Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

PBB Cabut Ganja dari Daftar Tanaman Obat Berbahaya, Ini Manfaat dan Dampaknya

Setelah menjadi perdebatan panjang untuk sekian lama, PBB melalui Komisi Narkotika-nya (CND) akhirnya mencabut ganja dan turunannya dari Daftar IV Konvensi Tunggal Narkotika Tahun 1961. Dengan demikian, oleh badan multinasional tersebut ganja secara resmi keluar dari daftar narkoba berbahaya dan adiktif. Keputusan ini dilakukan seusai CND mempertimbangkan rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia milik PBB, WHO.

PBB cabut ganja

Baca Juga: Tanaman Obat Tradisional Alternatif Pencegah Corona

Dalam penetapan keputusan itu sebanyak 53 negara anggota CND melakukan pemungutan suara untuk tanaman obat yang dikontrol ketat selama 59 tahun terakhir. Penggunaan ganja sendiri karena masuk dalam daftar tersebut dilarang untuk kepentingan medis. Dari hasil pemungutan suara yang dilakukan pada Rabu, 2 Desember 2020 itu, 27 negara menyetujui pencabutan tersebut sedangkan 25 negara lainnya memilih abstain. Pencabutan ganja dari daftar obat berbahaya ini membuka peluang untuk mempelajari potensi ganja sebagai obat medis dan terapi namun tetap melarang penggunaannya untuk tujuan rekreasi.

Keputusan PBB ini selanjutnya juga dapat mendorong penelitian lebih lanjut mengenai khasiat ganja sebagai tanaman obat dan negara-negara dapat melegalkannya untuk keperluan pengobatan medis serta mempertimbangkan kembali undang-undang mengenai penggunaan dengan tujuan rekreasi. Meski mayoritas pemungutan suara mendukung pencabutan para ahli berpendapat bahwa hal tersebut tidak akan berdampak langsung pada pelonggaran kontrol internasional dalam penggunaan ganja lebih lanjut. Sebab, pemerintah setiap negara masih memiliki yuridiksi tentang pengklasifikasian ganja.

Produk Terkait: Jual Produk Herbal

Pencabutan yang dilakukan oleh PBB ini dianggap oleh banyak negara sebagai kemenangan simbolis bagi para pendukung perubahan kebijakan narkoba yang mengatakan bahwa hukum internasional mengenai ganja sebagai tanaman narkotika sudah tidak ketinggalan zaman. PBB sendiri sebenarnya sudah berupaya memasukkan ganja sebagai tanaman obat atau medis, dan pada Januari 2019 sudah mengeluarkan enam rekomendasi yang berkaitan dengan pendaftaran ganja dalam pengendalian obat PBB.

Salah satu poin tersebut menyatakan bahwa senyawa cannabidiol yang berasal dari salah produk turunan ganja merupakan senyawa yang tidak memabukkan. Karena itu, tidak tunduk pada hukum internasional. Cannabidiol atau CBD dianggap telah banyak  berperan penting dalam terapi kesehatan selama beberapa tahun terakhir serta mendorong indutsri senilai milyaran dolar. Pemungutan yang dilakukan PBB ini sendiri baru dapat terwujud sekarang sebab masih banyak negara yang membutuhkan waktu untuk memelajari pencabutan ganja sebagai tanaman obat yang berbahaya.

Dari beberapa negara yang mendukung seperti Ekuador mendesak supaya rekomendasi WHO ini segera diwujudkan dalam bentuk produksi, penjualan, dan penggunaan yang harus mempunyai peraturan yang menjamin praktek yang baik, berkualitas, inovatif, dan mendukung perkembangan penelitian. Negara lain yang mendukung adalah Amerika Serikat namun dengan catatan peredaran dan penggunaan ganja tetap harus di bawah pengawasan obat internasional karena ganja masih terus menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan di masyarakat.

Karena itu, AS meminta ganja tetap dimasukkan ke Daftar Konvensi Tunggal Narkotika. Adapun negara-negara yang menolak seperti Cile dan Jepang berpendapat bahwa ganja dapat meningkatkan depresi, defisit kognitif, kecemasan, dan gejala psikotik lainnya. Hingga sejauh ini, 50 negara telah mengadopsi aturan ganja sebagai tanaman obat sementara Kanada, Uruguay, dan 15 negara bagoan di AS telah melegalkannya untuk tujuan rekreasi. Hal demikian sedang akan dilakukan Meksiko dan Luksemburg.

Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

Bagaimana dengan di Indonesia?

Pada 3 Februari 2020 Kementerian Pertanian melalui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah meneken beleid yang memasukkan ganja sebagai salah satu tanaman obat binaan. Namun karena menimbulkan kontroversi Keputusan Menteri Pertanian Nomor 104 Tahun 2020 itu segera dicabut. Di Indonesia sendiri ganja merupakan salah  satu jenis tanaman obat psikotropika, dan tercantum pada Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511 Tahun 2006. Karena itulah, sejak 2006, pemerintah telah memusnahkan ganja-ganja yang ditanam.

Sesuai dengan UU Nomor 13 Tahun 2020 tentang holtikultura, budi daya tanaman yang merugikan kesehatan masyarakat hanya dapat dilakukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau ilmu pengetahuan tertentu, dan pengembangannya ditentukan oleh undang-undang. Ketika ganja akhirnya dicabut oleh PBB dari daftar tanaman obat terlarang, pemerintah diminta mulai mempertimbangkan penggunaannya untuk keperluan medis di Indonesia. Demikian yang disuarakan oleh Koalisi Advokasi Narkotika untuk Kesehatan pada 3 Desember 2020. Mereka meminta pemerintah menerbitkan regulasi medis untuk ganja, dan tidak melihat lagi pada Konvensi Tunggal Narkotika 1961.

Lalu Seperti Apa Manfaat Ganja Bagi Kesehatan?

Setelah tadi kita membahas mengenai ganja yang oleh PBB tidak dianggap sebagai tanaman obat berbahaya tentu banyak Sahabat Sehat yang bertanya apa manfaat ganja sehingga banyak orang meminta ganja dilegalkan sebagai salah satu pengobatan medis?

Dilansir dari CNN Indonesia yang mengutip beberapa sumber berupa jurnal-jurnal penelitian terungkap bahwa ganja mempunyai beberapa manfaat bagi kesehatan. Di beberapa negara ganja digunakan sebagai obat depresan karena mengandung zat Tetrahidrokanibinol atau THC, yaitu salah satu dari 400 zat kimia yang dapat menyebabkan efek perubahan suasana dalam hati. Ganja juga dapat membantu menenangkan kecemasan seseorang namun dengan catatan, dosisnya harus tepat. Berdasarkan penelitian Virgina Commonwealth University ganja disebut dapat menghentikan serangan epilepsi.

Manfaat lainnya ternyata ganja disebut dapat memperlambat penyakit Alzheimer yang menyerang otak, mematikan gen ‘Id-1’ yang digunakan sel kanker untuk menyebar ke seluruh tubuh, mengurangi gejala serta rasa sakit yang disebabkan oleh multiple sclerosis atau penyakit yang menyerang saraf-saraf pusat seperti saraf otak, sumsum tulang belakang, dan saraf optik. Manfaat lainnya adalah ganja disebut mampu berinteraksi dengan sel-sel dalam tubuh yang memainkan peran penting dalam fungsi usus dan respons imun.

Selain Manfaat, Apakah Ada Dampak Buruk yang Dihasilkan?

Meski kenyataannya mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan melalui beberapa penelitian, kenyataannya tanaman obat ini juga mempunyai dampak yang buruk bagi kesehatan. Beberapa risiko untuk kesehatan itu seperti penggunanya mengalami halusinasi dan hilang kendali. Bahkan pada tingkat paling parah, penggunaan ganja secara berlebihan juga bisa membuat orang mengalami gangguan jiwa. Karena itulah, ganja sangat dilarang terutama bagi anak muda. Ganja juga memiliki kadar bahan aditif yang bisa menyebabkan ketergantungan dan berujung overdosis. Di sisi lain kecanduan tersebut dapat berujung pada tindakan kriminal. Jika ketahuan memiliki ganja, pemiliknya dapat dituntut penjara minimal 4 tahun.

Ganja juga dapat berisiko menyebabkan gangguan paru-paru dibandingkan dengan merokok. Konsumsi 3-4 ganja sama berbahayanya dengan mengonsumsi 20 puntung rokok. Tak hanya itu, ganja ternyata bisa menganggu sistem reproduksi seperti mengurangi jumlah pada sperma pada pria serta membuat siklus menstruasi pada wanita menjadi tidak teratur. Indonesia sendiri menggolongkan ganja sebagai narkotika golongan I berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dalam UU ini ganja setara dengan sabu, kokain, opium, dan heroin. Izin penggunaan narkotika hanya diperbolehkan untuk hal-hal tertentu, dan bukan untuk konsumsi umum.

Baca Juga: Ingin Berhenti Merokok? Konsumsilah 6 Makanan Berikut Ini

Demikianlah mengenai ganja yang disetujui oleh PBB sebagai tanaman obat tidak berbahaya, dan bisa digunakan untuk kegiatan medis. Meski bermanfaat untuk kesehatan, ganja bagaimana pun tetap mempunyai dampak buruk untuk tubuh sehingga penggunaannya tidak boleh sembarangan. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai ganja dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

Referensi:

  1. Putri R. PBB Cabut Ganja dari Narkoba Berbahaya, Izinkan untuk Obat Medis – Tirto.ID [Internet]. tirto.id. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://tirto.id/pbb-cabut-ganja-dari-narkoba-berbahaya-izinkan-untuk-obat-medis-f7Ha
  2. Widyastuti R. PBB Resmi Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya [Internet]. Tempo. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://bisnis.tempo.co/read/1411250/pbb-resmi-hapus-ganja-dari-daftar-narkotika-paling-berbahaya
  3. Indonesia C. Direstui PBB, RI Didorong Terbuka Gunakan Ganja untuk Medis [Internet]. nasional. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201203135502-20-577550/direstui-pbb-ri-didorong-terbuka-gunakan-ganja-untuk-medis
  4. Stefanie C. Mengenal Guna dan Bahaya Ganja untuk Kesehatan [Internet]. gaya hidup. 2020 [cited 4 December 2020]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200829090918-255-540574/mengenal-guna-dan-bahaya-ganja-untuk-kesehatan

 

Chat Asisten ProSehat aja