca vaksinasi Covid-19. Berikut beberapa fakta terkait subvarian BA.4 dan BA.5 yang sudah terdeteksi di Indonesia.

    Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia

    Sub varian terbaru dari Omicron ini diyakini lebih efektif dalam menginfeksi orang, baik yang telah divaksin, belum divaksin, maupun yang sudah terinfeksi Covid-19 sebelumnya.

    Dari data Kemenkes RI, Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan DOkter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan, SpP(K) pada Minggu (12/5/2022) kemarin, menyebutkan sudah ada delapan kasus varian BA.4 dan BA. 5 di Indonesia. Delapan kasus ini terdiri dari dua kasus BA.4 (Bali dan DKI Jakarta) dan enam kasus BA.5 (Bali dan DKI Jakarta). 

    Menurut data tersebut, lima kasus merupakan kluster lokal dan tiga lainnya merupakan pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). 

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Gejala yang Sering Dilaporkan

    Kasus yang terdeteksi di Bali dan Jakarta dilaporkan dengan gejala yang berbeda-beda. Menurut dr. Erlina Burhan, gejala yang timbul saat terinfeksi Omnicron BA.4 dan BA.5 mirip dengan Omicron BA.1. 

    Berikut gejala yang paling sering dilaporkan:

    • Batuk
    • Fatigue atau kelelahan

    Gejala lainnya yang turut dilaporkan saat terinfeksi Omicron BA.4 dan BA.5, antara lain:

    • Hidung tersumbat atau rinore
    • Demam
    • Mual atau muntah
    • Sesak nafas
    • Diare
    • Anosmia atau ageusia

    ‘Alumni’ Covid-19 Tetap Berisiko Terinfeksi BA.4 dan BA.5

    Selain sejumlah gejala yang disebutkan diatas, dr Erlina Burhan juga menyebutkan bahwa Omicron BA.4 dan BA.5 memiliki masa inkubasi yang lebih singkat dibandingkan Omicron BA.2, yakni sekitar 1-3 hari langsung muncul gejala. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir karena masa penyembuhannya juga relatif cepat. 

    Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, menyoroti kemungkinan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini menginfeksi orang-orang yang sudah pernah terkena Covid-19 sebelumnya. Menurutnya, potensi tersebut dipicu oleh mutasi L452 yang juga dimiliki oleh varian Corona yang merebak sebelumnya, yakni Delta. 

    Terlebih, kedua subvarian ini juga diyakini berpotensi menginfeksi orang-orang yang sudah menerima dosis lengkap vaksin Covid-19 sebanyak dua dosis. Ini karena saat  L452 bermutasi, subvariant Omicron BA.4 dan BA.5 akan mudah terikat di reseptor ACE2 yang banyak terdapat di seluruh tubuh dan organ manusia, terutama sel paru. Alhasil. Infeksi ini basa memasuki sel dan mudah menginfeksi, serta memicu munculnya gejala. 

    Baca Juga: Langkah-Langkah Pencegahan Risiko Penularan Covid-19 di Tempat Kerja

    Waspada Gelombang Covid-19 Dua Minggu Kedepan

    Berdasarkan prediksi Dicky, adanya kemampuan yang dimiliki BA.4 dan BA.5 yang sebagaimana sub variant Omicron lainnya dapat menyiasati deteksi antibodi dari infeksi maupun vaksinasi, maka pertumbuhan perkembangan kasus BA.4 dan BA.5 ini berkisar antara 12-13 persen. 

    Menurutnya, sub variant Omicron BA.4 dan BA.5 ini berpotensi menyebabkan gelombang baru COvid-19 di Indonesia dalam beberapa pekan hingga bulan kedepan apabila tidak diantisipasi dengan mitigasi yang memadai. Misalnya pencabutan PPKM, vaksinasi buruk, perilaku masyarakat yang tidak taat menggunakan masker, maka kemungkinan besar dalam dua minggu terjadi peningkatan jumlah kasus infeksi atau gelombang baru. 

    Kemenkes Akan Perketat Pakai Masker Jika Kasus Covid Terus Naik

    Kemenkes menyatakan akan memberlakukan kembali pengetatan aturan dalam pemakaian masker dan protokol kesehatan lainnya apabila kasus Covid-19 di tanah air kembali menunjukan tren kenaikan kasus secara signifikan. Kemenkes juga mengimbau masyarakat untuk tetap patuh dalam menjalankan protokol kesehatan agar lonjakan kasus akibat Delta dan Omicron tidak kembali terulang. 

    Selain itu, warga yang belum sama sekali menerima vaksin COvid-19 maupun yang belum menerima vaksin primer lengkap diminta untuk segera mengakses vaksinasi dosis lanjutan atau booster untuk mendapatkan imunitas tambahan.

    Sahabat Sehat, segera lengkapi vaksinasi Covid-19 untuk menurunkan risiko terinfeksi maupun komplikasi. Jaga kesehatan dan terus terapkan protokol kesehatan agar terhindar dari virus Corona.

    Jika Sahabat Sehat mengalami gejala mirip Corona, Anda dapat menggunakan layanan Chat Dokter 24 jam dari Prosehat untuk berkonsultasi. Prosehat juga melayani pemeriksaan laboratorium di rumah dan pengiriman obat-obatan sesuai resep dokter.

    Baca Juga: Walau Mirip, Ini Cara Membedakan Flu Biasa dengan Covid

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Ramadhanty, R. Sudah 8 Kasus BA.4 dan BA.5 di Bali-Jakarta, Ini Rincian dan Gejalanya.
    2. Ramadhanty, R. Subvarian BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di DKI-Bali, Dokter Paru Sebut Lebih Menular.
    3. Media, K. Gejala Covid Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang Terdekteksi di Bali.
    4. Sehat Negeriku. Subvarian Baru Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia, Tingkat Kesakitan Rendah.
    5. Indonesia, C. Kemenkes Bakal Perketat Pakai Masker Apabila Covid RI Terus Naik.
    Read More
  • Demensia atau biasa disebut pikun, seringkali dianggap sebagai hal yang normal. Kondisi ini kerap dialami lanjut usia (lansia) akibat proses penuaan. Proses penuaan mengakibatkan penurunan pada sistem tubuh, termasuk otak. Sekitar 55 juta orang lansia di dunia hidup dengan demensia, sementara itu penambahan kasus demensia pada lansia mencapai 10 juta orang per tahun. Berdasarkan penelitian […]

    Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Demensia atau biasa disebut pikun, seringkali dianggap sebagai hal yang normal. Kondisi ini kerap dialami lanjut usia (lansia) akibat proses penuaan. Proses penuaan mengakibatkan penurunan pada sistem tubuh, termasuk otak.

    Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun

    Mengapa Lansia Mengalami Demensia atau Pikun?

    Sekitar 55 juta orang lansia di dunia hidup dengan demensia, sementara itu penambahan kasus demensia pada lansia mencapai 10 juta orang per tahun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 menyebutkan bahwa setiap 3 detik ada 1 orang yang terdiagnosa demensia.

    Di Asia tercatat 22 juta orang lansia menderita demensia, sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat tercatat lebih dari 4 juta orang lansia menderita Alzheimer dan dikhawatirkan akan terus bertambah hingga 4 kali lipat pada tahun 2050. Hal ini berkaitan dengan bertambahnya usia harapan hidup pada usia lanjut.

    Sahabat Sehat, mengapa demensia kerap dialami para kaum lansia? Mari simak penjelasan berikut.

    Demensia Bukan Proses Normal Penuaan

    Demensia merupakan salah satu penyakit akibat kerusakan sel saraf dan hubungan antar sel saraf pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, proses dan cara berpikir. Kondisi seperti ini sebagian dialami oleh beberapa orang usia lanjut, namun bukan merupakan hal normal yang berkaitan dengan proses penuaan.

    Demensia akan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan seperti kemampuan bersosialisasi hingga aktivitas sehari-hari penderitanya (gangguan mood seperti lebih sensitif, depresi dan timbul rasa cemas dan khawatir berlebihan).

    Banyak lansia hidup tanpa gejala demensia pada masa tuanya. Proses penuaan yang biasanya terjadi, misalnya kelemahan otot dan tulang, kekakuan pembuluh darah dan gangguan daya ingat. Secara umum pengetahuan dan pengalaman, ingatan, serta kemampuan bahasa akan menetap meskipun terjadi proses penuaan.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Penyebab Demensia

    Berdasarkan perubahan yang terjadi pada sistem saraf, demensia dibagi menjadi:

    • Penyakit Alzheimer

    Penyakit alzheimer merupakan jenis demensia yang sering kali terjadi. Penyebab alzheimer belum diketahui pasti, namun hal ini dapat disebabkan karena faktor genetik dari keluarga, serta kelainan protein dalam otak yang dapat mengganggu sel saraf dapat menyebabkan demensia. 

    • Demensia Vaskuler

    Kondisi ini disebabkan karena gangguan pembuluh darah di otak yang mensuplai darah ke otak. Pembuluh darah yang bermasalah dapat menyebabkan stroke sehingga mengganggu kerja otak. 

    • Demensia Lewy Body

    Adanya kelainan sel pada otak dengan ditemukannya sejumlah protein tertentu yang disebut lewy body sehingga menyebabkan demensia.

    • Kondisi medis lainnya

    Beberapa kondisi tertentu dapat menyebabkan demensia, seperti :

    • Kelainan metabolisme atau endokrin
    • Multiple sclerosis
    • Perdarahan otak
    • Tumor otak
    • Efek samping obat (obat penenang dan Pereda nyeri)
    • Kekurangan vitamin dan mineral tertentu (vitamin B1, B6, B12, E dan zat besi didalam tubuh)
    • Keracunan logam berat
    • Keracunan bahan kimia
    • Keracunan Alkohol.

    Baca Juga: Ketahui Beragam Jenis Suplemen Penunjang Kesehatan Lansia

    Gejala Demensia

    Demensia ditandai dengan adanya perubahan kemampuan kognitif, seperti berikut :

    • Tahap awal, ditandai dengan mudah lupa, lupa waktu, dan tersesat di jalan
    • Tahap menengah, ditandai dengan lupa peristiwa yang baru terjadi, tersesat di rumah sendiri, sulit merawat diri dan berkomunikasi, memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitasnya, bertanya berulang kali dan berjalan tanpa tujuan
    • Tahap lanjut, ditandai dengan tidak mengenali waktu dan tempat, sulit mengenali kerabat, sulit berjalan, dan perubahan perilaku 

    Sementara itu, perubahan psikologis yang dapat dialami penderita demensia meliputi munculnya depresi, cemas, gangguan berperilaku, paranoid, dan halusinasi.

    Baca Juga: Mengapa Lansia Rentan Mengalami Osteoartritis?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai demensia yang kerap dialami lansia. Salah satu cara untuk mencegah demensia. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Geriatri. Waspadai dan Kenali Demensia pada Lansia [Internet]. Indonesia : Geriatri. 2021.
    2. World Health Organization. Dementia [Internet]. USA : World Health Organization. 2021.
    3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes: Lansia yang Sehat, Lansia yang Jauh dari Demensia [Internet]. Indonesia : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016.
    4. Geriatri. Kenali Risiko dan Gejala Demensia Pada Lansia [Internet]. Indonesia : Geriatri. 2021.
    5. Health in Aging. Dementia [Internet]. USA : Health in Aging. 2021.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. What Is Dementia? [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2019.
    7. Mayo Clinic. Dementia [Internet]. USA : Mayo Clinic. 2021.
    Read More
Chat Dokter 24 Jam