Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Author Archive for: irfan.seo@tanyadok.com

Irfan

About Irfan

Showing 181–190 of 435 results

  • Pandemi virus Corona yang masih mewabah hingga saat ini memang membawa dampak yang cukup besar. Tidak hanya pada kesehatan fisik saja, tetapi juga pada kesehatan mental. Banyak orang yang merasakan kesepian di tengah pandemi ini. Perasaan tersebut muncul saat harus membatasi diri melalui isolasi yang diterapkan pemerintah. Baca Juga: Penyebab Gangguan Mental yang Perlu Dideteksi […]

    Cara Mengatasi Rasa Kesepian di Tengah Pandemi

    Pandemi virus Corona yang masih mewabah hingga saat ini memang membawa dampak yang cukup besar. Tidak hanya pada kesehatan fisik saja, tetapi juga pada kesehatan mental. Banyak orang yang merasakan kesepian di tengah pandemi ini. Perasaan tersebut muncul saat harus membatasi diri melalui isolasi yang diterapkan pemerintah.

    kesepian di tengah pandemi

    Baca Juga: Penyebab Gangguan Mental yang Perlu Dideteksi Sejak Dini

    Isolasi yang diterapkan tersebut memang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus secara massif dan terkontrol. Rasa kesepian yang muncul karena isolasi bisa disebabkan karena yang diisolasi positif Covid-19, ditinggal anggota keluarga yang menderita virus tersebut serta tidak bebasnya untuk bepergian ke luar.

    Psikolog klinis Rosalina Vauli, seperti dilansir dari CNN Indonesia, menyatakan bahwa kesepian yang dialami seseorang di masa pandemi dapat menyebabkan kesehatan mental. Banyak yang mengatakan bahwa efeknya bisa berupa depresi walaupun sebenarnya cukup berbeda antara depresi dan kesepian.

    Depresi lebih pada masalah emosional seperti menyalahkan diri sendiri sedangkan kesepian lebih pada pada penghayatan kondisi sepi dan sendirian serta isolasi sosial. Orang yang merasa kesepian tidak harus dalam kondisi sendiri, tetapi di tengah keramaian juga akan merasakan kesepian. Rasa ini banyak yang tidak tahu sama sekali penyebabnya.

    Apa yang Terjadi Jika Seseorang Mengalami Kesepian Bahkan Berkepanjangan?

    Pandemi Covid-19 yang belum diketahui dengan pasti kapan berakhirnya tentunya akan dapat menyebabkan seseorang mengalami kesepian yang cukup panjang. Hal ini tentu saja akan memberikan dampak negatif pada tubuh seperti berpikiran buruk terus-menerus, dan mengalami masalah tidur serta interaksi dengan orang lain.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab Hingga Cara Mengatasi

    Hal-hal tersebut tentu saja tidak bisa dilihat secara langsung oleh orang lain seperti halnya orang yang tengah menderita kesehatan fisik. Pada akhirnya kebanyakan orang akan menilai bahwa yang bersangkutan baik-baik saja, dan tidak ada kepedulian lagi setelahnya untuk memberikan pertolongan. Sebab, jika dibiarkan hal ini dapat memberikan dampak yang cukup negatif bagi diri sendiri dan orang lain.

    Lalu Bagaimana Caranya?

    Berikut ini adalah beberapa cara untuk membantu mengatasi kesepian di tengah pandemi yang dapat Sahabat coba ke diri sendiri dan orang lain.

    Buat Waktu Berkualitas untuk Diri Sendiri

    Membuat waktu berkualitas untuk diri sendiri me time quality adalah satu cara untuk dapat mengatasi kesepian di masa pandemi. Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan meditasi atau perenungan terhadap diri selama setengah jam atau satu jam. Lakukanlah secara perlahan, mulai dari hitungan menit lalu meningkat jadi belasan menit.

    Selain itu, Sahabat s harus dapat mengenali diri sendiri secara perlahan dan utuh sehingga hal ini dapat membuat diri rileks dan nyaman. Caranya adalah luangkan waktu jeda dengan tidak melakukan apa-apa sama sekali. Hal ini akan dapat memunculkan memori-memori di masa silam dan imajinasi masa depan yang menakutkan. Sahabat bisa memberikan analisis cara untuk mencegah dan mengatasinya.

    Lakukan Hal-hal yang Membuat Bahagia

    Cara melawan kesepian sebenarnya cukup sederhana tapi banyak orang yang tidak menyadarinya, yaitu menciptakan rasa kebahagiaan. Hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan saat Sahabat melakukan hal-hal yang menurut Sahabat menyenangkan.

    Baca Juga: Manfaat Belanja Online untuk Menghilangkan Stres Karena Pandemi Covid-19

    Apabila Sahabat menyukai kegiatan yang bersifat visual seperti menggambar dan melukis, lakukan saja jika hal tersebut benar-benar dapat menciptakan rasa bahagia untuk mengusir rasa kesepian yang timbul. Sebab, ada aspek kegembiraan yang lama hilang di dalamnya. Hal ini setidaknya untuk menghindari juga perasaan ikut-ikutan terhadap hal-hal baru yang belum bisa dikuasai karena jika ikut-ikutan, Sahabat malah akan menjadi stres sehingga Sahabat malah tidak menjadi bahagia.

    Berkomunikasi Secara Online dengan Teman

    Apabila Sahabat butuh teman bicara karena merasakan kesepian di tengah pandemi, Sahabat juga bisa melakukan komunikasi secara online dengan teman dekat atau keluarga. Ketika Sahabat bisa berkomunikasi meski secara online, Sahabat akan merasakan energi positif bagi tubuh.

    Meningkatkan Aktivitas Fisik

    Melawan kesepian juga dilakukan dengan melakukan dan meningkatkan aktivitas-aktivitas fisik seperti berolahraga. Ketika Sahabat melakukannya ada efek menyenangkan yang didapat setelah selesai dengan hal tersebut.

    Efek menyenangkan itu sangat bagus tak hanya untuk kesehatan fisik tetapi juga untuk kesehatan mental. Untuk hal ini Sahabat bisa melakukannya secara perlahan setiap harinya, dan catat setiap kemajuan yang ada.

    Memelihara Hewan

    Memelihara hewan juga dapat menjadi terapi untuk melawan kesepian karena hewan yang dipelihara itu bisa menjadi teman interaksi. Meski begitu, Sahabat disarankan untuk selektif dalam memiliki hewan peliharaan.

    Untuk masa pandemi ini, hewan yang dianjurkan dipelihara adalah dari kelompok mamalia seperti kucing dan anjing karena hewan-hewan ini juga bisa memberikan feedback secara emosional kepada Sahabat. Sedangkan untuk kelompok reptil tidak disarankan karena reptil tidak mempunyai emosi yang berkembang.

    Hindari Media Sosial

    Banyak orang yang merasa kesepian, stres, dan depresi justru melarikan dirinya ke media sosial sebagai obat penenang. Alih-alih mendapatkan ketenangan, justru hal-hal negatif yang akan Sahabat dapatkan. Sebab, media sosial malah menjadi ajang pamer dan membanding-bandingkan kondisi. Tentu hal tersebut belum dapat diterima semua orang termasuk Sahabat.

    Apa yang Harus Dilakukan Jika Kesepian yang Sahabat Alami Menjadi Kronis?

    Apabila Sahabat benar-benar mengalami hal yang demikian, disarankan untuk segera menghubungi psikolog demi menjalani konsultasi dan terapi yang sesuai dengan kondisi yang dialami Sahabat. Setidaknya, mereka akan membantu Sahabat dalam permasalahan ini.

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Kapan Terbeban Covid-19 Berakhir

    Itulah beberapa cara mengatasi kesepian di tengah pandemi yang bisa Sahabat lakukan ketika mengalami kesepian. Sahabat juga konsultasi mengenai perasaan kesepian ini di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Cara Mengatasi Kesepian, Mulai dari Kenali Diri Sendiri [Internet]. gaya hidup. 2021 [cited 1 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210202151125-284-601368/cara-mengatasi-kesepian-mulai-dari-kenali-diri-sendiri
    2. Kesepian, Pemantik Masalah Kesehatan Mental [Internet]. gaya hidup. 2021 [cited 1 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210205195232-260-602939/kesepian-pemantik-masalah-kesehatan-mental
    3. Pandemi Bikin Orang Merasa Kesepian, Gangguan Mental? : Okezone Tren [Internet]. https://www.okezone.com/. 2021 [cited 1 March 2021]. Available from: https://www.okezone.com/tren/read/2020/11/02/620/2302789/pandemi-bikin-orang-merasa-kesepian-gangguan-mental
    Read More
  • Pandemi Covid 19 secara drastis mengubah kehidupan banyak orang, mulai dari penerapan protokol kesehatan hingga aturan sekolah dan bekerja dari rumah. Tidak jarang hal ini menyebabkan munculnya rasa bosan, banyak anak dan remaja akhirnya bermain game online sebagai cara untuk mengusir rasa bosan. Baca Juga: Belajar Bahasa Asing Saat WFH, Inilah Dampaknya bagi Kesehatan Bermain […]

    Cara Mencegah Kecanduan Game Online di Tengah Masa Pandemi

    Pandemi Covid 19 secara drastis mengubah kehidupan banyak orang, mulai dari penerapan protokol kesehatan hingga aturan sekolah dan bekerja dari rumah. Tidak jarang hal ini menyebabkan munculnya rasa bosan, banyak anak dan remaja akhirnya bermain game online sebagai cara untuk mengusir rasa bosan.

    Baca Juga: Belajar Bahasa Asing Saat WFH, Inilah Dampaknya bagi Kesehatan

    Bermain game melalui gadget di masa pandemi, memang cukup membantu mengisi waktu luang selama beraktivitas dari rumah. Namun tanpa disadari, banyak orang bermain game tanpa mengenal waktu hingga melupakan keadaan di sekitarnya.

    Hal ini tentu saja tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental. Secara fisik, tubuh dapat mengalami kelelahan, mata kering dan terasa lelah, ambeien, hingga dapat mengalami sindrom terowongan karpal. Secara mental, dampak yang dapat ditimbulkan yaitu mengalami gaming disorder atau perilaku bermain game yang tidak terkendali dan mengganggu aktivitas.

    Mengapa Banyak Anak dan Remaja yang Kecanduan?

    Kecanduan game online biasanya dialami anak dan remaja. Ada beberapa faktor penyebab mengapa anak dan remaja bisa kecanduan game online, terutama di masa pandemi Covid-19 yaitu :

    Jenis Game yang Selalu Berkembang

    Jenis dan tema game dari waktu ke waktu selalu berkembang. Para pengembang game selalu membuat dan memperbanyak fitur dalam game seperti karakter, senjata, dan yang lainnya. Hal ini tentu tidak akan membuat para gamer bosan dan selalu penasaran untuk bermain tanpa henti.

    Game Lebih Bersifat Interaktif

    Kebanyakan game yang dimainkan sekarang bersifat lebih interaktif, seperti halnya media sosial. Hal ini tentunya menjadi daya tarik terutama bagi gamers dalam komunitas yang sama.

    Berbagai Kompetisi dengan Hadiah yang Menjanjikan

    Bermain game online pada akhirnya bukan hanya sekedar bermain game seperti yang biasa dilakukan di jaman dulu, karena saat ini banyak komunitas game yang seringkali menggelar acara kompetisi bahkan dalam skala global. Kompetisi yang diselenggarakan menjadi daya tarik bagi para gamers karena banyak hadiah yang ditawarkan.

    Tantangan dan Kemampuan yang Selalu Bertambah

    Game yang dimainkan juga menuntut para gamers untuk menyelesaikan setiap tantangan yang ada, hal ini tentu menambah rasa penasaran. Setiap tantangan yang diselesaikan akan menambah kemampuan para pemain, dan hal ini dapat memberikan kepuasan tersendiri.

    Menimbulkan Emosi yang Beragam

    Banyaknya tantangan dalam game dapat menimbulkan berbagai emosi bagi para gamers, misalnya rasa tegang, cemas, marah, atau bahkan bahagia. Hal ini dapat mempengaruhi kehidupan di dunia nyata, emosi menjadi tidak stabil bahkan dapat mengalami cemas dan gelisah jika tidak memainkan game hingga selesai.

    Baca Juga: 14 Masalah Kesehatan Mental pada Anak

    Menciptakan Dunia Imajinasi

    Beberapa permainan dalam game memungkinkan para gamers membangun dunia sesuai imajinasi, seperti membentuk sebuah karakter. Hal tersebut terasa menyenangkan, namun juga dapat menjadi sebuah pelarian dari dunia nyata yang membuat para gamers tenggelam dalam imajinasi yang diciptakan.

    Seperti Apa Tanda Kecanduan Game?

    Berikut ini adalah beberapa tanda kecanduan bermain game online yang dapat dialami anak dan remaja:

    • Terlalu asyik bermain game
    • Jikadipaksa berhenti bermain, muncul rasa sedih, cemas, hingga marah
    • Bermain game lebih banyak untuk menghabiskan waktu
    • Tidak mampu mengurangi waktu bermain
    • Kehilangan minat pada kegiatan lain
    • Terus bermain meskitahu dapat menimbulkan permasalahan
    • Berbohong, mengenai jumlah waktu yang dihabiskan untuk bermain game
    • Bermain untuk menghilangkan suasana hati yang buruk

    Lalu Bagaimana Cara Mencegahnya?

    Kecanduan game online di masa pandemi memang merupakan hal yang kurang baik bagi kesehatan sehingga dapat mengkhawatirkan. Namun hal ini dapat dicegah dengan beberapa langkah berikut:

    Menata Kembali Aktivitas Harian

    Bermain game online dengan durasi yang cukup lama hingga seharian, dapat mengganggu aktivitas lain yang lebih penting hingga terlupakan.

    Karena itu, Sahabat bisa mencegahnya dengan menata kembali aktivitas harian, membuat skala prioritas aktivitas, masukkan aktivitas harian yang menyenangkan dan bermanfaat, dan kurangi waktu bermain game.

    Lakukan Kegiatan Lain yang Bermanfaat

    Untuk mengatasi rasa bosan, dapat dialihkan dengan melakukan kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat misalnya melakukan olahraga ringan dan membaca buku serta menonton kanal-kanal yang memberikan informasi bermanfaat.

    Baca Juga: Sering Tonton Video Kekerasan, Tingkatkan Risiko Trauma dan Depresi

    Bagi Sahabat yang sudah menjadi orang tua, bisa memberikan contoh yang baik pada anak dan remaja untuk melakukan aktivitas bermanfaat seperti membersihkan rumah bersama sama.

    Batasi Penggunaan Gadget dan Kurangi Budget Bermain Game

    Kemudahan mengakses game melalui gadget atau smartphone tentunya menjadi tantangan tersendiri untuk mencegah sekaligus mengobati kecanduan game online. Sahabat bisa meminta anak dan remaja untuk mengurangi penggunaan gadget terutama pada jam istirahat siang dan malam.

    Selain itu mulailah untuk mengalokasikan dana yang biasa dipakai anak dan remaja untuk bermain game, untuk hal yang lebih penting dan berguna di masa depan.

    Lakukan Secara Bertahap

    Ketika Sahabat hendak mencegah dan mengurangi kecanduan game online pada anak dan remaja, tentunya harus dilakukan secara bertahap. Jika dilakukan mendadak, hal tersebut dapat menimbulkan pemberontakan yang luar biasa dari anak dan remaja.

    Perubahan bisa dimulai dengan mengurangi waktu bermain game dalam sehari. Jika biasanya bermain selama 1 jam, lalu kurangi menjadi 30 menit dan seterusnya. Hal ini tentu demi kebaikan anak.

    Hubungi Tenaga Profesional

    Apabila semua cara diatas tidak berhasil dilakukan, Sahabat bisa menghubungi tenaga profesional psikolog maupun dokter psikiater untuk berkonsultasi lebih lanjut.

    Baca Juga: Dampak Buruk Bullying pada Kesehatan Mental Remaja

    Seperti itulah cara mencegah kecanduan game online di tengah pandemi supaya tidak berdampak pada kesehatan fisik maupun mental. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penanganan kecanduan game online dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

     

    1. Wuragil Z. Kecanduan Game Online di Masa Pandemi, Waspada Gaming Disorder [Internet]. Tempo. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://tekno.tempo.co/read/1395728/kecanduan-game-online-di-masa-pandemi-waspada-gaming-disorder
    2. Alasan Kecanduan Main Game dan Cara Berhenti dari kecanduan – Cermati.com [Internet]. Cermati.com. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://www.cermati.com/artikel/alasan-kecanduan-main-game-dan-cara-berhenti-dari-kecanduan
    3. Anak Kecanduan Game, Bagaimana Mengatasinya? – Yayasan Pulih [Internet]. Yayasanpulih.org. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: http://yayasanpulih.org/2020/07/anak-kecanduan-game-bagaimana-mengatasinya/
    4. Tanhati S. Tanda-tanda Anak Kecanduan Game [Internet]. POPMAMA.com. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/sysilia-tanhati/bahaya-kecanduan-game-pada-anak
    5. Dampak Buruk Main Game Bagi Kesehatan [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 3 March 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/tekno/read/453922/dampak-buruk-main-game-bagi-kesehatan

     

    Read More
  • Penyakit autoimun terjadi akibat kekeliruan sistem kekebalan tubuh dalam mengganggap bagian tubuh seperti sel-sel sehat sebagai virus dan bakteri asing, jika dibiarkan berlarut-larut akan sangat berpengaruh pada kesehatan seseorang. Beberapa penyakit autoimun dapat mepengaruhi lebih dari satu bagian tubuh. Baca Juga: Sering Kesemutan di Tangan dan Kaki Pertanda Penyakit Apa? Beberapa gejala penyakit ini tergantung […]

    Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Autoimun dalam Tubuh?

    Penyakit autoimun terjadi akibat kekeliruan sistem kekebalan tubuh dalam mengganggap bagian tubuh seperti sel-sel sehat sebagai virus dan bakteri asing, jika dibiarkan berlarut-larut akan sangat berpengaruh pada kesehatan seseorang. Beberapa penyakit autoimun dapat mepengaruhi lebih dari satu bagian tubuh.

    mencegah penyakit autoimun, cara mencegah autoimun

    Baca Juga: Sering Kesemutan di Tangan dan Kaki Pertanda Penyakit Apa?

    Beberapa gejala penyakit ini tergantung pada bagian tubuh yang diserang, misalnya jika menyerang sendi, dapat terasa nyeri dan kaku. Jika menyerang kelenjar tiroid, dapat menyebabkan lelah, berat badan bertambah/ turun tanpa sebab yang jelas, hingga berdebar. Jika menyerang kulit, dapat menyebabkan timbulnya ruam, dan perubahan warna kulit.

    Apakah Penyakit Ini Bisa Diobati?

    Penyakit ini bisa diobati melalui serangkaian diagnosis yang dilakukan oleh dokter ahli dalam bidang autoimun. Namun perlu diketahui bahwa penyakit autoimun tidak dapat disembuhkan secara total, namun dapat dikontrol dengan baik dengan pemantauan laboratorium berkala.

    Produk Terkait: Cek Lab

    Cara Mencegah Penyakit Autoimun

    Karena tidak dapat disembuhkan secara total, Sahabat disarankan untuk dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit ini. Apa saja pencegahannya? Yuk, mari simak di bawah ini!

    Konsumsi Asupan yang Mengandung Vitamin D

    Salah satu cara untuk mencegah penyakit autoimun, Sahabat disarankan mengkonsumsi asupan yang mengandung Vitamin D seperti kuning telur dan jamur. Berdasarkan penelitian,  salah satu penyebab penyakit autoimun akibat kurangnya Vitamin D dalam tubuh.

    Produk Terkait: Jual Vitamin D

    Vitamin ini tak hanya berfungsi untuk meningkatkan kekuatan tulang tetapi juga menjaga kekebalan tubuh terutama di masa pandemi Covid 19. Selain dari asupan makanan, Vitamin D juga bisa didapatkan dengan cara berjemur di pagi hari agar terpapar sinar matahari yang mengandung ultraviolet B atau UVB.

    Menjalankan Diet Tanpa Gluten

    Diet tanpa gluten atau gluten free bisa juga dilakukan Sahabat untuk mencegah penyakit autoimun. Diet ini sangat berguna untuk meningkatkan kesehatan sistem pencernaan tubuh. Berdasarkan sebuah penelitian, gluten disebut dapat merusak usus kecil dan organ lainnya sehingga menyulitkan tubuh dalam menyerap nutrisi, dan mengakibatkan peradangan usus.

    Karena itu konsumsilah makanan-makanan berikut yang tidak mengandung gluten seperti kacang almond, alpukat, minyak zaitun, bayam, brokoli, kubis, beras (putih dan merah), quinoa, jagung, ayam kalkun, sapi organik, dan buah beri. Hindari tepung dan gandum karena mengandung gluten.

    Olahraga Teratur

    Sahabat juga disarankan untuk berolahraga secara teratur agar dapat mencegah penyakit autoimun seperti rheumatoid arthrirtis.

    Baca Juga: 5 Jenis Olahraga yang Cocok untuk Generasi Milenial

    Olahraga yang disarankan untuk penderita autoimun adalah jalan kaki, bersepeda, dan berenang. Selain itu melakukan yoga dan senam juga dapat membantu melenturkan sendi yang kaku dan mengalami pembengkakan.

    Kelola Stres dengan Baik

    Berdasarkan sebuah studi dari Harvard Medical School, stres diketahui dapat mencetuskan penyakit autoimun. Contoh penyakit autoimun yang dicetuskan oleh stres adalah Lupus (Systemic Lupus Erythematosus) dan rheumatoid arthritis.

    Studi tersebut menyatakan bahwa penyakit autoimun lebih tinggi diderita pada orang yang sebelumnya didiagnosis menderita post traumatic stress disorder atau gangguan stres pasca trauma. Selain itu, stres menyebabkan ketegangan fisik, psikologis, dan emosional yang ditandai dengan adrenalin rush sehingga denyut nadi dan tekanan darah meningkat.

    Baca Juga: 7 Kiat Mengelola Stres Karena Terbeban Kapan Corona Berakhir

    Hal lainnya adalah kekhawatiran berlebihan terutama di masa pandemi Covid 19 yang berhubungan dengan masalah finansial dan kehidupan di masa depan. Karena itu, Sahabat harus dapat mengelola stres dengan baik dengan merelaksasi tubuh dan pikiran. Hindari berpikiran negatif, dan konsultasikan ke psikolog jika stres dirasa sudah berlebihan.

    Itulah beberapa cara mencegah penyakit autoimun yang dapat Sahabat Sehat lakukan pada diri sendiri dan orang lain sehingga terhindar dari penyakit tersebut. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai penyakit autoimun dan produk-produk kesehatan yang berkaitan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Autoimun, Bisakah Sembuh Total? [Internet]. Orami.co.id. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.orami.co.id/magazine/bisakah-penyakit-autoimun-dicegah-atau-disembuhkan-ini-kata-ahli/
    2. 5 Langkah Sehat untuk Mengatasi Penyakit Autoimun [Internet]. kumparan. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://kumparan.com/mustika-hanum/5-langkah-sehat-untuk-mengatasi-penyakit-autoimun-1szDVIJXJIH
    Read More
  • Salah satu syarat penerima vaksin Corona adalah tidak menderita penyakit autoimun. Alasannya, untuk menghindari efek samping parah yang tidak diinginkan. Hal ini berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Meski diperbolehkan disuntik vaksin tentunya harus melalui beberapa pertimbangan. Baca Juga: Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19? Apa itu Penyakit Autoimun? Penyakit autoimun […]

    9 Jenis Penyakit Autoimun yang Sering Terjadi Pada Tubuh

    Salah satu syarat penerima vaksin Corona adalah tidak menderita penyakit autoimun. Alasannya, untuk menghindari efek samping parah yang tidak diinginkan. Hal ini berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Meski diperbolehkan disuntik vaksin tentunya harus melalui beberapa pertimbangan.

    jenis penyakit autoimun

    Baca Juga: Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19?

    Apa itu Penyakit Autoimun?

    Penyakit autoimun adalah suatu kondisi yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang dimiliki manusia keliru sehingga menyerang tubuh, bukan virus atau bakteri. Dalam kasus ini sistem kekebalan tubuh salah menganggap bagian tubuh seperti persendian atau kulit sebagai benda asing.

    Akibatnya, sistem kekebalan melepaskan protein bernama autoantibodi untuk menyerang sel sehat. Beberapa jenis penyakit autoimun umumnya hanya menargetkan satu organ seperti diabetes tipe 1 yang merusak pankreas. Namun dalam beberapa kasus penyakit autoimun lainnya dapat memengaruhi seluruh tubuh seperti lupus atau disebut juga SLE (Systemic Lupus Erythematosus)

    Apa Saja Jenisnya?

    Jenis penyakit autoimun cukup banyak, tercatat ada lebih dari 80 jenis. Namun yang dibahas hanya beberapa macam penyakit autoimun yang sering terjadi pada tubuh. Apa saja itu? Yuk, Sahabat Sehat, mari kita simak bersama-sama!

    Rheumathoid Arthritis

    Penyakit autoimun pertama yang sering terjadi pada tubuh adalah rheumathoid arthritis. Penyakit ini menyerang sendi, dan bahkan hingga mata, kulit, atau jantung. Penyakit ini membuat sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri sehingga dapat menimbulkan keluhan seperti nyeri sendi, bengkak, dan kekakuan sendi yang parah.

    Produk Terkait: Jual Borobudur untuk Nyeri Sendi

    Rheumathoid arthritis dapat mengakibatkan kerusakan sendi permanen dan deformitas (perubahan bentuk) pada tubuh. Untuk mengatasinya, Sahabat disarankan mengkonsumsi obat anti radang.

    Giant Cell Myocarditis

    Penyakit autoimun ini disebut yang paling fatal karena berhubungan dengan gagal jantung yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini terjadi akibat adanya peradangan pada otot jantung. Gejala yang biasa dialami berupa pembengkakan di pergelangan kaki, nyeri dada, jantung berdebar, kelelahan, dan sesak napas.

    Lupus

    Lupus merupakan salah satu jenis autoimun yang awalnya oleh para ilmuwan disebut sebagai penyakit kulit karena menimbulkan ruam. Namun seiring berjalannya waktu, penyakit ini dimasukkan sebagai penyakit autoimun karena ternyata dapat mempengaruhi seluruh tubuh seperti persendian, ginjal, otak, dan jantung. Gejalanya berupa nyeri sendi, kelelahan, dan ruam.

    Produk Terkait: Cek Lab SLE Diagnos

    Multiple Sclerosis

    Jenis penyakit autoimun ini adalah penyakit jangka panjang yang dapat mempengaruhi otak, sumsum tulang belakang, dan saraf optik di mata. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah pada penglihatan, keseimbangan, kontrol otot, dan fungsi dasar tubuh.

    Efek dari penyakit ini tidaklah sama pada setiap orang. Beberapa disebut mengalami gejala ringan, efek lainnya dapat mengalami kesulitan bergerak dan beraktivitas untuk kegiatan sehari-hari. Kondisi ini terjadi bila sistem kekebalan tubuh menyerang materi lemak, myelin (yang melindungi serat saraf dari kerusakan) dan pembentukan jaringan parut.

    Diabetes Tipe 1

    Kondisi autoimun pada tubuh seseorang juga dapat menyebabkan tidak mempunyai insulin sama sekali. Hal ini akibat diserang dan dihancurkannya pankreas yang merupakan organ tubuh penting untuk menghasilkan insulin. Kondisi autoimun yang demikian menyebabkan terjadinya Diabetes Melitus tipe 1.

    Baca Juga: 5 Tanda Gejala Diabetes Atau Kencing Manis

    Insulin sangat dibutuhkan oleh tubuh terutama dalam kaitannya dengan produksi energi dalam membantu aktivitas sehari-hari dan mengatur kadar gula darah. Jika energi yang dihasilkan kurang, tentu akan berdampak pada kinerja dan kondisi tubuh.

    Pada kondisi diabetes tipe 1 terjadi penumpukan kadar gula dalam tubuh akibat gangguan produksi insulin, yang dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan organ seperti jantung, ginjal, mata, dan saraf. Untuk mengatasinya, pasien disarankan untuk menyuntikkan insulin secara rutin.

    Penyakit Addison

    Penyakit Addison adalah salah satu jenis penyakit autoimun, yang disebabkan karena sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar adrenal yang terdapat di ginjal. Akibatnya, kelenjar ini mengeluarkan banyak hormon yang menyebabkan kelemahan pada otot, kulit terlihat gelap, menurunnya denyut jantung atau tekanan darah, serta mudah lelah.

    Penyakit Graves

    Penyakit Graves adalah salah satu jenis penyakit autoimun yang berhubungan dengan kelenjar tiroid, sehingga menyebabkan produksi hormon tiroid berlebih.

    Salah satu fungsi hormon tiroid adalah untuk mengontrol penggunaan energi tubuh yang disebut metabolisme. Kelebihan hormon ini dapat meningkatkan aktivitas tubuh dan menyebabkan timbulnya keluhan berupa gugup, berdebar, mudah merasa panas, penurunan berat badan, dan mata terlihat melotot (disebut juga eksoftalmus).

    Myasthenia Gravis

    Penyakit autoimun ini mempengaruhi kerja saraf yang membantu otak dalam mengontrol otot. Jika komunikasi dari saraf ke otot terganggu, sinyal tidak dapat mengarahkan otot untuk berkontraksi. Hal ini dapat menyebabkan kelemahan otot, dan akan terasa saat  beraktivitas namun membaik saat beristirahat.

    Alopecia

    Alopecia adalah istilah medis untuk menyebut kerontokan rambut, hal ini disebabkan karena adanya stres. Penelitian menunjukan 70% dari 500 pasien yang menderita Alopecia, ternyata mengalami stres. Masalah ini timbul ketika tubuh menyerang folikel rambut. Kerusakan yang ditimbulkan tidak permanen, namun rambut dapat terlihat menipis, atau patah-patah.

    Baca Juga: 7 Makanan Pencegah Kebotakan Pada Pria

    Itulah Sahabat Sehat mengenai jenis penyakit autoimun yang sering terjadi pada tubuh, dan perlu diwaspadai. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai autoimun dan produk-produk kesehatan yang berkaitan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media K. 14 Jenis Penyakit Autoimun yang Perlu Diwaspadai Halaman all – Kompas.com [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://health.kompas.com/read/2021/02/28/170800768/14-jenis-penyakit-autoimun-yang-perlu-diwaspadai?page=all
    2. Nabila F. 7 Jenis Penyakit Autoimun yang Umum Ditemui Sehari-hari [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5326451/7-jenis-penyakit-autoimun-yang-umum-ditemui-sehari-hari?single
    3. 10 Penyakit Autoimun yang Paling Umum Dialami Ditemui di Masyarakat Semua Halaman | merdeka.com [Internet]. merdeka.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.merdeka.com/sehat/10-penyakit-autoimun-yang-paling-umum-dialami-ditemui-di-masyarakat.html?page=all
    4. Penderita Autoimun Belum Bisa Divaksin Covid-19, Ini Alasannya | Lifestyle – Bisnis.com [Internet]. Bisnis.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://lifestyle.bisnis.com/read/20210113/106/1342267/penderita-autoimun-belum-bisa-divaksin-covid-19-ini-alasannya
    5. Giant Cell Myocarditis – NORD (National Organization for Rare Disorders) [Internet]. NORD (National Organization for Rare Disorders). 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://rarediseases.org/rare-diseases/giant-cell-myocarditis/
    Read More
  • Setahun sudah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Dalam satu tahun tersebut tercatat pasien terinfeksi hingga Selasa, 2 Maret 2020 mencapai 1.347.026 kasus, dengan perincian jumlah kasus sembuh sebanyak 1.160.863 orang, dan meninggal 36.518 orang. Selama setahun terakhir pemerintah telah menetapkan beberapa kebijakan, seperti pemberlakuan protokol kesehatan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan kebijakan bekerja dari rumah. Baca Juga: Pemerintah Meminta Masyarakat […]

    Setahun Covid-19 di Indonesia Ditandai dengan Munculnya Varian Baru Virus dari Inggris

    Setahun sudah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Dalam satu tahun tersebut tercatat pasien terinfeksi hingga Selasa, 2 Maret 2020 mencapai 1.347.026 kasus, dengan perincian jumlah kasus sembuh sebanyak 1.160.863 orang, dan meninggal 36.518 orang. Selama setahun terakhir pemerintah telah menetapkan beberapa kebijakan, seperti pemberlakuan protokol kesehatan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan kebijakan bekerja dari rumah.

    setahun covid-19 di Indonesia, setahun corona di Indonesia

    Baca Juga: Pemerintah Meminta Masyarakat Menggunakan Masker N95 Saat di Rumah Sakit

    Namun sejauh ini usaha yang dilakukan oleh pemerintah tersebut belum berjalan maksimal, misalnya kebijakan protokol kesehatan. Berdasarkan pantauan dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) yang dilansir dari Liputan6.com, ternyata masyarakat Indonesia tidak bisa melakukan jaga jarak dengan maksimal.

    Selain protokol kesehatan yang masih kurang, angka tes Covid-19 di Indonesia juga belum memenuhi standar World Health Organization (WHO). Tercatat hanya 26,7% warga saja yang dites dari keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah 270 juta jiwa. Berdasarkan data tersebut seharusnya setiap pekan terdapat 270.000 orang yang diperiksa.

    Produk Terkait: Tes Covid-19

    Hal lainnya adalah beredarnya info yang kurang valid mengenai virus Covid-19 sehingga masyarakat menganggap remeh virus ini, dan liburan panjang di akhir pekan serta akhir tahun,  membuat jumlah penderita terus bertambah dan tenaga kesehatan kewalahan dalam menangani pasien.

    Pemerintah lantas menggalakkan kebijakan vaksinasi Covid-19 sebagai cara untuk mempercepat pemulihan ekonomi pada awal tahun 2021. Vaksinasi diharapkan dapat membantu mencegah virus secara optimal. Namun, epidemiolog menilai langkah pemerintah ini tidak akan tercapai jika tidak diikuti dengan protokol kesehatan.

    Baca Juga: Vaksin Covid-19 Tersedia, Pandemi Berakhir?

    Dapat disimpulkan bahwa penanganan Covid-19 di Indonesia masih harus diperbaiki lagi. Apalagi terdapat laporan bahwa dua kasus mutasi virus dari Inggris sudah ada di Indonesia. Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono, pada Selasa, 2 Maret 2021 atau tanggal tepat ditemukannya mutasi virus Covid 19 di Indonesia.

    Hal itu ia utarakan dalam acara “Inovasi Indonesia untuk Indonesia Pulih Pasca Pandemi”. Seperti dilansir dari Kompas.com, mutasi virus Covid 19 yaitu B.1.1.7 mempunyai daya penularan hingga 70% daripada virus Covid-19 dari Wuhan, Cina.

    Sejauh ini virus tersebut sudah menyebar di 33 negara, dan belum dapat dipastikan apakah berdampak buruk terhadap vaksinasi Covid-19 yang sudah dilakukan. Dengan adanya varian baru virus Covid-19, diperlukan penanganan yang lebih baik dan membutuhkan kerja sama dari semua pihak agar Indonesia dapat segera keluar dari pandemi.

    Baca Juga: Mutasi Virus Corona yang Perlu Sahabat Tahu

    Itulah mengenai setahun Covid-19 di Indonesia yang ditandai dengan munculnya varian virus yang mempunyai daya penularan lebih tinggi.

    Sahabat Sehat di rumah, sebaiknya tetap menjalankan perilaku 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilisasi atau interaksi) dan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta jangan lupa untuk deteksi dini Covid-19 di Prosehat. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Pramudiarja A. Wamenkes Laporkan 2 Kasus Pertama Mutasi Corona B117 di Indonesia [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5477409/wamenkes-laporkan-2-kasus-pertama-mutasi-corona-b117-di-indonesia
    2. Media K. Wamenkes: Ditemukan 2 Kasus Mutasi Virus Corona dari Inggris di RI [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2021/03/02/12043751/wamenkes-ditemukan-2-kasus-mutasi-virus-corona-dari-inggris-di-ri
    3. Indonesia C. Varian Baru Corona B117 Menyebar, Kini Gegerkan AS [Internet]. teknologi. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210209134601-199-604147/varian-baru-corona-b117-menyebar-kini-gegerkan-as
    4. Indonesia C. Setahun Pandemi, Indonesia Hanya Tes Covid 2,67 Persen Warga [Internet]. nasional. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210302075713-20-612464/setahun-pandemi-indonesia-hanya-tes-covid-267-persen-warga
    5. Harsono F. Setahun COVID-19 di Indonesia, Kala 3M Masih Sebatas Kampanye [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/4495740/setahun-covid-19-di-indonesia-kala-3m-masih-sebatas-kampanye
    6. Rakyat P. Jangan Lengah, Epidemiolog Soal Vaksin Covid-19: Ada Profesor hingga Tenaga Kesehatan yang Ragu-Ragu – Pikiran-Rakyat.com [Internet]. Pikiran-Rakyat.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011281664/jangan-lengah-epidemiolog-soal-vaksin-covid-19-ada-profesor-hingga-tenaga-kesehatan-yang-ragu-ragu
    7. UPDATE Kasus Corona 2 Maret: Pasien Positif Tambah 5.712, Sembuh 8.948, Meninggal 193 – Tribunnews.com [Internet]. Tribunnews.com. 2021 [cited 2 March 2021]. Available from: https://www.tribunnews.com/corona/2021/03/02/update-kasus-corona-2-maret-pasien-positif-tambah-5712-sembuh-8948-meninggal-193
    Read More
  • Vaksinasi Corona untuk tenaga pendidik, seperti guru dan dosen telah dimulai pada Rabu, 24 Februari 2021. Tahap pertama vaksinasi dilaksanakan di Provinsi DKI Jakarta, dan nantinya akan diikuti dengan penyuntikan vaksin kepada tenaga pendidik di provinsi lainnya. Baca Juga: Kebijakan Vaksinasi Gotong Resmi Dikeluarkan Para tenaga pendidik ini adalah prioritas penerima vaksin. Program vaksinasi pada […]

    Vaksinasi Corona untuk Tenaga Pendidik Demi Mendukung Sekolah Tatap Muka Juli 2021

    Vaksinasi Corona untuk tenaga pendidik, seperti guru dan dosen telah dimulai pada Rabu, 24 Februari 2021. Tahap pertama vaksinasi dilaksanakan di Provinsi DKI Jakarta, dan nantinya akan diikuti dengan penyuntikan vaksin kepada tenaga pendidik di provinsi lainnya.

    vaksinasi corona untuk tenaga pendidik, vaksinasi guru, vaksinasi dosen

    Baca Juga: Kebijakan Vaksinasi Gotong Resmi Dikeluarkan

    Para tenaga pendidik ini adalah prioritas penerima vaksin. Program vaksinasi pada tenaga pendidik bertujuan untuk memastikan kelancaran kegiatan belajar mengajar selama pandemi. Demikian hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Jokowi, seperti dilansir dari Kompas.com. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan bahwa vaksinasi ini juga untuk mendukung proses sekolah tatap muka yang rencananya digelar pada Juli 2021.

    Bagaimana dengan Pemberiannya?

    Nadiem menjelaskan bahwa pemberian vaksin bagi tenaga pendidik dimulai dari PAUD, SD, SLB, SMP, SMA, SMK, dan perguruan tinggi. Alasan pemberian vaksinasi berdasarkan tahapan pendidikan tersebut adalah semakin muda jenjang pendidikan, semakin sulit untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Berdasarkan fakta selama pandemi, PJJ sulit dilakukan karena berbagai hambatan, terutama dari sisi teknologi seperti jaringan internet yang tidak stabil dan belum merata di seluruh Indonesia.

    Baca Juga: Bolehkah Menerima Vaksinasi Lain Setelah Vaksinasi Virus Corona?

    Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa sekolah tetap mengadakan sekolah tatap muka, namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Kemenkes dan Kemendikbud.

    Berapa Jumlah Tenaga Pendidik yang Divaksinasi?

    Pemerintah telah menargetkan sebesar 5,5 juta tenaga pendidik yang akan divaksinasi, termasuk yang berada di bawah naungan Kementerian Agama, swasta, dan tenaga honorer. Data Kemenkes menyatakan tenaga pendidik yang menjadi sasaran vaksinasi adalah 5.057.582 orang. Dari jumlah tersebut sudah 650 tenaga pendidik yang divaksinasi. Dosis pemberian vaksin adalah dua kali.

    Lalu, Bagaimana Jika Ada yang Tidak Terdaftar?

    Bagi tenaga pendidik yang tidak terdaftar vaksinasi agar membawa surat pernyataan dari kepala sekolah ke lokasi vaksinasi. Jadwal dan lokasi akan diinformasikan oleh dinas kesehatan, pendidikan atau kanwil Kemenag masing-masing provinsi.

    Mengenai Sekolah Tatap Muka Juli 2021

    Pemerintah memang berencana membuka sekolah tatap muka pada Juli 2021 atau bertepatan dengan tahun ajaran baru. Untuk pembukaan tersebut, pihak Kemendikbud mewajibkan pihak sekolah untuk menyiapkan standar operasional maupun fasilitas untuk menjaga kesehatan lingkungan. Selain itu, pihak sekolah diminta untuk menjalin kerja sama dengan fasilitas kesehatan terdekat untuk pemantauan dan tindakan kesehatan.

    Baca Juga: Tepatkah Sekolah Tatap Muka Dibuka Kembali di Tengah Pandemi?

    Itulah Sahabat mengenai vaksinasi Corona untuk tenaga pendidik yang dilakukan untuk mendukung pembukaan sekolah tatap muka pada Juli 2021. Bagi Sahabat guru dan dosen, Sahabat bisa memanfaatkan fasilitas asuransi kesehatan dari Prosehat yang dilengkapi dengan tes Covid-19 dan vaksinasi Covid-19 supaya kegiatan belajar mengajar menjadi aman, sehat, dan lancar serta Sahabat siap untuk mengajar kembali. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Media K. Vaksinasi Covid-19 Guru dan Dosen demi Wujudkan Sekolah Tatap Muka Juli 2021 [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://nasional.kompas.com/read/2021/02/25/07112501/vaksinasi-covid-19-guru-dan-dosen-demi-wujudkan-sekolah-tatap-muka-juli-2021?page=all
    2. Indonesia C. Sekolah Tatap Muka Dibuka Juli 2021 Secara Bertahap [Internet]. nasional. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210225120434-20-610736/sekolah-tatap-muka-dibuka-juli-2021-secara-bertahap

     

     

    Read More
  • Masker sudah menjadi bagian gaya hidup dari banyak orang di seluruh dunia saat pandemi Corona ini. Hal ini karena masker berfungsi untuk mencegah penularan virus dan memakai masker menjadi sebuah keharusan untuk setiap orang saat beraktivitas di luar rumah. Baca Juga: Jangan Sepelekan Masker dan Tips Nyaman Memakainya Keberadaan masker sebagai salah satu benda wajib […]

    Kalung Tali Masker di Masa Pandemi Corona, Adakah Manfaatnya?

    Masker sudah menjadi bagian gaya hidup dari banyak orang di seluruh dunia saat pandemi Corona ini. Hal ini karena masker berfungsi untuk mencegah penularan virus dan memakai masker menjadi sebuah keharusan untuk setiap orang saat beraktivitas di luar rumah.

    kalung tali masker, manfaat kalung tali masker

    Baca Juga: Jangan Sepelekan Masker dan Tips Nyaman Memakainya

    Keberadaan masker sebagai salah satu benda wajib ini ternyata juga membuat beberapa orang berinovasi. Baru-baru ini, muncul tren penggunaan tali masker yang dikaitkan dengan sebuah kalung. Tujuan aksesoris ini adalah agar masker dapat dengan mudah dilepas dan kemudian digantung di dekat dada, terutama saat makan dan minum.

    Namun, dari sisi medis, ternyata tren kalung tali masker ini tidak dianjurkan oleh Satgas Covid-19. Seperti dilansir dari CNBC Indonesia, juru bicara Satgas Covid-19, Profesor Wiku Adisastomo menyatakan bahwa penggunaan kalung tali masker berpotensi menurunkan fungsi masker sebagai penangkal virus.

    Ia menjelaskan bahwa pemakaian kalung pada masker malah akan mengurangi sifat higienis masker karena bagian dalam masker sudah terkontaminasi saat seseorang berbicara, batuk atau bersin. Apabila bagian dalam yang sudah terkontaminasi droplet ini dibiarkan di ruang terbuka, potensinya cukup besar untuk menginfeksi orang lain.

    Produk Terkait: Jual Masker Medis

    Hal serupa diungkapkan oleh Ketua Bidang Penanganan Satgas Covid-19, Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander K. Ginting. Ia mengatakan ketika kalung tali masker diturunkan, tentunya masker akan mengenai baju dan hijab yang berpotensi menyebarkan virus, sehingga penggunaan kalung tali masker sangat tidak dianjurkan. Apalagi, pemakaian kalung tali masker ini sering dilepas-pasang yang dapat menyebabkan virus menempel di permukaan, hidung, dan mata apabila disentuhkan pada wajah melalui tangan yang terkontaminasi.

    Bagaimana Pandangan dari Ahli?

    Seperti dilansir dari Kompas.com, dokter umum yang juga merupakan kandidat PhD bidang Medical Science di Kobe University, Adam Prabata, menyatakan bahwa tali masker yang dikaitkan dengan kalung cukup berpotensi menimbulkan kontaminasi silang akibat droplet yang dapat menempel ke area dalam masker.

    Baca Juga: Masker, Ampuhkah Lawan Corona?

    Lalu, Seperti Apa Seharusnya Menyimpan Masker yang Benar saat Hendak Makan dan Minum?

    Ketika Sahabat hendak makan dan minum, tentu masker harus dilepas, namun cara terbaik sebenarnya adalah dengan disimpan, bukan digantung atau dikalungkan. Dilansir dari Detikcom, Anne Liu, ahli penyakit menular di Stanford Health Care mengatakan sebaiknya masker disimpan dalam plastik kedap udara.

    Oleh karena itu, Sahabat harus menyediakan kantong plastik dengan klep penutup berkedap udara. Selain kantong plastik, Sahabat juga disarankan membawa kantong kertas cokelat sebagai tempat menyimpan masker dengan aman jika berada di luar rumah. Yang paling penting untuk diperhatikan adalah saat melepas masker, pastikan tangan tidak menyentuh bagian luar masker dan sebelum melepas usahakan tangan dibersihkan dengan mencuci tangan terlebih dahulu.

    Baca Juga: Seperti Inilah Cara Melepas Masker dengan Benar

    Itulah Sahabat Sehat mengenai kalung tali masker yang ternyata tidak disarankan dan kurang bermanfaat. Oleh karena itu, Sahabat harus tetap memakai masker sesuai prosedur yang benar. Apabila Sahabat perlu informasi lebih lanjut mengenai masker dan produk-produk kesehatan yang berkaitan silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Hastuti R. Ngetren Gantungan Masker, Satgas Covid Ingatkan Bahaya Ini [Internet]. lifestyle. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20210225192809-33-226241/ngetren-gantungan-masker-satgas-covid-ingatkan-bahaya-ini
    2. Media K. Satgas Covid-19 Sebut Kalung Tali Masker Berbahaya, Ini Alasannya Halaman [Internet]. KOMPAS.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.kompas.com/sains/read/2021/02/25/070000023/satgas-covid-19-sebut-kalung-tali-masker-berbahaya-ini-alasannya?page=all
    3. Azizah K. Pakai Tali Masker Berisiko, Begini Cara Aman Simpan Masker [Internet]. detikHealth. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5435285/pakai-tali-masker-berisiko-begini-cara-aman-simpan-masker
    Read More
  • Virus Corona memang salah satu virus yang dapat mematikan. Keberadaannya hingga saat ini telah menginfeksi dan mematikan jutaan nyawa di dunia, termasuk di Indonesia. Belum ada obat pasti untuk mematikan virus SARS CoV-2 ini. Tindakan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan upaya pencegahan, seperti pemberlakuan protokol kesehatan dan vaksinasi. Baca Juga: Mengenal Trypanophobia, Fobia Jarum […]

    Mengenal Coronaphobia, Ketakutan Berlebihan Terhadap Virus Corona

    Virus Corona memang salah satu virus yang dapat mematikan. Keberadaannya hingga saat ini telah menginfeksi dan mematikan jutaan nyawa di dunia, termasuk di Indonesia. Belum ada obat pasti untuk mematikan virus SARS CoV-2 ini. Tindakan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan upaya pencegahan, seperti pemberlakuan protokol kesehatan dan vaksinasi.

    coronaphobia, fobia corona

    Baca Juga: Mengenal Trypanophobia, Fobia Jarum Suntik saat Vaksinasi Corona

    Banyak orang yang cukup waspada dengan mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan supaya tidak tertular virus Corona. Namun, rupanya kewaspadaan ini oleh sebagian orang ditanggapi dengan perilaku kecemasan berlebihan yang dikenal dengan coronaphobia atau fobia terhadap Corona.

    Coronaphobia berbeda dengan covidiot atau orang-orang yang keras kepala, tidak mau menjalankan protokol kesehatan, dan menganggap Corona tidak ada. Fobia ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental apabila dibiarkan terus-menerus. Lalu, bagaimana dan seperti apa fobia terhadap Corona itu? Yuk, mari simak bersama-sama di bawah ini!

    Seperti Apa Gejalanya?

    Dilansir dari Health.com, coronaphobia didefinisikan sebagai respons berlebihan terhadap rasa takut akan tertular virus penyebab COVID-19 yang dapat menimbulkan gejala fisiologis, stres yang signifikan akibat masalah pribadi dan pekerjaan, perilaku mencari reassurance (ketentraman hati, penghiburan) dan rasa aman yang berlebihan, serta menghindari tempat umum/keramaian, sehingga menyebabkan gangguan aktivitas sehari-hari.

    Gejala fisiologis yang dimaksud adalah kekhawatiran terus-menerus, jantung berdebar-debar, tremor, sulit bernapas, pusing, hingga perubahan nafsu makan dan pola tidur.

    Apa Penyebabnya?

    Coronaphobia disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidakpastian akan situasi dalam pandemi, seperti ketakutan terpapar virus atau menghadapi kenyataan bahwa gaji bulanan yang biasa diterima akan dipotong sebagai dampak pandemi yang luar biasa terhadap kinerja perusahaan.

    Baca Juga: Lakukan Langkah Ini Jika Stres Karena Corona

    Hal lainnya adalah tidak siap dalam mengadopsi kebiasaan baru yang berlaku, seperti harus mematuhi protokol kesehatan atau transisi dari pekerjaan offline ke online yang menuntut banyak penggunaan teknologi, serta ketakutan yang muncul akibat banyaknya pemimpin dunia dan selebriti yang tertular virus.

    Siapa yang Berisiko Mengalami Coronaphobia?

    Berdasarkan sebuah penelitian, ternyata wanita lebih banyak mengalami kecemasan dibandingkan pria. Hal ini berdasarkan fakta bahwa wanita memiliki kecemasan yang lebih besar, misalnya ketika menghadapi anggota keluarga yang sakit. Wanita juga cenderung memiliki anggapan sepihak bahwa dirinya bertanggung jawab menyebarkan virus terhadap anggota keluarganya.

    Selain wanita, kelompok usia muda juga berpotensi terkena fobia akibat efek pandemi yang tidak pasti terhadap masa depan. Kebanyakan dari mereka menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial yang tentu saja dapat meningkatkan kecemasan tentang pandemi.

    Apa Bedanya dengan Kecemasan Biasa?

    Perbedaan antara coronaphobia dan kecemasan biasa dapat dilihat dari perilaku seseorang pada masa pandemi, demikian yang diungkap oleh Lily Brown PhD, Direktur Centre for Treatment and Study of Anxiety di Universitas Pennsylvania.

    Perilaku yang dinilai mencakup kepuasan menjalani kehidupan di masa pandemi, interaksi dengan orang-orang sekitar, kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pangan selama pandemi, dan kemampuan menyelesaikan semua tugas yang diberikan apabila masih bekerja.

    Jika terdapat ketidakpuasan dan kesulitan dalam beraktivitas atau menyelesaikan pekerjaan karena panik berlebihan atau takut dirinya dan anggota keluarganya tertular virus, maka ini merupakan tanda kecemasan yang dapat mengarah pada fobia.

    Bagaimana Cara Mengatasinya?

    Salah satu cara untuk mengatasi fobia adalah dengan terapi perilaku kognitif yang terbukti efektif dan efisien membantu mengatasi kecemasan. CDC menganjurkan untuk menjaga kesehatan fisik, menyisihkan waktu untuk istirahat, relaksasi pikiran dan tubuh dengan bersantai dalam menghadapi setiap permasalahan, serta banyak berinteraksi dengan orang-orang atau komunitas sekitar.

    Selain itu, apabila Sahabat mengalami gejala coronaphobia, sebaiknya Sahabat berkonsultasi dengan profesional kesehatan. Sahabat bisa memanfaatkan teknologi telemedicine agar dapat berkonsultasi secara virtual.

    Baca Juga: Gangguan Kesehatan Jiwa, dari Penyebab hingga Cara Mengatasi

    Itulah beberapa hal mengenai coronaphobia yang merupakan reaksi kecemasan tidak wajar akibat rasa ketakutan berlebihan akan virus Corona. Jangan sampai Sahabat mengalami masalah ini karena akan berdampak pada kehidupan sosial. Apabila Sahabat mengalami gejala coronaphobia, jangan sampai dibiarkan berlarut-larut.

    Sahabat bisa memanfaatkan layanan telemedicine dari Prosehat untuk konsultasi mengenai fobia Corona ini. Info lebih lengkap silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    Referensi:

    1. Coronaphobia Is a New Disorder Emerging From the COVID-19 Pandemic—Here’s What You Need to Know [Internet]. Health.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.health.com/condition/infectious-diseases/coronavirus/coronaphobia-covid-anxiety-disorder
    2. Prasasti G. Coronaphobia: Masalah Kecemasan Berlebihan yang Mengintai Akibat Pandemi COVID-19 [Internet]. liputan6.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://www.liputan6.com/health/read/4491460/coronaphobia-masalah-kecemasan-berlebihan-yang-mengintai-akibat-pandemi-covid-19
    3. Yuk Kenali Coronaphobia, Gejala dan Cara Mengatasinya [Internet]. lifestyle.okezone.com. 2021 [cited 26 February 2021]. Available from: https://lifestyle.okezone.com/read/2021/02/24/481/2367555/yuk-kenali-coronaphobia-gejala-dan-cara-mengatasinya
    Read More
  • Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor Nomor H.K.01.07/Menkes/9860/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease (Covid-19), Indonesia menetapkan beberapa jenis vaksin yang bisa digunakan di Indonesia. Namun kenyataannya, tidak semua orang bisa mendapatkan vaksin berbayar. Masyarakat juga perlu mengetahui harga vaksin Covid-19. Salah satu faktor dalam keberhasilan vaksinasi global adalah harga vaksin yang […]

    Berikut Harga Vaksin Covid-19 yang Perlu Sahabat Ketahui

    Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor Nomor H.K.01.07/Menkes/9860/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease (Covid-19), Indonesia menetapkan beberapa jenis vaksin yang bisa digunakan di Indonesia.

    Namun kenyataannya, tidak semua orang bisa mendapatkan vaksin berbayar. Masyarakat juga perlu mengetahui harga vaksin Covid-19. Salah satu faktor dalam keberhasilan vaksinasi global adalah harga vaksin yang diakses  seluruh masyarakat di dunia.

    Baca Juga: Vaksin Covid-19 Tiba di Indonesia dan Cara Mendapatkannya

    Harga vaksin Covid-19 yang berbeda disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti biaya teknologi, jumlah pendanaan publik, jaringan produksi perusahaan, dan lainya.

    harga vaksin covid-19, harga vaksin corona

    Pemerintah juga akan mengeluarkan biaya lanjutan untuk distribusi dan administrasi program vaksinasi Covid-19. Negara perlu memiliki mekanisme yang baik dan target agar vaksin Covid-19 dapat menjangkau seluruh masyarakatnya, baik untuk masa sekarang atau untuk jangka panjang.

    Sama seperti dengan berbagai negara di seluruh belahan dunia, Indonesia sudah mulai melakukan vaksinasi Covid-19 guna mencegah penyebaran Covid-19. Namun, vaksin memiliki banyak jenis dan setiap jenis vaksin memiliki harga yang berbeda. Berikut harga vaksin Covid-19:

    Vaksin Bio Farma

    Bio Farma pernah menyampaikan harga vaksin Covid-19 sekitar US$5 hingga US$10 per dolar AS atau setara dengan Rp70.660 ribu hingga Rp141.320 per dosisnya. Namun, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, harga vaksin Covid-19 akan dijual sekitar Rp 200.000.

    Namun, perseroan hanya akan mengusulkan harga pokok produksi (HPP) vaksin kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dan Kemenkes nantinya yang akan menetapkan harga.

    Vaksin AstraZeneca

    Harga vaksin Covid-19 AstraZeneca diperkirakan memiliki harga sebesar US$ 3 hingga US$ 4 atau setara Rp 56.528 hingga Rp 70.660 per dosisnya. Produsen obat asal Inggris pernah menyatakan bahwa vaksin ini memiliki tingkat efektivitas sebesar 90%. Dan Indonesia telah memesan vaksin yang dikembangkan bersama Universitas Oxford.

    Vaksin ini dibuat dengan teknologi yang memanfaatkan virus penyebab pilek (adenovirus) dari simpanse yang sudah dimodifikasi. Virus tersebut mirip seperti SARS-COV-2 yang menyebabkan terjadi Covid-19, namun tidak bisa menyebabkan penyakit.

    Vaksin Sinopharm

    Vaksin yang berasal dari Cina memiliki harga sebesar 1.000 yuan Cina atau setara dengan Rp 2,15 juta untuk dua kali suntikan vaksin. Harga vaksin ini bisa dibilang paling mahal, dibandingkan harga vaksin Covid-19 yang lainnya.

    Baca Juga: Mengapa Vaksin Itu Baik dan Perlu?

    Vaksin Moderna

    Vaksin yang memiliki tingkat efektivitas sebesar 94,5 persen memiliki harga sebesar US$32 sampai US$37 per dosisnya atau setara dengan Rp452.224 ribu hinga Rp522.884 ribu per dosisnya. Perlu diketahui, vaksin ini merupakan salah satu vaksin yang memiliki pengembangan yang cukup signifikan. Vaksin yang dibuat dengan teknologi RNA mengharuskannya disimpan pada suhu minus 20 derajat celcius.

    Vaksin Pfizer Inc-BioNtech

    Pfizer bekerja sama dengan BioNtech merupakan perusahaan Amerika Serikat (AS) yang pertama mengklaim kefektivitasan dari vaksin ini lebih dari 90 persen. Karena menggunakan teknologi RNA, vaksin ini harus disimpan dalam suhu minus 70 sampai 80 derajat Celcius. Harga vaksin Covid-19 ini dibanderol sebesar US$20 per dosis atau Rp 282.640 per dosisnya.

    Vaksin ini awalnya merupakan satu-satunya vaksin yang mendapat izin penggunaan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan vaksin ini dibuat dengan teknologi messenger RNA (Mrna), vaksin yang tidak mengandung virus hidup.

    Vaksin Sinovac

    Vaksin Sinovac berasal dari perusahaan farmasi yang berada di Cina. Dan vaksin ini merupakan vaksin Covid-19 yang pertama kali mendarat di Indonesia dan dipakai untuk memulai program vaksinasi bagi masyarakat Indonesia. Harga vaksin Covid-19 ini adalah sebesar US$10 sampai US$20 atau sekitar Rp 141.320 sampai Rp282.640 per dosisnya.

    Vaksin Sinovac ini dibuat dengan teknologi inactivated virus atau memanfaatkan virus yang sudah dilemahkan. Alasan pemerintah Indonesia menggunakan vaksin Sinovac adalah dengan tujuan tidak memberatkan pemerintah, karena harganya masih kisaran Rp 200.000 saja.

    Vaksin Novavax

    Vaksin buatan perusahaan AS disebut-sebut juga akan digunakan di Indonesia. Harga vaksin Covid-19 ini memiliki harga sekitar US$16 atau Rp225.000 per dosisnya. Vaksin ini dibuat dengan memanfaatkan sebagian kecil protein dari virus Corona yang dipakai untuk menginfeksi sel.

    Nah, Sahabat Sehat kini sudah mengetahui kan berbagai harga vaksin Covid-19. Perlu diketahui walaupun Sahabat Sehat sudah melakukan vaksinasi Covid-19, kalian harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada. Seperti menerapkan 5M, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan. Serta tidak lupa menerapkan juga 2I, yaitu Imun dan Iman.

    Karena, guna atau fungsi dari vaksin Covid-19 bukanlah membuat seseorang menjadi kebal dan akan terhindar dari paparan virus Covid-19. Fungsi vaksin Covid-19 adalah untuk membentuk imun kekebalan suatu kelompok. Jadi, apabila semakin banyak orang yang divaksin, semakin banyak juga manusia yang tingkat kekebalannya bertambah dan semakin sedikit yang terpapar.

    Baca Juga: Vaksin Merah Putih Sudah Sampai Mana Perkembangannya?

    Diharapkan, Indonesia beserta negara lain yang ada di dunia bisa segera mensukseskan vaksinasi Covid-19, sehingga tercipta kekebalan kelompok dan semakin sedikit orang yang terpapar Covid-19 dan kurva Covid-19 mulai melandai.

    Setelah sebagian besar masyarakat di suatu negara sudah melakukan vaksinasi Covid-19, maka semakin lama, perlahan-lahan negara bahkan dunia bisa kembali normal. Asalkan dengan catatan, semuanya bisa terjadi apabila manusia tertib dengan peraturan yang ada sekarang. Serta mendukung penuh program vaksin Covid-19. Apabila Sahabat memerlukan informasi lebih lanjut mengenai vaksin Covid-19 seperti konsultasi dengan dokter, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    Referensi:

    1. Indonesia, C., 2021. Daftar Estimasi Harga Vaksin Corona di Indonesia. [online] ekonomi. Available at: <https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201208133713-92-579366/daftar-estimasi-harga-vaksin-corona-di-indonesia> [Accessed 25 February 2021].
    2. Media, K., 2021. 75 Juta Orang Harus Bayar Sendiri, Ini Rincian Harga Vaksin Corona Indonesia Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/12/072500665/75-juta-orang-harus-bayar-sendiri-ini-rincian-harga-vaksin-corona-indonesia?page=all> [Accessed 25 February 2021].
    3. Bisnis.com. 2021. 4 Tantangan Utama Menghentikan Pandemi Covid-19 | Lifestyle – Bisnis.com. [online] Available at: <https://lifestyle.bisnis.com/read/20210222/106/1359436/4-tantangan-utama-menghentikan-pandemi-covid-19> [Accessed 25 February 2021].
    4. Anwar, F., 2021. Update 5 Jenis Vaksin COVID-19 dan Harganya di Indonesia. [online] detikHealth. Available at: <https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5349076/update-5-jenis-vaksin-covid-19-dan-harganya-di-indonesia> [Accessed 25 February 2021].
    Read More
  • Pandemi Covid-19 masih terus terjadi di seluruh dunia. Bahkan makin hari, jumlah orang yang terpapar masih terus meningkat. Begitupun juga dengan kematian akibat Covid-19. Guna mencegah semakin banyaknya orang yang terpapar Covid-19, Indonesia dan negara di seluruh dunia memberikan vaksin kepada warga negaranya. Namun, ternyata tidak semua orang bisa menerima vaksin. Skrining penerima vaksin dilakukan […]

    Seperti Apa Syarat Penerima Vaksin Covid-19?

    Pandemi Covid-19 masih terus terjadi di seluruh dunia. Bahkan makin hari, jumlah orang yang terpapar masih terus meningkat. Begitupun juga dengan kematian akibat Covid-19. Guna mencegah semakin banyaknya orang yang terpapar Covid-19, Indonesia dan negara di seluruh dunia memberikan vaksin kepada warga negaranya. Namun, ternyata tidak semua orang bisa menerima vaksin. Skrining penerima vaksin dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan oleh penerima vaksin.

    syarat penerima vaksin covid-19, syarat penerima vaksin corona

    Baca Juga: Bolehkah Menerima Vaksinasi Lain Setelah Vaksinasi Virus Corona?

    Berikut adalah beberapa syarat penerima vaksin:

    Tidak memiliki penyakit

    Sebelum melakukan vaksin, biasanya penerima vaksin melakukan screening atau penapisan. Dalam screening tersebut, penerima yang memiliki penyakit gejala infeksi saluran pernapasan (ISPA) seperti batuk, pilek, dan sesak napas dalam tujuh hari terakhir, tidak bisa melakukan vaksinasi. Atau dalam hal lain, disebut juga sebagai penyakit yang pernah diderita orang yang terpapar Covid-19.

    Kemudian, apabila penerima vaksin sedang mendapatkan terapa aktif jangka panjang terhadap kelainan jantung atau gagal jantung atau penyakit jantung koroner. Penyakit autoimun sistemi seperti SLE atau lupus, sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya.

    Penyakit ginjal kronis atau sedang menjalani hemodialysis atau dialysis peritoneal atau transplantasi ginjal atau sindroma nefrotik dengan kortikosteroid Reumatik autoimun atau rhematoid arthritis Penyakit saluran pencernaan kronis Penyakit hipertiroid atau hipotiroid karena autoimun. Tidak bisa memenuhi syarat penerima vaksin.

    Memiliki penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais atau defisiensi imun, dan penerima produk darah atapun transfusi. Apabila Sahabat Sehat memiliki salah satu penyakit yang telah disebutkan di atas, Sahabat Sehat tidak memenuhi syarat sebagai penerima vaksin.

    Tidak sedang hamil

    Bagi para ibu hamil, vaksinasi masih harus ditunda dulu sampai dengan setelah melahirkan. Atau apabila ingin berniat hamil, Sahabat Sehat bisa melakukan perencanaan kehamilannya setelah mendapatkan vaksinasi kedua Covid-19. Agar Sahabat Sehat bisa memenuhi syarat penerima vaksin.

    Baca Juga: Benarkah Vaksin Covid-19 Menyebabkan Kemandulan?

    Beberapa sumber ada yang bilang ibu menyusui bisa melakukan vaksinasi Covid-19. Namun, beberapa sumber juga ada yang bilang bahwa ibu menyusui tidak bisa melakukan vaksinasi. Persyaratan tersebut rupanya terus dilakukan pembaruan. Dan syarat terbarunya adalah, ibu menyusi boleh melakukan vaksinasi Covid-19.

    Tidak kontak erat dengan pasien Covid-19

    Syarat penerima vaksin selanjutnya adalah calon penerima vaksin, tidak bisa memenuhi syarat penerima vaksin apabila melakukan kontak erat dengan pasien, suspek, konfirmasi Covid-19. Dan calon penerima vaksin harus memiliki kategori, dalam satu rumah tidak ada yang sedang dalam kondisi Covid-19.

    Memiliki suhu tubuh di bawah 37,5 derajat Celcius

    Apabila calon penerima vaksin saat pengukuran suhu tubuh memiliki suhu di atas 37,5 derajat celcius, maka vaksinasi Covid-19 harus ditunda sampai calon penerima vaksin dinyatakan sembuh. Karena hal tersebut merupakan hal yang dasar syarat penerima vaksin.

    Selain itu, penundaan vaksinasi Covid-19 akan ditunggu sampai terbukti calon penerima vaksin tidaklah menderita Covid-19. Serta akan dilakukan skrining ulang pada saat kunjungan berikutnya untuk memenuhi syarat penerima vaksin.

    Penderita Diaberes Mellitus (DM)

    Apabila penderita diabetes mellitus (DM) tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5 persen, bisa diberikan vaksinasi.

    Produk Terkait: Lawan Diabetes

    Penderita HIV

    Para penderita HIV bisa saja menerima vaksin Covid-19. Namun apabila penderita HIV memiliki angka CD4 di bawah 200 atau tidak diketahui, maka vaksinasi Covid-19 tidak bisa diberikan.

    Penyakit Paru

    Jika calon penerima vaksinasi memiliki penyakit paru seperti, asma, PPOK atau TBC maka vaksinasi harus ditunda sampai kondisi pasien terkontrol dengan baik. Sedangkan khusus pasien TBC dalam pengobatan, vaksinasi baru bisa diberikan setelah minimal dua minggu pasien mendapat obat anti tuberculosis.

    Penyakit lain non-screening

    Syarat penerima vaksin khusus penyakit lain yang belum atau tidak disebutkan di atas, bisa langsung melakukan konsultasi kepada dokter ahli yang merawatnya. Bahkan lebih baik para calon penerima vaksin membawa surat keterangan atau catatan medis dari dokter yang menanganinya selama ini.

    Para penderita komorbid

    Ternyata para penderita komorbid bisa divaksin, hal tersebut tentunya harus dibarengi dengan surat rekomendasi dari dokter yang biasa menangani pasien tersebut, serta kondisi pasien harus terkontrol.

    Syarat Penerima Vaksin Lansia

    Lansia saat ini sudah diizinkan untuk menerima vaksin Covid-19. Namun, sebelum dilakukan vaksinasi, para lansia akan diberikan beberapa pertanyaan, seperti apakah mereka masih bisa menaiki 10 anak tangga tanpa bantuan orang lain. Kemudian apakah masih bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain, apakah dalam kurun waktu satu tahu terjadi penurunan berat badan.

    Apabila dua dari tiga pertanyaan di atas jawabannya adalah tidak, vaksinasi belum bisa diberikan kepada para lansia. Karena pertanyaan tersebut merupakan syarat penerima vaksin.

    Baca Juga: Efek Samping Vaksin Covid-19 dan Cara Mengatasinya

    Jadi, Sahabat Sehat perlu mengetahui fungsi dari vaksin Covid-19 sendiri adalah untuk membentuk antibodi sekaligus merupakan suatu zat atau senyawa yang berguna untuk membentuk kekebalan tubuh pada suatu penyakit. Zat atau senyawa ini merupakan suatu penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Dengan harapan virus yang sudah dimatikan itu akan membentuk kekebalan dalam tubuh.

    Fungsi dari vaksin bukanlah membuat orang menjadi kuat dan anti virus. Walaupun sudah divaksin, Sahabat Sehat harus tetap menerapkan 5M, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta mengurangi mobilitas.

    Apabila Sahabat ingin konsultasi mengenai vaksin dengan doktern 24 jam, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

     

    Referensi:

    1. Media, K., 2021. Simak Lagi, Ini 9 Syarat Penerima Vaksin Covid-19 di Indonesia Halaman all – Kompas.com. [online] KOMPAS.com. Available at: <https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/25/144500365/simak-lagi-ini-9-syarat-penerima-vaksin-covid-19-di-indonesia?page=all> [Accessed 25 February 2021].
    2. Septiani, A., 2021. 14 Syarat Penerima Vaksin Corona, Perlu Banget Dicatat Nih!. [online] detikHealth. Available at: <https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5376673/14-syarat-penerima-vaksin-corona-perlu-banget-dicatat-nih> [Accessed 25 February 2021].
    3. Dinkes.acehprov.go.id. 2021. Dinas Kesehatan Aceh | Ini 9 Syarat yang Harus Dipenuhi Calon Penerima Vaksin Covid-19. [online] Available at: <https://dinkes.acehprov.go.id/news/read/2021/01/19/556/ini-9-syarat-yang-harus-dipenuhi-calon-penerima-vaksin-covid-19.html> [Accessed 25 February 2021].
    4. beritasatu.com. 2021. Ini Syarat Lansia Bisa Divaksin Covid-19. [online] Available at: <https://www.beritasatu.com/kesehatan/737121/ini-syarat-lansia-bisa-divaksin-covid19> [Accessed 25 February 2021].
    Read More
Chat Dokter 24 Jam