Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: Kesehatan Umum

Showing 91–100 of 1353 results

  • Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan salah satu infeksi virus yang banyak menyerang janin. Virus ini dapat ditemukan di darah, urin, semen, cairan serviks, air liur, dan air susu ibu (ASI). Infeksi CMV bersifat endemis dan tidak bergantung pada musim tertentu. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi CMV sebesar 50% sehingga wanita hamil dengan usia produktif memiliki […]

    Gejala Penyakit Cytomegalovirus (CMV) dan Pencegahannya

    Infeksi Cytomegalovirus (CMV) merupakan salah satu infeksi virus yang banyak menyerang janin. Virus ini dapat ditemukan di darah, urin, semen, cairan serviks, air liur, dan air susu ibu (ASI). Infeksi CMV bersifat endemis dan tidak bergantung pada musim tertentu. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi CMV sebesar 50% sehingga wanita hamil dengan usia produktif memiliki resiko terjadinya infeksi primer CMV.

    Gejala Penyakit Cytomegalovirus (CMV) dan Pencegahannya

    Gejala Penyakit Cytomegalovirus (CMV) dan Pencegahannya

    Cytomegalovirus menyebabkan infeksi pada janin dengan angka insidensi mencapai 2% dari semua bayi lahir hidup atau sebanyak 7 per 1000 kelahiran hidup. Sebanyak 12,7% bayi yang terinfeksi memperlihatkan gejala saat lahir dan sebanyak 13,5% bayi tidak memperlihatkan gejala saat lahir namun gejala berkembang di kemudian hari, termasuk gangguan pendengaran sensorineural saat usia anak-anak.

    Virus ini menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya orang dengan diabetes melitus dan HIV. Penularan CMV dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, termasuk saat hubungan seksual, transplantasi organ atau donor darah. Virus CMV ini ternyata juga dapat menular dari ibu ke janin saat di dalam kandungan, persalinan dan menyusui.

    Gejala Infeksi Cytomegalovirus

    Infeksi CMV kongenital dapat muncul tanpa gejala (asimptomatik) atau dengan gejala (simptomatik). Satu dari setiap 200 kelahiran bayi berpotensi mengalami infeksi CMV, dan dari 5 bayi yang terinfeksi CMV mengalami gangguan jangka panjang. Berikut ini gejala CMV kongenital pada bayi baru lahir:

    • Rash atau ruam kemerahan
    • Jaundice atau kulit kekuningan di bagian badan dan mata
    • Mikrosefali (kepala kecil)
    • Berat badan lahir rendah
    • Hepatosplenomegali (pembesaran organ hati dan limpa)
    • Kejang
    • Retinitis (gangguan pada retina mata)
    • Kelenjar getah bening membengkak.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Sebagian bayi yang lahir dengan gejala CMV kongenital kemungkinan besar akan memiliki gejala jangka panjang, seperti:

    • Gangguan pendengaran 
    • Perkembangan motorik terhambat sehingga menyebabkan gangguan koordinasi tubuh
    • Gangguan penglihatan
    • Mikrosefali
    • Kejang
    • Gangguan perkembangan intelektual
    • Pneumonia berat seperti sesak napas, batuk dan nyeri dada
    • Gangguan pencernaan yang ditandai dengan kesulitan menelan, nyeri perut dan diare berdarah.

    Baca Juga: Vaksin HPV Melindungi Ibu dan Janin Selama Kehamilan

    Diagnosis CMV Kongenital

    Infeksi CMV kongenital dapat didiagnosis dengan menguji air liur bayi baru lahir, urin atau darah. Specimen ini harus dikumpulkan untuk pengujian dalam dua hingga tiga minggu setelah bayi baru lahir untuk memastikan apakah ada infeksi virus CMV.

    Namun, pada ibu hamil yang diduga terkena infeksi CMV, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berupa:

    • USG kehamilan untuk mendeteksi dini adanya kelainan pada janin
    • Amniosentesis (pemeriksaan air ketuban) untuk mendeteksi adanya keberadaan virus CMV jika memang ditemukan kelainan pada janin.

    Baca Juga: Mengapa Cacar Air Saat Hamil Berbahaya? Ini Penjelasannya

    Pengobatan CMV

    Untuk bayi dengan tanda-tanda infeksi CMV kongenital saat lahir, obat antivirus, terutama valgansiklovir dapat meningkatkan pendengaran dan perkembangan si kecil. Namun, valgansiklovir memiliki efek samping yang serius dan perlu dikonsultasikan lebih dahulu dengan dokter yang menangani. Pengobatan yang cepat dan tepat akan meminimalisir komplikasi akibat infeksi virus CMV.

    Baca Juga: Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Pencegahan infeksi CMV

    Upaya pencegahan infeksi CMV sangat penting dilakukan, terutama bagi ibu hamil, orang dengan daya tahan tubuh rendah, dan orang dengan penyakit kronis. Berikut adalah cara mengurangi risiko terinfeksi CMV, antara lain:

    1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik, terutama sebelum dan sesudah kontak dengan anak-anak dan cairan tubuh orang lain.
    2. Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh orang lain, seperti mencium bibir dan berbagi makanan dari tempat makan yang sama.
    3. Hindari penggunaan alat pribadi secara bersamaan seperti alat makan, dan sikat gigi.
    4. Lakukan pemeriksaan TORCH saat merencanakan kehamilan.
    5. Hindari melakukan hubungan seksual berisiko dengan berganti-ganti pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom dengan orang yang riwayat kehidupan seksualnya tidak diketahui.

    Baca Juga: Perlukah Pemeriksaan TORCH Saat Hamil ?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Rampengan, N. DIAGNOSIS INFEKSI SITOMEGALOVIRUS PADA BAYI DAN ANAK.
    2. CDC. About Cytomegalovirus and Congenital CMV Infection.
    3. FKUI. Teliti Dampak Deteksi Dini Gangguan Pendengaran Akibat Infeksi CMV kongenital serta Faktor Risiko yang Memengaruhi.
    4. CDC. Babies Born with Congenital Cytomegalovirus (CMV).
    5. CDC. CMV Fact Sheet for Pregnant Women and Parents.
    Read More
  • Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu? Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya […]

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Apakah Anda familiar dengan istilah “hustle culture”? Istilah ini sedang marak diucapkan dan dibahas oleh kaum milenial sejalan dengan budaya baru yang sedang dihadapinya. Seperti apa itu?

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Kenali Hustle Culture dan Dampak Negatifnya Bagi Kesehatan

    Hustle culture adalah dorongan untuk bekerja lebih keras, lebih kuat, dan lebih cepat dengan mengerahkan kapasitas maksimum diri setiap hari demi mencapai tujuan/ target dengan lebih cepat. Budaya ini serasi dengan perkembangan dunia digital yang memfasilitasi banyak hal. Pernahkah Anda mengalami hal seperti ini setiap harinya?

    Ya, itulah hustle culture. Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture adalah standar di masyarakat yang menganggap bahwa Anda hanya bisa mencapai sebuah kesuksesan apabila benar-benar mendedikasikanqc  hidup untuk pekerjaan. Selain itu, mereka bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan diatas segala-galanya.

    Tren baru di Indonesia

    Budaya ini sedang menjadi tren di Indonesia bahkan di masyarakat dunia. Budaya ini dikenalkan pertama kali oleh beberapa tokoh besar seperti Jeff Bezos, Elon Musk dan Jack Ma yang melakukan normalisasi bekerja melebihi batas waktu normal untuk mencapai kesuksesan. Bahkan, di Tiongkok sendiri budaya ini dikenal dengan budaya 966 atau bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam dalam 6 hari.

    Banyak anak muda yang menjadikan berbagai buku, tokoh terkenal di platform media sosial, dan juga tokoh-tokoh wirausahawan atau entrepreneur sebagai inspirasi dalam mengejar kesuksesan mereka sendiri. Sebagai anak muda yang ambisius bekerja menuju tujuan mereka, tidak mengherankan melihat banyak sekali pekerja menjadi korban dari hustle culture ini. Waktu istirahat, kehidupan pribadi, dan kesehatan fisik dan mental adalah hal-hal yang pada akhirnya luput dari perhatian.

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Mengapa Hustle Culture tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental?

    Hustle culture tidak baik untuk kesehatan fisik dan juga mental. Pasalnya, orang yang terjebak dalam hustle culture menganggap jalan menuju kesuksesan dan kesejahteraan hanya dengan bekerja, sehingga bekerja melebihi batas jam kerja dan lembur dianggap sebagai sesuatu yang sangat wajar.

    Menurut penelitian yang dilakukan tahun 2018 di Eropa, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok, pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu memiliki berbagai risiko kesehatan fisik dan psikologis. Beberapa risiko kesehatan fisik antara lain:

    • Penyakit jantung dan pembuluh darah, misalnya penyakit jantung koroner
    • Penyakit serebrovaskular
    • Peningkatan tekanan darah dan detak jantung
    • Resistensi insulin, gangguan irama jantung (aritmia), hiperkoagulasi dan iskemia.

    Baca Juga: Tips Atasi Kelelahan akibat Overworking

    Sedangkan, bahaya psikologis dari hustle culture membuat pekerja menjadi lebih rentan mengalami burnout, depresi, gangguan kecemasan berlebih, dan muncul perasaan ingin bunuh diri. Burnout sering ditemukan dalam hustle culture. Burn out adalah kondisi dimana seseorang merasa lelah berkepanjangan karena stres kerja yang berat hingga kehilangan motivasi. Berikut ini beberapa gejala burnout:

    • Menunda atau menghindari pekerjaan sama sekali
    • Membuat lebih banyak kesalahan saat melakukan tugas
    • Kehilangan minat pada bagian pekerjaan yang sebelumnya sangat diminati
    • Merasa lebih cemas dan depresi
    • Merasa kurang bisa mendengarkan atau peduli pada orang lain
    • Makan berlebihan, mengonsumsi obat-obatan dan alkohol
    • Melampiaskan frustasi pada orang lain (misalnya, mudah tersinggung, mengacuhkan dan marah)
    • Sulit berkonsentrasi dan menjadi tidak terarah dalam bekerja.

    Baca Juga: Waspadai! 4 Gangguan Kesehatan Saat WFH dan Tips Pencegahannya

    Apa yang bisa dilakukan untuk memutuskan hustle culture?

    Work-life balance

    Kehidupan pribadi dan pekerjaan penting untuk diseimbangkan. Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara, antara lain:

    • Membuat jadwal kegiatan
    • Mengomunikasikan perasaan dan kondisi
    • Mengurangi pikiran negatif terkait pekerjaan
    • Melakukan kegiatan relaksasi agar mengurangi stres, seperti yoga dan meditasi
    • Melakukan liburan selama beberapa hari untuk mengurangi stres kerja
    • Melakukan olahraga secara rutin
    • Cukup waktu tidur dan istirahat.

    Hard work tidak sama dengan sukses

    Kerja keras tidak dapat menjadi indikator satu-satunya kesuksesan seseorang. Ada banyak faktor lain yang turut berkontribusi. Bekerja keras dan melakukan semua hal secara terburu-buru demi mencapai kesuksesan tidak akan membawa seseorang sampai kepada kesuksesan.

    Jangan membandingkan diri sendiri dengan kesuksesan orang lain di media sosial

    Salah satu latar belakang terciptanya hustle culture adalah media sosial. Semua orang berlomba-lomba ingin terlihat sukses, mapan, dan kaya dalam tampilannya di media sosial. Sebagian juga memamerkan dengan bangga kondisi bekerja di tengah malam dan terus bekerja di akhir pekan.

    Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain dan membuat ekspektasi yang berlebihan hanya karena orang lain melakukan hal tersebut. Ingat, setiap orang mempunyai kecepatannya masing-masing dan jangan takut terlihat lambat dalam mencapai posisi yang diharapkan.

    Mengenal batasan diri

    Anda harus berani untuk bilang tidak pada pekerjaan. Sama halnya dalam mengenali kapan badan Anda harus beristirahat dan kapan sudah siap untuk diajak kembali bekerja.

    Baca Juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Lingkungan Kerja

    Sahabat Sehat, sebesar apapun dorongan dan semangat diri dalam meraih impian, tubuh mempunyai hak untuk diperhatikan kesehatannya. Tidak sekadar kesehatan fisik, namun juga secara psikologis dan sosial. Maka dari itu, memaksakan diri diluar kapasitas tubuh Anda bukanlah hal yang patut dilakukan. Mari hargai dan sayangi diri sendiri.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Costa, C. Stop Idolizing Hustle Culture And Do This Instead.
    2. Rachmahyanti, S. Marak di Kalangan Milenial, Yuk Kenali Ciri-Ciri Hustle Culture.
    3. medcom.id. Bahaya Hustle Culture pada Pekerja di Indonesia.
    4. Arfa, A., 2021. The Truth About the Hustle Culture.
    5. CNN Indonesia. Mengenal ‘Hustle Culture’, Gila Kerja yang Berujung Burnout.
    6. Jackson, A. How to Identify Hustle Culture and What You Can Do to Break Away From It.
    7. Headversity. The Toxicity of Hustle Culture: The Grind Must Stop.
    Read More
  • Umumnya bayi akan buang air kecil atau pipis dan berganti popok sekitar enam kali dalam sehari. Namun pada kondisi tertentu, bayi Anda mungkin akan lebih jarang pipis. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab bayi jarang pipis? Frekuensi Normal Bayi Buang Air Kecil Bayi yang baru lahir cenderung lebih sering pipis dibanding anak yang sudah lebih […]

    Kenali Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil

    Umumnya bayi akan buang air kecil atau pipis dan berganti popok sekitar enam kali dalam sehari. Namun pada kondisi tertentu, bayi Anda mungkin akan lebih jarang pipis. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi penyebab bayi jarang pipis?

    Kenali Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil

    Kenali Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil

    Frekuensi Normal Bayi Buang Air Kecil

    Bayi yang baru lahir cenderung lebih sering pipis dibanding anak yang sudah lebih besar. Idealnya, bayi akan pipis setiap satu jam atau setiap tiga jam sekali. Dengan kata lain, ia bisa buang air kecil sebanyak 4 hingga 8 kali dalam sehari. Hal ini karena kandung kemih bayi hanya dapat menampung sekitar 30-40 ml urin, sehingga bila bayi minum atau menyusu dengan baik, ia akan buang air kecil lebih sering. Akan tetapi, jika cuaca sedang panas, frekuensi pipis bayi biasanya akan berkurang hingga setengahnya. Sebab, pada kondisi panas bayi biasanya akan lebih banyak berkeringat daripada pipis. Keringat adalah cara lain tubuh mengeluarkan sisa cairan. 

    Kondisi seperti ini adalah hal yang normal, jadi Anda tak perlu cemas dan khawatir. Cukup pastikan asupan ASI atau susu formula si kecil tercukupi. Namun, apabila bayi tidak pipis atau popoknya tidak basah sama sekali selama seharian penuh, Anda perlu memperhatikan lebih lanjut hal-hal di bawah ini. 

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Penyebab Bayi Jarang Buang Air Kecil 

    Jarang pipis pada bayi bukanlah kondisi yang dapat disepelekan. Sebab, frekuensi buang air kecil pada bayi berkaitan erat dengan kesehatan sistem perkemihannya. Pipis atau urin yang dikeluarkan bayi merupakan zat sisa yang harus dikeluarkan secara rutin. 

    Baca Juga: Solusi Terbaik Mengatasi Anak Susah Tidur di Malam Hari

    Bayi dianggap jarang pipis apabila frekuensi berkemihnya kurang dari 3 kali dalam sehari, tidak pipis sama sekali selama 6 jam, atau jika jumlah urin berkurang dari 1 ml/kg BB/jam. Jika urinnya kurang dari jumlah tersebut, cek untuk kemungkinan terjadinya kondisi berikut:

    Dehidrasi atau kekurangan cairan

    Dehidrasi adalah salah satu penyebab utama bayi jarang buang air kecil, khususnya pada bayi usia dibawah 6 bulan. Dehidrasi sangat rentan terjadi ketika bayi sedang demam, muntah-muntah, diare, atau muntaber. Dehidrasi umumnya ditandai dengan berkurangnya frekuensi dan jumlah pipis bayi, yang dapat Anda ketahui dengan berkurangnya jumlah penggantian popok. Selain itu, dehidrasi juga dapat menimbulkan beberapa gejala lainnya, seperti:

    • Saat menangis hanya mengeluarkan sedikit air mata atau tidak sama sekali
    • Lebih rewel dari biasanya
    • Fontanel (bagian lunak pada ubun-ubun bayi) terlihat cekung atau lebih rata dari biasanya
    • Kulit menjadi kering atau keriput, terutama pada lengan, perut, dan kaki
    • Bayi terlihat lemas dan lesu
    • Sering mengantuk
    • Detak jantung terlalu cepat atau justru melambat
    • Mata terlihat lelah dan cekung.

    Apabila bayi Anda mengalami tanda-tanda diatas, upaya awal yang harus dilakukan adalah dengan meningkatkan frekuensi pemberian asupan cairan. Jika biasanya bayi menyusu setiap 3 jam sekali, maka pada kondisi ini lakukanlah setiap 30 menit sekali. 

    Pada bayi usia diatas 6 bulan, Anda boleh memberikannya oralit, terutama jika Si Kecil mengalami diare. Namun, jika kondisi bayi tidak kunjung membaik dan justru semakin malas untuk minum, segeralah bawa si Kecil ke dokter. 

    Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, 9 Tanda Anak Dehidrasi Karena Diare

    Gangguan pada Saluran Kemih

    Urin yang dihasilkan oleh ginjal akan melewati saluran kemih. Namun, jika ada gangguan pada saluran ini, seperti infeksi, sumbatan, penyempitan, ataupun kelainan bentuk, frekuensi buang air kecil dan jumlah urin si Kecil dapat terganggu. 

    Apabila jarang pipis pada bayi disebabkan oleh gangguan pada saluran kemihnya, keluhannya mungkin akan disertai dengan gejala berikut ini:

    • Demam
    • Anyang-anyangan, sering pipis tapi hanya sedikit dengan sensasi tidak nyaman
    • Malas makan dan lebih rewel dari biasanya
    • Urin menjadi kental, berwarna gelap dan berbau tidak sedap.

    Kondisi ini jangan dianggap remeh, dan perlu segera diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

    Gangguan Ginjal

    Ginjal adalah organ penting yang berfungsi untuk menyaring dan membuang zat sisa melalui urin. Jika fungsi ginjal terganggu, produksi urin bisa menurun, sehingga membuat bayi lebih jarang pipis. 

    Gangguan ginjal dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya faktor genetik, cidera, infeksi, hingga penyakit tertentu. Oleh sebab itu, apabila Si Kecil sama sekali tidak buang air kecil atau jarang pipis padahal asupan cairannya cukup dan tubuhnya tampak membengkak disertai kulit yang pucat, segera periksakan ke dokter. 

    Kapan Harus Ke Dokter?

    Meskipun jarang buang air kecil adalah hal yang wajar bagi bayi sampai dengan batas tertentu, Anda tetap harus tetap waspada dan mencari tahu penyebabnya. Segera bawa Si Kecil berobat ke dokter agar mendapatkan penanganan yang sesuai. Pasalnya, jarang pipis yang disebabkan oleh dehidrasi merupakan kondisi yang cukup berbahaya. Bahkan menurut World Health Organization (WHO), dehidrasi adalah salah satu penyebab kematian anak di bawah usia 5 tahun.

    Baca Juga: Tanda-Tanda Gangguan Ginjal

    Sahabat Sehat, selalu waspada terhadap kondisi kesehatan Si Kecil, termasuk bila ia jarang buang air kecil. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi

    1. NIDDK. Kidney Disease in Children.
    2. Verywell Family. Answers to Common Questions About Baby Pee.
    3. Virtual pediatric hospital. Virtual Pediatric Hospital: CQQA: Dehydration.
    4. Healthy Children. Baby’s First Days: Bowel Movements & Urination.
    5. CDC. Urine Output.
    Read More
  • Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin covid pada anak merupakan hal yang lumrah. Namun sebenarnya vaksin covid itu aman. Pada tanggal 2 November 2021 lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  mengeluarkan rekomendasi pembaruan terkait pemberian vaksin COVID-19 (Coronavac) pada usia 6 tahun ke atas. Hal ini terkait dengan dikeluarkannya izin penggunaan dalam keadaan darurat  […]

    Tips Hadapi Efek Samping atau KIPI Vaksin Covid pada Anak

    Kekhawatiran orang tua terhadap efek samping vaksin covid pada anak merupakan hal yang lumrah. Namun sebenarnya vaksin covid itu aman.

    Tips Hadapi Efek Samping atau KIPI Vaksin Covid pada Anak

    Tips Hadapi Efek Samping atau KIPI Vaksin Covid pada Anak

    Pada tanggal 2 November 2021 lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  mengeluarkan rekomendasi pembaruan terkait pemberian vaksin COVID-19 (Coronavac) pada usia 6 tahun ke atas. Hal ini terkait dengan dikeluarkannya izin penggunaan dalam keadaan darurat  (EUA) Vaksin Coronavac produksi Sinovac khusus anak berusia 6-11 tahun oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta mempertimbangkan dimulainya pembelajaran tatap muka.

    Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yaitu dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) menyatakan bahwa rekomendasi terbaru ini dikeluarkan karena anak juga dapat tertular dan atau menularkan virus corona dari dan ke orangtua di sekitarnya (orangtua, orang lain yang tinggal serumah, orang yang datang ke rumah, teman atau guru di sekolah dengan dimulai pada pembelajaran tatap muka), walaupun tanpa gejala.

    IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Covid-19 Coronavac pada anak dengan golongan usia 6 tahun ke atas dengan pemberian secara intramuskuler (otot lengan) dengan dosis 3 ug (0,5 ml) sebanyak dua kali pemberian dengan jarak pemberian dosis pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu.

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Manfaat Vaksinasi Covid-19 Pada Anak

    Berikut ini manfaat pemberian vaksinasi Covid-19 pada anak :

    1. Vaksin membantu mencegah anak-anak terinfeksi Covid-19

    Meskipun Covid-19 pada anak terkadang lebih ringan dari pada orang dewasa, namun beberapa anak yang terinfeksi Covid-19 dapat mengalami infeksi paru yang berat serta beresiko rawat inap. Mengingat varian delta serta omicron yang lebih menular saat ini.

    2. Vaksin membantu mencegah atau mengurangi penyebaran Covid-19

    Vaksin Covid-19 dapat melindungi anak dan orang lain, mengurangi kemungkinan mereka menularkan virus ke orang lain, termasuk keluarga dan teman yang mungkin lebih rentan terhadap konsekuensi infeksi yang lebih berat.

    3. Vaksinasi Covid-19 dapat membantu menghentikan munculnya varian lain

    Kasus Covid-19 meningkat pada anak-anak dan varian delta tampaknya berperan. Vaksinasi mengurangi penularan virus untuk bermutasi menjadi varian baru yang mungkin lebih berbahaya.

    Baca Juga: Perbandingan Efek Samping dari 5 Vaksin Booster Covid-19

    Kontra Indikasi Vaksin Covid-19 Pada Anak

    Berikut ini kondisi anak-anak yang tidak dapat menerima vaksinasi :

    • Defisiensi imun atau penyakit autoimun yang tidak terkontrol
    • Anak dengan Penyakit Sindrom Guillain Barre, Mielitis transversa, Acute demyelinating encephalomyelitis
    • Anak kanker yang sedang menjalani kemoterapi atau radioterapi.
    • Sedang mendapatkan pengobatan penekan sistem imun
    • Demam 37,50C atau lebih
    • Sembuh dari Covid-19 kurang dari 3 bulan
    • Pasca imunisasi lain kurang dari 1 bulan
    • Hamil
    • Hipertensi tidak terkendali
    • Diabetes melitus tidak terkendali
    • Penyakit-penyakit kronik atau kelainan genetik atau penyakit bawaan yang tidak terkendali.

    Baca Juga: Apa Manfaat Imunisasi Influenza dan Efek Sampingnya Bagi Anak

    Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Covid-19

    Menurut ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) vaksin Covid-19 pada anak terbilang ringan. Beliau menyebutkan bahwa tidak ada KIPI berat yang disebabkan langsung oleh vaksinasi tersebut. Sejauh ini, KIPI yang dilaporkan hanya sebatas demam saja, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

    Sementara itu Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito meminta agar para orangtua tidak panik. Beberapa gejala KIPI pada anak hanya berupa nyeri pada lengan bekas suntikan, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri sendi, menggigil, mual dan muntah, rasa lelah, demam yang ditandai suhu diatas 37,80C dan gejala yang mirip dengan flu selama 1-2 hari.

    Tips Atasi Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Covid-19

    Sahabat Sehat tidak perlu panik apabila Si Kecil demam pasca diberikan vaksin Covid-19. Lakukan beberapa hal berikut sebagai penanganan awal, yakni :

    • Biarkan Si Kecil beristirahat.
    • Berikan obat pereda demam dan nyeri apabila diperlukan. 
    • Berikan air putih yang cukup. 
    • Kompres dengan kain bersih yang dibasahi dengan air dingin untuk meredakan nyeri dan bengkak.

    Baca Juga: Apa Efek Imunisasi PCV dan Rotavirus Bersamaan Pada Anak?

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pemberian vaksin Covid-19 pada anak usia 6-11 tahun serta tips yang dapat dilakukan jika Si Kecil mengalami KIPI. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Satuan Gugus Tugas Covid-19. Rekomendasi Pemberian Vaksin Covid 19 Sinovac Pada Anak Usia 6 Tahun Keatas.
    2. Christina S. COVID Vaccine: What Parents Need to Know.
    3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Pemberian Vaksin COVID-19 (Coronavac®) pada anak usia 6 tahun ke atas Pemutakhiran 2 November 2021.
    4. Satuan Gugus Tugas Covid-19. Satgas: Jangan Panik, Segera Penanganan Dini Jika Anak Bergejala KIPI Paska Vaksinasi.
    5. Detik Health. Satgas IDAI Ungkap KIPI Vaksin COVID-19 Anak 6-11 Tahun yang Banyak Dilaporkan.
    6. KIPI Covid-19. Informasi Tentang KIPI atau Reaksi Setelah Vaksinasi COVID-19.
    Read More
  • Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa. Pemberian imunisasi pada anak pada program imunisasi nasional maupun yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan swasta diketahui menurun semenjak Covid-19. Kondisi ini amat mengkhawatirkan mengingat penurunan cakupan imunisasi pada beberapa penyakit dapat mengakibatkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa (KLB). […]

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Tingkat imunisasi anak secara nasional menurun semenjak Covid-19. Ini tentunya berisiko menyebabkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa.

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Pentingnya Tetap Memberi Imunisasi Anak saat Masa Pandemi

    Pemberian imunisasi pada anak pada program imunisasi nasional maupun yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan swasta diketahui menurun semenjak Covid-19. Kondisi ini amat mengkhawatirkan mengingat penurunan cakupan imunisasi pada beberapa penyakit dapat mengakibatkan outbreak atau Kejadian Luar Biasa (KLB).

    Penurunan cakupan imunisasi ini diakibatkan karena adanya pandemi Covid-19, sehingga para orang tua takut untuk memberikan imunisasi untuk anak-anaknya. Para orangtua rata-rata khawatir anaknya tertular Covid-19 saat membawa anak ke fasilitas kesehatan.Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Anak Indonesia, Prof. dr. Soedjatmiko, Sp.A (K) mengatakan para orang tua dianjurkan segera melengkapi imunisasi anaknya meski sedang pandemi Covid-19 sehingga Si Kecil menerima imunisasi dasar lengkap.

    Menurut UNICEF, sejak Maret 2020, terjadi penurunan angka imunisasi anak di seluruh Indonesia. Pada Mei 2020 misalnya, vaksinasi Difteri, Pertusis dan Tetanus (DPT3) serta campak dan Rubella turun sebanyak 35% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ikatan Dokter Anak Indonesia Menegaskan bahwa program imunisasi dasar anak, sangatlah penting untuk kesehatan anak dan menurunkan resiko terkena penyakit menular pada masa mendatang.

    Badan Kesehatan Dunia atau yang disebut WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa pemberian imunisasi anak diwajibkan guna melindungi Si Kecil dari sejumlah penyakit infeksi. Lewat imunisasi, Si Kecil mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu yang membahayakan kesehatan dan bahkan mengancam jiwa.

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Mengapa Tidak Boleh Menunda Imunisasi Anak?

    IDAI meminta orangtua agar tidak menunda imunisasi anak demi kepentingan bersama. Ketika menunda imunisasi, resiko terjadinya wabah suatu penyakit menular akan bertambah. Sebab, imunisasi pada dasarnya bertujuan untuk mencegah munculnya wabah.

    Kementerian Kesehatan dan IDAI telah menyusun jadwal imunisasi anak sesuai dengan usianya. Pemberian imunisasi sebaiknya mengikuti jadwal seharusnya untuk memastikan efektivitas vaksin tersebut. Pandemi Covid-19 dapat memicu terjadinya pandemi penyakit lain akibat turunnya angka imunisasi anak. Bila terjadi lebih dari satu pandemi dalam waktu yang bersamaan, tidak dapat dibayangkan dampak yang terasa oleh masyarakat.

    Baca Juga: Terlambat Imunisasi BCG? Ini yang Harus Dilakukan!

    Pentingnya Imunisasi Dasar

    Setiap manusia yang lahir, pada dasarnya sudah memiliki sistem kekebalan tubuh alami sejak Si Kecil berada didalam kandungan untuk melindunginya dari serangan penyakit. Namun, sistem kekebalan tubuh Si Kecil masih belum sempurna dan optimal seperti sistem imun orang dewasa sehingga mereka gampang sakit. Jadi, pentingnya imunisasi adalah untuk meningkatkan daya tahan tubuh Si Kecil sejak baru dilahirkan.

    Imunisasi adalah cara memperkuat sistem kekebalan tubuh si kecil sehingga kebal akan serangan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, parasit dan lainnya. Melalui imunisasi dasar, berarti orang tua membantu melindungi Si Kecil dari berbagai resiko penyakit dimasa yang akan datang. Imunisasi akan membantu daya tahan tubuh Si Kecil agar memproduksi antibodi khusus untuk melawan jenis penyakit tertentu.

    Baca Juga: Yuk Moms, Cek Lagi Jadwal Imunisasi Balita Anda

    Jenis Imunisasi yang Dapat Dilakukan Pada Anak

    Berikut ini imunisasi wajib yang diberikan pada usia anak-anak menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.42 Tahun 2013 dan No.12 tahun 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi, disebutkan bahwa ada 5 jenis imunisasi wajib yang harus diperoleh Si Kecil yaitu:

    Imunisasi Hepatitis B

    Imunisasi hepatitis B diberikan sebanyak 4 kali. Pemberian pertama segera setelah bayi lahir dan paling lambat 12 jam setelah bayi dilahirkan, kemudian dilanjutkan pada usia 2,3,dan 4 bulan.

    Imunisasi Polio

    Imunisasi polio diberikan dalam bentuk tetes mulut, namun ada juga yang berbentuk suntikan. Imunisasi polio diberikan sebanyak 4 kali, yaitu pada saat bayi baru lahir atau paling lambat usia 1 bulan, kemudian usia 2, 3 dan 4 bulan. Sedangkan vaksin suntik diberikan sebanyak 1 kali yaitu pada usia 4 bulan.

    Imunisasi BCG

    Imunisasi BCG atau imunisasi yang dilakukan untuk mencegah penyakit TBC, dilakukan  sebanyak 1 kali dan diberikan pada saat bayi berusia 2 atau 3 bulan. Imunisasi ini diberikan melalui suntikan pada kulit Si Kecil.

    Imunisasi Campak

    Imunisasi campak pada anak diberikan sebanyak 3 kali, yaitu saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan dan 6 tahun. Namun, apabila Si Kecil sudah melakukan pemberian imunisasi MR/MMR pada usia 15 bulan, maka imunisasi campak pada usia 18 bulan tidak diperlukan lagi.

    Imunisasi DPT-HB-Hib

    Imunisasi ini dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, pneumonia dan meningitis. Imunisasi ini diberikan pada usia 2,3,4, dan 18 bulan.

    Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Dasar Lengkap untuk Bayi

    Apabila Si Kecil Tidak di Imunisasi

    Berikut ini resiko bila si kecil tidak diimunisasi:

    Sistem kekebalan tubuh tidak kuat dalam menghadapi penyakit

    Anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti hepatitis, TBC, batuk rejan dan difteri.  

    Resiko komplikasi akibat penyakit menular

    Anak yang tidak diimunisasi memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena komplikasi yang menyebabkan kecacatan pada bayi bahkan kematian. Hal ini disebabkan tubuh Si Kecil tidak mendapatkan kekuatan dari sistem pertahanan khusus yang dapat mendeteksi jenis penyakit berbahaya tertentu. Sehingga, kuman akan lebih mudah berkembang biak dan menginfeksi.

    Membahayakan anak atau orang lain disekitarnya

    Kasus-kasus penyakit menular di kalangan kelompok rentan dapat berkembang menjadi wabah di masyarakat. Untuk alasan inilah pemerintah masih memberikan imunisasi polio kepada anak untuk mencegah penyakit ini kembali mewabah.

    Penurunan kualitas hidup

    Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki resiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas atau cacat menetap. Contohnya, campak dapat menyebabkan komplikasi kebutaan. Atau polio dapat menyebabkan kelumpuhan dan cacat permanen.

    Resiko penurunan harapan hidup

    Vaksinasi yang tidak lengkap akan menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap akan mudah tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya menurun.

    Tips Mencegah Penularan Covid-19 Saat Imunisasi Anak

    Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari penyebaran virus corona saat membawa si kecil vaksinasi ke fasilitas kesehatan:

    1. Buat janji temu dengan Dokter atau Fasilitas Kesehatan penyedia jasa imunisasi
    2. Seleksi tempat imunisasi yang memenuhi standar protokol kesehatan
    3. Terapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak aman dengan orang lain, mencuci tangan atau membawa hand sanitizer.

    Baca Juga: Kenali Perbedaan Imunisasi MR dan MMR

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai pentingnya memberikan imunisasi untuk Si Kecil meski dalam masa pandemi Covid-19. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Kementerian Kesehatan. Orang Tua Wajib Lengkapi Imunisasi Dasar Anak Meski Pandemi COVID-19.
    2. UNICEF. Imunisasi Rutin pada Anak Selama Pandemi COVID-19 di Indonesia: Persepsi Orang tua dan Pengasuh.
    3. Dahlan. Bolehkah Menunda Imunisasi Anak Saat Pandemi Covid-19?
    4. IDAI. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun.
    5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya.
    6. UNICEF. 7 konsekuensi dan risiko jika anak tidak mendapatkan imunisasi rutin.
    7. Centers of Disease Control and Prevention. Not Vaccine Risk.
    Read More
  • Tuberkulosis pada anak perlu mendapat perhatian karena kesulitan dalam mendiagnosis dan peningkatan risiko efek samping obat TB pada anak. Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait salah satu penyakit menular paling mematikan. Tanggal tersebut ditetapkan bertepatan dengan ditemukannya bakteri penyebab TB oleh Dr. Robert […]

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022: Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Tuberkulosis pada anak perlu mendapat perhatian karena kesulitan dalam mendiagnosis dan peningkatan risiko efek samping obat TB pada anak.

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022 Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Hari Tuberkulosis Sedunia 2022: Kenali Efek Samping Obat TB Pada Anak

    Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait salah satu penyakit menular paling mematikan. Tanggal tersebut ditetapkan bertepatan dengan ditemukannya bakteri penyebab TB oleh Dr. Robert pada tahun 1882. 

    Indonesia berada pada peringkat ketiga dari delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TB tertinggi di seluruh dunia dengan persentase 8% setelah India 27% dan China 9%. Pada tahun 2021, diperkirakan ada 824.000 kasus TB dengan total kematian sebanyak 13.110 orang. 

    Meski mematikan dan mudah menular, TB sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Berdasarkan data WHO, upaya pemberantasan TB secara global telah menyelamatkan sekitar 66 juta jiwa sejak tahun 2020. Akan tetapi, mengonsumsi obat-obatan TB diketahui juga dapat menimbulkan berbagai efek samping terhadap penderita, terutama pada anak-anak penderita TB. Apa saja yang perlu diwaspadai? Simak penjelasannya di bawah ini.

    Apa itu Tuberkulosis?

    Tuberkulosis (TB) adalah penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Selain menyerang paru-paru, bakteri ini juga dapat menyerang organ vital lain seperti ginjal, tulang belakang, hingga otak. 

    Umumnya, bakteri penyebab TB menyebar melalui udara saat penderita batuk, berbicara, atau tertawa. Bakteri yang terhirup oleh individu yang sehat akan meningkatkan risiko terinfeksi TB. Gejala TB pada anak berupa gejala umum (sistemik) dan sesuai organ terkait. Gejala umumnya meliputi:

    • Berat badan turun, tidak naik selama 2 bulan terakhir, atau gagal tumbuh (failure to thrive)
    • Demam lama (> 2 minggu) atau berulang
    • Batuk lama (> 2 minggu) dan memburuk
    • Lesu dan anak kurang aktif bermain

    medical check up hemat, medical check up murah, medical check up ke rumah

    Selain paru-paru, TB dapat menginfeksi organ tubuh lain, atau disebut juga sebagai tuberkulosis ekstra paru. Dengan demikian, gejala yang timbul juga bervariasi sesuai dengan organ yang terlibat seperti kelenjar getah bening, sistem saraf pusat (otak), tulang, mata, kulit, dan sebagainya.

    Orang dengan HIV/AIDS, kanker dan penyakit kronis lebih rentan terinfeksi TB. Namun, penularan TB dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, serta menerapkan protokol kesehatan. Khusus bagi anak, jangan lupa untuk vaksinasi TB anak (BCG) di usia 1 bulan. Bila telat, vaksinasi dapat dikejar sampai dengan usia 12 bulan. 

    Pengobatan Infeksi TB untuk Anak

    Penyakit TB pada anak dapat diobati dengan mengonsumsi beberapa obat anti-TB (OAT) selama enam bulan atau lebih, tergantung pada respon pengobatan. Pengobatan dibagi menjadi dua fase, yaitu fase intensif selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4 bulan.

    Pengobatan TB harus dilakukan dengan benar karena anak dapat kembali sakit bila terapi tidak diselesaikan. Selain itu, apabila obat tidak diminum dengan benar, bakteri yang masih hidup dapat menjadi resisten atau kebal terhadap obat tersebut. TB yang resisten terhadap obat akan lebih sulit disembuhkan dan lebih mahal biaya pengobatannya bila suatu hari anak kembali sakit. Durasi pengobatan juga akan berlangsung lebih lama sampai 18-24 bulan. 

    Baca Juga: Cegah Tuberkulosis pada Anak dengan Daya Tahan Tubuh Anak yang Kuat

    Efek Samping Obat Anti TB pada Anak

    Serupa dengan obat-obatan pada umumnya, pengobatan TB juga memiliki risiko menimbulkan berbagai efek samping, baik ringan maupun berat. Namun, efek samping obat TB pada anak lebih jarang terjadi dibandingkan dewasa.

    Efek samping yang ditimbulkan pun dapat bervariasi antar individu walau menjalani pengobatan yang sama. Berikut beberapa efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan obat tuberkulosis:

    • Mual atau muntah dan gangguan nafsu makan
    • Gangguan saraf seperti kram, kesemutan, dsb.
    • Gangguan pengelihatan
    • Peradangan hati
    • Kerusakan ginjal
    • Reaksi alergi
    • Gangguan fungsi pendengaran.

    Baca Juga: Bahaya TB pada Anak yang Perlu Sahabat Ketahui

    Penanganan Efek Samping dari Obat Anti TB

    Apabila Si Kecil mulai menunjukkan efek samping OAT, segeralah berkonsultasi dengan dokter. Umumnya, dokter akan menyesuaikan dosis obat, mengganti obat, dan/atau menambahkan obat penangkal setelah dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. 

    Tapi ingat, jangan langsung menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Sebab, hal itu justru akan membuat Anda lebih berisiko mengalami TB resisten obat (TB-MDR). Kondisi tersebut akan membuat bakteri kebal terhadap obat TB sehingga lebih menyulitkan pengobatan.

    Baca Juga: 7 Gejala TB Paru pada Si Kecil

    Sahabat Sehat, infeksi tuberkulosis adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan. Bila anak Anda terinfeksi, berikan dukungan penuh selama proses pengobatan agar ia mampu menyelesaikannya dengan sempurna. Waspadai juga gejala-gejala dari efek samping obat TB pada anak seperti di atas dan konsultasikan dengan dokter.

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul Larasati

     

    Referensi 

    1. Direktorat Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) Tahun 2021.
    2. Humanities, A. Hari Tuberkulosis Sedunia 2021.
    3. WHO. World TB Day.
    4. Rxlist. Side Effects Drug Center.
    5. Mayo Clinic. Tuberculosis – Symptoms and causes.
    6. TB Alert. Side effects – TB Alert.
    7. TB Indonesia. Dashboard TB.
    Read More
  • Pemerintah menggunakan 5 jenis vaksin sebagai vaksin booster Covid-19. Efek samping vaksin booster Covid-19 ini berbeda tiap jenisnya. Vaksin Covid-19 dosis ke-3 atau vaksin booster memiliki efek samping yang berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa dari Sahabat Sehat mungkin mengalami sakit kepala, nyeri di tempat suntikan, hingga demam tinggi. Vaksin dosis ketiga Covid-19 merupakan salah satu […]

    Perbandingan Efek Samping dari 5 Vaksin Booster Covid-19

    Pemerintah menggunakan 5 jenis vaksin sebagai vaksin booster Covid-19. Efek samping vaksin booster Covid-19 ini berbeda tiap jenisnya.

    Perbandingan Efek Samping dari 5 Vaksin Booster Covid-19

    Perbandingan Efek Samping dari 5 Vaksin Booster Covid-19

    Vaksin Covid-19 dosis ke-3 atau vaksin booster memiliki efek samping yang berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa dari Sahabat Sehat mungkin mengalami sakit kepala, nyeri di tempat suntikan, hingga demam tinggi.

    Vaksin dosis ketiga Covid-19 merupakan salah satu bentuk upaya pencegahan peningkatan kasus Covid-19 yang baru-baru ini kembali meningkat akibat munculnya virus Covid-19 varian baru Omicron. Vaksin booster ini telah mulai dilaksanakan sejak 12 Januari 2022 lalu di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia. Pemerintah memberikan vaksin booster secara gratis dengan memprioritaskan kelompok lansia dan kelompok rentan. 

    Presiden Jokowi memastikan bahwa vaksin Covid-19 dosis ketiga ini diberikan kepada seluruh masyarakat Indonesia secara gratis, dan dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti:

    • Usia diatas 18 tahun
    • Sudah menerima vaksin dosis lengkap (dosis 1 dan 2)
    • Dosis vaksin Covid-19 kedua sudah diterima lebih dari 6 bulan. 

    Vaksin Covid-19 Booster

    Vaksin Booster adalah vaksinasi Covid-19 yang diberikan setelah seseorang mendapatkan vaksinasi Covid-19 primer dosis lengkap (dosis ke 1 dan ke 2) dengan tujuan untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan. Berdasarkan hasil penelitian, antibodi akan mengalami penurunan pada 6 bulan setelah menerima vaksinasi dosis primer lengkap. Sehingga dibutuhkan pemberian vaksin dosis lanjutan atau booster guna meningkatkan proteksi individu terutama pada kelompok masyarakat yang rentan. 

    Vaksinasi ini dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu mekanisme Homolog dan Heterolog. Mekanisme homolog adalah pemberian vaksin booster dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah diterima sebelumnya. Sedangkan mekanisme heterolog adalah pemberian vaksin dengan menggunakan jenis vaksin yang berbeda dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah diterima sebelumnya. 

    Baca Juga: Fakta Vaksin Pfizer dan Efektivitasnya Melawan COVID-19

    Efek Samping Vaksin Booster 

    Ada 5 jenis vaksin yang digunakan untuk booster, yakni CoronaVac, Comirnaty, AstraZeneca, Moderna, dan Zifivax. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masing-masing jenis vaksin ini digunakan sebagai booster dengan melalui mekanisme homolog dan heterolog.

    CoronaVac (Buatan Sinovac)

    Vaksin Sinovac sebagai booster terbukti dapat meningkatkan antibodi hingga puluhan kali lipat. Bagi kelompok usia 18 – 59 tahun, antibodi mereka dapat meningkat hingga 20 kali. Sementara bagi kelompok lansia 60 tahun ke atas mampu meningkat lebih dari 30 kali. Idealnya, vaksin CononaVac diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan menerima vaksinasi lengkap. 

    Vaksin ini dapat diberikan pada usia 18 tahun ke atas dengan meningkatkan antibodi netralisasi hingga 21 – 35 kali setelah 28 hari hari pemberian booster pada subjek dewasa. Namun, terungkap fakta lain bahwa efek samping dari vaksin Sinovac cukup rendah. Vaksin booster yang diproduksi oleh Sinovac ini memiliki efek samping yang bersifat ringan-sedang misalnya tampak kemerahan  dan nyeri di bekas suntikan

    Comirnaty (Buatan Pfizer)

    Vaksin Corminaty yang diproduksi Pfizer ini dapat diberikan minimal 6 bulan setelah dosis kedua dari vaksin primer dosis lengkap. Hampir sama dengan Sinovac, vaksin booster Comirnaty hanya diberikan pada usia 18 tahun ke atas. Efek samping vaksin Pfizer sebagai vaksin booster perlu jadi perhatian apabila vaksin primernya adalah Sinovac atau AstraZeneca. Efek samping vaksin booster Pfizer ini tidak jauh berbeda dari vaksin Covid-19 lainnya.  Beberapa efek samping pasca vaksinasi booster Pfizer antara lain:

    • Nyeri ditempat suntikan
    • Nyeri otot
    • Sakit kepala
    • Nyeri sendi
    • Demam
    • Kelelahan

    Zivifax (Buatan Anhui)

    Vaksin Zifivax menggunakan platform rekombinan protein subunit untuk memicu respon imun tubuh. Para peneliti menciptakan versi protein yang tidak berbahaya dalam sel dan kemudian memurnikannya, sebelum dirakit menjadi vaksin. 

    Vaksin Zifivax diberikan 1 dosis setelah 6 bulan menerima dosis lengkap vaksinasi primer (Sinovac atau Sinopharm). Diperuntukan bagi usia 18 tahun ke atas dengan efek samping pasca vaksinasi sebagai berikut :

    • Nyeri pada tempat suntikan
    • Sakit kepala
    • Kelelahan
    • Demam
    • Nyeri otot
    • Batuk 
    • Mual
    • Diare 

    Baca Juga: Tips Mencegah Penularan Covid-19 di Area Perkantoran

    Moderna

    Vaksin Moderna sebagai vaksin booster diberikan ½ dosis setelah 6 bulan menerima vaksinasi dosis lengkap. Diperuntukan bagi kelompok usia 18 tahun keatas dengan efek samping yang umumnya masih bisa ditoleransi dengan baik. Sebagian besar efek samping vaksin booster Moderna bersifat ringan hingga sedang, seperti :

    • Nyeri ditempat suntikan
    • Demam
    • Pegal
    • Mual

    AstraZeneca

    Berdasarkan data dari laboratorium Universitas Oxford pada Desember 2021 lalu, disebutkan bahwa suntikan vaksin booster AstraZeneca efektif dalam melawan Omicron. Studi ini diperoleh setelah tiga dosis vaksin yang ampuh melawan varian Delta setelah dua dosis. Vaksin booster AstraZeneca ini diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksinasi lengkap. Diberikan pada usia 18 tahun ke atas dengan efek samping pasca vaksinasi booster AstraZeneca, diantaranya:

    • Nyeri di tempat suntikan
    • Demam
    • Pegal
    • Mual

    Nah Sahabat Sehat, itulah beberapa efek samping dari vaksin booster sesuai dengan jenisnya. Adapun beberapa pantangan yang harus dilakukan setelah melakukan vaksinasi booster yaitu Sahabat Sehat disarankan untuk tidak merokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol. 

    Selain itu, sebaiknya Sahabat Sehat menghindari aktivitas fisik yang berat setidaknya selama 2 – 3 hari pasca vaksinasi booster. Sebab tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan pulih dari efek samping vaksin booster. 

    Baca Juga: Cek Fakta: Covid Dapat Mempengaruhi Kualitas Sperma Pria

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Alam S. Efek Vaksin Ke-3 COVID-19, dari Sinovac, Pfizer, hingga Moderna.
    2. Verywell Health. Are COVID-19 Booster Shots Variant-Specific?
    Read More
  • Meningitis merupakan kondisi adanya peradangan lapisan otak (meninges) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Meningitis terkadang sulit dikenali karena gejala awalnya mirip dengan gejala flu, seperti demam dan nyeri kepala. bakteri maupun virus yang menginfeksi cairan otak dan cairan tulang belakang (spinal cord) dapat menyebabkan pembengkakan otak. Sahabat Sehat, apa penyebab dan cara mencegah […]

    Penyebab Meningitis, Gejala dan Berbagai Cara Mencegahnya

    Meningitis merupakan kondisi adanya peradangan lapisan otak (meninges) yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur.

    Penyebab Meningitis, Gejala dan Berbagai Cara Mencegahnya

    Penyebab Meningitis, Gejala dan Berbagai Cara Mencegahnya

    Meningitis terkadang sulit dikenali karena gejala awalnya mirip dengan gejala flu, seperti demam dan nyeri kepala. bakteri maupun virus yang menginfeksi cairan otak dan cairan tulang belakang (spinal cord) dapat menyebabkan pembengkakan otak. Sahabat Sehat, apa penyebab dan cara mencegah meningitis? Mari simak penjelasan berikut

    Meningitis Bakteri

    Merupakan meningitis yang disebabkan karena infeksi bakteri pada selaput pembungkus otak dan dapat menular. Bakteri yang biasanya menyebabkan meningitis antara lain :

    • Streptococcus pneumoniae

    Merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis bakterialis. Biasanya bakteri ini turut menginfeksi anggota tubuh lain di luar otak, misalnya mengakibatkan  penyakit pneumonia, sinusitis dan endocarditis.

    • Haemophilus influenzae

    Merupakan jenis bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis pada anak. Selain meningitis, bakteri Haemophilus influenzae dapat menyebabkan infeksi pada darah, tenggorokan, sendi dan juga kulit.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    • Staphylococcus aureus

    Bakteri ini paling sering menginfeksi kulit dan saluran pernapasan. Biasanya terjadi pada cedera otak atau komplikasi dari tindakan pembedahan otak.

    • Neisseria meningitidis

    Bakteri penyebab meningitis ini menyebar melalui air liur dan saluran pernapasan dari pasien yang menderita meningitis.

    • Listeria monocytogenes

    Bakteri ini biasanya ditemukan pada makanan yang kualitasnya sudah tidak baik. Biasanya terdapat pada melon, keju dan sayuran mentah. Untuk itu, Sahabat Sehat dianjurkan mencuci sayur dan buah hingga bersih sebelum dikonsumsi untuk menghindari infeksi bakteri ini.

    Baca Juga: 5 Gejala Meningitis pada Anak yang Kerap Tidak Disadari

    Meningitis Virus

    Meningitis virus adalah peradangan lapisan otak yang disebabkan karena infeksi virus. Biasanya disebabkan oleh enterovirus, mumps, virus HIV, virus herpes simplex, dan virus west nile. Biasanya meningitis virus memiliki gejala yang tergolong ringan dan dapat pulih dengan sendirinya dibandingkan dengan meningitis bakteri.

    Meningitis Jamur

    Meningitis jamur biasanya menyerang seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita penyakit autoimun, kanker dan penyakit kronis (HIV/AIDS). Beberapa jenis jamur yang menyebabkan meningitis antara lain cryptococcus, blastomyces, histoplasma dan coccidioides yang terdapat pada kotoran hewan seperti burung dan kelelawar.

    Meningitis Parasit

    Meningitis parasit biasanya disebabkan karena parasit Angiostronglyus cantonensis dan Baylisascaris procyonis yang kerap ditemukan pada siput, ikan dan unggas.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Meningitis Untuk Calon Mahasiswa Luar Negeri

    Meningitis Amoeba

    Meningitis yang disebabkan karena infeksi amoeba, cukup jarang terjadi. Jenis amoeba yang menyebabkan meningitis adalah Naegleria fowleri yang biasanya disebabkan karena mengkonsumsi air mentah yang tercemar amoeba.

    Non-infeksi Meningitis

    Meningitis non-infeksi biasanya bukan disebabkan karena terinfeksi kuman, melainkan akibat efek samping suatu penyakit misalnya kanker, lupus (Systemic Lupus Erythematosus), efek samping obat-obatan, cedera kepala dan operasi otak.

    Gejala Meningitis

    Sahabat Sehat, berikut adalah beberapa gejala meningitis yang perlu diwaspadai :

    • Demam tinggi
    • Leher kaku
    • Nyeri kepala berat
    • Mual muntah hebat
    • Sulit berkonsentrasi
    • Kejang
    • Mengantuk dan kesulitan berjalan 
    • Sensitif terhadap cahaya (Photophobia)
    • Nafsu makan menurun
    • Kemerahan pada kulit 

    Baca Juga: Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Tips Mencegah Meningitis

    Untuk mencegah meningitis, Sahabat Sehat disarankan melakukan berbagai langkah berikut : 

    • Cuci tangan setiap kali selesai beraktivitas dan sebelum serta sesudah makan.
    • Memasak makanan hingga matang 
    • Menggunakan masker bila sedang sakit
    • Hindari kontak dengan pasien yang sedang terinfeksi
    • Hindari berbagi makanan atau minuman, serta barang pribadi (pisau cukur, lipstick, sikat gigi)
    • Pola hidup sehat, yaitu dengan berolahraga teratur dan istirahat yang cukup minimal 7-9 jam sehari
    • Melakukan vaksinasi meningitis, vaksinasi pneumokokus, dan vaksinasi Hib untuk melindungi dari kuman penyebab meningitis.

    Baca Juga: Tanda dan Gejala Meningitis Pada Anak yang Perlu Diwaspadai

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyebab meningitis serta cara mencegahnya. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh : dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh : dr. Monica Cythia D

     

    Referensi

    1. Suharjanti I, T Pinzon R. PANDUAN PRAKTIK KLINIS NEUROLOGI.
    2. CDC. Meningitis.
    3. CDC. Non-Infectious Meningitis.
    4. Mayo Clinic. Meningitis – Symptoms and causes.
    5. Cassoobhoy. Meningitis (Bacterial, Viral, and Fungal).
    Read More
  • Kesehatan ibu hamil merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik sebagai upaya pencegahan penyakit, terutama selama mengandung. Dengan kondisi kesehatan yang prima, anak yang dikandung juga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu penyakit yang dapat menginfeksi ibu hamil adalah tetanus, namun dapat dicegah melalui vaksinasi tetanus. Mengapa vaksin tetanus penting bagi ibu hamil? […]

    Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Kesehatan ibu hamil merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik sebagai upaya pencegahan penyakit, terutama selama mengandung.

    Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus

    Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Dengan kondisi kesehatan yang prima, anak yang dikandung juga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu penyakit yang dapat menginfeksi ibu hamil adalah tetanus, namun dapat dicegah melalui vaksinasi tetanus. Mengapa vaksin tetanus penting bagi ibu hamil? Apa dampak penyakit tetanus terhadap ibu hamil dan anak yang dikandung?

    Mengenal Infeksi Tetanus

    Tetanus merupakan sebuah infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Clostridium tetani. Saat bakteri tetanus menginfeksi tubuh, bakteri tersebut akan mengeluarkan toksin atau racun yang menyebabkan otot berkontraksi secara berlebihan dan menyebabkan rasa nyeri.

    Semua usia dapat menderita infeksi tetanus, namun ibu hamil dan anak-anak merupakan kelompok yang rentan mengalami infeksi berat bila belum divaksinasi. Tetanus yang terjadi saat hamil atau dalam waktu 6 minggu sebelum melahirkan dinamakan tetanus maternal. Sedangkan, bila terjadi dalam 28 hari pertama pasca melahirkan disebut tetanus neonatorum.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Infeksi tetanus dapat terjadi apabila bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka. Bakteri tetanus secara umum dapat ditemukan pada kotoran hewan, tanah, dan alat-alat tindakan yang tidak steril. Setelah terinfeksi tetanus, tanda dan gejala dapat timbul dalam rentang waktu 3-21 hari. Tanda dan gejala yang dapat terjadi dari infeksi tetanus adalah:

    • Kram pada rahang atau mulut menjadi tidak bisa dibuka
    • Otot kaku pada punggung, perut, atau tangan dan kaki
    • Nyeri pada saat otot kaku
    • Sulit menelan
    • Kejang
    • Nyeri kepala
    • Demam dan berkeringat
    • Perubahan pada tekanan darah atau denyut jantung yang cepat

    Infeksi tetanus sangat berbahaya bagi ibu hamil dan anak yang sedang dikandung. Terdapat data dari sebuah penelitian di Asia dan Afrika bahwa ibu hamil yang mengalami infeksi tetanus memiliki angka kematian yang tinggi. Infeksi tetanus dapat menyebabkan gangguan pernapasan, kejang, tensi dan denyut jantung yang berubah secara drastis sehingga mengancam nyawa ibu dan anak tersebut. Apabila tidak ditangani dengan segera dan tepat, maka tetanus dapat menyebabkan kematian.

    Baca Juga: 11 Jenis Vaksinasi Wajib Bagi Ibu Hamil yang Harus Diketahui

    Cara Mencegah Infeksi Tetanus

    Terdapat beberapa cara untuk mencegah infeksi tetanus. Mencuci tangan dan menjaga kebersihan merupakan dasar penting pencegahan penyakit, namun dalam hal infeksi tetanus, vaksinasi juga tidak kalah penting dan perlu diberikan karena sudah terbukti menurunkan angka infeksi. Vaksin tetanus bertujuan bukan hanya untuk mencegah ibu hamil terinfeksi tetanus, namun juga untuk melindungi bayinya.

    Vaksin tetanus aman untuk diberikan kepada ibu hamil. Apabila belum pernah atau lupa riwayat pemberian vaksin tetanus sebelumnya, maka anjurannya adalah mendapatkan tiga dosis vaksin tetanus. Dosis vaksin tersebut diberikan dengan jarak 0, 1, dan 6 bulan. Bila sudah pernah mendapatkan vaksin tetanus sebelumnya, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk mendapatkan booster saja. Pada saat ini di Indonesia terdapat vaksin tetanus dalam rupa Tetanus Toxoid (TT) atau Tdap (Tetanus, Difteri, Pertussis).

    Setelah melakukan vaksinasi, ibu hamil bisa mengalami efek samping. Beberapa efek samping yang dapat timbul adalah nyeri atau kemerahan pada daerah penyuntikan vaksin, demam, dan sakit kepala. Efek samping tersebut umumnya ringan dan dapat dapat membaik sendiri dalam jangka waktu yang pendek. Vaksinasi tetanus memiliki keuntungan yang jauh lebih banyak dibanding efek sampingnya. Apabila Anda ingin mendapatkan vaksin tetanus atau ingin bertanya seputar vaksin tetanus, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan terdekat.

    Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Vaksinasi Tetanus Untuk Anak?

    Sahabat Sehat, itulah penjelasan pentingnya vaksin tetanus bagi ibu hamil. Dengan mendapatkan vaksinasi tetanus sesuai rekomendasi, ibu dan janin akan terlindungi. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. CDC. Tetanus Disease (Lockjaw).
    2. WHO. Tetanus.
    3. Thwaites C, Beeching N, Newton C. Maternal and neonatal tetanus.
    4. WHO. Maternal immunization against tetanus.
    5. ACOG. Update on Immunization and Pregnancy: Tetanus, Diphtheria, and Pertussis Vaccination.
    Read More
  • Kualitas udara Jakarta terburuk di dunia menjadi topik berita yang belakangan ini ramai dibicarakan. Tentu hal ini patut diwaspadai, apalagi bagi Sahabat Sehat yang sehari-hari banyak beraktivitas di luar ruangan. Kualitas udara Jakarta yang buruk menjadi ancaman kesehatan untuk kita semua. Kualitas udara Jakarta terburuk di dunia dapat dipantau melalui situs IQair.com. Pada hari Rabu, […]

    Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Benarkah?

    Kualitas udara Jakarta terburuk di dunia menjadi topik berita yang belakangan ini ramai dibicarakan. Tentu hal ini patut diwaspadai, apalagi bagi Sahabat Sehat yang sehari-hari banyak beraktivitas di luar ruangan.

    Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Benarkah

    Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Benarkah?

    Kualitas udara Jakarta yang buruk menjadi ancaman kesehatan untuk kita semua. Kualitas udara Jakarta terburuk di dunia dapat dipantau melalui situs IQair.com.

    Pada hari Rabu, 22 Juni 2022, pukul 10.00 WIB, data jaringan pemantau kualitas udara real time IQAir menunjukkan bahwa udara di Jakarta mengandung konsentrasi PM2.5, artinya 27 kali lebih tinggi dari nilai pedoman kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Hal ini ditegaskan pula oleh catatan BMKG, yakni terjadi peningkatan konsentrasi partikel debu halus (PM2.5) dalam beberapa hari terakhir di Jakarta. “Tingginya konsentrasi PM2.5 dibandingkan hari-hari sebelumnya juga dapat terlihat saat kondisi udara di Jakarta secara kasat mata terlihat cukup pekat atau gelap,” ucap Urip Haryoko, Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, dalam siaran persnya (19/6).

    Chat dokter gratis, chat dokter 24 jam, chat dokter via whatsapp

    Penyebab Kualitas Udara Jakarta Terburuk

    Dalam siaran pers (19/6), Urip memaparkan ada 4 faktor penyebab peningkatan konsentrasi PM2.5 di wilayah Jakarta dan sekitarnya, antara lain:

    • Emisi

    Emisi berasal dari sumber lokal seperti transportasi, residensial, maupun regional dari kawasan industri dekat Jakarta. Emisi ini dalam kondisi tertentu yang dipengaruhi oleh parameter meteorologi dapat terakumulasi dan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi yang terukur pada alat monitoring pengukuran konsentrasi PM2.5.

    • Pergerakan Angin Mengarah Ke Jakarta

    Proses pergerakan polutan udara seperti PM2.5 dipengaruhi oleh pola angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Adapun pola angin lapisan permukaan memperlihatkan pergerakan massa udara dari arah timur dan timur laut yang menuju Jakarta, sehingga membuat PM2.5 terakumulasi di DKI.

    Baca Juga: Waspadai Kesehatan Menurun karena Polusi Udara yang Meningkat

    • Tingginya Kelembapan Udara

    Peningkatan konsentrasi PM2.5 berbanding lurus dengan kadar uap air di udara, yang dinyatakan oleh parameter kelembapan udara relatif. Pada beberapa hari terakhir, tingginya kelembapan udara relatif menyebabkan peningkatan proses adsorpsi (perubahan wujud dari gas menjadi partikel).

    • Munculnya Lapisan Inversi

    Kelembapan udara yang tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan. Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

    Dampak dari keberadaan lapisan inversi menyebabkan PM2.5 yang ada di permukaan menjadi tertahan, tidak dapat bergerak ke lapisan udara lain, dan mengakibatkan akumulasi konsentrasinya terukur di alat monitoring.

    Menimbulkan Gangguan Pernafasan Bahkan Jantung

    Urip menjelaskan, PM2.5 merupakan salah satu polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Dengan ukuran yang sangat kecil, tidak lebih dari 2,5 mikrometer, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan dan menyebabkan gangguan. Bahkan, PM2.5 dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa oleh darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner.

    Selain itu, perlu Sahabat Sehat ketahui, kualitas udara terburuk ini tidak hanya terjadi di Jakarta, namun pantauan dari situs IQair.com, sejumlah wilayah Indonesia juga memiliki catatan serupa, antara lain wilayah:

    – Cileungsir, Jawa Barat
    – Pasarkemis, Jawa Barat
    – Bekasi, Jawa Barat
    – Depok, Jawa Barat
    – Semarang, Jawa Tengah
    – Surabaya, Jawa Timur

    Baca Juga: Bisa Sebabkan Kematian, Ini Cara Mencegah Paru-Paru Basah Pada Anak

    Tips Menghadapi Kualitas Udara Buruk

    Untuk menjaga kesehatan dan mencegah paparan udara buruk, langkah yang dapat dilakukan antara lain:

    1. Batasi aktivitas di luar ruangan.
    2. Selalu kenakan masker yang berkualitas, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
    3. Tutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor masuk ke rumah.
    4. Bila memungkinkan, gunakan alat pemurni udara (air purifier) dalam ruangan.

    Bagi Sahabat Sehat yang selama ini hobi berolahraga di luar ruangan, disarankan agar sementara waktu berolahraga di dalam ruangan atau indoor. Saat ini cukup banyak pilihan olahraga di dalam ruangan, mulai dari aktivitas rumahan maupun gym. Olahraga kardio seperti lompat tali hingga yoga dapat dilakukan di rumah sendiri. Sementara fitness dan olah tubuh lainnya juga bisa dilakukan di tempat gym.

    Baca Juga: Mengenal Tes Treadmil Jantung untuk Deteksi Dini Penyakit Jantung

    Sahabat Sehat, itulah kiat menghadapi kualitas udara buruk yang sedang terjadi saat ini di berbagai wilayah di Indonesia. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. IQair.com. 2022
    2. republika.co.id. 2022. Penyebab Kualitas Udara Jakarta Terburuk Dunia Menurut BMKG
    3. kompas.com. 2022. Jakarta Termasuk Kota dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia
    4. indosport.com. 2022. Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Ini Tips Olahraga Saat Polusi
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com