Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Author Archive for: dr Erika Gracia

dr Erika Gracia

About dr Erika Gracia

Showing 21–30 of 31 results

  • Gejala dari Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 memang sangat menyerupai dengan gejala flu biasa yang dikenal juga sebagai common cold. Common cold sendiri juga disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernafasan terutama bagian atas seperti hidung dan tenggorokan. Kelompok Rhinoviruses merupakan penyebab 50% batuk pilek biasa, sisanya bisa disebabkan oleh Respiratory […]

    Waspada, Beda Batuk Gejala Flu Biasa dan Batuk Gejala Corona

    Gejala dari Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 memang sangat menyerupai dengan gejala flu biasa yang dikenal juga sebagai common cold. Common cold sendiri juga disebabkan oleh virus yang menyerang saluran pernafasan terutama bagian atas seperti hidung dan tenggorokan. Kelompok Rhinoviruses merupakan penyebab 50% batuk pilek biasa, sisanya bisa disebabkan oleh Respiratory Syncytial Virus (RSV), virus parainfluenza, virus influenza, maupun Coronaviruses tipe lain yang menyerang manusia. Common cold  yang disebabkan oleh virus biasanya dapat sembuh sendiri, gejala yang ditimbulkan pun cenderung ringan. Ayo simak artikel di bawah ini agar dapat membedakan gejala common cold dengan COVID-19.

    batuk gejala flu dan batuk gejala corona

    Baca Juga: 8 Istilah Baru Penderita Covid-19, Mulai dari Suspek Hingga Kematian

    Gejala-gejala dari common cold dimulai dengan hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, lalu akan muncul gejala batuk, pilek, demam, dan kurangnya kemampuan untuk mencium dan merasa. Sedangkan, common cold yang disebabkan oleh virus influenza biasanya memiliki gejala yang lebih berat dan disertai dengan demam yang lebih tinggi. Gejala ini kurang lebih sama pada anak-anak maupun orang dewasa, bisa berlangsung 7-10 hari namun bisa lebih lama terutama pada anak-anak, orang yang sudah lanjut usia, dan orang yang mengalami gangguan sistem imun. Orang dewasa dapat terkena common cold 2-4 kali dalam setahun, sedangkan anak-anak bisa terkena penyakit ini 6-8 kali dalam setahun.

    Sama seperti gejala flu biasa, COVID-19 juga menginfeksi saluran pernafasan. Gejala yang paling sering ditemukan pada pasien COVID-19 adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Sebagian pasien, ada yang mengalami nyeri pada otot, hidung tersumbat, pilek, nyeri tenggorokan, dan diare. Gejala biasanya muncul ringan namun dapat memberat seiring waktu. Terdapat beberapa orang juga yang terinfeksi namun tidak bergejala dikenal juga sebagai penderita yang asimtomatik/silent carrier. Sebagian besar pasien (sekitar 80%) dapat sembuh dari penyakit ini tanpa tatalaksana yang khusus. Namun, 1 dari 6 orang yang terkena COVID-19 dapat bergejala berat dan mengalami sulit bernafas, biasanya terjadi pada orang yang lanjut usia atau yang sudah memiliki penyakit sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, maupun diabetes. Seseorang yang sudah mengalami gejala demam, batuk dan sesak nafas harus segera memeriksakan diri ke dokter karena merupakan gejala infeksi yang terjadi hingga ke saluran pernafasan bagian bawah yaitu organ paru-paru.

    Baca Juga: Inilah 7 Perbedaan PCR Swab dan Rapid Test Corona

    Penularan common cold dan COVID-19 sama-sama melalui percik renik yang keluar saat batuk maupun bersin. Sehingga cara untuk melindungi diri dari kedua penyakit ini kurang lebih sama, yaitu dengan rajin mencuci tangan dengan air dan sabun minimal selama 20 detik, bila tidak ada sabun bisa menggunakan hand rub berbahan dasar alkohol. Menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain karena percikan cairan yang mengandung virus dapat keluar saat orang sedang batuk maupun bersin. Jangan memegang bagian mata, hidung maupun mulut karena tangan kita memegang banyak barang sehari-harinya yang dapat terkontaminasi dengan virus. Serta mengetahui etika batuk dan bersin yang benar yaitu dengan menutup bagian mulut dan hidung dengan tisu maupun bagian dalam siku, segera buang tisu dan cuci tangan.

    Baca Juga: Inilah Gejala Corona dari Hari ke Hari

    Penyakit COVID-19 menimbulkan gejala yang ringan hingga sangat berat, bahkan bisa mengancam nyawa. Sekilas gejala ringan dari COVID-19 memang mirip dengan flu biasa, namun bila memberat penyakit ini bisa menginfeksi hingga saluran nafas bagian bawah dan menyebabkan kesulitan bernafas dan komplikasi lainnya. Gejala utama dari penyakit ini pun adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering/batuk yang tidak berdahak. Sedangkan bila flu biasa gejala diawali dengan rasa hidung yang tersumbat maupun tenggorokan yang kering dan lama-kelamaan akan muncul gejala batuk dan bersin.

    Untuk informasi terkait corona, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Upper Respiratory Tract Infection – StatPearls – NCBI Bookshelf [Internet]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532961/
    2. Facts About the Common Cold | American Lung Association [Internet]. Available from: https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/influenza/facts-about-the-common-cold
    3. CDC. Common Colds [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2019. Available from: http://www.cdc.gov/features/rhinoviruses/index.html
    4. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Available from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    5. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html

     

    Read More
  • Penyebaran virus SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan Coronavirus disease 2019 (COVID-19) sampai saat ini masih sulit untuk dikendalikan. Penyakit ini sudah dinyatakan sebagai pandemik yang tersebar di seluruh dunia. Hingga tanggal 1 April 2020, terdapat 823.626 jumlah kasus di seluruh dunia dan telah menyebabkan 40.598 kematian. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus sudah mencapai 1.790 kasus terkonfirmasi […]

    Waspada Terinfeksi Corona Tanpa Gejala (Silent Carrier)

    Penyebaran virus SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan Coronavirus disease 2019 (COVID-19) sampai saat ini masih sulit untuk dikendalikan. Penyakit ini sudah dinyatakan sebagai pandemik yang tersebar di seluruh dunia. Hingga tanggal 1 April 2020, terdapat 823.626 jumlah kasus di seluruh dunia dan telah menyebabkan 40.598 kematian. Di Indonesia sendiri, jumlah kasus sudah mencapai 1.790 kasus terkonfirmasi dan 170 orang yang meninggal.

    Menurut data dari the South China Morning Post newspaper, 1 dari 3 orang yang memiliki hasil tes positif terinfeksi virus tidak menunjukkan tanda dan gejala penyakit (silent carrier). Terdapat lebih dari 43.000 orang di Cina yang memiliki tes positif COVID-19 pada akhir bulan Februari namun tidak memiliki gejala atau asimtomatik. Orang-orang tersebut ditempatkan di karantina dan dipantau, namun tidak dimasukkan dalam perhitungan resmi kasus yang terkonfirmasi oleh pemerintah Cina.

    Penelitian lain yang dilakukan pada penumpang kapal pesiar Diamond Princess, proporsi silent carrier sebesar 17.9%, sedangkan data dari penelitian yang dilakukan pada warga negara Jepang yang dievakuasi dari Wuhan proporsi pasien asimtomatiknya adalah 33.3%. Dengan mempertimbangkan jumlah virus yang ditemukan serupa pada pasien yang bergejala dan tidak bergejala, serta kemungkinan pasien yang tidak bergejala juga bisa menularkan COVID-19 ini, maka diperlukan tindakan preventif yang tegas untuk mengurangi penularan virus ini. Rekomendasi dari Center of Disease Control and Prevention (CDC) adalah seseorang yang memiliki kontak erat dengan pasien yang asimtomatik juga perlu melakukan isolasi diri selama 14 hari.

    Salah satu kendala dalam mengumpulkan data secara global adalah adanya perbedaan cara setiap negara untuk melaporkan kasus COVID-19. The World Health Organisation (WHO) mengklasifikasikan semua orang yang memiliki hasil tes positif sebagai kasus terkonfirmasi walaupun asimtomatik, hal ini diterapkan di Korea Selatan. Di Cina sendiri klasifikasi ini diganti pada bulan Februari, sehingga hanya pasien yang bergejala yang dimasukkan sebagai kasus terkonfirmasi. Sedangkan, di Amerika Serikat, Inggris, dan Itali pasien yang asimtomatik tidak dites sama sekali, kecuali untuk para pekerja kesehatan yang sudah terpapar dengan virus lebih banyak.

    Penyebaran COVID-19 adalah melalui percik renik yang keluar saat orang sedang batuk maupun bersin. Maka risiko penyebaran penyakit ini tinggi pada orang yang bergejala dan sering batuk maupun bersin. Namun, banyak pasien hanya mengalami gejala ringan terutama pada awal perjalanan penyakit sehingga terkadang tidak merasa sakit. Para ilmuwan sampai sekarang masih meneliti lebih lanjut mengenai risiko penularan virus dari orang yang tidak bergejala.

    Physical distancing merupakan himbauan yang perlu diterapkan untuk menurunkan angka penularan penyakit agar situasi lebih mudah untuk dikendalikan. Setiap individu memiliki peranannya masing-masing seperti menjaga jarak setidaknya satu meter saat sedang berinteraksi dengan orang lain serta menghindari kontak fisik seperti berjabat tangan, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala atau membungkuk. Ingatlah untuk selalu melakukan pola hidup yang bersih dan sehat yaitu dengan rutin mencuci tangan dengan air dan sabun minimal selama 20 detik, hindari memegang area wajah, serta melakukan etika batuk dan bersin yang benar yaitu menutup bagian hidung dan mulut dengan tisu atau bagian dalam lipat siku.

    Ketentuan karantina diri yang berlaku di Indonesia dilakukan pada Orang dalam Pemantauan atau orang yang memiliki kontak erat dengan Pasien dalam Pengawasan (PDP). Karantina diri dilakukan selama 14 hari, selama masa karantina perlu dilakukan pemantauan setiap hari dengan pemeriksaan suhu tubuh dan skrining gejala harian.

    Untuk informasi terkait corona, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Novel Coronavirus (2019-nCoV) situation reports [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/situation-reports
    2. A third of virus cases may be ‘silent carriers’, classified data suggests [Internet]. South China Morning Post. 2020. Available from: https://www.scmp.com/news/china/society/article/3076323/third-coronavirus-cases-may-be-silent-carriers-classified
    3. Mizumoto K, Kagaya K, Zarebski A, Chowell G. Estimating the asymptomatic proportion of coronavirus disease 2019 (COVID-19) cases on board the Diamond Princess cruise ship, Yokohama, Japan, 2020. Eurosurveillance. 2020 Mar 12;25(10):2000180.
    4. Estimation of the asymptomatic ratio of novel coronavirus infections (COVID-19). – PubMed – NCBI [Internet]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32179137
    5. Q&A on coronaviruses (COVID-19) [Internet]. Available from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses
    6. Advice for public [Internet].Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    7. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    Read More
  • Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang sudah dinyatakan sebagai pandemik oleh the World Health Organization (WHO). Mungkin bagi ibu yang sedang hamil ditengah pandemik ini memiliki kecemasan mengenai kesehatan diri sendiri dan bayi yang sedang dikandung. Berikut adalah panduan tanya-jawab yang sering ditanyakan oleh masyarakat: Apakah wanita hamil memiliki […]

    Panduan untuk Wanita Hamil Saat Pandemi Corona

    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang sudah dinyatakan sebagai pandemik oleh the World Health Organization (WHO). Mungkin bagi ibu yang sedang hamil ditengah pandemik ini memiliki kecemasan mengenai kesehatan diri sendiri dan bayi yang sedang dikandung. Berikut adalah panduan tanya-jawab yang sering ditanyakan oleh masyarakat:

    1. Apakah wanita hamil memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terkena COVID-19?

    Sejauh ini para ilmuwan masih meneliti lebih lanjut mengenai dampak COVID-19 pada wanita hamil. Saat ini, data yang dimiliki masih terbatas, namun sampai sekarang belum ada bukti ilmiah adanya risiko gejala penyakit yang lebih berat pada wanita hamil dibandingkan populasi umum lainnya. Gejala penyakit yang lebih berat seperti pneumonia lebih sering ditemukan pada orang lanjut usia, orang dengan penyakit yang mendasari sebelumnya, dan orang yang memiliki penurunan kerja sistem kekebalan tubuh.1,2

    Namun, seorang wanita yang sedang hamil memang mengalami berbagai perubahan pada tubuhnya termasuk kinerja sistem imun tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan infeksi saluran pernafasan. Sehingga ibu hamil disarankan untuk mengetahui cara melindungi diri dari COVID-19.1,3

    1. Bagaimana cara melindungi diri dari COVID-19?
    • Rajin mencuci tangan dengan air dan sabun selama minimal 20 detik. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor Bila tidak ada sabun, dapat menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol.
    • Menghindari untuk memegang bagian mata, hidung, dan mulut.
    • Mengetahui etika batuk dan bersin yang benar, bila batuk atau bersin tutuplah bagian hidung dan mulut dengan tisu atau lipat siku bagian dalam. Segera buang tisu dan cuci tangan dengan air dan sabun.
    • Menjaga jarak lebih dari 1 meter dari orang lain, hal ini dilakukan karena adanya percik renik yang mungkin mengandung virus yang dapat menyebar saat seseorang batuk maupun bersin serta menghindari berpergian ke tempat yang ramai.
    • Pergi memeriksakan diri ke dokter bila mengalami gejala demam, batuk dan sesak nafas.1,4
    1. Dapatkah bayi yang baru lahir tertular COVID-19 dari ibunya?

    Sampai saat ini risiko penularan pada janin atau bayi selama masa kehamilan dan persalinan masih belum diketahui. Sehingga masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.5

    1. Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan saat hamil dan persalinan bagi ibu yang mengalami infeksi COVID-19?

    Semua wanita hamil yang merupakan pasien suspek atau terkonfirmasi infeksi COVID-19 memiliki hak untuk tetap mendapatkan pelayanan antenatal dan persalinan berkualitas tinggi yaitu:

    • Mendapatkan pelayanan dengan hormat dan bermartabat.
    • Mendapatkan informasi yang jelas dari tenaga kesehatan.
    • Mendapatkan strategi penghilang rasa nyeri yang sesuai.
    • Dapat memilih pendamping yang diinginkan untuk menemani saat persalinan.
    • Dapat bergerak bebas dan memilih posisi persalinan pilihan.1,5
    1. Apakah persalinan harus melalui operasi caesar?

    Tidak selalu. Metode persalinan spontan maupun operasi caesar ditentukan oleh indikasi kebidanan sesuai dengan kondisi ibu hamil.1

    1. Bolehkah ibu dengan COVID-19 menyusui?

    Boleh. Ibu dengan COVID-19 diperbolehkan untuk menyusui bayinya namun harus lebih memperhatikan hal berikut:

    • Mengetahui etika batuk dan bersin yang benar menggunakan masker bila tersedia.
    • Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi.
    • Rutin membersihkan dan disinfeksi permukaan-permukaan yang sering disentuh.1
    1. Bolehkah ibu dengan COVID-19 memegang bayinya?

    Boleh. Menyusui, memegang bayi, dan berada dalam satu ruangan dengan bayinya diperbolehkan. Namun, tetap ditekankan untuk rutin mencuci tangan, membersihkan permukaan yang sering disentuh, dan mengetahui etika batuk dan bersin yang benar.1

    Untuk informasi terkait corona, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Q&A on COVID-19, pregnancy, childbirth and breastfeeding [Internet]. Available from: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-on-covid-19-pregnancy-childbirth-and-breastfeeding
    2. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24;0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    3. Kourtis AP, Read JS, Jamieson DJ. Pregnancy and Infection. N Engl J Med. 2014 Jun 5;370(23):2211–8.
    4. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    5. MD HF. Pregnant and worried about the new coronavirus? [Internet]. Harvard Health Blog. 2020. Available from: https://www.health.harvard.edu/blog/pregnant-and-worried-about-the-new-coronavirus-2020031619212
    Read More
  • Penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 tengah menyita perhatian dunia. Pencegahan penularan penyakit ini adalah dengan menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat, yaitu rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta memeriksakan diri bila terdapat gejala. Selain melakukan himbauan yang […]

    Panduan Nutrisi untuk Mencegah Virus Corona Seperti Apa?

    Penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 tengah menyita perhatian dunia. Pencegahan penularan penyakit ini adalah dengan menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat, yaitu rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta memeriksakan diri bila terdapat gejala. Selain melakukan himbauan yang disebutkan di atas, menjaga kesehatan dengan meningkatkan daya tahan tubuh juga sama pentingnya. Salah satu cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh ialah menjaga asupan nutrisi setiap harinya.

    Baca Juga: Jenis Buah dan Sayur yang Baik untuk Nutrisi Otak Anak

    Pada dasarnya, tubuh kita sudah memiliki sistem imun yang dapat melawan sakit penyakit. Bila ada virus atau bakteri yang disebut juga sebagai antigen masuk ke dalam tubuh, maka akan segera dikenali oleh sistem imun dan terjadi serangkaian proses biokimia yang dapat menghasilkan antibodi spesifik untuk melawan antigen tersebut. Proses pembentukan antibodi ini membutuhkan waktu 1-2 minggu. Bila sistem imun orang tersebut kuat, maka infeksi akan teratasi. Tubuh sendiri dapat mengingat jenis antigen yang sudah pernah menyerang tersebut, sehingga bila tubuh terpapar dengan antigen yang sama, proteksi antibodi akan terbentuk dengan lebih cepat.

    Status gizi yang kurang maupun berlebih juga dapat berdampak buruk pada sistem imun tubuh, sehingga penting untuk menjaga keseimbangan nutrisi. Status gizi kurang seringkali dikaitkan dengan kondisi imunosupresi yaitu daya tahan tubuh yang kurang sehingga mudah terkena penyakit. Sedangkan, status gizi yang berlebih meningkatkan risiko terjadi inflamasi kronis yang akan mengganggu daya tahan tubuh juga. Kebutuhan nutrisi manusia dibagi menjadi dua yaitu kebutuhan nutrisi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta nutrisi mikro yaitu vitamin dan mineral.

    Berikut nutrisi yang diperlukan oleh tubuh untuk mendukung kerja sistem imun kita:

    1. Karbohidrat

    Karbohidrat adalah sumber energi yang penting untuk kerja sistem imun. Terdapat karbohidrat simpleks yang mudah diserap untuk menghasilkan energi, bisa didapatkan dari nasi, roti, gula, dan buah-buahan, serta karbohidrat kompleks yang membutuhkan proses penyerapan yang lebih lama, didapatkan dari gandum, sereal, biji-bijian, dan sayuran. Kebutuhan karbohidrat adalah 45-60% dari kalori harian yang dikonsumsi.

    1. Protein

    Protein berguna untuk bahan dasar pembentukan sel, mendukung kerja sistem imun, serta mengatur kerja enzim dan hormon. Protein akan dipecah menjadi asam amino di dalam tubuh. Kurangnya asam amino sendiri akan mengganggu kerja dari sistem imun dan meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit. Kebutuhan protein adalah 15-20% dari asupan kalori harian. Protein bisa didapatkan dari daging, telur, susu, dan kacang-kacangan.

    1. Lemak

    Lemak berperan penting dalam penyerapan vitamin A, D, E, dan K, lemak juga merupakan sumber energi bagi tubuh, 1 gram lemak dapat menghasilkan 2 kali lipat energi dibandingkan protein dan karbohidrat. Lemak akan dipecah menjadi asam lemak yang juga dapat meningkatkan respon sistem imun. Asam lemak sendiri dibagi menjadi lemak jenuh dan tidak jenuh. Lemak tidak jenuh mengandung omega-3 dan omega-6. Kebutuhan lemak adalah 25-30% dari asupan kalori harian. Sumber makanan yang mengandung lemak adalah minyak, kacang, daging, ikan, dan alpukat.

    Baca Juga: Cara Dapatkan Imunitas Tubuh Secara Alami Tanpa ke Bioskop

      4. Vitamin

    Vitamin berperan penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, fungsi sistem saraf, pencernaan, dan imun tubuh. Kurangnya vitamin dapat menurunkan produksi sel imun. Sebagian besar vitamin tidak dapat dibentuk dari dalam tubuh, sehingga perlu didapatkan dari makanan yang dikonsumsi. Vitamin C dan E dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sumber vitamin bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan. Vitamin C bisa didapatkan dari buah dan sayuran seperti jeruk, lemon, strawberi, kiwi, brokoli, dan tomat. Vitamin E bisa didapatkan dari kacang-kacangan, sayuran, dan minyak sayur seperti minyak jagung dan olive oil.9,10

    1. Mineral

    Mineral adalah zat tidak berwarna yang dapat ditemukan dari nutrisi dan penting untuk mempertahankan fungsi sel. Mineral sendiri tidak dapat dibentuk di dalam tubuh sehingga didapatkan dari makanan yang dikonsumsi. Mineral yang dibutuhkan untuk meningkatkan sistem imun tubuh adalah selenium, zinc, dan besi. Mineral bisa didapatkan dari daging merah, ikan, hati ayam, dan bayam.

    Produk Terkait: Biovision Kapsul

    Nah, Sobat itulah sederet nutrisi yang perlu diperhatikan agar kita tetap fit selama masa pandemi ini. Bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Advice for public [Internet].Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    2. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/managing-stress-anxiety.html
    3. Murin CD, Wilson IA, Ward AB. Antibody responses to viral infections: a structural perspective across three different enveloped viruses. Nat Microbiol. 2019;4(5):734–47.
    4. Alwarawrah Y, Kiernan K, MacIver NJ. Changes in Nutritional Status Impact Immune Cell Metabolism and Function. Front Immunol [Internet];9. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5968375/
    5. Karacabey K. The Effect of Nutritional Elements on the Immune System. J Obes Wt Loss Ther [Internet]. 2012.02(09). Available from: https://www.omicsonline.org/open-access/the-effect-of-nutritional-elements-on-the-immune-system-2165-7904.1000152.php?aid=10186
    6. Slavin J, Carlson J. Carbohydrates. Adv Nutr. 2014 Nov 1;5(6):760–1.
    7. Watford M, Wu G. Protein. Adv Nutr. 2018 Sep 1;9(5):651–3.
    8. Boston 677 Huntington Avenue, Ma 02115 +1495‑1000. Types of Fat [Internet]. The Nutrition Source. 2014. Available from: https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/what-should-you-eat/fats-and-cholesterol/types-of-fat/
    9. Carr AC, Maggini S. Vitamin C and Immune Function. Nutrients [Internet]. 2017 Nov 3;9(11). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5707683/
    10. Moriguchi S, Muraga M. Vitamin E and immunity. Vitam Horm. 2000;59:305–36.
    Read More
  • Pemerintah telah menghimbau agar seluruh warga tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan virus SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemi dan kian masif. Keluar rumah memang masih dibolehkan untuk beberapa hal tertentu, misalnya untuk berobat dan belanja kebutuhan sehari-hari. Baca Juga: Berobat Online […]

    6 Tips Belanja Aman di Supermarket agar Terhindar dari Corona

    Pemerintah telah menghimbau agar seluruh warga tetap berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan virus SARS-CoV-2 yang dapat menyebabkan Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemi dan kian masif. Keluar rumah memang masih dibolehkan untuk beberapa hal tertentu, misalnya untuk berobat dan belanja kebutuhan sehari-hari.

    belanja aman di supermarket

    Baca Juga: Berobat Online Lebih Efektif Saat Masa Pandemi Corona

    Penyebaran virus ini bisa dari orang ke orang terutama melalui droplets, yaitu percikan yang keluar saat batuk dan bersin yang dapat menyebar hingga 1 meter. Percikan yang mengandung virus ini dapat hidup di permukaan tertentu selama beberapa jam bahkan hari. Dengan mengetahui metode penularannya, maka metode efektif untuk mencegah penularan adalah dengan rajin mencuci tangan, tidak memegang area wajah, mengetahui etika batuk dan pilek yang benar, menggunakan masker bila sakit, menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain, memeriksakan diri ke dokter bila terdapat gejala, dan mengurangi berpergian ke tempat umum yang ramai orangnya, salah satunya pusat perbelanjaan seperti supermarket.

    Berikut adalah tips yang bisa dilakukan untuk belanja yang aman:

    1. Menjaga jarak dari karyawan dan pembeli lainnya

    Tetaplah menjaga jarak lebih dari 1 meter dengan orang lain selama berada di dalam supermarket. Ambilah waktu untuk mengantre atau membeli ke area yang lain terlebih dahulu bila area barang yang perlu Sobat beli masih ada orang lain.

    1. Rencanakan keperluan makanan selama seminggu

    Dengan merencanakan makanan selama seminggu, Sobat akan tahu apa saja yang harus dibeli. Ini akan mecegah Sobat bingung apa yang harus dibeli saat belanja dan lebih menghemat waktu. Jangan hanya mengandalkan makanan kaleng yang tahan lama, pastikan tetap membeli makanan yang bernutrisi sehat seperti buah dan sayur yang dapat mendukung kesehatan tubuh dan meningkatkan sistem imun yang kuat.

    1. Buatlah daftar belanja

    Catatlah barang-barang yang diperlukan sesuai dengan kategorinya, sebaiknya jangan terpaku pada satu produk tertentu, siapkan alternatif lainnya bila produk yang dicari tidak ada. Dengan begitu kegiatan belanja akan menjadi lebih cepat dan tepat karena tidak perlu berlama-lama untuk mencari barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

    Baca Juga: Trik Anti Rugi Belanja Online

    1. Tidak perlu belanja beramai-ramai

    Cukup satu orang saja yang belanja untuk keperluan keluarga agar kondisi di supermarket tidak ramai, proses belanja menjadi lebih cepat dan memungkinkan untuk setiap pembeli menjaga jarak dengan orang lain.

    1. Belanja secukupnya saja

    Walaupun kegiatan berbelanja sebaiknya dibatasi tidak lebih dari satu kali seminggu. Namun, Sobat tidak perlu menimbun banyak barang akibat sedang panik. Hal ini dapat merugikan masyarakat luas karena barang tersebut akan menjadi sulit untuk didapatkan oleh orang yang benar-benar membutuhkannya. Belilah barang-barang sesuai dengan kebutuhan secukupnya saja.

    1. Perilaku bersih dan sehat

    Bila Sobat dalam kondisi yang sehat tidak perlu menggunakan masker, karena penggunaan masker diprioritaskan hanya untuk orang yang sakit dan tenaga medis saja. Cukup mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun minimal selama 20 detik, sebaiknya dilakukan sebelum dan sesudah belanja. Hindari untuk memegang bagian wajah selama belanja. Setelah sampai di rumah, segera membersihkan diri dan barang-barang yang dibawa dari supermarket sebelum melakukan kontak dengan anggota keluarga lainnya.

    Baca Juga: Sudah Tahukah Sobat, Apa Itu ‘The New Normal’?

    Itulah beberapa tips belanja aman di supermarket agar terhindar dari virus corona. Sobat tidak perlu panik dan melakukan pelindungan diri yang berlebihan. Dengan mengetahui cara penularan penyakit COVID-19 ini diharapkan Sobat dapat menangkap hal-hal penting yang harus dilakukan dan hal-hal yang perlu dihindari.

    Selain itu, bagi Sobat yang memerlukan informasi kesehatan lainnya maupun membutuhkan produk-produk kesehatan, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    2. Advice for public [Internet]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. How Can You Safely Grocery Shop in the Time of Coronavirus? Here’s What Experts Suggest [Internet]. Time. Available from: https://time.com/5810782/grocery-store-safety-coronavirus/
    4. Zelman KM, MPH, RD, LD. 10 Tips for Healthy Grocery Shopping [Internet]. WebMD. Available from: https://www.webmd.com/food-recipes/features/10-tips-for-healthy-grocery-shopping
    5. Parker-Pope T. Who Knew Grocery Shopping Could Be So Stressful? The New York Times [Internet]. 2020 Mar 26 Available from: https://www.nytimes.com/2020/03/26/well/eat/coronavirus-shopping-food-groceries-infection.html
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    Read More
  • Tahukah Sobat bahwa tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengembangkan penelitian terkait kandidat senyawa yang dapat mencegah virus corona, salah satunya bisa didapatkan dari jambu biji. Metode penelitian bioinformatikan ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, dengan total basis […]

    Jambu Biji Diteliti untuk Mencegah Virus Corona

    Tahukah Sobat bahwa tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengembangkan penelitian terkait kandidat senyawa yang dapat mencegah virus corona, salah satunya bisa didapatkan dari jambu biji. Metode penelitian bioinformatikan ini memanfaatkan basis data Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI, dengan total basis data sebanyak 1.377 senyawa herbal. Senyawa-senyawa ini akan dipetakan sesuai struktur dan ligand kemudian hasilnya dikonfirmasi dengan penelitian molekuler untuk mengevaluasi aktivitas antivirusnya.

    Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, diperoleh beberapa golongan senyawa yang berpotensi untuk menghambat dan mencegah ikatan protein virus SARS-CoV-2 ke reseptor tubuh manusia. Golongan senyawa yang didapatkan dan diprediksi dapat menjadi antivirus adalah hesperidia, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin. Senyawa ini dapat ditemukan dalam jambu biji, daun kelor, madu, dan kulit jeruk. Pada buah jambu, senyawa yang disebutkan tersebut dapat ditemukan pada bagian daun dan kulit batangnya. Penelitian ini memang sedang dipersiapkan untuk publikasi internasional. Namun, prosesnya masih panjang karena membutuhkan percobaan lanjutan dan akses untuk melakukan uji preklinik, uji klinik, uji pada binatang, kemudian pada manusia.

    Psidium guajava atau yang dikenal sebagai jambu biji adalah buah yang mudah ditemukan sehari-hari terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Jambu adalah buah yang bisa dikonsumsi dengan mudah, baik dimakan langsung atau dibuat jus. Kulit buah jambu mengandung banyak vitamin A, C, besi, fosfor, kalsium, dan mineral lainnya, buah ini juga mengandung banyak konten metabolit organik maupun inorganik yang bersifat sebagai antioksidan, antibakterial, antijamur, antivirus, dan anti peradangan. Jambu dapat mengendalikan infeksi virus, salah satunya adalah virus influenza, hal ini terjadi karena ekstrak buah jambu dapat menahan replikasi virus dengan mendegradasi protein. Buah ini memang banyak khasiatnya sehingga sering digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk diare, disentri, hipertensi, diabetes, pereda nyeri, batuk, dan pilek.

    Kandungan vitamin C dalam buah jambu ternyata hampir empat kali lebih banyak dibandingkan buah jeruk. Dalam setiap 100 gram buah jambu mengandung 228 mg vitamin C, sedangkan dalam 100 gram buah jeruk hanya mengandung 53 mg vitamin C. Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang sudah terbukti bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian orang dewasa adalah 100-200 mg/hari.

    Sejauh ini tidak ditemukan efek samping yang berbahaya dari mengonsumsi buah jambu atau suplemen daun buah jambu yang beredar di pasaran. Namun, disarankan bagi ibu hamil atau ibu yang sedang menyusui, serta orang-orang yang mengonsumsi obat-obatan rutin untuk tetap konsultasi ke dokter sebelum menggunakan suplemen untuk memastikan tidak ada interaksi antar obat ataupun efek samping lain yang tidak diinginkan.

    Buah jambu sudah lama digunakan sebagai pengobatan tradisional berbagai macam penyakit di berbagai negara. Terdapat beragam penelitian terdahulu yang membuktikan efektivitas buah jambu untuk meningkatkan kesehatan. Saat ini sedang dikembangkan penelitian di dalam negeri untuk menilai kandungan buah jambu biji sebagai antivirus corona. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan temuan-temuan ini. Pastikan untuk tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan virus ini, seperti rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta segera memeriksakan diri ke dokter bila terdapat gejala.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

     

    DAFTAR PUSTAKA 

    1. Ayu W. Tim FK UI dan IPB Temukan Kandidat Pencegah Virus Corona [Internet]. Universitas Indonesia. 2020. Available from: ui.ac.id/tim-fk-ui-dan-ipb-temukan-kandidat-pencegah-virus-corona/
    2. Riset UI-IPB: Jambu Biji Diprediksi Bisa Mencegah Corona [Internet]. Available from: cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200324091059-255-486316/riset-ui-ipb-jambu-biji-diprediksi-bisa-mencegah-corona
    3. Naseer S, Hussain S, Naeem N, Pervaiz M, Rahman M. The phytochemistry and medicinal value of Psidium guajava (guava). Clinical Phytoscience. 2018 Dec 12;4(1):32.
    4. Health benefits of guava: How to use it, nutrition, and risks [Internet].. Available from: medicalnewstoday.com/articles/324758
    5. Advice for public [Internet]. Available from: who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    6. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    Read More
  • Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri […]

    Benarkah Vitamin C dan E Tingkatkan Antibodi untuk Mencegah Corona?

    Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang sudah menjadi pandemik belakangan ini adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, sebuah virus RNA rantai positif yang memiliki bentuk menyerupai mahkota bila dilihat di bawah mikroskop. Virus yang dapat menyerang sistem pernafasan manusia ini dapat menimbulakn gejala yang serupa dengan infeksi saluran pernafasan akut biasanya, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan. Namun, pada penderita yang memiliki gangguan sistem imun dan penyakit lain yang mendasari, infeksi virus ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan yang lebih berat.

    Belakangan ini informasi seputar konsumsi vitamin C dan E untuk meningkatkan antibodi sudah sering Sobat dengar bukan? Antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh yang dapat membantu melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, dikenal juga sebagai antigen, seperti virus ataupun bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Bila ada antigen yang masuk ke dalam tubuh, sel imun akan mengenali dan melakukan serangkaian proses biokimia untuk memproduksi antibodi. Antibodi yang diproduksi ini akan spesifik untuk melawan antigen jenis tersebut, sehingga antigen dapat dihancurkan dan dikeluarkan dari tubuh. Saat pertama kali seseorang terpapar dengan antigen, sistem imun tubuh membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk membentuk antibodi yang spesifik guna melawan penyakit. Setelah infeksi teratasi, maka tubuh dapat mengingat jenis antigen yang sudah pernah menyerang tubuh ini. Sehingga bila berikutnya tubuh terpapar terhadap antigen yang sama, proteksi antibodi akan menjadi lebih cepat.

    Vitamin C adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan oleh manusia. Vitamin ini tergolong sebagai antioksidan yang bisa membantu meningkatkan kerja sistem imun tubuh. Kebutuhan vitamin C harian adalah 100-200 mg/hari. Konsumsi vitamin C menjadi populer sejak tahun 1970, saat Linus Pauling seorang penerima Hadiah Nobel merekomendasikannya untuk mencegah batuk pilek biasa yang dikenal juga sebagai common cold. Namun, hasil dari berbagai penelitian sampai saat ini masih tidak konsisten dan sering menimbulkan kontroversi. Memang terdapat beberapa penelitian yang mengatakan dengan mengonsumsi vitamin C saat dilanda common cold dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala yang dialami, hal ini diduga karena adanya efek antihistamin pada vitamin C dosis tinggi. Konsumsi vitamin C tidak dapat mencegah common cold pada populasi umum. Namun, konsumsi vitamin C sebanyak 250 mg/hari dapat menurunkan 50% kejadian common cold pada orang yang melakukan aktivitas fisik ekstrim seperti pelari marathon atau tentara. Vitamin C cenderung aman untuk dikonsumsi asalkan sesuai dengan dosis yang dianjurkan, bila lebih dari 1000 mg, vitamin C meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal dan diare berat.

    Selain dapat membantu untuk menjaga kesehatan kulit dan mata, vitamin E juga merupakan senyawa yang larut dalam lemak dan bersifat sebagai antioksidan yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh untuk melawan penyakit. Kebutuhan harian vitamin E adalah 15 mg/hari (22.4 IU). Terdapat penelitian yang mengatakan pemberian vitamin E 200 mg/hari dapat menurunkan angka kejadian dan memperpendek durasi common cold. Konsumsi vitamin E diatas 400 IU setiap harinya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung. Selain itu, penggunaan suplemen vitamin E juga tidak disarankan untuk ibu yang sedang hamil karena meningkatkan risiko terjadinya kelainan jantung bawaan.

    Vitamin C dan E dapat membantu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, sumber vitamin bisa didapatkan dari berbagai jenis makanan. Vitamin C bisa didapatkan dari buah dan sayuran seperti jeruk, lemon, strawberi, kiwi, brokoli, dan tomat. Vitamin E bisa didapatkan dari kacang-kacangan, sayuran, dan minyak sayur seperti minyak jagung dan olive oil. Pada kelompok yang berisiko terhadap kekurangan vitamin, ataupun lansia, pemberian suplemen dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan hariannya agar dapat mengoptimalkan kerja sistem imun.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Cascella M, Rajnik M, Cuomo A, Dulebohn SC, Di Napoli R. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2020. Available from: ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554776/
    2. Murin CD, Wilson IA, Ward AB. Antibody responses to viral infections: a structural perspective across three different enveloped viruses. Nat Microbiol. 2019;4(5):734–47.
    3. Wuhan novel coronavirus: epidemiology, virology and clinical features [Internet]. GOV.UK. Available from: gov.uk/government/publications/wuhan-novel-coronavirus-background-information/wuhan-novel-coronavirus-epidemiology-virology-and-clinical-features
    4. Writers S. How Vaccines Work [Internet]. PublicHealth.org. 2019. Available from: publichealth.org/public-awareness/understanding-vaccines/vaccines-work/
    5. Carr AC, Maggini S. Vitamin C and Immune Function. Nutrients. 2017 Nov 3;9(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5707683/
    6. Lee GY, Han SN. The Role of Vitamin E in Immunity. Nutrients [Internet]. 2018 Nov 1];10(11). Available from: ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6266234/
    7. Lewis ED, Meydani SN, Wu D. Regulatory role of vitamin E in the immune system and inflammation. IUBMB Life. 2019;71(4):487–94.
    Read More
  • Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di Cina untuk menganalisa sampel darah dari 2.173 penderita Coronavirus disease 2019 (COVID-19), terdapat kecenderungan peningkatan risiko terhadap golongan darah A, sedangkan risiko yang lebih rendah pada golongan darah O untuk terinfeksi virus SARS-CoV 2. Dengan mengetahui kecenderungan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat membantu para petugas medis dalam tata laksana […]

    Benarkah Golongan Darah A Lebih Rentan dengan Virus Corona?

    Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan di Cina untuk menganalisa sampel darah dari 2.173 penderita Coronavirus disease 2019 (COVID-19), terdapat kecenderungan peningkatan risiko terhadap golongan darah A, sedangkan risiko yang lebih rendah pada golongan darah O untuk terinfeksi virus SARS-CoV 2. Dengan mengetahui kecenderungan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat membantu para petugas medis dalam tata laksana pasien COVID-19. Mari kita telaah lebih lanjut.

    Penelitian pendahuluan berjudul “Relationship between the ABO Blood Group and the COVID-19 Susceptibility”, oleh beberapa peneliti asal Cina yang melakukan riset untuk mengetahui hubungan golongan darah terhadap kerentanan pada penyakit COVID-19.  Penelitian pendahuluan ini berasal dari situs medRxiv, sebuah website tempat peneliti mempublikasi temuan awal mengenai sebuah topik, sehingga penelitian tersebut belum ditelaah dan dinilai oleh peneliti lainnya, jadi belum dapat dipastikan apakah metodologi dan penemuannya dapat diterapkan.

    Penyebaran golongan darah pada populasi normal di Wuhan adalah tipe A (31%), tipe B (24%), tipe AB (9%), dan tipe O (34%). Sedangkan penyebaran golongan darah pada penderita COVID-19 yang dikumpulkan pada penelitian dari Rumah Sakit Jinyintan, Wuhan, Cina, adalah tipe A (38%), tipe B (26%), tipe AB (10%), dan tipe O (25%). Penyebaran golongan darah ini juga serupa dari dua rumah sakit lainnya di Wuhan dan Shenzhen.

    Darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan cairan yang dikenal sebagai plasma. Pembagian golongan darah selama ini adalah berdasarkan antibodi dan antigen yang ditemukan dalam darah. Antibodi adalah glikoprotein yang ditemukan dalam plasma darah, yang merupakan bagian dari sistem imun tubuh, antibodi dapat mengenali benda asing seperti kuman penyakit dan mengaktifkan sistem imun tubuh untuk melawannya. Sedangkan antigen adalah molekul glikoprotein yang ditemukan pada permukaan sel darah merah.

    • Golongan darah A, memiliki antigen A, antibodi anti B.
    • Golongan darah B, memiliki antigen B, antibodi anti A.
    • Golongan darah AB, memiliki antigen A dan B, namun tidak memiliki antibodi anti A dan anti B.
    • Golongan darah O, tidak memiliki antigen A dan B, namun memiliki antibodi anti A dan anti B.

    Mekanisme yang mendasari mengapa golongan darah A lebih rentan belum dapat dipastikan dari penelitian tersebut. Salah satu dugaan adalah adanya anti-A antibodi yang dimiliki oleh orang dengan golongan darah selain tipe A, yang dapat menghambat adesi virus ke reseptor sel tubuh manusia.

    Limitasi dari penelitian ini adalah sampel yang terbatas oleh jumlah dan batasan geografis, selain itu pengambilan sampel yang dilakukan hanya pada penderita yang dirawat di rumah sakit. Hal ini tidak dapat mewakili keseluruhan populasi penderita COVID-19, karena penderita dengan gejala ringan juga banyak yang tidak dirawat di rumah sakit.

    Selain itu penyebaran karakteristik dasar pengambilan sampel juga tidak disajikan, seperti usia, faktor risiko, gejala klinis, dan temuan lainnya sehingga sangat banyak parameter lainnya yang dapat menjadi bias dalam penelitian ini.

    Kesimpulannya, hasil penelitian tersebut belum dapat diaplikasikan pada praktik klinis saat ini. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut yang mendukung temuan yang didapatkan ini. Sehingga bagi mereka yang memiliki golongan darah A tidak perlu panik dan mereka yang memiliki golongan darah O juga masih rentan terhadap COVID-19, sehingga pastikan untuk tetap mengikuti himbauan untuk mencegah penularan virus, seperti rutin mencuci tangan, melakukan etika batuk dan bersin yang benar, menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, serta memeriksakan diri bila terdapat gejala.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

     

    1. Blood Type May Affect COVID-19 Risk: Study [Internet]. WebMD. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.webmd.com/lung/news/20200320/blood-type-may-affect-covid19-risk-study
    2. Jiao Z, Yan Y, Han-Ping H. Relationship between the ABO Blood Group and the COVID-19 Susceptibility. The Southern University of Science and Technology Shenzhen. 2020;
    3. The Week That Wasn’t in COVID-19: Centenarian Survives, High-Risk Blood Types [Internet]. Medscape. [cited 2020 Mar 23]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/927299
    4. ABO Grouping: Overview, Clinical Indications/Applications, Test Performance. 2019 Nov 26 [cited 2020 Mar 23]; Available from: https://emedicine.medscape.com/article/1731198-overview#a2
    5. Blood groups [Internet]. nhs.uk. 2017 [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/blood-groups/
    6. Is blood type linked to coronavirus infection risk? [Internet]. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/is-blood-type-linked-to-covid-19-risk
    7. Are People With Type-A Blood More Susceptible to COVID-19? [Internet]. Snopes.com. [cited 2020 Mar 23]. Available from: https://www.snopes.com/fact-check/blood-type-covid-19/
    8. Advice for public [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    9. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 19]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/lab/index.html
    Read More
  • Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya. Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan […]

    6 Tips Menjaga Kesehatan bagi Sobat yang Tidak Bisa Kerja dari Rumah (WFH)

    Kebijakan untuk kerja dari rumah atau work from home telah diumumkan untuk menekan jumlah penyebaran penyakit Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Namun, terdapat sejumlah profesi yang tidak mungkin bekerja dari rumah seperti pekerja medis yaitu, dokter, perawat, pengantar barang, dan pekerjaan lainnya.

    Bekerja di tengah pandemik tentu bukan hal yang mudah, terlebih bila harus bertemu dengan banyak orang setiap harinya. Sehingga Sobat yang tidak dapat melakukan pekerjaannya dari rumah harus lebih menjaga kesehatan. Saat ini vaksin untuk COVID-19 masih belum ada, sehingga hal terbaik untuk mencegah penularan adalah mengurangi paparan pada virus. COVID-19 menular melalui kontak erat dan percikan saat batuk maupun bersin.1

    Berikut tips yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan dan terhindar dari COVID-19:

    1. Rutin mencuci tangan, biasakan untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir yang bersih selama minimal 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudahtercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan menggunakan hand-rub berbahan dasar alkohol minimal 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, dan bila tangan terlihat kotor. Hindari menyentuh wajah baik sebelum maupun sesudah cuci tangan.
    1. Mengetahui etika batuk dan bersin, gunakan tisu atau bagian lipat dalam siku untuk menutup hidung dan mulut saat batuk maupun bersin, jangan gunakan tangan. Tisu yang digunakan sebaiknya segera dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya.
    2. Menjaga jarak dengan orang lain, jagalah jarak minimal 1 meter dari orang lain. Hindari kontak fisik dengan orang lain, cukup menyapa dengan lambaian tangan, anggukan kepala, atau membungkuk.
    3. Membersihkan barang-barang yang sering disentuh, membersihkan barang-barang yang digunakan setiap hari dengan disinfektan seperti meja, gagang pintu, handphone, dan keran air.
    4. Menerapkan pola hidup sehat:
    • Pola makan yang baik dan benar, biasakan untuk mengonsumsi makanan bergizi, pastikan untuk memenuhi kebutuhan makronutrien Sobat, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien seperti vitamin dan mineral juga yang banyak didapatkan dari buah dan sayuran. Selain makan, jaga pula hidrasi tubuh, konsumsi air putih sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari.
    • Cukup istirahat, tidur yang cukup karena regenerasi sel tubuh terjadi saat sedang beristirahat. Pastikan untuk tidur selama minimal 8 jam sehari agar sistem imun tetap prima.
    • Hindari stres, adanya pandemik dapat menyebabkan stres bagi beberapa orang baik orang dewasa maupun anak-anak. Cobalah untuk mengambil waktu sejenak dan ambil nafas yang dalam atau melakukan meditasi. Lakukan aktivitas yang membuat Anda santai dan lebih rileks. Berbicaralah dengan orang-orang sekitar. Hindari membaca atau mendengar berita mengenai pandemik secara terus-menerus.
    • Rutin berolahraga, olah raga yang rutin dapat meningkatkan kebugaran sistem jantung dan paru-paru Sobat. Lakukanlah olah raga minimal 150 menit selama satu minggu. Aktif bergerak dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti membatasi duduk yang terlalu lama, memilih untuk naik tangga dibandingkan dengan eskalator, jalan kaki bila tujuan dekat, dan lain-lain.
    • Hindari rokok dan alkohol, rokok dapat menurunkan sistem imun tubuh karena zat kimia yang terkandung didalamnya mengandung banyak radikal bebas yang dapat menurunkan kerja sistem imun tubuh.
    1. Segera memeriksakan diri bila terdapat gejala, segera melakukan pemeriksaan bila Sobat mengalami demam, batuk, pilek, serta kesulitan bernapas. Gunakan masker hanya bila Sobat sakit, masker yang dapat digunakan adalah masker bedah atau masker N95 yang memiliki saringan untuk mencegah penularan virus.

    Untuk informasi kesehatan lainnya,silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Coronavirus | About | Prevention and Treatment | CDC [Internet]. 2020. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/about/prevention.html
    2. Advice for public [Internet].Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    3. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    4. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus–Infected Pneumonia | NEJM [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2001316?query=featured_home
    5. A healthy lifestyle [Internet]. 2020. Available from: http://www.euro.who.int/en/health-topics/disease-prevention/nutrition/a-healthy-lifestyle
    6. Chaput J-P, Dutil C, Sampasa-Kanyinga H. Sleeping hours: what is the ideal number and how does age impact this? Nat Sci Sleep. 2018 Nov 27;10:421–30.
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    8. Sato J, Takahashi I, Umeda T, Matsuzaka M, Danjyo K, Tsuya R, et al. Effect of alcohol drinking and cigarette smoking on neutrophil functions in adults. Luminescence. 2011;26(6):557–64.
    9. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    Read More
  • Maraknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), terdapat banyak hal yang dihimbau kepada masyarakat. Salah satunya mengenai self isolation pada seseorang yang memiliki riwayat berpergian atau tinggal di area transmisi lokal atau pernah kontak erat dengan pasien positif COVID-19 yang dilakukan secara volunter atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan untuk melakukan isolasi diri di rumah selama 14 hari […]

    7 Cara Melakukan Self Isolation yang Tepat saat Wabah Corona

    Maraknya Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), terdapat banyak hal yang dihimbau kepada masyarakat. Salah satunya mengenai self isolation pada seseorang yang memiliki riwayat berpergian atau tinggal di area transmisi lokal atau pernah kontak erat dengan pasien positif COVID-19 yang dilakukan secara volunter atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan untuk melakukan isolasi diri di rumah selama 14 hari atau sampai dikatakan negatif COVID-19. Kontak erat adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada dalam satu ruangan dalam radius 1 meter dengan kasus pasien dalam pengawasan, probabel, atau konfirmasi COVID-19.

    Gejala klinis dari COVID-19 adalah gangguan pernapasan akut seperti demam serta gejala Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sesak nafas. Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan percik renik (droplet) saat batuk atau bersin.2 Bila Sobat disarankan untuk melakukan isolasi mandiri, berikut tips untuk melakukan isolasi di rumah:

    1. Tidak keluar dari rumah kecuali untuk mendapatkan pengobatan. Tetaplah berada di rumah. Jika harus keluar rumah, gunakan masker, hindari tempat ramai dan hindari menggunakan transportasi umum. Sebaiknya batasi orang-orang yang berkunjung.
    2. Pisahkan diri dari orang-orang sekitar yang tinggal serumah. Sebaiknya walaupun tinggal di rumah yang sama, pasien yang melakukan isolasi diri berada dalam ruangan yang terpisah dari anggota keluarga yang lain. Jaga jarak lebih dari 1 meter dengan orang yang sehat. Hindari penggunaan alat makan atau linen bersamaan, cucilah dengan air dan sabun setelah digunakan. Linen sebaiknya dipisahkan dari linen anggota keluarga yang lain, gunakan deterjen, dan suhu air 60-90
    3. Menggunakan masker. Gunakan masker yang dilengkapi dengan filter seperti masker bedah atau masker N95 untuk menyaring partikel yang keluar saat batuk atau bersin. Buang masker sehabis digunakan di tempat sampah.
    4. Melakukan etika batuk yang benar. Menutup batuk atau bersin dengan menggunakan tisu atau lipat dalam siku. Langsung membuang tisu di tempat sampah dan mencuci tangan.
    5. Sering mencuci tangan. Mencuci tangan dengan air dan sabun minimal selama 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan sudah tercuci dengan bersih, termasuk telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Bila tidak tersedia, silahkan gunakan hand-rub yang berbahan dasar alkohol diatas 70%. Mencuci tangan sebaiknya dilakukan setelah batuk dan bersin, sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, serta bila tangan terlihat kotor.
    6. Membersihkan benda yang sering disentuh setiap harinya. Bersihkan gagang pintu, meja, kursi, gadget, dan benda lain yang sering disentuh. Gunakan larutan pembersih atau lap. Sebaiknya gunakan sarung tangan saat membersihkan benda-benda tersebut.
    7. Melakukan observasi gejala. Memantau gejala klinis selama dilakukan isolasi diri, gejala yang perlu di perhatikan adalah demam disertai gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sesak nafas. Bila terjadi perburukan gejala segera menghubungi petugas kesehatan.

    Penyakit yang disebabkan oleh virus bersifat self limiting, yang artinya dapat sembuh dengan sendirinya. Sehingga penting juga untuk menguatkan sistem imun tubuh untuk membantu melawan penyakit. Istirahat yang cukup minimal 8 jam sehari. Perbanyak mengonsumsi makanan yang sehat seperti sayur dan buah. Minum air yang cukup sebanyak 2 liter atau 8 gelas setiap harinya. Rutin berolahraga bila tidak ada gejala penyakit, sebanyak 30 menit setiap harinya, 2 kali setiap minggu.

    Untuk informasi kesehatan lainnya, silakan hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik http://www.prosehat.com/wa.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Kementerian Kesehatan RI; 2020.
    2. Huang C, Wang Y, Li X, Ren L, Zhao J, Hu Y, et al. Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The Lancet [Internet]. 2020 Jan 24 [cited 2020 Jan 27];0(0). Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)30183-5/abstract
    3. CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2020 [cited 2020 Mar 20]. Available from: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/guidance-prevent-spread.html
    4. Advice for public [Internet]. [cited 2020 Jan 27]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public
    5. N95 Respirators vs Medical Masks for Preventing Influenza Among Health Care Personnel: A Randomized Clinical Trial | Infectious Diseases | JAMA | JAMA Network [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2749214
    6. Hand Hygiene to Prevent Infections – Journal of PeriAnesthesia Nursing [Internet]. [cited 2020 Feb 4]. Available from: https://www.jopan.org/article/S1089-9472(17)30247-2/fulltext
    7. Physical Activity Guidelines for American. 2nd ed. U.S. Department of Health and Human Services; 2018.
    Read More

Showing 21–30 of 31 results

Chat Dokter 24 Jam