Telp / SMS / WhatsApp : 0811-18-16-800

Author Archive for: Zueldi

Zueldi

About Zueldi

Showing 11–20 of 548 results

  • Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti […]

    Persiapan yang Diperlukan Sebelum Pembiusan atau Anestesi

    Mendengar kata operasi atau bedah memang terdengar menakutkan bagi sejumlah pasien yang tengah menjalani pengobatan. Sebelum pasien melakukan pembedahan, baik pembedahan besar atau pembedahan kecil diperlukan anestesi atau pembiusan. Anastesi berasal dari bahasa Yunani yang artinya An– yaitu tidak atau tanpa dan Aesthetos yang artinya persepsi atau kemampuan untuk merasakan. Secara umum anestesi dapat berarti suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika melakukan prosedur pembedahan (operasi) dan atau tindakan lainnya yang menimbulkan rasa nyeri pada tubuh.

    Umumnya, anestesi pada pembedahan besar dilakukan oleh ahli anestesi yaitu Dokter Spesialis Anestesi. Peran seorang Dokter Anestesi sangatlah penting mulai dari sebelum pembedahan yaitu memastikan bahwa kondisi pasien saat itu memungkinkan untuk dilakukan tindakan pembiusan dan tindakan operasi. Sedangkan pada saat tindakan operasi, seorang Dokter Anestesi berperan agar pasien nyaman saat tindakan operasi, dengan cara memastikan dan memantau pasien dalam keadaan mati rasa, pasien dalam keadaan tidak sadar atau tertidur saat pembedahan dan memantau rasa sakit saat pembedahan berlangsung (dengan memantau monitor tanda-tanda vital pasien). Sedangkan peran setelah prosedur anestesi, seorang Dokter Anestesi memastikan pasien sadar kembali setelah dilakukan pembiusan, meminimalkan efek samping dari pembiusan dan memantau tanda-tanda vital pasien setelah tindakan pembiusan serta memanajemen rasa sakit yang mungkin timbul akibat pembedahan.

    Peran Dokter anestesi sangatlah penting dalam kesuksesan suatu operasi. Namun untuk tindakan-tindakan pembedahan ringan yang hanya memerlukan anestesi lokal, tidak selalu dikerjakan oleh Dokter Spesialis Anestesi namun Dokter Umum juga dapat melakukan tindakan tersebut sesuai dengan kompetensi Dokter Umum.

    Cara kerja anestesi yaitu dengan cara mem-block sinyal pada jaringan saraf dari rasa sakit akibat tindakan medis yang diberikan (misalnya, pada kasus pembedahan). Jenis anestesi sangat beragam, berikut ini jenis-jenis anestesi yang umumnya digunakan:

    1. Anestesi lokal
    2. Anestesi regional
    3. Anestesi umum atau general

    Anestesi lokal

    Anestesi lokal digunakan pada tindakan medis yang sifatnya minor (operasi kecil), pada tindakan yang dilakukan dengan anestesi lokal maka pasien akan tetap sadar dan terbangun. Misalnya anestesi pada tindakan pencabutan gigi (penyuntikan, penyemprotan atau pengolesan anestesi lokal hanya di bagian gusi pada gigi yang mau dicabut), atau tindakan medis kulit wajah pada perawatan wajah menggunakan anestesi krim yang dioles pada bagian wajah yang akan ditindak.

    Anestesi regional

    Pada anestesi regional, bagian tubuh yang mati rasa akan lebih luas dibandingkan anestesi lokal. Namun, pasien masih dalam keadaan sadar. Misalnya pada anestesi operasi sesar (bagian saraf yang diblok adalah saraf perifer, epidural dan saraf spinal. Namun yang sering dipakai pada kasus anestesi operasi sesar adalah anestesi regional epidural) dimana pasien akan merasakan mati rasa di bagian pinggang, perut sampai ujung kaki. Pemberian anestesi ini dengan cara penyuntikan di bagian sumsum tulang belakang.

    Anestesi umum atau general

    Anestesi umum dilakukan untuk tindakan operasi yang lebih besar. Pada kondisi ini, pasien dalam keadaan tertidur atau tidak sadar. Contoh operasi besar yang dilakukan dengan bius total misalnya operasi otak, operasi jantung, operasi pembedahan perut. Anestesi umum atau bius total dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara inhalasi (menghirup gas yang berisi obat anestesi) dan suntikan melalui intravena atau pembuluh darah.

    Sebelum melakukan tindakan anestesi di atas, tentunya ada beberapa prosedur atau persiapan yang harus dilakukan yaitu :

    1. Menentukan apakah pasien yang akan melakukan tindakan anestesi tersebut dapat dilakukan anestesi. Misalnya:
    • Pasien mempunyai riwayat alergi terhadap suatu obat tertentu.
    • Pasien memiliki alergi atau infeksi di area yang akan diinjeksikan (misalnya pada pasien dengan anestesi epidural, pasien memiliki luka pada tulang belakang).
    • Pasien menderita nyeri punggung kronik atau disebut dengan LBP (Low Back Pain).
    • Riwayat pengobatan yang diberikan pasien misalnya, pasien sedang mengonsumsi obat-obatan pengencer darah seperti aspirin, penggunaan obat nyeri yang berlangsung lama.
    • Riwayat penyakit pasien atau kondisi pasien saat ini yang tidak memungkinkan untuk dapat dilakukan anestesi, misalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung tidak terkontrol, hipovolemi, diabetes tidak terkontrol, usia pasien yang terlalu tua.
    1. Tes Darah

    Sebelum melakukan tindakan pembedahan dan anestesi, pasien diminta untuk melakukan tindakan tes laboratorium darah untuk menilai jumlah Hemoglobin (Hb) atau jumlah sel darah merah untuk mempersiapkan apakah pasien memerlukan transfusi darah selama operasi berlangsung, serta menilai apakah jumlah leukosit (penanda infeksi) terlalu tinggi misalnya pada pasien sepsis (jumlah bakteri pada pembuluh darah terlalu tinggi) maka anestesi total tidak dapat dilakukan.

    1. Elektrokardiogram (EKG)

    Pemeriksaan EKG atau rekam jantung untuk menilai apakah pasien mempunyai kelainan listrik jantung. Pada pasien yang menderita kelainan listrik pada jantung maka akan dipertimbangkan apakah dapat dilakukan atau tidak prosedur anestesi tersebut.

    1. Puasa sebelum tindakan anestesi umum dan tindakan pembedahan

    Pada umumnya puasa dilakukan sebelum tindakan anestesi umum atau bius total dan pembedahan bertujuan untuk mengosongkan lambung. Pengosongan lambung bertujuan untuk meminimalisir masuknya makanan dari lambung ke paru-paru, karena pada saat anestesi maka usus akan berhenti bergerak sehingga memungkinkan makanan akan masuk ke dalam sistem pernapasan dan menghambat jalan napas. Untuk itu, dokter sering kali menyarankan untuk melakukan puasa minimal 8 jam. Namun, pada kasus-kasus tertentu misalnya operasi emergensi atau darurat yang memerlukan operasi segera, jarang dilakukan persiapan puasa.

    EFEK SAMPING YANG MUNGKIN TIMBUL SETELAH ANESTESI

    Pada umumnya, anestesi jarang sekali memberikan efek samping pada pasien, terutama apabila pasien hanya melakukan anestesi lokal saja atau kondisi pasien dalam keadaan baik. Efek samping yang timbul dapat bervariasi antara satu pasien dengan yang lain, misalnya usia pasien, riwayat penyakit pasien, respons tubuh seseorang terhadap obat-obatan yang diberikan selama pembiusan, riwayat pasien dalam mengkonsumsi obat-obatan pengencer darah, riwayat kebiasaan atau gaya hidup pasien misalnya mengkonsumsi alkohol, rokok atau malah mengonsumsi obat-obatan terlarang, yang jelas meningkatkan risiko terjadinya efek samping setelah anestesi dilakukan. Namun, pada pasien dalam kondisi sehat, tidak menutup kemungkinan untuk timbul efek samping setelah anestesi yang harus tetap diantisipasi. Misalnya  menggigil, nyeri pada tenggorokan (pada anestesi total dengan alat bantu napas), infeksi pada saluran napas (pneumonia), nyeri kepala, efek bingung atau kehilangan ingatan sementara (biasa terjadi pasien dengan usia tua), mual dan muntah.

    instal aplikasi prosehat Referensi:

    1. (2018). Prepare yourself mentally and physically before surgery. [online] Available at: health24.com/Medical-schemes/Hospitals/Prepare-yourself-mentally-and-physically-before-surgery-20150421 [Accessed 7 Dec. 2018].
    2. Newman, T. and Deborah Weatherspoon, C. (2018). General anesthesia: Side effects, risks, and stages. [online] Medical News Today. Available at: medicalnewstoday.com/articles/265592.php [Accessed 7 Dec. 2018].
    3. uk. (2018). General anaesthesia. [online] Available at: nhs.uk/conditions/general-anaesthesia/ [Accessed 7 Dec. 2018].
    4. (2018). What Is General Anesthesia?. [online] Available at: webmd.com/a-to-z-guides/what-is-general-anesthesia#1 [Accessed 7 Dec. 2018].
    5. Zambouri, A. (2018). Preoperative evaluation and preparation for anesthesia and surgery. [online] PubMed Central (PMC). Available at: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2464262/ [Accessed 7 Dec. 2018].
    Read More
  • Mendengar kata ‘bius’ mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Pembiusan sendiri atau di dalam dunia medis disebut dengan istilah anestesi, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “anaesthesia” yang berarti tidak dapat merasakan, dari kata tersebut dapat diartikan bahwa anestesi adalah suatu kondisi dimana terjadi kehilangan sensasi atau kesadaran secara temporari/ sementara akibat pengaruh obat-obatan anestesi […]

    Anestesi Umum/Bius Total, Bagaimana Proses dan Persiapannya?

    Mendengar kata ‘bius’ mungkin terdengar menakutkan bagi sebagian orang. Pembiusan sendiri atau di dalam dunia medis disebut dengan istilah anestesi, yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “anaesthesia” yang berarti tidak dapat merasakan, dari kata tersebut dapat diartikan bahwa anestesi adalah suatu kondisi dimana terjadi kehilangan sensasi atau kesadaran secara temporari/ sementara akibat pengaruh obat-obatan anestesi dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Anestesi memiliki hubungan yang erat dengan dunia kedokteran terutama dalam proses operasi atau pembedahan itu sendiri.

    Secara umum, anestesi dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu anestesi lokal, anestesi regional, dan anestesi umum. Dokter anestesi akan melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien dan akan menentukan tindakan anestesi yang sesuai dengan kondisi pasien dan prosedur operasi yang akan dilakukan.

    Anestesi umum atau yang sering disebut sebagai bius total merupakan kondisi yang dibuat untuk menimbulkan analgesia (menghilangkan rasa nyeri), amnesia untuk menghilangkan memori selama proses operasi, karena tentunya pasien tidak ingin mengingat tindakan yang dilakukan pada saat operasi agar pasien merasa lebih nyaman, dan menghilangkan kesadaran pasien.

    Anestesi sering digunakan pada operasi-operasi yang tidak dapat dijangkau dengan anestesi lokal maupun regional, misal pada kondisi operasi besar seperti operasi otak, operasi tulang belakang, pembedahan pada jantung, cangkok ginjal atau pada lokasi pembedahan yang sulit dijangkau dengan anestesi lokal maupun regional, misal pada pengangkatan tumor payudara, pengangkatan tiroid, pengangkatan amandel, dan lain-lain.

    Jenis Obat untuk Anestesi Umum

    Terdapat empat jenis obat yang biasanya digunakan pada anestesi umum. Pertama, merupakan  obat-obat yang bersifat sedatif yang berfungsi menidurkan dan mempertahankan pasien dalam kondisi tidur. Kedua, obat-obatan anti-nyeri yang berfungsi menjaga pasien agar tidak merasakan nyeri saat pembedahan, karena rangsang nyeri dapat membangunkan pasien dan membuat kondisi pasien menjadi tidak stabil.

    Ketiga, obat-obatan amnestic dan anxiolitik yang memiliki fungsi untuk menghilangkan ingatan pasien selama proses pembedahan karena proses pembedahan bukan merupakan hal yang menyenangkan untuk pasien dan memberi pasien kondisi yang lebih tenang selama proses pembiusan. Keempat, obat pelemas otot yang berfungsi untuk melemaskan otot pasien sehingga pada saat operasi, dokter bedah dapat leluasa melakukan manuver pembedahan, namun obat pelemas otot ini tidak selalu digunakan setiap operasi.

    Pada proses anestesi sendiri, pasien akan dipersiapkan terlebih dahulu untuk menjalani pembiusan, pasien akan diminta untuk puasa umumnya 8 jam sebelum tindakan operasi, puasa ini merupakan persiapan yang penting karena pada proses pembiusan, kondisi lambung harus dalam keadaan kosong apabila di lambung masih terdapat makanan, makanan tersebut berisiko masuk ke jalan napas pasien sehingga dapat mengganggu fungsi pernapasan.

    Pasien akan diberikan cairan melalui infus, dan dipersiapkan kondisi agar optimal saat proses operasi, termasuk penjelasan mengenai tindakan pembiusan yang akan dilakukan oleh dokter anestesi. Bagi pasien yang memiliki riwayat alergi atau riwayat asma wajib menginformasikan kondisi tersebut ke tim medis, karena reaksi alergi sangat dihindari pada proses pembiusan karena dapat membahayakan kondisi pasien maka informasi mengenai alergi menjadi sangat penting agar dokter dapat menghindari obat-obatan yang memicu alergi pada proses pembiusan dan pembedahan.

    Pada saat akan memasuki kamar operasi, pasien akan diberikan obat penenang karena wajar bila pasien yang akan dioperasi akan merasa tegang (nervous) dan kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap tanda vital pasien. Setelah tim dan peralatan untuk operasi lengkap, pasien akan dilakukan pembiusan dengan obat anestesi, baik melalui jalan infus maupun dengan dihirup melalui masker, kemudian setelah pasien tidak sadar, pasien akan diberikan alat bantu napas berupa selang yang akan dipasang di jalan napas agar napas tetap terkontrol dan stabil, dan setelah itu proses pembedahan akan dimulai. Selama proses pembedahan, pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim anestesi dan akan dikondisikan agar semua sistem di tubuh pasien dalam keadaan stabil.

    Setelah proses pembedahan selesai, obat-obat anestesi akan distop dan pasien akan dibangunkan, alat bantu napas akan dilepaskan, setelah pasien bangun, kesadaran pulih dan kondisi sudah stabil, pasien akan dibawa ke ruang pemantauan pasca pembedahan untuk tindakan pengawasan, lalu setelah kondisi betul-betul stabil dan aman, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Pada periode setelah operasi selesai, pasien akan diberikan obat anti-nyeri untuk mengurangi nyeri pasca pembedahan, apabila pasien masih merasa nyeri yang mengganggu harap menginformasikan kepada tim medis agar diberikan tambahan obat anti-nyeri.

    Risiko Tindakan Anestesi Umum

    Setiap tindakan pada dunia kedokteran, pasti memiliki risiko dan efek samping. Namun tidak semua efek samping ini timbul dan tidak semua efek samping membahayakan, berkaitan dengan itu, tindakan anestesi umum pun memiliki risiko dan efek samping.

    Pada anestesi umum, salah satu risiko yang ditakutkan adalah kegagalan dalam pengontrolan jalan napas pasien, karena dapat berakibat pasien kekurangan oksigen dan membahayakan pasien, risiko ini dapat diminimalisir dengan teknik dan skill yang baik, sehingga dokter anestesi dapat mengontrol jalan napas pasien dengan baik.

    Efek samping yang umum dirasakan pasien adalah rasa tidak nyaman pada mulut dan tenggorokan karena selama pembiusan dipasang selang untuk membantu pernapasan. Tapi jangan khawatir dengan tindakan anestesi, karena risiko kematian akibat tindakan anestesi saat ini sangatlah jarang ditemukan, pada awal tahun 2000 penelitian di Amerika Serikat mengatakan kematian pasien akibat tindakan anestesi adalah 1 dari 100.000 tindakan anestesi. Maka dapat disimpulkan bahwa tindakan anestesi pada operasi  merupakan tindakan yang aman.

    instal aplikasi prosehat

    Daftar Pustaka

    1. Adler, A. (2018). General Anesthesia: General Considerations, Preoperative Period, Intraoperative Period. [online] Emedicine.medscape.com. Available at: emedicine.medscape.com/article/1271543-overview [Accessed 7 Dec. 2018].
    2. Li, G., Warner, M., Lang, B., Huang, L. and Sun, L. (2009). Epidemiology of Anesthesia-related Mortality in the United States, 1999–2005. Anesthesiology, 110(4), pp.759-765.
    3. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
    4. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
    Read More
  • “Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?” Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada […]

    Anestesi pada Operasi Sesar

    “Melahirkannya normal atau sesar (caesar)?”

    Pertanyaan ini sepertinya menjadi salah satu pertanyaan wajib yang kerap dilontarkan saat teman atau kerabat kita baru saja dikaruniai buah hati. Menurut data riskesdas pada tahun 2010, tingkat persalinan secara sesar di Indonesia mencapai 15,3% dari seluruh persalinan yang ada. Operasi sectio caesarea ini sering dilakukan apabila terdapat halangan pada persalinan normal, dan juga dapat dilakukan apabila pasien dan keluarga yang meminta.

    Tentunya pada setiap proses operasi sesar akan melibatkan tindakan anestesi atau pembiusan, tindakan anestesi regional, baik spinal maupun epidural lebih direkomendasikan daripada anestesi umum. Hal ini didasari adanya perubahan fisik pada ibu hamil, dimana obat-obatan yang digunakan pada anestesi umum dapat berisiko mengganggu pernapasan janin setelah lahir. Selain itu, terdapat pula perubahan pada pengosongan lambung ibu yang menjadi lebih lambat, sehingga berisiko menyebabkan masuknya cairan lambung ke paru-paru yang dapat menyebabkan infeksi.

    Anestesi regional adalah pembiusan untuk menghilangkan sensasi dari sebagian area di tubuh, misal menghilangkan sensasi dari pusar ke bawah, atau menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan yang berkaitan. Anestesi regional ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu blok sentral dan blok perifer. Blok sentral ialah pengeblokan pada saraf pusat yaitu saraf tulang belakang, proses ini dapat meliputi blok spinal dan epidural. Blok Perifer merupakan tindakan pengeblokan saraf tepi, misalnya pada pengeblokan saraf brakialis untuk menghilangkan sensasi dari lengan atas sampai tangan pada salah satu sisi yang berkaitan. Anestesi regional yang umum digunakan pada proses sesar adalah spinal.

    Setiap tindakan pembiusan dan pembedahan pasti diperlukan persiapan agar operasi berjalan lancar dan aman. Pada 8 jam sebelum tindakan pembiusan, pasien akan dipuasakan terlebih dahulu, hal ini bertujuan untuk mengosongkan lambung yang mencegah masuknya cairan lambung ke paru-paru, terutama apabila pasien membutuhkan anestesi umum karena anestesi regional gagal dilakukan. Tim anestesi akan melakukan pemeriksaan dan evaluasi.

    Pasien sebaiknya mengutarakan riwayat penyakit yang dideritanya, riwayat alergi, dan riwayat kebiasaan apabila ada konsumsi zat-zat seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan lainnya untuk mencegah terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan saat pembiusan. Selama persiapan, pasien boleh berbaring dengan posisi miring ke kiri, hal ini bertujuan agar melancarkan aliran darah balik ke jantung, serta membantu mengurangi risiko tekanan darah turun setelah proses pembiusan.

    Sebelum tindakan operasi sesar dimulai, pasien akan dipindahkan ke ruang operasi. Sesaat sebelum pembiusan dimulai, pasien akan diberi obat untuk mengurangi asam lambung dan anti mual. Lalu, setelah itu akan dilakukan pembiusan. Pada anestesi spinal, pasien akan diminta duduk atau tidur miring. Kemudian dokter anestesi akan meminta pasien untuk menundukkan kepalanya agar dokter dapat lebih mudah melakukan perabaan tulang belakang. Setelah itu dokter akan membersihkan area tulang belakang yang akan disuntik dengan antiseptik, lalu dokter akan menusukkan jarum suntik khusus.

    Kemudian memasukkan obat anestesi ke cairan serebrospinal  (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang), kemudian pasien diminta untuk tidur telentang. Setelah itu, pasien akan merasakan kesemutan pada daerah pinggang ke bawah, kaki akan terasa berat dan tidak bisa digerakkan, juga daerah yang dibius tidak akan merasakan nyeri lagi. Setelah proses tindakan pembiusan selesai, dokter kebidanan akan melakukan tindakan operasi, selama tindakan operasi pasien akan dipantau dengan ketat oleh tim medis. Apabila pasien merasa sesak, atau mual, atau ada keluhan lainnya, harus segera dilaporkan ke tim medis.

    Selama proses operasi, pasien akan merasakan kalau ada yang ditarik, atau perut terasa digoyang-goyangkan namun tidak terasa nyeri. Selama operasi, pasien akan tetap sadar, karena setelah bayi lahir, bayi yang sudah dibersihkan akan diberikan kepada ibunya dan tentunya ini adalah momen kebahagiaan para ibu.

    Setelah operasi selesai, umumnya pasien masih belum dapat merasakan sensasi pada area yang dibius, setelah satu setengah jam dari waktu pembiusan, pasien akan mulai merasakan sensasi kembali secara perlahan, kaki pun perlahan-lahan mulai bisa digerakkan. Saat obat anestesi berangsur-angsur habis, dokter akan memberikan obat anti nyeri untuk mengurangi nyeri pasca operasi. Apabila pasien masih merasakan nyeri, jangan ragu untuk mengutarakannya kepada tim medis karena dokter anestesi akan memberikan obat anti nyeri tambahan.

    Terdapat beberapa hal penting yang harus dipatuhi pasien setelah prosedur pembiusan pada operasi caesar. Pertama, jangan mengangkat kepala selama 8-12 jam setelah pembiusan, karena hal ini dapat menimbulkan nyeri kepala yang hebat dan sangat mengganggu, tetapi untuk gerakan seperti miring ke kiri maupun kanan masih diperbolehkan asalkan tidak mengangkat kepala.

    Efek Samping Bius (Anestesi)

    Setiap tindakan pembiusan memiliki risiko dan efek samping. Pada anestesi spinal, efek samping yang sering terjadi adalah mual, karena pembiusan spinal memiliki risiko penurunan tekanan darah yang cukup besar. Oleh karena itu, tim anestesi baik dokter dan perawat anestesi akan melakukan pemantauan ketat selama proses pembiusan dan pembedahan untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diinginkan.

    Selain mual, efek samping yang dapat terjadi adalah nyeri kepala, tetapi dapat diatasi dengan tidak mengangkat kepala, kencing juga menjadi terganggu karena proses spinal, namun jangan khawatir karena pasien akan dipasang kateter urin. Efek samping yang jarang terjadi seperti reaksi alergi, kejang, dan kerusakan pada saraf.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Ronald D. Miller., Manuel C. Pardo. Basics of Anesthesia. 7th ed. Elsevier; 2018.
    2. Latief S, Suryadi K, Dachlan M. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2018.
    3. Suryati T. (ANALISIS LANJUT DATA RISKESDAS 2010) PERSENTASE OPERASI CAESARIA DI INDONESIA MELEBIHI STANDARD MAKSIMAL, APAKAH SESUAI INDIKASI MEDIS? [Internet]. Ejournal.litbang.depkes.go.id. 2012 [cited 8 December 2018]. Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/hsr/article/view/3031
    4. Gymrek R. Local and Regional Anesthesia: Overview, Indications, Contraindications [Internet]. Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 8 December 2018]. Available from: emedicine.medscape.com/article/1831870-overview

     

    Read More
  • Sebelum membahas jauh mengenai anestesi pada lahiran normal, kita harus ingat bahwa mengandung dan memiliki anak merupakan impian hampir seluruh wanita di dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang memiliki ketakutan jika hamil, yaitu ketakutan saat melahirkan nanti, sebagian takut merasa nyeri yang hebat saat melahirkan apalagi dengan apa yang beredar di masyarakat bahwa nyeri […]

    Anestesi pada Lahiran Normal, Mungkinkah?

    Sebelum membahas jauh mengenai anestesi pada lahiran normal, kita harus ingat bahwa mengandung dan memiliki anak merupakan impian hampir seluruh wanita di dunia ini. Namun, tak sedikit pula yang memiliki ketakutan jika hamil, yaitu ketakutan saat melahirkan nanti, sebagian takut merasa nyeri yang hebat saat melahirkan apalagi dengan apa yang beredar di masyarakat bahwa nyeri melahirkan adalah nyeri yang paling hebat atau melahirkan adalah proses mempertaruhkan nyawa, yang sebenarnya ada benarnya.

    Namun, terobosan dunia kedokteran mengenai sectio caesarea yang aman telah berkembang sejak awal abad ke-19, seakan membawa angin segar bagi masalah persalinan. Namun, masalah baru muncul dimana banyak keyakinan di masyarakat bahwa persalinan normallah yang menjadikan seseorang wanita yang sesungguhnya ditambah beredarnya isu-isu bahwa adanya komplikasi perkembangan atau pertumbuhan pada anak yang dilahirkan secara sectio caesarea yang menyebabkan banyak wanita masih mendambakan persalinan normal, sangat ingin melahirkan normal tapi takut terhadap rasa nyerinya demikian  permasalahan yang menuntun pada pertanyaan, apakah ada cara mengurangi rasa sakitnya?

    Apakah anestesi dapat dilakukan pada lahiran normal? Setiap wanita merasakan nyeri saat melahirkan dengan tingkat yang berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhi rasa nyeri tersebut, termasuk ukuran dan posisi janin, kekuatan kontraksi dan ambang atau batasan nyeri yang mampu ditoleransi masing-masing orang. Namun, ada pula yang tidak memerlukan pereda nyeri atau anestesi saat melahirkan, beberapa hanya dengan relaksasi dan latihan pernafasan, hipnotis dan masase atau pemijatan.

    Anestesi berasal dari istilah anaesthesia atau loss of sensation yang berarti hilang rasa atau sensasi. Rasa atau sensasi yang dimaksud adalah semua sensasi yang mungkin dirasakan namun yang paling utama adalah sensasi nyeri. Anestesi secara cakupannya dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu anestesi lokal, anestesi regional, anestesi umum, sedasi dan kombinasi. Dari semua jenis anestesi tersebut yang sering digunakan dan dianggap aman ialah anestesi regional dengan epidural, blok spinal atau kombinasi keduanya, sedangkan dengan sedasi, efek yang dirasakan sangatlah sedikit bahkan tidak mampu membendung nyeri saat lahiran normal.

    Anestesi epidural telah ramai dipergunakan, di Britania misalnya diperkirakan setidaknya ada 100.000 kelahiran normal yang menggunakan anestesi epidural setiap tahunnya. Diperkirakan pula sekitar 60% atau 2,4 juta lahiran normal di seluruh dunia menggunakan anestesi ini atau kombinasi dengan blok spinal.

    Anestesi epidural dilakukan dengan cara memasang kateter (selang halus) melalui pembedahan kecil dengan bantuan anestesi lokal terlebih dahulu ke dalam rongga lumbar epidural (rongga tulang belakang di pinggang bagian bawah) kemudian obat-obatan anestesi lokal  atau opioid dimasukkan ke dalam. Sedangkan blok spinal dilakukan dengan cara penyuntikan obat-obatan tersebut pada lokasi yang sama. Pada anestesi epidural, hal ini akan menghilangkan rasa nyeri dari pinggang ke bawah tanpa memengaruhi fungsi motorik (gerak) sedangkan efeknya baru mulai dirasakan pada 10 hingga 20 menit kemudian.

    Pada anestesi blok spinal, rasa nyeri yang hilang mulai dari dada ke bawah dan efeknya lebih cepat (langsung). Namun, pada praktiknya anestesi epidural lebih sering digunakan, hal ini disebabkan anestesi epidural dapat digunakan selama apapun karena dosis obat dapat ditambah atau dikurangi secara leluasa sedangkan anestesi dengan blok spinal hanya dapat digunakan dengan durasi 1 hingga 2 jam. Sebagai sesama anestesi regional, umumnya kedua jenis anestesi ini memiliki komplikasi atau risiko yang sama pula, pada ibu misalnya, komplikasinya adalah sebagai berikut:

    • Efeknya dapat menyebabkan gangguan saat mengejan maupun kencing,
    • Jika efeknya dirasa hingga ke dada, hal ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan,
    • Jika jarum yang digunakan mencederai selaput pembungkus saraf tulang belakang, hal ini akan menyebabkan nyeri kepala hingga beberapa hari, namun dapat ditangani dengan obat-obatan.
    • Tekanan darah dapat turun mendadak, jika ini terjadi maka akan diberikan tambahan cairan dan obat-obatan yang dapat menaikkannya.
    • Anda juga dapat merasa pusing serta rasa mual saat atau setelah tindakan anestesi,
    • Jika jarum epidural menyentuh saraf tulang belakang, dapat menyebabkan sensasi tersengat listrik pada salah satu sisi kaki bahkan dapat menyebabkan cedera saraf,
    • Walaupun jarang, kemungkinan infeksi, bekuan darah atau abses epidural sangat mungkin terjadi
    • Pada blok spinal, efek dapat tiba-tiba berkurang, berbeda pada epidural yang dosisnya dapat ditambah untuk mengantisipasi kemungkinan itu terjadi.

    Sedangkan pada janin, komplikasinya adalah sebagai berikut:

    • Bayi Anda mungkin akan tertidur dan akan sangat menyulitkan pada inisiasi menyusui dini.
    • Penurunan mendadak dari tekanan darah ibu dapat mengakibatkan denyut jantung bayi dan laju pernafasannya melambat.

    Komplikasi-komplikasi atau risiko di atas dapat diperkecil dengan penilaian awal dari dokter untuk mengantisipasi hingga memberikan tatalaksana pencegahan sebelum proses lahiran normal. Penggunaan anestesi saat proses lahiran  normal bukanlah suatu kesalahan, justru Anda harus menyadari batas-batasan yang Anda punya, oleh  sebab itu, ketika Anda merasa tidak kuat jangan segan-segan mengemukakannya pada dokter untuk kemudian mendiskusikan alternatif-alternatif yang ada.

    Betapapun majunya atau menguntungkannya suatu tindakan kedokteran, tapi tetap tidak terlepas dari kemungkinan adanya komplikasi atau efek samping yang mungkin terjadi, terutama jika prosedur yang seharusnya dilakukan ternyata tanpa sengaja dilakukan secara keliru. Oleh sebab itu, penting untuk Anda berkonsultasi atau ditangani oleh orang yang tepat. Jadi, selamat mencoba dan mempertimbangkan apakah dalam proses lahiran normal,  Anda ingin menggunakan anestesi atau tidak, sebaiknya keputusan diambil bersama pasangan karena dukungan dari pasangan sangat membantu, terutama setelah berkonsultasi dengan dokter.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Anaesthesia Explained [Internet]. Oxford: Oxford University Hospital; 2016 [cited 9 December 2018]. Available from: ouh.nhs.uk
    2. Fyneface-Ogan S, Mato C, Anya S. Epidural anesthesia: Views and outcomes of women in labor in a Nigerian hospital. Annals of African Medicine. 2009;8(4):250.
    3. Anaesthesia for Labor and Delivery [Internet]. Intermountain Healthcarel [cited 9 December 2018]. Available from: intermountainhealthcare.org
    4. Moore M. Regional Anesthesia and Analgesia for Labor and Delivery. Survey of Anesthesiology. 2003;47(5):273.
    5. Using Epidural Anesthesia During Labor: Benefits and Risks [Internet]. American Pregnancy Association. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: americanpregnancy.org/labor-and-birth/epidural/
    Read More
  • Kata anestesi mungkin masih asing di telinga sebagian orang, kebanyakan dari kita lebih sering menggunakan kata bius untuk mendefinisikan penghilangan rasa nyeri. Kerap kali ketika dokter atau perawat ingin melakukan suatu tindakan yang berpotensi memberikan rasa nyeri misalnya; menjahit luka robek atau mencabut kuku, pertanyaan pertama yang kita lontarkan pastilah, “dibius kan, Dok?” Namun, sebenarnya […]

    Mengenal Anestesi dan Jenis-Jenisnya

    Kata anestesi mungkin masih asing di telinga sebagian orang, kebanyakan dari kita lebih sering menggunakan kata bius untuk mendefinisikan penghilangan rasa nyeri. Kerap kali ketika dokter atau perawat ingin melakukan suatu tindakan yang berpotensi memberikan rasa nyeri misalnya; menjahit luka robek atau mencabut kuku, pertanyaan pertama yang kita lontarkan pastilah, “dibius kan, Dok?” Namun, sebenarnya kata yang lebih tepat adalah anestesi, mengapa anestesi? Apa itu anestesi?

    Anestesi berasal dari kata anaesthesia yang dalam bahasa inggris berarti loss of sensation of atau hilang rasa, tentunya rasa atau sensasi yang dimaksud tidak hanya sensasi nyeri tapi juga rabaan dan sensasi lainnya.

    Anestesi bertujuan mencegah kita merasakan sensasi nyeri pada saat operasi atau tindakan diagnostik (tindakan mencari tahu penyakit). Secara umum cara kerjanya adalah dengan memblok jalur signal nyeri yang berjalan disepanjang jaringan saraf hingga ke otak. Tidak semua anestesi membuat kita tak sadar, anestesi dapat diberikan dengan berbagai cara pada berbagai area di tubuh.

    Anestesi saat ini sangat membantu proses operasi dan telah memberikan keuntungan yang sangat bagus. Anestesi pada masa sekarang juga dapat diberikan secara spesifik tergantung kebutuhan maupun jenis operasi yang akan dilakukan. Dalam melakukan tindakan anestesi, dokter biasanya akan mempertimbangkan bebarapa hal, antara lain riwayat operasi sebelumnya, kondisi kesehatan, reaksi alergi pada obat-obat tertentu dan risiko dari tindakan anestesi yang akan dilakukan.

    Sampai saat ini ada beberapa jenis anestesi yang dibagi berdasarkan cakupan kerjanya, masing-masing dapat dilakukan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan. Adapun jenis-jenisnya adalah sebagai berikut:

    Anestesi lokal, jenis anestesi ini akan memberikan sensasi mati rasa pada area tertentu di tubuh yang cakupannya kecil, dapat diberikan secara suntikan, semprotan atau olesan yang diberikan pada jaringan dekat lokasi operasi, jenis dan dosisnya bergantung pada jenis tindakan dan perkiraan durasi dari tindakan yang akan kita lakukan. Operasi-operasi yang dilakukan pun biasanya berupa operasi-operasi kecil seperti pencabutan kuku kaki, penjahitan luka robek yang tidak terlalu panjang atau pemotongan sesuatu dari kulit yang ukurannya tidak terlalu besar, seperti lipoma (akumulasi lemak) atau kutil. Pasien  akan tetap sadar namun bebas dari rasa sakit.

    Anestesi regional, tindakan anestesi regional dilakukan untuk jenis operasi yang lebih dalam dan lebih besar, biasanya daerah yang dianestesi meliputi bagian tubuh yang lebih besar, misalnya paha, lengan, bahu atau bahkan setengah tubuh seperti pada operasi sectio caesarea (operasi melahirkan) atau pada operasi kandung kemih. Caranya dengan menggunakan obat-obatan anestesi lokal yang disuntikkan pada pangkal serabut saraf dari bagian tubuh yang akan dioperasi. Hal yang sering dilakukan juga anestesi spinal dan epidural yaitu dengan menyuntikkan obat bius pada saluran tulang belakang sehingga menyebabkan mati rasa pada tubuh bagian bawah. Pada anestesi regional, pasien juga akan tetap sadar namun bebas dari rasa sakit.

    Anestesi umum, anestesi ini akan membuat Anda dalam kondisi tidur dan kehilangan kesadaran, namun kondisi tak sadar ini berbeda dengan kondisi tak sadar akibat sakit, kecelakaan atau dalam kondisi tidur normal. Pada beberapa jenis operasi, anestesi umum sangatlah penting. Kita akan tertidur dan tidak akan merasakan apa-apa saat prosedur sedang berlangsung. Sebelum operasi dimulai, dokter akan menyuntikkan obat anestesi melalui pembuluh darah dengan atau tanpa gas anestesi (obat anestesi dalam bentuk gas). Kemudian obat atau gas tadi akan dibawa ke otak melalui aliran darah dimana hal inilah yang menyebabkan kita kehilangan kesadaran. Ketika kadar obat berkurang di dalam darah maka kesadaran kita pun akan kembali secara bertahap dan seiring kembalinya kesadaran demikian pula sensasi akan mulai kembali dirasakan.

    Sedasi, adalah penggunaan obat-obatan anestesi atau sejenisnya dalam jumlah yang kecil sehingga dapat menurunkan level kesadaran pasien namun pasien masih dapat berkomunikasi secara verbal dan merasakan sentuhan-sentuhan halus, dengan kata lain tindakan ini menyebabkan pasien relaks secara fisik maupun mental yang umumnya digunakan pada prosedur diagnostik seperti endoskopi (meneropong saluran cerna). Kita sangat mungkin mengingat jalannya prosedur.

    Kombinasi, ada kalanya suatu tindakan anestesi tidak dapat berdiri sendiri atau digunakan berdampingan atau berurutan dengan jenis lainnya. Misalnya anestesi regional sering diberikan setelah anestesi umum untuk mengurangi nyeri pascaoperasi atau sedasi digunakan bersamaan dengan anestesi regional, dimana anestesi regional berguna untuk menghilangkan rasa nyeri sedangkan sedasi akan merelakskan.

    Lalu, kondisi-kondisi apa yang dapat menyulitkan saat Anda dalam kondisi dianestesi? Pertama, jika Anda adalah seorang perokok, hal ini disebabkan merokok mengurangi jumlah oksigen yang terkandung dalam darah, yang menyebabkan risiko Anda mengalami gangguan pernafasan saat operasi sangatlah besar. Kedua, kondisi gigi yang tidak bagus, hal ini sangat berisiko terutama pada kondisi anestesi umum dimana dokter akan memasang saluran tertentu melalui rongga mulut, proses pemasangannya dapat mencederai gigi sehingga ketika gigi Anda dalam kondisi rapuh maka kerusakan sangat mungkin terjadi. Ketiga, jika Anda memiliki penyakit kronis, seperti diabetes, hipertensi atau masalah lainnya, Anda harus memberitahukan kepada dokter, agar dokter dapat mempertimbangkan berbagai alternatif, karena tidak hanya terkait dengan penyakit yang Anda derita namun juga adanya kemungkinan interaksi dari obat-obatan yang Anda konsumsi.

    Anestesi apapun jenisnya sangatlah bergantung pada jenis tindakan yang akan dilakukan juga dengan pertimbangan kondisi tiap pasien. Betapapun begitu besarnya peran anestesi dalam dunia kesehatan terutama saat proses operasi namun efek samping atau risikonya tetaplah harus dipertimbangkan dengan matang.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi

    1. Types of Anaesthesia [Internet]. Australian and New Zealand College of Anaesthetists; 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: anzca.edu.au
    2. Anaesthesia Explained [Internet]. Dublin: College of Anaesthetists of Ireland, [cited 9 December 2018]. Available from: anaesthesia.ie
    3. Anaesthesia Explained [Internet]. Oxford: Oxford University Hospital; 2016 [cited 9 December 2018]. Available from: ouh.nhs.uk
    4. Anesthesia & Types of Anesthesia – Before and After Surgery – HealthCommunities.com [Internet]. Healthcommunities.com. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: healthcommunities.com/before-after-surgery/overview-types-anesthesia.shtml
    5. New Jersey Health System [Internet]. RWJBarnabas Health. 2018 [cited 9 December 2018]. Available from: rwjbh.org/treatment-care/surgery/anesthesiology/types-of-anesthesia/
    Read More
  • Pertanyaan yang sering terlontar ketika kita berhadapan dengan obat-obatan maupun tindakan medis lain yaitu: “Ada efek sampingnya tidak?” Yup, inilah yang acap kali menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi banyak orang, tak terkecuali dengan tindakan operasi yang memerlukan proses anestesi (bius). Mungkin Anda bertanya-tanya apakah anestesi (bius) memiliki efek samping jangka panjang pada tubuh. Simak ulasan […]

    Apakah Ada Efek Samping Jangka Panjang Bius Total?

    Pertanyaan yang sering terlontar ketika kita berhadapan dengan obat-obatan maupun tindakan medis lain yaitu: “Ada efek sampingnya tidak?” Yup, inilah yang acap kali menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi banyak orang, tak terkecuali dengan tindakan operasi yang memerlukan proses anestesi (bius). Mungkin Anda bertanya-tanya apakah anestesi (bius) memiliki efek samping jangka panjang pada tubuh. Simak ulasan di bawah ini:

    • Kapan anestesi umum digunakan? Apakah aman?

    Anestesi umum sangat aman. Bahkan jika pasien memiliki masalah kesehatan yang cukup signifikan, umumnya pasien dapat mentolelir obat-obatan anestesi umum tanpa masalah serius. Tetapi dengan obat atau prosedur medis apapun, Anda akan mengalami beberapa efek samping.

    • Apa efek samping jangka pendek yang mungkin terjadi?

    Sebagian besar efek samping anestesi umum terjadi segera setelah operasi dan tidak berlangsung lama. Setelah operasi selesai dan obat-obatan anestesi dihentikan, pasien akan perlahan-lahan terbangun di ruang operasi atau ruang pemulihan. Pasien mungkin akan merasa grogi dan sedikit bingung.

    Pasien mungkin juga merasakan salah satu dari efek samping berikut:

    • Mual dan muntah. Efek samping ini biasanya terjadi segera setelah prosedur, namun beberapa orang mungkin terus merasa sakit selama 1-2 hari. Obat anti mual dapat membantu jika pasien tidak tahan.
    • Mulut kering. Pasien mungkin merasa kering pada mulut ketika bangun. Selama pasien tidak terlalu mual, meminum air sedikit dapat membantu merawat mulut yang kering.
    • Sakit tenggorokan atau suara serak. Alat bantu napas yang dimasukkan ke dalam tenggorokan untuk membantu napas selama operasi dapat membuat tenggorokan sakit setelah diangkat.
    • Menggigil. Hal ini umum terjadi karena suhu tubuh pasien turun selama di kamar operasi. Dokter dan perawat akan memastikan suhu tubuh pasien tidak turun terlalu banyak selama operasi, namun pasien mungkin dapat menggigil saat terbangun setelah operasi dan merasa dingin. Menggigil juga dapat berlangsung selama beberapa menit hingga jam.
    • Kebingungan dan pikiran kabur. Ketika pertama kali bangun dari anestesi, pasien mungkin merasa bingung, mengantuk, dan berkabut. Hal ini biasanya berlangsung hanya beberapa jam, namun bagi sebagian orang terutama orang dewasa yang lebih tua, kebingungan ini dapat berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu.
    • Nyeri otot. Obat-obatan yang digunakan untuk mengendurkan otot-otot selama operasi dapat menyebabkan rasa sakit sesudahnya.
    • Gatal. Jika obat-obatan yang digunakan selama operasi ialah jenis narkotik (opioid), maka efek samping ini umum terjadi.
    • Masalah kandung kemih. Pasien mungkin mengalami kesulitan buang air kecil dalam waktu singkat setelah anestesi umum.
    • Pusing. Pasien mungkin merasa pusing saat pertama kali berdiri. Minum banyak cairan akan membantu pasien merasa lebih baik.1-4

     

    • Apakah efek samping jangka panjang yang mungkin terjadi setelah anestesi?

    Kebanyakan orang tidak akan mengalami efek samping jangka panjang. Namun, orang dewasa yang lebih tua mungkin mengalami efek samping yang bertahan lebih dari beberapa hari. Efek samping yang mungkin terjadi:

    • Delirium pasca operasi. Beberapa orang mungkin menjadi bingung, kehilangan arah, atau mengalami kesulitan mengingat hal-hal setelah operasi. Disorientasi ini bisa datang dan pergi, tetapi biasanya hilang sekitar satu minggu.
    • Disfungsi kognitif pasca operasi. Beberapa orang mungkin mengalami masalah memori yang sedang berlangsung atau jenis gangguan kognitif lainnya setelah operasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang berusia lebih dari 60 tahun, umumnya bisa terkena disfungsi. Pasien juga lebih mungkin terkena disfungsi jika memiliki riwayat stroke, penyakit jantung, penyakit paru-paru, penyakit Alzheimer, dan penyakit Parkinson.1,5

    Nah, apakah ulasan di atas sudah cukup menjawab rasa penasaran Anda? Jika belum, bisa ditanyakan lebih lanjut kepada dokter anestesi di rumah sakit Pondok Indah. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Side Effects of General Anesthesia : What to Expect – healthline.com/health/side-effects-of-general-anesthesia#longterm-side-effects , diakses pada tanggal 14-12-2018
    2. Going Under : Potensial Side Effects of General Anesthesia – medshadow.org/features/anesthesia-side-effects/ , diakses pada tanggal 14-12-2018
    3. Neurotoxicity of General Anesthetics : Cause for Concern – ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2784653/ , diakses pada tanggal 14-12-2018
    4. What to know abaout general anesthesia – medicalnewstoday.com/articles/265592.php , diakses pada tanggal 14-12-2018
    5. Effects of Anesthesia – asahq.org/whensecondscount/anesthesia-101/effects-of-anesthesia/ , diakses pada tanggal 14-12-2018
    Read More
  • Apakah Anda pernah dibius saat operasi? Berapa lama Anda tidak sadarkan diri saat itu? Lantas, apakah semua orang punya waktu yang sama untuk sadar setelah dibius? Mari kita bahas satu per satu pertanyaan tersebut. Berapa waktu pemulihan normal untuk anestesi umum? Kebanyakan orang bangun di ruang pemulihan segera setelah operasi namun tetap merasa lelah dan […]

    Berapa Lama Bangun (Sadar) Setelah Dibius?

    Apakah Anda pernah dibius saat operasi? Berapa lama Anda tidak sadarkan diri saat itu? Lantas, apakah semua orang punya waktu yang sama untuk sadar setelah dibius? Mari kita bahas satu per satu pertanyaan tersebut.

    • Berapa waktu pemulihan normal untuk anestesi umum?

    Kebanyakan orang bangun di ruang pemulihan segera setelah operasi namun tetap merasa lelah dan mengantuk selama beberapa jam setelahnya. Tubuh Anda memerlukan waktu kurang lebih 1 minggu untuk sepenuhnya menghilangkan obat-obatan anestesi dari tubuh, namun kebanyakan orang sudah tidak merasakan efek setelah 24 jam usai operasi. Dengan alasan tersebut, pasien yang baru saja mengalami operasi tidak direkomendasikan mengendarai mobil selama 24 jam setelah operasi. Bagi mereka yang memiliki masalah medis yang signifikan, operasi yang kompleks atau lama, atau usia lanjut dapat membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sadar setelah operasi.

    • Apakah saya dapat terbangun saat sedang dioperasi?

    Tidak. Meskipun hal ini kadang menjadi masalah nyata dan telah banyak menarik banyak perhatian orang, namun hal ini jarang sekali terjadi dalam praktik. Pemberian obat anestesi tidak akan selesai selama operasi berlangsung, dan para dokter juga memiliki pemantauan tambahan yang tersedia untuk memastikan apakah pasien masih terbius penuh atau tidak. Jika Anda memiliki masalah kesehatan mengenai anestesi (bius), diskusikan hal tersebut dahulu dengan dokter anestesi sebelum operasi dilakukan.

    • Bagaimana cara dokter membuat saya tertidur saat operasi?

    Banyak dokter anestesi yang akan menggunakan kombinasi dari obat-obatan untuk membuat pasien tertidur. Obat-obat bius ini akan bertahan dalam jangka waktu pendek (sekitar 20 menit). Saat pasien sudah mulai tertidur, dokter anestesi akan memasukkan alat bantu napas untuk mengontrol kadar oksigen di dalam tubuh. Ketika pasien sudah tertidur, anestesi (bius) yang selanjutnya digunakan berupa gas. Dan ketika operasi telah berakhir, pemberian anestesi (bius) akan dihentikan dan pasien dibangunkan dari tidur. Keuntungan dari penggunaan sistem yang kompleks ini adalah dokter anestesi akan dapat dengan mudah memperpanjang maupun memperpendek lama pemberian anestesi sesuai dengan lama waktu operasi.

    • Apakah saya akan mengingat tentang operasi setelah sadar?

    Jawabannya adalah tidak. Pasien mungkin akan mengingat saat sebelum tertidur dan saat bangun di ruang pemulihan setelah selesai operasi. Namun sebagian besar pasien tidak akan sepenuhnya menyadari lingkungan mereka sampai benar–benar pulih.

    • Berapa lama hingga saya benar–benar pulih dari anestesi?

    Setelah operasi selesai, dokter anestesi akan menghentikan pemberian obat anestesi (bius) dan pasien akan secara bertahap bangun. Biasanya pasien akan berada di ruangan pemulihan sebelum nantinya dipindahkan ke ruang perawatan. Tergantung pada keadaan pasien, biasanya pasien harus tinggal beberapa jam bahkan hari di rumah sakit setelah operasi. Anestesi umum dapat memengaruhi ingatan, konsentrasi, dan refleks selama 1-2 hari, jadi penting bagi orang dewasa yang bertanggung jawab untuk menemani pasien setidaknya 24 jam setelah operasi, hingga nantinya pasien diizinkan untuk pulang ke rumah. Pasien juga disarankan untuk tidak mengemudi, minum alkohol, dan menandatangani dokumen hukum apapun selama 24 hingga 48 jam setelah operasi.

    • Apakah ada larangan setelah pulih dari anestesi umum?

    Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda tahu dan pahami ketika baru saja pulih dari anestesi umum:

    • Jangan bekerja terlalu banyak dan terlalu cepat.
    • Tetap beristirahat yang cukup meskipun sudah pulang ke rumah.
    • Minumlah obat sesuai dengan anjuran yang telah diberikan.
    • Konsumsi makanan dan minuman secukupnya, jangan terlalu banyak dan jangan juga terlalu sedikit.
    • Ikuti program rehabilitasi dengan rutin.
    • Jangan mengemudi mobil sebelum pasien benar-benar telah siap.

    Jika Anda masih memiliki pertanyaan soal anestesi (bius), konsultasikan dengan dokter anestesi di Pondok Indah. Jangan takut bertanya, karena ini demi kesehatan Anda. Salam sehat.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Frequently Asked Questions Anesthesiologists – gasdocs.com/faq.php, diakses pada tanggal 14-12-2018
    2. Care After Anesthesia – allinahealth.org/health-conditions-and-treatments/health-library/patient-education/what-you-need-to-know-about-surgery/after-surgery/care-after-anesthesia/, diakses pada tanggal 14-12-2018
    3. Day surgery and anaesthesia – betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/day-surgery-and-anaesthesia, diakses pada tanggal 14-12-2018
    4. Preparing For Surgery Recovery – asahq.org/whensecondscount/preparing-for-surgery/recovery/, diakses pada tanggal 14-12-2018
    5. Mistakes After Surgery That Slow Your Recovery – webmd.com/healthy-aging/features/rehab-mistakes#1

     

    Read More
  • Setiap kali anak akan mengikuti operasi yang membutuhkan anestesi atau dibius, orang tua pastinya memiliki berbagai pertanyaan tentang risiko yang mungkin terjadi, terutama ketika anak itu adalah bayi atau balita. Oleh karena itu, yuk kita bahas berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang keamanan anestesi (bius). Apakah anestesi atau dibius itu aman untuk anak saya? Kini […]

    Amankah Bayi dan Anak Dibius?

    Setiap kali anak akan mengikuti operasi yang membutuhkan anestesi atau dibius, orang tua pastinya memiliki berbagai pertanyaan tentang risiko yang mungkin terjadi, terutama ketika anak itu adalah bayi atau balita. Oleh karena itu, yuk kita bahas berbagai pertanyaan yang sering diajukan tentang keamanan anestesi (bius).

    • Apakah anestesi atau dibius itu aman untuk anak saya?

    Kini anestesi dan bius pada anak sudah lebih aman dari sebelumnya. Ahli anestesi pada bagian anak telah memungkinkan anak, bahkan bayi yang sedang sakit sekalipun untuk menjalani operasi penyelamatan hidup dan juga proses untuk peningkatan kualitas hidup. Seperti obat lainnya, anestesi atau obat bius juga memiliki efek samping, baik itu pada orang tua maupun anak muda. Para ilmuwan dan dokter terus melakukan penelitian untuk meningkatkan keamanan penggunaan obat bius pada bayi dan anak–anak.

    • Ketika bayi atau anak–anak dibius, apakah hal tersebut mempengaruhi perkembangan dari otak anak?

    Para ilmuwan terus menyelidiki efek anestesi pada perkembangan otak hewan selama lebih dari 20 tahun. Pada hewan yang dibius dalam jangka waktu panjang atau berulang mungkin mengalami masalah dengan belajar dan perilaku kemudian hari, namun jika pemberian bius hanya satu kali yang diberikan secara hati–hati, belum pernah ditemukan masalah pada anak–anak. Selama beberapa tahun terakhir, para ahli anestesi anak telah banyak memastikan keselamatan anak–anak di bawah pengaruh anestesi umum. Banyak penelitian yang sedang dilakukan untuk lebih memahami risiko dan aspek keamanan dari anestesi (bius) umum pada anak.

    • Apa yang dapat keluarga lakukan ketika anak membutuhkan operasi?

    Orang tua tentu harus mendiskusikan semua risiko dan manfaat dari operasi atau prosedur yang akan dilakukan pada anak dengan dokter spesialis anak. Tanyakan tentang waktu, jika tidak ada risiko terkait dengan menjalani operasi (misalnya keadaan mengancam jiwa atau keadaan darurat), maka dapat dipertimbangkan dengan dokter anak untuk menunda operasi hingga anak berusia lebih dari 3 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa efek samping anestesi (bius) pada otak menurun seiring bertambahnya usia.

    Orang tua tentunya harus juga berkonsultasi dengan ahli anestesi. Jika rumah sakit memungkinkan untuk memilih dokter anestesi, pilihlah dokter anestesi yang sudah sering melakukan bius pada anak kecil. Ahli anestesi anak sudah dilatih untuk menggunakan obat yang paling tidak berbahaya untuk menghindari masalah dan untuk menyesuaikan jumlah obat anestesi (bius) yang diberikan kepada anak berdasarkan usia, berat badan, jenis kelamin, dan juga obat lain yang sedang digunakan untuk penyakit yang sedang anak derita.

    • Bagaimana cara dokter anestesi anak tetap menjaga anak saya aman saat dibius?

    Ahli anestesi anak yang terlatih akan secara hati–hati memberikan obat bius untuk membantu anak tertidur dan tetap aman dan nyaman. Saat dibius, anak–anak akan memiliki reaksi berbeda terhadap anestesi dibandingkan orang dewasa. Ahli anestesi anak akan memantau denyut jantung, tekanan darah, pernapasan serta kadar oksigen, serta menyesuaikan obat sesuai kebutuhan anak. Dokter akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menjaga tanda–tanda vital anak stabil dan bebas dari rasa sakit.

    • Apa saja teknik bius yang dapat dilakukan pada anak?

    Terdapat beberapa prosedur yang dapat digunakan, yaitu:

    • Anestesi umum, dimana anak Anda akan dibuat “tertidur”, merupakan pilihan yang paling sering digunakan saat operasi.
    • Anestesi regional, yaitu jenis bius yang digunakan untuk membuat satu area besar dari tubuh mati rasa.
    • Anestesi lokal, yaitu teknik anestesi hanya satu bagian kecil dari tubuh yang dibuat mati rasa.

     

    • Apakah obat yang digunakan untuk anestesi (bius) lebih aman daripada obat lainnya?

    Semua obat yang digunakan untuk anestesi atau bius telah terbukti memengaruhi perkembangan otak normal pada hewan jika diberikan berulang kali atau dalam jangka waktu yang lama. Jenis anestesi dengan obat tertentu seperti opioid, clonidine dan dexmedetomidine mungkin tidak menimbulkan efek pada otak yang sama terhadap hewan, namun obat ini terkadang tidak sesuai untuk semua pasien atau beberapa prosedur. Saat ini para peneliti terus mengembangkan pilihan obat baru yang bebas dari efek samping.

    Jika Anda memiliki pertanyaan lagi tentang anestesi atau bius, silakan berkonsultasi dengan ahli yang terpercaya seperti dokter anestesi di Pondok Indah. Semoga membantu.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Anesthesia Safety for Infants nad Toddlers : Parent FAQs – healthychildren.org/English/health-issues/conditions/treatments/Pages/Anesthesia-Safety-Infants-Toddlers-Parent-FAQs.aspx, diakses pada tanggal 7-12-2018
    2. A Practice of Anesthesia for Infants and Children, 5th – journals.lww.com/anesthesia-analgesia/FullText/2013/11000/A_Practice_of_Anesthesia_for_Infants_and_Children,.42.aspx, diakses pada tanggal 7-12-2018
    3. Anesthesia Safe for Infants, Toddlers, Study Says – webmd.com/parenting/baby/news/20160607/anesthesia-safe-for-infants-toddlers-study-says, diaskes pada tanggal 7-12-2018
    4. Is Anesthesia Safe for Your Child – health.clevelandclinic.org/is-anesthesia-safe-for-children/, diakses pada tanggal 7-12-2018
    5. Anesthesia – What to expect – kidshealth.org/en/parents/anesthesia.html, diakses pada tanggal 7-12-2018
    Read More
  • Pada zaman sekarang, Anda pasti sudah sering mendengar tentang obat anestesi untuk operasi dan tidak menimbulkan nyeri saat melahirkan. Namun apakah melahirkan tanpa rasa nyeri bahkan mungkin? Laku apakah mungkin untuk menikmati melahirkan? Apakah yang menyebabkan nyeri pada saat melahirkan? Nyeri saat persalinan disebabkan oleh kontraksi otot–otot rahim dan tekanan pada serviks. Rasa sakit ini […]

    Melahirkan Tidak Harus Nyeri, Ini Caranya!

    Pada zaman sekarang, Anda pasti sudah sering mendengar tentang obat anestesi untuk operasi dan tidak menimbulkan nyeri saat melahirkan. Namun apakah melahirkan tanpa rasa nyeri bahkan mungkin? Laku apakah mungkin untuk menikmati melahirkan?

    • Apakah yang menyebabkan nyeri pada saat melahirkan?

    Nyeri saat persalinan disebabkan oleh kontraksi otot–otot rahim dan tekanan pada serviks. Rasa sakit ini bisa dirasakan sebagai kram yang kuat pada perut, selangkangan dan punggung sehingga menimbulkan nyeri. Beberapa wanita juga mengalami nyeri pada bagian paha. Penyebab nyeri lainnya termasuk akibat tekanan kandung kemih dan usus oleh kepala bayi dan peregangan jalan lahir dan vagina.

    Nyeri pada persalinan tentu berbeda untuk setiap wanita. Bahkan rasa nyeri pun dapat bervariasi dari wanita ke wanita bahkan dari kehamilan ke kehamilan.1,2

    • Apa yang dapat dipersiapkan sebelum melahirkan?

    Untuk membantu mengurangi rasa sakit selama melahirkan, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan sebelum atau selama kehamilan:

    • Olahraga secara teratur dan sesuai dengan keadaan tubuh dapat membantu memperkuat otot– otot Bunda dan mempersiapkan tubuh selama stres persalinan. Olahraga juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh, yang nantinya akan berguna jika waktu persalinan lebih lama. Hal yang penting diingat adalah jangan berlebihan saat berolahraga. Bicarakan dengan dokter Anda tentang apa yang dapat digunakan sebagai rencana olahraga Bunda.
    • Jika mengikuti kelas persalinan, Bunda akan diajarkan tentang teknik–teknik yang dapat digunakan untuk menangani nyeri. Teknik yang paling umum yaitu teknik Lamaze dan metode Bradley.
      • Teknik Lamaze adalah teknik yang berpedoman pada filosofi bahwa melahirkan adalah proses yang normal, alami dan sehat, dan perempuan harus mengetahui hal tersebut. Kelas Yamaze mendidik wanita tentang cara mengurangi persepsi mereka tentang rasa sakit, melalui teknik relaksasi, latihan pernapasan, pengalih perhatian dan juga melalui teknik pijatan oleh trainer yang terlatih. Lamaze mengambil posisi netral terhadap obat nyeri, dan mendorong para wanita untuk membuat keputusan tentang apakah hal tersebut tepat untuk mereka.
      • Metode Bradley (atau disebut juga kelahiran dengan suami terlatih) menekankan pada pendekatan alami untuk kelahiran dan partisipasi aktif dari ayah bayi sebagai pelatih kelahiran. Tujuan utama dari metode ini adalah menghindari obat-obatan kecuali sangat diperlukan. Metode Bradley juga berfokus pada nutrisi yang baik dan olahraga selama kehamilan, relaksasi dan teknik pernapasan dalam mengatasi persalinan. Meskipun kelas metode Bradley mendukung pengalaman kelahiran yang bebas dari obat-obatan, para trainer juga tetap mendiskusikan komplikasi maupun situasi yang tidak diharapkan, seperti bedah sesar darurat.1,3
    • Apa saja cara mengurangi nyeri saat bersalin tanpa menggunakan obat–obatan anestesi?

    Hal yang dapat Bunda lakukan adalah termasuk:

    • Hipnotis
    • Yoga
    • Meditasi
    • Berjalan
    • Pijat
    • Mengubah posisi
    • Mandi atau shower
    • Mendengarkan musik
    • Mengalihkan perhatian dengan menghitung atau melakukan aktivitas yang dapat membuat Bunda sibuk. 1

     

    • Jika ingin menggunakan obat–obatan, pilihan apa saja yang tersedia?

    Berbagai obat nyeri dapat digunakan selama persalinan, tergantung pada situasi. Banyak wanita bergantung pada obat–obatan tersebut, dan hal tersebut sangat melegakan ketika rasa sakit cepat berkurang dan energi dapat difokuskan untuk melewati kontraksi. Diskusikan dengan dokter Bunda perihal risiko dan manfaat dari setiap jenis obat. Berikut pilihan obat yang dapat dipertimbangkan:

    • Obat ini meredakan rasa nyeri namun tidak sepenuhnya mati rasa. Obat ini tidak memengaruhi sensasi atau gerakan otot. Obat–obatan jenis ini dapat menyebabkan efek samping pada ibu, termasuk mengantuk dan mual. Obat jenis tersebut memiliki efek pada bayi.
    • Anestesi regional. Obat jenis ini termasuk jenis yang umumnya terpikirkan saat berbicara tentang obat nyeri selama persalinan. Dengan menghalangi rasa nyeri dari bagian tubuh yang spesifik, metode ini dapat digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri, baik pada persalinan normal maupun operasi.

    Epidural adalah suatu bentuk anestesi lokal yang digunakan untuk menghilangkan sebagian besar rasa nyeri dari seluruh tubuh di bawah pusar, termasuk vagina selama persalinan dan melahirkan. Cara pemberian anestesi jenis ini melibatkan dokter ahli anestesi melalui jarum tipis yang dimasukkan ke punggung bawah wanita. Obat ini sangat sedikit mencapai bayi, jadi biasanya tidak ada efek pada bayi dari metode obat tersebut. Namun bukan berarti tidak ada efek sampingnya. Epidural dapat menyebabkan tekanan darah menurun dan sulit buang air kecil setelahnya. Dapat juga menimbulkan gatal, mual dan sakit kepala pada ibu.1,4,5

    Setelah kita membahas mengenai pilihan obat–obatan anestesi yang dapat digunakan, sekarang Bunda sudah tahu pilihan apa saja yang tersedia. Diskusikan lebih lanjut pada dokter anestesi di Pondok Indah jika Anda ingin memahaminya lebih lanjut. 

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Dealing With Pain During Childbirth – kidshealth.org/en/parents/childbirth-pain.html, diakses pada tanggal 6-12-2018.
    2. 10 Ways to Make Labor Less Painful – cosmopolitan.com/health-fitness/a49152/how-to-make-labor-less-painful/, diakses pada tanggal 6-12-2018.
    3. Is Painless Birth Possible? – naturalbirthandbabycare.com/painless-birth-possible/, diakses pada tanggal 6-12-2018
    4. Natural Childbirth Doesn’t have To Be A Painful Delivery – health4mom.org/natural-childbirth-doesnt-have-to-be-painful, diakses pada tanggal 6-12-2018
    5. Six ways to manage pain in labour – theguardian.com/lifeandstyle/2012/apr/30/six-ways-to-manage-pain-in-labour, diakses pada tanggal 6-12-2018
    Read More
  • Anda pernah menjalani proses bius di rumah sakit? Mungkin hampir setiap orang di dalam hidupnya pernah menjalani proses bius, baik ketika akan dilakukan tindakan medis yang ringan, seperti dijahit, maupun tindakan medis yang cukup kompleks seperti operasi dan proses persalinan. Kata bius atau anestesi, berasal dari bahasa Yunani, dimana “an” berarti “tanpa” dan “aesthesis” berarti […]

    4 Mitos dan Fakta Terkait Bius/Anestesi

    Anda pernah menjalani proses bius di rumah sakit? Mungkin hampir setiap orang di dalam hidupnya pernah menjalani proses bius, baik ketika akan dilakukan tindakan medis yang ringan, seperti dijahit, maupun tindakan medis yang cukup kompleks seperti operasi dan proses persalinan. Kata bius atau anestesi, berasal dari bahasa Yunani, dimana “an” berarti “tanpa” dan “aesthesis” berarti “sensasi atau rasa”. Bius merupakan salah satu proses yang bertujuan untuk menghilangkan secara sementara sensasi atau kewaspadaan pasien untuk tujuan medis. Ketika dibius, pasien dapat mengalami satu atau lebih kondisi, seperti tidak dapat merasakan rasa nyeri (analgesia), otot tidak dapat bergerak (paralisis), amnesia, kehilangan kesadaran selama periode waktu tertentu. Sampai saat ini, banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat berkaitan dengan proses bius sehingga banyak orang yang masih merasa khawatir untuk dibius. Yuk, Sahabat, coba kita bahas fakta dibalik mitos yang beredar mengenai proses bius!

    MITOS 1: SETIAP ORANG YANG DIBIUS PASTI AKAN KEHILANGAN KESADARANNYA

    Pernyataan ini adalah salah. Proses bius memang dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran. Namun, teknik pembiusan sendiri bervariasi dan tidak semua teknik akan menyebabkan kehilangan kesadaran. Terdapat 3 kelompok besar teknik bius berdasarkan bagian tubuh yang dipengaruhi oleh obat bius, yaitu bius total, bius lokal, dan bius regional.

    Pada bius total, obat bius yang digunakan akan memengaruhi seluruh tubuh sehingga pasien akan kehilangan kesadaran dan tidak dapat bergerak.  Sedangkan pada bius lokal dan regional, obat bius hanya akan memengaruhi  bagian tubuh tertentu saja, sehingga pasien tidak akan kehilangan kesadarannya. Bius lokal digunakan apabila bagian tubuh yang akan dioperasi tidak terlalu luas, seperti pada operasi gigi dan operasi katarak. Sedangkan bius regional digunakan untuk area tubuh yang lebih luas, seperti pada operasi patah tulang, proses persalinan, dan pada operasi caesar.

    MITOS 2: KETIKA SUDAH DIBIUS TOTAL, ADA KEMUNGKINAN PASIEN AKAN “BANGUN” DI TENGAH OPERASI.

    Pernyataan ini adalah benar. Walaupun sudah dibius total, kesadaran pasien dapat kembali di tengah operasi yang berjalan, hal ini disebut awareness with recall (AWR). Namun, Sahabat tidak perlu khawatir karena hal ini sangat jarang terjadi dimana hanya terjadi pada 0,15% populasi dunia. AWR merupakan pengalaman dan ingatan yang tidak dikehendaki berkaitan dengan proses operasi yang sedang atau telah dijalani. Hal ini bukan berarti kesadaran pasien pulih sepenuhnya di tengah operasi yang berjalan. AWR hanya dapat diketahui setelah selesai operasi berdasarkan laporan dari pasien yang bersangkutan. Pengalaman AWR ini dirasakan berbeda pada setiap orang, dimana dilaporkan 48% dapat mengingat suara yang terjadi pada saat operasi, 48% lainnya merasa kesulitan bernapas, dan 28% merasakan sensasi nyeri. Kejadian AWR cenderung lebih besar pada anak, kasus kebidanan, trauma, dan operasi jantung. Para dokter anestesi biasanya memberikan obat yang bersifat amnestic (mengandung benzodiazepin) pada malam sebelum operasi untuk mencegah terjadinya AWR, terutama pada kasus yang berisiko tinggi.

    MITOS 3: TEKNIK BIUS REGIONAL (SPINAL DAN EPIDURAL) MENYEBABKAN NYERI PUNGGUNG YANG PERMANEN

    Pernyataan ini adalah salah. Teknik bius spinal dan epidural merupakan bagian dari bius regional dimana obat bius disuntikkan ke dalam lapisan saraf di tulang belakang. Mitos mengatakan bahwa teknik bius tersebut menyebabkan nyeri punggung yang permanen. Perlu diketahui bahwa nyeri punggung setelah operasi dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti posisi tubuh saat operasi, perburukan dari kondisi medis yang telah ada, atau luka akibat suntikkan obat bius. Nyeri punggung yang disebabkan oleh luka pada tempat penyuntikan obat bius terjadi pada 25% pasien, namun umumnya nyeri punggung ini tidak bersifat permanen. Nyeri punggung pada tempat penyuntikan obat bius merupakan kondisi yang dapat sembuh tanpa pengobatan dalam 7 hari. Apabila nyeri punggung tidak hilang dalam waktu yang cukup lama, maka perlu dikaji ulang penyebab lainnya dan perlu dikonsultasikan kepada dokter yang terkait.

    MITOS 4: PENGGUNAAN BIUS REGIONAL PADA OPERASI CAESAR DAPAT MEMENGARUHI BAYI.

    Pernyataan ini adalah salah. Pertama, pada seluruh operasi yang melibatkan ibu hamil, obat bius yang digunakan merupakan obat yang terbukti aman, baik untuk ibu maupun untuk janin. Kedua, pada bius regional untuk operasi caesar, obat bius disuntikkan ke dalam lapisan saraf di tulang belakang ibu memiliki kemampuan untuk menembus plasenta yang minimal, sehingga aman untuk janin yang dikandung. Obat bius yang umumnya dipilih untuk operasi caesar adalah Bupivacaine dan Ropivacaine. Selain memiliki kemampuan menembus plasenta yang minimal, obat bius ini juga memiliki toksisitas yang rendah dan memiliki efek yang minimal pada rahim sehingga rahim masih dapat berkontraksi untuk mengatasi perdarahan.

    Nah, sudah cukup jelas bukan, masalah seputar mitos bius, jika Anda membutuhkan tenaga dokter anestesi yang terpercaya, Anda dapat berkonsultasi atau mempercayakannya dengan para ahli, salah satunya dokter anestesi di Pondok Indah.

    instal aplikasi prosehat

    Referensi:

    1. Anesthesia [Internet]. [dikutip 4 Desember 2018]. Tersedia pada: nigms.nih.gov/education/pages/factsheet_Anesthesia.aspx
    2. What is Anesthesia? [Internet]. [dikutip 4 Desember 2018]. Tersedia pada: anzca.edu.au/patients/what-is-anaesthesia
    3. Duke JC, Keech BM. Duke’s Anesthesia Secrets. 5th Philadelphia: Elsevier Saunders; 2016.
    4. Chung HS. Awareness and recall during general anesthesia. Korean J Anesthesiol. 2014;66(5): 339–45.
    5. Rafique MK, Taqi A. The causes, prevention and management of post spinal backache: An overview. Anaesth, pain, & intensive care. 2011;15(1):65–9.
    Read More
WhatsApp Asisten Maya saja